Potential of Beef Cattle Development in Sijunjung District of West Sumatra Province

POTENSI PENGEMBANGAN SAPI POTONG
DI KABUPATEN SIJUNJUNG PROPINSI SUMATERA BARAT

PONI HENDRA

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Potensi Pengembangan Sapi
Potong di Kabupaten Sijunjung Propinsi Sumatera Barat adalah karya saya
dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun
kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip
dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
tesis ini.

Bogor, April 2010

Poni Hendra
NIM A156080174

ABSTRACT

PONI HENDRA. Potential of Beef Cattle Development in Sijunjung District of
West Sumatra Province. Under direction of ATANG SUTANDI, DWI PUTRO
TEJO BASKORO and BAMBANG HENDRO TRISASONGKO.

Agricultural land in Sijunjung District that has not been optimally utilized could
be used for the development of beef cattle farm. The development should conform
land suitability as a reference to determine beef cattle development to achieve the
government's target of meat self-sufficiency in 2010. This study aims to foresee
the potential of land in Sijunjung District for development of beef cattle using a
combined 2006 Landsat images, LREP maps and other supporting data through,
financial analysis, and the desired rearing cattle the local community. The results
indicate that the potential lands for the development were about 120,063 ha or
38.35% of the existing land area, which consists of mixed garden (100,359 ha),
3,247 ha of abandoned land, 11,027 ha of paddy fields and 5,428 ha of bush.
Actualy, land carrying capacity is 55,518 Animal Unit, and the potential carrying
capacity is 134,722 Animal Unit. The results of the NPV analysis for all farming
schemes were positive, with B/C Ratio> 1, and the IRR> outweighed the
applicable interest rate. Assessment using AHP showed that the caging system
was preferable (0.650) than shepherd-based farming (0.350) with a value of
inconsistency about 0.05.
Keywords : Beef Cattle, Land Suitability, Carrying Capacity.

RINGKASAN
PONI HENDRA. Potensi Pengembangan Sapi Potong di Kabupaten Sijunjung
Propinsi Sumatera Barat. Dibimbing oleh ATANG SUTANDI, DWI PUTRO
TEJO BASKORO dan BAMBANG HENDRO TRISASONGKO.
Upaya mewujudkan Rencana Aksi Pemantapan Ketahanan Pangan 20052010 terhadap akselerasi peningkatan produksi pangan khususnya daging sapi
untuk pencapaian swasembada tahun 2010 adalah dengan pemanfaatan lahanlahan pertanian. Pemanfaatan lahan-lahan pertanian di luar Pulau Jawa merupakan
salah satu tindakan yang penting. Salah satu langkah strategis untuk mencapai
sasaran di atas adalah mengidentifikasi potensi lahan yang sesuai untuk
pengembangan komoditas sapi potong.
Potensi untuk pengembangan usaha peternakan sapi potong di Kabupaten
Sijunjung cukup menjanjikan, hal ini didukung oleh beberapa kelebihan antara
lain lahan usahatani yang luas, banyak lahan kosong yang belum termanfaatkan,
adanya pasar ternak regional dan lebih dari 70 % masyarakat mempunyai usaha
pokok di bidang pertanian yang menyumbang PDRB sebesar 26,73 % (Bappeda
Kabupaten Sijunjung, 2007). Usaha perkebunan kelapa sawit dan karet serta
memanfaatkan limbah pertanian tanaman pangan dapat diintegrasikan dengan
usaha ternak sapi potong yaitu sebagai penyedia pakan ternak. Potensi luas lahan
yang tersedia untuk pakan hijauan ternak (sekitar 69.464 Ha) dapat mencukupi
untuk 139.292 ekor/ST (Satuan Ternak). Populasi ternak sapi di Kabupaten
Sijunjung baru mencapai 16.205 ekor dan kerbau 18.460 ekor, dengan jumlah
Rumah Tangga Peternak (RTP) sapi potong berjumlah 3.957 KK dan RTP kerbau
berjumlah 2.797 KK, (DISNAKKAN 2008), sehingga diharapkan masih bisa
menampung tambahan sekitar 104.627 ekor lagi
Penelitian ini bertujuan : (1) mengidentifikasi areal lahan yang sesuai untuk
untuk pengembangan ternak sapi potong. (2) menghitung daya dukung dan indeks
daya dukung lahan yang sesuai bagi usaha peternakan sapi potong (3)
menganalisis skala usaha dan kelayakan finansial usaha ternak sapi potong. (4)
menentukan arahan dan prioritas arahan kawasan penyebaran dan pengembangan
sapi potong berdasarkan potensi sumber daya lahan dan sosial ekonomi.
Hasil klasifikasi dan interpretasi citra Landsat-TM7 tahun 2006, diperoleh
delapan jenis penutupan/penggunaan lahan yaitu hutan, kebun campuran, sawah,
pemukiman, semak, lahan terbuka serta pertambangan. Dari delapan jenis
penggunaan lahan tersebut, lahan-lahan yang merupakan prioritas untuk
pengembangan sapi potong adalah lahan-lahan yang berpotensi menghasilkan
sumber hijauan makanan ternak dan banyak digunakan untuk lahan pertanian
adalah kebun campuran (104.855 ha), sawah (11.108 ha), semak (5.980 ha) dan
lahan terbuka (3.391 ha). Sedangkan penggunaan lahan berupa pemukiman,
pertambangan dan sungai tidak di prioritaskan karena mempunyai sumber hijauan
makanan ternak yang sedikit dan mayoritas hutan adalah hutan lindung yang sulit
dikonversi menjadi lahan pertanian, maka penggunaan lahan-lahan tersebut tidak
dinilai.
Hasil penilaian kesesuaian lingkungan ekologis menunjukkan tidak ada
perbedaan kesesuaian lahan antara sapi yang dikandangkan dengan sapi yang
digembalakan. Hal ini disebabkan karena keterbatasan data temperatur di lokasi

penelitian sehingga temperatur dianggap sama (sesuai). Hasil Perhitungan, seluruh
lahan yang dinilai adalah sesuai (S) untuk lingkungan ekologis sapi potong yaitu
seluas 120.063 ha atau 38,35 %, dengan rincian pada kebun campuran seluas
100.359 ha, pada lahan terbuka 3.247 ha, pada sawah 11.027 ha dan pada semak
belukar seluas 5.428 ha. Sedangkan lahan yang tidak dinilai adalah seluas 187.746
ha atau 59,97 %.
Berdasarkan pengamatan lapangan dan data sekunder jenis tanaman hijauan
makanan ternak yang dominan dan berpotensi untuk dikembangkan di Kabupaten
Sijunjung, yaitu : rumput unggul seperti rumput gajah (Pennisetum purpereum),
rumput alam, leguminosa dan padi sawah (jerami padi sawah), sehingga tanaman
ini dijadikan pewakil untuk penilaian kesesuaian tanaman hijauan makanan
ternak. Hasil analisis menunjukkan kesesuaian lahan aktual tanaman padi sawah
adalah S3, S2 dan S1. Namun kesesuaian eksisting untuk padi pada lahan sawah
hanya 950 ha pada kelas S1, 2109 ha kelas S2 dan 6.709 ha pada kelas S3.
Kesesuaian lahan aktual rumput lapangan pada kelas S2 dengan luas 23.380 ha
(7,47 %), dan S3 seluas 28,38 ha (28,38 %). Hasil perhitungan pada keadaan
potensial, kelas S1seluas 18.103 ha (5,78 %), kelas S2 seluas 55.895 ha (17,85
%), kelas S3 terdapat 38.224 ha (12,21 %). Kesesuaian lahan aktual tanaman
rumput gajah terdapat pada kelas S3 dengan luas 113.315 ha (36,19 %).
Kesesuaian lahan potensial, pada kelas S2 76.218 ha (24,34 %) dan kelas S3
37.098 ha atau 11,85 %. Hasil analisis kesesuaian aktual tanaman leguminosa
hanya terdapat pada kelas S3 dengan luas 99.276 ha (31,71%). Perhitungan pada
kesesuaian lahan potensial kelas S2 dengan luas 63.759 ha (20,37 %) dan lahan
kelas S3 dengan luas 49.802 ha (15,91 %.
Analisis NPV yang dilakukan pada sistem pemeliharaan dengan
digembalakan, penggemukan skala kecil dan penggemukan skala sedang dengan
tingkat suku bunga pinjaman 6 % secara berurutan adalah Rp. 29.288.600, Rp.
32.458.700 dan Rp. 70.226.500 nilai tersebut merupakan pendapatan bersih nilai
saat kini yang diterima peternak selama delapan tahun, nilai B/C ratio adalah
sebesar 1,67, 1,12 dan 1,12, artinya perbandingan penerimaan yang diterima
peternak selama delapan tahun lebih besar dari biaya yang dikeluarkan untuk
memperolehnya. Nilai IRR sebesar 27,94 %, 54,96 % dan 53,44 % artinya
investasi yang ditanamkan pada usahaternak sapi potong pada sistem
pemeliharaan digembalakan adalah layak dan menguntungkan karena tingkat
pengembalian internalnya lebih besar dibandingkan tingkat dari tingkat suku
bunga yang berlaku.
Hasil analisis pada tingkat suku bunga pinjaman 17 % memiliki nilai NPV
sebesar Rp. 10.209.300 untuk pemeliharaan dikandangkan, Rp. 18.048.100 untuk
penggemukan skala kecil, dan untuk penggemukan skala sedang Rp. 38.911.900,
dengan nilai B/C ratio sebesar 1,28, 1,10 dan 1,10, sedangkan nilai IRR
didapatkan sebesar 28,04 %, 53,66 % dan 51,82. Hasil ini menunjukkan bahwa
investasi yang ditanamkan pada usahaternak sapi potong pada sistem
pemeliharaan digembalakan, penggemukan skala kecil dan menengah adalah
layak dan menguntungkan karena NPV nya bernilai positif, B/C Rationya lebih
dari satu dan tingkat pengembalian internalnya lebih besar dibandingkan tingkat
dari tingkat suku bunga yang berlaku.
Arahan pengembangan sapi potong dapat diarahkan melalui: 1). Pola
Diversifikasi pada kebun campuran seluas 93.884 ha, dengan total produksi BKC

61.454 ton/tahun sehingga dapat menampung ternak sejumlah 53.907 ST, dan
sawah seluas 10.844 ha dengan total produksi BKC 12.686 ton/tahun yang dapat
menampung ternak sejumlah 11.129 ST. 2). Pola Ekstensifikasi pada lahan semak
seluas 4.516 ha dengan produksi BKC 46.980 ton/tahun yang dapat menampung
ternak sejumlah 41.210 ST dan pada lahan terbuka dengan luas 2.978 ha dengan
produksi BKC 32.463 ton/tahun sehingga dapat menampung ternak sejumlah
28.476 ST.
Secara keseluruhan hasil analisis ini menghasilkan pemeliharaan sistem
kandang mendapatkan prioritas yang lebih penting yaitu sebesar 0,650 dan sistem
pemeliharaan digembalakan mendapatkan bobot 0,350 dengan nilai inkonsistensi
sebesar 0,05. Hal ini menunjukkan arahan kebijakan pengembangan sapi potong
untuk Kabupaten Sijunjung lebih diarahkan pada sistem dikandangkan, walaupun
dihitung secara analisis finansial sistem gembala lebih menguntungkan daripada
sistem kandang. Hasil analisis AHP dari seluruh stakeholders menunjukkan
bahwa kelayakan finansial hanya mendapatkan bobot 0,242 (24 % dari penilaian),
karena mereka lebih mengutamakan aspek karakteristik sosial budaya dengan
bobot 0,401 (40 % dari penilaian), dengan sub kriteria pengembangan
pemanfaatan teknologi tepat guna 0,717 dan kelembagaan masyarakat adat 0,283.
Kata kunci : sapi potong, kesesuaian lahan, kapasitas tampung

© Hak Cipta milik IPB, Tahun 2010
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tesis tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumber.
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan
karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu
masalah.
b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar Institut
Pertanian Bogor.
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya
tulis dalam bentuk apapun tanpa izin Institut Pertanian Bogor.

POTENSI PENGEMBANGAN SAPI POTONG
DI KABUPATEN SIJUNJUNG PROPINSI SUMATERA BARAT

PONI HENDRA

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010

Judul Tesis
Nama
NIM

: Potensi Pengembangan Sapi Potong di Kabupaten Sijunjung
Propinsi Sumatera Barat
: Poni Hendra
: A156080174

Disetujui
Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Atang Sutandi, MSi
Ketua

Dr. Ir. Dwi Putro Tejo Baskoro, MSc
Anggota

Ir. Bambang Hendro Trisasongko, MSi, MSc
Anggota

Diketahui
Ketua Program Studi
Ilmu Perencanaan Wilayah

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr

Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S

Tanggal Ujian : 26 Maret 2010

Tanggal Lulus : 29 April 2010

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Dr. Ir. Budi Nugroho, MSi

PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya
sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam
penelitian dilaksanakan sejak bulan Juli 2009 sampai dengan Desember 2009 ini
adalah Potensi Pengembangan Sapi Potong di Kabupaten Sijunjung Propinsi
Sumatera Barat.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Ir. Atang Sutandi, MS,
Bapak Dr. Ir. Dwi Putro Tejo Barkoro, MSc dan Bapak Ir. Bambang Hendro
Trisasongko, MSi, MSc selaku pembimbing serta Bapak Dr. Ir. Ernan Rustiadi,
M.Agr selaku Ketua Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah yang telah
memberikan pengarahan, bimbingan dan masukan kepada penulis. Bappenas atas
bantuan pembiayaan selama masa perkuliahan. Tidak lupa dihaturkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Ir. Yulizar, MP selaku Kepala Dinas
atas izin yang diberikan, serta rekan-rekan di Dinas Peternakan dan Perikanan
Kabupaten Sijunjung atas bantuan datanya. Staf di lingkungan program studi
perencanaan wilayah serta rekan-rekan PWL dan Departemen ITSL angkatan
2008 atas dukungan moril yang tidak ternilai selama ini. Bapak, ibu serta seluruh
keluarga atas segala bantuan dan doanya. Semoga Allah SWT membalasnya
dengan yang lebih baik.
Akhirnya, semoga karya ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis
dan semua civitas akademik dan pemerintah, sehingga mampu memperkaya
khasanah keilmuan bidang perencanaan wilayah di masa mendatang.

Bogor, April 2010

Poni Hendra

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kumanis Kabupaten Sijunjung pada tanggal 19
September 1981 dari pasangan Bapak By. Syahruddin Dt. Rangkayo Bungsu dan
Ibu Nursima, A.Ma Pd. Penulis merupakan anak keempat dari lima bersaudara.
Tahun 1999 penulis menyelesaikan Pendidikan pada SMA Negeri 1
Sijunjung dan tahun yang sama lulus seleksi Ujian Masuk Perguruan Tinggi
Negeri (UMPTN) Universitas Andalas. Penulis memilih Jurusan Produksi Ternak
pada Fakultas Peternakan UNAND di Padang dan lulus tahun 2004. Kesempatan
untuk melanjutkan pendidikan pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
diperoleh pada tahun 2008 dan diterima pada Program Studi Ilmu Perencanaan
Wilayah melalui beasiswa pendidikan dari Pusat Pembinaan, Pendidikan dan
Pelatihan Perencanaan (Pusbindiklatren) Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional (BAPPENAS).
Penulis diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil Daerah pada Dinas
Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sijunjung Propinsi Sumatera Barat pada
tahun 2005 dan ditempatkan sebagai staf Bidang Pengembangan dan
Perlindungan Peternakan sampai sekarang.

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL.. .....................................................................................

iii

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................

v

DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................

vi

1. PENDAHULUAN ................................................................................

1

1.1. Latar Belakang ... .............................................................................
1.2. Kerangka Pemikiran / Perumusan Masalah .....................................
1.3. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian .......................................
1.4. Batasan Penelitian ............................................................................

1
3
3
4

2. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................
2.1. Kawasan Penyebaran dan Pengembangan Ternak ...........................
2.2. Ternak Sapi Potong ..........................................................................
2.3. Hijauan Makanan Ternak Sapi Potong ............................................
2.4. Daya Dukung Lahan ........................................................................
2.5. Konsep Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis ..........
2.6. Hasil-hasil Penelitian Terdahulu ......................................................

6
6
7
8
8
10
11

3. METODE PENELITIAN .....................................................................
3.1. Lokasi Penelitian .............................................................................
3.2. Data………... ..... .. ...........................................................................
3.3. Metode Analisis dan Pengolahan Data ............................................
3.3.1. Identifikasi Penggunaan Lahan ..............................................
3.3.2. Analisis Kesesuaian Lahan.....................................................
3.3.3. Identifikasi Tingkat Ketersedian Hijauan Makanan Ternak ..
3.3.4. Analisis Finansial ...................................................................
3.3.5. Arahan Pengembangan Sapi Potong ......................................
3.3.6. Analitic Hierarchy Process .....................................................

14
14
14
16
16
17
18
21
23
24

4. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN ..................................
4.1. Fisik Wilayah ..... .............................................................................
4.1.1. Topografi dan Morfologi ........................................................
4.1.2. Drainase.... .............................................................................
4.1.3. Daerah Aliran Sungai (DAS) .................................................
4.2. Potensi Sumberdaya Alam ...............................................................
4.2.1. Penggunaan Lahan .................................................................
4.2.2. Litilogi, Geologi dan Jenis Tanah ..........................................
4.2.3. Klimatologi.............................................................................
4.2.4. Penduduk .. .............................................................................
4.2.5. Kondisi Umum Peternakan ....................................................
4.2.5. Ketersedian Pasar ...................................................................

28
28
28
29
29
30
30
31
32
33
35
36

i

5. HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................
5.1. Penutupan dan Penggunaan Lahan ..................................................
5.2. Kesesuaian Lingkungan Ekologis Sapi Potong................................
5.3. Kesesuaian Lahan Tanaman Hijauan Makanan Ternak ...................
5.3.1. Kesesuaian Lahan Tanaman Rumput Gajah ..........................
5.3.2. Kesesuaian Lahan Rumput Lapangan ....................................
5.3.3. Kesesuaian Lahan Padang Pengembalaan..............................
5.3.4. Kesuaian Lahan Tanaman Leguminosa .................................
5.3.5. Kesuaian Lahan Tanaman Padi Sawah (Oryza sativa) ..........
5.4. Ketersedian Hijauan Makanan Ternak .............................................
5.5. Analisis Finansial Usaha Sapi Potong .............................................
5.5.1. Ketersedian Modal .................................................................
5.5.2. Proyeksi Aliran Kas ...............................................................
5.5.3. Arus Penerimaan Sapi Potong ................................................
5.5.4. Arus Biaya Usaha Ternak Sapi Potong ..................................
5.5.5. Arus Pendapatan .....................................................................
5.5.6. Penilaian Kriteria Kelayakan Finansial ..................................
5.6. Arahan Pengembangan Sapi Potong ................................................
5.6.1. Arahan Lahan Pengembangan Sapi Potong ...........................
5.6.2. Arahan Sistem Pemeliharaan Ternak .....................................

38
38
41
42
44
45
48
54
57
61
63
64
65
66
66
66
67
69
69
72

6. KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................
6.1. Kesimpulan.......................................................................................
6.2. Saran.................................................................................................

76
76
76

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................
LAMPIRAN .................................................................................................

77
81

ii

DAFTAR TABEL
Halaman
1

Jenis data sekunder yang dipakai......................................................................

14

2

Jenis peta yang digunakan................................................................................

16

3

Kriteria penilaian lingkungan ekologis ternak sapi dikandangkan....................

17

4 Kriteria penilaian lingkungan ekologis ternak sapi gembala............................

18

5

Kriteria status daya dukung hijauan makanan ternak berdasarkan indeks
daya dukung...................................................................................................... 19

6

Karakterisasi pakan dari hijauan makanan ternak............................................

20

7

Karakterisasi potensi pakan hijauan dari setiap penggunaan lahan..................

20

8

Nilai satuan ternak (ST) ruminansia utama di Kabupaten Sijunjung tahun
2008..................................................................................................................
21

9

Matriks tujuan, analisis, peubah, data dan keluaran penelitian.......................

27

10 Kemiringan lereng Kabupaten Sijunjung.........................................................

28

11 Luas lahan Kabupaten Sijunjung menurut penggunaannya tahun 2008..........

30

12 Curah hujan di Kabupaten Sijunjung................................................................

33

13 Luas wilayah kecamatan, jumlah nagari, jumlah penduduk dan kepadatan
penduduk di Kabupaten Sijunjung............................................
34
14 Penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja menurut lapangan usaha
dan jenis kelamin tahun 2008........................................................................... 34
15 Populasi ternak ruminansia menurut kecamatan di Kabupaten Sijunjung........

36

16 Jenis penggunaan lahan di Kabupaten Sijunjung tahun 2006 berdasarkan
interpretasi citra Landsat ................................................................................

38

17 Kesesuaian lingkungan ekologis sapi potong..................................................

42

18 Kesesuaian lahan tanaman rumput gajah ..........................................…..........

44

19 Kesesuaian lahan rumput lapangan.................................................................

48

20 Kesesuaian lahan padang pengembalaan........................................................

51

21 Kesesuaian lahan tanaman leguminosa...........................................................

54

22 Kesesuaian lahan tanaman padi sawah (Oriza sativa)....................................

57

23 Produksi hijauan makan ternak per penggunaan lahan yang dinilai................

61

24 Status daya dukung hijauan makanan ternak pada kesesuaian lahan aktual
pada tahun 2008..............................................................................................

62

25 Status daya dukung hijauan makanan ternak pada kesesuaian lahan
potensial pada tahun 2008................................................................................

63

26 Asumsi-asumsi dalam usaha ternak sapi potong di Kabupaten Sijunjung.......

65
iii

27 Hasil analisis finansial pada tingkat suku bunga 6 %.......................................

67

28 Hasil analisis finansial pada tingkat suku bunga 12%........................…..........

68

29 Arahan lahan pengembangan sapi potong berdasarkan indeks daya
dukung..............................................................................................................

72

30 Matrik nilai AHP masing-masing stakeholders............................…................

74

iv

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1

Diagram alir kerangka pemikiran....................................................................

5

2

Peta lokasi penelitan Kabupaten Sijunjung..................................................... 15

3

Diagram alir penelitian.................................................................................... 26

4 Sebagian bentangan lahan di Kabupaten Sijunjung yang menyebabkan
keterbatasan pemanfaatan peternakan secara optimal.................................... 29
5

Suasana pasar ternak Palangki di Kecamatan IV Nagari................................ 37

6

Peta penggunaan lahan Kabupaten Sijunjung tahun 2006.............................. 39

7 Luasan lahan yang berpotensi untuk pengembangan ternak per kecamatan
di Kabupaten Sijunjung.................................................................................. 40
8 Peta kesesuaian lingkungan ekologis sapi kandang dan gembala di
Kabupaten Sijunjung....................................................................................... 43
9 Peta kesesuaian lahan aktual rumput gajah..................................................... 46
10 Peta kesesuaian lahan potensial rumput gajah................................................ 47
11 Peta kesesuaian lahan aktual rumput lapangan............................................... 49
12 Peta kesesuaian lahan potensial rumput lapangan..........................................

50

13 Peta kesesuaian lahan aktual padang pengembalaan....................................... 52
14 Peta kesesuaian lahan potensial padang pengembalaan.................................. 53
15 Peta kesesuaian lahan aktual leguminosa........................................................ 55
16 Peta kesesuaian lahan potensial leguminosa................................................... 56
17 Peta kesesuaian lahan aktual tanaman padi sawah.......................................... 59
18 Peta kesesuaian lahan potensial tanaman padi sawah..................................... 60
19 Peta arahan lahan pengembangan sapi potong................................................ 71
20 Hasil penilaian hirarki dari AHP...................................................................... 73

v

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1

Peta lereng Kabupaten Sijunjung............................................ ........................ 81

2

Peta curah hujan Kabupaten Sijunjung...........................................................

82

3

Peta bulan kering Kabupaten Sijunjung..........................................................

83

4

Foto pemeliharaan ternak sapi di Kabupaten Sijunjung.................................

84

5

Kriteria kesesuaian lahan untuk Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)....

85

6

Kriteria kesesuaian lahan untuk kelompok leguminosa..................................

86

7

Kriteria kesesuaian lahan untuk Rumput Lapangan.......................................

87

8

Kriteria kesesuaian lahan untuk tanaman Padi Sawah (Oryza sativa)............

88

9

Kriteria kesesuaian lahan untuk Padang Pengembalaan.................................

89

10

Analisis usaha ternak gembala pada bunga 6 %.............................................

90

11

Analisis usaha ternak gembala pada bunga 12 %...........................................

91

12

Analisis usaha ternak dikandangkan skala kecil pada bunga 6 %..................

92

13

Analisis usaha ternak dikandangkan skala kecil pada bunga 12 %................

93

14

Analisis usaha ternak dikandangkan skala sedang pada bunga 6 %...............

94

15

Analisis usaha ternak dikandangkan skala sedang pada bunga 12 %.............

95

vi

1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Upaya mewujudkan Rencana Aksi Pemantapan Ketahanan Pangan 20052010 terhadap akselerasi peningkatan produksi pangan khususnya daging sapi
untuk pencapaian swasembada tahun 2010 adalah dengan pemanfaatan lahanlahan pertanian. Pemanfaatan lahan-lahan pertanian di luar Pulau Jawa merupakan
salah satu tindakan yang penting. Salah satu langkah strategis untuk mencapai
sasaran di atas adalah mengidentIfikasi potensi lahan yang sesuai untuk
pengembangan komoditas sapi potong.
Gambaran neraca kebutuhan daging sapi di Indonesia pada tahun 2008
defisit sekitar 30 % dari kebutuhan nasional (sekitar 112,9 ribu ton atau setara
dengan 912 ribu ekor sapi hidup), merupakan salah satu indikator yang
menunjukkan bahwa prospek industri ternak sapi di Indonesia cukup menjanjikan.
Pernyataan tersebut cukup beralasan mengingat angka konsumsi per kapita yang
digunakan masih relatif rendah (di bawah 2 kg/kapita/tahun). Jika dalam 10 tahun
mendatang rata-rata konsumsi daging sapi dapat ditingkatkan mencapai 3
kg/kapita/tahun, maka kebutuhan ternak sapi potong akan akan lebih tinggi.
Potensi usaha peternakan sapi potong di Indonesia sangat besar bila dilihat
dari ketersedian pakan. Saat ini masih tersedia kawasan perkebunan yang relatif
kosong, dengan luas lebih dari 15 juta hektar. Lahan sawah dan tegalan yang
belum optimal dimanfaatkan untuk pengembangan ternak tercatat lebih dari 10
juta hektar (luas panen per tahun), serta lahan lain yang belum dimanfaatkan
secara optimal lebih dari puluhan juta hektar yang tersebar di pulau Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Setiap hektar kawasan perkebunan atau
pertanian, sedikitnya mampu menyediakan bahan pakan untuk 1-2 ekor sapi,
sepanjang tahun. Peternakan sapi rakyat diperkirakan menyumbang kurang lebih
70 % produk daging sapi nasional yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.
Produk tersebut dihasilkan dari sekitar 10,7 juta ekor sapi potong, 2,2 juta ekor
kerbau (yang juga dikenal masyarakat umum juga sebagai daging sapi) dan 0,3
juta sapi perah (DITJENNAK 2008).

2

Sistem integrasi tanaman ternak telah menjadi salah satu alternatif dalam
penyediaan pakan bagi ternak dengan menciptakan suatu simbiosis mutualisme
dan sistem ini dianggap sesuai dengan kondisi pertanian Indonesia (Davendra et
al, 2001). Kabupaten Sijunjung di Propinsi Sumatera Barat memiliki potensi lahan
pertanian dan perkebunan yang luas, dirasa cocok untuk mengembangkan usaha
sapi potong. Usaha tersebut sangat diperlukan dalam rangka mengantisipasi
dampak krisis global yang terjadi pada saat ini, dimana masyarakat pedesaan yang
selama ini bergerak di sektor perkebunan sudah merasakan krisis tersebut. Sektor
industri dan komoditas perkebunan untuk ekspor seperti karet dan kelapa sawit
yang selama ini menjadi basis perekonomian masyarakat di Kabupaten Sijunjung
mengalami kemunduran akibat jatuhnya harga komoditas tersebut karena
permintaan dari negara-negara importir mulai berkurang, sedangkan usaha sapi
potong/harga daging cenderung stabil dan malah mengalami peningkatan. Oleh
karena itu dimasa otonomi daerah ini, pemerintah daerah dituntut untuk aktif dan
bergerak cepat dalam menjaga stabilitas perekonomian masyarakat daerahnya.
Peranan ternak sapi potong dalam pembangunan peternakan adalah cukup
besar, yang dapat berfungsi sebagai : (a) sumber pangan hewani asal ternak
berupa daging dan susu; (b) sumber pendapatan petani peternak; (c) penghasil
devisa yang sangat diperlukan untuk membiayai pembangunan nasional; (d)
menciptakan angkatan kerja; (e) sasaran konservasi lingkungan terutama lahan
melalui daur ulang pupuk kandang; dan (i) pemenuhan sosial budaya masyarakat
dalam upacara adat/kebudayaan. Usaha peternakan sapi potong dapat dijadikan
sebagai usaha yang cocok untuk membantu dalam menjaga stabilitas
perekonomian masyarakat pedesaan karena dapat memberikan nilai tambah bagi
peternak. Usaha peternakan sapi potong jika dikembangkan secara baik akan
meningkatkan perekonomian masyarakat, apalagi didukung oleh ketersedian lahan
yang cukup dan kesesuaian lahan yang menunjang. Untuk mengembangkan usaha
ternak sapi potong tersebut, kajian kesesuaian lahan baik secara fisik maupun
sosial ekonomi sangat diperlukan.

3

1.2. Kerangka Pemikiran / Perumusan Masalah
Dilihat dari potensi wilayahnya, Kabupaten Sijunjung dengan bentuk
wilayah yang berbukit dan bergelombang, tanah yang kurang subur sehingga
kurang cocok untuk usaha pertanian intensif. Lahan-lahan marginal tersebut dapat
dijadikan untuk usaha sektor perkebunan dan peternakan terutama ternak sapi
sehingga dapat menjadi salah satu sektor unggulan bagi daerah.
Rumput alam, maupun tamanan bawah lainnya yang berada di perkebunan
kelapa sawit dan karet serta pemanfaatan limbah pertanian tanaman pangan dapat
digunakan sebagai sumber hijauan dalam pengembangan sapi potong. Potensi luas
lahan yang tersedia untuk pakan hijauan ternak (sekitar 69.464 Ha) dapat
mencukupi untuk 139.292 ekor/ST (satuan ternak). Populasi ternak sapi di
Kabupaten Sijunjung baru mencapai 16.205 ekor dan kerbau 18.460 ekor,
diharapkan masih bisa menampung tambahan sekitar 104.627 ekor lagi. Rumah
Tangga Peternak (RTP) sapi potong berjumlah 3.957 KK (kepala keluarga) dan
RTP kerbau berjumlah 2.797 KK (Dinas Peternakan dan Perikanan 2008).
Dilihat dari uraian di atas terdapat tantangan dan peluang untuk
pengembangan ternak sapi potong di Kabupaten Sijunjung yang perlu dikaji
analisis kesesuaian lahan baik secara biofisik, ekonomi dan sosial budaya serta
arahan pengembangannya. Inventarisasi potensi sumberdaya lahan dapat dijadikan
sebagai salah satu dasar utama dalam menyusun perencanaan wilayah.
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan kepentingan yang dijelaskan sebelumnya, maka penelitian ini
bertujuan untuk :
1. Mengidentifikasi areal lahan yang sesuai untuk untuk pengembangan
ternak sapi potong.
2. Menghitung daya dukung dan indeks daya dukung lahan yang sesuai bagi
usaha peternakan sapi potong di Kabupaten Sijunjung
3. Menganalisis skala usaha dan kelayakan finansial usaha ternak sapi
potong.
4. Menentukan arahan kawasan penyebaran dan pengembangan sapi potong
berdasarkan potensi sumberdaya lahan dan sosial ekonomi.

4

Hasil penelitian ini nantinya dapat bermanfaat antara lain :
1. Memberikan masukan kepada pemerintah daerah Kabupaten Sijunjung
khususnya Dinas Peternakan dan Perikanan sebagai bahan pertimbangan
untuk pengembangan usaha sapi potong.
2. Sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat pelaku usaha serta investor
yang bergerak di sektor usaha ternak sapi potong/usahatani/perkebunan
dalam berinvestasi sehingga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan
dan kesejahteraan petani peternak.
3. Memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi tentang lahan-lahan potensial sebagai dasar penataan kawasan
pengembangan peternakan sapi potong di Kabupaten Sijunjung.
1.4. Batasan Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat beberapa batasan yang menyebabkan hasil dari
penelitian ini kurang optimal, antara lain karena :
1. Peta satuan tanah yang digunakan terbatas pada informasi dari peta satuan
lahan dan tanah skala tingkat tinjau yang dikeluarkan Puslitanak (1990).
2. Tampilan citra terbaru terdapat banyak awan sehingga dalam penelitian ini
dipakai citra Landsat tahun 2006.
3. Evaluasi lahan yang dilaksanakan lebih bersifat kualitatif sehingga hanya
memadai untuk arahan pengembangan pada tingkat awal. Perhitungan
produksi bahan kering hijauan makanan ternak untuk setiap kelas
kesesuaian lahan didasarkan pada asumsi hasil penelitian di tempat lain
(data sekunder).
4. Perhitungan analisis finansial dilakukan hanya terhadap input dan output
tetap.

5

Pengelolaan dan Pemanfaatan Potensi Daerah Dalam
Meningkatkan Perekonomian Daerah

Rencana Aksi Pemantapan
Ketahanan Pangan 2005-2010
Peningkatan Usaha Sapi Potong

Potensi Lahan untuk
Peningkatan Usaha Sapi Potong

Evaluasi Lahan

Kesesuain Lahan Untuk
Hijauan Makanan Ternak
(HMT)

Kesesuaian Lingkungan
Ekologis untuk Sapi Potong

Ketersedian HMT :
- Daya Dukung
- Indeks Daya Dukung
Analisis Spasial
(SIG)

Kelayakan Finansial
Lahan-lahan Potensi untuk
Pengembangan Sapi Potong
Karakteristik Sosial Budaya
Masyarakat
Arahan Pengembangan Usaha
Sapi Potong

Gambar 1 Diagram alir kerangka pemikiran.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kawasan Penyebaran dan Pengembangan Ternak
Penataan ruang untuk suatu penggunaan tertentu tidak hanya diperlukan bagi
pemanfaatan oleh manusia saja, tetapi usaha-usaha yang berkaitan dengan
manusia yang menggunakan potensi ruang juga perlu ditata, agar terjadi
keseimbangan dan keharmonisan. Apalagi kegiatan-kegiatan tersebut juga
melibatkan makluk hidup yang jelas sangat tergantung dengan keberadaan ruang
sebagai lingkungan hidupnya, seperti halnya dengan kegiatan peternakan yang
perlu penyebaran dan pengembangannya.
Menurut Tarigan (2005), kawasan budidaya adalah kawasan dimana
manusia dapat melakukan kegiatan dan dapat memanfaatkan lahan, baik sebagai
tempat tinggal atau beraktifitas untuk memperoleh pendapatan/kemakmuran.
Kawasan peternakan merupakan salah satu bentuk dari penggunaan kawasan
budidaya dalam struktur ruang suatu wilayah, yang dapat berupa kawasan
budidaya yang diatur atau kawasan budidaya yang diarahkan. Kawasan budidaya
yang diatur adalah tempat manusia beraktifitas dengan batasan-batasan tertentu.
Batasan itu dapat berupa jenis kegiatan, volume, ukuran, tempat, atau metode
pengelolaannya. Berbeda dengan kawasan yang diatur, cara pemanfaatan lahan
yang diarahkan tidak dinyatakan dengan tegas, bahkan pengarahannya sering
dilakukan secara sektoral.
Menurut Setyono (1995), konsep tata ruang dalam suatu usaha peternakan
adalah konsep pengelompokan aktivitas usaha ternak dalam ruang, sehingga
setiap wilayah memiliki pusat-pusat usaha ternak yang didukung oleh daerahdaerah sekitarnya. Pengelompokan aktivitas usaha peternakan ini diharapkan
dapat menimbulkan keuntungan-keuntungan sebagai berikut :
1. Memaksimalkan keuntungan usaha karena kegiatan pra produksi dan
proses produksi berada dalam satu lokasi kawasan.
2. Memaksimumkan pelayanan, dimana fasilitas pelayanan yang dibangun
akan lebih berdayaguna dan berhasil guna terutama dalam menekan biaya
transportasi.
3. Menjamin keterkaitan antara aktivitas pra produksi, proses produksi dan
pasca produksi.

7

4. Memudahkan pemasaran hasil-hasil secara lebih terorganisir, sehingga
posisi tawar menawar (bargaining power) lebih kuat.
Pengelompokan aktivitas peternakan dalam suatu wilayah yang didukung
oleh wilayah sekitarnya dan partisipasi masyarakat dinamakan Kawasan
Peternakan. Secara umum Kawasan Peternakan memiliki ciri-ciri umum sebagai
berikut : lokasinya sesuai dengan agro ekosistem dan alokasi tata ruang wilayah,
dibangun dan dikembangkan oleh masyarakat dalam atau sekitar kawasan
tersebut, berbasis komoditas ternak unggulan dan atau komoditas ternak strategis,
adanya pengembangan kelompok tani menjadi kelompok pengusaha, sebagian
besar pendapatan masyarakat berasal dari usaha agribisnis peternakan, memiliki
prospek pasar yang jelas, didukung oleh ketersediaan teknologi yang memadai,
memiliki peluang pengembangan atau diversifikasi produk yang tinggi, didukung
oleh kelembagaan yang berakses ke hulu dan ke hilir (Direktorat Pengembangan
Kawasan Khusus dan Tertinggal 2004).
2.2. Ternak Sapi Potong
Ternak sapi khususnya sapi potong merupakan salah satu sumber daya
penghasil bahan makanan sumber protein hewani yang memiliki nilai ekonomi
tinggi dan penting artinya dalam kehidupan masyarakat. Seekor atau sekelompok
ternak sapi dapat menghasilkan berbagai macam kebutuhan terutama sebagai
bahan makanan berupa daging, disamping hasil ikutan lainnya seperti pupuk
kandang, kulit tulang dan lainnya (Sugeng 1998).
Riady (2004) menambahkan bahwa pada tahun 2003, populasi sapi potong
di Indonesia sekitar 11.395.688 ekor, dengan tingkat pertumbuhan populasi
sekitar 1,08 %, idealnya pertumbuhan minimal populasi sapi potong 15,27 %
untuk memenuhi kebutuhan domestik. Dari populasi sapi tersebut 45-50 % adalah
sapi asli Indonesia yang berpotensi untuk dikembangkan, sapi Bali termasuk jenis
sapi terbanyak, diikuti sapi Madura, dan sisanya terdiri sapi Ongole, Peranakan
Ongole (PO), Brahman Cross, dan persilangan sapi lokal dengan sapi impor
(Simental, Limosusin, Hereford, dan lain-lain).
Pemeliharaan sapi potong di Indonesia dilakukan secara ekstensif, semi
intensif dan intensif. Pada umumnya sapi-sapi yang dipelihara secara intensif

8

hampir sepanjang hari berada dalam kandang dan diberikan pakan sebanyak dan
sebaik mungkin sehingga cepat gemuk, sedangkan secara

ekstensif sapi-sapi

tersebut dilepaskan di padang pengembalaan dan digembalakan sepanjang hari
mulai dari pagi hari sampai sore hari.
Mengingat kondisi Indonesia yang merupakan negara agraris maka sektor
pertanian tidak terlepas dari berbagai sektor yang lainnya yaitu sub sektor
peternakan. Faktor pertanian dan penyebaran penduduk di Indonesia ini
menentukan penyebaran usaha ternak sapi. Masyarakat peternak bermata
pencaharian bertani tidak bisa lepas dari usaha ternak sapi, baik untuk tenaga,
pupuk dan sebagainya sehingga kalau pertanian maju berarti menunjang produksi
pakan ternak berupa hijauan, hasil ikutan pertanian berupa biji-bijian atau pakan
penguat (Sugeng 1998).
2.3. Hijauan Makanan Ternak Sapi Potong
Hijauan Makanan ternak (HMT) merupakan semua bahan yang berasal
dari tanaman dalam bentuk daun-daunan. Kelompok hijauan makanan ternak
meliputi rumput (graminae), leguminosa, dan hijauan dari tumbuh-tumbuhan lain
seperti daun nangka, daun waru dan lain-lain. Hijauan sebagai bahan makanan
ternak dapat diberikan dalam dua macam bentuk, yaitu hijauan segar dan hijauan
kering. Hijauan segar berasal dari tanaman yang masih segar seperti rumput segar,
leguminosa segar dan silase, sedangkan hijauan kering berasal dari hijauan yang
sengaja dikeringkan (hay) ataupun jerami kering. Sebagai bahan makanan ternak,
hijauan memegang peranan penting karena hijauan mengandung hampir semua zat
yang diperlukan hewan. Khususnya Indonesia, bahan hijauan memegang peranan
istimewa karena diberikan dalam jumlah besar. Ternak ruminansia seperti sapi,
kerbau, kambing dan domba yang diberi hijauan sebagai bahan tunggal, masih
dapat mempertahankan hidupnya dan mampu tumbuh baik dan berkembang biak
(AAK 1983).
2.4. Daya Dukung Lahan
Lahan adalah suatu lingkungan fisik yang meliputi tanah, iklim, relief,
hidrologi dan vegetasi, dimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi potensi
penggunaannya

(FAO

1976).

Hardjowigeno

dan

Widiatmaka

(2001)

9

mendefinisikan lahan sebagai suatu wilayah di permukaan bumi, mencakup semua
komponen biosfer yang dapat bersifat siklik yang berbeda di atas dan di bawah
wilayah tersebut termasuk atmosfir serta segala akibat yang ditimbulkan oleh
manusia di masa lalu dan sekarang yang semuanya berpengaruh terhadap
penggunaan lahan oleh manusia pada saat sekarang dan di masa yang akan datang.
Kemampuan lahan (land capability) dan kesesuaian lahan (land suitability),
merupakan dua istilah yang berbeda. Kesesuaian lahan merupakan kecocokan
(adaptability) suatu lahan untuk penggunaan tertentu. Kesesuaian lahan tersebut
dapat dinilai untuk kondisi saat ini atau setelah diadakan perbaikan
(improvement). Kesesuaian lahan ditinjau dari sifat-sifat fisik lingkungannya,
terdiri dari iklim, tanah, topografi, hidrologi dan atau drainase sesuai untuk status
usaha tani atau komoditas tertentu yang produktif (Djaenudin et al. 2003).
Kemampuan lahan diartikan sebagai kapasitas suatu lahan untuk berproduksi. Jadi
semakin banyak jenis tanaman yang dapat dikembangkan atau diusahakan di suatu
wilayah maka kemampuan lahan tersebut semakin tinggi, sedangkan kesesuaian
lahan adalah kecocokan dari sebidang lahan untuk tipe penggunaan tertentu (land
utilization type) sehingga dalam penggunaan lahan, aspek manajemen juga harus
dipertimbangkan.
Wilayah Kabupaten Sijunjung yang beragam merupakan salah satu potensi
yang harus dimanfaatkan dalam usaha pengembangan pertanian yang berwawasan
agribisnis dan pengembangan pembangunan wilayah dengan berbasis pada sektor
pertanian yang berkelanjutan (BAPPEDA 2006) menjadikan unsur efisiensi
sumberdaya pertanian merupakan komponen utama yang harus diperhatikan.
Pendekatan komoditas (commodity approach) adalah salah satu langkah yang
dapat

dilakukan

dalam

efisiensi

sumberdaya.

Pendekatan

komoditas

menggunakan konsep pewilayahan komoditas unggulan sehingga akan didapatkan
produk pertanian yang memiliki potensial produktivitas dan mutu tinggi.
Pengembangan komoditas unggulan harus didasarkan atas kesesuaian komoditas
terhadap lingkungan yang ada, sehingga dalam pengembangan komoditas
unggulan (komparatif) faktor kesesuaian lahan harus menjadi pertimbangan
penting.

10

Menurut Soemarwoto (1983), daya dukung menunjukkan besarnya
kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan hewan, yang dinyatakan
dalam jumlah ekor per satuan jumlah lahan. Jumlah hewan yang dapat di dukung
kehidupannya itu tergantung pada biomas (bahan organik tumbuhan) yang
tersedia untuk hewan. Daya dukung ditentukan oleh banyaknya bahan organik
tumbuhan yang terbentuk dalam proses fotosintesis per satuan luas dan waktu,
yang disebut produktivitas primer.
Salah satu faktor yang diperlukan untuk menganalisis kapasitas tampung
ternak ruminansia di suatu wilayah adalah dengan menghitung potensi hijauan
pakan. Hijauan pakan untuk ternak ruminansia terdiri dari rerumputan, dedaunan
dan limbah pertanian. Estimasi potensi hijauan pakan pada masing-masing
wilayah dipengaruhi oleh keragaman agroklimat, jenis dan topografi tanah dan
tradisi budidaya pertanian (Ma’sum 1999).
2.5. Konsep Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG)
Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi
tentang suatu obyek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh
dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan obyek, daerah atau fenomena
yang dikaji (Lillesand and Kiefer 1990). Alat yang digunakan adalah alat
pengindera atau sensor yang berupa pesawat terbang, satelit, pesawat ulang-alik
atau wahana lain. Kegiatan penginderaan jauh terbagi menjadi dua kegiatan
utama, yaitu pengumpulan data dan analisis data. Dengan demikian pembicaraan
penginderaan jauh tidak dapat lepas dari perangkat pengumpulan data dan
metodologi analisis data agar menghasilkan informasi yang bermanfaat.
Pengumpulan data dari jarak jauh dapat dilakukan dengan berbagai bentuk,
termasuk variasi agihan daya, agihan gelombang bunyi atau agihan energi
elektromagnetik. Citra Landsat adalah salah satu contoh bentuk data hasil
perekaman penginderaan jauh dalam bentuk agihan energi elektromagnetik. Citra
Landsat telah banyak digunakan untuk mengetahui kondisi sumberdaya alam di
muka bumi, khususnya untuk melihat tutupan lahan dan jenis penggunaan lahan.
Kunci keberhasilan terapan suatu sistem penginderaan jauh terletak pada
manusia (kelompok manusia) yang menggunakan data penginderaan jauh. Data
yang dihasilkan dengan sistem penginderaan jauh hanya akan menjadi informasi

11

yang bermanfaat bila seseorang memahami asal-usulnya, mengerti bagaimana
menginterpretasinya dan memahami bagaimana cara menggunakannya secara
tepat (Lillesand and Kiefer 1990). Karakteristik utama dari metode penginderaan
jauh yang digunakan untuk pemetaan penggunaan lahan adalah tingkat
otomatisasi dan objektivitas yang tinggi, serta dimungkinkan untuk dilakukan
perbaikan-perbaikan. Informasi dari citra Landsat dan data vektor dipadukan dan
dianalisis dengan Sistem Informasi Geografi (SIG) (Tapiador dan Casanova
2003).
Pemanfaatan SIG bertujuan untuk memecahkan berbagai persoalan yang
dibutuhkan dalam pengelolaan data yang berbasis geografi. SIG mampu
mengintegrasikan rangkaian data yang bervariasi mulai dari data atribut seperti
data lapangan, data spasial maupun data penginderaan jauh, sebagai salah satu
sumber data yang sangat bermanfaat dalam SIG. Hubungan antara SIG dengan
penginderaan jauh (inderaja) dapat dikatakan sangat erat. Meskipun demikian,
baik inderaja maupun SIG keduanya dapat bekerja secara terpisah, dimana
masing-masing menghasilkan informasi yang penting dan relevan untuk
kepentingan sumberdaya alam. Apabila kedua teknologi ini dipadukan, informasi
yang diperoleh akan lebih baik daripada dioperasikan secara terpisah.
Menurut Ma’sum (1999), melalui pemanfaatan interpretasi data satelit
dengan menggunakan perangkat keras dan lunak serta didukung dengan peta
topografi, peta tematis serta data statistik pertanian, dapat dianalisis potensi
hijauan pakan ternak di suatu wilayah lebih cepat dan cukup akurat. Berdasarkan
data ketersedian hijauan pakan ternak di suatu wilayah, dibagi dengan kebutuhan
per ekor ternak akan didapatkan kapasitas tampung.
2.6. Hasil-hasil Penelitian Terdahulu.
Daya dukung suatu wilayah dengan penekanan pada kemampuan
menyokong

dan

menampung,

didefinisikan

sebagai

kemampuan

untuk

menghasilkan keluaran yang diinginkan dari sumberdaya dasar untuk mencapai
kualitas hidup yang lebih tinggi dan lebih wajar (Khana et al 1999)
Populasi ternak yang melebihi kapasitas daya dukung sumberdaya lahan
serta berlangsung secara terus menerus tanpa pencegahan, akan berakibat
degradasi lahan dan berkurangnya ketersediaan hijauan makanan ternak Hasil

12

penelitian Wirdahayati dan Bamualim (2007) menunjukan bahwa penampilan sapi
lokal di Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat yang dipelihara bebas
di tempat pengembalaan umum relatif kecil-kecil sebagai akibat rendahnya
pertumbuhan ternak, sehubungan dengan rendahnya kapasitas dan dukungan
pakan yang disediakan dari padang pengembalaan umum. Efisiensi penggunaan
lahan, penanaman tanaman kacang-kacangan (sejenis legum), pengembangan
agroforestri dan penghijauan adalah beberapa tindakan yang dapat meningkatkan
daya dukung lahan, terutama terhadap lahan-lahan milik perorangan yang telah
dibajak kemudian ditelantarkan, dan penggunaan yang tidak efektif lainnya
(Thapa dan Paudel 2000).
Melalui pendekatan perpaduan kondisi agroklimat dan penggunaan lahan
serta produktivitas tanaman pangan dan hijauan yang ada, maka kesesuaian lahan
dan arah pengembangan lahan bagi ternak ruminansia dapat ditentukan. Informasi
daya dukung pakan hijauan yang disajikan dengan nilai Indeks Daya Dukung
(IDD) adalah memperlihatkan status masing-masing daerah terhadap kemampuan
penambahan populasi untuk ruminansia saat ini. Arahan kesesuaian ekologis
lahan dapat direkomendasikan pada dua pola. Pertama adalah pola diversifikasi
spasial, yaitu pengembangan pada lahan-lahan yang telah mempunyai peruntukan,
antara lain untuk tanaman pangan dan perkebunan dalam bentuk pola
keterpaduan. Kedua, pola ekstensifikasi spasial, adalah pengembangan pada lahan
kehutanan

dan

alang-alang.

Dari

hasil

penelitian,

rekomendasi

arahan

pengembangan lahan untuk ternak ruminansia di Propinsi Nusa Tenggara Timur
adalah ; a) Pola diversifikasi untuk kelompok ternak sapi potong banyak

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3867 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1027 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 924 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 617 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 772 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1320 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1214 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 804 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1084 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1317 23