ANDRE FISIP Upaya Greenpeace Mendorong Majelis Umum PBB Untuk Membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement Periode 2006 2015

UPAYA GREENPEACE MENDORONG MAJELIS
UMUM PBB UNTUK MEMBENTUK UN OCEAN
BIODIVERSITY AGREEMENT

PERIODE 2006 - 2015
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh:
Andre
1113113000044

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1438 H / 2017

PERNYATAAI{ BEBAS PLAGIARISME
Skripsi yang berjdul:

UPAYA GREENPEACE MENDORONG MAJELIS UMUM PBB UNTUK

MEMBENTUK AN OCEAN BIODIWRSITY AGREEMENT
PERTODE 2006 - 2015
1.

Merupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu
persyaratan memperoleh gelar strata

I di Universitas Islam Negeri

(Un,f)

Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Se,rnua sumber

yang saya gunakan dalam penulisan

canfumkan sesuai dengan ketenfuan yang berlaku
Negeri
3.

On$

ini

telah

di universitas

saya

Islaur

Syarif Hidayatullah Jakarta

Jika di kemudian hmi terbukti

k&u

saya

ini bukan hasil karya asli

atau menrpakan hasil jiplakan dari karya omng

laiq maka saya

menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri

saya

bersedia

ruf$

Syarif

Hidayatullah Jakarta.

Iakert1 5 Jtrli2017

PERSETUJUAI\I PEMBIMBING SKRIPSI
Dengan ini, Pernbimbing Skripsi menyatakan bahwa mahasiswa:

Nama
NIM

: Andre

:1113113000044

Program Studi : Hubungan Internasional
Telah menyelesaikan penulisan skipsi dengan judul:

T]PAYA GREENPEACE MEIYDORONGMA.TELIS I]MT]M PBB I'NTUK

MEMBENTTIK (TN OCEAN BIODIWRSITY AGREEMENT
PERIODE 2006 -2015
dan telatr mernenuhi syaratuntuk

diuji.

Jakarta,

7lrudiiz0fi

PENGESAHAII PANITIA UJIAI\ SKRIPSI
SKRIPSI

UPAYA GREENPEACE MENDORONG MAJELIS UMUM PBB UNTUK
MEMBENTUK t/I/ OCEAN BIODIYERSITY AGREEMENT
PERIODE 2006 -2015
oleh
Andre
11

131 13000044

Telah dipertatrankan dalam sidang ujian skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Islam Negeri (Ufi.D Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal
14 Juli 2017. Slaipsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Sosial (S.Sos) pada Program Studi Hubungan lnternasional.
Sekretaris,

NIP.

Robi Sugara. M.Sc
Diterima dan dinyatakan memenuhi syarat kelulus[n pada tanggal 14 Juli
Ketua Program Studi Hubungan Internasional

t
NIP.

z}n.

ABSTRAK
Skripsi ini menganalisis upaya Greenpeace mendorong Majelis Umum PBB
untuk membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement. UN Ocean Biodiversity
Agreement atau yang dikenal dengan perjanjian pelaksanaan di bawah UNCLOS,
dinegosiasikan di dalam UN Ad Hoc Open-ended Informal Working Group
Biodiversity on Beyond National Jurisdiction (BBNJ ) pada periode 2006 - 2015.
Di awal pertemuan Kelompok Kerja BBNJ , terdapat penolakan dari beberapa
negara, seperti AS, Rusia, Kanada, Jepang, Korea Selatan, Islandia, dan
Norwegia, terkait gagasan pembentukan perjanjian pelaksanaan di bawah
UNCLOS tersebut. Namun, di dalam pertemuan Kelompok Kerja BBNJ terakhir
serta sidang Majelis Umum PBB ke-69 pada tahun 2015, Majelis Umum PBB,
melalui konsensus, berhasil mengadopsi Resolusi Majelis Umum PBB 69/292
Tahun 2015 (A/RES/69/292) yang menindaklanjuti negosiasi perjanjian
pelaksanaan di bawah UNCLOS ke proses selanjutnya, yaitu Preparatory
Committee (PrepCom). Oleh karena itu, pertanyaan penelitian dari skripsi ini ialah
bagaimana upaya Greenpeace dalam mendorong Majelis Umum PBB untuk
membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement periode 2006-2015? Dalam
menganalisis upaya Greenpeace, skripsi ini menggunakan Green Political Theory
beserta konsep desentralisasi dan peran non-governement organization, activist
group, dan global environment movements. Sedangkan, skripsi ini menggunakan
metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data, yaitu studi pustaka dan
wawancara. Skripsi ini menemukan bahwa upaya Greenpeace, antara lain:
Penelitian dan Analisis (Research and Analysis); Pengawasan dan Respon Cepat
(Watch-Dogging and Rapid Response); Mempertunjukkan Fungsi Operasional
(Performing Operational Functions); Pengembangan Kebijakan dan Pengaturan
Agenda (Policy Development and Agenda Setting ); Melaporkan Proses Negosiasi
(Negotiations Reporting); dan Menyebarkan Sinyal Domestik (Enhancing
Domestic Signaling).
Kata Kunci: Greenpeace, Majelis Umum PBB, Kelompok Kerja BBNJ,
Suaka Laut Global, UN Ocean Biodiversity Agreement,
UNCLOS

iv

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrrahim, dengan memanjatkan puji serta syukur kepada
Allah SWT, penguasa alam semesta. Atas segala rakhmat dan hidayat-Nya,
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam tak lupa dihaturkan
kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga
akhir zaman.
Skripsi ini disusun sebagai salah satu tugas akademis di Universitas Islam
Negeti Syarif Hidayatullah Jakarta untuk memperoleh gelar sarjana pada program
studi Hubungan Internasional. Selain itu, skripsi ini juga didedikasikan untuk
kemajuan organisasi Greenpeace dengan mengevaluasi dan memberikan
rekomendasi terhadap upaya Greenpeace, khususnya upaya pembentukan suaka
laut global melalui UN Ocean Biodiversity Agreement. Dalam penyusunan skripsi
ini, penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat terselesaikan atas bantuan,
dukungan, serta doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin
menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada:
1. Keluarga penulis, Ayahanda Setiawan Prasetyo, Ibunda Agustini, serta
kakak-kakak penulis, Melisa Prasetyo dan Melinda Prasetyo, yang
senantiasa memberikan doa, motivasi, nasehat kepada penulis, sehingga
skripsi ini dapat terselesaikan.
2. Bapak Irfan R. Hutagalung, LL.M., selaku dosen seminar proposal skripsi
sekaligus dosen pembimbing skripsi, yang senantiasa memberikan
bimbingannya kepada penulis selama menyusun skripsi ini.
3. Seluruh dosen-dosen Hubungan Internasional UIN Jakarta yang turut serta
dalam memberikan ilmu kepada penulis selama menjadi mahasiswa di
FISIP UIN Jakarta.
4. Bang Arifsyah Nasution dan Bang Fausi, selaku staff Unit Kampanye Laut
sekaligus mentor penulis di Greenpeace Indonesia, yang selalu memberikan
fasilitas dan dukungan kepada penulis selama menjadi relawan dan magang
Greenpeace Indonesia.
v

5. Seluruh staff Greenpeace Indonesia yang yang turut serta dalam
memberikan dukungan kepada penulis selama menjadi menjadi relawan dan
magang Greenpeace Indonesia.
6. Seluruh narasumber, antara lain: Richard Page, selaku Ocean Sanctuaries
Project Leader Greenpeace Internasional; Veronica Frank, Nathalie Rey,

dan Sofia Tsenikli, selaku delegasi Greenpeace Internasional di Kelompok
Kerja BBNJ ; Arifsyah Nasution, John Hocevar, Magnus Eckeskog, Frida
Bengtsson, Sarah King, Taehyun Park, dan Kazue Komatsubara, selaku
Oceans Campaigner Greenpeace NROs; Haryo Budi Nugroho, Budi Atyasa,

Elizabeth Kim, dan Prof. Tullio Scovazzi, selaku delegasi negara di
Working Group dan Preparatory Committee BBNJ ; serta Mufti Petala Patria

dan Prof. Ann Powers, selaku pakar dari isu-isu yang berkaitan dengan
skripsi ini.
7. Affalia Maydi Hatika, yang senantiasa memberikan dukungan, motivasi,
serta doa kepada penulis selama dua tahun terakhir.
8. Sahabat mahasiswa HI UIN 2013, antara lain: Kartika, Shabrina, Riri, dan
Ina; Auzan, Faris, Zhafir, Ghalib, dan Iqbal, selaku kawan-kawan dari
Kajian Rumah Ojan; Auzan, Faris, Zhafir, Luthfan, Opin, Arum, Nurul,

Sarah, Innes, Tata, Hanna, dan Madinna, selaku kawan-kawan dari
Regionalismile, serta kawan-kawan mahasiswa HI UIN 2013 lainnya.

9. Sahabat relawan di Greenpeace Indonesia, antara lain: Faris, Zulfa, Maydi,
Mazaya, Luthfi, Cici, Hasna, Tiorys, Elena, Arshie, Jessika, Rafa, Siska, Ka
Sapi, Silo, Echa, Ayya, Akmal, Habib, Farhan, Ka Rilin, Nugo, serta
kawan-kawan Greenpeace Indonesia lainnya.
10. Sahabat alumni KIR 66 - Solience, antara lain: Mareta, Inayah, Ira, Rasyid,
Adit, Kekes, Zein, Aldy, Fikri, serta kawan-kawan alumni dan adik-adik
anggota KIR 66 - Solience lainnya.

vi

11. Seluruh pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak
langsung, selama proses penyusunan skripsi ini yang tidak bisa penulis
sebutkan satu persatu.
Semoga atas segala bantuan serta dukungannya mendapatkan ridha dan berkah
dari Allah SWT.
Akhirnya, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak
kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran penulis terima demi perbaikan
penelitian ini di masa mendatang. Dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat secara
teoritis maupun praktik.

Jakarta, 5 Juli 2017

Andre

vii

DAFTAR ISI
ABSTRAK ............................................................................................................ iv
KATA PENGANTAR ............................................................................................v
DAFTAR ISI ....................................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ..........................................................................................x
DAFTAR SINGKATAN ...................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN
A. Pernyataan Masalah ...............................................................................1
B. Pertanyaan Penelitian ............................................................................8
C. Tujuan dan Manfaat ...............................................................................8
D. Tinjauan Pustaka ...................................................................................8
E. Kerangka Teoritis ................................................................................10
1. Green Political Theory....................................................................10
2. Konsep Peran Non-Government Organization, Activist Group,
dan Global Environment Movements .............................................13
F. Metode Penelitian ................................................................................15
G. Sistematika Penulisan .........................................................................17
BAB II PROFIL ORGANISASI DAN KAMPANYE LAUT GREENPEACE
A. Profil Greenpeace ................................................................................19
1. Sejarah Pembentukan Greenpeace ..................................................19
2. Prinsip Dasar Organisasi Greenpeace .............................................22
3. Struktur Organisasi Greenpeace ......................................................24
4. Status Greenpeace di dalam Sistem PBB ........................................25
B. Profil Kampanye Laut Greenpeace .....................................................28
1. Pencapaian Kampanye Laut Greenpeace ....................................... 28
a. Menghentikan Ujicoba Nuklir Perancis di Pasifik Selatan.........28
b. Menghentikan Perburuan dan Perdagangan Paus.......................29
c. Melindungi Antartika dari Eksploitasi........................................31
d. Menghentikan Pembuangan Limbah Radioaktif di Laut ............32
2. Kampanye Perlindungan Laut Lepas “Oceans Sanctuaries”
Greenpeace .....................................................................................33
BAB III PROSES NEGOSIASI PEMBENTUKAN UN OCEAN
BIODIVERSITY AGREEMENT DI DALAM PERTEMUAN
INTERNASIONAL PBB
A. Profil Kelompok Kerja Biodiversity on Beyond National
Jurisdiction (BBNJ ) .............................................................................37
1. Pembentukan Kelompok Kerja BBNJ .............................................37
2. Fungsi dan Tugas Kelompok Kerja BBNJ ......................................39
B. Proses Negosiasi Pembentukan UN Ocean Biodiversity Agreement ..41
1. Pertemuan Kelompok Kerja BBNJ ..................................................41
a. Pertemuan Pertama (13-17 Februari 2006).................................42
viii

b. Pertemuan Keempat (31 Mei - 3 Juni 2011) ..............................44
c. Pertemuan Kesembilan (20-23 Januari 2015).............................46
2. Pertemuan Internasional di Luar Kelompok Kerja BBNJ ...............50
a. UN Conference on Sustainable Development (KTT Rio+20)
pada 20-22 Juni 2012 .................................................................50
b. Sidang Majelis Umum PBB (19 Juni 2015) ...............................51
BAB IV UPAYA GREENPEACE MENDORONG PEMBENTUKAN
SUAKA LAUT GLOBAL MELALUI UN OCEAN BIODIVERSITY
AGREEMENT
A.Upaya Greenpeace ...............................................................................53
1. Penelitian dan Analisis (Research and Analysis) ............................55
2. Pengawasan dan Respon Cepat
(Watch-Dogging and Rapid Response) ..........................................60
3. Mempertunjukkan Fungsi Operasional
(Performing Operational Functions) .............................................62
4. Pengembangan Kebijakan dan Pengaturan Agenda
(Policy Development and Agenda-Setting) ....................................65
a. Level Internasional .....................................................................66
1) Menyediakan Keahlian Ilmiah dan Hukum
(Providing Scientific and Legal Expertise) ...........................68
2) Memastikan Kontinuitas pada Negosiasi
(Providing Continuity Throughout the Negotiations) ...........71
3) Hubungan Personal (Personal Relations) .............................73
4) Pembentukan Koalisi (Coalition Formation) ........................75
5) Memprotes Pembatasan Partisipasi
(Protesting Against Restriction Participation) .....................77
b. Level Domestik ..........................................................................78
1) Memberikan Masukan dalam Pembangunan Kebijakan
(Providing Inputs into Policy Development) ........................79
2) “Name and Shame” melalui Kampanye publiks ...................83
5. Melaporkan Proses Negosiasi (Negotiations Reporting) ................87
6. Menyebarkan Sinyal Domestik
(Enhancing Domestic Signaling)....................................................88
B. Kendala-Kendala dalam Upaya Greenpeace .......................................90
BAB V PENUTUP
Kesimpulan ..............................................................................................94
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... xiii
LAMPIRAN-LAMPIRAN .............................................................................. xxxi

ix

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Hak Istimewa (Priveleges) dalam Status Konsultatif dari
ECOSOC ......................................................................................... xxvi
Lampiran 2 Diagram Partisipasi Delegasi pada Pertemuan
Kelompok Kerja BBNJ .................................................................. xxviii
Lampiran 3 Skema Upaya Greenpeace .............................................................. xxix
Lampiran 4 Diagram dan Tabel Pengeluaran Kampanye Laut Greenpeace
„Worlwide‟ Periode 2006-2015 .........................................................xxx
Lampiran 5 Diagram dan Tabel Pemasukan Greenpeace
„Worlwide‟ Periode 2006-2015 ....................................................... xxxi
Lampiran 6 Tabel Posisi Aliansi / Blok pada Pertemuan
Kelompok Kerja BBNJ ................................................................... xxxii
Lampiran 7 Tabel Posisi Negara pada Pertemuan
Kelompok Kerja BBNJ ................................................................. xxxvii
Lampiran 8 Tabel Posisi Greenpeace pada Pertemuan
Kelompok Kerja BBNJ .......................................................................... l
Lampiran 9 Tabel Wawancara ................................................................................ li
Lampiran 10 Pemberian Dokumen Internal Greenpeace oleh Nathalie Rey
melalui Email pada 15 Juni 2017 ..................................................... liii
Lampiran 11 Pemberian Dokumen Internal Greenpeace oleh Veronica Frank
melalui Email pada 5 Juni 2017 ....................................................... liv
Lampiran 12 Pemberian Dokumen Internal Greenpeace oleh Sofia Tsenikli
melalui Email pada 12 Juni 2017 ...................................................... lv

x

DAFTAR SINGKATAN
ABMT
ABNJ
ABS
AS
ASEAN
ASOC
BBNJ
CARICOM
CBD
CCAMLR
CFP
CITES
CMS
CoP
CRAMRA
EBSA
ECOSOC
EIA
ENB
FAO
G-77
GEF
GPT
LDC
IISD
IGO
IMO
IPR
ISA
IUCN
IUU
IWC
KTT
MEA
MGR
MPA
MSR
NAFO
NEAFC
NGO

Area-based Management Tool
Area Beyond National Jurisdiction
Acces and Benefit-Sharing
Amerika Serikat
Association of Southeast Asian Nations
Antarctic and Southern Ocean Coalition
Biodiversity Beyond National Jurisdiction
Caribbean Community
Convention on Biological Diversity
Commission for the Conservation of Antarctic Marine Living
Resources
EU Common Fisheries Policy
Convention on International Trade in Endangered Species of Wild
Fauna and Flora
Convention on Migratory Species
Conference of Parties
Convention on the Regulation of Antarctic Mineral Resource
Activities
Ecologically and Biologically Sensitive Area
UN Economic and Social Council
Environmental Impact Assessment
Earth Negotiations Bulletin
UN Food and Agriculture Organitation
Group of 77
Global Environment Facility
Green Political Theory
Least Developed Countries
International Institute for Sustainable Development
International Governmental Organization
International Maritime Organisation
Intellectual Property Right
International Seabed Authority
International Union for Conservation of Nature
Illegal, Unregulated, and Unreported
International Whaling Commission
Konferensi Tingkat Tinggi
Multilateral Environment Agreement
Marine Genetic Resource
Marine Protected Area
Marine Scientific Research
Northwest Atlantic Fisheries Organization
North East Atlantic Fisheries Commission
Non-Governmental Organization
xi

NPT
NRDC
NRO
OECD
PBB
PrepCom
RFMO
SIDS
SEA
SDG
SGC
UE
UN
UNCLOS
UNCSD
UNEP
UNFSA
UNICPOLOS
WIPO
WSSD
WWF

Non-Proliferation Treaty
Natural Resources Defense Council
National / Regional Office
Organisation for Economic Cooperation and Development
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Preparatory Committee
Regional Fisheries Management Organization
Small Island Developing States
Stategic Impact Assessment
Sustainable Development Goals
Stichting Greenpeace Council
Uni Eropa
United Nations
UN Law of the Sea Convention
UN Conference on Sustainable Development
United Nations Environment Programme
UN Fish Stocks Agreement
UN Consultative Process on Oceans and the Law of the Sea
World Intellectual Property Organization
World Summit on Sustainable Development
World Wildlife Fund

xii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Pernyataan Masalah
Skripsi ini membahas tentang upaya Greenpeace mendorong Majelis Umum
PBB untuk membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement pada periode 20062015. Skripsi ini menganalisis bagaimana upaya Greenpeace untuk mendorong
negara-negara Majelis Umum PBB, dimulai dari pertemuan pertama dari Ad Hoc
Open-ended Informal Working Group Biodiversity on Beyond National
Jurisdiction (BBNJ ) pada tahun 2006, yang dibentuk melalui Resolusi MU 59/24

Tahun 2004 (A/RES/59/24), hingga persetujuan MU PBB terhadap rekomendasi
dari Kelompok Kerja BBNJ melalui Resolusi Majelis Umum PBB 69/292 Tahun
2015 (A/RES/69/292).
Suaka laut global atau ocean sanctuaries adalah salah satu jenis dari
kawasan laut lindung atau marine protected areas (MPAs), yaitu area lautan di
mana semua pemanfaatan yang bersifat konsumtif dan ekstraktif, termasuk
penangkapan ikan, secara efektif dilarang serta praktik campur tangan manusia
lainnya diminimalisir,1 sedangkan kawasan laut lindung (MPAs) adalah area
intertidal (zona yang terendam ketika air laut sedang pasang dan terlihat ketika air
laut sedang surut) maupun subtidal (zona yang selalu terendam air laut baik saat
pasang maupun surut) beserta dengan air yang melapisinya, flora, fauna, fitur
sejarah dan budaya yang berkaitan, yang telah dilindungi oleh hukum atau cara

1

Jack A. Sobel dan Craig P. Dalgren, Marine Reserves: A Guide to Science, Design, and Use
(Washington: Island Press, 2004), Hal. 21
1

lainnya yang secara efektif bertujuan melindungi bagian dari lingkungan tersebut.2
Dalam beberapa forum internasional, kebutuhan untuk menciptakan MPAs di
wilayah laut lepas semakin disuarakan dengan maksud untuk melindungi
keanekaragaman hayati di laut lepas.3 Hal tersebut dikarenakan laut lepas adalah
wilayah di mana pengaturan dan perlindungannya paling minim di dunia.4
Fakta yang menggambarkan minimnya perlindungan laut lepas adalah
hingga tahun 2016, hanya 3% wilayah dari laut lepas dunia yang diatur dalam
hukum internasional dan hanya 1% yang benar-benar dilindungi secara kuat
dengan dijadikan sebagai suaka laut,5 meskipun laut lepas memiliki luas 64% dari
total luas lautan di seluruh dunia.6 Laut lepas berada di luar batas yurisdiksi
nasional dan diatur oleh UN Law of the Sea Convention (UNCLOS) yang masih
mengutamakan hak kebebasan untuk mengakses dan memanfaatkan sumber daya
laut lepas untuk semua negara. Hal tersebut memungkinkan bagi negara untuk
melakukan navigasi, mengadakan penelitian, menangkap ikan, memasang kabel
dan pipa bawah laut, hingga membuat instalasi lain seperti kilang pengeboran dan
bahkan pulau-pulau buatan.7 Atas dasar fakta tersebut, akhirnya Majelis Umum
PBB memutuskan untuk mulai mendiskusikan isu konservasi dan pemanfaatan
berkelanjutan keanekaragaman laut di luar wilayah yurisdiksi nasional.
2

Sobel dan Dalgren, Marine Reserves, Hal. 22
Yoshifumi Tanaka, A Dual Approach to Ocean Governance: The Cases of Zonal and Integrated
Management in International Law of the Sea (Burlington: Ashagate Publishing, 2008), Hal. 163
4
Callum M. Roberts, dkk., Roadmap to Recovery: A Global Network of Marine Reserves (York:
University of York, 2006), Hal. 9
5
Daniel Mittler, Protecting What Protects Us (2016) dari
http://www.greenpeace.org/international/en/news/Blogs/makingwaves/protecting-whatprotects-us/blog/58177/ diakses pada 7 Desember 2016
6
Greenpeace, The Need for A High “eas Biodi ersit Agree e t: No More Wild West O ea s
(Amsterdam: Greenpeace, 2013), Hal. 3
7
Roberts, Roadmap to Recovery, Hal. 9
3

2

Pada tahun 2004, Majelis Umum PBB akhirnya membentuk sebuah Ad Hoc
Open-ended Informal Working Group of the General Assembly to study issues
relating to the conservation and sustainable use of marine biological diversity
beyond areas of national jurisdiction melalui Resolusi Majelis Umum 59/24.8

Rapat pertama Kelompok Kerja tersebut diselenggarakan pada 13-17 Februari
2006, dan dilanjutkan pada tahun 2008, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014 (dua kali),
dan 2015.9 Selain itu, di luar Kelompok Kerja BBNJ, pada 2012, PBB
menyelenggarakan UN Conference on Sustainable Development atau yang dikenal
dengan KTT Rio+20 yang diadakan di Rio de Janeiro. Awalnya, KTT tersebut
memberikan harapan akan lahirnya suatu instrumen hukum baru untuk melindungi
laut lepas yang menjadi target dari CoP ketujuh CBD pada tahun 2004.10
Meskipun di dalam KTT tersebut muncul koalisi dari mayoritas negara anggota
yang mendukung dibentuknya perjanjian yang mengatur dan melindungi laut
lepas, akan tetapi, kesepakatan untuk meluncurkan negosiasi formal gagal dicapai
hingga

pada

akhirnya,

konferensi

tersebut

menunda

keputusan

untuk

menegosiasikan UN Ocean Biodiversity Agreement hingga batas tahun 2015.11
Menindaklanjuti penundaan keputusan pada KTT Rio+20, Kelompok
Kerja BBNJ di dalam pertemuan kesembilannya pada Januari 2015, mengeluarkan
8

UN, Marine Biological Diversity Beyond Areas of National Jurisdiction: Legal and Policy
Framework dari
http://www.un.org/depts/los/biodiversityworkinggroup/webpage_legal%20and%20policy.pdf
diakses pada 24 April 2016.
9
UN, Marine Biological Diversity Beyond Areas of National Jurisdiction.
10
Sofia Tsenikli, Rio+20 Not the Oceans Summit but High Seas Protection Gains Support and
Prominence (2012) dari
http://www.greenpeace.org/international/en/news/Blogs/makingwaves/rio20-not-the-oceanssummit-but-high-seas-pro/blog/41156/ diakses pada 24 April 2016.
11
Tsenikli, Rio+20 Not the Oceans Summit.
3

rekomendasi kepada Majelis Umum PBB untuk memulai negosiasi perjanjian
pelaksanaan di bawah UNCLOS untuk membentuk suaka atau wilayah konservasi
di laut lepas. Selain itu, Majelis Umum PBB secara resmi mengakui bahwa
pengaturan laut adalah tentang perlindungan, bukan hanya tentang 'pengelolaan
eksploitasi' sumber daya lautan.12
Rekomendasi dari Kelompok Kerja BBNJ akhirnya diadopsi lebih awal pada
Juni 2015 dari jadwal sebelumnya, pada September 2015, dengan menghasilkan
konsensus dari negara-negara anggota Majelis Umum PBB untuk mengadopsi
Resolusi MU PBB 69/292 dan mengembangkan perjanjian pelaksanaan di bawah
UNCLOS,13 yang mengikat secara hukum untuk pelestarian kehidupan laut di luar
wilayah yurisdiksi nasional,14 yang dikenal dengan UN Ocean Biodiversity
Agreement (Perjanjian Keanekaragaman Hayati Laut Lepas),15 atau berdasarkan

Resolusi MU PBB 69/292 yang disebut dengan International Legally Binding
Instrument under the UNCLOS on the Conservation and Sustainable Use of
Marine Biological Diversity of Areas Beyond National Jurisdiction.16 Di dalam

resolusi tersebut, Majelis Umum PBB memutuskan untuk membentuk
12

Tsenikli, Rio+20 Not the Oceans Summit.
Implementing Agreement under UNCLOS adalah istilah yang muncul dalam diskusi pada
pertemuan Working Group BBNJ.
14
High Seas Alliances, UN General Assembly Adopts Resolution to Develop New Marine Biodiversity Treaty for
the High Seas and Beyond (2015) dari http://highseasalliance.org/content/un-general-assembly-adoptsresolution-develop-new-marine-biodiversity-treaty-high-seas-and diakses pada 25 April 2016.
15
UN Ocean Biodiversity Agreement adalah istilah yang digunakan oleh NGO untuk mengartikan
hasil akhir dari Implementing Agreement under UNCLOS, seperti UN Fish Stock Agreement.
16
International Legally Binding Instrument under the UNCLOS on the Conservation and
Sustainable Use of Marine Biological Diversity of Areas Beyond National Jurisdiction adalah istilah
resmi berdasarkan Resolusi MU PBB 69/292 untuk didiskusikan pada pertemuan Preparatory
Committee BBNJ.
UN, General Assembly Resolution 69/292, Para. 1, dari https://documents-ddsny.un.org/doc/UNDOC/GEN/N15/187/55/PDF/N1518755.pdf?OpenElement diakses pada 25
April 2016.
13

4

Preparatory Committee (PrepCom), sebelum penyelenggaraan konferensi antar-

pemerintah, yang bertugas untuk menyiapkan rekomendasi substantif terkait
elemen-elemen dari rancangan teks perjanjian pelaksanaan di bawah UNCLOS,
yang akan dilaporkan kembali pada akhir 2017 kepada Majelis Umum PBB. 17 Di
dalam proses pengakuan negara-negara anggota Majelis Umum PBB atas
pentingnya perlindungan laut lepas hingga Majelis Umum PBB mengadopsi
rekomendasi dari Kelompok Kerja BBNJ , Greenpeace secara aktif ikutserta dalam
mendorong Majelis Umum PBB untuk menciptakan suaka laut global.
Greenpeace sebagai International Non-Governmental Organization (INGO)
yang berfokus pada isu-isu lingkungan hidup telah menyerukan perlunya dibentuk
instrumen hukum internasional untuk menjaga dan menjamin kelestarian
keanekaragaman hayati di lautan. Suaka laut global yang diajukan Greenpeace
adalah perlindungan zona laut lepas di luar yurisdiksi negara seluas 40% dari laut
global untuk menjadi zona bebas praktik eksploitasi sumber daya alam,18 yang
kemudian diimplementasikan dengan mendorong negara-negara anggota Majelis
Umum PBB membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement.19
Greenpeace baik secara mandiri maupun kolektif dengan aliansi antar-NGO
lingkungan lainnya selalu aktif menghadiri pertemuan Kelompok Kerja BBNJ
serta konferensi PBB lainnya yang membahas tentang isu kelautan dan aktif

17

UN, General Assembly Resolution 69/292, Para. 1 (a).
Greenpeace. Ocean Sanctuaries dari
http://www.greenpeace.org/international/en/campaigns/oceans/marine-reserves/ diakses pada
25 April 2016.
19
Greenpeace, The Need for An A itious UN O ea Biodi ersit Agree e t: No More Wild
West O ea s (Amsterdam: Greenpeace, 2013), Hal. 6

18

5

melobi negara-negara anggota Majelis Umum PBB untuk membuat UN Ocean
Biodiversity Agreement untuk melindungi laut lepas. Greenpeace tercatat telah

mengirimkan delegasinya untuk menghadiri dan berperan aktif mendorong
negara-negara yang hadir dalam pertemuan Kelompok Kerja BBNJ sejak
pertemuan pertama yang diselenggarakan pada 13-17 Februari 200620 hingga
pertemuan kesembilan Kelompok Kerja BBNJ yang diselenggarakan pada 20-23
Januari 2015.21 Dari kesembilan pertemuan tersebut, Kelompok Kerja BBNJ telah
menghasilkan konsensus untuk menghasilkan rekomendasi kepada Majelis Umum
PBB

yang

diadopsi

pada

sidang

Majelis

Umum

PBB

ke-69

untuk

mengembangkan intrumen internasional yang mengikat secara hukum di bawah
UNCLOS.22 Meskipun begitu, di dalam proses perundingan pada Kelompok Kerja
BBNJ maupun pada forum internasional lainnya, Greenpeace menghadapi

berbagai penolakan dari negara-negara yang memiliki kepentingan di laut lepas.
Pengaturan akses hingga pelarangan eksploitasi sumber daya di laut lepas,
dipandang oleh beberapa negara bertentangan dengan kepentingan nasionalnya,
sehingga dalam beberapa forum internasional PBB, di mana, upaya negosiasi
formal perjanjian pelaksanaan di bawah UNCLOS diajukan, seringkali muncul
penolakan dari beberapa negara. Sejak awal pertemuan Kelompok Kerja BBNJ
20

IISD, Summary of The Working Group on Marine Biodiversity Beyond Areas of National
Jurisdiction: 13-17 February 2006 dalam Earth Negotiations Bulletin Vol. 25 No. 25 (IISD, 2006)
dari http://www.iisd.ca/download/pdf/enb2525e.pdf diakses pada 10 Mei 2016.
21
IISD, Summary The Ninth Meeting of The Working Group on Marine Biodiversity Beyond Areas
of National Jurisdiction: 20-23 January 2015 dalam Earth Negotiations Bulletin Vol. 25 No. 94
(IISD, 2015) dari http://www.iisd.ca/download/pdf/enb2594e.pdf diakses pada 10 Mei 2016.
22
IISD, Summary The Session of The Preparatory Committee on Marine Biodiversity Beyond Areas
of National Jurisdiction: 28 March – 8 April 2016 dalam Earth Negotiations Bulletin Vol. 25 No.
106 (IISD, 2016) dari http://www.iisd.ca/download/pdf/enb25106e.pdf diakses pada 10 Mei
2016.
6

pada 2004, AS, Jepang, Norwegia, Korea Selatan, Islandia, dan Rusia menyatakan
penolakannya terhadap proposal Uni Eropa yang mengajukan pembentukan
perjanjian pelaksanaan di bawah UNCLOS,23 hingga pertemuan ketujuh pada
tahun 2014, AS, Jepang, Kanada, Korea Selatan, Norwegia, Islandia, dan Rusia
masih menyatakan keraguannya akan kebutuhan dibentuknya instrumen hukum
baru.24 Selain itu, di dalam penyelenggaraan KTT Rio+20 pada 2012 AS, Kanada,
Rusia, Tiongkok, Jepang, dan Venezuela juga menyatakan penolakannya atas
upaya negosiasi formal perjanjian pelaksanaan di bawah UNCLOS.25
Meskipun di dalam pembahasan perjanjian pelaksanaan di bawah UNCLOS
begitu banyak penolakan dan hambatan yang ditunjukkan oleh negara-negara
yang memiliki kepentingan nasional terhadap sumber daya alam di laut lepas, atas
berbagai upaya Greenpeace untuk mendorong negara-negara anggota Majelis
Umum PBB yang dilakukan baik di dalam dan di luar pertemuan Kelompok Kerja
BBNJ , akhirnya, pada 19 Juni 2015, sidang Majelis Umum PBB berhasil

menghasilkan konsensus untuk mengadopsi rekomendasi dari Kelompok Kerja
BBNJ dan menyetujui untuk menindaklanjuti negosiasi UN Ocean Biodiversity
Agreement ke tahap berikutnya, yaitu Preparatory Committee (PrepCom), melalui

Resolusi MU 69/292.

23

IISD, Summary of The Working Group on Marine Biodiversity Beyond Areas of National
Jurisdiction.
24
IISD, Summary The Seventh Meeting of The Working Group on Marine Biodiversity Beyond
Areas of National Jurisdiction: 1-4 April 2014 dalam Briefing Note on UNGA WG on Marine
Biodiversity (IISD, 2014) dari
http://www.iisd.ca/oceans/marinebiodiv7/brief/brief_marinebiodiv7e.pdf diakses pada 6 April
2017.
25
Tsenikli, Rio+20 Not the Oceans Summit
7

B. Pertanyaan Masalah
Oleh karena itu, peneliti membuat pertanyaan penelitian dalam skripsi ini
yaitu, Bagaimana upaya Greenpeace dalam mendorong Majelis Umum PBB
untuk membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement periode 2006 - 2015?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Dengan menganalisis upaya Greenpeace dalam mendorong Majelis Umum
PBB untuk membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement periode 2006 - 2015,
skripsi ini memiliki tujuan secara teoritis untuk mem-verifikasi asumsi dari Kate
O‟Neill bahwa Non-Government Organization, Activist Group, dan Global
Environment Movements memainkan peran penting dalam menyoroti masalah

lingkungan global, dan secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi tata
kelola lingkungan global,26 sedangkan secara praktis tujuan dari skripsi ini ialah
menjadi referensi untuk NGO, baik Greenpeace maupun NGO lainnya, dalam
membuat upaya yang ditujukan untuk mendorong aktor negara untuk membuat
kebijakan terkait isu-isu lingkungan hidup tertentu.
D. Tinjauan Pustaka
Penelitian tentang peran maupun upaya NGO lingkungan secara umum telah
dilakukan sebelumnya, seperti pada beberapa jurnal di bawah ini:
Remi Parmentier, Role and Impact of International NGOs in Global Ocean
Governance. Jurnal ini menjelaskan setidaknya ada lima jenis intervensi NGO

terhadap pengaturan lingkungan maritim dunia, antara lain: (1) pembangunan
26

Kate O'Neill, The Environment and International Relations. (Cambridge: Cambridge University,
2009), Hal. 57
8

kebijakan dan pengaturan agenda; (2) pembangunan pengetahuan, kapabilitas, dan
kesadaran publik; (3) manajemen lingkungan hidup dan konservasi; (4) ilmu
pengetahuan; serta (5) pengawasan dan respon secara cepat.
Katherine M. Crosman, The Roles of Non-Governmental Organization in
Marine Conservation. Jurnal ini menjelaskan empat peran keterlibatan NGO

dalam upaya konservasi maritim dengan menganalisis peran organisasi tersebut,
antara lain, sebagai advocate, expert, manager, watchdog, dan enabler. Katherine
M. Crosman juga menjelaskan motivasi NGO untuk terlibat sebagai pendorong
dalam upaya konservasi maritim, antara lain, misi organisasi, konteks konservasi,
dan kebutuhan untuk mengamankan dana mereka.
Kal Raustiala, States, NGOs, and International Environmental Institutions.
Jurnal menjelaskan setidaknya ada enam peranan NGO dalam kerjasama dan
hukum lingkungan hidup internasional, antara lain, melakukan penelitian dan
pengembangan kebijakan, mengawasi komitmen negara, sebagai alarm, membuat
laporan tentang negosiasi yang sedang berjalan, menyebarkan respon domestik,
hingga memfasilitasi ratifikasi. Kal Raustiala juga menjelaskan tentang pola dan
tren partisipasi NGO, yaitu dengan mengelaborasi pola NGO secara umum serta
menganalisis studi kasus pola partisipasi NGO di dalam Global Environment
Facility (GEF).

Barbara Gemmill dan Abimbola Bamidele-Izu, The Role of NGOs and Civil
Society in Global Environmental Governance. Jurnal ini menjelaskan setidaknya

ada lima peranan masyarakat sipil dalam tata kelola lingkungan hidup gobal,

9

antara lain:

mengumpulkan, menyebarkan,

dan menganalisis

informasi;

memberikan masukan dalam proses pengaturan agenda dan pembangunan
kebijakan; menjalankan fungsi operasional; mengukur kondisi lingkungan hidup
dan memantau kepatuhan perjanjian lingkungan hidup; dan advokasi keadilan
lingkungan.
Jurnal-jurnal di atas sangat membantu skripsi ini dengan memberikan
gambaran tentang peran NGO secara umum dalam tata kelola lingkungan hidup
global. Hasil penelitian-penelitian tersebut juga akan digunakan sebagai referensi
terkait upaya Greenpeace dalam mendorong Majelis Umum PBB untuk
membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement. Skripsi ini menindaklanjuti
penelitian di atas dalam menganalisis upaya Greenpeace secara spesifik,
dikarenakan tidak semua NGO memiliki upaya yang sama satu sama lain,
melainkan masing-masing NGO memiliki perbedaan objektif maupun upaya yang
berbeda-beda.
E. Kerangka Teoritis
1. Green Political Theory

Di antara berbagai asumsi-asumsi dari Green Political Theory, GPT
memiliki posisi yang berkaitan dengan pertanyaan tentang tatanan dunia, yaitu
kritik GPT terhadap sistem negara. Implikasi dari argumen GPT terhadap struktur
politik global cukup jelas. O'Riordan menyajikan tipologi posisi yang yang
muncul dari “limits to growth account of sustainability” yang diadopsi oleh GPT.
Pertama, aktor negara terlalu besar dan terlalu kecil untuk melindungi lingkungan
hidup secara efektif, sehingga struktur regional dan global baru (bersamaan
10

dengan desentralisasi di dalam negara) diperlukan untuk melindungi lingkungan
hidup secara efektif.27
Posisi

kedua,

apa

yang

O'Riordan

sebut

sebagai

„centralised

authoritarianism.‟ Gagasan ini pada umumnya mengikuti logika „tragedy of the
commons‟ dari Garrett Hardin, yang menunjukkan bahwa sumber daya yang

dimiliki bersama akan dimanfaatkan secara berlebih. Metafora ini menghasilkan
argumen bahwa struktur politik global terpusat diperlukan untuk memaksa
perubahan perilaku untuk mencapai keberlanjutan. Dalam beberapa versi, gagasan
ini mengadopsi apa yang disebut dengan „lifeboat ethics‟, di mana kelangkaan
ekologi berarti bahwa negara-negara kaya harus melakukan ujicoba triage dalam
skala global untuk „pull up the ladder behind them.‟ Argumen ini, secara garis
besar merupakan versi ekologis dari proposal versi 'idealis' pemerintahan dunia
dari liberal internationalism yang telah ditolak oleh GPT.28
Posisi ketiga, serupa dengan hal di atas yang menunjukkan bahwa
authoritarianism mungkin diperlukan, namun menolak gagasan bahwa hal ini

dapat dilakukan dalam skala global. Visi dari posisi ini adalah untuk komunitas
berskala kecil dan erat yang berjalan sesuai dengan garis hierarkis dan konservatif
dengan prinsip swasembada dalam penggunaan sumber daya mereka. Posisi
ketiga ini memiliki pandangan yang sama dengan posisi sebelumnya, bahwa
kebebasan dan egoisme yang telah menyebabkan krisis lingkungan, dan bahwa

27

Scott Burchill, dkk., Theories of International Relations, Third Edition (New York: Palgrave
Macmillan, 2005), Hal. 242
28
Burchill, Theories of International Relations, Hal. 242-243
11

kecenderungan ini perlu dikendalikan untuk menghasilkan masyarakat yang
berkelanjutan.29
Posisi terakhir yang dijabarkan oleh O'Riordan disebut dengan „anarchist
solution.‟ Hal ini telah menjadi posisi yang diadopsi oleh GPT sebagai interpretasi

terbaik dari implikasi batas pertumbuhan ekonomi. Istilah 'anarkis' digunakan
secara umum dalam tipologi ini yang berarti bahwa GPT membayangkan jaringan
global komunitas swadaya dalam skala kecil. Posisi ini biasanya mengaitkan
gagasan dari para pakar seperti E. F. Schumacher, serta bioregionalis seperti
Kirkpatrick Sale yang berpendapat bahwa masyarakat ekologi harus diorganisir
dengan fitur lingkungan alami seperti daerah aliran sungai yang membentuk
batas-batas antara masyarakat.30
GPT juga sering mengkritik aktor negara karena alasan anarkis. Misalnya,
Spretnak dan Capra mengemukakan bahwa anarkis adalah ciri yang diidentifikasi
oleh Weber sebagai sifat dasar kenegaraan yang merupakan masalah dalam sudut
pandang GPT. Kemudian, Bookchin memberikan argumen serupa, menunjukkan
bahwa negara adalah institusi hierarki tertinggi yang mengkonsolidasikan semua
institusi hierarkis lainnya. Di lain pihak, Carter mengemukakan bahwa negara
adalah bagian dari dinamika masyarakat modern yang telah menyebabkan krisis
lingkungan saat ini. Dia menguraikan tentang 'dinamika lingkungan yang
berbahaya,' di mana „negara yang terpusat, pseudo-representative, dan quasidemocratic berusaha untuk menstabilsasi hubungan ekonomi inegaliter dan

29
30

Burchill, Theories of International Relations, Hal. 243
Burchill, Theories of International Relations, Hal. 243
12

kompetitif untuk mengembangkan teknologi “tidak ramah” dan menyebabkan
kerusakan berat pada lingkungan, di mana produktivitasnya mendukung (secara
nasionalistik dan militeristik) kekuatan koersif yang memberdayakan negara.'
Dengan demikian, dalam sudut pandang GPT, negara tidak hanya tidak
diperlukan, namun juga tidak diinginkan secara positif. Selain itu, salah satu
slogan politik GPT yang paling terkenal adalah „think globally, act locally‟ yang
berasumsi bahwa sementara masalah lingkungan dan sosial-ekonomi global
beroperasi dalam skala global, mereka dapat dengan sukses merespons hanya
dengan menghancurkan struktur kekuatan global yang dihasilkan melalui tindakan
lokal dan pembangunan komunitas politik skala kecil dan ekonomi mandiri. 31
Argumen-argumen dari Green Political Theory di atas membantu
menjelaskan bagaimana peran aktor non-negara, khususnya Greenpeace, sebagai
komunitas masyarakat sipil menjadi bentuk dari desentralisasi di dalam negara, di
mana

Greenpeace

memainkan

peran-perannya

dalam

mengadvokasikan

perlindungan lingkungan maupun melindungi lingkungan melalui kegiatan
konservasi. Selain itu, tekait dengan „centralised authoritarianism,‟ juga
diperjuangkan oleh Greenpeace atas pembentukan UN Oceans Biodiversity
Agreement, sebagai rezim internasional yang dapat mengatur dan mencegah

kegiatan-kegiatan destruktif di laut lepas.
2. Peran NGO, Activist Group, dan Global Environment Movements

Kelompok aktivis lingkungan memainkan peran penting dalam menyoroti
masalah lingkungan global, dan secara langsung atau tidak langsung
31

Burchill, Theories of International Relations, Hal. 243
13

mempengaruhi tata kelola lingkungan global.32 Banyak jenis kelompok, yang
mewakili banyak kepentingan yang berbeda, yang aktif di kancah politik dunia,
dari NGO profesional hingga kelompok-kelompok lokal kecil yang membuat
jaringan satu sama lain melalui internet. Kelompok-kelompok ini berbeda secara
luas dalam ideologi, upaya, bentuk organisasi, dan target (tidak semua dari
mereka bahkan akan mendefinisikan diri mereka fokus pada "lingkungan"), tapi
berbagi perhatian atas kondisi lingkungan global dan peran serta hak manusia
terhadap lingkungan, dan kebutuhan akan suara yang berbeda untuk didengar
dalam proses pemerintahan global.33 Aktivisme lingkungan hidup global telah
berpengaruh dalam beberapa cara. Pertama, banyak kelompok, di antaranya,
Greenpeace, WWF, Climate Action Network, telah memusatkan perhatian mereka
pada masalah-masalah global secara eksplisit. Kedua, kelompok lingkungan
sangat aktif menghadiri negosiasi internasional dan pada KTT global. Ketiga,
munculnya jaringan advokasi transnasional dan masyarakat global telah menjadi
salah satu perkembangan yang paling signifikan dalam studi aktivisme dan
gerakan sosial selama dekade terakhir.34
Selain itu, komunitas aktivis selalu memberikan perhatian terhadap tata
kelola lingkungan global dan telah melakukan beberapa fungsi penting dalam
proses negosiasi.35 Pertama, NGO telah memainkan peran kunci dalam pengaturan
agenda, dengan cara membawa masalah pada perhatian masyarakat internasional,
dan mendorong solusi tertentu. Kedua, NGO telah berfungsi sebagai "conscience
32

O'Neill, The Environment and International Relations, Hal. 57
O'Neill, The Environment and International Relations, Hal. 57
34
O'Neill, The Environment and International Relations, Hal. 58-59
35
O'Neill, The Environment and International Relations, Hal. 91

33

14

keeper " masyarakat internasional, dengan tidak sekadar menyoroti masalah moral

dan etika untuk memecahkan masalah lingkungan global, namun juga terus
mendorong partisipasi yang lebih luas dalam pertimbangan ini, mengingatkan
penyelenggara dan peserta negosiasi tentang masyarakat yang menyaksikan secara
luas. Ketiga, mereka membawa banyak keahlian untuk menghadapi masalah dan
dampak lingkungan global.36 Mereka melobi para delegasi untuk mengambil
posisi tertentu, menyusun rancangan bahasa perjanjian (yang terkadang diadopsi
ke dalam teks final), dan menghasilkan laporan harian, dan terkadang setiap jam,
tentang kegiatan pertemuan, yang dengan cepat dan disebarluaskan.37
Konsep peran NGO sangat relevan untuk menjawab pertanyaan penelitian
ini dikarenakan GPT mengakui adanya peran aktor non-negara yang memiliki
andil yang cukup besar dalam menyuarakan pelestarian lingkungan hingga
menjadi isu global. Menurut O‟Neill, NGO juga memiliki kemampuan untuk
mempengaruhi aktor negara untuk menegosiasikan isu-isu lingkungan ke dalam
forum-forum dunia. Dalam konteks penelitian ini, GPT dapat membantu peneliti
untuk menjelaskan bagaimana upaya Greenpeace dalam mendorong Majelis
Umum PBB untuk membentuk UN Ocean Biodiversity Agreement.
F. Metode Penelitian
Dalam skripsi ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif.
Prosedur-prosedur kualitatif memiliki pendekatan yang lebih beragam dalam
penelitian akademik ketimbang metode-metode kuantitatif. Penelitian kualitatif

36
37

O'Neill, The Environment and International Relations, Hal. 91-92
O'Neill, The Environment and International Relations, Hal. 92
15

juga memiliki asumsi-asumsi filosofis, upaya-upaya penelitian, dan metodemetode pengumpulan, analisis, dan interpretasi data yang beragam.38 Adapun
beberapa karakteristik penelitian kualitatif menurut John W. Creswell, antara lain:
(1) lingkungan alamiah; (2) peneliti sebagai instrument kunci; (3) beragam
sumber data; (4) analisis data induktif; (5) makna dari partisipan; (6) rancangan
yang berkembang; (7) perspektif teoritis; (8) bersifat penafsiran; dan (9)
pandangan menyeluruh.39 Oleh karena itu, dengan menggunakan metode
penelitian kualitatif, peneliti dapat menganalisis upaya Greenpeace mendorong
pembentukan suaka laut global melalui UN Ocean Biodiversity Agreement secara
mendalam.
Menurut John W. Creswell, ada empat prosedur pengumpulan data di dalam
metode kualitatif, antara lain: (1) observasi kualitatif; (2) wawancara kualitatif; (3)
dokumen-dokumen kualitatif; serta (4) materi audio dan visual,40 sedangkan, di
dalam skripsi ini, peneliti mengumpulkan data melalui studi pustaka dokumendokumen terkait (seperti dokumen resmi PBB, laporan Greenpeace, Earth
Negotiation Bulletin , jurnal, serta dokumen-dokumen lainnya) dan melakukan

wawancara terhadap aktor-aktor terkait, antara lain: Oceans Sanctuaries Project
Leader Greenpeace Internasional, yaitu Richard Page; Political Advisor

Greenpeace Internasional sekaligus Chair of Greenpeace Delegation , yaitu
Nathalie Rey, Sofia Tsenikli, dan Veronica Frank; Oceans Campaigner
Greenpeace national/regional offices (NROs), yaitu John Hocevar, Magnus
38

David Silverman, Doing Qualitative Research: A Practical Handbook (London: SAGE Publication,
2000), Hal. 8
39
Creswell, Research Design, Hal. 261-263
40
Creswell, Research Design, Hal. 267-270
16

Eckeskog, Frida Bengtsson, Sarah King, Arifsyah Nasution, Taehyun Park, dan
Kazue Komatsubara; delegasi negara-negara pada Kelompok Kerja BBNJ , yaitu
Haryo Budi Nugroho, Budi Atyasa, Elizabeth Kim, dan Prof. Tullio Scovazzi;
serta para pakar hukum laut internasional dan biologi kelautan, yaitu Prof. Ann
Powers dan Dr. rer. nat. Mufti Petala Partia, M.Sc. Akan tetapi, dalam skripsi ini
penulis menyadari adanya kekurangan narasumber, yaitu dari pihak PBB untuk
diwawancarai.
G. Sistematika Penulisan
BAB 1: PENDAHULUAN
Bab 1 merupakan pendahuluan dari skripsi ini. Pada Bab 1 menjelaskan
beberapa bagian, antara lain, pernyataan masalah yang menjelaskan terkait
signifikansi masalah dalam skripsi ini, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat
penelitian, kerangka teoritis yang menjelaskan terkait landasan teori dalam skripsi
ini, tinjauan pustaka yang menjelaskan terkait penelitian-penelitian terdahulu;
metode penelitian, serta sistematika penulisan.
BAB II: PROFIL

ORGANISASI

DAN

KAMPANYE

LAUT

GREENPEACE
Pada Bab 2 dijelaskan tentang profil keorganisasian, yang terdiri dari
sejarah pembentukan Greenpeace, prinsip dasar organisasi Greenpeace, struktur
organisasi Greenpeace, dan status Greenpeace di dalam sistem PBB, serta profil
kampanye perlindungan laut Greenpeace, yang terdiri dari pencapaian kampanye
laut Greenpeace dan kampanye perlindungan laut lepas “ocean sanctuaries”
Greenpeace.

17

BAB III: PROSES

NEGOSIASI

PEMBENTUKAN

UN

OCEAN

BIODIVERSITY AGREEMENT DI PBB

Pada Bab 3 dijelaskan bagaimana proses pembentukan negosiasi UN
Ocean Biodiversity Agreement baik di dalam pertemuan pertama hingga

kesembilan Kelompok Kerja BBNJ maupun di dalam pertemuan internasional
lainnya, yaitu UN Conference on Sustainable Development (Rio+ 20) dan sidang
Majelis Umum PBB Ke-69. Bab 3 juga menunjukkan bagaimana perubahan
posisi beberapa negara yang awalnya menentang pembentukan perjanjian
pelaksanaan di bawah UNCLOS hingga akhirnya Majelis Umum PBB berhasil
mengadopsi Resolusi MU PBB 69/292 Tahun 2015 melalui konsesus.
BAB IV: UPAYA GREENPEACE MENDORONG PEMBENTUKAN
SUAKA

LAUT

GLOBAL

MELALUI

UN

OCEAN

BIODIVERSITY AGREEMENT

Di dalam Bab 4, penulis menganalisis upaya Greenpeace dalam upayanya
mendorong Majelis Umum PBB untuk membentuk UN Ocean Biodiversity
Agreement. Upaya yang dianalisis tidak hanya yang dilakukan oleh Greenpeace di

dalam pertemuan-pertemuan Kelompok Kerja BBNJ , melainkan juga upaya
Greenpeace secara keseluruhan yang berkaitan dengan upaya perlindungan laut
lepas serta upaya Greenpeace kepada negara-negara anggota Majelis Umum PBB.
Bab 4 ini juga menjelaskan tentang kendala-kendala yang dialami oleh
Greenpeace dalam upayanya mendorong Majelis Umum PBB untuk membentuk
UN Ocean Biodiversity Agreement.

BAB V: PENUTUP

18

BAB II
PROFIL ORGANISASI DAN KAMPANYE LAUT GREENPEACE

Pada Bab 2 ini dijelaskan tentang profil keorganisasian, yang terdiri dari
sejarah pembentukan Greenpeace, prinsip dasar organisasi Greenpeace, struktur
organisasi Greenpeace, dan status Greenpeace di dalam sistem PBB, serta profil
kampanye perlindungan laut Greenpeace, yang terdiri dari pencapaian kampanye
laut Greenpeace dan kampanye perlindungan laut lepas “Ocean Sanctuaries”
Greenpeace. Penjelasan tersebut diuraikan untuk memperkuat asumsi dari Kate
O‟Neill dari studi kasus perjalanan kontribusi Greenpeace sebagai NonGovernement Organization dalam upaya perlindungan laut melalui pembentukan

perjanjian lingkungan internasional, seperti Non-Proliferation Treaty (NPT) pada
1 Mei 1996, moratorium perburuan paus komersil oleh IWC pada tahun 1982,
Protocol on Environmental Protection

Dokumen yang terkait

Dokumen baru