Sejarah Rumah Sakit Petumbukan Kecamatan Galang Kabupaten Deli Serdang (1905-2002).

SEJARAH RUMAH SAKIT PETUMBUKAN KECAMATAN GALANG KABUPATEN DELI SERDANG ( 1905 – 2002 )

Skripsi Sarjana

NAMA NIM

Dikerjakan O L E H : OKKY ZULINDRA : 070706007

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2011
1
Universitas Sumatera Utara

Lembar Persetujuan Ujian Skripsi
SEJARAH RUMAH SAKIT PETUMBUKAN KECAMATAN GALANG KABUPATEN DELI SERDANG (1905-2002)
Yang diajukan oleh: Nama : Okky Zulindra N i m : 070706007
Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh: Pembimbing

Drs. Edi Sumarno, M.Hum NIP. 196409221989031001
Ketua Departemen Sejarah

Tanggal:……………………….

Drs. Edi Sumarno, M.Hum NIP. 196409221989031001

Tanggal:………………………

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011
2

Universitas Sumatera Utara

Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi
SEJARAH RUMAH SAKIT PETUMBUKAN KECAMATAN GALANG KABUPATEN DELI SERDANG (1905-2002)
Skripsi Sarjana Yang diajukan oleh: Nama : Okky Zulindra N i m : 070706007
Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh: Pembimbing
Drs. Edi Sumarno, M.Hum NIP. 196409221989031001
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, untuk melengkapi salah satu syarat ujian SARJANA SASTRA dalam bidang Ilmu Sejarah.

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011
3

Universitas Sumatera Utara

Lembar Persetujuan Ketua Departemen Disetujui oleh:
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
DEPARTEMEN SEJARAH Ketua Departemen
Drs. Edi Sumarno, M.Hum NIP. 196409221989031001
Medan, September 2011
4
Universitas Sumatera Utara

Lembar Pengesahan Skripsi Oleh Dekan dan Panitia Ujian Diterima oleh

Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra Dalam bidang Ilmu Sejarah pada Fakultas Ilmu Budaya USU Medan.

Pada Hari Tanggal

: : :

Fakultas Ilmu Budaya USU Dekan

Dr. Syahron Lubis, M.A NIP. 19511013197603100

Panitia Ujian
No. Nama 1. ……………………………………………… 2. …………………………………………….... 3. ……………………………………………… 4. ……………………………………………… 5. ………………………………………………

Tanda Tangan (………………….) (………………….) (………………….) (………………….) (………………….)

5
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim.. Assalamu’alaikum wr. wb.
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia tidak terhingga berupa bimbingan, kekuatan, petunjuk, pertolongan, maupun hidayah, dan taufik kepada hamba-Nya. Tak lupa shalawat teriring salam ditujukan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang telah mensyi’arkan Islam (rahmatan lil alamin) ditengah-tengah kehidupan kita. Alhamdulillah akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Sejarah Rumah Sakit Petumbukan Kecamatan Galang Kabupaten Deli Serdang (1905-2002)“, meskipun banyak hambatan, tantangan dan aral melintang yang datang silih berganti.
Tujuan penulis mengangkat topik ini untuk mengenang kembali perjalanan sejarah sebuah rumah sakit yang memiliki peranan bagi warga di daerah tersebut. Penulis berharap karya ilmiah ini dapat bermanfaat, walaupun rumah sakit yang menjadi objek penelitian penulis telah hancur.
Penulis menyadari sepenuhnya, masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan, untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik, saran, dan masukan yang bersifat membangun demi kesempurnaan atau perbaikan di kemudian hari. Penulis menyadari betul bahwa “tak ada gading yang tak retak”. Harapan penulis skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih. Wassalamu’alaikum wr. wb.
Medan, September 2011 Penulis
Okky Zulindra
6
Universitas Sumatera Utara

UCAPAN TERIMA KASIH
Skripsi ini, yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Sarjana Sastra tidak akan pernah terwujud tanpa bantuan, kerja sama, dan dukungan dari berbagai pihak. Maka dari itu, penulis rasa inilah saat yang tepat untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada:
1. Kedua Orangtua penulis, Papa tersayang Yan Suherman dan Mama tercinta Komarsih yang telah mendidik, membesarkan, merawat, mendo’akan, dan membimbing Ananda dari lahir sampai saat ini, walau jarak memisahkan selama lebih kurang 4 tahun dan sering juga Ananda bikin Papa-Mama sedih dan kecewa. Semoga dengan skripsi inilah Ananda dapat membalas seluruh curahan kasih sayang Papa dan Mama, walaupun mungkin tidak sebanding dengan pengorbanan yang kalian berikan.
2. Kedua Uwa saya, Drs. H. Wawan Setiawan dan Hj. Suraedah yang telah menjadi orangtua kedua saya sudah mendidik, mendo’akan, dan membimbing selama saya tinggal disini. Terima kasih banyak atas segalanya yang sudah diberikan, semoga Allah yang membalasnya. Amin.
3. Kakak sekaligus kembaranku: Aa Ekky Malindra, S.Hum (walau kita terpisahkan selama ini tapi loe selalu kasih semangat ke gue secara intens banget). Buat kakak sepupuku Tiara Larassati, S.Sos dan Azaria Robiana, A.Md (Teh, makasih yah udah bantuin dan dukung Okky selama penulisan skripsi ini.)
4. Buat semua Keluarga Besar (Alm.) Abah H. Sueb dan Umi Hj. Onih di Dramaga Tanjakan juga Keluarga Besar Apa Sumanta dan (Almh.) Abu Sopiyah di Paringga, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor yang selalu mendukung dan mendo’akan penulis agar cepat menyelesaikan skripsi ini.
5. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang memberikan segala bantuannya selama penulis mengikuti perkuliahan di Fakultas Ilmu Budaya.
6. Bapak Drs. Edi Sumarno, M.Hum, selaku Ketua Departemen Sejarah merangkap sebagai dosen pembimbing dalam penulisan skripsi ini yang telah begitu banyak memberikan nasihat, bantuan, dorongan, semangat, motivasi, masukan dan telah
7
Universitas Sumatera Utara

meluangkan banyak waktu untuk membimbing penulis serta pelajaran yang berharga bagi penulis selama dalam perkuliahan. Tak lupa saya juga ingin menghaturkan banyak terima kasih kepada Ibu Suryati Tarigan beserta keluarga yang telah menjadi teman curhat bagi penulis. Budi baik serta ketulusan yang Bapak, Ibu beserta keluarga berikan akan selalu penulis ingat. Hanya Allah yang dapat membalasnya. Amin. 7. Ibu Dra. Nurhabsyah, M.Si selaku Sekretaris Departemen Sejarah yang telah memberikan support, memberi pelajaran selama masa perkuliahan. 8. Bapak Drs. Wara Sinuhaji, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing Akademis yang telah memberikan perhatian dan didikan selama menjadi anak bimbingan Bapak. 9. Bapak OK. Dirhamsyah Tousa, Bapak Zakaria Bono, dan Bapak Kanaya selaku informan kunci yang telah banyak memberikan bantuan dan informasi yang bermanfaat kepada penulis selama penelitian ini berlangsung. 10. Bapak Edy Suhardi, Bapak Syamsir, Bapak Sri M. Yusuf, Ibu Ngatiah dan seluruh pegawai di Poliklinik PT. Perkebunan Nusantara 3 Sei Karang, Galang yang tidak bisa disebutkan satu-persatu yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis. 11. Bapak OK. Ravii, Ibu Zainab Sembiring, Om Dedi (JIP) yang telah memberikan bantuan dan informasi kepada penulis. 12. Om Asrul Koto, BL.Arch. dan pegawai di Kantor Direksi PT. Perkebunan Nusantara 3 Medan yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis. 13. Seluruh Dosen/ Staf Pengajar di Departemen Sejarah yang pernah memberikan ilmunya kepada penulis: Bapak Drs. J. Fachruddin Daulay; Bapak Drs. Bebas Surbakti; Bapak Drs. Timbun Ritonga; Ibu Dra. S.P Dewi Murni, M.A; Ibu Dra. Farida Hanum Ritonga, M.SP; Ibu Dra. Haswita, M.SP; Ibu Dra. Fitriaty Harahap, S.U; Bapak Drs. Samsul Tarigan; Bapak Drs. Sentosa Tarigan M.SP; Ibu Dra. Peninna Simanjuntak, M.S; Ibu Dra. Lila Pelita Hati, M.Si; Ibu Dra. Nurhamidah, Ibu Dra. Junita Setiana Ginting, M.Si, Bapak Dr. Suprayitno, M.Hum, Ibu Dra. Ratna, M.S; Ibu Dra. Nina Karina, M.SP, dan (Alm.) Bapak Drs. Indera, M.Hum. Juga kepada Staf Administrasi Departemen Sejarah (Bang Amperawira) yang telah banyak membantu penulis.
8
Universitas Sumatera Utara

14. Rekan-rekan seperjuangan di Prodi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya USU Angkatan 2007 yaitu Sukma Iwan, Andika Harsa Wardhana, Siti, Fasrah Aka Sihaloho, Sulistya Fitriani Panggabean, Astina Situmorang, dan lainnya yang tak bisa disebutkan satu persatu. Juga untuk alumni 2005 yaitu Bang Rasyid, Bang Handoko, Bang Edi, Kak Dina, Kak Nopi, Kak Nanda, Bang Firman, dan semua juniorku juga di Ilmu Sejarah.
15. Remaja Masjid Baiturrahman di Perumahan Taman Johor Indah Permai I, Gedung Johor, Medan yang tidak bisa disebutkan satu-persatu yang telah memberikan dukungan moril dan semangat kepada penulis.
Akhirnya untuk semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak dapat seluruhnya disebutkan dalam penyusunan skripsi ini, saya mengucapkan terima kasih.
Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah diberikan dengan balasan yang berlipat ganda. Penulis juga mengharapkan semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca.
9
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR………………………………………………………... UCAPAN TERIMA KASIH…………………………………………………. DAFTAR ISI………………………………………………………………….. ABSTRAK…………………………………………………………………….. DAFTAR TABEL…………………………………………………………….. DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………….

i ii v viii ix x

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang……………………………………………………………… 1 1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………… 4 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian……………………………………………… 5 1.4 Tinjauan Pustaka…………………………………………………………….. 6 1.5 Metode Penelitian……………………………………………………………. 9

BAB II DARI SERDANG DOCTOR FONDS HOSPITAAL SAMPAI GABUNGAN RUMAH SAKIT PETUMBUKAN (1905-1980) 2.1 Letak…………………………………………………………………………. 13 2.2 Awal Berdiri………………………………………………………………….. 15 2.3 Periode Serdang Doctor Fonds Hospitaal (1913-1950)………………………. 19
2.3.1 Sarana dan Prasarana yang dibangun pada masa Serdang Doctor FondsHospitaal……...………………………………………………………… 19
2.3.2 Struktur Organisasi Serdang Doctor Fonds Hospitaal…………………. 21 2.3.3 Tenaga Medis Serdang Doctor Fonds Hospitaal……………………….. 23
10

Universitas Sumatera Utara

2.3.4 Pasien-pasien dan Bentuk Pelayanan…………………………………… 24 2.4 Periode Gabungan Rumah Sakit Petumbukan (1950-1980)…………………. 26
2.4.1 Sarana dan Prasarana yang dibangun pada saat Periode GabunganRumah Sakit Petumbukan…...…………………………………………. 26
2.4.2 Pembaruan Perjanjian antara ahli waris OK. Tousa dengan GabunganRumah Sakit Petumbukan……………………………………………… 28
2.4.3 Perkebunan yang menjadi anggota Gabungan Rumah Sakit Petumbukan 30 2.4.4 Struktur Organisasi Gabungan Rumah Sakit Petumbukan……………… 32
BAB III RUMAH SAKIT PETUMBUKAN PADA MASA PT. PERKEBUNAN V (1980-1996) 3.1 Surat Keputusan Menteri Pertanian No.22/Kpts/Um/1/1980 tentang
Pengalihan Status Rumah Sakit Perkebunan menjadi Rumah Sakit PNP/PTP 36 3.2 Surat Keputusan Direksi PT. Perkebunan V No. 05.7/Kpts/5/1980 tentang
Pengalihan Rumah Sakit Gabungan Petumbukan menjadi Rumah Sakit Perkebunan PT. Perkebunan V……………………………………………. 38 3.3 Peralihan dari Gabungan Rumah Sakit Petumbukan ke Rumah Sakit PT. Perkebunan V………….…..……………………………………………. 40 3.4 Reaksi Ahli Waris OK. Tousa terhadap Surat Keputusan Menteri Pertanian No.22/Kpts/Um/1/1980 dan Surat Keputusan Direksi PT. Perkebunan V No 05.7/Kpts/5/1980…………………………………………. 45 3.5 Uraian Tugas Manajemen Rumah Sakit PT. Perkebunan V…………………. 49 3.6 Pembangunan Sarana dan Prasarana selama Periode PT. Perkebunan V……. 54
11
Universitas Sumatera Utara

BAB IV RUMAH SAKIT PETUMBUKAN PADA MASA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA 3 (1996-2002) 4.1 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tanggal 14 Februari 1996
tentang Peleburan Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Perkebunan III, PT. Perkebunan IV, dan PT. Perkebunan V menjadi PT. Perkebunan Nusantara 3 56 4.2 Akibat dibentuknya PT. Perkebunan Nusantara 3 terhadap Manajemen Rumah Sakit Petumbukan………………………………………………….. 58 4.3 Sarana dan Prasarana yang dibangun saat periode PT. Perkebunan Nusantara 3…………………………………………………………………. 60 4.4 Sengketa Lahan antara PT. Perkebunan Nusantara 3 dengan ahli waris OK. Tousa dan Putusan Mahkamah Agung……………………………………... 61 4.5 Eksekusi dan Akibat Penutupan Rumah Sakit Petumbukan………………… 62

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan…………………………………………………………………... Saran…………………………………………………………………………

69 70

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR INFORMAN LAMPIRAN

12
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK Penelitian ini berjudul ”Sejarah Rumah Sakit Petumbukan Kecamatan Galang Kabupaten Deli Serdang (1905-2002)”. Penelitian ini bersifat deskriptif-naratif menceritakan secara apa adanya sesuai informasi yang diperoleh penulis. Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah pertama, menjelaskan sejarah dan awal berdirinya Rumah Sakit Petumbukan mulai dari periode Serdang Doctor Fonds Hospitaal sampai Gabungan Rumah Sakit Petumbukan (1905-1980), kedua menjelaskan perkembangan Rumah Sakit Petumbukan saat periode PT. Perkebunan V (1980-1996), dan terakhir menceritakan Rumah Sakit Petumbukan selama periode PT. Perkebunan Nusantara 3 (1996-2002) hingga ditutupnya rumah sakit ini di tahun 2002. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yaitu Heuristik (pengumpulan data), Kritik sumber baik itu kritik ekstern maupun kritik intern, interpretasi (menyimpulkan kesaksian/data yang dipercaya dari bahan yang ada), dan yang terakhir adalah historiografi (penulisan dan pengkisahan sejarah). Rumah Sakit Petumbukan memiliki beberapa hal yang menarik untuk diteliti, mulai dari sengketa kepemilikan lahan dengan ahli waris OK. Tousa yang berujung pada ditutupnya rumah sakit ini di tahun 2002. Ada juga Surat Keputusan Menteri Pertanian yang mengalihkan beberapa Rumah Sakit Gabungan Perkebunan kepada PT. Perkebunan. Kemudian ada pula Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1996 yang melebur PT. Perkebunan III, IV, dan V menjadi PT. Perkebunan Nusantara 3. Demikianlah penulis mencoba menggambarkan Rumah Sakit Petumbukan pada tahun 1905-2002. Penulis merasa yakin bahwa Rumah Sakit Petumbukan merupakan sesuatu yang berharga dan memiliki peranan penting dalam bidang pelayanan medis di Sumatera Utara. Walaupun kini telah hancur bangunannya, namun Rumah Sakit Petumbukan tetap dikenang oleh mereka yang memiliki ikatan emosional dengan rumah sakit ini.
13
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
Tabel 1: Pasien yang dirawat sampai 20 Februari 1980 Tabel 2: Bangunan Rumah Sakit Petumbukan beserta ikutannya Tabel 3: Bangunan Pendukung di Rumah Sakit Petumbukan

Halaman 32 64-66 66-67

14
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN
1. Peta Situasi Rumah Sakit Petumbukan (dengan keterangan) 2. Peta Situasi Rumah Sakit Petumbukan (peta buta) 3. Denah Jarak Medan – Galang 4. Verkaufs Vertrag 5. Lampiran 20.III.13 (20 Maret 1913) 6. Surat Perjanjian Ahli Waris OK. Tousa dengan Gabungan Rumah Sakit
Petumbukan 7. Surat Keputusan Menteri Pertanian RI No.22/Kpts/Um/1/1980 8. Naskah Serah Terima Februari 1980 9. Surat Keputusan Direksi PT. Perkebunan V No. 05.7/Kpts/5/1980 dan Lampiran 10. Surat Keterangan Kantor Agraria mengenai Pengukuran Tanah ahli waris OK.
Tousa 11. Surat Perintah Kerja No. 68 dan 73 12. Surat Keterangan Kepala Desa Pisang Pala 13. Daftar Lampiran Keluarga, Ahli Waris, dan Keturunan OK. Tousa 14. Surat Keterangan Penelitian dari Desa Kelapa Satu 15. Surat Kuasa OK. Syahrun kepada OK. Hidayatullah 16. Foto-foto Rumah Sakit Petumbukan
15
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK Penelitian ini berjudul ”Sejarah Rumah Sakit Petumbukan Kecamatan Galang Kabupaten Deli Serdang (1905-2002)”. Penelitian ini bersifat deskriptif-naratif menceritakan secara apa adanya sesuai informasi yang diperoleh penulis. Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah pertama, menjelaskan sejarah dan awal berdirinya Rumah Sakit Petumbukan mulai dari periode Serdang Doctor Fonds Hospitaal sampai Gabungan Rumah Sakit Petumbukan (1905-1980), kedua menjelaskan perkembangan Rumah Sakit Petumbukan saat periode PT. Perkebunan V (1980-1996), dan terakhir menceritakan Rumah Sakit Petumbukan selama periode PT. Perkebunan Nusantara 3 (1996-2002) hingga ditutupnya rumah sakit ini di tahun 2002. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yaitu Heuristik (pengumpulan data), Kritik sumber baik itu kritik ekstern maupun kritik intern, interpretasi (menyimpulkan kesaksian/data yang dipercaya dari bahan yang ada), dan yang terakhir adalah historiografi (penulisan dan pengkisahan sejarah). Rumah Sakit Petumbukan memiliki beberapa hal yang menarik untuk diteliti, mulai dari sengketa kepemilikan lahan dengan ahli waris OK. Tousa yang berujung pada ditutupnya rumah sakit ini di tahun 2002. Ada juga Surat Keputusan Menteri Pertanian yang mengalihkan beberapa Rumah Sakit Gabungan Perkebunan kepada PT. Perkebunan. Kemudian ada pula Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1996 yang melebur PT. Perkebunan III, IV, dan V menjadi PT. Perkebunan Nusantara 3. Demikianlah penulis mencoba menggambarkan Rumah Sakit Petumbukan pada tahun 1905-2002. Penulis merasa yakin bahwa Rumah Sakit Petumbukan merupakan sesuatu yang berharga dan memiliki peranan penting dalam bidang pelayanan medis di Sumatera Utara. Walaupun kini telah hancur bangunannya, namun Rumah Sakit Petumbukan tetap dikenang oleh mereka yang memiliki ikatan emosional dengan rumah sakit ini.
13
Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Perkebunan tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Sumatera Utara. Diawali
dengan kedatangan Jacobus Nienhuys ke pesisir timur Sumatera Utara pada 6 Juli 1863 dengan membuka perkebunan tembakau.1 Saat itu terjadi pembukaan kebun-kebun besar di Sumatera Utara, dan lambat laun banyak bermunculan perkebunan tembakau, karet, kelapa sawit, kopi, dan lain sebagainya di wilayah ini. Mulai saat itulah babak baru dalam sejarah di Sumatera Utara berawal, dan kini menjadi ciri khas tersendiri bagi daerah ini yang memiliki catatan panjang dalam sejarah perkebunan nasional.
Buruh perkebunan atau yang lebih dikenal dengan sebutan kuli merupakan bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari perkebunan.2 Dengan adanya kuli, maka produktivitas kerja di perkebunan pun terlaksana. Setiap perkebunan harus memperhatikan kondisi kesehatan dan tempat tinggal para kuli. Hal tersebut sudah merupakan kewajiban bagi perkebunan (onderneming)3 dan hak bagi para kuli untuk mendapatkannya.4 Hal ini tentu saja harus dilakukan demi kepentingan perkebunan itu sendiri agar kegiatan produksi di perkebunan itu tidak terganggu.
Untuk mengatasi problem kesehatan para kuli, ada beberapa perkebunan yang menyediakan mantri-mantri. Namun, jumlah mantri yang ada tidak sebanding dengan
1 Karl. J. Pelzer, Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria 1863-1947. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1985, hlm. 51-52.
2 Mohammad Said, Suatu Zaman Gelap di Deli: Koeli Kontrak Tempo Doeloe dengan Derita dan Kemarahannya. Medan: Harian Waspada, 1990, hlm. 49-51.
3 Onderneming adalah perkebunan yang diusahakan secara besar-besaran dengan alat yang canggih.
16
Universitas Sumatera Utara

jumlah kuli yang mencapai ribuan. Pihak pengambil keputusan di perkebunan pun akhirnya berembuk dan mencari solusi lain untuk mengatasi masalah kesehatan para pekerjanya. Solusi tersebut antara lain dengan membangun fasilitas penunjang kesehatan yang antara lain berupa klinik, pusat kesehatan untuk kuli atau bisa disamakan dengan puskesmas, ataupun rumah sakit.5
Untuk membangun fasilitas penunjang kesehatan seperti yang telah disebutkan di atas tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain itu alasan untuk efektifitas dan efisiensi dalam pembangunan fasilitas kesehatan di daerah yang relatif berdekatan jaraknya menjadi pertimbangan. Berkaitan dengan itu, beberapa onderneming di Deli Serdang misalnya, pada tahun 1905 mendirikan sebuah yayasan bernama Serdang Doctor Fonds atau Yayasan Dokter Serdang. Yayasan ini bersifat sosial dan tugas utamanya adalah untuk menjamin kesehatan para kuli yang sedang sakit yang berasal dari perkebunan anggota yayasan ini. Yayasan ini juga merupakan pendiri Rumah Sakit Petumbukan.
Yayasan Dokter Serdang beranggotakan beberapa perkebunan besar yang jaraknya relatif dekat satu dengan lainnya. Perkebunan yang menjadi anggota yayasan ini antara lain Rubber Cultuur Maatschappij Amsterdam (R.C.M.A) yang kini menjadi PT. Perkebunan Nusantara 3 Sei Karang, Harrison & Crossfiled (sekarang PT. PP London Sumatra), SIPEF, Perkebunan Tanjung Purba (PT. Serdang Tengah) dan beberapa perkebunan lainnya. Jika dilihat dari letak geografisnya, Rumah Sakit Petumbukan berada di tengah-tengah perkebunan yang mengelilinginya. Rumah Sakit Petumbukan berdasarkan jenisnya merupakan rumah sakit perkebunan.
4 T. Keizerina Devi, Poenale Sanctie: Studi tentang Globalisasi Ekonomi dan Perubahan Hukum di Sumatera Timur (1870-1950), Medan: USU Press, 2004, hlm. 126-130.
17
Universitas Sumatera Utara

Rumah Sakit Petumbukan mulai didirikan sejak tahun 1905 dan mulai beroperasi penuh pada tahun 1913.6 Rumah sakit ini terbilang cukup panjang usianya, sudah ada sedari 1905 sampai 2002. Di tahun 2002 rumah sakit ini ditutup karena adanya sengketa kepemilikan lahan dengan ahli waris OK. Tousa. Sungguh sangat disayangkan rumah sakit yang berusia lebih kurang 97 tahun, atau hampir satu abad ini, harus ditutup dan kemudian dihancurkan. Kini sudah tidak ada lagi bangunan rumah sakit beserta ikutannya. Yang ada hanyalah puing-puing reruntuhan yang telah rata dengan tanah. Saat ini, yang tersisa hanya Sanggar Kegiatan Belajar, terdapat dua ruangan belajar yang digunakan untuk Kejar Paket B dan C.7
Sengketa lahan berawal dari perjanjian jual beli antara OK. Tousa dengan Serdang Doctor Fonds pada 20 Maret 1913, dengan imbalan berupa pengobatan dan perawatan secara cuma-cuma bagi OK. Tousa, keluarga, dan ahli warisnya. Pada masa orang-orang Eropa yang bertugas di rumah sakit ini kompensasi tersebut dijalankan terus, namun ketika beralih pada orang-orang pribumi perjanjian tersebut dianggap tidak ada. Pihak ahli waris OK. Tousa pun melakukan protes dan berupaya membuat perjanjian baru pada 8 Maret 1965, dengan pihak Gabungan Rumah Sakit Petumbukan.
Situasi menjadi semakin memburuk ketika adanya Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor tahun 1980 yang menginstruksikan agar Rumah Sakit Gabungan Perkebunan dialihkan kepada PT. Perkebunan. Dalam hal ini Gabungan Rumah Sakit Petumbukan dialihkan ke PT. Perkebunan V. Hal ini berlangsung terus cukup panjang
5 Wawancara dengan Kanaya, Pisang Pala, 15 Oktober 2010. 6 Kiki Nazira, Kemajemukan Hukum dalam Proses Penyelesaian Sengketa Tanah Adat pada Orang Melayu, Skripsi, Medan: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU, 2006, hlm. 65. 7 Arsip milik OK. Dirhamsyah Tousa: Surat Permohonan No. 319/II.05.3/TU/2005 tentang Izin Pemakaian Lokasi Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dari Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Deli Serdang kepada ahli waris OK. Tousa.
18
Universitas Sumatera Utara

hingga Rumah Sakit Petumbukan di masa PT. Perkebunan Nusantara 3. Akhirnya, dengan melalui proses yang panjang dan rumit di pengadilan, pihak PT. Perkebunan Nusantara 3 Kantor Sungei Karang harus rela menyerahkan kembali tanah pertapakan Rumah Sakit Petumbukan beserta bangunan-bangunan ikutannya kepada pihak ahli waris keluarga OK. Tousa sebagai pemilik lahan.
Penelitian ini membicarakan tentang riwayat atau Sejarah Rumah Sakit Petumbukan sejak berdiri di tahun 1905 hingga ditutup di tahun 2002. Atas dasar itu, maka penelitian ini diberi judul “Sejarah Rumah Sakit Petumbukan Kecamatan Galang Kabupaten Deli Serdang (1905-2002)”.
1.2 Rumusan Masalah Dalam melakukan suatu penelitian maka yang menjadi landasan dari penelitian itu
sendiri adalah apa yang menjadi akar permasalahannya. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini dapat dirumuskan dengan kalimat-kalimat pertanyaan berikut:
1. Bagaimana kondisi Rumah Sakit Petumbukan saat awal berdiri semasa Serdang Doctor Fonds Hospitaal sampai Gabungan Rumah Sakit Petumbukan (19051980)?
2. Bagaimana perkembangan Rumah Sakit Petumbukan selama periode PT. Perkebunan V (1980-1996) dan pengaruh terhadap karyawan, masyarakat sekitar?
3. Bagaimana perkembangan Rumah Sakit Petumbukan selama periode PT. Perkebunan Nusantara 3 (1996-2002) dan alasan yang paling signifikan ditutupnya Rumah Sakit Petumbukan?
19
Universitas Sumatera Utara

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian Penelitian ini memiliki tujuan dan manfaat yang penting bukan hanya bagi penulis
tetapi juga bagi masyarakat umum. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Mengetahui sejarah dan latar belakang berdirinya Rumah Sakit Petumbukan selama periode Serdang Doctor Fonds Hospitaal sampai Gabungan Rumah Sakit Petumbukan (1905-1980). 2. Menguraikan perkembangan Rumah Sakit Petumbukan selama periode PT. Perkebunan V (1980-1996). 3. Memaparkan kondisi Rumah Sakit Petumbukan selama periode PT. Perkebunan Nusantara 3 (1996-2002) yang berujung pada ditutupnya rumah sakit ini di tahun 2002.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat : 1. Agar Sejarah Rumah Sakit Petumbukan ini tidak hilang begitu saja karena
peranannya yang cukup besar dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang ada di daerah Petumbukan dan sekitarnya. 2. Mudah-mudahan dengan adanya penelitian yang bersifat deskriptif-naratif tentang Sejarah Rumah Sakit Petumbukan ini dapat menjadi pemicu penelitian-penelitian berikutnya mengenai berbagai hal tentang rumah sakit ini. Juga dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya.

1.4 Tinjauan Pustaka

20

Universitas Sumatera Utara

Meskipun Rumah Sakit Petumbukan cukup dikenal, tetapi penelitian mengenai Rumah Sakit Petumbukan ini masih terbilang belum banyak dilakukan. Bahkan, itu pun hanya menyinggung sedikit saja tentang rumah sakit ini. Dari penelitian pustaka yang dilakukan, penulis hanya menemukan satu di antaranya, yakni yang dilakukan oleh Kiki Nazira berupa penelitian skripsi yang berjudul “Kemajemukan Hukum dalam Proses Penyelesaian Sengketa Tanah Adat pada Orang Melayu”. Skripsi ini membahas tentang berbagai hal di sekitar masalah agraria, khususnya tentang penyelesaian sengketa tanah adat pada orang-orang Melayu.8 Berkaitan dengan Rumah Sakit Petumbukan, ia menunjukkan betapa rumitnya penyelesaian atas sengketa lahan antara pihak ahli waris keluarga OK. Tousa dengan pihak Rumah Sakit PT. Perkebunan Nusantara 3 Sungei Karang.9 Mengenai sejarah rumah sakit ini, meskipun ada sedikit dibahas, tetapi tidak dibicarakan secara spesifik. Meskipun demikian, skripsi ini cukup banyak memberi informasi yang bermanfaat bagi penulis, khususnya tentang penyelesaian konflik yang telah dimenangkan oleh pihak ahli waris, sekaligus sebagai penyebab ditutupnya rumah sakit ini di tahun 2002.
Selain itu, dalam penelitian ini penulis juga memerlukan berbagai literatur berupa buku-buku yang berkaitan dengan objek yang akan dikaji yang dapat membantu pemahaman serta kelancaran penulis dalam melaksanakan penelitian ini. T. Keizerina Devi dalam bukunya yang berjudul “Poenale Sanctie: Studi tentang Globalisasi Ekonomi dan Perubahan Hukum di Sumatera Timur (1870-1950)” menjelaskan bahwa beberapa hak kuli-kuli kontrak (buruh perkebunan) yang harus dipenuhi oleh perusahaan perkebunan (onderneming) adalah fasilitas perumahan dan kesehatan. Kuli-kuli tersebut
8 Mahadi, Sedikit Sejarah Perkembangan Hak-hak Suku Melayu atas Tanah di Sumatera Timur (tahun 1800-1975), Bandung: Penerbit Alumni, 1976.
21
Universitas Sumatera Utara

ditempatkan di rumah-rumah berbentuk bangsal atau barak panjang yang disebut tanksi. Setiap tanksi menampung sebanyak 1.000 orang kuli, sehingga mereka harus berdesakan penuh sesak. Hal ini ditambah lagi dengan kondisi tempat tinggal yang kotor, jorok, dan pengap kurangnya cahaya penerangan dan ventilasi udara yang buruk. Dan akhirnya mengakibatkan banyak kuli yang tiba-tiba terkena wabah penyakit. Dr. Baerman, seorang dokter dari Rumah Sakit Petumbukan menguraikan bagaimana penyakit-penyakit seperti: cacingan, malaria, kolera, typus, dan pes tidak bisa diatasi di Rumah Sakit Petumbukan.10 Di samping itu, buku ini juga menceritakan tentang perkembangan perkebunan swasta asing di Sumatera Timur dan timbulnya masalah tenaga kerja, penerapan sanksi bagi para kuli perkebunan sampai pada usaha penghapusan siksaan atau hukuman itu bagi para buruh perkebunan karena banyak pihak yang peduli kepada nasib para kuli ini. Buku ini sangat membantu penulis dalam melakukan penelitian mengenai kondisi kesehatan para buruh perkebunan hingga dibangun rumah-rumah sakit di beberapa perkebunan (onderneming) dan tentu saja salah satunya adalah Rumah Sakit Petumbukan yang menjadi objek penelitian penulis.
Dalam buku yang berjudul “Manajemen Administrasi Rumah Sakit” karangan Tjandra Yoga Aditama, dijelaskan bahwa Rumah Sakit adalah tempat dirawatnya orangorang yang sedang tidak sehat secara fisik maupun mentalnya. Di buku itu juga dipaparkan tentang bagaimana tata cara mengelola rumah sakit, sistem administrasi, struktur organisasi dan manajemen dalam rumah sakit seperti apa, sehingga sedikit
9 Kiki Nazira, Op. cit.. hlm. 24-26. 10 T. Keizerina Devi, Poenale Sanctie: Studi Tentang Globalisasi Ekonomi dan Perubahan Hukum di Sumatera Timur (1870-1950), Medan: USU Press, 2004, hlm. 126-130.
22
Universitas Sumatera Utara

banyak memberikan gambaran umum bagi penulis mengenai Manajemen Administrasi Rumah Sakit.11
Adapun buku yang berjudul “Rumah Sakit, Tenaga Kesehatan, dan Pasien” karangan dr. H. Dalmy Iskandar menjelaskan tentang definisi rumah sakit beserta jenisjenisnya, hukum rumah sakit, tanggung jawab rumah sakit. Lalu dibahas juga mengenai tenaga kesehatan yang meliputi dokter, dokter gigi, dokter spesialis, apoteker, bidan, dan lain sebagainya. Selain itu juga ada pembahasan mengenai pasien, mulai dari definisi pasien, hak dan kewajiban pasien, dan lain-lain. Buku ini cukup membantu penulis dalam melakukan penelitian yang dilakukan. Penulis jadi mengetahui seluk beluk rumah sakit, tenaga kesehatan, pasien, maupun hukum dan tanggung jawab perdata di rumah sakit.12
Selain itu, buku yang berjudul “Menuju Kesehatan Madani” karangan Rosalia Sciortino menjelaskan tentang pelayanan pengobatan di rumah-rumah sakit di Hindia Belanda dulu. Saat itu pengobatan menjadi tanggung jawab tukang-tukang bedah, karena Kompeni tidak memiliki banyak tenaga medis: dokter dan perawat yang terdidik secara akademis. Jumlah dokter yang dipekerjakan oleh Belanda sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan tukang-tukang bedah. Dalam buku ini juga dipaparkan mengenai peranan perawat, puskesmas yang ada di Hindia Belanda saat itu. Dari buku ini dapat memberikan informasi mengenai kondisi rumah sakit di zaman penjajahan kolonial Belanda dulu yang dibutuhkan oleh penulis.13
Keempat buku di atas cukup berguna bagi penulis dalam melakukan penelitian ini. Penulis jadi mengetahui gambaran umum mengenai rumah sakit, seluk beluk, jenis-
11 Tjandra Yoga Aditama, Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Jakarta: UI Press, 2003, hlm. 5. 12 Dalmy Iskandar, Rumah Sakit, Tenaga Kesehatan, dan Pasien, Jakarta: Sinar Grafika, 1998, hlm. 24-27. 13 Rosalia Sciortino, Menuju Kesehatan Madani, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999, hlm. 5-8.
23
Universitas Sumatera Utara

jenisnya, dan bagaimana sistem manajemen dan struktur organisasinya. Ada di antaranya yang membahas tentang kondisi perkebunan di Sumatera Timur, yang menuntut setiap perkebunan (onderneming) agar memperhatikan kondisi kesehatan para buruh dan juga menyediakan pelayanan kesehatan bagi buruhnya agar produktivitas di perkebunan itu tidak terganggu. Ada juga yang membahas tentang poenale sanctie yang sangat menyiksa, pun ada uraian mengenai kondisi pengobatan di zaman kolonial Belanda dahulu ketika rumah sakit belum didirikan. Selain itu keempat buku di atas juga dapat mendukung proses penelitian yang dilakukan oleh penulis karena memberikan informasi yang relevan serta dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai objek yang diteliti, yaitu sejarah kesehatan dan lebih spesifiknya adalah kajian mengenai sejarah rumah sakit.
1.5 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang
meliputi: heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi.14 Langkah pertama yang dilakukan adalah heuristik, yaitu pengumpulan sumber-sumber yang sesuai dan mendukung objek yang diteliti. Proses yang digunakan dalam hal ini adalah dengan melakukan library research (penelitian kepustakaan/ studi literatur) yaitu mengumpulkan sejumlah sumber tertulis baik itu yang primer maupun sekunder, bentuknya dapat berupa arsip, laporan, majalah, dan buku-buku yang berkaitan dengan objek yang dikaji.15 Sumber-sumber tertulis berupa arsip, dokumen, laporan mengenai Sejarah Rumah Sakit Petumbukan ini sangat sulit didapat. Penulis telah mencari sumber tertulis ke Kantor
14 Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah (terj. Nugroho Notosusanto), Jakarta: UI Press, 1971, hlm.18.
24
Universitas Sumatera Utara

Direksi PT. Perkebunan Nusantara 3 Medan, Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Deli Serdang, Perpustakaan dan Arsip Daerah Sumatera Utara satu pun tak membuahkan hasil. Instansi-instansi di atas berargumen banyak arsip yang sudah dimusnahkan. Beruntung sekali penulis mendapatkan beberapa arsip penting mengenai Sejarah Rumah Sakit Petumbukan yang merupakan koleksi pribadi (Alm.) H. Sabar, mantan Kepala Perawat di Rumah Sakit Petumbukan. Sebagai Kepala Perawat, (Alm.) H. Sabar menguasai bidang keperawatan dan ia juga mengetahui banyak tentang administrasi/ pembukuan di rumah sakit ini. Dikarenakan minatnya dalam mengoleksi dokumendokumen penting, sehingga arsip mengenai Rumah Sakit Petumbukan ini menjadi sangat penting dan banyak memberikan informasi bagi penulis dalam melakukan penelitian ini.
Selain itu penulis juga memperoleh arsip-arsip mengenai sengketa tanah yang didapatkan dari OK. Dirhamsyah Tousa dan OK. Ravii. Buku-buku yang menjadi acuan dalam penelitian ini, penulis dapatkan dari Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Daerah Sumatera Utara, dan beberapa merupakan buku koleksi pribadi penulis. Melalui studi kepustakaan telah diperoleh data-data yang berkaitan dengan permasalahan serta merupakan acuan yang bersifat teoritis berupa sumber yang dapat mendukung dan memiliki relevansi dengan penelitian.
Selain itu juga dilakukan field research (penelitian lapangan) yang digunakan untuk mendapatkan sumber-sumber lisan melalui teknik wawancara. Field research dilakukan dengan menggunakan wawancara yang tidak berstruktur dan bersifat terbuka. Penulis melakukan wawancara melalui beberapa informan yang penulis anggap dapat memberikan keterangan dalam penelitian ini sebagai informasi tambahan. Dalam melakukan wawancara, penulis memilih informan yang mengetahui tentang masalah
15 Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Jakarta: Bentang Pustaka, 1995, hlm. 35.
25
Universitas Sumatera Utara

yang dibahas, yaitu pihak ahli waris keluarga OK. Tousa, mantan pejabat dan pegawai PT. Perkebunan Nusantara 3 Cabang Sungei Karang dan Kantor Direksi Medan, yang pernah menjabat atau terlibat dengan rumah sakit ini, mereka yang pernah bertugas di rumah sakit ini, warga sekitar, serta mereka yang pernah menjadi pasien di Rumah Sakit Petumbukan ini.
Langkah kedua yang dilakukan adalah dengan verifikasi yakni kritik sumber. Kritik yang dilakukan yaitu kritik intern dan juga ekstern. Kritik intern diperlukan guna menilai kelayakan data sedangkan kritik ekstern digunakan untuk menentukan keabsahan data. Data yang sudah diverifikasi dapat diklasifikasikan sebagai fakta.
Tahapan selanjutnya adalah interpretasi. Dalam tahapan ini, fakta-fakta yang sudah diverifikasi, diinterpretasi agar terjadi jalinan antar-fakta. Objek kajian yang cukup jauh ke belakang membuat interpretasi menjadi sangat vital dan dibutuhkan keakuratan serta analisis yang tajam agar mendapat fakta sejarah yang bersifat objektif. Dengan kata lain, tahapan ini dilakukan dengan menyimpulkan kesaksian atau data-data informasi yang dapat dipercaya dari bahan-bahan yang ada.
Tahapan terakhir adalah historiografi, yakni penulisan yang disusun berdasarkan interpretasi fakta-fakta yang ditemukan menjadi suatu kisah atau kajian yang menarik dan berarti, secara kronologis dan rasional. Penulisan kembali sejarah agar membuat orang tertarik untuk membaca dan menjadi sarana rekreatif.
26
Universitas Sumatera Utara

BAB II DARI SERDANG DOCTOR FONDS HOSPITAAL PETOEMBOEKAN SAMPAI
GABUNGAN RUMAH SAKIT PETUMBUKAN (1905 – 1980)
Rumah Sakit PT. Perkebunan Nusantara 3 Petumbukan Sungei Karang Galang pernah beberapa kali berganti nama. Awalnya rumah sakit ini bernama Serdang Doctor Fonds Hospitaal Petoemboekan, kemudian berganti nama menjadi Gabungan Rumah Sakit Petumbukan. Setelahnya ia berganti nama menjadi Rumah Sakit PN. Perkebunan V, lalu berganti lagi menjadi Rumah Sakit PT. Perkebunan V, dan akhirnya menjadi Rumah Sakit PT. Perkebunan Nusantara 3 sampai ditutupnya rumah sakit ini pada tahun 2002. Masyarakat sendiri lebih sering menyebutnya Rumah Sakit Petumbukan. Oleh sebab itu, karena rumah sakit ini pernah beberapa kali berganti nama dan masyarakat sekitar pun lebih sering menyebutnya dengan Rumah Sakit Petumbukan, maka dalam penelitian skripsi ini juga digunakan nama Rumah Sakit Petumbukan. Pada bab ini akan diuraikan bagaimana kondisi rumah sakit ini pada masa-masa awal berdirinya, dan adanya perjanjian jual beli antara OK. Tousa dengan Serdang Doctor Fonds. Selain itu juga akan diceritakan mengenai periode Serdang Doctor Fonds Hospitaal Petoemboekan (19131950) yang pembahasannya meliputi: sarana dan prasarana yang dibangun, struktur
27
Universitas Sumatera Utara

organisasi, tenaga medis, pasien-pasien dan bentuk pelayanan. Terakhir akan diuraikan tentang periode Gabungan Rumah Sakit Petumbukan (1950-1980) yang antara lain akan membahas sarana dan prasarana yang dibangun, perjanjian baru ahli waris OK. Tousa dengan Gabungan Rumah Sakit Petumbukan, perkebunan yang menjadi anggota Gabungan Rumah Sakit Petumbukan, struktur organisasi, dan perkembangan tata usaha dan pembukuan saat periode ini.
2.1 Letak Hingga ditutupnya Rumah Sakit Petumbukan di tahun 2002, secara administratif
pemerintahan rumah sakit ini berada di Desa Pisang Pala, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Memang agak mengherankan, mengapa rumah sakit ini kemudian disebut Rumah Sakit Petumbukan, dan bukan Rumah Sakit Pisang Pala. Setidaknya ada dua kemungkinan menyangkut pemakaian nama pada Rumah Sakit Petumbukan ini. Pertama, nama Pisang Pala saat didirikannya Rumah Sakit Petumbukan (saat itu masih bernama Serdang Doctor Fonds Hospitaal) di tahun 1905 belum ada dan masih merupakan bagian dari wilayah Petumbukan. Kedua, lahan tempat didirikannya rumah sakit ini adalah milik Datuk Tousa, seorang penguasa pribumi di wilayah yang disebut Kedatukan Petumbukan yang merupakan bagian dari Kesultanan Serdang.16
Nama Petumbukan sendiri sebenarnya berasal dari adanya pertemuan 2 (dua) sungai, yakni Sungai Batu Gingging dan Sungai Bah Perak, yang dalam bahasa setempat (bahasa Karo) disebut pertumbuken.17 Dari kata inilah kemudian wilayah yang bersangkutan disebut dengan Petumbukan. Letak Rumah Sakit Petumbukan dalam
16 Wawancara dengan OK. Dirhamsyah Tousa, Kelapa Satu, 16 Oktober 2010. 17 Kiki Nazira, Op. cit. hlm. 24.
28
Universitas Sumatera Utara

kenyataannya memang terletak di dekat pertemuan dua sungai itu. Selain itu Petumbukan juga dapat diartikan sebagai daerah pertemuan 2 (dua) sub etnik Batak yaitu Karo dan Simalungun. Maka dari itu selain mengandung arti pertemuan 2 (dua) sungai, petumbukan juga merupakan pertemuan 2 (dua) sub etnik Batak yang hidup secara rukun dan berdampingan.
Rumah Sakit Petumbukan, yang secara keseluruhan terletak di Dusun 3 Desa Pisang Pala, memiliki lahan sejumlah ± 10,8 ha.18 Di sebelah Barat, rumah sakit ini berbatasan dengan Sungai Batu Gingging yang juga merupakan batas alam dengan Desa Kelapa Satu, sebelah Utara hingga Timur dengan Dusun 2 dan Dusun 4 Desa Pisang Pala, dan sebelah Selatan dengan Dusun 5 Desa Pisang Pala. Jarak rumah sakit ini dengan Pekan Petumbukan hanya sekitar 500 meter, dengan ibu kota Kecamatan Galang sekitar 6 km, ke Lubuk Pakam ibu kota Kabupaten Deli Serdang sekitar 21 km, dan berjarak tempuh sekitar 45 km dari Medan ibu kota Provinsi Sumatera Utara.
Rumah sakit ini terletak tidak jauh dari jalan lintas Lubuk Pakam – Bangun Purba – Silindak – Seribu Dolok di kilometer 21, membelok ke arah timur dengan jarak sekitar 200 meter. Melalui jalan ini juga bisa menembus ke perkebunan Baturata dan Bagerpang, juga bisa melewati beberapa perkebunan, seperti Namu Rambe, Naga Timbul, dan Sungai Merah menuju arah Tanjung Morawa. Dengan demikian, Rumah Sakit Petumbukan bisa ditempuh dari Lubuk Pakam, Tanjung Morawa, Bangun Purba, Galang, dan beberapa wilayah perkebunan yang ada di sekitarnya.19 Sehingga tidak berlebihan sekiranya bila
18 Arsip milik OK. Dirhamsyah Tousa: Relaas Pemberitahuan Putusan Mahkamah Agung RI yang mengadili PT. Perkebunan Nusantara 3, Direktur/Pimpinan Rumah Sakit PT. Perkebunan 3, dan Menteri Pertanian Republik Indonesia.
19 Wawancara dengan Kanaya, Pisang Pala, 15 Oktober 2010.
29
Universitas Sumatera Utara

dikatakan rumah sakit ini memiliki posisi yang strategis, karena mudah diakses dari daerah mana pun di sekitarnya.
Rumah Sakit Petumbukan dikelilingi oleh beberapa desa yang ada di sekitarnya, di antaranya Pisang Pala, Petumbukan, Kelapa Satu, Petangguhan, Tanjung Siporkis, dan Sungei Karang yang berada di Kecamatan Galang, serta Ujung Rambe dan Sialang di Kecamatan Bangun Purba. Selain itu rumah sakit ini juga dikelilingi oleh banyak perkebunan, seperti Bagerpang, Bangun Purba, Tanjung Maria, Silindak, Baturata, Batu Gingging, Batu Lokong, Naga Timbul, Sungei Merah, Namu Rambe, Timbang Deli, Sungei Putih, Sungei Karang, Bandar Kwala, dan Sarang Giting.20 Perkebunanperkebunan yang disebutkan ini meliputi Perkebunan Negara (BUMN), Perkebunan Swasta Nasional, dan Perkebunan Swasta Asing. Perkebunan-perkebunan ini perlu disebutkan karena dulunya merupakan wilayah kerja dan pernah menggunakan jasa rumah sakit ini dalam pelayanan kesehatan para pekerjanya.
2.2 Awal Berdiri (1905 – 1913) Rumah Sakit Petumbukan didirikan tahun 1905 oleh sebuah yayasan yang
bernama Serdang Doctor Fonds. Itulah yang menjadi sebab awalnya rumah sakit ini disebut Serdang Doctor Fonds Hospitaal – Petoemboekan, atau Rumah Sakit Yayasan Dokter Serdang – Petoemboekan. Serdang Doctor Fonds sendiri adalah sebuah yayasan sosial atau pun organisasi yang merupakan wadah dari gabungan beberapa perkebunan. Berdasarkan keterangan yang didapat oleh penulis ada sekitar 26 perkebunan yang bergabung dalam yayasan ini.21 Perkebunan-perkebunan tersebut merupakan bagian dari
20 Wawancara dengan Zakaria Bono, Pisang Pala, 16 Oktober 2010. 21 Wawancara dengan Kanaya, Pisang Pala, 15 Oktober 2010.
30
Universitas Sumatera Utara

Rubber Cultuur Maatschappij Amsterdam (R.C.M.A), Perkebunan Harrison & Crossfield, dan Perkebunan SIPEF.
Meskipun sudah didirikan sejak tahun 1905, rumah sakit ini baru selesai dibangun dan rampung 8 tahun sesudahnya, yakni pada tahun 1913, dan juga baru mulai beroperasi di tahun yang sama. Pendirian rumah sakit ini awalnya dimaksudkan untuk melayani kesehatan dari para pekerja perkebunan, terutama buruh atau sering disebut kuli kontrak, yang ada di sekitarnya. Selain itu, secara tidak langsung berkaitan dengan kritik terhadap buruknya perhatian dan pelayanan terhadap para kuli di onderneming-onderneming di Sumatera Timur saat itu.22
Sehubungan dengan itu, beberapa onderneming, di antaranya Rubber Cultuur Maatschappij Amsterdam (kelak menjadi Perkebunan Sungei Karang), dan Harisson & Crossfield (kemudian menjadi PT. PP London Sumatra, Ltd.), SIPEF, dan Perkebunan Serdang Tengah bersepakat untuk membentuk sebuah yayasan. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisasi biaya kesehatan dan juga untuk efisiensi pembangunan sarana kesehatan karena letak antara ketiga perkebunan besar ini berdekatan jaraknya. Atas dasar itu didirikanlah sebuah yayasan yang merupakan cikal bakal Rumah Sakit Petumbukan.
Serdang Doctor Fonds Hospitaal – Petoemboekan didirikan di atas lahan milik seorang penguasa pribumi Kedatukan Petumbukan Urung Batak Timur yang merupakan bagian dari Kesultanan Serdang, bernama Orang Kaya (OK.) Tousa, yang terkadang disebut juga Datuk Tousa. Menurut ahli waris keluarga OK. Tousa, berdasarkan perjanjian, lahan tempat didirikannya rumah sakit ini sifatnya adalah pinjaman bukan
22 Jan Breman, Menjinakkan Sang Kuli: Politik Kolonial Pada Abad ke-20, Jakarta: Graffiti, 1997, hlm. 38-40.
31
Universitas Sumatera Utara

pembelian. Oleh karena itu, kepemilikan lahan masih berada di tangan ahli waris OK. Tousa, dan apabila rumah sakit ini sudah tidak beroperasi lagi maka lahan tersebut dikembalikan kepada keluarga ahli waris. Penggunaan lahan ini juga disertai dengan beberapa perjanjian lain, di antaranya yang terpenting adalah kompensasi berobat secara cuma-cuma kepada keluarga OK. Tousa selama rumah sakit ini masih beroperasi.23
Transaksi Jual Beli antara OK. Tousa dengan Serdang Doctor Fonds dilakukan pada tanggal 20 Maret 1913. OK. Tousa telah membuat perjanjian dengan Serdang Doctor Fonds mengenai pemakaian tanah seluas 6,5 ha untuk pendirian Rumah Sakit Petumbukan. Perjanjian ini dikenal dengan istilah “Verkaufs Vertrag”, perjanjian ditulis dalam bahasa Jerman dan bahasa Melayu. Penggunaan bahasa Jerman dalam perjanjian ini tidak diketahui secara pasti apa alasannya, namun dapat diambil kemungkinan karena Dokter pertama di rumah sakit ini adalah dr. Baermann, seorang warga negara Jerman.24 Selain perjanjian yang dibuat dalam bahasa Jerman tersebut ada juga sebuah perjanjian yang dibuat dalam bahasa Indonesia (Melayu). Isi dari perjanjian tersebut adalah sebagai berikut: “Datoe Orang kaja Taoesa Wakil dari Batak Timor dan dia poenja bini bini
sama anak boleh dapat selamanja obat dan Toelongan kaloe sakit dari Teoen Doctor jang ada di Petoemboekan.”25
Pada awal berdirinya, pimpinan dan tenaga medis di Rumah Sakit Petumbukan merupakan keturunan Eropa. Dokter pimpinan pertama di rumah sakit ini adalah dr.
23 Arsip milik OK. Ravii: Risalah Kronologis Sengketa Tanah ahli waris OK. Tousa, Periode 1913 s/d 24 September 1960 (Berlakunya UUPA).
24 Saat itu orang Jerman yang menjadi dokter pertama di Rumah Sakit Petumbukan karena memang bangsa Jerman menguasai ilmu kedokteran. Lagipula bangsa Jerman datang ke Hindia Belanda datang bukan untuk menjajah melainkan untuk tujuan kemanusiaan yang mungkin caranya tidak jauh berbeda dengan misionaris.
25 Arsip milik OK. Dirhamsyah Tousa: Surat Perjanjian tanggal 20 Maret 1913 antara OK. Tousa-Dulkahar dengan dr. Baermann, Central-Hospital Petoemboekan Postkantor Galang Sumatra’s Ostkust.
32
Universitas Sumatera Utara

Baermann yang berkebangsaan Jerman. Tenaga medis lainnya pun masih diisi oleh orang-orang Eropa, baik perawat, mantri, bidan, dokter gigi, dan lain sebagainya. Jadi belum ada orang pribumi yang bertugas di rumah sakit ini, baik bagian medis (perawatan) maupun bagian umumnya.26
Pada awal berdiri, fasilitas yang ada di rumah sakit ini masih sedikit sekali. Bangunan-bangunan tersebut, di antaranya Rumah Dokter, Rumah Dobi, dan Bangunan Rumah Sakit Utama yang konstruksi bangunan dan lanskapnya bergaya Eropa.27 Pada saat itu kompleks Rumah Sakit Petumbukan masih tanah kosong yang lahannya cukup luas. Selain itu banyak sekali semak belukar dan cukup banyak juga hamparan kebun kelapa di sekelilingnya.28
Sumber Daya Manusia di rumah sakit ini seperti dokter, perawat, mantri, dan tenaga medis lainnya saat itu masih sedikit dan terbatas. Hanya sedikit penduduk pribumi yang dilibatkan untuk bekerja di rumah sakit ini, karena memang saat itu penduduk pribumi belum dibekali ilmu pengetahuan maupun keterampilan yang cukup. Bagian Umum diisi oleh orang pribumi yang merupakan warga sekitar Rumah Sakit Petumbukan. Pekerja-pekerja di rumah sakit ini lebih didominasi oleh warga-warga berkebangsaan Eropa, baik orang-orang Jerman, Belanda, Belgia dan lain-lain. Ada juga sebagian kecil orang-orang berkebangsaan Cina yang turut bertugas di rumah sakit ini.29
Pelayanan di Rumah Sakit Petumbukan saat itu sudah cukup baik. Banyak dari tenaga medis seperti dokter, perawat, bidan, mantri, dan lain