Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia

ANALISIS DAYASAING DAN STRATEGI PENGEMBANGAN
MINYAK SAWIT DAN TURUNANNYA
DI INDONESIA

SKRIPSI

JAUHAR SAMUDERA NAYANTAKANINGTYAS
H34080128

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

A

RINGKASAN
JAUHAR SAMUDERA NAYANTAKANINGTYAS. Analisis Dayasaing dan
Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia. Skripsi.
Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian
Bogor (Di bawah bimbingan HENY K. DARYANTO)
Minyak sawit merupakan produk utama pada perkebunan kelapa sawit.
Dalam kurun waktu 1980 - 2012, pertumbuhan produksi minyak sawit Indonesia
rata-rata per tahun adalah sebesar 10,13 persen. Indonesia dan Malaysia
merupakan produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia. Pada tahun
2010, kedua negara ini memproduksi 46,7 juta ton minyak sawit atau 85,22 persen
produksi minyak sawit dunia. Pada tahun 2010, 57,97 persen ekspor minyak sawit
Indonesia masih berupa minyak sawit mentah (Crude Palm Oil), dan 42,03 persen
dalam bentuk produk olahan sederhana yang berupa olein/minyak goreng dan
oleokimia dasar. Pada tahun 2011, nilai ekspor produk hilir dari minyak sawit
Indonesia adalah sebesar US$ 8.484.231.868 dan masih kalah dengan Malaysia
yang sudah sebesar US$ 13.650.379.875. Indonesia saat ini baru menghasilkan 23
jenis produk hilir minyak sawit dari sekitar 100 produk hilir minyak sawit yang
berupa pangan maupun nonpangan. Sebagian besar CPO yang diolah di dalam
negeri masih berupa produk bernilai tambah rendah yakni minyak goreng,
sehingga dengan semakin kompetitifnya persaingan di pasar global ini, penting
untuk mengetahui dayasaing minyak sawit dan turunannya di Indonesia.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dayasaing minyak
sawit dan turunannya di Indonesia pada pasar internasional dan merumuskan
strategi pengembangan minyak sawit dan turunannya di Indonesia. Penelitian ini
mengkaji komoditi minyak sawit yang berupa Crude Palm Oil (CPO) dengan
kode HS 1511100000 dan minyak sawit lainnya (Palm oil or fractions simply
refined) dengan kode HS 1511900000 Lingkungan internal penelitian ini
merupakan kegiatan dan pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan pengolahan
minyak sawit. Sementara itu, lingkungan eksternal merupakan kegiatan dan pihakpihak yang berada di luar kegiatan pengolahan minyak sawit. Data yang
digunakan sebagian besar merupakan data sekunder, dan sisanya diperoleh dari
wawancara. Alat yang digunakan adalah Sistem Berlian Porter, Revealed
Comparative Advantage, Matriks SWOT dan Arsitektur Strategik.
Hasil analisis dayasaing kompetitif menggunakan Sistem Berlian Porter
menunjukkan dayasaing minyak sawit dan turunannya sudah kuat. Selain itu, hasil
analisis dayasaing komparatif minyak sawit menggunakan Revealed Comparative
Advantage menunjukan bahwa minyak sawit Indonesia sudah berdayasaing kuat.
Hal ini ditunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2001-2011, nilai indeks RCA CPO
dan palm oil or fractions simply refined Indonesia selalu lebih dari satu. Namun
untuk nilai indeks RCA dengan HS 1511900000 masih lebih rendah dibandingkan
dengan nilai indeks RCA Malaysia.
Strategi peningkatan dayasaing yang dihasilkan melalui analisis Matriks
SWOT antara lain: pengembangan sistem pemasaran produk industri CPO,
pengembangan industri hilir serta peningkatan nilai tambah minyak sawit,
pengembangan SDM pelaku industri minyak sawit dengan pelatihan dan kegiatan
inovasi, menambah dan memperbaiki infrastruktur yang ada, meningkatkan

B

ekspor produk hilir, memperhatikan isu nasional dan internasional dengan
memperbaiki kebijakan pemerintah, memanfaatkan ekspor hulu ke negara yang
lebih membutuhkan produk hulu, misalnya India, dan meningkatkan pola
kerjasama dengan produsen negara lain melalui promosi penjualan. Kemudian,
strategi yang telah dihasilkan dipetakan ke dalam rancangan arsitektur strategik,
sehingga dihasilkan rancangan arsitektur strategik minyak sawit Indonesia.

C

ANALISIS DAYASAING DAN STRATEGI PENGEMBANGAN
MINYAK SAWIT DAN TURUNANNYA
DI INDONESIA

JAUHAR SAMUDERA NAYANTAKANINGTYAS
H34080128

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
D

Judul Skripsi : Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit
dan Turunannya di Indonesia
Nama

:

Jauhar Samudera Nayantakaningtyas

NIM

:

H34080128

Disetujui,
Pembimbing

Dr. Ir. Heny K. Daryanto, M.Ec
NIP 19610916 198901 2 001

Diketahui
Ketua Departemen Agribisnis
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS
NIP 19580908 198403 1 002

Tanggal Lulus :
E

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis
Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di
Indonesia” adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada
perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya
yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam
teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Desember 2012

Jauhar Samudera Nayantakaningtyas
H34080128

F

RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Jauhar Samudera Nayantakaningtyas, dilahirkan di kota
Yogyakarta pada tanggal 9 Agustus 1990. Penulis merupakan anak pertama dari
dua bersaudara dari pasangan Ayah Santosa dan Ibu Muhibah Azhar.
Pada tahun 2002, penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri
Catur Tunggal III Depok Sleman. Kemudian penulis melanjutkan pendidikannya
ke SMP Negeri 1 Yogyakarta dan pindah ke SMP Negeri 30 Padang pada tahun
2003. Pada tahun 2005, penulis berhasil menyelesaikan pendidikannya di sekolah
menengah pertama lalu melanjutkan pendidikannya ke SMA Negeri 4 Padang.
Pada tahun 2008, penulis lulus dan melanjutkan pendidikannya di Institut
Pertanian Bogor.
Penulis berhasil diterima menjadi mahasiswa di Departemen Agribisnis,
Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi
Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) pada tahun 2008.
Selama masa pendidikan di IPB, penulis merupakan pengurus Himpunan
Profesi Mahasiswa Peminat Agribisnis, dan menjabat sebagai sekretaris pada
Department of Public Relation and Information Media periode 2009-2010 dan
menjadi ketua Department of Public Relation and Information Media periode
2010-2011.

G

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT atas segala berkat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Dayasaing
dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia”.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dayasaing minyak sawit
Indonesia di pasar internasional dan merumuskan strategi yang tepat dan dapat
digunakan untuk meningkatkan dayasaing minyak sawit tersebut.
Penulis berharap, semoga skripsi ini dapat berguna bagi pengambil
kebijakan, instansi serta lembaga terkait sebagai bahan pertimbangan dalam
mengambil keputusan terkait dengan dayasaing minyak sawit di era globalisasi.
Selain itu, penulis juga berharap skripsi ini dapat memberikan tambahan
pengetahuan bagi yang membacanya dan juga dapat bermanfaat bagi semua pihak

Bogor, Desember 2012
Jauhar Samudera Nayantakaningtyas

H

UCAPAN TERIMAKASIH
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa syukur yang
sedalam-dalamnya kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan kemudahankemudahan kepada penulis dari awal penyusunan hingga akhir penyelesaian
skripsi ini. Selain itu, penulis juga ingin menyampaikan terimakasih kepada :
1. Dr. Ir. Heny K. Daryanto, M.Ec selaku pembimbing akademik dan juga
dosen pembimbing skripsi. Terima kasih atas bimbingan, arahan,
dukungan, waktu dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis
selama menempuh perkuliahan di IPB dan juga dalam penyusunan skripsi
ini.
2. Dr. Amzul Rifin, SP, MA selaku penguji utama dan Anita Primaswari
Widhiani, SP, M.Si selaku dosen penguji perwakilan Komisi Pendidikan
yang telah memberikan saran serta masukan untuk perbaikan skripsi
penulis.
3. Ayah dan Ibu tercinta, Prof. Dr. Ir. Santosa, MP dan Muhibah Azhar atas
segala doa, kasih sayang, bimbingan dan dukungan yang diberikan kepada
penulis. Semoga ini bisa menjadi salah satu persembahan terbaik.
4. Adik tersayang, Fahmi Salam Ahmad atas segala doa dan dukungannya.
5. Prof. Dr. Ir. Endang Gumbira Sa’id, MADev (Ketua Masyarakat
Perkelapa-Sawitan Indonesia) sebagai pembimbing eksternal penulis yang
telah memberikan banyak masukan, saran, informasi dan pengarahan
mengenai industri minyak sawit di Indonesia.
6. Feryanto W. Karo-Karo, SP, M.Si yang telah memberikan banyak
pencerahan bagi penulis dalam penyusunan skripsi, serta seluruh dosen
dan staf Departemen Agribisnis yang telah menjadi keluarga bagi penulis
di Bogor.
7. Nora Asfia atas segala doa dan dukungannya yang diberikan pada penulis.
8. Sahabat seperjuangan, Tubagus Fazlurrahman, Rendi Seftian, Vaudhan
Fuady, Frandy Taqwa Subakhtiar, Firman Raditya, Agung Purwa
Nugraha, Luky Rizki Nugraha, Yulius Randy Rumbayan, Putri
Nursakinah, Herawati, Layra Nichi Sari, Nezi Hidayani, Afrisya Meizi,

I

Gebry Ayu Diwandari, Fithria Rahmadhani, Aklima Dhiska Suwanda,
Anisa Roseriza, dan teman-teman Agribisnis angkatan 45 atas semangat
kekeluargaan dan doanya selama kuliah di Agribisnis IPB.
9. Serta seluruh pihak, yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang telah
membantu dalam penulisan skripsi ini, terima kasih atas bantuannya.

Bogor, Desember 2012

Jauhar Samudera Nayantakaningtyas

J

DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ……………………………………………………….

Halaman
iii

DAFTAR GAMBAR …………………………………………………...

iv

DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………....

v

PENDAHULUAN ………………………………………………….
1.1. Latar Belakang ………………………………………………….
1.2. Perumusan Masalah …………………………………………….
1.3. Tujuan Penelitian ……………………………………………….
1.4. Manfaat Penelitian ……………………………………………...
1.5. Ruang Lingkup Penelitian ……………………………………...

1
1
3
4
4
5

I.

II. TINJAUAN PUSTAKA ……………………………………………
2.1. Industri Minyak Sawit dan Turunannya ………………………...
2.2. Pengembangan Industri Minyak Sawit di Indonesia …………....
2.3. Penelitian Terdahulu …………………………………………….
2.3.1. Dayasaing Komoditas Indonesia ………………………….
2.3.2. Strategi Pengembangan Komoditas ……………………….

6
6
7
9
9
11

III. KERANGKA PEMIKIRAN ……………………………………….
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis …………………………………....
3.1.1. Konsep Dayasaing ………………………………………...
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ……………………………….

14
14
14
21

IV. METODE PENELITIAN …………………………………………..
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian …………………………………….
4.2. Data dan Instrumentasi …………………………………………..
4.3. Metode Pengumpulan Data ………………………………………
4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data …………………………..
4.4.1. Analisis Revealed Comparative Advantage ……………….
4.4.2. Analisis Berlian Porter …………………………………….
4.4.3. Analisis SWOT ……………………………………………
4.4.4. Arsitektur Strategik ………………………………………..

24
24
24
24
25
25
26
27
29

V. DAYASAING MINYAK SAWIT INDONESIA …………………..
5.1. Analisis Komponen Sistem Berlian Porter ……………………….
5.1.1. Kondisi Faktor Sumberdaya ……………………………….
5.1.2. Kondisi Permintaan Domestik ……………………………..
5.1.3. Industri Terkait dan Pendukung ……………………………
5.1.4. Persaingan, Struktur dan Strategi Industri CPO ……………
5.1.5. Peran Pemerintah …………………………………………...
5.1.6. Peran Kesempatan ………………………………………….
5.2. Keterkaitan Antar Komponen Utama Sistem Berlian Porter ……..
5.3. Keterkaitan Komponen Pendukung Sistem Berlian Porter ……….
5.4. Analisis Keunggulan Komparatif …………………………………

31
31
31
41
47
52
63
66
67
70
75

i

VI. STRATEGI PENGEMBANGAN DAN ARSITEKTUR
STRATEGIK MINYAK SAWIT INDONESIA ………………….
6.1. Analisis Strategi Pengembangan Minyak Sawit Indonesia ……..
6.1.1. Identifikasi Faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang
dan Ancaman ………………………………………………
6.1.2. Analisis Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman …..
6.1.3. Perumusan Matriks SWOT Minyak Sawit Indonesia …....
6.2. Rancangan Arsitektur Strategik ………………………………….

78
78
78
79
84
90

VII KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………………...
7.1. Kesimpulan ……………………………………………………….
7.2. Saran ………………………………………………………………

96
96
97

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………….

98

LAMPIRAN ………………………………………………………………

101

ii

DAFTAR TABEL

Nomor

Halaman

1.

Jenis Industri Berbasis Minyak sawit dan Nilai Tambahnya ….

8

2.

Luas Areal dan Produksi Minyak Sawit (CPO) pada
Perkebunan Rakyat, Negara, dan Swasta Menurut Propinsi
dan Keadaan Tanaman, 2010 …………………………………..

32

Potensi Pengembangan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit
di Indonesia …………………………………………………….

33

Tingkat Produktivitas Lahan Kelapa Sawit Pada Perkebunan
di Indonesia Tahun 2010 ……………………………………….

34

Penyerapan Tenaga Kerja Industri Minyak Sawit Indonesia
Tahun 2010 …………………………………………………….

36

Komposisi Ekspor dan Konsumsi CPO Domestik
Tahun 2000 - 2010 …………………………………………….

43

Volume dan Nilai Ekspor Minyak Sawit (CPO) Menurut
Negara Tujuan dan Asal, 2010 ………………………………...

45

8.

Distribusi Pabrik Minyak Goreng di Indonesia ………………..

48

9.

Kapasitas Produksi Industri Oleokimia di Indonesia ………….

49

10. Produsen Biodiesel di Indonesia dan Kapasitas Produksinya …

50

11. Produksi Minyak Nabati Dunia, 1980-2009 …………………..

53

12. Produksi Minyak Sawit Dunia, 1980-2009 (dalam ton) ………

54

13. Keterkaitan Antar Komponen Utama …………………………

68

14. Keterkaitan Antar Komponen Penunjang dengan
Komponen Utama …………………………………………….

71

15. Identifikasi Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman …..

79

16. Matriks SWOT Industri Minyak Sawit Nasional ……………..

85

17. Program Pengembangan dan Peningkatan Dayasaing
Minyak Sawit Indonesia ………………………………………

92

3.
4.
5.
6.
7.

iii

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Halaman

1.

Kerangka Pemikiran Operasional ……………………………...

23

2.

The Complete System of National Competitive Advantage ....….

27

3.

Matriks SWOT ………………………………………………....

28

4.

Persentase Penggunaan CPO di Indonesia ……………………..

42

5.

Volume Ekspor CPO Indonesia Tahun 1980 – 2010 …………...

44

6.

Nilai Ekspor CPO Indonesia Tahun 1980 – 2010 ……………....

45

7.

Harga Minyak Sawit Dunia, Januari 2000 s/d September 2012 ...

46

8.

Saluran Pemasaran Minyak Sawit Indonesia Pada
Perkebunan Negara ……………………………………………...

51

Saluran Pemasaran Minyak Sawit Indonesia Pada
Perkebunan Swasta ……………………………………………..

51

9.

10. Keterkaitan Antar Komponen Sistem Berlian Porter …………… 74
11. Nilai Indeks RCA CPO Indonesia dan Malaysia, 2001 – 2011 ..... 76
12. Nilai Indeks RCA Produk Turunan CPO Indonesia dan Malaysia
Tahun 2001 – 2011 ……………………………………………… 77
13.

Rancangan Arsitektur Strategik Industri Minyak Sawit
Indonesia ………………………………………………………...

95

iv

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor

Halaman

1. Neraca Perdagangan Pertanian Tahun 2006-2010 (US$ 000) ….

102

2. Volume Ekspor Komoditas Perkebunan Indonesia
Tahun 2009 – 2011 (Ton) ………………………………………

103

3. Nilai Ekspor Komoditas Perkebunan Indonesia
Tahun 2009 – 2011 (000 US$) ………………………………….

103

4. Luas Areal Kelapa Sawit Menurut Pengusahaan
Tahun 1980 - 2012 ………………………………………………

104

5. Produksi Minyak Sawit (CPO) Menurut Pengusahaan
Tahun 1980 - 2012 ……………………………………………...

105

6. Grafik Total Produksi Minyak Sawit Dunia dan Negara
Produsen Utama, 1995 - 2010 ………………………………….

106

7. Ekspor Minyak Sawit Indonesia Tahun 2010 ………………….

107

8. Pohon Industri Minyak Sawit Mentah (Crude Palm Oil) ……...

108

9. Jumlah Industri Pengolahan Kelapa Sawit di Indonesia dan
Kapasitas Produksinya …………………………………………

109

10. Standar Kualitas CPO Berdasarkan SNI ……………………….

110

11. Penetapan Harga Patokan Ekspor Atas Barang Ekspor
Yang Dikenakan Bea Keluar …………………………………...

111

12. Industri Minyak Goreng Sawit di Indonesia ……………………

113

13. Perhitungan Nilai RCA CPO Indonesia dan Malaysia
Tahun 2001 – 2010 ……………………………………………..

115

14. Perhitungan Nilai RCA Palm Oil or Fractions Simply Refined
Indonesia dan Malaysia, 2001 – 2010 …………………………..

116

v

I. PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Subsektor perkebunan merupakan subsektor yang memegang peranan

penting bagi perekonomian nasional. Dibandingkan dengan subsektor lain dalam
sektor pertanian, subsektor perkebunan merupakan kontributor devisa tertinggi.
Dalam neraca perdagangan pertanian periode 2006-2010, menunjukkan bahwa
subsektor perkebunan mengalami surplus perdagangan dengan pertumbuhan ratarata sebesar 22,43 persen per tahun (Lampiran 1). Subsektor perkebunan juga
memainkan peranan penting melalui kontribusinya dalam PDB, penerimaan
ekspor, penyediaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, dan pembangunan
wilayah di luar Jawa (Dirjenbun 2011).
Pemerintah

melalui

Kementerian

Pertanian

periode

2010-2014

menetapkan beberapa komoditas perkebunan sebagai komoditas unggulan
nasional. Komoditas unggulan nasional ini merupakan komoditas yang menjadi
prioritas untuk dikembangkan dalam periode pembangunan pertanian di masa
yang

akan

datang.

Pengembangan

komoditas

ini

dimaksudkan

untuk

meningkatkan produktivitas, perolehan devisa atau ekspor, substitusi produk
impor serta untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Salah satu komoditas
perkebunan yang termasuk ke dalam komoditas unggulan nasional adalah kelapa
sawit.1
Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang mempunyai
peran penting bagi subsektor perkebunan. Pada tahun 2010, 75,65 persen dari
volume ekspor komoditas perkebunan adalah kelapa sawit yaitu sebanyak
20.394.174 ton disusul oleh karet sebanyak 2.067.312 ton, dan kelapa sebanyak
957.517 ton (Lampiran 2). Dilihat dari nilai ekspor komoditas perkebunan, kelapa
sawit juga merupakan komoditas utama perkebunan. Pada tahun 2010, nilai
ekspor kelapa sawit sebesar US$ 15.413.640.000, disusul oleh karet sebesar US$
7.470.112.000 dan kakao US$ 1.643.773.000 (Lampiran 3).
Pengembangan kelapa sawit di Indonesia mengalami pertumbuhan yang
cukup pesat sejak tahun 1970 terutama periode 1980-an. Di Indonesia terdapat

1

Komoditas unggulan nasional yang berasal dari subsektor perkebunan terdiri dari kelapa sawit,

1

tiga pelaku perkebunan kelapa sawit, yaitu Perkebunan Besar Negara (PBN),
Perkebunan Besar Swasta (PBS) dan Perkebunan Rakyat (PR). Data dari
Direktorat Jenderal Perkebunan (2011) menunjukkan pada tahun 1980 luas areal
kelapa sawit adalah 294.560 ha dan pada tahun 2010 luas areal perkebunan kelapa
sawit sudah mencapai 8.385.394 ha dimana 52,07 persen dimiliki oleh PBS, 40,39
persen dimiliki oleh PR, dan 7,54 persen dimiliki oleh PBN (Lampiran 4). Dalam
kurun waktu 1980 - 2012, pertumbuhan produksi minyak sawit rata-rata per tahun
adalah sebesar 10,13 persen, dimana pada tahun 2006 merupakan tingkat
pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 31,64 persen dan tahun 2009 merupakan
pertumbuhan terendah yaitu sebesar -0,71 persen (Lampiran 5).
Sebagian besar hasil produksi minyak sawit di Indonesia merupakan
komoditi ekspor. Pangsa ekspor minyak sawit hingga tahun 2008 mencapai 60
persen total produksi. India adalah negara tujuan utama ekspor minyak sawit
Indonesia, yaitu 47,09 persen dari total ekspor minyak sawit, kemudian diikuti
oleh Malaysia sebesar 13,97 persen, dan Belanda 10,05 persen (Dirjenbun 2011).
Pangsa produksi CPO Indonesia di pasar internasional senantiasa menunjukkan
tren peningkatan. Total produksi minyak sawit dunia pada 2010 sebesar 46,7 juta
ton, dimana Indonesia dan Malaysia menguasai 85,22 persen produksi minyak
sawit dunia. Pangsa CPO Indonesia sebesar 22,1 juta ton sedangkan Malaysia
sebesar 17,7 juta ton (Lampiran 6). Indonesia memang unggul dalam hal ekspor
CPO dibandingkan dengan Malaysia. Namun, dalam hal industri hilir minyak
sawit Indonesia kalah telak dibandingkan dengan Malaysia. Sejak tahun 1996,
Malaysia telah mengembangkan industri hilir minyak sawit yang menghasilkan
produk hilir minyak sawit dengan nilai tambah yang tinggi dibandingkan dengan
melakukan ekspor minyak sawit mentah (CPO) (Rasiah 2006). Dengan
mempertimbangkan kondisi persaingan, maka penting untuk mengetahui
bagaimana dayasaing minyak sawit dan turunannya di Indonesia pada pasar
internasional kemudian merumuskan strategi-strategi untuk mengembangkan
industri minyak sawit Indonesia dalam rangka peningkatan dayasaing tersebut.

2

1.2.

Perumusan Masalah
Minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) merupakan salah satu

hasil olahan tanaman kelapa sawit yang bernilai tinggi dan mempunyai peran
strategis dalam perekonomian nasional. Perkembangan masa depan minyak sawit
juga menjanjikan. Minyak sawit diperkirakan akan mampu memenuhi tuntutan
pemenuhan kebutuhan global dan domestik, yaitu minyak sawit untuk pangan
(food), makanan ternak (feed), bahan bakar nabati atau biodiesel (biofuel), dan
serat (biofibre) atau 4-F. Tuntutan kebutuhan di atas muncul sejalan dengan
pertumbuhan penduduk, kenaikan konsumsi per kapita, pergeseran dari konsumsi
minyak jenuh hewan, pergeseran penggunaan bahan bakar dari minyak fosil
berlatarbelakang tuntutan lingkungan, substitusi pakan ternak dan serat
(Direktorat Pangan dan Pertanian 2010). Perubahan tren inilah yang mendorong
adanya pengembangan industri hilir minyak sawit yang menghasilkan produk hilir
minyak sawit dengan nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan dengan minyak
sawit mentah.
Indonesia dan Malaysia merupakan produsen dan eksportir minyak sawit
terbesar di dunia. Pada tahun 2010, kedua negara ini memproduksi 46,7 juta ton
minyak sawit atau 85,22 persen produksi minyak sawit dunia (Lampiran 6).
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan (2011) menunjukkan
bahwa 57,97 persen ekspor minyak sawit Indonesia masih berupa CPO, dan 42,03
persen dalam bentuk produk olahan sederhana yang berupa olein/minyak goreng
dan oleokimia dasar (Lampiran 7). Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih
mengandalkan ekspor minyak sawit yang masih belum diolah dan industri hilir
atau industri turunan produk minyak sawit masih terbatas. Kondisi ini sangat
berbeda dengan yang terjadi di Malaysia. Industri minyak sawit Malaysia
berkembang lebih dahulu dibandingkan dengan Indonesia. Sejak tahun 1996,
Malaysia sudah mulai melakukan klustering industri minyak sawit dan
pengembangan industri hilir minyak sawit. (Rasiah 2006). Pada tahun 2011, nilai
ekspor produk hilir dari minyak sawit Indonesia adalah sebesar US$
8.484.231.868 dan masih kalah dengan Malaysia yang sudah sebesar US$
13.650.379.875 (UNCOMTRADE 2012).

3

Indonesia saat ini baru menghasilkan 23 jenis produk hilir minyak sawit
dari sekitar 100 produk hilir minyak sawit yang berupa pangan maupun
nonpangan. Pemanfaatan CPO untuk produk olahan diantaranya yaitu oleh
industri pangan (minyak goreng, margarin, shortening, cocoa butter substitutes,
vegetable ghee) dan industri nonpangan seperti oleokimia (fatty acid, fatty
alcohol, gliserin) dan biodiesel (Departemen Perindustrian 2009). Selain itu,
sebagian besar CPO yang diolah di dalam negeri masih berupa produk bernilai
tambah rendah yakni minyak goreng (Ramadhan 2011), sehingga dengan semakin
kompetitifnya persaingan di pasar global dan juga sesuai dengan program
peningkatan nilai tambah, dayasaing dan ekspor yang tercantum dalam Rencana
Strategis Kementerian Pertanian 2010-2014, maka penting untuk mengetahui
dayasaing minyak sawit dan turunannya di Indonesia dan rumusan strategi yang
mampu meningkatkan dayasaing tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan penelitian ini adalah :
1. Bagaimana dayasaing minyak sawit dan turunannya di Indonesia pada
pasar internasional?
2. Bagaimana rumusan strategi yang tepat untuk meningkatkan dayasaing
tersebut?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Menganalisis dayasaing minyak sawit dan turunannya di Indonesia pada
pasar internasional.
2. Merumuskan strategi pengembangan minyak sawit Indonesia.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak
terkait, diantaranya :
1. Bagi pengambil kebijakan, instansi serta lembaga terkait lainnya
diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil
keputusan terkait dengan dayasaing minyak sawit dan turunannya di era
globalisasi.

4

2. Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai
tambahan informasi, literatur, dan bahan bagi penelitian selanjutnya.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini mengkaji komoditi minyak sawit yang berupa Crude Palm
Oil (CPO) dengan kode HS 1511100000 dan minyak sawit lainnya (Palm oil or
fractions simply refined) dengan kode HS 1511900000. Lingkungan internal pada
penelitian ini merupakan industri pengolahan minyak sawit Indonesia dan
lingkungan eksternal merupakan bagian lain di luar pengolahan minyak sawit
ditambah dengan lingkungan global. Pada beberapa bahasan penulis sulit memberi
batasan antara komoditi kelapa sawit, industri minyak sawit dan industri hilir
minyak sawit dikarenakan ketiga hal ini saling mendukung dan terkait. Selain itu,
untuk mengetahui sejauh apa keterkaitan tersebut, perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut. Berdasarkan hal-hal tersebut maka akan dirumuskan strategi yang dapat
diterapkan untuk pengembangan minyak sawit dan turunannya di Indonesia yang
selanjutnya dipetakan ke dalam suatu arsitektur strategis.

5

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Industri Minyak Sawit dan Turunannya
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan tanaman keras (tahunan)
berasal dari Afrika yang bisa tumbuh dan berbuah hingga ketinggian tempat 500
meter di atas permukaan laut. Kelapa sawit mulai menghasilkan pada umur 3
tahun dengan usia produktif hingga 25 – 30 tahun dan tingginya dapat mencapai
24 meter. (Pahan 2011) Tetapi untuk perkebunan, umur ekonomis kelapa sawit
adalah 25 –35 tahun, dengan tinggi pohon berkisar antara 10 - 11 m.2 Bagian
tanaman kelapa sawit yang bernilai ekonomis tinggi adalah buahnya yang
tersusun dalam sebuah tandan, biasa disebut dengan TBS (tandan buah segar).
Buah sawit dibagian sabut (daging buah) menghasilkan minyak sawit kasar (crude
palm oil atau CPO) sebanyak 20-24 persen. Sementara itu, bagian inti kelapa
sawit menghasilkan minyak inti sawit (palm kernel oil atau PKO) sebanyak 3-4
persen (Sunarko 2008).
Minyak sawit dan minyak inti sawit umumnya digunakan untuk pangan dan
nonpangan. Dalam produksi pangan, minyak sawit dan minyak inti sawit
digunakan sebagai bahan untuk membuat minyak goreng, lemak pangan,
margarin, lemak khusus (substitusi cacao butter), kue, biskuit, dan es krim. Dalam
produksi nonpangan, minyak sawit dan minyak inti sawit digunakan sebagai
bahan untuk membuat sabun, detergen, surfakat, pelunak (plasticizer), pelapis
(surface coating), pelunas, sabun metalik, bahan bakar mesin diesel, dan
kosmetika (Sunarko 2008). Hingga saat ini terdapat sekitar 23 jenis produk
turunan CPO yang telah diproduksi di Indonesia. Dengan pengolahan CPO ini
menjadi berbagai produk turunan, maka akan memberikan nilai tambah lebih
besar lagi bagi negara karena harga relatif mahal dan stabil. Penggunaan CPO
untuk industri hilirnya di Indonesia saat ini masih relatif rendah yaitu baru sekitar
35% dari total produksi (Kementerian Perindustrian 2012).
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) sebagaimana
dituangkan dalam Kebijakan Pembangunan Industri Nasional menetapkan bahwa
2

Tim Dosen Mata Kuliah Ilmu Tanaman Perkebunan. 2011. Handout Mata Kuliah Ilmu Tanaman
Perkebunan : Ekofisiologi Kelapa Sawit. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Faperta, IPB
(tidak dipublikasikan).

6

industri berbasis CPO sebagai prioritas yang pengembangannya dapat dilakukan
dengan pendekatan klaster. Berdasarkan road map pengembangan klaster industri
prioritas Tahun 2010-2014 dalam hal pengelompokan Industri Pengolahan Kelapa
Sawit yang diterbitkan oleh Departemen Perindustrian (2009) adalah sebagai
berikut:
1. Kelompok Industri Hulu
Perkebunan kelapa sawit menghasilkan buah kelapa sawit / tandan
buah segar (hulu) kemudian diolah menjadi minyak sawit mentah (hilir
perkebunan sawit dan hulu bagi industri yang berbasiskan CPO).
2. Kelompok Industri Antara
Dari minyak sawit (CPO) dapat diproduksi berbagai jenis produk
antara sawit yang digunakan sebagai bahan baku bagi industri hilirnya
baik untuk kategori pangan ataupun nonpangan. Diantara kelompok
industri antara sawit termasuk didalamnya industri olein, stearin,
oleokimia dasar (fatty acid, fatty alcohol, fatty amines, methyl esther,
glycerol)
3. Kelompok Industri Hilir
Dari produk antara sawit dapat diproduksi berbagai jenis produk
yang sebagian besar adalah produk yang memiliki pangsa pasar potensial,
baik untuk pangsa pasar dalam negeri maupun pangsa pasar ekspor.
Pengembangan industri hilir sawit perlu dilakukan mengingat nilai tambah
produk hilir sawit yang tinggi. Jenis industri hilir minyak sawit
spektrumnya sangat luas, hingga lebih dari 100 produk hilir yang telah
dapat dihasilkan pada skala industri. Namun baru sekitar 23 jenis produk
hilir (pangan dan nonpangan) yang sudah diproduksi secara komersial di
Indonesia.
2.2. Pengembangan Industri Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia
Departemen Pertanian (2007) menyatakan bahwa produksi CPO Indonesia
yang diolah di dalam negeri sebagian besar masih dalam bentuk produk antara
seperti RBD palm oil, stearin dan olein, yang nilai tambahnya tidak begitu besar
dan baru sebagian kecil yang diolah menjadi produk-produk oleokimia dengan
nilai tambah yang cukup tinggi. Industri olahan minyak sawit terbesar di

7

Indonesia adalah industri minyak goreng. Industri minyak goreng yang diproses
lewat refineri membutuhkan bahan baku CPO sekitar 4 hingga 5 juta ton setiap
tahunnya. Saat ini tercatat Indonesia memiliki 94 refineri yang tersebar di 19
propinsi. Industri refinasi ini hanya menghasilkan nilai tambah yang relatif kecil
tetapi kapasitas terpasang industri ini sudah terlalu besar (Kementerian
Perindustrian 2011).
Kondisi sebaliknya terjadi pada industri oleokimia dasar (fatty acid, fatty
alcohol, methyl esther, dan glycerine) masih relatif kecil padahal nilai tambahnya
cukup besar. Hingga saat ini, di Indonesia tercatat sembilan produsen oleokimia
dasar yang memproduksi fatty acid, fatty alcohol dan glycerine. Kapasitas
terpasang fatty acid mencapai 986.000 ton/tahun, fatty alohol mencapai 490.000
ton/tahun dan glycerine mencapai 141.700 ton/tahun. Industri biodiesel atau
methyl esther di Indonesia dimiliki oleh 20 produsen dengan total kapasitas
terpasang mencapai 3,07 juta ton/tahun (Dewan Minyak Sawit Indonesia 2010).
Produk-produk yang dapat dihasilkan dari minyak sawit sangat luas. Hal ini
terlihat dari pohon industri minyak sawit mentah (CPO) yang tersaji pada
Lampiran 8. Selain itu, pada Tabel 1 dijabarkan tentang jenis industri dan nilai
tambahnya.
Tabel 1. Jenis Industri Berbasis Minyak sawit dan Nilai Tambahnya
No

Produk

1
2
3
4

Olein & Stearin
Fatty acids
Ester
Surfactant/emulsifier

5

Sabun mandi

6
7

Lilin
Kosmetik (lotion, cream),
bedak, shampoo

Bahan baku
CPO
CPO, PKO,katalis
Palmitat,Miristat
Stearat,
Oleat,sorbitol,
gliserol
CPO, PKO,
NaOH, pewarna,
parfum
Stearat
Surfaktan, ester,
amida

Tingkat
Teknologi
Menengah
Tinggi
Tinggi
Tinggi

Pertambahan
Nilai
20%
50%
150%
200%

Sederhana

300%

Sederhana
Sederhana

300%
600%

Sumber : Departemen Pertanian (2007)

8

2.3. Penelitian Terdahulu
2.3.1. Dayasaing Komoditas Indonesia
Febriyanthi (2008) melakukan penelitian tentang dayasaing ekspor
komooditi teh Indonesia di pasar internasional. Alat yang digunakan untuk
meneliti dayasaing teh adalah Revealed Comparative Advantage (RCA),
sementara Teori Berlian Porter digunakan untuk menganalisis faktor internal dan
eksternal yang mempengaruhi keunggulan komoditi suatu negara. Dalam
penelitiannya disebutkan bahwa struktur pasar yang dihadapi teh Indonesia dalam
pasar teh internasional, adalah pasar persaingan oligopoli dan pasar persaingan
monopoli. Posisi Indonesia di masing-masing pasar tersebut adalah market
follower. Akibatnya Indonesia sangat rentan terhadap adanya kekuatan pesaingpesaing yang kuat, seperti Sri Langka, Kenya, Cina dan India. Berdasarkan
analisis keunggulan komparatif, Indonesia memiliki dayasaing yang kuat. Namun
dilihat dari keunggulan kompetitif, Indonesia masih berdayasaing lemah. Secara
garis besar hal ini menunjukkan bahwa dayasaing Indonesia di pasar internasional
masih lemah. Namun, dalam penelitiannya Febriyanthi (2008) belum melakukan
analisis keterkaitan antar komponen yang menentukan dayasaing suatu negara
(competitive advantage of nations). Analisis keunggulan komparatif dengan
metode RCA menunjukkan bahwa komoditas teh Indonesia yang berdayasaing
kuat adalah teh hijau kode HS 090210 dan teh hitam kode HS 090240
dikarenakan keunggulan komparatif yang dimiliki kedua produk itu dan nilai
ekspor yang cukup tinggi, serta pangsa pasar yang luas.
Sari (2008) melakukan penelitian tentang analisis dayasaing dan strategi
ekspor kelapa sawit (CPO) Indonesia di pasar internasional. Dalam penelitiannya,
analisis yang dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif
dilakukan dengan menggunakan analisis pangsa pasar dan Revealed Comparative
Advantage (RCA), sedangkan analisis kualitatif dengan menggunakan analisis
SWOT. Dari hasil perhitungan, didapatkan bahwa pangsa pasar Indonesia berada
pada posisi teratas kemudian disusul Malaysia dan Kolombia. Indonesia
menguasai pangsa pasar dari tahun 2000 sampai dengan 2005, walaupun besarnya
pangsa pasar Indonesia berfluktuasi tetapi cenderung tetap mengalami kenaikan.
CPO Indonesia juga memiliki keunggulan komparatif yang tinggi. Hal ini

9

ditunjukkan nilai Revealed Comparative Advantage (RCA) yang lebih dari satu.
Kemudian, kendala dalam pemasaran dan produksi CPO Indonesia secara umum
adalah kebijakan pemerintah yang menghambat, nilai (value) dan produktivitas
yang rendah, tingginya biaya ekspor, penyelundupan CPO. Maka dari itu, strategi
yang perlu dilakukan untuk mengembangkan dayasaing ekspor CPO Indonesia
adalah meningkatkan mutu, produksi hulu maupun hilir, penambahan dan
perbaikan infrastruktur dan penataan kebijakan pemerintah mengenai pajak ekspor
kelapa sawit.
Cahya (2010) melakukan penelitian tentang dayasaing ikan tuna Indonesia
di pasar internasional. Metode pengolahan data yang digunakan antara lain
Herfindahl Index (HI), Concertation Ratio (CR), Revealed Comparative
Advantage (RCA), Teori Berlian Porter, dan Analisis SWOT. Hasil analisis
kompetitif ikan tuna Indonesia melalui Teori Berlian Porter menunjukkan bahwa
ikan tuna Indonesia belum memiliki keunggulan kompetitif. Keadaan sumberdaya
faktor (alam, manusia, iptek, modal, dan infrastrukutur) masih mengalami banyak
masalah, kondisi permintaan di dalam dan luar negeri cukup baik, keberadaan
industri terkait dan pendukung belum cukup baik untuk menunjang keadaan ikan
tuna nasional. Struktur persaingan ikan tuna di pasar internasional sangat ketat
terkait munculnya pesaing baru terkait adanya teknologi budidaya, posisi tawar
pembeli dan pemasok yang cukup tinggi, adanya produk substitusi seperti ikan
salmon, dan negara pesaing yang terus meningkatkan kualitas dan kuantitas
produknya. Peran pemerintah sudah cukup baik namun masih perlu ditingkatkan
terkait dengan perbaikan kondisi faktor sumberdaya yang menjadi masalah utama
dalam pengembangan ikan tuna nasional. Peran kesempatan yang ada seperti
penemuan teknologi budidaya dan adanya perdagangan bebas dapat dimanfaatkan
untuk meningkatkan dayasaing ikan tuna nasional.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian lainnya adalah dalam penelitian
ini dilakukan penentuan posisi komparatif Indonesia sebagai produsen minyak
sawit dibandingkan negara lainnya dengan menggunakan Revealed Comparative
Advantage. Selain itu ada analisis komponen-komponen penentu dayasaing suatu
komoditas serta keterkaitan antar komponen tersebut dengan menggunakan
Porter’s Diamond Theory. Ditambah lagi, penelitian ini juga dilengkapi dengan

10

analisis pengembangan industri minyak sawit di Indonesia dengan menggunakan
analisis SWOT dan dipetakan dalam bentuk arsitektur strategi yang selanjutnya
analisis tersebut dapat digunakan sebagai informasi dalam membuat strategi
pengembangan industri minyak sawit di Indonesia untuk meningkatkan dayasaing
minyak sawit Indonesia.
2.3.2. Strategi Pengembangan Komoditas
Cahyani (2008) melakukan penelitian mengenai dayasaing dan strategi
pengembangan agribisnis gula Indonesia. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa
hasil peramalan menunjukkan konsumsi gula Indonesia sampai tahun 2025 terjadi
peningkatan. Sedangkan produksi gula cenderung konstan. Hal tersebut
menunjukkan bahwa produksi gula dalam negeri belum mampu mencukupi
kebutuhan konsumsi dalam negeri. Selain itu, jika dilihat dari tiap komponen
dayasaing agribisnis gula, terdapat keterkaitan antar komponen yang saling
mendukung dan tidak saling mendukung. Namun, keterkaitan yang tidak saling
mendukung lebih dominan dalam penelitian ini. Hal ini menyebabkan dayasaing
agribisnis gula Indonesia masih lemah. Beberapa strategi yang dirumuskan untuk
meningkatkan dayasaing agribisnis gula diantaranya adalah mengoptimalkan
sumberdaya yang ada, pengembangan produk hasil samping pengolahan gula,
peningkatan kualitas dan efisiensi produksi gula, meningkatkan kinerja usahatani
dengan penerapan teknologi on farm, penguatan kelembagaan, menjaga
ketersediaan pasokan tebu, pengaturan produksi dan impor gula rafinasi,
menciptakan lembaga permodalan bagi petani dan industri gula, rehabilitasi
sarana prasarana penunjang pabrik gula, penataan varietas dan pembibitan,
mengatur ketersediaan pupuk dan bibit dalam waktu, jumlah, jenis, dan harga
yang tepat, pengembangan industri gula di luar Jawa, perbaikan manajemen
tebang muat angkut (TMA), mencari teknik budidaya yang sesuai untuk lahan
bukan sawah, rehabilitasi tanaman tebu keprasan (bongkar ratoon). Cahyani
(2008) juga merumuskan rancangan arsitektur strategik agribisnis gula di
Indonesia.
Puspita

(2009)

melakukan

penelitian

mengenai

dayasaing

serta

pengembangan agribisnis gandum lokal di Indonesia. Dalam penelitiannya
disebutkan bahwa dalam sistem agribisnis gandum lokal di Indonesia, masing-

11

masing subsistem agribisnis belum saling mendukung dan terkait satu sama lain.
Hal ini terlihat pada subsistem agribisnis hulu yang belum terbentuk sehingga
sarana produksi berupa benih masih sulit diperoleh. Selain itu, kegiatan usahatani
juga belum mampu mendukung subsistem agribisnis hilir yang telah berkembang.
Strategi yang digunakan untuk mengembangkan dan mengingkatkan dayasaing
agribisnis gandum lokal diantaranya adalah optimalisasi lahan gandum lokal,
membangun industri berbasis gandum lokal di pedesaan, penguatan kelembagaan,
melakukan bimbingan, pembinaan dan pendampingan bagi petani, membentuk
kerjasama antara petani dengan industri makanan, menciptakan sumber
permodalan bagi petani, mengatur ketersediaan benih, menciptakan varietas
gandum baru untuk dataran rendah dan medium, melakukan sosialisasi dan
promosi agribisnis gandum lokal, pembatasan volume impor, menciptakan produk
olahan gandum lokal berkualitas tinggi untuk pasar tertentu serta meningkatkan
kualitas dan kuantitas produksi gandum lokal. Puspita (2009) juga merumuskan
rancangan arsitektur strategik agribisnis gandum lokal di Indonesia.
Nurunisa (2011) melakukan penelitian mengenai dayasaing dan strategi
pengembangan agribisnis teh Indonesia. Analisis dayasaingnya menggunakan
Sistem Berlian Porter menunjukan bahwa komponen faktor sumberdaya dan
komponen komposisi permintaan domestik, serta komponen faktor sumberdaya
dengan komponen industri terkait dan industri telah saling mendukung, sementara
komponen lainnya belum saling mendukung. Selain itu, apabila dilihat dari
komponen pendukungnya, komponen peranan pemerintah baru memiliki
keterkaitan yang mendukung dengan komponen faktor sumberdaya saja,
sementara komponen peranan kesempatan telah mampu mendukung semua
komponen utama. Strategi peningkatan dayasaing yang dihasilkan melalui analisis
Matriks SWOT lebih mengarah kepada strategi peningkatan kinerja petani teh
rakyat, yaitu dengan meningkatkan posisi tawar petani melalui penguatan
kelompok tani dan dukungan dari adanya asosiasi dan Dewan Teh Indonesia.
Sementara untuk perkebunan besar negara dan swasta strategi lebih mengarah
kepada peningkatan produksi dan diversifikasi produk, khususnya untuk produk
teh tujuan ekspor. Permasalahan lain yang menjadi fokus strategi adalah
permasalahan yang terkait dengan konsumsi teh, strategi yang digunakan lebih

12

diutamakan kepada

peningkatan upaya promosi

yang bertujuan

untuk

meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai teh dan manfaatnya. Kemudian,
strategi yang telah dihasilkan dipetakan ke dalam rancangan arsitektur strategik,
sehingga dihasilkan rancangan arsitektur strategik agribisnis teh Indonesia.
Sari (2011) melakukan penelitian mengenai dayasaing dan strategi
pengembangan kedelai lokal di Indonesia. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa
dalam sistem agribisnis kedelai lokal di Indonesia, masing-masing subsistem
agribisnis belum saling mendukung dan terkait satu sama lain. Hasil analisis
Sistem Berlian Porter menunjukkan bahwakomponen utama agribisnis kedelai
lokal di Indonesia dayasaingnya lemah, namun dayasaing agribisnis kedelai lokal
di Indonesia tersebut sangat didukung oleh komponen pendukungnya. Pada
komponen peranan pemerintah ternyata kebijakan dan sikap yang diberikan
pemerintah terhadap agribisnis kedelai lokal di Indonesia telah mendukung
seluruh komponen dalam agribisnis kedelai di Indonesia. Begitu juga dengan
komponen kesempatan yang memberikan dukungan terhadap seluruh komponen
dalam agribisnis kedelai di Indonesia. Beberapa alternatif strategi digunakan
untuk mengembangkan dan mengingkatkan dayasaing agribisnis kedelai lokal di
Indonesia. Rancangan arsitektur strategik dibuat berdasarkan perumusan strategi
pengembangan agribisnis kedelai lokal di Indonesia.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian terdahulu adalah
pada metode yang digunakan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitianpenelitian terdahulu adalah pada komoditi yang diteliti. Penelitian ini
menganalisis dayasaing minyak sawit Indonesia dan juga berusaha untuk
merumuskan strategi pengembangan industri minyak sawit Indonesia.

13

III.
3.1.

KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1. Konsep Dayasaing
Dayasaing merupakan kemampuan usaha suatu industri untuk menghadapi
berbagai lingkungan kompetitif. Dayasaing dapat diartikan sebagai kemampuan
suatu produsen untuk memproduksi suatu produk dengan biaya yang cukup
rendah sehingga pada harga-harga yang terjadi di pasar internasional kegiatan
produksi tersebut menguntungkan (Simanjuntak 1992 diacu dalam Siregar 2009).
Dayasaing juga mengacu pada kemampuan suatu negara untuk memasarkan
produknya yang dihasilkan negara itu relatif terhadap kemampuan negara lain.3
Konsep dayasaing pada tingkat nasional adalah produktivitas. Kemampuan
untuk menghasilkan suatu standar kehidupan yang tinggi dan meningkat bagi para
warga tergantung pada produktivitas dimana tenaga kerja dan modal suatu negara
digunakan. Produktivitas adalah nilai output yang diproduksi oleh suatu unit
tenaga kerja atau modal. Produktivitas tergantung baik pada kualitas dan
penampilan produk (yang menentukan harga yang dapat mereka minta) maupun
pada efisiensi di mana produk dihasilkan. Produktivitas adalah penentu utama dari
standar hidup negara yang berjangka panjang, produktivitas adalah akar penyebab
pendapatan per kapita nasional. Produktivitas sumberdaya manusia menentukan
upah karyawan, produktivitas dimana modal digunakan, dan return yang
diperolehnya untuk para pemegang sahamnya (Cho dan Moon 2003). Pendekatan
yang sering digunakan untuk mengukur dayasaing suatu komoditi dilihat dari dua
indikator yaitu keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif.
3.1.1.1. Keunggulan Kompetitif
Keunggulan kompetitif (competitive advantage) merupakan alat yang
digunakan untuk mengukur dayasaing suatu aktivitas berdasarkan pada kondisi
perekonomian aktual. Konsep keunggulan kompetitif dikembangkan pertama kali
oleh Porter (1990). Menurut Porter (1990), terdapat empat faktor utama yang
menentukan dayasaing suatu industri yaitu kondisi faktor sumberdaya, kondisi
3

Bappenas. 2012. Daya Saing. http://www.bappenas.go.id [Diakses pada 8 Juli 2012]

14

permintaan, kondisi industri pendukung dan industri terkait serta kondisi struktur,
persaingan dan strategi perusahaan. Keempat faktor tersebut didukung oleh faktor
kesempatan dan faktor pemerintah dalam meningkatkan keunggulan dayasaing
industri. Faktor-faktor tersebut menghasilkan suatu lingkungan dimana suatu
perusahaan lahir dan belajar bagaimana bersaing. Faktor-faktor tersebut
membentuk suatu sistem yaitu The Diamond of National Advantage. Setiap poin
dalam berlian tersebut mempengaruhi keberhasilan suatu negara dalam
mendapatkan keunggulan bersaing di pasar internasional.
Komponen dalam Sistem Berlian Porter dijelaskan sebagai berikut:
1) Kondisi Faktor Sumberdaya
Posisi Indonesia berdasarkan sumberdaya yang dimiliki merupakan faktor
produksi yang diperlukan untuk bersaing dalam industri CPO. Faktor produksi
digolongkan ke dalam lima kelompok:
a)

Sumberdaya Fisik atau Alam
Sumberdaya fisik atau sumberdaya alam yang mempengaruhi dayasaing
nasional mencakup biaya, aksestabilitas, mutu dan ukuran lahan (lokasi),
ketersediaan air, mineral, dan energi sumberdaya perkebunan kelapa sawit.
Begitu juga kondisi cuaca dan iklim, luas wilayah geografis, kondisi
topografis dan lain-lain.

b) Sumberdaya Manusia
Sumberdaya manusia yang mempengaruhi dayasaing industri CPO
nasional terdiri dari jumlah tenaga kerja yang tersedia, kemampuan
manajerial dan keterampilan yang dimiliki, biaya tenaga kerja yang berlaku
(tingkat upah), dan etika kerja (termasuk moral).
c)

Sumberdaya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Sumberdaya IPTEK mencakup ketersediaan pengetahuan pasar,
pengetahuan teknis dan pengetahuan ilmiah yang menunjang dan diperlukan
dalam memproduksi CPO. Begitu juga ketersediaan sumber-sumber
pengetahuan dan teknologi, seperti perguruan tinggi, lembaga penelitian dan
pengembangan, asosiasi pengusaha, asosiasi perdagangan dan sumber
pengetahuan dan teknologi lainnya.

15

d) Sumberdaya Modal
Sumberdaya modal yang mempengaruhi dayasaing CPO nasional terdiri
dari jumlah dan biaya (suku bunga) yang tersedia, jenis pembiayaan (sumber
modal), aksesibilitas terhadap pembiayaan, kondisi lembaga pembiayaan dan
perbankan, tingkat tabungan masyarakat, peraturan keuangan, kondisi
moneter, fiskal serta peraturan moneter dan fiskal.
e)

Sumberdaya Infrastruktur
Sumberdaya infrastruktur yang mempengaruhi dayasaing CPO nasional
terdiri dari ketersediaan, jenis, mutu dan biaya penggunaan infrastruktur yang
mempengaruhi persaingan. Termasuk sistem transportasi, komunikasi, pos,
giro, pembayaran transfer dana, air bersih, energi listrik dan lain-lain.

2) Kondisi Pemintaan
Kondisi permintaan dalam negeri merupakan faktor penentu dayasaing
industri CPO Indonesia, terutama mutu permintaan domestik. Mutu permintaan
domestik merupakan sasaran pembelajaran perusahaan-perusahaan domestik
untuk bersaing di pasar global. Mutu permintaan (persiapan yang ketat) di dalam
negeri memberikan tantangan bagi setiap perusahaan untuk meningkatkan
dayasaingnya sebagai tanggapan terhadap mutu persaingan di pasar domestik.
Ada tiga faktor kondisi permintaan yang mempengaruhi dayasaing industri
nasional yaitu:
a)

Komposisi Permintaan Domestik
Karakteristik permintaan domestik sangat mempengaruhi dayasaing
industri nasional. Karakteristik tersebut meliputi:
i) Struktur segmen permintaan domestik sangat mempengaruhi dayasaing
nasional. Pada umumnya perusahaan-perusahaan lebih mudah memperoleh
dayasaing pada struktur segmen permintaan yang lebih luas dibandingkan
dengan struktur segmen yang sempit.
ii) Pengalaman dan selera pembeli yang tinggi akan meningkatkan tekanan
kepada produsen untuk menghasilkan produk yang bermut

Dokumen yang terkait

Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia