Pengaruh Waktu Penyiangan dan Tingkat Populasi Jajagoan (Echinochloa crus-galli) Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi Sawah (Oryza sativa L.) di Kabupaten Aceh Tenggara.

(1)

PENGARUH WAKTU PENYIANGAN DAN TINGKAT POPULASI JAJAGOAN (Echinochloa crus-galli) TERHADAP PERTUMBUHAN

DAN PRODUKSI TANAMAN PADI SAWAH (Oryza sativa L.) DI KABUPATEN ACEH TENGGARA

TESIS

Oleh:

NIM : 127001009 / AET

DEDEN SUMOHARJO

PROGRAM MAGISTER AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN


(2)

PENGARUH WAKTU PENYIANGAN DAN TINGKAT POPULASI JAJAGOAN (Echinochloa crus-galli) TERHADAP PERTUMBUHAN

DAN PRODUKSI TANAMAN PADI SAWAH (Oryza sativa L.) DI KABUPATEN ACEH TENGGARA

TESIS

Oleh:

NIM : 127001009 / AET

DEDEN SUMOHARJO

Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Pertanian di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM MAGISTER AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN


(3)

Judul Tesis

Nama NIM

Program Studi :

: : :

Pengaruh Waktu Penyiangan dan Tingkat Populasi Jajagoan (Echinochloa crus-galli) Terhadap Pertumbuhan dan Produksi

Tanaman Padi Sawah (Oryza sativa L.) di Kabupaten Aceh

Tenggara.

Deden Sumoharjo 127001009 Agroekoteknologi

Menyetujui : Komisi Pembimbing

Ketua

(Prof. Ir. Edison Purba, Ph.D)

Ketua Program Studi

(Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, MP)

Anggota

(Dr. Ir. Lollie Agustina Pancawaraswati Putri, M.Si)

Dekan

(Prof. Dr. Ir. Darma Bakti, MS)


(4)

Telah diuji pada

Tanggal, 14 Nopember 2014

Panitia Penguji Tesis :

Ketua : Prof. Ir. Edison Purba, Ph.D

Anggota : 1. Dr. Ir. Lollie Agustina Pancawaraswati Putri, M.Si 2. Ir. Revandy Iskandar M. Damanik, M.Si, M.Sc, Ph.D 3. Dr. Diana Sofia, SP, MP


(5)

ABSTRACT

This research is proposed to find out of weeding time and population level jajagoan (Echinochloa crus-galli) on growth and plant of rice field production (Oryza sativa L.) in Southeast Aceh District. This research was held in field farm area in the village of Kampung Baru, Southeast Aceh District of Badar, was strarted in February and was completed in May 2014. The design used was Faktorial Separated and Design Frame with two aspect. The first aspect as mainframe is plannting time squence consist of five stages, those are P0 (without weeding process), P1 (weeding after 3 MST), P2 (weeding after 6 MST), P3 (weeding after 9 MST), P4 (weeding after 12 MST). The second aspect as subordinate Frame is the population jajagoan consist of 4 stages, those are J0 (without population jajagoan), J1 (jajagoan population 105 per plot with a spacing of 22 cm calculated of the main plant), J2 (jajagoan population 210 per plot with a spacing of 16 cm calculated of the main plant) and J3 (jajagoan population 210 per plot with a spacing of 12 cm calculated of the main plant

Keywords: weeding time of jajagoan, jajagoan population, growth and production

) and the observation means are plant height, leaves wide, dry weight rice plant canopy, dry weight of root rice plants, number of rice plant tillers, number of productive of rice plant tillers, number of grains per panicle containing rice plants, number of empty grains per panicle rice plant, dry weight grains per sample plant, dry weight grains per hectare, weight grains of 1000 seeds of rice plants, LAB (accelarate net assimilation), LTR (accelarate growth relatif) and dry weight of jajagoan. Interaction of weeding time and jajagoan density significantly effect of height plant at the age 9 and 12 MST, dry weight of the plant canopy at the age of 9 MST, number of tillers plant at the age of 9 and 12 MST, number of empty grains per panicle plant, dry weight grains per sample plant, dry weight of grains per hectare and dry weight of jajagoan at the age of 6, 9 and 12 MST.


(6)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu penyiangan dan tingkat populasi jajagoan (Echinochloa crus-galli) dengan jarak tanaman yang berbeda terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah (Oryza sativa

L.) di Kabupaten Aceh Tenggara. Penelitian ini dilaksanakan di areal persawahan petani di Desa Kampung Baru Kecamatan Badar Kabupaten Aceh Tenggara dimulai pada bulan Februari dan selesai pada bulan Mei 2014. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terpisah faktorial dengan 2 faktor perlakuan. Faktor pertama sebagai petak utama adalah waktu penyiangan terdiri dari 5 taraf, yaitu P0 (tanpa penyiangan), P1 (waktu penyiangan jajagoan 3 MST), P2 (waktu penyiangan jajagoan 6 MST), P3 (waktu penyiangan jajagoan 9 MST) dan P4 (waktu penyiangan jajagoan 12 MST). Faktor kedua sebagai anak petak adalah populasi jajagoan terdiri dari 4 taraf yaitu J0 (tanpa populasi jajagoan), J1 (populasi jajagoan 105 per plot dengan jarak tanam 22 cm dihitung dari tanaman utama), J2 (populasi jajagoan 210 per plot dengan jarak tanam 16 cm dihitung dari tanaman utama) dan J3 (populasi jajagoan 210 per plot dengan jarak tanam 12 cm dihitung dari tanaman utama) dan peubah amatan yang diamati adalah tinggi tanaman, luas daun tanaman, bobot kering tajuk tanaman padi, bobot kering akar tanaman padi, jumah anakan tanaman padi, jumlah anakan tanaman padi produktif, jumlah gabah berisi per malai tanaman padi, jumlah gabah hampa per malai tanaman padi, berat gabah kering tanaman padi per sampel tanaman, berat kering per hektar, berat gabah 1000 biji tanaman padi, LAB (Laju Asimilasi Bersih), LTR (Laju Tumbuh Reatif) dan bobot kering jajagoan. Interaksi waktu penyiangan dan kerapatan jajagoan berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 9 dan 12 MST, bobot kering tajuk tanaman pada umur 9 MST, jumlah anakan tanaman pada umur 9 dan 12 MST, jumlah gabah hampa per malai tanaman, berat gabah kering padi per sampel tanaman, berat kering gabah per hektar dan bobot kering jajagoan pada umur 6, 9 dan 12 MST.


(7)

RIWAYAT HIDUP

Deden Sumoharjo, lahir pada tanggal 10 Oktober 1986 di Kuta Pasir Kecamatan Babussalam Kabupaten Aceh Tenggara Provinsi Aceh, anak ke-3 dari 4 bersaudara, putera dari ayahanda Basyori Anuar Suaji Sumoharjo dan ibunda Rosmaini.

Adapun pendidikan yang pernah ditempuh hingga saat ini adalah Pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri 06 Tanah Merah Kabupaten Aceh Tenggara lulus tahun 1998, Pendidikan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Negeri 1 Badar Kabupaten Aceh Tenggara lulus tahun 2001, Pendidikan Sekolah Pertanian Pembangunan Negeri Kutacane Kabupaten Aceh Tenggara, lulus tahun 2004 dan terdaftar sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Gunung Leuser / Universitas Gunung Leuser Kutacane Kabupaten Aceh Tenggara pada Fakultas Pertanian tahun 2004 dan meraih gelar Sarjana Pertanian Jurusan Agronomi tahun 2010.

Pada tahun 2009 penulis diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun 2011 di Pemerintahan Kabupaten Aceh Tenggara dan di tempatkan pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Aceh Tenggara.

Pada Tahun 2009 penulis menikah dengan Mardayati, S.Kep dan dikaruniai dua orang putera yaitu Aby Nubly Zaidan Sumoharjo dan Dzaki Al-Ghifari Sumoharjo. Pada tahun 2012 penulis memperoleh kesempatan mengikuti Program Magister Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan.


(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan atas ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan taufik dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

penelitian ini yang berjudul “Pengaruh Waktu Penyiangan dan Tingkat

Kerapatan Jajagoan (Echinochloa crus-galli) Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi Sawah (Oryza sativa L.) di Kabupaten Aceh Tenggara” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Pertanian pada Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Prof. Ir. Edison Purba, Ph.D, Bapak Alm. Prof. Dr. Ir. B. Sengli J. Damanik, M.Sc dan Ibu Dr.Ir. Lollie Agustina Pancawaraswati Putri, M.Si selaku dosen pembimbing dan Ibu Dr. Ir. Marheni, SP, Dr. Diana Sofia, SP, MP dan Bapak Ir. Revandy Iskandar M. Damanik, M.Si, M.Sc, Ph.D selaku dosen penguji yang telah banyak memberi saran dan bimbingan kepada penulis sejak persiapan penelitian sampai menyelesaikan tesis ini. Ucapan terimakasih kepada Rektor Universitas Sumatera Utara dan Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Bapak Prof. Dr. Ir. Darma Bakti, MS dan Ketua Program Studi Bapak Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, MP yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada penulis untuk mengikuti Pendidikan Program Magister pada program Pascasarjana USU. Juga kepada seluruh staf dan pegawai PPs USU yang telah memberikan bantuan kepada penulis.


(9)

Kepala Dinas Pertanian Bapak H. Djarudin Mamas, SP, M.Si, Kabid. Produksi Padi Ibu Ir. Kita, Kepala Seksi Pengendalian Organisme Pengganggu Tanama (OPT) Bapak Taufik Hidayat, SP, Manteri Tani Kecamatan Badar Bapak Pajarudin, SP, seluruh staf Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Aceh Tenggara, Ayahanda Basyori Anuwar Suaji Sumoharjo, Ibunda Rosmaini, istri tercinta Mardayati, S.Kep dan anak-anak tersayang Aby Nubly Zaidan Sumoharjo dan Dzaki Al-Ghifari Sumoharjo, Johari Sumoharjo, SP sebagai kakak tertua, Yono Sumoharjo sebagai kakak kedua dan adik tersayang Vevi Sumoharjo, S.ST. serta teman-teman seangkatan 2012 Parmanoan Harahap, Agnes, Margaretha, Khairani, Nani, Dame, Makhruf, Hadi, Satria, Muas, M. Yusuf dan Zul yang telah memberikan bantuan dan dukungan moril kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tesis ini masih banyak kekurangannya, untuk itu penulis mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak, demi kesempurnaan Tesis ini, terimakasih.

Medan, Oktober 2014 Penulis


(10)

DAFTAR ISI

Hal

ABSTRACT ... i

ABSTRAK ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Hipotesa ... 5

1.5 Manfaat Penelitia ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1 Botani Tanaman Padi ... 7

2.2 Morfologi Tanaman Padi ... 8

2.3 Syarat Tumbuh Tanaman Padi ... 10

2.4 Botani Jajagoan ... 11

2.5 Morfologi Jajagoan ... 12

2.6 Perbanyakan dan Ekologi Jajagoan ... 15

2.7 Pengaruh Populasi jajagoan Terhadap Tanaman Padi ... 16

2.8 Persaingan Tanaman Padi dengan Gulma ... 17

BAB III METODE PENELITIAN ... 21

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 21

3.2 Survei Populasi Jajagoan... 21

3.3 Bahan dan Alat ... 22

3.4 Metode Penelitian... 22

3.5 Pelaksanaan Penelitian ... 26

a. Persemaian ... 26

1. Pembuatan Lahan Persemaian Padi dan Biji Jajagoan ... 26

2. Penggunaan Benih dan Penaburan Benih Padi ... 27

3. Biji Jajagoan dan Penaburan Biji Jajagoan ... 4. Pemeliharaan Persemaian Benih Padi ... 28

5. Pemeliharaan Persemaian Biji Jajagoan... 30

b. Persiapan dan Pengolahan Tanah Sawah ... 32

1. Pembersihan ... 32


(11)

3. Pembajakan dan Penggaruan... 33

c. Pemupukan Tanaman Padi... 34

d. Penanaman Bibit Padi dan Jajagoan ... 34

e. Penyiangan Gulma Lain ... 34

f. Pengendalian Hama Tanaman Padi ... 35

g. Panen ... 35

h. Penentuan Tanaman Sampel Pengamatan Hasil Produksi ... 35

i. Parameter Pengamatan Tanaman Padi ... 35

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 41

HASIL ... 41

4.1 Tinggi Tanaman Padi ... 41

4.2 Luas Daun Tanaman Padi ... 45

4.3 Bobot Kering Tajuk Tanaman Padi... 50

4.4 Bobot Kering Tanaman Padi ... 55

4.5 LAB (Laju Asimilasi Bersih) ... 60

4.6 LTR (Laju Tumbuh Relatif) ... 62

4.7 Jumlah Anakan Tanaman Padi ... 64

4.8 Jumlah Anakan Tanaman Padi Produktif ... 68

4.9 Jumlah Gabah Berisi per Malai Tanaman Padi ... 70

4.10 Jumlah Gabah Hampa per Malai Tanaman Padi ... 72

4.11 Berat Gabah Kering Tanaman Padi 3 (tiga)Sampel Tanaman/plot 74

4.12 Berat Kering Gabah per Hektar... 75

4.13 Berat Gabah 1000 Biji Tanaman Padi ... 77

4.14 Bobot Kering Jajagoan ... 78

PEMBAHASAN ... 83

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 94

Kesimpulan ... 94

Saran ... 94

DAFTAR PUSTAKA ... 95


(12)

DAFTAR TABEL

No Judul Hal

1. Realisasi luas tanam, panen, produktifitas dan produksi padi di Kabupaten Aceh Tenggara tahun 2012 ... 2

2. Pengaruh waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam

jajagoan yang berbeda serta kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap tinggi tanaman padi umur 3, 6, 9 dan 12 MST ... 42

3. Pengaruh waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam

jajagoan yang berbeda terhadap luas daun tanaman padi umur 3, 6, 9 dan 12 MST ... 46

4. Pengaruh waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam

jajagoan yang berbeda serta kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap bobot kering tajuk tanaman padi umur 3, 6, 9 dan 12 MST ... 51

5. Pengaruh waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam

jajagoan yang berbeda terhadap bobot kering akar tanaman padi umur 3, 6, 9 dan 12 MST ... 56

6. Pengaruh waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam

jajagoan yang berbeda terhadap LAB (Laju Asimilasi Bersih) setelah di transformasi umur 3 – 6, 6 – 9 dan 9 – 12 MST ... 61

7. Pengaruh waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam

jajagoan yang berbeda terhadap LTR (Laju Tumbuh Relatif) setelah di transformasi umur 3 – 6, 6 – 9 dan 9 – 12 MST ... 63

8. Pengaruh waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam

jajagoan yang berbeda serta kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap jumlah anakan tanaman padi umur 3, 6, 9 dan 12 MST... 65

9. Pengaruh waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam

jajagoan yang berbeda terhadap jumlah anakan produktif tanaman padi ... 69

10.Pengaruh waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam

jajagoan yang berbeda terhadap jumlah gabah berisi per malai tanaman padi ... 71

11.Pengaruh waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam

jajagoan yang berbeda terhadap jumlah gabah hampa per malai tanaman padi ... 73


(13)

12.Pengaruh waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda serta kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap berat gabah kering 3 (tiga) sampel per tanaman padi ... 74

13.Pengaruh waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam

jajagoan yang berbeda serta kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap berat gabah kering per hektar tanaman padi ... 76

14.Pengaruh waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam

jajagoan yang berbeda terhadap berat gabah 1000 biji per plot tanaman padi ... 77

15.Pengaruh waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam

jajagoan yang berbeda terhadap bobot kering jajagoan umur 3, 6, 9 dan 12 MST ... 79


(14)

DAFTAR GAMBAR

No Judul

Hal

1. Padi varietas ciherang (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi,2008) ... 8

2. Gulma rumput (Grasses) jajagoan ... 12

3. Morfologi jajagoan ... 13

4. Bentuk biji jajagoan ... 15

5. Hubungan pengaruh populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap tinggi tanaman umur 3 MST ... 43

6. Hubungan pengaruh populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap tinggi tanaman umur 6 MST ... 43

7. Hubungan pengaruh waktu penyiangan jajagoan terhadap tinggi tanaman umur 6 MST ... 44

8. Hubungan pengaruh kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap tinggi tanaman umur 9 MST ... 44

9. Hubungan pengaruh kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap tinggi tanaman umur 12 MST ... 45

10.Hubungan pengaruh populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap luas daun tanaman umur 6 MST ... 47

11.Hubungan pengaruh waktu penyiangan jajagoan terhadap luas daun tanaman umur 6 MST ... 47

12.Hubungan pengaruh populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap luas daun tanaman umur 9 MST ... 48

13.Hubungan pengaruh waktu penyiangan jajagoan terhadap luas daun tanaman umur 9 MST ... 48

14.Hubungan pengaruh populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap luas daun tanaman umur 12 MST ... 49


(15)

15.Hubungan pengaruh waktu penyiangan jajagoan terhadap luas daun tanaman umur 12 MST ... 49 16.Hubungan pengaruh populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang

berbeda terhadap bobot kering tajuk tanaman umur 3 MST ... 52 17.Hubungan pengaruh populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang

berbeda terhadap bobot kering tajuk tanaman umur 6 MST ... 52

18.Hubungan pengaruh waktu penyiangan jajagoan terhadap bobot kering

tajuk tanaman umur 6 MST ... 53

19.Hubungan pengaruh kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan

dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap bobot kering tajuk tanaman umur 9 MST ... 53 20.Hubungan pengaruh populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang

berbeda terhadap bobot kering tajuk tanaman umur 12 MST ... 54 21.Hubungan pengaruh waktu penyiangan jajagoan terhadap bobot kering

tajuk tanaman umur 12 MST ... 54 22.Hubungan pengaruh populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang

berbeda terhadap bobot kering akar tanaman umur 3 MST ... 57 23.Hubungan pengaruh populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang

berbeda terhadap bobot kering akar tanaman umur 6 MST ... 57

24.Hubungan pengaruh waktu penyiangan jajagoan terhadap bobot kering

akar tanaman umur 6 MST... 58 25.Hubungan pengaruh populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang

berbeda terhadap bobot kering akar tanaman umur 9 MST ... 58

26.Hubungan pengaruh waktu penyiangan jajagoan terhadap bobot kering

akar tanaman umur 9 MST... 59 27.Hubungan pengaruh populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang

berbeda terhadap bobot kering akar tanaman umur 12 MST ... 59

28.Hubungan pengaruh waktu penyiangan jajagoan terhadap bobot kering

akar tanaman umur 12 MST ... 60

29.Hubungan pengaruh waktu penyiangan jajagoan terhadap Laju Asimilasi

Bersih (LAB) tanaman umur 6 - 3 MST ... 62

30.Hubungan pengaruh waktu penyiangan jajagoan terhadap Laju Tumbuh


(16)

31.Hubungan pengaruh populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap jumlah anakan tanaman umur 3 MST ... 66 32.Hubungan pengaruh populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang

berbeda terhadap jumlah anakan tanaman umur 6 MST ... 66

33.Hubungan pengaruh waktu penyiangan jajagoan terhadap jumlah anakan

tanaman umur 6 MST ... 67

34.Hubungan pengaruh kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan

dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap jumlah anakan tanaman umur 9 MST ... 67

35.Hubungan pengaruh kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan

dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap jumlah anakan tanaman umur 12 MST ... 68 36.Hubungan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda

terhadap jumlah anakan produktif tanaman ... 69 37.Hubungan pengaruh waktu penyiangan terhadap jumlah anakan produktif

tanaman ... 70 38.Hubungan pengaruh populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang

berbeda terhadap jumlah gabah berisi per malai tanaman ... 71

39.Hubungan pengaruh waktu penyiangan jajagoan terhadap jumlah gabah

berisi per malai tanaman ... 72

40.Hubungan pengaruh kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan

dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap jumlah gabah hampa per malai tanaman ... 73

41.Hubungan pengaruh kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan

dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap berat gabah kering 3 (tiga) sampel tanaman padi/plot ... 75

42.Hubungan pengaruh kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan

dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap berat gabah kering per hektar tanaman ... 76 43.Hubungan pengaruh populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang

berbeda terhadap berat gabah 1000 biji tanaman ... 77

44.Hubungan pengaruh waktu penyiangan jajagoan terhadap berat gabah


(17)

45.Hubungan pengaruh populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap bobot kering jajagoan umur 3 MST ... 80

46.Hubungan pengaruh kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan

dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap bobot kering jajagoan umur 6 MST ... 80

47.Hubungan pengaruh kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan

dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap bobot kering jajagoan umur 9 MST ... 81

48.Hubungan pengaruh kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan

dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap bobot kering jajagoan umur 12 MST ... 82


(18)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Hal

1. Deskripsi padi non hibrida ciherang (Balai Besar Penelitian Tanaman

Padi, 2008) ... 101

2. Gambar bagan plot perlakuan populasi jajagoan dengan jarak tanam

jajagoan yang berbeda ... 102 3. Data pengamatan tinggi tanaman (cm) umur 3 MST ... 103 4. Daftar sidik ragam tinggi tanaman umur 3 MST ... 103

5. Analisis regresi hubungan tinggi tanaman dengan populasi jajagoan

dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 3 MST ... 104 6. Data pengamatan tinggi tanaman (cm) umur 6 MST ... 104 7. Daftar sidik ragam tinggi tanaman umur 6 MST ... 105

8. Analisis regresi hubungan tinggi tanaman dengan populasi jajagoan

dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 6 MST ... 105

9. Analisis regresi hubungan tinggi tanaman dengan waktu penyiangan

jajagoan umur 6 MST... 105 10.Data pengamatan tinggi tanaman (cm) umur 9 MST ... 106 11.Daftar sidik ragam tinggi tanaman umur 9 MST ... 106

12.Analisis regresi hubungan tinggi tanaman dengan interaksi waktu

penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 9 MST ... 107 13.Data pengamatan tinggi tanaman (cm) umur 12 MST ... 107 14.Daftar sidik ragam tinggi tanaman (cm) umur 12 MST ... 108

15.Analisis regresi hubungan tinggi tanaman dengan interaksi waktu

penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 12 MST ... 108 16.Data pengamatan luas daun tanaman (cm2) umur 3 MST... 109


(19)

17.Daftar sidik ragam luas daun umur 3 MST ... 109 18.Data pengamatan luas daun tanaman (cm2

19.Daftar sidik ragam luas daun umur 6 MST ... 110 ) umur 6 MST... 110

20.Analisis regresi hubungan luas daun tanaman dengan populasi jajagoan

dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 6 MST ... 111 21.Analisis regresi hubungan luas daun tanaman dengan waktu penyiangan

jajagoan umur 6 MST... 111 22.Data pengamatan luas daun tanaman (cm2) umur 9 MST... 112 23.Daftar sidik ragam luas daun tanaman umur 9 MST ... 112 24.Analisis regresi hubungan luas daun tanaman dengan popupulasi jajagoan

dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 9 MST ... 113 25.Analisis regresi hubungan luas daun tanaman dengan waktu penyiangan

umur 9 MST ... 113 26.Data pengamatan luas daun tanaman (cm2) umur 12 MST... 114 27.Daftar sidik ragam luas daun tanaman umur 12 MST ... 114 28.Analisis regresi hubungan luas daun tanaman dengan popupulasi jajagoan

dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 12 MST ... 115 29.Analisis regresi hubungan luas daun tanaman dengan waktu penyiangan

umur 12 MST ... 115 30.Data pengamatan bobot kering tajuk tanaman (g) umur 3 MST ... 116 31.Daftar sidik ragam bobot kering tajuk tanaman padi umur 3 MST ... 116 32.Analisis regresi hubungan bobot kering tajuk tanaman dengan popupulasi

jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 3 MST ... 117 33.Data pengamatan bobot kering tajuk tanaman (g) umur 6 MST ... 117 34.Daftar sidik ragam bobot kering tajuk tanaman padi umur 6 MST ... 118 35.Analisis regresi hubungan bobot kering tajuk tanaman dengan populasi

jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 6 MST ... 118

36.Analisis regresi hubungan bobot kering tajuk tanaman dengan waktu


(20)

37.Data pengamatan bobot kering tajuk tanaman (g) umur 9 MST ... 119 38.Daftar sidik ragam bobot kering tajuk tanaman padi umur 9 MST ... 119 39.Analisis regresi hubungan bobot kering tajuk tanaman dengan interaksi

waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 9 MST ... 120 40.Data pengamatan bobot kering tajuk tanaman (g) umur 12 MST ... 120 41.Daftar sidik ragam bobot kering tajuk tanaman padi umur 12 MST ... 121 42.Analisis regresi hubungan bobot kering tajuk tanaman dengan populasi

jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 12 MST ... 121

43.Analisis regresi hubungan bobot kering tajuk tanaman dengan waktu

penyiangan jajagoan umur 12 MST ... 121 44.Data pengamatan bobot kering akar tanaman (g) umur 3 MST ... 122 45.Daftar sidik ragam bobot kering akar tanaman padi umur 3 MST ... 122 46.Analisis regresi hubungan bobot kering akar tanaman dengan populasi

jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 3 MST ... 123 47.Data pengamatan bobot kering akar tanaman (g) umur 6 MST ... 123 48.Daftar sidik ragam bobot kering akar tanaman padi umur 6 MST ... 124 49.Analisis regresi hubungan bobot kering akar tanaman dengan populasi

jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 6 MST ... 124

50.Analisis regresi hubungan bobot kering akar tanaman dengan waktu

populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 6 MST ... 124 51.Data pengamatan bobot kering akar tanaman (g) umur 9 MST ... 125 52.Daftar sidik ragam bobot kering akar tanaman padi umur 9 MST ... 125 53.Analisis regresi hubungan bobot kering akar tanaman dengan populasi

jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 9 MST ... 126

54.Analisis regresi hubungan bobot kering akar tanaman dengan waktu

penyiangan jajagoan umur 9 MST ... 126 55.Data pengamatan bobot kering akar tanaman (g) umur 12 MST ... 127 56.Daftar sidik ragam bobot kering akar tanaman padi umur 12 MST ... 127


(21)

57.Analisis regresi hubungan bobot kering akar tanaman dengan populasi

jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 12 MST ... 128

58.Analisis regresi hubungan bobot kering akar tanaman dengan waktu penyiangan jajagoan umur 12 MST ... 128

59.Data pengamatan Laju Asimilasi Bersih (LAB) dan data setelah di transformasi pengamatan 3 – 6 MST ... 129

60.Daftar sidik ragam Laju Asimilasi Bersih (LAB) 3 – 6 MST ... 130

61.Analisis regresi hubungan waktu penyiangan jajagoan terhadap Laju Asimilasi Bersih (LAB) tanaman 3 – 6 MST ... 131

62.Data pengamatan Laju Asimilasi Bersih (LAB) dan data setelah di transformasi pengamatan 6 – 9 MST ... 131

63.Daftar sidik ragam Laju Asimilasi Bersih (LAB) 6 – 9 MST ... 132

64.Data pengamatan Laju Asimilasi Bersih (LAB) dan data setelah di transformasi pengamatan 9 – 12 MST ... 133

65.Daftar sidik ragam Laju Asimilasi Bersih (LAB) 9 – 12 MST ... 134

66.Data pengamatan Laju Tumbuh Relatif (LTR) dan data setelah ditransformasi pengamatan 3 – 6 MST ... 135

67.Daftar sidik ragam Laju Tumbuh Relatif (LTR) 6 – 3 MST ... 136

68.Daftar sidik ragam Laju Tumbuh Relatif (LTR) 6 – 3 MST ... 137

69.Data pengamatan Laju Tumbuh Relatif (LTR) dan data setelah di transformasi pengamatan 6 – 9 MST ... 137

70.Daftar sidik ragam Laju Tumbuh Relatif (LTR) 6 – 9 MST ... 138

71.Data pengamatan Laju Tumbuh Relatif (LTR) dan data setelah di transformasi pengamatan 9 – 12 MST ... 139

72.Daftar sidik ragam Laju Tumbuh Relatif (LTR) 9 – 12 MST ... 140

73.Data pengamatan jumlah anakan tanaman (batang) umur 3 MST ... 141

74.Daftar sidik ragam jumlah anakan tanaman padi umur 3 MST ... 141

75.Analisis regresi hubungan jumlah anakan tanaman dengan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 3 MST ... 142


(22)

77.Daftar sidik ragam jumlah anakan tanaman padi umur 6 MST ... 143

78.Analisis regresi hubungan jumlah anakan tanaman dengan populasi

jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda umur 6 MST ... 143

79.Analisis regresi hubungan jumlah anakan tanaman dengan waktu

penyiangan jajagoan umur 6 MST ... 143 80.Data pengamatan jumlah anakan tanaman (batang) umur 9 MST ... 144 81.Daftar sidik ragam jumlah anakan tanaman padi umur 9 MST ... 144 82.Analisis regresi interaksi waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan

jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap jumlah anakan tanaman umur

9 MST ... 145 83.Data pengamatan jumlah anakan tanaman (batang) umur 12 MST ... 145 84.Daftar sidik ragam jumlah anakan tanaman padi umur 12 MST ... 146

85.Analisis regresi kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan

dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap jumlah anakan tanaman umur 12 MST... 146 86.Data pengamatan jumlah anakan produktif tanaman padi (batang) ... 147 87.Daftar sidik ragam jumlah anakan produktif tanaman padi ... 147 88.Analisis regresi hubungan jumlah anakan produktif tanaman padi dengan

populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda ... 148 89.Analisis regresi hubungan jumlah anakan produktif tanaman padi dengan

waktu penyiangan jajagoan ... 148 90.Data pengamatan jumlah gabah berisi per malai tanaman padi (batang)... 149 91.Daftar sidik ragam jumlah gabah berisi per malai tanaman padi ... 149 92.Analisis regresi hubungan jumlah gabah berisi per malai tanaman padi

dengan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda ... 150 93.Analisis regresi hubungan jumlah gabah berisi per malai tanaman padi

dengan waktu penyiangan jajagoan ... 150 94.Data pengamatan jumlah gabah hampa per malai tanaman padi (butir) ... 151 95.Daftar sidik ragam jumlah gabah hampa per malai tanaman padi ... 151


(23)

96.Analisis regresi hubungan kombinasi waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap jumlah

gabah hampa per malai tanaman padi ... 152 97.Data pengamatan berat gabah kering per sampel tanaman padi (g)... 152 98.Daftar sidik ragam berat gabah kering per sampel tanaman padi ... 153

99.Analisis regresi hubungan kombinasi waktu penyiangan dan populasi

jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap berat gabah

kering per sampel tanaman padi ... 153 100. Data pengamatan berat gabah kering per hektar tanaman padi (g) ... 154 101. Daftar sidik ragam berat gabah kering per hektar tanaman padi ... 154

102. Analisis regresi hubungan kombinasi waktu penyiangan dan populasi

jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap berat

gabah kering per hektar tanaman padi ... 155 103. Data pengamatan berat gabah 1000 biji tanaman padi (butir) ... 155 104. Daftar sidik ragam berat gabah 1000 biji tanaman padi ... 156

105. Analisis regresi hubungan populasi jajagoan dengan jarak tanam

jajagoan yang berbeda terhadap berat gabah 1000 biji tanaman padi ... 156 106. Analisis regresi hubungan waktu penyiangan jajagoan terhadap berat

gabah 1000 biji tanaman padi ... 156 107. Data pengamatan bobot kering jajagoan (g/sampel) dan data setelah di

transformasi pengamatan 3 MST ... 157 108. Daftar sidik ragam Bobot Kering Jajagoan 3 MST ... 158

109. Analisis regresi hubungan populasi jajagoan dengan jarak tanam

jajagoan yang berbeda terhadap bobot kering jajagoan umur 3 MST ... 159 110. Data pengamatan bobot kering jajagoan (g/sampel) dan data setelah di

transformasi pengamatan 6 MST ... 159 111. Daftar sidik ragam bobot kering jajagoan 6 MST ... 160 112. Analisis regresi hubungan kombinasi peniangan dan populasi jajagoan

dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap bobot kering jajagoan umur 6 MST... 161 113. Data pengamatan bobot kering jajagoan (g/sampel) dan data setelah di


(24)

114. Daftar sidik ragam bobot kering jajagoan 9 MST ... 162 115. Analisis regresi hubungan kombinasi waktu penyiangan dan populasi

jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap bobot

kering jajagoan umur 9 MST ... 163 116. Data pengamatan bobot kering jajagoan (g/sampel) dan data setelah di

transformasi pengamatan 12 MST ... 163 117. Daftar sidik ragam bobot kering jajagoan 12 MST ... 164

118. Analisis regresi hubungan kombinasi waktu penyiangan dan populasi

jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap bobot

kering jajagoan umur 12 MST ... 165 119. Jenis gulma yang tumbuh ... 166 120. Bagan tanaman padi dan populasi jajagoan dalam plot penelitian ... 167 121. Dokumentasi penelitian ... 170


(25)

ABSTRACT

This research is proposed to find out of weeding time and population level jajagoan (Echinochloa crus-galli) on growth and plant of rice field production (Oryza sativa L.) in Southeast Aceh District. This research was held in field farm area in the village of Kampung Baru, Southeast Aceh District of Badar, was strarted in February and was completed in May 2014. The design used was Faktorial Separated and Design Frame with two aspect. The first aspect as mainframe is plannting time squence consist of five stages, those are P0 (without weeding process), P1 (weeding after 3 MST), P2 (weeding after 6 MST), P3 (weeding after 9 MST), P4 (weeding after 12 MST). The second aspect as subordinate Frame is the population jajagoan consist of 4 stages, those are J0 (without population jajagoan), J1 (jajagoan population 105 per plot with a spacing of 22 cm calculated of the main plant), J2 (jajagoan population 210 per plot with a spacing of 16 cm calculated of the main plant) and J3 (jajagoan population 210 per plot with a spacing of 12 cm calculated of the main plant

Keywords: weeding time of jajagoan, jajagoan population, growth and production

) and the observation means are plant height, leaves wide, dry weight rice plant canopy, dry weight of root rice plants, number of rice plant tillers, number of productive of rice plant tillers, number of grains per panicle containing rice plants, number of empty grains per panicle rice plant, dry weight grains per sample plant, dry weight grains per hectare, weight grains of 1000 seeds of rice plants, LAB (accelarate net assimilation), LTR (accelarate growth relatif) and dry weight of jajagoan. Interaction of weeding time and jajagoan density significantly effect of height plant at the age 9 and 12 MST, dry weight of the plant canopy at the age of 9 MST, number of tillers plant at the age of 9 and 12 MST, number of empty grains per panicle plant, dry weight grains per sample plant, dry weight of grains per hectare and dry weight of jajagoan at the age of 6, 9 and 12 MST.


(26)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu penyiangan dan tingkat populasi jajagoan (Echinochloa crus-galli) dengan jarak tanaman yang berbeda terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah (Oryza sativa

L.) di Kabupaten Aceh Tenggara. Penelitian ini dilaksanakan di areal persawahan petani di Desa Kampung Baru Kecamatan Badar Kabupaten Aceh Tenggara dimulai pada bulan Februari dan selesai pada bulan Mei 2014. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terpisah faktorial dengan 2 faktor perlakuan. Faktor pertama sebagai petak utama adalah waktu penyiangan terdiri dari 5 taraf, yaitu P0 (tanpa penyiangan), P1 (waktu penyiangan jajagoan 3 MST), P2 (waktu penyiangan jajagoan 6 MST), P3 (waktu penyiangan jajagoan 9 MST) dan P4 (waktu penyiangan jajagoan 12 MST). Faktor kedua sebagai anak petak adalah populasi jajagoan terdiri dari 4 taraf yaitu J0 (tanpa populasi jajagoan), J1 (populasi jajagoan 105 per plot dengan jarak tanam 22 cm dihitung dari tanaman utama), J2 (populasi jajagoan 210 per plot dengan jarak tanam 16 cm dihitung dari tanaman utama) dan J3 (populasi jajagoan 210 per plot dengan jarak tanam 12 cm dihitung dari tanaman utama) dan peubah amatan yang diamati adalah tinggi tanaman, luas daun tanaman, bobot kering tajuk tanaman padi, bobot kering akar tanaman padi, jumah anakan tanaman padi, jumlah anakan tanaman padi produktif, jumlah gabah berisi per malai tanaman padi, jumlah gabah hampa per malai tanaman padi, berat gabah kering tanaman padi per sampel tanaman, berat kering per hektar, berat gabah 1000 biji tanaman padi, LAB (Laju Asimilasi Bersih), LTR (Laju Tumbuh Reatif) dan bobot kering jajagoan. Interaksi waktu penyiangan dan kerapatan jajagoan berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 9 dan 12 MST, bobot kering tajuk tanaman pada umur 9 MST, jumlah anakan tanaman pada umur 9 dan 12 MST, jumlah gabah hampa per malai tanaman, berat gabah kering padi per sampel tanaman, berat kering gabah per hektar dan bobot kering jajagoan pada umur 6, 9 dan 12 MST.


(27)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan berupa rumput berumpun. Padi merupakan tanaman pertanian kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat, tropis dan subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesh India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah, Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, Vietnam (BPP Teknologi, 2000).

Sampai saat ini padi O. sativa L. adalah pangan utama di Indonesia, sehingga ketersedian gabah padi terus ditingkatkan seiring dengan peningkatan pertambahan penduduk. Peningkatan jumlah penduduk Indonesia sebesar 1,36% per tahun sehingga diperkirakan pada tahun 2020 dibutuhkan beras sebesar 35,97 juta ton dengan asumsi konsumsi 137 kg/kapita (Irianto, 2009).

Kabupaten Aceh Tenggara merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Aceh yang terletak di garis 2 0,55 – 4 0,16 derajat Lintang Utara, 9 60,45 – 9 80,00 derajatBujur Timur yang dikelilingi pegunungan Bukit Barisan dan Gunung Leuser memanjang dari Utara ke Selatan. Dengan ketinggian 40-1.000 mdpl daerah ini dapat dikatagorikan dalam daerah yang beriklim tropis dengan kelembaban udara 35% - 80% dengan curah hujan rata-rata per bulan : 138,91 mm/bulan, dengan hari hujan rata-rata perbulan : 11,41


(28)

hari/bulan dengan suhu udara berkisar antara 180 C - 330

Pada umumnya jenis tanah di Kabupaten Aceh Tenggara adalah Podsolik Merah Kuning, Regosol dan Litosol, dengan jenis tanah yang dominan adalah Regosol dan Podsolid Merah Kuning. Tekstur tanah pada umumnya lempung berpasir dengan derajat kemasaman (pH) bervariasi berkisar antara 5,0 sampai dengan 6,8 pada wilayah kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara (Distan, 2012).

C (BPS dan Distan, 2012).

Kabupaten Aceh Tenggara merupakan salah satu sektor pertanian dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, sehingga sektor pertanian memegang peranan penting bagi penyedia pangan dalam meningkatkan sumber ekonomi pangan sehingga dapat memenuhi swasembada pangan khususnya di Kabupaten Aceh Tenggara.

Tabel 1. Realisasi luas tanam, panen, produktifitas dan produksi padi di Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2012.

No Kecamatan

Luas tanam (Ha) Luas panen (Ha) Produktivitas (Ton/Ha) Produksi (Ton) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Lawe Alas Babul Rahmah Tanoh Alas Lawe Sigala2 Babul Makmur Semadam Leuser Bambel Bukit Tusam Lawe Sumur Babussalam Lawe Bulan Badar Darul Hasanah Deleng Pokhisen Ketambe 1,22 837 554 1.118 1.795 1.520 100 1.125 573 958 100 521 81 273 97 2.289 1.161 795 549 1.062 1.705 1.444 95 1.068 545 910 94 495 78 260 93 2.175 5,35 6,00 5,70 6,40 6,00 6,00 4,35 6,40 5,95 6,60 5,25 6,35 4,70 5,75 5,35 6,50 6.211,35 4.770,00 3.129,30 6.796,80 10.230,00 8.664,00 413,25 6.835,20 3.242,75 6.006,00 493,50 3.143,25 3.66,60 1.495,00 497,55 14.137,50

Jumlah 4.103,07 12.529,00 5,80 76.443,75

Sumber : Laporan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Aceh Tenggara, 2012.


(29)

Menurut (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Aceh Tenggara Kepala Bidang Produksi Padi), penyebab salah satu rendahnya hasil produksi tanaman padi di Kabupaten Aceh Tenggara adalah kurangnya perhatian terhadap adanya gulma dan populasi gulma dilokasi penanaman padi yang dapat menurunkan hasil produksi padi.

Budidaya dari suatu pertanaman akan dipengaruhi oleh adanya organisme pengganggu tanaman (OPT) yang pada kondisi tertentu akan menurunkan pertumbuhan dan produksi tanaman. OPT yang dapat menurunkan pertumbuhan dan produksi padi diantaranya adalah gulma. Pada pertanaman padi, gulma yang menimbulkan kerugian paling besar biasanya merupakan gulma rumput, salah satu jenis gulma rumput yang kompetisinya cukup merugikan adalah jajagoan (Echinochloa crus-galli).

Menurut Sultana (2000) dan Chin (2001), bahwa kehadiran dan populasi gulma jajagoan di pertanaman padi sawah dapat menurunkan produksi tanaman padi hingga 50-59%, sedangkan Ahn dan Chung (2000) mengakibatkan penurunan produksi tanaman padi 57-95%, dan bahkan dapat menurunkan produksi gabah hingga 97% (Islam dan Karim, 2003).

Penurunan hasil produksi tanaman padi dengan adanya populasi gulma mengakibatkan terjadinya suatu interaksi antara tanaman dan gulma, dalam melakukan persaingan untuk mendapatkan satu atau lebih faktor tumbuh yang terbatas, seperti cahaya, hara, dan air. Tingkat persaingan tersebut bergantung pada curah hujan, varietas, kondisi tanah, populasi gulma, lamanya tanaman, pertumbuhan gulma dan umur tanaman saat gulma mulai bersaing (Jatmiko,2002).


(30)

Waktu penyiangan sangat penting dilakukan dalam meningkatkan hasil produksi gabah, waktu penyiangan gulma untuk mendapatkan komponen hasil yang baik sebaiknya dilakukan pada saat yang tepat paling tidak sampai umur tanaman 42 HST (Antralina 2012). Menurut hasil penelitian Jamilah (2013) bobot gabah padi pada perlakuan waktu penyiangan gulma 20 HST yang dilakukan memperoleh hasil gabah 5,06 kg/plot dan terendah terdapat pada perlakuan waktu penyiangan gulma 40 HST dengan hasil gabah padi yaitu 3.79 kg/ plot.

1.2 Perumusan Masalah

Gulma merupakan salah satu sumber masalah yang dapat menghambat pertumbuhan dan produksi tanaman padi yang mengakibatkan produktivitas hasil tanaman padi menjadi menurun, hal ini dikarenakan akibat adanya persaingan dalam medapatkan unsur hara, intesitas cahaya matahari dan air.

Menurut Islam dan Karim (2003) kehadiran gulma padi sawah yaitu jajagoan mengakibatkan penurunan hasil produksi gabah tanaman padi hingga mencapai 97%. Berdasarkan hasil survei di beberapa kecamatan yang telah dilakukan, banyak terdapat jumlah populasi gulma jajagoan di lahan persawahan petani, sehingga berpotensi mengakibatkan meningkatnya penurunan hasil tanaman padi yang diperoleh oleh petani di Kabupaten Aceh Tenggara.


(31)

Dengan demikian peneliti berharap dengan adanya penelitian ini dilakukan nantinya para petani di Kabupaten Aceh Tenggara dapat melakukan pengelolaan gulma dengan menerapkan sistem pengelolaan penggaggu tanaman secara terpadu dan ramah lingkungan.

Oleh karena itu berdasarkan latar belakang diatas maka perlu dilakukan penelitian agar peneliti dapat mengetahui sajauhmana pengaruh waktu penyiangan dan tingkat populasi gulma jajagoan terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah O. sativa. L. yang diperoleh khusunya di Kabupaten Aceh Tenggara.

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan dari pertumbuhan dan hasil produksi tanaman padi sawah yang berkompetisi dengan jajagoan dalam populasi pada jarak tanam jajagoan yang berbeda dihitung dari tanaman utama dan waktu penyiangan yang berbeda.

1.4 Hipotesa

Ada 3 (tiga) hipotesa yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah yaitu :

1. Terdapat perbedaan pengaruh waktu penyiangan jajagoan terhadap

pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah O. sativa. L.

2. Adanya pengaruh tingkat populasi jajagoan pada jarak tanam jajagoan

yang berbeda terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah O. sativa. L dan


(32)

3. Terjadinya interaksi waktu penyiangan dan populasi pada jarak tanam jajagoan yang berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil produksi tanaman padi O. sativa. L.

1.5 Manfaat Penelitian

Dengan adanya penelitian ini dilakukan maka akan diketahui bagaimana pengaruh populasi jajagoan pada jarak tanam yang berbeda dihitung dari tanaman utama terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi yang dihasilkan, sehingga dengan demikian dari hasil penelitian ini nantinya akan dijadikan sebagai sumber data bagi Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Aceh Tenggara Bidang Produksi Padi, dalam menginformasikan kepada para petani bahwa dengan adanya jajagoan dilahan tanaman padi dapat mengakibatkan pengaruh pertumbuhan dan produksi tanaman padi.


(33)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1Botani Tanaman Padi Sawah

Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban manusia dan merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia. Tanaman padi termasuk ke dalam famili Poaceae (Gramineae). Spesies padi yang banyak dibudidayakan adalah Oryza sativa L. dan O. glaberrima L. (Matsuo dan Hoshikawa, 1993).

O. sativa L. terdiri dari dua sub spesies, yaitu: indica dan japonica.

O. sativa sub spesies indica dibudidayakan di daerah selatan Pegunungan Himalaya dan O. sativa sub spesies japonica didomestikasi di bagian selatan China. O. sativa sub spesies japonica memiliki ciri berdaun sempit dan berwarna hijau tua, bentuk biji membulat, lebar dan tebal memiliki bulu yang panjang atau ada juga yang tidak berbulu rambut pada glume tebal dan panjang distribusinya meliputi Jepang, Korea dan Cina bagian utara (Makarim dan Suhartatik, 2009).

Setiap bunga padi memiliki enam kepala sari (anther) dan kepala putik (stigma) bercabang dua berbentuk sikat botol. Kedua organ seksual ini umumnya siap bereproduksi dalam waktu yang bersamaan. Kepala sari kadang-kadang keluar dari palea dan lemma jika bunga telah masak. Menurut Kemal dan Prihatman (2000) klasifikasi botani tanaman padi sawah adalah :

Famili : Gramineae (Poaceae)

Genus : Oryza


(34)

Padi dibedakan dalam dua tipe yaitu padi kering (gogo) yang ditanam di dataran tinggi dan padi sawah di dataran rendah yang memerlukan penggenangan.

Gambar a. Gabah padi varietas Ciherang Gambar b. Malai padi varietas Ciherang

Gambar 1. Padi varietas Ciherang (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008)

2.2Morfologi Tanaman Padi

Morfologi suatu tanaman sangat berpengaruh terhadap produktivitas misal, efektivitas menangkap radiasi surya, suhu mikro tajuk tanaman dan ketersediaan air bagi tanaman akibat perakaran yang berbeda dalam penyebarannya. Pemahaman tentang bentuk dan fungsi dari organ-organ tanaman padi diperlukan antara lain untuk merancang tipe tanaman ideal.

2.2.1. Gabah Tanaman Padi

Gabah terdiri atas biji yang terbungkus oleh sekam, biji yang sehari-hari dikenal dengan nama beras pecah kulit adalah karyopsis yang terdiri atas janin (embrio) dan endosperma yang diselimuti oleh lapisan aleuron, kemudian tegmen dan lapisan terluar disebut perikarp. Dalam jenis-jenis japonika, sekam terdiri atas gulma rudimenter dan bagian dari tangkai gabah (pedicel), sedangkan pada jenis-jenis indika, sekam dibentuk oleh palea, lemma mandul dan rakhila (Yoshida, 1981).


(35)

2.2.2. Akar Tanaman Padi

Akar tanaman padi berfungsi sebagai penguat/penunjang tanaman untuk dapat tumbuh tegak, menyerap hara dan air dari dalam tanah untuk selanjutnya diteruskan ke organ lainnya di atas tanah. Akar tanaman padi termasuk golongan akar serabut, akar primer (radikula) yang tumbuh sewaktu berkecambah bersama akar-akar lain yang muncul dari janin dekat bagian buku skutellum disebut akar seminal yang jumlahnya antara 1-7 (Makarim dan Suhartatik, 2009).

2.2.3. Batang Tanaman Padi

Batang padi berfungsi sebagai penopang tanaman, penyalur senyawa-senya kimia dan air dalam tanah serta sebagai cadangan makanan. Hasil tanaman yang tinggi harus didukung dengan batang padi yang kokoh, bila tidak maka tanaman padi akan rebah terutama didaerah yang sering dilanda angin kencang. Batang terdiri atas beberapa ruas yang dibatasi oleh buku, daun dan tunas (anakan) tumbuh pada buku.

Pada permukaan stadia tumbuh batang yang terdiri atas

pelepah-pelepah daun ruas-ruas yang tertumpuk padat, ruas-ruas tersebut kemudian memanjang dan berongga setelah tanaman memasuki stadia reproduktif. Oleh karena itu stadia reproduktif disebut juga sebagai stadia perpanjang ruas (De Datta, 1987; Makarim dan Suhartatik, 2009).


(36)

2.2.4. Daun Tanaman Padi

Daun merupakan bagian dari tanaman yang berwarna hijau karena mengandung khlorofil (zat hijau daun) adanya klorofil ini menyebabkan daun tanaman dapat mengolah sinar radiasi surya menjadi karbohidrat/energi untuk tumbuh kembangnya organ-organ

tanaman lainnya atau disebut sebagai sources. Daun tanaman padi

tumbuh pada batang dalam susunan yang berselang-selang satu daun pada tiap buku. Tiap daun terdiri atas (1) helai daun, (2) pelepah daun

yang membungkus ruas, (3) telinga daun (auricle), (4) lidah daun

(ligule). Sifat daun yang dikehendaki pada tanaman padi adalah daun yang tumbuh tegak, tebal, kecil dan pendek.

2.2.5. Bunga dan Malai Tanaman Padi

Bunga padi secara keseluruhan disebut malai, tiap unit bunga pada malai dinamakan spikelet yang pada hakikatnya adalah bunga yang terdiri atas tangkai, bakal buah, lemma, palea, putik dan benang sari serta beberapa organ lainnya yang bersifat inferior. Tiap unit bunga pada malai terletak pada cabang-cabang bulir yang terdiri atas cabang primer dan sekunder (Siregar, 1981).

2.3Syarat Tumbuh Tanaman Padi 2.3.1 Iklim

Tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 45 derajat LU sampai 45 derajat LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan. Rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun.


(37)

Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian 0-650 m dpl dengan temperatur 22-270 C sedangkan di dataran tinggi 650-1.500 m dpl dengan temperature 19-230

2.3.2 Media Tanam Tanaman Padi

C, tanaman padi memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan (Herawati, 2012).

Padi sawah ditanam di tanah berlempung yang berat atau tanah yang memiliki lapisan keras 30 cm di bawah permukaan tanah. Menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm. Keasaman tanah antara pH 4,0-7,0. Pada padi sawah, penggenangan akan mengubah pH tanam menjadi netral 7,0 (BPP Teknologi, 2000).

2.4Botani Jajagoan

Jajagoan (Echinochloa crus-galli) merupakan tumbuhan annual kelas Monocotyledon dan mempunyai nama lain Panicum crus-galli (IRRI, 1983). Dengan klasifikasi botani gulma jajagoanadalah sebagai berikut :

Famili : Poaceae

Genus : Echinochloa Beauv.

Spesies : Echinochloa crus-galli (L.) Beauv

Jajagoan diperkirakan berasal dari Eropa dan India, tersebar pada

daerah tropis dan sub tropis di seluruh negara Asia Tenggara dan Asia selatan serta Australia (Waterhouse, 1994). Menurut Moenandir (1993) rumput ini dapat ditemui di Indonesia dan dikenal dengan nama gagajahan (Sunda), jajagoan, padi burung, jawan, jawan pari atau suket ngawan (Jawa). Jajagoan termasuk tumbuhan C4 yang merupakan salah satu anggota yang paling


(38)

Tumbuhan berjalur C4 lebih efisien dalam menggunakan cahaya matahari, air dan unsur hara (Setyowati et al., 2007). Sehingga tanaman atau gulma dengan siklus C4 memiliki kapasitas tinggi dalam berproduksi dan berkompetisi.

E. crus-galli merupakan jenis gulma memililki penyebaran yang paling luas di seluruh Asia Selatan dan Asia Tenggara dan berperan sebagai gulma pada 36 jenis tanaman budidaya di 61 negara (Jones, 1985 ; Galinato et al., 1999).

Gambar 2. Gulma rumput (Grasses) jajagoan 2.5 Morfologi Jajagoan

Menurut Kasasian (1971) rumput Jajagoan sangat mirip dengan padi bila

masih muda. Jajagoan termasuk tumbuhan tahunan yang memiliki perawakan

tegak, berberías. Jenis rumput ini memiliki tinggi sekitar 20-150 cm (Soerjani, 1987). Galinato et al., (1999) menambahkan bahwa tinggi jajagoanbisa mencapai 200 cm.


(39)

Gambar 3. Morfologi jajagoan

Keterangan : a. zona helaian daun; b. Spikelet dengan rambut pendek; c. Spikelet dengan rambut panjang dari raceme yang sama; d. Glume yang paling bawah (G1) tampak belakang (dibuka); e. Glume teratas (G2), tampak depan; f. Lemma terbawah (L1), tampak depan; g. Palea terbawah P1), tampak depan; h. Lemma teratas (L2), tampak depan; i. Palea teratas (P2), tampak depan; j. Kariopsis, dua sisi Sumber Beauv (Soerjani et al., 1987).

2.5.1 Daun Jajagoan

Daun jajagoanpada saat masih muda sangat mirip dengan daun padi. Daerah pangkal daun dapat digunakan untuk membedakan daun jajagoan dan daun padi. Pangkal daun jajagoan tidak memiliki ligula dan aurikel, sedangkan pangkal daun padi memiliki ligula yang bermembran dan aurikel yang berbulu (Itoh, 1991). Jajagoan memiliki daun yang tegak atau rebah pada dasarnya. Daunnya memiliki ukuran panjang sampai 35 cm dan lebar 0.5-1.5 cm. Warna daun rumput ini hijau sampai hijau keabuan. Setiap daun memiliki pelepah yang tidak berambut dan memiliki panjang 9-13 cm (Waterhouse, 1994).

Pelepah daun umumnya berwarna kemerahan di bagian bawahnya. Helaian daun berukuran 5- 65 cm x 6-22 mm, bersatu dengan pelepah, berbentuk linear dengan bagian dasar yang lebar dan melingkar dan bagian ujung yang meruncing. Permukaan daun rata, agak kasar dan menebal di bagian tepi (Duke, 1996).


(40)

2.5.2 Batang Jajagoan

Batang jajagoankuat, tidak berambut dan berbentuk silindris dengan intisari yang menyerupai spons putih di bagian dalamnya (Sastroutomo,

1990). Batang jajagoan umumnya bercabang di dekat pangkal batang

(Waterhouse, 1994).

2.5.3 Akar Jajagoan

Jajagoanmemiliki jenis akar yang berserat dan tebal. Akar jajagoan dihasilkan pada setiap ruasnya (Soerjani et al., 1987). Sedangkan akar tanaman padi termasuk golongan akar serabut, akar primer yang tumbuh sewaktu berkecambah bersama akar akar lain yang muncul dari janin dekat bagian buku skutellum (Makarim dan Suhartatik, 2009).

2.5.4 Bunga Jajagoan

Pembungaan berupa panikel apikal atau malai yang berada di ujung dengan 5-40 bunga majemuk bulir yang mempunyai tipe raceme, dengan cabang-cabang pendek yang menaik. Bunga majemuknya terdiri dari banyak spikelet yang berbelok pada satu sisi, berbentuk tegak pada awalnya tetapi selanjutnya sering membengkok ke bawah (Soerjani, 1987).

2.5.5 Biji Jajagoan

Lemma dari floret yang pertama memiliki permukaan yang datar atau sedikit cembung atau tumpul. Glume bagian bawah memiliki panjang sekitar 1.5- 2.5 mm, berbentuk ovate, memendek dan memiliki ujung yang memendek secara bertahap. Glume bagian atas memiliki panjang yang sama dengan spikelet, berbentuk ovate-oblong, runcing, memiliki rambut yang tebal dan kaku sepanjang 0.5-3 mm serta berambut pendek. Produksi benih


(41)

bervariasi dari 2 000 – 40 000 benih per tanaman pada daerah bergulma. Hal tersebut menunjukkan bahwa jajagoan mampu menghasilkan lebih dari 1 000 kg benih/ha. (Galinato et al., 1999).

Sumber : Mochamad, 2008

Gambar 4. Bentuk biji jajagoan 2.6 Perbanyakan dan Ekologi Jajagoan

Jajagoan memperbanyak diri secara generatif melalui biji. Jenis

gulma ini bereproduksi dengan cara penyerbukan sendiri atau penyerbukan

silang. Jajagoan melakukan penyerbukan silang dengan menggunakan

bantuan angin (Itoh, 1991). Jajagoan tumbuh pada daerah dengan ketinggian yang rendah sampai sedang. Gulma ini tumbuh baik pada tempat dengan penyinaran penuh sepanjang tepi perairan (Soerjani et al., 1987).

Tanah pertumbuhan jajagoan sangat baik pada jenis tanah berpasir dan berlempung terutama apabila kandungan nitrogennya tinggi (Kropff dan Van Laar, 1993). Pertumbuhan Jajagoan tidak dibatasi oleh pH tanah, tetapi

Jajagoan akan tumbuh lebih baik pada tanah dengan pH netral. Suhu

lingkungan optimum untuk perkecambahan benih adalah 32-37°C. Tingkat perkecambahan akan menurun drastis pada suhu lingkungan di bawah 10°C atau di atas 40°C (Galinato et al., 1999). Benih jajagoan tidak dapat berkecambah pada kedalaman air lebih dari 12 cm (Soerjani, 1987).


(42)

2.7 Pengaruh Populasi JajagoanTerhadap Tanaman Padi

Jajagoan merupakan gulma yang paling dominan pada tanaman padi yang tersebar di banyak negara di Asia dan merupakan gulma utama dalam berbagai tanaman di seluruh daerah tropis dan subtropis (Holm et al., 1991). Jajagoan bersaing dengan tanaman untuk mendapatkan nutrisi, air dan cahaya. Sebagian besar bukti bahwa pengaruh dari jajagoan pada tanaman padi dan berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan, kerugian yang disebabkan jajagoan pada tanaman padi di Sri Langka, jumlah jajagoan batas ambang jajagoan untuk kompetisi sepanjang musim yaitu 5 tanaman/m2

Sedangkan di Brazil, keberadaan jajagoan sepanjang musim dapat menurunkan hasil panen sebesar 45%. Berdasarkan hasil penelitian Azmi et al. (1994) di Malaysia kehilangan hasil 7% untuk setiap penambahan jumlah populasi populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda dibandingkan dengan tidak adanya jajagoan. Menurut Chisaka (1977) menunjukkan bahwa adanya kerapatan jajagoan 20 m

, di mana kerugian hasil gabah mencapai 8-17% (Senanayake et al., 1986).

2

Di India, pertumbuhan gulma Jajagoan pada padi sawah dengan menanam benih jajagoan langsung dapat menyebabkan penurunan 53% pada

hasil gabah (Ali dan Sankaran, 1984). Menurut Paradkar et al. (1998)

mencatat bahwa kehilangan hasil 30% akibat jumlah populasi jajagoan 15 m mengakibatkan kerugian sebesar 16%.

2 , sedangkan pada populasi jajagoan 30-120 m2 dapat mengakibatkan kehilangan hasil 40 - 61% pada per tanaman padi.


(43)

Sedangkan di Brazil, melaporkan bahwa penurunan hasil padi sebesar 16, 25, 70, dan 80% dari jumlah populasi jajagoan dari 5, 10-20, 40-60 dan 80-100 m2. Di Amerika Serikat, Stauber et al. (1991) mencatat bahwa penurunan hasil tanaman padi mencapai 50% yang disebabkan jumlah populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda 20 m-2

2.8 Persaingan Tanaman Padi dengan Gulma

. Hasil penelitian Chisaka (1977) dan Murakami et al. (1978) di Jepang menunjukkan bahwa kerugian terbesar pada varietas padi genjah dan pada waktu jajagoan tumbuh di lahan tanaman padi sawah.

Kompetisi berasal dari kata competere yang berarti mencari atau mengejar sesuatu yang secara bersamaan dibutuhkan oleh lebih dari satu pencari. Persaingan (kompetisi) timbul dari tiga reaksi tanaman pada faktor fisik dan pengaruh faktor yang dimodifikasikan pada pesaing-pesaingnya. Dua tanaman meskipun tumbuh berdekatan, tidak akan saling bersaing bila bahan yang diperebutkan jumlahnya berlebihan. Bila salah satu bahan tersebut berkurang maka persaingan akan timbul, sehingga istilah persaingan menerangkan kejadian yang menjurus pada hambatan pertumbuhan tanaman yang timbul dari asosiasi lebih dari satu tanaman dan tumbuhan lain (Moenandir, 1993).

Semua tumbuhan yang tidak dikehendaki keberadaannya dan menimbulkan kerugian disebut gulma. Gulma merupakan tumbuhan yang berasal dari spesies liar yang telah lama menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, atau spesies baru yang telah berkembang sejak timbulnya pertanian (Monaco, 2002).


(44)

Menurut Navas (1991) mendefinisikan gulma sebagai tanaman yang membentuk populasi yang mampu memasuki habitat tanaman yang dibudidayakan, secara nyata mengganggu manusia, dan berpotensi menekan atau menggantikan tanaman penduduk yang sengaja dibudidayakan. Gulma dapat berkembang dibawah kondisi yang dihasilkan oleh praktik-praktik pertanian bidang pengolahan tanah, irigasi, pemupukan, dan dapat meminimalkan pertumbuhan normal, kesuburan rendah, dan meningkatkan populasi hama.

Gulma merupakan salah satu faktor pembatas produksi tanaman padi, gulma menyerap hara dan air lebih cepat dibanding tanaman pokok (Gupta, 1984). Pada tanaman padi, biaya pengendalian gulma mencapai 50% dari biaya total produksi (IRRI, 1992). Komunitas gulma dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan kultur teknis. Spesies gulma yang tumbuh bergantung pada pengairan, pemupukan, pengolahan tanah dan cara pengendalian gulma (Noor dan Pane, 2002).

Gulma berinteraksi dengan tanaman melalui persaingan untuk mendapatkan satu atau lebih faktor tumbuh yang terbatas, seperti cahaya, hara, dan air. Tingkat persaingan bergantung pada curah hujan, varietas, kondisi tanah, kerapatan gulma, lamanya tanaman, pertumbuhan gulma, serta umur tanaman saat gulma mulai bersaing (Jatmiko et al.,2002).

Pengaruh tidak langsung gulma terhadap tanaman dapat menyebabkan terhambatnya aksesibilitas sehingga berakibat buruk terhadap efisiensi dan efektivitas pemupukan, sulitnya pengendalian hama dan penyakit serta pekerjaan-pekerjaan lain (Purba, 2008).


(45)

Dampak adanya gulma juga mengakibatkan persaingan tanaman dalam mengambil unsur hara, air, ruang dan cahaya. Dilahan irigasi, persaingan gulma dengan padi dapat menurunkan hasil padi 10-40 %, tergantung pada spesies dan kerapatan gulma, jenis tanah, pasokan air dan keadaan iklim (Nantasomsaran dan Moody, 1993 ; Pane dan Jatmiko, 2009).

Pada tingkat pengelolaan petani, kehilangan hasil padi akibat persaingan dengan gulma berkisar antara 10-15% Nyarko dan De Datta

(1991), sementara di Karawang tingkat kehilangan hasil tersebut sebesar

8-12% (Pane et al., 2002). Ini menandakan bahwa penyiangan yang

dilakukan petani belum tuntas, karena suaktu penyiangan, petani sukar membedakan antara bibit padi dengan gulma yang sangat mirip padi, seperti gulma jajagoan.

Menurut World Bank (1996), gulma menyebabkan kehilangan hasil panen padi di Asia 50 juta ton dengan nilai lebih dari US$10 milliar. Sedangkan menurut Labrada (2003), kompetisi gulma di Cina menyebabkan kehilangan produksi padi sebesar 10 juta ton setiap tahun.

Penyiangan yang dilakukan dalam pengelolaan gulma termasuk dalam pengelolaan gulma secara mekanis, yang merupakan usaha menekan pertumbuhan gulma dengan cara merusak bagian-bagian sehingga gulma tersebut mati atau pertumbuhannya terhambat. Teknik pengelolaan ini hanya mengandalkan kekuatan fisik atau mekanik (cara manual) maksudnya adalah pencabutan dengan tangan atau disebut penyiangan dengan tangan merupakan cara yang praktis, efesien dan ramah lingkungan, cara ini umumnya cukup baik dilakukan pada berbagai jenis gulma, salah satunya


(46)

yaitu gulma jajagoan yang sering tumbuh di sekitar lahan padi sawah (Sukman dan Yakup, 2002).

Besarnya persaingan antara gulma dan tanaman juga ditentukan oleh kerapatan gulma dan lamanya gulma tumbuh bersamaan dengan tanaman budidaya serta jenis gulma. Semakin tinggi kerapatan gulma, maka semakin besar pula penekananya terhadap produksi tanaman dan semakin lama gulma tumbuh bersama dengan tanaman pokok maka semakin banyak persaingan yang akan terjadi, sehingga pertumbuhan tanaman terhambat dan hasil produksi yang didapatkan akan menurun (Mangoesoekardjo, 1978 dan Syam


(47)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di lahan sawah Desa Kampung Baru, Kecamatan Badar, Kabupaten Aceh Tenggara dengan ketinggian tempat berkisar 250-350 mdpl, dengan tofografi datar, dengan jenis tanah sawah Andosol (BPS, 2012 dan Distan, 2012). Penelitian dilakukan pada bulan Pebruari hingga bulan Mei 2014.

3.2 Survei Populasi Jajagoan

Penentuan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda dilakuakan dengan menggunakan metode survei di lapangan (areal sawah petani) penanaman padi. Tujuan dilakukanya survei untuk mendapatkan jumlah populasi jajagoan di lokasi areal persawahan petani dengan menyurvei lima (5) Kecamatan yaitu Kecamatan Badar Desa Kampung Baru dan Desa

Salang Alas dengan jumlah 62 rumpun dengan luas petak amatan 375 m2.

Pada Kecamatan Lawe Sumur Desa Terutung Megara Lawe Pasaran dan Desa Lawe Sumur masing-masing jumlah populasi jajagoan 75 rumpun dengan luas

petak amatan 450 m2 dan 37 rumpun dengan luas petak amatan 150 m2,

sedangkan Kecamatan Babussalam Desa Batu Mbulan dan Desa Gusung Mentali jumlah populasi jajagoan 40 dengan luas petak amatan 300 m2 dan 48 rumpun dengan luas petak amatan 288 m2. Setelah diketahui jumlah jumlah jajagoan di areal persawahan petani maka selanjutnya hasil populasi yang di dapat di jadikan sebagai dasar penentuan populasi dalam penelitian ini.


(48)

3.3 Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam percobaan penelitian ini adalah : benih padi non hibrida varietas Ciherang bersertifikat, biji jajagoan dari areal penanaman padi sawah petani, pupuk Urea, TSP, SP-36 dan KCL.

3.4 Metode Penelitian

Percobaan dilakukan dengan menggunakan rancangan petak terpisah dalam rancangan acak kelompok faktorial. Percobaan terdiri atas dua faktor

dengan tiga ulangan. Setiap satuan percobaan berupa plot berukuran 3 m x 3 m. Jarak antar plot 0,5 m, jarak petak utama 1 m, jarak antar ulangan

1 m dan jarak tanam 20 x 20 cm per plot tanaman dengan perlakuan sebagai berikut :

- Petak Utama : Faktor waktu penyiangan jajagoan secara manual (tangan)

disimbolkan dengan (P) terdiri dari 5 taraf : P0 : Tanpa penyiangan

P1 : Waktu penyiangan jajagoan berumur 3 MST P2 : Waktu penyiangan jajagoan berumur 6 MST P3 : Waktu penyiangan jajagoan berumur 9 MST P4 : Waktu penyiangan jajagoan berumur 12 MST

- Anak Petak : Faktor jumlah populasi jajagoan disimbolkan dengan (J)

dengan 4 taraf :

J0 : Bebas gulma jajagoan dilakukan dengan cara manual (tangan)

J1 : Populasi jajagoan 105 per plot dengan jarak tanam jajagoan 22 cm dihitung dari tanaman utama.


(49)

J2 : Populasi jajagoan 210 per plot dengan jarak tanam jajagoan 16 cm dihitung dari tanaman utama.

J3 : Populasi jajagoan 210 per plot dengan jarak tanam jajagoan 12 cm dihitung dari tanaman utama.

Penanaman Jajagoan

Penanaman jajagoan pada populasi per plot pada penelitian dilakukan dengan cara, jajagoan ditanam antar baris tanaman padi diukur dari setiap tanaman utama dalam barisan. Pada perlakuan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan 22 cm diukur dari setiap tanaman utama dengan luas plot 3 m x 3 m dan jumlah baris tanaman padi berjumlah 15 rumpun dengan jumlah jajagoan 7 rumpun pada baris tanaman padi sehingga total jajagoan ditanam berjumlah 105 per plot.

Pada perlakuan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan 16 cm diukur dari setiap tanaman padi dalam barisan dengan luas plot 3 m x 3 m dan jumlah baris tanaman padi berjumlah 15 rumpun dengan jumlah jajagoan 14 rumpun pada baris tanaman padi sehingga total jajagoan ditanam berjumlah 210 per plot.

Sedangkan perlakuan populasi dengan jarak tanam jajagoan 12 cm diukur dari setiap tanaman padi dalam barisan dengan luas plot 3 m x 3 m dan jumlah baris tanaman padi berjumlah 15 rumpun dengan jumlah jajagoan 14 rumpun pada baris tanaman padi sehingga total jajagoan ditanam berjumlah 210 per plot.


(50)

Kombinasi perlakuan

Dari perlakuan waktu penyiangan dan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda akan diperoleh 20 kombinasi perlakuan, yaitu :

1. P0J0 2. P1J0 3. P2J0 4. P3J0 5. P4J0

6. P0J1 7. P1J1 8. P2J1 9. P3J1 10. P4J1

11. P0J2 12. P1J2 13. P2J2 14. P3J2 15. P4J2

16. P0J3 17. P1J3 18. P2J3 19. P3J3 20. P4J3

Dimana :

Jumlah kombinasi perlakuan : 4 x 5 = 20 Perlakuan

Jumlah ulangan : 3 ulangan

Ukuran plot penelitian : 3 x 3 m

Total jumlah plot penelitian : 60 plot

Jumlah tanaman padi perplot : 225 tanaman

Jumlah tanaman seluruhnya : 13.500 tanaman

Jumlah tanaman per lubang : 1 tanaman

Jumlah jajagoan per lubang : 1 rumpun

Populasi jajagoan dengan jarak tanam 22 cm : 105 rumpun/plot

Total populasi jajagoan dengan jarak tanam 22 cm : 6.300 rumpun

Populasi jajagoan dengan jarak tanam 16 cm : 210 rumpun/plot

Total populasi jajagoan dengan jarak tanam 16 cm : 12.600 rumpun

Populasi jajagoan dengan jarak tanam 12 cm : 210 rumpun/plot

Total populasi jajagoan dengan jarak tanam 12 cm : 12.600 rumpun

Jumlah tanaman sampel : 3 tanaman


(51)

Jumlah tanaman padi destruktif : 3 tanaman

Total jumlah tanaman padi destruktif : 180 tanaman

Jumlah jajagoandestruktif : 3 rumpun

Total jumlah jajagoandestruktif : 180 rumpun

Jumlah sampel gabah berisi dan gabah hampa : 3 tanaman

Total jumlah gabah berisi dan gabah hampa : 180 tanaman

Jumlah tanaman sampel gabah kering : 3 tanaman

Total jumlah tanaman sampel gabah kering : 180 tanaman

Luas lahan penelitian : 786,5 m2

Yijk = µ + αi + δik + βj + (αβ)ij + εijk

Menurut Gomez, (1995), Model Linier yang diasumsikan dalam rancangan acak petak terpisah (RPT) adalah :

Dimana :

Yijk : Nilai pengamatan pada taraf ke- i faktor A, taraf ke j faktor B dan

ulangan ke- k

µ : Nilai tengah umum

αi : Pengaruh taraf ke- i dari faktor A

βj : Pengaruh taraf ke -j dari faktor B

(αβ)ij : Pengaruh interaksi taraf ke- i faktor A dengan taraf ke- j faktor B

δik : Pengaruh acak untuk petak utama

εijk : Pengaruh acak untuk anak petak

Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan Minitab 16. Jika perlakuan waktu penyiangan dan kerapatan gulma menunjukkan pengaruh nyata


(52)

maka dilanjutkan dengan menguji beda rata-rata dengan BNJ (Beda Nyata Jujur) selang kepercayaan 95 % (Pramesti, 2009).

3.5 Pelaksanaan Penelitian

Pelaksanaan dalam penelitian ini dimulai dari awal, yaitu sejak dilakukan persemaian sampai tanaman padi dipanen. Dalam proses pertumbuhan tanaman hingga berbuah ini dipelihara baik, terutama diusahakan agar tanaman terhindar dari serangan hama dan penyakit yang sering kali menurunkan produksi, tahapan budidaya tanaman padi meliputi :

a. Persemaian

Membuat persemaian merupakan langkah awal bertanam padi. Pembuatan persemaian memerlukan suatu persiapan yang sebaik-baiknya, sebab benih di persemaian ini akan menentukan pertumbuhan padi di sawah, oleh karena itu persemian benar-benar mendapat perhatian, untuk mendapatkan bibit padi yang sehat dan subur dengan tahapan sebagai berikut :

1. Pembuatan Lahan Persemaian Padi dan Biji Gulma Jajagoan

Lahan persemaian dipersiapkan sebelum dilakukan penyemaian. Areal tanah persemaian diolah dengan mengunakan cangkul dan babat selama dua (2) hari kondisi lahan persemaian dalam keadaan tidak tergenang air, setelah pengolahan tanah persemaian selesai dilakukan, lahan persemaian dibiarkan selama 3 hari dengan kondisi lahan persemaian tergenang yang bertujuan untuk melembekkan bongkahan-bongkahan tanah dan sisa jerami dan gulma cepat membusuk. Pada hari ke 4 tanah diolah kembali kemudian tanah digaru agar bongkahan-bongkahan tanah menjadi hancur sehingga tanah menjadi lumpur halus.


(53)

Bedengan persemaian dibuat dengan ukuran panjang 500 cm, lebar 100 cm dan tinggi 20-30 cm. Sedangkan pada pembuatan lahan persemaian biji jajagoan hampir sama dengan pembuatan lahan persemaian benih padi. Tanah dibersihkan dari rumput sisa-sisa jerami yang masih tertinggal, agar tidak mengganggu pertumbuhan bibit jajagoan. Tanah dibajak atau dicangkul selanjutnya tanah digaru, areal persemaian dikerjakan dengan cangkul yang pada dasarnya pengolahan tanah ini bertujuan agar biji jajagoan dapat tumbuh dengan baik. Ukuran bedengan persemaian dibuat dengan ukuran panjang 500 cm dengan lebar 100 cm dan tinggi 20-30 cm.

2. Penggunaan Benih dan Penaburan Benih Padi

Penggunaan benih menggunakan benih padi bersertifikat/berlabel biru yang bertujuan untuk menentukan hasil produksi dari tanaman padi. Perlakuan persiapan benih terlebih dahulu direndam dalam air yang bertujuan untuk melakukan seleksi terhadap benih yang kurang baik dan mempercepat terjadi proses fisiologis didalam benih yang bertujuan untuk mempercepat perkecambah benih padi.

Perendaman benih direndam dalam air selama 24 jam, kemudian diperam (sebelumnya ditiriskan atau dietus). Lamanya pemeraman benih dilakukan selama 48 jam. Pelaksanaan penaburan benih dilakukan setelah benih berkecambah dengan panjang akar benih kurang lebih 1 mm penaburan benih dilakukan secara merata dan kerapatan benih harus sama pada lahan persemaian benih padi (Herawati, 2012).


(54)

3. Biji Jajagoan dan Penaburan Biji Jajagoan

Biji jajagoan dikumpulkan dari areal persawahan tanaman padi petani yang telah selesai di panen. Biji jajagoan yang dipanen adalah biji jajagoan yang telah tua, biji jajagoandi kering-anginkan selama 30 menit dan disimpan dengan menggunakan kantung plastik selama 14 hari sebelum dilakukannya persemaian. Penaburan biji jajagoan dilakukan secara merata pada lahan persemaian dengan keadaan air macak-macak sehingga biji jajagoan dapat tumbuh.

4. Pemeliharaan Persemaian Benih Padi

Pemeliharaan persemaian benih padi memiliki beberapa tahap yaitu :

4.1) Penyiangan

Penyiangan dilakukan bila diareal lahan persemaian tumbuh gulma, ini bertujuan agar bibit padi tidak terjadi persaingan dalam perebutan air, unsur hara dan fotosintesis sehingga nantinya bibit padi dapat tumbuh dengan baik sesuai dengan yang diharapkan, penyiangan dilakukan dengan kondisi lahan persemaian benih padi dalam keadaan tergenang dengan keadaan air 5 cm diatas permukaan tanah dengan menjaga kondisi lahan persemaian dalam keadaan optimum, penggenangan dilakukan bertujuan agar gulma yang tumbuh dilahan persemaian benih padi menjadi busuk dan memudahkan proses dalam penyiangan gulma.


(55)

4.2) Pengairan

Pengairan pada persemaian dilakukan dengan cara bedengan digenangi air selama 24 jam dengan ketinggian 5 cm, kemudian air dikurangi hingga keadakan macak-macak (nyemek-nyemek), lalu benih mulai disebar. Pengurangan air pada pesemaian hingga keadaan air menjadi macak-macak ini, dimaksudkan agar benih yang disebar dapat merata, mudah melekat ditanah dan akar akan mudah masuk kedalam tanah sehingga benih tidak busuk akibat genagan air serta memudahkan benih bernafas/mengambil oksigen langsung dari udara, sebagai proses mempercepat perkecambahan.

Agar benih dalam bedengan tidak hanyut, maka air harus diatur sesuai dengan keadaan, misalnya : bila akan terjadi hujan maka bedengan perlu digenangi air, agar benih tidak hanyut dan terbuang karena percikan air hujan. Penggenangan air dilakukan pada saat menjelang pemindahan bibit dari pesemaian ke lahan pertanaman dengan kondisi air 5 cm diatas permukaan tanah, untuk memudahkan proses pencabutan (BPP Teknologi, 2000).

4.3) Pemupukan di persemaian tanaman padi

Pemupukan di persemaian ukuran 5 x 5 m menggunakan pupuk Urea 250 kg/ha, TSP 80 kg/ha dengan ukuran pupuk diberikan tiga hari sebelum penaburan benih padi agar pupuk dapat terlarut kedalam tanah. Pemupukan di persemaian di lakukan dengan kondisi keadaan air macak-macak sehingga pupuk yang diberikan tidak tererosi oleh air dan pupuk dapat langsung


(56)

menyerap kedalam tanah. Setelah tujuh hari pupuk pupuk urea diberikan kembali dengan cara ditaburkan secara merata ke areal persemaian dengan kondisi air macak-macak.

4.4) Pengendalian hama

Pengendalian hama di areal persemaian ukuran persemaian 5 x 5 m dilakukan dengan cara penyemprotan menggunakan alat penyemprot gendong, insektisida BONA 500 EC (bahan aktif BPMC) dengan dosis 1,5 ml/ha per 4,5 liter/Ha, sehingga penggunaan dosis di persemaian 3,75 ml per 1,13 liter air pada areal persemaian bibit padi. Aplikasi dilakukan pada waktu pagi hari

yang bertujuan untuk mengendalikan serangga ulat daun (Nympula

sp) dan belalang daun (Valanga sp).

5. Pemeliharaan Persemaian Biji Jajagoan

Pemeliharaan persemaian biji jajagoan memiliki beberapa tahapan yaitu :

5.1) Penyiangan

Penyiangan dilakukan bila diareal lahan persemaian tumbuh jenis gulma lain (selain jajagoan), ini bertujuan agar bibit jajagoan dapat tumbuh dengan baik sesuai dengan yang diharapkan. Penyiangan yang dilakukan dengan kondisi air dalam keadaan tergenang agar gulma lain yang tumbuh dapat busuk dan mati, penggenangan lahan persemaian gulma jajagoan dilakukan dengan menjaga keadaan air yang optimum. Apabila gulma lain (selain gulma jajagoan) telah melewati keadaan air yang optimum pada


(57)

persemaian gulma jajagoan, maka penyiangan gulma dilakukan dengan menggunakan tangan.

5.2) Pengairan

Pengairan persemaian jajagoan sama dengan persemaian padi pengairan pada pesemaian dilakukan dengan cara bedengan digenangi air selama 24 jam dengan ketinggian 5 cm, setelah genagan itu berlangsung selama 24 jam, kemudian air dikurangi hingga keadakan macak-macak (nyemek-nyemek), kemudian biji jajagoan disebar.

Pengurangan air pada pesemaian hingga keadaan air menjadi macak-macak ini, dimaksudkan agar biji jajagoan yang disebar dapat merata, mudah melekat ditanah dan akar akan mudah masuk kedalam tanah sehingga biji gulma jajagoan tidak busuk akibat genagan air dan memudahkan biji gulma jajagoan bernafas/mengambil oksigen langsung dari udara, sehingga proses perkecambahan lebih cepat.

Untuk mencegah biji gulma jajagoan dalam bedengan tidak hanyut, maka air harus diatur sesuai dengan keadaan, misalnya : bila akan terjadi hujan maka bedengan perlu digenangi air, agar biji gulma jajagoan tidak hanyut dan terbuang akibat percikan air hujan. Penggenangan air dilakukan lagi pada saat menjelang pemindahan bibit jajagoan dari pesemaian kelahan pertanaman, untuk memudahkan pencabutan.


(58)

b. Persiapan dan Pengolahan Tanah Sawah

Pengolahan tanah bertujuan mengubah keadaan tanah pertanian dengan alat tertentu hingga memperoleh susunan tanah (struktur tanah) yang dikehendaki oleh tanaman. Pengolahan tanah dilakukan selama 15 hari sebelum pemindahan bibit, pengolahan tanah sawah dilakukan dengan beberapa tahap yaitu :

1). Pembersihan

Pembersihan lahan sawah dilakukan sebelum pengolahan tanah. Pematang sawah dibersihkan dari rerumputan, sisa-sisa jerami yang masih tinggal di lahan sawah. Membersihkan petakan sawah dan saluran air irigasi atau parit dari rerumputan, kegiatan tersebut bertujuan agar dapat memperlancar arus air serta menekan jumlah biji gulma yang terbawa masuk ke dalam petakan. Pembersihan sisa–sisa tanaman dapat dikerjakan dengan tangan, rembas dan cangkul pembersihan ini dilakukan selama satu hari.

2). Pencangkulan

Setelah dilakukan perbaikan pematang dan saluran, tahap berikutnya adalah pencangkulan. Pencangkulan merupakan bagian dari pengolahan tanah sawah, pencangkulan tanah dilakukan pada lahan persawahan dengan keadaan air macak-macak agar tanah tidak lengket atau tertinggal di alat pengolahan tanah (cangkul), serta mempermudahkan proses pencangkulan tanah sawah.

Lamanya pencangkulan dilahan sawah yang telah dilakukan selama 3 hari, setelah dilakukan pencangkulan tanah sawah lahan digenangi air


(59)

dengan kedalaman 5 cm diatas permukaan tanah olahan. Lamanya waktu penggenangan dilakukan selama dua hari pada hari ke empat dan ke lima sebelum dilakukan pembajakan dan penggaruan, penggenangan lahan sawah bertujuan agar tanah menjadi gembur dan lembek untuk memudahkan proses pembajakan dan penggaruan.

3). Pembajakan dan penggaruan

Pembajakan dan penggaruan merupakan kegiatan yang berkaitan dilakukan pada hari ke enam dan ke tujuh dilakukan setelah penggenangan lahan sawah selesai di cangkul. Pembajakan dan penggaruan ini merupakan pembajakan dan penggaruan pertama yang bertujuan untuk gumpal-gumpalan tanah sawah dapat hancur menjadi kecil-kecil, gumpalan tanah tersebut kemudian dihancurkan dengan garu sehingga menjadi lumpur halus dan rata, kemudian lahan sawah digenangi dengan air 5 cm diatas permukaan tanah. Lamanya pembajakan dan penggarauan dilakukan selama dua hari pada hari ke delapan dan ke sembilan dengan tujuan agar sisa-sisa rumput atau jerami yang masih tertinggal cepat membusuk.

Pembajakan dan penggaruan ke dua dilakukan pada hari ke sepuluh dan ke sebelas, tanah dibajak dan digaru kembali agar tanah sawah menjadi lebih halus dan lebih rata. Proses meratakan tanah pada saat menggaru keadaan air sawah dengan kondisi macak-macak, selama digaru saluran pemasukan dan pengeluaran air ditutup agar lumpur tidak hanyut terbawa air keluar, penggaruan yang dilakukan berulang kali akan memberikan keuntungan permukaan tanah menjadi rata, air yang


(60)

merembes kebawah menjadi berkurang, setelah pembajakan dan penggarauan ke dua dilakukan pada hari ke sebelas sampai hari ke lima belas, setelah lahan sawah di bajak dan digaru kemudian lahan dibiarkan bertujuan untuk menetralkan kondisi tanah sawah yang siap di tanam dengan kondisi air macak-macak (BPP Teknologi, 2000).

c. Pemupukan Tanaman Padi

Pemupukan tanaman padi non hibrida dilakukan dengan dosis 250 kg Urea/ha, 80 kg SP-36/ha dan 100 kg kcl/ha. Pupuk Urea diberikan tiga kali yaitu 100 kg/ha pada saat tanam, 90 kg/ha pada saat 4 MST, dan 60 kg/ha pada saat 8 MST. Pupuk SP-36 diberikan seluruhnya pada saat tanam. Pupuk kcl diberikan 80 kg/ha pada saat tanam dan 20 kg/ha pada saat 8 MST, pemupukan dilakukan dengan cara sebar dan dengan kondisi air macak-macak agar pupuk tidak tererosi oleh air sehingga pupuk dapat terserap oleh tanah sawah.

d. Penanaman Bibit Padi dan Jajagoan

Bibit padi non hibrida varietas ciherang berumur 21 hari setelah semai (HSS) ditanam pada plot percobaan dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm, bibit jajagoan di tanam pada hari yang sama dengan penanaman bibit padi, jajagoan di tanam pada umur 21 HSS pada plot percobaan sesuai dengan perlakuan populasi jajagoan dengan jarak tanam jajagoan yang berbeda dengan kondisi air macak-macak.

e. Penyiangan Gulma Lain

Penyiangan gulma dilakukan apabila di areal lahan penelitian tumbuh jenis gulma lain (selain jajagoan). Gulma disiangi dengan cara manual yaitu


(61)

mencabut gulma menggunakan tangan sehingga gulma lain tidak dapat tumbuh.

f. Pengendalian Hama Tanaman Padi

Pengendalian hama dilakukan dengan menggunakan bahan racun insektisida BONA 500 EC dengan bahan aktif BPMC, dengan dosis anjuran 1,5 ml/ha per 4,5 liter air (total dosis BONA yang digunakan adalah 81 ml per 24,6 liter air). Pembuatan larutan semprot dilakukan dengan mencampurkan insektisida sekaligus dalam tong yang berisi pelarut air. Aplikasi dilakukan dengan alat sprayer tipe gendong pada pagi hari dengan kondisi air dilahan tanaman padi dalam keadaan macak-macak.

g. Panen

Menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (2008), panen padi dilakukan pada saat tanaman padi berumur 125 hari HST, dengan keadaan butir padi sudah menguning merata dan tangkai buah padi sudah merunduk. Pemanenan dilakukan dengan memotong batang menggunakan sabit, setelah dilakukan pemanenan hasil padi, benih akan diproses sesuai dengan pedoman parameter pengamatan penelitian.

h. Penentuan Tanaman Sampel Pengamatan Hasil Produksi

Penentuan tanaman sampel hasil produksi pada plot penelitian dilakukan dengan cara acak dengan mengambil tanaman padi yang telah siap dipanen berjumlah 3 tanaman setiap plot penelitian.

i. Parameter Pengamatan Tanaman Padi


(62)

1. Tinggi Tanaman Padi

Tinggi tanaman padi diukur mulai dari pangkal batang 5 cm di atas permukaan tanah hingga ujung daun tertinggi. Pengukuran tinggi tanaman padi dilakukan pada saat umur tanaman padi berumur 3 MST, 6 MST, 9 MST dan 12 MST.

2. Luas Daun Tanaman Padi

Luas daun diukur dengan menggunakan Leaf Area Meter (LAM). Luas daun yang diukur pada tanaman padi adalah daun yang telah sempurna. Pengukuran dilakukan pada saat tanaman berumur 3, 6, 9 dan 12 MST. Pengukuran luas daun dilakukan pada tanaman sampel destruktif untuk setiap plot penelitian.

3. Bobot Kering Tajuk Tanaman Padi

Pengamatan bobot kering tajuk tanaman dihitung setelah tanaman berumur 3, 6, 9 dan 12 MST. Tanaman sampel destruktif dicabut secara hati-hati agar akar tidak rusak, kemudian dicuci di dalam ember dan air digoyang-goyang agar tanaman bersih dari tanah, setelah tanaman bersih dikering anginkan kemudian tajuk padi dipotong + 5 cm dari pangkal batang tanaman padi tajuk tanaman padi dipotong-potong dengan ukuran ± 5 cm lalu dimasukkan ke dalam amplop kertas dan dilem. Amplop dimasukkan dalam oven pada suhu 650

4. Bobot Kering Akar Tanaman Padi

C selama 24 jam.

Pengamatan bobot kering akar tanaman dihitung setelah tanaman berumur 3, 6, 9 dan 12 MST. Tanaman sampel destruktif


(1)

Bagan plot tanaman padi dan populasi 210 jajagoan

Keterangan gambar :

Jarak tanam jajagoan 12 cm diukur dari setiap tanaman utama dalam baris yang sama : Tan. Padi pada plot penelitian

: Jajagoan


(2)

Lampiran 121. Dokumentasi penelitian

Lokasi penelitian dan pembersihan lahan penelitia

Pengolahan tanah dan pembutan plot penelitian


(3)

Pertumbuhan padi masa vegetatif di pertanaman

Padi setelah tanam Padi 2 mst

Padi 4 mst Padi 6 mst


(4)

Pertumbuhan generative dan panen padi


(5)

Pertumbuhan jajagoan di plot penelitian


(6)

Dokumen yang terkait

Pemberian Azolla Uutuk Mengurangi Dosis Urea Padi Sawah (Oryza sativa L ) Pada Inseptisol di Silakkidir Kecamatan Hutabayuraja Kabupaten Simalungun

0 21 61

Tanggap Pertumbuhan dan Produksi Padi (Oryza sativa L.) Varietas Ciherang Terhadap Pemberian Pupuk Organik

1 70 104

Pertumbuhan Dan Produksi Empat Varietas Unggul Padi Sawah (Oryza Sativa L) Terhadap Berbagai Tingkat Genangan Air Pada Berbagai Jarak Tanam

0 30 181

Respons Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Varietas Padi (Oryza sativa L.) Akibat Pemberian Amandemen Bokashi Jerami Dan Pemupukan Spesifik Lokasi Pada Tanah Salin

1 34 155

Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Varietas Padi Gogo (Oryza Sativa L.) Pada Jarak Tanam Dan Persiapan Tanah Yang Berbeda

0 43 187

Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Varietas Padi Sawah (Oryza Sativa L.) Pada Pwersiapan Tanah Dan Jumlah Bibit Yang Berbeda

5 55 131

tudi Potensi Kompetisi beberapa Aksesi Gulma Jajagoan (Echinochloa crus-galli L.) terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi Hibrida.

0 2 76

Pengaruh Waktu Penyiangan dan Tingkat Populasi Jajagoan (Echinochloa crus-galli) Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi Sawah (Oryza sativa L.) di Kabupaten Aceh Tenggara.

0 1 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Tanaman Padi Sawah - Pengaruh Waktu Penyiangan dan Tingkat Populasi Jajagoan (Echinochloa crus-galli) Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi Sawah (Oryza sativa L.) di Kabupaten Aceh Tenggara.

1 1 14

PENGARUH WAKTU PENYIANGAN DAN TINGKAT POPULASI JAJAGOAN (Echinochloa crus-galli) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PADI SAWAH (Oryza sativa L.) DI KABUPATEN ACEH TENGGARA TESIS

1 1 24