Analisis framing pemberitaan kasus gayus tambunan di Republika dan Media Indonesia periode November 2010

ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN KASUS GAYUS TAMBUNAN DI
REPUBLIKA DAN MEDIA INDONESIA EDISI NOVEMBER 2010
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Islam
(S.Sos.I)

Oleh:
Ririn Restu Utami
NIM 107051102476

KONSENTRASI JURNALISTIK
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H / 2011 M

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
ANALISIS FRAMING KASUS GAYUS TAMBUNAN DI REPUBLIKA DAN
MEDIA INDONESIA EDISI NOVEMBER 2010

SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi untuk Memenuhi
Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)

Oleh:
Ririn Restu Utami
NIM 107051102476

Di Bawah Bimbingan

M. Hudri, M.Ag
NIP 19720606 199803 1 003

KONSENTRASI JURNALISTIK
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H / 2011 M

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah
satu persyaratan memperoleh gelar sarjana 1 (SI) Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini, saya telah cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini merupakan hasil plagiat atau
hasil jiplakan karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang
berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Jakarta,

Juni 2011

Ririn Restu Utami

PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi berjudul Analisis Framing Pemberitaan Kasus Gayus Tambunan
di Republika dan Media Indonesia Edisi November 2010 telah diujikan dalam
sidang munaqasah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta pada 7 Juni 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I) Program Studi Konsenterasi
Jurnalistik.
Jakarta, 7 Juni 2011
Sidang Munaqasah
Ketua ,

Sekretaris ,

Drs. H. Mahmud Djalal, MA

Ade Rina Farida, M. Si

NIP.195220422 198103 1 002

NIP. 19770513 200701 2 018

Penguji I,

Penguji II,

Wahidin Saputra, MA

Dr. Suhaimi, M.Si

NIP.19700903 199603 1001

NIP.1970906 199304 1 002

Pembimbing

M. Hudri, M.Ag
NIP.19720606 199803 1 003

ABSTRAK
Ririn Restu Utami
Analisis Framing Kasus Gayus Tambunan Pada Republika dan Media
Indonesia Edisi November 2010
Gayus Tambunan menjadi tersangka lagi terkait penyuapan terhadap sembilan
petugas jaga Rumah Tahanan Brimob, Kelapa Dua, Depok, yang telah meloloskannya
keluar dari rutan dan pergi ke Bali. Keberadaan Gayus di Bali memunculkan dugaan
ia bertemu dengan Abu Rizal Bakrie. Isu terkait kasus Gayus menjadi perhatian
berbagai media massa, tidak terkecuali Republika dan Media Indonesia. Republika
dan Media Indonesia tentunya membingkai kasus Gayus ini dengan cara yang
berbeda.
Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana Republika dan Media Indonesia
membingkai kasus Gayus Tambunan ini dalam beritanya?
Realitas-realitas berkenaan dengan kasus Gayus tersebut dapat diketahui
masyarakat karena pemberitaan media massa. Berita terkait kasus Gayus Tambunan
di Republika dan Media Indonesia yang sampai ke masyarakat merupakan hasil
konstruksi kedua media tersebut. Republika memiliki kedekatan dengan Abu Rizal
Bakrie terkait dengan ICMI dan Erick Tohir, hal tersebut menyebabkan Republika
tidak menonjolkan berita terkait keterlibatan Abu Rizal Bakrie. Media Indonesia
dimiliki oleh Surya Paloh yang dikenal sebagai lawan politik Abu Rizal Bakrie
menggiring masyarakat pada kemungkinan adanya keterlibatan Abu Rizal Bakrie
dengan kasus Gayus.
Fokus dalam penelitian ini adalah berita terkait kasus Gayus di Republika dan
Media Indonesia edisi November 2010. Penelitian ini menggunakan paradigma
konstruktivis untuk menganalisa berita Republika dan Media Indonesia dengan
menggunkan perangkat model Robert N. Entman, yang menggunakan empat struktur
analisis yaitu
Define Problem (Pendefinisian masalah), Diagnose Cause
(memperkirakan masalah atau sumber masalah), Make Moral Judgement (membuat
keputusan moral), Treatment Recommendation (menekankan penyelesaian).
Republika cenderung melihat kasus Gayus sebagai masalah hukum.
Republika menilai kasus Gayus menunjukkan citra penegak hukum yang buruk,
Republika merekomendasikan reformasi di lembaga penegak hukum dalam
mengatasi kasus Gayus. Republika menonjolkan penyangkalan Abu Rizal Bakrie
yang menyatakan isu pertemuannya dengan Gayus di Bali hanya intrik politik. Media
Indonesia melihat kasus gayus tidak hanya terkait masalah hukum saja, tetapi sudah
masuk ke ranah politik. Media Indonesia menilai ada upaya politisasi dalam kasus
Gayus. Media Indonesia menonjolkan Isu pertemuan Gayus dengan Bakrie yang
kontan menyandera Partai Golkar. Keberadaan satgas dinilai sebagai alat politik
penguasa. Media Indonesia meminta presiden untuk mengintervensi guna
memperbaiki citra instansi penegak hukum yang berada di bawah wewenang
presiden.

KATA PENGANTAR
“Bukankah Kami Telah Melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah
menghilangkan daripadamu bebanmu yang memberatkan punggungmu? Dan
Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah
hendaknya kamu berharap.” (Q.S. 94:1-8)
Segala puji bagi Allah S.W.T., Sang Khalik, yang telah memberikan saya
pengalaman hidup yang begitu berharga dan karena secuil ilmu-Nya lah saya dapat
menyelesaikan skripsi ini. Dalam mengerjakan skripsi ini, terkadang saya
menemukan kesulitan, namun saya selalu yakin bahwa Allah S.W.T. selalu bersama
saya dan hanya kepada-Nya lah saya berharap demi kelancaran skripsi ini. Shalawat
selalu tercurah kepada Rasulullah “Al-Amin”, yang telah mengajarkan kejujuran,
keikhlasan, semangat dan kesalehan sosial kepada saya untuk terus berjuang
menjalani hidup dan senantiasa selalu bersyukur.
Dalam kesempatan ini penulis ingin menghaturkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada:
1. Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi, Bapak Dr. H. Arief Subhan,
M.A, Pembantu Dekan I Bidang Akademik, Bapak Drs. Wahidin Saputra,
M.A, Pembantu Dekan II Bidang Administrasi Umum, Bapak Drs. Mahmud
Jalal, M.A, serta Pembantu Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Bapak Drs
Study Rizal, L.K, MA.

2. Ketua Konsentrasi Jurnalistik, Ibu Rubiyanah, M.A beserta Sekretaris
Konsentrasi Jurnalistik, Ibu Ade Rina Farida, M.Si yang telah membantu dan
mengarahkan saya dalam pengerjaan skripsi ini.
3. Dosen pembimbing skripsi, Bapak M.Hudri, M.Ag, yang telah menyediakan
waktunya untuk membimbing saya sehingga saya dapat menjalani proses
pembuatan skripsi ini dengan baik dan lancar.
4. Seluruh dosen dan staf akademik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi atas ilmu yang telah diberikan kepada saya.
5. Segenap staf Perpustakaan Utama UIN Jakarta dan Perpustakaan Ilmu
Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
6. Harian Umum Republika dan Media Indonesia, khusunya kepada Bapak
Irwan Ariefiyanto dan Bapak Gaudensius Suhardi, yang di sela kesibukannya
menyempatkan diri untuk menjadi narasumber dalam penelitian ini.
7. Kedua orangtua tercinta, Bapakku Tafrizi dan Emakku Rosmaini atas lautan
sayang, doa dan maaf yang telah dan akan selalu diberikan kepadaku selama
ini.
8. Saudaraku, Kak Opal, Kak Ica, Kak Bima dan Ulfa atas kasih sayang dan
dukungan tiada henti, kalian adalah spirit saya.
9. Nurman Maulana, yang telah mendukung, mendampingi, menyemangati
tanpa kenal waktu dan selalu menjadi inspirasi saya, semoga kita terus
semangat bersama untuk kebaikan.
10. Keluarga besar Om Bambang dan Tante Kristina atas kontribusi yang sangat
berharga dan telah menjadi keluarga kedua buat saya.

11. Teman-teman Jurnalistik angkatan 2007 yang harus saya sebutkan satu
persatu, Zahro, Ika, Cahya, Dita, Zabrina, Mawa, Zahra, Yanti, Silvi, Nana,
Nunu, Nia, Lola, Sintya, Rezza, Ipunk, Era, Ajat, Helmi, Dodo, Alan, Anay,
Taufik, Fajar, Wahyu, Miral, Ibenk, Kiki, Iman, Murni, Nadia, Zenal, Jhon.
Terimakasih atas tawa canda, semangat, dan persahabatan. Bersama kalian
saya selalu merasa jadi semester 1.
12. Pengurus BEM Konsentrasi Jurnalistik dan seluruh keluarga Jurnalistik UIN
Jakarta.
13. Bang Acong, Ka Diah, Ka Yayuk, Joenk, Ibu Marsilia, Bapak dan Ibu Polsek
Ciputat, terimakasih atas supportnya.
14. Semua pihak dan teman-teman yang telah mendukung, mendoakan, dan
membantu saya dan tidak bisa saya sebutkan satu per satu.
Penulis menyadari skripsi ini masih belum mencapai kesempurnaan, namun
penulis telah berusaha semaksimal mungkin dengan baik. Dengan segala kerendahan
hati penulis mmengaharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan
skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.

Penulis

Ririn Restu Utami

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ...........................................................................
LEMBAR PERNYATAAN ...........................................................................
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN ............................................
ABSTRAK ......................................................................................................
KATA PENGANTAR ....................................................................................
DAFTAR ISI ...................................................................................................
DAFTAR TABEL ..........................................................................................
BAB I

BAB II

BAB III

i
ii
iii
iv
v
vii
x

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ...........................................................
B. Batasan dan Rumusan Masalah ................................................
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian. ...............................................
D. Tinjauan Pustaka ......................................................................
E. Metodologi Penelitian ..............................................................
F. Sistematika Penulisan ...............................................................

1
9
9
10
10
14

KERANGKA TEORI
A. Media Massa ............................................................................
1. Definisi dan Karakteristik Media Massa ............................
2. Efek Media Massa ..............................................................
3. Funggsi Media Massa .........................................................
B. Berita ........................................................................................
1. Definisi Berita .....................................................................
2. Nilai Berita ..........................................................................
3. Kategori Berita ....................................................................
4. Proses Penulisan Berita .......................................................
5. Gatekeeper ..........................................................................
C. Konstruksi Sosial......................................................................
1. Konstruksi Sosial : Pemikiran Berger dan Luckman ..........
2. Konstruksi Sosial Media Massa..........................................
D. Analisis Framing ......................................................................
E. Analisis Framing Model Robert N. Entman.............................

15
15
16
17
19
19
22
23
25
27
31
31
34
41
49

GAMBARAN UMUM
A. Profil Republika .......................................................................
1. Sejarah Singkat Republika....................................................
2. Visi dan Misi Republika, ......................................................
3. Struktur Organisasi Republika..............................................
B. Profil Media Indonesia .............................................................
1. Sejarah Singkat Media Indonesia ........................................
2. Visi dan Misi Media Indonesia ............................................
3. Struktur Organisasi Media Indonesia ...................................

52
52
55
58
60
60
63
65

BAB IV

BAB V

TEMUAN DAN ANALISA DATA
A. Analisis Framing Kasus Gayus Tambunan di Republika.........
1. Berita dan Artikel terkait kasus Gayus Tambunan .............
2. Paparan Singkat Objek Penelitian.......................................
3. Analisis Framing Entman Kasus Gayus Tambunan ...........
3.1. Republika Tanggal 12 November 2010 .......................
3.2. Republika Tanggal 15 November 2010 .......................
3.3. Republika Tanggal 20 November 2010 .......................
3.4. Republika Tanggal 24 November 2010 .......................
B. Analisis Framing Kasus Gayus Tambunan di Media Indonesia
1. Berita dan Artikel terkait kasus Gayus Tambunan ...............
2. Paparan Singkat Objek Penelitian ........................................
3. Analisis Framing Entman Kasus Gayus Tambunan .............
3.1. Media Indonesia Tanggal 12 November 2010 .........
3.2. Media Indonesia Tanggal 15 November 2010 .........
3.3. Media Indonesia Tanggal 20 November 2010 .........
3.4. Media Indonesia Tanggal 24 November 2010 .........
C. Perbandingan Framing Republika dan Media Indonesia ......

69
69
71
75
75
81
84
89
93
93
96
99
99
105
109
112
116

PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................
B. Saran .......................................................................................

125
127

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
LAMPIRAN-LAMPIRAN

128

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Definisi Framing Menurut Para Ahli .................................................

41

Tabel 2.2 Framing Model Robert N. Entman ....................................................

50

Tabel 3.1 Struktur Organisasi Republika ...........................................................

58

Tabel 3.2 Struktur Organisasi Media Indonesia .................................................

65

Tabel 4.1 Berita dan Artikel Terkait Kasus Gayus Tambunan di Republika ....

69

Tabel 4.2 Objek Penelitian Republika ...............................................................

72

Tabel 4.3 Paparan Singkat Berita dan Narasumber Berita ...............................

73

Tabel 4.4 Perangkat Entman Republika Tanggal 12 November 2010 ...............

76

Tabel 4.5 Perangkat Entman Republika Tanggal 15 November 2010 ...............

82

Tabel 4.6 Perangkat Entman Republika Tanggal 20 November 2010 ...............

85

Tabel 4.7 Perangkat Entman Republika Tanggal 24 November 2010 ...............

90

Tabel 4.8 Berita dan Artikel Terkait Kasus Gayus Tambunan di Media
Indonesia……………………………………………………………………. ... 94
Tabel 4.9 Objek Penelitian Media Indonesia .....................................................

97

Tabel 4.10 Paparan Singkat Berita dan Narasumber Berita ...............................

98

Tabel 4.11 Perangkat Entman Media Indonesia Tanggal 12 November 2010. . 100
Tabel 4.12 Perangkat Entman Media Indonesia Tanggal 15 November 2010 .. 106
Tabel 4.13 Perangkat Entman Media Indonesia Tanggal 20 November 2010 .. 110
Tabel 4.14 Perangkat Entman Media Indonesia Tanggal 24 November 2010 .. 113

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Popularitas Gayus Holomoan Tambunan sudah tidak terbantahkan lagi di
masyarakat. Laki-laki yang lahir di Jakarta 19 Mei 1979 ini telah menghebohkan
masyarakat karena kasus mafia pajak yang menjeratnya. Gayus adalah PNS golongan
III di bagian Penelaan Keberatan Wajib Pajak Direktorat Jenderal Pajak Republik
Indonesia. Mencuatnya kasus Gayus Tambunan akibat dari pernyataan Komisaris
Jenderal Polisi Susno Duaji, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Badan Reserse
Kriminal (Kabareskim) Polri mengenai adanya praktek mafia hukum di lembaga
kepolisian.
"Ada pegawai pajak, inspektur, dia bersama kelompoknya yang
beranggotakan empat sampai enam orang mengawasi kewajiban pembayaran
pajak di empat sampai enam perusahaan. Di rekening dia, berdasar hasil
penelusuran sebuah instansi, masuk aliran dana mencurigakan senilai lebih
kurang Rp 25 miliar," kisah Susno mengawali, saat ditemui Persda Network
di kediamannya di Jakarta, Sabtu (12/3/2010).”1
Sebelum munculnya pernyataan Susno tersebut, Kasus Gayus berawal dari
laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) pada Maret
2009. Dalam laporan itu disebutkan adanya dana mencurigakan dalam beberapa
rekening Gayus senilai Rp. 25 Miliar. Hal tersebut menimbulkan kecurigaan
Kompas.com, “ Ungkap Makelar Kasus di Polri, Susno Tunjuk Tiga Nama Jenderal,” berita
diakses pada 13 Mei 2011 pukul 11.40 WIB dari
http://kesehatan.kompas.com/read/2010/03/14/00191956/Ungkap.Makelar.Kasus.di.Polri.Susno.Tunju
k.Tiga.Nama.Jenderal.
1

bagaimana bisa seorang Gayus yang hanya pegawai golongan III di Ditjen Pajak
memiliki rekening dengan uang sebanyak itu. Padahal gaji PNS golongan IIIA
dengan masa jabatan 0 sampai 10 tahun hanya berkisar antara Rp 1.655.800 sampai
Rp 1.869.300 per bulan. Namun angka ini belum memperhitungkan tunjangan
menyusul adanya remunerasi di Ditjen pajak. Dari laporan tersebut akhirnya
dialakukan penyelidikan terhadap rekening Gayus. Dalam penyelidikan, uang yang
berhasil dibuktikan terkait tindak pidana oleh penyidik Polri hanya sebesar Rp 395
juta yang berasal dari dua transaksi, yaitu dari PT Megah Jaya Citra Garmindo dan
Roberto Santonius yang merupakan konsultan pajak. Sementara sisanya yang
besarnya sekitar Rp 24,6 Miliar, menurut para penyidik Polri diakui oleh seorang
pengusaha garmen asal Batam bernama Andi Kosasih. Andi menitipkan uang itu
untuk membeli tanah. Namun menurut Susno uang tersebut masuk ke kantong aparat
kepolisian. Pihak Polri yang disebut-sebut sebagai mafia hukum adalah Brigjen
Edmon Ilyas dan Brigjen Pol Raja Erizman. Edmond Ilyas dan Raja Erizman pernah
menjabat sebagai Direktur II Ekonomi Khusus Bareskim dan menangani kasus
penggelapan pajak dimana Gayus sebagai tersangkanya. Dalam kasus tersebut Edmon
Ilyas dan Raja Erizman diduga terlibat dalam pembukaan rekening Gayus senilai 28
miliyar. Namun, saat disidangkan pada tanggal 12 Maret 2010 di Pengadilan Negeri
Tangerang Gayus divonis bebas.
Tentunya pernyataan Susno yang kini juga mendekam di tahanan membuat
pihak internal Polri memanas. Merespon pernyataan Susno tersebut, Mabes Polri
membantah adanya praktek mafia hukum di lembaga penegak hukum tersebut. Kasus

Gayus Tambunan tidak hanya menimbulkan dugaan mafia hukum di instansi
kepolisian, tetapi juga menyeret nama para pengusaha salah satunya adalah Abu Rizal
Bakrie. Bakrie dengan tiga perusahaan besarnya yakni PT Kaltim Prima Coal, PT
Arutmin, dan PT Bumi Resources diduga kuat menggunakan “jasa” Gayus untuk
mengatasi masalah pajak. Terungkapnya keterlibatan Bakrie dalam kasus Gayus
tersebut berdasarkan pengakuan Gayus di persidangan kasus mafia hukum dengan
terdakwa Andi Kosasih di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa 28 September
2010.
“Gayus mengakui ketika dalam persidangan itu, Jaksa Penuntut Umum
Muhammad Rum menanyakan kepada Gayus soal sumber duit di
rekeningnya sebesar Rp 28 miliar. Gayus pun menuturkan, kalau duit itu
diperolehnya dari tiga perusahaan. “Dari KPC sekitar awal 2008, saya diberi
US$ 500 ribu. Pekerjaan kedua membuat surat bantahan dan banding PT BR.
Satu lagi membuat sunset policy SPT KPC dan Arutmin,” kata Gayus.
Gayus mengungkapkan, dari pekerjaan kedua, ia mendapat US$ 500
juta. Sedangkan dari pekerjaan ketiga, US$ 2 juta yang ia terima. “Kira-kira
Rp 30 miliar,” kata dia saat ditanya Rum mengenai total yang diterimanya
dari Bakrie Group.”2
Uang yang diperoleh Gayus dari perusahaan Bakrie didapatnya karena telah
mensukseskan penerbitan surat ketetapan pajak 2001-2005 PT KPC dan membantu
mengurus surat pemberitahuan pajak pembetulan untuk pengurusan Sun Set Policy
PT KPC dan PT Arutmin. Adnan Buyung Nasution sebagai pengacara Gayus,
meminta pengadilan untuk meminta kesaksian dari ketiga perusahaan tersebut untuk
mengetahui darimana saja rekening Gayus tersebut bersumber.

2

http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2010/09/28/brk,20100928-281140,id.html
diakses pada 15 Mei 2011 pukul 01.11 WIB

Kasus Gayus semakin mencuat dengan beredarnya foto laki-laki yang mirip
Gayus sedang menonton pertandingan tenis Bank Commonwealth di Nusa Dua, Bali,
sampai tiga hari berturut-turut: tanggal 4- 6 November 2010. Foto tersebut
merupakan hasil bidikan kamera wartawan Kompas Agus Susanto. Foto tersebut
akhirnya dipastikan keasliannya berdasarkan penyelidikan oleh kepolisian. Media
mensinyalir bahwa kegiatan Gayus di pertandingan tenis tersebut tidak serta merta
karena keinginannya untuk menonton pertandingan tenis, olahraga yang menurut
pengakuannya tidak disukainya. Media mencurigai bahwa kehadirannya di sana
adalah untuk bertemu dengan seseorang. Seseorang yang dicurigai tersebut adalah
Abu Rizal Bakrie. Kecurigaan tersebut dilandaskan karena dalam pertandingan
tersebut, tepatnya di tanggal 6 November 2010 hadir juga Abu Rizal Bakrie. Namun
dugaan pertemuan tersebut dibantah oleh Ical, sapaan akrab Abu Rizal Bakrie dan
menganggap itu hanya intrik politik. "Saya melihat ada serangan ke tiga arah di mana
Gayus hanya dipakai. Pertama, serangan ke arah Presiden SBY. Kedua, serangan ke
polisi. Ketiga, serangan kepada saya dan Golkar," kata Ical. 3
Terungkapnya foto tersebut memunculkan kasus baru yakni bagaimana bisa
Gayus yang seharusnya berada di Rumah Tahanan Markas Komando Brimob, Kelapa
Dua, berada di Bali. Hal tersebut akhirnya mengungkapkan adanya penyuapan yang
dilakukan oleh Gayus kepada Kepala Rutan Mako Brimob, Komisaris Iwan Siswanto
dan delapan polisi petugas jaga untuk meloloskannya keluar penjara. Kasus Gayus,
baik kasus mafia pajak ataupun kasus keluarnya ia dari rutan mencoreng instansi
3

http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2010/11/22/brk,20101122-293617,id.html
diakses pada 15 Mei 2011 pukul 01.58 WIB

penegak hukum di Indonesia. Walau sudah banyak fakta yang terungkap, namun
kasus ini masih belum menunjukkan kejelasannya. Banyak pihak yang menduga
kasus ini telah dipolitisasi. Sebagaian besar masyarakat memandang ini sebagai suatu
keironisan, di satu sisi secara persuasif rakyat diimbau untuk taat membayar pajak,
tapi di sisi lain justru aparat pajak sendiri yang menyelewengkan pajak, masyarakat
menduga masih banyak “gayus-gayus” lain di negara ini.
Kemudian muncul juga pertanyaan, apakah mungkin dalam kasus praktek
mafia hukum yang melibatkan uang miliyaran rupiah ini dilakukan oleh Gayus
seorang diri, tentunya ada sistem penyimpangan yang terstruktur yang melibatkan
pihak-pihak lain. Anggota Komisi Hukum DPR, Didi Irawadi Syamsuddini
mengatakan penghilangan barang bukti itu sangat mungkin terjadi. “Di balik kasus
Gayus diduga ada kekuatan besar mafia pajak,” kata dia.4
Realitas-realitas berkenaan dengan kasus Gayus tersebut dapat diketahui
masyarakat karena pemberitaan media massa. Tentunya kegiatan jurnalistik yang
menjadi bagian cara kerja media massa tidak dapat dipisahkan dari proses mengolah
fakta menjadi informasi. Media massa menginformasikan realitas yang berlangsung
di suatu tempat, namun realitas tersebut sesungguhnya sudah dibentuk, dibingkai dan
dipoles sedemikian rupa oleh media tersebut. Media melakukan tindakan konstruktif
berdasarkan ideologi yang menjadi landasan media tersebut. Pada akhirnya realitas
sosial tersebut dianggap sebagai “fakta”, terlepas benar atau tidaknya isi pemberitaan

4

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/11/14/headline/krn.20101114.218023.i
d.html diakses pada 15 Mei 2011 01.13 WIB

tersebut. Sebuah keniscayaan, hampir semua media akan menyeleksi, menonjolkan
isu yang ada dan menyembunyikan atau mengabaikan isu lain, menonjolkan aspek
tertentu yang terdapat isu tertentu dan aspek lainnya disembunyikan bahkan dibuang.
Cara pandang atau perspektif itulah pada akhirnya menentukan fakta yang diambil,
bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan, serta hendak dibawa kemana berita
tersebut.5
Proses konstruksi realitas tersebut didasarkan pada adanya kepentingan yang
dimiliki oleh masing-masing media tersebut. Tentunya sebuah kebijakan tidak serta
merta sinergi dengan realitas sosial yang ada, bahkan terkadang bertolak belakang
sama sekali. Nilai-nilai yang terdapat pada sebuah pemberitaan merepresentasikan
karakter media itu sendiri, kepentingan pemilik medianya, sasaran atau target pasar,
yang kemudian membentuk sebuah kebijakan media. Adanya kepentingan itulah
memunculkan anggapan bahwa fakta yang disampaikan dalam sebuah berita
bukanlah fakta yang objektif, melainkan fakta yang sudah dikonstruksi. Kaum
konstruksionis memandang bahwa berita yang kita baca pada dasarnya adalah hasil
dari konstruksi kerja jurnalistik, bukan kaidah baku jurnalistik. Semua proses
kontruksi (mulai dari memilih fakta, sumber, pemakaian kata, gambar, sampai
penyuntingan) memberi andil bagaimana realitas tersebut hadir dihadapan khalayak. 6
Sebuah teks, kata Aart van Zoest, tak pernah lepas dari ideologi dan memiliki
kemampuan untuk memanipulasi pembaca ke arah suatu ideologi. Menurut Eriyanto,

5

Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media (Yogyakarta: LkiS,
2002 ), h.68.
6
Ibid, h.26.

teks, percakapan, dan lainnya adalah bentuk dari praktek ideologi atau pencerminan
ideologi tertentu.7
Kasus Gayus Tambunan menjadi perhatian menarik bagi media massa untuk
membahasnya, tidak terkecuali bagi Media Indonesia dan Republika. Kasus ini
menjadi perhatian karena kasus tersebut merupakan isu besar dan menyangkut hajat
hidup orang banyak, merugikan negara, berpola pada suatu konspirasi yang sistemik
yang melibatkan banyak pihak, baik aparatur pemerintahan maupun swasta, baik
secara institusi maupun perorangan. Landasan penulis memilih Media Indonesia dan
Republika sebagai objek penelitian ini adalah karena kedua media tersebut adalah
koran nasional yang mapan dalam segi ekonominya, dan memiliki jumlah pembaca
yang banyak yang menyebar hampir merata ke seluruh bagian di Indonesia. Selain itu
penulis juga melihat aspek kepemilikan dari kedua media tersebut, mengingat subjek
penelitian penulis adalah berita mengenai kasus Gayus Tambunan dimana muncul
dugaan adanya keterlibatan Abu Rizal Bakrie di dalamnya. Media Indonesia dimiliki
oleh Surya Paloh, yang sebagian besar publik menyatakan bahwa beliau merupakan
“saingan politik” Abu Rizal Bakrie. Sedangkan Republika sendiri menurut asumsi
penulis memiliki kedekatan dengan Abu Rizal Bakrie karena pendiri Republika yakni
Erick Tohir, pernah menjadi komisaris TV 1 yang pemiliknya adalah grup Bakrie
dan adanya keterkaitan antara Republika, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia
(ICMI), dan Abu Rizal Bakrie.

7

Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis
Semiotik, dan Analisis Framing (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2006) , h. 61.

Penulis menganalisa pemberitaan mengenai kasus Gayus di Media
Indonesia dan Republika dengan menggunakan analisis framing. Framing adalah
pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang
digunakan wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita.8 Gagasan mengenai
framing, pertama kali dilontarkan oleh Beterson tahun 1955.9 Mulanya, frame
dimaknai

sebagai

struktur

konseptual

atau

perangkat

kepercayaan

yang

mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana, serta yang menyediakan
kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas.
Model Framing yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah model
framing Robert N. Entman. Entman mendefinisikan framing sebagai seleksi dari
berbagai aspek realitas yang diterima dan membuat peristiwa itu lebih menonjol
dalam suatu teks komunikasi, dalam khalayak hal itu berarti menyajikan secara
khusus definisi masalah, interpretasi sebab akibat, evaluasi moral dan tawaran
penyelesaian sebagaimana masalah itu digambarkan.10
Berdasarkan pemaparan di atas penulis mengangkat judul penelitian ini
“Analisis Framing Pemberitaan Kasus Gayus Tambunan Pada Republika dan Media
Indonesia Edisi November 2010”

8

9

Ibid, h.162.
Ibid, h.161.

10

Ibid. h. 172.

B. Batasan dan Rumusan Masalah
1. Batasan Masalah
Merujuk pada latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka penulis
membatasi penelitian ini pada tajuk berita yang mengangkat kasus Gayus Tambunan
di Harian Republika dan Media Indonesia edisi November 2010.
2. Rumusan Masalah
Untuk menghindari meluasnya pembahasan, penulis merumuskan masalah
dalam penelitian ini adalah bagaimana surat kabar Republika dan Media Indonesia
membingkai pemberitaan kasus Gayus Tambunan pada edisi November 2010.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui cara Republika dan Media
Indonesia membingkai pemberitaan mengenai kasus Gayus Tambunan.
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dengan adanya peneilitian ini adalah:
a. Manfaat Akademis
Memberi sumbangsih ilmiah dalam studi framing mengenai berita di media
cetak mengenai suatu kasus, yang dalam penelitian ini adalah berita tentang kasus
praktek mafia pajak oleh Gayus Tambunan di Media Indonesia dan Republika. Selain
itu semoga penelitian ini dapat mempermudah dan membantu peneliti lain yang
nantinya bisa digunakan sebagai pedoman dalam melakukan sebuah penelitian
khususnya bagi mahasiswa.

b. Manfaat Praktis
Memecahkan persoalan dalam mengetahui bagaimana posisi masing-masing
media massa dalam menggambarkan suatu kasus, sehingga dapat diketahui adakah
hubungan antara masing-masing media massa dengan kasus tersebut.
D. Tinjauan Pustaka
Skripsi yang menjadi acuan penulis untuk memfokuskan penelitian ini adalah
skripsi berjudul “ Pro Kontra Undang-Undang Pornografi di Media Cetak (Analisis
Framing Terhadap Pemberitaan Media Indonesia dan Republika)” karya Alfan
Bachtiar, mahasiswa Konsentrasi Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis memilih skripsi tersebut untuk dijadikan sebagai acuan karena perangkat
penelitian yang digunakan sama dengan penelitian yang penulis lakukan, dan
kesamaan meneliti dua media massa. tentunya terdapat perbedaan antara skripsi
tersebut dengan skripsi penulis, yakni mengenai kasus yang diangkat, media massa
yang menjadi objek penelitian, konsep yang digunakan, dan hasil temuan dan analisa
data.
E. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
Metode penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah metode penelitian
kualitatif deskriptif dengan metode analisis framing Robert N. Entman. Peneliti
menganalisis pemberitaan mengenai kasus Gayus Tambunan pada Republika dan
Media Indonesia edisi November 2010, dan menyimpulkan hasil temuan dari analisis
tersebut. Hasil dari penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu memberikan gambaran

tentang bagimana Media Indonesia dan Republika mengkonstruksi kasus Gayus
Tambunan dalam pemberitaannya dan ideologi yang tercermin dari berita tersebut.
2. Subjek dan Objek Penelitian
Untuk melakukan penelitian yang akurat serta mendapatkan data yang valid
maka subjek penelitian adalah Republika dan Media Indonesia. Objek yang dimaksud
adalah 4 berita mengenai kasus pada edisi November 2010. Penulis memilih 4 berita
tersebut karena penulis menganggap 4 berita tersebut sudah mewakili gambaran
konstruksi Republika dan Media Indonesia terhadap kasus Gayus Tambunan di edisi
November 2011.
3. Sumber Data
Data yang diambil untuk dijadikan suatu sumber dalam penelitian ini adalah :
a. Primer
Data primer bersumber dari pemberitaan pada Republika dan Media
Indonesia.
b. Sekunder
Data sekunder adalah data-data pendukung lainnya yang diperoleh tidak
secara langsung. Data sekunder bisa berupa dokumen, arsip, maupun laporanlaporan tertentu yang didapat oleh peneliti dari berbagai sumber.
4. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di dua media. Pertama Republika yang beralamat di Jl.
Buncit raya No. 37, Jakarta 12510 pada tanggal 5 Mei 2011, dan yang kedua Media
Indonesia yang beralamat di Jl. Pilar Raya Kav. A-D, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk,
Jakarta Barat – 11520 pada tanggal 31 Januari 2011.

5. Teknik Pengumpulan Data
Penulis melakukan pengumpulan data dengan melakukan tahapan-tahapan
sebagai berikut:
a. Dokumentasi
Penulis mengkliping data tertulis yang terdapat pada surat kabar Media
Indonesia dan Replubika yang memuat berita mengenai kasus Gayus
Tambunan. Sebagai data pendukung, penulis juga akan mencari data tentang
subyek penelitian ini, yaitu Harian Media Indonesia dan Republika.
b. Wawancara
Penulis juga melakukan wawancara dengan pihak redaksi tentang kebijakan
redaksional Media Indonesia dan Republika dalam mengenmas pemberitaan
mengenai kasus Gayus Tambunan.
c. Studi Kepustakaan (Library Research)
Penulis mengumpulkan dan mempelajari data melalui literatur dan sumber
bacaan, seperti buku-buku yang relevan dengan masalah yang dibahas dan
mendukung penelitian.
6. Teknik Analisis Data
Analisis data kualitatif dimulai dari analisis berbagai data yang berhasil
dikumpulkan peneliti di lapangan baik melalui observasi, wawancara mendalam,
maupun dokumen-dokumen. Kemudian data tersebut diklarifikasikan ke dalam
kategori-kategori tertentu yang mempertimbangkan kesahihan dan memperhatikan
kompetensi subjek penelitian, tingkat autentitasnya dan melakukan triangulasi

berbagai sumber data.11 Penelitian mengenai pemberitaan kasus Gayus Tambunan
pada surat kabar Media Indonesia dan Replubika memusatkan pada penelitian
kualitataif yang menggunakan teknik analisis framing dengan pendekatan model
Robert N. Entman. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kedua
media tersebut mengemas beritanya mengenai kasus Gayus tambunan. Hasil dari
pengumpulan data baik melalui studi dokumenter, wawancara, maupun studi
keepustakaan diolah dengan mengacu pada model Robert N.Entman. untuk
mempermudah pengolahan data, terlebih dahulu penulis menguraikan unit analisis
(berita per-edisi) yang ditabulasikan ke dalam tabel, kemudian penulis menguraikan
isi atau inti berita-per berita yang juga ditabulasikan ke dalam sebuah tabel.
Akhirnya, unit analisis dari masing-masing subjek penelitian ditabulasikan ke dalam
sebuah tabel yang memuat kecenderungan framingnya, yang pada model Robert N.
Entman dilakukan empat aspek, yakni : pertama, identifikasi masalah (problem
Identification), kedua, identifikasi penyebab masalah (causal interpretation), ketiga,
evaluasi moral (moral evaluation), keempat, saran penanggulangan masalah
(treatment recommendation).
7. Pedoman Penulisan
Penulisan dalam penelitian ini mengacu kepada buku Pedoman Penulisan
Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) karya Hamid Nasuhi dkk yang
diterbitkan oleh CeQDA (Center for Quality Development and Assurance)
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2007.
11

Rachmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi (Jakarta : Kencana Prenada Media
Group : 2006), h. 192-193.

F.

Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dipaparkan mengenai latar belakang masalah, pembatasan

dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian,
tinjauan pustaka, dan sistematika penulisan.
BAB II KERANGKA TEORI
Bab ini akan menguraikan kajian teoritis mengenai teori ideologi media, yang
menjelaskan adanya ideologi yang melandasi kebijakan media massa. Kemudian
menjelaskan tentang konsep media massa, berita, gatekeepers, teori konstruksi sosial,
analisis framing, dan analisis framing model Robert N. Entman.
BAB III GAMBARAN UMUM
Bab ini memaparkan mengenai sejarah singkat, visi dan misi surat kabar
tersebut, struktur redaksi dari Republika dan Media Indonesia.
BAB IV TEMUAN DAN ANALISA DATA
Bab ini berisikan tentang temuan dan analisa mengenai framing Republika
dan Media Indonesia mengenai kasus Gayus Tambunan edisi November 2010.
BAB V PENUTUP
Bab ini berisikan mengenai kesimpulan dan saran penulis.

BAB II
KERANGKA TEORI
A. Media massa
1. Definisi dan Karakteristik Media Massa
Istilah “media massa” merujuk pada alat atau cara terorganisasi untuk
berkomunikasi secara terbuka dan dalam jarak jauh kepada banyak orang (khlayak)
dalam jarak waktu yang ringkas. Media massa bukan sekedar alat semata-mata,
melainkan juga institusionalisasi dalam masyarakat sehingga terjadi proses
pengaturan terhadap alat itu oleh warga masyarakat melalui kekuasaan yang ada
maupun kesepakatan-kesepakatan lain. 12
Media massa (Mass Media) adalah saluran-saluran atau cara pengiriman bagi
pesan-pesan massa. Media massa dapat berupa surat kabar, video, CD-Rom,
komputer, TV, radio, dan sebagainya.

13

Menurut Kurt Lang dan Gladys Engel Lang,

media massa memaksakan perhatian pada isu-isu tertentu. Media massa membangun
citra publik tentang figur-figur politik. Media massa secara konstan menghadirkan
objek-objek yang menunjukkan apa yang hendaknya dipertimbangkan, diketahui, dan
dirasakan individu-individu dalam masyarakat.14

12

Nurani Soyomukti, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jogjakarta : AR-Ruzz Media, 2010),

h.198.
13

Lynn H Turner, Pengantar Teori Komunikasi dan Aplikasi (Jakarta : Penerbit Salemba
Humanika, 2008), h.41.
14
Warner J. Severin dan James Tankard, Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan
Dalam Media Massa (Jakarta : Prenada Media Group, 2007), h. 264.

Menurut Cangara karakteristik dari media massa adalah:15
1. Bersifat melembaga, artinya pihak yang mengelola media terdiri dari
banyak orang yakni mulai dari proses pengumpulan, pengelolaan, sampai
pada penyajian informasi.
2. Bersifat

satu

arah,

artinya

komunikasi

yang

dilakukan

kurang

memungkinkan terjadinya dialog antara pengirim dengan penerima.
3. Meluas dan serempak, artinya dapat mengatasi rintangan waktu dan jarak
karena ia memiliki kecepatan. Bergerak secara luas dan simultan dimana
informasi yang disampaikan diterima oleh banyak orang di saat yang
sama.
4. Memakai peralatan teknis atau mekanis seperti radio, televisi, surat kabar,
dan semacamnya.
5. Bersifat terbuka, artinya dapat diterima oleh siapa saja dan dimana saja
tanpa mengenal usia, jenis kelamin, dan suku bangsa.
2. Efek Media Massa
Menurut M Chaffee, media massa mempunyai efek yang berkaitan dengan
perubahan sikap, perasaan, dan prilaku komunikannya. Dari pernyataan tersebut
dapat dijelaskan bahwa media massa mempunyai efek kognitif, efek afektif, dan efek
konatif/behavioral. Penjelasannya adalah sebagai berikut : 16

15

Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2008),

h.126.
16

Elvinaro Ardianto dan Lukiati Komala Erdinaya, Komunikasi Massa : Suatu Pengantar
(Bandung : Simbiosa Rekatama Media, 2007), h.50-57

1. Efek Kognitif
Adalah akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya informatif
bagi dirinya. Dalam efek kognitif ini akan dibahas tentang bagaimana
media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi
yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitifnya.
2. Efek Afektif
Tujuan dari media massa bukan sekedar memberitahu khalayak tentang
sesuatu tetapi lebih dari itu, khalayak diharapkan dapat turut merasakan
perasaan iba, terharu, sedih, gembira, dan sebagainya
3. Efek Konatif/behavioral
Merupakan akibat yang timbul pada diri khalayak dalam bentuk prilaku,
tindakan, atau kegiatan.
3. Fungsi Media Massa
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan fungsi dari media massa.
Menurut Jay Black dan Federick C. Whitney (1988) fungsi dari media massa antara
lain; 17
1. to inform (menginformasikan)
2. to entertaint (memberi hiburan),
3. to persuade (membujuk), dan
4. transmission of the culture (transmisi budaya).

17

Nurudin, Pengantar Komunikasi Massa (Jakarta : PT raja Grafindo Persada, 2007) h. 64.

Dennis McQuail menambahkan fungsi media massa bagi individu dalam
bukunya Teori Komunikasi Massa 18
1. Informasi
a. Mencari berita tentang peristiwa dan kondisi yang berkaitan dengan
lingkungan terdekat, masyarakat dan dunia.
b. Mencari bimbingan menyangkut berbagai masalah praktis, pendapat dan
hal-hal yang berkaitan dengan penentuan pilihan.
c. Memuaskan rasa ingin tahu dan minat umum.
d. Belajar, pendidikan diri sendiri.
e. Memperoleh rasa damai melalui penambahan pengetahuan.
2. Identitas Pribadi
a. Menemukan penunjang nilai-nilai pribadi.
b. Menemukan model perilaku.
c. Mengidentifikasikan diri dengan nilai-nilai lain (dalam media).
d. Meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri.
3. Integrasi dan Interaksi Sosial
a. Memperoleh pengetahuan tentang keadaan orang lain; empati sosial.
b. Mengidentifikasikan diri dengan orang lain dengan meningkatkan rasa
memiliki.
c. Menemukan bahan percakapan dan interaksi sosial.
d. Memperoleh teman selain dari manusia.

18

Dennis McQuail, Teori Komunikasi Massa, Suatu Pengantar (t.tp; t.pn; t.t), h.72.

e. Membantu menjalankan peran sosial.
f. Memungkinkan seseorang untuk dapat menghubungi sanak keluarga,
teman dan masyarakat.
4. Hiburan
a. Melepaskan diri atau terpisah dari permasalahan.
b. Bersantai.
c. Memperoleh kenikmatan jiwa, estetis.
d. Mengisi waktu.
e. Penyaluran emosi.
f. Membangkitkan gairah seksual.
B. Berita
1. Definisi berita
Secara etimologis dalam Bahasa Inggris, berita (news) berasal dan kata new
(baru). Jadi berita adalah peristiwa-peristiwa atau hal yang baru.

Sedangkan

dikalangan wartawan ada yang mengartikan news sebagai singkatan dari : north
(utara), east (timur), west (barat), dan south (selatan). Mereka mengartikan berita
sebagai laporan dari keempat penjuru angin tersebut, laporan dari mana-mana, dari
berbagai tempat di dunia

19

. Prof. Mitchel V. Charnley dalam bukunya “Reporting”

mendefinisikan berita sebagai berikut :
“News is the timely reports of facts or opinion of either interest or
importance, or both, to a considerable number of people” (Berita adalah
19

Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi (Bandung : PT Citra Aditya
Bakti, 2003), h. 130.

laporan tercepat mengenai fakta atau opini yang mengandung hal yang
menarik minat atau penting, atau kedua-duanya, bagi sejumlah besar
penduduk.” 20
Dr. Willard G. Bleyer mendefinisikan berita sebagai segala sesuatu yang
hangat dan menarik perhatian sejumlah pembaca, dan berita yang terbaik adalah
berita yang paling menarik perhatian
(Wonohito, 1960:2).

21

bagi jumlah pembaca yang paling besar

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa berita adalah jalan

cerita tentang peristiwa. Ini berarti bahwa suatu berita setidaknya mengandung dua
hal, yaitu peristiwa dan jalan cerita. Jalan cerita tanpa peristiwa atau peristiwa tanpa
jalan cerita tidak dapat disebut berita.22
Berita adalah hasil akhir dari proses kompleks dengan menyortir (memilahmilih) dan menentukan peristiwa dan tema dalam satu kategori tertentu.23 Ada fatorfaktor yang menentukan bagaimana berita tersebut diproduksi. Faktor-faktor tersebut
adalah:24
1. Rutinitas Organisasi,
Setiap hari institusi media secara teratur memproduksi berita, dan proses
seleksi itu adalah bagian dari ritme dan keteraturan kerja yang dijalankan
setiap hari.

20

Ibid,h.131.
Kustadi Suhandang, Pengantar Jurnalistik : Seputar Organisasi, Produk, dan Kode Etik
(Bandung : Penerbit Nuansa, 2004), h. 103.
22
Sudirman Tebba, Jurnalistik Baru (Jakarta : Penerbit Kalam Indonesia, 2005) h. 55
23
Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media (Yogyakarta: LkiS,
2002 ), h.102
24
Ibid, h. 103-112
21

2. Nilai Berita
Nilai berita bukan hanya menentukan peristiwa apa yang akan diberitakan,
tetapi juga bagaimana berita dikemas. Peristiwa tidak lantas dapat disebut
sebagai berita tetapi ia harus dinilai terlebih dahulu apakah peristiwa
tersebut memenuhi criteria nilai berita.
3. Kategori Berita
Kategori dipakai untuk membedakan jenis isi berita dan subjek peristiwa
yang menjadi berita
4. Ideologi Profesional/Objektivitas
Objektivitas

dalam

produksi

berita

digambarkan

sebagai

tidak

mencampuradukkan antara fakta dengan opini. Objektivitas merupakan
standar professional yang berhubungan dengan jaminan bahwa apa yang
disajikan adalah suatu kebenaran. Menurut Michael Bugeja Objectivity is
seeing the world as it is, not how you wish it were. (objektivitas adalah
melihat dunia seperti apa adanya, bukan bagaimana yang anda harapkan
semestinya).25

25

Luwi Ishwara, Catatan-catatan Jurnalisme Dasar (Jakarta : Penerbit Buku Kompas,
2007), h. 44.

2. Nilai Berita:
Nilai berita menjadi suatu ukuran berita atau yang bisa diterapkan yang dapat
menentukan berita itu layak untuk diterbitkan atau tidak . Nilai Berita tersebut antara
lain: 26
a. Immediacy, atau kerap diistilahkan dengan timelines, artinya terkait
dengan kesegaran peristiwa yang dilaporkan. Sebuah berita sering
dinyatakan sebagai laporan dari apa yang baru saja terjadi.
b. Proximity, ialah keterdekatan peristiwa dengan pembaca atau pemirsa
dalam keseharian hidup mereka. Orang-orang akan tertarik dengan berita
yang menyangkut kehidupan mereka.
c. Consequence, berita yang mengubah kehidupan pembaca adalah berita
yang mengandung nilai konsekuensi.
d. Conflict, peristiiwa perang, demonstrasi, atau criminal merupakan contoh
elemen konflik di dalam pemberitaan.
e. Oddity, peristiwa yang tidak biasa terjadi ialah sesuatu yang akan
diperhatikan segera oleh masyarakat.
f. Sex, Seks kerap menjadi elemen utama dari sebuah pemberitaan, tapi
sering pula seks menjadi elemen tambahan bagi pemeberitaan tertentu,
seperti pada berita sports, selebritis, dan kriminal.

26

h. 18-20.

Septiawan Santana K, Jurnalisme Kontemporer ( Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2005),

g. Emotion, Elemen emotion ini kadang dinamakan elemen human interest.
Elemen ini menyangkut kisah-kisah yang mengandung kesedihan,
kemarahan, simpati, ambisi, cinta, kebencian, kebahagiaan, atau humor.
h. Prominence, elemen ini adalah unsur yang menjadi dasar istilah “names
make news”, nama membuat berita. Unsur keterkenalan selalu menjadi
incaran pembuat berita.
i. Suspense, elemen ini menunjukkan sesuatu yang ditunggu-tunggu,
terhadap

sebuah

peristiwa

oleh

masyarakat.

Kisah

berita

yang

menyampaikan fakta tetap merupakan hal yang penting. Kejelasan fakta
dituntut masyarakat.
j. Progress, elemen ini merupakan elemen “perkembangan” peristiwa yang
ditunggu masyarakat.
3. Kategori Berita
Selain nilai berita, hal prinsip lain dalam proses produksi berita adalah apa
yang disebut kategori berita. Secara umum, seperti dicatat Gaye Tuchman dalam
Eriyanto, wartawan memakai lima ketagori berita : hard news, soft news, spot news,
developing news, dan continuing news. Kategori tersebut dipakai untuk membedakan
jenis isi berita dan subjek peristiwa yang menjadi berita. Kelima kategori tersebut
dapat digambarkan sebagai berikut:27
1. Hard news. Berita mengenai peristiwa yang terjadi saat itu. Kategori
berita ini sangat dibatasi oleh waktu dan aktualitas. Semakin cepat
diberitakan semakin baik. Bahkan ukuran keberhasilan dari kategori berita
27

Eriyanto, Analisis Framing, h. 109-110

ini adalah dari susut kecepatannya diberitakan. Peristiwa yang masuk
dalam kategori hard news ini bisa peristiwa yang direncanakan, bisa juga
peristiwa yang tidak direncanakan.
2. Soft news. Ketegori berita ini berhubungan dengan kisah manusiawi
(human interest). Jika dalam hard news, peristiwa yang diberitakan adalah
peristiwa yang terjadi saat itu dan dibatasi oleh waktu, maka soft news
tidak. la bisa diberitakan kapan saja karena yang menjadi ukurannya
adalah apakah informasi yang disajikan kepada khalayak tersebut
menyentuh emosi dan perasaan khalayak.
3. Spot news. Spot news adalah subklasifikasi dari berita yang berkategori
hard news. Dalam spot news, peristiwa yang akan diliput tidak bisa
direncanakan. Peristiwa kebakaran, pembunuhan, kecelakaan, gempa
bumi adalah jenis-jenis peristiwa yang tidak bisa diprediksikan.
4. Developing news. Developing news adalah subklasifikasi dari hard news.
Baik spot news maupun developing news umumnya berhubungan dengan
peristiwa yang tidak terduga. Tetapi dalam developing news dimasukan
elemen lain, peristiwa yang diberitakan adalah bagian dari rangkaian
berita yang akan diteruskan keesokan atau dalam berita selanjutnya.
5. Continuing news. Continuing news adalah subklasifikasi lain dari hard
news. Dalam continuing news peristiwa-peristiwa bisa diprediksikan dan
direncanakan.

4. Proses Penulisan Berita
Selain dibentuk dalam berbagai jenis, berita pun disajikan dengan konstruksi
tertentu. Adapun unsur-unsur yang menjadi konstruksi berita adalah : 28
1. Headline ( judul berita )
Headline dibuat dalam satu atau dua kalimat pendek, tapi cukup
memberitahukan persoalan pokok peristiwa yang diberitakannya.
2. Lead ( teras berita)
Lead merupakan laporan singkat yang bersifat klimaks dari peristiwa yang
dilaporkannya.
3. Body ( kelengkapan atau penjelas berita)
Body adalah keterangan secara rinci dan dapat melengkapi serta
memperjelas fakta atau data yang disuguhkan dalam lead tadi.
Setiap wartawan menulis berita dengan gaya yang berbeda-beda. Namun pada
umumnya wartawan menguunakan gaya piramida terbalik.

28

Kustadi Suhandang, Pengantar Jurnalistik, h. 115-130

Gambar 1
Piramida Terbalik

Sumber : internet 29
Gambar di atas menunjukkan bahwa setiap berita selalu diawali dengan
ringkasan atau klimaks dalam alinea pembukanya, kemudian dikembangkan lebih
lanjut dalam alinea berikutnya dengan memberikan rincian cerita secara kronologis
atau dalam urutan yang semakin menurun daya tariknya. Alinea berikutnya yang
memuat rincian dinamakan „tubuh berita‟(body). Sedangkan alinea pertama yang
memuat ringkasan disebut „teras berita‟ (lead).
Ada alasan khusus mengapa pola berita berbentuk piramida terbalik. Pertama
hal itu relevan dengan naluri manusia dalam menyampaikan berita, yaitu agar berita
dengan cepat dapat ditangkap. Kedua, memuaskan rasa penasaran pembaca dengan
segera.

Ketiga,
29

memudahkan

redaktur

membuat

judul

berita.

Keempat,

http://programatujuh.files.wordp

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3879 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1032 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 926 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 776 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1219 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 807 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1090 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1321 23