Implementasi Strategi Pengendalian Pertumbuhan Penduduk Pada Badan Pemberdayaan Perempuan Dan Keluarga Berencana (Bppkb) Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo

(1)

1 IMPLEMENTASI STRATEGI PENGENDALIAN PERTUMBUHAN PENDUDUK PADA BADAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN KELUARGA BERENCANA (BPPKB) DI KECAMATAN KABANJAHE

KABUPATEN KARO SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana S - 1

Pada Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Disusun Oleh: SRY PRATIWI

110903004

DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN


(2)

i KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berbentuk skripsi ini sesuai dengan waktu yang telah direncanakan.

Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Sumatera Utara. Dalam penulisan skripsi ini, tentunya banyak pihak yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materil. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang tiada hingganya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, Msi selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Rasudyn Ginting, Msi selaku Ketua Departemen Ilmu

Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dra. Elita Dewi, Msp selaku Sekretaris Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. 4. Bapak Drs. Kariono, Msi selaku dosen pembimbing skripsi yang telah

memberikan waktu, tenaga, sumbangan pemikiran, dan yang dengan sabar membimbing dan mengarahkan penulis dari awal hingga selesainya skripsi ini.

5. Ibu Dra. Beti Nasution, Msi selaku dosen penguji skripsi yang telah memberikan masukan dan membantu pengembangan isi skripsi dan pengetahuan penulis.

6. Seluruh Staff Pegawai Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang telah membantu penulis segala urusan administrasi.

7. Buat yang teristimewa kedua orangtuaku, yang telah membesarkan dan mendidik aku. Terimakasih untuk semua kasih, nasihat, perhatian dan doa buatku selama ini. Semoga aku bisa membalas semua jasa kalian dan menjadi anak yang membanggakan untuk kalian.


(3)

ii

8. Buat sahabatku Penti dan Tri, terimakasih atas semua bantuannya yang selalu setia mendukung dan memberi semangat selama ini. Khususnya buat adikku Panji, yang udah selalu direpotkan dan membantu menyelesaikan skripsi ini.

9. Buat semua pihak yang terlibat dalam penulisan skripsi ini, baik secara langsung maupun tidak langsung.Terimakasih banyak.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, maka saran dan kritik yang konstruktif dari semua pihak sangat diharapkan demi penyempurnaan selanjutnya. Akhirnya hanya kepada Tuhan kita kembalikan semua urusan dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi penulis dan para pembaca pada umumnya.

Medan. 17 Juni 2015 Penulis


(4)

iii ABSTRAK

IMPLEMENTASI STRATEGI PENGENDALIAN PERTUMBUHAN PENDUDUK PADA BADAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN KELUARGA BERENCANA (BPPKB) DI KECAMATAN KABANJAHE

KABUPATEN KARO Nama : Sry Pratiwi

NIM : 110903004

Departemen : Ilmu Administrasi Negara Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dosen Pembimbing : Drs. Kariono, Msi

Melalui Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) diharapkan dapat terwujudnya kesetaraan gender dan keluarga kecil berkualitas. Keluarga Berkualitas adalah meningkatnya wujud nilai rasa kehidupan yang dinikmati sebagian besar keluarga sebagai unit terkecil.

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat dan menggambarkan pelaksanaan strategi maupun program-program Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) kepada masyarakat. Dalam penelitian ini juga akan dilihat realisasi program-program yang diberikan untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan pemerintah juga badan tersebut.

Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode bentuk teknik kualitatif, unit analisis yang terdiri dari informan kunci yaitu Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Karo, Kepala Bidang Keluarga Berencana Dan Keluarga Sejahtera, Sekretaris Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB). Sedangkan Informan Tambahan adalah pegawai/staff Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Karo ditambah dengan masyarakat Kabupaten Karo yang berkunjung di lokasi badan tersebut.

Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah pelaksanaan program maupun pelayanan dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) kepada masyarakat terlaksana secara baik yang sesuai dengan indikator-indikator yang ditetapkan peneliti melalui pendekatan model implementasi kebijakan.


(5)

iv

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

ABSTRAK ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang ... 1

1.2Perumusan Masalah ... 7

1.3Tujuan Penelitian ... 7

1.4Manfaat Penelitian ... 7

1.5Kerangka Teori... 8

1.5.1 Pengertian Implementasi Kebijakan ... 8

1.5.1.2 Model Implementasi Kebijakan Publik ... 10

1.5.2 Strategi ... 15

1.5.3 Implementasi Strategi ... 16

1.5.4 Pengendalian Kependudukan ... 17

1.5.5 Pertumbuhan Penduduk... 19

1.5.6 Pengendalian Pertumbuhan Penduduk ... 20

1.6Defenisi Konsep ... 22

1.7Sistematika Penelitian ... 24

BAB II METODE PENELITIAN 2.1Bentuk Penelitian ... 25

2.2Lokasi Penelitian ... 25

2.3Informan ... 25

2.4Teknik Pengumpulan Data ... 27

2.5Teknik Analisis Data ... 28

BAB III LOKASI PENELITIAN 3.1 Wilayah Kabupaten Karo ... 30

3.2 Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana BPPKB) ... 32


(6)

v

3.2.1 Visi dan misi Badan Pemberdayaan Perempuan dan

Keluarga Berencana BPPKB) ... 34

3.2.2 Tugas pokok dan fungsi ... 35

3.2.3 Struktur organisasi dan pejabat struktural ... 36

BAB IV PENYAJIAN DATA 4.1 Identitas informan ... 39

4.2 Data penelitian... 41

4.2.1 Struktur birokrasi pelaksanaan kebijakan ... 43

4.2.2 Komunikasi ... 52

4.2.3 Sumber daya ... 56

4.2.4 Disposisi ... 58

BAB V ANALISA DATA 5.1 Struktur birokrasi pelaksanaan kebijakan ... 61

5.2 Komunikasi ... 62

5.3 Sumber daya ... 64

5.4 Disposisi ... 66

BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan ... 69

6.2 Saran ... 71


(7)

iii ABSTRAK

IMPLEMENTASI STRATEGI PENGENDALIAN PERTUMBUHAN PENDUDUK PADA BADAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN KELUARGA BERENCANA (BPPKB) DI KECAMATAN KABANJAHE

KABUPATEN KARO Nama : Sry Pratiwi

NIM : 110903004

Departemen : Ilmu Administrasi Negara Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dosen Pembimbing : Drs. Kariono, Msi

Melalui Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) diharapkan dapat terwujudnya kesetaraan gender dan keluarga kecil berkualitas. Keluarga Berkualitas adalah meningkatnya wujud nilai rasa kehidupan yang dinikmati sebagian besar keluarga sebagai unit terkecil.

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat dan menggambarkan pelaksanaan strategi maupun program-program Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) kepada masyarakat. Dalam penelitian ini juga akan dilihat realisasi program-program yang diberikan untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan pemerintah juga badan tersebut.

Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode bentuk teknik kualitatif, unit analisis yang terdiri dari informan kunci yaitu Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Karo, Kepala Bidang Keluarga Berencana Dan Keluarga Sejahtera, Sekretaris Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB). Sedangkan Informan Tambahan adalah pegawai/staff Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Karo ditambah dengan masyarakat Kabupaten Karo yang berkunjung di lokasi badan tersebut.

Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah pelaksanaan program maupun pelayanan dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) kepada masyarakat terlaksana secara baik yang sesuai dengan indikator-indikator yang ditetapkan peneliti melalui pendekatan model implementasi kebijakan.


(8)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Pada awal kepemimpinan Presiden Soeharto, Puskesmas dan Posyandu menjadi ujung tombak sekaligus implementasi program di bidang kesehatan. Pelayanan kesehatan dan Posyandu yang tersebar sampai ke desa terpencil berhasil menekan angka kematian bayi, mengendalikan penyebaran penyakit menular dan memperbaiki kondisi masyarakat secara fisik. Gebrakan lain adalah pengadaan bidan ketika akseptor dan calon akseptor Keluarga Berencana (KB) semakin merebak diberbagai pelosok desa dan tidak bisa lagi dilayani dokter, karena tempat tinggal mereka jauh dari Puskesmas. Memperhatikan kondisi demikian pemerintah menggelar Inpres Bidan dengan membuka sekolah bidan di mana-mana dan dalam 3 tahun kebutuhan akan bidan terpenuhi.

Untuk menekan pertumbuhan penduduk sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga, pemerintah mengadakan program Keluarga Berencana. Tahun l968 dibentuk Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN), dengan status lembaga semi pemerintah dan awal Pembangunan Lima Tahun (PELITA) pertama, tepatnya tahun 1970 melalui Keppres Nomor 8 pemerintah mengumumkan pembentukan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Keberhasilan program KB di Indonesia diakui oleh dunia internasional sehingga tahun 1989 Soeharto mendapat penghargaan dari UNFPA, PBB.


(9)

2

Pada dasarnya pertumbuhan ekonomi tidak akan berjalan jika tidak didukung oleh sumberdaya yang memadai. Sebaliknya pembangunan kualitas sumber daya manusia tidak akan tercapai tanpa dukungan pertumbuhan ekonomi. Dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, Program Keluarga Berencana (KB) yang telah berjalan dan berkembang selama lebih dari tiga dasawarsa akan semakin memberikan andil cukup besar, apabila para penguasa, para pejabat pemerintahan dan wakil-wakil rakyat konsisten memprioritaskan kepeduliannya terhadap masalah kependudukan sebagai indikator serta tolak ukur dalam menilai keberhasilan pembangunan. Dengan demikian setiap insan pembangunan khususnya para pengambil keputusan dalam penetapan kebijaksanaan pembangunan diberbagai tingkatan wilayah akan senantiasa berorientasi demografis.

Jumlah penduduk yang besar, akan berimplikasi sangat luas terhadap program pembangunan di Indonesia. Penduduk besar dengan kualitas rendah, sangat berpotensi menjadi beban pembangunan seperti tercermin dari beratnya beban pemerintah pusat dan daerah untuk menyediakan berbagai pelayanan publik seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, lapangan kerja, lingkungan hidup dan lain-lain. Meskipun pemerintah pusat telah memberikan perhatian dan komitmen yang memadai, program KB nasional di era desentralisasi menghadapi tantangan cukup berat. Setelah desentralisasi program KB Nasional telah berjalan, belum semua pemerintah Kabupaten/Kota memiliki persepsi dan pemahaman yang sama tentang penting dan strategisnya program KB bagi pembangunan berkelanjutan.


(10)

3

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2014 Tentang Urusan Pemerintahan, pada BAB IV pasal 12 ayat 2 diyatakan tentang “administrasi kependudukan dan pencatatan Sipil”. Penduduk pada hakekat nya dapat di ibaratkan sebagai pisau bermata dua, disatu sisi penduduk yang besar dan berkualitas akan menjadi aset yang sangat bermanfaat bagi pembangunan namun sebaliknya penduduk yang besar tapi kualitasnya rendah justru akan menjadi beban yang berat bagi pembangunan itu sendiri, oleh karna itu maka Program Keluarga Berencana perlu segera digalakan kembali.

Berbagai peraturan perundang-undangan yang ada seperti Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, secara umum mengamanatkan bahwa hakikat pembangunan nasional ditujukan untuk semua dimensi dan aspek kehidupan termasuk perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.Oleh karna itu kebijakan dan program kependudukan, termasuk program KB tidak semata-mata hanya upaya mempengaruhi pola dan arah demografi tetapi juga untuk mencapai kesejahteraan masyarakat lahir dan batin bagi generasi sekarang dan generasi mendatang. Agar pembangunan dapat berkelanjutan, pembangunan ekonomi – pembangunan kualitas SDM – pengelolaan kuantitas penduduk harus diintervensi secara bersama sama dan terintegerasi.

Dan saat ini dengan diberhentikannya Kepala Daerah Kena Ukur Karo Jambi Surbakti oleh DPRD Karo maka digantikan oleh Terkelin Brahmana, S.H


(11)

4 dengan visi nya adalah “Terwujudnya Masyarakat Karo yang Makmur dan Sejahtera Berbasis Pembangunan Pertanian dan Pariwisata yang berwawasan lingkungan”. Berdasarkan Visi dan Misi serta program Kepala Daerah tersebut disusunlah rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) yang berisi kebijakan, program dan Kegiatan Pemerintahan Kabupaten, selanjutnya RPJM ini dijabarkan menjadi Renstra SKPD dan ini merupakan awal Perencanaan Program dan Kegiatan 5 (lima) tahun kedepan SKPD Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Karo.

Rencana strategi SKPD Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Karo merupakan arah perencanaan Program dan Kegiatan 2010-2015 yang dilaksankan secara bertahap dan berkesinambungan serta terhindar dari overlapping sehingga kegiatan dapat dilaksanakn secara efektif dan efisien. Sejalan dengan visi diatas maka ada dua tujuan yang ingin dicapai dalam kurun 5 tahun kedepan. Pertama, untuk memperkuat kapasitas kelembagaan dan SDM masyarakat. Dan yang kedua, adalah terbangunnya kembali jaringan pengelola KB sampai di Tingkat Desa secara aktif dan berkesinambungan sehingga dengan demikian program KB dapat berjalan untuk membentuk keluarga kecil berkualitas.

Berdasarkan data Kantor Statistik Kabupaten Karo mulai tahun 2008-2012, jumlah penduduk Kabupaten Karo diketahui sebagai berikut :


(12)

5 KATEGORI

JUMLAH PENDUDUK (JIWA)

2008 2009 2010 2011 2012

Jumlah Pria (jiwa) 342.907 349.046 335.945 339.089 340.302

Jumlah Wanita (jiwa)

345.600 351.560 332.327 335.432 337.574

Total (jiwa) 688.507 700.606 668.272 674.521 677.876

Sumber :Kantor Statistik Kabupaten Karo.

Dapat dilihat terjadinya peningkatan jumlah penduduk wanita pertahunnya walaupun terjadi dengan tidak stabil. Dari peningkatan tersebut maka harus adanya pengelolaan KB secara aktif.

Disini penduduk sebagai modal dasar pembangunan adalah titik sentral dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Jumlah penduduk yang besar akan menjadi motor penggerak pembangunan jika penduduk tersebut memiliki kualitas rendah justru akan menjadi beban pembangunan. Sekaitan dengan itu, upaya mengendalikan dengan berhasil agar pelaksanaan pembangunan dapat dipercepat dan masyarakat yang sejahtera dapat terwujud.

Selain itu ada beberapa masalah yang juga menjadi pembahasan penting. Di Kabupaten Karo sendiri masih rendahnya pengetahuan tentang gender dan perlindungan anak, masih kurangnya dukungan lintas sektor keluarga berencana dan pengarus utamaan gender.


(13)

6

Berdasarkan pemaparan di atas, pembangunan harus didukung sepenuhnya oleh kualitas sumber daya manusia yang ada dan demikian sebaliknya, peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak terlepas dari keberhasilan pembangunan itu sendiri. Hal ini berlaku juga diseluruh wilayah Indonesia termasuk Kabupaten Karo. Proses pembangunan di Kabupaten Karo dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Karo harus berjalan seimbang dan saling mendukung. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Karo adalah dengan pengendalian pertumbuhan penduduk dengan harapan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Hal ini sesuai dengan motto KB yaitu “Dua Anak Lebih Baik” yang sering kita dengar bahwa dengan program KB maka keluarga akan lebih baik dan lebih terurus. Dengan kondisi yang demikian maka peluang untuk mendapatkan sumber daya manusia yang lebih berkualtas akan semakin besar.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana pemerintah Kabupaten Karo dalam pelaksanaan pengendalian pertumbuhan penduduk di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo ? Atau langkah-langkah apakah yang telah dilakukan pemerintah Kabupaten Karo dalam mengatasi pertumbuhan Penduduk di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo ? Dengan demikian, maka penulis merasa

tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: ”Implementasi

StrategiPengendalian Pertumbuhan Penduduk Pada Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB)Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo”.


(14)

7 1.2Perumusan Masalah

Untuk dapat memudahkan dalam penelitian ini dan agar penelitian ini memiliki arah yang jelas dalam menginterpretasikan fakta dan data ke dalam penulisan skripsi, maka terlebih dahulu dirumuskan permasalahannya. Adapun permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana Implementasi StrategiPengendalian Pertumbuhan Penduduk Pada Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo?”

1.3Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi strategi yang dilakukan oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencanadalam Pengendalian Pertumbuhan Penduduk di KabanjaheKabupaten Karo, untuk mengetahui keefektifan strategi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana di Kabanjahe Kabupaten Karo selama ini seperti strategi yang dilakukan koordinasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia.

1.4Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang diharapkan penulis dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagi penulis, bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan menulis karya ilmiah dalam menganalisa permasalahan dilapangan. Dan juga menambah khasanah ilmu pengetahuan bagi penulis tentang strategi


(15)

8

Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana dalam pelaksanaan pengendalian pertumbuhan penduduk di KecamatanKabanjaheKabupaten Karo.

2. Bagi Instansi, penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan ataupun informasi tentang pelayanan jasa yang dapat meningkatkan kepuasaan pelanggan khususnya pada Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga berencana di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo 3. Bagi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, penelitian ini sebagai bahan

masukan bagi Fakultas dan menjadi referensi tambahan bagi mahasiswa dan mahasiswi di masa mendatang.

1.5Kerangka Teori

Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, defenisi dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep. Sebagai landasan berpikir dalam menyelesaikan atau memecahkan masalah yang ada, perlu adanya pedoman teoritis yang dapat membantu dan sebagai bahan referensi dalam penelitian. Kerangka teori ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang jelas dan tepat bagi peneliti dalam memahami masalah yang diteliti (Singarimbun, 2008:37).

1.5.1 Pengertian Implementasi Kebijakan

Kata implementasi dalam Kamus Webster (Wahab, 1991:50), secara etimologi, diadopsi dari kata “to implement” yang berarti “to provide means for


(16)

9 carrying out; to give practical effect to”, yaitu menyajikan sarana untuk melaksanakan sesuatu; menimbulkan dampak/ berakibat sesuatu.

Patton dan Sawicki (dalam Tangkilisan, 2003 : 78) bahwa implementasi berkaitan dengan berbagai kegiatan yang diarahkan untuk merealisasikan program, dimana pada posisi ini eksekutif mengatur cara untuk mengorganisir, menginterpretasikan dan menerapkan kebijakan yang telah diseleksi. Sehingga dengan mengorganisir, seorang eksekutif mampu mengatur secara efektif dan efisien sumber daya, unit-unit dan teknik yang dapat mendukung pelaksanaan program, serta melakukan interpretasi terhadap perencanaan yang dibuat, dan petunjuk yang dapat diikuti dengan mudah bagi realisasi program yang dilaksanakan.

Pressman dan Wildavsky (Syaukani, Gaffar dan Rasyid, 2002: 295), merumuskan implementasi sebagai proses interaksi diantara perangkat tujuan dan tindakan yang mampu untuk meraihnya, serta serangkaian aktifitas langsung yang diarahkan untuk menjadikan program berjalan, dimana aktifitas tersebut mencakup:

a. Organisasi (Organization): pembentukan atau penataan kembali sumber daya, unit-unit serta metode untuk menjadikan program berjalan;

b. Interpretasi (Interpretation); menafsirkan agar program menjadi rencana dan pengarahan yang tepat untuk dapat diterima dan dilaksanakan;


(17)

10

c. Penerapan (Application); ketentuan rutin dari pelayanan, pembayaran, atau lainnya yang dapat disesuaikan dengan tujuan atau perlengkapan program”.

Grindle (Wahab, 1991: 45), berpendapat bahwa implementsi kebijakan sesungguhnya bukanlah sekedar bersangkut paut dengan mekanisme penjabaran keputusan-keputusan politik dalam prosedur-prosedur rutin lewat saluran-saluran birokrasi, melainkan lebih dari itu, ia menyangkut masalah konflik, keputusan dan siapa yang memperoleh apa dari suatu kebijakan. Oleh sebab itu tidak terlalu salah jika dikatakan implementasi kebijakan merupakan aspek yang penting dari keseluruhan proses kebijakan.

Dari berbagai pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan adalah suatu tahap yang berlangsung setelah suatu kebijakan ditetapkan, di mana kebijakan dioperasionalisasikan dalam kegiatankegiatan yang terencana dan terorganisir, untuk dapat mencapai standar dan sasaran kebijakan, dengan memperhatikan lingkungan serta dampak di berbagai bentuk kegiatannya, sebagai bahan dalam perbaikan perencanaan kebijakan publik ke depannya.

1.5.1.2 Model Implementasi Kebijakan Publik

Dalam rangka mengimplementasikan kebijakan publik, dikenal beberapa model implementasi kebijakan (Tangkilisan, 2003: 20), antara lain:


(18)

11

a. Model Gogin

Untuk mengimplementasikan kebijakan dengan model Gogin ini dapat mengidentifikasikan variabel-variabel yang mempengaruhi tujuan-tujuan formal pada keseluruhan implementasi, yakni: 1) bentuk dan isi kebijakan, termasuk didalamnya kemampuan kebijakan untuk menstrukturkan proses implementasi, 2) kemampuan organisasi dengan segala sumber daya berupa dana maupun insentif lainnya yang akan mendukung implementasi secara efektif, dan 3) pengaruh lingkungan dari masyarakat dapat berupa karakteristik, motivasi, kecenderungan hubungan antara warga masyarakat, termasuk pola komunikasinya.

b. Model Grindle

Grindle menciptakan menciptakan model implementasi sebagai kaitan antara tujuan kebijakan dan hasil-hasilnya, selanjutnya pada model ini hasil kebijakan yang dicapai akan dipengaruhi oleh isi kebijakan yang terdiri dari:

1. Kepentingan-kepentingan yang dipengaruhi 2. Tipe-tipe manfaat

3. Derajat perubahan yang diharapkan 4. Letak pengambilan keputusan 5. Pelaksanaan program

6. Sumber daya yang dilibatkan

Karenanya setiap kebijakan perlu mempertimbangkan konteks atau lingkaran dimana tindakan administrasi dilakukan. Intensitas keterlibatan para perencana, politisi, pengusaha, kelompok sasaran dan para pelaksana kebijakan akan bercampur baur mempengaruhi efektifitas implementasi.


(19)

12

c. Model Van Meter dan Van Horn

Model implementasi kebijakan ini dipengaruhi oleh 6 faktor, yaitu:

1. Standar kebijakan dan sasaran yang menjelaskan rincian tujuan keputusan kebijakan secara menyeluruh

2. Sumber daya kebijakan berupa dana pendukung implementasi

3. Komunikasi inter organisasi dan kegiatan pengukuran digunakan oleh pelaksana untuk memakai tujuan yang hendak dicapai

4. Karakteristik pelaksana, artinya karakteristik organisasi merupakan faktor krusial yang menentukan berhasil tidaknya suatu program

5. Kondisi sosial ekonomi dan politik yang dapat mempengaruhi hasil kebijakan

6. Sikap pelaksanaan dalam memahami kebijakan yang akan ditetapkan

Van Meter dan Van Horn (Samodra, Yuyun dan Agus, 1994: 19) menegaskan bahwa pada dasarnya kinerja dari implementasi kebijakan adalah penilaian atas tingkat ketercapaian standar dan sasaran kebijakan tersebut.

d. Model Edward III

Menurut George C. Edward III (Subarsono 2005:90) ada empat faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan atau kegagalan implementasi suatu kebijakan, yaitu faktor struktur birokrasi, komunikasi, sumber daya, , dan disposisi.

1) Struktur Birokrasi

Struktur organisasi yang bertugas mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan. Salah satu


(20)

13

dari aspek struktur yang paling penting dari setiap organisasi adalah adanya rincian tugas dan prosedur pelayanan yang telah disusun oleh organisasi.

2) Komunikasi

Persyaratan pertama bagi implementasi kebijakan yang efektif adalah bahwa mereka yang melaksanakan keputusan harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan. Keputusan-keputusan kebijakan dan perintah-perintah harus diteruskan kepada personil yang tepat sebelum keputusan dan perintah-perintah tersebut dapat diikuti. Tentu saja, komunikasi harus akurat dan harus dimengeti dengan cermat. Secara umum Edwards membahas tiga indikator penting dalam proses komunikasi kebijakan yakni:

1. Transmisi.

Penyaluran komunikasi yang baik akan dapat menghasilkan suatu implementasi yang baik pula. Seringkali terjadi masalah dalam penyaluran komunikasi yaitu adanya salah pengertian (miskomunikasi) yang disebabkan banyaknya tingkatan birokrasi yang harus dilalui dalam proses komunikasi, sehingga apa yang diharapkan terdirtorsi di tengah jalan.

2. Kejelasan.

Komunikasi yang diterima oleh pelaksana kebijakan (street-level-bureaucrats) harus jelas dan tidak membingungkan atau tidak ambigu/mendua.


(21)

14

3. Konsistensi.

Perintah yang diberikan dalam pelaksanaan suatu komunikasi harus konsisten dan jelas untuk ditetapkan atau dijalankan. Jika perintah yang diberikan sering berubah-ubah, maka dapat menimbulkan kebingungan bagi pelaksana di lapangan.

3) Sumber Daya

Sumber daya adalah faktor paling penting dalam implementasi kebijakan agar efektif. Sumber daya tersebut dapat berwujud sumber daya manusia, yakni kompetensi implementor, dan sumber daya financial. Tanpa adanya sumber daya, kebijakan hanya tinggal di kertas menjadi dokumen saja.

Menurut Edward III (Tangkilisan, 2003: 66), sumberdaya merupakan hal penting dalam implementasi kebijakan yang baik. Indikatorindikator yang digunakan untuk melihat sejauh mana sumberdaya mempengaruhi implementasi kebijakan terdiri dari:

1. Staf. 2. Informasi. 3. Fasilitas.

4) Disposisi (Kecenderungan atau Tingkah Laku)

Disposisi adalah watak dan karakteristik yang dimiliki oleh implementor seperti komitmen, kejujuran dan sifat demokratis. Apabila implementor memiliki disposisi yang baik, maka dia akan dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Ketika implemetor memiliki sifat atau perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan, maka proses


(22)

15

implementasi kebijakan juga menjadi tidak efektif. Faktor-faktor yang menjadi perhatian Edward III (Tangkilisan, 2003: 127) mengenai disposisi dalam implementasi kebijakan terdiri dari:

1. Pengangkatan birokrasi. 2. Insentif.

1.5.2 Strategi

Pada awalnya kata strategi dipergunakan untuk kepentingan militer saja tetapi kemudian berkembang ke berbagai bidang yang berbeda seperti strategibisnis, olahraga (misalnya sepak bola dan tenis), catur, ekonomi, pemasaran, perdagangan, manajemen strategi, dll.

Menurut Chandler (Kuncoro, 2005: 1) strategi adalah penentuan tujuan dan sasaran jangka panjang perusahaan, diterapkannya aksi dan alokasi sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Menurut Andrews (Kuncoro, 2005: 2) strategi dapat diartikan sebagai pola sasaran, tujuan, dan kebijakan/rencana umum untuk meraih tujuan yang telah ditetapkan, yang dinyatakan dengan mendefenisikan apa bisnis yang dijalankan oleh perusahaa, atau yang seharusnya dijalankan oleh perusahaan.

Akhirnya tidak terlupa keberadaan strategi pun harus konsisten dengan lingkungan, mempunyai alternatif strategi, fokus keunggulan dan menyeluruh, mempertimbangkan kehadiran resiko, serta dilengkapi tanggungjawab sosial.


(23)

16

Strategi yang ditetapkan juga tidak boleh mengabaikan tujuan, kemampuan, sumber daya dan lingkungan.

1.5.3 Implementasi strategi

Implementasi strategi (strategy implementation) mensyaratkan perusahaan untuk menetapkan tujuan tahunan, membuat kebijakan, memotivasi karyawan, dan mengalokasikan sumberdaya sehingga strategi yang telah diformulasikan dapat dijalankan.

Implementasi strategi termasuk mengembangkan budaya yang mendukung strategi, menciptakan struktur organisasi yang efektif dan mengarahkan usaha pemasaran, menyiapkan anggaran, mengembangkan dan memberdayakan system informasi, dan menghubungkan kinerja karyawan dengan kinerja organisasi. Implementasi strategi sering kali disebut tahap pelaksanaan dalam manajemen strategis. Melaksanakan strategi yang telah diformulasikan menjadi tindakan.

Evaluasi strategi (strategy evaluation) adalah tahap final dalam manajemen strategis. Manajer sangat ingin mengetahui kapan strategi tidak dapat berjalan seperti diharapkan; evaluasi strategi adalah alat utama untuk mendapatkan informasi ini. Semua strategi dapat dimodifikasi di masa datang karma factor internal dan eksternal secara konstan berubah. Tiga aktivitas dasar evaluasi strategi adalah:

1) Meninjau ulang faktor eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi saat ini,


(24)

17

2) Mengukur kinerja, dan

3) Mengambil tindakan korektif. Evaluasi dibutuhkan karena

kesuksesan hari ini tidak menjamin kesuksesan di hari esok. Sukses selalu membawa masalah baru yang berbeda; perusahaan yang puas diri akan mengalami kegagalan.

Dengan demikian, pengimplementasian strategi dalam program-program termasuk proyek-proyek untuk mencapai sasarannya masing-masing dilakukan melalaui fungsi-fungsi manajeman lainnya yang mencakup pengorganisasian, pelaksanaan, penganggaran dan kontrol.

1.5.4 Pengendalian Kependudukan

Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 10 tahun 1992, yang dimaksud dengan penduduk adalah orang-orang dalam matranya sebagai pribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat, warga negara, dan himpunan kuantitas yang bertempat tinggal di suatu tempat dalam batas wilayah negara pada waktu tertentu.

Membicarakan kependudukan tidak terlepas dengan pengkajian angka-angka; dalam bentuk tabel, daftar, grafik, atau gambar. Pengkajian tersebut sangat berguna dalam perencanaan nasional suatu negara, baik dalam jangka pendek dan jangka panjang. Bahkan diluar itu setiap negara perlu mengkaji kependudukan ini, bukan hanya dalam ruang lingkup nasional namun juga harus mengkajinya secara global.


(25)

18

Pengendalian kependudukan adalah usaha mempengaruhi pola kembang biak penduduk ke arah angka pertumbuhan penduduk yang diinginkan, biasanya ditempuh melalui suatu kebijakan pemerintah di bidang kependudukan. Secara umum masalah berat yang diperkirakan para pengkaji masalah kependudukan dan lingkup dewasa ini adalah terjadinya ledakan penduduk yang dimulai dalam tahun 1950, dimana jumlah penduduk dunia baru diperkirakan 2,5 miliar orang, dan pada tahun 2000 melonjak menjadi 6,5 miliar orang (Ritonga, 2001:149).

Pada tahun 1798, Malthus menggambarkan dua kategori pengendalian penduduk, yaitu pengendalian positif yang ada hubungannya dengan sebab-sebab kematian dan naiknya kematian dalam hitungan tahun. Ini meliputi kemiskinan, penyakit, kelaparan dan perang. Kedua adalah pengendalian preventif terhadap tingkat kelahiran.

Pengendalian penduduk adalah kegiatan membatasi pertumbuhan penduduk, umumnya dengan mengurangi jumlah kelahiran. Dokumen dari Yunani Kuno telah membuktikan adanya upaya pengendalian jumlah penduduk sejak zaman dahulu kala. Salah satu contoh pengendalian penduduk yang dipaksakan terjadi di Republik Rakyat Cina yang terkenal dengan kebijakannya “satu anak cukup” kebijakan ini diduga banyak menyebabkan terjadinya aksi pembunuhan bayi, pengguguran kandungan yang dipaksakan, serta sterilisasi wajib.

Indonesia juga menerapkan pengendalian penduduk, yang dikenal dengan program Keluarga Berencana (KB), meski program ini cenderung bersifat


(26)

19

persuasif ketimbang dipaksakan. Program ini dinilai berhasil menekan tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia.

1.5.5 Pertumbuhan Penduduk

Seperti diketahui setiap perubahan jumlah pernduduk (baik pertambahan atau pengurangan) disebut “pertumbuhan”, dapat positif atau negative. Pada hakikatnya suatu pertumbuhan penduduk hanya berpangkal pada tiga sumber, yaitu : Kelahiran, Kematian dan Migrasi. Pertumbuhan tersebut sama sekali bukan merupakan aspek yang terpisah daripada eksistensi penduduk, tetapi justru merupakan akibat berbagai faktor khusus.

Sampai sebegitu jauh pertumbuhan penduduk telah menarik perhatian para ahli, sering kali di kaitkan dengan “kelangsungan hidup” sesuatu bangsa. Mengenai masalah ini sudah banyak dikemukakan teori dan hampir semuanya mengaitkan pertumbuhan penduduk dengan perkembangan sosial dan ekonomi. Walaupun demikian apabila ditinjau dari segi pengukuran, permasalahannya ternyata menyangkut beberapa sasaran yang pada hakikatnya lebih sederhana.

Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu dibandingkan waktu sebelumnya. Indikator tingkat pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi jumlah penduduk di suatu wilayah atau negara dimasa yang akan datang. Dengan diketahuinya jumlah penduduk yang akan datang, diketahui pula kebutuhan dasar penduduk ini, tidak hanya di bidang sosial dan ekonomi tetapi juga di bidang politik misalnya mengenai jumlah pemilih untuk pemilu yang akan datang. Tetapi


(27)

20

prediksi jumlah penduduk dengan cara seperti ini belum dapat menunjukkan karakteristik penduduk dimasa yang akan datang. Untuk itu diperlukan proyeksi penduduk menurut umur dan jenis kelamin yang membutuhkan data yang lebih rinci yakni mengenai tren fertilitas, mortalitas dan migrasi.

Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan “per waktu unit” untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia.

1.5.6 Pengendalian Pertumbuhan Penduduk

Sebelum membicarakan masalah ini lebih lanjut, terlebih dahulu perlu dijelaskan beberapa ciri pertumbuhan penduduk. Pertama, keseimbangan antara faktor kelahiran, kematian dan migrasi yang merupakan suatu keadaan yang unik. Segala sesuatunya ternyata tidak hanya ditentukan oleh salah satu diantara ketiga faktor tersebut. Dalam keadaan tertentu dapat kemungkinan adanya perbedaan yang cukup besar antara kombinasi faktor-faktor tersebut, sehingga keseimbangannya dari waktu ke waktu bisa berubah. Dalam sejarahnya jumlah penduduk senantiasa mengalami fluktuasi antara pertambahan dan pengurangan.

Kecenderungan yang tampak pada zaman modern adalah jumlah penduduk yang selalu bertambah. Hal ini terjadi dimana-mana sehingga seolah-olah sudah dirasakan sebagai keadaan yang biasa, dilain pihak stabilitas atau


(28)

21

pengurangan jumlah penduduk malah dianggap tidak normal. Tahap modern ini pada hakikatnya secara relative boleh dikatakan terjadi belum begitu lama. Pertumbuhan sejak tahun 1600 yang barangkali sudah lima kali lipat merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi selama ini. Ciri umum pertumbuhan tersebut tidak sesuai dengan konsep umum yang menyangkut masalah tesebut.

Pertumbuhan penduduk merupakan salah satu faktor yang penting dalam masalah sosial ekonomi umumnya dan masalah penduduk pada khususnya. Karena di samping berpengaruh terhadap jumlah dan komposisi penduduk juga akan berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi suatu daerah atau negara maupun dunia. Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk baik pertambahan maupun penurunannya.

Pengendalian pertumbuhan penduduk juga merupakan faktor penting dalam peningkatan keluarga kecil yang berkualitas. Demikian pula, aspek penataan administrasi kependudukan merupakan hal yang penting dalam mendukung perencanaan pembangunan baik di tingkat nasional maupun daerah. Sedangkan, pemuda sebagai bagian dari penduduk merupakan aset pembangunan dan mempunyai kontribusi dalam pembangunan perekonomian bangsa.

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan Dan Pembangunan Keluarga, Pengendalian pertumbuhan penduduk bertujuan untuk mewujudkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara jumlah penduduk dengan lingkungan hidup


(29)

22

baik yang berupa daya dukung alam maupun daya tamping lingkungan serta kondisi perkembangan sosial ekonomi dan budaya.

Masalah pengendalian pertumbuhan penduduk di Indonesia dikategorikan sebagai suatu masalah nasional yang besar dan memerlukan pemecahan segera. Ia mencakup lima masalah pokok yang kait mengait satu sama lainnya, yakni:

1) Jumlah penduduk yang besar 2) Tingkat pertumbuhan yang tinggi

3) Penyebaran penduduk yang tidak merata 4) Komposisi umur penduduk yang timpang

5) Dan masalah mobilitas penduduk (Widiyanti, 1987:66)

1.6 Definisi Konsep

Konsep adalah istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial (Singarimbun, 1995 :37). Tujuannya adalah untuk memudahkan pemahaman dan menghindari terjadinya interpretasi ganda dari variabel yang diteliti. Adapun defenisi yang dipergunakan untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai Strategi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Karo dalam Pelaksanaan Pengendalian Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Karo ini adalah:

1) Implementasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk menguji data dan menerapkan sistem yang diperoleh dari kegiatan seleksi


(30)

23

2) Strategi adalah rencana jangka panjang dengan diikuti tindakan-tindakan yang ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu dengan memperhatikan empat unsur penting yaitu, kemampuan, sumber daya, lingkungan, tujuan. 3) Penduduk adalah orang-orang dalam matranya sebagai pribadi, anggota

keluarga, anggota masyarakat, warga negara, dan himpunan kuantitas yang bertempat tinggal di suatu tempat dalam batas wilayah negara pada waktu tertentu.

4) Pengendalian Kependudukan adalah usaha mempengaruhi pola kembang biak penduduk ke arah angka pertumbuhan penduduk yang diinginkan, biasanya ditempuh melalui suatu kebijakan pemerintah di bidang kependudukan.

5) Pertumbuhan Penduduk adalah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu dibandingkan waktu sebelumnya.

6) Pengendalian Pertumbuhan Penduduk adalah kegiatan membatasi


(31)

24 1.7 Sistematika Penelitian

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari uraian tentang Latar belakang, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Kerangka Teori, Defenisi Konsep, dan Sistematika Penulisan.

BAB II METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menguraikan tentang Bentuk Penelitian, Lokasi Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, dan Teknik Analisa Data yang diterapkan dalam penelitian ini.

BAB III DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

Bab ini menguraikan gambaran umum dan karakteristik lokasi penelitian yang relevan dengan topik penelitian.

BAB IV PENYAJIAN DATA

Bab ini berisikan penyajian data-data yang diperoleh selama penelitian dan menganalisanya berdasarkan metode yang penulis gunakan.

BAB V ANALISA DATA

Bab ini memuat pembahasan atau interpretasi dari data-data yang disajikan pada bab IV

BAB VI PENUTUP

Bab ini memuat tentang kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan dan saran-saran yang dianggap penting bagi pihak yang membutuhkan.


(32)

25 BAB II

METODE PENELITIAN

2.1 Bentuk Penelitian

Bentuk penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode deskriptif dengan analisis data kualitatif, maka dari deskriptif adalah penelitian yang memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang pada saat penelitian dilakukan (saat sekarang) atau masalah-masalah yang bersifat aktual. Menggambarkan fakta-fakta tentang masalah yang diselidiki sebagaimana adanya diiringi dengan intervensi yang rasional dan akurat (Suryanto 2005: 17).

Jadi pemecahan masalah yang dilakukan dengan cara menggambarkan suatu keadaan dan status fenomena berdasakan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya.

2.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) di JL.Jamin GintingNo.108 Kabanjahe Kabupaten Karo.

2.3Informan

Menurut Burhan Bungin, informan merupakan orang yang menguasai dan memahami data, informasi, ataupun fakta dari suatu objek penelitian. Dalam penelitian ini, yang menjadi informan adalah:


(33)

26

1) Informan Kunci

Merupakan mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan oleh peneliti. Adapun yang menjadi informan kunci penelitian ini adalah :

a. Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Karo,

b. Kepala Bidang Keluarga Berencana Dan Keluarga Sejahtera.

c. Sekretaris Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB)

2) Informan Tambahan

Merupakan mereka yang memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial dan politik. Adapun yang menjadi informan tambahan dalam penelitian ini adalah pegawai/staff Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Karo ditambah dengan masyarakat Kabupaten Karo yang penentuannya dilakukan dengan menggunakan teknik sampling accident, yaitu teknik pengambilan informan secara kebetulan. Informan tersebut adalah orang-orang yang ditemui peneliti dan dianggap mengetahui permasalahan penelitian sehingga didapatkan informasi yang mendukung hasil penelitian.


(34)

27 2.4Teknik Pengumpulan Data

Data adalah rekaman atau gambaran atau keterangan suatu hal atau fakta. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data dapat dilakukan melalui data primer dan data sekunder.

1. Data Primer adalah data yang diperoleh si peneliti langsung dari objek yang diteliti. Data primer diperoleh melalui wawancara. Wawancara adalah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan data informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian.

2. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari dokumen, publikasi yang sudah dalam bentuk jadi. Data sekunder diperoleh melalui :

a. Studi Kepustakaan, yaitu pengumpulan data yang

diperoleh dengan menggunakan berbagai literature seperti buku, majalah, dan berbagai bahan yang berhubungan dengan objek penelitian.

b. Dokumentasi, yaitu pengumpulan data yang diperoleh melalui pengkajian dan penelaahan terhadap catatan tertulis maupun dokumen-dokumen yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.


(35)

28 2.5Teknik Analisis Data

Teknik analisa data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknikkualitatif,yaitu suatu teknik yang dilakukan dengan melakukan suatu penggolongan ataupun suatu pengklasifikasian data dan menganalisa data yang diperoleh, sehingga dapat digambarkan dengan jelas tentang objek yang diteliti dan kemudian dilakukan penarikan kesimpulan.

Ada beberapa aktifitas dalam analisis data yaitu :

1. Reduksi data

Reduksi dapat diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Dalam artian reduksi data adalah merangkum dan memfokuskan hal-hal yang penting dalam penelitian dengan mencari tema dan pola hingga memberikan gambaran jelas, dan mempermudah peneliti untuk mencari data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.

2. Penyajian data

Penyajian data bermakna sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan penarikan tindakan. Penyajian data dilakukan untuk mempermudah peneliti memahami data yang diperoleh selama penelitian dibuat


(36)

29

dalam bentuk uraian atau teks yang bersifat naratif, bagan atau bentuk tabel.

3. Penarikan kesimpulan

Kesimpulan ini sebagai hipotesis, dan bila didukung oleh data maka akan dapat menjadi teori.


(37)

30 BAB III

DESKRIPSI LIKASI PENELITIAN

3.1Wilayah Kabupaten Karo

Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi Tanah Karo dengan ibukota Kabanjahe yang terletak 77 km dari Kota Medan. Kabupaten Karo secara administratif terdiri dari 13 Kecamatan, 14 Kelurahan dan 248 Desa. Luas daerah Kabupaten Karo sekitar 2.127,25 ��2 yang terbentang di datran tinggi dengan ketinggian 600 - 1400 � diatas permukaan laut. Karena berada diketinggian tersebut Tanah Karo mempunyai iklim yang sejuk dengan suhu berkisar antara 16−17 ℃.

Kota yang terkenal di wilayah ini adalah Berastagi dan Kabanjahe. Berastagi merupakan salah satu kota turis di Sumatera Utara yang sangat terkenal dengan produk pertanian yang unggul. Salah satunya adalah buah jeruk dan produk minuman yang terkenal yaitu sebagai penghasil Markisa. Didataran tunggi Tanah Karo inilah bisa kita temukan indahnya nuansa alam pegunungan dengan udara yang sejuk dengan ciri khas daerah buah dan sayur. Di daerah ini juga bisa kita nikmati keindahan Gunung Sibayak dalam keadaan aktif berlokasi diatas ketinggian 2.172 � dari permukaan laut. Arti kata Sibayak adalah Raja. Berarti Gunung Sibayak adalah Gunung Raja menurut pengertian nenek moyang suku Karo.

Dilihat dari Geografi Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi Pegunungan Bukit Barisan dan merupakan daerah Hulu Sungai. Wilayah


(38)

31

Kabupaten Karo adalah 2.127,25 ��2atau 212.725 Ha atau 2,97% dari luas Provinsi Daerah Tinggi I Sumatera Utara, dan secara geografis

terletak diantara

2° 50 ������� − 3° 19 ���������� 97° 55 ������� −

98° 26 �������.

Batas - batas wilayah Kabupaten Karo adalah :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Deli Serdang

2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Tapanuli Utara

3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Simalungun

4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tenggara Kabupaten Karo terletak pada ketinggian 140 sampai dengan 1400 � diatas permukaan laut dengan perbandingan luas sebagai berikut :

1. Daerah ketinggian 140 sampai dengan 200 � diatas permukaan laut seluas 9.550 Ha (4,49%)

2. Daerah ketinggian 200 sampai dengan 500 � diatas permukaan laut seluas 11.373 Ha (5.35%)

3. Daerah ketinggian 500 sampai dengan 1000 � diatas permukaan laut seluas 79.215 Ha (37.24%)


(39)

32

4. Daerah ketinggian 1000 sampai dengan 1400 � diatas permukaan laut seluas 112.587 Ha (52.92%)

Penduduk asli yang mendiami wilayah Kabupaten Karo disebut Suku Bangsa Karo. Suku Bangsa Karo ini mempunyai adat istiadat yang sampai saat ini terpelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi Suku Bangsa Karo sendiri. Penduduk Kabupaten Karo kuat berpegang kepada adat istiadat yang luhur, merupakan modal yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembangunan. Dalam kehidupan masyarakat Karo, idaman dan harapan yang ingin diwujudkan adalah pencapaian 3(tiga) hal pokok yang disebut Tuah, Sangap dan Mejuah-Juah.

Tuah berarti menerima berkah dari Tuhan Yang Maha Esa,

mendapat keturunan, banyak kawan dan sahabat, cerdas, gigih, disiplin dan menjaga kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup untuk generasi yang akan datang. Sangap berarti mendapat rejeki, kemakmuran bagi pribadi, bagi anggota keluarga, bagi masyarakat serta bagi generasi yang akan datang. Mejuah-juah berarti sehat sejahtera lahir batin, aman, damai, bersemangat serta keseimbangan dan keselarasan antara manusia dan manusia, antara manusia dan lingkungan dan antara manusia dengan Tuhannya. Ketiga hal tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang bulat yang tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain.

3.2 Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB)


(40)

33

Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) adalah merupakan unsur-unsur pendukung tugas Kepala Daerah. Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah dibidang Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana yang bersifat spesifik. Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana dipimpin oleh Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana berkedudukan dibawah dan bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.

Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Karo berada di Jl. Djamin Ginting No.108 Kabanjahe Telp. (0628) 20484. Organisasi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana terdiri dari :

a. Kepala Badan b. Sekretariat c. Bidang d. Sub Bagian e. Sub Bidang f. UPT Badan

g. Jabatan Fungisional pada UPT Sekretariat membawahi :

a. Sub Bagian Keuangan


(41)

34

Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera membawahi : a. Sub Bidang Keluarga Berencana

b. Sub Bidang Keluarga Sejahtera c. Sub Bidang Advokasi KIE Bidang Pemberdayaan Perempuan membawahi :

a. Sub Bidang Pemberdayaan Perempuan

b. Sub Bidang Pengembangan Partisipasi Peranan Perempuan Bidang Perencanaan membawahi :

a. Sub Bidang Perencanaan Program dan Pengendalian b.Sub Bidang Pengumpulan Data, Pengolahan dan Pelaporan

Pada Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana

dapat dibentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) untuk melaksanakan sebagian kegiatan teknis operasional dan kegiatan teknis penunjang yang mempunyai wilayah kerja satu atau beberapa Kecamatan dan Kelompok Jabatan Fungisional. Kelompok Jabatan Fungisional pada UPT terdiri dari sejumlah tenaga terampil dalam jenjang jabatan fungsional yang terbagi dalam berbagai kelompok sesuai dengan bidang keahliannya.

3.2.1. Visi dan Misi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB)

Adapun visi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Karo Tahun 2010 - 2015 adalah :

"TERWUJUDNYA KESETARAAN GENDER DAN KELUARGA KECIL BERKWALITAS".


(42)

35

Untuk mewujudkan visi tersebut, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Karo mempunyai misi yang merupakan serangkaian tindakan nyata yang harus diemban dan dilaksanakan. Untuk mencapai visi yang dimaksud Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Karo mempunyai misi sebagai berikut :

a. Mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender

b. Meningkatkan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak c. Mewujudkan Keluarga Kecil Berkualitas

d. Meningkatkan Sarana dan Prasarana KB

e. Meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur dan

Masyarakat

f. Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga

g. Meningkatkan Peran Serta Masyarakat dalam Program KB

3.2.2. Tugas Pokok dan Fungsi

Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah dibidang Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana yang bersifat spesifik. Dalam melaksanakan tugas pokoknya, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :


(43)

36

b. Pemberian dukungan atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah sesuai dengan lingkup tugasnya

c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas bidang Pemberdayaan

Perempuan dan Keluarga Berencana sesuai dengan lingkup tugasnya

d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya

3.2.3. Struktur Organisasi dan Pejabat Struktural

Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Karo dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Karo No. 19 tahun 2008 Susunan Organisasi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana terdiri dari :

1. Kepala Badan 2. Sekretaris

3. Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan 4. Kepala Bidang Data dan Perencanaan 5. Kepala Bidang Keluarga Berencana 6. Kasubbag Keuangan

7. Kasubbag Umum dan Kepegawaian 8. Kasubbag Pemberdayaan Perempuan 9. Kasubbag Partisipasi Perempuan

10.Kasubbag Pengumpulan, Pengelolaan dan Pelaporan Data 11.Kasubbid Perencanaan Program dan Pengendalian


(44)

37

12.Kasubbid Keluarga Berencana 13.Kasubbid Keluarga Sejahtera 14.Kasubbid Advokasi KIE


(45)

38

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN KARO

Kepala Badan

Dr.Hartawaty

Sekretaris

Drs.R.Ebeneser Ginting

Sub Bagian Umum dan Kepegawaian

Darwanta Tarigan SE

Sub Bagian Keuangan

Ristanatalia Br.Sinaga SE

Bidang Pemberdayaan Perempuan

Dra.Martiana Sitepu

Sub Bid Partisipasi Perempuan

Anita Purba

Bidang Data dan Perencanaan

Dra.Pestaria

Bidang KB dan Keluarga Sejahtera

B Maria Surbakti S.IP

Sub Bid Perencanaan

Lasmaria V Br.Sitorus

Sub Bidang Keluarga Berencana

Ripince Br.Sinaga

Sub Bidang Keluarga Sejahtera

Evi Arni Vera Tarigan SE

Sub Bidang Advokasi dan KIE

Drs.Pilemon Barus

Sub Bid Pemberdayaan Perempuan

Mola Malem

Sub Bid Data

Drs.Liston Tarigan

Tata Usaha UPT

Unit Pelaksana

Teknis

Kelompok Jabatan

Fungsional


(46)

39

BAB IV

PENYAJIAN DATA

Setelah melakukan penelitian dan pengumpulan data di lapangan melalui wawancara, dan observasi atau pengamatan secara langsung, maka diperoleh data dari informan penelitian dalam kaitannya dengan Implementasi Strategi Pengendalian Pertumbuhan Penduduk Pada Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo.

Adapun data-data yang disajikan terdiri dari dua bagian, yaitu data identitas informan dan data penelitian. Penyajian data mengenai karakteristik informan adalah untuk mengetahui spesifikasi (ciri-ciri khusus) yang dimiliki oleh informan yaitu meliputi jenis kelamin, dan pendidikan terakhir, seta pekerjaan/jabatan. Sedangkan penyajian data penelitian adalah data-data yang diperlukan untuk menjawab permasalahan penelitian.

4.1Identitas Informan

Informan yang ditentukan dalam penelitian ini adalah beberapa pegawai di Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) dan beberapa masyarakat yang datang ke badan terkait. Adapun karakter informan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :


(47)

40

Tabel 3: Karakter Informan Berdasarkan Jenis Kelamin NO. Jenis Kelamin Frekuensi Persentasi

1 Laki-laki 4 66,6%

2 Perempuan 2 23,4%

Jumlah 6 100%

Sumber: Wawancara 2015

Dari tabel diatas dapat dilihat identitas informan berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki 4 orang, dan perempuan 2 orang.

Tabel 4: Karakter Informan Berdasarkan Tingkat Pendidikan No. Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentasi

1 SD - -

2 SMP - -

3 SMA 1 16,6%

4 DIPLOMA/Sarjana 5 83,4%

Jumlah 6 100%

Sumber: Wawancara 2015

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa identitas informan berdasarkan pendidikan terakhir yaitu tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) tidak ada, sedangkan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 1 orang dan pada tingkat Diploma dan Sarjana sebanyak 5 orang.


(48)

41 Pada bab ini penulis akan menyajikan deskripsi data yang diperoleh melalui penelitian dilapangan melalui metode-metode pengumpulan data yang disebutkan pada bab terdahulu, yakni observasi wawancara. Demikian juga halnya, permasalahan utama yang hendak dijawab dalam bab ini adalah bagaimana implementasi strategi pengendalian pertumbuhan penduduk pada Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo.

Dalam mengumpulkan data yang diperlukan untuk menjawab permasalahan secara mendalam, penulis pertama-tama mengawalinya dengan mengumpulkan berbagai dokumen dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Karo, dan kemudian melakukan sejumlah wawancara yang berhubungan dengan permasalahan penelitian skripsi ini.

Berikut ini akan disajikan hasil penelitian dilapangan, penelahaan dokumen-dokumen dari instansi terkait dan hasil wawancara yang dilakukan dengan beberapa informan, yang disusun berdasarkan penggunaan indikator implementasi strategi yang digunakan dalam penelitian ini.

Telah dikemukakan sebelumnya bahwa implementasi strategi mensyaratkan untuk menetapkan tujuan tahunan, membuat kebijakan, memotivasi karyawan, dan mengalokasikan sumberdaya sehingga strategi yang telah diformulasikan dapat dijalankan. Oleh karena itu, penulis melakukan wawancara tentang pemahaman strategi pengendalian pertumbuhan penduduk pada BPPKB dengan hasil sebagai berikut:


(49)

42 Pemahaman mengenai strategi pertama yang dilakukan oleh Ibu Dr. Hartawaty selaku Kepala BPPKB Kabupaten Karo;

"strategi pertama adalah Koordinasi, Keterpaduan, dan Kemitraan"

Strategi ini dilakukan dengan meningkatkan koordinasi, keterpaduan dan kemitraan dengan berbagai instansi pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, LSM, dan swasta sejak tahap perencanaan sampai dengan evaluasi akhir. Koordinasi dan keterpaduan ini dimaksudkan untuk mengatur keseimbangan dan keselarasan bersama agar mempunyai sifat sinergetik dan daya ungkit yang luas kepada pelaksanaan Gerakan Keluarga Berencana Nasional. Koordinasi dan keterpaduan bersama dilakukan antara lain melalui forum rapat koordinasi pada setiap wilayah secara teratur, sehingga dapat saling tukar informasi bagi keterpaduan program yang dilakukan bersama.

Berikut pernyataan Ibu Dr. Hartawaty mengenai landasan hukum yang digunakan pada BPPKN Kabupaten Karo;

"Pada dasarnya BPPKB ini sendiri diadakan karena adanya Undang-Undang No. 52 tahun 2009 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga. Peraturan Presiden No. 62 tahun 2010 tentang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Kemudian dipertegas lewat Peraturan Daerah No. 7 tahun 2012."

Untuk mendapat gambaran yang lebih mendalam mengenai implementasi strategi pengendalian pertumbuhan penduduk di Kecamatan Kabanjahe, peneliti mengumpulkan data-data penelitiian berdasarkan indikator-indikator yang telah disebutkan sebelumnya dan dipaparkan sebagai berikut:


(50)

43

4.2.1. Struktur Birokrasi Pelaksanaan Kebijakan

Struktur birokrasi pelaksanaan kebijakan diukur dengan melihat rincian tugas dan prosedur yang ditetapkan untuk pelaksanaan tugas pegawai di Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana. Berikut adalah data-data yang dikumpulkan terkait rincian tugas di Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana:

Rincian Tugas Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana dikutip dari Rencana Strategi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Karo periode 2011-2015:

1. Kepala Badan Perempuan dan Keluarga Berencana:

a. Mengumpulkan bahan dalam rangka penyusunan laporan atas pelaksanaan program kerja

b. Mengolah data dan bahan penyusunan laporan atas pelaksanaan program kerja

c. Menyusun laporan pelaksanaan program kerja dalam hal prosedur, mekanisme dan sistem kerja, capaian program dan kegiatan serta Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah sesuai dengan program d. Mempersiapkan penyajian dan informasi yang berkaitan dengan

kegiatan tugas untuk tujuan pelaporan dan bahan rapat koordinasi e. Menghimpun dan mempersiapkan bahan peraturan

perundang-undangan yang berhubungan dengan tugas pokok dan fungsi

f. Melakukan penyebarluasan informasi pelaksanaan kegiatan terkait dengan pelayanan publik


(51)

44 g. Mengkoordinasikan tugas kedinasan kepada bawahan sesuai

dengan bidang tugasnya masing-masing

h. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta melakukan pengawasan melekat pada bawahan

2. Sekretariat Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana:

a. Merencanakan, mengatur, membina, mengelola,

mengkoordinasikan, dan mengendalikan pelaksanaan tugas kesekretariatan meliputi urusan keuangan, umum, dan perlengkapan serta milik daerah pada SKPD maupun kepegawaian

b. Melakukan koordinasi dan singkronisasi perencanaan dan

perumusan program kerja Badan Berdasarkan program dan kegiatan masing-masing bidang, sub bidang dan sub bagian

c. Memberikan pelayanan teknis operasional dan pelayanan

administrasi sesuai dengan petunjuk atasan kepada seluruh bidang, sub bidang, dan sub bagian dalam lingkungan badan

d. Mengkoordinasikan pelaporan akuntabilitas kinerja program kegiatan masing-masing bidang dan sub bidang

e. Bertindak selaku Pejabat Pelaksanaan Teknis Kegiatan (PPTK) pada bidang tugasnya

f. Mengendalikan pendistribusian pelayanan naskah dinas dan mengkoordinasikan tugas-tugas bidang, sub bagian sesuai dengan petunjuk atasan


(52)

45 g. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta pengawasan

dalam rangka kelancaran penyelesaian pengelolaan naskah dinas h. Menyelenggarakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan

2.1 Kepala Sub Bagian Keuangan:

a. Mempelajari Peraturan Perundang-Undangan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan

b. Melakukan koordinasi, singkronisasi, dan memverifikasi usulan Rencana Kerja Anggaran masing-masing Bidang dan mengacu kepada Prioritas Plafon Anggaran (PPA)

c. Menghimpun dan memverifikasikan usulan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) masing-masing Bidang berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran

d. Menyiapkan dan menyampaikan usulan penerbitan Surat

Penyediaan Dana Satuan Kerja Perangkat Daerah (SPD-SKPD) berdasarkan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD)

e. Menghimpun dan menatausahakan Surat Penyedia Dana (SPD) yang diterbitkan Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD)

2.2 Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian:

a. Melaksanakan Penerimaan dan Pendistribusian naskah Dinas melalui pengelolaan kearsipan

b. Melaksanakan rencana pengadaan alat tulis kantor dan


(53)

46

c. Melaksanakan pengelolaan dan penyipan bahan pembinaan

kearsipan kepada Unit Kerja dilingkungan Badan

d. Melaksanakan penyiapan dan pengendalian dan penyiapan

administrasi perjalanan dinas pegawai

e. Melaksanakan urusan protokolan dan penyiapan rapat dinas

f. Melaksanakan pengelolaan perpustakaan, hubungan masyarakat dan pengdokumentasian kegiatan Badan

g. Melaksanakan pengurusan rumah tangga Dinas dan ketertipan dan keamanan kantor

h. Melaksanakan penyiapan bahan pembinaan kelembagaan dan

ketatalaksanaan di lingkungan Badan

i. Melaksanakan pendokumentasian Peraturan Perundang-undangan j. Melaksanakan penyusunan bahan evaluasi dan laporan kegiatan

sub bagian Umum dan Kepegawaian

k. Melaksanakan tugas lainnya yang diberikan oleh atasan

3. Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera:

a. Merencanakan, mengatur, membina, mengkoordinasikan dan mengendalikan pelaksanaan tugas bidang Keluarga Berencana dan Bidang Advokasi KIE

b. Mengkoordinasikan tugas-tugas kedinasan kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing


(54)

47 c. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta melakukan

pengawasan melekat kepada bawahan

d. Menilai prestasi kerja bawahan sebagai bahan peritmbangan dalam meningkatkan perkembangan karier DP3

e. Menyusun dan memberikan laporan pertanggungjawaban tugas bidang kepada Kepala Badan melalui Sekretaris

3.1 Kepala Sub Bidang Keluarga Berencana:

a. Menyiapkan bahan penetapan kebijakan jaminan dan pelayanan Keluarga Berencana (KB), peningkatan partisipasi Pria, penanggulangan masalah kesehatan reproduksi, serta kesehatan Ibu dan anak

b. Penetapan dan pengembangan jaringan pelayanan Keluarga

Berencana (KB) dan kesehatan reproduksi, termasuk pelayanan Keluarga Berencana (KB) Di Rumah Sakit

c. Menyiapkan bahan penetapan perkiraan sarana pelayanan Keluarga Berencana (KB), sasaran peningkatan perencanaan kehamilan, sasaran peningkatan partisipasi pria, sasaran Unmet Need, sasaran penanggulangan kesehatan reproduksi, serta sasaran kelangsungan hidup ibu, bayi dan anak

d. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta pengawasan melekat pada bawahan

e. Menilai prestasi kerja bawahan sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan karier dan penilaian DP3


(55)

48 f. Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan Sub Bidang berdasarkan

realisasi Program Kerja untuk bahan penyemprnaan program berikutnya

g. Menyelenggarakan tugas lain yang diberikan kepada Kepala Bidang

3.2 Kepala Sub Bidang Keluarga Berencana:

a. Melaksanakan kemitraan untuk aksebilitas permodalan, teknologi dan manajemen serta pemasaran guna peningkatan Usaha Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS)

b. Melaksanakan peningkatan kualitas lingkungan keluarga

c. Menyiapkan bahan penetapan kebijakan dan pengembangan

penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas dan jejaring program

d. Menyelenggarakan dukungan operasional penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas dan jejaring program

e. Melaksanakan pedoman pelaksanaan penilaian angka kredit jabatan funsional penyuluhan Keluarga Berencana

f. Mendayagunakan bahan pelatihan sesuai dengan kebutuhan

program peningkatan kinerja Sumber Daya Manusia

g. Mengkoordinasikan tugas-tugas kedinasan kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing

h. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta melakukan pengawasan melekat kepada bawahan


(56)

49 i. Menyelenggarakan tugas lain yang diberikan Kepala Bidang

3.3 Kepala Sub Bidang Advokasi KIE:

a. Menyiapkan bahan penetapan kebijakan dan pengembangan

Advokasi dan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)

b. Menyelenggarakan operasional advokasi Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)

c. Menyiapkan bahan penetapan perkiraan sasaran Advokasi dan Komunikasi, Informasi, Informasi dan Edukasi (KIE)

d. Melakukan penyerasian dan penetapan kriteria advokasi dan komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)

e. Melaksanakan advokasi, Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) serta konseling program Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR)

f. Menyelenggarakan tugas lain yang diberikan oleh kepala bidang

4. Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan:

a. Merencanakan, mengatur, membina, mengkoordinasikan, dan mengendalikan pelaksanaan tugas bidang Pemberdayaan Perempuan, Pengembangan Partisipasi Peranan Perempuan

b. Mengkoordinasikan tugas-tugas kedinasan kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing

c. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta melakukan pengawasan melekat kepada bawahan


(57)

50 d. Menilai prestasi kerja bawahan sebagai pertimbangan dalam

meningkatkan perkembangan karier dan penilaian DP3

e. Menyelenggarakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas 4.1 Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Perempuan:

a. Menyusun model informasi data (meditasi dan advokasi)

b. Mengkoordinasikan tugas-tugas kedinasan kepada bawahan sesuai dengan tugasnya masing-masing

c. Memberikan petunjuk dan bimbingan sebagai teknis serta melakukan pengawasan melekat kepada bawahan

d. Menilai prestasi kerja bawahan sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan perkembangan karier dan penilaian DP3

e. Menyelenggarakan tugas lain yang diberikan oleh kepala bidang 4.2 Kepala Sub Bidang Pengembangan Partisipasi Peranan Perempuan:

a. Melaksanakan pengumpulan, pengelolaan dan analisis

pemanfaatan dan penyebarluasan sistem gender

b. Melakukan analisis, pemanfaatan, penyebarluasan dan

pendokumentasian data terpilih menurut jenis kelamin, khusus perempuan

c. Melakukan pemantauan dan evaluasi serta pelaporan pelaksanaan pendataan dan sistem informasi gender

d. Mengkoordinasikan tugas-tugas kedinasan kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing


(58)

51 e. Menyusun dan memberikan laporan pertanggungjawaban tugas

sub bidang kepada kepala bidang

f. Menyelenggarakan tugas lain yang diberikan kepala Bidang 5. Kepala Bidang Perencanaan

a. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis dalam rangka

kelancaran pelaksanaan tugas serta melakukan pengawasan melekat kepada bawahan

b. Menilai prestasi kerja bawahan sebagai bahan pelaporan kepada atasan untuk mempertimbangkan dalam upaya peningkatan karier c. Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan sub bidang berdasarkan

realisasi Program Kerja untuk bahan penyempurnaan program berikutnya

d. Menyusun dan memberikan laporan pertanggungjawaban tugas Bidang kepada Kepala Badan melalui Sekretaris

e. Menyelenggarakan tugas lain yang diberikan atasan

5.1 Kepala Sub Bidang Perencanaan Program dan Pengendalian: a. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta melakukan

pengawasan melekat jepada bawahan

b. Menilai prestasi kerja bawahan sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan perkembangan karier dan penilaian DP3 c. Menyusun dan memberikan laporan pertanggungjawaban tugas

sub bidang kepada Kepala Bidang


(59)

52 5.2 Kepala Sub Bidang Pengumpulan Data, Pengolahan dan Pelaporan:

a. Mengolah data dan bahan penyusunan laporan atas pelaksanaan program kerja

b. Mengumpulkan bahan dalam rangka penyusunan laporan atas pelaksanaan program kerja

c. Menyusun laporan pelaksanaan program kerja dalam hal

prosedur, mekanisme dan sistem kerja, capaian program dan kegiatan serta laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah sesuai dengan program

4.2.2. Komunikasi

Sebelum suatu strategi diimplementasikan, pelaksana kebijakan harus menyadari bahwa suatu keputusan telah dibuat dan perintah untuk melaksanakannya telah dikeluarkan. Salah satunya dapat dilihat dari bagaimana komunikasi yang dibangun didalam suatu organisasi. Berikut adalah data mengenai komunikasi di Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Karo:

Pernyataan Ibu Dr. Hartawaty selaku Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana mengenai komunikasi antar pegawai;

"Komunikasi yang terjadi di intern organisasi cukup baik. Jika saya contohnya, ingin memberi instruksi kerja, penjelasan-penjelasan tugas, motivasi dan arahan-arahan kepada bawahan masih berkesan mudah, dan bisa ditanggapi dengan baik oleh mereka. Bawahan


(60)

53

juga tentu bisa berkomunikasi dengan atasan. Komunikasi dari bawah keatas sangat penting, dari situ kita atasan bisa menerima pertanggungjawaban kerja, laporan-laporan dan saran-saran dari mereka."

Hal yang senada juga ditambahkan oleh Bapak Binaria Surbakti S.ip selaku Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera di BPPKB;

"Komunikasi dan transmisi informasi berjalan baik. Kita dapat memahami dengan jelas instruksi-instruksi yang diberikan oleh atasan."

Kemudian, berikut pernyataan dari Bapak Drs. Pilemon Barus selaku Sub Bidang Advokasi dan KIE di BPPKB Kabupaten Karo;

"Baik sih, tapi ya segan-segan juga dengan atasan kita, ruang dan kesempatan untuk bisa berkomunikasi juga tidak banyak, sehingga komunikasi dari bawah keatas ya saat-saat diperlukan saja. Saya tetap berkomunikasi dengan atasan dalam bentuk formal seperti dalam memberi laporan kerja dan menanyakan hal-hal yang kurang jelas

dari pekerjaan."

Komunikasi dalam organisasi memiliki 2 bentuk yakni lisan dan tulisan. Dalam organisasi formal, komunikasi via tulisan tentu bukan hal yang asing untuk didengar mengingat begitu intensnya penggunaan surat-surat dan dokumen dalam transmisi perintah dan informasi didalamnya. Lalu, bagaimana dengan penggunaan komunikasi lisan di Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Karo, berikut pernyataan dari Bapak Binaria Surbakti S.ip;


(61)

54

"Ia. Kita sering memberi perintah secara lisan kepada bawahan. Kalau secara lisankan mudah, cepat, bahkan langsung bisa mendapat respon. Pegawai-pegawai yang lainnya juga sering saling berkomunikasi dengan nyaman dikantor maupun diluar kantor saat sedang istrahat."

Komunikasi yang baik dalam organisasi berpotensi menciptakan koordinasi antar fungsi dalam organisasi pemerintahan. Berikut pernyataan Bapak Binaria Surbakti S.ip mengenai koordinasi dalam BPPKB;

"Kami selalu berkoordinasi antar bidang dan dengan bawahan maupun atasan. Karena semua pihak di badan ini memiliki satu target yang sama, yaitu meningkatkan pemberdayaan perempuan dalam pembangunan dalam mewujudkan keluarga berkualitas."

Hal yang serupa juga dinyatakan oleh Bapak Drs. Pilemon Barus;

"Kami selalu berusaha untuk tetap berkoordinasi antar satu bidang dengan bidang yang lain. Karena untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan dalam pembangunan, perlindungan terhadap anak dan mewujudkan keluarga berkualitas itu sendiri harus tetap melibatkan hampir semua bagian dalam badan ini. Jadi dapat dikatakanbahwa komunikasi, haruslah tetap terjalin dengan baik agar koordinasi antar bagian berjalan dengan baik pula."

Komunikasi yang harus dibangun oleh suatu organisasi pemerintah dalam melaksanakan fungsinya tentu tidak cukup hanya berjalan didalam internal organisasi. Berikut pernyataan Ibu Dr. Hartawaty mengenai koordinasi eksternal BPPKB;


(62)

55

"Tentunya ada, bahkan dapat dikatakan banyak pihak yang ikut terlibat didalam proses implementasi strategi pada pengendalian pertumbuhan penduduk ini, Salah satu contoh adalah pada saat terjadinya sosialisasi untuk masyarakat. Maka pemerintah menggunakan surat pengantar sebagai undangan untuk melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat. Dan diluar itu BPPKB juga menjalin kerjasama dengan pihak lain dengan organisasi-organisasi pemerintah maupun swasta."

Berikut ini adalah pernyataan Ibu Dr. Hartawaty mengenai sosialisasi yang diadakan oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB);

"Sosialisasi dengan masyarakat dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang berupa sosialisasi secara langsung kepada masyarakat. Dimana

petugas dari BPPKB langsungmemberikanpenyuluhan kepada masyarakat tentang apa itu BPPKB, apa yang menjadi tujuan BPPKB,

bagaimana pelaksanaannya. Adapula sosialisasi yang dilakukan melalui mediator seperti penggunaan papan spanduk, iklan dan lain-lain."

Hal yang senada juga disampaikan oleh Ibu E. Sinaga, S.pd, seorang guru disalah satu sekolah negeri di Berastagi, yang sedang berada dilingkungan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB);

"Ada, saya pernah dapat informasi tentang penyuluhan dari BPPKB dari Bapak Lurah, belakangan juga keluarga kita diberi informasi mengenai pelayanan KB melalui kontrasepsi serta hal-hal lain."


(63)

56 Selain itu, ternyata masih ada masyarakat yang tidak mendapatkan sosialisasi dari pihak Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Karo. Berikut pernyataan Raihan Simamora, seorang wirausahawan;

"Saya belum pernah menerima maupun mengetahui sosialisasi tentang pelayanan, program yang dilakukan oleh BPPKB. Tapi bagaimana pentingnya program KB itu, saya sih tau."

4.2.3. Sumber Daya

Sumber daya adalah faktor sangat penting dalam implementasi strategi agar dapat terlaksana secara efektif. Sumber daya tersebut dapat berwujud sumber daya manusia, yakni kompetensi implementor, sumber daya finansial, dan fasilitas. Tanpa adanya sumber daya, suatu kebijakan hanya tinggal dikertas menjadi dokumen saja.

Kompetensi dari para pegawai di Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana menurut Bapak Binaria Surbakti S.ip selaku Kepala Bidang KB dan Keluarga Sejahtera adalah sebagai berikut;

"Orang-orang yang menjalankan program ini atau yang disebut dengan operatornyaadalah orang-orang yang sudah mempunyai keahlian dibidangnya. Akan tetapi juga terdapat pegawai yang hanya sekedar membantu saja dan tidak terlibat langsung."

Kompetensi pegawai operasional tentu tidak akan cukup bila tidak diikuti dengan kuantitas yang cukup. Berikut pernyataan Bapak Binaria Surbakti S.ip mengenai jumlah pegawai yang dimiliki BPPKB Kabupaten Karo;


(64)

57

"Saya dan temen-temen yang lain memiliki pegawai dalam jumlah yang memadai. Hanya saja, untuk yang memiliki kompetensi terbatas. Kita juga memiliki tenaga honorer yang bisa memberi bantuan yang cukup berarti dalam kegiatan operasional kita."

Terkait perihal peningkatan kualitas dan kompetensi implementor, berikut pernyataan Bapak Binaria Surbakti S.ip mengenai usaha peningkatan kualitas pegawai di Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Karo;

"Implementor sebelum terjun secara langsung terlebih dahulu menjalani pelatihan khusus mengenai program-program yang dibuat sehingga seperti telah disebutkan diatas mereka nantinya dapat menjawab tantangan dari program tersebut. Bahkan untuk pelatihan tersebut pemerintah daerah telah menyediakan anggaran pelatihan. Memang tidak semua pegawai mendapatkan pelatihan tersebut, hanya beberapa orang saja yang terlibat secara langsung."

Implementor mungkin mempunyai staf yang mencukupi, kapabel dan kompeten, tetapi tanpa adanya fasilitas pendukung (sarana dan prasarana) maka implementasi kebijakan tersebut tidak akan berhasil. Berikut adalah pernyataan Bapak Drs. R. Ebeneser Ginting selaku Sekretaris Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Karo mengenai sarana dan prasarana yang dibutuhkan;


(65)

58

"Sebenarnya untuk dapat melaksanakan program-program ini ada beberapa yang diperlukan seperti mobil penerangan, mobil operasional, mobil pelayanan KB dll."

Tabel 5: Sarana dan Prasarana

NO. Sarana & Prasarana Keterangan

1 Gedung Kantor Baik

2 Balai UPT Baik

3 Gudang Alokon Baik

4 Roda 4 (Mobil Unit Penerangan/MUPEN, Mobil Pelayan KB/Moyan KB, Mobil Operasional lainnya)

Baik

5 Roda 2 Baik

Sumber: Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana 2015 4.2.4. Disposisi

Disposisi adalah watak dan karakteristik yang dimiliki oleh implementator seperti komitmen, kejujuran dan sifat demokratis. Apabila implementator memiliki disposisi yang baik, maka dia akan dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan.

Edward III menyatakan ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam melihat disposisi dari implementator kebijakan yakni pengangkatan pegawai dan insentif yang diberikan. Berikut pernyataan Ibu Dr. Hartawaty mengenai rekrutmen pegawai di Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Karo;


(66)

59

"Kita menerima pegawai dari rekrutmen yang diadakan pemerintah melalui penerimaan CPNS yang digelar secara maksimal. Di samping itu, kita menerima pelamar-pelamar pegawai honorer yang kita yakini memiliki kompetensi untuk mengisi posisi-posisi teknis tertentu dibawah kepala seksi."

Sikap implementor dapat dilihat dari kegiatan keseharian pegawai dalam melaksanakan tugasnya. Berikut pernyataan Bapak Binaria Surbakti S.ip mengenai sikap bawahannya dalam melaksanakan pekerjaannya;

"Mereka melaksanakan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh. Tiap instruksi yang saya beri selalu ditanggapi dengan baik, dan saya tidak lupa untuk selalu memberi arahan pada mereka untuk membantu mereka dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka."

Upaya untuk mempengaruhi disposisi implementor kebijakan dapat dilakukan dengan cara pemberian insentif. Berikut pernyataan Ibu Dr. Hartawaty mengenai pemberian insentif terhadap pegawai Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana;

"Pemberian insentif dan berbagai tunjangan lain pada dasarnya telah diatur, kita tentu saja memberikan insentif kepada pegawai, mengingat ini cukup bagus untuk meningkatkan motivasi kerja pegawai, apalagi kita sama-sama tahu bahwa gaji pokok itu tidaklah besar."


(1)

66 Di Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Karo, para pegawai direktur melalui penerimaan CPNS yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat. Para pelamar yang lolos ujian kemudian akan melalui diklat pra-jabatan sebelum ditetapkan secara sah menjadi pegawai negeri sipil. Kemudian para pegawai baru akan dialokasikan ke instansi-instansi pemerintah yang sebelumnya telah mengirimkan data kebutuhan pegawai. Dengan model rekrutmen seperti ini, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana bisa mendapatkan pegawai-pegawai yang memiliki kompetensi yang diharapkan.

Para pegawai Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Karo berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, memiliki komitmen dan semangat kerja yang baik. Hal ini berpotensi menciptakan suasana kerja yang baik dan tanggap dalam merespon intruksi dan informasi-informasi yang diterima oleh para pegawai. Disamping itu, pihak badan ini juga memberikan insentif kepada pegawai berdasarkan kinerjanya. Hal ini dapat meningkatkan motivasi kerja para pegawai, terutama dalam mengimplementasikan program pemberdayaan perempuan dan keluarga berencana.

Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa disposisi implementor dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Karo sudah cukup baik dan berpotensi mendukung terlaksananya program pemberdayaan perempuan dan keluarga berencana. Hal ini dapat dilihat


(2)

67 dari sifat para pegawai yang positif mendukung kebijakan melalui kinerja yang baik dan tanggap.


(3)

68 DAFTAR PUSTAKA

Kuncoro, Mudrajad, 2005. Strategi Bagaimana Meraih Keunggulan Kompetitif?. Jakarta: Erlangga.

Ritonga, Abdurrahman dkk, 2001. Kependudukan dan Lingkungan. Jakarta: LembagaPenerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Samodra, Yuyun dan Agus. 1994. Evaluasi Kebijakan Publik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Singarimbun, Masri & Sofian Effendi. 1995. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES.

__. 2008. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES.

Subarsono, AG. 2005. Analisis Kebijakan Publik Konsep,Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suyanto, Bagong. 2005. Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta: Prenada Media.

Syaukani, Gaffar dan Rasyid, M. Ryaas. 2002. Otonomi Daerah dalam Negara Kesatuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tangkilisan, Hesel Nogi S. 2003. Kebijakan Publik yang Membumi. Yogyakarta: YPAPI dan Lukman Offset.

Wahab, Solichin, Abdul. 1991. Pengantar Analisis Kebijaksanaan Negara. Jakarta: Rineka Cipta.

Widiyanti S, Ninik, 1987. Ledakan Penduduk Menjelang Tahun 2000. Jakarta: PT. Bina Aksara.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1992 Tentang Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera.

Sumber Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah:

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 52 tahun 2009 Tentang Perkembangan Kependudukan Dan Pembangunan Keluarga.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2014 Tentang Urusan Pemerintahan.


(4)

69 Imanhttp://www.e-iman.uni.cc/. Mulyana, Agustus 2007. Mengupas Konsep

Strategi. (21:35 WIB - Minggu,16 November 2014). Sumber Internet:

http://c_dewi.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/17626/IMPLEMENTAS I+STRATEGI.pdf. (13.00 WIB – Kamis, 12 Maret 2015).

http://www.bappenas.go.id/get-file-server/node/838/.Pengendalian

Pertumbuhan Penduduk, Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas. (15.00 WIB – Kamis, 12 Maret 2015).


(5)

70 DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA

1. Apa yang dimaksud dengan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) ?

2. Apa landasan hukum Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Karo ?

3. Bagaimana kondisi pelaksanaan rincian tugas dan pelayanan didalam kegiatan badan tersebut ?

4. Bagaimana tingkat fleksibilitas (improvisasi) pegawai dalam melaksanakan tugasnya di badan tersebut ?

5. Bagaimana komunikasi antar pegawai didalam badan tersebut ?

6. Bagaimana penggunaan komunikasi lisan dan non-lisan yang berjalan di badan tersebut ?

7. Bagaimana koordinasi internal di badan tersebut ? Bagaimana pula koordinasi eksternal ?

8. Bagimana komunikasi yang berjalan dengan masyarakat ?

9. Apakah anda pernah menerima sosialisasi terkait program keluarga berencana ?

10.Bagaimana kompetensi pegawai dalam menjalankan tugasnya ?

11.Apakah jumlah pegawai di badan tersebut sudah memadai untuk dapat melaksanakan tugas dengan baik ?

12.Apakah ada usaha untuk meningkatkan kualitas pegawai ? 13.Bagaimana ketersediaan saran dan prasarana di badan tersebut ?


(6)

71 14.Bagaimana rekrutmen yang dilakukan oleh badan tersebut ?

15.Bagaimana sikap para pegawai di badan tersebut dalam melaksanakan tugasnya ?