Tinjauan Sosiologis Terhadap Cerita Rakyat Tuah Burung Merbuk Masyarakat Melayu Serdang

TINJAUAN SOSIOLOGIS TERHADAP CERITA RAKYAT TUAH
BURUNG MERBUK MASYARAKAT MELAYU SERDANG
SKRIPSI SARJANA

DIKERJAKAN

O
L
E
H
NAMA
NIM

: YAN FAUZI SIBA
: 040702010

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS SASTRA
DEPARTEMEN SASTRA DAERAH
PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA MELAYU
MEDAN
2010

Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN SOSIOLOGIS DALAM CERITA RAKYAT TUAH
BURUNG MERBUK MASYARAKAT MELAYU SERDANG
SKRIPSI SARJANA
Dikerjakan
O
L
E
H
YAN FAUZI SIBA
040702010
Pebimbing I

Prof.Syaifuddin,M.A,Ph.D
NIP 19650909 199403 1 004

PembimbingII

Drs.Baharuddin,M.Hum
NIP 19600101 198803 1 007

Skripsi ini disajikan kepada panitia Ujian fakultas Sastra USU melengkapii
salah satu syarat ujian SARJANA dalam bidang Ilmu Bahasa dan Sastra
Melayu

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS SASTRA
DEPARTEMEN SASTRA DAERAH
PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA MELAYU
MEDAN
2010

Universitas Sumatera Utara

Pengesahan
Diterima Oleh :
Panitia ujian Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Untuk
melengkapi salah satu syarat ujian sarjana dalam Ilmu Bahasa &
Sastra Daerah Fakultas Sastra USU Medan
Tanggal

:

Hari

:

FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Dekan

Prof.Syaifuddin,M.A,Ph.D
NIP 19650909 199403 1 004

Panitia Ujian
No

Nama

Tanda Tangan

1.

………………………………………....

(

)

2.

………………………………………....

(

)

3.

………………………………………....

(

)

4.

………………………………………....

(

)

5.

………………………………………....

(

)

6.

………………………………………....

(

)

7.

………………………………………....

(

)

Universitas Sumatera Utara

UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senatiasa memberikan nikmat
dan rahmatnya, sehingga sekripsi ini dapat diselesaikan. Syalawat beriring
salam penulis atas NAbi Muhammad SAW sebagai penuntun kita dari alam
kegelapan ke alam yang “terang benderang”.
Skripsi ini berjudul “TINJAUAN SOSIOLOGIS DALAM CERITA
RAKYAT TUAH BURUNG MERBUK MASYARAKAT MELAYU SERDANG”.
Skripsi ini merupakan tugas akhir untuk memperoleh gelar sarjana pada
fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Jurusan Daerah Program Studi
Bahasa dan Sastra Melayu.
Selama penyusunan skripsi ini, penulis banyak mengalami kesulitan,
tetapi berkat bantuan

dan dorongan dari berbagai pihak, penulis dapat

memyelesaikan skripsi ini. Untuk itu sewajarnyalah penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.

Bapak

Prof.Syahfuddin,M.A,Ph.D

(selaku

Dekan

fakultas

Sastra

Universitas Sumatera Utara) dan juga sebagai pembimbing I yang telah
banyak

memberikan

masukan,

nasehat,

serta

bantuan

dalam

menyelesaikan skripsi ini.
2.

Bapak Drs.Baharuddin,M.Hum baik sebagai Ketua Jurusan Sastra
Daerah maupun sebagai pembimbing II yang telah banyak membantu
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara

3.

Bapak warisman sinaga, M.Hum, selaku Skretaris Departemen Sastra
Daerah.

4.

Semua dosen di lingkungan Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.

5.

Teristimewa

kepada

Ayahanda dan Ibunda

tercinta

yang telah

membantu penulis secara moril maupun materil.
6.

Bapa H. Syarifuddin Siba, SH., selaku paman penulis yang telah banyak
membantu

penulis

dalam

memberikan

semangat

untuk

dapat

menyelesaikan kuliah seceptnya, tanpa ada dorongan dari beliau
mungkin penulis tidak dapat secepatnya menyelesaikan skripsi.
7.

Saudara-saudaraku yang tercinta: Emil Budian Siba, SE, Maisarah, Risi
Diana Novita Siba, dan seluruh keluarga yang telah banyak memberikan
doa dan semangat kepada penulis dalam menempuh perkuliahan
sampai selesai.

8.

Teristimewa buat Hikmah Fitria, S.Ked, Mr. Rahmad Hdayat, SS, Fuad
Syahrial, SS, Armen Sofyan Hrp, SS, yang telah banyak memberikan
masukkan-masukkan yang berharga dalam penyelesaian Skripsi ini.

9.

Yayasan Ikatan Pelajar Mahasiswa Deli (IPMD) yang telah menyalurkan
Beasiswa selama penulis menuntut Ilmu dibangku perkuliahan.

Penulis tidak dapat membalas kebaikan dan bantuannya yang telah
diberikan, sehingga terwujudnya skripsi ini, Hanya Allah yang dapat
membalasnya. Akhirnya, penulis menyadari sedalam-dalamnnya bahwa

Universitas Sumatera Utara

skripsi ini hanya merupakan salah satu persyaratan untuk menempuh ujian
kesarjanaan pada Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara. Kalau dilihat
dari isinya mungkin masih jauh dari apa yang di harapkan , namun itulah
kemampuan penulis. Dengan rendah hati penulis menerima kritikan dan
saran

yang

membangun

dari

pembaca,

sehingga

skripsi

ini

lebih

disempurnakan dan bermanfaat bagi kita semua, khususnya mahasiswa
Fakultas Sastra Dan Masyarakat Melayu.
Semoga Allah SWT akan Selalu Memberikan taufik dan hidayahNya
kepada orang-orang yang mau berbuat baik.

Medan,
Penulis

2010

Yan Fauzi Siba
Nim : 040702010

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Syukur yang sedalam-dalamnya penulis ucapkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa atas limpahan rahmatNya, penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini. Adapun judul skripsi ini adalah TINJAUAN SOSIOLOGIS DALAM
CERITA RAKYAT TUAH BURUNG MERBUK MASYARAKAT MELAYU SERDANG.
Skripsi ini diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar penyusunan skripsi
untuk para penulis lain.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dan
banyak kekurangannya karena keterbatasan yang penulis miliki, namun
penulis berusaha sebaik mungkin untuk mendeskripsikan Tinjauan sosiologis
yang terdapat dalam cerita Rakyat Tuah Burung Merbuk tersebut. Pada
kesempatan ini penulis mengharapkan kritik dan saran dari para Dosen
Penguji dan pembimbing agar skripsi ini dapat menjadi lebih baik lagi.

Medan,
Penulis

2010

Yan Fauzi Siba
Nim : 040702010

Universitas Sumatera Utara

DISETUJUI OLEH :
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN

JURUSAN SASTRA DAERAH
KETUA JURUSAN

Drs.Baharuddin,M.Hum
NIP 19600101 198803 1 007

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
UCAPAN TERIMA KASIH ................................................................... I
KATA PENGANTAR ........................................................................... IV
DAFTAR ISI ......................................................................................... VI
BAB I PENDAHULUAN....................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ...................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................... 5
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................. 5
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................... 6
1.5 Orisinilitas Penelitian............................................................ 6
1.6 Objek Penelitian ................................................................... 7
1.7 Landasan Teori .................................................................... 7
1.7.1 Teori Struktural.................................................. 8
1.7.2 Sosiologi Sastra ................................................11
1.8 Metode Penelitian ................................................................17
1.8.1 Jenis Penelitian .................................................17
1.8.2 Metode Penelitian Data .....................................17
1.8.3 Metode Analisis Data ........................................18
BAB II ANALISIS STRUKTUR CERITA RAKYAT TUAH BURUNG
MERBUK PADA MASYARAKAT MELAYU SERDANG ......... 19
2.1 Analisis Struktur cerita......................................................... 19
2.2 Ringkasan Cerita ................................................................. 19
2.3 Tema ................................................................................... 21
2.4 Alur ...................................................................................... 25
2.5 Latar .................................................................................... 36
2.6 Watak dan Perwatakan ....................................................... 38
BAB III TINJAUAN SOSIOLOGIS TERHADA CERITA RAKYAT
TUAH BURUNG MERBUK PADA MASYARAKAT
MELAYU SERDANG .............................................................. 44
3.1 Patuh Kepada Nasihat ........................................................ 44
3.2. Kemauan Keras...................................................................46
3.3 Bekerja Keras ...................................................................... 49
3.4 Sifat Jahat ........................................................................... 50
3.5 Menggunakan Akal Pikiran.................................................. 52
3.6 Percaya Kepada Kekuasaan Tuhan .................................... 54

Universitas Sumatera Utara

3.7 Kasih Sayang Saudara Kandung......................................... 58
3.8 Menjadi Pemimpin Yang Baik ............................................. 60

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN .................................................. 64
4.1 Kesimpulan ......................................................................... 64
4.2 Saran................................................................................... 65
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 66

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang dan Masalah
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terdiri banyak etnis, salah
satunya adalah etnis Melayu. Etnis Melayu merupakan bagian dari
kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.
Etnis Melayu mempunyai banyak warisan leluhur yang masih tersimpan dan
belum digali sampai sekarang sehingga dikhawatirkan warisan budaya
tersebut

akan

menurun

kualitas

atau

mutunya

disebabkan

oleh

perkembangan peradaban yang terjadi pada masyarakat Melayu tersebut.
Karya sastra merupakan hasil pemikiran dan cermin dari sebuah
budaya kelompok masyarakat yang memiliki kebudayaan. Karya sastra
merupakan hasil renungan atau pikiran serta daya imajinasi yang terpadu
karya sastra itulah yang membedakan dengan buku-buku sastra dan
karangan lainnya. Melalui karya sastra segala kemungkinan diungkapkan
oleh pengarang, baik kehidupan jasmani maupun rohani, secara universal.
Sastra lisan merupakan bagian dari kebudayaan yang tumbuh dan
berkembang di tengah-tengah masyarakat lalu diwariskan turun-menurun
secara lisan sebagai milik bersama. Ragam sastra yang demikian tidak hanya
berfungsi sebagai alat hiburan, pengisi waktu senggang, serta penyalur
perasaan dan pendengaran, tetapi juga sebagai pencerminan sikap,

Universitas Sumatera Utara

pandangan, angan-angan kelompok, alat pendidikan anak-anak, alat
pengesahan pranata dan lembaga kebudayaan serta pemeliharaan norma
masyarakat.
Sastra lisan merupakan bagian suatu kebudayaan yang tumbuh dan
berkembang di tengah-tengah masyarakat dan diwariskan turun-temurun
secara lisan sebagai milik bersama. Ragam sastra yang demikian tidak hanya
berfungsi sebagai alat hiburan, pengisi waktu senggang, serta penyalur
perasaan dan pendengaran, melainkan juga sebagai alat cermin sikap
pandangan dan lembaga kebudayaan serta alat pemeliharaan norma-norma
masyarakat.
Dalam keadaan masyarakat yang sedang membangun, seperti halnya
masyarakat Indonesia sekarang ini, berbagai bentuk kebudayaan lama
termasuk sastra lisan, bukan mustahil akan terabaikan di tengah-tengah
kesibukan pembangunan dan pembaharuan yang sedang meningkat.
Sehingga dikhawatirkan lama kelamaan akan hilang tanpa bekas atau
berbagai unsurnya yang asli sudah tidak dapat dikenal lagi.
Mengingat kedudukan dan peranan sastra lisan yang cukup penting,
maka penelitian sastra lisan perlu dilakukan sesegera mungkin. Lebih-lebih
lagi bila diingat bahwa terjadinya perubahan dalam masyarakat, seperti
adanya kemajuan-kemajuan dalam teknologi, adanya radio, dan televisi
dapat menyebabkan berangsur hilangnya sastra lisan di seluruh Nusantara.
Dengan demikian, penelitian sastra lisan berarti melakukan penyelamatan

Universitas Sumatera Utara

sastra lisan itu dari kepunahan, yang dengan sendirinya merupakan usaha
pewarisan nilai budaya, karena dalam sastra lisan itu banyak ditemui nilainilai serta cara hidup dan berpikir masyarakat (nilai-nilai sosiologis
masyarakat) yang memiliki sastra lisan itu. Hampir setiap suku bangsa di
Indonesia mengenal adanya sastra lisan, demikian pula halnya dengan
sastra lisan Melayu Serdang.
Salah satu genre prosa rakyat dari kesusasteraan Melayu adalah
cerita rakyat yang lahir dari etnik masyarakat Melayu Serdang. Sastra lisan
Melayu Serdang merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang perlu
diselamatkan.

Salah

satu

usaha

penyelematannya

adalah

dengan

mengadakan penelitian dan inventarisasi. Di samping itu, penelitian ini
bermanfaat pula sebagai salah satu upaya pembinaan dan pengembangan
sastra lisan yang bersangkutan, dan sekaligus mempunyai manfaat dalam
rangka pembinaan dan pengembangan budaya daerah dan nasional.
Dari sekian banyak sastra lisan Melayu Serdang, satu diantaranya
adalah cerita rakyat Tuah Burung Merbuk, ( selanjutnya akan disingkat
menjadi TBM ). TBM adalah cerita rakyat Melayu Serdang yang sangat dekat
dengan kehidupan masyarakat Melayu Serdang dan merupakan cerminan
dari masyarakat Melayu Serdang.
TBM menceritakan tentang 2 orang anak yang bernama si Ahmad
anak sulung dan si Muhammad anak bungsu, mereka berasal dari sebuah
kampong yang mempunyai seekor burung merbuk yang bertuah mereka

Universitas Sumatera Utara

sering bermain bersama-sama kemana saja, Pada suatu hari ada pawang
burung merbuk dari kampong seberang datang untuk mencari burung merbuk
bertuah yang dimiliki anak tersebut karena dia pernah bermimpi pada suatu
hari dan didalam mimpinya dia didatangin seorang kakek dengan maksud
tujuan bahwasannya burung merbuk yang dimiliki anak-anak tersebut adalah
burung bertuah , apabila engkau memekan hatinya burung tersebut maka
engkau akan menjadi seorang mentri, dan yang memakan kepalanya adalah
seorang raja, dan suatu hari pawang tersebut datang untuk membeli burung
tersebut karena orang tua si Ahmad dan Muhammad ini perlu dengan
keuangan maka ia memncoba menjualnnya , sebelum dijualnnya ibu dari
anak-anak tersebut menggorengnya untuk dijual kepada pawang tersebut
dan setelah itu pulanglah anak-anaknya dari ladang dan sesampai
dirumahnya anak-anak itu bertanya kepada ibu nya soal burung merbuk
mereka lalu ibunya bilang burung mereka telah mati digigit kucing, mereka
tampak sedih mendengar kabar tersebut, karena mereka sangat sayang
sama burung merbuk itu mereka pun bertanya kemana burung tersebut
ditaruh, lalu ibunya membilang kepada anaknya bahwa burung merbuknya
digoreng biar bisa dimakan. Lalu mereka bertanya dimana disimpan . ibunya
bilang ditaruh di meja makan lalu merekapun kesana dan sangkin sayangnya
mereka dengan burung itu mereka memakannya, lalu ahmad memakan
kepalanya dan Muhammad memakan hatinya . setelah mereka memakannya
beberapa saat kemudian orangtuanya bertanya kepada mereka, dimana

Universitas Sumatera Utara

burung goreng tersebut, mereka pun menjawab burung gorengnya sudah
mereka makan, karena oarang tuannya sangat memebutuhkan uang untuk
memenuhi kehidupan dengan menjual burung goreng tersebut merekapun
disuruh pergi dari rumah dan berjuang diluar untuk bertahan hidup. Setelah
dewasa si Ahmad menjadi seorang raja dan Muhammad menjadi seorang
mentri.
Ditinjau dari kemasyarakatan, penelitian ini juga mempunyai arti
penting. Ia dapat digunakan sebagai bahan pengajaran untuk mengetahui
budaya-budaya yang ada di Indonesia. Secara tidak langsung penelitian ini
juga memberi sumbangan bahan pembinaan kepribadian bangsa, terutama
sastra lisan yang memuat unsur pendidikan budi pekerti luhur.

1.2 Rumusan Masalah
Untuk lebih memfokuskan pembahasan maka diperlukan perumusan
masalah yang tepat agar pembahasan terhadap cerita rakyat TBM tidak
meluas dan tidak mencapai sasaran yang dikehendaki.
Permasalahan yang akan dibicarakan dalam tulisan ini pada hakikatnya mencakup aspek tinjauan sosiologis dalam cerita TBM. Untuk
mengetahui dan memahami aspek-aspek sosiologi dalam cerita rakyat
tersebut maka dianggap periu untuk menelaah terlebih dahulu aspek-aspek
pembangun dari cerita rakyat tersebut atau unsur-unsur pembentuk dalaman
cerita (unsur intrinsik) rakyat TBM.

Universitas Sumatera Utara

1.3.Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah maka kajian sosiologis dalam
cerita rakyat TBM secara khusus bertujuan untuk:
1. Mengetahui struktur intrinsik pada cerita rakyat TBM masyarakat Melayu
serdang.
2. Mengetahui aspek sosiologis dalam cerita rakyat TBM.

1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
a. Menambah khasanah kajian sastra masyarakat Melayu Serdang
khususnya cerita TBM.
b. Sebagai sumber bacaan bagi peneliti sastra agar cerita rakyat terus
menerus digali dan dikembangkan.
c.

Mengembangkan

dan

melestarikan

nilai-nilai

atau

tinjauan

yang

terkandung dalam karya sastra Melayu.
d. Memelihara karya sastra lisan agar terhindar dari kemusnahan dan dapat
diwariskan pada generasi yang akan datang.
e. Untuk memenuhi salah satu syarat menempuh Sarjana Sastra di
Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.

Universitas Sumatera Utara

1.5 Orisinilitas Penelitian
Penelitian terhadap cerita rakyat berupa intertalisasi TBM ini telah
dilakukan oleh Eddy Setia dan kawan-kawan, pada tahun 1990, dengan judul
Fungsi dan Kedudukan Sastra Lisan Melayu Serdang. Namun kajian yang
dilakukan oleh Eddy Setia dkk., hanya menyangkut fungsi dan kedudukan
cerita saja tanpa menganalisis cerita rakyat TBM, baik dengan pendekatan
sastra maupun dengan pendekatan sosiologi sastra,
Oleh karena itu, penulis beranggapan bahwa kajian yang penulis
kerjakan terhadap cerita rakyat TBM merupakan karya ilmiah yang masih asli
(orisinil) dan belum pernah dikaji oleh peneliti manapun. Adapun kajian yang
penulis fokuskan adalah tinjauan sosiologis yang terkandung di dalam TBM.

1.6 Objek Penelitian
Naskah yang menjadi objek penelitian penulis adalah kumpulan cerita
yang diteliti oleh Eddy Setia dan kawan-kawan pada tahun 1990 dengan data
sebagai berikut :
Judul

: Hikayat Tuah Burung Merbuk

Judul buku Asli

: Tuah Burung Merbuk

Bentuk karya sastra

: Cerita Prosa Rakyat

Prasilitator

: Rosmawati R.

Bentuk

: Hikayat Jenis rekaaan

Universitas Sumatera Utara

Penerbit

: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI

Tahun terbit

: 1990

1.7 Landasan Teori
Untuk membahas tentang struktur dalam teori struktural dan nilai
nilai sosiologis yang terkandung di dalam cerita rakyat TBM digunakan dua
teori pendekatan yaitu teori struktural dan teori sosiologi sastra. Kedua teori
pendekatan

tersebut

digunakan

untuk

mengetahui

sekaligus

mendeskripsikan unsur-unsur intrinsik dan intrinsik yang terdapat di dalam
hikayat tersebut. Berikut akan dipaparkan kedua teori pendekatan tersebut

1.7.1 Teori Struktural
Untuk mengetahui struktur dalam sebuah karya sastra, haruslah
dilakukan analisis unsur instrinsik karya sastra tersebut. Dalam unsur intrinsik
digunakan empat struktur karya sastra prosa fiksi yang harus dianalisis yaitu:
alur (plot), penokohan/perwatakan, latar,dan tema (Tinambunan. et.al.,
1996:7-14).
Pendekatan struktural dipelopori oleh kaum Formalis Rusia dan
strukturalisme Praha. Studi linguistik tidak lagi ditekankan pada sejarah
perkembangannya, melainkan pada hubungan antar unsurnya. Masalah

Universitas Sumatera Utara

unsur dan hubungan antarunsur merupakan hal yang penting dalam
pendekatan ini.
Sebuah karya sastra, fiksi, atau puisi, menurut kaum strukturalisme
dalam sebuah totaiitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur
(pembangun)-nya. Di satu pihak, struktur karya sastra dapat diartikan sebagai
susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi
komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah
(Abrams dalam Nurgiyanto, 2001 : 46).
Di pihak lain, struktur karya sastra juga menyaran pada pengertian
hubungan antarunsur (intrinsik) yang bersifat timbal balik, saling menentukan,
saling mempengaruhi, yang secara bersama membentuk satu kesatuan yang
utuh. Secara sendiri, terisolasi dari keseluruhannya, bahan, unsur, atau
bagian-bagian tersebut tidak penting, bahkan tidak ada artinya. Tiap bagian
akan menjadi berarti dan penting setelah ada dalam hubungannya dengan
bagian-bagian

yang

lain,

serta

bagaimana

sumbangannya

terhadap

keseluruhan wacana.
Selain istilah struktural di atas, dunia kesastraan mengenal istilah
strukturalisme. Strukturalisme dapat di pandang sebagai salah satu
pendekatan kesastraan yang menekankan pada kajian hubungan antarunsur
pembangun karya yang bersangkutan. Jadi, strukturalisme (disamakan
dengan pendekatan objektifnya Abrams) dapat dipertentangkan dengan

Universitas Sumatera Utara

pendekatan yang lain, seperti pendekatan mimetik, ekspresif, dan pragrnatik
(Abrams dalam Teeuw, 1989 : 189).
Namun di pihak lain, strukturalisme, menurut Hawkes (dalam
Nurgiyantoro, 2004 ; 47), pada dasarnya juga dapat dipandang sebagai cara
berpikir tentang dunia yang lebih merupakan susunan hubungan dari pada
susunan benda. Dengan demikian, kodrat setiap unsur dalam bagian sistem
struktur itu baru mempunyai makna setelah berada dalam hubungannya
dengan unsur-unsur yang lain yang terkandung di dalamnya. Kedua
pengertian tersebut tidak perlu dipertentangkan namun justru dapat
dimanfaatkan secara saling melengkapi.
Analisis struktural karya sastra, yang dalam hal ini TBM, dapat
dilakukan dengan mengidentifikasikan, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi
dan hubungan antarunsur intrinsik hikayat yang barsangkutan. Mula-mula
diidentifikasikan dan dideskripsikan, misalnya, bagaimana keadaan peristiwaperistiwa, plot, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, dan lain-iain.
Setelah coba di jelaskan bagaimana fungsi-fungsi masing-masing unsur
dalam menunjang makna keseluruhannya ,dan bagaimana hubungan antar
unsur itu sehingga secara bersama membentuk sebuah totalitas kemaknaan
yang padu. Misalnya, bagaimana hubungan antara peristiwa yang satu
dengan yang lain, kaitannya dengan pemplotan yang tidak selalu kronologis,
kaitannya dengan tokoh dan penokohan, dengan latar dan sebagainya.

Universitas Sumatera Utara

Dengan

demikian

pada

dasarnya

analisis

struktural

bertujuan

memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antar berbagai unsur
karya sastra yang secara bersama rnenghasilkan sebuah keseluruhan
.Analisis struktual tidak cukup dilakukan hanya sekedar mendata unsur
tertentu sebuah karya sastra,misalnya peristiwa, plot, tokoh, latar, atau yang
lain. Namun, yang lebih penting adalah menunjukkan bagaimana hubungan
antar unsur itu, dan sumbangan apa yang diberikan terhadap tujuan estetik
dan makna keseluruhan yang ingin di capai. hal itu perlu dilakukan mengingat
bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur yang kompleks dan unik, di
samping setiap karya mempunyai ciri kekompleksan dan keunikan sendiri.
Hal inilah antara lain yang membedakan antara karya yang satu dengan
karya yang lain. Namun, tak jarang analisis fragmentaris yang terpisah-pisah.
Analisis yang demikian inilah yang dapat dituduh sebagai mencincang karya
sastra sehingga justru menjadi tidak bermakna.
Analisis structural dapat berupa kajian yang menyangkut relasi unsurunsur dalam mikrotes, satu keseluruhan wacana, dan wacana intertekstual
(Hartoko dan Rahmanto, 1996 : 136). Analisis unsur-unsur mikrotes itu
misalnya berupa analisis kata-kata dalam kaiimat, atau kalimat-kalimat dalam
alinea atau konteks wacana yang lebih besar. Namun, ia dapat juga berupa
analisis fungsi dan hubungan antara unsur satu keseluruhan wancana dapat
berupa analisis bab per bab, atau bagian-bagian secara keseluruhan seperti
dibicarakan di atas. Analisis relasi intelekstual berupa kajian hubungan antar

Universitas Sumatera Utara

teks, baik dalam satu periode (misalnya untuk karya-karya sastra Melayu
zaman Hindu) maupun dalam periode-periode yang berbeda (misalnya
antara karya-karya Melayu zaman Hindu dengan sastra Melayu zaman
Islam).
Melepaskan karya sastra dari latar belakang sosial budaya dan
kesejarahannya, akan menyebabkan karya itu menjadi kurang bermakna,
atau paling tidak maknanya menjadi sangat terbatas, atau bahkan makna
menjadi sulit ditafsirkan. Hal itu berarti karya sastra menjadi kurang berarti
dan bermanfaat bagi kehidupan. Oleh karena itu, analisis struktural
sebaiknya dilengkapi dengan analisis yang lain, yang dalam hal ini dikaitkan
dengan keadaan sosial budaya secara luas.

1.7.2 Sosiologi Sastra
Membicarakan sosiologi sastra adalah membicarakan sampai di mana
hubungan antara sosiologi dan sastra, dan membicarakan hasil sastra yang
relevan. Sastra tercipta untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan manusia
dalam suatu masyarakat. Sebagai sesuatu yang perlu dinikmati, karya sastra
harus mengandung keindahan yang berasal dari keorisinalitasan sehingga
dapat

memenuhi

penikmatnya.

dan

Sebagai

memuaskan
sesuatu

yang

kehausan
perlu

estetis

dipahami,

masyarakat
karya

sastra

memendam kompleksitas yang hanya dapat dimengerti dengan usaha yang
sungguh-sungguh dan teliti pleh masyarakat pembacanya. Dengan demikian,

Universitas Sumatera Utara

untuk mengungkapkan kandungan karya sastra dibutuhkan kepekaan yang
luar biasa. Sebagai sesuatu yang perlu dimanfaatkan, karya sastra
mengandung nilai berharga yang dapat dipergunakan untuk kesejahteraan
manusia.
Banyak kenyataan sosial yang dihadapi manusia dalam kehidupan
bermasyarakat. Kenyataan sosial itu dapat berupa tantangan .untuk
mempertahankan hidup, kebahagiaan dalam situasi keberhasilan, frustasi
dalam situasi kegagalan, kesedihan dalam suasana kemalangan, dan lain
sebagainya. Kenyataan sosial tersebut muncul sebagai akibat hubungan
antar manusia, hubungan antara masyarakat dan hubungan antar peristiwa
dalam batin seseorang.
Situasi yang dialami manusia demi mengembangkan kemasyarakatan
situasi yang dialami manusia demi mengembangkan kemasyarakatan atau
kesejahteraan manusia itu sendiri sesuai dengan norma yang berlaku dalam
masyarakat. Dengan demikian, pengarang merupakan ahli strategi.
Pengarang harus mampu menilai sesuatu dengan tepat dan teiiti.
Pengarang tidak akan dapat mengetahui dan mengantisipasi masa dengan
sesuatu dengan tepat, apa yang akan memberikan harapan dan apa yang
akan menyuguhkan ancaman, apabila dia tidak mengetahui keadaan sesuatu
dengan jelas. Dengan demikian, seorang ahli strategi yang bijaksana tidak
akan puas dengan strategi yang hanya memuaskan dirinya sendiri.

Universitas Sumatera Utara

Pengarang akan waspada terhadap ancaman atau bahaya yang sewaktu waktu dapat menghadang.
Dari uraian di atas dapat dilihat tiga aspek yang saling berhubungan
yaitu hubungan antara sastrawan, sastra, dan masyarakat. Hubungan itu
bersifat sosial dan tertuang dalam suatu karya sastra sebagai sarana
penghubung antar sastrawan dan masyarakat pembaca. Dengan demikian,
pembicaraan ini bersifat sosiologis yang disebut sosiologi sastra.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa sosiologi sastra adalah studi
sosiologi terhadap karya sastra yang membicarakan hubungan dan pengaruh
timbal balik antara sastrawan, sastra, dan masyarakat, dengan menitik
beratkan pada realitas dan gejala nilai-nilai sosiologis yang ada diantara
ketiganya. Dengan batasan seperti itu tampaklah kecenderungan ke arah
relasi antara kenyataan yang hidup dalam masyarakat yang dirujuk karya
sastra tersebut serta sikap budaya dan kreativitas pengarang sebagai
seorang anggota masyarakat.
Pencerminan

suatu

masyarakat

yang

dimaksud

seperti

yang

ada

dalam

diungkapkan Semi (1984:55) bahwa,
Kesusastraan

mencerminkan

sistem

sosial

yang

masyarakat, sistem kekerabatan, sistem ekonomi, sistem pendidikan, sistem
kepeceryaan yang terdapat dalam masyarakat yang bersangkutan. Karena
itu, karya sastra hanyalah merupakan cermin dari pengarang semata.
Kalaupun pengarang menggambarkan suatu keadaan umum masyarakat

Universitas Sumatera Utara

dalam karya sastranya, maka gambaran itu hanyalah karena telah menjadi
persoalan pribadinya sendiri.
Dengan demikian, jelaslah bahwa sosiologi dapat dijadikan sebagai
salah satu pendekatan sastra, sebab antar sosiologi dan sastra saling
menguntungkan. Hanya perlu disadari bahwa karya sastra bukanlah
merupakan

cermin

yang

mendahului

pikiran

masyarakat

zamannya.

melajnkan karya sastra hanyalah cerminan masyarakat zamannya.
Hal ini membuktikan bahwa kehadiran sastra mempunyai peranan
penting dalam membentuk struktur masyarakat. Pengarang dan karyanya
merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan dalam rangka membicarakan
sebuah karya sastra. Disatu sisi, pengarang adalah anggota dari kelompok
masyarakat yang hidup ditengah-tengah kelompok masyarakat tersebut.
Soemarjo (1995:15) juga menekankan, bahwa kehadiran karya sastra
merupakan salah satu wujud pelestarian dari keadaan sosio-kultur suatu
masyarakat dimana ia tercipta. Lebih jauh lagi Yakob Soernarjo mengatakan
bahwa, "karya sastra menampilkan wajah kultur zamannya, tetapi lebih dari
sifat-sifat sastra juga ditentukan oleh masyarakatnya".
Pendapat Sumadjo di atas didukung pula oleh Semi (1989:54) yang
mengataKan bahwa,
a. konteks sosial pengarang yakni yang menyangkut posisi sosial
masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca, termasuk

Universitas Sumatera Utara

di dalamnya faktor-faktor sosial yang bisa mempengaruhi si
pengarang sebagai perseorangan disamping mempengaruhi isi
karya sastranya.
b. sastra sebagai cermin masyarakat yang telaah adalah sampai
sejauh mana sastra dianggap sebagai pencerminan keadaan
masyarakat.
c. sosial sastra dalam hal ini ditefaah sampai berapa jauh nilai sastra
berkaitan dengan nilai sosial dan sampai berapa jauh nilai sastra
dipengaruhi oleh nilai sosial dan sampai berapa jauh pula sastra
dapat berfungsi sebagai alat penghibur dan sekaligus sebagai
pendidikan bagi masyarakat pembaca.

Sosiologi pada sisi lain sebagai ilmu yang berbicara tentang aspekaspek kemasyarakatan selalu dapat dimanfaatkan untuk pehibicaraan
sebuah cipta sastra, tinjauan sosiologi Jalam sebuah karya sastra dapat
terwujudkan untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam Banyak hal-hal
yang menjadi fokus pengamatan seseorang sastrawan kehidupan pribadinya,
iingkungan serta harapan-harapannya menjaai hal yang menarik dalam
penelitian sebuah cipta sastra. Kompleks permasalahan itu merupakan
hadiah seorang pengarang yang dapat memperluas wawasan pemikiran
anggota

masyarakat.

Dengan

menggambarkan

fenomena

dari

hasil

Universitas Sumatera Utara

pengamatan pengarang, masyarakat pembacanya memperoleh hal yang
bermakna dalam hidupnya.
Pengarang sendiri mendapat sumber dalam aspek yang membangun
keutuhan sebuah cerita adalah menyangkut perwatakan tokoh-tokohnya.
Tokoh yang berfikiran primitif tidak mungkin akan bertindak sebagai manusia
modern yang serba luwes.
Ciri-ciri perwatakan sesorang tokoh selalu berkaitan dengan pengarang
Iingkungan dimana dia hidup. Demikian juga menyangkut tipe orang atau
tokohnya. Biasanya dalam setiap cerita selalu terdapat beberapa tokoh,
dalam hal inilah pengetahuan sosiologi berperan mengungkapkan isi sebuah
karya sastra.
Warren dalam (Damono, 1996:84) mengklasifikasikan sosiologi sastra
menjadi: pertama, sosiologi pengarang yang memasalahkan status sosial,
ideologi sosial, dan lain-lain yang menyangkut pengarang sebayai penghasil
sastra. Kedua, sosiologi karya sastra yang memasalahkan karya sastra
sastra itu sendeiri; yang menjadi pokok penelaahan adalah apa yang tersirat
dalam karya sastra dan apa yang menjadi tujuannya. Ketiga, sosiologi sastra
yang memasalahkan pembaca dan pengaruh sosial karya sastra.
lan Watt dalam (Damono, 1996:3-4) melihat hubungan timbal balik
antara sastrawan, sastra, dan masyarakat. Oleh sebab itu, telaah sosiologi
suatu karya sastra akan mencakup tiga hal yaitu : pertama, konteks sosial

Universitas Sumatera Utara

pengarang yaitu menyangkut posisi sosial masyarakat dan kaitannya dengan
masyarakat pembaca termasuk di dalamnya faktor sosial yang mempengaruhi pengarang sebagai perseorangan di samping mempengaruhi isi karya
sastranya, kedua, sastra sebagai cermin masyarakat yaitu sampai sejauh
mana sastra dianggap sebagai pencerminan keadaan masyarakat. Ketiga,
fungsi sosial sastra yaitu sampai berapa jauh nilai sastra berkaitan dengan
nilai sosial, dan sampai seberapa jauh nilai sastra dipengaruhi oleh nilai
sosial, sastra sampai berapa jauh pula sastra dapat berfungsi sebagai alat
penghibur dan sekaligus sebagai pendidikan bagi masyarakat pembaca.

1.8.Metode Penelitian
1.8.1.Jenis Penelitian

Metode atau jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode penelitian kualitatif dan bersifat deskriptif, yang oleh Nawawi (
1990 :63 ) diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki
dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan objek/subjek penelitian (
seseorang lembaga, masyarakat, dan lain-lain ) pada saat sekarang
berdasarkan fakta yang tampak atau sebagaiman adanya.
Dengan demikian dalam penelitian penulis tidak menguji hipotesis
melainkan hanya mendeskripsikan data-data fakta yang ada dan kemudian
diinterprentasikan serta dianalisis secara rasional.

Universitas Sumatera Utara

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari
kepustakaan (library research). Yang tujuannya untuk menambah bahanbahan atau buku-buku yang berhubungan dengan masalah penelitian.

1.8.2.Metode pengumpulan data

Untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan maka
digunakan metode pengumpulan data sebagai berikut :
a. Studi

kepustakaan,

yaitu

teknik

pengumpulan

data

dengan

mempelajari buku-buku, jurnal penelitian, dan bahan-bahan tertulis
lainnya yang berhubungan dengan topic penelitian.
b. Studi teks, yaitu pengumpulan data melalui naskah yang diteliti setelah
terlebih dahulu membaca kemudian menafsirkan nilai-nilai moral yang
terkandung dalam naskah.

1.8.3.Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini, karena metode penelitian yang digunakan
adalah kuaiitatif maka peneliti bersikap netral sehingga tidak mempengaruhi
data. Untuk itu peneliti hanya membaca dan memperlihatkan lalu berusaha
menjabarkan atau menginterpretasikan data tersebut untuk dianalisis
sehingga dapat memberikan kesimpulan setelah dilakukan pengecekan ulang
atas data tersebut.

Universitas Sumatera Utara

Informasi dan data yang dieroleh dari naskah disusun secara
sistematis dan dikategorisasikan, selanjutnya dianalisis dengan interpretasi
kuaiitatif. Setelah penyusunan dan analisis data, selanjutnya informasi
tersebut didisain sesuai dengan bagian-bagian yang telah ditentukan
sehingga dapat menghasilkan sebuah laporan penelitian yang integrative dan
sistematis.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
ANALISIS STRUKTUR CERITA RAKYAT TUAH BURUNG MERBUK

2.1. ANALISIS STRUKTUR CERITA
Analisis struktur yang dilakukan terhadap cerita rakyat TBM ini
merupakan langkah awal untuk memahami unsur-unsur ekstrinsik, khususnya
nilai psikologi dari hikayat tersebut.
Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Teeuw (1989) bahwa
kajian

struktural

dimaksudkan

untuk

membongkar,

mengkaji,

dan

menganalisis unsur pembentuk dalam instrinsik dari sebuah karya sastra,
yang berguna untuk pengkajian selanjutnya dari karya sastra tersebut.
Sebelum penulis mulai menganalisis struktur cerita rakyat Tuah
Burung Merbuk, ada baiknya penulis menyajikan ringkasan cerita Tuah
Burung Merbuk guna mempermudah pembaca sekalian untuk memahami
analisis yang penulis lakukan nantinya.

2.2. Ringkasan Cerita
Tuah Burung Merbuk menceritakan tentang 2 orang anak dari
sebuah kampong yang mempunyai seekor burung merbuk yang
bertuah mereka sering bermain bersama-sama kemana aja, pada
suatu hari ada pawang burung merbuk dari kampong seberang
datang untuk mencari burung merbuk bertuah yang dimiliki anak

Universitas Sumatera Utara

tersebut karena dia pernah bermimpi pada suatu hari dan
didalam mimpinya dia didatangin seorang kakek dengan maksud
tujuan bahwasannya burung merbuk yang dimiliki anak-anak
tersebut adalah burung bertuah , apabila engkau memekan
hatinya burung tersebut maka engkau akan menjadi seorang
mentri, dan yang memakan kepalanya adalah seorang raja. Dan
suatu hari pawang tersebut datang untuk membeli burung
tersebut karena orang tua si Ahmad dan Muhammad ini perlu
dengan keuangan maka ia memncoba menjualnnya , sebelum
dijualnnya ibu dari anak-anak tersebut menggorengnya untuk
dijual kepada pawang tersebut dan setelah itu pulanglah anakanaknya dari ladang dan sesampai dirumahnya anak-anak itu
bertanya kepada ibu nya soal burung merbuk mereka lalu ibunya
bilang burung mereka telah mati digigit kucing, mereka tampak
sedih mendengar kabar tersebut, karena mereka sangat sayang
sama burung merbuk itu mereka pun bertanya kemana burung
tersebut ditaruh, lalu ibunya membilang kepada anaknya bahwa
burung merbuknya digoreng biar bisa dimakan. Lalu mereka
bertanya dimana disimpan . ibunya bilang ditaruh di meja makan
lalu merekapun kesana dan sangkin sayangnya mereka dengan
burung

itu

mereka

memakannya,

lalu

ahmad

memakan

kepalanya dan Muhammad memakan hatinya . setelah mereka

Universitas Sumatera Utara

memakannya beberapa saat kemudian orangtuanya bertanya
kepada mereka, dimana burung goreng tersebut, mereka pun
menjawab burung gorengnya sudah mereka makan, karena
oarang tuannya sangat memebutuhkan uang untuk memenuhi
kehidupan dengan menjual burung goreng tersebut merekapun
disuruh pergi dari rumah dan berjuang diluar untuk bertahan
hidup. Setelah dewasa

si Ahmad menjadi seorang raja dan

Muhammad menjadi seorang mentri.

2.3. Tema
Masalah hidup dan kehidupan yang dihadapi dan dialami manusia
amat luas dan kompleks, seluas dan sekompleks permasalahan kehidupan
yang ada (Nurgiyantoro, 2001:71). Walau permasalahan yang dihadapi
manusia tidak sama, ada masalah-masalah kehidupan tertentu yang bersifat
universal. Artinya, hal itu akan dialami oleh setiap orang di manapun dan
kapan pun walau dengan tingkat intensitas yang tidak sama.
Pengarang memilih dan mengangkat berbagai masalah hidup dan
kehidupan itu menjadi tema dan atau sub-subtema ke dalam karya sastra
sesuai dengan pengalaman, pengamatan, dan aksi-interaksinya dengan
lingkungan. Tema sebuah karya sastra selalu berkaitan dangan makna
(pengalaman) kehidupan. Melalui karyanya itulah pengarang menawarkan
makna tertentu kehidupan, rnengajak pembaca untuk melihat, merasakan,

Universitas Sumatera Utara

dan menghayati makna (pengalaman) kebidupan tersebut dengan cara
memandang permasalahan jtu sebagaimana ia memandangnya.
Tema dalam sebuah karya sastra merupakan salah satu dan sejumlah
unsur pembangun cerita ygng lain, yang secara bersama membentuk sebuah
kernenyeluruhan. Bahkan sebenarnya, eksistensi terna itu sendin sangat
bergantung dari berbagai unsur yang lain. Hal itu disebabkan tema, yang
notabene "hanya" berupa makna atau gagasan dasar umum suatu cerita,
tidak mugkin hadir tanpa unsur bentuk yang rnenampungnya. Dengan
demikian, sebuah tema baru akan menjadi makna cerita jika ada dalam
keterkaitannya dengan unsur-unsur cerita yang lain, khususnya yang oleh
Nurgiyantor dikelompokkan sebagai fakta cerita (alur, latar, dan tokoh) yang
mendukung dan menyampaikan tema tersebut.
Tema dapat digolongkan ke dalam beberapa tingkatan yang berbeda,
tergantung dari segi mana hal itu dilakukan. Shipley daiam Nurgiyantoro
(2001:80-82) membedakan tema dalam lima tingkatan. Pembagian Shipley
ini berdasarkan tingkatan pengalaman jiwa, yang tersusun dari tingkatan
paling sederhana sampai tingkat yang paling tinggi yang hanya dapat dicapai
oleh manusia. Kelima tingkatan tema yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a. Tema tingkat fisik, manusja sebagai mqlekui, man as molecul.
Tema karya sastra pada tingkat ini lebih banyak menyaran dan
atau ditunjukkan oleh banyaknya aktivitas fisik daripada kejiwaan,
la lebih menekankan mobilitas fisik daripada konflik kejiwaan tokoh

Universitas Sumatera Utara

cerita yang bersangkutan. Unsur latar dalam karya sastra dengan
penonjolan tema tingkat ini mendapat penekanan.
b. Tema tingkat organik, manusia sebagai protoplasma, man as
protoplasm. Tema karya sastra tingkat ini lebih banyak menyangkut
dan atau mempersoalkan masalah seksualitas. Berbagai persoalan
kehidupan seksual manusia mendapat penekanan, khususnya
kehidupan seksual yang menyimpang.
c. Tema tingkat sosial, manusia sebagai makhluk sosial, man as
sodus. Kehidupan bermasyarakat, yang merupakan tempat aksiinteraksinya manusia dengan sesama dan dengan lingkungan
alam, mengandung banyak permasalahan, konflik, dan iain-lain
yang menjadi objek pencarian tema. Masalah-masalah sosial itu
antara

lain

berupa

masalah

ekonomi,

politik,

pendidikan,

kebudayaan, perjuangan, cinta kasih, propaganda, hubungan
atasan-bawahan, dan berbagai masalah dan hubungan sosial
lainnya yang biasanya muncul dalam karya yang berisi kritik sosial.
d. Tema

tingkat

egoik,

manusia

sebagai

individu,

man

as

individualism. Di samping sebagai makhluk sosial, manusia
sekaligus
"menuntut"

juga

sebagai

pengakuan

makhluk
atas

hak

individu

yang

senantiasa

individualitasnya.

Dalam

kedudukannya sebagai makhluk individu, manusia pun mempunyai

Universitas Sumatera Utara

banyak permasalahan dan konflik, misalnya yang berwujud reaksi
manusia terhadap masalah-masalah sosial yang dihadapinya.
e. Tema tingkat divine, manusia sebagai makhluk tingkat tinggi, yang
belum tentu setiap manusia mengalami dan atau mencapainya.
Masalah yang menonjol dalam tema tingkat ini adalah masalah
hubungan manusia dengan Sang Pencipta, masalah religiusitas,
atau berbagai masalah yang bersifat filosofis lainnya seperti
pandangan hidup, visi, dan keyakinan.
Adapun kegiatan untuk menafsirkan tema sebuah karya sastra
memang bukan pekerjaan yang mudah. Karena tema tersembunyi di balik
cerita , penafsiran terhadapnya haruslah dilakukan berdasarkan fakta-fakta
yang ada secara keseluruhan membangun cerita itu. Menurut Mochtar Lubis (
1989 : 25 ) untuk mengetahui tema sebuah karya sastra maka dapat dilihat
dari tiga hal yang berkaitan, yaitu : (a) melihat persoalan yang paling
menonjol; (b) menghitung waktu penceritaan; (c) melihat konflik paling
banyak hadir.
Setelah membaca dan memahami cerita rakyat TBM maka penulis
dapat menyimpulkan bahwa TBM termasuk cerita rakyat yang tergolong ke
dalam jenis tema tingkat sosial. Dalam cerita rakyat ini menceritakan tentang
kehidupan kakak dan adik yang kelak menjadi seorang raja dan mentri.
Masalah yang menonjol dalam hikayat ini adalah masalah manusia dengan
manusia. Atau .

Universitas Sumatera Utara

Untuk menentukan tema dalam cerita TBM ini maka penulis
mengunakan pendapat mochtar Lubis yang menentukan tema sebuah karya
sastra berdsarkan tiga hal , yaitu :
a. Persoalan yang paling menonjol dalam cerita rakyat TBM adalah
kesabaran dan kesetiaan.
b. Dari awal cerita sampai akhir cerita dalam cerita rakyat TBM
menceritakan tentang ketulusan hati seorang kakak dan adik.
c. Konflik yang paling banyak hadir

dalam cerita rakyat TBM adalah

Tentang keegoisan sang Pawang Burung Merbuk.
Berdasarkan ketiga hal di atas maka dapat di tarik kesimpulan bahwa
tema dalam cerita rakyat TBM adalah tentang perjuangan hidup kakak dan
adik yang diusir oleh orang tuanya dan berkelana di hutan demi
kelangsungan hidup.

2.4. Alur
Alur merupakan unsur karya sastra yang penting, bahkan tidak sedjkit
orang yang menganggapnya sebagai yang terpenting di antara berbagai
unsur karya sastra yang lain. Tinjauan struktural terhadap karya sastra pun
sering

tebih

ditekankan

pada

pembicaraan

alur,

walau

mungkin

mempergunakan istilah lain. Masalah linearitas struktur penyajian peristiwa
dalam karya sastra banyak dijadikan objek kajian. Hal itu kiranya juga
beralasan sebab kejelasan alur, kejelasan tentang kaitan antarperistiwa yang

Universitas Sumatera Utara

dikisahkan secara linear, akan mempermudah pemahaman kita terhadap
cerita yang ditampilkan. Kejelasan alur dapat berarti kejelasan cerita,
kesederhanaan alur berarti kemudahan cerita untuk dimengerti. Sebaliknya,
alur sebuah karya sastra yang kompleks, ruwet, dan sulit dikenali hubungan
kualitas antar peristiwanya, menyebabkan cerita menjadi lebih sulit dipahami.
Alur sebuah cerita bagaimanapun tentulah mengandung unsur urutan
waktu, baik ia dikemukakan secara eksplisit maupun implisit. Oleh karena itu,
dalam sebuah cerita, tentulah ada awal kejadian, kejadian-kejadian
berikutnya, dan barangkali ada pula akhirnya (Nurgiyantoro, 2001:141).
Namun, plot sebuah hikayat sering tidak menyajikan urutan perisitiwa secara
kronologis dan runtut, melainkan penyajian yang dapat dimulai dan diakhiri
dengan kejadian yang mana pun juga tanpa adanya keharusan untuk
memulai dan mengakhiri dengan kejadian awal dan kejadian terakhir.
Dengan demikian, tahap awal cerita tidak harus berada di awal cerita atau
djbagian awal teks, melainkan dapat terletak di bagian mana pun.
Hal yang demikian dapat terjadi disebabkan urutan waktu penceritaan
sengaja dimanipulasikan dengan urutan peristiwa la mungkin dimaksudkan
untuk mendapatkan bentuk pengucapan baru dan efek artistik tertentu,
kejutan,

ataupun

sebentuk

suspense

di

pihak

pembaca.

Teknik

pengungkapan cerita, atau teknik pengaluran, yang demikian biasanya justru
lebih menarik karena memang langsung dapat menarik perhatian pembaca.

Universitas Sumatera Utara

Pembaca tangsung berhadapan dengan konflik, yang tentu saja, ingin segera
mengetahui sebab-sebab kejadian dan bagaimana kelanjutannya.
Pada dasarnya, alur sebuah cerita haruslah bersifat padu. Antara
perisitiwa yang satu dengan yang lain, antara perisitwa yang diceritakan lebih
dahuiu dnegan yang kemudian, ada hubungan, ada sifat saling keterkaitan.
Kaitan antar peristiwa tersebut hendaklah jelas, logis, dapat dikenali
hubungan kewaktuannya lepas dari tempatnya daiam teks cerita yang
mungkin di awal, tengah atau akhir. Alur yang memiliki sifat keutuhan dan
kepaduan, tentu saja, akan menyuguhkan cerita yang bersifat utuh dan padu
pula.
Untuk memperoleh keutuhan sebuah aiur cerita, Tasrif dalam Muchtar
Lubis (1989:10) mengemukakan bahwa sebuah alur haruslah terdiri dari lima
tahapan. Kelima tahap tersebut penting untuk dikenali, terutama jika kita
bermaksud menelaah alur karya sastra yang bersangkutan. Kelima tahapan
itu adalah sebagai berikut:
(1)

Tahap Situation (tahap penyituasian), tahap yang terutama berisi
pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh cerita. Tahap ini
merupakan tahap pembukaan cerita, pemberian inforrnasi awal,
dan lain-lain yang, terutama, berfungsi untuk melandastumpui
cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya.

(2)

Tahap Generating Circumstances (tahap pemunculan konflik),
masalah-masalah

dan

peristiwa-peristiwa

yang

menyulut

Universitas Sumatera Utara

terjadinya konflik mulai dimunculkan. Jadi, tahap ini merupakan
tahap awal munculnya konflik, dan konflik itu sendiri akan
berkembang dan atau dikembangkan menjadi konflik-konflik pada
tahap berikutnya. Tahap pertama dan kedua pada pembagian ini,
tampaknya, berkesesuaian dengan tahap awal pada penahapan.
(3)

Tahap Rising Action (tahap peningkatan konflik), konflik yang
telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkernbang
dan

dikembangkan

kadar

intensitasnya.

Peristiwa-peristiwa

drarnatik yang menjadi inti cerita bersifat semakin mencekam dan
menegangkan. Konflik-konflik yang terjadi mengarah ke klimaks
semakin tidak dapat dihindari.
. (4) Tahap climax (tahap klimaks), konffik dan atau pertentanganpertentarigan yang terjadi, yang dilakui dan atau ditimpakan
kepada para tokoh cerita mencapai titik intensitas puncak.
Klimaks sebuah cerita akan dialami oleh tokoh-tokoh utama yang
berperart sebagai pelaku dan penderita terjadinya konflik utama.
Sebuah cerita yang panjang mungkin saja memiliki lebih dari satu
klimaks, atau paling tidak dapat ditafsirkan demikian.
(5)

Tahap Denouement (tahap penyelesaian), konflik yang telah
mencapai klimaks diberi penyelesaian, ketegangan dikendorkan.
Konflik-konflik yang lain, subsubkonflik, atau konflik-konflik
tambahan, jika ada, juga diberi jalan keluar, cerita diakhiri.

Universitas Sumatera Utara

Setelah penulis membaca, menghayati, dan memahami centra rakyat
TBM maka dapat digambarkan alur yang terdapat dalam cerita tersebut
adalah plot lurus atau progresif. Artinya bahwa dalam cerita rakyat TBM
pelukisan alur cerita diawali dengan awal situasi sampai dengan akhir situasi.
Adapun pentahapan alur dalam cerita rakyat TBM adalah sebagai
berikut :
1) Tahap Situation, tahap awal dalam cerita rakyat TBM dimulai pada
tahapan si pengarang mulai melukiskan kehidupan sebuaah keluarga
yang hidup di sumatera timur yang masih hutan belukar dengan 2
orang anak laki-laki. Penduduknya jarang dan tempat tinggal mereka
berpencar-pencar, anak pertama mereka bernama Ahmad dan anak
kedua bernama Muhammad. Ahmad dan Muhammad memiliki burung
Merbuk yang bertuah dan bisa berbicara, pada dahulu kala manusia
bisa berbicara dengan binatang.

. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan cerita sebagai berikut.
"Pada zaman dahulu kala tersebutlah suatu kampong, tinggal
sepasang suami. Mereka mempunyai dua anak laki-laki. Anak sulung
mereka

bernama

Ahmad

dan

anak

kedua

mereka

bernama

Muhammad. Mereka tinggak disebuah gubuk tua, pekerjaan mereka
sehari-hari mengerjakan sebidang tanah yang letaknya tidak jauh dari
gubuk.

Universitas Sumatera Utara

Mereka adalah anak-anak yang baik prilakunya dan ramah
kepada tetangga penyayang binatang sehingga satu kampung
menyukai keberadaan mereka. Sudah menjadi kebiasaan buat kedua
saudara ini , pagi membantu ibu dan ayah di sawah dan sorenya pergi
mengaji. Begitulah pekerjaan si ahmad dan muhammad setiap hari.
Pada suatu sore ketika mereka pulang dari mengaji mereka
menemukan burung merbuk yang tidak jauh dari mereka oleh karena
itu mereka punya niatan untuk menangkapnya dan dalam sekejap
mereka berhasil menangkapnya , karena sangkin gembiranya , ahmad
ddan muhammad berlari menuju rumah dan langsung menemui