“Konstruksi pemberitaan Miss World 2013 di media massa” (analisis framing pada Harian Sindo dan Republika)

“KONSTRUKSI PEMBERITAAN MISS WORLD 2013 DI
MEDIA MASSA”
(ANALISIS FRAMING PADA HARIAN SINDO DAN
REPUBLIKA)
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)

Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta

Oleh:
Ismar Rasoki Hasibuan
NIM.109051000018

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1436 H/ 2015 M

ABSTRAK

ISMAR RASOKI HASIBUAN
Konstruksi Pemberitaan Miss World 2013 di Media Massa
(Analisis Framing Pada Harian Sindo dan Republika)
Pelaksanaan ajang Miss World 2013 di Indonesia menimbulkan reaksi yang
beragam. Beberapa kelompok ada yang menolak ajang tersebut dilaksanakan di
Indonesia dengan alasan ajang Miss World tidak sesuai dengan budaya Indonesia dan
kelompok lain ada juga yang mendukung dengan alasan ajang tersebut merupakan
ajang yang memberikan manfaat besar untuk Indonesia. Media mempunyai kekuatan
dalam mengkonstruksi sebuah realitas. Media tidak hanya menyampaikaan suatu
peristiwa namun ikut memproduksinya. Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi
media dalam menyampaikan suatu berita. Kelompok konstruksionis memandang
bahwa berita yang disampaikan oleh suatu media bukanlah realitas sebenarnya tapi
hasil konstruksi dari wartawan dan media tersebut. Dengan demikian sebuah isu yang
sama bisa dikonstruksi berbeda oleh suatu media. Begitu halnya dengan isu Miss
World 2013 yang menimbulkan beragam pendapat sehingga menarik perhatian media
untuk memberitakan isu tersebut. Penelitian ini ingin melihat bagaimana bingkai
yang dibuat oleh Sindo dan Republika dalam mengkonstruksi pemberitaan Miss
World 2013 dan apakah terdapat perbedaan bingkai antara kedua media tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode analisis framing yaitu pendekatan analisis
wacana untuk mengetahui bingkai suatu berita, khususnya menganalisis teks media.
Teori yang digunakan pada penelitian adalah teori framing model Gamson dan
Modigliani yaitu bagaimana cara pandang wartawan dan media dalam menseleksi isu
dan penulisan berita. Teori ini melihat cara pandang yang digunakan seorang
wartawan tersebut adalah sebuah kemasan atau package yang mengandung konstruksi
makana atas peristiwa yang diberitakan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberitaan Miss World 2013
pada koran Sindo dan Republika memiliki perbedaan bingkai walaupun isu yang
diangkakat sama. Tampak bahwa Sindo memberikan dukungan dilaksanakannya
ajang tersebut di Indonesia karena selain menjadi ajang diplomasi antar negara bisa
dijadikan sebagai ajang promosi budaya Indonesia. Sebaliknya dengan Republika
membingkai isu Miss World tampak menolak dengan alasan ajang tersebut hanya
komuditas bisnis. Indonesia dengan mayoritas penduduknya muslim menolak ajang
tersebut karena tidak sesuai dengan budaya dan nilai-nilai Islam yang ada. Pada
pemberitaan Miss World 2013 di kedua media tersebut membuktikan bahwa,
pebuatan judul, pemilihan narasumber, pengutipan pernyataan, penggunaan gambar,
membuktikan bahwa isu yang sama dapat memberikan kesan yang berbeda karena
bingkai yang dibuat oleh media.

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahrabbil’alamin…..
Tiada kata yang patut penulis lantunkan selain puji dan syukur kehadirat
Allah SWT Tuhan yang Maha Agung yang telah melimpahkan anugerah dan nikmat
yang tak terukur kepada saya selaku penulis, sehingga dapat memulai dan
menyelesaikan tugas akhir ini. Shalawat teriring salam semoga senantiasa tercurah
kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW teladan sepanjang zaman yang telah
membawa ummatnya dari zaman kebodohan ke zaman yang penuh dengan ilmu
pengetahuan.
Peneliti menyadari adanya kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diri
peneliti, khususnya pada penyelesaian tugas akhir ini. Namun Alhamdulillah dengan
keterbatasan dan kekurangan ini akhirnya penulis bisa menyelesaikan. Hal ini tidak
terwujud sendirinya melainkan karena dukungan dan bantuan dari banyak pihak baik
moril maupun materi. Maka dengan ini penulis kiranya ingin mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Dr. H. Arief Subhan, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi, Rahmat Baihaky, MA selaku Ketua Jurusan Komunikasi dan
Penyiaran Islam (KPI). Fita Fathurokhmah, M.Si selaku Sekretaris Jurusan
Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

i

2. Bintan Humeira, M.si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah
membimbing dan mengarahkan peniliti dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Dr. Armawati Arby, M.Si selaku dosen pembimbing akademik yang telah
membimbing penulis dalam menyelesaikan proposal skripsi dengan baik.
4. Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, khususnya dosen jurusan
Komunikasi dan Penyiaran Islam yang telah memberikan wawasan ke-ilmuan,
dan mengarahkan penulis selama penulis berada pada masa kuliah.
5. Keluarga Tercinta, Ayahanda Mukmin Hasibuan, SE dan Ibunda Nur Sopia
Hutasuhut yang telah mendoakan saya dan memberikan fasilitas selama
menempuh pendidikan hingga menyelsaikan tugas akhir ini.
6. Abanganda Sutan Bhatoegan yang meberikan motivasi dan dukungan moril
kepada penulis.
7. Sahabat-sahabat KPI A angkatan 2009 yang telah memberikan dukungan dan
ikatan persahabatan serta keluarga kecil selama penulis berada di masa kuliah.
Penulis merasa perlu memberikan ucapan terimakasih kepada mereka yang
telah penulis sebutkan di atas, berkat dukungan, semangat, serta do’a yang tulus
kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Jakarta, 15 Juni 2015

Ismar Rasoki Hasibuan

ii

DAFTAR ISI

ABSTRAK....................................................................................................................I
KATA PENGANTAR................................................................................................II
DAFTAR ISI..............................................................................................................III
DAFTAR TABEL......................................................................................................IV
DAFTAR LAMPIRAN...............................................................................................V
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah..............................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................................4
C. Tujuan Penelitian.........................................................................................4
D. Manfaat Penelitian.......................................................................................4
E. Tinjauan Pustaka..........................................................................................5
F. Metodologi Penelitian..................................................................................7
G. Sistematika Penelitian................................................................................13
BAB II KERANGKA TEORI
A. Teori Konstruksi Sosial.............................................................................14
B. Konstruksi Media Cetak............................................................................16
C. Konseptualisasi Berita...............................................................................19
iii

D. Analisis Framing.......................................................................................25
E. Framing Model Gamson dan Modigliani..................................................32
BAB III PROFIL KORAN SINDO DAN REPUBLIKA
A. Sejarah Koran Sindo..................................................................................37
B. Visi, Misi dan Struktur Redaksi Koran Sindo...........................................38
C. Sejarah Koran Republika...........................................................................39
D. Visi, Misi dan Struktur Koran Republika..................................................42
BAB IV ANALISIS DATA PENELITIAN
A. Konstruksi Pemberitaan Miss World 2013 di Koran Sindo Tanggal 31
Oktober 2013dan Republika 08 September 2013…………………..........45
B. Perbedaan Bingkai Pemberitaan Miss World 2013
di Koran Sindo dan Republika...................................................................61
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................72
B. Saran..........................................................................................................73
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................74

iv

DAFTAR TABEL

TABEL I Framing Model Gamson dan Modigliani....................................................12
TABEL 2 Isu Miss World 2013 di Koran Sindo dan Republika.................................12
TABEL 3 Kategori Berita Menurut Tuchman.............................................................23
TABEL 4 Definisi Framing Menurut Ahli..................................................................30
TABEL 5 Model Pembingkaian Sindo Terhadap Isu Miss World 2013.....................52
TABEL 6 Model Pembingkaian Republika Terhadap Isu Miss World 2013..............60
TABEL 7 Perbandingan Isu Miss World 2013 di Koran Sindo dan Republika..........66

DAFTAR BAGAN

BAGAN1 Skema Framing Model Gamson dan Modigliani.......................................34
BAGAN2 Foto Para Petinggi Ormas………………………………………………...49

v

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Media cetak sekurang-kurangnnya ada tiga yaitu, surat kabar, majalah dan
buku. Dari awal pertumbuhan ketiga media cetak tersebut sudah banyak mengalami
perubahan yang sangat besar. Baik dari sisi tampilan, bahasa dan kualitas pesan-pesan
yang disampaikan semuanya sudah berubah sejalan dengan perubahan masyarakat
dan perkembangan teknologi.1
Koran merupakan media massa tertua dibabandingkan media-media lainya.
Pada awal perkembangannya di itali, surat kabar hanya berbentuk “posted bulletins”
tumbuh secara bertahap mulai dari lembaran-lembaran kertas yang dipublikasikan
secara lokal hingga yang dilihat dalam bentuk sekarang ini dengan jumlah halaman
yang banyak hingga publikasi Internasional.2
Banyak media cetak yang memberitakan suatu peristiwa atau isu yang sama
namun setiap pemberitaan media tersebut ada hal yang lebih ditonjolkan dan
dihilangkan. Dalam pandangan kelompok positivis, berita adalah refleksi dan
pencerminan realitas. Berita adalah “mirror of reality” yang harus mencerminkan
realitas yang hendak diberitakan.

1

Asep Saeful Muhtadi, Pedekatan Jurnalistik dan Praktik (Jakarta: Logos Wacana
Ilmu,1999),h.88.
2
Asep Saeful Muhtadi, Pedekatan Jurnalistik dan Praktik , h.88

1

Pandangan ini bertolak belakang dengan kelompok konstrutivis yang
memandang berita adalah hasil konstruksi sosial, dimana selalu melibatkan
pandangan, idieologi, dan nilai-nilai dari seorang wartawan atau media.3 Bagi setiap
media sekarang ini berita dianggap sebagai barang dagangan yang dijajakan media
untuk konsumsi khalayak. Para jurnalis berebut peristiwa yang yang menarik untuk
dijadikan bahan berita.4
Indonesia sebagai penyelenggaraan ajang Miss World yang ke 63 mendapat
reaksi pro dan kontra. Perdebatan mengenai dilaksanakannya ajang tersebut di
Indonesia mendapat tanggapan berbeda dari berbagai kalangan di Indonesia.
Sebagian tokoh Islam berpendapat bahwa penyelenggaraan Miss World 2013 di
Indonesia tidak sesuai dengan budaya yang ada. Namun sebagian lain berpendapat,
Indonesia sebagai penyelenggara Miss World 2013 adalah kesempatan besar untuk
mempromosikan budaya Indonesia dimata dunia.
Miss World adalah kontes kecantikan Internasional yang diprakarsai oleh Eric
Morley pada tahun 1951 dan pertama kali diadakan di Inggris. Awalnya acara ini
diadakan sebagai festival kontes bikini untuk mempromosikan pakaian renang yang
baru diperkenalkan pada saat itu. Namun kemudian, oleh media disebut-sebut
sebagai Miss World.
Kontes ini direncanakan sebagai acara one off. Namun, setelah belajar tentang
kontes Miss Universe yang akan datang, Morley memutuskan untuk membuat kontes
acara tahunan.

3
4

Eriyanto, Analisis Framing “Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media”h.25
Asep Saeful Muhtadi, Pedekatan Jurnalistik dan Praktik h.106.

2

Morley juga membentuk Miss World Organization yang mengelola final
tahunan Miss World, sebuah kompetisi yang akhirnya tumbuh menjadi salah satu
kontes terbesar di dunia.

Setelah kematian Eric Morley pada tahun 2000, Istri

Morley, Julia Morley, menggantikan dia sebagai Chairwoman of Miss World
Organization, dengan waralaba di lebih dari 130 negara dan mampu meraup untung
hingga melampaui 450 juta USD.
Pada pelaksanaan kontes, sebelum final delegasi masing-masing negara harus
memenangkan gelar nasional di negaranya atau Miss khusus yang ditunjuk sebagai
pemegang lisensi Miss World setempat. Final kontes Miss World yang berlangsung
tahunan itu biasanya digelar dengan serangkaian acara selama satu bulan, dengan
beberapa acara awal, seperti makan malam, pertemuan-pertemuan dan berbagai
kegiatan, yang diakhiri dengan puncak acara penobatan Miss World yang disiarkan
secara global.
Media Seputar Indonesia dan Republika adalah media yang memberitakan
Miss World 2013. Sindo memberitakan Miss World pada tanggal 31 Oktober 2013
mengangkat judul “Jangan Berlebihan Menilai Miss World” dan Republika pada
tanggal 08 September 2013 dengan judul “MIUMI Tolak Miss World” terlihat kedua
media tersebut mengangkat judul yang berbeda pada isu yang sama.
Meski terlihat begitu isu ini dibingkai oleh media yang berbeda kepentingan
dan latar belakang yang berbeda. Sindo merupakan grup dari perusahaan MNC yang
juga penyelenggara ajang tersebut sedangkan Republika adalah media yang secara
ideologi bisa dikatakan dekat dengan Islam.

3

Dari pemaparan di atas untuk mengetahui lebih jauh perbedaan bingkai berita
antara Sindo dan Republika dan bagaimana media tersebut mengkonstruksi isu Miss
World 2013 peneliti tertarik meneliti harian Sindo dan Republika yang mengangkat
judul penelitan “Konstruksi Pemberitaan Miss World 2013 Di Media Massa”
(Analisi Framing Pada Harian Sindo dan Republika).

B. Perumusan Masalah
Rumusan penelitian adalah:
a. Bagaimana harian Sindo membingkai pemberitann Miss World 2013 pada
tanggal 31 Oktober 2013 dan Republika 08 September 2013 ?
b. Apakah terdapat perbedaan bingkai dalam pemberitaan Miss World 2013 di
harian Sindo dan Republika ?
C. Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui bingkai berita Miss Word 2013 pada harian Sindo Tanggal
31 Oktober 2013 dan Republika 08 September 2013.
b. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan bingkai berita pada kedua media
tersebut.

D. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Akademis.
Penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi untuk pengembangan
Ilmu Komunikasi khusunya komunikasi massa melalui analisis framing.
4

b. Manfaat Praktis.
Diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap praktisi media, khususnya
media cetak dalam menganalisis berita melalui analisis framing dan bisa menjadi
motivasi terhadap praktisi media untuk tetap menjaga kode etik yang ada dalam
pembuatan suatu berita. Dapat membantu untuk penelitian selanjutnya.

E. Tinjauan Pustaka
Untuk menentukan judul skripsi ini, penulis melakukan tinjauan pustaka di
perpustakan Utama Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Beberapa judul skripsi yang ditemukan oleh peneliti ternyata memiliki kesamaan dan
perbedaan.
Ada beberapa penelitian terdahulu yang menggunakan analisis framing dalam
penelitian mereka, diantaranya: Analisis Framing Pemberitaan Satu Tahun SBY
Budiono di Harian Media Indonesia karya Muhammad Rifat Sauqi. Kesimpulan dari
penelitian tersebut adalah Media Indonesia dalam hal ini mengkritik kinerja
pemerintahan SBY dan Budiono dan lebih menekankan evaluasi dibidang ekonomi,
hubungan internasional, penegakan hokum dan politik.

5

Dan pada penelitian tersebut saudara Muhammad Rifat Sauqi menemukan
bahasa jurnalistik yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa jurnalistik seperti
“mendepak” dan “Penggulingan”5
Skripsi dengan judul Konstruksi Media Cetak Atas Realitas Meninggalnya
Soeharto (Analisi Framing Pada Koran Republika Edisi 28, 29 Dan 30 Januari 2008)
karya Etih Rusitah. Hasil temuan dari saudari Etih Rusitah adalah terdapat perbedaan
pemberitaan meninggalnya Soeharto dari ketiga edisi tersebut. Pada tanggal 28
dipahami sebagai bentuk pangggilan Allah, tanggal 29 wujud kepulangannya
menemui kepada sang khalik, sedangkan tanggal 30 peristiwa itu sebagai suatu
kehendak Allah.6
Skripsi dengan judul Konstruksi Pemberitaan Buku Membongkar Gurita
Cikeas Karya George Junus Aditjondro (Analisi Framing Pada Jurnal Nasional)
karya Mimi Fahmiyah. Beberap kesimpulan yang disimpulkan saudarim Mimi
Fahmiya yaitu berita pertama dengan judul “SBY tidak tertarik bahas buku
Aditjondro” menggunakan jenis lead stetment lead atau teras berita pernyataan.7
Skripsi dengan judul Kontroversi Pemberitaan Pengangkatan Idrus Marham
Sebagai Ketua Panitia Khusus Century (Analisis Framing Model Zonda Pan Dan
Gerald M. Kosicky Terhadap Harian Media Indonesia Dan Rakyat Merdeka) karya

Muhammad Rifat Syauqi, “Analisi Freming Pemberitaan Pemerinthan SBY Budiono di
Harian Media Indonesia,” (Skripsi S1 Fakultas Dakwah dan komunikasi, Universitas Islam Negri,
Jakarta)
6
Etih Rusita, “Kontruksi Media Cetak Atas Meninggalnya Soeharto, Analisi Freming Pada
Koran Republika Edisi 28,29 dan 30 Januari 2008,” (Skripsi S1 Fakultas Dakwah dan Komunikasi,
Universitas Islam Negri Jakarta, 2008 )
7
Mimi Fahmiyah, “Konstruksi Pemberitaan Buku Membongkar Gurita Cikeas Karya George
Junus Aditjondro, Analisi Framing Pada Jurnal Nasional,”( Skripsi S1 Fakultas Dakwah dan
komunikasi, Universitas Islam Negri, Jakarta2011)
5

6

Arsyil Taslim. Kesimpulan dari skrpsi saudara Asyril Taslim terjadinya perbedaan
bingkai anatara Harian Media Indonesia yang mengemas berita dengan menggunakan
bahasa yang formal dan lebih halus dan tidak mencolok berbeda dengan Harian
Rakyat Merdeka yang menggunakan bahsa informal dan mencolok8.
Skripsi dengan judul Konstruksi Media Cetak Atas Realitas Analisi Framing
Terhadap Majalah Tabligh. Karya Herni Ramdlaningrum. Hasil dari penelitian
saudari Herni ini membuktikan bahwa media merupakan agen konstruksi yang mana
majalah tabligh telah mengkonstruksi pemahaman Islam dan isu kontemporer.9
Meskipun penulis melakukan tinjauan terhadap penelitian terdahulu, penelitian ini
tetaplah berbeda dalam hal isu berita, model framing dan teori yang digunakan.

F. Metodologi Penelitian
1. Paradigma Penelitian
Paradigma penelitian yang digunakan adalah paradigma konstrusionis yaitu
memandang kehidupan sosial bukanlah realitas yang natural tetapi hasil dari
konstruksi, oleh karena itu konsentrasi pada analisis konstruksionis yaitu menemukan
bagaiman peristiwa atau realitas tersebut dikonstruksi dan dengan cara apa konstruksi
itu dibentuk.

Arsyil Taslim, “Kontroversi Pemberitaan Pengangkatan Idrus Marham Sebagai Ketua
Panitia Khusus Century Analisis Framing Model Zonda Pan Dan Gerald M. Kosicky Terhadap
Harian Media Indonesia Dan Rakyat Merdeka” (Skripsi S1 Fakultas Dakwah dan Komunikasi,
Universitas Islam Negri Jakarta, 2011 )
9
Herni Ramldningrum, “Kontruksi Media Cetak Atas Realitas, Analisi Freming Terhadapa
Majalah Tabligh,” (Skripsi S1 Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negri Jakarta,
2010)
8

7

Paradigma

konstrusionis

mempunyai

karakteristik

tersendiri

apabila

dibandingankan dengan paradigma positivis.10 Paradigma positivis sendiri melihat
komunikasi sebagai bentuk pengiriman pesan dan proses bagaimana pesan terkirim
dari pengirim ke penerima. Proses tersebut dilihat secara linier dari pengirim ke
penerima.11
Isi media sebenarnya adalah hasil konstruksi realitas dengan bahasa sebagai
perangkat

dasarnya.

Sedangkan

bahasa

sendiri

tidak

hanya

sebagai

alat

mereperentasikan realitas, namun juga bisa menentukan seperti apa yang ingin
diciptakan oleh bahasa tentang realitas tersebut. Akibatnya media massa memiliki
peluang yang sangat besar untuk mempengaruhi makna dan gambaran yang
dihasilkan dari realitas yang dikonstruksinya.12
Banyak kasus yang ditemukan bahwa kelompok yang memiliki “power”
mengendalikan makana ditengah-tegah pergaulan sosial melalui media massa.
Terlihat penyampaian suatu berita oleh media massa bahasa yang digunakan bisa
menggambarkan citra tertentu yang akan mempengaruhi khalayak. Menurut De Fleur
dan Ball-Rokech (1989) ada beberapa cara media mempengaruhi bahasa dan makna
antara lain mengembangkan kata-kata lain beserta makna, memperluas makna dan
istilah-istilah yang ada. Dengan begitu penggunaan bahasa cara penyampaian suatu
realitas tertentu jelas berimplikasi terhadap makna yang muncul.

Eriyanto, Analisis Framing “Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media”h.38
Eriyanto, Analisis Framing “Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media”h.38
12
Alex Sobur “Analisis Teks Media”(Bandung : PT Remaja Rosdakarya,2009),h.88
10

11

8

2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode
pendekatan kualitatif. Pendektan kualitatif adalah pendekatan yang memerlukan
pemahaman yang mendalam dan keseluruhan atas objek yang akan diteliti untuk
mendapatkan data-data yang akan dianalisis dan didapatkan kesimpulannya.
Dalam penelitian kualitatif, pembinaan realitas ini dilakukan melalui logikajustifikasi atau menyediakan suatu contoh rangkaian bukti yang bisa mendukung
suatu asumsi yang dibuat.13
Penelitian dilakukan untuk memahami dan menjelaskan fenomena-fenomena
yang telah berjalan dan sedang berjalan. Pentingnnya penelitian kualitatif adalah
untuk menjelaskan data-data yang berbentuk lisan dan tulisan, peneliti dapat
memahami lebih mendalam fenomena dan setting sosial yang berhubungan dengan
fokus masalah.14
Proses pengumpulan informasi atau data penelitiaan yang dilakukan
menggunakan pendekatan kualitatif senantiasa membina rangkaian cerita yang dapat
memberikan gambaran tentang sebab akibat, hubungan antara persoalan-persoalan
atau kasus-kasus dalam fenomena yang diteliti. Pendekatan penelitian kualitatif
adalah penelitian yang dimulai dengan persoalan seperti mengapa, bagaimana, apa,
dimana, dan bilamana.15

Iskandar,“Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial”(Jakarta, Referensi,2013),h.17-19.
Iskandar,“Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial”(Jakarta, Referensi,2013),h.189
15
Iskandar,“Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial”(Jakarta, Referensi,2013),h.190

13

14

9

Adapun ciri-ciri pelitian kualitatif yaitu:
a. Penelitian terlibat langsung dengan setting sosial penelitian.Peneliti tidak
dapat dengan mudah mewakili kehadirannya dilpangan melalui orang lain,
peneliti harus terjun langsung mengamati kelapangan.
b. Berisfat deskriptif. Dalam melakukan penelitian kualitatif biasanya
peneliti menemukan data dalam bentuk foto, kata-kata, catatan data
dilapangan, data-data tersebut harus dideskripsikan.
c. Menekankan makna proses dari pada hasil penelitian. Data-data seperti
gambar dan sebagainya hanya bermakna jika diberikan vrifikasi atau
tafsiran secara akurat oleh peneliti. Tafsiran akan lebih bermkana jika
peneliti dapat melalui proses penelitian dengan perspektif data perilaku
atau gambar itu bermakna.
d. Menggunakan pendekatan analisis induktif. Analisis induktif ini dimulai
dengan pengamatan fenomena-fenomena kemudian mempolakan atau
menafsirkan hasil penelitian dan diinterpretasi atau dimaknai sebagai
kesimpulan untuk membangun teori dan hipotesis.
e. Penelitian merupakan instrumen utama (human instrument). Peran peneliti
merupakan instrumen oleh karena itu seorang peneliti harus siap untuk
memasuki setting sosial objek dan diharapkan mampu mengusai wawasan
terhadap bidang yang diteliti.

10

3. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang berpegang pada paradigma
naturalistik atau fenomologi. Penelitian kualitatif dilakukan dalam setting alamiah
terhadap fenomena dan penelitian kualitatif juga memiliki beberapa teknik
pengumpulan data untuk menggambarkan suatu fenomena seperti teknik observasi,
wawancara, catatan lapangan dan studi dokumen-dokumen yang berhubungan dengan
penelitian16
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah studi
dokumentasi, yaitu penelaahan terhadap refrensi-refrensi yang berhubungan dengan
fokus permasalahan penelitian, baik itu bersumber dari buku, internet, majalah
ataupun hal yang berkaitan dengan Miss World 2013. Data tersebut dapat bermanfaat
untuk menguji, menafsirkan bahkan menjawab permasalahan penelitian.

4. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah framing
model Gamson dan Modigliani, yaitu melihat bagaimana media dan wartawan
menyajikan suatu isu, apa yang ditonjolkan dan apa dihilangkan. Dalam formulasi
yang dibuat oleh Gamson dan Modigliani frame dipandang sebagai cara bercerita atau
“Story Line” dan gagasan ide-ide yang tersusun sedemikian rupa dan menghadirkan
konstruksi makna dari peristiwa yang berkaitan dengan wacana. 17 Perangkat framing
yang dikemukan Gamson dan Modigliani dapat digambarkan sebgai berikut:

16
17

Iskandar,“Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial”(Jakarta, Referensi,2013),h.190
Eriyanto, Analisis Framing “Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media”h.223

11

Tabel 1
Framing Model Gamson dan Modigliani

1
2
3
4

5

Frame cetral organizing idea for making sense of relevant,sugusting
what is at issues
Framing Devices
Reasoning Devices
Methapors (Perumpamaan atau
Reasoning Devices (Prangkat
pengandaian)
Penalaran)
Catchpharases (frase yang
Roots ( Analisi Kasual atau Sebabmenarik kontras atau menonjol)
akibat)
Exemplar ( Mengaitkan bingkai
Appeals to principle (premis dasar
dengan contoh)
atau klaim-klaim)
Depiction ( Penggambaran atau
Consequences
(
Efek
atau
pelukisan suatu isu )
konsekuensi yang di dapat dari
bingkai)
Visual Images ( Gambar atau
grafik, citra yang mendukung
bingkai)

5. Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah pemberitaan Miss World 2013 di harian
Seputar Indonesia dan Republika.
Tabel 2
Pemberitaan Miss World 2013 di Koran Sindo dan Republika

NO
1
2

Koran

Judul

Seputar Indonesia : 13 Oktober Jangan Berlebihan Menilai Miss
2013
World
Republika : 08 September 2013
MIUMI Tolak Miss World

12

G. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah dalam proses penulisan maka sistematika terdiri dari
lima bab dan masing-masing bab terdiri dari sub bab yaitu:
BAB I

Pendahuluan Membahas Tentang Latar Belakang Masalah, Rumusan
Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka,
Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

BAB II

Kerangka Teori Membahas Tentang Teori Kosntruksi Sosial,
Konstruksi Media Cetak, Konseptualisasi Berita, Framing, dan
Framing model Gamson dan Modigliani.

BAB III

Gambaran Umum Profil Koran Sindo dan Republika, Visi Misi dan
Struktur Redaksi.

BAB IV

Analisis Data Penelitian Membahas Tentang Konstruksi Pemberitaan
Miss World 2013 di Harian Sindo Tanggl 31 Oktober 2013 dan
Republika Tanggal 08 September 2013, Perbedaan Bingkai Berita
Miss World 2013 di Harian Sindo dan Republika.

BAB V

Penutup, Berisi Kesimpulan dan Saran-saran.

13

BAB II
KERANGKA TEORI

A. Teori Konstruksi Sosial
Teori konstruksi sosial merupakan suatu ide atau prinsip utama dari kelompok
pemikiran atau kultural. Pemikiran ini menyatakan bahwa dunia sosial tercipta karena
adanya interaksi antar manusia. Cara bagaimana kita berkomunikasi sepanjang waktu
mewujudkan pengertian kita mengenai pengalaman. Dengan demikian setiap orang
pada dasarnya memiliki teori pribadinya mengenai kehidupan.18 Teori tersebut
memiliki posisi dan pandangan tersendiri terhadap media dan teks yang
dihasilkannya.
Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh, Peter L. Berger dan Thomas
Luckman. Berger dalam tesisnya mengtakan manusia dan masyarakat adalah produk
yang dialektis, dinamis, dan plural secara terus menerus. Dalam pandangan Berger
sebuah realitas tidak terbentuk dengan sendirinya namun dibentuk dan dikonstruksi.19
Pemahaman seperti ini membuktikan bahwa setiap orang memiliki konstruksi
masing-masing yang berbeda atas realitas. Karena setiap orang memiliki pengalaman,
pendidikan dan lingkungan masing-masing. Sekarang ini teori konstruksi sosial telah
melibatkan media yang sangat berperan aktif dalam pembentukan suatu realitas.

18
19

Morissan. “Teori Komunikasi Massa” (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2010),h.32
Eriyanto, Analisis Framing “Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media”h.13

14

Dalam pandangan konstruksionis, media bukan hanya dipandang sebagai
saluran yang bebas, bisa juga subjek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan
pandangan, dan pemihakannya.20 Berger dan Luchman menjelaskan realitas sosial
dengan memisahkan pemahaman kenyataan dan pengetahuan. Realitas sosial
dikonstruksi melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Konstruksi
dalam pandangan mereka tidak berlangsung dalam ruang hampa, namun sarat dan
kepentingan-kepentingan.21
Oleh karena itu kita sering menemukan berita yang yang diangkat dalam suatu
media baik itu media cetak maupun Online memiliki perbedaan maksud walaupun isu
yang diangkat sama. Hal ini membuktikan bahwa teori konstruksi media massa
terjadi, dengan wartawan atau jurnalis. Hal tersebut membuktikan bahwa isi media
pada hakikatnya adalah konstruksi realitas dengan bahasa sebagai perangkat
dasarnya. Bahasa yang digunakan seorang wartawan tidak hanya sebagai alat untuk
merepresentasikan realitas namun juga bisa dijadikan sebagai alat untuk membentuk
suatu realitas. Akibatnya media mempunyai peluang yang sangat besar untuk
mempengaruhi makana dan gambaran yang di hasilkan dari realitas yang
dikonstruksinya.22 Sebaliknya kelompok positivis memandang berita sebagai
cerminan dari sebuah realitas. Jurnalis atau wartawan yang baik adalah wartawan
yang bisa memindahkan suatu realitas kedalam berita.

Eriyanto, Analisis Framing “Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media”h.23
Alex Sobur,Analisis Teks Media, (Bandung: PT.Rosda Karya, 2009) h.91
22
Eriyanto, Analisis Framing “Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media”h.88

20

21

15

Namun apakah berita yang dipindah seorang wartawan sesuai dengan relitas
yang ada, sangat tergantung dengan wartwan. Wartawan bisa menyajikan suatu
realitas secara benar jika bertindak profesional dan menyingkirkan keberpihakan dan
sehingga apa yang diungkapkan murni fakta. Sangat berbeda dengan pandangan
konstruksionis yaitu wartawan sebagai partisipan yang menjembatani subjektifitas
pelaku sosial.23 Pendekatan konstruksionis mempunyai penilaian sendiri terhadap
media, wartawan dan berita, mereka memandang bahwa24 :
a. Fakta atau peristiwa adalah hasil konstruksi
b. Media adalah agen konstruksi
c. Berita bukan refleksi dari realitas
d. Berita bersifat subjektif / konstruksi atas realitas
e. Wartawan bukan pelapor. Ia agen konstruksi realitas
f. Etika, pilihan moral, dan keberpihakan wartawan adalah bagian yang penting
dalam produksi berita
g. Khalayak mempunyai penafsiran tersendiri atas berita

B. Konstruksi Media Cetak
Pada tahun 1970 perhatian orang beralih pada isi pesan media karena itu
ketika pemberitaan media massa dinilai bias. Orang mempertanyakan objektivitas
berita yang disampaikan media dan muncul perdebatan mengenai nilai berita.

Eriyanto, Analisis Framing “Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media”h.29

23

16

Pada tahun 1980 menyadari bahwa pembahasan mengenai efek dan
objektivitas media massa tidak akan memberikan jawaban yang memuaskan tanpa
menelusuri situasi internal media. Berbagai penelitian menunjukan bahwa isi pesan
media sangat dipengaruhi oleh berbagai pengaruh internal dan eksternal. 25
Perkembangan media dari zaman ke zaman terus mengalami kemajuan dan
perubahan, Marshall Mcluhan bersama Quentin Fiore megatakan ada empat era atau
zaman dalam sejarah media yaitu, era kesukuan, tulisan, cetak dan elektronik.26
Media massa memiliki kekuatan untuk mengkonstruksi realitas atau peristiwa. Media
sebagai bagian dari lingkungan sosial tidak hanya menyampaikan suatu peristiwan
akan tetapi media ikut juga dalam memproduksinya dalam artian media dalam
menyampaikan suatu peristiwa banyak faktor yang mempengaruhi seperti kebijakan
lembaga media atau mungkin pandangan wartwan itu sendiri.
Konstruksi artinya adalah membentuk, membangun atau melukiskan,
merancang dan sebagainya. Sementara media adalah alat yang digunakan oleh
komunikator untuk menyampaikan suatu pesan kepada khalayak sedangkan khalayak
tersebut adalah banyak dan jauh. Cetak adalah suatu media yang dicetak secara
berkala seperti koran, majalah dan lain-lain. Penemuan mesin cetak memberikan
tanda munculnya era cetak dalam peradaban manusia dan awal revolusi industri.
Teknologi cetak memungkinkan orang untuk menyimpan informasi secara permanen
dan tidak mengandalakan ingatan saja.27

Morissan. “Teori Komunikasi Massa” (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2010),h.42
Morissan. “Teori Komunikasi Massa” (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2010),h.32
27
Morissan. “Teori Komunikasi Massa” (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2010),h.34

25

26

17

Stephe reese (1991) mengemukakakan bahwa isi pesan media atau agenda
media merupakan hasil dari tekanan yang berasal dari dalam dan luar organisasi
media, dengan kata lain isi atau konten media hasil dari kombinasi program internal,
keputusan menejerial dan editorial, serta pengaruh ekternal yang berasal dari sumbersumber nonmedia, seperti individu-individu berpengaruh secara sosial, pejabat
pemerintahan, pemasang iklan dan sebagainya.28
Media dalam menyampaikan berita tidak boleh hanya memberikan pada satu
isu tertentu saja. Prisnsip keragaman berita adalah upaya menyajikan berita yang
lengkap dengan menggunakan prinsip keadilan. Media harus menyajikan berita
secara proporsional, berdasarkan topik-topik yang relevan bagi masyarakat. Pada
pemebritaan suatu media seringkali terjadi penyimpangan terhadap realitas,
memberikan gambaran negatif terhadap kelompok-kelompok minoritas.29 Dibawah
ini pihak-pihak yang berpengaruh terhadap pembentukan isi pesan media:30
a. Penguasa atau pemerintah memberikan pengaruh besar terhadap isi pesan
media. Kekuatan media dalam membentuk agenda publik sebagian tergantung
pada hubungan media bersangkutan dengan kekuasaan. Jika kelompok media
memiliki kedakatan dengan kelompok elit pemerintahan, maka kelompok
tersebut akan mempengaruhi apa yang harus disampaikan media.
b. Masyarakat umum memberikan pengaruh besar kepada organisasi media.
Pengaruh tersebut dapat berasal darimana saja, bersifat terus menerus dan
muncul dalam setiap hubungan yang dilakukan media dengan pihak luar.
Morissan. “Teori Komunikasi Massa” (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2010),h.45
Morissan. “Teori Komunikasi Massa” (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2010),h.63
30
Morissan. “Teori Komunikasi Massa” (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2010),h.47-63
28

29

18

c. Kelompok penekan berupa organisasi atau kelompok baik formal dan
informal seingkali berupaya mempengaruhi apa yang dilkukan media, dengan
cara membatasi isi atau pesan media kepada masyarakat.
d. Media dan pemilik merupakan hal yang sangat membengaruhi isi pesan suatu
media karena memiliki kekuasaan besar terhadap media tersebut.
e. Pemasang ikalan juga berpengaruh pada isi pesan media yang dirancang
dengan sedemikian rupa sehingga memiliki pola-pola yang sama dengan pola
konsumsi dan target konsumen.
f. Audien merupakan hal penting bagi media karena audien adalah konsumen
media. Keberhasilan suatu media sangan ditentukan oleh seberapa besar
media bisa memproleh pembcanya, pendengar dan penonton.
g. Internal organisasi juga memberikan pengaruh terhadap isi pesan media
karena bagaimana rutinitas dan prosedur yang terdapat dalam oraganisasi
mempengaruhi media.

C. Konseptualisasi Berita
1. Pengertian Berita
Dalam keseharian kita sering mendengar istilah berita, tapi tidak semua orang
tau apa dan mengapa disebut berita. Menurut Willard C. Blayer berita adalah suatu
peristiwa atau kejadian yang diperoleh seorang wartawan untuk dimuat dalam surat
kabar, cetak maupun elektronik seperti TV, Online.

19

Chilton R. Bush juga mengungkapkan berita adalah laporan mengenai
peristiwa yang penting diketahui masyarakat dan juga laporan peristiwa yang sematamata menarik karena berhubungan dengan hal yang menarik dari seorang atau suatu
dalam situasi yang menarik.31 Dari definisi berita yang diungkapkan diatas dapat
diambil kesimpulan bahwa berita merupakan suatu peristiwa atau kejadian, gagasan
atau fakta yang menarik perhatian dan dianggap penting untuk disampaikan atau
dimuat di media massa.
Definisi diatas menjelaskan bahwa berita merupakan suatu peristiwa atau
kejadian yang baru terjadi dan dianggap menarik dan layak dimuat dalam suatu media
untuk diberitakan kepada khalayak banyak. Dalam suatu berita ada beberapa unsur
yang harus diperhatikan yaitu berita itu harus fakta yang aktual, menarik atau ada
faktor yang luar biasa, yang harus disampaikan kepada khalayak agar menjadi sebuah
kesadaran dan pembelajaran.32
Namun yang menjadi pertanyaan besar dewasa ini adalah apakah setiap
peristiwa atau kejadian disebut berita. Banyak kejadian yang diangkat oleh suatu
media bisa dikatakan berita namun banyak juga kejadian atau peristiwa yang tidak
diangkat oleh media apakah itu masih bisa dikategorikan sebuah berita.

Sedia Willing Barus.Jurnalistik “Petunjuk Teknis Menulis Berita” (Jakarta:Penerbit
Erlangga,2010),h.26
32
Sedia Willing Barus.Jurnalistik “Petunjuk Teknis Menulis Berita”h.27
31

20

Berita juga dapat didefinisikan sebagai suatu yang dianggap berbeda bagi
orang atau masyarakat yang berbeda pula. Faktor-faktor tradisi, agama, dan
kepercayaan ikut memainkan peran dalam menetukan suatu berita.33
Berita adalah hasil akhir dari proses kompleks dengan menyortir dan
menentukan peristiwa dan tema-tema tertentu dalam satu kategori tertentu. Seperti
yang dikatakan oleh Mac Dougall, setiap hari ada jutaan peristiwa di dunia ini dan
semuanya secara potensial dapat menjadi berita. Peristiwa-perstiwa itu tidak serta
merta menjadi berita karena batasan yang disediakan dan dihitung, mana berita dan
mana bukan berita.34 Berita berasal dari peristiwa yang dianggap memiliki nilai. Nilai
ini juga memerlukan bagaimana peristiwa tersebut dikemas.35 Dibwah ini unsur-unsur
yang terdapat dalam suatu berita:
a. Informasi
b. Peristiwa
c. Dibatasi oleh waktu.
d. Faktual / fakta
e. Merupakan pernyataan
f. Disampaikan dan diterima oleh manusia
g. Sumbernya jelas
h. Mengandung kebenaran

Asep Saiful Muhtadi, Jurnalistik “Pendekatan Teori dan Praktik” Jakarta: Logos Wacana
Ilmu, 2009),h.109
34
Eriyanto, Analisis Framing “Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media”h.102
35
Pamela J. Shoe Maker, Hadrwires Foe News : “Using Biologycal and Cultural Evolation to
Explan the surveillance Fuction”, 1999, h.37
33

21

2. Jenis Berita
Setiap hari para jurnalis baik dari media cetak maupun elektronik berpikir
untuk menentukan cerita-cerita apa yang akan diangkat sebgai berita. Proses
pemilihan ini dilakukan untuk mencari mana yang paling menarik atu relevan bagi
para pembaca atau pendengar. Dalam proses seperti itu tidak ada formula ilmiah yang
dijadikan standar nilai berita, tetapi lebih dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman
dilapangan selama menjadi reporter. Karena elemen-elemen berita yang secara
konvensional digunakan biasanya sangat membantu para reporter sekaligus dapat
dijadikan “guide” bagi para reporter dan editor dalam melakukan seleksi.36
Kelompok reporter, bagi media massa manapun, merupakan kelompok
penting.

Mereka

mengetahui

apa

yang

disebut

berita,

bagaimana

cara

menemukannya, dan dimana terdapat sumber berita. Kemanapun mereka pergi,
mereka dibimbing oleh suatu kenyataan bahwa mereka adalah reporter, karena selalu
melakukan evaluasi terhadap pengalamnnya sehari-hari untuk mendapatkan berita
yang bernilai.37
Proses kerja dan produksi sebuah berita adalah konstruksi, peristiwa yang satu
dianggap sebuah berita dan yang lain tidak adalah sebuah konstruksi. Media dan
wartawan yang mengkonstruksi sedemikian rupa sehingga perstiwa yang satu dinilai
penting. Ada semacam standar atau nilai yang digunakan seorang wartwan atau
media untuk melihat realitas, selain nilai prinsip lain dalam proses produksi berita.38

Asep Saiful Muhtadi, Jurnalistik “Pendekatan Teori dan Praktik”,h.120
Asep Saiful Muhtadi, Jurnalistik “Pendekatan Teori dan Praktik, h.121
38
Asep Saiful Muhtadi, Jurnalistik “Pendekatan Teori dan Praktik, h.108

36

37

22

Nilai berita adalah produk dari konstruksi seorang wartawan. Setiap hari
banyak peristiwa yang terjadi yang memiliki potensi untuk dijadikan sebuah berita
namun pada kenyataannya hanya beberapa saja yang diangkat menjadi sebuah berita.
Semua proses ini ditentukan oleh nilai berita yang merupakan ideologi
professional seorang wartawan yang memberi prosedur bagaimana peristiwa yang
begitu banyak disaring dan ditampilkan kepada khalayak.39
Adapun kategori berita sebgai berikut:
Tabel 3
Kategori Berita Menurut Tuchman
Hard News

Berita yang terjadi saat itu juga. Berita ini sangat dibatasi waktu
dan aktualitas. Semakin cepat diberitakan semakin baik bahkan
ukuran keberhasilan dari berita ini adalah bisa peristiwa yang
direncanakan atau tidak direncanakan.

Soft News

Yang termasuk dalam kategori ini adalah peristiwa yang
berhubungan dengan kisah manusiawi. Berita ini tidak dibatasi
oleh waktu, bisa diberitakan kapan saja, 23nsure yang
ditonjolkan disini adalah yang menyentuh emosi dan prasaan
khlayak.

39

Eriyanto, Analisis Framing “Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media”h.102

23

Spots News

Kategori ini adalah subklasifikasi dari kategori hard news.
Peristiwa yang diliput tidak bisa direncanakn, misalnya
kebakaran, kebanjiran.

Developing News

Develoving news adalah bagian dari hard news. Baik spots
news maupun develoving news umumnya berhubungan dengan
peristiwa yang tidak terduga namun pemberitaan pada
develoving news terus berlanjut seperti jatuhnya pesawat
pertama mungkin diberitakan nama pesawat selanjutnya nama
korban dan sebab jatuhnya pesawat.

Continuing News

Continuing news adalah sublasifikasi lain dari hard news.
Dalam continuing news peristiwa bisa diprediksikan dan
direncanakan

Sumber : Buku Eeiyanto Analisis Framing
Definisi diatas menjelaskan bahwa berita adalah peristiwa atau kejadian yang
dianggap berbeda dan layak untuk diberitakan. Karena itu untuk mencapai sukses
dalam suatu pemeberitaan suatua objek, seorang jurnalis atau reporter harus terlebih
dahulu mempertimbangkan tulisanya sebelum diserahkan kepada editor. Evan Hill
dan john J. Breen dalam bukunya Reporting Writing The News memberikan kriteria
berita yang baik dan menarik yaitu berita merupakan peristiwa yang baru, berita harus
memberikan informasi yang belum diketahui pembaca, menarik, bisa menanmbah
pengertahuan pembaca.

24

Kreteria tersebut ada pada suatu peristiwa maka peristiwa tersebut bisa
dijadikan sebuah yang layak untuk dipublikasikan. Karena itu seorang jurnalis yang
baik harus bisa menemukan berita diantara fakta-fakta yang ditemuinya sehari-hari.
Tidak semua fakta bisa memnuhi kriteria tersebut.40
Sadar atau tidak berita merupakan hasil konstruksi seorang jurnalis yang
dipahami atas sebuah realitas yang dituangkan secara utuh dan apa adanya persis
seperti realitas dilapangan.Terkadang sebuah realitas dijadikan sebuah pembenaran
untuk menutupi subjektifitas dari seorang jurnalis. Pandangan kaum konstruksionis
melihat realitas itu bersifat subjectif, karena relitas itu sendiri tercipta dari sudut
pandang wartwan itu sendiri. Realitas itu berbeda-beda tergantung, bagaimana
konsepsi ketika realitas itu dipahami oleh wartawan yang mempunyai pandangan
berbeda.41
D. Analisis Framing
Pada dasarnya analisis framing merupakan versi terbaru dalam pendekatan
analisis wacana, khususnya untuk menganalisis teks media. Gagasan mengenai
framing pertama kali dilontarkan oleh Baterson tahun 1955. Akhir-akhir ini konsep
framing telah digunakan secara luas dalam ilmu komunikasi untuk menggambarkan
proses penseleksian dan penyorotan aspek-aspek khusus sebuah realitas oleh media.42

Asep “aiful Muhtadi, Jurnalistik Pendekatan Teori dan Praktik h.
Eriyanto, Analisis Framing “Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media” (Yogyakarta:
LKIS,2012),h.19
42
Alex Sobur “Analisis Teks Media”(Bandung : PT Remaja Rosdakarya,2009),h.162
40
41

25

Dalam ranah studi komunikasi, analisi framing mewakili tradisi yang
mengedepankan pendekatan atau perespektif multidisipliner untuk menganalisis
fenomena atau aktivitas komunikasi.
Konsep dari framing itu sendiri bukan murni dari konsep ilmu komunkasi,
akan tetapi dipinjam dari kognitif (psikologi). Dalam prakteknya, analasis framing
juga membuka peluang bagi implementasi konsep sosiologis, politik dan kultural
untuk menganalisis fenomena komunikasi.43
Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipakai untuk membedah cara
atau idiologi media saat mengkonstruksi fakta. Analisis ini mencermati strategi
seleksi, penonjolan dan pertautan fakta kedalam berita agar lebih bermakna, lebih
menarik atau lebih diingat. Untuk mengiring interpretasi khalayak sesuai
perspektifnya. Analisis framing secara sederhana bisa digambarkan sebagai analisis
sesuatu kejadian atau peristiwa yang dibingkai oleh suatu media. Pembingkai tersebut
pasti terlebih dahulu dikonstruksi dengan cara dan teknik apa peristiwa itu ditekankan
dan ditonjolkan.
Ada dua aspek dalam framing, pertama, memilih fakta atau realitas. Proses
pemilihan fakta ini didasarkan pada asumsi, wartawan-wartawan tidak mungkin
melihat peristiwan tanpa perespektif. Dalam memilih fakta selalu terkandung dua
kemungkinan apa yang dipilih (included) dan apa yang dibuang (exlude). Bagaimana
yang ditekankan dalam realitas.

43

Alex Sobur “Analisis Teks Media”h.162

26

Bagian mana dari realitas yang diberitakan dan bagian mana yang tidak
diberitakan. Penekanan aspek tertentu itu dilakukan dengan memilih angel tertentu,
memilih fakta tertentu dan melupakan fakta yang lain.44
Aspek kedua dalam framing adalah menuliskan fakta. Proses ini berhubungan
dengan bagaimana fakta yang dipilih disajikan kepada khlayak. Gagasan itu
diungkapkan dengan kata, kalimat dan proposisi apa, dan bantuan aksentuasi foto dan
gambar apa, dan sebagainya. Bagaimana fakta yang sudah dipilih tersebut ditekankan
dengan pemakaian prangkakat tertentu. Penempatan yang mencolok (menempatkn di
headline depan atau bagian belakang), pengulangan, pemakaian grafis untuk
mendukukung dan memperkuat penonjolan, pemakaian lebel tertentu ketika
menggambarkan orang atau peristiwa yang diberitakan.45
Konsep framing dalam studi media banyak mendapat pengaruh dalam lapang
psikologi dan sosiologi. Tetapi secara umum, teori framing dapat dilihat dalam dua
tradisi, yaitu psikologi dan sosiologi. Pendekatan psikologi terutama melihat
bagaimana pengaruh kognisi seseorang dalam membentuk skema tentang diri, sesuatu
atau gagasan tertentu.Teori framing misalnya banyak berhubungan dengan teori
mengenai skema atau kognitif, bagaimana seseorang memahami dan melihat realitas
dengan skema tertentu.46
Framing itu pada akhirnya menentukan bagaimana realitas itu hadir
dihadapan pembaca. Apa yang kita tahu tentang realitas sosial pada dasarnya
tergantung pada bagaimana kita melakukan frame atas peristiwa tersebut.
Eriyanto, Analisis Framing “Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media”h.69
Eriyanto, Analisis Framing “Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media”h.70
46
Eriyanto, Analisis Framing “Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media”h.71

44

45

27

Framing

dapat

mengakibatkan

suatua

peristiwa

yang

sama

dapat

menghasilkan berita yang secara radikal berbeda apabila wartawan mempunyai frame
yang berbeda ketika melihat peristiwa tersebut dan menuliskan pandangannya dalam
berita.47
Sebuah realitas bisa jadi dibingkai dan dimakanai secara berbeda oleh media.
Bahkan pemakanaan itu bisa jadi sangat berbeda. Realitas begitu kompleks, penuh
dimensi, ketika dimuat dalam berita bisa jadi akan menjadi realitas suatu dimensi.
Realitas pada dasarnya bukan ditangkap dan ditulis, realitas sebaliknya dikonstruksi.
Dalam proses konstruksi tersebut ada banyak penafsiran dan pemaknaan yang
berbeda-beda dalam memahami realitas. Framing berhubungan dengan pendefenisian
realitas. Bagaimana peristiwa dipahami, sumber siapa yang diwawancarai.
Semua elemen tersebut tidak dimakanai semata sebagai masalah teknis
jurnalistik, tetapi sebuah praktik. Peristiwa yang sama menghasilkan berita dan pada
akhirnya realitas yang berbeda ketika peristiwa tersebut dibingkai dengan cara yang
berbeda.48
Framing menyediakan alat bagaimana peristiwa dibentuk dan dikemas dan
kategori yang dikenal khalayak. Karena itu, framing menolong khalayak untuk
memproses informasi kedalam kategori yang dikenal, kata-kata kunci dan citra
tertentu. Khalayak bukan disedikan informasi yang rumit, melainkan informasi yang
tinggak ambil, kontekstual, berarti bagi dirinya dan dikenal dalam benak mereka.49

Eriyanto, Analisis Framing “Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media”h.83
Eriyanto, Analisis Framing “Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media”h.139
49
Eriyanto, Analisis Framing “Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media”h.140
47

48

28

Media melihat peristiwa dari kacamata tertentu maka realitas setelah dilihat
oleh khalayak adalah realitas yang sudah terbentuk oleh bingkai media. Media
cenderung melihat realitas sebagai sesuatu yang sederhana. Framing umumnya
ditandai dengan menonjolkan aspek tertentu dari realitas. Dalam penulisan sering
disebut fokus. Berita secara sadar atau tidak diarahkan pada aspek tertentu. Akibatnya
ada aspek lain yang tidak mendapat perhatian yang memadai. Misalnya pemberitaan
media mengenai aksi mahasiwa. Pemberitaan banyak menampilkan bagaimana
demontrasi

akhirnya

d

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23