Perilaku Harian Anak Orangutan Sumatera (Pongo abelii) Akibat Adanya Aktivitas Manusia Di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera, Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuser

(1)

PERILAKU HARIAN ANAK ORANGUTAN SUMATERA (Pongo

abelii) AKIBAT ADANYA AKTIVITAS MANUSIA DI PUSAT

PENGAMATAN ORANGUTAN SUMATERA, BUKIT LAWANG,

TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER

SKRIPSI

FIFI WILLYANTI

050805042

Diajukan untuk melengkapi dan memenuhi syarat mencapai Gelar Sarjana Sains

DEPARTEMEN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2010


(2)

PERSETUJUAN

Judul : PERILAKU HARIAN ANAK ORANGUTAN

SUMATERA (Pongo abelii) AKIBAT ADANYA AKTIVITAS MANUSIA DI PUSAT PENGAMATAN ORANGUTAN SUMATERA, BUKIT LAWANG, TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER

Kategori : SKRIPSI

Nama : FIFI WILLYANTI

Nomor Induk Mahasiswa : 050805042

Program Studi : SARJANA (S1) BIOLOGI

Departemen : BIOLOGI

Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

ALAM SUMATERA UTARA

Diluluskan di Medan, November 2010

Komisi Pembimbing :

Pembimbing 2 Pembimbing 1

(Asril Abdullah, S.Si,M.Si) (Drs. Arlen Hanel John, M.Si) Nip. 19581018 199003 1 001

Diketahui/Disetujui oleh

Departemen Biologi FMIPA USU Ketua,

Prof. Dr.Dwi Suryanto, M.Sc Nip. 19640409 199403 1 003


(3)

PERNYATAAN

PERILAKU HARIAN ANAK ORANGUTAN SUMATERA (Pongo

abelii) AKIBAT ADANYA AKTIVITAS MANUSIA DI PUSAT

PENGAMATAN ORANGUTAN SUMATERA, BUKIT LAWANG,

TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER

SKRIPSI

Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.

Medan, November 2010

FIFI WILLYANTI 050805042


(4)

PENGHARGAAN

Puji syukur ke hadirat ALLAH SWT atas berkah dan rahmat-Nya, maka penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Perilaku Harian Anak Orangutan

Sumatera (Pongo abelii) Akibat Adanya Aktifitas Manusia di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera, Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuser”,

meskipun terlambat dari yang direncanakan sebelumnya.

Ucapan terimakasih sudah selayaknya Penulis sampaikan kepada Bapak Drs. Arlen Hanel John, Msi dan Bapak Asril Abdullah, S.Si, M.Si selaku Pembimbing I dan Pembimbing II atas bimbingan, waktu dan arahannya kepada penulis demi kesempurnaan penulisan skripsi ini. Selanjutnya, penulis juga menyampaikan terimakasih kepada Ibu Prof. Dr. Retno Widhiastuti, M.S dan Ibu Masittah Tanjung, M.Si selaku ketua dan sekretaris penguji yang telah banyak memberikan kritikan, saran juga masukan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

Bapak Prof.Dr. Dwi Suryanto, M.Sc selaku Ketua Departemen Biologi dan Ibu Nunuk Priyani, M.Sc selaku Sekretaris Departemen Biologi terimakasih banyak atas bantuannya kepada penulis selama menjalani perkuliahan di Biologi FMIPA USU. Kepada Bapak Riyanto Sinaga, M.Si selaku Dosen Penasihat Akademik, terimakasih atas bantuan dan waktunya. Bapak Prof.Dr. Syafruddin Illyas, M.Biomed selaku pengajar di Departemen Biologi terimakasih atas masukan dan waktu yang diluangkan untuk pengenalan singkat tentang statistik. Ibu Roslina Ginting dan Bang Erwin selaku pegawai Departemen Biologi FMIPA USU serta Ibu Nurhasni Muluk dan Alm. Pak Sukirmanto selaku analis dan laboran di Laboraturium Departemen Biologi yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis.

Terimakasih kepada Mas Panut Hadisiswoyo, S.S, M.Sc selaku Direktur Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC), juga kepada Bapak Gary Saphiro terimakasih atas beasiswa yang diberikan kepada penulis. Kepada Bapak Dr. Ian Singleton, Phd selaku Direktur Sumatera Orangutan Conservation Programme (SOCP) terimakasih atas kepercayaan dan dana penelitian yang diberikan kepada penulis.

Kepada Bapak Hendra selaku Kepala Seksi Wilayah V TNGL terimakasih atas bantuan dan informasinya, juga kepada Bapak Ari Subiantoro terimakasih atas bantuannya. Kepada Pak Warji, Pak Iskandar, Pak Riswan, Pak Tumiran, Bang Edi Jhon, Bang Sindra, Bang Darma, Bang Arsyad, Bang Erik, Bang Aliman, Bang Petrus, Bram dan Bang Jamson selaku staf dan ranjer TNGL terimakasih atas sambutannya yang hangat dan bantuannya selama penulis berada di lapangan. Untuk Bang Dedi sekeluarga terimakasih telah menjadi tetangga yang sangat baik selama penulis berada di Bukit Lawang.

Kepada Ibunda tercinta Sriwaty Sikun, terimakasih atas cinta, kekuatan dan kesabarannya. Juga kepada Ayahanda Rusliyadi dan adik-adik M. Agung R. dan Allticka Willdha terimakasih atas dukungan dan bantuannya. Kepada sepupu-sepupu penulis Setia Putra, Chiska Muthia, Ardy Wibowo, Putri Rinanda terimakasih atas dukungannya. Bu’ Khalina dan Om Khalid juga untuk Akmal dan Faiz terimakasih atas dukungannya. Untuk semua keluarga besar Alm. Sikun-Almh. Tukinah Surip dan Alm. Tugiman-Almh. Nurmasiah Hasibuan terimakasih atas bantuannya.

Penulis juga ingin mengucapkan terimakasih yang mendalam kepada Ibu Dr. Sri Suci Utami Atmoko atas masukan dan ilmu yang sangat berarti kepada penulis


(5)

juga inspirasi atas kegigihannya bekerja untuk kelangsungan hidup primata Indonesia. Kepada Pak Nuzuar, S.Hut, terimakasih yang tak terhingga atas bantuan, kepercayaan, masukan dan waktunya yang sangat berharga kepada penulis. Kepada Sergei Wich dan Hjalmahr Kuhl terimakasih telah membagi ilmunya. Kepada Bang Sofian, Bang Indra, Bang Dedi, Bang Mulyadi, Kak Nova, Bang Mustakim, Mas Binur, Bang Pebo, Kak Clara, Kak Hera, Bang B’doel terimaksih atas bantuannya selama penulis bergabung dengan YOSL-OIC.

Untuk rekan-rekan di Orangutan Sumatera Surveyor Bu Helga Peters, Mas Didik Prasetyo, Arif, Dicky, Misdi, Herman, Bang Yasin, Bang Hubert, Bang Munandar, Bang Patar, Bang Iyan, Bang Adi, Bang Ilo, Bu Rus, Bang Alfi, Bang Yori dan lain-lain yang tak bisa disebutkan namanya terimakasih atas hari-harinya selama dua minggu di Ecolodge, Bukit Lawang. Kalian semua turut memberikan semangat dan motivasi kepada penulis untuk melakukan penelitian mengenai orangutan sumatera.

Kepada rekan penelitian sekaligus sahabat terbaik penulis Sidahin Bangun, terimakasih atas bantuan dan pengertiannya yang sangat luar biasa kepada penulis. Kepada Abangnda Wahyu Utomo terimakasih untuk dukungannya baik moril, materil juga waktunya.

Tak lupa penulis sampaikan terimakasih kepada sahabat-sahabat penulis di Biologi 2005 Puput, Dini, Gustin, Imus, Nikma, Bang Rahmad, Andi, Rico, Irfan, Widya, Wulan, Seneng, Santi Giant, Andini, Teteh, Kabul, Fendi, Ery, Yanti, Ummi, Winda, Imah, Mbak Yu, Verta, Tari, Kak Calis, Fitria, Erna, Erni, Ruth, Becka, Misran, Valent, Simlah, Siti, Delni, Julit, Santi Sarmut, Kak Pida, Tober, Ochid, Nia, Junai, Riris dan Diana. Terimakasih juga untuk sahabatku Alfi, Lily, Femilya, Bayu, Ika, Ice, Delin, Irman, Boga dan Risma untuk persahabatannya yang indah. Untuk kakak asuh dan adik asuhku Kak Marliya, Frida, Riwill dan N’cay atas dukungannya. Untuk Kakak dan Abang alumni Bang Gigi, Kak Imunk, Bang Zamrud, Kak Irah, Kak Roma, Bang Andinal, Bang Acil, Bang Mahya, Kak Desma, Kak Zakiah, Kak Runi, Kak Desi, Kak Tice, Kak Meyna, Kak Mayni, Bang Hasri, Bang Edu, Kak Santi, Kak Uli terimakasih atas bantuannya selama penulis kuliah di Biologi. Untuk adik-adik 2006, 2007, 2008, 2009 Umri, Leni, Eva, Diah, Yanti, Sriyanti, Zulfan, Juki, Ivo, Aini, Michel, Farid, Dwi Putri R., Desi, Irma, Eva, Ica, Juju, Uya, Ika, Gilank, Albert dan Zubeir terimakasih atas dukungannya.

Penulis menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan dan penulisan skripsi ini. Untuk itu penulis mohon maaf dan harap dimaklumi. Semoga dapat menjadi masukan yang berharga untuk dunia primatologi.

Dan akhirnya penulis persembahkan skripsi ini untuk hutanku...untuk mawasku...Semoga memberikan manfaat yang sangat berarti untuk kelangsungan hidup Wati, Radaria, Sepi, Catherinne, Sumi, Global, Jodi anak-anak orangutan di Bukit Lawang...dan kita semua tentunya. Amin Ya Rabb...


(6)

ABSTRAK

Penelitian dengan judul “Perilaku Harian Anak Orangutan Sumatera (Pongo abelii) Akibat Adanya Aktivitas Manusia di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera, Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuser”, dilakukan selama kurang lebih lima bulan dengan menggunakan metode Focal Animal Sampling – Instantaneous – Ad Lubitum terhadap dua individu anak orangutan Bukit Lawang (Sumi dan Wati). Analisis data dilakukan secara deskriptif, yaitu dengan menampilkan data dalam bentuk tabel dan gambar dan juga dengan menggunakan perangkat lunak Statistic Programme for Scientific and Social Science (SPSS) 16,0 untuk Windows, yaitu dengan uji non-parametic Mann-Whitney terhadap dua individu anak orangutan. Kedua target individu anak orangutan memilki perilaku harian yang berbeda. Adapun perbedaan ini yang paling utama disebabkan oleh perbedaan usia yang cukup jauh, Sumi berusia 4 bulan dan Wati berusia 4 tahun. Data perilaku harian yang didapat untuk anak orangutan Sumi adalah 22,44% untuk istirahat, 21,81% untuk bergerak, 0,77% untuk makan, 51,89% untuk sosial, 3,09% untuk autoplay, 0,00% untuk kegiatan lain seperti bersarang dan 63,79% untuk gendong. Sedangkan data perilaku harian yag didapat untuk Wati adalah 11,79% untuk istirahat, 31,62% untuk bergerak, 10,54% untuk makan, 10,95% untuk sosial, 34,65% untuk autoplay, 0,45% untuk kegiatan lain seperti bersarang dan 0,69% untuk gendong. Dari perilaku harian yang teramati serta ditemukan adanya perilaku menyimpang, dimungkinkan berhubungan secara tidak langsung dengan aktivitas manusia di daerah ekowisata Bukit Lawang, seperti perilaku pemilihan pakan sampah dan perilaku pemilihan pakan dari pengunjung/wisatawan (buah-buahan seperti jeruk, semangka, nenas, pisang).


(7)

ABSTRACT

Research with the title "Son of Daily Behavior Sumatran Orangutan (Pongo abelii) Due to Human Activities in the presence of Observation Centre for Orangutan Sumatra, Bukit Lawang, Gunung Leuser National Park", carried out for approximately five months using the Focal Animal Sampling - Instantaneous - Ad Lubitum against two individual children Orangutan Bukit Lawang (Sumi and Wati). The data were analyzed descriptively, ie to display the data in tables and figures and also by using the software Statistics Programme for Scientific and Social Science (SPSS) 16.0 for Windows, by non-test Mann-Whitney parametic against two individual children orangutans.

Both target the individual child's daily behavior of orangutans have the different. The most important difference is caused by differences in age far enough, Sumi Wati aged 4 months and 4 years old. Daily behavioral data obtained for young orangutan Sumi is 22.44% for the rest, 21.81% for traveling, 0.77% for a meal, 51.89% for social, 3.09% for autoplay, 0.00% for Other activities such as nesting and 63.79% for carrying. While the daily behavioral data obtained for Wati is yag is 11.79% for the rest, 31.62% for traveling, 10.54% for the meal, 10.95% for the social, 34.65% for autoplay, 0.45% for Other activities such as nesting and 0.69% for carrying. From the daily behavior of the observed and found the existence of deviant behavior, it is possible indirectly associated with human activities in the area of Bukit Lawang ecotourism, such as junk food selection behavior and food selection behavior of visitors / tourists (fruits like oranges, watermelon, pineapple, banana).


(8)

DAFTAR ISI halaman Persetujuan Pernyataan Penghargaan Abstrak Abstract Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Lampiran ii iii iv vi vii viii x xi xii

Bab 1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang 1.2 Permasalahan 1.3 Tujuan Penelitian 1.4 Hipotesis

1.5 Manfaat Penelitian

1 3 3 3 3 3

Bab 2 Tinjauan Pustaka

2.1 Taksonomi dan Morfologi Orangutan 2.2 Perkembangbiakan Orangutan

2.3 Habitat dan Penyebaran Orangutan 2.4 Ekologi Orangutan

2.5 Konservasi terhadap Orangutan 2.6 Ekowisata di Bukit Lawang 2.7 Perilaku Harian Anak Orangutan

2.7.1 Perilaku di Gendong 2.7.2 Perilaku Bergerak 2.7.3 Perilaku Istirahat 2.7.4 Perilaku Makan

2.7.5 Perilaku Bermain Sendiri 2.7.6 Perilaku Sosial

4 6 8 9 11 12 13 14 14 15 15 16 16

Bab 3 Bahan dan Metode

3.1 Letak dan Luas 3.2 Potensi Kawasan

3.2.1 Flora 3.2.2 Fauna 3.2.3 Wisata 3.3 Waktu dan Tempat 3.4 Alat dan Bahan 3.5 Metode Penelitian 3.6 Prosedur Kerja

17 17 17 18 18 19 19 20 21


(9)

Bab 4

3.6.1 Pencarian (Searching)

3.6.2 Metode Pencatatan Data (Recording Data Method) Aktivitas Harian

3.6.3 Analisis Data

Hasil dan Pembahasan

4.1 Persentase Perilaku Harian Anak Orangutan (Pongo abelii) di PPOS Bukit lawang secara Umum

4.2 Persentase Perilaku Harian Anak Orangutan (Pongo abelii) di PPOS Bukit lawang secara Spesifik

4.2.1 Perilaku Bergerak 4.2.2 Perilaku Makan 4.2.3 Perilaku Sosial 4.2.4 Perilaku Istirahat

21 22

25

26

29 29 33 43 47

Bab 5 Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan 5.2 Saran

50 51


(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tabel 4.1

Tabel 4.2

Tabel 4.3

Tabel 4.4

Tabel 4.5

Tabel 4.6

Penggolongan Tahapan Pertumbuhan Anak Orangutan Persentase Perilaku Bergerak Anak Orangutan Sumatera (Pongo abelii) Berdasarkan Substrat Pergerakannya di PPOS Bukit Lawang

Persentase Perilaku Bergerak Anak Orangutan Sumatera (Pongo abelii) di PPOS Bukit Lawang

Keragaman Jenis Pakan Anak Orangutan di PPOS Bukit Lawang

Persentase Sumber Pakan Anak Orangutan di PPOS Bukit Lawang

Persentase Perilaku Sosial Anak Orangutan di PPOS Bukit Lawang

Perilaku Istirahat Anak Orangutan di PPOS Bukit Lawang

halaman 7 29

31

34

39

43


(11)

DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Gambar 3.1 Gambar 3.2 Gambar 3.3 Gambar 3.4 Gambar 3.5 Gambar 4.2 Gambar 4.3 Gambar 4.4 Gambar 4.5 Gambar 4.6 Gambar 4.7 Gambar 4.8 Gambar 4.9 Gambar 4.10 Gambar 4.11 Gambar 4.12 Gambar 4.13 Gambar 4.14 Gambar 4.15 Gambar 4.16 Gambar 4.17 Gambar 4.18 Gambar 4.19 Gambar 4.20 Gambar 4.21

a. Orangutan Betina b. Orangutan Jantan

c. Orangutan Jantan tidak Berpipi Aktivitas Pengunjung di Feeding Platform Aktivitas Pengunjung di Sungai Bahorok

Gerbang Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera (PPOS) di TNGL

Anak Orangutan Sumi Anak Orangutan Wati

a. Aktivitas Gendong Anak Orangutan Sumi b. Aktivitas Gendong Anak Orangutan Wati Aktivitas Bergerak di Pohon

Aktivitas Bergerak di Tanah

Aktivitas Move Treesway pada Anak Orangutan Wati Aktivitas Move Bridging pada Anak Orangutan Wati Aktivitas Menyusui Anak Orangutan

Aktivitas Makan Buah Anak Orangutan Sumi

Aktivitas Makan Serangga pada Anak dan Induk Orangutan

Sampah Berupa Kulit Buah yang Ditinggalkan Pengunjung

Induk Wati (Pesek) Mengutip Sisa Kulit Buah yang Ditinggalkan Pengunjung

Aktivitas Makan Orangutan di Platform/ TPM oleh Petugas

Pemberian Pakan untuk Orangutan oleh Manusia (Pengunjung/ Guide)

Pemilihan Pakan Sampah oleh Orangutan Interaksi Sosial Induk-Anak Orangutan

Interaksi Sosial dengan Pasangan Induk-Anak Orangutan Lain

Interaksi Sosial dengan Macaca fascicularis

Interaksi Sosial Orangutan dengan Manusia/ Pengunjung

Aktivitas Istirahat di Sarang Aktivitas Istirahat di Pohon Aktivitas Istirahat di Tasnah

halaman 5 5 5 18 18 19 20 20 27 27 30 31 33 34 35 36 37 38 38 40 41 42 44 44 45 46 48 48 49


(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A.

Lampiran B. Lampiran D.

Peta Lokasi Penelitian di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera (PPOS), Desa Bukit Lawang

Uji Non-Parametic Mann-Whitney Contoh Tabulasi Data

halaman 56

57 64


(13)

ABSTRAK

Penelitian dengan judul “Perilaku Harian Anak Orangutan Sumatera (Pongo abelii) Akibat Adanya Aktivitas Manusia di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera, Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuser”, dilakukan selama kurang lebih lima bulan dengan menggunakan metode Focal Animal Sampling – Instantaneous – Ad Lubitum terhadap dua individu anak orangutan Bukit Lawang (Sumi dan Wati). Analisis data dilakukan secara deskriptif, yaitu dengan menampilkan data dalam bentuk tabel dan gambar dan juga dengan menggunakan perangkat lunak Statistic Programme for Scientific and Social Science (SPSS) 16,0 untuk Windows, yaitu dengan uji non-parametic Mann-Whitney terhadap dua individu anak orangutan. Kedua target individu anak orangutan memilki perilaku harian yang berbeda. Adapun perbedaan ini yang paling utama disebabkan oleh perbedaan usia yang cukup jauh, Sumi berusia 4 bulan dan Wati berusia 4 tahun. Data perilaku harian yang didapat untuk anak orangutan Sumi adalah 22,44% untuk istirahat, 21,81% untuk bergerak, 0,77% untuk makan, 51,89% untuk sosial, 3,09% untuk autoplay, 0,00% untuk kegiatan lain seperti bersarang dan 63,79% untuk gendong. Sedangkan data perilaku harian yag didapat untuk Wati adalah 11,79% untuk istirahat, 31,62% untuk bergerak, 10,54% untuk makan, 10,95% untuk sosial, 34,65% untuk autoplay, 0,45% untuk kegiatan lain seperti bersarang dan 0,69% untuk gendong. Dari perilaku harian yang teramati serta ditemukan adanya perilaku menyimpang, dimungkinkan berhubungan secara tidak langsung dengan aktivitas manusia di daerah ekowisata Bukit Lawang, seperti perilaku pemilihan pakan sampah dan perilaku pemilihan pakan dari pengunjung/wisatawan (buah-buahan seperti jeruk, semangka, nenas, pisang).


(14)

ABSTRACT

Research with the title "Son of Daily Behavior Sumatran Orangutan (Pongo abelii) Due to Human Activities in the presence of Observation Centre for Orangutan Sumatra, Bukit Lawang, Gunung Leuser National Park", carried out for approximately five months using the Focal Animal Sampling - Instantaneous - Ad Lubitum against two individual children Orangutan Bukit Lawang (Sumi and Wati). The data were analyzed descriptively, ie to display the data in tables and figures and also by using the software Statistics Programme for Scientific and Social Science (SPSS) 16.0 for Windows, by non-test Mann-Whitney parametic against two individual children orangutans.

Both target the individual child's daily behavior of orangutans have the different. The most important difference is caused by differences in age far enough, Sumi Wati aged 4 months and 4 years old. Daily behavioral data obtained for young orangutan Sumi is 22.44% for the rest, 21.81% for traveling, 0.77% for a meal, 51.89% for social, 3.09% for autoplay, 0.00% for Other activities such as nesting and 63.79% for carrying. While the daily behavioral data obtained for Wati is yag is 11.79% for the rest, 31.62% for traveling, 10.54% for the meal, 10.95% for the social, 34.65% for autoplay, 0.45% for Other activities such as nesting and 0.69% for carrying. From the daily behavior of the observed and found the existence of deviant behavior, it is possible indirectly associated with human activities in the area of Bukit Lawang ecotourism, such as junk food selection behavior and food selection behavior of visitors / tourists (fruits like oranges, watermelon, pineapple, banana).


(15)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Desa Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatera Utara berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan salah satu habitat orangutan yang masih tersisa dan bekas stasiun rehabilitasi orangutan yang secara resmi ditutup pada tahun 1997 (SK Menteri Kehutanan No. 280/kpts II/ 1995). Setelah status Bukit Lawang bukan merupakan stasiun rehabilitasi, maka saat ini nama program yang berjalan di Bukit Lawang adalah Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera (PPOS).

Orangutan atau mawas, merupakan kera besar yang hanya ada di Pulau Sumatera bagian Utara dan Borneo (Kalimantan dan Sabah Malaysia). Orangutan Sumatera (Pongo abelii), memiliki warna tubuh merah kekuningan dan lebih terang dibandingkan dengan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Orangutan ini hidup pada hutan tropis, mulai dari dataran rendah hingga pegunungan dengan ketinggian ± 100-1.500 meter di atas permukaan laut (dpl). Orangutan cenderung hidup menyendiri dan tidak membuat keluarga atau kelompok. Biasanya hanya betina yang diikuti dengan satu atau dua anaknya yang belum mandiri, sedangkan yang jantan datang mendekat saat musim kawin atau mau berpasangan dengan betina saja (Wahyono, 2005).

Di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera Bukit Lawang terdapat 16 ekor orangutan eks-peliharaan yang berasal dari hasil sitaan masyarakat. Di antaranya ada pasangan induk-anak dan ada pula anak yang tidak memiliki induk. Pemeliharaan orangutan di kawasan tersebut dilakukan sebagai upaya konservasi, namun demikian searah dengan berubahnya status Bukit Lawang sebagai daerah ekowisata yang kemudian diiringi dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang datang ke kawasan


(16)

tersebut, kehidupan dan kesejahteraan orangutan di kawasan tersebut mulai terganggu. Berdasarkan data bulan Agustus 2006 hingga Juli 2007 diketahui adanya 3 bayi orangutan yang mati sebelum mencapai usia 5 tahun (Dellatore, 2007). Kondisi ini kemungkinan besar akan semakin diperburuk dengan pola ekowisata dan rehabilitasi yang kurang memadai, kesehatan orangutan yang tidak terjamin atau karena faktor internal dari orangutan itu sendiri.

Jolly (1972) menyatakan bahwa umumnya primata (orangutan) pada masa kanak-kanak merupakan masa yang relatif penting dari seluruh kehidupannya, sehingga banyak yang harus dipelajari oleh primata muda untuk tumbuh normal. Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak orangutan lebih banyak mengandalkan proses belajar (learning) dari induknya dan alam sekitarnya.

Van Schaik (2006) menjelaskan bahwa bayi orangutan akan mulai berjalan-jalan pada usia 6 bulan sambil mencari pengalaman di hutan, bergerak memanjat dan bergantung di atas kepala induknya. Bayi orangutan disapih pada usia kurang lebih tujuh tahun, dan masih tetap tinggal bersama induknya selama kira-kira dua tahun lebih setelah disapih.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Siregar (2008), beberapa induk dan anak orangutan yang berada di Bukit Lawang memiliki perilaku yang menyimpang dari populasi liar. Hal ini disebabkan karena orangutan telah terbiasa mendapatkan makanan instan dari manusia yang memeliharanya, kondisi ini menyebabkan keinginan untuk mencari dan mendapatkan makanan menjadi berkurang. Pengunjung yang datang ke kawasan ekowisata Bukit Lawang juga memberikan pengaruh negatif bagi orangutan, karena memberi makanan berupa nasi goreng, kacang, buah-buahan, minuman (misalnya soft drink) dan lain-lain. Selain itu pengunjung juga membuang sampah di sembarang tempat, seperti kulit buah yang sering dikutip dan dimakan oleh orangutan di kawasan ini.


(17)

1.2Permasalahan

Kunjungan para wisatawan untuk melihat langsung kehidupan orangutan di Bukit Lawang memungkinkan memberi pengaruh negatif terhadap kehidupan anak-anak orangutan di kawasan tersebut. Namun hingga saat ini, belum diketahui bagaimanakah perilaku harian anak orangutan di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera, Bukit Lawang akibat adanya aktivitas manusia baik wisatawan ataupun petugas dan guide di kawasan tersebut.

1.3Tujuan Penelitian

Mengetahui pola perilaku harian anak orangutan (Pongo abelii) akibat adanya aktivitas manusia di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera, Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuser.

1.4Hipotesis

1. Terjadi penyimpangan perilaku harian anak orangutan yang masih menyusui disebabkan oleh perilaku negatif pengunjung/wisatawan (misalnya: memberi makan, membuang sampah berupa kulit buah di dalam kawasan hutan dan menyentuh orangutan) di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera, Bukit Lawang. 2. Terdapat perbedaan penyimpangan perilaku anak orangutan pada tingkatan usia

yang berbeda.

1.5 Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat diketahui pola perilaku harian anak orangutan di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera, Bukit Lawang sehingga dapat menjadi bagian dari data yang berkesinambungan mengenai orangutan Sumatera di kawasan Bukit Lawang dan menjadi masukan bagi pengelola kawasan untuk penyelamatan orangutan.


(18)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Taksonomi dan Morfologi Orangutan

Orangutan termasuk kera besar dari ordo Primata dan famili Homonidae (Groves, 2001), dengan klasifikasi sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Subphylum : Vertebrae Kelas : Mamalia Ordo : Primata Family : Pongidae Subfamily : Pongoninae Genus : Pongo

Species : Pongo abelii (Orangutan Sumatera)

Pongo pygmaeus (Orangutan Kalimantan/ Borneo)

Meijard et al. (2001) menjelaskan bahwa orangutan adalah salah satu anggota famili Pongidae yang mencakup tiga kera besar lainnya, yaitu ; bonobo Afrika (Pan paniscus), simpanse (Pan troglodytes) dan gorila (Pan gorila). Berdasarkan persamaan genetis dan biokimia, Pongidae tersebut berkembang dari leluhur yang sama selama periode waktu kurang dari sepuluh juta tahun.

Ada dua jenis orangutan yang masih hidup, yaitu anak jenis dari Sumatera dan dari Kalimantan (van Bammel 1968; Jones 1969). Kedua anak jenis ini terisolasi secara geografis paling sedikit sejak 10.000 tahun yang lalu ketika permukaan laut antara Sumatera dan Kalimantan naik (Meijaard et al, 2001).


(19)

Orangutan Sumatera (Pongo abelii) mempunyai ukuran tubuh besar dengan berat berkisar antara 50-90 kg, tubuh ditutupi oleh rambut berwarna coklat kemerahan, tidak berekor, ukuran tubuh yang jantan dua kali lebih besar dari pada yang betina (Gambar 2.1.a). Secara genetik orangutan memiliki kemiripan dengan manusia bahwa orangutan Sumatera, biasanya berwarna lebih pucat, khasnya “ginger” (jahe), dan rambutnya lebih lembut dan lemas. Kadang-kadang mempunyai bulu putih pada mukanya.

Berat badan orangutan betina dewasa berkisar 35-55 kg dan jantan dewasa 85-110 kg, sedangkan berat bayi yang baru lahir sekitar 1-2 kg (rata-rata 1,8 kg) (Wich et al, 2004). Selanjutnya Atmoko (2000) menyatakan bahwa orangutan jantan dewasa memiliki dua bentuk wajah, yaitu; pertama, jantan berpipi (flanged male) yang memiliki karakter seks sekunder, seperti besar tubuh dua kali besar tubuh betina dewasa, rambut lengan yang panjang dan berjumbai, bantalan pipi (cheek pad) dan biasa menyuarakan seruan panjang (long call), seperti terlihat pada Gambar 2.1.b; kedua, jantan tidak berpipi (unflanged male) yang belum memiliki karakter seks sekunder (Gambar 2.1.c). Keduanya aktif melakukan reproduksi dan dapat menghasilkan keturunan, walaupun dengan strategi yang berbeda.

Gambar 2.1. a. Orangutan betina (Willyanti, 2010), b. Orangutan jantan tidak berpipi (Bangun, 2010)


(20)

2.2 Perkembangbiakan Orangutan

Perkembangbiakan orangutan diawali dengan pubertas atau dewasa, dimana proses reproduksi mulai terjadi (Partodiharjo, 1980). Pubertas pada orangutan jantan peliharaan umumnya terjadi pada umur 8 tahun, sedangkan pada orangutan liar terjadi kira-kira pada umur 10 tahun. Masa pubertas betina peliharaan pada umur sekitar 6 tahun, sedangkan yang hidup liar antara 12-13 tahun. Orangutan betina siap bereproduksi pada usia sekitar 14 tahun yang diawali dengan estrus (Wich et al, 2004).

Galdikas (1986) menjelaskan bahwa estrus adalah periode dimana hewan betina mempunyai keinginan birahi dan bersedia menerima pejantan. Pada orangutan periode estrus ditandai dengan adanya perubahan perilaku yang seringkali berhubungan dengan perubahan faal sewaktu terjadi ovulasi. Selama estrus betina menunjukkan ketanggapan dan ketersediaan seks terhadap jantan. Lamanya birahi pada orangutan berkisar antara 2-3 hari yang dilanjutkan dengan proses ovulasi. Ovulasi diperkirakan terjadi pada pertengahan siklus birahi, yaitu pada hari ke-12 sampai ke-14 sejak permulaan birahi.

Masa kehamilan orangutan berlangsung lebih kurang sembilan bulan dengan rata-rata 254-279 hari. Biasanya baru akan terjadi kehamilan setelah beberapa kali melakukan perkawinan dan melahirkan satu anak per kehamilan untuk setiap betina orangutan. Orangutan yang dipelihara (didomestikasi) dapat hamil pada umur tujuh sampai delapan tahun, sedangkan orangutan liar biasanya melahirkan untuk pertama kali pada umur yang jauh lebih tua, yaitu antara umur 14-15 tahun (Partodiharjo, 1980). Selanjutnya Wich et al. (2004) menjelaskan bahwa setiap kelahiran hanya menghasilkan satu bayi dengan jarak kelahiran 6-9 tahun, sehingga setiap induk orangutan paling banyak bisa melahirkan semasa hidupnya sebanyak 4 anak.

Bayi yang baru lahir akan memegang dengan kuat rambut di tubuh induknya dalam segala aktivitas, seperti pergerakan, makan dan istirahat. Akan tetapi, eksplorasi penjelajahan bayi, jarak bayi dengan induk akan berangsur bertambah seiring waktu berjalan. Masa transisi dari bayi menjadi kanak-kanak terjadi secara bertahap


(21)

(Mackinnon, 1974). Hal ini disebabkan batas tahapan perkembangan orangutan dimulai pada masa kanak-kanak (Horr, 1977).

Tahap pertumbuhan kehidupan orangutan di alam dapat dibedakan dalam beberapa kategori. Penggolongan kategori tersebut berdasarkan umur, jenis kelamin, morfologi dan tingkah lakunya. Lubis (1995) menyatakan bahwa kategori anak dapat dibedakan berdasarkan tingkah laku dan kebersamaan dengan induknya. Secara terperinci, penggolongan tahapan pertumbuhan anak orangutan dapat dilihat pada

Tabel 2.1 berikut ini:

Tabel 2.1. Penggolongan Tahapan Pertumbuhan Anak Orangutan

Jenis Kelamin Taraf Perkemba- ngan Umur (Tahun) Berat Perkiraan (kg) Sifat Tingkah Laku Sifat Morfologi Jantan/ Betina

Bayi (Infant) 0- 2,5 2-6 Masih sangat tergan tung dengan induk, bayi selalu digen dong oleh induk nya. Masih menyu su dan tidur di sa rang induk.

Mempunyai rambut yang panjang dan ber diri di sekitar muka. Warna rambut biasa-nya jauh lebih pucat di sekeliling mata dan mulut bahkan seluruh tubuh terdapat bercak kulit.

Jantan/ Betina

Kanak-kanak (Juvinile)

2,5-7 6-15 Sudah dapat mela kukan beberapa ak-tivitas sendiri, tetapi masih bersama in duknya. Biasanya berpindah bersama, tetapi terlepas dari badan induk, masih menyusu dan tidur dalam sarang induk.

Warna rambut lebih gelap dari individu bayi dengan bercak-bercak putih yang hampir pudar pada tu buh, tetapi wajah ma sih menyerupai bayi.

Betina Remaja (Adolescent)

7-12

15-30

Sudah terpisah dari induknya tetapi ber temu dengan induk atau dengan indivi du lain dan bergerak bersama dalam satu kelompok dan sudah menunjukkan perila ku sosialnya sendiri berupa tingkah laku sosial.

Warna rambut pada daerah muka lebih gelap dari sebelum nya. Rambut di se kitar muka masih pan jang-panjang dan ber diri.

Jantan Remaja (Adolescent)

7-15

Sumber : Mackinnon (1974); Rijksen (1978); dan Galdikas (1986).

Pada umumnya, perilaku anak-anak orangutan berbeda pada tingkatan usia tertentu. Bayi yang baru lahir dapat memegang dengan kuat rambut di tubuh induknya dan induk akan selalu berhati-hati dalam setiap pergerakannya (Horr, 1977).


(22)

Selanjutnya Rijksen (1978) menjelaskan bahwa anak orangutan yang sudah mencapai tahap kanak-kanak akan cenderung sering lepas dari genggaman dan gendongan sang induk.

2.3 Habitat dan Penyebaran Orangutan

Orangutan hidup di hutan-hutan tropik yang basah dalam batas-batas alam yang tidak dapat dilampaui, seperti sungai atau gunung yang tingginya lebih dari 2.000 m. Orangutan dapat hidup pada berbagai tipe hutan, mulai dari hutan dipterokarpus perbukitan dan dataran rendah, daerah aliran sungai, hutan rawa air tawar, rawa gambut, tanah kering di atas rawa bakau dan nipah, sampai ke hutan pegunungan (Van Hoeve,1996).

Orangutan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia, sementara tiga kerabatnya, yaitu; gorila, simpanse, dan bonobo hidup di Afrika. Kurang dari 20.000 tahun yang lalu orangutan dapat dijumpai di seluruh Asia Tenggara, dari Pulau Jawa di ujung selatan sampai ujung utara Pegunungan Himalaya dan Cina bagian selatan. Akan tetapi, saat ini jenis kera besar itu hanya ditemukan di Sumatera dan Borneo (Kalimantan dan Sabah Malaysia), 90% berada di Indonesia (www.gunungleuser. or.id, diakses tgl 30 Januari 2009).

Di pulau Sumatera terdapat 13 wilayah populasi orangutan. Dari jumlah tersebut, kemungkinan hanya 3 wilayah populasi yang memiliki sekitar 500 individu dan tujuh wilayah populasi memilki kurang lebih 250 individu. Enam dari tujuh wilayah populasi tersebut diperkirakan akan kehilangan 10-15% habitat mereka akibat penebangan hutan sehingga populasi ini akan berkurang dengan cepat (WWF Indonesia dalam www.savesumatra.org/orangutan.pdf, diakses tgl 30 Januari 2009).

Pada awal tahun 1970-an, Rijksen (1998) memperkirakan bahwa kawasan Taman Nasional Gunung Leuser memiliki 2.000-5.000 orangutan, terutama di kawasan pinggiran. Dua puluh tahun kemudian Van Schaik & Azwar (1991) memperkirakan bahwa populasi yang ada dalam batas-batas suaka ini berjumlah


(23)

5.000-7.400 ekor. Meskipun demikian, dari 9.000 km2 luas kawasan ini, hanya sekitar 25% yang merupakan dataran rendah antara permukaan laut sampai ketinggian 1.000 meter. Selanjutnya Meijard et al (2001) menjelaskan bahwa orangutan ternyata terletak di petak-petak habitat yang luasnya hanya antara 35% (lahan kering) dan 50% (rawa) di kawasan ini, sehingga jumlah total orangutan dalam batas-batas suaka ini kemungkinan tidak lebih dari 2.000 ekor. Namun sejak akhir 1970-an banyak kawasan dataran rendah ini mengalami degradasi, perambahan dan konversi hutan yang parah.

2.4 Ekologi Orangutan

Ekologi orangutan mencakup pola makan, habitat, perilaku sosial, daerah jelajah, perilaku bersarang dan lain-lain. Sejak laporan pertama tentang orangutan diterbitkan, satwa ini dikenal sabagai pemakan buah. Pola makan ini sangat mempengaruhi kondisi biologis dan cara hidupnya. Oleh karena itu, distribusi jumlah dan kualitas makanannya menurut waktu dan tempat tertentu merupakan faktor penentu utama perilaku pergerakan, kepadatan populasi yang akhirnya menentukan organisasi sosialnya (Galdikas, 2001).

Orangutan memperlihatkan banyak variasi ekologi dan perilaku sosial individunya karena perbedaan seks, umur, kondisi reproduksi, status sosial dan juga keterampilannya (Galdikas, 2001). Selanjutnya Rijksen (1978) menjelaskan bahwa orangutan juga berbakat untuk mengembangkan pola hubungan yang kompleks, yaitu individu dominan berperan mengontrol dan melindungi sesamanya. Kemampuan ini sangat berperan dalam organisasi sosial orangutan untuk mempertahankan tingkat sosial relatif tinggi jika kondisinya memungkinkan (Meijaard et al, 2001).

Salah satu perilaku sosial yang cukup menonjol bagi anak orangutan adalah sosial bermain. Permainan dalam lingkungan sosial menunjukkan perbedaan-perbedaan sosial yang menarik (Van Schaik, 2001). Selain perilaku bermain, perilaku sosial anak orangutan yang paling dominan adalah kontak dengan induknya. Anak orangutan (jantan dan betina) umur 0-4 tahun biasanya berpegang pada induknya saat bergelantungan di pohon dan masih menyusu pada induknya, sedangkan pada umur


(24)

4-7 tahun anak orangutan akan berpindah bersama induk dari satu pohon ke pohon lainnya tetapi sudah mulai terlepas dari induk saat berpindah dan juga masih tetap menyusu pada induk, dan benar-benar akan bebas dari induk pada umur 7-12 tahun walaupun kadang-kadang akan bergerak pindah juga bersama induk dalam satuan lain (betina) (Galdikas, 1986).

Menurut Rijksen & Meijaard (1999), dari hasil penelitian jangka panjang tentang pola jelajahnya, secara umum ada 3 tipe orangutan, yaitu :

a) Penetap, individu yang sebagian besar waktunya dalam setiap tahun dihabiskan

di kawasan tertentu (Rijksen, 1978; Boekhorst et al, 1990). Biasanya orangutan menguasai daerah jelajah sekitar 2-10 kilometer persegi dengan kualitas habitat yang tinggi dan umumnya merupakan individu dengan status sosial yang tinggi. b) Penglaju, individu yang secara teratur selama beberapa minggu atau beberapa

bulan menetap di satu kawasan untuk kemudian pindah ke kawasan lain atau nomadis (umumnya jantan dewasa dan muda). Mereka menjelajahi daerah yang lebih luas dan terdiri dari lebih dari 1 habitat utama dengan kualitas yang bisa dikatakan cukup baik.

c) Pengembara, individu yang tidak pernah, atau sangat jarang kembali ke tempat

yang sama dalam waktu paling sedikit 3 tahun (umumnya jantan muda).

Semua kera besar termasuk orangutan membangun sarang yang biasa dipergunakannya untuk beristirahat pada siang maupun malam hari. Sarang bagi orangutan dapat berfungsi sebagai tempat bermain bagi orangutan muda, tempat berlindung, melahirkan anak, melakukan kopulasi dan aktifitas makan (Van Schaik et al, 1994).

Setelah seharian melakukan aktifitasnya baik menjelajah dan mencari makan serta aktifitas sosial lainnya, maka pada sore harinya akan membuat sarang untuk tidurnya. Aktifitas ini meliputi perlakuan terhadap cabang pohon dan pematahan dalam menyusun sarang untuk tidur. Orangutan umumnya akan membuat sarang pada percabangan pohon yang besar dan dalam aktifitas membuat sarangnya orangutan mempunyai teknik membangun sarangnya tersendiri, yaitu ketika orangutan menemukan tempat yang nyaman untuk bersarang di pohon, maka orangutan bergerak


(25)

menuju batang-batang pohon kecil disekitarnya lalu orangutan memegang dahan dengan cara memilin, melengkungkan dan melipat dahan sampai rapat, lalu dilanjutkan dengan menambah dahan-dahan kecil dan daun untuk kenyamanan (Margianto, 1998).

2.5 Konservasi terhadap Orangutan

Saat ini populasi orangutan Sumatera atau Pongo abelii hanya tersisa sekitar 7.000 ekor, 85 persen diantaranya berada di Taman Nasional Gunung Leuser (Suaq Balimbing, Ketambe, Tangkahan, Bukit Lawang, Sampan Getek, Rawa Singkil, Agusan, Rawa Tripa, Ulu Masen, Cagar Alam Jantho, dsb), serta Batang Toru dan Pakpak Bharat. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus menurun, sebab masih berlangsung perburuan dan adanya penebangan liar (illegal logging) (Singleton et al, 2004).

Menurut International Union for Conservation and Natural Resources (IUCN), selama 75 tahun terakhir populasi orangutan Sumatera telah mengalami penurunan sebanyak 80%. Dalam kurun waktu 1998 dan 1999, laju kehilangan tersebut dilaporkan mencapai sekitar 1.000 orangutan per tahun dan terdapat di ekosistem Leuser, salah satu luasan hutan terbesar di pulau Sumatera (Rencana Aksi dan Strategi Konservasi Orangutan, Dephut 2007) dalam IUCN Red List edisi tahun 2002, orangutan Sumatera dikategorikan Critically Endangered atau sudah sangat terancam kepunahan Convention of International Trade of Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) memasukkan orangutan ke dalam Appendix I yaitu kategori satwa yang tidak dapat diperdagangkan (CITES, 2008).

Meijard et al (2001) menjelaskan bahwa, berbagai usaha penegakan hukum perlindungan orangutan telah di lakukan pemerintah untuk menyelamatkan keberadaan orangutan. Salah satunya dengan jalan menangkap para pemburu, penyelundup dan pemelihara ilegal orangutan serta menyita orangutan yang mereka


(26)

miliki. Selanjutya, orangutan hasil sitaan tersebut memiliki potensi untuk dilepasliarkan kembali.

Pelestarian terpadu primata orangutan, yang dikenal juga dengan istilah reintroduksi orangutan merupakan usaha pelestarian secara terpadu dan sistematis mulai dari tindakan karantina, proses sosialisasi dan latihan di hutan singgah sampai pelepasliaran di habitat asli (Harsono, 2000).

2.6 Ekowisata di Bukit Lawang

Kegiatan pariwisata dalam bentuk ekowisata berpotensi memberikan kontribusi untuk kepentingan konservasi maupun tujuan pembangunan daerah. Apabila kawasan pariwisata dikelola dengan benar akan menjadi usaha yang paling menjanjikan (Sherman & Dixon, 1991; Honey, 1999; Walpole & Goodwin, 2001). Kawasan wisata Bukit Lawang juga dapat menjadi bagian dari penduduk setempat, karena kelangsungan hidup masyarakat sebagian besar bergantung pada kegiatan wisata di daerah ini dengan modal pengetahuan mengenai alam dan lingkungan budaya, yang hampir setiap orang dapat memanfaatkannya (Dellatore, 2007).

Ekowisata merupakan suatu bentuk upaya penyelamatan untuk satwa liar karena dapat menjadi industri potensial yang layak dan tidak tergantung pada sumber daya fisik (Orams, 2002). Meningkatkan kesadaran konservasi juga dapat berperan sebagai alat utama untuk menghasilkan suatu momentum yang dapat meyakinkan para pejabat pemerintah untuk mengambil tindakan terhadap penyelamatan satwa liar (Van Schaik et al, 2001) dan yang paling penting dapat membantu mengubah sikap masyarakat lokal untuk lebih menghargai nilai lingkungan mereka, dengan demikian mereka turut bekerja untuk konservasi tanah mereka sendiri (Krueger, 2005).

Sepanjang waktu proyek reintroduksi berjalan, Bukit Lawang merupakan tuan rumah industri ekowisata satwa liar yang berpusat pada orangutan yang banyak diminati oleh wisatawan asing maupun lokal. Banyaknya pengunjung dan sering terlalu dekat dan berinteraksi dengan orangutan yang sedang dalam tahap reintroduksi,


(27)

menjadi salah satu alasan mengapa maka proyek ini dihentikan, karena diduga dapat menyebabkan gagalnya program ini. Meskipun tidak ada lagi pusat reintroduksi, kawasan Bukit Lawang masih menyelenggarakan industri ekowisata orangutan berdasarkan populasi yang tersisa. Data resmi yang diperoleh dari departemen kehutanan Indonesia 206.963 wisatawan mancanegara mengunjungi Bukit Lawang dari periode 1985-2003, dengan rata-rata 10.893 per tahun. Dengan demikian, jumlah pengunjung ke daerah itu dalam 18 tahun adalah 288.165. Data ini tidak termasuk setiap pengunjung yang tidak terdaftar, pada kenyataannya mungkin lebih dari dua kali lipat dari angka resmi yang tercatat (Rijksen dan Meijaard, 1999). Dari tahun 2007 hingga 2009 tercatat sebanyak 1.310 wisatawan lokal dan 16.771 wisatawan mancanegara mengunjungi Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera (PPOS), Bukit Lawang (Seksi Konservasi Wilayah III Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, 2010).

Data dari dampak pariwisata pada perilaku orangutan telah tercatat. Data ini didapat melalui berbagai pencatatan perilaku yang ditimbulkan melalui kehadiran manusia di hutan. Perilaku orangutan mendekati manusia di hutan dalam upaya untuk mendapatkan makanan telah tercatat sebagai peristiwa yang sering terjadi. Data juga diambil untuk jumlah wisatawan yang ditemui per hari seiring dengan jumlah kelompok wisatawan berbeda yang mengikuti individu orangutan (data yang tercatat tidak termasuk pemandu turis yang menemani kelompok turis (group), 1 kelompok biasanya terdiri dari satu sampai sepuluh orang turis). Banyak dari pemandu membuat panggilan yang bertujuan untuk memancing orangutan. Panggilan ini dibuat dari sistem jalur utama dan sering berhasil membuat orangutan mendatangi jalur tempat wisatawan berada. Panggilan bisa didengar hampir setiap sampai kira-kira jarak 300 meter (Dellatore, 2007).

2.7 Perilaku Harian Anak Orangutan

Orangutan hidup semi soliter (cenderung sendiri). Aktivitas harian dimulai dengan bangun pagi saat matahari terbit (sekitar pukul 05.00-06.20), untuk kemudian mencari


(28)

makan, berjalan, beristirahat dan diakhiri dengan membuat sarang setelah matahari terbenam (sekitar pukul 16.00-19.20). (Rijksen & Meijaard, 1999).

Galdikas (1984) menyatakan bahwa aktivitas harian orangutan merupakan semua aktivitas yang dilakukan semua orangutan sejak meninggalkan sarang tidur pada pagi hari sampai membuat sarang dan tidur pada sore hari. Pada dasarnya aktivitas harian orangutan dapat dibedakan menjadi aktivitas makan (feeding), bergerak pindah (moving), beristirahat (resting), bersarang (nesting) dan sosial (social) yang terdiri dari kopulasi, mengeluarkan seruan panjang, pamer kemarahan dan agresif. Berjalan-jalan di antara pepohonan dan membuat sarang merupakan kegiatan yang dilakukan dalam persentase waktu yang relatif kecil (Rodman, 1979).

Tahap belajar pada individu kanak-kanak dan remaja, dimulai dari mengenal perkembangan lingkungan daerah jelajah dengan sebaik-baiknya, yaitu disaat tiba waktunya individu kanak-kanak atau remaja meninggalkan induknya. Individu muda dalam tahap masa pertumbuhan masih mendapatkan perlindungan dari induknya dalam bentuk pengajaran untuk dapat bertahan hidup disaat terdesaknya kondisi ketersediaan makanan yang menurun disuatu area sehingga terjadi kompetisi makanan antar individu lain. Oleh sebab itu, kompetisi makanan merupakan salah satu faktor dari proses berjalannya kemandirian dan hubungan sosial antara remaja dengan induk terlihat berkurang disaat ketersediaan makanan tinggi (Galdikas, 1986).

2.7.1 Perilaku di Gendong (Cling)

Gendong merupakan aktivitas anak apabila menempel atau berpegangan pada tubuh induk disaat induk bergerak, makan dan istirahat. Aktivitas yang dilakukan oleh anak pada saat gendong dapat berupa, bermain bergerak di badan induk atau dengan ranting, istirahat dan disaat induk bergerak (Amda, 2009).


(29)

2.7.2 Perilaku Bergerak

Bergerak merupakan salah satu perilaku harian orangutan. Siregar (2009) menjelaskan bahwa dari hasil pengamatan di lapangan didapatkan perilaku bergerak setiap ibu dan anak orangutan cukup bervariasi, seperti bergerak di pohon, liana, tanah ataupun substrat lain. Perilaku bergerak pada anak orangutan dapat dilakukan sendiri atau bersama induk. Bergerak bersama induk dapat berupa move bridging, move travel dan move waiting.

2.7.3 Perilaku Istirahat

Masa istirahat meliputi seluruh waktu yang digunakan individu orangutan dengan relatif tidak melakukan kegiatan dalam periode waktu tertentu baik di dalam maupun di luar sarang seperti merebahkan diri, duduk, berdiri maupun menggantung. Untuk anak orangutan, istirahat dapat dilakukan sendiri atau bersama induk (Galdikas, 1986).

2.7.4 Perilaku Makan

Beberapa hal yang dapat mempengaruhi aktivitas harian orangutan adalah keberadaan sumber pakan, ukuran tubuh, masa kehamilan dan menyusui pada betina dewasa serta tingkat dominansi antar individu (Galdikas, 1984).

Penyusuan anak adalah sifat khusus dari mamalia yang merupakan faktor penting dalam evolusi dan morfologi serta perilaku anak (Pond, 1977). Pada waktu penyusuan aktivitas induk tidak terpengaruh, misalnya pada waktu makan, istirahat atau bahkan pada waktu melakukan pergerakan. Pada beberapa penelitian, proses penyapihan membutuhkan waktu yang cukup lama sampai anak lebih sering makan buah, daun atau makanan lainnya (Horr, 1977) dan benar-benar sudah bisa menentukan makanannya sendiri serta berusaha secara bertahap untuk mandiri (Davies, 1978).


(30)

Dalam beraktivitas, anak yang masih tergantung induk akan melakukan hal yang sama dengan induknya (Maple, 1980). Demikian juga dengan pemanfaatan waktu makanan antara induk dan anaknya. Waktu anak masih bergantung pada induknya, maka anak akan mengikuti aktivitas induknya, misalkan anak akan mengambil makanan dari mulut induknya, seperti buah, daun dan serangga (Rijksen, 1978).

2.7.5 Perilaku Bermain Sendiri

Perilaku bermain adalah sebagai perbuatan aktif dari rangkaian pola perlakuan khas yang dilakukan oleh hewan muda. Hal ini merupakan suatu interaksi sosial awal kemampuan komunikatif dikembangkan. Selanjutnya dijelaskan bahwa anak orangutan seringkali bermain sendiri ketika sang induk sedang melakukan aktivitasnya. Anak yang sudah lepas dari gendongan sang induk lebih sering bermain sendiri jika dibandingkan dengan anak yang masih digendong induknya (Jolly, 1972).

2.7.6 Perilaku Sosial

Orangutan cukup berbakat untuk mengembangkan pola hubungan yang kompleks, yaitu individu dominan berperan mengontrol dan melindungi sesamanya (Rijksen, 1978). Kemampuan ini sangat berperan dalam organisasi sosial orangutan untuk mempertahankan tingkat sosial relatif tinggi jika kondisinya memungkinkan (Meijaard et al, 2001).

Van Shaik (2006) menyatakan bahwa, salah satu perilaku sosial yang cukup menonjol bagi anak orangutan adalah sosial bermain. Permainan dalam lingkungan sosial menunjukkan perbedaan-perbedaan sosial yang menarik. Anak-anak jantan bermain lebih kasar bila dibandingkan dengan betina, dan suka saling kejar-kejaran dan bergumul. Bermain adalah salah satu yang sangat menyenangkan namun bukan tanpa resiko. Kemampuan komunikatif pada interaksi sosial awal dalam bentuk sosial bermain tersebut melatih naluri (instink) anak orangutan untuk mempersiapkan kehidupan selanjutnya dan berlatih keterampilan terhadap kondisi lingkungan (Bekoff, 1972).


(31)

BAB 3

BAHAN DAN METODE

3.1 Letak dan Luas

Secara geografis lokasi penelitian terletak pada 30 30’ - 30 45’ Lintang Utara dan 980 0’ – 980 15’ Bujur Timur. Sedangkan secara administratif lokasi penelitian berada di desa Bukit Lawang, kecamatan Bohorok, kabupaten Langkat, propinsi Sumatera Utara, tepatnya di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera (PPOS) yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Lokasi penelitian ini berjarak ± 90 km dari kota Medan.

Kawasan penelitian ini memiliki luas sekitar 75.175 ha, dengan ketinggian berkisar antara 100-700 m diatas permukaan laut (dpl), mempunyai topografi berbukit-bukit hingga curam, sedangkan topografi datar dapat dikatakan tidak ada. Jenis tanah yang ditemukan pada kawasan hutan terdiri dari jenis tanah Kompleks Podsolik Merah Kuning, Latosol, Litosol dan Kompleks Potsolik Coklat (Abdulhadi, 1986).

3.2 Potensi Kawasan 3.2.1 Flora

Hutan TNGL di sekitar daerah ekowisata Bohorok, Sumatera Utara termasuk kawasan hutan tropis basah. Berdasarkan analisis vegetasi yang dilakukan dengan metode kuadran diketahui bahwa tingkatan sapihan didominasi oleh jenis asam kandis (Garcinia sp.), semantuk (Shorea sp.), baja berinau (Rhodamnia sp.), kayu merah (Eugenia sp.) dengan masing-masing Nilai Penting Jenis (NPJ) 20,41%; 19,36%; 12,11%; 11,79%. Sedangkan untuk tingkatan tiang didominasi oleh jenis: kayu merah (Eugenia sp.), kayu minyak (Dipterocarpus sp.), kayu kuning (Eugenia sp.), kandis (Garcinia sp.) dengan NPJ masing-masing 14,59%; 13,25%; 11,83%; 10,05%. Untuk


(32)

tingkatan pohon didominasi oleh jenis: damar laut (Shorea materalis), meranti bakau (Shorea macroptera) dan durian hutan (Durio sp.) dengan NPJ masing-masing 30,26%; 20,15% dan 16,25% (Abdulhadi, 1986).

3.2.2 Fauna

Kawasan hutan di sekitar daerah ekowisata Bohorok juga merupakan habitat beberapa jenis hewan seperti: orangutan (Pongo abelii), siamang (Hylobates sindactylus), kedih (Presbytis thomasii), owa (Hylobates lar), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), jelarang (Ratufa bicolor), beruang madu (Helarctos malayanus), burung rangkong (Buceros bicolor) dan beberapa jenis ular (Abdulhadi, 1986).

3.2.3 Wisata

Desa Bohorok merupakan kawasan wisata alam terbesar ketiga di Provinsi Sumatera Utara dengan atraksi unggulannya adalah pemandangan alam (hutan, sungai), arung jeram, dan pusat pengamatan orangutan. Banyak sarana dan prasarana yang telah dibangun di sekitar kawasan wisata seperti hotel, resort, restoran, toko dan lainnya. Beberapa aktivitas wisatawan di Bukit Lawang dapat dilihat pada Gambar

3.1 dan Gambar 3.2 berikut ini.

Gambar 3.1 Aktivitas Pengunjung di Gambar 3.2 Aktivitas Pengunjung Feeding platform di sungai Bahorok


(33)

Seiring dengan berkembangnya kawasan wisata adalah semakin padatnya permukiman di sekitarnya. Ironisnya sebagian besar dibangun pada dataran banjir (floodplain) bahkan di kiri-kanan dari sungai Bahorok dengan kepadatan bangunan yang cukup tinggi

3.3 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih 5 bulan yang dimulai dari bulan September 2009 sampai dengan Pebruari 2010 di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera, Bukit Lawang, Kecamatan Bohorok, Taman Nasional Gunung Leuser, Sumatera Utara. Lokasi tersebut merupakan bekas Stasiun Rehabilitasi Orangutan yang sudah ditutup sejak tahun 1997 (SK Mentri Kehutanan 280/ kpts II/ 1995). Adapun sedikit potret lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.3 berikut ini.

Gambar 3.3 Gerbang Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera (PPOS) di TNGL

3.4 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan untuk penelitian ini adalah: peta areal penelitian, alat tulis, tabulasi data, teropong binokuler, Global Positioning System (GPS), kompas, counter, pita berwarna, jam tangan digital, kamera digital, headlamp, meteran, parang dan jas hujan.


(34)

3.5Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, metoda yang digunakan adalah Focal Animal Sampling, yaitu dengan mengikuti individu orangutan (anak), mulai dari sarang di pagi hari sampai kembali ke sarang untuk tidur pada saat menjelang malam. Pencatatan data dilakukan secara Instantaneous, yaitu dengan mencatat setiap perilaku individu per dua menit pada tabulasi data. Empat kategori utama perilaku harian meliputi aktivitas bergerak, makan, istirahat dan sosial. Menurut Altman (1974) metoda pencatatan tersebut dimungkinkan karena sifat aktivitas orangutan yang lamban, baik dalam pergerakan maupun perilaku lainnya. Selain itu pencatatan juga dilakukan secara Ad Lubitum Sampling, yaitu mencatat setiap perilaku sosial yang menarik pada tiap individu anak yang diamati dan tidak terdapat pembatasan secara sistematis terhadap apa dan kapan aktivitas tercatat.

Pada awal rencana penelitian, orangutan yang akan diteliti adalah 6 individu. Namun karena beberapa sebab, maka penelitian hanya dilakukan terhadap 2 individu yaitu:

a) Sumi (anak Suma) berusia di bawah 1 tahun (4 bulan) dan masih dalam gendongan induk.

b) Wati (anak Pesek) berusia hampir 4 tahun dan sudah lebih sering lepas dari induknya.

Kedua individu orangutan tersebut induknya berasal dari eks-peliharaan.


(35)

3.6 Prosedur Kerja

3.6.1 Pencarian (Searching)

Pencarian (Searching) dilakukan pada saat pertama kali pengambilan data dimulai. Selain itu pencarian juga dapat dilakukan pada saat berakhirnya target waktu pengambilan data untuk individu (anak berinduk) atau saat individu target orangutan hilang. Pencarian target individu orangutan dilakukan dengan mengunjungi feeding platform atau tempat-tempat lain yang sering dikunjungi individu target orangutan. Dijadikannya feeding platform sebagai pusat pencarian individu target orangutan disebabkan kawasan tersebut sering dikunjungi orangutan dalam mencari makan. Jam pemberian makan dibagi dalam 2 waktu yaitu pagi (08.30-09.30) dan sore (15.00-16.00). Apabila sudah di dapat sarang malam, maka pengamatan langsung dimulai di tempat tersebut tidak lagi di TPM.

Apabila individu target tidak dijumpai di feeding platform hingga waktu pemberian makan selesai, maka pencarian dilakukan dengan cara menyusuri jalan-jalan setapak yang terdapat dilokasi penelitian atau dengan mengunjungi beberapa sumber pakan di dalam kawasan jelajahnya. Beberapa tanda yang digunakan untuk mengetahui keberadaan individu target orangutan antara lain: suara gerak pindah, bau (tubuh, urin ataupun feses), vokalisasi (“kiss squaek’, “kiss hoot”, ataupun calls). Apabila individu target ditemukan, pengambilan data dilakukan dengan mengikuti dan mencatat seluruh perilaku dalam perilaku harian dan daerah jelajahnya.

Untuk satu pasang induk dan anak dilakukan pengamatan selama 10 hari. Namun jika belum mencapai 10 hari individu yang diamati menghilang atau tidak muncul, maka dapat digantikan dengan individu anak yang lain. Pengamatan terhadap individu yang tidak muncul atau hilang sebelum 10 hari pengamatan dapat dilanjutkan ketika individu tersebut muncul kembali.


(36)

3.6.2 Metode Pencatatan Data (Recording Data Method) Aktifitas Harian

Apabila anak orangutan ditemukan, maka dimulailah pengamatan dengan mengamati aktifitas dan jelajah hariannya yang dicatat pada lembar data dan peta lokasi yaitu dengan mengikuti ibu dan anak orangutan (target), mulai dari sarang di pagi hari sampai individu tersebut kembali ke sarang untuk tidur pada saat menjelang malam. Kondisi cuaca apakah hujan atau panas juga dicatat sebagai data tambahan, karena turut mempengaruhi aktivitas orangutan.

Pencatatan data untuk perilaku harian yang dijadikan sebagai Point Sampel dilakukan sesuai dengan batasan yang telah ditentukan. Penghitungan persentase aktivitas harian anak sebagai berikut:

a. Sosial (social), aktivitas sosial yang dicatat jika individu anak berinteraksi sosial

antara anak dengan induk dan antara anak dengan individu lain. Aktivitas yang terjadi antara anak dengan induk dan dengan indvidu lain dapat berupa menelisik, menggigit, bergulat maupun agonistik yang terdapat pada anak yang mengalami masa penyapihan. Kontak dapat terjadi antara anak dengan induk, orangutan lain, petugas, guide ataupun turis.

• Sosial dengan Induk: Seluruh waktu yang digunakan individu target untuk bermain ataupun berinteraksi sosial lain dengan induknya seperti bermain di tanah dan di pohon.

• Sosial dengan Orangutan Lain : Seluruh waktu yang digunakan individu target untuk berinteraksi sosial dengan orangutan lain, baik yang sudah dewasa ataupun anak orangutan.

• Sosial dengan Pengunjung (SP) : Seluruh waktu yang digunakan individu target untuk bersentuhan dengan manusia, dalam hal ini guides dan wisatawan (lokal/asing), seperti diberi atau meminta makanan, memegang, dan ingin menggigit. Perilaku sosial ini dibagi lagi menjadi perilaku pasif (pengunjung yang


(37)

mendatangi atau memanggil individu target) dan perilaku aktif (individu target yang mendatangi pengunjung).

• Sosial dengan Individu Lain : yaitu waktu yang digunakannya ketika bermain dengan individu lain seperti owa (Hylobates lar), kedih (Presbitis thomasii), kera (Macaca fascicularis) dan lain-lain.

b. Bergerak (moving), pencatatan aktivitas bergerak dilakukan saat terlepas dari

gendong induk dan bergerak pindah bersama disaat induk juga melakukan pergerakan dari cabang/pohon satu ke cabang/pohon lain, liana, tanah kabel atau tempat lain. Selain itu bergerak juga dapat dilakukan bersama induk.

MB (Move Bridging), anak bergerak berpindah dengan menggunakan sarana tubuh induknya. Induk merentangan tangan dari cabang pohon satu ke cabang pohon lainnya, kemudian anak bergerak pindah melalui tangan atau badan induk, seperti membuat jembatan antara pohon yang satu dengan pohon lainnya;

MT (Move Treesway), anak bergerak berpindah melalui cabang atau batang pohon yang digoyangkan atau dibengkokkan oleh induk;

MW (Move Waiting), induk meninggalkan anaknya kemudian anak menangis tetapi induk hanya menunggu anak untuk bergerak mendekatinya (dalam hal ini induk pasif).

c. Makan (feeding), aktivitas ini dicatat pada saat individu mulai mengambil

makanan, kemudian diakhiri saat individu tersebut tidak lagi mengambil makanan dan berhenti/ mengunyah. Pada anak orangutan, menyusu juga merupakan bagian dari aktivitas makan dan terkadang aktivitas makan juga dapat terjadi pada saat gendong dengan induknya ataupun sendiri.

• Pakan Alam (PA) : Segala jenis makanan yang berasal langsung dari alam, seperti stem (batang muda), buah, bunga, daun, serangga, bark (kambium), dan tanah.

• Pakan dari Platform (PP) : Segala jenis makanan yang dimakan pada waktu pemberian makan (feeding time, pukul 09.00 dan 15.00 WIB) di tempat pemberian makan (feeding platform), seperti buah (pisang, nanas, pepaya, markisa, timun), sayuran (kol, wortel, ubi jalar), dan susu.

Pakan dari Orang/ guide/ petugas (PO) : Segala jenis makanan yang berasal dari pemberian guides, wisatawan (lokal dan asing), atau masyarakat yang sedang


(38)

melewati mereka diluar waktu pemberian makan (feeding time) dan tidak ditempat pemberian makan (feeding platform), seperti buah (jeruk, pisang, markisa, nanas,wortel), kacang kulit, dan nasi goreng.

• Pakan dari Sampah (PS) : Segala jenis makanan yang diperoleh dari sisa-sisa makanan orang yang melewati hutan, baik ditanah maupun di tempat sampah (yang ada di Pongo Resort), seperti kulit buah (kulit pisang, kulit semangka, kulit jeruk, kulit nanas, kulit timun), sisa makanan (nasi bungkus dan duri ikan), sisa minuman (air mineral dan minuman soda).

d. Bermain sendiri (autoplay), dilakukan pada saat anak bermain sendiri ketika sang

induk sedang melakukan aktivitasnya. Bermain sendiri dapat dilakukan dengan menggunakan alat seperti kayu ataupun berayun dan rolling ketika berada di tanah.

e. Istirahat (resting), dilakukan pada saat individu anak tidak melakukan suatu

aktivitas bergerak, makan ataupun sosial. Istirahat dapat dilakukan sendiri ataupun bersama induk:

• Istirahat di Sarang (RS) : Seluruh waktu yang digunakan untuk beristirahat di dalam sarang.

• Istirahat di Pohon (RP) : Seluruh waktu yang digunakan untuk beristirahat di pohon.

• Istirahat di Tanah (RT) : Seluruh waktu yang digunakan untuk beristirahat (duduk, berbaring) di tanah.

• Istirahat di Rumah/ atau tempat lain (RR) : Seluruh waktu yang digunakan untuk beristirahat di rumah (Pongo Resort, duduk di tangga dan lantai beranda.

f. Gendong (cling), merupakan aktivitas anak apabila menempel atau berpegangan

pada tubuh induk disaat induk bergerak, makan dan istirahat. Aktivitas yang dilakukan oleh anak pada saat gendong dapat berupa, bermain bergerak di badan induk atau dengan ranting, istirahat dan gendong disaat induk bergerak.


(39)

3.6.3 Analisis Data

Dalam menguji hipotesis digunakan teknik pengujian non-parametik. Menurut Siegel (1986) data-data yang diperoleh merupakan distribusi bebas, sehingga tidak ada anggapan bahwa data-data yang diperoleh telah ditarik dari suatu populasi dengan distribusi tertentu. Dengan kata lain tidak adanya perlakuan yang diberikan terhadap obyek penelitian.

Data-data yang diperoleh akan dianalisa dengan menggunakan perangkat lunak “Statistic Programme for Scientific and Social Science” (SPSS) 16,0 untuk Windows. Penganalisaan data yang diperoleh yaitu dengan menggunakan uji Mann-Whitney; yaitu suatu uji non-parametic yang digunakan apabila yang didapat hanya 2 individu saja.


(40)

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Perilaku Harian Anak Orangutan (Pongo abelii) di PPOS Bukit Lawang Secara Umum

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap dua individu anak orangutan yaitu Sumi (± 4 bulan) dan Wati (± 4 tahun) di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera (PPOS) kawasan ekowisata Bukit Lawang, didapatkan perilaku harian yang cukup bervariasi di antara kedua anak orangutan tersebut, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pata Gambar 4.1 berikut ini:

Gambar 4.1. Grafik Persentase Perilaku Harian Anak Orangutan (Pongo abelii) di PPOS Bukit Lawang Secara Umum.

Dari Gambar 4.1 di atas terlihat bahwa anak orangutan Sumi yang baru berusia ± 4 bulan (infant) kegiatan yang paling banyak dilakukan adalah di gendong induk (cling), yaitu 63,75%, dan diikuti kegiatan bermain sendiri (autoplay), yaitu 51,86%, kegiatan istirahat (rest), yaitu 22,42%, dan kegiatan bergerak (move) yaitu 21,80% yang banyak dilakukan dalam gendongan induknya, sedangkan kegiatan yang

Keterangan:

Rest : Istirahat Move : Bergerak Food : Makan Social : Sosial Autoplay : Bermain sendiri Other : Lain-lain Cling : Gendong


(41)

paling sedikit dilakukan Sumi adalah kegiatan sosial (social), yaitu 3,09% dan makan (food), yaitu 0,79%. Tingginya persentase Sumi digendongan induk menunjukkan bahwa ia masih sangat tergantung dengan induknya. Hal ini disebabkan Sumi masih tergolong bayi sehingga belum bisa mandiri. Aktivitas gendong individu anak orangutan dapat dilihat pada Gambar 4.2 (a) dan Gambar 4.2 (b).

Gambar 4.2 (a) Aktivitas Gendong Anak Orangutan Sumi dan (b) Aktivitas Gendong Anak Orangutan Wati.

Menurut Istiadi (1990), anak pada tahap bayi dan kanak-kanak cenderung akan lebih dekat jaraknya dengan induk. Hendras (1986) menambahkan, pada bulan pertama sampai beberapa bulan setelah kelahiran, induk akan selalu menggendong anaknya dalam segala tingkah laku, misalnya pada waktu pergerakan, makan dan istirahat. Aktivitas bermain sendiri yang cukup tinggi menunjukkan bahwa Sumi yang masih berusia 4 bulan sudah mulai belajar bermain. Kegiatan sosial mencakup segala bentuk interaksi sosial ataupun yang hanya berupa kontak sosial dengan sang induknya (Suma) dan juga dengan orangutan lain. Aktivitas istirahat dan bergerak yang juga cukup tinggi lebih banyak dilakukan dalam gendongan induknya. Tingginya aktivitas istirahat induk juga akan berpengaruh terhadap persentase aktivitas istirahat Sumi.

Untuk aktivitas makan yang juga sangat rendah, kemungkinan disebabkan karena ia masih hanya mengandalkan air susu ibunya dan belum bisa mencari makan sendiri. Di samping itu, bayi orangutan juga tidak jauh berbeda dengan bayi manusia


(42)

yang kebutuhan pakannya belum tinggi dan sudah cukup terpenuhi dengan air susu ibu.

Anak orangutan Wati yang sudah menginjak usia hampir 4 tahun (juvenille) kegiatan yang paling banyak dilakukannya adalah bermain sendiri (autoplay), yaitu 34,61%, diikuti dengan kegiatan bergerak (move), yaitu 31,59% dan kegiatan istirahat (rest), yaitu 11,77%, kegiatan sosial (social), yaitu 10,98% dan kegiatan makan (food), yaitu 10,60%., sedangkan kegiatan yang paling sedikit dilakukan Wati adalah gendong (cling) yaitu 0,69% dan kegiatan lain (other) seperti bersarang (nest), urinate dan defecate yaitu hanya 0,45%. Wati yang sudah mencapai taraf usia kanak-kanak sudah sering melakukan aktivitas sendiri tanpa tergantung dengan induknya. Ia sudah dapat bergerak sendiri tanpa digendong oleh sang induk (Pesek), sudah dapat mencari makan sendiri dan mulai belajar membuat sarang sendiri.

Jarak antara induk dan anak akan meningkat sejalan dengan meningkatnya umur anak, walaupun terkadang masih terjadi tumpang tindih antar lokasi keduanya (Adrichem et al, 2006; Horr, 1977). Selanjutnya Lubis (1995) menyatakan bahwa pada anak yang berumur lebih tua akan mencari makanannya sendiri yang jaraknya agak jauh dari induknya, walaupun terkadang masih dalam jarak pandang induknya. Aktivitas sosial yang dilakukannya tidak hanya sebatas hubungan sosial dengan induk, tapi juga dengan orangutan lain ataupun individu lain seperti kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kedih (Presbytis thomasii) dan owa (Hylobates lar).

Jika dilihat pada hasil uji Mann-Whitney untuk aktivitas harian Sumi dan Wati maka tidak terdapat perbedaan nyata untuk aktivitas istirahat (P = 0,089) dan perbedaan nyata di dapat untuk aktivitas bergerak (P = 0,011) dan autoplay (P = 0,033) serta perbedaan sangat nyata untuk aktivitas makan (P = 0,000), sosial (P = 0,000), gendong (P = 0,000) dan aktivitas lain/other seperti bersarang, urinate, defecate (P = 0,001).

Dari aktivitas harian anak yang teramati selama penelitian, juga dapat diketahui bahwa semakin tua umur anak, maka persentase aktivitas makan dan bergerak akan semakin tinggi, sedangkan persentase gendong akan sangat berkurang


(43)

dan semakin rendah. Menurut Suratmo (1979) perilaku merupakan bagian integral dari faktor lingkungan, diri sendiri, proses belajar dan faktor fisiologis. Selanjutnya Savage & Malick (1977); Hurlock (1993), menjelaskan bahwa masa kanak-kanak pada orangutan sering disebut juga sebagai tahapan bermain, karena dalam tahap ini hampir sebagian besar aktivitas yang dilakukan adalah bermain.

4.2 Perilaku Harian Anak Orangutan (Pongo abelii) di PPOS Bukit Lawang Secara Spesifik

Aktivitas harian pada anak yang teramati selama penelitian diantaranya sosial, bergerak, makan, istirahat, bermain, gendong, bersarang dan beberapa elemen perilaku lain seperti kencing (urinate) dan lain-lain.

4.2.1 Perilaku Bergerak

Pencatatan aktivitas bergerak merupakan aktivitas yang dilakukan oleh individu anak baik bersama induk ataupun sendiri untuk dapat bergerak pindah dari cabang pohon satu ke cabang pohon lain, atau dapat juga dilakukan di tanah dan substrat lainnya seperti liana, platform, rumah ataupun kabel. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan persentase Perilaku Bergerak Anak Bersama Induk ataupun Sendiri Orangutan Sumatera (Pongo abelii) Berdasarkan Substrat Pergerakannya di PPOS Bukit Lawang, seperti tercantum pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Persentase Perilaku Bergerak Anak Orangutan Sumatera (Pongo

abelii) Berdasarkan Substrat Pergerakannya di PPOS Bukit Lawang

Substrat Pergerakan Sumi Wati

Di Pohon 100% 94,86%

Di Tanah 0 5,14%

Dari Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa orangutan Sumi selalu bergerak bersama induknya (dalam gendongan 100), sedangkan untuk orangutan Wati pergerakan tidak hanya dilakukan di pohon (94,86%) tapi juga dilakukan di tanah (5,14%). Jika dilihat dari hasil uji Mann-Whitney yang telah dilakukan untuk aktivitas


(44)

pergerakan maka didapat perbedaan nyata untuk aktivitas pergerakan di pohon (P = 0,029) dan perbedaan sangat nyata untuk pergerakan di tanah (P = 0,001).

Tingginya persentase pergerakan dari satu pohon ke pohon lain yang selalu dilakukan anak orangutan baik bersama dengan sang induk ataupun sendiri, benar-benar menunjukkan identitasnya sebagai satwa arboreal, bukan teresterial. Napier & Napier (1985) menyatakan bahwa bergerak merupakan suatu perilaku yang berlangsung apabila orangutan berpindah dari satu tempat ke tempat lain atau dari satu pohon ke pohon lain dengan tujuan untuk mencari sumber pakan, disamping itu juga berinteraksi sosial terhadap individu lain. Van Schaik (2006) juga menambahkan bahwa orangutan yang sangat jarang turun ke lantai hutan lebih sedikit memiliki musuh atau predator. Aktivitas bergerak yang dilakukan oleh induk-anak orangutan dapat dilihat pada Gambar 4.3 berikut ini.

Gambar 4.3 Aktivitas Bergerak di Pohon

Wati yang sudah mencapai usia 4 tahun sudah mampu bergerak sendiri tanpa digendong sang induk. Pergerakan orangutan di tanah menunjukkan bahwa baik Sumi maupun Wati juga sama dengan induknya, yakni belum sepenuhnya dapat hidup liar. Jika Sumi tetap berada dalam gendongan saat sang induk turun ke tanah, maka Wati juga ikut turun dan ikut beraktivitas di tanah seperti sang induk. Padahal, keadaan ini cukup berbahaya untuk orangutan karena banyak predator yang mengancam. Beberapa hal yang menyebabkan orangutan di Bukit Lawang turun ke tanah adalah


(45)

untuk mendapatkan makanan dari pengunjung ataupun mengutip sisa kulit buah yang ditinggalkan pengunjung. Pergerakan orangutan di tanah dapat dilihat pada Gambar

4.4 di bawah ini.

Gambar 4.4 Aktivitas Bergerak di Tanah (Rumapea & Yuliarta, 2008)

Van Schaik (2006) menyatakan bahwa orangutan liar, khususnya orangutan sumatera, sangat jarang turun ke lantai hutan, bila mereka turun untuk minum atau memungut buah, mereka berulang-ulang memandang sekeliling dengan sangat berhati-hati sebelum turun. Di samping itu, parasit yang ada di tanah dikhawatirkan dapat mengganggu kondisi kesehatan para orangutan khususnya anak orangutan.

Beberapa kategori pergerakan individu anak orangutan dapat dilihat pada

Tabel 4.2 di bawah ini:

Tabel 4.2 Persentase Perilaku Bergerak Anak Orangutan Sumatera (Pongo

abelii) di PPOS Bukit Lawang

Spesifikasi Bergerak Bersama Induk Sumi Wati

Move Bridging 0 48,84%

Move Treesway 100% 44,19%

Move Waiting 0 6,98%

Keterangan :

MB (move bridging) : Induk bergerak kemudian membuat jembatan MT (move treesway) : Induk bergerak kemudian membengkokkan cabang MW (move waiting) : Induk bergerak kemudian menunggu anak (induk pasif)

Dari Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa ketika anak-anak orangutan bergerak sendiri ataupun berusaha bergerak sendiri, ada kalanya sang induk membantu dalam


(46)

proses pergerakan tersebut. Ketika Sumi yang masih bayi mencoba bergerak sendiri tanpa digendong sang induk, ia tetap selalu membutuhkan bantuan induknya. Dari 3 kategori pergerakan anak, persentase MT Sumi adalah 100% (perlu diketahui bahwa ketika lepas dari sang induk jarak Sumi dengan induknya tidak pernah mencapai 2 meter (datasheet Bangun, 2010, data tidak dipublikasikan) dan angka 100% hanya berdasarkan ketiga kategori pergerakan, tidak termasuk dalam gendongan induk). Namun demikian, tetap saja dalam usianya yang kurang lebih masih setengah tahun, Sumi sudah mulai mencoba untuk bergerak sendiri. Hal ini seperti apa yang diungkapkan oleh Van Schaik (2006), bayi orangutan setelah berusia kurang lebih setengah tahun, bayi orangutan tersebut akan mulai berjalan-jalan sendiri ketika sang induk sedang beristirahat, terutama apabila sedang beristirahat di atas sarang.

Wati sudah mencapai tahap usia kanak-kanak sehingga kategori pergerakannya sangat dimungkinkan jauh berbeda dengan Sumi. Dari ketiga kategori pergerakan, persentase terbesar Wati adalah MB yaitu 48,84% lalu dikut i MT Wati yaitu 44,19% dan yang terkecil adalah MW yaitu 6,98%. Jika dilihat dari hasil uji Mann-Whitney, maka didapat perbedaan sangat nyata untuk MB (P = 0,001) dan tidak terdapat perbedaan nyata untuk MT (P = 0,077) dan MW (P = 0,150). Lebih bervariasinya spesifikasi kategori pergerakan Wati dibandingkan dengan Sumi adalah karena Wati sudah tergolong anak-anak (juvenille) sedangkan Sumi masih tergolong bayi (infant) yang hampir selalu bergerak dalam gendongan induknya. Untuk lebih jelasnya mengenai aktivitas Move Treesway dan Move Bridging dapat dilihat pada Gambar

4.5 dan Gambar 4.6 berikut ini.


(47)

Gambar 4.6 Aktivitas Move Bridging pada Anak Orangutan Wati

Anak orangutan (jantan dan betina) yang umur 0-4 tahun biasanya berpegang pada induknya saat bergelantungan di pohon dan masih menyusui pada induknya, sedangkan pada umur 4-7 tahun anak orangutan akan berpindah bersama induk dari satu pohon ke pohon lainnya tetapi sudah mulai terlepas dari induk saat berpindah dan benar-benar akan bebas dari induk pada umur 7-12 tahun walaupun kadang-kadang akan bergerak pindah juga bersama induk dalam satuan lain (betina) (Galdikas, 1986).

4.2.2 Perilaku Makan

Perilaku makan merupakan elemen perilaku yang sangat penting bagi kehidupan orangutan. Perilaku makan orangutan dimulai dengan menemukan, memproses dan memakan makanan, sehingga jadwal kehidupan mereka sehari-hari mudah disimpulkan: makan dan berjalan, berjalan dan makan. Untuk anak orangutan yang masih bayi menyusui juga merupakan suatu kebutuhan makan utama. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap anak orangutan didapatkan keragaman jenis pakan orangutan seperti terlihat pada Tabel 4.3.


(48)

Tabel 4.3 Keragaman Jenis Pakan Anak Orangutan di PPOS Bukit Lawang

Jenis Pakan Sumi Wati

Buah 8,33% 40,23%

Daun Muda 5,55% 26,24%

Semua Daun 0% 3%

Daging Buah 8,33% 11,30%

Semua Buah 0% 1%

Biji 0% 2%

Kulit Kayu 0% 6%

Serangga 0% 2%

Minum Air 0% 8%

Makanan Lain (sampah berupa kulit buah) 8,33% 1%

Menyusui 69,44% 0,39%

Dari Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa frekuensi aktivitas menyusui yang dilakukan oleh anak orangutan Sumi adalah 69,44%, sedangkan frekuensi aktivitas mengkonsumsi jenis pakan lain selain Air Susu Ibu (ASI) tergolong sedikit, seperti daging buah 8,33%, buah serta makanan lain sebesar 8,33% dan daging buah sebesar 5,55%, keadaan ini disebabkan karena orangutan Sumi masih tergolong bayi (4 bulan) yang masih tergantung pada ASI induknya, sedangkan anak orangutan Wati, persentase jenis pakan tertinggi adalah buah yaitu 40,23%, diikuti daun muda sebesar 26,24%, daging buah yaitu 11,30%, minum air yaitu 8% dan kulit kayu sebesar 6%. Untuk beberapa jenis pakan lain persentasenya relatif kecil, yaitu semua daun sebesar 3%, serangga dan biji sebesar 2%, semua buah dan makanan lain (sampah) yaitu 1% dan yang terkecil adalah menyusu yaitu 0,39%, hal ini menunjukkan bahwa anak orangutan Wati termasuk anak orangutan yang telah mulai mandiri.

Dari uji Mann-Whitney didapat perbedaan yang sangat nyata (P = 0,000) untuk jenis pakan buah, daun muda dan minum air. Perbedaan nyata didapat untuk konsumsi serangga dan semua daun (P = 0,035). Uji Mann-Whitney untuk tidak adanya perbedaan nyata didapat pada jenis pakan daging buah (P = 0,125), semua bagian buah (P = 0,317), biji (P = 0,317), kulit kayu (P = 0,073) dan makanan lain seperti sampah ataupun tanah (P = 0,701) serta menyusu (P = 0,061).

Wati yang hampir berusia 4 tahun sudah dapat mencari makanannya sendiri. Sehingga keanekaragaman pakannya lebih tinggi daripada Sumi yang masih berusia ± 4 bulan. Menurut Galdikas (1986), bahwa semakin berkembang umur anak maka akan


(49)

semakin sering anak mengambil makanan seperti daun dan buah dari lingkungan di sekitarnya.

Sangat tingginya persentase pemilihan pakan buah untuk Wati jika dibandingkan dengan Sumi disebabkan karena individu Wati sudah dapat mencari makanan sendiri, tidak lagi begitu tergantung dengan induknya. Hal ini juga sesuai dengan persentase menyusu kedua anak orangutan tersebut yang teramati selama penelitian. Persentase menyusui Wati jauh lebih rendah dibandingkan dengan Sumi. Namun demikian, Wati belum 100% berhenti menyusu walaupun persentasenya sangat kecil. Hal ini membuktikan bahwa menyusu masih menjadi kebutuhan bagi anak orangutan yang berusia di bawah 5 tahun. Hal ini juga dinyatakan oleh Maple (1980), pada anak orangutan, menyusu merupakan bagian dari aktivitas makan. Menyusu merupakan salah satu bentuk pemenuhan air berupa protein dan kalori yang secara langsung diperoleh dari induknya (Mitchell, 1979; Maple, 1980), meskipun persentasenya akan berkurang seiring dengan bertambahnya umur anak orangutan. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Rijksen (1978) bahwa masa intensif induk dalam menyusui anak akan berkurang seiring dengan bertambahnya umur anak.

Gambar 4.7 Aktivitas Menyusui Anak Orangutan (Rumapea & Yuliarta, 2008)

Tingginya tingkat produksi buah di hutan mungkin juga menjadi faktor paling utama mengapa pemilihan pakan buah sangat tinggi. Biasanya buah yang paling


(50)

banyak dikonsumsi orangutan adalah dari jenis ficus. Menurut Meijard, et al (2001) buah ficus merupakan buah yang disukai orangutan, yaitu buah berdaging lembek dan berbiji. Ditambahkan lagi oleh Milton (1981), buah masak merupakan sumber karbohidrat terbesar bagi orangutan. Aktivitas makan buah anak oranutan dapat dilihat pada Gambar 4.8.

Gambar 4.8 Aktivitas Makan Buah Anak Orangutan Sumi

Cukup tingginya persentase pemilihan pakan daun, terutama daun muda mungkin merupakan strategi yang dilakukan orangutan untuk menenuhi kebutuhan energi pada tubuhnya apabila produksi atau ketersediaan buah berkurang. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Meijard et al (2001) bahwa ketika buah-buah menjadi lebih jarang, konsumsi daun akan meningkat. Bahkan dalam habitat yang berkualitas baik, selama musim buah orangutan menggunakan 11-20% waktu makannya setiap hari untuk memakan dedaunan. Ditambahkan lagi bahwa di tempat tertentu, daun (dan tangkai) merupakan makanan bagi orangutan untuk bertahan hidup ketika ketersediaan buah rendah.

Untuk anak orangutan, khususnya yang sudah memasuki tahap usia kanak-kanak dan sudah jarang menyusu dari induknya, serangga juga menjadi pakan pilihan yang kaya akan protein. Jenis serangga yang banyak dikonsumsi oleh anak orangutan pada umumnya adalah rayap dan semut. Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap 3 jenis rayap yang dimakan oleh beberapa jenis primata di Suaka Margasatwa Pleihari Kalimantan Selatan diketahui terdapat kandungan unsur protein dan mineral yang


(51)

dibutuhkan oleh tubuh (Bismark, 1984). Untuk lebih jelasnya mengenai aktivitas makan serangga dapat dilihat pada Gambar 4.9 berikut ini.

Gambar 4.9 Aktivitas Makan Serangga pada Anak dan Induk Orangutan

Selain memakan daun dan serangga, orangutan juga memakan kulit kayu apabila ketersediaan buah berkurang. Hal ini ditunjukkan dengan adanya persentase pemilihan pakan kulit kayu Wati, yaitu sebanyak 6%. Menurut MacKinnon (1972), Rijksen (1978) dan Galdikas (1984) pada kehidupan orangutan liar, dimana saat ketersediaan buah di hutan sangat minim orangutan lebih banyak mengkonsumsi tipe makanan seperti daun, umbut ataupun kulit kayu. Orangutan makan kulit kayu dengan menggerogoti langsung pada kulit tipis dari pohon di batang atau dahan, atau mengupas kulit kayu dari ujung cabang. Kulit tersebut dikunyah atau dihisap hingga hancur kemudian dibuang (Rodman, 1987). Ditambahkan oleh Milton (1981), penggunaan kulit kayu sebagai sumber pakan karena bagian tumbuhan tersebut banyak sekali mengandung protein, mineral dan serat yang diperlukan tubuh.

Selain berasal dari buah dan menyusu pada induk, anak orangutan juga memenuhi kebutuhan airnya dengan minum air pada genangan-genangan air di lubang pohon, di tanah ataupun langsung dari sungai dan keran (untuk yang terakhir hanya terjadi pada orangutan di Bukit Lawang). Menurut Linburg (1977) dalam Bismark (1984), bahwa air juga merupakan faktor yang menentukan pola pergerakan pada


(52)

primata. Rendahnya konsumsi air dari alam mungkin disebabkan karena tingginya konsumsi buah.

Dari hasil penelitian juga didapat bahwa Sumi dan Wati beberapa kali memakan kulit buah yang didapat dan dimakan induknya seperti kulit pisang, kulit jeruk, kulit markisah dan lain-lain. Apabila pengunjung datang dan melakukan aktivitas tracking, mereka sering kali membawa berbagai macam buah-buahan dengan tujuan untuk dimakan sendiri ataupun digunakan untuk memancing orangutan agar datang dan mendekati pengunjung. Namun apabila mereka tidak menemukan individu orangutan, maka buah-buahan tersebut dimakan sendiri dan kulitnya ditinggalkan begitu saja. Jika ditemukan oleh individu orangutan, maka kulit buah yang dikategorikan sebagai sampah tersebut akan dimakan oleh individu orangutan. Sampah berupa kulit buah yang ditinggalkan pengunjung dapat dilihat pada Gambar

4.10 berikut ini.

Gambar 4.10 Sampah Berupa Kulit Buah yang Ditinggalkan Pengunjung

Kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi seperti kulit buah yang dibuang turis, tas yang diambil dari wisatawan dan membongkar tempat sampah yang terdapat di kawasan penelitian dapat mengambil peran dalam penularan penyakit (Woodford et al, 2002; Dellatore, 2007). Aktivitas ketika orangutan mengutip sampah berupa kulit buah yang ditinggalkan pengunjung lalu memakannya dapat dilihat pada


(53)

Gambar 4.11 Induk Wati (Pesek) Mengutip Sisa Kulit Buah yang Ditinggalkan Pengunjung

Sumber pakan orangutan di Bukit Lawang dapat berasal dari alam, feeding platform/ Tempat Pemberian Makan (TPM), sampah ataupun dari orang lain seperti guide dan pengunjung. Keragaman sumber pakannya adapat dilihat dari Table 4.4 berikut:

Tabel 4.4 Persentase Sumber Pakan Anak Orangutan di PPOS Bukit Lawang

Sumber Pakan Sumi Wati

Pakan Alam 57,14% 85,82%

Pakan Feeding Platform/ TPM 34,48% 8,04%

Pakan dari Orang 3% 6%

Pakan Sampah 6,90% 1%

Sumber pakan tertinggi yang didapatkan anak orangutan Sumi adalah yang berasal dari alam yaitu 57,14%, diikuti dengan pakan dari platform yaitu 34,48% dan pakan sampah yaitu 7,14%, sedangkan untuk pakan dari orang adalah 3%. Untuk Wati, sumber pakan tertinggi adalah pakan dari alam yaitu 85,82%, diikuti pakan dari feeding platform yaitu 8,04%, pakan dari orang yaitu 6%. Pakan dari sampah untuk Wati adalah 1%.

Berdasarkan uji Mann-Whitney, didapat hasil berupa tidak adanya perbedaan (P = 0,058) untuk pemilihan pakan dari platform dan pemilihan pemilihan pakan dari orang (P = 0,035) serta pemilihan pakan dari sampah (P = 0,438). Sedangkan untuk pemilihan pakan dari alam didapat perbedaan yang sangat nyata (P = 0,000).


(54)

Mendominasinya pemilihan pakan dari alam seperti yang terlihat pada tabel di atas mungkin disebabkan tingginya tingkat produksi buah di hutan pada awal penelitian (Oktober sampai Desember 2009). Hal ini menyebabkan orangutan cenderung jarang datang ke feeding platform. Selain buah, pakan dari alam juga dapat berupa semua material yang terdapat dan tersedia di alam dan dapat dimakan oleh individu orangutan seperti hewan, air ataupun tanah. Kemampuan orangutan eks-rehabilitasi yang terdapat di Bukit Lawang untuk memahami adanya sumber pakan di luar feeding platform ditunjukkan dengan tingginya penggunaan sumber pakan alami yang terdapat di alam. Kemampuan orangutan dalam memahami ketersediaan sumber pakan dijelaskan oleh Rijksen (1978) sebagai bentuk belajar orangutan dan menunjukkan bahwa orangutan adalah kera yang mempunyai kecerdasan tinggi.

Pakan dari feeding platform yang didapat untuk Wati dan Sumi juga cukup tinggi. Tingginya persentase tersebut mungkin disebabkan karena induk kedua anak orangutan ini sering mengunjungi feeding platform saat aktivitas makan dilakukan. Buah yang diberikan selama aktivitas feeding dapat berupa pisang (Musa sp.), nenas (Ananas comosus) dan pepaya (Carica papaya). Selain buah, susu juga diberikan pada saat feeding time. Aktivitas pemberian makan di feeding platform dapat dilihat pada

Gambar 4.12 berikut ini.

Gambar 4.12 Aktivitas Makan Orangutan di Platform/ TPM oleh Petugas

Tingginya persentase Sumi untuk pemilihan pakan feeding platform mungkin disebabkan karena belum mampunya ia mencari pakan sendiri karena masih tergolong


(1)

Test Statisticsb

Buah Daun_Muda Daun_Semua Daging_Buah Buah_Semua Mann-Whitney

U 19.500 17.000 82.500 88.500 105.000

Wilcoxon W 139.900 137.000 202.500 208.500 225.000

Z -4. 074 -4.304 -2.106 -1.534 -1.000

Asymp. Sig.

(2-tailed) .000 .000 .035 .125 .317

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]

.000a .000a .217a .325a .775a

Biji Kulit_Kayu Serangga

Minum

Air Makanan_Lain Menyusu Mann-Whitney

U

Wilcoxon W Z

Asymp. Sig. (2-tailed)

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]

105.000 90.000 82.500 37.500 106.500 81.000 225.000 210.000 202.500 157.500 226.500 201.000 -1.000 -1.792 -2.106 -3.711 -3.84 -1.870

.317 .073 .035 .000 .701 .061

.775a .367a .217a .001a .806a .202a

a. Not corrected for ties.


(2)

Ranks

Orangutan N Mean Rank Sum of Ranks

Pakan_Alam Sumi 15 8.20 123.00

Wati 15 22.80 342.00

Total 30

Pakan_Pohon Sumi 15 12.87 193.00

Wati 15 18.13 272.00

Total 30

Pakan_Orang Sumi 15 13.50 202.50

Wati 15 17.50 262.50

Total 30

Pakan_Sampah Sumi 15 16.37 245.50

Wati 15 14.63 269.50

Total 30

Test Statisticsb

Pakan_Alam Pakan_Pohon Pakan_Orang Pakan_Sampah

Mann-Whitney U 3.000 73.000 82.500 99.500

Wilcoxon W 123.000 193.000 202.500 219.500

Z -4.741 -1.897 -2.105 -.739

Asymp. Sig. (2-tailed) .000 .058 .035 .438

Exact Sig. [2*(1-tailed

Sig.)] .000

a

.106a .217a .595a

a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: Orangutan

4) Uji Mann-Whitney terhadap Aktivitas Sosial

Ranks

Orangutan N Mean Rank Sum of Ranks

Sosial_Induk Sumi 15 11.33 170.00


(3)

Sosial_Individu_Lain Sumi 15 14.00 210.00

Wati 15 17.00 255.00

Total 30

Sosial_Pengunjung Sumi 15 15.00 225.00

Wati 15 16.00 240.00

Total 30

Test Statisticsb

Sosial_Induk Sosial_O.L Sosial_Ind.L Sosial_Pengunjung

Mann-Whitney U 50.000 39.000 90.000 105.000

Wilcoxon W 170.000 159.000 210.000 225.000

Z -2.598 -3.131 -1.792 .000

Asymp. Sig. (2-tailed) .009 .002 .073 .630

Exact Sig. [2*(1-tailed

Sig.)] .009

a

.002a .367a .775a

a. Not corrected for ties.


(4)

(5)

(6)

Dokumen yang terkait

Pendugaan Produktivitas Pohon Pakan Orangutan Sumatera (Pongo abelii) pada Kawasan Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera (PPOS), Bukit Lawang

1 40 84

Pola Aktivitas Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) Pada Struktur Dan Komposisi Vegetasi Hutan Di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera Taman Nasional Gunung Leuser

2 43 101

Perilaku Sosial Induk-Anak Orangutan (Pongo abelii) di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera, Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuser

0 33 87

Pola Makan Induk Orangutan (Pongo abelii) Di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera, Desa Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuser, Sumatera Utara

0 19 60

Perilaku Harian Ibu Dan Anak Orangutan (Pongo abelii) Di Ekowisata Bukit Lawang Taman Nasional Gunung Leuser Kabupaten Langkat

2 32 71

Estimasi Kepadatan Orangutan Sumatera (Pongo abelii) Berdasarkan Jumlah Sarang Di Bukit Lawang Taman Nasional Gunung Leuser Sumatera Utara

0 37 81

PREFERENSI PAKAN ORANGUTAN SUMATERA (PONGO ABELII LESSON) PADA WAKTU TIDAK MUSIM BUAH DI PUSAT PENGAMATAN ORANGUTAN SUMATERA (PPOS) BUKIT LAWANG TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER, SUMATERA UTARA.

6 33 20

Pola Aktivitas Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) Pada Struktur Dan Komposisi Vegetasi Hutan Di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera Taman Nasional Gunung Leuser

0 0 28

Pola Aktivitas Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) Pada Struktur Dan Komposisi Vegetasi Hutan Di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera Taman Nasional Gunung Leuser

0 0 18

Pola Aktivitas Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) Pada Struktur Dan Komposisi Vegetasi Hutan Di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera Taman Nasional Gunung Leuser

0 0 11