ANDRE FISIP Upaya Greenpeace Mendorong Majelis Umum PBB Untuk Membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement Periode 2006 2015

Seluruh narasumber, antara lain: Richard Page, selaku Ocean Sanctuaries Project Leader Greenpeace Internasional; Veronica Frank, Nathalie Rey, dan Sofia Tsenikli, selaku delegasi Greenpeace Internasional di Kelompok Kerja BBNJ; Arifsyah Nasution, John Hocevar, Magnus Eckeskog, Frida Bengtsson, Sarah King, Taehyun Park, dan Kazue Komatsubara, selaku Oceans Campaigner Greenpeace NROs; Haryo Budi Nugroho, Budi Atyasa, Elizabeth Kim, dan Prof.

UPAYA GREENPEACE MENDORONG MAJELIS UMUM PBB UNTUK MEMBENTUK UN OCEAN BIODIVERSITY AGREEMENT PERIODE 2006 - 2015

  SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

  Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

  Oleh:

  Andre 1113113000044

  PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

  1438 H 2017

ABSTRAK

  Skripsi ini menganalisis upaya Greenpeace mendorong Majelis Umum PBB untuk membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement. UN Ocean Biodiversity Agreement atau yang dikenal dengan perjanjian pelaksanaan di bawah UNCLOS, dinegosiasikan di dalam UN Ad Hoc Open-ended Informal Working Group Biodiversity on Beyond National Jurisdiction (BBNJ) pada periode 2006 - 2015. Di awal pertemuan Kelompok Kerja BBNJ, terdapat penolakan dari beberapa negara, seperti AS, Rusia, Kanada, Jepang, Korea Selatan, Islandia, dan Norwegia, terkait gagasan pembentukan perjanjian pelaksanaan di bawah UNCLOS tersebut. Namun, di dalam pertemuan Kelompok Kerja BBNJ terakhir serta sidang Majelis Umum PBB ke-69 pada tahun 2015, Majelis Umum PBB, melalui konsensus, berhasil mengadopsi Resolusi Majelis Umum PBB 69292 Tahun 2015 (ARES69292) yang menindaklanjuti negosiasi perjanjian pelaksanaan di bawah UNCLOS ke proses selanjutnya, yaitu Preparatory Committee (PrepCom). Oleh karena itu, pertanyaan penelitian dari skripsi ini ialah bagaimana upaya Greenpeace dalam mendorong Majelis Umum PBB untuk membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement periode 2006-2015? Dalam menganalisis upaya Greenpeace, skripsi ini menggunakan Green Political Theory beserta konsep desentralisasi dan peran non-governement organization, activist group, dan global environment movements. Sedangkan, skripsi ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data, yaitu studi pustaka dan wawancara. Skripsi ini menemukan bahwa upaya Greenpeace, antara lain: Penelitian dan Analisis (Research and Analysis); Pengawasan dan Respon Cepat (Watch-Dogging and Rapid Response); Mempertunjukkan Fungsi Operasional (Performing Operational Functions); Pengembangan Kebijakan dan Pengaturan Agenda (Policy Development and Agenda Setting); Melaporkan Proses Negosiasi (Negotiations Reporting); dan Menyebarkan Sinyal Domestik (Enhancing Domestic Signaling).

  Kata Kunci: Greenpeace, Majelis Umum PBB, Kelompok Kerja BBNJ,

  Suaka Laut Global, UN Ocean Biodiversity Agreement, UNCLOS

KATA PENGANTAR

  Bismillahirrahmanirrrahim, dengan memanjatkan puji serta syukur kepada Allah SWT, penguasa alam semesta. Atas segala rakhmat dan hidayat-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam tak lupa dihaturkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

  Skripsi ini disusun sebagai salah satu tugas akademis di Universitas Islam Negeti Syarif Hidayatullah Jakarta untuk memperoleh gelar sarjana pada program studi Hubungan Internasional. Selain itu, skripsi ini juga didedikasikan untuk kemajuan organisasi Greenpeace dengan mengevaluasi dan memberikan rekomendasi terhadap upaya Greenpeace, khususnya upaya pembentukan suaka laut global melalui UN Ocean Biodiversity Agreement. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat terselesaikan atas bantuan, dukungan, serta doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada:

  1. Keluarga penulis, Ayahanda Setiawan Prasetyo, Ibunda Agustini, serta kakak-kakak penulis, Melisa Prasetyo dan Melinda Prasetyo, yang senantiasa memberikan doa, motivasi, nasehat kepada penulis, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

  2. Bapak Irfan R. Hutagalung, LL.M., selaku dosen seminar proposal skripsi sekaligus dosen pembimbing skripsi, yang senantiasa memberikan bimbingannya kepada penulis selama menyusun skripsi ini.

  3. Seluruh dosen-dosen Hubungan Internasional UIN Jakarta yang turut serta dalam memberikan ilmu kepada penulis selama menjadi mahasiswa di FISIP UIN Jakarta.

  4. Bang Arifsyah Nasution dan Bang Fausi, selaku staff Unit Kampanye Laut sekaligus mentor penulis di Greenpeace Indonesia, yang selalu memberikan fasilitas dan dukungan kepada penulis selama menjadi relawan dan magang Greenpeace Indonesia.

  5. Seluruh staff Greenpeace Indonesia yang yang turut serta dalam memberikan dukungan kepada penulis selama menjadi menjadi relawan dan magang Greenpeace Indonesia.

  6. Seluruh narasumber, antara lain: Richard Page, selaku Ocean Sanctuaries Project Leader Greenpeace Internasional; Veronica Frank, Nathalie Rey, dan Sofia Tsenikli, selaku delegasi Greenpeace Internasional di Kelompok Kerja BBNJ; Arifsyah Nasution, John Hocevar, Magnus Eckeskog, Frida Bengtsson, Sarah King, Taehyun Park, dan Kazue Komatsubara, selaku Oceans Campaigner Greenpeace NROs; Haryo Budi Nugroho, Budi Atyasa, Elizabeth Kim, dan Prof. Tullio Scovazzi, selaku delegasi negara di Working Group dan Preparatory Committee BBNJ; serta Mufti Petala Patria dan Prof. Ann Powers, selaku pakar dari isu-isu yang berkaitan dengan skripsi ini.

  7. Affalia Maydi Hatika, yang senantiasa memberikan dukungan, motivasi, serta doa kepada penulis selama dua tahun terakhir.

  8. Sahabat mahasiswa HI UIN 2013, antara lain: Kartika, Shabrina, Riri, dan Ina; Auzan, Faris, Zhafir, Ghalib, dan Iqbal, selaku kawan-kawan dari Kajian Rumah Ojan; Auzan, Faris, Zhafir, Luthfan, Opin, Arum, Nurul, Sarah, Innes, Tata, Hanna, dan Madinna, selaku kawan-kawan dari Regionalismile, serta kawan-kawan mahasiswa HI UIN 2013 lainnya.

  9. Sahabat relawan di Greenpeace Indonesia, antara lain: Faris, Zulfa, Maydi, Mazaya, Luthfi, Cici, Hasna, Tiorys, Elena, Arshie, Jessika, Rafa, Siska, Ka Sapi, Silo, Echa, Ayya, Akmal, Habib, Farhan, Ka Rilin, Nugo, serta kawan-kawan Greenpeace Indonesia lainnya.

  10. Sahabat alumni KIR 66 - Solience, antara lain: Mareta, Inayah, Ira, Rasyid, Adit, Kekes, Zein, Aldy, Fikri, serta kawan-kawan alumni dan adik-adik anggota KIR 66 - Solience lainnya.

  11. Seluruh pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung, selama proses penyusunan skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

  Semoga atas segala bantuan serta dukungannya mendapatkan ridha dan berkah dari Allah SWT.

  Akhirnya, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran penulis terima demi perbaikan penelitian ini di masa mendatang. Dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat secara teoritis maupun praktik.

  Jakarta, 5 Juli 2017

  Andre

DAFTAR SINGKATAN

  ABMT

  Area-based Management Tool

  ABNJ

  Area Beyond National Jurisdiction

  ABS

  Acces and Benefit-Sharing

  AS

  Amerika Serikat

  ASEAN

  Association of Southeast Asian Nations

  ASOC

  Antarctic and Southern Ocean Coalition

  BBNJ

  Biodiversity Beyond National Jurisdiction

  CARICOM Caribbean Community CBD

  Convention on Biological Diversity

  CCAMLR

  Commission for the Conservation of Antarctic Marine Living Resources

  CFP

  EU Common Fisheries Policy

  CITES

  Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora

  CMS

  Convention on Migratory Species

  CoP

  Conference of Parties

  CRAMRA

  Convention on the Regulation of Antarctic Mineral Resource Activities

  EBSA

  Ecologically and Biologically Sensitive Area

  ECOSOC

  UN Economic and Social Council

  EIA

  Environmental Impact Assessment

  ENB

  Earth Negotiations Bulletin

  FAO

  UN Food and Agriculture Organitation

  G-77

  Group of 77

  GEF

  Global Environment Facility

  GPT

  Green Political Theory

  LDC

  Least Developed Countries

  IISD

  International Institute for Sustainable Development

  IGO

  International Governmental Organization

  IMO

  International Maritime Organisation

  IPR

  Intellectual Property Right

  ISA

  International Seabed Authority

  IUCN

  International Union for Conservation of Nature

  IUU

  Illegal, Unregulated, and Unreported

  IWC

  International Whaling Commission

  KTT

  Konferensi Tingkat Tinggi

  MEA

  Multilateral Environment Agreement

  MGR

  Marine Genetic Resource

  MPA

  Marine Protected Area

  MSR

  Marine Scientific Research

  NAFO

  Northwest Atlantic Fisheries Organization

  NEAFC

  North East Atlantic Fisheries Commission

  NGO

  Non-Governmental Organization

  NPT

  Non-Proliferation Treaty

  NRDC

  Natural Resources Defense Council

  NRO

  National Regional Office

  OECD

  Organisation for Economic Cooperation and Development

  PBB

  Perserikatan Bangsa-Bangsa

  PrepCom

  Preparatory Committee

  RFMO

  Regional Fisheries Management Organization

  SIDS

  Small Island Developing States

  SEA

  Stategic Impact Assessment

  SDG

  Sustainable Development Goals

  SGC

  Stichting Greenpeace Council

  UE

  Uni Eropa

  UN

  United Nations

  UNCLOS

  UN Law of the Sea Convention

  UNCSD

  UN Conference on Sustainable Development

  UNEP

  United Nations Environment Programme

  UNFSA

  UN Fish Stocks Agreement

  UNICPOLOS UN Consultative Process on Oceans and the Law of the Sea WIPO

  World Intellectual Property Organization

  WSSD

  World Summit on Sustainable Development

  WWF

  World Wildlife Fund

BAB I PENDAHULUAN

A. Pernyataan Masalah

  Skripsi ini membahas tentang upaya Greenpeace mendorong Majelis Umum PBB untuk membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement pada periode 2006- 2015. Skripsi ini menganalisis bagaimana upaya Greenpeace untuk mendorong negara-negara Majelis Umum PBB, dimulai dari pertemuan pertama dari Ad Hoc Open-ended Informal Working Group Biodiversity on Beyond National Jurisdiction (BBNJ) pada tahun 2006, yang dibentuk melalui Resolusi MU 5924 Tahun 2004 (ARES5924), hingga persetujuan MU PBB terhadap rekomendasi dari Kelompok Kerja BBNJ melalui Resolusi Majelis Umum PBB 69292 Tahun 2015 (ARES69292).

  Suaka laut global atau ocean sanctuaries adalah salah satu jenis dari kawasan laut lindung atau marine protected areas (MPAs), yaitu area lautan di mana semua pemanfaatan yang bersifat konsumtif dan ekstraktif, termasuk penangkapan ikan, secara efektif dilarang serta praktik campur tangan manusia

  lainnya diminimalisir, 1 sedangkan kawasan laut lindung (MPAs) adalah area intertidal (zona yang terendam ketika air laut sedang pasang dan terlihat ketika air

  laut sedang surut) maupun subtidal (zona yang selalu terendam air laut baik saat pasang maupun surut) beserta dengan air yang melapisinya, flora, fauna, fitur sejarah dan budaya yang berkaitan, yang telah dilindungi oleh hukum atau cara

  1 Jack A. Sobel dan Craig P. Dalgren, Marine Reserves: A Guide to Science, Design, and Use (Washington: Island Press, 2004), Hal. 21 1 Jack A. Sobel dan Craig P. Dalgren, Marine Reserves: A Guide to Science, Design, and Use (Washington: Island Press, 2004), Hal. 21

  wilayah laut lepas semakin disuarakan dengan maksud untuk melindungi keanekaragaman hayati di laut lepas. 3 Hal tersebut dikarenakan laut lepas adalah

  wilayah di mana pengaturan dan perlindungannya paling minim di dunia. 4

  Fakta yang menggambarkan minimnya perlindungan laut lepas adalah hingga tahun 2016, hanya 3 wilayah dari laut lepas dunia yang diatur dalam hukum internasional dan hanya 1 yang benar-benar dilindungi secara kuat

  dengan dijadikan sebagai suaka laut, 5 meskipun laut lepas memiliki luas 64 dari total luas lautan di seluruh dunia. 6 Laut lepas berada di luar batas yurisdiksi

  nasional dan diatur oleh UN Law of the Sea Convention (UNCLOS) yang masih mengutamakan hak kebebasan untuk mengakses dan memanfaatkan sumber daya laut lepas untuk semua negara. Hal tersebut memungkinkan bagi negara untuk melakukan navigasi, mengadakan penelitian, menangkap ikan, memasang kabel dan pipa bawah laut, hingga membuat instalasi lain seperti kilang pengeboran dan

  bahkan pulau-pulau buatan. 7 Atas dasar fakta tersebut, akhirnya Majelis Umum PBB memutuskan untuk mulai mendiskusikan isu konservasi dan pemanfaatan

  berkelanjutan keanekaragaman laut di luar wilayah yurisdiksi nasional.

  3 Sobel dan Dalgren, Marine Reserves, Hal. 22 Yoshifumi Tanaka, A Dual Approach to Ocean Governance: The Cases of Zonal and Integrated

  Management in International Law of the Sea (Burlington: Ashagate Publishing, 2008), Hal. 163

  4 Callum M. Roberts, dkk., Roadmap to Recovery: A Global Network of Marine Reserves (York:

  University of York, 2006), Hal. 9 5

  Daniel Mittler, Protecting What Protects Us (2016) dari http:www.greenpeace.orginternationalennewsBlogsmakingwavesprotecting-what- protects-usblog58177 diakses pada 7 Desember 2016

  6 Greenpeace, The Need for A High Seas Biodiversity Agreement: No More “Wild West” Oceans

  (Amsterdam: Greenpeace, 2013), Hal. 3 7

  Roberts, Roadmap to Recovery, Hal. 9

  Pada tahun 2004, Majelis Umum PBB akhirnya membentuk sebuah Ad Hoc Open-ended Informal Working Group of the General Assembly to study issues relating to the conservation and sustainable use of marine biological diversity

  beyond areas of national jurisdiction melalui Resolusi Majelis Umum 5924. 8 Rapat pertama Kelompok Kerja tersebut diselenggarakan pada 13-17 Februari

  2006, dan dilanjutkan pada tahun 2008, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014 (dua kali), dan 2015. 9 Selain itu, di luar Kelompok Kerja BBNJ, pada 2012, PBB

  menyelenggarakan UN Conference on Sustainable Development atau yang dikenal dengan KTT Rio+20 yang diadakan di Rio de Janeiro. Awalnya, KTT tersebut memberikan harapan akan lahirnya suatu instrumen hukum baru untuk melindungi

  laut lepas yang menjadi target dari CoP ketujuh CBD pada tahun 2004. 10 Meskipun di dalam KTT tersebut muncul koalisi dari mayoritas negara anggota

  yang mendukung dibentuknya perjanjian yang mengatur dan melindungi laut lepas, akan tetapi, kesepakatan untuk meluncurkan negosiasi formal gagal dicapai hingga pada akhirnya, konferensi tersebut menunda keputusan untuk

  menegosiasikan UN Ocean Biodiversity Agreement hingga batas tahun 2015. 11

  Menindaklanjuti penundaan keputusan pada KTT Rio+20, Kelompok Kerja BBNJ di dalam pertemuan kesembilannya pada Januari 2015, mengeluarkan

  UN, Marine Biological Diversity Beyond Areas of National Jurisdiction: Legal and Policy Framework dari http:www.un.orgdeptslosbiodiversityworkinggroupwebpage_legal20and20policy.pdf 9 diakses pada 24 April 2016.

  UN, Marine Biological Diversity Beyond Areas of National Jurisdiction.

  10 Sofia Tsenikli, Rio+20 Not the Oceans Summit but High Seas Protection Gains Support and Prominence (2012) dari

  http:www.greenpeace.orginternationalennewsBlogsmakingwavesrio20-not-the-oceans- 11 summit-but-high-seas-problog41156 diakses pada 24 April 2016.

  Tsenikli, Rio+20 Not the Oceans Summit.

  rekomendasi kepada Majelis Umum PBB untuk memulai negosiasi perjanjian pelaksanaan di bawah UNCLOS untuk membentuk suaka atau wilayah konservasi di laut lepas. Selain itu, Majelis Umum PBB secara resmi mengakui bahwa pengaturan laut adalah tentang perlindungan, bukan hanya tentang 'pengelolaan

  eksploitasi' sumber daya lautan. 12

  Rekomendasi dari Kelompok Kerja BBNJ akhirnya diadopsi lebih awal pada Juni 2015 dari jadwal sebelumnya, pada September 2015, dengan menghasilkan konsensus dari negara-negara anggota Majelis Umum PBB untuk mengadopsi Resolusi MU PBB 69292 dan mengembangkan perjanjian pelaksanaan di bawah

  UNCLOS, 13 yang mengikat secara hukum untuk pelestarian kehidupan laut di luar wilayah yurisdiksi nasional, 14 yang dikenal dengan UN Ocean Biodiversity Agreement (Perjanjian Keanekaragaman Hayati Laut Lepas), 15 atau berdasarkan

  Resolusi MU PBB 69292 yang disebut dengan International Legally Binding Instrument under the UNCLOS on the Conservation and Sustainable Use of

  Marine Biological Diversity of Areas Beyond National Jurisdiction. 16 Di dalam resolusi tersebut, Majelis Umum PBB memutuskan untuk membentuk

  Tsenikli, Rio+20 Not the Oceans Summit. 13 Implementing Agreement under UNCLOS adalah istilah yang muncul dalam diskusi pada

  pertemuan Working Group BBNJ.

  14 High Seas Alliances, UN General Assembly Adopts Resolution to Develop New Marine Biodiversity Treaty for the High Seas and Beyond (2015) dari http:highseasalliance.orgcontentun-general-assembly-adopts-

  resolution-develop-new-marine-biodiversity-treaty-high-seas-and diakses pada 25 April 2016.

  15 UN Ocean Biodiversity Agreement adalah istilah yang digunakan oleh NGO untuk mengartikan hasil akhir dari Implementing Agreement under UNCLOS, seperti UN Fish Stock Agreement.

  16 International Legally Binding Instrument under the UNCLOS on the Conservation and Sustainable Use of Marine Biological Diversity of Areas Beyond National Jurisdiction adalah istilah

  resmi berdasarkan Resolusi MU PBB 69292 untuk didiskusikan pada pertemuan Preparatory Committee BBNJ. UN, General Assembly Resolution 69292, Para. 1, dari https:documents-dds- ny.un.orgdocUNDOCGENN1518755PDFN1518755.pdf?OpenElement diakses pada 25 April 2016.

  Preparatory Committee (PrepCom), sebelum penyelenggaraan konferensi antar- pemerintah, yang bertugas untuk menyiapkan rekomendasi substantif terkait elemen-elemen dari rancangan teks perjanjian pelaksanaan di bawah UNCLOS,

  yang akan dilaporkan kembali pada akhir 2017 kepada Majelis Umum PBB. 17 Di dalam proses pengakuan negara-negara anggota Majelis Umum PBB atas

  pentingnya perlindungan laut lepas hingga Majelis Umum PBB mengadopsi rekomendasi dari Kelompok Kerja BBNJ, Greenpeace secara aktif ikutserta dalam mendorong Majelis Umum PBB untuk menciptakan suaka laut global.

  Greenpeace sebagai International Non-Governmental Organization (INGO) yang berfokus pada isu-isu lingkungan hidup telah menyerukan perlunya dibentuk instrumen hukum internasional untuk menjaga dan menjamin kelestarian keanekaragaman hayati di lautan. Suaka laut global yang diajukan Greenpeace adalah perlindungan zona laut lepas di luar yurisdiksi negara seluas 40 dari laut

  global untuk menjadi zona bebas praktik eksploitasi sumber daya alam, 18 yang kemudian diimplementasikan dengan mendorong negara-negara anggota Majelis

  Umum PBB membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement. 19

  Greenpeace baik secara mandiri maupun kolektif dengan aliansi antar-NGO lingkungan lainnya selalu aktif menghadiri pertemuan Kelompok Kerja BBNJ serta konferensi PBB lainnya yang membahas tentang isu kelautan dan aktif

  17 UN, General Assembly Resolution 69292, Para. 1 (a). 18 Greenpeace. Ocean Sanctuaries dari

  http:www.greenpeace.orginternationalencampaignsoceansmarine-reserves diakses pada

  25 April 2016. 19 Greenpeace, The Need for An Ambitious UN Ocean Biodiversity Agreement: No More “Wild

  West” Oceans (Amsterdam: Greenpeace, 2013), Hal. 6 West” Oceans (Amsterdam: Greenpeace, 2013), Hal. 6

  pertemuan pertama yang diselenggarakan pada 13-17 Februari 2006 20 hingga pertemuan kesembilan Kelompok Kerja BBNJ yang diselenggarakan pada 20-23

  Januari 2015. 21 Dari kesembilan pertemuan tersebut, Kelompok Kerja BBNJ telah menghasilkan konsensus untuk menghasilkan rekomendasi kepada Majelis Umum

  PBB yang diadopsi pada sidang Majelis Umum PBB ke-69 untuk mengembangkan intrumen internasional yang mengikat secara hukum di bawah

  UNCLOS. 22 Meskipun begitu, di dalam proses perundingan pada Kelompok Kerja BBNJ maupun pada forum internasional lainnya, Greenpeace menghadapi

  berbagai penolakan dari negara-negara yang memiliki kepentingan di laut lepas.

  Pengaturan akses hingga pelarangan eksploitasi sumber daya di laut lepas, dipandang oleh beberapa negara bertentangan dengan kepentingan nasionalnya, sehingga dalam beberapa forum internasional PBB, di mana, upaya negosiasi formal perjanjian pelaksanaan di bawah UNCLOS diajukan, seringkali muncul penolakan dari beberapa negara. Sejak awal pertemuan Kelompok Kerja BBNJ

  IISD, Summary of The Working Group on Marine Biodiversity Beyond Areas of National Jurisdiction: 13-17 February 2006 dalam Earth Negotiations Bulletin Vol. 25 No. 25 (IISD, 2006) dari http:www.iisd.cadownloadpdfenb2525e.pdf diakses pada 10 Mei 2016.

  21 IISD, Summary The Ninth Meeting of The Working Group on Marine Biodiversity Beyond Areas of National Jurisdiction: 20-23 January 2015 dalam Earth Negotiations Bulletin Vol. 25 No. 94

  (IISD, 2015) dari http:www.iisd.cadownloadpdfenb2594e.pdf diakses pada 10 Mei 2016.

  22 IISD, Summary The Session of The Preparatory Committee on Marine Biodiversity Beyond Areas of National Jurisdiction: 28 March – 8 April 2016 dalam Earth Negotiations Bulletin Vol. 25 No.

  106 (IISD, 2016) dari http:www.iisd.cadownloadpdfenb25106e.pdf diakses pada 10 Mei 2016.

  pada 2004, AS, Jepang, Norwegia, Korea Selatan, Islandia, dan Rusia menyatakan penolakannya terhadap proposal Uni Eropa yang mengajukan pembentukan

  perjanjian pelaksanaan di bawah UNCLOS, 23 hingga pertemuan ketujuh pada tahun 2014, AS, Jepang, Kanada, Korea Selatan, Norwegia, Islandia, dan Rusia

  masih menyatakan keraguannya akan kebutuhan dibentuknya instrumen hukum baru. 24 Selain itu, di dalam penyelenggaraan KTT Rio+20 pada 2012 AS, Kanada,

  Rusia, Tiongkok, Jepang, dan Venezuela juga menyatakan penolakannya atas upaya negosiasi formal perjanjian pelaksanaan di bawah UNCLOS. 25

  Meskipun di dalam pembahasan perjanjian pelaksanaan di bawah UNCLOS begitu banyak penolakan dan hambatan yang ditunjukkan oleh negara-negara yang memiliki kepentingan nasional terhadap sumber daya alam di laut lepas, atas berbagai upaya Greenpeace untuk mendorong negara-negara anggota Majelis Umum PBB yang dilakukan baik di dalam dan di luar pertemuan Kelompok Kerja BBNJ, akhirnya, pada 19 Juni 2015, sidang Majelis Umum PBB berhasil menghasilkan konsensus untuk mengadopsi rekomendasi dari Kelompok Kerja BBNJ dan menyetujui untuk menindaklanjuti negosiasi UN Ocean Biodiversity Agreement ke tahap berikutnya, yaitu Preparatory Committee (PrepCom), melalui Resolusi MU 69292.

  23 IISD, Summary of The Working Group on Marine Biodiversity Beyond Areas of National

  Jurisdiction. 24

  IISD, Summary The Seventh Meeting of The Working Group on Marine Biodiversity Beyond Areas of National Jurisdiction: 1-4 April 2014 dalam Briefing Note on UNGA WG on Marine Biodiversity (IISD, 2014) dari http:www.iisd.caoceansmarinebiodiv7briefbrief_marinebiodiv7e.pdf diakses pada 6 April 2017. 25

  Tsenikli, Rio+20 Not the Oceans Summit

B. Pertanyaan Masalah

  Oleh karena itu, peneliti membuat pertanyaan penelitian dalam skripsi ini yaitu, Bagaimana upaya Greenpeace dalam mendorong Majelis Umum PBB

  untuk membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement periode 2006 - 2015?

  C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

  Dengan menganalisis upaya Greenpeace dalam mendorong Majelis Umum PBB untuk membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement periode 2006 - 2015, skripsi ini memiliki tujuan secara teoritis untuk mem-verifikasi asumsi dari Kate O‟Neill bahwa Non-Government Organization, Activist Group, dan Global Environment Movements memainkan peran penting dalam menyoroti masalah lingkungan global, dan secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi tata

  kelola lingkungan global, 26 sedangkan secara praktis tujuan dari skripsi ini ialah menjadi referensi untuk NGO, baik Greenpeace maupun NGO lainnya, dalam

  membuat upaya yang ditujukan untuk mendorong aktor negara untuk membuat kebijakan terkait isu-isu lingkungan hidup tertentu.

D. Tinjauan Pustaka

  Penelitian tentang peran maupun upaya NGO lingkungan secara umum telah dilakukan sebelumnya, seperti pada beberapa jurnal di bawah ini:

  Remi Parmentier, Role and Impact of International NGOs in Global Ocean Governance. Jurnal ini menjelaskan setidaknya ada lima jenis intervensi NGO terhadap pengaturan lingkungan maritim dunia, antara lain: (1) pembangunan

  26 Kate O'Neill, The Environment and International Relations. (Cambridge: Cambridge University, 2009), Hal. 57 26 Kate O'Neill, The Environment and International Relations. (Cambridge: Cambridge University, 2009), Hal. 57

  pengetahuan; serta (5) pengawasan dan respon secara cepat.

  Katherine M. Crosman, The Roles of Non-Governmental Organization in Marine Conservation. Jurnal ini menjelaskan empat peran keterlibatan NGO dalam upaya konservasi maritim dengan menganalisis peran organisasi tersebut, antara lain, sebagai advocate, expert, manager, watchdog, dan enabler. Katherine M. Crosman juga menjelaskan motivasi NGO untuk terlibat sebagai pendorong dalam upaya konservasi maritim, antara lain, misi organisasi, konteks konservasi, dan kebutuhan untuk mengamankan dana mereka.

  Kal Raustiala, States, NGOs, and International Environmental Institutions. Jurnal menjelaskan setidaknya ada enam peranan NGO dalam kerjasama dan hukum lingkungan hidup internasional, antara lain, melakukan penelitian dan pengembangan kebijakan, mengawasi komitmen negara, sebagai alarm, membuat laporan tentang negosiasi yang sedang berjalan, menyebarkan respon domestik, hingga memfasilitasi ratifikasi. Kal Raustiala juga menjelaskan tentang pola dan tren partisipasi NGO, yaitu dengan mengelaborasi pola NGO secara umum serta menganalisis studi kasus pola partisipasi NGO di dalam Global Environment Facility (GEF).

  Barbara Gemmill dan Abimbola Bamidele-Izu, The Role of NGOs and Civil

  Society in Global Environmental Governance. Jurnal ini menjelaskan setidaknya

  ada lima peranan masyarakat sipil dalam tata kelola lingkungan hidup gobal, ada lima peranan masyarakat sipil dalam tata kelola lingkungan hidup gobal,

  Jurnal-jurnal di atas sangat membantu skripsi ini dengan memberikan gambaran tentang peran NGO secara umum dalam tata kelola lingkungan hidup global. Hasil penelitian-penelitian tersebut juga akan digunakan sebagai referensi terkait upaya Greenpeace dalam mendorong Majelis Umum PBB untuk membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement. Skripsi ini menindaklanjuti penelitian di atas dalam menganalisis upaya Greenpeace secara spesifik, dikarenakan tidak semua NGO memiliki upaya yang sama satu sama lain, melainkan masing-masing NGO memiliki perbedaan objektif maupun upaya yang

  berbeda-beda.

E. Kerangka Teoritis

  1. Green Political Theory Di antara berbagai asumsi-asumsi dari Green Political Theory, GPT memiliki posisi yang berkaitan dengan pertanyaan tentang tatanan dunia, yaitu kritik GPT terhadap sistem negara. Implikasi dari argumen GPT terhadap struktur politik global cukup jelas. O'Riordan menyajikan tipologi posisi yang yang muncul dari “limits to growth account of sustainability” yang diadopsi oleh GPT. Pertama, aktor negara terlalu besar dan terlalu kecil untuk melindungi lingkungan hidup secara efektif, sehingga struktur regional dan global baru (bersamaan 1. Green Political Theory Di antara berbagai asumsi-asumsi dari Green Political Theory, GPT memiliki posisi yang berkaitan dengan pertanyaan tentang tatanan dunia, yaitu kritik GPT terhadap sistem negara. Implikasi dari argumen GPT terhadap struktur politik global cukup jelas. O'Riordan menyajikan tipologi posisi yang yang muncul dari “limits to growth account of sustainability” yang diadopsi oleh GPT. Pertama, aktor negara terlalu besar dan terlalu kecil untuk melindungi lingkungan hidup secara efektif, sehingga struktur regional dan global baru (bersamaan

  Posisi kedua, apa yang O'Riordan sebut sebagai „centralised authoritarianism.‟ Gagasan ini pada umumnya mengikuti logika „tragedy of the commons‟ dari Garrett Hardin, yang menunjukkan bahwa sumber daya yang dimiliki bersama akan dimanfaatkan secara berlebih. Metafora ini menghasilkan argumen bahwa struktur politik global terpusat diperlukan untuk memaksa perubahan perilaku untuk mencapai keberlanjutan. Dalam beberapa versi, gagasan ini mengadopsi apa yang disebut dengan „lifeboat ethics‟, di mana kelangkaan ekologi berarti bahwa negara-negara kaya harus melakukan ujicoba triage dalam skala global untuk „pull up the ladder behind them.‟ Argumen ini, secara garis besar merupakan versi ekologis dari proposal versi 'idealis' pemerintahan dunia

  dari liberal internationalism yang telah ditolak oleh GPT. 28

  Posisi ketiga, serupa dengan hal di atas yang menunjukkan bahwa authoritarianism mungkin diperlukan, namun menolak gagasan bahwa hal ini dapat dilakukan dalam skala global. Visi dari posisi ini adalah untuk komunitas berskala kecil dan erat yang berjalan sesuai dengan garis hierarkis dan konservatif dengan prinsip swasembada dalam penggunaan sumber daya mereka. Posisi ketiga ini memiliki pandangan yang sama dengan posisi sebelumnya, bahwa kebebasan dan egoisme yang telah menyebabkan krisis lingkungan, dan bahwa

  27 Scott Burchill, dkk., Theories of International Relations, Third Edition (New York: Palgrave

  Macmillan, 2005), Hal. 242 28

  Burchill, Theories of International Relations, Hal. 242-243 Burchill, Theories of International Relations, Hal. 242-243

  

  Posisi terakhir yang dijabarkan oleh O'Riordan disebut dengan „anarchist solution.‟ Hal ini telah menjadi posisi yang diadopsi oleh GPT sebagai interpretasi terbaik dari implikasi batas pertumbuhan ekonomi. Istilah 'anarkis' digunakan secara umum dalam tipologi ini yang berarti bahwa GPT membayangkan jaringan global komunitas swadaya dalam skala kecil. Posisi ini biasanya mengaitkan gagasan dari para pakar seperti E. F. Schumacher, serta bioregionalis seperti Kirkpatrick Sale yang berpendapat bahwa masyarakat ekologi harus diorganisir dengan fitur lingkungan alami seperti daerah aliran sungai yang membentuk

  batas-batas antara masyarakat. 30

  GPT juga sering mengkritik aktor negara karena alasan anarkis. Misalnya, Spretnak dan Capra mengemukakan bahwa anarkis adalah ciri yang diidentifikasi oleh Weber sebagai sifat dasar kenegaraan yang merupakan masalah dalam sudut pandang GPT. Kemudian, Bookchin memberikan argumen serupa, menunjukkan bahwa negara adalah institusi hierarki tertinggi yang mengkonsolidasikan semua institusi hierarkis lainnya. Di lain pihak, Carter mengemukakan bahwa negara adalah bagian dari dinamika masyarakat modern yang telah menyebabkan krisis lingkungan saat ini. Dia menguraikan tentang 'dinamika lingkungan yang berbahaya,' di mana „negara yang terpusat, pseudo-representative, dan quasi- democratic berusaha untuk menstabilsasi hubungan ekonomi inegaliter dan

  29

  30 Burchill, Theories of International Relations, Hal. 243 Burchill, Theories of International Relations, Hal. 243

  kompetitif untuk mengembangkan teknologi “tidak ramah” dan menyebabkan kerusakan berat pada lingkungan, di mana produktivitasnya mendukung (secara nasionalistik dan militeristik) kekuatan koersif yang memberdayakan negara.' Dengan demikian, dalam sudut pandang GPT, negara tidak hanya tidak diperlukan, namun juga tidak diinginkan secara positif. Selain itu, salah satu slogan politik GPT yang paling terkenal adalah „think globally, act locally‟ yang berasumsi bahwa sementara masalah lingkungan dan sosial-ekonomi global beroperasi dalam skala global, mereka dapat dengan sukses merespons hanya dengan menghancurkan struktur kekuatan global yang dihasilkan melalui tindakan

  lokal dan pembangunan komunitas politik skala kecil dan ekonomi mandiri. 31

  Argumen-argumen dari Green Political Theory di atas membantu menjelaskan bagaimana peran aktor non-negara, khususnya Greenpeace, sebagai komunitas masyarakat sipil menjadi bentuk dari desentralisasi di dalam negara, di mana Greenpeace memainkan peran-perannya dalam mengadvokasikan perlindungan lingkungan maupun melindungi lingkungan melalui kegiatan konservasi. Selain itu, tekait dengan „centralised authoritarianism,‟ juga diperjuangkan oleh Greenpeace atas pembentukan UN Oceans Biodiversity Agreement, sebagai rezim internasional yang dapat mengatur dan mencegah kegiatan-kegiatan destruktif di laut lepas.

  2. Peran NGO, Activist Group, dan Global Environment Movements Kelompok aktivis lingkungan memainkan peran penting dalam menyoroti

  masalah lingkungan global, dan secara langsung atau tidak langsung

  31 Burchill, Theories of International Relations, Hal. 243 31 Burchill, Theories of International Relations, Hal. 243

  dari NGO profesional hingga kelompok-kelompok lokal kecil yang membuat jaringan satu sama lain melalui internet. Kelompok-kelompok ini berbeda secara luas dalam ideologi, upaya, bentuk organisasi, dan target (tidak semua dari mereka bahkan akan mendefinisikan diri mereka fokus pada "lingkungan"), tapi berbagi perhatian atas kondisi lingkungan global dan peran serta hak manusia terhadap lingkungan, dan kebutuhan akan suara yang berbeda untuk didengar

  dalam proses pemerintahan global. 33 Aktivisme lingkungan hidup global telah berpengaruh dalam beberapa cara. Pertama, banyak kelompok, di antaranya,

  Greenpeace, WWF, Climate Action Network, telah memusatkan perhatian mereka

  pada masalah-masalah global secara eksplisit. Kedua, kelompok lingkungan

  sangat aktif menghadiri negosiasi internasional dan pada KTT global. Ketiga, munculnya jaringan advokasi transnasional dan masyarakat global telah menjadi salah satu perkembangan yang paling signifikan dalam studi aktivisme dan

  gerakan sosial selama dekade terakhir. 34

  Selain itu, komunitas aktivis selalu memberikan perhatian terhadap tata kelola lingkungan global dan telah melakukan beberapa fungsi penting dalam

  proses negosiasi. 35 Pertama, NGO telah memainkan peran kunci dalam pengaturan agenda, dengan cara membawa masalah pada perhatian masyarakat internasional,

  dan mendorong solusi tertentu. Kedua, NGO telah berfungsi sebagai "conscience

  32 O'Neill, The Environment and International Relations, Hal. 57 33 O'Neill, The Environment and International Relations, Hal. 57

  35 O'Neill, The Environment and International Relations, Hal. 58-59 O'Neill, The Environment and International Relations, Hal. 91 35 O'Neill, The Environment and International Relations, Hal. 58-59 O'Neill, The Environment and International Relations, Hal. 91

  dampak lingkungan global. 36 Mereka melobi para delegasi untuk mengambil posisi tertentu, menyusun rancangan bahasa perjanjian (yang terkadang diadopsi

  ke dalam teks final), dan menghasilkan laporan harian, dan terkadang setiap jam, tentang kegiatan pertemuan, yang dengan cepat dan disebarluaskan. 37

  Konsep peran NGO sangat relevan untuk menjawab pertanyaan penelitian ini dikarenakan GPT mengakui adanya peran aktor non-negara yang memiliki andil yang cukup besar dalam menyuarakan pelestarian lingkungan hingga menjadi isu global. Menurut O‟Neill, NGO juga memiliki kemampuan untuk mempengaruhi aktor negara untuk menegosiasikan isu-isu lingkungan ke dalam forum-forum dunia. Dalam konteks penelitian ini, GPT dapat membantu peneliti untuk menjelaskan bagaimana upaya Greenpeace dalam mendorong Majelis Umum PBB untuk membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement.

F. Metode Penelitian

  Dalam skripsi ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif. Prosedur-prosedur kualitatif memiliki pendekatan yang lebih beragam dalam penelitian akademik ketimbang metode-metode kuantitatif. Penelitian kualitatif

  37 O'Neill, The Environment and International Relations, Hal. 91-92 O'Neill, The Environment and International Relations, Hal. 92 37 O'Neill, The Environment and International Relations, Hal. 91-92 O'Neill, The Environment and International Relations, Hal. 92

  beberapa karakteristik penelitian kualitatif menurut John W. Creswell, antara lain: (1) lingkungan alamiah; (2) peneliti sebagai instrument kunci; (3) beragam sumber data; (4) analisis data induktif; (5) makna dari partisipan; (6) rancangan yang berkembang; (7) perspektif teoritis; (8) bersifat penafsiran; dan (9)

  pandangan menyeluruh. 39 Oleh karena itu, dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, peneliti dapat menganalisis upaya Greenpeace mendorong

  pembentukan suaka laut global melalui UN Ocean Biodiversity Agreement secara mendalam.

  Menurut John W. Creswell, ada empat prosedur pengumpulan data di dalam metode kualitatif, antara lain: (1) observasi kualitatif; (2) wawancara kualitatif; (3)

  dokumen-dokumen kualitatif; serta (4) materi audio dan visual, 40 sedangkan, di dalam skripsi ini, peneliti mengumpulkan data melalui studi pustaka dokumen-

  dokumen terkait (seperti dokumen resmi PBB, laporan Greenpeace, Earth Negotiation Bulletin, jurnal, serta dokumen-dokumen lainnya) dan melakukan wawancara terhadap aktor-aktor terkait, antara lain: Oceans Sanctuaries Project Leader Greenpeace Internasional, yaitu Richard Page; Political Advisor Greenpeace Internasional sekaligus Chair of Greenpeace Delegation, yaitu Nathalie Rey, Sofia Tsenikli, dan Veronica Frank; Oceans Campaigner Greenpeace nationalregional offices (NROs), yaitu John Hocevar, Magnus

  38 David Silverman, Doing Qualitative Research: A Practical Handbook (London: SAGE Publication, 2000), Hal. 8

  40 Creswell, Research Design, Hal. 261-263 Creswell, Research Design, Hal. 267-270

  Eckeskog, Frida Bengtsson, Sarah King, Arifsyah Nasution, Taehyun Park, dan Kazue Komatsubara; delegasi negara-negara pada Kelompok Kerja BBNJ, yaitu Haryo Budi Nugroho, Budi Atyasa, Elizabeth Kim, dan Prof. Tullio Scovazzi; serta para pakar hukum laut internasional dan biologi kelautan, yaitu Prof. Ann Powers dan Dr. rer. nat. Mufti Petala Partia, M.Sc . Akan tetapi, dalam skripsi ini penulis menyadari adanya kekurangan narasumber, yaitu dari pihak PBB untuk diwawancarai.

G. Sistematika Penulisan

BAB 1: PENDAHULUAN

  Bab 1 merupakan pendahuluan dari skripsi ini. Pada Bab 1 menjelaskan beberapa bagian, antara lain, pernyataan masalah yang menjelaskan terkait signifikansi masalah dalam skripsi ini, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, kerangka teoritis yang menjelaskan terkait landasan teori dalam skripsi ini, tinjauan pustaka yang menjelaskan terkait penelitian-penelitian terdahulu; metode penelitian, serta sistematika penulisan.

  BAB II: PROFIL ORGANISASI

  DAN KAMPANYE LAUT

  GREENPEACE

  Pada Bab 2 dijelaskan tentang profil keorganisasian, yang terdiri dari sejarah pembentukan Greenpeace, prinsip dasar organisasi Greenpeace, struktur organisasi Greenpeace, dan status Greenpeace di dalam sistem PBB, serta profil kampanye perlindungan laut Greenpeace, yang terdiri dari pencapaian kampanye laut Greenpeace dan kampanye perlindungan laut lepas “ocean sanctuaries” Greenpeace.

BAB III: PROSES NEGOSIASI PEMBENTUKAN UN OCEAN BIODIVERSITY AGREEMENT DI PBB

  Pada Bab 3 dijelaskan bagaimana proses pembentukan negosiasi UN Ocean Biodiversity Agreement baik di dalam pertemuan pertama hingga kesembilan Kelompok Kerja BBNJ maupun di dalam pertemuan internasional lainnya, yaitu UN Conference on Sustainable Development (Rio+20) dan sidang Majelis Umum PBB Ke-69. Bab 3 juga menunjukkan bagaimana perubahan posisi beberapa negara yang awalnya menentang pembentukan perjanjian pelaksanaan di bawah UNCLOS hingga akhirnya Majelis Umum PBB berhasil mengadopsi Resolusi MU PBB 69292 Tahun 2015 melalui konsesus.

BAB IV: UPAYA GREENPEACE MENDORONG PEMBENTUKAN SUAKA LAUT GLOBAL MELALUI UN OCEAN BIODIVERSITY AGREEMENT

  Di dalam Bab 4, penulis menganalisis upaya Greenpeace dalam upayanya mendorong Majelis Umum PBB untuk membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement. Upaya yang dianalisis tidak hanya yang dilakukan oleh Greenpeace di dalam pertemuan-pertemuan Kelompok Kerja BBNJ, melainkan juga upaya Greenpeace secara keseluruhan yang berkaitan dengan upaya perlindungan laut lepas serta upaya Greenpeace kepada negara-negara anggota Majelis Umum PBB. Bab 4 ini juga menjelaskan tentang kendala-kendala yang dialami oleh Greenpeace dalam upayanya mendorong Majelis Umum PBB untuk membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement.

BAB V: PENUTUP

BAB II PROFIL ORGANISASI DAN KAMPANYE LAUT GREENPEACE

  Pada Bab 2 ini dijelaskan tentang profil keorganisasian, yang terdiri dari sejarah pembentukan Greenpeace, prinsip dasar organisasi Greenpeace, struktur organisasi Greenpeace, dan status Greenpeace di dalam sistem PBB, serta profil kampanye perlindungan laut Greenpeace, yang terdiri dari pencapaian kampanye laut Greenpeace dan kampanye perlindungan laut lepas “Ocean Sanctuaries” Greenpeace. Penjelasan tersebut diuraikan untuk memperkuat asumsi dari Kate O‟Neill dari studi kasus perjalanan kontribusi Greenpeace sebagai Non- Governement Organization dalam upaya perlindungan laut melalui pembentukan perjanjian lingkungan internasional, seperti Non-Proliferation Treaty (NPT) pada

  1 Mei 1996, moratorium perburuan paus komersil oleh IWC pada tahun 1982, Protocol on Environmental Protection to the Antarctic Treaty pada tahun 1991, hingga amandemen London Dumping Convention pada tahun 1993.

A. Profil Greenpeace

1. Sejarah Pembentukan Greenpeace

  Greenpeace adalah organisasi yang lahir dari pergerakan yang pada awalnya menentang invasi Amerika Serikat ke Vietnam pada tahun 1960an, yang

  menimbulkan 150.000 penentang yang akhirnya pindah ke Kanada. 41 Pergerakan tersebut semakin meningkat sejak bulan Agustus 1969, ketika AS mengumumkan

  pengujian bom nuklir berkekuatan satu megaton, bernama “Milrow,” yang

  41 Steve Erwood, The Greenpeace Chronicles: 40 Years of Protecting the Planet (Amsterdam: Greenpeace, 2011), Hal. 8 41 Steve Erwood, The Greenpeace Chronicles: 40 Years of Protecting the Planet (Amsterdam: Greenpeace, 2011), Hal. 8

  nuklir masih berlanjut, hingga pada bulan November 1969, Kementerian Pertahanan AS kembali mengumumkan ujicoba termo-nuklir berkekuatan lima

  megaton, bernama “Cannikin,” yang dijadwalkan pada musim gugur 1971. 43

  Sebagai respon terhadap pengumuman tersebut, kelompok untuk memprotes rencana tersebut yang bernama “Don‟t Make a Wave Committee,” melakukan pelayaran menggunakan kapal Phyllis Cormack yang dimulai pada 15 September

  1971 dari Vancouver. 44 Dalam pelayarannya, di saat kru kapal Phyllis Cormack meninggalkan Pulau Akutan dan melanjutkan pelayaran menuju Amchitka, pada

  tanggal 30 September, mereka ditahan oleh Kapal Penjaga Pantai AS Confidence atas tuduhan melanggar UU Tarif AS Tahun 1930 karena tidak melapor kepada

  Bea Cukai AS dengan waktu maksimal 48 jam setelah memasuki wilayah AS. 45 Oleh karena itu, Phyllis Cormack diperintahkan untuk beralih ke Kepulauan

  Shumagin, yang letaknya jauh dari Amchitka, untuk menyelesaikan urusan kepabeanan di sana. 46 Dengan kegagalan pelayaran tersebut untuk mencapai

  lokasi ujicoba di Amchitka, menjadi misi terakhir bagi kapal Phyllis Cormack yang kembali digunakan sebagai kapal ikan dan digantikan dengan Edgewater

  Marc Montgomery, History: Sept 15, 1971, the Canadian origins of Greenpeace (2015) dari http:www.rcinet.caen20150916history-sept-15-1971-the-canadian-origins-of-greenpeace diakses pada 19 Maret 2017.

  44 Montgomery, History: Sept 15, 1971. Greenpeace, The Founders of Greenpeace dari

  http:www.greenpeace.orginternationalenabouthistoryfounders diakses pada 19 Maret 2017.

  45 Rex Weyler, Greenpeace: How A Group of Ecologists, Journalists, and Visionaries Changed the

  World (Vancouver: Raincoast Books, 2004), Hal. 115 46

  Weyler, Greenpeace: How A Group of Ecologists, Hal. 115

  Fortune, yang dikenal sebagai Greenpeace Too. Kapal Greenpeace Too kemudian melanjutkan misi untuk mengejar batas waktu ujicoba nuklir yang akan dilakukan

  pada 4 November. 47 Akan tetapi, pada 6 November bom hidrogen berkekuatan 5 megaton diledakkan dengan kedalaman 1,8 km di bawah permukaan Amchitka. 48

  Karena Phyllis Cormack tidak pernah mencapai Amchitka, dan kehadiran Edgewater Fortune tidak menggoyahkan pemerintah AS, anggota Don‟t Make a Wave Committee mengira bahwa semua upaya mereka akhirnya berujung sia-

  sia. 49 Akan tetapi, pada kenyataannya, dengan menggunakan taktik dramatis yang terinspirasi oleh, filosofi konfrontasi tanpa kekerasan yang berakar pada konsep

  “bearing witness” dari Quaker, 50 dan juga konsep intervensi tanpa kekerasan dari Mahatma Gandhi dan Martin Luther King, Jr, ditambah pula dengan taktik "mind

  bomb" dari Robert Hunter, 51 dapat memicu oposisi publik terhadap ujicoba nuklir dan melahirkan kampanye perlucutan senjata yang pada akhirnya membuat

  Komisi Energi Atom AS menghentikan ujicoba nuklir Amchitka pada bulan Februari 1972, 52 serta mengembalikan status dan fungsi Pulau Amchitka sebagai

  suaka margasatwa. 53

  48 Erwood, The Greenpeace Chronicles, Hal. 11 Nuclear Risks, Amchitka, USA: Nuclear Weapons Test Site dari http:www.nuclear-

  risks.orgenhibakusha-worldwideamchitka.html diakses pada 19 Maret 2017.

  49 Erwood, The Greenpeace Chronicles, Hal. 11 50 University of Wollongong, Case Study: Greenpeace dari

  https:www.uow.edu.au~sharonbSTS300environmentcaseartcase5.html diakses pada 19 Maret 2017.

  51 Bill Kovarik, Greenpeace dari http:environmentalhistory.orgpeoplegreenpeace diakses pada 16 Januari 2017.

  52 Erwood, The Greenpeace Chronicles, Hal. 11 53 Greenpeace, Our History (2010) http:www.greenpeace.org.ukaboutimpacthistory diakses

  pada 19 Maret 2017

2. Prinsip Dasar Organisasi Greenpeace

  Misi Greenpeace adalah organisasi kampanye yang bersifat independen, yang menggunakan konfrontasi kreatif non-kekerasan dalam memecahkan masalah lingkungan global, dan untuk menawarkan solusi yang penting untuk masa depan yang hijau dan damai. Selain itu, tujuan dari Greenpeace adalah untuk memastikan kemampuan bumi untuk memelihara kehidupan dalam segala keragamannya. Oleh karena itu, untuk mencapai misi dan tujuan tersebut,

  Greenpeace berkampanye untuk: 54

   melindungi keanekaragaman hayati dalam segala bentuknya  mencegah pencemaran dan penyalahgunaan laut, tanah, udara, dan air di bumi  mengakhiri semua ancaman nuklir  mempromosikan perdamaian, perlucutan senjata, dan non-kekerasan secara

  global.

  Adapun di setiap aktivitas kampanye untuk mencapai misi dan tujuan organisasi, Greenpeace memiliki prinsip dasar (core value), antara lain: 55

  a. Tanggung Jawab Pribadi dan Tanpa Kekerasan Dalam aksi-nya, aktivis Greenpeace mengambil tanggung jawab pribadi atas

  tindakan mereka, dan berkomitmen terhadap prinsip non-kekerasan. Prinsip- prinsip ini terinspirasi dari konsep “bearing witness” milik kelompok Quaker, yaitu tentang mengambil tindakan berdasarkan hati nurani dan tanggung jawab pribadi.

  54 Greenpeace, Our Core Value dari http:www.greenpeace.orginternationalenaboutour- 55 core-values diakses pada 16 Januari 2017.

  Greenpeace, Our Core Value.

  b. Independen Greenpeace menjamin independensi keuangan dari kepentingan politik

  maupun komersial. Greenpeace tidak menerima dana dari salah satu perusahaan atau pemerintah. Kontribusi individu serta yayasan hibah adalah satu-satunya sumber pendanaan Greenpeace. Prinsip independen tersebut memberikan otoritas yang dibutuhkan untuk menghadapi kekuasaan dan membuat perubahan yang nyata dapat terjadi. Dengan begitu, kampanye- kampanye yang dilakukan oleh Greenpeace juga terhindar dari kepentingan pihak perusahaan maupun politik.

  c. Tidak Memiliki Aliansi maupun Musuh Permanen Dalam mengungkap ancaman dan mencari solusi terhadap lingkungan,

  Greenpeace tidak memiliki aliansi maupun musuh permanen. Jika pemerintah ataupun perusahaan bersedia untuk berubah dan berkomitmen untuk menjadi lebih baik, Greenpeace akan bekerjasama (di luar kerjasama finansial) dengan mereka untuk mencapai tujuannya. Namun, jika pemerintah ataupun perusahaan melanggar komitmennya, Greenpeace akan kembali mengkonfrontir pihak tersebut.

  d. Mempromosikan Solusi Greenpeace mencari solusi dan mempromosikannya secara terbuka terkait

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

ANDRE FISIP Upaya Greenpeace Mendorong Majelis Umum PBB Untuk Membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement Periode 2006 2015