Kreativitas guru dalam memotivasi siswa pada pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP N 20 tangerang

KREATIVITAS GURU
DALAM MEMOTIVASI SISWA PADA PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 20
TANGERANG

Oleh:
ALFIYANI
NIM: 105011000172

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010

1

2

ABSTRAK
Alfiyani. KREATIVITAS GURU DALAM MEMOTIVASI SISWA PADA
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 20
TANGERANG. Dibawah bimbingan Dra. Heny Narendrani Hidayati, M.Pd.
Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.
Kreativitas adalah suatu kemampuan untuk menciptakan suatu hal-hal baru
ataupun menggabungkan unsur-unsur yang sudah ada yang nantinya dapat
menyelesaikan suatu permasalahan. Dari pengetrtian tersebut dapat diambil
beberapa kata yang menjadi kata kuncinya yakni menciptakan, hal-hal baru,
menggabungkan dan unsur-unsur yang ada. Tentunya setiap orang mempunyai
potensi kreatif, namun terkadang orang tersebut tidak menyadarinya, dalam dunia
pendidikan kreativitas sangatlah dibutuhkan terutama untuk para pendidik. Karena
apabila pendidik atau guru tersebut kreatif, bisa dilihat bahwa nantinya potensi
kreatif dalam diri siswa pun akan terlihat dan dapat memotivasi siswa untuk lebih
giat belajar. Penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui apakah kreativas
seorang guru dapat memotivasi siswa pada pembelajaran pendidikan agama Islam
(PAI) serta faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat dalam
mempengaruhi kreativitas. Metode penulisan penelitian ini menggunakan metode
deskriptif analisis yaitu memaparkan secara mendalam dengan apa adanya secara
obyektif sesuai dengan data yang dikumpulkan. Dari hasil penelitian ini pun
didapat bahwa kreativitas guru itu dapat memotivasi siswa dimana ini dapat
terlihat dari prosentase jawaban siswa yang menjawab “sering” guru pendidikan
agama Islam (PAI) memotivasi siswa untuk membaca buku yang berkaitan
dengan palajaran sebanyak (36,1%). Serta sebanyak (51,2%) siswa menjawab
“selalu” memperhatikan guru ketika menjelaskan materi pelajaran pendidikan
agama Islam (PAI).

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt Tuhan semesta alam, berkat
rahmat, taufik daninayah-Nya, maka skripsi ini dapat diselesaikan. Sholawat serta
salam semoga tetap tercurahkan kepada kekasih Allah, pejuang agama Islam dan
teladan yang terbaik yaitu Nabi Muhammad saw beserta keluarga, sahabatnya dan
kepada seluruh umat Islam di seluruh alam.
Karya tulis yang sederhana ini merupakan skripsi yang diajukan kepada
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai
salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan Islam.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan sebagaimana yang diharapkan, walaupun waktu, tenaga dan pikiran
telah diperjuangkan dengan segala keterbatasan kemampuan yang penulis miliki
demi selesainya skripsi ini dan bermanfaat bagi penulis serta bagi pembaca
sekalian.
Sebelumnya penulis mengucapkan terima kasih dan hormat yang
setinggi-tingginya kepada kedua orang tua tercinta, dengan curahan cinta dan
kasih sayangnya, kerja kerasnya serta doa yang selalu dipanjatkan yang telah
mengantarkan penulis sehingga dapat menyelesaikan pendidikan S1 di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta dan menjadi sarjana. Semoga semua jasa yang diberikan
menjadi amal saleh serta diterima Allah swt. dan semoga Allah selalu menjaga
dan memberikan rahmat, hidayah beserta karuniaNya kepada mereka.
Selama penyusunan skripsi ini dan selama penulis belajar di Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam, penulis banyak
mendapatkan bantuan, motivasi serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh Karena
itu, penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang tak terhingga
kepada:
1.

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta

2.

Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendiidkan Agama Islam Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan beserta staf-stafnya.

i

3.

Ibu Heny Narendrany Hidayati, M.Pd. selaku dosen pembimbing skripsi
yang telah meluangkan waktu, mencurahkan tenaga, perhatian, pengertian,
kesabaran dan kemudahan dalam memberikan bimbingan dan arahan yang
sangat berharga bagi penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini

4.

Segenap bapak dan ibu dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang
telah memberikan ilmu pengetahuan dan pengalamannya kepada penulis
selama menjalankan kuliah.

5.

Ibu Dra. Nuraini Ahmad sebagai penasehat akademik yang telah
membimbing penulis selama menjadi mahasiswa.

6.

Kepada orang tua penulis, bapak dan emak tercinta beserta seluruh
keluarga yang telah mencurahkan kasih sayang dan memberikan dukungan
kepada penulis. Kakak (Wahyuri), adik (Isni), yang memberi kritikan dan
semangat sampai akhir pengerjaan karya tulis ini. Tak lupa pula kepada
keluarga besar bapak Riman.

7.

Kepada teman-teman seperjuangan PAI angkatan 2005 khususnya kelas E
yang selama ini selalu saling melengkapi, memberikan pengalaman dan
yang selalu menghiasi hari-hariku selama aktif kuliah

8.

Kepada keluarga besar SHT komisariat UIN yang dengan candanya
memberi penyegaran serta semangat.

9.

Kepada orang terbaik “jelek” yang dengan sabar, memberi motivasi dan
membantu pembuatan skripsi ini.

10. Untuk someone (si sabuk hijau) yang ada di dalam hati selalu, yang telah
menjadi sandaran hati.
11. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak
membantu pembuatan skripsi ini. “ Jai Ho”
Kepada semua pihak yang telah membantu penulisan skripsi ini, penulis
mengucaokan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya semoga Allah swt
membalas kebaikan dan bantuan yang telah mereka berikan selama penulisan.
Apabila terdapat kekurangan dan kekhilafan dalam penulisan skripsi ini mohon
dimaafkan. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik

ii

dari sistematika, bahasa maupun dari segi materi. Atas dasar ini, komentar
, saran dan kritik dari pembaca sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat
membuka cakrawala yang lebih luas bagi pembaca serta menambah pengetahuan
dan semoga bermanfaat untuk kita semua. Amiin….

Jakarta, 17 September 2010

Penulis

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................

i

DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ........................................................

1

B. Identifikasi Masalah .............................................................

4

C. Pembatasan Masalah ............................................................

4

D. Perumusan Masalah .............................................................

5

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................

5

ACUAN TEORITIK
A. Kreativitas Guru
1. Pengertian .......................................................................

7

2. Faktor-Faktor dan Komponen Kreativitas ..................... 10
3. Peranan Serta Tugas Guru .............................................. 12
4. Ciri-ciri guru yang Baik ................................................. 14
5. Ciri-ciri Guru yang kreatif ............................................. 15
6. Pengaruh Kreativitas Guru Terhadap Siswa .................. 17
B. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian ....................................................................... 20
2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam .................. 22
3. Fungsi dan Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam ... 24
4. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk SMP ...... 25
C. Motivasi
1. Pengertian........................................................................ 27
2. Jenis-jenis Motivasi......................................................... 28
D. Siswa
1. Pengertian ....................................................................... 28
2. Remaja ............................................................................ 29

iv

3. Ciri-ciri Remaja .............................................................. 31
E. Pengaruh Kreativitas Guru Terhadap Motivasi Siswa .......... 32

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian .............................................. 35
B. Metode Penelitian ................................................................. 35
C. Unit Analisis ........................................................................ 36
D. Instrumen Penelitian ............................................................. 36
E. Tekhnik pengumpulan Data ................................................. 42
F. Tekhnik Analisis Data .......................................................... 43

BAB IV

HASIL PENELITIAN
A. Temuan Penelitian ................................................................ 43
B. Pembahasan Tentang Temuan Penelitian ............................. 66

BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................... 71
B. Saran ..................................................................................... 73

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 72
LAMPIRAN-LAMPIRAN

v

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan menjadi salah satu masalah yang penting bagi kehidupan
suatu bangsa, karena hal tersebut pendidikan mendapat perhatian dari berbagai
lapisan elemen, baik dari keluarga, masyarakat, pemerintah dan sekolah.
Untuk itu pemerintah melakukan usaha dan upaya untuk memantapkan
pembangunan di bidang pendidikan Nasional. Sebab pendidikan itu sendiri
merupakan kebutuhan yang pokok bagi setiap bangsa. Dengan pendidikan
diharapkan terciptanya manusia Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan,
berpengetahuan, cakap dan terampil agar nantinya dapat membangun
kemajuan suatu bangsa. Hal ini sejalan dengan apa yang tercantum dalam
Undang-Undang Sisdiknas yang tertuang pada Bab II pasal 3, ditegaskan
bahwa pendidikan Nasional Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan
menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.1
Dalam hal ini, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peseta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

1

Undang-Undang Republik Indonesia, No. 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional,
(Bandung: Citra Umbara, 2003), hal.7

1

2

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.2
Dalam bidang pendidikan terdapat komponen-komponen yang
saling berkaitan untuk mencapai keberhasilan tujuan pendidikan itu sendiri.
Komponen-komponen itu diantaranya adalah kurikulum, sarana dan prasarana,
tenaga pengajar, siswa, kegiatan belajar mengajar dan lainnya. Guna
mewujudkan keberhasilan pendidikan yang berkualitas, maka komponenkomponen tersebut harus disiapkan dengan baik. Seperti halnya penerapan
sistem pendidikan yang dilakukan dalam suatu proses belajar mengajar yang
dilaksanakan seefektif, efisien dan terarah.
Guru dalam hal ini mempunyai peranan yang penting, karena guru
merupakan salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan pendidikan. Selain itu,
kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan untuk meningkatkan kualitas
guru yang nantinya dapat menghasilkan suatu hal yang sesuai dengan tujuan
pendidikan yang ingin dicapai.
Berkenaan dengan kependidikan, Prof. H.M Arifin M.ed mengatakan
bahwa proses kependidikan merupakan rangkaian membimbing, mengarahkan
potensi hidup manusia yang berupa kemampuan-kemampuan dasar dan
kemampuan-kemampuan belajar, sehingga terjadilah perubahan di dalam
kehidupan pribadinya sebagai makhluk individual, sosial, serta hubungan
dengan alam sekitar dimana ia hidup.3
Guru sebagai pengajar berperan dalam mencerdaskan kehidupan
bangsa dan berfungsi sebagai komunikator, motivator, informator dan
fasilitator.
Sebagai komunikator, guru dalam mengajarkan bahan-bahan ilmu
pengetahuan mengalihkan sikap dan keterampilan kepada siswa dan menuntun
mereka mudah menyerap dan mengembangkan ilmu yang dipelajarinya.

2
3

www.wikipedia.com
M. Arifin, Filsafat Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), Cet.3, hal.4

3

Sebagai motivator, guru senantiasa memberikan, menumbuhkan minat
serta motivasi kepada siswa agar secara terus menerus mempelajari ilmunya
dan tetap semangat belajar.
Sebagai informator, guru berusaha memberikan berbagai informasi
yang berhubungan dengan mata pelajaran serta pengetahuan yang relevan
sesuai dengan situasi dan kondisi yang terus berkembang.
Sebagai

fasilitator,

guru

berupaya

untuk

menjadi

alat

atau

memfasilitasi siswa untuk mempermudah dan memperlancar proses belajar.
Dalam kegiatan belajar mengajar guru harus mampu melaksanakan
fungsi-fungsinya sebagai komunikator, motivator, informator dan fasilitator
dengan baik, sehingga tujuan dari pembelajaran dapat tercapai seoptimal
mungkin. Selain itu, guru juga harus mempunyai keterampilan dalam
menyampaikan suatu informasi kepada para siswa dengan pemilihan metode
dan media yang sesuai. Karena itu sebagai seorang guru yang dikatakan juga
sebagai seniman harus mampu menciptakan suasana yang nyaman dengan
berbagai ke kreativitasannya.
Pada kenyataannya pendidikan walaupun sudah menggunakan sistem
KTSP, yang lebih menekankan pada ke aktifan siswa serta guru dalam artian
saling berinteraksi yang tentu saja disini menuntut ke kreativan seorang guru
untuk menarik agar siswanya aktif, namun dalam kegiatan yang berlangsung
masih banyak guru yang hanya berperan sebagai sumber informasi atau
penyampai materi, sedangkan siswa sebagai penerima. Apabila materi telah
selesai disampaikan kepada siswa maka selesailah tugas guru, tanpa
memperhatikan apakah siswa mengerti atau tidak, dan dalam hal ini siswa
merasa sulit dan jenuh menerima pelajaran pendidikan agama Islam.
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam akan berhasil apabila guru
menyampaikan pembelajaran dengan baik, dimana diorientasikan sesuai
dengan kebutuhan siswa, serta mengaktualisasikan segenap potensi yang
dimilikinya yaitu potensi kreativ.
Dengan potensi kreativ yang dimilikinya, guru Pendidikan Agama
Islam dituntut untuk mengembangkan suatu hal yang baru dalam proses

4

belajar mengajar yang nantinya diharapkan siswa dapat lebih bersemangat
mengikuti pelajaran dan mempunyai pikiran-pikiran kreativ.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis ingin mengetahui
PENGARUH KREATIVITAS GURU DALAM PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP SISWA DI SMPN 20
TANGERANG.

B. Identifikasi Masalah
Dari uraian latar belakang masalah yang telah dikemukakan, dapat
diidentifikasi permasalahannya sebagai berikut:
1. Bagaimana kreativitas guru dalam pembelajaran Pendidikan Agama
Islam?
2. Apakah guru sudah menjalankan fungsinya sebagai komunikator,
motivator, informator dan fasilitator?
3. Apakah pengajaran guru yang kreativ mempermudah siswa menerima
pelajaran?
4. Apakah pengajaran guru yang kreatif memotivasi siswa dalam
pembelajaran pendidikan agama Islam?
5. Apakah guru Pendidikan Agama Islam yang kreativ lebih baik
mengajarnya dari guru Pendidikan Agama Islam yang tidak memiliki
kreativitas dalam mengajar?
6. faktor apa saja yang mendukung kreativitas guru dalam pembelajaran
pendidikan agama Islam?
7. faktor apa saja yang menghambat kreativitas guru dalam pembelajaran
pendidikan agama Islam?

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi permasalahan yang ada, maka agar pembahasan
tidak terlalu meluas, penulis disini perlu membatasi permasalahan yang ada,
pembatasan masalah tersebut adalah sebagai berikut:

5

a. Kreativitas yang dimaksud ialah kemampuan untuk mencipta sehingga
mampu memecahkan suatu masalah dengan jalan keluar yang baru
ataupun dengan menggabungkan hal-hal yang sudah ada.
b. Kreativitas guru yang dimaksud adalah kemampuan untuk menghasilkan
cara-cara baru dalam proses pengajaran yang disesuaikan dengan fungsi
guru itu sendiri yakni salah satunya sebagai motivator.
c. Siswa yang dimaksud disini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 20
Tangerang, karena pada saat itu siswa sedang dalam fase remaja, dimana
fase remaja memang sedang mencari dan memerlukan bimbingan tentang
masalah keagamaannya, baik dari keluarga maupun dari guru.

D. Perumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari pembahasan ini yaitu:
1. Bagaimana kreativitas guru dalam pembelajaran pendidikan Agama Islam?
2. Bagaimana efektivitas pengajaran guru yang kreatif memotivasi siswa
dalam pembelajaran pendidikan agama Islam?
3. faktor apa saja yang mempengaruhi kreativitas guru dalam pembelajaran
pendidikan agama Islam?
4. faktor apa saja yang menghambat kreativitas guru dalam pembelajaran
pendidikan agama Islam?

E. Tujuan dan Manfaat Hasil Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Mengenai tujuan penelitian ini, ada beberapa hal yang penulis
inginkan dari penyusunan skripsi ini, yaitu:
a. Untuk mengetahui sejauh mana kreativitas guru dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam
b. Untuk mengetahui efektivitas pengajaran guru yang kreativ dalam
mempermudah siswa menerima pelajaran.
c. Untuk mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh dalam kegiatan
pembelajaran pendidikan agama Islam

6

d. Untuk mengetahui faktor yang menghambat kreativitas guru dalam
kegiatan pembelajaran pendidikan agama Islam.
2. Manfaat Penelitian
Dari permasalahan yang ada, penulis mengharapkan agar
penelitian ini dapat bermanfaat untuk di masa mendatang, beberapa
manfaat diantaranya:
a. Dapat berguna bagi guru maupun pengelola pendidikan dalam
mengembangkan kegiatan belajar mengajar bidang study Pendidikan
Agama Islam demi kualitas pendidikan yang lebih baik di masa yang
akan datang .
b. Dapat meningkatkan potensi kreatif yang dimiliki guru agar nantinya
peserta didik dapat memenuhi baik kebutuhan pribadinya maupun
masyarakat.

BAB II
ACUAN TOERITIK
A. Kreativitas Guru
1. Pengertian
a. Kreativitas
Ditinjau dari segi bahasa (etimologi) kata kreartivitas berasal
dari bahasa Inggris “to creat” yang berarti menciptakan, menimbulkan
dan membuat. Dari kata to creat berbentuk kata benda “creativity”
yang berarti daya cipta,1 dalam bahasa Latin kreativitas berasal dari
kata “creare” yang berarti melahirkan, menghasilkan atau mencipta.
Kreativitas sendiri adalah kemampuan untuk mencipta,
kemampuan mencapai pemecahan atau jalan keluar yang sama sekali
baru, asli dan imajinatif terhadap masalah yang bersifat pemahaman,
filosofis, estetis ataupun yang lainnya.2 Dalam Kamus Besar Ilmu
Pengetahuan, Save M. Dagun menyatakan bahwa “kreativitas adalah
kemampuan dalam memecahkan masalah dengan memberikan jalan
keluar yang baru, asli, imajinatif terhadap masalahnya yang bersifat

1

John M Echols, Hasan Sadilly, Kamus Bahasa Inggris-Indonesia, (Jakarta: Gramedia,
2000), h. 154
2
Sudarsono, Kamus Filsafat dan Psikologi, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), h. 133

7

8

pemahaman, filosofis, estetis maupun yang lainnya.3 Kemudian dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, kreativitas berarti “kemampuan untuk
mencipta”.4
Menurut Conny Semiawan,dkk. Mengemukakan “kreativitas
adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru atau melihat
hubungan-hubungan baru antar unsur data atau hal-hal yang sudah ada
sebelumnya.5 Sedangkan menurut Clark Moustakis, sebagaimana
dikutip oleh Utami Munandar “kreativitas adalah pengalaman
mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam
bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam dan
dengan orang lain.6
Dari berbagai pendapat pakar yang mengemukakan tentang
pengertian kreativitas itu sendiri, maka penulis disini dapat
menyimpulkan bahwasanya kreativitas itu memiliki kata kunci yakni
menciptakan, hal-hal baru, menggabungkan dan unsur-unsur yang ada.
Dari beberapa kata kunci yang telah disimpulkan maka dapat menjadi
sebuah

pemahaman

kemampuan

untuk

bahwasannya
menciptakan

kreativitas
suatu

itu

hal-hal

ialah
baru

suatu

ataupun

menggabungkan unsur-unsur yang sudah ada yang nantinya dapat
menyelesaikan suatu permasalahan.
b. Guru
Menurut pandangan tradisional guru adalah seorang yang
berdiri di depan kelas untuk menyampaikan ilmu pengetahuan.
Menurut ahli pendidikan, “Teacher is person who cause a person to
know or be able to do something or give a person knowledge or
skill”.(Roestiyah, 1982:182).

3

Save M. Degun, Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, (Jakarta:LPKN, 2000), h.540
Kamus Besar Bahasa Indonesia
5
Conny Semiawan, dkk,. Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah,
(Jakarta: Gramedia, 1990), h. 8
6
Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, (Jakarta: Pusat Perbukuan
Depdiknas dan PT. Rineka Cipta, 2004), Cet.2, h.18
4

9

Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, guru adalah
seorang yang mempunyai gagasan yang harus diwujudkan untuk
kepentingan anak didik, sehingga menjunjung tinggi, mengembangkan dan
menerapkan keutamaan yang menyangkut agama, kebudayaan dan
keilmuan.7
Berdasarkan beberapa pengertian yang telah dikemukakan dapat
disimpulkan bahwa guru itu mempunyai pengertian seseorang yang
memiliki pengetahuan ataupun kemampuan yang diajarkan kepada anak
didik sehingga mereka dapat mengembangkan dan menerapkannya.
Dikatakan juga beberapa uraian yang memaparkan beberapa
prinsip yang berlaku umum tentang ciri-ciri guru yang baik. Diantaranya:
1) Memahami dan menghormati anak didik
2) Menghormati bahan pelajaran yang diberikannya
3) Menyesuaikan metode mengajar dengan bahan pelajaran
4) Menyesuaikan bahan pelajaran dengan kesanggupan individu
5) Mengaktifkan siswa dalam konteks belajar
6) Memberi pengertian dan bukan hanya kata-kata belaka
7) Menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan siswa
8) Mempunyai tujuan tertentu dengan tiap pelajaran yang diberikannya
9) Jangan terikat oleh satu buku teks (textbook)
10) Tidak hanya mengajar dalam arti menyampaikan pengetahuan saja
kepada anak didik, melainkan senantiasa mengembangkan pribadinya.8
Memang bukan hal yang mudah untuk menjadi seorang pendidik
yang baik, namun setidaknya dari beberapa prinsip tentang ciri-ciri guru
yang baik harus kita miliki.

7

Syafrudin Nurudin, M.Pd, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum,
(Jakarta:Quantum Teaching, 2005), Cet. 3, h.6-7
8
Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, h.172-176

10

2. Faktor-Faktor dan Komponen-Komponen Kreativitas
a. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kreativitas
Dalam

pengembangan

kreativitas,

seseorang

akan

sangat

dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor pendukung maupun faktor
penghambat. Faktor tersebut bisa dari dalam guru dan dapat pula berasal
dari luar guru, sebagaimana diungkapkan oleh Robert W Olson.
Faktor Penghambat:
Intern

: 1. Adanyan transfer kebiasaan
2. Takut gagal
3. Ketidakmampuan mengenal masalah
4. Pendirian yang tidak tetap
5. Terlalu cepat berpuas diri

Ekstern

: 1. Waktu yang terbatas
2. Lingkungan
3. Kritik yang dilancarkan orang lain

Faktor Pendukung:
Intern

: 1. Adanyan motivasi untuk mengenal masalah
2. Berani dan percaya diri
3. Adanyan motiasi untuk selalu terbuka terhadap gagasan
sendiri dan orang lain

Ekstern

: 1. Adanyan dukungan dari lingkungan
2. Materi yang cukup
3. Waktu luang
4. Adanyan kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan9

9

Robert W. Olson, Seni Berfikir Kreatif, Sebuah Pedoman Praktis, (Jakarta: Erlangga,
1992), h.25-41

11

b. Komponen Kreativitas
Kreativitas itu penting dalam pendidikan, karena mengemukakan
empat alasan:
1) Karena dengan berkreasi orang dapat mewujudkan dirinya dan
perwujudan diri termasuk salah satu kebutuhan pokok dalam hidup
manusia.
2) Kreativitas merupakan kemampuan untuk melihat bermacam-macam
kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah.
3) Bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat tetapi juga
memberikan kepuasan kepada individu.
4) Kreativitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas
hidupnya.10

Dalam upaya pengembangan kreativitas dan menjaga agar usaha
pengembangan itu berjalan lancar, maka perlu diperhatikan komponenkomponen untuk membangun kreativitas dan cara untuk mengembangkan
kreativitas.
1) Komponen-Komponen Membangun Kreativitas
a) Kreativitas memerlukan kesehatan jasmani dan rohani
b) Kreativitas memerlukan pertumbuhan pribadi yang seimbang
antara jasmani dan rohani
c) Kreativitas memerlukan kemerdekaan berfikir dan bekerja
d) Keadaan atau trauma batin akan tercermin dari penampilan dan
tutur kata yang diucapkan seseorang.
2) Cara-Cara Mengembangkan Kreativitas
a) Kreativitas memerlukan informasi pengetahuan sebagai bahan
untuk berfikir, maksudnya segala macam informasi khusus atau
umum. Informasi yang khusus tentang sesuatu akan memberikan
informasi peluang yang bervariasi.

10

Utami Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, h. 45-46

12

b) Produktivitas yang diperoleh dengan menggarap kreativitas tidak
langsung membawa atau menghasilkan produk aktif, justru dapat
menghasilkan atau mencetuskan ide dan resep untuk bekerja.
c) Kreasi yang memberi peluang yang bervariasi juga menawarkan
pilihan yang bervariasi, sehingga kelak banyak pilihan.11

3. Peranan Serta Tugas Guru
Guru sebagai seorang pendidik, pembina generasi muda yang tujuan
akhirnya dapat memajukan kehidupan bangsa dan negara sudah sepantasnya
harus menjadi suri tauladan. Karena dimanapun baik di dalam maupun di luar
sekolah guru akan selalu menjadi sorotan dan contoh teladan baik bagi
masyarakat pada umumnya dan bagi anak didik pada khususnya.
Peranan guru amatlah sangat luas karena guru tidak hanya berperan di
dalam sekolah saja, tapi di keluarga dan juga masyarakat guru memiliki
peranan yang sangat penting.
Menurut Tohirin dalam bukunya tentang psikologi pendidikan agama
Islam disebutkan peranan guru, baik peranannya di sekolah, keluarga serta di
masyarakat yakni sebagai berikut:
a. Di sekolah, guru berperan sebagai perancang atau perencana, pengelola
pengajaran dan pengelola hasil belajar siswa
b. Di keluarga, guru berperan sebagai family educator
c. Di masyarakat, guru berperan sebagai sosial developer, sosial motivator,
sosial inovator dan sosial agen.12
Adapun penjelasan dari peran guru di atas adalah sebagai berikut:
a. perancang atau perencana, adalah perumusan tentang apa yang akan
dilaksanakan dalam proses pembelajaran yang akan dilakukan untuk
mencapai tujuan yang hendak dicapai.

11

Samuel, MP,. Mari Mempertinggi Kreativitas, (Jakarta:PT. Gunung Agung, 1987), h.

161-162
12

Tohirin, MS, M.Pd., Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta:PT.
Raja Grafindo Persada, 2002), Ed.1., h. 165-166

13

b. pengelola pengajaran, adalah kemampuan mengelola suatu sistem
pembelajaran dimana hal itu menyangkut perencanaan, pelaksanaan dan
pengendalian.
c. pengelola hasil belajar, adalah mengolah hasil belajar peserta didik untuk
mengetahi perubahan ataupan hasil dari proses pembelajaran yang telah
dilakukan
d. family educator, adalah pendidik bagi keluarga yakni mengajarkan, namun
juga melaksanakan proses pembelajaran bagi keluarga untuk mencapai
tujuan yang diinginkan.
e. sosial developer, adalah guru memiliki peranan sebagai pembina
masyarakat dimana dalam kehidupan bermasyarakat apa yang dilakukan
guru menjadi sebuah teladan dan secara tidak langsung sikap guru tersebut
dapat membina masyarakat.
f. sosial motivator adalah motivator bagi masyarakat untuk menggerakkan
ataupun sebagai pendorong bagi adanya suatu kegiatan untk memajukan
masyarakat itu sendiri.
g. sosial inovator, adalah penemu masyarakat yang dimaksudkan penemu
adalah mengemukakan gagasan-gagasan baru ataupun ide-ide terhadap
suatu rencana yang bermanfaat bagi lingkungan masyarakat.
h. sosial

agen

adalah

anggota

masyarakat

yang

sama-sama

ikut

berkecimpung daam kehidupan sosial bermasyarakat.

Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa peranan guru memang sangat
berpengaruh baik di lingkungan keluarga, sekolah ataupun masyarakat. Namun
perlu kita sadari bahwasannya seorang guru sama halnya seperti masyarakat
pada umumnya yang menjalani kewajiban-kewajibannya yang sesuai sebagai
anggota masyarakat.
Peranan guru artinya keseluruhan tingkah laku yang harus dilakukan
guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru. Guru mempunyai peranan
yang amat luas, baik di sekolah, keluarga maupun masyarakat. Di sekolah
guru berperan sebagai perancang atau perencana, pengelola pengajaran dan

14

pengelola hasil pembelajaran siswa. Peranan guru di sekolah ditentukan oleh
kedudukannya sebagai orang dewasa, sebagai pengajar dan pendidik serta
sebagai pegawai. Di dalam keluarga guru berperan sebagai family educator.
Sedangkan di tengah-tengah masyarakat, guru berperan sebagai sosial
developer (Pembina masyarakat), sosial motivator (pendorong masyarakat),
sosial innovator (penemu masyarakat) dan sebagai sosial agent (agen
masyarakat).13
Sebagai seorang guru yang mempunyai peranan penting dalam
kemajuan pendidikan suatu bangsa maka dalam hal ini, ada beberapa tugas
yang diembannya baik dalam dunia pendidikan maupun tugasnya dalam
proses belajar mengajar, diantaranya yaitu:
a. Sebagai orang yang mengkomunikasikan ilmu pengetahuan
b. Sebagai model atau teladan
c. Sebagai penggerak (motivator) masyarakat
d. Sebagai demonstrator
e. Sebagai mediator dan fasilitator
f. Sebagai evaluator.14

4. Ciri-Ciri Guru yang Baik
Dalam proses pembelajaran pada satuan pendidikan manapun, guru
memiliki peran yang penting dan strategis yang tidak dapat digantikan oleh
siapapun termasuk teknologi. Karena hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa
ada beberapa kriteria ataupun ciri-ciri yang dapat menunjukkan bahwa guru
itu baik. Diantaranya yaitu:
a. Guru memiliki kompetensi pedagogic, yakni:
1) Kemampuan dalam mengelola pembelajaran
2) Kemampuan pemahaman terhadap peserta didik
3) Kemampuan perancangan pembelajaran
13

Tohirin, MS, M.Pd., Psikologi Pembelajaran Pendidikan agama Islam, (Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 2002), Ed.1, h. 165-166
14
Abuddin Nata, MA, Fauzan MA., Pendidikan Dalam Perspektif Hadis, Cet.1, h.217225

15

4) Kemampuan pelaksana pembelajaran yang mendidik dan dialogis
5) Kemampuan pemanfaatan teknologi pembelajaran
6) Kemampuan dalam mengevaluasi hasil belajar
7) Kemampuan pengembangan peserta didik
b. Guru memiliki kompetensi kepribadian, yakni:
1) Guru memiliki kepribadian yang mantap, stabil dan dewasa
2) Disiplin, arif dan bijaksana
3) Menjadi teladan bagi peserta didik
4) Berakhlak mulia
c. Guru memiliki kompetensi profesional
1) Memahami jenis-jenis materi pembelajaran
2) Mengurutkan materi pembelajaran
3) Mengorganisasikan materi pembelajaran
4) Mendayagunakan sumber pembelajaran
5) Memilih dan menentukan materi pembelajaran
d. Guru memiliki kompetensi sosial
1) Bergaul dan berkomunikasi secara evektif
2) Dapat mengerti keadaan sekitar15

5. Ciri-Ciri Guru yang Kreatif
Halman (1967), berpendapat bahwa pendekatan pengajaran guru
kreatif dapat dilakukan dengan memperhatikan saran-saran sebagai berikut:
a. Guru yang kreatif memperlakukan proses belajar mengajar dengan
memprakarsai belajar sendiri (self-initiared learning) pada sebagian siswa.
Prinsip yang dipandang baik dalam proses belajar mengajar dilaksanakan,
tetapi semua itu dilakukan dalam rangka menginduksi respon yang kreatif
dari siswa, seperti melakukan aktivitas untuk mendorong siswa
menyelidiki

sendiri,

melaksanakan

eksperimen

dan

mengambil

kesimpulan sementara terhadap eksperimen yang dilakukan tersebut.
15

E. Mulyasa, M.Pd., Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2008), Cet. 3., h. 75-173

16

b. Guru yang kreatif menciptakan lingkungan belajar yang tidak otoriter,
kondisi yang bebas memberikan fasilitas kepada siswa untuk berkreatif,
jenis kebebasan yang diperlukan agar siswa menjadi kreatif adalah
kebebasan yang berkenaan dengan psikologi, simbolik dan kebebasan
untuk mengungkapkan pengalaman secara spontan.
c. Guru yang kreatif mendorong siswa belajar lebih banyak (over learn)
untuk memperkaya mereka dengan informasi, mengimajinasikan dan
memberi makna dari informasi itu. Siswa harus dapat menerima kenyataan
bahwa dalam proses belajar mengajar seperti ini mereka harus memiliki
disiplin keras kepada diri mereka sendiri.
d. Guru yang kreatif mendorong proses berfikir kreatif siswa. Dia
memberikan rangsangan kepada siswa untuk mencari hubungan-hubungan
yang baru antar data, mengimajinasikannya, mencari pemecahanpemecahan masalah yang sedang dihadapi, membuat perkiraan secara
cepat, menemukan ide-ide sampingan untuk membentuk ide-ide baru. Dia
mendorong siswa untuk mengungkapkan hubungan-hubungan yang tidak
mungkin antar elemen-elemen, dalam rangka menemukan suatu teori yang
tidak masuk akal atau menyimpang dari yang biasa.
e. Guru yang kreatif dapat menunda keputusan. Dia tidak menutup
kemungkinan diadakannya penyelidikan dan mengumumkan hasil
penyelidikan tersebut. Dia menunda untuk mengakhiri penyelesaian pokok
persoalan. Dia memelihara fleksibilitas kesimpulan dari sebuah hasil
penyelidikan.
f. Guru yang kreatif mempromosikan fleksibilitas intelektual (promote
intellectual flexibility) diantara siswa. Dia mendorong siswa untuk
mengangkat posisi observasi yang mereka lakukan untuk memvariasikan
pendekatan menuju masalah-masalah yang akan dipecahkan.
g. Guru yang kreatif mendorong individu untuk mengevaluasi sendiri
kemajuan hasil belajarnya (encourages self-evaluation).
h. Guru yang kreatif menolong siswa untuk menjadi orang yang lebih
sensitive terhadap suasana hati dan perasaan orang lain, terhadap semua

17

stimulus (rangsangan) yang datangnya dari luar, terhadap masalah yang
bersifat sosial dan yang bersifat pribadi, masalah umum bahkan terhadap
masalah sehari-hari.
i. Guru yang kreatif mengetahui bagaimana menggunakan pertanyaan, tetapi
pertanyaan tersebut harus bersifatoperasional dan terbuka (Open-Ended),
bermakana bagi siswa serta jawabannya bukan bersifat fakta. Pertanyaan
operasional bertitik pangkal kepada usaha yang kreatif dari siswa untuk
memecahkan jawaban dari pertanyaan tersebut.
j. Guru yang kreatif membantu siswa dalam menanggulangi frustasi dan
kegagalan. Perhatian orang yang kreatif berbeda dengan perhatian orang
yang kurang kreatif terhadap kesanggupan mereka untuk menerima dan
menyesuaikan diri mereka pada suatu ketidak pastian.
k. Guru yang kreatif memberikan kesempatan kepada siswa untuk
memanipulasi materi, ide-ide, konsep-konsep, alat-alat dan strukturstruktur. Keahlian adalah suatu unsur yang diperlukan dalam kreativitas
yang bersifat pribadi, bilamana hal itu berhubungan dengan keahlian
menggunakan kata-kata seperti bersajak atau mengarang, menggunakan
warna seperti menggambar, menggunakan nada seperti dalam bernyanyi
dan menggnakan kayu seperti pertukangan.
l. Guru yang kreatif mendorong siswa untuk melihat masalah secara
keseluruhan lebih baik dari pada melihat suatu masalah sepotong-potong.16

6. Pengaruh Kreativitas Guru Terhadap Siswa
Selama ini kita tahu apa itu kreatif, yakni sesuatu yang bias diartikan
baru, mencipta ataupun asli, yang menghasilkan keistimewaan-keistimewaan
tertentu. Namun yang pasti setiap manusia mempunyai kemampuan ataupun
potensi kreatif yang mungkin mereka sadari ataupun tidak. Dalam hal
pendidikan, guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam hal
pengajaran ataupun penyampai materi harus dan memang dituntut kreatif.
16

Yeti, Pengaruh Pemberian Motivasi Oleh Kepala Sekolah Terhadap Kreativitas
Mengajar Guru di MTsN 3 Pondok Pinang, Skripsi Kependidikan Islam (Jakarta : UIN Syarif
Hidayatullah, 2006), h.31-33

18

Mengapa dituntut harus, karena semakin majunya perkembangan zaman,
sudah barang tentu menuntut pendidikan yang lebih maju, karena itu potensi
kreatif dalam pengajaran benar-benar dituntut menghasilkan anak didik yang
mempunyai pemikiran-pemikiran kreatif.
Dalam pembelajaran di kelas, guru menjumpai berbagai macam anak
dengan karakteristik mereka yang sangat beragam, seperti yang sudah
dijelaskan bahwa setiap manusia memiliki potensi kreatif. Jadi, tugas guru
tidak hanya masuk kelas, menyampaikan materi pelajaran, memberikan tugas,
kemudian selesai. Tetapi guru mempunyai tugas bagaimana dari anak didik
yang mempunyai karakteristik yang beragam dapat aktif dan memiliki
pemikiran yang kreatif.
Sebelum menularkan kekreativannya terhadap anak didik, maka guru
sebagai pendidik harus mengetahui potensi kreatif yang harus dimiliki, dimana
potensi kreatif itu dapat dikembangkan yang membutuhkan beberapa cara,
diantaranya:
a. Harus mempunyai berbagai informasi pengetahuan sebagai acuan berpikir,
karena dengan adanya berbagai pengetahuan, maka guru itu sendiri dapat
menawarkan beberapa alternatif jawaban yang tentu saja dari informasi
pengetahuan yang ia miliki.
b. Produktivitas dari apa yang ada, dimana ini bisa berupa ide-ide awal yang
mungkin sebelumnya tidak berarti apa-apa, kemudian ide tersebut nantinya
bisa berubah menjadi sesuatu pemikiran yang mempunyai keistimewaankeistimewaan.
Karena kreativitas itu bukan benar-benar menciptakan sesuatu yang
tidak ada menjadi ada, melainkan menghasilkan dari sesuatu yang ada menjadi
hal yang baru dan asli dari hasil pemikiran orang yang menciptanya, disitulah
letak kesepakatan dari semua pakar tentang kreativitas, yakni baru dan asli.
Dalam membangun kreativitas yang ada, tentunya terdapat berbagai
faktor baik dari dalam ataupun dari luar yang mendukung ataupun sebaliknya
yang menghambat kreativitas itu sendiri untuk dioptimalkan.

19

Faktor pendukung dan penghambat kreativitas itu sendiri bisa dilihat
dari kepribadian guru itu sendiri sebagai pangkal yang nantinya bisa
berdampak kepada anak didik dalam pembelajaran yang aktif dan kreatif.
Kepribadian yang sesungguhnya adalah abstrak (maknawi), sukar
dilihat atau diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah penampilan
atau bekasnya dalam segala segi dan aspek kehidupan. Misalnya dalam
tindakannya, ucapan, caranya bergaul, berpakaian dan dalam menghadapi
setiap persoalan atau masalah, baik yang ringan maupun yang berat.17
Sebagai seorang guru tentunya kepribadian yang ia miliki ialah
kepribadian terpadu, dimana segala unsur dalam pribadinya bekerja seimbang
dan serasi. Karena itu ia mampu bekerja secara optimal dan segala
permasalahan dapat ia selesaikan dan dipahaminya secara objektif
sebagaimana adanya.
Guru ataupun orang tua ialah model untuk setiap anak didik. Disini
seperti apapun tingginya daya intelektual seorang guru namun apabila ia tidak
dapat melakukan penyampaian-penyampaian materi pembelajaran maka
proses belajar mengajar pun tidak akan efektif, bahkan bisa jadi proses belajar
mengajar yang ada berjalan monoton dan membosankan.
Berbeda dengan guru yang menggunakan daya kreatifnya dalam
mengajar, pastinya suasana belajar akan lebih hidup namun tetap kondusif.
Guru yang memiliki peran sebagai motivator, fasilitator, komunikator dan
informator harus bisa menjalankan peran itu dengan baik, tentunya dengan hal
yang menarik namun mengena kepada tujuan pendidikan itu sendiri.
Kebanyakan siswa SMP (anak usia remaja) lebih menyukai berbagai
tantangan, guru yang kreatif dalam pembelajarannya lebih menekankan
kepada memberikan tantangan daripada tekanan terhadap anak didik yang
berupa sebuah tugas. Karena tantangan itu sendiri memberikan kesempatan
anak memperoleh kepercayaan terhadap kemampuan-kemampuan untuk
berfikir. Tantangan disini nantinya akan membangkitkan rasa keingintahuan
yang dapat berdampak kepada motivasi siswa untuk belajar. Tentu saja
17

Zakiah Darajat, Kepribadian Guru, (Jakarta:Pt. Bulan Bintang, 2005), Cet.4, h.9

20

tantangan yang diberikan harus sesuai dengan kematangan dan pengalaman
siswa.

B. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian
a. Pendidikan Islam
Oemar Muhammad al-Toumy al-Syaebani dalam Arifin
(1987:13) menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah usaha
mengubah tingkah laku individu dilandasi oleh nilai-nilai islami dalam
kehidupan pribadinya

atau kehidupan kemasyarakatannya dan

kehidupan dalam alam sekitar melalui proses kependidikan.
Mohammad Fadil al-Djamaly, juga dalam Arifin (1987:16)
menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan
manusia kepada kehidupan yang baik dan mengangkat derajat
kemanusiannya, sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan
kemampuan ajarnya (pengaruh dari luar). Imam Bawani (1987:122)
menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan
rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada
terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.18
b. Pendidikan Agama Islam
Menurut Zakiah Darajat

bahwa pendidikan Agama Islam

adalah “pendidikan melalui ajaran-ajaran Islam, yaitu berupa
bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah
selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan
mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang telah diyakininya secara
menyeluruh serta menjadikan Agama Islam itu sebagai suatu
pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di
dunia dan akhirat.19

18
19

Tohirin, Ms, M.Pd., Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, h.9-10
Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), Cet.3, h.25

21

Sedangkan

menurut

Samsul

Nizar

bahwa

pendidikan

mempunyai 3 makna, yaknial-ta’lim, al-tarbiyah dan al-ta’dib. Alta’lim berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampaian
pengertian, pengetahuan dan keterampilan. Selanjutnya kata altarbiyah berarti mengasuh, mendidik, memelihara, bertanggungjawab,
memberi makna, mengembangkan, membesarkan, menumbuhkan dan
memproduksi serta menjinakkannya, baik yang menyangkut aspek
jasmani maupun rohani.
Dari pandangan di atas, memberikan pengertian bahwa term altarbiyah mencakup semua aspek pendidikan yaitu aspek kognitif,
afektif dan psikomotorik. Baik mencakup aspek jasmaniah maupun
rohaniah, secara harmonis dan integral. Sedangkan kata al-ta’dib
berarti kepada proses mendidik yang lebih tertuju pada pembinaan dan
penyempurnaan akhlak atau budi pekerti peserta didik. Orientasi alta’dib lebih berfokus pada upaya pembentukan pribadi muslim yang
berakhlak mulia.20
Pendapat diatas jelas bahwa definisi pendidikan Agama Islam
dilihat dari tiga kata tersebut yakni al-tarbiyah, al-ta’lim dan al-ta’dib,
ketiganya sama-sama ingin memberikan pengetahuan pada anak didik
agar mereka dapat menjadi manusia yang sempurna dan dapat hidup
kreatif dan mandiri.
Dari pengertian-pengertian yang telah diungkapkan oleh para
ahli, dapat penulis simpulkan pengertian pendidikan agama Islam,
yaitu proses bimbingan jasmani dan rohani agar dapat memahami,
menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam untuk mengarahkan
kepada pembentukan manusia yang berakhlak mulia.

20

Samsul Nizar, Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: Media
Pratama, 2001), Cet.1, h. 85-91

22

2. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Agama Islam
Dalam Undang-Undang Sisdiknas yang tertuang dalam Bab II pasal 3,
ditegaskan bahwa pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,

berilmu, cakap,

kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung
jawab.21
Tujuan pendidikan itu biasanya dikaitkan dengan pandangan hidup
yang diyakini kebenarannya oleh penyusun tujuan tersebut. Pandangan hidup
ini berupa agama ataupun aliran filsafat tertentu, pendidikan hanyalah suatu
alat yang digunakan untuk memperpanjang hidupnya atau baik sebagai
individu maupun sebagai masyarakat, oleh karenanya tujuan pendidikan
haruslah berpangkal pada filsafat dan pandangan hidup yang berdasarkan
agama.22
Menurut Prof. H. M Arifin, menyatakan bahwa tujuan utama
Pendidikan Agama Islam adalah membina dan mendasari kehidupan anak
didik dengan nilai-nilai agama dan sekaligus mengajarkan ilmu Agama Islam,
sehingga ia mampu mengamalkan syariat Islam secara benar sesuai
pengetahuan agama.23 Zakiah Darajat membagi tujuan pendidikan Agama
Islam ini kedalam empat bagian, yaitu tujuan umum, tujuan akhir, tujuan
sementara dan tujuan operasional. Sebagai tujuan umum pendidikan Islam
meliputi sikap, tingkah laku, penampilan kebiasaan dan pandangan.
Tujuan sementara dari pendidikan Islam menurut beliau proses
pendidikan itu sendiri yang dianggap sebagai tujuan akhirnya adalah insan
kamil yang akan mati dan menghadap Tuhannya. Sedangkan yang menjadi
tujuan sementara yang dimaksud oleh Zakiah Darajat ialah tujuan yang akan
dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang
21

UU Republik Indonesia, No.20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional, (Bandung:
Citra Umbara, 2003), h.7
22
Hasan Langgulung, Azas-Azas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1987), h.
305
23
Muzyyin Arifin, Pendidikan Islam Dalam Arus Dinamika Masyarakat (suatu
pendekatan filosofis, pedagogis dan cultural), h.9

23

direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Tujuan operasional
adalah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan
tertentu.24
Setelah kita ketahui tujuan-tujuan pendidikan agama Islam yang
disebutkan di atas, maka kesannya mempunyai satu tujuan yakni menjadi
seorang manusia yang beriman yang nantinya akan kembali kepada sang
pencipta Ilahi Rabbi. Selain itu tujuan pendidikan agama Islam juga mendasari
kehidupan anak agar sesuai dengan ajaran Islam yang bermanfaat bagi dirinya,
lingkungan dan masyarakat.
Selain tujuan terdapat pula fungsi dari pendidikan agama Islam itu
sendiri, diantaranya yakni:
a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan kaetakwaan peserta
didik kepada Allah swt yang lebih ditanamkan terlebih dahulu
dilingkunagn keluarga
b. Penanaman nilai agama Islam, sebagai pedoman hidup untuk mencapai
kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat
c. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kelemahankelemahan dan kekurangan-kekurangan peserta didik dalam keyakinan,
pemahaman dan pengamalan agama Islam dalam kehidupan sehari-hari
d. Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya
baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah
lingkungannya sesuai dengan agama Islam
e. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya
atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat
perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya
f. Pengajaran tentang ilmu pengetahuan agama Islam secara umum, system
dan fungsionalnya
g. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat
khusus di bidang pendidikan agama Islam agar bakat tersebut dapat

24

Zakiah Darajat, Ilmu Pengetahuan Islam, h.30-33

24

dikuasai secara optimal, sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya
sendiri dan orang lain.25

3. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
H. M Arifin menyatakan bahwa ruang lingkup pendidikan Agama
Islam mencangkup kegiatan-kegiatan kependidikan yang dilakuakn secara
konsisten dan berkesinambungan dalam bidang atau lapangan hidup manusia
yang meliputi :
a. Lapangan hidup keagamaan, agar perkembangan pribadi manusia sesuai
dengan norma-norma ajaran Islam.
b. Lapangan hidup berkeluarga, agar berkembang menjadi keluarga yang
sejahtera.
c. Lapangan hidup ekonomi, agar dapat berkembang menjadi sistem
kehidupan yang bebas dari penghisapan manusia oleh manusia.
d. Lapangan hidup kemasyarakatan, agar terbina masyarakat yang adil dan
makmur di bawah ridho dan ampunan Allah SWT.
e. Lapangan hidup politik, agar supaya tercipta sistem demokrasi yang sehat
dan dinamis sesuai ajaran Islam.
f. Lapangan hidup seni budaya, agar menjadikan kehidupan manusia penuh
keindahan dan kegairahan yang tidak gersang dari nilai-nilai moral agama.
g. Lapangan hidup pengetahuan, agar berkembang menjadi alat untuk
mencapai kesejahteraan hidup umat manusia yang dikendalikan oleh
iman.26
Dari uraian diatas, dapat dilihat dengan jelas bahwa kependidikan
agama Islam mencakup semua lingkup kehidupan manusia, yang kesemuanya
itu di dasari oleh dasar keimanan. Artinya, setiap lapangan hidup manusia tak
lepas dari nilai-nilai ajaran Islam dimana nantinya kehidupan akan berjalan
selaras antara kebahagiaan dunia dan akhirat.
25

Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi:
Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004), Cet.1
h.72-73
26
H. M Arifin., Ilmu Pendidikan Islam, h.12

25

4. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk SMP
Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat.
Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang
bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama
bagi kehidupan umat manusia maka nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap
pribadi menjadi sebuah keharusan, yang ditempuh melalui pendidikan baik
pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Pendidikan agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual
dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia
mencakup etika, budi pekerti dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan
agama.
Pembelajaran pendidikan agama Islam untuk siswa SMP disini lebih
menekankan kepada nilai-nilai moralitas atau keagamaan, dimana pada siswa
SMP itu sendiri berada pada tahap fase remaja. Pada tahap inilah siswa
memerlukan sosok pengajar yang mampu membimbing, mengayomi dalam
memenuhi pengetahuannya tentang keagamaan.
Secara rinci dapat dijelaskan tujuan pendidikan agama Islam di SMP /
MTs yaitu untuk:
a. Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan dan
pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan serta
pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia
muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah
swt.
b. Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berkhlak mulia
yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif,
jujur, adil, et

Dokumen yang terkait

ANALISIS TERHADAP MOTIVASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMAN11 TANGERANG SELATAN

0 3 108

Peranan guru agama dalam mengoptimalkan emotional quatient (EQ) siswa pada prosess pembelajaran pendidikan agama islam di SMA dua Mei cipuatat tangerang

1 7 104

Peranan Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Pembinaan Sikap Keberagamaan Siswa Di Smp Negeri 6 Tangerang Selatan

3 26 108

Pemahaman pendidikan agama Islam dan Pengaruhnya dalam ketaatan menjalankan ajaran agama Islam siswa di SMP Negeri 5 Tangerang

2 7 74

Implementasi hidden curriculum dalam pembelajaran pendidikan agama islam di SMP Negeri 14 Tangerang Selatan

0 7 188

UPAYA GURU AGAMA ISLAM MEMOTIVASI SISWA DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI KEISLAMAN UPAYA GURU AGAMA ISLAM MEMOTIVASI SISWA DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI KEISLAMAN DI SMP MUHAMMADIYAH 1 KARTASURA PADA TAHUN PELAJARAN 2014/2015.

0 3 16

UPAYA GURU AGAMA ISLAM MEMOTIVASI SISWA DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI KEISLAMAN UPAYA GURU AGAMA ISLAM MEMOTIVASI SISWA DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI KEISLAMAN DI SMP MUHAMMADIYAH 1 KARTASURA PADA TAHUN PELAJARAN 2014/2015.

0 3 18

KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM MEMOTIVASI SISWA DAN MENINGKATKAN NILAI-NILAI Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Dalam Memotivasi Siswa Dan Meningkatkan Nilai-Nilai Ibadah (Studi Empiris Di SMP Muhammamadiyah 2 Surakarta Tahu

0 1 14

KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DALAM MEMOTIVASI SISWA DAN MENINGKATKAN NILAI-NILAI Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Dalam Memotivasi Siswa Dan Meningkatkan Nilai-Nilai Ibadah (Studi Empiris Di SMP Muhammamadiyah 2 Surakarta Tahu

0 2 19

KREATIVITAS GURU DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MTs NEGERI MASOHI KABUPATEN MALUKU TENGAH

0 1 158

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23