Analisis Framing Pemberitaan Republika

lxv Treatment Recommendation Suggest Remedis. Harus segera melakukan sosialisasi Rancangan Undang-undang Pornografi dengan melakukan uji publik atau judical review agar Rancangan Undang-undang Pornografi tidak menimbulkan berbagai argumen yang ada seperti tidak adanya kesalahpahaman dan kesimpangsiuran. Maka selayaknya DPR harus lebih berhati-hati dalam melakukan uji publik ke daerah-daerah khususnya daerah yang menolak Rancangan Undang- undang Pornografi. Ketua Agung Laksono mendesak pemerintah untuk segera melakukan sosialisasi terhadap materi Rancangan Undang-undang Pornografi agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran dan kesalahpahaman. Media Indonesia secara tidak langsung mengajukan bentuk penyelesaian masalah ini dengan meminta pertanggung jawaban dari DPR untuk memberikan sosialisasi yang merata ke setiap daerah-daerah agar semua aspirasi masyarakat dapat ditampung agar DPR bisa memperjuangkan masalah ini agar tidak terjadi kontroversi yang berkepanjangan.

2. Analisis Framing Pemberitaan Republika

Analisis sampel frame Republika kasus Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak edisi 31 Oktober 2008 dengan judul “UU Pornografi Butuh Aturan Teknis”. Kategorisasi: Diperlukan aturan teknis dalam pelaksanan Undang-undang Pornografi Secara realitas yang ada, pemerintah didesak segera membuat aturan dalam pelaksanaan undang-undang pornografi. Undang-undang ini akan segera lxvi disahkan DPR kamis tanggal 30 Oktober 2008 bersama fraksi-fraksi lain yang dilakukan sebagaimana mestinya. Undang-undang Pornografi juga butuh aturan teknis sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintah selama melakukan uji publik ke daerah-daerah baik yang menolak dan mendukung Undang-undang Pornografi. Dalam Undang-undang Pornografi bukan sebagai alat untuk menghilangkan keberagaman budaya. Justru untuk melindungi negara dan adat istiadat dari keterpurukan moral yang sudah tercemar akibat pornografi. Undang- undang ini tidak mengekang kebebasan berekspresi masyarakat. Dalam kehidupan beradat istiadat serta ritual budaya tetap dilindungi dan dilestarikan tidak mungkin untuk menghilangkannya. Tidak itu saja Undang- undang ini menjadi payung hukum untuk melindungi anak-anak maupun perempuan dari tindak kejahatan pornografi. Tabel 6 Frame Republika dengan judul “UU Pornografi Butuh Aturan Teknis”. Perangkat Frames Penjelasan Sumber Berita Problem Identification Perlu adanya aturan Hilman Causal Interpretation UU ini cukup mengakomodasi semua kepentingan Maftuh Basyuni Moral Evaluation Untuk melindungi payung hukum kaum perempuan dan anak-anak Hakim Sorimuda Pohan Treatment Recommendation Mensyahkan RUU Pornografi menjadi UU Pornografi Sorimuda Pohan Problem Identification Define Problems. Frame yang dikembangkan Republika mengenai aturan hukum dalam pelaksaan Undang-undang Pornografi. Aturan ini secara teknis harus dapat diimplementasikan dengan sebaik-baiknya lxvii kepada masyarakat akan pentingnya Undang-undang ini. Disini dijelaskan bahwa Undang-undang dibuat untuk memperbaiki moral bangsa, bukan untuk mengekang kebebasan dalam berekspresi. Akan tetapi, Undang-undang ini melindungi adat istiadat, serta ritual budaya. Republika hendak menyoroti elemen-elemen bangsa yang tercakup dalam sebuah aturan negara dan kedisplinan dalam aturan yang telah ditetapkan bersama. Persoalan ini menjadi penting apabila Indonesia tidak memiliki Undang-undang Pornografi. Dalam foto digambarkan, ketua DPR, Menteri Agama, dan Menteri Perempuan mereka memberikan pandangan tentang Undang-undang Pornografi yang akan segera disahkannya itu. Mereka mendukung dan mengharapkan dengan adanya aturan hukum soal pornografi dapat melindungi anak dan perempuan dari dampak buruk pornografi. Causal Interpretation Diagnose Causes. Dalam edisi ini Republika menunjuk pemerintah untuk segera membuat aturan teknis dalam Undang-undang Pornografi. Republika menyoroti kontradiktif ini sebagai subuah persoalan bangsa yang berpangkal dari industri pornografi yang sudah merajalela merusak bangsa ini dan juga menghambat kemajuan bangsa dan eksistensi bangsa. ”Berbagai aturan teknis yang menuntut peraturan lanjutan segera terbit.” kehidupan budaya tetap dilindungi dan dilestarikan ”FPG akan selalu mengawal untuk mempertahankan nilai budaya dan adat istiadat yang dijunjung tinggi masyarakat Bali, Papua, Aceh, Yogjakarta, Banten, dan lainnya.” kata Irsyad Sudiro. lxviii Moral Evaluation Make Moral Judgement. Penilaian atas penyebab pro kontra Undang-undang Pornografi ini ketika pemerintah lambat dalam menetapkan suatu Undang-undang yang dapat melindungi bangsa dan negara. Treatment Recommendation Suggest Remedi. Berdasarkan pernyataan- pernyataan yang dituangkan dalam pro kontra Undang-undang Pornografi ini. Republika melihat pemerintah segera mensosialisasikan kepada masyarakat secara bijak dan tepat agar tidak terjadi kesimpangsiuran. Republika tetap mendukung atas pengesahan yang dilakukan DPR dan pemerintah karena dengan adanya Undang-undang Pornografi akan melindungi kaum perempuan dan anak-anak. Analisis sample frame Republika kasus Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak edisi 1 November 2008 dengan judul “Pembentukan UU Pornografi Demokratis”. Kategorisasi: Hasil yang didapat melalui sistem demokrasi Dalam pembentukan Undang-undang Pornografi mengalami berbagai rintangan dalam kontroversi dari berbagai kalangan. Namun Undang-undang Pornografi kendati pun mengalami penolakan itu pun sudah melalui proses yang sangat signifikan. Jalan yang panjang ini yang dilakukan sudah melalui mekanisme yang demokratis di DPR. Adapun permasalahan-permasalahan yang ada pemerintah akan menampung berbagai aspirasi dari berbagai kalangan. Pasal-pasal yang dianggap multitafsir, akan dibuat PP dengan pengertian yang lebih rinci dan gamblang agar masyarakat dapat memahaminya. Pemberantasan pornografi akan tetap dilakukan sesuai dengan bingkai aturan hukum yang berlaku. lxix Sudah sangat pantaslah Undang-undang Pornografi diterapkan dimasyarakat agar tidak terjadi sesuatu yang kita tidak inginkan. Oleh sebab itu, sangat tepatlah aturan itu sudah ditetapkan dalam bentuk Undang-undang Pornografi. Tabel 7 Frame Republika dengan judul “Pembentukan UU Pornografi Demokratis”. Perangkat Frames Penjelasan Sumber Berita Problem Identification Melaksanakan sistem demokrasi Yusuf Kalla Causal Interpretation Wapres JK mendukung UU Pornografi Hilman Rosyad Moral Evaluation Sudah secara demokratis Hilman Rosyad Treatment Recommendation Mendukung UU Pornografi segera dilaksanakan Irsad Sudiro Problem Identification Define Problems. Frame yang dikembangkan Republika dalam teks beritanya tentang “Pembentukan UU Pornografi Demokratis”. Ini merupakan sistem yang berlaku melalui mekanisme demokratis. Sistem demokrasi tergantung dimana yang menerima lebih banyak ketimbang yang menolak Undang-undang Pornografi. Undang-undang ini sudah melalui jalan yang cukup panjang sampai akhirnya bisa terbentuk menjadi hukum yang berlaku di masyarakat. ”Ini suatu tatanan demokrasi, ada yang menerima dan ada yang menolak. Selama yang lxx menerima lebih besar daripada yang menolak, tentu secara UU yang dibahas sejak tiga atau empat tahun lalu ini, prosesnya sudah demokratis.” Causal Interpretation Diagnose Causes. Dalam edisi ini Republika menuliskan berita mengenai sikap pemerintah terhadap Undang-undang Pornografi disini dapat dilihat bahwa pemerintah sangat merespon Undang- undang ini tanpa terkecuali. Karena Undang-undang ini cukup mengakomodir keinginan masyarakat sehingga sangat pantas menjadi Undang-undang Pornografi. Bahkan Undang-undang ini justru melindungi keberagaman adat istiadat, ritual agama, dan seni budaya yang ada di masyarakat. Wapres mengatakan prosenya dalam pengesahan Undang-undang Pornografi sudah melalui sistem demokratis. ”Tentu akan dibuat PP dengan baik sehingga tidak menimbulkan masalah. UU inikan prinsip-prinsip pokoknya.” dan dalam ”draftnya lebih akomodatif.” kata Wapres Jusuf Kalla. Moral Evaluation Make Moral Judgement. Republika menilai Undang- undang ini memang perlu adanya pemahaman yang berarti sehingga nantinya tidak menjadi Undang-undang yang multitafsir dikalangan masyarakat. Dan juga pemerintah harus tegas dan penuh perhatian Undang-undang Pornografi dalam jangkauan luas, yaitu produksi, distribusi, dan pendanaan produk pornografi. Sehingga sistem yang dilakukannya sudah demokratis. Treatment Recommendation Suggest Remedis. Soal pelaksanaan aparat hukum harus digerakkan agar tidak terjadi sesuatu yang kita tidak inginkan keterlibatan masyarakat dalam mengantisipasi fenomena pornografi dan komersialisasi seks yang terus berkembang sampai saat ini. lxxi Analisis sampel frame Republika kasus Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak edisi 2 November 2008 dengan judul “Walk Out, Berdampak Buruk Bagi PDIP dan PDS”. Kategorisasi: Pengesahan Undang-undang Pornografi terlalu tergesah- gesah. Aksi keluar walk out yang dilakukan oleh F-PDIP dan F-PDS merupakan aksi penolakan terhadap Undang-undang Pornografi. Walaupun penolakan yang dilakukan F-PDIP dan F-PDS merupakan aksi yang dapat merugikan bagi partainya. Karena menjelang pemilu dapat diperkirakan masa pendukung pemilu 2009 berkurang masyarakat yang selama ini mendukung disahkannya RUU Pornografi menjadi Undang-undang Pornografi bisa saja masyarakat menggalang kekuatan untuk tidak mendukung kedua parpol itu dalam pemilu 2009. Ini juga dapat menggambarkan sikap kedua partai yang kurang cerdas dalam melakukan aksi penolakan sampai melakukan keluar ruangan dalam pengesahan Undang-undang. Dalam realitas yang ada justru masyarakat menginginkan adanya Undang-undang itu untuk melindungi moral bangsa. Terkait dengan hal itu pemerintah dan DPR didesak untuk pengesahan Undang- undang Pornografi yang dilakukan secara bijak dan tepat. Tabel 8 Frame Republika dengan judul “Walk Out, Berdampak Buruk Bagi PDIP dan PDS” Perangkat Frames Penjelasan Sumber Berita Problem Identification Menentang aksi walk out Warjio MA Causal Interpretation Warjio, MA mengecam aksi Warjio MA lxxii walk out Moral Evaluation Menggalang pemilu 2009 dalam pengesahan UU Pornografi Warjio MA Treatment Recommendation Sosialisasi secara bijak dan tepat Warjio MA Problem Identification Define Problems. Frame yang dikembangkan dalam teks beritanya “Walk Out, Berdampak Buruk Bagi PDIP dan PDS”, dilihat kedua fraksi ini masih mementingkan diri sendiri dan kelompok padahal disatu sisi banyak yang mendukung Undang-undang Pornografi. Sikap ini dinilai masih rentan dengan pengaruh-pengaruh luar yang tidak mengerti arti dan tujuan dibuatnya Undang-undang Pornografi. Alasan-alasan yang dibuat juga merupakan alasan yang tidak logis dalam berdemokrasi yang tidak mau mendengarkan aspirasi banyak orang. Inilah yang cenderung menyalahi aturan yang terlalu tergesah-gesah tanpa mementingkan banyak orang yang masih menginginkan Undang-undang Pornografi ini. Causal Interpretation Diagnose Causes. Keberadaan Rancangan Undangt-undang Pornografi menjadi Undang-undang Pornografi ini diyakini masyarakat mau menerimanya. Kedua fraksi yang menolaknya menjadi kehilangan jalan karena bisa saja di pemilu 2009 suara atau pendukung dari F- PDIP dan F-PDS kehilangan massa pendukung penolakan kedua fraksi terkesan mereka mendukung kepentingan bisnis berbau pornografi. Moral Evaluation Make Moral Judgement. Tindakan yang diambil oleh kedua fraksi itu melambangkan tidak cerdasam berdemokrasi. Karena dia tidak melihat realitas yang ada padahal saat ini masyarakat butuh akan Undang-undang lxxiii Pornografi karena dengan Undang-undang ini dapat melindungi dirinya terutama anak-anak dan perempuan dari kejahatan. Treatment Recommendation Suggest Remedis. Oleh sebab itu, pemerintah segera membuat suatu keputusan dimana keputusan itu harus disikapi secara bijak dan tepat terutama pada elemen masyarakat agar kesimpangsiuran, keselahpahaman, dan politisasi atas Undang-undang tersebut tidak terjadi lagi. Dan masyarakat juga memiliki kesadaran pribadi dan jeli dalam bertindak untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan dirinya sendiri akibat mengkonsumsi, mendistribusikan, dan memproduksi pornografi. Analisis sampel frame Republika kasus Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak edisi 3 November 2008 dengan judul “UU Pornografi tidak Hilangkan Budaya”. Kategorisasi: Pro kontra keberadaan Undang-undang Pornografi Walaupun Undang-undang Pornografi telah disahkan oleh DPR tetap saja picu permasalahan yang ada. Disitu dalam Undang-undang Pornografi bukan untuk disintegrasi terhadap bangsa apabila ada yang bilang Undang-undang ini dapat membuat disintegrasi bangsa itu hanya berlebihan. Karena dalam Undang-undang Pornografi ini tidak untuk membatasi atau menghilangkan keragaman budaya yang ada di Indonesia. Bahkan, Undang- undang ini justru melindungi keberagaman budaya, adat istiadat, ritual agama, dan seni budaya yang ada di masyarakat. Dalam pro dan kontra di masyarakat merupakan suatu hal yang biasa karena sesuatu yang baru atau peraturan yang baru di mata masyarakat merupakan lxxiv hal yang aneh. Disisi lain, masyarakat harus bisa menyesuaikan keadaan-keadaan yang ada. Sehingga lambat laun masyarakat dapat menerima dengan adanya Undang-undang ini. Produk Undang-undang Pornografi adalah sebuah keputusan politik yang sudah memenuhi prosedur dan mekanisme untuk disahkan menjadi produk hukum. Dan Undang-undang ini sifatnya mengacu pada peraturan yang berbau dengan pornografi yang sudah masuk ke pelosok daerah yang dapat merusak moral bangsa. Mulai saat ini kita dapat menghilangkan hal-hal yang negatif dari keterpurukan yang ada pada bisnis pornografi. Tabel 9 Frame Republika dengan judul “UU Pornografi tidak Hilangkan Budaya”. Perangkat Frames Penjelasan Sumber Berita Problem Identification Kesalahpahaman Mohammad Nuh Causal Interpretation Menkoinfo tidak perlu khawatir dengan Undang-undang Pornografi Mohammad Nuh Moral Evaluation Sudah melakukan uji publik Mohammad Nuh Treatment Recommendation Undang-undang Pornografi untuk menyelamatkan moral bangsa Mohammad Nuh Problem Identification Define Problems. Frame Republika masih menyoroti berita seputar Undang-undang Pornografi kali ini masih menjadi kekhawatiran masyarakat akan timbul dampak negatif yang tidak diinginkan oleh banyak pihak. Argumen-argumen yang muncul terkait disahkannya Undang- undang Pornografi akan menjadi naungan perpecahan hingga timbul disintegrasi bangsa dan juga dapat menghilangkan keragaman budaya yang ada di Indonesia. lxxv Dalam penegasan yang disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika Menkominfo, Mohammad Nuh menyatakan Undang-undang Pornografi yang akan menimbulkan disintegrasi bangsa dan menghilangkan keragaman budaya dinilai terlalu berlebihan. Justru Undang-undang ini tidak hilangkan budaya masyarakat yang ada di Indonesia. Akan tetapi, Undang-undang Pornografi dibuat dengan tujuan menyelamatkan moral bangsa dari pengaruh pornografi. Munculnya pro kontra yang ada di masyarakat adalah sesuatu hal yang sudah biasa. Causal Interpretation Diagnose Causes. Rubrik ini Republika menggali dan meluruskan masalah-masalah yang berkembang mengenai pengaruh dari disahkannya Undang-undang Pornografi. Dalam judul yang diturunkan Republika bahwa “UU Pornografi tidak hilangkan budaya”. Dalam edisi tersebut Republika memaparkan kronologi tidak hilangnya budaya. Seperti apa yang dikatakan oleh Mohammad Nuh masyarakat tidak usah bingung dengan Undang-undang ini karena Undang-undang Pornografi bukan menjadi ajang perpecahan bangsa dan hilangnya keragaman budaya malah Undang-undang Pornografi tersebut melindungi masyarakat. Moral Evaluation Make Moral Judgement. Republika menilai kasus yang terjadi dengan Undang-undang Pornografi merupakan wujud masyarakat yang kurang dengan sosialisasi informasi dan belum tahu benar maksud dan tujuan Undang-undang Pornografi dibuat sehingga timbul anggapan-anggapan yang sebenarnya tidak mungkin terjadi. Pemerintah selaku pelaksana Undang-undang, akan melakukan sosialisasi dan menerbitkan peraturan pemerintah PP, peraturan menteri permen sehingga lxxvi aturan PP-nya bisa lebih fleksibel bagi daerah-daerah yang menolak Undang- undang ini. Treatment Recommendation Suggest Remedis. Undang-undang Pornogarfi tidak membunuh budaya akan tetapi melindungi moral bangsa dari pengaruh- pengaruh yang negatif dengan tujuan menyelamatkan moral masyarakat, bangsa, dan Negara. Dan menjadi sebuah payung hukum dan disertai dengan peraturan yang detail mengenai pornografi. Suka atau tidak suka, masyarakat berkewajiban menaati peraturan yang telah dibuat dalam bentuk Undang-undang. Karena Undang-undang ini sudah melakukan uju publik ke daerah terutama Bali yang menolak keras keberadaan Undang-undang tersebut. Analisis sampel frame Republika kasus Pro Kontra Undang-undang Pornografi di Media Cetak edisi 5 November 2008 dengan judul “Gubernur Bali Dianggap Tak Pahami Undang-undang”. Kategorisasi: Tidak bisa menjalankan Undang-undang sepenuhnya. Undang-undang Pornografi sudah disahkan, namun masih muncul saja penolakan yang terjadi terkait dengan hal substansi dan proseduralnya. Gubernur Bali I Made Mangku Pastika, belum faham benar tentang Undang-undang ini. Karena menurut Gubernur Bali mengatakan dia masih kesulitan dalam melaksanakan Undang-undang Pornografi karena kendatipun begitu hukum itu sifatnya mengikat kepada peraturan yang telah ditetapkan. Tapi, warga Bali sendiri pun masih belum bisa menerima sepenuhnya dengan pengesahaan Undang-undang Pornografi. lxxvii Dalam hal ini seharusnya Gubernur Bali bisa berkoordinasi dengan pemerintah pusat dalam pelaksanaan maupun implementasi dari Undang-undang itu peraturan pemerintah. Sehingga Gubernur Bali tidak menggambarkan dirinya sebagai pembangkang atas penolakan Undang-undang ini. Masalah pelaksanaan Undang-undang Pornografi seharusnya dia dapat berkoordinasi dengan pemerintah pusat sehingga bisa memberikan alasan- alasannya mengapa dia menolak maupun terkait dengan keadaan kondisi Bali sehingga peraturan PP-nya bisa lebih fleksibel untuk Bali. Tabel 10 Frame Republika dengan judul “Gubernur Bali Dianggap Tak Pahami Undang- undang” Perangkat Frames Penjelasan Sumber Berita Problem Identification Tidak pahami aturan Hencky Causal Interpretation Hengcky menanggapi pernyataan Gubernur Bali Hencky Moral Evaluation Tidak mengerti Undang-undang Pornografi sehingga tidak bisa menjalankan dengan sepenuhnya Hencky Treatment Recommendation Fleksibilitas Hencky Problem Identification Define Problems. Dalam frame rubrik ini, Republika menyoroti yang tertuang dalam judul “Gubernur Bali Dianggap tak lxxviii Pahami Undang-Undang”. Seharusnya tidak ada pernyataan tidak mampu menerapkan Undang-undang Pornografi yang dilakukan oleh Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika. Kalau Gubernur Bali mengalami kesulitan dalam menerapkan Undang- undang Pornografi semestinya gubernur dapat berkoordinasi dengan pemerintah pusat dalam melaksanakan maupun implementasi dari Undang-undang itu ke peraturan pemerintah. Aturan Peraturan Pemerintah PP mengenai Undang- undang Pornografi bisa lebih fleksibel untuk Bali. Causal Interpretation Diagnose Causes. Edisi ini Republika menerangkan dan memberi penjelasan kepada Gubernur Bali mengenai Undang-undang Pornografi. Edisi ini menggambarkan bagaimana seorang gubernur tidak boleh mengatakan tidak mampu melaksanakan Undang-undang. Karena dia juga sebelumnya anggota kepolisian yang mampu dan mengetahui permasalahan Undang-undang. Namun atas dasar alasan yang tidak masuk akal karena seharusnya dia bisa berkoordinasikan dengan pemerintah pusat. Moral Evaluation Make Moral Judgement. Republika melihat bahwa Gubernur tidak mematuhi aturan karena dia tidak berkoordinasi dengan pemerintah pusat mengenai pelaksanaan aturan teknis dalam PP-nya dan juga berikan mengapa dia tidak bisa menjalankan Undang-undang ini sepenuhnya, terkait dengan kondisi Bali. Sehingga dia dapat berlaku cerdik seharisnya dia tidak membangkang dengan tidak mengetahui aturan yang ada. Karena Undang- undang ini sifatnya lebih mengikat bagi setiap warga Negara Indonesia. Treatment Recommendation Suggest Remedis. Koordinasi dengan pemerintah pusat harus dilakukan sehingga pemerintah pusat dapat mengetahui lxxix keluhan-keluhan yang terkait dengan masyarakat Bali yang diwakili atas nama Gubernur Bali. Republika secara tidak langsung mengajukan penyelesaian masalah ini dengan berkoordinasikan melalui pemerintah pusat. Apabila Gubernur Bali tidak melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat berarti gubernur dianggap tidak cerdik dalam menyelesaikan suatu masalah yang ada. Setelah melihat keluhan yang ada aturan PP-nya bisa lebih fleksibel untuk Bali.

3. Analisis Perbandingan Framing Media Indonesia dan Republika

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23