Analisis Value Added Tingkat Pendapatan dan Kesempatan Kerja Usaha Pengupasan Bawang Merah di Kota Medan

(1)

ANALISIS VALUE ADDED TINGKAT PENDAPATAN DAN KESEMPATAN KERJA USAHA PENGUPASAN BAWANG

MERAH DI KOTA MEDAN

SKRIPSI

HENDRICK FIRMANDO NADAPDAP 080304003

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2013


(2)

ANALISIS VALUE ADDED TINGKAT PENDAPATAN DAN KESEMPATAN KERJA USAHA PENGUPASAN BAWANG

MERAH DI KOTA MEDAN

SKRIPSI

HENDRIK FIRMANDO NADAPDAP 080304003

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian di Program Studi Agribisnis Fakultas

Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan Disetujui Oleh,

Komisi Pembimbing

Ketua Anggota

Dr. Ir. Salmiah, M.S

NIP: 195702171986032001 NIP: 196509261993031002 Ir. Sinar Indra Kesuma, M.Si


(3)

RINGKASAN

Hendrik Firmando Nadapdap (080304003), dengan judul” Analisis

Value Added Tingkat Pendapatan dan Kesempatan Kerja Usaha Pengupasan

Bawang Merah di Kota Medan. Penelitian ini dibimbing oleh Ibu Dr. Ir. Salmiah, MS dan Bapak Ir. Sinar Indra Kesuma, M.Si.

Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif. Komoditas ini memiliki sifat mudah rusak (perishable), dan musiman (seasonal). Salah satu cara agar bawang merah sampai ketangan konsumen masih sesuai dengan bentuk aslinya adalah dengan cara mengupas. Pengelolaan bawang merah dengan cara seperti ini dapat meningkatkan umur ketahanan dan memberikan nilai tambah (added value) serta menambah kesempatan kerja.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketersediaan input produksi, biaya tetap, biaya variabel, nilai tambah (value added), kesempatan kerja, pengaruh jumlah bahan baku, harga beli, harga jual, jumlah tenaga kerja dan jumlah produksi terhadap pendapatan pengusaha, pengaruh jumlah bawang merah kupas terhadap pendapatan pekerja dan kendala-kendala apa saja yang dihadapi serta upaya-upaya apa saja yang dilakukan dalam usaha pengupasan bawang merah.

Lokasi penelitian ditetapkan secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan

bahwa di Kota Medan, yaitu di Kelurahan Pandauhulu Hilir, Kecamatan Medan Timur terdapat jumlah pengusaha dan pengupas bawang merah. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung kepada responden sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur dan instansi yang terkait. Pengambilan sampel dengan metode sensus untuk pengusaha dan simple random sampling untuk pekerja usaha pengupasan bawang merah. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan regresi linier berganda.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Ketersediaan input produksi cukup tersedia di daerah penelitian untuk menjalankan usaha bawang merah kupas.

2. Biaya variabel lebih besar dari biaya tetap dalam usaha pengupasan bawang merah, yaitu masing-masing sebesar Rp.7.447.258.500 dan Rp. 163.712.250.

3 Nilai tambah (added value) per siklus usaha adalah sebesar Rp. 2.100.227.000,- atau dengan rata-rata Rp.70.007.566,7 dengan perincian;

nilai produk olahan sebesar Rp 9.492.300.000.-, nilai bahan penunjang sebesar Rp 18.568.500.-, nilai bahan baku utama sebesar Rp 7.278.000.000,- dan tenaga kerja sebesar Rp 95.504.500,-

4. Besar kesempatan kerja untuk tiap pekerja berbeda, mulai dari kesempatan kerja terkecil sebesar 4,7 HKO/bulan hingga dengan kesempatan kerja terbesar, yaitu sebesar 10,5 HKO/bulan. Pengusaha bawang merah kupas lebih banyak menggunakan tenaga kerja dari luar keluarga (TKLK).

5. Rata-rata pendapatan pengusaha bawang merah kupas adalah sebesar Rp 62.710.975,- per siklus usaha.


(4)

6. Hasil pengujian secara statistik menunjukkan jumlah bahan baku, harga beli, harga jual, jumlah tenaga kerja dan jumlah produksi berpengaruh nyata terhadap pendapatan pengusaha bawang merah kupas.

7. Jumlah bawang merah kupas berpengaruh nyata terhadap pendapatan pekerja. 8. Masalah yang dihadapi pengusaha adalah lokasi usaha yang kurang nyaman,

adanya kutipan tidak resmi, pelanggan tidak membayar tunai dan adanya persaingan harga. Sedangkan masalah yang dihadapi pekerja adalah upah yang diterima dibawah UMR Kota Medan dan lingkungan tempat bekerja kurang nyaman.

9. Upaya yang dilakukan pengusaha adalah membayar iuran secara tetap setiap bulannya, untuk menghindari bertambahnya kutipan tidak resmi dan membuat catatan atas piutang terhadap pelanggan untuk menghindari kelupaan, serta mencari koneksi atau pelanggan diluar pajak sentral, sehingga harga jual yang diharapkan pengusaha bawang merah kupas dapat tercapai. Sedangkan upaya yang dilakukan pekerja adalah mempercepat pengupasan bawang merah dan menggunakan alat pelindung dalam bekerja.

Kata kunci : Analisis, Value Added, Pendapatan, Kesempatan Kerja, Pengupasan Bawang Merah


(5)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 03 Februari 1990 dari ayah B. Nadapdap dan ibu B. Manurung. Penulis merupakan putra ketiga dari tiga bersaudara.

Tahun 2008 penulis lulus dari SMA NEGERI 1 Medan dan pada tahun yang sama masuk ke Fakultas Pertanian USU melalui jalur ujian PMDK. Penulis memilih program studi Agribisnis, Departemen Sosial Ekonomi Pertanian.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai anggota Ikatan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian. Penulis mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL) di desa Bagan Asahan Induk, Kabupaten Asahan sejak Juli 2012 yang berakhir pada Bulan Agustus 2012 dan melaksanakan penelitian Skripsi di di Jalan Veteran Kelurahan Pandauhulu Hilir, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan pada tahun 2013.


(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ”Analisis Value Added Tingkat Pendapatan dan Kesempatan Kerja Usaha Pengupasan Bawang Merah di Kota Medan”.

Pada kesempatan ini segala ketulusan dan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Dr. Ir. Salmiah, MS selaku Ketua Komisi Pembimbing serta selaku Ketua Departemen SEP, FP USU

2. Bapak Sinar Indra Kesuma, SP, MSi selaku Anggota Komisi Pembimbing. 3. Bapak Prof. Dr. Ir. Kelin Tarigan, MS dan Bapak Ir. Mhd. Jufri, M.Si selaku

Dosen Penguji pada sidang meja hijau.

4. Seluruh staf pengajar dan pegawai di Departemen SEP, FP, USU

5. Bapak Camat dan Bapak Lurah Kecamatan Medan Timur dan seluruh jajarannya yang telah membantu penulis dalam memberikan data untuk kepentingan penelitian ini.

6. Seluruh instansi terkait begitu juga kepada responden yang bersedia diwawancarai untuk kepentingan penelitian ini.

Secara khusus penulis ucapakan terima kasih kepada ayahanda B. Nadapdap, ibunda B. Manurung serta abang penulis atas motivasi, kasih sayang, dan dukungan baik secara moril maupun materil yang diberikan kepada penulis selama menjalani perkuliahan dan menyelesaikan skripsi ini.


(7)

Nadapdap. SP, Puspita Ayu Ramadyanti.SP, Yuki Bastanta Ginting.SP, Ikram A Nasution. SP, Hiro Limbong. SP, Rias T Lubis.SP, Pebbyanggi Syah Umar Nasution. SP, Reza Adiguna.SP, Ibrahim Syahputra.SP, Martumbur Ivan. SP, dan stambuk 2008 yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi dan kakak dan abang Senior ini serta kepada adik-adik di Departemen Sosial Ekonomi Pertanian stambuk atas semangat dan motivasi yang telah diberikan. Terakhir, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Amin.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyususun skripsi ini. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya, membangun demi kesempurnaan skripsi ini ke depan.

Medan, 25 Desember 2013


(8)

DAFTAR ISI

Hal

RINGKASAN ... i

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Identifikasi Masalah ... 8

1.3. Tujuan Penelitian ... 8

1.4. Kegunaan Penelitian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN ... 10

2.1. Tinjauan Pustaka ... 10

2.2. Landasan Teori ... 20

2.3. Kerangka Pemikiran ... 23

2.4. Hipotesis Penelitian ... 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 27

3.1. Metode Penentuan Daerah Penelitian ... 27

3.2. Metode Penentuan Sampel ... 27

3.3. Metode Pengumpulan Data ... 27

3.4. Metode Analisis Data ... 28

3.5. Definisi dan Batasan Operasional ... 30

3.5.1. Definisi ... 30

3.5.2. Batasan Operasional ... 30

BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN ... 33

4.1. Deskripsi Daerah Penelitian ... 33

4.1.1. Luas Wilayah dan Letak Geografis Kota Medan ... 33

4.1.2. Keadaan Penduduk ... 36

4.1.3. Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan ... 38

4.1.4. Tata Guna Lahan ... 38

4.1.5. Rasio Kepadatan Penduduk ... 39

4.2. Karakteristik Responden ... 39

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Ketersediaan Input Produksi ... 43


(9)

5.2.2. Penerimaan Pengusaha Bawang Merah Kupas ... 53

5.3. Pendapatan Pengusaha ... 55

5.4. Pendapatan Pekerja ... 56

5.5. Nilai Tambah (Value added) ... 57

5.6. Kesempatan Kerja ... 59

5.7.Pengaruh Jumlah Bawang Merah Kupas, Jumlah Tenaga Kerja dan Harga Jual terhadap Pendapatan Pengusaha Bawang Merah 61 5.8.Pengaruh Jumlah Bawang Merah Kupas terhadap Pendapatan Tenaga Kerja ... 64

5.9.Kendala-Kendala yang Dihadapi dalam Usaha Pengupasan Bawang Merah dan Upaya-Upaya yang Dilakukan ... 65

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 68

6.1. Kesimpulan ... 68

6.2. Saran ... 69

DAFTAR PUSTAKA ... 71


(10)

DAFTAR TABEL

No. Hal.

1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Bawang Merah Menurut

Kabupaten/Kota di Sumatera Utara Tahun 2011 ... 5

2. Luas Wilayah Kota Medan Menurut Kecamatan... 34

3. Distribusi Jumlah Penduduk Kota Medan Tahun 2001- 2010... 37

4. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kota Medan ... 38

5. Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk Kota Medan ... 39

6. Distribusi Karakteristik Responden ... 40

7. Biaya Pembelian Bahan Baku ... 45

8. Jenis Peralatan ... 46

9. Biaya Iuran Wajib ... 47

10. Biaya Listrik dan Telepon ... 48

11. Biaya Penunjang ... 49

12. Biaya Tenaga Kerja ... 50

13. Komponen Biaya Tata Niaga ... 50

14. Biaya Variabel ... 51

15. Biaya Tetap ... 52

16. Biaya Produksi ... 53

17. Penerimaan Pengusaha Bawang Merah Kupas ... 54

18. Pendapatan Pengusaha Bawang Merah Kupas ... 55

19. Pendapatan Pekerja ... 56

20. Nilai Tambah Usaha Bawang Merah Kupas Per Bulan ... 57


(11)

24. Pengaruh Jumlah Bahan Baku, Harga Beli, Harga Jual, dan Jumlah Tenaga Kerja terhadap Pendapatan Pengusaha Bawang Merah Kupas ... 62 25. Pengaruh Jumlah Bawang Merah Kupas terhadap Pendapatan Tenaga


(12)

DAFTAR GAMBAR

No. Hal.

1. Keterkaitan Subsistem Agribisnis ... 21 2. Skema Kerangka Pemikiran ... 25


(13)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Hal.

1. Karakteristik Responden ... 74

2. Biaya Pembelian Bahan Baku... 76

3. Biaya Penyusutan ... 77

4. Biaya Iuran Wajib ... 78

5. Biaya Listrik dan Telepon ... 79

6. Biaya Penunjang ... 80

7. Biaya Tenaga Kerja ... 81

8. Komponen Biaya Tata Niaga ... 83

9. Biaya Variabel ... 84

10. Biaya Tetap ... 85

11. Biaya Produksi ... 86

12. Penerimaan Pengusaha Bawang Merah Kupas ... 87

13. Pendapatan Pengusaha Bawang Merah Kupas ... 88

14. Pendapatan Pekerja ... 89

15. Nilai tambah (Value added) ... 90

16. Jumlah Tenaga Kerja yang Digunakan Per Bulan ... 91

17. Hasil Uji Regresi Pendapatan Pengusaha Bawang Merah Kupas ... 92

18. Hasil Uji Regresi Pendapatan Pekerja Bawang Merah Kupas ... 93


(14)

RINGKASAN

Hendrik Firmando Nadapdap (080304003), dengan judul” Analisis

Value Added Tingkat Pendapatan dan Kesempatan Kerja Usaha Pengupasan

Bawang Merah di Kota Medan. Penelitian ini dibimbing oleh Ibu Dr. Ir. Salmiah, MS dan Bapak Ir. Sinar Indra Kesuma, M.Si.

Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif. Komoditas ini memiliki sifat mudah rusak (perishable), dan musiman (seasonal). Salah satu cara agar bawang merah sampai ketangan konsumen masih sesuai dengan bentuk aslinya adalah dengan cara mengupas. Pengelolaan bawang merah dengan cara seperti ini dapat meningkatkan umur ketahanan dan memberikan nilai tambah (added value) serta menambah kesempatan kerja.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketersediaan input produksi, biaya tetap, biaya variabel, nilai tambah (value added), kesempatan kerja, pengaruh jumlah bahan baku, harga beli, harga jual, jumlah tenaga kerja dan jumlah produksi terhadap pendapatan pengusaha, pengaruh jumlah bawang merah kupas terhadap pendapatan pekerja dan kendala-kendala apa saja yang dihadapi serta upaya-upaya apa saja yang dilakukan dalam usaha pengupasan bawang merah.

Lokasi penelitian ditetapkan secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan

bahwa di Kota Medan, yaitu di Kelurahan Pandauhulu Hilir, Kecamatan Medan Timur terdapat jumlah pengusaha dan pengupas bawang merah. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung kepada responden sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur dan instansi yang terkait. Pengambilan sampel dengan metode sensus untuk pengusaha dan simple random sampling untuk pekerja usaha pengupasan bawang merah. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan regresi linier berganda.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Ketersediaan input produksi cukup tersedia di daerah penelitian untuk menjalankan usaha bawang merah kupas.

2. Biaya variabel lebih besar dari biaya tetap dalam usaha pengupasan bawang merah, yaitu masing-masing sebesar Rp.7.447.258.500 dan Rp. 163.712.250.

3 Nilai tambah (added value) per siklus usaha adalah sebesar Rp. 2.100.227.000,- atau dengan rata-rata Rp.70.007.566,7 dengan perincian;

nilai produk olahan sebesar Rp 9.492.300.000.-, nilai bahan penunjang sebesar Rp 18.568.500.-, nilai bahan baku utama sebesar Rp 7.278.000.000,- dan tenaga kerja sebesar Rp 95.504.500,-

4. Besar kesempatan kerja untuk tiap pekerja berbeda, mulai dari kesempatan kerja terkecil sebesar 4,7 HKO/bulan hingga dengan kesempatan kerja terbesar, yaitu sebesar 10,5 HKO/bulan. Pengusaha bawang merah kupas lebih banyak menggunakan tenaga kerja dari luar keluarga (TKLK).


(15)

6. Hasil pengujian secara statistik menunjukkan jumlah bahan baku, harga beli, harga jual, jumlah tenaga kerja dan jumlah produksi berpengaruh nyata terhadap pendapatan pengusaha bawang merah kupas.

7. Jumlah bawang merah kupas berpengaruh nyata terhadap pendapatan pekerja. 8. Masalah yang dihadapi pengusaha adalah lokasi usaha yang kurang nyaman,

adanya kutipan tidak resmi, pelanggan tidak membayar tunai dan adanya persaingan harga. Sedangkan masalah yang dihadapi pekerja adalah upah yang diterima dibawah UMR Kota Medan dan lingkungan tempat bekerja kurang nyaman.

9. Upaya yang dilakukan pengusaha adalah membayar iuran secara tetap setiap bulannya, untuk menghindari bertambahnya kutipan tidak resmi dan membuat catatan atas piutang terhadap pelanggan untuk menghindari kelupaan, serta mencari koneksi atau pelanggan diluar pajak sentral, sehingga harga jual yang diharapkan pengusaha bawang merah kupas dapat tercapai. Sedangkan upaya yang dilakukan pekerja adalah mempercepat pengupasan bawang merah dan menggunakan alat pelindung dalam bekerja.

Kata kunci : Analisis, Value Added, Pendapatan, Kesempatan Kerja, Pengupasan Bawang Merah


(16)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan penting dalam meningkatkan perkembangan ekonomi Indonesia. Hal ini dikarenakan sektor pertanian adalah sumber mata pencaharian utama dari sebagian besar masyarakat Indonesia. Sektor pertanian melalui komoditas yang dihasilkannya mempunyai potensi besar dalam meningkatkan pendapatan masyarakat petani di Indonesia. Salah satu sektor pertanian yang menjadi pusat perhatian adalah sektor hortikultura

Hortikultura terbagi atas sub sektor seperti sayuran, buah-buahan, tanaman hias dan tanaman biofarmaka. Beberapa produk hortikultura seperti sayuran, buah-buahan, dan tanaman biofarmaka sangat berguna bagi kebutuhan tubuh seperti sumber vitamin, mineral, penyegar, pemenuhan kebutuhan akan serat dan kesehatan lingkungan. Oleh karena itu produk-produk hortikultura perlu ditingkatkan maupun dikembangkan selain untuk memenuhi permintaan konsumen yang semakin meningkat juga karena berpotensi dalam meningkatkan penghasilan.

Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif. Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta bahan obat tradisional (Deptan, 2007).


(17)

memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap perkembangan ekonomi wilayah (Rp 2,7 triliun/tahun) dengan potensi pengembangan areal cukup luas mencapai ± 90.000 Ha. Sebagai rempah yang diperlukan setiap hari, konsumsi rata-rata bawang merah untuk tahun 2004 adalah 4,56 kg/kapita/tahun atau 0,38 kg/kapita/bulan (Ditjen Hortikultura, 2005).

Secara umum bawang merah memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin. Diantaranya Kalori, Protein, Lemak, Karbohidarat, Kalsium, Vitamin A, B1 dan Vitamin C. Selain digunakan untuk keperluan rumah tangga, bawang merah juga dapat digunakan untuk keperluan industri diantaranya, industri bumbu masakan, industri makanan dan industri obat-obatan. Buah bawang merah ini selain dijadikan sayuran atau bumbu masak juga mempunyai kapasitas menaikkan pendapatan petani (Prajnanta, 1999).

Bawang merah merupakan salah satu produk hortikultura komoditas sayuran yang memiliki nilai ekonomis tinggi, baik ditinjau dari sisi pemenuhan konsumsi nasional, sumber penghasilan petani, maupun potensinya sebagai penghasil devisa negara. Sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk sebesar 249.836.587 jiwa pada tahun 2013, dengan perkiraan kebutuhan konsumsi sebesar 899.412 ton maka pasokan bawang merah harus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional (Deptan, 2007).

Bawang merah juga merupakan salah satu komoditas yang sudah banyak dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari dan volume kebutuhanya terus meningkat dengan bertambahnya penduduk, maka tidak heran kalau peluang bisnisnya masih terus menjanjikan. Beberapa kabupaten/kota sedang giat-giatnya


(18)

mengembangkan tanaman bawang merah, yakni Simalungun, Toba Samosir, Karo, Dairi, Samosir, dan Tapanuli Utara yang merupakan sentra produksi bawang merah di Provinsi Sumatera Utara.

Peranan sektor pertanian dalam pembangunan di Indonesia tidak perlu diragukan lagi, prioritas pembangunan diletakkan pada pembangunan ekonomi dan titik berat pada sektor pertanian. Pembangunan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan industri dalam negeri, meningkatkan ekspor, meningkatkan pendapatan petani, memperluas kesempatan kerja dan mendorong pemerataan kesempatan kerja (Soekartawi, 1995).

Menurut UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, pengertian tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kesempatan kerja mengandung arti jumlah tenaga kerja dewasa yang bekerja penuh waktu, sedangkan pengangguran berarti jumlah tenaga kerja dewasa yang tidak bekerja dan aktif mencari pekerjaan. Angkatan kerja adalah jumlah total antara mereka yang bekerja dengan mereka yang sedang tidak bekerja dan sedang mencari kerja.

Menurut Sukirno (2000), pengangguran adalah suatu keadaan di mana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja yang ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Menurut BPS (2007), tenaga kerja adalah seluruh penduduk yang berusia 15 tahun atau lebih yang potensial dapat


(19)

Produksi bawang merah secara nasional menurut wilayah Pulau Jawa san luar Pulau Jawa Tahun 2011, sebesar 893.124 ribu ton mengalami penurunan sebanyak 155.810 ribu ton (14,85%) dibandingkan produksi tahun 2010. penurunan produksi dsisebabkan menurunnya luas panen di Pulau Jawa dan 18.276 ribu hektar atau sebesar 21,18%. Sementara produktivitas di Pulau Jawa tahun 2011, 10,09 ton/ha sedangkan luar Pulau Jawa 8,68 ton/ha (Berita Resmi Statistik No. 53/08/Th. XV, 1 Agustus 2012).

Data yang diperoleh pada Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara, mengungkapkan bahwa luas tanam bawang merah di Sumatera Utara pada tahun 2010, mencapai 1.379 Ha dan realisasi luas panen 1.360 Ha. Pada tahun 2011, mengalami kenaikan menjadi 1.408 Ha dan realisasi luas panen 1.384 Ha. Produksi pada tahun 2010 sebanyak 9.413 ton dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 12.449 ton (Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura, 2012).

Bawang merah dihasilkan di 24 dari 33 propinsi di Indonesia. Propinsi penghasil utama bawang merah diantaranya adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB dan Sulawesi Selatan. Kesembilan propinsi ini menyumbang 96,5% dari produksi total bawang merah di Indonesia pada tahun 2004 (Departemen Pertanian, 2007).


(20)

Tabel 1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Bawang Merah Menurut Kabupaten/Kota di Sumatera Utara Tahun 2011

No Kabupaten/Kota

Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Rata-rata Produksi (Ton/Ha) Kabupaten

1 Nias - - -

2 Mandailing Natal 26 140 5,38

3 Tapanuli Selatan 80 289 3,61

4 Tapanuli Tengah - - -

5 Tapanuli Utara 102 613 6,01

6 Toba Samosir 167 1.350 8,08

7 Labuhan Batu - - -

8 Asahan - - -

9 Simalungun 437 6.119 14,00

10 Dairi 35 199 5,68

11 Karo 90 902 10,02

12 Deli Serdang 17 164 9,65

13 Langkat - - -

14 Nias Selatan - - -

15 Humbang Hasundutan 60 405 6,75

16 Pakpak Bharat - - -

17 Samosir 342 2.327 6,80

18 Serdang Bedagai 13 94 7,23

Kota

19 Binjai 10 53 5,30

20 Padang Sidempuan 26 - -

Total 1.384 12.449 8,99

Sumber : Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura, 2012 Keterangan : ( - ) Data Tidak Tersedia

Produksi bawang merah Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2011 adalah 12.449 ton dengan produktivitas 8,99 ton/ha, sedangkan kebutuhan bawang merah mencapai 66.420 ton. Dari data tersebut, produksi bawang merah yang terbesar di Sumatera Utara adalah Kabupaten Simalungun diikuti dengan Kabupaten Samosir dan Toba Samosir, namun masih jauh di bawah kebutuhan. Untuk memenuhi kebutuhan bawang merah, maka dilakukan impor dari luar negeri. Rendahnya produksi tersebut salah satu disebabkan belum optimalnya sistem kultur teknis


(21)

Produk pertanian umumnya memiliki sifat meruah (voluminous), mudah rusak (perishable), dan musiman (seasonal). Karakteristik produk pertanian tersebut juga berlaku bagi komoditas bawang merah yang banyak dibudidayakan di kabupaten lain. Tidak seperti produk industri yang bentuknya bisa dirancang sehingga ringkas atau tidak memakan tempat, produk pertanian bersifat alami dan tidak mudah dikemas. Untuk mengangkut, misalnya, perlu wadah yang memadai sehingga bisa sampai kepada konsumen dengan bentuk yang masih sesuai aslinya.

Setelah di panen bawang merah tidak dapat disimpan lama karena mudah rusak dan sulit dipertahankan dalam bentuk segar. Penanganan yang kurang baik akan menyebabkan kebusukan atau bahkan tumbuh di tempat penyimpanan. Oleh sebab itu diperlukan upaya penanganan pasca panen yang baik untuk memperpanjang masa simpan, meningkatkan nilai ekonomi, meningkatkan produksi dan sekaligus sebagai arah pengembangan komoditi bawang merah.

Salah satu cara untuk tidak mengurangi bentuk bawang merah agar sampai ketangan konsumen masih sesuai dengan bentuk aslinya adalah dengan cara mengupas. Selama dalam melakukan pengupasan bawang merah terdapat beberapa permasalahan, salah satu diantaranya adalah harus bisa menjaga keutuhan bawang merah agar tidak terjadi kerusakan. Perubahan bentuk dan rasa dapat menurunkan nilai barang tersebut, hal ini tentu memerlukan suatu teknik pengelolaan yang lebih baik dan benar untuk mendapatkan bawang merah yang berkualitas yang akan dipasarkan baik pasar domestik maupun pasar internasional (Sasongko, 2007).


(22)

Usaha pengupasan bawang ini, selain akan membantu pemasaran petani, juga dapat mengurangi angka pengangguran. Pengelolaan bawang merah dengan cara ini juga dapat meningkatkan umur ketahanan dan memberikan nilai tambah (added value). Produk seperti ini dapat bertahan maksimal 6 bulan. Alur proses pengupasan bawang merah seperti; penyediaan bahan baku bawang merah segar, penggesahan/pengupasan, pencucian, penyortiran, dan pengemasan. Yang dimaksud dengan penggesahan adalah pengelupasan kulit bawang yang telah mengering. Penggesahan dilakukan dengan menggunakan tangan, sehingga kulit itu terlepas dengan sendirinya.

Nilai tambah yang terjadi akibat dari hasil pengupasan bawang merah memberi nilai guna terhadap barang, yaitu nilai guna barang karena tempat (place unity), nilai guna karena bentuk (form unity), nilai guna waktu (time unity), nilai guna karena pemilikan (owner unity). Akibat nilai guna ini menimbulkan konsekuensi tambahan ongkos yang harus dibayar konsumen. Oleh sebab itu kegiatan pengupasan bawang merah ini perlu dilakukan untuk lebih meningkatkan nilai tambah atau nilai guna dari pengelolaan bawang meerah tersebut. Dengan makin beragamnya keuntungan dari pengeloaan bawang merah ini dengan sendirinya menciptakan prospek pasar di Kota Medan, sehingga dapat menjadi pertimbangan untuk pengembangan bisnis kedepannya.

Berdasarkan alasan-alasan dan latar belakang diatas, penulis merasa perlu untuk mengkaji lebih jauh tentang ” Analisis Value Added dan Tingkat Pendapatan serta Kesempatan Kerja Usaha Pengupasan Bawang Merah di Kota


(23)

1.2. Identifikasi Masalah

1) Apakah ketersediaan input produksi usaha bawang merah kupas cukup tersedia di daerah penelitian?

2) Bagaimana besar biaya tetap dan biaya variabel usaha bawang merah kupas di daerah penelitian?

3) Berapa nilai tambah (value added) usaha bawang merah kupas di daerah penelitian?

4). Berapa besar kesempatan kerja usaha bawang merah kupas di daerah penelitian?

5) Bagaimana tingkat pendapatan pengusaha dan pekerja usaha bawang merah kupas di daerah penelitian?

6). Bagaimana pengaruh jumlah bahan baku, harga beli, harga jual, jumlah tenaga kerja dan jumlah produksi terhadap pendapatan pengusaha bawang merah kupas di daerah penelitian?

7) Bagaimana pengaruh jumlah bawang merah kupas terhadap pendapatan pekerja di daerah penelitian?

8) Kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam usaha bawang merah kupas dan upaya-upaya apa saja yang dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan indentifikasi masalah yang telah diuraikan tersebut, maka tujuan penelitian dirumuskan sebagai berikut:


(24)

2) Untuk mengidentifikasi besar biaya bahan baku (biaya tetap dan biaya variabel) usaha bawang merah kupas.

3) Untuk mengidentifikasi nilai tambah (value added) usaha bawang merah kupas.

4). Untuk mengidentifikasi besar kesempatan kerja usaha bawang merah kupas di daerah penelitian.

5) Untuk mengidentifikasi tingkat pendapatan pengusaha dan pekerja usaha bawang merah kupas.

5). Untuk mengidentifikasi besar kesempatan kerja usaha usaha bawang merah kupas di daerah penelitian.

6) Untuk mengetahui pengaruh jumlah bahan baku, harga beli, harga jual, jumlah tenaga kerja dan jumlah produksi terhadap pendapatan pengusaha bawang merah kupas di daerah penelitian.

7) Untuk mengetahui pengaruh jumlah bawang merah kupas terhadap pendapatan pekerja bawang merah kupas di daerah penelitian.

8) Untuk mengetahui kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam usaha bawang merah kupas dan upaya-upaya apa saja yang dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut.

1.4. Kegunaan Penelitian

Berdasarakan tujuan penelitian yang telah diuraikan tersebut, maka kegunaan penelitian dirumuskan sebagai berikut:

1) Sebagai gambaran dan bahan informasi bagi usaha bawang merah kupas untuk memperbaiki kelemahannya agar dapat meningkatkan kinerja usaha bawang


(25)

2) Sebagai bahan pertimbangan bagi para pengambil keputusan dan kebijakan dalam mengembangkan usaha bawang merah kupas di daerah penelitian. 3) Sebagai bahan referensi bagi pihak-pihak yang berhubungan dengan penelitian


(26)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1. Tinjauan Pustaka

Tanaman bawang merah diduga berasal dari daerah Asia Tengah, yaitu sekitar India, Pakistan sampai Palestina. Sejak zaman dulu bawang merah ini menjadi andalan manusia (di samping bawang putih), untuk kesejahteraan dan pengobatan sehingga selalu dilambangkan pada barang-barang peninggalan sejarah. Sampai kini pun masih banyak digunakan untuk pengobatan dan juga sebagai bumbu

penyedap (Wibowo, 2001).

Kedudukan tanaman bawang merah dalam tata nama atau sistematika tumbuhan, termasuk klasifikasi sebagai berikut:

Divisio : Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Ordo : Liliales

Family : Liliaceae Genus : Allium

Spesies : Allium ascalonicum L. atau Allium cepa var. ascalonicum

Spesies bawang merah yang banyak ditanam di Indonesia terdiri dari 2 macam, yaitu bawang merah biasa atau shallot alias syalot dan bawang merah


(27)

sebenarnya atau disebut bawang bombay, bawang timur alias onion (Rukmana, 1994).

Bawang merah merupakan tanaman semusim berbentuk rumput yang tumbuh tegak dengan tinggi dapat mencapai 15-50 cm dan membentuk rumpun. Akarnya berbentuk akar serabut yang tidak panjang. Karena sifat perakaran inilah, bawang merah tidak tahan kering (Rukmana, 1994).

Bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) sangat beragam, beberapa jenis mudah berbunga, menghasilkan biji dapat disilangkan dengan bawang

bombay sedangkan yang lain jarang berbunga. Ketika baru terinisiasi tangkai bunganya padat tetapi setelah mencapai panjang 60-70 cm tangkai berongga karena heterozigot. Keturunan dari biji tidak sama dengan tetuanya sehingga tanaman biasanya diperbanyak dengan umbi, populasi tanaman umumnya mencapai 300 ribu tanaman/Ha (Yamaguchi dan Rubatzky,1998).

Umbi lapis bawang merah sangat bervariasi. Bentuknya ada yang bulat, bundar, sampai pipih, sedangkan ukuran umbi meliputi besar, sedang, dan kecil. Warna kulit umbi ada yang putih, kuning, merah muda sampai merah tua. Umbi bawang merah sudah umum digunakan sebagai bahan perbanyakan tanaman secara vegetatif (Rukmana, 1994).

Pada pangkal umbi membentuk cakram yang merupakan batang pokok yang tidak sempurna (rudimenter). Dari bagian bawah cakram ini tumbuh akar-akar serabut yang tidak terlalu panjang. Sedang di atas cakram, diantara lapisan kelopak daun yang membengkak terdapat mata tunas yang dapat tumbuh menjadi tanaman baru. Lalu di bagian cakram terdapat mata tunas utama yang nantinya dari bagian ini dapat muncul bunga. Tunas yang akan menjadi tempat tumbuhnya


(28)

bunga ini disebut tunas apical, sedangkan tunas-tunas lain yang dapat tumbuh jadi tanaman baru disebut tunas lateral (Wibowo, 2001).

Bawang merah mempunyai akar serabut dengan sistem perakaran dangkal dan bercabang terpencar, pada kedalaman antara 15 – 30 cm di dalam tanah. Bawang merah memiliki batang sejati disebut discus yang bentuknya seperti cakram, tipis, dan pendek, sebagai tempat melekatnya perakaran dan titik tumbuh. Di bagian atas discus terbentuk batang semu yang tersusun dari pelepah – pelepah daun. Batang semu yang berada di dalam tanah akan berubah bentuk dan fungsinya menjadi umbi lapis (bulbus).

Pemilihan lahan untuk tanaman bawang merah harus memperhatikan syarat tumbuh tanaman. Syarat tumbuh tanaman bawang merah yang paling penting adalah iklim dan tanah. Tanaman bawang merah membutuhkan tempat yang beriklim kering dengan suhu yang cukup panas antara 250 – 300C. Curah hujan yang cocok untuk tanaman bawang merah adalah 300 – 2500 mm per tahun. Tanaman ini sangat rentan terhadap curah hujan yang tinggi. Angin kencang yang berhembus terus – menerus secara langsung dapat merobohkan tanaman karena sistem perakaran tanaman yang dangkal.

Tanah yang sesuai untuk tanaman bawang merah adalah tanah yang mempunyai pH sekitar 5,5-7,0. Tanah yang terlalu masam dengan pH < 5,5 tidak cocok untuk bawang merah. Jenis tanah yang paling baik untuk tanaman bawang merah adalah tanah lempung berpasir atau lempung berdebu. Jenis tanah ini mempunyai aerasi dan drainase yang baik karena mempunyai perbandingan yang seimbang antara fraksi liat, pasir dan debu (Rahayu dan Berlian, 2006).


(29)

Umur tanaman bawang merah siap panen bervariasi antara 60 – 90 hari tergantung varietasnya. Ciri – ciri tanaman bawang merah yang siap panen adalah umbi tampak besar dan beberapa daun berwarna kecoklatan. Keadaan tanah pada

saat panen diusahakan kering untuk mencegah terjadinya pembusukan umbi (Sudarmanto, 2009 ).

Kualitas bawang merah yang disukai pasar adalah berwarna merah atau kuning mengilap, bentuknya padat, aromanya harum saat digoreng, dan tahan lama. Beberapa varietas unggul tanaman bawang merah yang berkembang di Indonesia adalah sebagai berikut : bawang merah bima brebes, bawang merah sumenep, bawang merah ampenan, bawang merah bali, bawang merah medan, bawang merah kramat 1 dan 2, bawang merah australia, bawang merah bangkok, dan bawang merah Pilipina (Sudarmanto, 2009).

2.1.1 Tinjauan Ekonomi

Peluang sekaligus tantangan baru dalam pengembangan komoditas hortikultura ke depan adalah adanya liberalisasi perdagangan. Dikatakan memberikan peluang karena pasar komoditas tersebut akan semakin luas sejalan dengan dihapuskannya berbagai hambatan perdagangan antarnegara. Namun, liberalisasi perdagangan tersebut akan menimbulkan masalah jika komoditas hortikultura yang dihasilkan petani nasional tidak mampu bersaing dengan komoditas dari negara lain sehingga pasar domestik semakin dibanjiri oleh komoditas hortikultura impor, yang pada akhirnya akan merugikan petani nasional. Oleh karena itu, upaya peningkatan produksi nasional juga perlu diiringi dengan peningkatan daya saing dan efisiensi usaha komoditas hortikultura


(30)

tersebut (Irawan et al., 2001). Hal yang senada juga dikemukakan oleh Adyana dan

Adyana dan Suryana (1996), untuk mengantisipasi permintaan pasar ke depan kita harus bisa menciptakan : teknologi yang mampu meningkatkan produksi pertanian, baik kualitas maupun kuantitasnya, dan menciptakan nilai tambah serta meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya. Ada tiga faktor utama yang menyebabkan struktur agribisnis menjadi tersekat-sekat dan kurang memiliki daya saing (Irawan et al., 2001), yaitu : (1) tidak ada keterkaitan fungsional yang harmonis antara setiap kegiatan atau pelaku agribisnis, (2) terbentuknya margin ganda, sehingga ongkos produksi, pengolahan dan pemasaran hasil yang harus dibayar konsumen menjadi lebih mahal, sehingga sistem agribisnis berjalan tidak efisien, (3) tidak adanya kesetaraan posisi tawar antara petani dengan pelaku agribisnis lainnya, sehingga petani sulit mendapatkan harga pasar yang wajar.

Pada sektor agribisnis hortikultura di kawasan sentra produksi hortikultura di Jawa Tengah dan Sumatra Utara, setiap kegiatan agribisnis mulai dari pengadaan sarana produksi, produksi, hingga pengolahan dan pemasaran hasil, serta jasa penunjang umumnya dilakukan oleh pelaku agribisnis yang berbeda (Saptana et al., 2000 dan Saptana et al., 2004).

Beberapa kekhasan yang dimiliki dalam agribisnis hortikultura ada antara lain (1) usahatani yang dilakukan lebih berorientasi pasar, (2) bersifat padat modal, (3) risiko harga relatif besar karena sifat komoditas yang cepat rusak dan (4) dalam jangka pendek harga relatif berfluktuasi (Hadi et al., 2000; Irawan,


(31)

mengemukakan bahwa petani sayuran unggulan di sentra produksi pada saat panen raya berada pada posisi lemah. Lebih lanjut Rachman (1997) mengungkapkan bahwa, rata-rata perubahan harga ditingkat produsen lebih rendah dari rata-rata perubahan harga ditingkat pengecer, sehingga dapat dikatakan bahwa efek transmisi harga berjalan tidak sempurna (Imperfect price transmission). Keadaan ini menunjukkan bahwa pasar masih merupakan masalah bagi produk hortikultura.

Pada umumnya komoditi pertanian memiliki kurva penawaran yang agak inelastis. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti tanah, tenaga kerja dan peralatan yang digunakan untuk keperluan pertanian tidak bisa dengan cepat dialihkan ke sektor non pertanian pada saat permintaan jatuh dan tidak bisa dengan cepat dikembalikan lagi ke sektor pertanian pada saat permintaan naik.

Lipsey (1995) menjelaskan bahwa perubahan harga akibat fluktuasi produksi pada akhirnya akan berpengaruh terhadap penerimaan produsen. Besarnya perubahan harga yang terjadi sangat tergantung dari elastisitas kurva permintaan. Apabila kurva permintaan elastis, maka perubahan harga yang terjadi relatif kecil. Sebaliknya, apabila kurva permintaan inelastis, maka perubahan harga yang terjadi relatif besar.

Sebagian besar produk pertanian, mempunyai permintaan inelastis. Hal ini menyebabkan variasi harga produk pertanian yang relatif besar. Saat produksi meningkat akibat panen yang baik, harga cenderung merosot tajam. Sebaliknya saat panen gagal, produksi merosot dan mengakibatkan harga naik dengan tajam.

Hal ini mengakibatkan, penerimaan petani cenderung berubah berlawanan arah dengan perubahan hasil panen. Bila hasil panen baik, produksi melimpah,


(32)

penerimaan petani cenderung turun. Demikian sebaliknya, jika panen kurang berhasil, penerimaan petani akan cenderung meningkat. Dalam kasus ini, terlihat bahwa kepentingan petani berlawanan dengan kepentingan konsumen. Hal ini semakin terasa pada saat terjadi kegagalan panen di mana harga bahan makanan melonjak dan penerimaan petani meningkat tetapi konsumen dirugikan. Bila panen berhasil, harga akan merosot tajam dan konsumen diuntungkan, sedangkan petani dirugikan karena penerimaannya turun.

Ketersediaan input produksi yang sangat mendukung besarnya produksi yang dihasilkan. Produksi yang tinggi akan sangat mempengaruhi keuntungan yang diperoleh pengolah. Harga jual yang ditetapkan oleh pengolah bedasarkan hasil produksi dan semua biaya yang dikeluarkan selama proses produksi. Semakin banyak bawang merah yang dikupas terjual dan kecilnya biaya produksi memberikan keuntungan yang besar bagi tenaga kerja dan pengusaha bawang merah (Sarwono,2003).

2.1.2. Tenaga Kerja

Menurut UU No 13 tahun 2003, tentang ketenagakerjaan, pengertian tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sedangkan kesempatan kerja mengandung arti jumlah tenaga kerja dewasa yang bekerja penuh waktu, sedangkan pengangguran berarti jumlah tenaga kerja dewasa yang tidak bekerja dan aktif mencari pekerjaan.


(33)

(2000), pengangguran adalah suatu keadaan di mana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja yang ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Sedangkan menurut BPS (2007), tenaga kerja adalah seluruh penduduk yang berusia 15 tahun atau lebih yang potensial dapat memproduksi barang dan jasa.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat adalah dengan cara menanam investasi pada kegiatan yang bersifat produktif. Investasi yang sehat yang didukung oleh prinsip-prinsip ekonomi yang universal akan mendorong kegiatan segala bidang selanjutnya. Hal ini akan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan tingkat pendapatan masyarakat (Gray, 1986).

Khusus mengenai kesempatan kerja di daerah pedesaan, usaha-usaha itu telah dilakukan, misalnya dengan program padat karya, melalui program latihan dan keterampilan tenaga kerja. Kenyataannya bahwa sektor pertanian tersebut daya serapnya kurang jika dibandingkan dengan sektor yang lain (Suprapto, 1982). Lapangan pekerjaan sangat terbatas di bidang pertanian atau secara relatif berarti jumlah tenaga kerja lebih banyak daripada sumber daya alam dan faktor produksi lainnya. Kebanyakan tenaga kerja pertanian menjadi setengah menganggur (disguised unemployment) (Mubyarto, 1989).

2.1.3 Konsep Nilai Tambah

Sifat mudah rusak (perishable/bulky) yang dimiliki produk pertanian memberikan motivasi terhadap petani dan pengusaha untuk melakukan penanganan yang tepat, sehingga produk pertanian tersebut siap dikonsumsi oleh konsumen. Di dalam sistem pertanian terjadi arus komoditas yang mengalir dari


(34)

hulu ke hilir, yaitu yang berawal dari produsen dan penyalur input pertanian ke petani, pedagang pengumpul, pedagang besar sampai ke konsumen akhir. Dalam perjalanan dari produsen ke konsumen akhir, komoditi pertanian tersebut mendapat perlakuan- perlakuan seperti pengolahan, pengawetan, dan pemindahan untuk menambah kegunaan atau menimbulkan nilai tambah.

Konsep nilai tambah adalah suatu pengembangan nilai yang terjadi karena adanya input yang diperlakukan pada suatu komoditas. Input yang menyebabkan terjadinya nilai tambah dari suatu komoditas dapat dilihat dari adanya perubahan-perubahan pada komoditas tersebut, yaitu perubahan-perubahan bentuk, tempat, dan waktu.

Menurut Hayami et. al (1987), terdapat dua cara dalam menghitung nilai tambah, yaitu dengan menghitung nilai tambah selama proses pengolahan dan menghitung nilai tambah selama proses pemasaran. Nilai tambah (value added) adalah penambahan nilai suatu komoditas karena mengalami proses pengolahan, pengangkutan, atau penyimpanan dalam suatu proses produksi.

Menurut Hayami et. al (1987) definisi dari nilai tambah adalah pertambahan nilai suatu komoditas karena adanya input fungsional yang diberlakukan pada komoditi bersangkutan. Input fungsional tersebut berupa proses pengubahan bentuk (form utility ), pemindahan tempat (place utility), maupun penyimpanan (time utility). Nilai tambah menggambarkan imbalan bagi tenaga kerja, modal dan manajemen.

Tujuan dari analisis nilai tambah adalah untuk mengukur balas jasa yang diterima pelaku sistem (pengolah) dan kesempatan kerja yang dapat diciptakan oleh sistem tersebut. Nilai tambah dipengaruhi oleh faktor teknis dan non teknis


(35)

penyerta, kualitas produk, penerapan teknologi, kapasitas produksi, dan penggunaan unsur tenaga kerja. Sedangkan faktor pasar meliputi harga bahan baku, harga jual output, upah tenaga kerja, modal investasi, informasi pasar, dan nilai input lain (selain bahan bakar). Dengan demikian fungsi dari nilai tambah yang menggambarkan imbalan bagi tenaga kerja, modal dan manajemen, sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut:

Nilai Tambah = f ( K, B, T, U, H, h, L) Dimana : K = Kapasitas produsi unit usaha (Unit)

B = Jumlah bahan baku yang digunakan (unit) T = Jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan (HOK) U = Upah tenaga kerja ( Rp/ HOK)

H = Harga Output (Rp/unit) h = Harga bahan baku (Rp/unit) L = Nilai input lain (unit)

Analisis input lain adalah semua korbanan yang terjadi selama proses proses pelakuan untuk menambah nilai output, selain bahan baku dan tenaga kerja langsung, mencakup biaya modal berupa bahan penolong dan biaya overhead

pabrik lainnya, upah tenaga kerja tidak langsung. 2.1.4. Analisis Nilai Tambah Metode Hayami

Menurut Hayami et. al (1987) menyatakan bahwa nilai tambah adalah selisih antara komoditas yang mendapat perlakuan pada tahap tertentu dan nilai korbanan yang digunakan selama proses berlangsung. Sumber-sumber dari nilai tambah tersebut adalah dari pemanfaatan faktor- faktor seperti tenaga kerja, modal, sumberdaya manusia, dan manajemen.


(36)

Dari besaran nilai tambah yang dihasilkan dapat ditaksir besarnya balas jasa yang diterima faktor produksi yang digunakan dalam proses perlakuan tersebut. Dalam analisis nilai tambah terdapat tiga komponen pendukung, yaitu faktor konversi yang menunjukkan banyaknya output yang dihasilkan dari satu satuan input, faktor koefesien tenaga kerja yang menunjukkan banyaknya tenaga kerja langsung yang diperlukan untuk mengolah satu satuan input, dan nilai output

yang dihasilkan dari satu satuan input. Distribusi nilai tambah berhubungan dengan teknologi yang diterapkan dalam proses pengolahan, kualitas tenaga kerja berupa keahlian dan ketrampilan, serta kualitas bahan baku. Apabila penerapan teknologi cenderung padat karya maka proporsi bagian tenaga kerja yang diberikan lebih besar dari proporsi bagian keuntungan bagi perusahaan, sedangkan apabila diterapkan teknologi padat modal maka besarnya proporsi bagian manajemen lebih besar dari proporsi bagian tenaga kerja.

Perbedaan pendapatan berkaitan erat dengan produktivitas para petani. Sementara produktivitas tidak dapat dilepaskan dari berbagai faktor antara lain: luas lahan yang dimiliki, kebijakan pemerintah dalam pemberian insentif pada petani, dan sebagainya (Soetrisno, 1998).

2.2. Landasan Teori

Bawang merah merupakan komoditas hortikultura yang cukup strategis di Indonesia. Hal ini dikarenakan fungsi bawang merah sebagai bahan utama bumbu makanan di seluruh Indonesia sehingga tingkat permintaannya sangat tinggi. Menurut data Ditjen Hortikultura (2008) tingkat produksi bawang merah di Indonesia cenderung berfluktuasi setiap tahunnya. Tingkat produktivitas bawang


(37)

merah pun relatif menurun dari tahun ke tahun. Oleh sebab itu komoditas hortikultura ini perlu ditingkatkan.

Agribisnis adalah segala kegiatan produksi dan distribusi sarana produksi pertanian yang ada hubungannya budidaya dan juga semua kegiatan mengumpulkan, mengolah dan mendistribusikan hasil-hasil pertanian. Agribisnis mencakup seluruh sektor pertanian dan sebagian sektor industri yang mengolah hasil pertanian (Soeharjo, 1991). Dengan demikian sistem agribisnis juga terdiri dari beberapa kelompok atau subsistem yang saling berkaitan dan mendukung. Sehingga sistem agribisnis itu adalah suatu sistem vertikal dari setiap komoditi pertanian yang terdiri dari subsistem pengadaan sarana produksi, subsistem budidaya (usaha tani), subsistem pengolahan dan subsistem pemasaran

Sumber : Soeharjo, 1991

Gambar 1. Katerkaitan Subsistem Agribisnis

Menurut Austin (1993) ada tiga faktor yang saling mempengaruhi dalam faktor produksi yaitu : pengadaan bahan bahan baku, pengolahan, dan pasar. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan sehingga kegagalan pada satu faktor akan mempengaruhi yang lainnya

Istilah faktor produksi sering juga disebut dengan korbanan produksi, karena faktor produksi atau input tersebut dikorbankan untuk menghasilkan produk. Macam faktor produksi atau input ini, berikut jumlah dan kuantitasnya perlu diketahui oleh seorang produsen. Oleh karena itu untuk menghasilkan suatu

Produksi input,alat dan

mesin

Produk primer olahan petani, peternak dan

nelayan

Penanganan dan pengolahan (nilai tambah)

Pemasaran (saluran distribusi dan


(38)

dan produk (output). Hubungan antara input dan output ini disebut dengan faktor relationship. Dalam rumus matematis, faktor relationship ini ditulis dengan :

Y = f (X₁,X₂,…,Xi,…,Xn)

Produktivitas tenaga kerja yang tinggi akan menunjukkan penekanan input produksi yang efisien bagi usahatani karena tingkat produksi yang tinggi akan dicapai tenaga kerja. Efisiensi kerja akan dipengaruhi oleh luas areal, cara budidaya, pendidikan, keterampilan, dan pola konsumsi. Makin luas usahatani maka pengolahan kerja dapat diusaha seoptimal mungkin (Daniel, 2003).

Produktivitas tenaga kerja=

erja k tenaga Jumlah

produksi Jumlah

Semakin banyak tenaga kerja semakin tinggi pula biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi sehingga semakin kecil dana yang dapat dialokasikan untuk biaya usaha tani, tetapi di sisi lain semakin banyak anggota keluarga yang aktif berusahatani berpeluang memperoleh pendapatan yang lebih tinggi daripada petani lain dengan jumlah anggota keluarga yang tidak aktif (Sahara, dkk, 20044).

Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan. (Pasal 1 ayat 30 UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan).


(39)

produksi tambahan. Selisih antara pendapatan dan biaya produksi merupakan keuntungan atau kerugian (Sunarjono, 2004).

Menghitung nilai tambah yang dihasilkan digunakan rumus value added

yaitu: NT = NP- (NBB + NBP). Kriteria uji : Nilai Tambah Tinggi bila NP > NBB + NBP dan Nilai Tambah Rendah NP < NBB+ NBP (Suryana,1990).

2.3. Kerangka Pemikiran

Pengupasan bawang merah merupakan salah satu usaha yang memanfaatkan bawang merah sebagai bahan baku utama, dimana bawang merah ini kemudian dijual di pasar untuk konsumen. Dalam hal ini pengadaan input, yaitu jumlah komoditi bahan baku (bawang merah) dan ketersediaan tenaga kerja sangat dibutuhkan.

Bawang merah dapat dibeli oleh konsumen dalam bentuk belum di kupas dan juga dapat diperoleh dalam bentuk bawang merah telah di kupas untuk dikonsumsi. Selain itu, melalui proses pengupasan akan diperoleh nilai tambah. Nilai tambah untuk usaha pengupasan bawang merah ini adalah nilai bahan baku produk olahan (bawang yang telah dikupas) dikurangi dengan total nilai bahan baku dan bahan penunjang. Dimana nilai bahan baku diperoleh dari perkalian antara jumlah bahan baku yang dibutuhkan dengan harga beli bahan baku, sedangkan nilai bahan penunjang yang digunakan dikali dengan harga bahan penunjang. Dengan adanya proses pengupasan bawang merah ini tentu membutuhkan tenaga kerja, sehingga tercipta kesempatan kerja bagi tenaga kerja yang pada akhirnya dapat mengurangi tingkat pengangguran di daerah penelitian.


(40)

terhadap penerimaan atau pendapatan antara lain; biaya pembelian bawang, tenaga kerja, listrik dan air, telepon dan transportasi. Sedangkan untuk mengetahui seberapa besar produksi bawang merah yang di kupas dan penerimaan yang diterima oleh pengusaha, maka bawang merah yang di kupas tersebut harus di jual dengan harga yang sesuai agar penerimaan dan pendapatan yang diperoleh agar dapat menutupi biaya tata niaga yang telah dikeluarkan serta dapat bersaing di pasar. Fluktuasi harga bawang merah, yang selalu berubah merupakan ancaman bagi usaha pengupasan bawang merah karena berpengaruh langsung terhadap keuntungan yang diperoleh pengusaha.

Tenaga kerja pengupas bawang merah menghasilkan bawang merah yang telah terkupas. Kemudian tenaga kerja ini memperoleh pendapatan dari hasil pekerjaannya. Mereka bekerja rata-rata 6 jam dalam satu hari. Jumlah upah yang diterima sangat tergantung dari kecepatan mereka mengupas bawang merah.

Ketersediaan input yang cukup sangat mendukung besarnya produksi yang dihasilkan Produktivitas tenaga kerja yang tinggi pada akhirnya mengakibatkan pendapatan yang diperolehnya juga tinggi. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap penggunaan input produksi yang pada akhirnya juga akan meningkatkan jumlah produk bawang merah yang terkupas.

Proses pengupasan bawang merah juga tidak terlepas dari kendala-kendala yang dihadapi, untuk mengatasi kendala-kendala, maka perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengatasinya. Berikut ini skema kerangka pemikiran disajikan pada Gambar 2.2.


(41)

Gambar 2. Skema Kerangka Pemikiran 2.4. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan landasan teori dan penelitian sebelumnya maka dapat dirumuskan beberapa hipotesis :

Pengadaan Input (Bahan baku) a. Jumlah komoditi

b.Harga komoditi

Biaya Tata Niaga a. Bahan baku

b. Tenaga kerja c. Listrik/air d. Telepon e. Transportasi

Proses Pengupasan

Produk (Bawang Merah Kupas)

Value Added

Harga Jual

Penerimaan

Kesempatan Kerja

Pendapatan Pengusaha dan

Pakerja Total Biaya


(42)

1. Input produksi usaha bawang merah kupas cukup tersedia.

2. Biaya variabel usaha bawang merah kupas lebih besar dari biaya tetap. 3. Pendapatan yang diperoleh pengusaha bawang merah kupas adalah tinggi. 4. Ada nilai tambah (value added) yang tinggi diperoleh dari hasil usaha bawang

merah kupas.

5. Ada kesempatan kerja usaha bawang merah kupas di daerah penelitian.

6. Jumlah bahan baku, harga beli, harga jual, jumlah tenaga kerja dan jumlah produksi berpengaruh terhadap pendapatan pengusaha bawang merah kupas di daerah penelitian.

7. Jumlah bawang merah yang di kupas berpengaruh terhadap pendapatan pekerja usaha bawang merah kupas di daerah penelitian.

8. Ada upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala di daerah penelitian.


(43)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode Penentuan Daerah Penelitian

Penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive dengan pertimbangan di sentra ini terdapat jumlah pengusaha dan pengupas bawang merah terbanyak, yaitu di Kelurahan Pandauhulu Hilir, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan.

3.2. Metode Penentuan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah pengusaha dan pengupas bawang merah di Kelurahan Pandauhulu Hilir, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan. Pengusaha bawang merah berjumlah 30 orang dan jumlah pengupas bawang sebanyak 90 orang. Jumlah ini diperoleh setelah penulis melaksanakan survei pendahuluan. Metode penarikan sampel dilakukan dengan menggunakan metode sensus dimana seluruh populasi dijadikan sampel, yaitu berjumlah 30 orang. Sedangkan pengambilan sampel untuk pengupas bawang dengan cara simple random sampling, yaitu berjumlah 30 orang. Hal ini sesuai dengan teori Bailey yang menyatakan untuk penelitian menggunakan analisa statistik, ukuran responden minimal 30 (Hasan, 2002).

3.3. Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung melalui wawancara kepada responden dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang dibuat


(44)

terlebih dahulu. Sedangkan data sekunder merupakan data pelengkap yang diperoleh Badan Pusat Statistik dan literatur yang mendukung penelitian ini.

3.4. Metode Analisa Data

Untuk menguji hipotesis 1, dianalisis secara deskriptif, yaitu dengan melihat berapa ketersediaan bahan baku dalam usaha pengupasan bawang merah.

Untuk menguji hipotesis 2, dianalisis menggunakan tabulasi sebagai berikut :

TB = BV + BT Dimana :

TB = Total biaya BV= Biaya variabel

BT = Biaya tetap (Soekartawi,1995).

Untuk menguji hipotesis 3, dianalisis menggunakan dihitung dengan menggunakan rumus value added sebagai berikut:

NT = NP- (NBB + NBP) Dimana :

NT = Nilai tambah (Rp)

NP = Nilai produk hasil olahan (Rp) NBB = Nilai bahan baku (Rp)

NBP = Nilai bahan penujang yang digunakan dalam proses produksi (Rp) Kriteria uji : Nilai tambah tinggi bila NP > NBB + NBP


(45)

Untuk menguji hipotesis 4, dianalisis secara deskriptif, yaitu dengan melihat berapa besar kesempatan kerja dalam usaha pengupasan bawang merah.

Untuk menguji hipotesis 5, dianalisis secara deskriptif, yaitu dengan melihat berapa jumlah pendapatan pengusaha dan pekerja dalam usaha pengupasan bawang merah.

a. Jumlah pendapatan pengusaha bawang merah TR = Y.Py Dimana:

TR = Total penerimaan (total revenue) penjualan bawang merah kupas Y = Produksi yang diperoleh dalam usaha pengupasan bawang merah Py = Harga jual bawang merah kupas

b. Jumlah pendapatan pengupas bawang merah TR = Y.Py Dimana:

TR = Jumlah bawang merah yang dikupas

Y = Pendapatan yang diperoleh dalam usaha pengupasan bawang merah Py = Upah per kg jual bawang merah kupas

Untuk menguji hipotesis 6, dianalisis melalui regresi berganda dengan persamaan:

Ŷ = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + ε

Dimana :

Ŷ = Pendapatan pengusaha a = parameter intercept


(46)

X1 = Jumlah bahan baku

X2 = Harga beli

X3 = Harga jual

X4 = Jumlah tenaga kerja

ε = error of term

Untuk menguji hipotesis 7, dianalisis melalui regresi berganda dengan persamaan:

Ŷ = a + b1X1 + b2X2

Dimana :

Ŷ = Pendapatan pekerja a = parameter intercept

b1,b2= parameter koefisien regresi

X1 = Jumlah bahan baku

X2 = Jumlah bawang merah yang dikupas

Untuk menguji hipotesis 8, dianalisis secara deskriptif, yaitu dengan menjelaskan upaya yang dilakukan pengusaha dan pekerja bawang merah kupas. 3.5. Definisi dan Batasan Operasional

3.5.1. Definisi Operasional

Memperjelas dan menghindari kesalahpahaman mengenai pengertian tentang istilah-istilah dalam penelitian ini dengan definisi dan batasan operasional sebagai berikut:

1. Value Added (nilai tambah) adalah nilai komoditas bawang merah yang dikupas (penerimaan) dikurangi dengan total nilai bahan baku dan bahan


(47)

bahan baku yang dibutuhkan dengan harga beli bahan baku, sedangkan nilai bahan penunjang yang digunakan dikali dengan harga bahan penunjang.

2. Bahan baku adalah segala sesuatu atau bahan-bahan dasar yang dipakai untuk memulai suatu produksi untuk menghasilkan suatu produk yang baru.

3. Penerimaan adalah jumlah bawang merah kupas dikali dengan harga jual yang dihitung dalam satuan Rp (Rupiah).

4. Pendapatan total adalah penerimaan hasil jual bawang merah kupas dikali dengan harga jual yang dihitung dalam satuan Rp (Rupiah).

5. Pengadaan input adalah segala sesuatu yang diperlukan untuk menghasilkan bawang merah kupas dalam usaha pengupasan bawang merah.

6. Produksi bawang merah kupas adalah merupakan hasil kupasan bawang merah oleh pekerja dalam usaha pengupasan bawang merah.

7. Harga jual bawang merah kupas adalah biaya total ditambah atau dikurangi untung atau rugi yang dinyatakan dalam rupiah.

8. Proses pengupasan bawang merah adalah proses pengupasan bahan baku menjadi bawang merah kupas dengan menggunakan faktor-faktor produksi seperti modal, tenaga kerja, bahan penunjang dan bahan baku.

9. Biaya produksi adalah semua biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan pengupasan bawang merah, seperti biaya bahan baku, biaya bahan penunjang, biaya tenaga kerja dan biaya penyusutan yang dikeluarkan pengusaha sampai bawang merah kupas siap untuk dipasarkan.

10. Tenaga kerja adalah orang-orang yang bekerja dalam suatu kegiatan usaha. 11. Keuntungan adalah selisih antara hasil penjualan bawang merah kupas dengan


(48)

3.5.2. Batasan Operasional

Batasan Operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Sampel dalam penelitian ini adalah pengusaha bawang merah dan pengupas bawang merah.

2. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2013

3. Daerah penelitian dilakukan di Jalan Veteran Kelurahan Pandauhulu Hilir, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan.


(49)

IV. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 4.1 Deskripsi Daerah Penelitian

4.1.1 Luas dan Letak Geografis Kota Medan

Kota Medan sebagai salah satu daerah otonom dengan status kota, maka kedudukan, fungsi dan peranannya cukup penting dan strategis baik secara regional maupun nasional. Bahkan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara, Kota Medan sering digunakan sebagai barometer dan tolok ukur dalam pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Secara geografis, Kota Medan memiliki kedudukan strategis sebab berbatasan langsung dengan Selat Malaka di bagian Utara, sehingga relatif dekat dengan kota-kota/negara yang lebih maju seperti Pulau Penang, Kuala Lumpur Malaysia dan Singapura.

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Sumatera Utara Nomor 140.22/2772.K/1996 tanggal 30 September 1996 tentang pendefinitipan 7 kelurahan di Kotamadya Daerah Tingkat II Medan dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1992 tentang Pembentukan Beberapa

Kecamatan di Kotamadya Daerah Tingkat II Medan dimekarkan menjadi 21 kecamatan dengan 151 kelurahan dan 2.001 lingkungan. Kecamatan Medan

Labuhan memiliki luas walayah terbesar yaitu 3.667 Ha (13,83% dari total luas wilayah Kota Medan) dan Kecamatan Medan Belawan merupakan daerah yang memiliki luas terbesar kedua, yaitu seluas 2.625 Ha (9,90% dari luas wilayah kota Medan), sedangkan Kecamatan Medan Sunggal memiliki luas wilayah terkecil, yaitu seluas 298 Ha (1% dari total luas wilayah kota Medan). Luas Kota Medan menurut Kecamatan disajikan Tabel 2 dan peta pada Lampiran 3.


(50)

Tabel 2. Luas Wilayah Kota Medan Menurut Kecamatan

No Kecamatan Luas %

1 Medan Belawan 2.625 9,90

2 Medan Marelan 2.382 8,99

3 Medan Labuhan 3.667 13,83

4 Medan Tuntungan 2.068 7,80

5 Medan Amplas 1.119 4,22

6 Medan Baru 584 2,20

7 Medan Deli 2.084 7,86

8 Medan Denai 905 3,41

9 Medan Sunggal 1.544 5,82

10 Medan Johor 1.458 5,50

11 Medan Area 552 2,08

12 Medan Kota 527 1,99

13 Medan Maimun 298 1,12

14 Medan Polonia 901 3,40

15 Medan Selayang 1.281 4,83

16 Medan Helvetia 1.316 4,96

17 Medan Petisah 682 2,57

18 Medan Barat 533 2,01

19 Medan Timur 776 2,93

20 Medan Perjuangan 409 1,54

21 Medan Tembung 799 3,01

Total 26.510 100,0

Sumber: Medan Dalam Angka Tahun 2012

Secara geografis Kota Medan terletak pada posisi 3°30’ – 3°43’ Lintang Utara dan 98°35’ – 98°44’ Bujur Timur dengan luas wilayah 265,10 km2. Sebagian besar wilayah Kota Medan merupakan dataran rendah dengan topografi yang cenderung miring ke Utara dan menjadi tempat pertemuan 2 sungai penting, yaitu sungai Babura dan sungai Deli.

Kota Medan berada pada ketinggian 2,5 – 37,5 meter di atas permukaan laut dan secara administratif mempunyai batas wilayah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Kabupaten Deli Serdang dan Selat Malaka Sebelah Selatan : Kabupaten Deli Serdang


(51)

4.1.2. Keadaan Penduduk

Masyarakat Kota Medan merupakan masyarakat yang memiliki kemajemukan meliputi unsur agama, suku, etnis budaya dan adat istiadat. Kehidupan yang penuh kemajemukan tersebut dapat berjalan cukup baik dan harmonis yang dilandasi rasa kebersamaan dan saling toleransi serta memiliki rasa kekeluargaan yang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa karakter masyarakat Kota Medan memiliki sifat keterbukaan dan siap menerima perubahan konstruktif dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan data kependudukan tahun 2005, penduduk Kota Medan diperkirakan telah mencapai 2.036.018 jiwa, dengan jumlah wanita lebih besar dari pria, (1.010.174 jiwa > 995.968 jiwa). Jumlah penduduk tersebut diketahui merupakan penduduk tetap, sedangkan penduduk tidak tetap diperkirakan mencapai lebih dari 500.000 jiwa, yang merupakan penduduk komuter. Dengan demikian Kota Medan merupakan salah satu kota dengan jumlah penduduk yang besar.

Laju pertumbuhan penduduk Kota Medan periode tahun 2000-2004 cenderung mengalami peningkatan, dimana tingkat pertumbuhan penduduk pada tahun 2000 adalah 0,09% dan menjadi 0,63% pada tahun 2004. Sedangkan tingkat kapadatan penduduk mengalami peningkatan dari 7.183 jiwa per Km2 pada tahun 2004. Jumlah penduduk paling banyak tercatat di Kecamatan Medan Deli, disusul kecamatan Medan Helvetia dan Medan Tembung. Jumlah penduduk yang paling sedikit, tercatat di Kecamatan Medan Baru, Medan Maimun dan Medan Polonia.


(52)

Tingkat kepadatan Penduduk tertinggi tercatat di kecamatan Medan Perjuangan, Medan Area dan Medan Maimun (BPS Kota Medan berbagai tahun terbit).

Berdasarkan Sensus Penduduk Indonesia tahun 2010, penduduk Kota Medan berjumlah 2.109.339 jiwa. Penduduk Medan terdiri atas 1.040.680 laki-laki dan 1.068.659 perempuan. Distribusi jumlah penduduk dari tahun 2001-2010 disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Distribusi Jumlah Penduduk Kota Medan Tahun 2001- 2010

No Tahun Jumlah Penduduk

1 2001 1.926.052

2 2002 1.963.086

3 2003 1.993.060

4 2004 2.006.014

5 2005 2.036.018

6 2006 2.050.015

7 2007 2.083.156

8 2008 2.102.105

9 2009 2.121.053

10 2010 2.097.610

Sumber : BPS – Medan Dalam Angka 2011

Berdasarkan struktur umur sebanyak 1.964.205 jiwa berada pada kelompok usia produktif, (15-59 tahun), selebihnya kelompok usia tidak produktif. Jumlah penduduk Kota Medan tahun 2010 berdasarkan jenis kelamin sebanyak 50,6% dan laki-laki sebanyak 49.4%.

Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kota Medan disajikan pada Tabel 4.


(53)

Tabel 4. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kota Medan

No Golongan Umur Laki Laki Perempuan Jumlah (Jiwa)

1 0 – 4 84.458 91.093 175.548

2 5 – 9 91.828 94.855 186.683

3 10 – 14 92.695 100.682 193.373

4 15 – 19 111.042 101.072 212.125

5 20 – 24 116.962 122.573 239.534

6 25 – 29 99.870 104.221 204.090

7 30 -34 84.073 71.621 155.707

8 35 – 39 74.847 87.469 162.306

9 40 – 44 76.147 77.191 153.339

10 45 – 49 56.913 51.348 108.266

11 50 – 54 46.803 52.397 99.195

12 55 – 59 35.718 38.322 74.039

13 60 – 64 27.036 23.114 50.154

14 65 + 109.558 113.833 83.250

Jumlah 1.036.926 1.060.684 2.097.610 Sumber : BPS – Medan Dalam Angka 2011

4.1.3. Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Rata-rata lama sekolah penduduk telah mencapai 10,5 tahun. Dengan demikian, secara relatif tersedia tenaga kerja yang cukup, yang dapat bekerja pada berbagai jenis perusahaan, baik jasa, perdagangan, maupun industri manufaktur. Medan memiliki beberapa jumlah universitas dan sekolah diantaranya 827 Sekolah Dasar (SD), 337 Sekolah Menengah Pertama (SMP), 288 Sekolah Menengah Atas (SMA), dan 72 Perguruan Tinggi . Tabel 7 menunjukkan jumlah lembaga pendidikan yang ada di Kota Medan saat ini dari tingkat SD sampai pada tingkat perguruan tinggi.

4.1.4. Tata Guna Lahan

Lahan di Kota Medan pada umumnya dimanfaatkan untuk pemukiman. Penggunaan lahan untuk kawasan terbangun seperti perumahan dan permukiman, perdangan dan jasa, perkantoran dan fasilitas umum lainnya hampir tersebar di


(54)

seluruh wilayah Kota Medan. Peta Guna Lahan Kota Medan memperlihatkan bahwa Guna Lahan Kota Medan terdiri dari 10 (sepuluh) jenis, yaitu perumahan dan kegiatan terkait, lahan industri, lahan jasa, lahan perusahaan, sawah, kebun campuran, hutan rawa, tegalan, dan lahan kosong diperuntukan.

4.1.5 Rasio Kepadatan Penduduk

Keadaan jumlah penduduk yang semakin meningkat di Kota Medan juga menyebabkan peningkatan rasio kepadatan penduduk. Hal ini dikarenakan luas wilayah Kota Medan tidak mengalami perubahan (tetap). Kepadatan penduduk Kota Medan sebanyak 7.913,0 jiwa/Km². Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk Kota Medan Tahun 2010 dapat dilihat pada Tabel 5 dan peta pada lampiran 19.

Tabel 5. Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk Kota Medan

No Indikator 2008 2009 2010

1 Luas Wilayah (Km² ) 265,10 265,10 265,10

2 Kepadatan Penduduk 7.929 8 8.001 7.913

Sumber : BPS – Medan Dalam Angka 2011

Kecenderungan semakin menyempitkan luas lahan berpeluang menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara daya dukung dan daya tampung lingkungan. Terjadi penurunan kepadatan penduduk dari tahun 2009 ke 2010 bisa disebabkan oleh kematian maupun migrasi.

4.2. Karakteristik Responden

Karakteristik responden dalam penelitian ini adalah (a) pengusaha bawang merah dan (b) pengupas bawang merah. Adapun karakteristik responden pengusaha bawang merah meliputi; umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama berusaha sedangkan karakteristik pengupas baang merah meliputi; umur, jenis


(55)

kelamin, tingkat pendidikan, lama bekerja. Karakteristik responden disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Distribusi Karakteristik Responden No Pengusaha Jumlah

(orang) (%) Pekerja

Jumlah

(orang) (%)

1 Umur Umur

33-41 tahun 9 30,0 35-42 tahun 7 23,3 42-50 tahun 13 43,3 43-50 tahun 17 56,7 51-57 tahun 8 26,7 51-56 tahun 6 20,0

Jumlah 30 100,0 Jumlah 30 100,0

2 Jenis Kelamin Jenis Kelamin

Laki-laki 8 26,7 Laki-laki 0 0,0

Perempuan 22 73,3 Perempuan 30 100,0

Jumlah 30 100,0 Jumlah 30 100,0

3 Pendidikan Pendidikan

SLTP 8 26,7 SD 2 6,7

SLTA 19 63,3 SLTP 18 60,0

D3/SLTA 3 10,0 SLTA 10 33,3

Jumlah 30 100,0 Jumlah 30 100,0

4 Lama Berusaha Lama Kerja

3-5 Tahun 18 60,0 3-5 Tahun 19 63,3 6-8 Tahun 11 36,7 6-8 Tahun 8 26,7 9-10 Tahun 1 3,3 9-10 Tahun 3 10,0

Jumlah 30 100,0 Jumlah 30 100,0

5 Jumlah Tanggungan Jumlah Tanggungan

1-2 Orang 10 33,3 2-3 Orang 11 36,7

3-4 Orang 17 56,7 4-5 Orang 16 53,3

5-6 Orang 3 10,0 6-7 Orang 3 10,0

Jumlah 30 100,0 Jumlah 30 100,0

Sumber: Data primer, diolah (Lampiran 1)

Umur seseorang dapat mencerminkan kemampuan dan kondisi seseorang secara fisik, begitu juga dengan pengusaha dan pengupas bawang merah yang dapat memengaruhi produktivitas kerjanya dalam beraktivitas sehari-hari. Berdasarkan Tabel 4.10 di atas diketahui bahwa umur terbanyak sebagai pengusaha bawang merah pada kelompok umur 42-50 tahun, yaitu sebanyak 13 orang (43,3%) selebihnya pada kelompok umur 33-41 tahun dan 51-57 tahun


(56)

45,93 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa umur pengusaha masih pada umur produktif.

Sedangkan sebagai pengupas bawang merah terbanyak pada kelompok umur 43-50 tahun, yaitu sebanyak 17 orang (56,7%) selebihnya pada kelompok 35-42 tahun dan 51-56 tahun masing-masing sebanyak 7 orang (23,3%) dan 6 orang (20,0%). Rata-rata umur 46,03 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa umur pekerja juga masih pada umur produktif.

Berdasarkan jenis kelamin diketahui pengusaha bawang merah terbanyak adalah perempuan, yaitu sebanyak 22 orang (73,3%) selebihnya laki-laki, yaitu sebanyak 8 orang (26,7%). Sedangkan sebagai pengupas bawang merah seluruhnya perempuan (100,0%). Hal ini memberikan gambaran tenaga kerja wanita yang selama ini bekerja sebagai ibu rumah tangga sudah mulai bergeser memasuki berbagai lapangan kerja. Menurut Sayogjo (1983) pesatnya pembangunan berkorelasi positif dengan peran wanita.

Berdasarkan lama berusaha diketahui sebagai lama berusaha pengusaha bawang merah terbanyak pada kelompok 3-5 tahun, yaitu sebanyak 18 (60,0%), selebihnya pada kelompok 6-8 tahun dan 9-10 tahun masing-masing sebanyak 11 orang (36,7%) dan 1 orang (3,3%). Rata-rata lama berusaha 7,6 tahun.

Sedangkan sebagai pengupas bawang merah lama kerja terbanyak adalah pada kelompok 3-5 tahun, yaitu sebanyak 19 (63,3%), selebihnya pada kelompok 6-8 tahun dan 9-10 tahun masing-masing sebanyak 8 orang (26,7%) dan 3 orang (10,0%). Rata-rata pengalaman kerja 5,43 tahun. Hal ini memberikan gambaran bahwa pengalaman kerja baik sebagai pengusaha maupun sebagai pengupas dapat


(57)

memahami wawasan tentang usaha atau pekerjaannya. Pengalaman kerja memengaruhi pengetahuan dan keterampilan tertentu.

Berdasarkan jumlah tanggungan pengusaha bawang merah kupaslebih banyak memiliki jumlah tanggungan 3-4 orang sebanyak 17 orang (56,7%) selebihnya jumlah tanggungan 1-2 orang dan 5-6 orang. Jumlah rata-rata tanggungan 3,2 orang. Sedangkan pekerja bawang merah kupas lebih banyak memiliki jumlah tanggungan 4-5 orang sebanyak 16 orang (53,3%) selebihnya 2-3 orang dan 6-7 orang. Jumlah rata-rata tanggungan 3,87 orang.


(58)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Ketersediaan Input Produksi

Input produksi pada usaha pengupasan bawang merah ini adalah bahan baku, tenaga kerja, peralatan, dan bahan penunjang . Hampir semua input produksi tersedia di pasar setempat. Bahan baku bawang merah lokal ketersediannya kadang-kadang terbatas, sehingga pengusaha mengimpor dari Brebes, Jawa Tengah.

a. Bahan Baku

Bahan baku merupakan suatu bagian yang sangat penting untuk kelangsungan bisnis usaha pengupasan bawang merah. Kekurangan bahan baku memberikan dampak buruk terhadap kelancaran usaha. Selain itu bahan baku juga harus tersedia setiap saat untuk menjamin kontinuitas usaha dan kepentingan pelanggan (konsumen).

Bahan baku dalam hal ini ada dua jenis, yaitu bahan baku utama dan bahan penunjang. Adapun yang menjadi bahan baku utama adalah bawang merah. Kebutuhan bahan baku dalam satu bulan adalah 5.000-20.000 Kg dalam satu kali produksi. Bahan baku berupa bawang merah lokal ketersediannya tergantung pola tanam. Pola produksi yang tidak teratur disebabkan oleh keadaan musim, ketersediaan air dan lahan untuk dikelola, tidak mempengaruhi permintaan yang terus ada sepanjang tahun dan relatif stabil kecuali pada hari-hari besar. Diasumsikan, bahwa ketersediaan yang ada adalah jumlah selisih impor-ekspor dan produksi.


(59)

Jumlah bawang merah cukup banyak dibandingkan dengan konsumsi dan kebutuhan konsumen. Dalam keadaan surplus disinyalir adanya kontinuitas pengiriman bawang merah impor secara tidak legal ke sentra produksi seperti Medan dan Brebes, walaupun data menunjukkan bahwa pada bulan-bulan tersebut tidak terjadi impor. Keadaan ini sangat mempengaruhi mekanisme pembentukan harga bawang merah di tingkat petani.

b. Tenaga Kerja

Input produksi berupa tenaga kerja pengupas bawang merah dan tenaga kerja lainnya yaitu, untuk angkat barang, bongkar muat, supir, pemasaran dan adminstrasi di daerah penelitian cukup tersedia. Tenaga kerja pengupas bawang merah berjumlah 119 orang, seluruhnya tenaga kerja perempuan dan tenaga kerja lainnya berjumlah 67 orang berasal dari masyarakat sekitar Kota Medan maupun dari luar Kota Medan.

Tenaga kerja pengupas bawang merah melakukan sortir bawang merah, digunting, ditampi sambil menyortir (memisahkan yang busuk) kemudian dimasukkan kembali ke dalam goni atau keranjang. Bawang merah yang telah disortir siap dilakukan pengupasan.

c. Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam usaha pengupasan bawang merah adalah sebagai berikut : (a) timbangan, (b) kipas angin, dan (c) kereta sorong. Sedangkan

bahan penunjang, yaitu (a) papan, (b) gunting, (c) pisau, (d) tampi, (e) keranjang/goni dan (f) plastik.

Hasil wawancara dengan responden baik pengusaha maupun pengupas bawang merah tidak menemukan kendala yang berarti dalam proses produksi


(60)

bawang merah kupas. Hanya bahan baku yang kadang-kadang kurang tersedia secara lokal (Samosir, Toba Samosir, Simalungun dan Haranggaol), namun hal ini dapat diatasi dengan cara impor secara lokal dan menunggu bahan baku datang dari luar kota bagi pengusaha dan pengupas bawang merah tentu menjadi kendala yang bersifat sementara.

Jadi hipotesis 1 yang menyatakan input produksi usaha bawang merah kupas cukup tersedia dapat diterima. Kendala tidak ditemukan secara berarti dalam memperoleh input produksi, sehingga tidak mengganggu proses pengupasan bawang merah secara menyeluruh.

5.2. Biaya Tata Niaga

Biaya tata niaga merupakan biaya yang dikeluarkan oleh pengusaha bawang merah selam satu bulan produksi. Biaya tersebut meliputi; biaya pembelian bawang merah sebagai bahan baku, biaya penyusutan aktiva, berupa bangunan, kenderaan, biaya lainnya (iuran wajib, tagihan listrik, air, telepon) dan biaya tenaga kerja. Biaya ini kemudian dikelompokkan kedalam biaya tetap dan biya variabel. Biaya tetap, yaitu merupakan biaya yang penggunannya tidak habis dalam satu masa produksi dan biaya variabel merupakan biaya yang habis dalam satu kali produksi.

a. Biaya Pembelian Bahan Baku

Bawang merah sebagai bahan baku untuk bawang kupas dibeli secara lokal jika tersedia seperti dari Samosir atau Haranggaol dan kota lainnya di wilayah pulau Sumatera, namun jika tidak tersedia secara lokal maka pengusaha mengimpor dari pulau Jawa (Brebes) dengan harga yang bervariasi. Biaya


(61)

Tabel 7. Biaya Pembelian Bahan Baku

No Jenis Jumlah (Kg) Harga (Rp) Jumlah (Rp) 1 Bawang Merah 5.000-20.000 21.500-22.000 7.278.000.000

Rata-rata 242.600.000

Sumber: Data primer, diolah (Lampiran 2)

Harga bawang merah kisaran Rp.21.500-Rp.22.000 dengan total biaya Rp. 7.278.000.000 dalam satu siklus produksi. Rata-rata biaya pembelian bahan baku selama satu bulan Rp.242.600.000 untuk 30 orang responden. Sebagian besar pengusaha bawang merah membeli bahan baku dengan modal sendiri dan sebagian lagi meminjam ke bank untuk mendukung ketersediaan bahan baku secara kontinue.

b. Biaya Bangunan

Biaya bangunan dalam hal ini merupakan kios dan gudang yang digunakan dalam beraktivitas usaha pengupasan dan berjualan bawang merah. Hal ini terbagi dalam dua kategori, yaitu kategori milik sendiri dan disewa. Biaya bangunan rata-rata didaerah sampel penelitian adalah sebesar Rp. 3.725.200.

c. Biaya Penyusutan Peralatan

Peralatan yang digunakan terakit dengan usaha pengupasan bawang merah adalah sebagai berikut : timbangan, kipas angin, kereta sorong. Biaya penyusutan peralatan dihitung menggunakan metode garis lurus, pada metode ini penyusutan dianggap sama besarnya untuk setiap bulan. Dengan cara membagikan harga beli peralatan sesuai dengan umur ekonomis kemudian dibagi dengan 12 bulan, sehingga diperoleh biaya penyusutan peralatan per bulan. Peralatan yang digunakan dalam usaha pengupasan bawang merah disajikan pada Tabel 8.


(1)

Lampiran 6. Penerimaan Pengusaha Bawang Merah Kupas

No Sampel

Bahan Baku

(Kg)

Penyusutan (Kg)

Produksi Bawang

Merah (Kg)

Harga Bawang

Merah Kupas (Kg)

Total Penerimaan

(Rp)

1 18.000 1.000 17.000 29.500 501.500.000 2 12.000 500 11.500 29.500 339.250.000

3 8.000 500 7.500 29.500 221.250.000

4 11.000 500 10.500 29.500 309.750.000

5 8.000 500 7.500 29.500 221.250.000

6 11.000 500 10.500 29.500 309.750.000

7 6.000 500 5.500 29.500 162.250.000

8 14.000 500 13.500 29.500 398.250.000

9 10.000 500 9.500 29.500 280.250.000

10 20.000 1.000 19.000 29.500 560.500.000 11 11.000 600 10.400 29.500 306.800.000

12 9.000 500 8.500 29.500 250.750.000

13 12.000 600 11.400 29.500 336.300.000

14 5.000 500 4.500 30.000 135.000.000

15 14.000 500 13.500 30.000 405.000.000 16 20.000 1.000 19.000 30.000 570.000.000

17 9.000 400 8.600 30.000 258.000.000

18 7.000 400 6.600 30.000 198.000.000

19 7.000 300 6.700 30.000 201.000.000

20 12.000 600 11.400 30.000 342.000.000

21 6.000 300 5.700 30.000 171.000.000

22 11.000 600 10.400 29.500 306.800.000 23 20.000 1.000 19.000 29.500 560.500.000 24 14.000 700 13.300 29.500 392.350.000

25 9.000 400 8.600 29.500 253.700.000

26 11.000 500 10.500 30.000 315.000.000 27 12.000 600 11.400 30.000 342.000.000

28 7.000 300 6.700 30.000 201.000.000

29 10.000 500 9.500 29.500 280.250.000 30 13.000 700 12.300 29.500 362.850.000


(2)

Lampiran 7. Pendapatan Pekerja

No Sampel

Produksi (Kg)

Jumlah Dikupas (kg/hari)

Jumlah Dikupas (kg/bulan)

Upah Kupas (Rp/kg)

Pendapatan (Rp/bulan)

1 17.000 100 2.600 400 1.040.000

2 11.500 100 2.600 350 910.000

3 7.500 85 2.210 400 884.000

4 10.500 100 2.600 350 910.000

5 7.500 90 2.340 350 819.000

6 10.500 100 2.600 400 1.040.000

7 5.500 90 2.340 400 936.000

8 13.500 100 2.600 400 1.040.000

9 9.500 90 2.340 400 936.000

10 19.000 110 2.860 350 1.001.000

11 10.400 100 2.600 400 1.040.000

12 8.500 90 2.340 300 702.000

13 11.400 100 2.600 400 1.040.000

14 4.500 80 2.080 400 832.000

15 13.500 100 2.600 400 1.040.000

16 19.000 105 2.730 350 955.500

17 8.600 90 2.340 400 936.000

18 6.600 95 2.470 400 988.000

19 6.700 80 2.080 400 832.000

20 11.400 100 2.600 400 1.040.000

21 5.700 90 2.340 400 936.000

22 10.400 100 2.600 400 1.040.000

23 19.000 110 2.860 375 1.072.500

24 13.300 95 2.470 400 988.000

25 8.600 75 1.950 400 780.000

26 10.500 100 2.600 350 910.000

27 11.400 100 2.600 400 1.040.000

28 6.700 70 1.820 400 728.000

29 9.500 90 2.340 400 936.000

30 12.300 85 2.210 400 884.000

Total 320.000 2820 73.320 11575 28.236.000 Rataan 10.667 94,0 2.444 385,8 941.200


(3)

Lampiran 8. Nilai tambah (Value added)

No Uraian (Rp)

1 Nilai produk hasil olahan 9.492.300.000 2 NBB :

Biaya Bahan Baku 7.278.000.000

Tenaga Kerja 95.504.500

3 NBP 20.400.750

Nilai tambah Per Bulan 2.098.394.750


(4)

Lampiran 9. Jumlah Tenaga Kerja yang Digunakan Per Bulan

No Total Tenaga Kerja (HOK)

TKDK TKLK Total

1 1,0 8,5 9,5

2 0,5 6,9 7,4

3 0,6 5,1 5,7

4 0,9 7,0 7,9

5 1,5 4,7 6,2

6 0,9 5,5 6,4

7 0,7 4,9 5,6

8 0,5 7,6 8,1

9 0,5 6,6 7,1

10 1,0 9,0 10,0

11 0,5 8,5 9,0

12 0,3 6,1 6,4

13 0,9 6,9 7,8

13 0,5 4,2 4,7

15 1,0 7,2 8,2

16 1,0 9,5 10,5

17 0,5 6,2 6,7

18 0,5 5,2 5,7

19 0,5 5,7 6,2

20 0,5 6,9 7,4

21 1,0 3,9 4,9

22 0,9 6,0 6,9

23 0,8 9,4 10,2

24 1,0 7,4 8,4

25 0,5 5,8 6,3

26 1,0 6,0 7,0

27 1,0 5,9 6,9

28 1,0 5,5 6,5

29 1,0 6,1 7,1

30 0,5 7,2 7,7

Total 22,9 195,4 218,3


(5)

Lampiran 10. Hasil Uji Regresi Pendapatan Pengusaha Bawang Merah Kupas

Regression

Variables Entered/Removedb

Jumlah Produksi, Harga Jual, Harga beli, Jumlah tenaga kerja Pengupas, Jumlah bahan bakua

. Enter Model

1

Variables Entered

Variables

Removed Method

All requested variables entered. a.

Dependent Variable: Pendapatan b.

Model Summary

,997a ,994 ,993 2400421,14

Model 1

R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate Predictors: (Constant), Jumlah Produksi, Harga Jual, Harga beli, Jumlah tenaga kerja Pengupas, Jumlah bahan baku

a.

ANOVAb

24053986923237400,00 5 4810797384647480,00 834,91 ,000a 138288519056360,60 24 5762021627348,36

24192275442293760,00 29 Regression

Residual Total Model 1

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Predictors: (Constant), Jumlah Produksi, Harga Jual, Harga beli, Jumlah tenaga kerja Pengupas, Jumlah bahan baku

a.

Dependent Variable: Pendapatan b.

Coefficientsa

-201222866,1 72595680,97 -2,772 ,011

(Constant) Model

1

B Std. Error

Unstandardized Coefficients

Beta Standardized

Coefficients


(6)

Regression

Va riables Ente red/Rem ovedb

Jumlah

Produk sia , Enter

Model 1

Variables Entered

Variables

Removed Method

All request ed variables entered. a.

Dependent Variable: pendapatan pengupas b.

Model Summary

,553a ,305 ,281 84859,61

Model 1

R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate Predictors: (Constant), Jumlah Produksi

a.

ANOVAb

88659025486,25 1 88659025486,25 12,312 ,002a

201632274513,75 28 7201152661,21

290291300000,00 29

Regres sion Residual Total Model 1

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Predictors: (Constant), Jumlah Produksi a.

Dependent Variable: pendapatan pengupas b.

Coefficientsa

791486,34 45393,673 17,436 ,000

14,04 4,000 ,553 3,509 ,002

(Constant) Jumlah Produksi Model

1

B Std. Error Unstandardized

Coefficients

Beta Standardi

zed Coefficien

ts

t Sig.

Dependent Variable: pendapatan pengupas a.