Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Produksi Ateng (Studi Kasus Kabupaten Dairi)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS EKONOMI
MEDAN

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
TINGKAT PRODUKSI KOPI ATENG
(STUDI KASUS KABUPATEN DAIRI)

Skripsi

Diajukan Oleh:
RASIDAH ANGKAT
060501070
Ekonomi Pembangunan

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Medan
2010

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

This research is entitled “Determinant Analyze of Ateng Coffee
Production (A Case Study: Kabupaten Dairi)”. The objective is to find out
how the progress of productivity of ateng coffee in Kabupaten Dairi and the effect
of wide of farm, the fertilizer usage, and labour variables. The data of this
research are Primer Data, which are gained from the farmer society of ateng
coffee in kabupaten Dairi by doing observation and interview by using questions
list.
In analyzing the effects of independent variables towards dependent
variables is used econometric model by regressing all variables by using Ordinary
Least Square Method. The regression result shows that the variable of the wide of
farm has positive effect and is statistically significant toward the ateng coffee
production, fertilizer usage has positive effect and is statistically significant
toward the ateng coffee production, ang labor has positive effect but not
significant by statistically toward the ateng production in Kabupaten Dairi.
The coefficient determining (R²) test result shows that the variables of the
ateng coffee production as dependent variable can be explained by the
independent variables, wide of farms, the fertilizer usage, and labour for 71,14%
and the rest 28,86 % is explained by the other variables out of the estimation
model. The overall tests use F where F sums (35,34 %) > F table (2,81) which
means that the variables of the wide of farms, the fertilizer usage, and labour are
significantly effective towards the ateng coffee production. The deviation test
with classic assumption uses the multicollinearity and the heterocedasticity tests.
These tests show that there is not any deviation towards classic assumption.

Keywords: The production of ateng coffee, the wide of farm, the fertilizer
usage, and labour variables.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Tingkat Produksi Kopi Ateng (Studi Kasus Kabupaten Dairi)”. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tingkat produksi kopi ateng di
kabupaten Dairi dan untuk mengetahui bagaimana pengaruh luas lahan,
pengeluaran pupuk, dan tenaga kerja terhadap tingkat produksi kopi ateng di
kabupaten Dairi. Data yang digunakan adalah data primer yaitu data yang
diperoleh dari masyarakat petani yang memiliki usaha perkebunan rakyat kopi
ateng di kabupaten Dairi melalui observasi dan wawancara langsung dengan
mennggunakan daftar pertanyaan (kuisioner).
Dalam menganalisis besarnya pengaruh variabel-variabel bebas terhadap
variabel terikat digunakan model ekonometrika dengan meregresikan variabelvariabel yang ada dengan menggunakan metode kuadrat terkecil (Ordinary least
Square). Dari hasil regresi, variabel luas lahan berpengaruh positif dan signifikan
secara statistik terhadap tingkat produksi kopi ateng,variabel pengeluaran pupuk
berpengaruh positif dan signifikan secara statistik terhadap tingkat produksi kopi
ateng, dan variabel tenaga kerja berpengaruh positif namun tidak signifikan secara
statistik terhadap tingkat produksi kopi ateng.
Hasil uji koefisien determinasi (R²) menunjukkan bahwa variabel tingkat
produksi kopi ateng sebagai variabel dependen mampu dijelaskan oleh variabelvariabel independen yaitu luas lahan, pengeluaran pupuk, dan tenaga kerja sebesar
71,14 %, sedangkan sisanya sebesar 28,86 % dijelaskan oleh variabel lain yang
tidak diikutsertakan ke dalam model estimasi. Pengujian secara keseluruhan
menggunakan uji F dimana F.hitung (35,34) > F.tabel (2.81), artinya variabel luas
lahan, pengeluaran pupuk, dan jumlah tenaga kerja secara serentak berpengaruh
secara signifikan terhadap tingkat produksi kopi ateng. Uji penyimpangan asumsi
klasik menggunakan uji multikolinearitas dan uji heteroskedastisitas, dari uji
tersebut dalam penelitian ini tidak terdapat penyimpangan asumsi klasik.

Kata Kunci: Pertanian, luas lahan, pengeluaran pupuk, tenaga kerja, tingkat
produksi kopi ateng

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
segala puji dan syukur bagiNya, atas nikmat sehat serta hidayahNya sehingga
Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sesuai dengan yang diharapkan.
Adapun maksud dari penyusunan skripsi ini adalah untuk melengkapi syarat
selesainya studi jenjang Strata 1 (S1) di Fakultas Ekonomi Departemen Ekonomi
Pembangunan Universitas Sumatera Utara. Selain itu skripsi ini merupakan
laporan tugas akhir dari penelitian yang dilakukan Penulis mengenai ”Analisis
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Produksi Ateng (Studi Kasus
Kabupaten Dairi)”.
Pada kesempatan ini, tidak lupa Penulis mengucapkan terima kasih yang
tiada terhingga kepada :
1. Kedua orangtuaku tercinta, Mamak dan Ayah yang telah memberikan
kasih sayang yang begitu melimpah kepada Penulis, dukungan moril dan
materil serta doa dan semangat yang luar biasa sehingga skripsi ini bisa
diselesaikan. Terimakasih yang tiada terhingga mak, yah. I love both of
you.
2. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, MEc selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, MEc selaku Ketua Departemen Ekonomi
Pembangunan Universitas Sumatera Utara, Dosen Wali sekaligus Dosen
Pembimbing Skripsi, yang dengan bijak dan sabar telah memberikan
bimbingan, petunjuk dan saran yang sangat berharga kepada Penulis sejak
memulai penelitian ini hingga selesainya skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara

4. Bapak Paidi Hidayat, SE, MSi selaku Dosen Penguji I dan ibu Inggrita
Gusti Sari, M.Si selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan saransaran kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Seluruh staf pengajar dan staf administrasi Fakultas Ekonomi Universitas
Sumatera

Utara

khususnya

Departemen

Ekonomi

Pembangunan

Universitas Sumatera Utara, k’Leni, bg Sugi, dan bg Heri.
6. Seluruh petani kopi ateng di kabupaten Dairi selaku responden dalam
penelitian ini yang telah bersedia meluangkan waktu kepada Penulis untuk
memberikan informasi-informasi bagi penulis dalam melakukan penelitian
skripsi ini.
7. Keluarga besarku yang telah memberikan semangat serta dorongan yang
begitu besar, kakakQ Sri Wiridiyati Angkat, S.Pd dan Junita Angkat, bg
Wira Sumitro Manik, S.Pd, terimakasih untuk doa dan semangatnya, adikadik ku, Ahmad Syafii Angkat, Lilis Suganda Angkat, Susi Susanti
Angkat, Mahmud Azis Angkat,Fitri Ramadhani Angkat, dan pudanku
Mukhtar Efendi Angkat.
8. Buat sahabatku Tinen (Lisnawati Tinendung), terimakasih untuk
cerewetnya, dan semua kebersamaan sejak petama kali kuliah hingga saat
ini, dan dukungan yang telah diberikan, Nda dan Sari, thanks for all
friendship we ever had.
9. Sahabat-sahabatku seperjuangan di EP’06, tempat berbagi suka dan duka,
Fani, Wati, Dosma,Chery, Asni, Ririn, terimakasih tuk semuanya, untuk
semua kebaikan yang telah diberikan kepada Penulis, untuk pelajaran yang
berharga akan pentingnya arti berbagi dan mengesampingkan keegoan,
dan untuk persahabatan yang telah terjalin selama kita kuliah, semoga
persahabatan kita takkan pernah putus. Tuk Alin, thanks untuk
kebersamaan dan pengalaman selama bekerja
10. Thanks so much untuk DidaQ yang telah memberikan kasih sayang, doa
dan semangat yang begitu besar kepada Penulis. Aishiteru Kanda ^_^.
Terimakasih untuk kebersamaan yang telah kita lalui. Hope we will keep it
well.4 ever.

Universitas Sumatera Utara

11. Buat Ikrami Angkat dan Bg Khairil Berampu yang telah banyak
membantu Penulis dalam melakukan penelitian skripsi ini, makasih
banyak ya untuk waktu yang telah diluangkan.
12. Untuk teman-teman di EP 06, Echy (Yessi), Prieska, Wirda, Yeni, Titah,
thanks untuk semua ketawa/i nya. Buat teman-teman se perjuangan di
Ekonometrika, Waty, Fany, Chery (Again), Jhonson, Irwin, Arisandy,
Andreas, Azmal, n Rahmad, thanks untuk semua kerjasama dan
kebersamaan selama mengikuti mata kuliah Pengantar Metrik, dan semua
keluarga besar EP yang tidak dapat disebutkan satu persatu terutama
stambuk 2006.
Semoga jasa dan amal baik semua pihak mendapatkan balasan dari Allah
SWT. Amin.
Penulis sangat sadar bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Akhir
kata, Penulis berharap penelitian ini dapat memberikan sumbangan pengetahuan
yang bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Medan, 12 Maret 2010

Penulis

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

ABSTRACT ......................................................................................................... . i
ABSTRAK..............................................................................................................ii
KATA PENGANTAR…………………….....………………………….............iii
DAFTAR ISI…………………………………………..........................................v
DAFTAR TABEL.............................................................................................. viii
DAFTARGAMBAR..............................................................................................ix
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

..................................................................................1

1.2 Perumusan Masalah

............................ .........................................6

1.3 Hipotesis ..............................................................................................6
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian ..........................................................7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Usaha Tani dan Pertanian
2.1.1 Usaha Tani

............................................ 9

.................................................................... 9

2.1.2 Pengertian Pertanian ........................................................ 9
2.1.3 Pertanian Indonesia

...................................................... 10

2.1.4 Pembagian Bidang-Bidang Pertanian ...............................11
2.2 Pembangunan Pertanian .................................................................. 12
2.3 Produksi Usaha Tani dan Faktor Produksi
2.4 Pengertian Produksi

...............................13

.................................................................. 14

2.5 Fungsi Produksi .............................................................................. 15
2.5.1

Fungsi Produksi Cobb Douglas

2.5.2

Teori Produksi

...............................16

...................................................... 20

Universitas Sumatera Utara

2.6 Hasil Produksi dan Biaya Produksi

...........................................25

2.6.1

Efisiensi Usaha Tani .......................................................25

2.6.2

Biaya produksi

.......................................................25

2.7 Sejarah Perkebunan Kopi di Indonesia ...........................................27
2.7.1

Perkembangan Kopi Arabika di Indonesia

...................27

2.7.2

Morfologi Tanaman Arabika (Ateng).

...................30

2.7.3

Syarat Tumbuh Tanaman Kopi

2.7.4

Potensi Kopi Arabika di Kabupaten Dairi.........................37

2.8 Hasil Penelitian Terdahulu

...............................34

......................................................40

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Ruang Lingkup Penelitian

......................................... 42

3.2 Jenis dan Sumber Data

..........................................42

3.3 Teknik Pengumpulan Data

..........................................43

3.4 Populasi dan Sampel

..........................................43

3.4.1 Populasi

......................................... 43

3.4.2 Sampel

......................................... 44

3.5 Teknik Analisis Data......................................................................... 44
3.5.1 Pengolahan Data................................................................. 44
3.5.2 Model Analisis Data........................................................... 44
3.6 Test of Goodness of Fit (Uji Kesesuaian)........................................ 46
3.6.1

Koefisien Determinasi (R-Squared)................................ 46

3.6.2

Uji t-statistik.................................................................... 48

Universitas Sumatera Utara

3.6.3

Uji f-statistik.................................................................... 48

3.7 Uji Asumsi Klasik............................................................................. 49
3.7.1

Multikolinearitas................................................................. 49

3.8.2

Heteroskedastisitas............................................................. 50

3.8 Defenisi Operasional.........................................................................51
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Daerah Penelitian

........................................ 52

4.1.1

Kondisi Geografis

........................................ 52

4.1.2

Iklim

........................................ 53

4.1.3

Demografis

........................................ 54

4.1.4

Keadaan Mata Pencaharian dan Potensi Wilayah.............. 55

4.1.5

Sarana Ekonomi dan Sosial................................................ 56

4.2 Karakteristik Responden

..........................................56

4.3 Karakteristik Kopi Ateng Kabupaten Dairi

............................. 59

4.4 Aspek Sosial : Kesejahteraan Petani Kopi Ateng ............................. 62
4.5 Produksi Kopi Ateng di Kabupaten Dairi........................................ 68
4.5.1

Analisis Luas Lahan terhadap Kesejahteraan Petani ........ 63

4.5.2

Analisis Tingkat Produksi terhadap Kesejahteraan Petani.65

4.6 Analisis Hasil Regresi

................................................................ 71

4.6.1

Interpretasi Model

................................................... 72

4.5.3

Uji Penyimpangan Asumsi Klasik..................................... 73

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

........................................................................... 79

.......................................................................................... 80

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

No. Tabel

Judul

Halaman

2.1

Perkembangan Luas Pertanaman Kopi di Indonesia ………… 29

2.2

Data Potensi Lahan Produksi Kopi Ateng Per Kecamatan

4.1

Luas Wilayah Menurut Kecamatan Tahun 2009

4.2

Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Tiap Kecamatan
Tahun 2008

… 40

………… 54

………………………………………………… 56

4.3

Penggolongan Umur Responden

………………………… 57

4.4

Penggolongan Jumlah Tanggungan Responden ........................ 57

4.4

Penggolongan Tingkat Pendidikan Responden

4.5

Penggolongan Luas Lahan Responden

………………… 58

4.6

Luas Lahan Kopi Ateng 50 Responden

………………… 60

4.7

Tingkat Produksi Kopi Ateng 50 responden ………………… 60

4.8

Luas Lahan Produksi Kopi Ateng per Kecamatan tahun 2007... 62

……….... 58

4.9
4.9

Hasil Regresi Tingkat Produksi Kopi Ateng ………………… 72

4.10

Hasil Regresi Uji Multikolineritas

………………………… 77

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar

Judul

Halaman

2.1

Kurva Isoquant Fungsi Produksi Cobb-Douglas

............ 30

2.2

Hubungan Tenaga Kerja dengan Jumlah Produksi

……… 32

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

This research is entitled “Determinant Analyze of Ateng Coffee
Production (A Case Study: Kabupaten Dairi)”. The objective is to find out
how the progress of productivity of ateng coffee in Kabupaten Dairi and the effect
of wide of farm, the fertilizer usage, and labour variables. The data of this
research are Primer Data, which are gained from the farmer society of ateng
coffee in kabupaten Dairi by doing observation and interview by using questions
list.
In analyzing the effects of independent variables towards dependent
variables is used econometric model by regressing all variables by using Ordinary
Least Square Method. The regression result shows that the variable of the wide of
farm has positive effect and is statistically significant toward the ateng coffee
production, fertilizer usage has positive effect and is statistically significant
toward the ateng coffee production, ang labor has positive effect but not
significant by statistically toward the ateng production in Kabupaten Dairi.
The coefficient determining (R²) test result shows that the variables of the
ateng coffee production as dependent variable can be explained by the
independent variables, wide of farms, the fertilizer usage, and labour for 71,14%
and the rest 28,86 % is explained by the other variables out of the estimation
model. The overall tests use F where F sums (35,34 %) > F table (2,81) which
means that the variables of the wide of farms, the fertilizer usage, and labour are
significantly effective towards the ateng coffee production. The deviation test
with classic assumption uses the multicollinearity and the heterocedasticity tests.
These tests show that there is not any deviation towards classic assumption.

Keywords: The production of ateng coffee, the wide of farm, the fertilizer
usage, and labour variables.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Tingkat Produksi Kopi Ateng (Studi Kasus Kabupaten Dairi)”. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tingkat produksi kopi ateng di
kabupaten Dairi dan untuk mengetahui bagaimana pengaruh luas lahan,
pengeluaran pupuk, dan tenaga kerja terhadap tingkat produksi kopi ateng di
kabupaten Dairi. Data yang digunakan adalah data primer yaitu data yang
diperoleh dari masyarakat petani yang memiliki usaha perkebunan rakyat kopi
ateng di kabupaten Dairi melalui observasi dan wawancara langsung dengan
mennggunakan daftar pertanyaan (kuisioner).
Dalam menganalisis besarnya pengaruh variabel-variabel bebas terhadap
variabel terikat digunakan model ekonometrika dengan meregresikan variabelvariabel yang ada dengan menggunakan metode kuadrat terkecil (Ordinary least
Square). Dari hasil regresi, variabel luas lahan berpengaruh positif dan signifikan
secara statistik terhadap tingkat produksi kopi ateng,variabel pengeluaran pupuk
berpengaruh positif dan signifikan secara statistik terhadap tingkat produksi kopi
ateng, dan variabel tenaga kerja berpengaruh positif namun tidak signifikan secara
statistik terhadap tingkat produksi kopi ateng.
Hasil uji koefisien determinasi (R²) menunjukkan bahwa variabel tingkat
produksi kopi ateng sebagai variabel dependen mampu dijelaskan oleh variabelvariabel independen yaitu luas lahan, pengeluaran pupuk, dan tenaga kerja sebesar
71,14 %, sedangkan sisanya sebesar 28,86 % dijelaskan oleh variabel lain yang
tidak diikutsertakan ke dalam model estimasi. Pengujian secara keseluruhan
menggunakan uji F dimana F.hitung (35,34) > F.tabel (2.81), artinya variabel luas
lahan, pengeluaran pupuk, dan jumlah tenaga kerja secara serentak berpengaruh
secara signifikan terhadap tingkat produksi kopi ateng. Uji penyimpangan asumsi
klasik menggunakan uji multikolinearitas dan uji heteroskedastisitas, dari uji
tersebut dalam penelitian ini tidak terdapat penyimpangan asumsi klasik.

Kata Kunci: Pertanian, luas lahan, pengeluaran pupuk, tenaga kerja, tingkat
produksi kopi ateng

Universitas Sumatera Utara

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sektor pertanian merupakan sektor yang diandalkan dalam pemulihan
perekonomian nasional. Sektor ini menopang sebagian besar perekonomian
penduduknya melalui penyediaan pangan dan juga memberikan lapangan
pekerjaan. Hal ini disebabkan negara kita merupakan negara agraris sehingga
peran sektor pertanian masih merupakan sektor yang memberikan kontribusi yang
cukup besar bagi pembentukan PDB (kedua setelah sektor Industri), yaitu sebesar
Rp.547.223,60 Milyar atau 13,83% dari total PDB (BPS: 2007).
Sumatera Utara juga menunjukkan kondisi yang tidak jauh berbeda.
Sebagian besar kabupaten-kabupaten di Sumatera Utara juga masih mengandalkan
sektor pertanian. Hal ini dapat dilihat dari peranan sektor pertanian yang
memberikan kontribusi cukup besar bagi PDRB Sumut, yaitu 22,84 % pada tahun
2008, mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya 22,56% (BPS: 2008)
Kabupaten Dairi merupakan salah satu dari beberapa wilayah Sumatera
Utara yang masih mengandalkan peranan sektor pertanian, (terutama pertanian
pangan dan perkebunan rakyat seperti kopi,nilam,karet,dan coklat). Wajar saja
mengingat sekitar 90 persen dari 268.780 jiwa penduduk kabupaten Dairi

Universitas Sumatera Utara

mencari nafkah di sektor ini (BPS: 2008). Hal ini disebabkan

kondisi

geografisnya yang memang sangat mendukung bagi sektor tersebut. Hal ini
ditunjukkan pada PDRB kabupaten Dairi pada tahun 2007 dimana kontribusi
sektor pertanian menyumbang terbesar di antara 9 lapangan usaha lainnya, yaitu
sebesar 63,11% dari total PDRB (BPS: 2007). .

Kopi ateng sudah dikenal di kalangan petani sejak tahun 1990. namun
karena pasar tidak menjanjikan akibat murahnya harga, kopi ateng tidak
dibudidayakan dengan baik dan banyak yang diganti dengan kopi robusta yang
pada saat itu cukup terkenal dan menjanjikan di pasar perdagangan ekspor. Harga
ateng juga saat itu sangat murah jika dibandingkan dengan kopi robusta yang
harganya mencapai 2 kali lipat dari harga kopi ateng.

Sudah beberapa abad lamanya, kopi menjadi bahan perdagangan, Dalam
kancah perkopian nasional bahkan internasional, predikat Kopi Sidikalang pernah
mencapai masa keemasan. Kopi Sidikalang yang dimaksud adalah kopi robusta.
Tapi, kini kopi robusta nyaris hilang dari pasar perdagangan kopi akibat
menurunnya kualitas akibat pengoplosan yang dilakukan oleh oknum tertentu
yakni mencampur kopi dengan bahan lain sehingga cita rasa kopi tidak sebagus
dulu. Hal ini mengakibatkan turunnya permintaan terhadap kopi Sidikalang,
sehingga harga kopi robusta turun drastis. Akibatnya, sekitar tahun 2000, banyak
petani beralih ke tanaman kopi jenis arabika yang lebih menguntungkan yang
harganya mulai naik sejalan dengan turunnya harga kopi jenis robusta. Kopi
arabika disebut kopi ateng karena batang kopi itu sendiri yang pendek, tidak

Universitas Sumatera Utara

seperti lazimnya kopi robusta yang batangnya bisa jauh lebih tinggi daripada kopi
ateng tersebut.

Peralihan dari robusta ke arabika sejak tahun 2000 sudah mulai meluas di
kalangan petani kopi Dairi. Menurut beberapa petani dan kalangan pengusaha,
peralihan itu terjadi karena robusta tak lagi mampu mengangkat martabat mereka,
singkatnya secara ekonomis tidak menguntungkan lagi. Kopi arabika (selanjutnya
disebut sebagai kopi Ateng), merupakan komoditi baru bagi Dairi.

Di kalangan petani Dairi kopi ateng ini sering juga disebut kopi “si garar
utang”(si bayar utang). Pemberian nama ini dapat dikatakan merupakan cerminan
kebiasaan petani kopi yang menunggu hasil kopi atengnya untuk membayar
utang.

Memang, kopi ateng lebih cepat berbuah setelah ditanam, hanya sekitar
2,5 tahun. Setelah itu petani dapat memetik hasilnya untuk waktu yang tidak
singkat, yang buahnya bisa dipetik secara rutin, yaitu sekali dalam dua minggu
selama 9-10 bulan. Proses penjualannya pun tergolong mudah. Setelah bijinya
memerah alias menua dan sudah dapat dipetik, kulit kopi kemudian dibuang
dengan menggunakan mesin pemintal. Setelah itu dijemur cukup dalam sehari
kemudian dapat dijual. Namun demikian, penanaman kopi ateng juga harus
menggunakan pupuk dan pestisida mengingat jenis tanaman ini tergolong rentan
dengan hama tanaman yang sewaktu-waktu datang menyerang.(Dairi Pers, 7
Maret 2007).

Universitas Sumatera Utara

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Dairi terlihat pergeseran
luas lahan produksi dan jumlah volume produksi yang drastis. Tercatat bahwa
pada tahun 1996 produksi kopi jenis robusta mencapai sekitar 7.941 ton dengan
luas lahan 16.524 hektar. Sangat berbeda halnya dengan kopi jenis arabika yang
jumlah produksinya masih hanya sekitar 1.061 ton dengan luas lahan 3.103 hektar

Angka produksi itu kemudian perlahan mulai bergeser pada tahun 2003.
Terlihat angka yang mencolok. Tercatat bahwa pada tahun 2003 jumlah produksi
kopi arabika meningkat menjadi 9.442 ton dengan luas lahan produksi 9.373
hektar, sedang kopi robusta 6.790 ton dengan luas lahan 12.702 hektar.

Angka produksi itu kemudian mulai bergeser signifikan ke tahun-tahun
berikutnya hingga berdasarkan data BPS kabupaten Dairi 2006, produksi ateng
drastis naik hingga mampu mengimbangi Robusta. Tercatat jumlah produksi kopi
jenis Ateng naik drastis menjadi sekitar 7.698 ton dengan luas lahan “hanya”
9.846 hektar.

Jumlah ini terus bergeser,hingga berdasarkan pendataan BPS pada tahun
2008, bahwa pada tahun 2007 dengan luas lahan 9.997 Ha mampu menghasilkan
8.945,2 ton kopi ateng, yang berarti rata-rata panen tiap hektar lahan kebun kopi
ateng sebesar 895 kg pertahun. Kabupaten Dairi merupakan produsen kopi ateng
terbesar di Sumatera Utara, yaitu menyumbang sebesar 21,6% dari total produksi
kopi ateng di Sumatera Utara (BPS: 2008).

Berdasarkan perkembangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa usaha
perkebunan rakyat, terutama kopi jenis ateng cukup menjanjikan mengingat kopi

Universitas Sumatera Utara

merupakan salah satu komoditi penting, tidak hanya dalam perdagangan
domestik, tetapi juga internasional. Setiap tahun, terjadi peningkatan luas lahan
perkebunan kopi ateng dan produksi kopi ateng serta yang tentu saja akan menarik
lebih banyak tenaga kerja untuk mengolah lahan, menanam, merawat, hingga
memanen kopi ateng. Kopi ateng memiliki prospek yang cukup menjanjikan
untuk meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat petani khususnya petani
kopi ateng melihat kondisi perdagangan internasional yang menunjukkan masih
tingginya permintaan ekspor kopi terutama jenis Ateng hingga saat ini. Namun
kopi arabika hanya 5 % dari produksi total kopi, sehingga kopi jenis ini masih
mempunyai peluang yang tinggi, karena kurang lebih 70 % permintaan kopi
duinia adalah untuk Arabika.

Tingginya permintaan ekspor kopi ateng seharusnya dapat meningkatkan
kesejahteraan petani, namun pada kenyataannya tingginya permintaan kopi ateng
di pasar internasional, tidak diikuti dengan kesejahteraan petani kopi ateng di
kabupaten Dairi. Masyarakat petani sebagian besar masih jauh dari kategori
sejahtera. Hal ini disebabkan harga kopi ateng saat ini masih belum stabil,
langkanya pupuk, dan berbagai kendala lain. Bahkan tidak jarang biaya produksi
lebih besar dari pendapatan petani. kondisi ini terjadi pada rata-rata petani kopi
ateng di Dairi.

Dengan latar belakang tersebut, perlu diteliti lebih mendalam mengenai
“Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Produksi Kopi Ateng (Studi
Kasus Kabupaten Dairi).

Universitas Sumatera Utara

1.2 Perumusan Masalah

Untuk menentukan perumusan masalah terhadap latar belakang penulisan
skripsi ini, penulis membatasi aspek kajian yang akan dianalisis. Untuk analisis
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Produksi Kopi Ateng (Studi Kasus
Kabupaten Dairi), dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain luas lahan,
pengluaran pupuk, dan tenaga kerja. Dengan pembatasan perumusan masalah ini
maka aspek yang akan dikaji dalam penulisan skripsi ini adalah :
1. Bagaimana pengaruh luas lahan terhadap tingkat produksi kopi ateng di
kabupaten Dairi?
2. Bagaimana pengaruh pengeluaran pupuk terhadap tingkat produksi kopi
ateng di kabupaten Dairi?
3. Bagaimana pengaruh jumlah tenaga kerja terhadap tingkat produksi kopi
ateng di kabupaten Dairi?
1.3 Hipotesis

Universitas Sumatera Utara

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang
kebenarannya masih harus diuji secara empiris dalam penelitian. Berdasarkan
perumusan masalah di atas, maka hipotesis yang diperoleh adalah :
1. Luas lahan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat
produksi kopi ateng di kabupaten Dairi, ceteris paribus.
2. Pengeluaran pupuk memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap
tingkat produksi kopi ateng di kabupaten Dairi, ceteris paribus.
3. Jumlah tenaga kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap
tingkat produksi kopi ateng di kabupaten Dairi, ceteris paribus.
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui berapa besar pengaruh luas lahan terhadap tingkat
produksi kopi ateng di kabupaten Dairi.
2. Untuk mengetahui berapa besar pengaruh pengeluaran pupuk terhadap
tingkat produksi kopi ateng di kabupaten Dairi.
3. Untuk mengetahui berapa besar pengaruh jumlah tenaga kerja terhadap
tingkat produksi kopi ateng di kabupaten Dairi.
4. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan usaha perkebunan rakyat,
dalam hal ini kopi ateng di kabupaten Dairi.
5. Untuk mengetahui bagaimana kesejahteraan petani kopi ateng di
kabupaten Dairi.

Universitas Sumatera Utara

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah sumbangan ilmu
pengetahuan ekonomi khususnya di bidang ekonomi pertanian.
2. Sebagai bahan literatur atau referensi dalam melakukan penelitianpenelitiaan di bidang ekonomi yang terkait dengan permasalahan yang
sama.
3. Sebagai sumber informasi bagi masyarakat, khususnya masyarakat petani
untuk mengetahui permasalahan serta penyelesaiannya.
4. Sebagai bahan masukan bagi para pengambil keputusan di masa yang akan
datang.
5. Sebagai penambah wawasan bagi si peneliti.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Usaha Tani dan Pertanian

2.1.1 Usaha Tani

Usaha tani adalah himpunan dari sumber-sumber alam yang terdapat di
tempat itu yang diperlukan untuk produksi pertanian seperti tubuh tanah dan air,
perbaikan-perbaikan yang dilakukan di atas tanah itu, sinar matahari, bangunanbangunan yang didirikan di atas tanah tersebut dan sebagainya.(A.T.Mosher,
1968: hal 57). Usaha tani dapat berupa bercocok tanam atau memelihara ternak.

2.1.2 Pengertian Pertanian

Universitas Sumatera Utara

Pertanian adalah suatu proses produksi khas yang didasarkan atas proses
pertumbuhan tanaman dan hewan para petani pengatur dan menggiatkan
pertumbuhan tanaman dan hewan itu.

Pertanian menurut Kaslan A tohir :

“ Pertanian adalah suatu usaha yang meliputi bidang-bidang seperti bercocok
tanam (pertanian dalam arti sempit), perikanan, peternakan, perkebunan,
kehutanan, pengelolaan hasil bumi dan pemasaran hasil bumi (pertanian dalam
arti luas). Dimana zat – zat atau bahan – bahan anorganis dengan bantuan
tumbuhan dan hewan yang bersifat reproduktif dan usaha pelestariannya “

Sedangkan menurut Mubyarto, definisi ilmu ekonomi pertanian adalah
sebagai berikut :

“ Ilmu ekonomi pertanian adalah termasuk dalam kelompok ilmu – ilmu
kemasyarakatan yaitu ilmu yang mempelajari perilaku dan upaya serta
hubungannya antarmanusia. Dalam hal ini yang dipelajari adalah perilaku petani
dalam kehidupan pertaniannya, dan mencakup juga persoalan ekonomi lainnya
yang langsung berhubungan dengan produksi, pemasaran, dan konsumsi petani
atau kelompok petani.”

2.1.3 Pertanian Indonesia

Pertanian Indonesia adalah pertanian tropika, karena sebagian besar
daerahnya berada

di daerah tropik yang langsung dipengaruhi oleh garis

khatulistiwa yang memotong Indonesia hampir menjadi dua. Di samping

Universitas Sumatera Utara

pengaruh khatulistiwa, ada dua faktor alam lainnya yang ikut memberi corak
pertanian Indonesia. Pertama, bentuknya sebagai kepulauan, dan kedua,
topografinya yang bergunung-gunung. Dalam hubungan ini letaknya di antara dua
lautan besar, yaitu lautan Indonesia dan lautan Pasifik serta dua benua yaitu benua
Asia dan benua Australia, juga ikut mempengaruhi iklim Indonesia, terutama
perubahan arah angin dari daerah tekanan tinggi ke daerah tekanan rendah.
Bentuk tanah yang bergunung-gunung memungkinkan adanya variasi suhu udara
yang berbeda-beda pada suatu daerah tertentu. Pada daerah pegunungan yang
makin tinggi, pengaruh iklim tropik makin berkurang dan digantikan oleh
semacam iklim subtropik (setengah panas) dan iklim setengah dingin.

Pada kenyataannya, tanaman-tanaman pertanian iklim subtropik dan
tanaman iklim sedang seperti teh, kopi, kina,sayur-sayuran dan buah-buahan
menjadi komoditi penting dalam perdagangan domestik maupun internasional.
Hal itu disebabkan iklim yang mendukung serta penduduk yang sebagian besar
masih bermata pencaharian di sektor pertanian.

2.1.4 Pembagian Bidang-Bidang Pertanian

Pertanian dalam arti luas dan sempit.

Pertanian rakyat yaitu usaha pertanian keluarga dimana diproduksi bahan
makanan utama seperti beras, palawija (jagung, kacang-kacangan dan ubi-ubian)
dan tanaman-tanaman holtikultura yaitu sayur-sayuran dan buah-buahan.
Pertanian rakyat diusahakan di tanah, tanah sawah, ladang, dan pekarangan.
Walaupun tujuan penggunaan hasil-hasil tanaman ini tidak merupakan kriteria,

Universitas Sumatera Utara

namun sebagian besar pada umumnya hasil pertanian rakyat adalah untuk
keperluan konsumsi keluarga.

Pertanian dalam arti luas mencakup :




Pertanian rakyat atau disebut pertanian sempit
Perkebunan (termasuk di dalamnya perkebunan rakyat dan perkebunan
besar)







Kehutanan
Peternakan, dan
Perikanan (perikanan darat dan laut)

2.2 Pembangunan Pertanian

Banyak hal yang harus kita lakukan dalam mengembangkan pertanian
pada masa yang akan datang. Kesejahteraan petani dan keluarganya merupakan
tujuan utama yang harus menjadi prioritas dalam melakukan program apapun.
Mulai april 1969 kita melaksanakan Repelita yang titik beratnya adalah pada
pembangunan sektor pertanian.

Pembangunan adalah penciptaan sistem dan tata nilai yang lebih baik
hingga terjadi keadilan dan tingkat kesejahteraan yang tinggi. Sistem tersebut
harus berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan, dan desentralistik. Berdaya
saing berarti pertanian pertanian dapat kita sejajarkan dengan produk pertanian
Negara lain, baik jumlah maupun kualitasnya. Berkerakyatan berarti setiap usaha
pembangunan pertanian harus mengikutkan petani supaya semakin berdaya
sebagai subjek pembangunan. Berkelanjutan berarti pembangunan pertanian harus

Universitas Sumatera Utara

memberikan jaminan bagi keberlangsungan pertanian. Sementara desentralisasi
mengandung arti bahwa pembangunan pertanian harus berdasarkan keinginan
petani, sesuai dengan kebutuhannya dan sangat menghargai budaya lokal.

Program pembangunan pertanian pada hakikatnya adalah serangkaian
upaya untuk memfasilitasi, melayani, dan mendorong berkembangnya sistem
pertanian dan usaha usaha pertanian yang berdaya saing, berkerakyatan, dan
berkelanjutan. Program pembangunan pertanian di arahkan kepada pencapaian
tujuan pembangunan pertanian jangka panjang, yaitu sektor pertanian sebagai
andalan pembangunan nasional. Ketangguhan perekonomian nasional dengan
basis agraris sebagaimana Indonesia tidak ada pilihan lain kecuali meningkatkan
ketangguhan sektor pertanian. Relevan sekali apabila visi, misi, tujuan, dan
strategi pembangunan pertanian adalah untuk meningkatkan kesejateraan
masyarakat pertanian dalam mendukung perekonomian nasional (Hanani, dkk,
2003: 75)

2.3 Produksi Usaha Tani dan Faktor Produksi

Faktor produksi adalah input yang digunakan untuk menghasilkan barangbarang dan jasa (Teddy herlambang, 2001: hal 30), atau dalam hal ini, pengertian
faktor produksi adalah semua pengorbanan yang diberikan tanaman agar tanaman
tersebut mampu tumbuh dan menghasilkan produk pertanian yang baik. Faktor
produksi memang sangat menentukan besar kecilnya produksi yang diperoleh.

Adapun faktor produksi yang dimaksud adalah :

a. Alam ( dalam hal ini luas lahan atau tanah)

Universitas Sumatera Utara

Dalam pertanian, faktor produksi tanah mempunyai kedudukan yang
paling penting. Hal ini terbukti dari balas jasa yang diterima oleh tanah
dibandingkan dengan faktor produksi yang lain. Balas jasa yang diberikan
atas jasa tanah disebut sewa tanah (rent). Tanah sebagai salah satu faktor
produksi merupakan suatu pabriknya dari hasil-hasil pertanian yaitu
tempat dimana produksi berjalan dan tempat produksi itu keluar. Semakin
luas lahan yang digunakan, maka semakin besar hasil produksi yang
diperoleh dari lahan tersebut.

b. Modal

Modal adalah barang atau uang yang secara bersama-sama dengan
faktor produksi lainnya (tanah atau tenaga kerja) menghasilkan barangbarang baru yaitu dalam hal ini hasil pertanian. Modal dalam pertanian
dapat diwujudkan dalam bentuk pengeluaran pupuk dengan tujuan untuk
meningkatkan hasil pertanian.

c. Tenaga kerja

Yang dimaksud dengan tenaga kerja adalah kapasitas buruh untuk
bekerja bukan dalam keahlian yang produktif, melainkan reaksi sosialnya
terhadap kesempatan ekonomi dan kesediaannya untuk mengalami
perubahan ekonomi.

d. Teknologi

Universitas Sumatera Utara

Dalam pengertian sederhana, kemajuan teknologi terjadi karena
ditemukannya cara-cara baru atau perbaikan atas cara-cara lama dalam
menangani pekerjaan-pekerjaan tradisional seperti pekerjaan menanam,
membuat pakaian, atau membuat rumah.

2.4 Pengertian Produksi

Ditinjau dari segi ekonomi maka pengertian produksi adalah kombinasi
dan koordinasi material-material dan keluaran-keluaran (input faktor, sumber
daya atau jasa-jasa produksi) dalam pembuatan suatu barang atau jasa (output).

Juga disebutkan bahwa pengertian produksi adalah segala kegiatan dalam
rangka menciptakan dan menambah kegunaan (utility) suatu barang atau jasa
untuk kegiatan dimana dibutuhkan faktor-faktor produksi yang di dalam ilmu
ekonomi terdiri dari modal, tenaga kerja, dan managemen atau skill.

2.5 Fungsi Produksi

Fungsi produksi adalah abstraksi yang menggambarkan suatu proses
produksi, lebih jelasnya fungsi produksi dapat diartikan sebagai suatu fungsi yang
menunjukkan hubungan antara hasil produksi fisik (output) dengan faktor-faktor
produksi (input).

Pengertian fungsi produksi merupakan hubungan antara jumlah input yang
diperlukan dan jumlah output yang dihasilkan. Fungsi produksi menentukan
output maksimum yang dapat dihasilkan dari sejumlah input tertentu, dalam
kondisi keahlian dan pengetahuan teknis yang tertentu (Samuelson dan Nordhaus,

Universitas Sumatera Utara

2003: hal 125). Juga disebutkan fungsi produksi merupakan hubungan di antara
faktor-faktor produksi dan tingkat produksi yang diciptakannya (Sadono Sukirno,
1994: hal 193).

Fungsi produksi selalu dinyatakan dalam bentuk rumus sebagai berikut :

Q = f (K, L, R, T)

Dimana :

K

= Jumlah Stok Modal

L

= Jumlah Tenaga Kerja

R

= Sumber Daya Alam

T

= Teknologi

Atau dalam bentuk matematis sederhana dapat dituliskan sebagai :

Y = f(X1,X2, ……………Xn)

Dimana:

Y

= hasil produksi fisik

X1…….Xn

= faktor-faktor produksi

2.5.1 Fungsi Produksi Cobb Douglas

Universitas Sumatera Utara

Fungsi produksi ini menjadi terkenal sejak diperkenalkan oleh Cobb,
C.W. dan Douglas, P. H. pada tahun 1928 melalui artikelnya yang berjudul “A
Theory of Production” (Suhartati, T, 2003:104).
Secara matematis fungsi produksi Cobb Douglas dapat ditulis dengan
persamaan:
Q = AK α L β
Keterangan: Q = Output
K = Input Modal
L = Input Tenaga Kerja
A = Parameter Efisiensi/Koefisien Teknologi
a = Elastisitas Input Modal
b = Elastisitas Input Tenaga Kerja
Fungsi produksi Cobb Douglas dapat diperoleh dengan membuat dengan
membuat linear persamaan sehingga menjadi:
LnQ = LnA + αLn + βLnL + ε
Dengan meregres persamaan di atas maka secara mudah akan diperoleh
parameter efisiensi (A) dan elastisitas inputnya. Salah satu kemudahan fungsi
produksi Cobb Douglas adalah secara mudah dapat dibuat linear sehingga
memudahkan untuk mendapatkannya.
a. Marginal Physical Productivity of Capital (MPk)

Universitas Sumatera Utara

∂Q
= MPk = AαK α −1 Lβ
∂K

b. Marginal Physical Productivity of Labor (MPl)
∂Q
= MPl = AβK α Lβ −1
∂L

MPl =
MPl =

AβK α Lβ
L

βQ
L

......................................................................... (2)

c. Avarage Productivity of Capital (Apk)
APk =

Q
.......................................................................... (3)
K

d. Average Productivity of Labor (APl)
APl =

Q
........................................................................... (4)
L

e. Elasticity Product of Capital (Ek)

Ek =

%∆Q
....................................................................... (5)
%∆K

f. Elasticity Product of Labor (El)

Universitas Sumatera Utara

El =

%∆Q
........................................................................ (6)
%∆L

Dalam fungsi produksi Cobb Douglas ini, penjumlahan elastisitas
substitusi menggambarkan return to scale. Artinya apabila α + β = 1 berarti
constan return to scale, bila α + β < 1 berarti decresing return to scale, dan
apabila α + β > 1 berarti proses produksi berada dalam keadaan increasing return
to scale. Hal ini dapat dibuktikan sebagai berikut:
Fungsi produksi Cobb Douglas:
Q = AK α Lβ
Apabila input dinaikkan dua kali lipat maka:
Q 2 = A (2K 1 ) α . (2L 1 ) β
= A2 α K 1 α .2 β L 1 β
=2

α +β

AK1α. L 1β

= 2 α+β Q1
Jadi, bila α+β = 1, maka Q 2 = 2 Q 1 , berlaku constan return to scale
bila α+β > 1, maka Q 2 > 2 Q 1 , berlaku increasing return to scale
bila α+β < 1, maka Q 2 < 2 Q 1 , berlaku decreing return to scale
Dalam fungsi produksi Cobb Douglas asli berlaku constant return to
scale (Nicholson, 1995 : 332), sehingga dapat mengilustrasikan secara mudah

Universitas Sumatera Utara

perubahan output sebagai akibat perubahan input. Apabila input (baik K maupun
L) naik sebesar 2 (dua) kali maka output akan naik sebesar 2 (dua) kali pula.
Karena dalam fungsi Cobb Douglas berlaku constant return to scale
maka akan membawa konsekuensi bahwa substitusi antar faktor-faktor
produksinya adalah substitusi sempurna, artinya satu input L (tenaga kerja) dapat
digantikan dengan satu unit input K (modal). Dengan demikian, fungsi produksi
Cobb Douglas mempunyai bentuk isoquant linear. Yang dapat dilihat dengan
jelas dari gambar 2.1

K

L

Gambar 2.1. Kurva Isoquant Fungsi Produksi Cobb-Douglas

2.5.2 Teori Produksi

Teori produksi dalam ilmu ekonomi membedakan analisisnya kepada dua
pendekatan berikut :




Teori produksi dengan satu faktor berubah
Teori produksi dengan dua faktor berubah

Teori Produksi dengan Satu Faktor Berubah

Universitas Sumatera Utara

Teori produksi yang sederhana menggambarkan tentang hubungan di
antara tingkat produksi suatu barang dengan dengan jumlah tenaga kerja yang
digunakan untuk menghasilkan berbagai tingkat produksi barang tersebut. Dalam
analisis tersebut dimisalkan faktor produksi lainnya dianggap konstan. Satusatunya faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya adalah tenaga kerja.

Hukum Hasil Lebih yang Semakin Berkurang (The Law of Diminishing
Return)

Hukum hasil yang semakin berkurang merupakan suatu hal yang tidak
dapat dipisahkan dari teori produksi. Hukum hasil yang semakin berkurang
menyatakan bahwa apabila faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya (tenaga
kerja) terus menerus ditambah sebanyak satu unit, pada mulanya produksi total
akan semakin banyak pertambahannya, tetapi sesudah mencapai suatu tingkat
tertentu produksi tambahan akan semakin berkurang dan akhirnya akan
mencapai nilai negatif. Sifat pertambahan produksi seperti ini menyebabkan
pertambahan produksi total semakin lambat dan akhirnya ia mencapai tingkat
yang maksimum dan kemudian menurun.

Dengan demikian hukum hasil lebih yang semakin berkurang dapat
dibedakan menjadi tiga tahap yaitu:

Universitas Sumatera Utara

a. Tahap pertama: produksi total mengalami pertambahan yang semakin
kuat.
b. Tahap kedua : produksi total pertambahannya semakin lambat.
c. Tahap ketiga: produksi total semakin lama semakin berkurang.

TAHAPAN_PRODUKSI.
Y

TP L

I

II

III

AP L
MP L

X

labor
Gambar 2.2 Hubungan Tenaga Kerja dengan Jumlah Produksi
Hubungan hubungan antara produksi total, produksi rata rata dan produksi
marginal dapat digambarkan secara grafik. Dapat ditunjukkan oleh grafik di atas.
Kurva TP adalah kurva produksi total.

Universitas Sumatera Utara

Tahap pertama: Menunjukkan hubungan antara jumlah produksi dan jumlah
tenaga kerja yang digunakan untuk menghasilkan produksi suatu barang. TP
cekung ke atas apabila tenaga kerja yang digunakan masih sedikit. Hal ini berarti
masih terjadi kekurangan tenaga kerja dibandingkan dengan faktor produksi lain
misalnya tanah yang dianggap tetap jumlahnya. Dalam keadaan seperti ini
produksi marginal bertambah tinggi,dapat dilihat pada kurva MP yang semakin
menaik.
Tahap II: Lalu dilakukan penambahan tenaga kerja. Pada tahap ini digunakan
penambahan tenaga kerja tidak menambah produksi total seperti sebelumnya. Hal
ini ditunjukkan oleh kurva produksi marginal yang menurun dan kurva produksi
total yang semakin cembung ke atas. Produksi marginal akan lebih tinggi daripada
produksi rata rata, yaitu kurva AP akan bergerak ke atas. Keadaan ini
menggambarkan bahwa produksi rata rata semakin tinggi. Maka kurva produksi
marginal akan memotong kurva produksi rata rata. Sesudah perpotongan tersebut
maka kurva produksi rata rat menurun kebawah yang menggambarkan bahwa
produksi rata rata semakin merosot. Perpotongan di antara kurva MP dan kurva
AP menggambarkan permulaan pada tahap kedua. Pada keadaan ini produksi rata
rata mencapai tingkat paling tinggi.
Tahap III : Di mulai ketika dilakukan lagi penambahan tenaga kerja. Pada tahap
tersebut MP memotong sumbu datar dan sesudahnya kurva tersebut berada di
bawah sumbu datar. Keadaan ini menggambarkan bahwa produksi marginal
mencapai angka yang negatif. Kurva produksi total TP mulai menurun pada
tingkat ini, yang menggambarkan bahwa produksi total semakin berkurang
apabila lebih banyak tenaga kerja yang digunakan.

Universitas Sumatera Utara

Produksi Total, Produksi Rata-Rata dan Produksi Marginal

Produksi Total

Produksi total, yaitu output total dari suatu sistem produksi atau yang
dihasilkan dari penggunaan sejumlah tertentu sumber daya dalam sistem produksi.

Produksi Marginal

Produksi Marginal, yaitu tambahan produksi yang diakibatkan oleh
pertambahan satu tenaga kerja yang digunakan. Produksi marginal (marginal
product) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

MP =

MP

∆TP
dimana:
∆L

= Produksi Marjinal (Marginal Product)

∆ TP = Pertambahan Produksi Total
∆L

= Pertambahan Tenaga Kerja

Produksi Rata-Rata

Produksi rata-rata merupakan produksi yang secara rata-rata dihasilkan
oleh setiap pekerja. Produksi rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara

AP

=

TP
dimana :
L

AP

= Produksi Rata-Rata

TP

= Total Produksi

L

= Tenaga Kerja

Teori Produksi dengan Dua Faktor Berubah

Dalam analisis ini, dimisalkan terdapat dua faktor produksi yang dapat
diubah jumlahnya. Misalnya tenaga kerja dan modal. Misalkan pula bahwa kedua
faktor produksi yang dapat berubah ini faktor yang dapat dipertukarkan
penggunaannya ; yaitu tenaga kerja yang dapat menggantikan modal, dan
sebaliknya.

2.6 Hasil Produksi dan Biaya Produksi

2.6.1 Efisiensi Usahatani

Efisiensi produksi merupakan banyaknya hasil produksi fisik yang dapat
diperoleh dari satu kesatuan faktor produksi (input). Kalau efisiensi fisik ini kita
nilai dengan uang maka akan kita sampai pada efisiensi ekonomi. Pada setiap
akhir panen petani akan menghitung berapa hasil bruto produksinya yaitu luas
tanah dikalikan hasil per kesatuan luas dan dan nilai dalam uang. Tapi tidak
semua diterima petani karena harus dikurangi dengan biaya – biaya yang harus

Universitas Sumatera Utara

dikeluarkannya yaitu harga pupuk dan bibit, biaya pengolahan tanah, upah
menanam, dan memanen yang biasanya dalam bentuk bagi hasil (innatura).

2.6.2 Biaya Produksi

Biaya produksi dapat dibagi dua, yaitu biaya – biaya yang berupa uang
tunai, misalnya upah kerja untuk biaya persiapan/penggarapan tanah, termasuk
untuk upah ternak, biaya untuk membeli pupuk, pestisida, dan lain-lain serta biaya
In-natura yaitu biaya biaya panen, bagi hasil, sumbangan, dan mungkin juga
pajak-pajak.

1. Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Biaya tetap adalah jenis biaya yang besar kecilnya tidak tergantung pada
besar kecilnya produksi, misalnya sewa atau bunga tanah yang berupa uang.
Sedangkan biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya tergantung pada besar
kecilnya produksi, misalnya bibit, persiapan dan pengolahan tanah, dan lain lain.

2. Biaya Rata-Rata dan Biaya Marginal

Bagi para perencana ekonomi yang bertugas merumuskan kebijaksanaan
harga, misalnya untuk menentukan harga minimum yang harus dijamin untuk
petani, maka sering ditanyakan biaya produksi rata-rata, yaitu hasil bagi biaya
produksi total dengan jumlah produksi. (Mubyarto, bab 5: hal 51). Biaya rata-rata
dapat dituliskan dengan rumus sebagai berikut :

AC

=

TC
Q

Universitas Sumatera Utara

Biaya Marginal, yaitu kenaikan biaya produksi yang dikeluarkan untuk
menambah produksi sebanyak satu unit. Biaya marginal dapat dituliskan dengan
rumus sebagai berikut :

MCn

= TCn – TCn-1, dimana :

MCn

= biaya marginal produksi ke n,

TCn

= biaya total pada waktu jumlah produksi adalah n

TCn-1 = biaya total pada waktu jumlah produksi adalah n-1

Atau dengan rumus :

MCn =

∆TC
, dimana :
∆Q

MCn = biaya marginal produksi ke n
∆ TC = pertambahan jumlah biaya total
∆Q

= pertambahan jumlah produksi

2.7 Sejarah Perkebunan Kopi di Indonesia

Tanaman kopi bukan tanaman asli Indonesia. Melainkan jenis tanaman
berasal dari benua Afrika (AAK: 1988). Tanaman kopi masuk ke Indonesia
pertama kali tahun 1696, bersamaan waktunya dengan digemarinya minuman kopi
di kawasan Eropa. Di Jawa, tanaman kopi baru mendapat perhatian pada tahun
1699, karena setelah melew