Analisis Framing Pro Kontra Ruu Ormas di Media Suara Pembaruan dan Republika

ANALISIS FRAMING PRO KONTRA RUU ORMAS DI MEDIA SUARA
PEMBARUAN DAN REPUBLIKA
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi
Islam (S.Kom.I)

Oleh:
Tiara Meizita
NIM 109051100010

KONSENTRASI JURNALISTIK
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1435 H / 2014 M

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
ANALISIS FRAMING PRO KONTRA RUU ORMAS DI MEDIA
SUARA PEMBARUAN DAN REPUBLIKA
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi untuk Memenuhi Persyaratan
Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)

Oleh:
Tiara Meizita
NIM 109051100010

Dosen Pembimbing

Tantan Hermansah, MSi
NIP 19760617 200501 100 6

KONSENTRASI JURNALISTIK
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1435 H / 2014 M

i

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar sarjana 1 (SI) Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini, saya telah
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini merupakan hasil plagiat
atau hasil jiplakan karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi
yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Jakarta, 8 Januari 2014

Tiara Meizita

ii

iii

ABSTRAK
Tiara Meizita
Analisis Framing Pro Kontra RUU Ormas di Media Suara Pembaruan dan
Republika
Undang-undang Organisasi Massa yang lama dianggap tidak sesuai
dengan kebutuhan saat ini. Maka dari itu, pemerintah kemudian mengajukan
Rancangan Undang-Undang Organisasi Masyarakat yang baru untuk mengantikan
Undang-Undang No.8 Tahun 1985. Rencana pemerintah tersebut ternyata menuai
pro kontra di kalangan masyarakat, tak terkecuali ormas Muhammadiyah dan
Nahdlatul Ulama. Bagi kedua organisasi ini, RUU Ormas yang baru dianggap
hanya akan membangkitkan rezim otoriter terhadap kebebasan berserikat dan
berorganisasi. Di sisi lain, jika dilihat dari banyaknya ormas-ormas di Indonesia
rasanya wajar ada sistem yang mengatur mengenai hal tersebut. Isu terkait RUU
Ormas menjadi perhatian berbagai media massa, termasuk Republika dan Suara
Pembaruan. Republika dan Suara Pembaruan membingkai kasus pro kontra isu ini
dengan cara yang berbeda. Studi ini mengkaji media Republika dan Suara
Pembaruan dalam merekam dan berposisi pada isu tersebut.
Berdasarkan realitas tersebut, maka muncul pertanyaan: bagaimana Suara
Pembaruan dan Republika mengidentifikasi masalah terkait kasus pro kontra
RUU Ormas? Apa yang menjadi penyebab masalah menurut Suara Pembaruan
dan Republika terkait kasus pro kontra RUU Ormas? Bagaimana Suara
Pembaruan dan Republika menampilkan nilai moral terkait adanya kasus pro
kontra RUU Ormas? Bagaimana penyelesaian masalah yang ditampilkan oleh
media Suara Pembaruan dan Republika terkait kasus pro kontra RUU Ormas?
Teori yang digunakan adalah teori konstruksi sosial yang dilihat dari sisi
media massa dan politik. Secara umum teori konstruksi sosial membahas
mengenai bagaimana sebuah realitas yang ada di lingkungan sekitar masyarakat di
persepsikan oleh publik secara berbeda. Hal ini yang terjadi di media massa dalam
mengerjakan isi medianya. Pembentukkan realitas melalui simbol-simbol politik
dan bahasa berperan dalam mengkonstruksi berita di media massa.
Penelitian ini menggunakan metodologi paradigma konstruktivis dengan
pendekatan kualitatif. Model yang digunakan untuk menganalisa penelitian ini
adalah model analisis framing Robert Entman. Dalam konsepsi Entman, framing
merujuk pada empat struktur analisis yaitu Define Problem (Pendefinisian
masalah), Diagnose Cause (memperkirakan masalah atau sumber masalah), Make
Moral Judgement (membuat keputusan moral), Treatment Recommendation
(menekankan penyelesaian).
Hasil studi menyimpulkan bahwa Suara Pembaruan dan Republika
cenderung melihat kasus pro kontra RUU Ormas pada sisi yang berbeda.
Republika melihat seluruh aspek kasus pro kontra RUU Ormas dengan
mengedepankan nilai-nilai agamais sesuai visi misi Republika sendiri. Sementara
Suara Pembaruan lebih membidik adanya nilai hukum diantara kasus-kasus yang
menjadi pro-kontra RUU Ormas baik itu terkait asas Pancasila maupun persoalan
pasal transparansi pendanaan yang menjadi dua permasalahan utama dalam
dibentuknya RUU Ormas yang baru.

iv

KATA PENGANTAR

   

Alhamdulillahirabbil’alamiin. Puji syukur peneliti panjatkan kepada Allah
SWT yang telah melimpahkan rahmat serta karunia-Nya. Shalawat serta salam
senantiasa tercurah kepada nabi Muhammad SAW, sosok teladan sepanjang
zaman, beserta para sahabat, dan para pengikutnya, yang telah mengantar umat
manusia dari zaman kegelapan kepada zaman yang dihiasi dengan ilmu seperti
saat ini.
Dalam kesempatan ini peneliti ingin menyampaikan ucapan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada:
1. Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Dr. H. Arief Subhan,
M.A, Wakil Dekan I Bidang Akademik, Dr. Suparto, M.Ed, Wakil Dekan
II Bidang Administrasi Umum, Drs. Jumroni, M.Si, serta Wakil Dekan III
Bidang Kemahasiswaan, Drs. Wahidin Saputra, M.A.
2. Ketua Konsentrasi Jurnalistik, Rubiyanah, M.A serta Sekertaris Jurusan
Kosentrasi Jurnalistik Ade Rina Farida, M.Si yang telah banyak
meluangkan waktunya untuk membantu menyelesaikan kuliah.
3. Dosen Pembimbing skripsi, Tantan Hermansah, M.Si yang telah
menyediakan waktu serta kesabarannya dalam membimbing dan
mengarahkan peneliti sehingga skripsi ini selesai dengan baik dan lancar.

v

4. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi terimakasih
atas ilmu yang telah diberikan kepada Peneliti.
5. Segenap staf Perpustakaan Utama UIN Jakarta dan Perpustakaan Ilmu
Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
6. Ketua Panitia Khusus RUU Ormas, Abdul Malik Haramain yang telah
menyediakan waktu disela kesibukannya untuk menjadi narasumber dalam
penelitian ini.
7. Harian Umum Republika khususnya kepada Fajriyan Zamzami selaku
Redaktur Rubrik Nasional, yang telah menyempatkan diri untuk menjadi
narasumber dalam penelitian ini. Serta kepada Harian Umum Media Suara
Pembaruan khususnya Aditya L. Djono selaku Redaktur Pelaksana, yang
disela kesibukannya menyempatkan diri untuk menjadi narasumber dalam
penelitian ini.
8. Kedua orangtua tercinta Ifdal Muchlis dan Nelmayanti terimakasih atas
segala do’a dan semangat yang telah diberikan selama ini sehingga
Peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.
9. Sahabat peneliti yaitu Dwita Aprinta, serta Virlindayani Nur Maulida,
Hesty Tri Utami, Winda Dwi Astuti Zabua terimakasih atas persahabatan
yang indah, semoga persahabatan dan persaudaraan kita akan terus terjalin.
10. Terima kasih juga peneliti ucapkan kepada Niken Wulandari, Makini
Mardan, teman-teman Jurnalistik angkatan 2009, teman-teman KKN
Anomali, serta teman-teman yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang
sudah membantu, memberikan dukungan, saran kepada peneliti sampai
skripsi ini selesai dengan baik.
vi

Sepanjang kemampuan peneliti dalam menyusun skripsi ini, peneliti
menyadari skripsi ini masih belum mencapai kesempurnaan, namun Peneliti telah
berusaha untuk semaksimal mungkin dengan baik. Semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi pembacanya.

Peneliti

Tiara Meizita

vii

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ...........................................................................
LEMBAR PERNYATAAN ...........................................................................
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN ............................................
ABSTRAK ......................................................................................................
KATA PENGANTAR ....................................................................................
DAFTAR ISI ...................................................................................................
DAFTAR TABEL ..........................................................................................
BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

i
ii
iii
iv
v
viii
x

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ...........................................................
B. Batasan danRumusanMasalah ..................................................
C. Tujuan danManfaatPenelitian. .................................................
D. TinjauanPustaka .......................................................................
E. Metodologi Penelitian ..............................................................
F. Sistematika Penulisan ...............................................................

1
6
7
8
9
15

LANDASAN TEORITIS
A. Undang-UndangOrganisasiKemasyarakatan ...........................
B. KonstruksiSosial.......................................................................
1. KonstruksiSosial :Pemikiran Berger danLuckman .............
2. KonstruksiSosial Media Massa...........................................
C. Analisis Framing ......................................................................
D. Analisis Framing Model Robert Entman .................................

16
20
20
24
28
31

GAMBARAN UMUM
A. Profil Suara Pembaruan ............................................................
1. Sejarah Singkat Suara Pembaruan ........................................
2. Visi dan Misi Suara Pembaruan. ..........................................
3. Struktur Organisasi Suara Pembaruan ..................................
B. Profil Republika .......................................................................
1. Sejarah Singkat Republika....................................................
2. Visi dan Misi Republika .......................................................
3. Struktur Organisasi Republika..............................................

35
35
36
37
38
38
40
43

TEMUAN DAN ANALISA DATA
A. Define Problems Kasus Pro Kontra RUU Ormas di Media
Suara Pembaruan dan Republika ..............................................
B. Diagnose Causes Kasus Pro Kontra RUU Ormas di Media
Suara Pembaruan dan Republika ..............................................
C. Make Moral Judgement Kasus Pro Kontra RUU Ormas di
Media Suara Pembaruan dan Republika ..................................
D. Treatment Recommendation Kasus Pro Kontra RUU Ormas
di Media Suara PembaruandanRepublika ................................
E. AnalisisPerbandingan Framing SuaraPembaruan
dan Republika ..................................................................................
viii

49
54
56

59
61

BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................
B. Saran .......................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
LAMPIRAN-LAMPIRAN………………………………………………….

ix

76
78
79
82

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Perbedaan UU Ormas lama dengan UU Ormas baru ..........................

19

Tabel 2. Proses Konstruksi Sosial Media Massa ...............................................

26

Tabel 3. Defini Framing Menurut Beberapa Tokoh...........................................

30

Tabel 4. Framing Model Robert Entman .........................................................

34

Tabel 5. Struktur Organisasi Suara Pembaruan .................................................

38

Tabel 6. Struktur Organisasi Republika .............................................................

44

Tabel 7. Pemberitaan Pro Kontra RUU Ormas Tahun 1985 ..............................

48

x

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Beberapa waktu belakangan ini, pemerintah tengah sibuk mensosialisasikan
sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) baru kepada masyarakat. RUU ini
berkenaan dengan organisasi kemasyarakatan yang baru. RUU Ormas yang baru
ini memang sengaja dibuat untuk menggantikan Undang-Undang No.8 Tahun
1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan.
Awal munculnya Undang-Undang No.8 Tahun 1985 adalah ketika orde baru
pada saat itu tidak peduli tentang fenomena sosial-politik dan kultural dengan
fenomena hukum. Maka muncullah Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan
1985 (UU No 8/1985) berdasarkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN)
Tahun 1983. Berdasarkan undang-undang itu, Orde Baru mengharuskan ormas
“berhimpun dalam satu wadah pembinaan dan pengembangan yang sejenis”
(Pasal 8-12) untuk dibina pemerintah (Pasal 13-14).1
Mudahnya mendirikan sebuah organisasi masyarakat menjadikan ormas
semakin lama semakin berkembang. Hal lain yang mendorong pertumbuhan
ormas begitu pesat adalah belum ada ketentuan dan larangan serta sanksi yang
jelas dan tegas bila ormas tersebut melakukan pelanggaran hukum atau tindak
pidana lainnya. Maka karena alasan tersebut, pemerintah perlu merancang suatu
undang-undang dimana segala pengaturan mengenai organisasi masyarakat
tertuang didalamnya.

1

http://nasional.kompas.com/read/2012/02/07/02041492/Mengupas.RUU.Ormas

1

2

Ternyata keputusan DPR untuk menggantikan UU Ormas yang lama dengan
yang baru, menuai pro kontra di kalangan masyarakat Indonesia. Baik dari sisi
ormas-ormas itu sendiri , LSM, ataupun pihak-pihak yang tidak setuju adanya
RUU Ormas yang baru. Banyaknya aksi penolakan yang terjadi, membuat Panitia
Khusus (Pansus) RUU Ormas berfikir untuk merubah pasal-pasal yang dianggap
bermasalah.
Salah satu alasan adanya penolakan terhadap RUU Ormas yang baru karena
disebabkan adanya pasal asas Pancasila sebagai asas tunggal dalam RUU Ormas.
Menurut para ormas, pasal ini hanya akan membangkitkan rezim represif dan
otoriter serta membuka intervensi pemerintah terlalu dalam terhadap organisasi
kemasyarakatan.
Disisi lain, pemerintah menganggap bahwa UU Ormas No. 8 Tahun 1985
memang harus direvisi kembali, hal ini mengingat bahwa Undang-Undang Ormas
yang lama dianggap sudah tidak relevan dan tidak lagi bisa menyesuaikan kondisi
perkembangan Negara Indonesia. Banyak pasal-pasal di dalam UU No.8 Tahun
1985 tidak mengatur mengenai adanya peraturan ormas asing yang berkegiatan di
Indonesia, bahkan pasal mengenai transparansi mengenai pendanaan ormas.
Melihat situasi dan kondisi negara Indonesia saat ini, sepertinya memang
sudah layak keberadaan ormas diatur oleh sebuah undang-undang. Banyak ormas
sering melakukan aksi kekerasan dan anarkis, bahkan ormas dijadikan sebagai alat
kepentingan dan melegalisasi keberadaan premanisme. Bahkan presiden Republik
Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono sempat ditegur oleh pemimpin negara
Timur Tengah akibat tindak anarkis yang dilakukan ormas Islam di Indonesia.
“Menanggapi penjelasan tersebut, pejabat Timur Tengah tersebut
justru menegur dan meminta tindakan ormas anarkis harus dihentikan.

3

Menurut dia, tindakan ormas memberikan dua kerugian sekaligus.
"Merugikan Islam, karena Islam tidak anarkis. Kedua, merugikan Arab,
karena merusak dengan menggunakan pakaian Arab," kata Presiden.”2
Apabila dilihat dari pemberitaan diatas, ternyata kasus ormas yang bertindak
anarkis tidak hanya menjadi perhatian bagi pemerintah di Indonesia tetapi juga
menjadi sorotan bagi negara lain. Inilah sebabnya, pemerintah merasa perlu
membuat undang-undang ormas baru dimana undang-undang tersebut dapat
menjadi pegangan bagi pemerintah untuk bertindak atau membubarkan ormas
yang kerap melakukan aksi-aksi premanisme dalam melakukan aksinya di
masyarakat.
Selain masalah banyaknya kasus tindakan anarkis yang dilakukan ormas,
pemerintah juga menilai ormas tidak transparansi masalah kegiatan serta
pendanaan yang ada selama ini. Banyak ormas yang menentang masalah pasal
yang ada di RUU Ormas berkaitan dengan adanya transparansi soal pendanaan
ormas, pemerintah menganggap penentangan tersebut karena ketakutan sejumlah
ormas akan kemungkinan terkuaknya praktik haram di balik kegiatan ormas.
Menurut Direktur Seni Budaya Agama dan Kemasyarakatan, Budi Prasetyo
mengatakan aturan RUU yang memuat semangat transparansi seharusnya tidak
menjadi ketakutan apabila ormas menjalankan kegiatannya secara benar.
“Inilah paradoks demokrasi, dimana sering kali yang menyuarakan
demokrasi di ruang pubik sebenarnya juga tidak demokratis. Mereka ini yang
anti demokrasi”3

2

http://www.tempo.co/read/news/2013/07/23/078498902/SBY-Ditegur-Negara-Lain-AkibatOrmas-Anarkis berita diakses pada 17 Desember 2013 pukul 20:56
3
Republika, ”Ormas Dinilai Takut Transparan” tanggal 1 April 2013

4

Sampai dengan tulisan ini dibuat, konflik mengenai pro kontra RUU Ormas
ini terus berlanjut dengan seluruh dinamikanya dan tidak lepas dari pemberitaan
media baik media cetak mapun media elektronik. Media tersebut berperan aktif
dalam menyampaikan perkembangan dari peristiwa tersebut dalam perannya
sebagai penyampai pesan kepada khalayak banyak sebagai bagian dari
komunikasi massa.
Komunikasi massa adalah komunikasi yang sangat mengandalkan pada
ketepatan jumlah pesan yang disampaikan dalam waktu yang singkat. Pada masa
sekarang ini, komunikasi massa memberikan informasi, gagasan dan sikap pada
khalayak yang beragam dan besar jumlahnya dengan menggunakan media. Dari
definisi tersebut dapat diketahui bahwa “komunikasi massa itu harus
menggunakan media massa.”4
Media melaporkan berita dengan tujuan memberikan info tentang segala
peristiwa aktual yang menarik perhatian orang banyak. Adapun cara melaporkan
atau memberitakan sesuatu, supaya menarik perhatian orang banyak, yang
lazimnya dilakukan dengan gaya yang diplomatis.5 Selain itu, media berperan
mendefinisikan bagaimana realitas seharusnya dipahami dan dijelaskan secara
tertentu kepada khalayak. Berita adalah produk dari profesionalisme yang
menentukan bagaimana peristiwa setiap hari dibentuk dan dikonstruksi.6
Ketika menulis sebuah artikel atau pemberitaan baik di majalah atau koran,
baik cetak ataupun online, harus ditulis secara refrensial dengan visi intektual.

4

E. Ardianto dan Erdinaya L, 2005. Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Bandung :
Simbosia Rekatama Media. hal.3.
5
Kustadi Suhandang, Pengantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk, dan Kode Etik,
(Bandung: Nuansa, 2010), h. 104
6
Eriyanto. 2009. Analisis Wacana : Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta. PT. LKiS
Printing Cemerlang. hal. 80.

5

Maksudnya adalah merujuk pada kekuatan logika akal sehat (common sense),
bukan logika klenik atau mistik. Artikel yang ditulis secara referensial memiliki
ciri antara lain: logis, sistematis, analitis, akademis, dan etis.7
Tiap media memiliki kebijakan redaksinya masing-masing. Ini merupakan
dasar pertimbangan suatu lembaga media massa untuk memberitakan atau
menyiarkan suatu berita. Kebijakan redaksi dianggap penting bukan hanya
peristiwanya saja tapi bagaimana cara menyikapi suatu peristiwa. Dasar
pertimbangan itu bisa bersifat ideologis, politis dan bisnis.8 Ideologi, ekonomi,
politik, sosial, budaya dan agama tak dapat dipungkiri menjadi hal yang melatar
belakangi penulisan berita oleh suatu media.
Wartawan sebagai juru berita memegang peran memasukkan perpektifnya
sendiri ke dalam suatu realitas. Wartawan memiliki kekuatan dalam
mengungkapkan peristiwa melalui media massa sebagai wadah pembingkaian
(framing) berita. Melalui pengemasan fakta, penggambaran fakta, pemilihan
angel, penambahan gambar, maka berita yang ditulis wartawan menjadi menarik.9
Salah satu metode untuk mengetahui proses konstruksi adalah analisis
framing. Akhir-akhir ini, konsep framing telah digunakan secara luas dalam
literatur ilmu komunikasi untuk menggambarkan proses penyeleksian dan
penyorotan aspek-aspek khusus sebuah realita oleh media.10. Framing pada
akhirnya menentukan bagaimana realitas itu hadir di hadapan pembaca. Apa yang
kita tahu tentang realitas sosial pada dasarnya tergantung pada bagaimana kita
7

Haris Sumadiria, Menulis Artikel dan Tajuk Rencana: Panduan Praktis Penulis dan
Jurnalis Profesional, cetakan ke 5, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2009), h. 6
8
Sudirman Tebba, Jurnalistik Baru, (Ciputat: Kalam Indonesia, 2005), h. 152
9
Eni Setiani, Ragam Jurnalistik Baru dalam Pemberitaan, (Yogyakarta: ANDI, 2005), h. 67
Alex Sobur. 2009. “Analisis Teks Media : Suatu Pengantar Analisis Wacana, Analisis
Semiotika, Dan Analisis Framing”(Bandung: PT Remaja Rosdakarya), h. 162
10

6

melakukan frame atas peristiwa itu yang memberikan pemahaman dan pemaknaan
tertentu atas suatu peristiwa
Adapun penulis menganggap penelitian ini penting karena untuk mengetahui
bagaimana Suara Pembaruan dan Republika mengkontruksi berita mengenai pro
kontra adanya RUU Ormas yang baru. Penelitian ini juga dilakukan untuk melihat
bagaimana suatu realitas yang sama dilihat oleh dua media yang mempunyai dua
sudut pandang ideologi yang berbeda. Sedangkan penelitan ini menarik karena
banyaknya pihak yang dibuat resah khususnya ormas-ormas Islam dan beberapa
pihak yang memang menyetujui adanya peraturan RUU Ormas agar tidak ada lagi
terjadi peristiwa anarkis yang dilakukan oleh berbagai macam ormas.
Penulis menganalisis pemberitaan pro kontra RUU Ormas dengan
menggunakan analisis framing. Model analisis ini digunakan penulis untuk
mengetahui bagaimana suatu media memaknai dan membingkai suatu peristiwa.
Sehingga dari analisa ini dapat diketahui bagaimana realitas dan konstruksi yang
dibangun oleh Suara Pembaruan dan Republika terhadap kasus pemberitaan RUU
ormas dengan menggunakan model analisis framing Robert N. Entman.
Bedasarkan fenomena dan penjelasan di atas maka penulis mengangkat judul
“ANALISIS FRAMING PRO KONTRA RUU ORMAS DI MEDIA SUARA
PEMBARUAN DAN REPUBLIKA.”
B

Batasan dan Rumusan Masalah
1. Batasan Masalah
Melihat pada latar belakang yang

dipaparkan di atas, maka penulis

membatasi penelitian pada bagaimana media Suara Pembaruan dan Republika

7

membingkai berita mengenai pro kontra kasus RUU Ormas selama periode Maret
hingga April 2013.
2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang digunakan peneliti secara umum adalah
bagaimana surat kabar Republika dan Suara Pembaruan membingkai pemberitaan
pro kontra RUU Ormas. Sesuai dengan teori Robert Entman rumusan masalah
umum ini dapat diperinci dalam sub-sub masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana Suara Pembaruan dan Republika mengidentifikasi masalah
terkait kasus pro kontra RUU Ormas?
2. Apa yang menjadi penyebab masalah menurut Suara Pembaruan dan
Republika terkait kasus pro kontra RUU Ormas?
3. Bagaimana Suara Pembaruan dan Republika menampilkan nilai moral
terkait adanya kasus pro kontra RUU Ormas?
4. Bagaimana penyelesaian masalah yang ditampilkan oleh media Suara
Pembaruan dan Republika terkait kasus pro kontra RUU Ormas?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang digunakan peneliti, maka tujuan
penelitian adalah sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui bagaimana Suara Pembaruan dan Republika
mengidentifikasi masalah terkait kasus pro kontra RUU Ormas.

8

b. Untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab masalah menurut Suara
Pembaruan dan Republika terkait kasus pro kontra RUU Ormas.
c. Untuk mengetahui bagaimana Suara Pembaruan dan Republika
menampilkan nilai moral terkait adanya kasus pro kontra RUU Ormas
d. Untuk mengetahui bagaimana penyelesaian masalah yang ditampilkan
oleh media Suara Pembaruan dan Republika terkait kasus pro kontra
RUU Ormas
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Akademis
Memberi sumbangsih ilmiah dalam studi framing mengenai berita di
media cetak mengenai suatu kasus, yang dalam penelitian ini adalah berita
tentang kasus terjadinya pro kontra adanya RUU Ormas yang baru di surat
kabar Suara Pembaruan dan Republika. Selain itu, semoga penelitian ini
dapat mempermudah dan membantu peneliti lain yang nantinya bisa
digunakan sebagai pedoman dalam melakukan sebuah penelitian
khususnya bagi mahasiswa.
b. Manfaat Praktis
Agar dapat memecahkan persoalan dalam mengetahui bagaimana posisi
masing-masing media massa dalam menggambarkan suatu kasus, sehingga
dapat diketahui adakah perbedaan antara setiap media massa dalam
membingkai suatu berita.
C. Tinjauan Pustaka
Skripsi yang menjadi acuan penulis untuk memfokuskan penelitian ini adalah
skripsi berjudul “ Pro Kontra Undang-Undang Pornografi di Media Cetak

9

(Analisis Framing Terhadap Pemberitaan Media Indonesia dan Republika)”
karya Alfan Bachtiar, mahasiswa Konsentrasi Jurnalistik UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta. Penulis memilih skripsi tersebut untuk dijadikan sebagai
acuan karena perangkat penelitian yang digunakan sama dengan penelitian yang
penulis. Tentunya terdapat perbedaan antara skripsi tersebut dengan skripsi
penulis, yakni mengenai kasus yang diangkat, media massa yang menjadi objek
penelitian, konsep yang digunakan, dan hasil temuan dan analisa data. .
D. Metodologi Penelitian
1. Paradigma Penelitian
Dalam penelitian tentang wacana pemberitaan ini, peneliti menggunakan
paradigma konstruktivisme. Paradigma ini mempunyai posisi dan pandangan
tersendiri terhadap media dan teks berita yang dihasilkan. Rancangan
konstruktivis melihat pemberitaan media sebagai aktivitas konstruksi sosial.11
Menurut pandangan ini, bahasa tidak hanya dilihat dari segi gramatikal, tetapi
juga melihat apa isi atau makna yang terdapat dalam bahasa itu, sehingga analisis
yang disampaikan menurut pandangan ini adalah suatu analisis yang membongkar
maksud-maksud dan makna-makna tertentu yang disampaikan oleh subjek yang
mengemukakan suatu pernyataan.
2. Metode Penelitian
Metode penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah metode penelitian
kualitatif deskriptif dengan metode analisis framing Robert N. Entman. Peneliti
menganalisis pemberitaan mengenai kasus pro kontra RUU Ormas Pada Suara
Pembaruan dan Republika edisi Maret dan April 2013, dan menyimpulkan hasil
11

Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif, cetakan ke 3, (Jakarta: PT Raja
Grafindo, 2004), h. 204

10

temuan dari analisis tersebut. Hasil dari penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu
memberikan gambaran tentang bagaimana Suara Pembaruan dan

Republika

mengkonstruksi kasus pro kontra RUU Ormas dalam pemberitaannya dan
ideologi yang tercermin dari berita tersebut.
Penelitian Kualitatif memiliki karakteristik yang berbeda dengan kuantitatif
yang berbasis pada paradigma positivistik (positivime-empiris).12 Menurut
Crasswell, beberapa asumsi dalam pendekatan kualitatif yaitu pertama, peneliti
kualitatif lebih memerhatikan proses daripada hasi. Kedua, peneliti kualitatif lebih
memerhatikan interpretasi. Ketiga, peneliti kualitatif merupakan alat utama dalam
mengumpulkan data dan analisis data serta peneliti kualitatif harus terjun
langsung ke lapangan, melakukan observasi partisipasi lapangan. Keempat,
peneliti kualitatif menggambarkan bahwa peneliti terlibat dalam proses penelitian,
interpretasi data, dan pencapaian pemahaman melalui kata atau gambar.13
Pendekatan kualitatif ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman bersifat
umum yang diperoleh setelah melakukan analisis terhadap kenyataan sosisal yang
menjadi fokus penelitian, kemudian ditarik kesimpulan berupa pemahaman umum
tentang kenyataan-kenyataan tersebut.14
Teknik sampling

pada penelitan kualitatif jelas berbeda dengan yang

nonkualitatif. Pada penelitian nonkualitatif sampel itu dipilih dari satu popuasi
sehingga dapat digunakan untuk mengadakan generalisasi. Jadi, sampel benarbenar mewakili ciri-ciri suatu populasi. Selain itu dalam penelitian kualitatif

12

Antonius Birowo, metode penelitian Komunikasi: teori dan Aplikasi,
(Yogyakarta:GITANYALI, 2004), h. 184.
13
Buhan Bungin, Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Tekhnologi
Komunikasi di Masyarakat, (Jakarta: Kencana, 2008), cet. III. H. 303.
14
Rosady Ruslan, Metodologi penelitian publik relation dan komunikasi, (Jakarta:PT.Raja
Grafindo Persada, 2003), h.215

11

sangat erat kaitanya dengan faktor-faktor kontekstual. Jadi, maksud sampling
dalam hal ini ialah untuk menjaring sebanyak mungkin informasi dari berbagai
macam sumber dan bangunanya (contructions). Dengan demikian tujuannya
bukanlah memusatkan diri pada adanya perbedaan-perbedaan yang nantinya
dikembangkan ke dalam generalisasi. Tujuannya adalah untuk merinci
kekhususan yang ada dalam ramuan konteks yang unik. Maksud kedua dari
sampling ialah menggali informasi yang akan menjadi dasar dari rancangan dan
teori yang mucul. Oleh sebab itu, pada penelitian kualitatif tidak ada sampel acak,
tetapi sampel bertujuan (purposive sample).15
3. Subjek dan Objek Penelitian
Untuk melakukan penelitian yang akurat serta mendapatkan data yang
valid maka subjek penelitian adalah Republika dan Suara Pembaruan. Objek yang
dimaksud adalah 4 berita mengenai kasus pro kontra RUU Ormas pada edisi
Maret dan April 2013. Penulis memilih 4 berita tersebut karena penulis
menganggap 4 berita tersebut sudah mewakili gambaran konstruksi Republika dan
Suara Pembaruan terhadap kasus pro kontra RUU Ormas pada edisi Maret dan
April 2013.
4. Sumber Data
Data yang diambil untuk dijadikan suatu sumber dalam penelitian ini
adalah :
a. Primer
Data primer bersumber dari pemberitaan pada Republika dan Suara
Pembaruan.
15

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian
Rosdakarysa,2006). Cet-26, h.224.

Kualitatif,

(Bandung:

PT

Remaja

12

b. Sekunder
Data sekunder adalah data-data pendukung lainnya yang diperoleh tidak
secara langsung. Data sekunder bisa berupa dokumen, arsip, maupun
laporan-laporan tertentu yang didapat oleh peneliti dari berbagai sumber.
5. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di dua media. Pertama Republika yang beralamat di
Jl. Buncit raya No. 37, Jakarta 12510 pada tanggal 10 Desember 2013, dan
yang kedua Suara Pembaruan yang beralamat di BeritaSatu Plaza 11th
Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 Jakarta 12950 pada
tanggal 3 Desember 2013
6. Teknik Pengumpulan Data
Penulis melakukan pengumpulan data dengan melakukan tahapan-tahapan
sebagai berikut:
a. Dokumentasi
Penulis mengkliping data tertulis yang terdapat pada surat kabar Suara
Pembaruan dan Repubika yang memuat berita mengenai kasus pro kontra
RUU Ormas. Selain itu, penulis juga mengkliping data tertulis yang
terdapat pada surat kabar tahun 1985 yang memberitakan mengenai kasus
pro kontra RUU Ormas yang lama pada saat itu. Sebagai data pendukung,
penulis juga mencari data tentang subyek penelitian ini, yaitu Harian Suara
Pembaruan dan Republika.
b. Wawancara

13

Penulis juga melakukan wawancara dengan pihak redaksi tentang
kebijakan redaksional Suara Pembaruan dan Republika dalam mengenmas
pemberitaan mengenai kasus pro kontra RUU Ormas.
c. Studi Kepustakaan (Library Research)
Penulis mengumpulkan dan mempelajari data melalui literatur dan sumber
bacaan, seperti buku-buku yang relevan dengan masalah yang dibahas dan
mendukung penelitian.
7. Teknik Analisis Data
Analisis data kualitatif dimulai dari analisis berbagai data yang berhasi
dikumpulkan peneliti di lapangan baik melalui observasi, wawancara mendalam,
maupun dokumen-dokumen. Kemudian data tersebut diklarifikasikan ke dalam
kategori-kategori tertentu yang mempertimbangkan kesahihan dan memperhatikan
kompetensi subjek penelitian, tingkat autentitasnya dan melakukan triangulasi
berbagai sumber data.16 Penelitian mengenai pemberitaan kasus pro kontra RUU
Ormas pada surat kabar Suara Pembaruan dan Replubika memusatkan pada
penelitian kualitataif yang menggunakan teknik analisis framing dengan
pendekatan model Robert N. Entman. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
bagaimana kedua media tersebut mengemas beritanya mengenai kasus pro kontra
Ormas. Hasil dari pengumpulan data baik melalui studi dokumenter, wawancara,
maupun studi keepustakaan diolah dengan mengacu pada model Robert N.
Entman. Analisis data kualitatif dimulai dari analisis berbagai data yang berhasil
dikumpulkan peneliti di lapangan baik melalui observasi, wawancara mendalam,

16

Rachmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi (Jakarta : Kencana Prenada
Media Group : 2006), h. 192-193.

14

maupun dokumen-dokumen. Kemudian data tersebut diklarifikasikan ke dalam
kategori-kategori tertentu yang mempertimbangkan kesahihan dan memperhatikan
kompetensi subjek penelitian, tingkat autentitasnya dan melakukan triangulasi
berbagai sumber data.17 Penelitian mengenai pemberitaan kasus pro kontra RUU
Ormas pada surat kabar Suara Pembaruan dan Repubika memusatkan pada
penelitian kualitataif yang menggunakan teknik analisis framing dengan
pendekatan model Robert N. Entman. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
bagaimana kedua media tersebut mengemas beritanya mengenai kasus pro kontra
RUU Ormas. Hasil dari pengumpulan data baik melalui studi dokumenter,
wawancara, maupun studi keepustakaan diolah dengan mengacu pada model
Robert N. Entman yakni : pertama, identifikasi masalah (problem Identification),
kedua, identifikasi penyebab masalah (causal interpretation), ketiga, evaluasi
moral (moral evaluation), keempat, saran penanggulangan masalah (treatment
recommendation).
8. Pedoman Penulisan
Penulisan dalam penelitian ini mengacu kepada buku Pedoman Penulisan
Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) karya Hamid Nasuhi dkk yang
diterbitkan oleh CeQDA (Center for Quality Development and Assurance)
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2007.

17

Rachmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi (Jakarta : Kencana Prenada
Media Group : 2006), h. 192-193.

15

E. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan penulisan, maka peneliti membagi sistematika
penyusunan ke dalam lima bab sebagai berikut:
BAB I

PENDAHULUAN
Membahas tentang Latar Belakang Masalah, Pembatasan
dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian,
Metodologi Penulisan Sistematika Penulisan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Membahas tentang teori konstruksi sosial, konseptual
berita, pengertian, efek dan fungsi media massa, serta teori
framing.

BAB III

GAMBARAN UMUM
Membahas tentang berdirinya surat kabar Suara Pembaruan
dan Republika, Visi dan Misi Suara Pembaruan dan
Republika, Struktur Organisasi Redaksi Suara Pembaruan
dan Republika.

BAB IV

HASIL TEMUAN DAN ANALISA DATA
Membahas tentang analisa mengenai konstruksi terhadap
pemberitaan pro kontra RUU Ormas yang akan disahkan
oleh pemerintah dalam media Suara Pembaruan dan
Republika dengan analisis framing.

BAB V

PENUTUP
Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran-saran dari
penelitian mengenai hal-hal yang telah dianalisa.

BAB II
LANDASAN TEORITIS

A. Undang Undang Organisasi Kemasyarakatan
Organisasi masa atau disingkat ormas adalah suatu istilah yang digunakan di
Indonesia untuk bentuk organisasi berbasis masa yang tidak bertujuan politis. Bentuk
organisasi ini digunakan sebagai lawan dari istilah partai politik. Ormas dapat
dibentuk berdasarkan beberapa kesamaan atau tujuan, misalnya: agama, pendidikan,
sosial. Ormas bukanlah suatu badan hukum, melainkan hanya status terdaftar
berdasarkan Surat Keterangan Terdaftar yang diterbitkan Direktorat Jenderal
Kesatuan Bangsa dan Politik, Kementrian Dalam Negeri Indonesia.
Setelah kemerdekaan diraih oleh bangsa Indonesia, pembentukan ormas semakin
marak, terutama organisasi kemahasiswaan yang mencapai puncaknya pada era 70an. Namun seiring dengan menguatnya pemerintahan orde baru yang cenderung
represif terhadap perbedaan ide dan sikap kritis, peran organisasi masyarakat di
Indonesia mengalami kemunduran. Suara kritis organisasi masyarakat serta
penculikan sejumlah aktivis organisasi masyarakat yang kritis terhadap kebijakan.
Pemerintahan orde baru kala itu diperkuat dengan munculnya Undang –Undang
Nomor 8 Tahun 1985 (UU No 8/1985) tentang Organisasi Kemasyarakatan.1
Pemerintah menganggap Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan Nomor 8
Tahun 1985 sudah tidak relevan dan sudah tidak mampu mengakomodasi pesatnya

Suara Pembaruan, “Menadah Fungsi Ormas Sebagai Wadah Aspirasi Rakyat”, tanggal 26
Februari 2013.
1

16

17

dinamika perkembangan yang terjadi pada belakangan ini. Oleh sebab itu, tentu
diperlukan kajian ulang dan evaluasi dengan dilakukan perubahan, sesuai dengan
tantangan dan perubahan zaman pada saat ini.
Pembahasan Rancangan Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan sudah
dimulai pada tahun akhir tahun 2011 di DPR dan menghabiskan waktu tujuh kali
masa sidang. Akan tetapi, RUU Ormas ini mengemuka di awal tahun 2013 ketika
DPR-RI akan menggodok RUU Ormas untuk segera disahkan menjadi UndangUndang

Organisasi

Kemasyarakatan.

Draft

Rancangan

Undang-Undang

Kemasyarakatan yang baru berisi 21 Bab dan 86 Pasal dimana sebelumnya hanya
berisi 9 Bab dan 20 Pasal. Berikut ini penulis akan memaparkan beberapa perbedaan
Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan Nomor 8 Tahun 1985 dengan
Rancangan Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan yang baru menurut ketua
Pansus RUU Ormas, Abdul Malik Haramain.

18

Tabel 1
Perbedaan Undang-Undang Ormas yang lama
dengan RUU Ormas yang Baru.2

No.

Jenis Perbedaan

1.

Perbedaan asas.

2.

Segi Pendaftaran Ormas

2

Penjelasan
Pada Undang-Undang (UU) No.8 Tahun
1985 asas yang berlaku adalah asas
tunggal. Asas ormas pada UndangUndang yang terdahulu berbunyi “Asas
Ormas
berdasarkan
Pancasila.”
Kemudian diubah menjadi asas yang
tidak memaksakan terhadap asas tunggal
dan berbunyi “Asas ormas tidak hanya
berdasarkan Pancasila dan UndangUndang 1945.”
Hal ini berarti bahwa dihapuskannya asas
tunggal pada Undang-Undang Organisasi
Kemasyarakatan yang baru.
Di RUU Ormas yang baru pendaftaran
Ormas diatur lebih mudah karena
disediakannya empat golongan bagi para
ormas
yang
ingin
mendaftarkan
organisasi mereka. Empat golongan itu
terdiri dari Yayasan, Perkumpulan, Surat
Keterangan Terdaftar (SKT), Surat
Keterangan Domisili. Dari empat
golongan tadi, para ormas berhak
memilih salah satunya. Jika ormas
tersebut berbadan hukum
silahkan
memilih yayasan atau perkumpulan,
tetapi bagi ormas yang tidak berbadan
hukum silahkan mendaftar menggunakan
Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dan
Surat Keterangan Domisili.

Hasil wawancara dengan Abdul Malik Haramain, Jakarta 17 September 2013.

19

3.

Larangan dan Sanksi

4.

Pengaturan Ormas Asing

Pada UU Ormas No.8 Tahun 1985,
larangan hanya bersifat umum dan tidak
secara mendetail sementara di RUU
Ormas yang baru ini sifatnya lebih detail.
Hal ini dilakukan karena dikhawatirkan
RUU Ormas yang baru dianggap dapat
dengan mudah untuk dilanggar tanpa
adanya peraturan laranga yang lebih
mendetail. Berikutnya adalah perbedaan
sanksi bagi ormas yang melanggar aturan
dan larangan yang telah ditetapkan
langsung akan diproses memalui jalur
pengadilan. Hal ini berarti dari segi
prosedur sifat Rancangan UndangUndang yang baru sudah demokratis dan
berbeda dengan Undang-Undang yang
lama dimana UU Ormas lama lebih
bersifat fleksibel dan tidak mendetail
sehingga dikhawatirkan akan berbahaya
bagi kelangsungan orang-orang yang
berserikat dan berkumpul.
Undang-Undang Ormas yang lama, yaitu
UU No.8 Tahun 1985 memang sudah
tercantum peraturan mengenai ormas
asing namun dianggap belum cukup
bahkan sangat kurang. RUU Ormas yang
baru diatur sedemikian rupa bagaimana
Ormas asing itu diatur dan bagaimana
ormas asing itu beraktifitas. Selain itu,
juga terdapat pengertian ormas asing,
dan prosedur yang harus ditempuh oleh
Ormas asing apabila ingin menjalani
aktifitas di Indonesia.

Menurut Ketua Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Organisasi
Kemasyrakatan, Abdul Malik Haramain, mengatakan bahwa urgensi dari Penyusunan
Rancangan Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan itu karena Organisasi
Kemasyarakatan yang ada di Indonesia sedemikian rupa, sangat beragam dan bersifat

20

dinamis, oleh sebab itu maka kita perlu mengatur dan mengelola agar Ormas lebih
produktif, dan tidak mengganggu kebebasan ormas lain atau pun menimbulkan
kekacauan yang dapat mengganggu stabilitas Negara Indonesia.3
Indonesia sangat memerlukan regulasi yang mengatur tentang ormas. RUU
Ormas diperlukan untuk menjamin hak asasi setiap ormas lain dan hak asasi individu
warga Negara lainnya. Oleh karena itu, pengaturan ormas diperlukan agar tidak
terjadi tirani atas nama kebebasan berorganisasi atau berkelompok dalam masyarakat.
Termasuk, menjaga agar tidak terjadinya monopoli kebenaran oleh ormas tertentu di
ruang publik. Dengan Undang-Undang baru, Ormas bisa memiliki badan hukum dan
memiliki kegiatan jelas, sesuai konstitusi, Pancasila serta semangat Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI)
B. Teori Konstruksi Sosial
1. Konstruksi Sosial Pemikiran Berger dan Luckman
Salah satu teori yang digunakan dalam metode analisis framing adalah
konstruksi sosial. Teori ini mengenai pembentukkan sebuah realitas yang dilihat dari
bagaimana sebuah realitas sosial itu mempunyai sebuah makna. Sehingga realitas
sosial di maknakan dan di konstruksikan oleh indvidu secara subjektif dengan
individu lainnya sehingga realitas tersebut dapat dilihat secara objektif. Pada akhirnya
individu akan mengkonstruksi realitas yang ada dan merekonstruksi kembali ke
dalam dunia realitas.
Realitas sosial tidak berdiri sendiri tanpa kehadiran individu, baik di dalam
maupun di luar realitas tersebut. Realitas sosial itu memiliki makna ketika realitas
3

Hasil Wawancara dengan Abdul Malik Haramain, Jakarta 17 September 2013.

21

sosial dikonstruksi dan dimaknakan secara subyektif oleh individu lain sehingga
memantapkan realitas itu secara obyektif. Individu mengkonstruksi realitas sosial dan
mengkonstruksikannya dalam dunia realitas, memantapkan realitas itu berdasarkan
subyektifitas individu lain dalam institusi sosialnya.4
Teori ini berakar pada paradigma konstruktivis yang melihat realitas sosial
sebagai konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu yang merupakan manusia
bebas. Teori Konstruksi ini menolak pandangan paradigma positivis yang
memisahkan antara subjek dan objek komunikasi sedangkan paradigma konstruktivis
tidak ada pemisah antara subjek dan objek komunikasi. Konstruksi realitas
memandang bahwa bahasa adalah alat untuk memahami suatu realitas objektif dan
subjek dianggap sentral dalam kegiatan wacana dan hubungan sosialnya.
Dalam konstruksi realitas, bahasa adalah unsur utama. Ia merupakan instrument
pokok untuk menceritakan realitas Lebih dari itu, terutama dalam media massa,
keberadaan bahasa tidak lagi sebagai alat semata untuk menggambarkan realitas,
melainkan bisa menentukan gambaran (makna citra) mengenai suatu realitas-realitas
media yang akan muncul di benak khalayak. Oleh karena persoalan makna itulah,
maka penggunaan bahasa berpengaruh terhadap konstruksi realitas, terlebih atas
hasilnya.5
Membahas teori konstruksi sosial (social construction) tentu tidak bisa
terlepaskan dari buah pemikiran yang telah dikemukakan oleh Peter L Berger dan
Thomas Luckmann. Peter L Berger merupakan sosiolog dari New School for Social
4

Alex Sobur, Analisa Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisa Wacana, Analisa Semiotika
dan Analisa Framing, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), h. 90
5
Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa, (Jakarta: Granit, 2004), h.13

22

Reserach, New York, sementara Thomas Luckman adalah sosiolog dari University of
Frankfurt. Pemikiran Berger dan Luckmann ini, mereka tulis dalam bukunya yang
berjudul “The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of
Knowledge”. Kajian pokok Berger dan Luckman adalah manusia dan masyarakat.
Kajian ini menjelaskan tentang pemikiran manusia mengenai proses sosial. Berger
menggambarkan proses sosial melalui tindakan dan interaksi manusia, di mana
individu menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami
bersama secara subjektif.6 Manusia adalah makhluk yang memiliki kesadaran yang
terlampau bebas dalam memberi pemaknaan kepada kenyataan yang dihadapinya.
Manusia secara aktif dan kreatif mengembangkan dirinya melalui respon-respon
terhadap stimulus dalam dunia kognitifnya. Manusia memaknai dirinya dan objek di
sekelilingnya berdasarkan sifat-sifat atau sensasi yang dialaminya saat berhubungan
dengan objek tersebut. Pemaknaan tersebut timbul dari tindakan yang terpola dan
berulang-ulang yang kemudian mengalami objektifasi dalam kesadaran mereka yang
mempersepsikannya.
Konstruksi sosial dalam pandangan Berger dan Luckman tidak berlangsung
dalam ruang hampa, namun sarat dengan kepentingan – kepentingan.7 Bagi Berger,
realitas itu tidak dibentuk secara alamiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan Tuhan,
tetapi dibentuk dan dikonstruksi.

6

Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa : Kekuatan Pengaruh Media massa, Iklan
televisi, dan Keputusan Konsumen Serta Kritik Terhadap Peter L Berger &Thomas Luckman (Jakarta :
Kencana Prenada Media Group : 2008), h. 13.
7
Alex Sobur, Analisa Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisa Wacana, Analisa Semiotika
dan Analisa Framing, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), h. 91.

23

Peter

L.

Berger

dan

Thomas

Luckman

mengatakan

realitas

sosial

dikonstruksikan melalui proses eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Pertama,
eksternalisasi, yaitu usaha ekspresi diri manusia ke dalam dunia, baik dalam kegiatan
mental maupun fisik. Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk mengekspresikan diri
dimana ia berada. Manusia tidak dapat kita mengerti sebagai ketertutupan yang lepas
dari dunia luarnya. Manusia berusaha menangkap dirinya, dalam proses inilah
dihasilkan suatu dunia – dengan kata lain, manusia menentukan dirinya sendiri dalam
suatu dunia.
Kedua, objektivasi, yaitu hasil mental dan fisik yang telah dicapai dari kegiatan
eksternalisasi tersebut. Hasilnya adalah realitas objektif yang bisa jadi akan
menghadapi si penghasil sendiri. Realitas objektif itu berbeda dengan realitas
subjektif perorangan. Ia menjadi kenyataan empiris yang bisa dialami oleh setiap
orang.
Ketiga, internalisasi yang lebih merupakan penyerapan kembali dunia objektif ke
dalam kesadaran sedemikian rupa sehinggasubjektif individu dipengaruhi oleh
struktur dunia sosial. Berbagai macam unsur dari dunia luar yang telah terobjektiftkan
tersebut akan ditangkap sebagai gejala realitas di luar kesadarannya. Melalui
internalisasi, manusia menjadi hasil dari masyarakat.
Dalam konstruksi realitas sosial, masyarakat seakan percaya dan menganggap
apa yang diterimanya melalui media massa adalah hal yang riil dan fakta apa adanya
yang diambil dari suatu peristiwa atau kejadia yang ada disekitar. Melalui sejumlah
peristiwa yang ada di masyarakat, media memilih peristiwa apa yang nantinya akan

24

diangkat dan dikonstruksikan kepada khalayak. Berita yang ada di media dapat
memberikan realitas yang sama sekali baru dan berbeda dengan realitas sosialnya.
Berita merupakan hasil rekonstruksi realitas yang subjektif dari proses kerja
wartawan.8
2. Konstruksi Sosial Media Massa
Konstruksi sosial media massa diambil dari pendekatan teori konstruksi sosial
atas realitas Peter L Berger dan Luckmann dengan melihat fenomena media massa
dalam proses eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Menurut perspektif ini
tahapan-tahapan dalam proses konstruksi sosial media massa itu terjadi melalui: tahap
menyiapkan materi konstruksi; tahap sebaran kostruksi; tahap pembentukan
kosntruksi; dan tahap konfirmasi. 9 Penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Tahap menyiapkan materi konstruksi : Ada tiga hal penting dalam tahapan
ini yakni: keberpihakan media massa kepada kapitalisme, keberpihakan
semu kepada masyarakat, keberpihakan kepada kepentingan umum.
2. Tahap sebaran konstruksi : sebaran konstruksi media massa dilakukan
melalui strategi media massa. prinsip dasar dari sebaran konstruksi sosial
media massa adalah semua informasi harus sampai pada khalayak secara
tepat berdasarkan agenda media. Apa yang dipandang penting oleh media,
menjadi penting pula bagi pemirsa atau pembaca.

8

M. Antonious Birowo, Metode Penelitian Komunikasi, Teori, dan Aplikasi, (Jakarta: Gitnysli,
2004), h.168-169
9
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi : Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi
Komunikasi di Masyarakat,( Jakarta : Kencana, 2007), hlm. 205-212

25

3. Tahap

pembentukan

berlangsung

konstruksi

realitas.

Pembentukan

konstruksi

melalui: (1) konstruksi realitas pembenaran; (2) kedua

kesediaan dikonstruksi oleh media massa ; (3) sebagai pilihan konsumtif.
4. Tahap Konfirmasi. Konfirmasi adalah tahapan ketika media massa
maupun penonton memberi argumentasi dan akuntabilitas terhadap
pilihannya untuk terlibat dalam pembetukan konstruksi.10
Tabel 2
Proses Konstruksi Sosial Media Massa11
Proses

Sosial

Eksternalisasi

Simultan

M

Realitas Terkonstruksi:

E

-

D

Objektivasi

I

- Objektif
- Subjetif

Lebih Cepat
Lebih Luas
Sebaran Merata
Membentuk Opini Massa
Massa Cenderung
Terkonstruksi

A
- Opini Massa Cenderung

Internalisasi

Source

Message

Channel

Receiver

Effect

Pada konteks media cetak ada tiga tindakan dalam mengkonstruksi realitas,
yang hasil akhirnya berpengaruh terhadap pembentukan citra suatu realitas. Pertama
adalah pemilihan kata atau simbol. Sekalipun media cetak hanya melaporkan, tetapi
jika pemilihan kata istilah atau simbol yang secara konvensional memiliki arti

10
11

Ibid, hlm. 14
Ibid, hlm. 204

26

tertentu di tengah masyarakat, tentu akan mengusik perhatian masyarakat tersebut.
Kedua adalah pembingkaian suatu peristiwa. Pada media cetak selalu terdapat
tuntutan teknis, seperti keterbatasan kolom dan halaman atas nama kaidah jurnalistik,
berita selalu disederhanakan melalui mekanisme pembingkaian atau framing. Ketiga
adalah penyediaan ruang. Semakin besar ruang yang diberikan maka akan semakin
besar pula perhatian yang akan diberikan oleh khalayak. 12.
Dapat disimpulkan, menurut pandang kaum konstruksionis:
1. Fakta/peristiwa adalah hasil konstruksi. Bagi kaum konstruksionis, realitas
itu hadir, karena dihadirkan oleh konsep subjektif wartawan. Realitas bisa
berbeda-beda, tergantung pada bagaimana konsepsi ketika realitas itu
dipahami oleh wartawan yang mempunyai pandangan yang berbeda.
2. Media adalah agen konstruksi. Disini media dipandang sebagai agen
konstruksi sosial yang mendefiniska

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3879 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1032 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 926 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 776 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1219 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 807 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1089 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1321 23