Pengaruh Pengetahuan, Pengalaman, Kebutuhan dan Harapan Terhadap Persepsi Tokoh Masyarakat Aceh Tentang Rumoh Aceh Sebagai Kearifan lokal dalam Menghadapi Bencana Gempa dan Tsunami Di Kota Banda Aceh

PENGARUH PENGETAHUAN, PENGALAMAN, KEBUTUHAN DAN
HARAPAN TERHADAP PERSEPSI TOKOH MASYARAKAT
ACEH TENTANG RUMOH ACEH SEBAGAI KEARIFAN
LOKAL DALAM MENGHADAPI BENCANA GEMPA DAN
TSUNAMI DI KOTA BANDA ACEH

TESIS

Oleh

CUT ELFIZAHARA
097032085/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

EFFECT OF KNOWLEDGE, EXPERIENCES, NEEDS AND EXPECTATIONS
OF COMMUNITY LEADERS PERCEPTION OF FIGUREABOUT RUMOH
ACEH WISDOM LOCAL AS DEALING IN EARTHQUAKE AND
TSUNAMI DISASTER CITY IN BANDA ACEH

THESIS

By

CUT ELFIZAHARA
097032085/IKM

S2 SCIENCE STUDY PROGRAM PUBLIC HEALTH
FACULTY OF PUBLIC HEALTH UNIVERSITY
OF NORTH SUMATRA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PENGARUH PENGETAHUAN, PENGALAMAN, KEBUTUHAN DAN
HARAPAN TERHADAP PERSEPSI TOKOH MASYARAKAT ACEH
TENTANG RUMOH ACEH SEBAGAI KEARIFAN LOKAL DALAM
MENGHADAPI BENCANA GEMPA DAN TSUNAMI DI KOTA
BANDA ACEH

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes)
dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi Manajemen Kesehatan Bencana
pada Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara

Oleh
CUT ELFIZAHARA
097032085/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

: PENGARUH PENGETAHUAN, PENGALAMAN,
KEBUTUHAN DAN HARAPAN TERHADAP
PERSEPSI TOKOH MASYARAKAT ACEH
TENTANG RUMOH ACEH SEBAGAI
KEARIFAN LOKAL DALAM MENGHADAPI
BENCANA GEMPA DAN TSUNAMI DI KOTA
BANDA ACEH
Nama Mahasiswa
: Cut Elfizahara
Nomor Induk Mahasiswa : 097032085
Program Studi
: S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi
: Manajemen Kesehatan Bencana

Menyetujui
Komisi Pembimbing

(Prof.Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si)
Ketua

Ketua Program Studi

(Prof.Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si)

( Drs. Tukiman, M.K.M)
Anggota

Dekan

(Dr.Drs. Surya Utama, M.Si)

Tanggal Lulus :

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji
Pada Tanggal :

PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua
Anggota

: Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si
: 1. Drs. Tukiman, M.K.M
2. Dr. Fikarwin Zuska
3. Suherman, S.K.M, M.Si

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN

PENGARUH PENGETAHUAN, PENGALAMAN, KEBUTUHAN DAN
HARAPAN TERHADAP PERSEPSI TOKOH MASYARAKAT ACEH
TENTANG RUMOH ACEH SEBAGAI KEARIFAN LOKAL DALAM
MENGHADAPI BENCANA GEMPA DAN TSUNAMI DI KOTA
BANDA ACEH

TESIS

Dengan ini Saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah
diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini
dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan,

September 2011

CUT ELFIZAHARA
097032085/IKM

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Banda Aceh merupakan suatu daerah yang rawan terhadap gempa dan
tsunami karena terletak pada lempengan patahan pulau Sumatera dan sebahagian
besar wilayahnya berupa pesisir pantai. Rumoh Aceh merupakan rumah khas Aceh
sebagai kearifan lokal dalam menghadapi bencana terutama bencana gempa dan
tsunami.
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh pengetahuan, pengalaman,
kebutuhan dan harapan terhadap persepsi Tokoh Masyarakat Aceh tentang rumoh
Aceh sebagai kearifan lokal dalam menghadapi bencana gempa dan tsunami. Jenis
penelitian ini adalah survei eksplanatori. Populasi adalah Tokoh Masyarakat Adat
(tuha peut) setiap desa yang ada di Kota Banda Aceh yang berjumlah 90 orang yang
tersebar di 9 kecamatan. Data diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner
dan dianalisis dengan regresi linier berganda pada α = 0.05.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik variabel pengetahuan,
pengalaman, dan harapan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap persepsi
Tokoh Masyarakat Aceh tentang rumoh Aceh sebagai kearifan lokal dalam
menghadapi bencana gempa dan tsunami. Variabel yang paling berpengaruh terhadap
persepsi hanya kebutuhan (β = 5,4I).
Majelis Pemangku Adat disarankan agar dapat mensosialisasikan kembali
kepada Tokoh Masyarakat Aceh untuk meningkatkan parsepsi Tokoh Masyarakat
mengenai manfaat dan fungsi rumoh Aceh dan bagi peneliti selanjutnya agar dapat
meneliti bagaimana persepsi masyarakat tentng rumoh Aceh.
Kata Kunci : Pengetahuan, Pengalaman, Kebutuhan, Harapan, Persepsi.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Banda Aceh is an area which is vulnerable to earthquake and tsunami
because it is located on the plate and fault of Sumatera Island and most of its area
lies along the coast. Rumoh Aceh is a specific Aceh traditional house functions as a
local wisdom in facing disaster especially the earthquake and tsunami.
The purpose of this explanatory survey study was to analyze the influence of
knowledge, experience, need and expectation on the perception of Aceh community
prominent figure about Rumoh Aceh as a local wisdom in facing earthquake and
tsunami disaster. The population of this study were 90 Aceh community adat
prominent figures (tuha peut) in each urban village spread in 9 sub-districts in the
city of Banda Aceh. The data for this study were obtained through questionnairebased interviewed and analyzed through multiple linear regression tests at α = 0.05.
The result of this study showed that statistically the variables of knowledge,
experience, and expectation did not have significant influence on the perception of
Aceh community prominent figure about Rumoh Aceh as a local wisdom in facing
earthquake and tsunami disaster. The variable of need was the most influencing
variable on the perception (β = 5.41).
The Municipal Government of Banda Aceh especially the Adat Council is
suggested to cooperate with Banda Aceh Public Work Service and the Banda Aceh
Legislative Assembly to design the concept of Rumoh that can anticipate the disaster.
The Aceh community prominent figure is expected to be able to socialize it to the
society.
Keywords: Knowledge, Experience, Need, Expectation, Perception

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas nikmat dan rahmat
serta pertolonganNya sehingga Penulis dapat menyelesaikan
penyusunan tesis ini dengan

judul

”Pengaruh

Kebutuhan dan Harapan Terhadap Persepsi

penelitian

dan

Pengetahuan, Pengalaman,
Tokoh

Masyarakat

Aceh

Tentang Rumoh Aceh Sebagai Kearifan lokal dalam Menghadapi Bencana
Gempa dan Tsunami Di Kota Banda Aceh”.
Penulisan tesis ini merupakan

salah satu persyaratan akademik untuk

menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat
Studi Manajemen Kesehatan Bencana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Sumatera Utara.
Penulis dalam menyusun tesis ini mendapat bantuan, dorongan dan bimbingan
dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini Penulis mengucapkan terima
kasih dan peghargaan kepada:
1.

Rektor Universitas Sumatera Utara, Yaitu Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu,
DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K).

2.

Dr. Drs. Surya Utama, M.S. Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Sumatera Utara.

3.

Prof. Dr. Dra Ida Yustina, M,Si. Selaku Ketua Program Studi S2 Ilmu
Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera
Utara, yang sekaligus selaku pembimbing yang telah

banyak meluagkan

Universitas Sumatera Utara

waktu, tenaga dan pikiran daam memberikan bimbingan dan arahan serta
dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.
4.

Dr. Ir. Evawani Aritonang, M.Kes. selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu
Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera
Utara.

5.

Drs, Tukiman, M.K.M. selaku anggota komisi pembimbing yang dengan penuh
perhatian dan kesabaran membimbing, mengarahkan dan meluangkan waktu
untuk membimbing penulis mulai dari proposal hingga penulisan tesis selesai.

6.

Dr. Fikarwin Zuska dan Suherman, S.K.M, M.Si. Selaku penguji tesis yang
dengan penuh perhatian dan kesabaran membimbing penulis mulai dari
proposal hingga penulisan tesis selesai.

7.

Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Aceh serta jajarannya yang telah berkenan
memberikan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan dan
sekaligus memberikan izin belajar pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan
Mayarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

8.

Para dosen dan staf di lingkungan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan
Masyarakat minat studi Manajemen Kesehatan Bencana Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

9.

Ucapan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada Ayahanda T. Nyak Umar
Ismail (Alm) dan Ibunda Hj. Cut Keumala Sari, Bapak Mertua T.M. Gade, dan

Universitas Sumatera Utara

Ibu Mertua Hj. Cut Kardan, atas segala jasa dan do’anya sehingga penulis
selalu mendapatkan pendidikan terbaik.
10.

Teristimewa buat Suami tercinta H.Teuku Amiruddin, ST., serta anak-anakku
tercinta: Teuku Ade Fathullah Rachman, Teuku Ade Farhan Ramadhanna, dan
Pocut Afra Azuchra. Kakak dan Adik-adik tersayang, teman-teman serta semua
pihak

yang telah memberikan do’a, motivasi dan dukungan agar bisa

menyelesaikan pendidikan ini tepat waktu.
Penulis menyadari atas segala keterbatasan dalam penulisan tesis ini yang
masih banyak terdapat kekurangan, untuk itu kritikan dan saran yang sifatnya
membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini dengan harapan
semoga tesisi ini dapat bermamfaat bagi pengambil kebijakan, dan pengembangan
ilmu pengetahuan bagi peneliti selanjutnya.

Medan, September 2011
Wassalam
Penulis

Cut Elfizahara
097032085/IKM

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

Cut Elfizahara, lahir pada tanggal 05 Maret 1973 di Bireuen, agama Islam,
anak ketiga dari lima bersaudara dari pasangan Ayahanda T. Nyak Umar Ismail
(Alm), dan Ibunda Hj, Cut Keumala Sari.
Pendidikan formal penulis, dimulai dari pendidikan sekolah dasar di Sekolah
Dasar Negeri No 2 Bireuen, selesai tahun 1985, Sekolah Menengah Pertama di SMP
Negeri 1 Bireuen, selesai tahun 1988, Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1
Bireuen, selesai tahun 1991, tahun 1992 melanjutkan pendidikan di Akademi
Keperawatan Pemda Lhok Seumawe, tamat tahun 1995, tahun 1998 melanjutkan
pendidikan di Diploma IV Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera
Utara, tamat tahun 1999.
Mulai bekerja sebagai tenaga pendidik di Akademi Keperawatan Dep. Kes RI
Banda Aceh tahun 2000, Pegawai Dinas Kesehatan Provinsi Aceh (UPTD Balai
Pendidikan Tenaga Kesehatan) sejak tahun 2001 sampai sekarang.
Penulis mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan
Masyarakat Minat Studi Manajemen Kesehatan Bencana, Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara sejak tahun 2009 hingga saat ini.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman
PERSETUJUAN PROPOSAL ……………………………………………...
DAFTAR ISI
................................................................................................
DAFTAR TABEL …………………………………………………………...
DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………..
DAFTAR LAMPIRAN .....................................................................................

i
ii
iii
vi
v

BAB 1.

PENDAHULUAN ...........................................................................
1.1. Latar Belakang ..........................................................................
1.2. Permasalahan ............................................................................
1.3. Tujuan Penelitian .......................................................................
1.4. Hipotesis ...................................................................................
1.5. Manfaat Penelitian ....................................................................

1
1
9
9
10
10

BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA .................................................................
2.1. Bencana
2.1.1.Pengertian Bencana ..........................................................
2.1.2.Pembagian Bencana dan Faktor-faktor Terjadinya Bencana
2.1.3.Bencana Gempa dan Tsunami di Aceh.............................
2.1.4.Pemahaman Masyarakat Tentang Bencana .....................
2.2. Kearifan Lokal ........................................................................
2.2.1. Kepercayaan Tradisional ................................................
2.2.2. Berguru Kepada Alam ....................................................
2.3. Konsep Dasar Rumah ...............................................................
2.3.1. Definisi Rumah ..............................................................
2.3.2. Rumoh Aceh Sebagai Kearifan Lokal ............................
2.4. Persepsi .............. ......................................................................
2.4.1. Pengertian ........................................................................
2.4.2. Faktor-faktor Pembentuk Persepsi ..................................
2.4.3. Pengatahuan ....................................................................
2.4.4. Pengalaman .....................................................................
2.4.5. Kebutuhan ........................................................................
2.4.6. Harapan ............................................................................
2.5. Landasan Teori ..........................................................................
2.6. Kerangka Konsep .....................................................................

11
11
13
14
18
19
19
21
23
23
26
27
27
28
30
32
32
35
36
37

Universitas Sumatera Utara

BAB 3.

METODE PENELITIAN ..............................................................
3.1. Jenis Penelitian .........................................................................
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ....................................................
3.2.1. Lokasi Penelitian .............................................................
3.2.2. Waktu Penelitian ............................................................
3.3. Populasi dan Sampel ................................................................
3.3.1. Populasi ..........................................................................
3.3.2. Sampel ...........................................................................
3.4. Metode Pengumpulan Data ......................................................
3.4.1. Data Primer .....................................................................
3.4.2. Data Skunder ..................................................................
3.4.3. Uji Validitas dan Reliabilitas ..........................................
3.5. Variabel dan Definisi Operasional ...........................................
3.5.1. Variabel Independen ...................................................
3.5.2. Variabel Dependen ........................................................
3.6. Metode Pengukuran ..................................................................
3.7. Metode Analisa Data ................................................................

38
38
38
38
39
39
39
39
40
40
41
41
44
44
47
48
49

BAB 4.

HASIL PENELITIAN ...................................................................
4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ......................................................
4.2. Deskripsi Variabel …………………………………………...
4.2.1. Karakteristik Responden ............................................
4.2.2. Pengetahuan .................................................................
4.2.3. Pengalaman ....................................................................
4.2.4. Kebutuhan .......................................................................
4.2.5. Harapan ...........................................................................
4.2.6. Persepsi Tokoh Masyarakat Aceh (Tuha Peut) …………
4.3. Analisa Bivariat .........................................................................
4.4. Analisa Multivariat ...................................................................

50
50
53
53
59
61
62
64
66
68
69

BAB 5.

PEMBAHASAN ............................................................................
5.1. Pengaruh pengetahuan terhadap persepsi tokoh masyarakat Aceh
tentang rumoh Aceh sebagai kearifan lokal dalam menghadapi
bencana gempa dan tsunami di Kota Banda Aceh ......................
5.2. Pengaruh pengalaman terhadap persepsi tokoh masyarakat Aceh
tentang rumoh Aceh sebagai kearifan lokal dalam menghadapi
bencana gempa dan tsunami di Kota BandaAceh .......................
5.3. Pengaruh kebutuhan terhadap persepsi tokoh masyarakat Aceh
tentang rumoh Aceh sebagai kearifan lokal dalam menghadapi
bencana gempa dan tsunami di Kota BandaAceh .....................
5.4. Pengaruh harapan terhadap persepsi tokoh masyarakat Aceh
tentang rumoh Aceh sebagai kearifan lokal dalam menghadapi

73

73

74

76

Universitas Sumatera Utara

bencana gempa dan tsunami di Kota BandaAceh .....................
5.6. Keterbatasan penelitian ............................................................

79
82

KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................
6.1. Kesimpulan ..............................................................................
6.2. Saran …………... …………………………………………...

83
83
84

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................

85

LAMPIRAN .......................................................................................................

88

BAB 6.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
No

Judul

Halaman

3.1. Distribusi Sampel Berdasarkan Jumlah Desa .........................................

40

3.2. Validitas dan Reliabilitas Variabel Pengetahuan .....................................

42

3.3.Validitas dan Reliabilitas Variabel Pengalaman ........................................

42

3.4. Validitas dan Reliabilitas Variabel Kebutuhan .........................................

43

3.5.Validitas dan Reliabilitas Variabel Harapan ..............................................

43

3.6. Validitas dan Reliabilitas Variabel Persepsi ............................................

44

4.1. Distribusi Responden Berdasarkan Kecamatan .......................................

54

4.2.Distribusi Responden Berdasarkan Umur ................................................

55

4.3.Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ................................

56

4.4.Distribusi Responden Berdasarkan Jarak Rumah ..................................

56

4.5Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Rumah ....................................

57

4.6. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan ......................................

58

4.7.Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan .......................................

58

4.8.Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan .......................................

59

4.9.Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan ....................................

60

4.10.Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Pengetahuan

.................

61

4.11.Distribusi Responden Berdasarkan Pengalaman ...................................

62

4.12.Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Pengalaman

..................

62

4.13.Distribusi Responden Berdasarkan Kebutuhan .....................................

63

Universitas Sumatera Utara

4.14.Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Kebutuhan

....................

64

4.15.Distribusi Responden Berdasarkan Harapan .........................................

65

4.16.Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Harapan

........................

66

4.17.Distribusi Responden Berdasarkan Persepsi ..........................................

67

4.18.Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Persepsi

........................

68

4.18.Hasil Analisis Bivariat Antara Variabel Independen dengan
Variabel Dependen ...............................................................................

69

4.19.Hasil Analisis Bivariat Antara Variabel Independen dengan
Variabel Dependen ...............................................................................

70

4.20.Hasil Uji Regresi Linear Berganda Pengaruh Kebutuhan dan
Harapan Terhadap Persepsi Tokoh Masyarakat Aceh ..........................

71

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
NO

Judul

Halaman

2.1

Kejadian Bencana …………………………………………………..

11

2.2

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi ………………………..

30

2.3

Theory of Reasoned Action and Theory of Planned Behavior ……..

37

2.4

Kerangka Konsep …………………………………………………..

37

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

No

Judul

1

Surat pernyataan kesediaan menjadi responden

2

Daftar Pertanyaan/ Kuesioner

3

Hasil Uji Statistik

Halaman
88
89
94

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Banda Aceh merupakan suatu daerah yang rawan terhadap gempa dan
tsunami karena terletak pada lempengan patahan pulau Sumatera dan sebahagian
besar wilayahnya berupa pesisir pantai. Rumoh Aceh merupakan rumah khas Aceh
sebagai kearifan lokal dalam menghadapi bencana terutama bencana gempa dan
tsunami.
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh pengetahuan, pengalaman,
kebutuhan dan harapan terhadap persepsi Tokoh Masyarakat Aceh tentang rumoh
Aceh sebagai kearifan lokal dalam menghadapi bencana gempa dan tsunami. Jenis
penelitian ini adalah survei eksplanatori. Populasi adalah Tokoh Masyarakat Adat
(tuha peut) setiap desa yang ada di Kota Banda Aceh yang berjumlah 90 orang yang
tersebar di 9 kecamatan. Data diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner
dan dianalisis dengan regresi linier berganda pada α = 0.05.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik variabel pengetahuan,
pengalaman, dan harapan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap persepsi
Tokoh Masyarakat Aceh tentang rumoh Aceh sebagai kearifan lokal dalam
menghadapi bencana gempa dan tsunami. Variabel yang paling berpengaruh terhadap
persepsi hanya kebutuhan (β = 5,4I).
Majelis Pemangku Adat disarankan agar dapat mensosialisasikan kembali
kepada Tokoh Masyarakat Aceh untuk meningkatkan parsepsi Tokoh Masyarakat
mengenai manfaat dan fungsi rumoh Aceh dan bagi peneliti selanjutnya agar dapat
meneliti bagaimana persepsi masyarakat tentng rumoh Aceh.
Kata Kunci : Pengetahuan, Pengalaman, Kebutuhan, Harapan, Persepsi.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Banda Aceh is an area which is vulnerable to earthquake and tsunami
because it is located on the plate and fault of Sumatera Island and most of its area
lies along the coast. Rumoh Aceh is a specific Aceh traditional house functions as a
local wisdom in facing disaster especially the earthquake and tsunami.
The purpose of this explanatory survey study was to analyze the influence of
knowledge, experience, need and expectation on the perception of Aceh community
prominent figure about Rumoh Aceh as a local wisdom in facing earthquake and
tsunami disaster. The population of this study were 90 Aceh community adat
prominent figures (tuha peut) in each urban village spread in 9 sub-districts in the
city of Banda Aceh. The data for this study were obtained through questionnairebased interviewed and analyzed through multiple linear regression tests at α = 0.05.
The result of this study showed that statistically the variables of knowledge,
experience, and expectation did not have significant influence on the perception of
Aceh community prominent figure about Rumoh Aceh as a local wisdom in facing
earthquake and tsunami disaster. The variable of need was the most influencing
variable on the perception (β = 5.41).
The Municipal Government of Banda Aceh especially the Adat Council is
suggested to cooperate with Banda Aceh Public Work Service and the Banda Aceh
Legislative Assembly to design the concept of Rumoh that can anticipate the disaster.
The Aceh community prominent figure is expected to be able to socialize it to the
society.
Keywords: Knowledge, Experience, Need, Expectation, Perception

Universitas Sumatera Utara

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Bencana

alam selama ini selalu dipandang sebagai forcemajore

yaitu

sesuatu hal yang berada di luar kontrol manusia, oleh karena itu, untuk
meminimalisir terjadinya korban akibat bencana diperlukan kesadaran dan kesiapan
masyarakat dalam menghadapi bencana. Kesadaran dan kesiapan menghadapi
bencana ini idealnya sudah dimiliki oleh masyarakat melalui kearifan lokal daerah
setempat, karena mengingat wilayah Indonesia merupakan daerah yang mempuyai
risiko terhadap bencana.
Secara geografis, geologis, hidrologis, dan sosio-demografis, Indonesia
merupakan wilayah yang mempunyai risiko terhadap bencana. Secara geografis
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng
tektonik yaitu lempeng Benua Asia dan Benua Australia serta lempeng Samudera
Hindia dan Samudera Pasifik. Terdapat 130 gunung merapi aktif dan terdapat lebih
dari 5.000 sungai besar dan kecil yang 30% di antaranya melewati kawasan padat
penduduk dan berpotensi terjadinya banjir, banjir bandang dan tanah longsor pada
musim hujan (Depkes RI, 2007).
Menurut Bakornas Penanggulangan Bencana (2008), risiko bencana adalah
interaksi antara tingkat kerentanan daerah dengan ancaman bahaya (hazards).

Universitas Sumatera Utara

Ancaman bahaya khususnya bahaya alam bersifat tetap karena bagian dari dinamika
proses alami pembangunan atau pembentukan roman muka bumi baik dari tenaga
internal maupun eksternal, sedangkan tingkat kerentanan (vulnerability) daerah dapat
dikurang dengan melakukan mitigasi (tindakan preventif), serta

kemampuan/

ketahanan dalam menghadapi ancaman (disaster resilience) tersebut semakin
meningkat sehingga dapat meminimalisir dampak akibat bencana.
Semakin tinggi ancaman bahaya, kerentanan dan ketidakmampuan, maka
semakin besar pula risiko bencana yang dihadapi. Berdasarkan potensi ancaman
bencana dan tingkat kerentanan yang ada, maka dapat diperkirakan risiko bencana
yang akan terjadi di wilayah Indonesia tergolong tinggi. Dengan mengetahui risiko
yang terjadi akibat bencana masyarakat dan bekerja sama dengan pemerintah
diharapkan dapat melakukan penanggulangan bencana (Bakornas Penanggulangan
Bencana, 2008).
Penanggulangan bencana (PB) sebagai rangkaian kegiatan baik sebelum
maupun saat dan sesudah terjadi bencana dilakukan untuk mencegah, mengurangi,
menghindari dan memulihkan diri dari dampak yang ditimbulkan oleh bencana.
Secara umum kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam penanggulangan bencana
adalah sebagai berikut: pencegahan, pengurangan dampak bahaya, kesiapsiagaan,
tanggap darurat, pemulihan (rehabilitasi dan rekonstruksi), dan pembangunan
berkelanjutan yang mengurangi risiko bencana (UNDP Indonesia, 2007).

Universitas Sumatera Utara

Beberapa kejadian besar bencana alam di Indonesia seperti, gempa bumi dan
tsunami yang melanda Provinsi Aceh dan sebagian Provinsi Sumatera Utara pada
akhir tahun 2004 tercatat telah menelan korban sangat besar yaitu 120.000 orang
meninggal, 93.088 orang hilang, 4.632 orang luka-luka. Gempa bumi Nias Sumatera
Utara yang terjadi pada awal tahun 2005 menelan korban 128 orang meninggal, 25
orang hilang dan 1.987 orang luka-luka (Depkes RI, 2007).
Gempa bumi DI Yogyakarta dan Jawa Tengah terjadi pada tanggal 27 Mei
2006 juga mengakibatkan 5.778 orang meninggal, 26.013 orang luka di rawat inap
dan 125.195 orang rawat jalan. Demikian juga gempa bumi dan tsunami yang terjadi
di pantai Selatan Jawa (Pangandaran, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Bandar, Cilacap,
Kebumen, Gunung Agung dan Tulang Agung) pada tanggal 17 Juli 2006 telah
menelan korban, meninggal dunia sebanyak 684 orang, korban hilang sebanyak 82
orang dan korban dirawat inap sebanyak 477 orang dari 11.021 orang yang luka-luka
(Depkes RI, 2007).
Bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara yang terjadi
pada tahun 2004 tergolong bencana dahsyat bahkan membawa dampak ke wilayah
yang lebih luas seperti Sri Langka. Beberapa penelitian yang dilakukan setelah
bencana, menyebutkan, banyaknya jumlah korban justru disebabkan para korban
tidak mempunyai pengetahuan tentang ancaman gempa dan tsunami (Ella dan
Usman, 2008).

Universitas Sumatera Utara

Gempa disebabkan oleh pelepasan yang dihasilkan oleh tekanan yang
dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama, tekanan semakin membesar
dan akhirnya mencapai pada keadaan di mana tekanan tersebut tidak dapat ditahan
oleh pinggiran lempengan, pada saat itulah gempa bumi terjadi (Ella dan Usman,
2008).
Secara umum terdapat tiga tipe patahan dalam gempa bumi yaitu patahan
normal, patahan balik dan patahan mendatar. Jika kekuatan gempa saling berlawanan
arah maka akan terjadi saling tarik menarik, sehingga menimbulkan patahan-patahan
normal yang saling menjauh dan terjadi bidang naik turun, namun jika kekuatan
gempa searah maka patahan akan terjadi tumbukan sehingga menimbulkan patahan
balik dan kedua bidang patahan akan naik-turun, sedangkan jika arah kekuatan gempa
bergeser ke kiri atau ke kanan maka patahan terjadi secara mendatar (Ella dan
Usman, 2008).
Gempa bumi yang terjadi di bawah laut mengakibatkan terjadinya gerakan
kerak bumi ke atas dan ke bawah dan kemudian menyebabkan dasar laut naik dan
turun secara tiba-tiba. Pergerakan naik dan turun dasar laut ini seterusnya
menggerakkan air laut, menciptakan pergerakan gelombang yang kuat dan ketika
gelombang ini sampai di pantai atau daratan, kecepatannya melambat dan tumbuh
menjadi tembok air yang tinggi (Ella dan Usman, 2008).
Ukuran gelombang tsunami agak rendah di laut yang dalam, gelombang
tampak seperti ombak biasa, tingginya hanya sekitar satu meter dan lewat tanpa

Universitas Sumatera Utara

disadari oleh nelayan. Namun ketika mencapai laut dangkal gelombang tsunami
tumbuh hingga tiga puluh meter. Gelombang tsunami dapat bergerak hingga 900
Km/jam, di laut yang dalam tapi ketika mencapai laut dangkal dekat daratan,
gelombang tersebut melambat. Pada kedalaman 15 meter kecepatannya bisa menjadi
sekitar 45 Km/jam, kecepatan ini masih terlalu sukar bagi orang-orang di pantai
untuk dapat lari menyelamatkan diri (Ella dan Usman, 2008).
Peramalan gempa bumi dan tsunami dari segi keilmuan adalah yang paling
sulit dilakukan dibandingkan dengan gunung meletus, tanah longsor dan banjir.
Dengan kajian geologi bencana ini bukanlah hal yang tidak dapat diramalkan namun
rentang waktu ketidaktentuan terjadinya mempunyai derajat ketidakpastian cukup
besar terhadap akurasi peramalannya (Ella dan Usman, 2008).
Saat terjadi gempa bumi 8,2 skala richter yang diikuti tsunami dahsyat yang
melanda Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 sehingga menimbulkan

banyak

korban harta dan benda bahkan nyawa masyarakat Aceh pada umumnya. Dalam
peristiwa tersebut disinyalir di antara rumah yang rusak berat termasuk di antaranya
rumah-rumah dan

bangunan-bangunan

megah yang terbuat dari beton-beton.

Ironisnya bangunan-bangunan yang terbuat dari kayu dan bambu masih tetap utuh
dan sama sekali tidak rusak (Aswar, 2010).
Menurut Winslow dalam Enjang (2000), rumah seharusnya dapat melindungi
penghuni agar terhindari dari bahaya/ kecelakaan dan di usahakan tidak mudah
ambruk. Secara psikologis penghuni rumah tersebut merasa nyaman untuk tinggal di

Universitas Sumatera Utara

rumah. Untuk itu di perlukan konstruksi rumah dan bahan bangunannya harus kuat
sehingga tidak mudah ambruk, terhindar dari kecelakaan seperti tertimpa bahan
bangunan apabila terjadi gempa.
Menurut Aswar (2009), masyarakat Aceh zaman dahulu, sudah mengetahui
daerahnya rawan terhadap gempa, oleh karena itu nenek moyang masyarakat Aceh
dengan arsitektur yang berguru kepada alam, dengan alam pikiran yang sederhana
mereka merancang bangunan yang tahan gempa. Rumah tersebut dinamakan dengan
rumoh Aceh. Rumoh Aceh agak berbeda dengan suku-suku lain, arsitektur rumoh ini
menyelaraskan pada susunan alam yang harmonis dan dinamis dan juga konsep
folosofi rumoh Aceh yang Islami dan suci sehingga rumoh Aceh berbentuk panggung
dan menghadap kiblat.
Bangunan tradisional rumoh Aceh tersebut terbuat dari kayu ataupun bambu
yang tidak akan mengalami kerusakan apabila diguncang oleh gempa karena sifat
kelenturan dari material bangunan tersebut terhadap guncangan gempa, selain itu
fondasi bangunan, ikatan tiang dan pasak pada kayu yang diatur sedemikian rupa
sehingga saling memperkuat bagian-bagian yang ada pada bangunan tersebut dan
membuat bangunan semakin lentur terhadap guncangan. Rumoh ini pun didirikan
dengan tidak menggunakan paku besi tetapi menggunakan paku yang terbuat dari
kayu (Aswar, 2009).
Rumoh

Aceh akan mengikuti tekanan gempa yang melandanya sehingga

bangunan tidak akan roboh dan rusak. Kelenturan ini merupakan pengaruh dari tiang-

Universitas Sumatera Utara

tiang rumoh yang dihubungkan dengan pasak dan tali ijuk yang diikat sampai ke atap
sehingga bangunan ini saling terkait antara komponen yang satu dengan yang lainnya,
Semakin digoyang gempa semakin berfungsi pasak terhadap posisi tiang yang miring
yang titik beratnya berada di tengah (Aswar, 2009).
Hasil survei yang penulis lakukan di lokasi Taman Ratu Safiatuddin Banda
Aceh sebagai tempat perayaan pekan kebudayaan Aceh dan di tempat tersebut
merupakan miniatur daerah Aceh dengan berbagai budaya Aceh juga bangunan
rumah yang merupakan bangunan dengan arsitektur rumoh Aceh. Pada saat
terjadinya goyangan gempa yang dahsyat apakah itu pada saat gempa pada tanggal
28 Maret 2005 atau gempa dahsyat yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004
dan gempa tersebut menimbulkan tsunami hingga ketinggian mencapai 4 meter,
rumoh

Aceh tetap berdiri dengan tegak.

Tiang-tiang pada rumoh

memberikan peluang pada air laut dan sampah-sampah

Aceh ini

untuk melewati rumoh

tersebut dan tidak terjadi tekanan yang hebat pada tiang-tiang sehingga rumoh tetap
dapat berdiri dengan kokoh. Rumoh

Aceh merupakan salah satu kearifan lokal

masyarakat Aceh yang dapat memenuhi fungsi rumah secara psikologis.
Kejadian yang serupa terjadi di Tasikmalaya Jawa Barat pada tanggal 2
September 2009, tidak satu pun rumah yang ada di kampong Naga yang rusak,
apalagi hancur. Padahal seluruh rumah di kampung tradisional masyarakat

asli

Sunda ini terbuat dari bambu, umur rumahpun rata-rata sudah puluhan tahun (Aswar,
2010).

Universitas Sumatera Utara

Bukan hanya itu, ratusan rumah buruh perkebunan teh di kabupaten Bandung
yang sebahagian besar terbuat dari bambu dan berdinding gedek juga tetap utuh
meski diguncang gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter yang berpusat di
Tasikmalaya. Sementara itu sekitar 8.800 rumah lain yang umumnya terbuat dari bata
rusak berat dan sekitar 9.300 rumah lainnya rusak ringan (Aswar, 2010).
Kejadian gempa bumi yang mengguncang Padang Pariaman Sumatera Barat,
akhir September 2009, kondisinya hampir sama dengan kejadian di Bandung dan di
Aceh. Bangunan-bangunan beton bertingkat, termasuk hotel dan rumah hancur
diguncang gempa dahsyat berkekuatan 7,6 Skala Richter, namun bangunan
tradisional rumah gadang yang sebagian besar terbuat dari kayu tetap utuh tidak
rubuh di guncang gempa. Rumah tradisional inilah yang merupakan kearifan lokal
yang harus dipertahankan untuk mengurangi dampak akibat bencana gempa tapi
sekarang ini secara tidak sadar telah diabaikan oleh masyarakat (Aswar, 2010).
Dampak dari mengabaikan kearifan lokal ini cukup fatal. Saat terjadi gempa
bumi di Sumatra Barat, September 2009 sekitar 200 orang tewas dan 500 bangunan
hancur, korban tewas umumnya karena tertimpa bangunan bata dan beton yang
runtuh (Aswar, 2010).
Kearifan lokal masyarakat Aceh membangun rumoh Aceh juga merupakan
salah satu faktor yang penting dalam meminimalisir kerugian yang terjadi akibat
bencana. Konstruksi bangunannya yang lentur dan materialnya yang ringan karena

Universitas Sumatera Utara

terbuat dari kayu dan bambu sehingga apabila tertimpa material tersebut tidak
menyebabkan kematian.
Sementara itu persepsi masyarakat Aceh sekarang ini apabila membangun
rumoh Aceh merasa ketinggalan zaman dan berlagak ingin

dikatakan moderen

sehingga bangunan rumah tinggal pun dibuat dari beton yang sudah terbukti
berbahaya dan akan roboh pada skala rata-rata. Masyarakat hanya memperhitungkan
aspek estetika tanpa memperhatikan aspek keamanan dengan pertimbangan bahwa
Aceh merupakan daerah yang rawan terjadinya gempa.
Menurut Rakhmat (2007), persepsi adalah pengalaman tentang objek,
peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi
dan menafsirkan pesan. Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli inderawi
(sensori stimuli). Persepsi ada hubungannya dengan sensasi. Sensasi adalah bagian
dari persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya
melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi dan memori.
Mengingat begitu kompleksnya masalah yang ditimbulkan oleh karena
persepsi masyarakat Aceh tentang Rumoh Aceh, peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul “Pengaruh Pengetahuan, Pengalaman Kebutuhan dan
Harapan Terhadap Persepsi Tokoh Masyarakat Aceh Tentang Rumoh Aceh Sebagai
Kearifan Lokal Dalam Menghadapi Bencana Gempa dan Tsunami Di Kota Banda
Aceh Tahun 2011.”

Universitas Sumatera Utara

1.2. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang penelitian, kita dapat menganalisis bagaimana
persepsi masyarakat Aceh yang berhubungan dengan pengalaman, pengetahuan,
kebutuhan dan harapan tentang rumoh

Aceh sebagai kearifan lokal dalam

menghadapi bencana gempa dan tsunami di Kota Banda Aceh tahun 2011.

1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pengetahuan,
pengalaman, kebutuhan, dan harapan terhadap persepsi tokoh masyarakat Aceh
tentang rumoh Aceh sebagai kearifan lokal dalam menghadapi bencana gempa di
Kota Banda Aceh Tahun 2011.

1.4 Hipotesis
Ada pengaruh pengetahuan, pengalaman, kebutuhan dan harapan terhadap
persepsi tokoh masyarakat Aceh tentang rumoh Aceh sebagai kearifan lokal dalam
menghadapi bencana gempa dan tsunami.

1.5

Manfaat Penelitian
1.5.1 Ilmu Pengetahuan
Secara teoritis, dapat bermanfaat untuk menambah khasanah ilmu
kesehatan masyarakat khususnya persepsi tentang pengendalian risiko
bencana.
1.5.2 Bagi Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Sebagai bahan pemikiran yang didasari pada teori dan analisis terhadap
kajian praktis dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam
membangun rumah yang berbasis mitigasi bencana
1.5.3 Pemerintah
Sebagai bahan masukan bagi pemerintah terkait dalam menyusun
program mitigasi bencana khususnya bidang yang mendasari pada
pengendalian risiko bencana.

Universitas Sumatera Utara

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Bencana
2.1.1 Pengertian Bencana
Menurut Bakornas PB (2007), bencana terjadi jika ada ancaman yang muncul
dengan kondisi kerentanan yang ada secara sederhana hubungan ancaman dan
kerentanan dapat digambarkan sebagai berikut.

Ancaman + Kerentanan = Bencana
Gambar 2.1 Kejadian Bencana
Ancaman adalah suatu kejadian atau peristiwa yang berpotensi menimbulkan
kerusakan, kehilangan

jiwa manusia, kerusakan lingkungan, dan menimbulkan

dampak suatu kondisi yang ditentukan oleh psikologis. Kerentanan adalah suatu
kondisi yang ditentukan oleh faktor-faktor atau proses-proses fisik, sosial, ekonomi
dan sosial budaya dan lingkungan yang mengakibatkan peningkatan kerawanan
masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana (Bakornas PB, 2007).
Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu
peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas
manusia. Kerugian yang terjadi dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan
sampai kematian yang disebabkan karena ketidakberdayaan manusia akibat kurang

Universitas Sumatera Utara

baiknya manajemen keadaan darurat. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada
kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka.
Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: “bencana muncul bila ancaman
bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan”. Dengan demikian, aktivitas alam yang
berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan
manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya,
pemakaian istilah “alam” juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya
bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian juga
tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam
bangunan individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang berpotensi
mengakhiri peradaban umat manusia (Tohari, 2008).
Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard)
serta memiliki kerentanan/ kerawanan (vulnerability) yang juga tinggi tidak akan
memberi dampak yang hebat/ luas jika manusia yang berada di sana memiliki
ketahanan terhadap bencana (disaster resilience). Konsep ketahanan bencana
merupakan evaluasi kemampuan sistem dan infrastruktur-infrastruktur untuk
mendeteksi, mencegah & menangani tantangan-tantangan serius yang hadir.
Meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang besar jika
diimbangi dengan ketahanan terhadap bencana yang cukup akan meminimalisir
dampak yang di timbulkan akibat bencana (Hilman, 2007).

Universitas Sumatera Utara

Bencana lingkungan yang melanda berbagai daerah di tanah air diperkirakan
akan terus meluas dan mengkhawatirkan apabila faktor pencegahan tidak menjadi
fokus penanganan. Secara geologis, klimatologis, dan geografis, wilayah Indonesia
tergolong rentan. Kajian geologis menunjukkan, batuan belum padat atau solid
mendominasi struktur batuan di Indonesia. Hujan di atas normal bertempo lama,
didukung kemiringan bukit, dan terbatasnya tutupan lahan menimbulkan gerakan
tanah (Tohari, 2008).
2.1.2 Pembagian Bencana dan Faktor-Faktor Terjadinya Bencana
Menurut Depkes RI (2007), bencana dapat dikelompokkan menjadi bencana
alam dan bencana non alam, yaitu bencana yang disebabkan oleh perbuatan manusia.
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan tingginya risiko bencana baik yang
disebabkan oleh faktor alam maupun non alam antara lain :
a)

Kondisi alam serta perbuatan manusia dapat menimbulkan bahaya bagi makluk
hidup,

yang

dapat

dikelompokkan

menjadi

bahaya

geologi,

bahaya

hidrometeorologi, bahaya biologi, bahaya teknologi dan penurunan kualitas
lingkungan.
b)

Kerentanan yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta elemen-elemen di
dalam suatu wilayah yang berisiko bencana.

c)

Kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di dalam masyarakat.
Dengan beragamnya faktor penyebab bencana serta luasnya ruang lingkup

dan dimensi bencana sesuai UU No 24 Tahun 2007, maka dibutuhkan keterlibatan

Universitas Sumatera Utara

beragam keahlian dalam upaya mengatasi dan pengurangan risiko bencana, mulai
dari keilmuan sosial menyangkut kelembagaan, organisasi, pemberdayaan keluarga
dan masyarakat, sampai di bidang teknik dan ahli dinamika model dan analisis
system ( Depkes RI, 2007).
2.1.3 Bencana Gempa dan Tsunami di Aceh
Istilah gempa bumi sesungguhnya bermacam-macam tergantung dari
penyebabnya, misalnya gempa vulkanik, gempa runtuhan, gempa imbasan dan gempa
buatan. Gempa vulkanik disebabkan oleh desakan magma ke permukaan, gempa
runtuhan banyak terjadi di pengunungan yang runtuh, gempa imbasan biasanya
terjadi di sekitar dam (penahan air) dikarenakan fluktuasi air dam (penahan air) dan
gempa buatan adalah gempa yang dibuat oleh manusia seperti ledakan nuklir atau
ledakan untuk mencari bahan mineral. Sedangkan gempa yang disebabkan oleh
tabrakan/ tumbukan antar lempeng. Skala gempa tektonik jauh lebih besar di
bandingkan dengan jenis gempa lainnya sehingga dampaknya lebih besar terhadap
bangunan (Ella dan Usman, 2008).
Teori tentang gempa dikatakan bahwa lapisan kulit bumi dengan ketebalan
100 Km mempunyai temperatur relatif jauh lebih rendah di bandingkan dengan
lapisan dalamnya (mantel dan inti bumi) sehingga terjadi aliran konveksi dimana
massa dengan temperatur tinggi mengalir kedaerah temperatur rendah atau
sebaliknya. Teori aliran konveksi ini sudah lama berkembang untuk menerangkan

Universitas Sumatera Utara

pergeseran lempeng tektonik yang menjadi penyebab utama terjadinya gempa bumi
tektonik atau lebih dikenal dengan gempa bumi (Ella dan Usman, 2008).
Teori yang terbaru menerangkan bahwa gempa tektonik berasal dari dekade
1960-an. Menurut teori ini kerak bumi terdiri dari 14 lempeng tektonik besar dan
puluhan lempeng kecil yang selalu bergerak. Lempengan ini terus bergerak karena
bagian dalam bumi bentuknya adalah cairan pekat. Cairan-cairan tersebut selalu
mengalir, walaupun rata-rata pergerakannya hanya beberapa sentimeter pertahun
(Ella dan Usman, 2008).
Menurut Ella dan Usman (2008), bentuk lempengan yang tidak rata sering
terjadi gesekan dalam pergerakan ini. Energi yang disebabkan oleh gesekan ini
sebagian besar lepas dalam bentuk panas ke dalam bumi dan sebagian kecil saja yang
terasa oleh kita sebagai goncangan atau di kenal sebagai energi seismik. Selain
terjadi pergeseran lempeng bisa juga terjadi perekahan di dalam lempeng itu sendiri.
Jika ada gaya yang bekerja cukup besar, maka lempeng kerak bumi akan retak dan
mengakibatkan goncangan. Goncangan tersebut akan menyebabkan timbulnya
patahan pada permukaan bumi.
Secara umum terdapat tiga tipe patahan, yaitu patahan normal, patahan balik
dan patahan mendatar. Jika kekuatan gempa saling berlawanan arah maka akan
terjadi saling tarik menarik sehingga menimbulkan patahan normal yang saling
menjauh dan terjadi bidang naik turun, namun jika kekuatan gempa searah maka akan
terjadi tumbukan sehingga menimbulkan patahan balik ada kedua bidang akan naik

Universitas Sumatera Utara

turun, sedangkan jika arah kekuatan gempa bergeser ke kiri atau ke kanan maka
patahan terjadi secara mendatar (Ella dan Usman, 2008).
Gempa bumi atau letusan gunung berapi yang terjadi di bawah laut
mengakibatkan terjadinya kerak bumi keatas dan kebawah dan kemudian
menyebabkan dasar laut naik dan turun secara tiba-tiba. Pergerakan naik dan turun
dasar laut ini seterusnya menggerakkan air laut, menciptakan pergerakan gelombang
yang kuat dan ketika gelombang ini sampai di pantai atau daratan, kecepatannya
melambat dan tumbuh menjadi tembok air yang tinggi (Ella dan Usman, 2008).
Menurut Ella dan Usman (2008), laut yang dalam ukuran gelombang tsunami
agak rendah, gelombang tampak seperti ombak biasa, tingginya hanya sekitar satu
meter dan lewat tanpa disadari oleh kebanyakan nelayan, namun ketika mencapai laut
dangkal gelombang tsunami tumbuh hingga tiga puluh meter. Dalam laut yang
gelombang tsunami dapat bergerak hingga 900 km/jam, tapi ketika mencapai laut
dangkal dekat daratan gelombang tersebut melambat. Pada kedalaman 15 meter
kecepatannya bisa menjadi 45 km/jam, kecepatan ini masih terlalu sukar bagi orangorang di pantai untuk dapat lari menyelamatkan diri.
Gelombang tersebut mendorong ke depan dengan berat lautan di belakangnya,
ketika itu rumah dan bangunan roboh, jalan hilang, kapal terlempar, jembatan putus,
manusia dan hewan terhempas dan tertarik ke laut serta semua yang tidak tertanam
kuat di dalam tanah akan tercabut oleh tsunami (Ella dan Usman, 2008).

Universitas Sumatera Utara

Gempa dengan 9.1 skala richter dan menyebabkan tsunami yang terjadi di
Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004 merupakan salah satu
bencana alam terbesar di dunia yang menimpa Indonesia. Setelah 45 menit terjadi
gempa, gelombang tsunami menyapu bersih pesisir pantai NAD sepanjang 800 km
hanya dalam beberapa menit. Gempa susulan yang terjadi pada tanggal 28 Maret
2005 menambah jumlah korban, termasuk di Nias, Simeulue dan Aceh Bagian
Selatan (LIPI- UNESCO/ISDR, 2006).
Berdasarkan laporan bersama BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi) dan
mitra internasional (Desember, 2005), dinyatakan bahwa bencana tersebut telah
menyebabkan 167.900 orang meninggal atau hilang, 500.000 orang kehilangan
rumah di Aceh, 13.500 orang kehilangan rumah di Nias. Laporan Media Center Aceh
menyebutkan bahwa bencana tersebut telah menyebabkan 192.000 orang mengungsi,
120.000 rumah rusak/hancur serta sebagian besar infrastruktur ekonomi dan sosial
juga rusak. Bagi semua korban yang tertimpa bencana, peristiwa tersebut telah
meninggalkan beragam trauma yang mendalam. Korban jiwa yang begitu besar
secara langsung mempengaruhi ketersediaan SDM di Aceh, maupun kemampuan
kelembagaan pemerintah dan non pemerintah untuk merekonstruksi, merehabilitasi
dan me-recovery wilayah yang rusak dan masyarakat yang tingkat ekonominya
rentan dan miskin (LIPI-UNESCO/ISDR, 2006).
Aceh dalam peta geologi termasuk wilayah yang rawan gempa, sehingga
gempa dalam berbagai skala sering terjadi. Data seratus tahun terakhir menunjukkan

Universitas Sumatera Utara

bahwa gempa yang menimbulkan bencana di Aceh terjadi pada tahun 1936 (9 orang
meninggal), 1983 (100 orang luka-luka), 2004 (menimbulkan tsunami dan kurang
lebih 230.000 orang meninggal). Hingga saat ini gempa skala kecil sering terjadi di
NAD (Badan Arsip NAD, 2005).
Dalam seratus tahun terakhir, tsunami terjadi di Aceh sebanyak 2 kali (tahun
1907 dan 2004). Korban jiwa pada tsunami tahun 1907 mencapai 400 orang,
sedangkan pada tahun 2004 mencapai kurang lebih 230.000 orang dengan kerusakan
yang sangat parah pada berbagai infrastruktur dasar (Badan Arsip NAD, 2005).
Secara teoritis, tsunami lebih mudah diprediksi dibandingkan dengan gempa.
Adanya tenggang waktu antara terjadinya gempa dan tibanya tsunami di pantai
memungkinkan untuk dapat menganalisa karakteristik gempa. Informasi tersebut
kemudian dapat segera disampaikan ke masyarakat sebelum gelombang tsunami
menerjang pantai. Ide inilah yang mendasari didirikannya pusat system peringatan
dini tsunami (Tsunami Warning System) dibeberapa Negara Pasifik (Hilman, 2007).
Persoalan di Indonesia adalah tenggang waktu tersebut hanya berkisar antara
10-50 menit saja, karena jarak antara pusat gempa dan garis pantai tidak lebih d

Dokumen yang terkait

Problematika Sertifikasi Hak Milik Atas Tanah Melalui Ajudikasi Pasca Bencana Tsunami Di Kota Banda Aceh

7 73 147

Pengaruh Pengetahuan, Sikap dan Pendidikan Kepala Keluarga terhadap Kesiapsiagaan Rumah Tangga dalam Menghadapi Resiko Bencana Tsunami di Desa Ulee Lheue Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh Tahun 2013

0 37 147

Pengaruh Pengetahuan, Pengalaman, Kebutuhan dan Harapan Terhadap Persepsi Tokoh Masyarakat Aceh Tentang Rumoh Aceh Sebagai Kearifan lokal dalam Menghadapi Bencana Gempa dan Tsunami Di Kota Banda Aceh

4 59 112

Pengaruh Pengetahuan, Sikap, dan Dukungan Anggota Keluarga terhadap Kesiapsiagaan Rumah Tangga dalam Menghadapi Bencana Gempa Bumi di Desa Deyah Raya Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh

9 75 214

Pengunaan Jenis Kayu Perumahan Bantuan Tsunami di Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam

2 24 62

Pengaruh Persepsi Dan Kompetensi Eksekutif Dan Legislatif Tentang Bencana Terhadap Perencanaan Anggaran Bencana Pada APBD Kota Banda Aceh

0 46 136

Pengaruh Faktor Predisposisi Dan Pendukung Terhadap Partisipasi Tokoh Masyarakat Dalam Mengurangi Risiko Bencana Alam Gempa Bumi Di Desa Lhoknga Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar

1 30 167

Pembangunan Rumah Untuk Masyarakat Korban Bencana Gempa & Tsunami Di Desa Suak Nie, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Maret 2005

0 24 8

Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam

0 24 67

Pengaruh Persepsi Masyarakat terhadap Pajak Penerangan Jalan di Kecamatan Baiturrahman Kota Banda Aceh

0 0 9

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2954 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 752 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 651 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 423 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 579 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 970 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 885 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 536 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 795 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 956 23