Pemberdayaan kaum dhuafa melalui program Laboratorium Skill (Lab.Skill) di Yayasan Bina Insan Mandiri Depok

PEMBERDAYAAN KAUM DHUAFA MELALUI PROGRAM
LABORATORIUM SKILL (LAB. SKILL) DI YAYASAN BINA INSAN
MANDIRI DEPOK

Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)

Oleh
Mustofa
104054102121

PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H/ 2010 M

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 14 Februari 2010

Mustofa
NIM. 104054102121

``

PEMBERDAYAAN KAUM DHUAFA MELALUI PROGRAM
LABORATORIUM SKILL (LAB. SKILL) DI YAYASAN BINA INSAN
MANDIRI DEPOK

Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Kom.I)

Oleh
Mustofa
104054102121

Pembimbing

Drs. Helmi Rustandi, M.Ag
NIP 19601208 198803 2 005

PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H/ 2010 M

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi berjudul Pemberdayaan Kaum Dhuafa Melalui Program Laboratorium
Skill (Lab Skill) di Yayasan Bina Insan Mandiri Depok telah diujikan dalam
sidang munaqasyah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta pada 4 Maret 2010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah
satu syarat memperoleh gelar Sarjana Komunikasi Islam pada Program Studi
Konsentrasi Kesejahteraan Sosial.

Jakarta, 4 Maret 2010

Sidang Munaqasyah

Ketua Merangkap Anggota
Anggota

Sekretaris Merangkap

Drs. Wahidin Saputra, MA
NIP 19700903 199603 1 001

DR. Moh. Ali Wafa, M. Ag
NIP 150 321 584
Anggota

Penguji I

Penguji II

Dra. Mahmudah F. ZA, M. Pd
NIP 19640212 199703 2 001

Wati Nilamsari, M. Si
NIP 19710520 199903 2 002

Pembimbing

Drs. Helmi Rustandi, M. Ag
NIP 19601208 198803 2 005

ABSTRAK
Mustofa: Pemberdayaan Kaum Dhuafa Melalui Program lab Skill di
Yayasan Bina Insan Mandiri Depok
Dalam rangka upaya penguatan kaum dhuafa agar tebentuknya capacity
building bagi mereka, sehingga kaum dhuafa mempunyai kemampuan dalam
kehidupannya, Yayasan Bina Insan Mandiri Depok hadir dan concern terhadap
masalah tersebut khususnya kemiskinan yang berakar pada kurangnya pendidkan
dan pelatihan bagi masyarakat, yang menyebabkan mereka selalu berada di posisi
terendah dalam sebuah roda kehidupan, dengan diberikannya pendidikan dan
pelatihan ditengah mahal dan sulitnya seseorang untuk mengembangkan
kapasitasnya diharapkan kaum dhuafa menjadi semakin kuat..
Lewat program laboratorium skill yaitu tempat pendidikan dan pelatihan
bagi kaum dhuafa seperti; anak jalanan, pengamen, pemulung, pengasong dll, di
YABIM diharapkan meningkatnya SDM yang baik sebagai bekal kaum dhuafa
kelak, dengan skill yang diperoleh dari laboratorium tersebut kaum dhuafa
diharapkan menjadi mandiri dalam kehidupannya tidak lagi menjadi bagian dari
masalah sosial yang membebani pemerintah dan masyarakat dan bahkan mereka
mampu menjadi bagian dari agen atau unsur pembangunan bangsa.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif agar
mendapatkan hasil penelitian yang mendalam yakni dengan menggunakan teknik
wawancara dan observasi. Sample purposif yang digunakan sebanyak 4 orang
yaitu ketua yayasan, instruktur lab skill percetakan dan 2 peserta pelatihan lab
skill percetakan.dengan alasan agar penelitian yang dilakukan sesuai dengan
masalah yang ingin diketahui.
Hasil dalam penelitian ini menunjukan bahwa pelaksanaan pemberdayaan
dilakukan secara bertahap. tahapan pemberdayaan yang tergambar pada
pelaksanaan dari program lab skill percetakan yaitu: tahap persiapan dimana pihak
Yabim mempersiapkan segala sesuatunya dalam memulai pelatihan keterampilan
ini, tahap assesmen adalah tahap pengungkapan minat bakat pada peserta
pelatihan, tahap perencanaaan adalah tahap yang dipersiapkan sebelum kegiatan
pelatihan dilakukan, tahap formulasi aksi adalah penentuan program berupa
keterampilan percetakan, tahap pelaksanaan program adalah tahap kegiatan yang
dimulai dari perekrutan hingga penyaluran peserta, tahap evaluasi berfungsi untuk
mengukur perkembangan program percetakan ini, dan tahap terminasi adalah
tahap pemutusan secara formal bertujuan agar peserta pelatihan mandiri dan
menerapkan keterampilan yang telah dipelajari sebagai bekal hidup mereka.

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan
rahmat dan kasih sayangnyalah penulis akhirnya bisa menyelesaikan skripsi ini
dan shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda
Rasulullah Muhammad SAW, begitu juga kepada keluarga, sahabat dan tabi’ittabi’innya
Dalam penyusunan skripsi ini tentu tidak terlepas dari bimbingan,
masukan serta motivasi dari banyak pihak, oleh karena itu melalui kata pengantar
ini penulis mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi setingi-tingginya
atas segala bantuan baik moril maupun materil serta masukan ide yang
membangun bagi penulis. Untuk itu dengan kerendahan hati, penulis haturkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ayahanda H. Hasan yang tidak mengenal lelah mendidik penulis sampai
saat ini serta bekerja keras memberikan apa yang dapat ia berikan kepada
penulis. Kepada ibunda Hj. Eni Suhaeni yang dengan ketabahan hati,
mencurahkan perhatian, serta kasih sayangnya yang tulus, menjaga dan
memberikan ketentraman kepada penulis hingga saat ini, segala doa-doanya
yang terus mengalir tiada henti untuk penulis. Atas semua yang telah
diberikan semoga Allah SWT membalas segala kebaikannya, kemudian
semoga penulis bisa memberikan yang terbaik untuk mereka.
2. Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. DR. Komarudin Hidayat,
MA, Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi DR. Arief Subhan,
M.Ag, para dosen di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, dosen
pada Jurusan Kesejahteraan Sosial yang telah mentransformasikan nilai,

pengetahuan serta keterampilan kepada penulis. Terimaksih atas semua yang
telah diberikan semoga mendapatkan balasan kebaikan.
3. Dosen Pembimbing bapak Drs, Helmi Rustandi, M.Ag yang telah
memberikan ruang, waktu serta selalu bersabar selama membimbing penulis
dalam menyusun skripsi ini, terima kasih atas masukan, saran serta
motivasinya.
4. Yayasan Bina Insan Mandiri Depok, kepada bapak Nurrohim, bapak
Mustami’in, bapak Abdul Basit terima kasih sudah mempersilahkan untuk
melakukan penelitian di YABIM
5. Guru-guruku di Pon-Pest Asy-syahadatain Nurul Huda Munjul Cirebon,
khususnya para Kyai & Nyai,

kepada kyai Hasan Ma’mun dan nyai

Maimunah serta keluarga, terimakasih atas segala ilmunya.
6. Keluargaku tercinta di Cirebon, Kakek, Nenek, Paman, Bibi, sepupu,
Kakak- kakaku; Ce Elis, ce Iyan, kang Mas & kang Acenk, Keponakankeponakanku; Satria, Aisah Intan & Nok Ninis…Kalian adalah inspirasiku..
7. Seseorang yang selalu menemani dalam keseharianku meskipun dia jauh
disana dan selalu mendoakan untuk keberhasilanku semoga selalu dikuatkan
dalam menjalani kehidupan ini, terima kasih atas semua yang telah kau
berikan.
8. Om Ajiz Moslem dan Planet 13 yang selalu memberikan bimbingan kepada
penulis dalam menjalankan kehidupan ini, segala kebaikanmu tidak akan
pernah aku lupakan.
9. Teman-temanku di jurusan Kesos,

Ersyad, Imam al-Bantani, Magfirah,

Anita, dkk yang slalu menemani dalam penulisan skripsi ini. khususnya

angkatan 2004 “ Izul, Dedy, Jawa, Apip, Item, Hafiz, Ipuy, Wahit, B’jah,
Idung, Fahrudin, Sam, Putri, Winda, Ade, Ziar, Emy, Fitrah, Nana, Nadya,
Sarti, Dhea terima kasih atas semua kebersamaannya.
10. Teman-temanku di asrama IKBAL Ciputat yang selalu bersama dalam
melewati perjuangan kehidupan untuk mengejar sebuah arti keberhasilan,
Qply, Abiq, Dimmy, chiwank, ucup, Tofik, iming, yudi, ade, Ali kwadrat,
Rosyid, Pian, Sukur, Ubay, Alifah, pipit, Tomo terima kasih atas
kebersamaannya Dan kepada Anggota Ikbal lainnya Lukman, roni dll yang
tidak bisa disebutkan satu persatu, kemudian buat teman-teman di Sosiologi
Agama; Iwes, Ariel, Ade, ghoziel, Eros yang terkadang nongkrong bareng.
Sebagai kata akhir, penulis hanya beharap semoga skripsi ini
bermanfaat bagi pembaca pada umumnya, segala kebaikan hanya milik Allah
dan segala kehilafan hanyalah milik penulis, sekian dan terima kasih.

Jakarta 14 Februari 2010

Mustofa

DAFTAR ISI

ABSTRAK …………………………………………………………………..

i

KATA PENGANTAR ……………………………………………………...

ii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………….

v

BAB I

BAB II

BAB III

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ……………………………………

1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ………………………

7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ……………………………

9

D. Metodologi Penelitian …………………………………….

10

E. Sistematika Penulisan …………………………………….

16

KERANGKA TEORI
A. Pemberdayaan Masyarakat ……………………………….

18

1. Pengertian Pemberdayan Masyarakat ………………….

18

2. Strategi Pemberdayan Masyarakat …………………….

22

3. Tahapan Pemberdayaan Masyarakat ………………….

23

B. Pengertian Dhu’afa, Fakir dan Miskin …………………..

26

C. Pengertian Laboratorium Skill …………………………..

33

GAMBARAN UMUM YAYASAN BINA INSAN MANDIRI

DEPOK

BAB IV

A. Sejarah Berdirinya Yayasan Bina Insan Mandiri Depok ….

36

B. Visi dan Misi ………………………………………………

39

C. Identitas Yayasan ………………………………………….

39

D. Sarana dan Prasarana ……………………………………..

40

E. Struktur Organisasi ………………………………………..

42

F. Pembiayaan Operasional ……………………………………

43

G. Program dan Kegiatan ……………………………………

43

ANALISIS DAN TEMUAN LAPANGAN

A. Analisis Program Pemberdayaan Pada Lab skill Percetakan

46

1. Tahap Persiapan ………………………………………..

50

2. Tahap Assesmen ……………………………………….

54

3. Tahap Perencanan ……………………………………..

55

4. Tahap Formulasi Aksi …………………………………

56

5. Tahap Pelaksanaan Program ……………………………

56

6. Tahap Evaluasi ………………………………………..

60

7. Tahap Terminasi ………………………………………

67

B. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Program Lab Skill
Percetakan ……………………………………………….

BAB V

68

PENUTUP
A. Kesimpulan ……………………………………………….

70

B. Saran ………………………………………………………

72

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………..

74

LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kemiskinan merupakan masalah yang ada sudah sejak lama dan
hampir bisa dikatakan akan tetap menjadi “kenyataan abadi” dalam
kehidupan. Kemiskinan sendiri terjadi sebagai dampak pembangunan.
Masyarakat miskin umumnya lemah dalam kemampuan berusaha dan terbatas
aksesnya kepada kegiatan ekonomi, sehingga tetinggal jauh dari masyarakat
yang mempunyai potensi lebih tinggi.
Kemiskinan secara umum sebagaimana kita ketahui adalah sebuah
kondisi dimana masyarakat tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar untuk
kelangsungan hidupnya Parsudi Suparlan dalam bukunya menjelaskan bahwa
“secara singkat kemiskinan dapat didefinisikan sebagai suatu standar tingkat
hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada
sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang
umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Standar kehidupan yang
rendah ini secara langsung tampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaan
kesehatan, kehidupan moral, dan rasa harga diri dari mereka yang tergolong
sebagai orang miskin.”1
Kemiskinan terjadi disebabkan oleh banyak faktor dan begitu
kompleks sekali dalam mengklasifikasikannya. Meskipun menurut Badan
Pusat Statistika jumlah kemiskinan di tahun 2009 menurun dengan data BPS
pada awal Juli mengumumkan, hasil survei pada Maret 2009 yang
1

Parsudi Suparlan, Kemiskinan di Perkotaan, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,
1995), Cet. ke-3, h. 1

1

menunjukkan jumlah orang miskin di Indonesia menjadi sebanyak 32,53 juta
jiwa atau 14,15 % dari total jumlah penduduk Indonesia. Data itu
menunjukkan penduduk miskin berkurang 2,43 juta jiwa dibandingkan dengan
hasil survei pada maret 2008 yang mencapai 34,96 juta jiwa atau 15,42 % dari
total populasi.
Menurut Deputi Statistik Sosial BPS, Arizal Manaf, dalam survei ini
angka jumlah orang miskin tersebut diperoleh berdasarkan garis kemiskinan
atau jumlah pengeluaran sebesar Rp 200.262 per orang per bulan.
Penghitungan Rp 200.262 ribu tersebut dirinci terdiri dari Rp147,339 untuk
makan per bulan dan Rp 52.923 untuk pengeluaran non makanan, seperti
tempat tinggal dan pakaian per bulan.2
Meskipun data BPS menyatakan bahwa jumlah kemiskinan bekurang
di tahun 2009 tetapi pada kenyataannya masih banyak sekali masyarakat yang
merasakan berat dan susahnya menjalani kehidupan, terlihat di jalanan-jalanan
kota besar anak-anak di usia sekolah mencari penghasilan karena kondisi sulit
keluarganya, selain itu dengan ditandai susahnya usia kerja untuk
mendapatkan pekerjaan, tercatat

peningkatan jumlah pengangurann di

Indonesia tahun 2009 menurut Analisis Divisi Vibiz Research unit dari Vibiz
Consulting melihat adanya potensi peningkatan pengangguran tersebut maka
akan membuat pengangguran meningkat menembus level 10 juta pada tahun
2009.
Berdasarkan data BPS jumlah pengangguran di Indonesia mencapai
9,4 juta orang. Dimana komposisinya berdasarkan pendidikan adalah:
2

Data Jumlah Kemiskinan Tahun 2009 Versi BPS Artikel diakses Pada 27
September 2009 dari http://www.waspada.co.id

Dibawah Sekolah Dasar sebanyak 547 ribu, Sekolah Dasar sebanyak 2,1 Juta,
SMP dan sederajat 1,973 juta, SMA dan sederajat 3,81 juta, Diploma dan
sederajat 362 ribu dan Universitas dan sederajat sebanyak 600 ribu jiwa.3
Tabel 1
Jumlah penganguran berdasarkan tingkat pendidikan tahun 2009
No
1
2
3
4
5
6
7

Tingkat
Pendidikan
< SD
SD
SMP dan Sederajat
SMA dan sederajat
Diploma
S1
Jumlah

Jumlah Pengangguran
547 ribu
2,1 juta
1,973 juta
3, 81 juta
362 ribu
600 ribu
9, 4 juta

Sumber: BPS

Terjadinya ketimpangan seperti ini karena pendekatan penanggulangan
kemiskinan masih terpaku pada pendekatan pertumbuhan ekonomi sehingga
terjadi distorsi pembangunan yaitu

pembangunan ekonomi tidak sejalan

dengan pembangunan sosial.
Kondisi SDM yang lemah dikarenakan kondisi pendidikan yang
rendah menambah lengkap penderitaan orang miskin untuk selalu berada pada
kondisi marginal/ terasing dari aktifitas ekonomi yang menyebabkan banyak
dari mereka putus asa dan bertahan pada kondisi miskin karena keterbatasaan
mereka.
Krisis moneter di Indonesia pada tahun 1997 sampai saat ini telah
mempengaruhi kehidupan perekonomian masyarakat

yaitu

rendahnya

penghasilan sehingga tidak cukup untuk menunjang kehidupan keluarga yang
berakibat kepada kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi. Masalah kemiskinan

3

Ibid.

di Indonesia saat ini dirasakan sangat mendasar untuk ditangani salah satu ciri
umumnya adalah kondisi masyarakat yang miskin tidak memilki sarana dan
prasarana, perumaham, dan pemukiman yang tidak memadai, kualitas
lingkungan yang kumuh dan tidak layak huni.
Masalah kemiskinan adalah tangung jawab bersama bukan hanya
pemerintah saja sebagai stakeholder tetapi juga masyarakat pada umumnya
sangat berpengaruh dalam penanggulangani masalah kemiskinan, karena
masyarakat justru yang paling dekat dengan kemiskinan bahkan mungkin
sebagai pelaku dari kemiskinan itu sendiri.
Bappenas (2002) telah menetapkan dua strategi utama penanggulangan
kemiskinan, yaitu: Pertama meningkatkan pendapatan melalui peningkatan
produktivitas, dimana masyarakat miskin memiliki kemampuan pengelolaan,
memperoleh peluang dan perlindungan untuk memperoleh hasil yang lebih
baik dalam berbagai kegiatan ekonomi, sosial budaya maupun politik. Kedua
mengurangi pengeluaran melalui pengurangan beban kebutuhan dasar seperti
akses ke pendidikan, kesehatan dan infrastruktur yang mempermudah dan
mendukung kegiatan sosial ekonomi. Kedua strategi tersebut dijabarkan dalam
pilar langkah kebijakan sebagai berikut:
Dalam rangka upaya peningkatan kemampuan/capacity building maka
strategi yang dipilih adalah peningkatan kemampuan dasar masyarakat miskin
untuk meningkatkan pendapatan melalui langkah perbaikan kesehatan dan
pendidikan,

peningkatan

keterampilan

teknologi, serta informasi pasar.

usaha,

permodalan,

prasarana,

Dalam rangka upaya perlindungan sosial/social protection maka
strategi yang dipilih adalah memberikan perlindungan dan rasa aman bagi
masyarakat miskin, utamanya kelompok masyarakat yang paling miskin yaitu
fakir miskin, orang jompo, anak terlantar, cacat dan kelompok masyarakat
miskin yang disebabkan oleh bencana alam, dampak negatif, krisis ekonomi
dan konflik sosial yang diarahkan melalui kemampuan kelompok masyarakat
dalam menyisihkan sebagian dari penghasilan melalui mekanisme tabungan
kelompok.
Dalam

rangka

upaya

pemberdayaan

masyarakat/community

empowerment, maka strategi yang dipilih adalah peningkatan kualitas
sumberdaya manusia, pemantapan organisasi dan kelembagaan sosial, politik,
ekonomi, dan budaya sehingga mampu mengakses dan berpartisipasi dalam
pengambilan kebijakan dan perencanaan publik.4
Dalam menangani masalah kemiskinan perlu adanya pendekatan yang
bersifat

jangka

panjang

sehingga

penanganannya

tidak

bersifat

karitatif/sementara, pendekatan Pemberdayaan Masyarakat dalam disiplin
ilmu kesesjahteraan sosial memang salah satu alternatif dalam menanggulangi
masalah kemiskinan karena pendekatannya menjadikan masyarakat lebih
mandiri.
Pemberdayaan menurut Edi Soeharto menunjuk pada kemampuan
orang, khususnya kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memilki
kekuatan atau kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga
mereka memiliki kebebasan, dalam arti bukan saja bebas mengemukakan
4

Penangulangan Kemiskinan, artikel di akses pada 28 September 2009 dari
www.google.com

pendapat, melainkan bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, bebas dari
kesakitan, menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka
dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang-barang dan jasajasa yang mereka perlukan, dan berpartisipasi dalam proses pembangunan dan
keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka.5
Program

Pemberdayaan

Masyarakat

sangat

bermanfaat

untuk

diterapkan dalam menangani masalah-masalah sosial khususnya masalah
kemiskinan yang kian hari kian memprihatinkan. Program pemberdayaan saat
ini sudah banyak diterapkan di lembaga-lembaga baik pemerintah maupun non
pemerintah, baik itu dipanti-panti, atau yayasan-yayasan seperti program
pemberdayaan yang diterapkan oleh Yayasan Bina Insan Mandiri Depok lewat
PKBM (Pusat kegiatan belajar masyarakat) Yayasan Bina Insan Mandiri
Depok memberikan program pemberdayaan masyarakat lewat program
keterampilan yang diberi nama Lab Skill (Laboratorium Skill). dengan
pelatihan dan keterampilan

yang diberikan kepada kaum dhuafa yang

mencakup didalamnya anak jalanan, pengamen, pemulung, pengemis dan lainlain yang berada disekitar terminal Depok mulai dari keterampilan otomotif,
percetakan, pengolahan limbah dan banyak lagi yang kesemuanya itu
diharapkan agar kaum Dhu’afa atau kaum yang kurang beruntung mempunyai
keterampilan sehigga dapat diterapkan dalam dunia kerja yang bertujuan untuk
meningkatkan penghasilan hidupnya sebagai cita-cita kesejahteraan pada diri
mereka.

5

Edi Suharto, Membangun Masyarakat, Memberdayakan Rakyat, (Bandung: Rafika
Aditama, 2005), h. 59-60

Yayasan Bina Insan Mandiri Depok adalah lembaga yang concern
terhadap masalah sosial khususnya kemiskinan yang berakar pada kurangnya
pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat miskin, Mereka diberikan
pendidikan dan pelatihan ditengah mahal dan sulitnya seseorang terlebih orang
miskin untuk mengenyam pendidikan dan pelatihan di negeri ini. Kehadiran
Yayasan Bina Insan Mandiri Depok memberikan secercah harapan baru untuk
masa depan kaum dhu’afa
Secara administratif Yayasan Bina Insan Mandiri Depok berdiri pada
tahun 2004. Bapak Nurrohim dan Purwandiono yang menggagas dan
mendirikan lembaga ini karena melihat kondisi lingkungannya yang
memprihatinkan, para pengasong, pengamen, pemulung, anak-anak para
pedagang kecil yang kurang mampu serta yatim piatu adalah bagian dari
lingkungannya, dari latar belakang tersebut berdirilah Yayasan Bina Insan
Mandiri Depok dengan tujuan pendidikan dan pelatihan bagi mereka.
Dari gambaran di atas maka penulis tertarik sekali untuk meneliti
bagaimana pelaksanaan pemberdayaan melalui program keterampilan
Laboratorium Skill di Yayasan Bina Insan Mandiri Depok, dengan demikian
penulis memilih judul : “ Pemberdayaan Kaum Dhu’afa Melalui Program
Lab. Skill di Yayasan Bina Insan Mandiri Depok”

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Batasan Masalah
Yayasan Bina Insan Mandiri Depok lewat PKBM (Pusat Kegiatan
Belajar Masyarakat) menyelenggarakan beberapa program yang berkaitan

dengan pendidikan dan pelatihan diantaranya yaitu menyelenggarakan
pendidikan kesetaraan Paket A, B, C, PAUD serta kursus dan pelatihan bagi
masyarakat Dhua’fa, termasuk diadalamnya Program Laboratorium Skil.
Program

lab

skill

adalah

program

keterampilan

yang

bertujuan

memberdayakan kaum dhu’afa. Program tersebut diantaranya keterampilan
komputer, kursus menjahit, service handphone, penggemukan hewan ternak,
pengobatan dan budi daya jamur,

percetakan dll. Karena banyaknya

program keterampilan yang ada pada program lab. skill dan itu bersifat mitra
atau kerjasama dengan institusi lain maka penelitian ini berfokus pada
bagaimana pelaksanaan program pemberdayaan yang dilakukan oleh
Yayasan Bina Insan Mandiri Depok melalui program Lab. skill percetakan
alasannya adalah karena program percetakan adalah program yang satusatunya sudah milik sendiri dari Yayasan Bina Insan Mandiri Depok oleh
karena itu sangat efektif untuk diteliti.

2. Rumusan Masalah
Setelah memahami latar belakang dan batasan masalah penelitian, agar
uraian dalam bab-bab selanjutnya tidak meluas secara tidak menentu, maka
rumusan masalah yang akan penulis jabarkan adalah sebagai berikut:
1) Bagaimana pelaksanaan pemberdayaan kaum dhuafa melalui program
lab. skill keterampilan percetakan?
2) Apakah faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan
pemberdayaan melalui lab. skill keterampilan percetakan ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan penelitian
Berdasarkan pokok permasalahan yang telah peneliti rumuskan di
atas maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1) Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pemberberdayaan kaum
dhu’afa melalui lab. skill keterampilan percetakan.
2) Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat pemberdayaan
kaum dhu’afa melalui program lab. skill keterampilan percetakan.
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Akademik
1) Menambah khasanah akademik berupa dokumen teknis pada ranah
ilmu kesejahteraan sosial khususnya masalah kemiskinan melalui
pemberdayaan masyarakat.
2) Mengenal lebih jauh Yayasan Bina Insan Mandiri Depok sebagai
salah satu yayasan yang ikut serta dalam penanggulangan masalah
sosial.
3) Sebagai prasyarat akhir untuk mendapat gelar sarjana starta satu (S1)
b. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca dan
juga sebagai bahan pembelajaran untuk menambah pengetahuan.
khususnya bagi praktisi yang bergelut pada penaggulangan masalah
sosial.

D. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan metode
penelitian kualitatif. Dimana menurut Bodgan dan Taylor, metodologi
kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa
kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati.
Penelitian ini diarahkan pada latar dari individu tersebut secara utuh.6
Sedangkan menurut Nawawi pendekatan kualitatif dapat diartikan
sebagai rangkaian kegiatan atau proses menjaring informasi, dari kondisi
sewajarnya dalam kehidupan suatu objek, dihubungkan dengan pemecahan
suatu masalah, baik dari sudut pandang teoritis maupun praktis. Penelitian
kualitatif dimulai dengan mengumpulkan informasi-informasi dalam situasi
sewajarnya, untuk dirumuskan menjadi suatu generalisasi yang dapat diterima
oleh akal sehat manusia.7
Oleh karena itu, pendekatan penelitian ini dipilih oleh penulis
berdasarkan tujuan penelitian yang ingin mendapatkan gambaran proses dari
pelaksanaan program pemberdayaan kaum dhu’afa melalui program lab skill
keterampilan percetakan di Yayasan Bina Insan Mandiri Depok.
Untuk mendapatkan hasil dari penelitian ini, penulis mendapatkan datadata yang diperlukan melalui temuan data di lapangan dengan mencari datadata yang ada yaitu penulis mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan
masalah yang dibahas.

6
Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 1999), h. 3
7
Nawawi Hadari, Instrumen Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta: Gajah Mada
University Press, 1992), h. 209

Selain itu, penulis melakukan penelitian dengan menguraikan fakta-fakta
yang terjadi secara alamiah dengan menggambarkannya secara kesemua
kegiatan yang dilakukan melalui pendekatan lapangan, dimana usaha
pengumpulan data dan informasi secara intensif disertai analisa dan pengujian
kembali atas semua yang telah dikumpulkan, penulis akan mendapatkan datadata pemberdayaan kaum dhua’fa yang dilakukan oleh Yayasan Bina Insan
Mandiri Depok.
Dengan memilih metode ini, peneliti mengharapkan dapat memperoleh
data yang lengkap dan akurat.
2. Jenis Penelitian
Dilihat dari jenis penelitiannya, penulisan ini bersifat deskriptif, karena
data yang ditampilkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka.
Dengan demikian laporan penelitian akan diberi kutipan-kutipan data untuk
memberikan gambaran penyajian laporan tersebut. Data tersebut bisa
bersumber dari hasil wawancara, catatan lapangan, memo dan dokumentasi
lainnya. 8
3. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukana di Yayasan Bina Insan Mandiri Depok
terhitung sejak bulan September sampai Maret 2009.
4. Teknik pemilihan informan
Berkenaan dengan tujuan penelitian, maka pemilihan informan
menentukan informasi kunci (key information) tertentu yang sarat informasi
sesuai dengan fokus penelitian.
8

Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2003), Cet. Ke-2 h. 39

Untuk memiih sample lebih tepat dilakukan dengan sengaja (purposive
sampling) yaitu peneliti memilih dan menentukan orang-orang atau pegawai
yang menjadi informan untuk di wawancarai.
Untuk itu peneliti menggambarkan dengan tabel sebagai berikut:
Tabel 2
Kerangka dan Jumlah Informan
Informasi yang dicari

Informan

Jumlah

a. Tahapan Pemberdayaan pada

1.Ketua Yayasan

3 orang

lab. skill percetakan
b. Faktor pendukung dan
penghambat

2.Penanggung jawab
program
3. Instruktur

Manfaat dan hasil dari

Peserta pelatihan

2 orang

keterampilan percetakan

5. Sumber Data
Sumber data terdiri dari dua jenis yaitu:
a. Data primer adalah data utama yang terdiri dari kata-kata dan tindakan.
Data primer yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari hasil
wawancara dengan responden di lapangan serta hasil observasi pada
subjek penelitian.
b. Data skunder adalah data tambahan yang berasal dari dokumen tertulis.
Data yang digunakan adalah buku, majalah ilmiah, arsip serta dokumen
milik Yayasan Bina Insan Mandiri Depok.
6. Teknik Pengumpulan Data
Untuk

memperoleh

data-data

yang

diperlukan,

maka

penulis

menggunakan jenis penelitian lapangan/ Field Research dimana peneliti
datang langsung ke Yayasan Bina Insan Mandiri Depok.

Dalam penelitian lapangan ini, peneliti juga menggunakan beberapa
teknik pengumpulan data yang berkaitan dengan pembahasan diantaranya
sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi yaitu pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap
gejala-gejala yang diteliti.9 dalam hal ini penulis melakukan penelitian
dengan cara mengamati langsung terhadap segala sesuatu yang terkait
dengan masalah Pemberdayaan Kaum Dhu’afa Melalui Program Lab. Skill
Percetakan di Yayasan Bina Insan Mandiri Depok.
b. Wawancara
Wawancara atau interview yaitu tanya jawab lisan antara dua orang/
lebih secara langsung.10 Dalam penelitian ini dilakukan komunikasi
langsung dengan nara sumber yaitu ketua yayasan, penanggung jawab
program Lab. skill, instruktur pelatihan dan peserta pelatihan, pada tahap
ini peneliti menggunakan wawancara berstruktur dan terbuka, dimana ada
komunikasi

langsung

antara

responden

dengan peneliti,

peneliti

memberikan pedoman wawancara yang kemudian diajukan kepada
responden untuk dijawab, intinya agar peneliti dapat berkomunikasi
dengan baik dan peran informan yang melakukan pelatihan keterampilan
yang menjadi subjek peneliti dapat menyampaikan informasi dengan
terang dan akurat.

9

Husaini Usman dan Purnomo Setiadi Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta:
PT. Bumi Aksara , 2003), h. 53
10
Ibid, h. 57

c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah data-data yang tertulis yang mengandung
keterangan dan penjelasan serta pemikiran tentang fenomena yang masih
aktual. 11 Dalam penelitian ini dokumentasi diperoleh dari dokumentasi
yang berkaitan dengan skripsi ini.
7. Teknik Analisis Data
Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan metode deskriptif
analisis, yaitu suatu teknik analisis data dimana peneliti membaca,
mempelajari, memahami, dan merumuskan semua data yag diperoleh,
kemudian membuat analisa-analisa komprehensif sesuai dengan rumusan
masalah dan tujuan penelitian.12
8. Keabsahan Data
Dalam penelitian kualitaitif sering kali dinyatakan tidak ilmiah
sehingga kurang bisa dipertanggungjawabkan dari berbagai segi. Dengan
alasan itulah dalam penelitian kualitatif perlu dilaksanakan pemeriksaan
keabsahan data sebagai usaha untuk meningkatkan derajat keperacayaan data.
Pemeriksaan keabsahan data terdiri dari berbagai kriteria:
1) kepercayaan (creadibility). Dalam penerapan kriteria ini ada beberapa
tahapan yang peneliti lakukan yaitu:
a. Perpanjangan keikutsertaan, dimana peneliti tingal dilapangan sampai
kejenuhan penelitian data tercapai dan dapat menghasilkan data yang
maksimal sesuai kenyataan dilapangan. Dalam penelitian ini peneliti
mengadakan perpanjangan keikutsertaan dilapangan.
11

Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, h.24
Ibid., h. 22

12

b. Ketekunan atau keajegan
Ketekunan atau keajegan pengamatan berarti mencari secara konsisten
interpretasi dengan berbagai cara dalam kaitan dengan proses analisis
yang konstan atau tentatif. Dalam penelitian ini peneliti melakukan
secara cermat, teliti dan hati-hati secara berkesinambungan dalam
menggali data- data mengenai pemberdayaan melalui program lab. skill.
c. Trianggulasi

adalah

teknik pemeriksaan

keabsahan data

yang

memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan
pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yang sudah ada.
d. Pemeriksaan

sejawat

melalui

diskusi,

dilakukan

dengan

cara

mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam
bentuk diskusi dengan rekan-rekan sejawat. Dalam penelitian ini
peneliti mengadakan diskusi dengan teman, dosen pengajar yang
memiliki pengetahuan tentang konteks yang diteliti.
9. Teknik Penulisan
Penulisan skripsi ini berpedoman pada standar penulisan skripsi pada
buku: “Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Skripsi, Tesis, dan Disertasi” yang
diterbitkan oleh UIN Jakarta Press tahun 2007.
10. Tinjauan Pustaka
Untuk membandingkan maka peneliti memaparkan beberapa skripsi
yaitu skripsi yang berjudul Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pelatihan
Keterampilan Teknisi Handphone di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa
yang disusun oleh Amelia. Skripsi ini berisi mengenai pemberdayaan
masyarakat melalui keterampilan teknisi handphone. Upaya yang dilakukan

oleh Institut Kemandirian Dompet Dhuafa melalui teknisi hanphone
menjadikan peserta pelatihan memiliki keahlian khusus dibidang perbaikan
handphone, bermanfaat sekali untuk kemandirian peserta setelah mengikuti
pelatihan tersebut, berdasarkan hasil observasi penulis skripsi ini, banyak
peserta bisa mengembangkan keahliannya kemudian membuka usaha konter
dan service handphone, dari profesi baru tersebut dapat meningkatkan
kehidupan ekonomi peserta pelatihan menjadi lebih baik.

E. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pembahasan skripsi ini, secara sistematis
penulisanya di bagi ke dalam lima bab yang terdiri dari sub-sub bab. Adapun
sistematika penulisannya adalah sebagai berikut:
BAB I

PENDAHULUAN
Bab ini membahas latar belakang masalah, pembatasan dan
perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi
penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI
Dalam bab ini, dikemukakan teori-terori yang melandasi dan
mendukung penelitian. Yang meliputi Pengertian, strategi, dan
tujuan Pemberdayaan Masyarakat, pengertian dhu’afa, fakir dan
miskin dan pengertian laboratorium skill.
BAB III GAMBARAN UMUM LEMBAGA
Bab ini membahas profil dari Yayasan Bina Insan Mandiri Depok
yang meliputi: sejarah singkat berdirinya visi, misi, motto dan

tujuanya,

identitas

yayasan,

sarana dan prasarana,

struktur

organisasi, pembiayaan operasional dan kerjasama.
BAB IV ANALISIS DAN TEMUAN LAPANGAN
Bab ini membahas tentang hasil analisis pelaksanaan program lab
skill keterampilan percetakan di Yayasan Bina Insan Mandiri Depok
serta faktor pendukung dan penghambat dari program tersebut.
BAB V

PENUTUP
Bab terakhir ini, memberikan kesimpulan terhadap hasil penelitian
yang dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, guna menghasilkan
masukan ataupun saran membangun terhadap program yayasan.

BAB II
KERANGKA TEORI
A. Pemberdayaan Masyarakat
1. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan menurut kamus lengkap bahasa Indonesia adalah
proses, cara, serta perbuatan memberdayakan.13
Secara

konseptual,

pemberdayaan

atau

pemberkuasaan

(empowerment), berasal dari kata “power” (kekuasaan atau keberdayaan).
Karenanya ide utama pemberdayaan bersentuhan dengan konsep mengenai
kekuasaan. Kekuasaan seringkali dikaitkan dengan kemampuan kita untuk
membuat orang lain melakukan apa yang kita inginkan terlepas dari
keinginan dan minat mereka. Ilmu sosial tradisional menekankan bahwa
kekuasaan berkaitan dengan pengaruh dan kontrol. Kekuasaan senantiasa
hadir dalam konteks relasi sosial, karena itu kekuasaan dan hubungan
kekuasaan dapat berubah, dengan pemahan kekuasaan seperti ini,
pemberdayaan sebagai sebuah proses perubahan kemudian memiliki
konsep yang bermakna.14
Menurut Gunawan Sumodiningrat pemberdayaan adalah upaya
untuk membangun daya yang dimilki dhu’afa dengan mendorong,
memberikan motivasi, dan meningkatkan kesadaran tentang potensi yang
dimiliki mereka, serta berupaya untuk mengembangkannya.15

13

Artmanda. W, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Jombang: Frista)
Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, (Bandung:
Rafika Aditama, 2005), h. 58
15
Gunawan Sumodiningrat, Pembangunan Daerah dan Pengembangan
Masyrakat, (Jakarta: Bina Rena Pariwarna, 1997), h. 165
14

18

Selaras dengan pengertian di atas Shardlow melihat bahwa
berbagai pengetian yang ada mengenai pemberdayaan pada intinya
membahas bagaimana individu, kelompok ataupun komunitas berusaha
mengontrol kehidupan mereka

sendiri dan mengusahakan untuk

membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka. Dalam
kesimpulannya Shardlow menggambarkan bahwa pemberdayaan sebagai
suatu gagasan tidaklah jauh berbeda dengan gagasan Blesek yang dikenal
dibidang pendidikan ilmu kesejahteraan sosial dengan nama self
Determination, yang dikenal sebagai salah satu prinsip dasar dalam bidang
pekerjaan sosial dan kesejahteraan sosial. Prinsip ini pada intinya
mendorong klien untuk menentukan sendiri apa yang harus ia lakukan
dalam kaitan dengan upaya mengatasi permasalahan yang ia hadapi
sehingga klien mempunyai kesadaran dan kekuasaan penuh dalam
membentuk hari depannya.16
Selanjutnya Kartasasmita dalam buku isu-isu tematik pembangunan
sosial

yang

ditulis

memberdayakan

oleh

masyarakat

Sulistiari
berarti

(2004)

mengatakan,

meningkatkan

bahwa

kemampuan

masyarakat dengan cara mengembangkan dan mendinamisasi potensipotensi masyarakat dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat
seluruh lapisan masyarakat, dengan kata lain menjadikan masyarakat
mampu dan mandiri dengan menciptakan iklim yang memungkinkan
potensi masyarakat berkembang. Pemberdayaan bukan hanya meliputi
penguatan anggota individu dan anggota masyarakat tetapi juga pranata16

Isbandi Rukminto Adi, Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan
Intervensi Komunitas, (Jakarta: FEUI Press, 2003) h. 54

pranatanya menanamkan nilai budaya seperti kerja keras, hemat,
keterbukaan dan tanggung jawab adalah bagian pokok dari upaya
pemberdayaan. 17
Menurut Ife pemberdayaan memuat dua pengertian kunci, yakni
kekuasaan dan kelompok lemah, kekuasaan di sini diartikan bukan hanya
menyangkut kekuasaan politik dalam arti sempit, melainkan kekuasaan
atau penguasaan klien atas:
1) Pilihan-pilihan personal dan kesempatan-kesempatan hidup yaitu
kemampuan dalam membuat keputusan-keputusan mengenai gaya
hidup, tempat tinggal dan pekerjaan.
2) Pendefinisian kebutuhan yaitu kemampuan menentukan kebutuhan
selaras dengan aspirasi dan keinginannya.
3) Ide atau gagasan yaitu kemampuan untuk mengekspresikan dan
menyumbangkan gagasan dalam suatu forum atau diskusi secara
bebas tanpa tekanan.
4) Lembaga-lembaga yaitu kemampuan menjangkau, menggunakan dan
mempengaruhi

pranata-pranata

masyarakat,

seperti

lembaga

kesejahteraan sosial, pendidikan dan kesehatan.
5) Sumber-sumber yaitu kemampuan memobilisasi sumber-sumber
formal, informal dan kemasyarakatan.
6) Aktivitas ekonomi yaitu kemampuan memanfaatkan dan mengelola
mekanisme produksi, distribusi, dan pertukaran barang serta jasa.

17

Sulistiari, Isu-Isu Tematik Pembangunan Sosial: Konsepsi dan Strategi,
(Jakarta: Balai Latihan dan Pengembangan Sosial Dep. Sos. RI, 2004), h. 29

7) Reproduksi yaitu kemampuan dalam kaitannya dengan proses
kelahiran, perawatan fisik, perawatan anak, pendidikan dan sosialisasi.
Pemberdayaan Masyarakat sering dipahami sebagai perwujudan
dari pengembangan masyarakat yang lahir dari tradisi pendidikan massa
(mass education) dan berbasis pada bidang pekerjaan sosial, serta memiliki
kemiripan cakupan dengan pendidikan luar sekolah, namun pengembangan
masyarakat berkembang menjadi disiplin llmu mandiri.18
Menurut Suhartini pemberdayaan biasanya menggunakan strategi
bottom up. Artinya, masyarakat sejak awal dilibatkan dalam proses
perencanaan sampai pada pelaksanaan, dengan demikian disamping
menjadi objek, masyarakat juga menjadi subjek dan pelaku pembangunan
yang merupakan bagian dari proses peerubahan sosial.19
Menurut Edi Suharto pemberdayaan betujuan untuk:
1) Meningkatkan kekuasaan orang-orang yang lemah atau tidak
beruntung.
2) Sebuah proses dengan mana orang menjadi cukup kuat untuk
berpartisipasi dalam berbagai pengontrolan atas dan mempengaruhi
terhadap

kejadian-kejadian

serta

lembaga-lembaga

yang

mempengaruhi kehidupannya.
3) Menunjuk pada usaha pengalokasian kembali kekuasaan melalui
pengubahan struktur sosial.

18
Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, (Bandung:
Rafika Aditama, 2005), h. 59
19
Rr. Suhartini, Model-Model Pemberdayaan Masyarakat, (Yogyakarta: PT
LKiS Pelangi Aksara, 2005), Cet. Ke- 1, h. 133.

4) Suatu cara dengan mana rakyat, organisasi, dan komunitas diarahkan
agar mampu menguasai/ berkuasa atas kehidupannya.20
Dari berbagai pengertian yang ada, maka penulis menarik
kesimpulan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah upaya yang
dilakukan untuk membuat masyarakat semakin berdaya dengan melibatkan
masyarakat sebagai subjek sehingga mereka mempunyai Power/Kekuatan
dengan cara mengembangkan skill/potensi yang dimilkinya, yang dapat
dikembangkan dalam pelatihan- pelatihan agar mempunyai modal untuk
hidup mandiri.
2. Strategi Pemberdayaan Masyarakat
Strategi menurut kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai
ilmu/seni menggunakan sumber daya untuk melaksanakan strategi
kebijksanaan tertentu.21 Jika dikaitkan dengan pemberdayaan masyarakat
maka strategi adalah bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan dan
sumber daya sehingga dapat mengaplikasikanya dilapangan.
Dalam konteks pekerjaan sosial, pemberdayaan dapat dilakukan
melalui tiga aras atau matra pemberdayaan (empowrment setting):
1) Aras Mikro. Pemberdayaan dilakukan terhadap klien secara individu
melalui bimbingan, konseling, stress management, crisis intervention.
Tujuan utamanya adalah membimbing atau melatih klien dalam
menjalankan tugas-tugas kehidupannya. Model ini sering disebut
sebagai pendekatan yang berpusat pada tugas (task centered
approach).
20
21

964

Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, h. 59
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonsia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), h.

2) Aras Mezzo. Pemberdayaan dilakukan terhadap sekelompok klien.
Pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan kelompok sebagai
media intervensi. Pendidikan dan pelatihan, dinamika kelompok,
biasanya digunakan sebagai strategi dalam meningkatkan kesadaran,
pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap klien agar memiliki
kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
3) Aras Makro. Pendekatan ini disebut juga sebagai Strategi Sistem

Belajar (large-system strategy), karena sasaran perubahan diarahkan
pada sistem lingkungan yang lebih luas. Perumusan kebijakan,
perencanaan sosial, kampanye, aksi sosial, lobbying, pengorganisasian
masyarakat, manajemen konflik, adalah beberapa strategi dalam
pendekatan ini. Strategi Sistem Besar memandang klien sebagai orang
yang memiliki kompetensi untuk memahami situasi-situasi mereka
sendiri, dan untuk memilih serta menentukan strategi yang tepat untuk
bertindak.22
3. Tahapan Pemberdayaan Masyarakat
Ada beberapa tahapan dalam proses pemberdayaan masyarakat
diantaranya adalah:
1) Tahap Persiapan. Tahap ini meliputi persiapan petugas (community
worker) dengan tujuan supaya ada kesamaan persepsi antar anggota
agen perubah (agent of change) mengenai pendekatan apa yang dipilih
dalam melakukan pengemangan masyarakat.

22

Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, h. 66

2) Assesmen. Pada tahap ini dilakukan identifikasi terhadap masalah dan
sumber daya yang dimiliki klien/masyarakat assesmen ini dapat juga
dilakukan dengan menggunakan penilaian SWOT, strength/kekuatan,
weaknes/ kelemahan, opportunity/kesempatan dan threat/tantangan.
3) Tahapan Perancanaan Program. Pada tahap ini agen perubah mencoba
melibatkan masyarakat untuk memahami masalah yang mereka hadapi
dan berusaha mencari solusi terhadap masaslah tersebut.
4) Tahap Formulasi Aksi. Dalam tahap ini agen perubah membantu
kelompok masyarakat untuk menentukan program dan kegiatan yang
akan mereka lakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada.
Formulasi rencana aksi dirumuskan oleh petugas dengan masyarakat.
5) Tahap Pelaksanaan program/Kegiatan. Pada tahap ini agen perubah
membantu kelompok masyarakat dalam melaksanakan program yang
telah direncanakan.
6) Tahap Evaluasi. Pada tahap ini agen perubah bersama peserta dari
kelompok masyarakat melakukan pengawasan terhadap programprogram yang dilaksanakan dan mengawasinya.
7) Tahap terminasi. Pada tahap ini dilakukan pemutusan hubungan kerja
secara resmi antara pekerja sosial dengan masyarakat. Tahap terminasi
pada program pemberdayaan dilakukan di akhir kegiatan berupa focus
group discussion

sebagai program evaluasi

terhadap

seluruh

kegiatan.23

23

Isbandi Rukminto Adi, Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan
Intervensi Komunitas, h. 244

Selaras dengan tahapan pemberdayaan diatas Suhartini membagi
tahapan pemberdayaan kedalam enam tahapan yaitu:
1) Membantu masyarakat dalam menemukan masalahnya.
2) Melakukan analisis/ kajian terhadap permasalahan tersebut secara
mandiri/ partisipatif. Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan cara
curah pendapat, membentuk kelompok-kelompok diskusi, dan
mengadakan pertemuan warga secara periodik/ terus menerus.
3) Melakukan skala prioritas, dalam arti memilih dan memilih tiap
masalah yang paling mendesak untuk diselesaikan.
4) Mencari cara penyelesaian masalah yang sedang dihadapi antara lain
dengan pendekatan sosio-kultural yang ada dalam masyarakat.
5) Melaksanakan tindakan nyata untuk menyelesaikan masalah yang
sedang dihadapi.
6) Mengevaluasi seluruh rangkaian dan proses pemberdayaan itu untuk
dinilai sejauh mana keberhasilan dan kegagalannya.24
Lebih spesifik kepada pemberdayaan kaum dhu’afa menurut Asep
Usman Ismail dikutip dari bukunya Isbandi menggambarkan 5 tahapan
utama;

pertama,

menghadirkan

kembali

pengalaman

yang

memberdayakan dan pengalaman yang tidak memberdayakan. Kedua,
Mendiskusikan alasan mengapa terjadi pemberdayaan dan pentidak
berdayaan. Ketiga, mengidentifikasikan suatu masalah atau projek
pemberdayaan. Keempat, mengidentifikasikan basis daya yang bermakna

24

Rr. Suhartini, Model-Model Pemberdayaan Masyarakat, h. 135

bagi pemberdayaan. Kelima, mengembangkan rencana-rencana aksi
pemberdayaan dan mengimplementasikannya.25

B. Pengertian Dhu’afa, Fakir dan Miskin
1. Pengertian Dhu’afa
Perkataan dhu’afa dalam kosa kata Al-Qur’an merupakan bentuk
jamak dari kata dha’if. Kata ini berasal dari kata dhu’afa, yadh’ufu, dhu’fan
atau dha’fan yang secara umum mengandung dua pengertian, lemah dan
berlipat ganda. Tentu saja yang dimaksudkan dalam konteks pembahasan
ini dhu’afa secara literal berarti orang-orang yang lemah. Menurut alAshfahani perkataan dhu’fu merupakan lawan dari quwwah yang berarti
kuat. Kemudian menurut Imam Khalil, Pakar ilmu nahwu, istilah dhu’fu
biasanya dimaksudkan untuk menunjukan lemah fisik, sedangkan dha’fu
biasanya digunakan untuk menunjukan lemah akal.
Sejalan dengan penjelasan di atas, Al-Raghib al- Ashfahani di dalam
kitab Mufradat Alfadah Al-Qur’an ketika menjelaskan makna dan maksud
istilah dhi’af-an pada surat anisa ayat 9 sebagai berikut:
1#2&/34

()*+-./0  !" #$%&'
:;*<
$% $ 6!" 78% 9
/$ 5
DABC
>?+ ?&@ (=
:;
D
Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya
meninggalkan anak-anak yang lemah dibelakang mereka yang mereka
khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka, maka hendaklah mereka
bertakwa kepada Allah daan hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang benar”.

25

Asep Usman Ismail, dkk, Pengamalan Al-Qur’an Tentang Pemberdayaan
Dhu’afa, (Jakarta: Dakwah Press, 2008), Cet. Ke-1, h. 10

Dari ayat di atas bahwa istilah dhi’af-an memiliki beberapa
pengertian:
Pertama, dha’if al-jism yakni lemah secara fisik. Maksudnya, bahwa
orang-orang beriman tidak boleh membiarkan anak-anak mereka memilki
fisik, tubuh, atau badan yang lemah. Bagi orang Islam, makanan yang
bergizi itu selain memenuhi gizi yang seimbang sebagaimana dirumuskan
dalam prinsip empat sehat lima sempurna, tetapi juga harus memperhatikan
syarat halalan thayyiba, yakni halal secara ilmu fikih dan berkualitas bagi
kesehatan tubuh.26 Sejalan dengan ini Sajogyo menjelaskan seseorang
belum dikatakan sejahtera jika belum mencukupi standar protein dan kalori
tertentu, sedang menurut BPS kebutuhan minimum untuk hidup di ukur
dengan pengeluaran untuk makanan setara 2.100 kalori per kapita per hari. 27
Kedua, dha’if fi al-aqli yakni lemah secara intelektual. Sebenarnya
setiap anak memiliki potensi kecerdasan yang hampir sama. Misalnya
kelemahan intelektual anak-anak pada umumnya tidak terletak pada potensi
anak itu sendiri, tetapi terletak pada kemampuan orang tua, guru dan orang
dewasa disekitar kehidupan anak-anak dalam mengembangkan potensi
kecerdasan mereka.
Ketiga, dha’if al-hali yakni lemah karena keadaan sosial ekonomi
yang dihadapinya. Adapun yang dimaksud dengan kelemahan yang ketiga
ini adalah sebagai berikut: (1) kelemahan itu tidak berkenaan dengan fisik,
keterampilan hidup dan kecerdasan, tetapi berkenaan dengan kemampuan

26
Asep Usman Ismail, dkk. Pengamalan Al-Qur’an Tentang Pemberdayaan
Kaum Dhu’afa, h. 19
27
Gunawan Sumodiningrat, Kemiskinan: Teori, Fakta dan Kebijakan, (Jakarta:
IMPAC, 1999) h.10

untuk mndapat informasi dan peluang pengembangan diri. (2) Kelemahan
itu berkenaan dengan kemiskinan dan masalah-masalah sosial. Anak-anak
yatim dari lingkungan masyarakat fakir miskin yang cerdas dan memilki
keinginan untuk maju termasuk salah satu contoh kelemahan bentuk ketiga.
Seorang muslim selain diperintahkan agar senantiasa meningkatkan
ketakwaan-nya

kepada Allah, juga sangat

ditekankan agar

tidak

membiarkan generasi yang lemah dilingkungan terdekatnya, terutama kaum
dhu’afa seperti anak yatim, fakir miskin, anak jalanan, dan anak-anak
terlantar, serta orang-orang dari keluarga yang termasuk penyandang
masalah kesejahteraan sosial.
Dapat disimpulkan menurut al-Asfahani, pengertian dhu’afa yang
berakar dari kata dha’afa membentuk kata dhu’afa dengan segala
perubahannya di dalam Al-Qur’an mengandung pengertian: lemah secara
fisik, lemah kedudukan, lemah ekonomi, lemah akal dan ilmu/ kurang
pendidikan, lemah iman/ keyakinan, dan lemah jiwa.
Istilah dhu’afa ini antara lain ditemukan pada ayat Al-Qur’an, yang
mengandung pengertian lemah fisik, baik karena belum cukup umur, lanjut
usia maupun karena faktor kwalitas kesehatan.28
G8
J=
G8
_


0!;


J=

I#&/.B
G8

EF 7
G8

J=
KL&M
&N
ST
&U
O :

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2974 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 758 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 655 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 427 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 582 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 976 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 891 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 541 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 799 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 965 23