Analisis pengaruh nilai tukar, kridit, suku bunga SBI, Inflasi dan investasi terhadap jumlah uang beredar (m2) di Indonesia

(1)

ANALISIS PENGARUH NILAI TUKAR, KREDIT, SUKU

BUNGA SBI, INFLASI, DAN INVESTASI TERHADAP

JUMLAH UANG BEREDAR (M2) DI INDONESIA

Skripsi

Disusun oleh:

Muhammad Ahmad

NIM : 107084003396

JURUSAN ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA


(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Muhammad Ahmad

Tempat & Tanggal Lahir : Sungai lumpur, 20 April 1989

Agama : Islam

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Status : Belum Menikah

Pekerjaan : Mahasiswa

Kewarganegaraan : Indonesia Golongan darah : O

Tinggi & Berat badan : 167 cm & 49 kg

Hobi : Baca Buku, Dengar Musik, Badminton, Bola Kaki

Alamat : Desa Sungai Lumpur, Dusun II,

RT 002/003, kecamatan Cengal, kabupaten Ogan Komering Ilir

Nomor Telpon : 087880141418

Email : Muh_ahmad_hn@yahoo.co.id. Facebook : Muh_ahmad_hn@yahoo.co.id.


(7)

Jenjang Pendidikan

1. Tahun 2007 sampai dengan sekarang UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2. Tahun 2004 sampai dengan tahun 2007

Madrasah Aliyah Tahdzibun Nufus Jakarta barat 3. Tahun 2001 sampai dengan tahun 2004

Madrasag Tsanawiyah Miftahul Ulum Desa sungai Lumpur 4. Tahun 1995 sampai dengan 2001

SD Negeri 1 Desa Sungai Lumpur

Pengalaman Berorganisasi

1. Tahun 2009 sampai dengan sekarang

Berorganisasi di Ikata Remaja Masjid (IRMA) Nurul Iman sebagai seksi kegiatan Rhamadhan

2. Tahun 2005 sampai dengan 2007

Berorganisasi di OSIS MA. Tadzibun Nufus sebagai divisi Humas 3. Tahun 2005 sampai dengan 2007

Berorganisasi di Paskibra dan Pramuka MA. Tahdzibun Nufus sebagai salah satu pengurus

4. Tahun 2004 sampai dengan 2005

Berorganisasi di OSIS MTs Miftahul Ulum sebagai ketua OSIS. 5. Tahun 2003 sampai dengan 2004


(8)

ABSTRACT

The purpose of this research to analyze the effect of exchange rate, credit, interest rate of SBI, inflation an investment on money supply (M2). The data which use in this research is time series data in Indonesia since 2003.1-2010.4, by using OLS (ordinary least Square) method.

The result shows that exchange rate and inflation have a negative and significant effect on money supply (M2) in Indonesia.Beside of that, credit and interest rate of SBI have a positive and significant effect on money supply (M2) in Indonesia. Meanwhile investment has no significant effect on money supply in Indonesia.

Keyword : Money Supply (M2), Exchage rate, credit, interest rate of SBI, inflation, investment


(9)

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh nilai tukar, kredit, suku bunga SBI, inflasi dan investasi terhadap jumlah uang beredar (M2) di Indonesia. Data yang digunakan adalah data time series yaitu tahun 2003.1 -2010.4 dengan menggunakan metode OLS (Ordinary Least Sqaure).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tukar dan inflasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap jumlah uang beredar (M2) di Indonesia. Sementara kredit dan suku bunga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah uang beredar (M2) di Indonesia. Sedangkan investasi tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah uang beredar (M2) di Indonesia

Kata kunci: Jumlah Uang beredar (M2), Nilai Tukar, Kredit, Suku bunga SBI, Inflasi, Investasi


(10)

KATA PENGANTAR

Bismillahirohmanirohim….. Alhamdulillahirobbilalamin…

Segala puji dan rasa syukur hanyalah milik Allah SWT, yang memiliki segala keagungan, maha pencipta semua yang ada dilangit dan di bumi, sumber semua ilmu pengetahuan, serta maha pembuka pintu rahmat bagi semua hamba-hambaNYA, sehingga nikmat terbesarpun telah penulis rasakan akan keagunganNYA, izinNYA dan atas semua kemudahan yang telah dibukakan bagi penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW, Nabi yang menjadi suri tauladan bagi seluruh umat, segenap keluarga, sahabat, pengikutnya yang senantiasa istiqomah di jalan Allah SWT.

Setelah melalui proses dan dengan segala usaha, Alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “ANALISIS PENGARUH NILAI TUKAR, KREDIT, SUKU BUNGA SBI, INFLASI DAN INVESTASI TERHADAP JUMLAH UANG BEREDAR (M2) DI INDONESIA”

Dalam skripsi ini, terkadang penulis menghadapi hambatan yang memang menjadi bagian dari suatu perjuangan untuk mencapai sebuah tujuan. Namun, penulis menyadari bahwa ini merupakan proses yang harus dijalani. Oleh karena itu, banyak pihak yang telah memberikan bantuannya kepada penulis sehingga membukakan kebutuhan yang penulis alami

Atas segala kerendahan dan ketulusan hati, penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis baik secara langsung maupun tidak langsung, secara spiritual maupun materil. Ucapan terimah kasih penulis sampaikan kepada:

1. Kedua orang tuaku, Nurdin dan Sanatang. Skripsi ini penulis persembahkan untuk kalian, terimah kassih telah membesarkan penulis dengan kesabaran, memberikan


(11)

kasih sayang yang tulus, dukungan, motivasi serta doa yang tidak pernah putus. Doaku selalu menyertai kalian, semoga Allah memberikan balasan atas semua kesabaran mama dan bapak.

2. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, Ms selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang secara tidak langsung mengajarkan penulis bagaimana menjadi seseorang ekonom yang baik, serta mendoakan penulis menjadi seseorang yang baik

3. Bapak Dr. Lukam. M.Si, selaku Dosen Pembimbing 1, yang telah meluangkan waktu, pikiran dan ilmunya dengan segala profesionalitas dan kesabaran dalam membimbing sehingga skrispsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Semoga segala kebaikan dan ketulusan yang bapak berikan menjadi amal shaleh

4. Bapak Zuhairan Yunmi Yunan SE. MSc, selaku Dosen Pembimbing II, yang telah meluangkan waktu, pikiran dan ilmunya dengan segala profesionalitas dan kesabaran. Semoga ilmunya yang bapak berikan dapat bermamfaat,

5. Ibu Utami Baroroh. M.Si, selaku Sekretaris Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas ekonomi dan Bisnis

6. Seluruh Dosen Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat bagi penulis selama masa perkuliahan

7. Seluruh staf dan karyawan Ekonomi dan Bisnis

8. Keluarga tercinta,, terimah kasih karena selama ini telah meberikan penulis dukungan, semangat, pelajaran, serta materi yang mungkin penulis belum bisa membalasnya. Semoga Allah selalu melindungi kalian. Amin..

9. Ratna Dewi binti H. Hasanudin, terimah kasih selama ini telah memberikan penulis dukungan, semangat secara spiritual. Semoga Allah memberikan yang terbaik buat dia. Amin…

10.Sahabat- sahabat IESP terbaik, Maryo, Ganda adi, Pranowo, Etty, Mahmudah, Rey, Wiwi, Feni, Tio, Reza, Lutfi (Syariah), Fikri, Endang, Dhea, JB sukma, Tri Widarso, Syamsul, Rahmad Kurniadi, Irfan Fahmi, Arudin, dan lain-lain.


(12)

Terimah kasih telah memberikan semangat kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.

11.Sahabat-sahabat terbaik, terimah kasih telah menjadi teman terbaik, yang selalu ada untuk menghibur dan memberikan semangat penulis dalam menghadapi cobaan hidup. Kalian anugerah terindah selama ini. Terimah kasih atas kebersamaan kalian selama ini. Dan seluruh teman-teman IESP angkatan 2007, senang bisa berjuang bersama kalian. Tetap semangat….

12.Dan semua pihak yang turut membantu, yang tidak dapat disebutkan satu persatu.. Penulis sadari penulisan skripsi ini masih sangat jauh untuk mencapai kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang sifatnya membangun senantiasa penulis harapkan untuk membuat satu perubahan yang baik.

Akhirnya penulis sangat berharap semoga Skripsi ini dapat memberikan manfaat, baik kepada penulis maupun semua pihak yang berkesempatan membaca skripsi ini.

Jakarta. 1 Desember 2011

Penulis


(13)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

LEMBAR PENGESAHAN KOMFREHENSIF LEMBAR PENGASAHAN UJIAN SKRIPSI

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

DAFTAR RIWAYAT HIDUP i

ABSTRACT iii

ABSTRAK iv

KATA PENGANTAR v

DAFTAR ISI viii

DAFTAR TABEL xi DAFTAR GAMBAR xii DAFTAR LAMPIRAN xiii

BAB. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1

B. Perumusan Masalah... 11

C. Tujuan Penelitian... 12

D. Manfaat Penelitian... 13

BAB. II. LANDASAN TEORI A. Jumlah Uang Beredar... 15

1. Sejarah Uang... 15

2. Pengertian... 18

3. Fungsi Uang... 19

4. Macam-Macam uang... 20

5. Definisi Uang Beredar... 21


(14)

7. Teori kuantitas uang... .. 25

B. Kurs/ Nilai Tukar... 26

1. Pengertian Kurs atau Nilai Tukar... 26

2. Macam-Macam Nilai Tukar ... 28

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kurs Valuta Asing.. 29

4. Perubahan Nilai Kurs... 31

5. Teori Paritas Daya Beli ………. 33

C. Kredit... 34

1. Pengertian Kredit... 34

2. Jenis-Jenis Kredit... 36

3. Tujuan dan Fungsi Kredit... 37

D. Suku Bunga... 40

1. Pengertian Suku Bunga... 40

2. Macam-Macam Suku Bunga... 41

3. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)... 42

E. Inflasi... 42

1. Pengertian Inflasi... 42

2. Cara Mengukur Inflasi... 43

3. Jenis Inflasi... 44

4. Sebab-sebab Terjadinya Inflasi... 44

5. Dampak Inflasi... 45

F. Investasi... 46

1. Pengertian Investasi... 46

2. Fungsi Investasi... 47

3. Tujuan Investasi... 48

4. Bentuk Investasi... 49

5. Faktor yang Mempengaruhi Investasi... 49

G. Keterkaiatan Antar Variabel………. 50


(15)

I. Kerangka Pemikiran... 67

H. Hipotesis... 70

BAB III : METEDOLOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian... 71

B.Metode Pengumpulan Data Penelitian... 72

C Operasional Variabel... 73

D. Metode Analisis Data... 76

BAB IV : HASIL PEMBAHASAN A. Sejarah Singkat Objek Penelitian... 86

B. Hasil dan pembahasan... 100

C. Interpretasi Ekonomi... 111

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN... 122

B. IMPLIKASI... 123


(16)

DAFTAR TABEL

No. Keterangan Hal 1.1 Perkembangan M2, Nilai Tukar, Kredit, Suku Bunga 6

SBI, Inflasi dan Investasi Priode 2006-2010

2.1 Penelitan Sebelumnya 63

3.1 Operasional Variabel 76

4.1 Jumlah dan laju pertumbuhan jumlah uang beredar 89 Tahun 2003-2010

4.2 Rata-Rata Nilai Tukar Tahun 2003-2010 91

4.3 Total Kredit dan Laju Pertumbuhannya Tahun 2003-2010 93 4.4 Rata-Rata Suku Bunga SBI Tahun 2003-2010 95

4,5 Rata-Rata Inflasi Tahun 2003-2010 97

4.6 Total dan Laju Pertumbuhan Investasi (PMA dan PMDN) 99 Tahun 2003-2010

4.7 Hasil UJi Heteroskedastisitas 103 4.8 Hasil Korelasi Uji Multikolinieritas 104 4.9 Menentukan ada tidaknya autokorelasi dengan uji 105

Breusch-Godfrey


(17)

DAFTAR GAMBAR

No. Keterangan Hal

2.1 Kurva Kenaikan Permintaan Kurs 32

2.2 Kurva Perubahan Penawaran Kurs 33

2.3 Kerangka Pemikiran 69

4.1 Grafik Jumlah Uang Beredar M2 Tahun 2003-2010 89 4.2 Grafik Nilai tukar (USD/Rp) Tahun 2003-2010 91

4.3 Grafik Kredit Tahun 2003-2010 93

4.4 Grafik Suku Bunga SBI Tahun 2003-2010 95 4.5 Grafik Indeks Harga Konsumen Tahun 2003-2010 (%) 97

4.6 Grafik Investasi Tahun 2003-2010 99


(18)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Keterangan Hal

1 Data Penelitian (Data mentah) 131

2 Hasil Data setelah Ditransformasikan 133 ke Logartima Natural

3 Hasil Uji regresi dengan menggunakal OLS 135 (Ordinary Least Square)

4 Hasil Uji Normalitas JB test 136

5 Hasil Uji Heteroskedastisitas 137

6 Hasil Uji Multikolinieritas dengam menggunakan 138 Correlation matrix

7 Hasil Uji Autikorelasi dengan menggunakan 139 Uji Breusch-Godfrey


(19)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Beberapa tahun terakhir perubahan ekonomi sangatlah cepat. Hal itu bisa terlihat banyaknya muncul ahli-ahli ekonomi, baik dari ekonomi klasik maupun ekonomi modern. Pesatnya ilmu ekonomi tersebut disebabkan kebutuhan masing-masing negara atau wilayah tertentu dalam menyelesaikan masalah-masalah ekonomi yang terjadi. Masalah yang terjadi dikarenakan faktor-faktor internal maupun eksternal dari suatu wilayah tersebut. Oleh karena itu, perekonomian telah menjadi sorotan penting dalam dunia pendidikan karena perekonomian merupakan sebuah indikator yang sangat penting bagi suatu negara. Karena hal itu telah menjadi cerminan atau tolak ukur kesejahteraan disuatu negara atau wilayah tertentu.

Akan tetapi walapun perkembangan ekonomi yang sangat pesat, ternyata ada beberapa pertanyaan penting yang belum bisa dijawab oleh para ahli ekonomi tentang permasalahan yang terjadi. Pada umumnya para ahli ekonomi secara implisit beranggapan bahwa prinsip-prinsip ekonomi yang telah digariskan, akan berlaku secara umum diseluruh tempat, baik di desa maupun di kota, di daerah atau negara yang telah maju ataupun di daerah atau negara yang terbelakang. Akan tetapi, kenyataannnya menunjukkan bahwa ditiap-tiap daerah tersebut tidaklah


(20)

sama karena mempunyai potensi ekonominya tidak sama. Tingkat kemajuan industrinya tidak sama, ketersediaan prasarana tidak sama, keterampilan tenaga kerja yang tidak sama, kepadatan penduduk yang tidak sama sehingga kebijakan ekonomi yang cocok disuatu daerah belum tentu akan cocok di daerah lain (Robinson Tarigan, 2009:4). Oleh karena itu, diperlukan kebijakan-kebijakan ekonomi yang tepat berdasarkan masalah yang dialami suatu negara agar terjadi pembangunan ekonomi yang diharapkan.

Dalam konteks Indonesia, format pembangunan yang dilakukan sejak awal memang telah diciptakan untuk meletakkan bidang ekonomi sebagai prioritas yang harus tercapai sehingga bidang-bidang lainnya harus diamankan dan diposisikan sebagai pendukung upaya pembangunan ekonomi tersebut (Erani Yustika, 2006:253). Perekonomian memang menjadi sangat penting dalam memenuhi kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, sangatlah penting mengetahui alat yang sangat vital dalam sebuah perekonomian dalam mencapai tujuan ekonomi tersebut. Alat tersebut dinamakan uang. Uang merupakan suatu yang sangat vital dari bekerjanya suatu perekonomian daerah atau negara tertentu (Carl E case dan Ray C Fair, 2004: 124).

Dalam peradaban manusia, uang telah memberi manfaat yang besar, berdasarkan fungsinya sebagai alat transaksi, satuan hitung dan penyimpan nilai, uang memberi manfaat bagi manusia dalam mengatasi kesulitan untuk melakukan berbagai kegiatan ekonomi, seperti perdagangan, investasi, konsumsi, dan


(21)

menabung. Manfaat uang tersebut menyebabkan permintaan masyarakat akan uang dilatarbelakangi oleh motif yang berbeda-beda, antara lain motif berjaga-jaga, motif transaksi dan motif spekulasi (Aulia Pohan, 2008:1).

Begitu pula dalam peradaban modern saat ini tidak terlepas dan ditopang sepenuhnya oleh uang. Tidak ada satupun peradaban di dunia ini yang tidak mengenal dan menggunakan uang. Kalaupun ada maka perekonomian dalam peradaban tersebut tidak akan berkembang atau akan stagnan. Aliran uang bagaikan darah yang mengalir dalam tubuh manusia. Tanpa adanya darah tersebut maka manusia akan mati. Kekurangan darah yang akan mengakibatkan gairah hidup menurun dan melemah yang pada akhirnya manusia akan menjadi sakit (Rimsky K. Judissono, 2002:1).

Walaupun pada hakekatnya uang memang berfungsi sebagai alat vital dalam suatu perekonomian dan mensejahterakan masyarakat disuatu daerah. Tetapi dalam perkembangnnya, keberadaan jumlah uang dimasyarakat ternyata memunculkan permasalahan-permasalahan baru dalam sebuah perkonomian. Jumlah uang yang dipegang masyarakat akan mempengaruhi langsung maupun tidak langsung terhadap permintaan agregat akan barang dan jasa yang akhirnya akan mempengaruhi harga-harga barang didalam suatu perekonomian.

Kontrol uang beredar sangat diperlukan untuk menciptakan iklim yang baik bagi stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi serta kontrol terhadap kredit (Rimsky, 2002:21). Apabila jumlah uang beredar diperbesar dan melebihi dari


(22)

yang diminta masyarakat pada tingkat bunga, pendapatan dan harga tertentu, peningkatan jumlah uang beredar tersebut akan mendorong masyarakat membelanjakan uang mereka dengan meningkatkan permintaan atas barang dan jasa untuk konsumsi maupun investasi. Hal itu akan mempengaruhi kestabilan harga dalam negeri. Oleh karena itulah, pemerintah atau otoritas moneter suatu negara merasa perlu untuk melakukan upaya mengendalikan jumlah uang beredar dalam hal kebijakan moneter. Kebijakan moneter adalah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah melalui bank sentral guna mengatur penawaran uang dan tingkat bunga yang wajar (Iskandar Putong, 2000:162).

Kebijakan moneter adalah kebijakan pemerintah untuk memperbaiki keadaan perekonomian melalui pengaturan jumlah uang beredar. Jumlah uang beredar, dalam analisis makro, memiliki pengaruh penting terhadap tingkat output perekonomian, juga terhadap harga-harga (Edwin Nasution, 2006:261). Dalam konteks Indonesia, pembangunan ekonomi di Indonesia tidak lepas dari keterlibatan sektor moneter dan perbankan. Salah satu unsur penting sektor moneter dianggap mampu untuk memecahkan berbagai masalah ekonomi (Imam Murtono, 2003:56).

Undang-Undang No 23 tahun 1990 tentang Bank Indonesia menjelaskan peran Bank Indonesia sebagai bank sentral dalam konteks pengelolaan perekonomian secara makro lebih difokuskan pada kestabilan harga melalui pengendalian jumlah uang beredar. Dalam pengendalian monter, Bank Indonesia


(23)

memiliki sarana operasional yaitu level uang primer agar sesuai dengan kebutuhan riil perekonomian dan konsisten dengan pencapaian target inflasi (Bank Indonesia). Dan dalam Undang-Undang No 23 tahun 1999 bab V pasal 20 disebutkan bahwa Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah serta mencabut, menarik, dan memusnahkan uang yang dimaksud dalam peredaran (Simorangkir, 2004:22).

Standar moneter yang digunakan dalam aktivitas perkonomian tidaklah semudah yang dibayangkan. Karena nyatanya dalam pembuatan dan peredarannya, uang harus diukur dan diatur secermat mungkin oleh otoritas moneter (Bank Indonesia). Karena jika tidak, maka akan dapat mengakibatkan kesulitan-kesulitan aktivitas ekonomi negara dan rakyatnya. Upaya moneter dalam mewujudkan aturan dan ukuran serta jumlah yang cermat. Kemudian membentuk perekonomian yang berbasis pada peranan pemberdayaan berbagai bentuk lembaga keuangan, seperti bank dan lembaga keuangan lainnya.

Transmisi kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral untuk mempengaruhi atau mengatur jumlah uang beredar bisa menggunakan lima saluran atau channel antara lain: saluran moneter langsung (direct monetary channel), saluran suku bunga (interest rate channel), saluran harga aset (asset price channel), saluran kredit (credit cannel), dan ekspektasi (ekpectation channel) (Aulia Pohan, 2008:18-25).


(24)

Berikut ini data jumlah uang beredar, nilai tukar, kredit, suku bunga SBI. Inflasi dan investasi tahun 2003-2010 adalah sebagai berikut:

Tabel 1.1.

Perkembangan M2, Nilai Tukar, Kredit, Suku Bunga SBI, Inflasi dan Investasi Priode Tahun 2006-2010

Tahun JUB

(Milyar) Nilai tukar (Rupiah) Kredit (Milyar) Suku bunga SBI (%) Inflasi (%) Investasi (milyar) 2006 1.382.074 8.571,1 787.136 11.97 6.41 104729.4

2007 1.643.203 8.985,4 995.111 8.03 6.41 207047.7

2008 1.895.839 9.750,6 1.313.873 9.39 11.19 111485.4

2009 2.141.384 9.141,3 1.432.265 7.49 2.75 70892.3

2010 2.471.206 9.163,7 1.783.601 6.57* 6.76 208300 Sumber: Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik,BKPM

Dari tabel 1.1 menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah uang beredar dari tahun 2006 hingga 2010 selalu mengalami peningkatan. Peningkatan yang paling besar terjadi pada tahun pada tahun 2010 yaitu sebesar 15.4% dari tahun sebelumnya yaitu dari 2.141.384 milyar rupiah di tahun 2009 menjadi 2.471.206 milyar rupiah pada tahun 2010. Sama halnya dengan jumlah uang beredar, kredit juga mengalami peningkatan tiap tahunnya dan pada tahun 2010 merupakan peningkatan yang terbesar selama 5 tahun terakhir yaitu sebesar 24%, sehingga memberikan gambaran bahwa kredit memiliki hubungan positif terhadap jumlah uang beredar. Dari tabel diatas juga memberikan gambaran bahwa nilai tukar dari 5 tahun terakhir, hanya pada tahun 2010 nilai tukar rata-rata mengalami penurunan dimana tahun-tahun sebelumnya selalu mengalami peningkatan. Hal itu


(25)

dikarenakan membaiknya perekonomian ditahun 2010 sehingga meningkatnya arus modal asing masuk kedalam negeri membuat rupiah terapresiasi. Hal ini memberikan indikasi bahwa nilai tukar memiliki hubungan terhadap jumlah uang beredar. Pada tahun 2008, pemerintah melakukan kebijakan pengetatan uang. Terlihat pada tabel diatas bahwa pada tahun pada tahun 2006 merupakan suku bunga SBI tertinggi yaitu sebesar 11.97 dan terbesar selanjutnya terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 9,39%. Hal itu dilakukan pemerintah untuk menekan inflasi yang sangat tinggi pada tahun 2005 akibat tekanan harga minyak dunia dan diawal tahun 2008, dari tabel diatas juga memperlihatkan bahwa inflasi pada tahun 2008 sebesar 11.1% yang merupakan tertinggi selama 5 tahun terakhir. Peningkatan inflasi tersebut dikarenakan terjadinya kenaikan harga komoditas internasional dan pangan akibat krisis global tahun 1997/1998. Dari sisi investasi memperlihatkan bahwa hanya pada tahun 2009 investasi mengalami penurunan. Hal itu diakibatkan adanya krisis global dan berdampak ke investasi di Indonesia akibat timbul kekhawatiran kepada investor terhadap perekonomian indonesia. Setelah krisis, Peningkatan yang paling tinggi terjadi ditahun 2010. Peningkatan itu baik dari sisi PMDN maupun dari sisi PMA. Sehingga dapat dilihat bahwa perubahan investasi memberikan gambaran hubungan yang positif terhadap pergerakan jumlah uang beredar di Indonesia.

Didalam buku Aulia Pohan (2008:96), tahun 1983 dapat dipandang sebagai salah satu langkah awal modernisasi bidang moneter di Indonesia dengan


(26)

dilepaskannya sistem pengendalian secara langsung dalam mengendalikan jumlah uang beredar seperti penetapan suku bunga simpanan, kredit perbankan dan lain-lain. Sebagai otoritas moneter, Bank Indonesia kemudian menerapkan sistem pengendalian moneter atau jumlah uang beredar secara tidak langsung, Seperti mengeluarkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan surat berharga pasar uang

Disisi lain, tekanan yang luar biasa terhadap nilai tukar dan cadangan devisa diawal krisis 1997 memaksa Bank Indonesia dan pemerintah melepas band intervensi terhadap nilai tukar dan menerapkan sistem nilai tukar mengambang bebas. Akibatnya nilai tukar tidak lagi menjadi jangkar nominal kebijakan moneter. Depresiasi nilai rupiah yang teramat tajam dan suku bunga yang tinggi membuat sektor riil dan sektor perbankan semakin rapuh dan terpuruk (Aulia Pohan, 2008:97). Melemahnya nilai tukar akan merubah posisi cadangan devisa dan mempengaruhi posisi jumlah uang beredar.

Lainya halnya dengan kredit, Bank Indonesia memiliki wewenang untuk menyusun rencana kredit. Pokok ketentuan pembatasan kredit atau pembiayaan, termasuk juga fasilitas pinjaman dana melalui pasar rupiah dan valuta asing. Ditetapkan dalam peraturan Indonesia, rencana kredit dalam jangka waktu 1 tahun yang disusun dengan memperkirakan jumlah uang beredar sehingga tidak mengganggu kestabilan moneter. Tujuan utama rencana kredit adalah mengatur besarnya jumlah uang yang ditawarkan untuk mencapai kestabilan nilai rupiah (Simorangkir, 2004:24-25) .


(27)

Berdasarkan teori kuantitas uang memberikan gambaran bahwa inflasi dan jumlah uang beredar memilki hubungan. Pergeseran jumlah uang beredar memberikan dampak terhadap pergeseran tingkat inflasi. Atau sebaliknya, naiknya harga membuat permintaan uang semakin meningkat dan akan mempengaruhi jumlah uang beredar. Tingkat harga memberikan indikasi perubahan jumlah uang beredar. Inflasi merupakan kenaikan harga yang secara kontinue, dan secara umum (Nopirin, 1990:25). Artinya bahwa jika harga suatu barang meningkat maka permintaan akan uang oleh masyarakat akan semakin tinggi sehingga inflasi yang tinggi akan mempengaruhi jumlah uang beredar. Berdasarkan teori kuantitas uang, nilai uang ditentukan oleh supply dan demand terhadap uang. Jumlah uang beredar ditentukan oleh bank sentral, sementara jumlah uang yang diminta (money demand) ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah harga rata-rata dalam perekonomian. Jumlah uang yang diminta oleh masyarakat untuk melakukan transaksi bergantung pada tingkat harga barang dan jasa yang tersedia. Semakin tinggi tingkat harga, semakin besar jumlah uang yang diminta (Putu Oktavia, met 08.05:1). Itu artinya bahwa tingkat harga akan mempengaruhi jumlah uang beredar akibat meningkatnya permintaan akan uang.

Investasi adalah penempatan uang atau dana dengan harapan untuk memperoleh tambahan atau keuntungan tertentu atas uang atau dana tersebut. Selain itu, investasi adalah pengeluaran atau pembelanjaan oleh penanam modal


(28)

atau perusahaan-perusahaan untuk membeli (Peraturan Daerah Kabupaten Barru No 01 Tahun 2008). Berdasarkan asumsi diatas melihat bahwa investasi diartikan pembelanjaan dan penanaman modal. Sehingga besarnya jumlah investasi menentukan jumlah modal atau uang yang akan dibelanjakan atau keluarkan untuk investasi tersebut. Semakin tinggi investasi, artinya permintaan uang masyarakat untuk investasi akan semakin besar dan akhirnya akan membuat jumlah uang beredar pun bertambah. Selain itu, investasi yang dikenal saat ini terbagi menjadi dua yaitu PMDN dan PMA. Meningkatnya penanaman modal asing akan membuat jumlah modal akan bertambah sehingga jumlah uang agregat di Indonesia akan bertambah pula.

Berdasarkan data dan penjelasan diatas maka peneliti melihat bahwa ternyata ada lima faktor yang setidaknya yang mempengaruhi jumlah uang beredar yaitu nilai tukar, kredit, suku bunga SBI, inflasi dan investasi. Kelima faktor tersebut secara teoritis sangat berkaitan dengan jumlah uang beredar sehingga bisa menjadi indikator kuat bagi Bank Indonesia dalam menjaga jumlah uang beradar agar tidak melebihi dan atau kurang dari permintaan masyarakat secara agregat. Peneliti melihat bahwa betapa pentingnya fungsi dan peran uang dalam perekonomian. Maka penulis dalam penelitian ini mencoba untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah uang beredar di Indonesia.


(29)

B. Perumusan Masalah

Banyak yang menyebabkan naik turunnya jumlah uang beredar di Indonesia kurun waktu 2003-2010 di Indonesia, baik dalam arti luas (M2) maupun dalam arti sempit (M1), diantaranya adalah kebijakan-kebijakan moneter yang diambil oleh Bank Indonesia sebagai otoritas moneter dalam menjalankan perannya sebagai bank sentral di Indonesia seperti melalui saluran suku bunga (interest rate channel), saluran harga aset (asset price channel), saluran kredit (credit cannel), dan nilai tukar. Kebijakan moneter adalah kebijakan yang dilakukan oleh bank sentral untuk memperbaiki keadaan perekonomian melalui pengaturan jumlah uang beredar dengan mengatur penawaran uang dalam suatu negara.

Berdasarkan teori kuantitas uang, nilai uang ditentukan oleh supply dan demand terhadap uang. Artinya selain melalui penawaran uang yang dilakukan oleh bank sentral (Bank Indonesia) melalui kebijakan moneternya, besarnya jumlah uang beredar juga dipengaruhi oleh permintaan akan uang oleh masyarakat. Permintaan akan uang oleh masyarakat tersebut dapat dipengaruhi oleh tingkat inflasi dan keinginan investasi.

Inflasi merupakan kenaikan harga terus menerus dan secara umum. Artinya bahwa jika harga suatu barang meningkat maka permintaan akan uang oleh masyarakat akan semakin tinggi sehingga inflasi yang tinggi akan mempengaruhi jumlah uang beredar. Semakin tinggi tingkat harga, semakin besar jumlah uang yang diminta. Jumlah uang beredar ditentukan oleh bank sentral melalui


(30)

kebijakan moneternya, sementara jumlah uang yang diminta (money demand) ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah tingkat harga rata-rata dalam perekonomian.

Investasi dapat diartikan pembelanjaan dan penanaman modal. Sehingga besarnya jumlah investasi menentukan jumlah modal atau uang yang akan dibelanjakan atau dikeluarkan untuk investasi tersebut. Semakin tinggi investasi artinya permintaan uang masyarakat untuk investasi akan semakin besar dan akhirnya akan membuat jumlah uang beredar pun pertambah. Selain itu, investasi yang dikenal saat ini terbagi menjadi dua yaitu PMDN dan PMA. Meningkatnya penanaman modal asing akan membuat jumlah modal akan bertambah sehingga jumlah uang agregat di Indonesia akan bertambah pula.

Dengan demikian dalam penelitian ini, penulis mencoba mencari faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah uang beredar di Indonesia dengan mengambil variabel nilai tukar, kredit, suku bunga (SBI), inflasi dan investasi dimana penulis ingin menganalisis:

1. Seberapa besar pengaruh nilai tukar, kredit, suku bunga SBI, inflasi dan investasi secara parsial terhadap jumlah uang beredar dalam arti luas (M2)? 2. Seberapa besar pengaruh nilai tukar, kredit, suku bunga SBI, inflasi dan

investasi secara simultan terhadap jumlah uang beredar dalam arti luas (M2)? C. Tujuan Penelitian


(31)

1. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh nilai tukar, kredit, suku bunga SBI, inflasi dan investasi secara parsial terhadap jumlah uang beredar dalam arti luas (M2)

2. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh nilai tukar, kredit, suku bunga SBI, inflasi dan investasi secara simultan terhadap jumlah uang beredar dalam arti luas (M2)

D. Manfaat Penelitian.

Dalam penelitian ini, manfaat yang diharapkan penulis antara lain sebagai berikut:

1. Bagi pemerintah atau pengambil kebijakan

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu masukan dan bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan yang berkaitan dengan pengembalian keputusan dalam mengatasi permasalah moneter, khususnya tentang jumlah uang beredar. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan bisa berfungsi sebagai petunjuk dan pengingat bagi pemerintah untuk selalu mengkaji efektivitas setiap kebijakan yang dilaksanakan.

2 Bagi akademisi

Penelitian ini dapat sebagai penambah kepustakaan dibidang ilmu ekonomi makro dan ekonomi moneter dan bisa dijadikan bahan referensi mahasiswa dalam melakukan karya ilmiah.


(32)

3. Bagi penulis

Penelitian ini dilakukan untuk mengaplikasikan atau menerapkan teori-teori yang telah diterima khususnya teori-teori ekonomi moneter yang telah diperoleh dari perkuliahan dan menambah wawasan tentang pengaruh yang ditimbulkan dari nilai tukar rupiah, kredit, suku bunga SBI, inflasi dan investasi terhadap jumlah uang beredar dalam arti luas (M2).


(33)

BAB II

LANDASAN TEORI A. Jumlah Uang Beredar

1. Sejarah Uang.

Pada peradaban awal, manusia memenuhi kebutuhan secara mandiri. Mereka memperoleh makanan dari berburu atau memakan berbagai buah-buahan. Karena jenis kebutuhannya masih sederhana, mereka belum membutuhkan orang lain. Masing-masing individu memenuhi kebutuhan makannya secara mandiri. Dalam priode yang dikenal sebagai priode prabarter ini, manusia belum mengenal transaksi perdagangan atau kegiatan jual beli.

Ketika jumlah manusia semakin bertambah dan peradabannya semakin maju, kegiatan dan interaksi antar sesama manusiapun meningkat tajam. Ketika itulah, masing-masing individu mulai tidak mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Bisa dipahami karena ketika seseorang menghabiskan waktunya seharian bercocok tanam, pada saat bersamaan tentu ia tidak akan bisa memperoleh garam atau ikan, menenun pakaian sendiri, atau kebutuhan lain.

Pertukaran barter ini mensyaratkan adanya keinginan yang sama pada waktu yang bersamaan (double coincidence of wants) dari pihak-pihak yang melakukan pertukaran ini. Namun semakin beragam dan kompleks kebutuhun manusia, semakin sulit menciptakan situasi double coincidence of wants ini. Misalnya, pada satu ketika seseorang yang memiliki beras melainkan


(34)

membutuhkan daging, sehingga syarat terjadinya barter antara beras dengan garam tidak terpenuhi. Keadaan demikian tentu akan mempersulit muamalah antar manusia. Itulah sebabnya diperlukan suatu alat tukar yang dapat diterima oleh semua pihak. Alat tukar demikian kemudian disebut uang. Pertama kali, uang dikenal dalam peradaban sumeria dan baylonia ( Edwin Nasution et al, 2006:240).

Uang kemudian berkembang dan berevolusi mengikuti perjalanan sejarah. Dari perekembangan inilah, uang kemudian bisa dikategorikan dalam tiga jenis, yaitu : uang barang, uang kertas dan uang giral atau uang kredit.

1. Uang barang (commodity money)

Uang barang adalah alat tukar yang memiliki nilai komoditas atau bisa diperjual-belikan apabila barang tersebut digunakan bukan sebagai uang. Namun tidak semua barang bisa menjadi uang, diperlukan tiga kondisi utama, agar barang bisa dijadikan uang antara lain :

1. Kelangkaan (scarcity), yaitu persediaan barang itu harus terbatas 2. Daya tahan (durability), barang tersebut harus tahan lama

3. Nilai tinggi, maksudnya barang yang dijadikan uang harus bernilai tinggi, sehingga tidak memerlukan jumlah yang banyak dalam melakukan transaksi.

Dalam sejarah, pemakaian uang barang juga pernah di syaratkan barang-barang yang digunakan sebagai barang kebutuhan sehari-hari seperti


(35)

garam. Kemudian setelah itu pilihannya barang yang bisa digunakan sebagai uang, jatuh kepada logam-logam mulia, seperti emas dan perak.

2. Uang tanda/ uang kertas (token money)

Ketika uang logam masih digunakan sebagai uang resmi dunia, ada beberapa pihak yang melihat peluang meraih keuntungan dari kepemilikan mereka atas emas dan perak. Pihak-pihak ini adalah bank, orang yang meminjamkan uang dan pandai emas (goldsmith) atau toko perhiasan. Mereka melihatkan bukti peminjaman, penyimpanan atau penitipan emas dan perak ditempat mereka juga bisa diterima di pasar.

Berdasarkan hal ini, pandai emas dan bank mengeluarkan surat (uang kertas) dengan nilai yang besar dari emas atau perak yang dimilikinya. Karena kertas ini didukung oleh kepemilikan atas emas dan perak, masyarakat umum menerima uang kertas sebagai alat tukar. Jadi, aspek penerimaan masyarakat secara luas dan umum berlaku, sehingga menjadikan uang kertas sebagi alat tukar yang sah.

Ini kemudian berlanjut sampai uang kertas menjadi alat tukar yang dominan, dan semua sistem perekonomian menggunakan sebagai alat tukar utama. Malah sekarang, uang yang dikeluarkan oleh bank sentral tidak lagi didukung oleh cadangan emas.


(36)

3. Uang giral (deposite money)

Uang giral adalah uang yang dikeluarkan oleh bank-bank komersial melalui pengeluaran cek dan alat pembayaran giro lainnya. Uang giral ini merupakan simpanan nasabah di bank yang dapat diambil setiap saat dan dapat dipindahkan kepada orang lain untuk melakukan pembayaran. Artinya cek dan giro yang dikeluarkan oleh bank manapun bisa digunakan sebagai alat pembayaran barang, jasa dan utang.

2. Pengertian Uang

Uang diciptakan dalam perekonomian dengan tujuan untuk melaksanakan kegiatan tukar menukar dan perdagangan. Dalam ilmu ekonomi uang biasanya definiskan sebagai alat tukar yang diterima secara umum. Alat tukar (medium of exchange) adalah segala hal yang secara luas diterima dalam suatu masyarakat sebagai barang atau jasa. Menurut Sadono Sukirno (2006:267), uang didefinisikan sebagai benda-benda yang disetujui oleh masyarakat sebagai alat perantara untuk mengadakan tukar-menukar atau perdagangan.

Menurut Samuelson (2001), uang adalah segala sesuatu yang bersifat sebagai muda pertukaran atau alat pembiayaan yang diterima secara umum. Sedangkan menurut Asfia Murni (2006), uang adalah segala sesuatu yang diterima masyarakat secara umum, dan dipercaya sebagai alat pembayaran


(37)

yang sah untuk keperluan transaksi, sebagai satuan hitung, dan sebagai alat penyimpan nilai.

3. Fungsi Uang

Dalam ilmu ekonomi peranan atau fungsi uang dibedakan menjadi 4 jenis (Sadono Sukirno, 2006: 268-270), yaitu:

1. Fungsi uang sebagai alat tukar

Dengan adanya uang, kegiatan tukar-menukar akan jauh dan lebih mudah dijalankan kalau dibandingkan dengan perekonomian yang bertransaksi dengan menggunakan barter. Sehingga uang yang dipakai pada masyarakat digunakan untuk bertransaksi mengganti sistem barter.

2. Fungsi uang sebagai satuan nilai

Penggunaan uang dalam masyarakat bersumber dari kesanggupannya untuk bertindak sebagai satuan nilai. Yang dimaksud dengan satuan nilai adalah satuan ukuran yang menentukan besarnya nilai dari berbagai jenis barang dengan adanya uang. Nilai suatu barang dapat mudah dinyatakan yaitu dengan menunjukkan jumlah uang yang diperlukan untuk memperoleh barang tersebut.

3. Fungsi uang sebagai pembayaran tertunda

Penggunaan uang sebagai alat pembayaran atau perantara dalam tukar-menukar dapat mendorong pembayarannya ditunda karena para pelaku


(38)

ekonomi akan lebih merasa yakin bahwa pembayarannya yang ditunda itu adalah sesuai dengan yang diharapkan.

4. Fungsi uang sebagai penyimpan nilai

Uang bisa digunakan sebagai alat penyimpanan nilai. Maksudnya adalah penggunaannya memungkinkan kekayaan orang disimpan dalam bentuk uang.

4. Macam-Macam Uang

Berdasarkan kenyataan yang ada, macam-macam uang digolongkan menjadi dua (2) Yaitu:

1. Uang kertas

Uang kertas adalah uang yang dikeluarkan dan diterbitkan oleh pemerintah (bank sentral) berupa uang logam dan uang kertas, baik yang memiliki nilai intrinsik maupun yang memiliki nilai nominal atau ekstrinsik.

2. Uang giral

Pada hakikatnya jenis uang inilah yang paling banyak beredar dimasyarakat dalam tatanan perekonomian modern. Jenis uang ini biasanya dan terbitkan oleh bank-bank umum seperti surat utang (wesel/promise), cek, surat deposito dan sebagainya.


(39)

5. Definisi Jumlah Uang Beredar

Pengertian uang beredar adalah (suplly money) perlu dibedakan menjadi 2 pengertian yaitu pengertian yang sempit dan pengertian yang luas

1. Pengertian jumlah uang berdar dalam arti sempit/terbatas (M1)

Uang dalam arti sempit atau terbatas adalah mata uang dalam peredaran ditambah dengan uang giral yang dimiliki oleh perseorangan, perusahaan-perusahaan dan badan pemerintah. Pengertian yang sempit dari uang beredar selalu disingkat dengan M1.

2. Pengertian jumlah uang berdar dalam arti luas (M2)

Uang dalam arti luas adalah mata uang dalam peredaran ditambah dengan uang giral dan uang kuasi. Uang kuasi terdiri dari deposito berjangka, tabungan, dan rekening (tabungan) valuta asing milik swasta domestik. Uang dalam arti luas ini dinamakan juga liquiditas perekonomian atau disebut M2.

6. Teori Penawaran dan Permintaan Uang

Teori permintaan uang berkaitan dengan faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya uang. Sedangkan teori penawaran uang berkaitan dengan jumlah uang beredar (yang tersedia) dan upaya dalam mengendalikan agar tidak menimbulkan inflasi atau deflasi.


(40)

1. Teori permintaan uang

Teori permintaan uang terdapat dua pandangan dalam teori permintaan uang yaitu menurut ekonomi klasik dan permintaan menurut keynesian.

Menurut pandangan ekonomi klasik, fungsi uang hanyalah sebagai alat tukar. Oleh sebab itu, jumlah uang beredar yang diminta berbanding proporsional dengan tingkat produk atau pendapatan nasional. Bila tingkat produk nasional meningkat, maka permintaan uang akan meningkat. permintaan uang untuk transaksi dipandang sebagai nilai liquiditas (L) dalam arti riil yang ada ditangan masyarakat. Sementara L merupakan nilai nominal uang (Md) dibagi dengan tingkat harga (P) dan bila diformulasikan: (Asfia Murni 2006:156)

...(2.1)

Keterangan:

L : permintaan dalam arti riil Md : nilai nominal pendapatan P : tingkat harga

Y : produk nasional

Menurut pandangan Keynesian, ada tiga motivasi orang memegang atau meminta uang antara lain ;


(41)

1. Transaction motive, yaitu motivasi orang memegang uang adalah keinginan untuk memudahkan kegiatan transaksi

2. Precautianari motive, yaitu motivasi orang memegang uang untuk persiapan menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan atau tak terduga. Permintaan uang untuk berjaga-jaga ini juga sangat tergantung pada besarnya pendapatan berhubungan positif dengan tingkat pendapatan.

3. Speculation motive, yaitu motivasi meminta uang untuk keperluan spekulasi. Permintaan uang untuk spekulasi selalu berkaitan dengan mencari keuntungan. Peluang keuntungan akan diperoleh bila uang yang diminta dibelikan obligasi yang jatuh temponya tidak terbatas (consol bond) dan tidak memiliki resiko tinggi. Dari pembelian obligasi tersebut akan diperoleh keuntungan berupa bunga.

Dari ketiga motivasi permintaan uang tersebut, keynes mengemukakan fungsi permintaan uang sebagai berikut: (Asfia murni, 2006:157)

...(2.2)

L1 : permintaan uang untuk transaksi dan berjaga-jaga yang besarnya sangat ditentukan oleh tingkat pendapatan. Fungsi L1 adalah

...(2.3) L = L1 + L2


(42)

L2 : permintaan uang untuk spekulasi, besarnya sangat dipengaruhi oleh tingkat bunga. Fungsi L2 adalah

...(2.4)

Jadi, fungsi permintaan keynesian bisa juga ditulis dari menjumlahkan funsi dengan persamaan ;

...(2.5) 2. Teori penawaran uang

Penawaran uang (money suplly) merupakan jumlah uang yang tersedia dalam kegiatan ekonomi suatu negara atau disebut juga jumlah uang beredar. Uang beredar terdiri dari M1 dan M2.

a. Penawaran uang ( M1)

Penawaran uang (M1) merupakan jumlah uang beredar yang sering digunakan untuk keperluan transaksi. M1 terdiri dari:

1. Uang koil/ logam dan uang kertas yang biasa disebut uang kartal 2. Uang giral atau uang non bank, yaitu deposito yang terdapat

dibank-bank umum dan dapat dikeluarkan dengan menggunakan cek. b. Penawaran uang (M2)

Merupakan jumlah uang beredar dalam arti luas. M2 disebut juga broad money yang terdiri dari M1 ditambah near money. Near money adalah rekening tabungan dan kekayaan lain yang ditukarkan dicairkan dalam waktu dekat.

L2 = M 0 + m 1


(43)

Total penawaran uang atau jumlah uang beredar: (Asfia murni, 2006:158)

…………..(2.6) 7. Teori Kuantitas Uang

Menurut teori kuantitas uang, perubahan jumlah uang berdar akan mengakibatkan perubahan harga secara proporsional. Teori tentang kuantitas uang dikemukakn oleh:

1. Cash balance theory (teori sisa tunai) dari Alfred Marshal

Alfred Marshal adalah orang pertama yang menerangkan teori kuantitas uang yang memiliki hubungan antara jumlah uang berdar dan tingkat harga secara umum. Marshal beranggapan bahwa banyaknya peredaran uang dimasyarakat sebenarnya tidak keseluruhan mencakup uang yang dimiliki oleh masyarakat karena sebagian yang masih dipegang secara tunai (k).

Secara sistematis, teori Marshal dapat dituliskan sebagai berikut : ...(2.7)

Keterangan :

M : jumlah uang beredar

K : besarnya uang tunai yang dipegang masyarakat P : harga umum

T atau Y : jumlah produk jadi dan setengah jadi M = kPT atau M = kPY


(44)

Teori diatas diasumsikan k dan T (atau Y) dalam posisi konstan (Iskandar Puton, 2006:163).

Dengan demikian, berdasarkan persamaan diatas, laju uang beredar diketahui oleh besarnya uang yang dipegang masyarakat, tingkat harga, dan jumlah produksi.

2. Teori kuantitas Irving Fisher

Teori kuantitas uang dari Irving Fihser yang menyatakan:

perubahan dalam uang beredar akan meningkatkan perubahan yang sama cepatnya keatas harga-harga” (Sadono Sukirno, 2000:202).

Secara sederhana, Irving Fisher merumuskan teori dengan satu persamaan: (Sadono Sukirno, 2000:202).

...(2.8) Keterangan:

M : jumlah uang beredar V : tingkat perputaran uang P : harga barang

T : volume barang menjadi obyek transaksi

B. Kurs/ Nilai Tukar

1. Pengertian Kurs atau Nilai Tukar

Kurs valuta asing adalah kurs mata uang asing menunjukkan harga atau nilai mata uang suatu negara dinyatakan dalam nilai mata uang negara lain. Kurs valuta asing dapat juga didefiniskan sebagai jumlah uang domestik yang


(45)

dibutuhkan, yaitu banyaknya rupiah yang dibutuhkan, untuk memperoleh satu unit mata uang asing.

Pengertian dari foreign exchange rate menurut Eng, Lees dan Mauer (1995:99) adalah, “The price of foreign currency measured in domestic money – (harga mata uang asing diukur dengan uang domestik)”. Menurut Floyd A. Beam (2003), valuta asing adalah, “Foreign exchange rates are essentially prices for currencies expressed in units of other currencies”. (Floyd A. Beam 390)-(Nilai tukar asing pada dasarnya adalah harga untuk mata uang dinyatakan dalam satuan mata uang lainnya). Sedangkan menurut Hendra Hawani (2005), nilai tukar merupakan perbandingan nilai dua mata uang yang berbeda. Sedangkan menurut Mishkin (2008), kurs adalah harga dari suatu mata uang dalam mata uang lainnya.

Menurut Krugmen dan Obstfeld (2005), kurs adalah harga satu mata uang lainnya. Kurs merupakan salah satu harga yang terpenting dalam perekonomian terbuka mengingat pengaruh-pengaruhnya yang demikian besar bagi neraca transaksi berjalan maupun variabel makro ekonomi yang lainnya. Oleh karena itu pada kurs, yakni harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya juga merupakan sebuah harga aktiva atau harga aset (asset price), prinsip-prinsip pengaturan harga-harga aset lainnya juga berlaku. Dan Menurut Asfia Murni (2006), kurs valuta asing (foreign exchange) dapat didefinisikan sebagai jumlah uang domestik yang dibutuhkan untuk memperoleh satu unit mata uang asing.


(46)

2. Macam-Macam Nilai Tukar

Menurut Gregori Mankiw (2000), macam-macam nilai tukar dapat dibedakan menjadi dua macam:

1. Nilai tukar nominal (nominal exchange rate)

Nilai tukar nominal adalah nilai atau uang tarif dimana seseorang dapat memperdagangkan mata uang suatu negara dengan mata uang lainnya. Contohnya jika nilai tukar Rp 8000 untuk setiap satu dolar amerika serikat, maka jika anda memberikan kepada petugas bank $ 1 adalah anda akan memperoleh Rp 8000.

Nilai tukar ini selalu dapat dinyatakan dengan dua cara, atau secara timbal balik. Jika nilai tukar dolar terhadap rupiah adalah $1 = Rp 8000. Itu artinya kurs rupiah terhadap dolar adalah Rp 1 = 1/8000 dolar.

Jika nilai tukar rupiah terhadap dolar meningkat artinya peningkatan tersebut disebut dengan apresiasi. Sedangkan jika nilai tukar rupiah terhadap dolar mengalami penurunan itu disebut depresiasi.

2. Nilai tukar riil (real exchange rate)

Nilai tukar riil adalah tingkatan dimana seseorang dapat memperdagangkan barang atau jasa dari suatu negara dengan barang dan jasa di negara lainnya. Sebagai contoh seseorang berbelanja dan mendapati bahwa harga suatu krat minuman ringan yang dibuat di negara lain adalah dua kali harga minuman sejenis buatan lokal. Berdasarkan perbandingan


(47)

harga tersebut, kita kemudian dapat mengatakan bahwa nilai tukar riil adalah setengah krat minuman ringan impor tersebut persatu krat minuman ringan lokal. Nilai tukar riil tersebut dinyatakan sebagai unit-unit barang asing perunit dari barang domestik.

Menurut Gregori Mankiw (2000), formula untuk Perhitungan nilai tukar riil dengan cara sebagai berikut:

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kurs Valuta Asing

Menurut Sadono Sukirno (2004), perubahan dalam permintaan dan penawaran suatu valuta asing yang selanjutnya menyebabkan perubahan dalam kurs valuta asing, disebabkan oleh banyak faktor. Yang terpenting diantaranya adalah seperti yang sebagai berikut:

1. Perubahan dalam cita rasa masyarakat.

Cita masyarakat mempengaruhi corak ekonomi mereka. Maka perubahan cita rasa masyarakat akan mengubah corak konsumsi mereka atas barang-barang yang diproduksi didalam negeri maupun yang di impor. Jika kualitas barang impor lebih berkualitas daripada barang-barang yang diproduksi dalam negeri akan menyebabkan keinginan masyarakat untuk mengkonsumsi barang-barang impor bertambah besar sehingga permintaan barang-barang impor ikut bertambah besar.

Nilai tukar riil : Nilai tukar nominal x harga domestik Harga luar negeri


(48)

Perubahan-perubahan ini akan mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing.

2. Perubahan harga-harga barang ekspor dan impor.

Harga suatu barang merupakan salah satu faktor yang menentukan apakah suatu barang akan di impor atau di ekspor. Barang-barang dalam negeri yang dapat dijual dengan harga yang relatif lebih murah akan menaikkan ekspor dan apabila harganya naik maka ekspor akan berkurang. Pengurangan harga barang impor akan menambah jumlah impor. Dan sebaliknya, impor akan menyebabkan perubahan dalam penawaran dan permintaan uang negara tersebut.

3. Kenaikan-kenaikan harga umum (inflasi).

Inflasi sangat besar pengaruhnya kepada kurs pertukaran valuta asing. Inflasi yang berlaku pada umumnya cenderung untuk menurunkan nilai suatu valuta asing. Kecenderungan seperti ini disebabkan efek inflasi yang berikut : inflasi menyebabkan harga-harga barang ekspor menjadi lebih mahal. Oleh karena itu, inflasi berkecendrungan mengurangi ekspor. Keadaan ini menyebabkan permintaan valuta asing bertambah dan akhirnya akan harga valuta asing akan bertambah.

4. Perubahan suku bunga dan tingkat pengembalian investasi.

Suku bunga dan tingkat pengembalian sangat penting dalam mempengaruhi aliran modal. Suku bunga dan tingkat pengembalian


(49)

investasi yang rendah cenderung akan menyebabkan modal dalam negeri akan mengalir keluar negeri. Begitupun sebaliknya, suku bunga dan pengembalian investasi yang tinggi akan menyebabkan modal luar negeri masuk kenegara tersebut. Apabila lebih banyak modal mengalir kesuatu negara, permintaan keatas maka uangnnya bertambah maka nilai mata uang tersebut akan bertambah.

5. Pertumbuhan ekonomi.

Efek yang akan diakibatkan oleh sesuatu kemajuan ekonomi yang berlaku. Apabila kemajuan itu teryata diakibatkan oleh perkembangan ekspor, maka permintaan keatas maka uang negara tersebut bertambah lebih cepat dari penawarannya dan oleh karenanya nilai mata uang negara bersangkutan akan meningkat.

4. Perubahan Nilai Kurs

Kurs yang ditentukan oleh pasar bebas dapat mengalami dua bentuk perubahan, yaitu perubahan kurs atas efek perubahan permintaan dan perubahan kurs atas efek perubahan penawaran (Gregori menkiew, 2000:400-401).


(50)

1. Perubahan kurs atas efek kenaikan permintaan

Gambar 2.1.

Kurva kenaikan permintaan kurs

Dalam gambar 2.1 diatas dimisalkan bahwa pada mulanya permintaan keatas dolar adalah D dan penawaran keatas dolar adalah S. Maka kurs pertukaran adalah satu dolar sama dengan 1500 rupiah dan kualitas dolar yang dijual belikan adalah Q1. Dari akibat suatu kenaikan dalam permintaan keatas dolar, kurva permintaan dolar bergerak dari D ke D1. Kurva yang baru ini menaikkan harga dolar dari 1500 rupiah setiap unit menjadi 2000 rupiah perunit dan menambahkan kuantitas valuta dolar yang diperjual-belikan dalam pasar valuta asing dari Q1 menjadi Q2.

Harga dolar

2000

1500

D

D S


(51)

Harga dolar

2. Perubahan kurs atas efek perubahan penawaran

Gambar 2.2

Kurva perubahan penawaran kurs

Dari gambar 2.2 diatas yang ditunjukkan adalah perubahan penawaran. Kurva S dan D menggambarkan penawaran dan permintaan uang dolar yang pada mulanya wujud. Sesudahnya penawaran bertambah dari S menjadi S1 sebagai akibat kurs pertukaran untuk setiap dolar turun dari 2000 rupiah menjadi 1500 rupiah, dan kuantitas mata uang dolar dan diperjual-belikan bertambah dari Q1 menjadi Q2

5. Teori Paritas daya beli (Purchasing Power Parity Theory)

Teori tentang nilai tukar dan flktuasi nilai tukar juga bisa dijelaskan oleh teori paritas daya beli (Dominic. 1997). Teori paritas daya beli merumuskan bahwa kurs antara dua mata uang adalah identik dengan rasio dari tingkat harga umum dari kedua negara yang bersangkutan. Artinya, penurunan daya beli mata uang domestik akan diiringi dengan depresiasi mata uangnya secara proporsional dalam pasar valas. Menurut

2000 1500

Q1 Q2

D S S1


(52)

teori ini, pasar valas berada pada kondisi keseimbangan apabila semua deposito atau simpanan dalam berbagai valas menawarkan tingkat imbalan yang sama.

Kondisi dimana tingkat imbalan yang semua simpanan dalam berbagai valas sama disebut kondisi paritas suku bunga (interesty parity). Dengan kata lain, segenap simpanan valas menawarkan tingkat imbalan resiko kurs, dan kemungkinan perubahan kurs secara keseluruhan setara sehingga prospek keuntungan ataupun daya tarik atas aset-aset tersebut besar. Kenaikan suku bunga dari simpanan suatu mata uang domestik menyebabkan mata uang domestiknya tersebut mengalami depresiasi terhadap mata uang asing, dengan asumsi kondisi yang lainnya tetap (perkiraan kurs dimasa datang tidak berubah). Namun demikian, asumsi yang digunakan tersebut dalam kenyataannya sangat tidak realistis sebab perubahan suku bunga senantiasa disertai dengan perubahan kurs dimasa yang akan datang. (Domonic,1997 pada Gandha, 2011:33-34)

C. Kredit

1. Pengertian Kredit.

Perkataan kredit telah lazim kita gunakan pada praktek perbankan dalam pemberian berbagai fasilitas yang berkaitan dengan pinjaman. Kata “kredit” berasal dari kata romawi “ credere” yang berarti percaya atau “credo” atau “ceditum“ yang berarti saya percaya. Maksudnya adalah sipemberi kredit


(53)

percaya kepada penerima kredit, bahwa kredit yang disalurkan pasti dikembalikan sesuai perjanjian. Sedangkan penerima kredit berarti menerima kepercayaan, sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar kembali pinjaman tersebut sesuai dengan jangka waktunya (Kasmir, 2010:101).

Balck’s law dictionary memberikan pengertian bahwa kredit :

“ The ability of a businessman to borrow money or obtain goods on time. In consuquence of the favourable opinion held bay the palticular lender, as it his solvency and reliablity”

Artinya

“ Kemampuan seorang pelaku usaha untuk meminjamkan uang, atau memperoleh barang-barang secara tepat waktu, sebagai akibat dari argumentasi yang tepat dari pemberi pinjaman, seperti halnya kendala dan kemampuan membayarnya”

Berdasarkan undang-undang No 10 tahun 1998 tentang perubahan atas undang-undang No 7 tahun 1992 tentang perbangkan memberikan pengertian kredit pasal 1 butir 11 dan 12 tentang kredit dan pembiayaan:

“ Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antar bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak-pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.


(54)

“ Pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antar bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengambilkan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil”.

2. Jenis-Jenis Kredit.

Dalam prakteknya kredit yang diberikan kepada masyarakat terdiri dari berbagai jenis. Secara umum jenis kredit dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu : 1. Jenis kredit berdasarkan jangka waktu

Menurut jangka waktunya, kredit dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:

a. Kredit jangka waktu pedek, yaitu kredit dengan jangka waktu pembayaran kurang dari satu tahun

b. Kredit jangka menengah, yaitu kredit yang diberikan dengan jangka waktu pembayarannya dari 1 tahun hingga 3 tahun

c. Kredit jangka panjang, yaitu kredit dimana jangka waktu pembayarannya 3-5 tahun

2. Jenis kredit berdasarkan tujuan penggunaannya

Menurut tujuan penggunaannya, kredit dibagi menjadi 3 yaitu:

a. Kredit konsumtif, yaitu kredit yang ditujukan kepada nasabah yang memerlukan dana untuk kegiatan konsumsi.


(55)

b. Kredit produksi, yaitu kredit yang ditujukan kepada nasabah yang memerlukan dana untuk kegiatan produksi.

c. Kredit pedagangan, yaitu kredit yang ditujukan kepada pedagang dan digunakan untuk membiayai aktivitas perdagangannya. Seperti untuk membeli barang dagangan yang pembayarannya diharapkan dari hasil penjualan barang dagangan tersebut.

3. Tujuan dan Fungsi Kredit

Dalam prakteknya tujuan pemberian suatu kredit sebagai berikut: 1. Kredit bertujuan untuk mencari keuntungan

Tujuan utama dari pemberian kredit adalah memperoleh keuntungan. Hasil keuntungan ini diperoleh dalam bentuk bunga yang diterima bank sebagai balas jasa dan biaya administrasi kredit yang dibebankan kepada nasabah. 2. Kredit bertujuan untuk membantu nasabah

Tujuan selajutnya atas pemberian kredit adalah membantu usaha nasabah yang memerlukan, baik dana investasi maupun dana untuk modal kerja. 3. Kredit bertujuan untuk membantu pemerintah

Tujuan lainya dari pemberian kredit adalah membantu pemerintah dalam berbagai bidang, semakin banyak kredit yang disalurkan berarti adanya kucuran dana dalam rangka meningkatkan pembangunan diberbagai sektor, terutama sektor riil. Secara garis besar keuntungan yang didapat oleh


(56)

pemerintah adalah bertambahnya penerimaan pajak, membuka lapangan kerja, menghemat dan meningkatkan devisa.

Disamping memiliki tujuan pemberian suatu fasilitas kredit juga memiliki fungsi yang sangat luas. Fungsi kredit yang secara luas tersebut antara lain: 1. Untuk meningkatkan daya guna uang

Dengan adanya kredit dapat meningkatkan daya guna uang. Maksudnya adalah jika uang hanya disimpan saja dirumah maka tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna. Dengan diberikan kredit, uang tersebut menjadi berguna untuk menghasilkan barang atau jasa oleh penerima kredit. 2. Untuk meningkatkan peredaran dan lalu-lintas uang

Dalam hal ini uang yang diberikan atau disalurkan akan beredar dari suatu wilayah kewilayah lainnya. Sehingga suatu daerah yang kekurangan uang dengan memperoleh kredit maka daerah tersebut akan memperoleh tambahan uang dari daerah lainnya.

3. Untuk meningkatkan daya guna barang

Kredit yang diberikan oleh bank akan dapat digunakan oleh sidebitur untuk mengolah barang yang semula tidak berguna menjadi berguna.

4. Meningkatkan peredaran uang

Kredit dapat pula menambah atau memperlancar arus uang disuatu wilayah kewilayah lainnya, sehingga jumlah uang berbeda dari suatu wilayah lainnya bertambah atau kredit dapat pula meningkatkan jumlah uang beredar.


(57)

5. Sebagai alat stabilitas ekonomi

Dengan memberikan kredit dapat dikatakan sebagai alat stabilitas ekonomi. Karena dengan adanya kredit yang diberikan akan menambah jumlah barang yang diperlukan masyarakat. Kredit dapat pula membantu mengekspor barang dari dalam negeri keluar negeri sehingga dapat membantuh devisa negara.

6. Untuk meningkatkan kegairahan produksi

Bagi sipenerima kredit tentu akan dapat meningkatkan kegairahan berusaha, apalagi bagi nasabah yang memang modalnya terbatas. Dengan memperoleh kredit nasabah bergairah untuk dapat memperbesar atau memperluas usahanya.

7. Untuk meningkatkan pemerataan pendapatan

Semakin banyak kredit yang diberikan dalam suatu perekonomian maka akan semakin baik terutama dalam hal meningkatkan pendapatan

8. Untuk meningkatkan hubungan internasional

Dalam hal pinjaman internasional akan dapat meningkatkan saling membutuhkan antara sipenerima kredit dengan sipemberi kredit. Pemberian kredit oleh negara lain akan meningkatkan kerjasama dibidang lainnya.


(58)

D. Suku Bunga

1 . Pengertian Suku Bunga

Bunga merupakan salah satu alat instrumen yang moneter yang selalu digunakan dalam berbagai kebijakan moneter yang diambil oleh otoritas moneter. Suku bunga sebagai instrumen artinya adalah tingkat suku bunga yang berlaku dalam suatu negara dapat berfluktuasi dari tingkat yang satu ketingkat yang lainnya. Menurut Rimsky (2005:80-81), Bunga adalah penghasilan yang diperoleh oleh seseorang yang memberikan uangnya (surplus spending units) untuk digunakan sementara waktu oleh orang yang membutuhkan dan menggunakan uang tersebut untuk menutupi kekurangnnya (defisit spending units ).

Menurut Cash dan Fair (2004), bunga adalah biaya yang dibayarkan oleh seseorang peminjam kepada pemberi pinjaman atas penggunaan dananya. Tingkat suku bunga adalah pembayaran bunga pinjaman tahun yang dinyatakan sebagai persentase dari pinjaman; persentase itu sama dengan jumlah bunga yang diterima pertahun dibagi dengan jumlah pinjaman. Sedangkan menurut Nicholas Apostolou dan Grumbley (2003), suku bunga adalah harga yang dibayar oleh seseorang peminjam dalam menggunakan uang peminjaman. Suku bunga pada umumnya lebih banyak dinyatakan dalam tarif setiap tahun atau persentase daripada dengan menggunakan jumlah mutlak.


(59)

Menurut Herman Darmawi (2006), tingkat bunga adalah harga yang harus dibayar oleh peminjam untuk memperoleh dan dari pemberi pinjaman untuk jangka waktu tertentu yang telah disepakati. Menurut Prank, Franco dan Ferry (1999), suku bunga adalah harga yang dibayar ”peminjam“ (“debitur”) kepada pihak yang “meminjamkan” (“kreditur”) untuk pemakaian sumber daya selama interval waktu tertentu. Jumlah pinjaman yang diberikan disebut prinsip, dan harga yang dibayar biasanya diekspresikan sebagai persentase dari prinsipal perunit waktu.

2. Macam-Macam Suku Bunga

Menurut Samuelson (2004), suku bunga dapat dibedakan berdasarkan satuan uang. Suku bunga yang dibedakan berdasarkan satuan uang dapat dibedakan mejadi dua, yaitu

1. Suku bunga nominal

Suku bunga nominal adalah suku bunga yang diukur dari pendapatan dalam uang pertahun peruang yang diinvestasikan. Suku bunga nominal (suku bunga uang) adalah suku bunga yang diukur dengan uang.

2. Suku bunga riil

Suku bunga riil adalah suku bunga yang dikoreksi karena inflasi yang dihitung sebagai suku bunga nominal dikurang tingkat inflasi. Sebagai contohnya, anggap suku bunga suatu negara adalah 8% pertahun sedangkan


(60)

inflasi 3 % pertahun. Maka kita dapat mengetahui kurs riil negara tersebut yaitu 8%-3% = 5%.

4. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)

Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/9/PBI/2002 tentang Operasi Pasar Terbuka sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/4/PBI/2004 dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/10/PBI/2002 tentang Sertifikat Bank Indonesia, Sertifikat Bank Indonesia yang selanjutnya disebut SBI adalah surat berharga dalam mata uang Rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek. Lelang SBI adalah penjualan SBI yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam rangka pelaksanaan kebijakan moneter (Bank Indonesia).

Tujuan dari penerbitan SBI yaitu mempengaruhi jumlah uang beredar. Sebagai otoritas moneter, Bank Indonesia berkewajiban memelihara kestabilan nilai rupiah dalam paradigma yang dianut, jumlah uang (uang karta, uang giral di BI) yang berlebihan dapat mengurangi kestabilan nilai rupiah. SBI diterbitkan dan dijual untuk mengurangi kelebihan uang primer tersebut (Bank Indonesia).

E. Inflasi

1. Pengertian Inflasi.

Inflasi adalah kemerosotan nilai mata uang suatu negara. Menurut Nopirin (1990), yang dimaksud dengan inflasi adalah proses kenaikan harga-harga


(61)

Para ekonomi modern memberikan definisi bahwa inflasi adalah kenaikan yang menyeluruh dari jumlah uang yang harus dibayarkan (nilai unit perhitungan moneter) terhadap barang-barang/komoditas dan jasa. Sebaliknya, jika yang terjadi adalah penurunan nilai unit perhitungan moneter terhadap barang-barang/komoditas dan jasa didefinisikan sebagai deflasi (deflation) (A.karim, 2008:510).

Menurut Sadono Sukirno (2000), tingkat inflasi adalah persentase kecepatan kenaikan harga-harga dalam satu tahun. Selain itu juga dalam buku yang berbeda memberikan pengertian bahwa inflasi adalah kenaikan dalam harga barang dan jasa, yang terjadi karena permintaan bertambah lebih besar dibandingkan dengan penawaran dipasar. Dengan kata lain, terlalu banyak uang yang memburu barang yang terlalu sedikit (Sadono Sukirno, 2004:333 pada N.Huda,Et al,2008:176).

2. Cara Mengukur Inflasi

Menurut Nopirin (1990), inflasi atau kenaikan harga dapat diukur dengan menggunakan indeks harga. Beberapa indeks harga yang sering digunakan untuk mengukur inflasi adalah

1. Indeks biaya hidup (consumer price indeks) yaitu mengukur biaya/pengeluaran untuk membeli sejumlah barang dan jasa yang dibeli oleh rumah tangga untuk keperluan hidup. Banyaknya barang tersebut


(62)

bermacam-macam, di Indonesia terdapat 9 bahan pokok, 62 macam barang serta 162 barang.

2. Indeks harga perdagangan besar (wholesale price indekx) yaitu menitikberatkan pada sejumlah barang pada tingkat perdagangan berat seperti harga bahan mentah, bahan baku atau setengah jadi.

3. GNP deflator yaitu jenis barang yang mencakup dalam perhitunga GNP. Dimana perhitungannya diperoleh dari membagi GNP nominal (atas harga berlaku) dengan GNP riil (atas dasar harga konstan).

3. Jenis Inflasi

Menurut Nofirin (1990) berdasarkan sifatnya, inflasi dapat dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu:

1. Inflasi merayap (creeping inflation) yaitu inflasi yang mempunyai laju kurang dari 10% pertahun

2. Inflasi menengah (galloping inflation) yaitu inflasi yang mempunyai laju yang cukup besar ( biasanya double digit atau bahkan triple digit)

3. Inflasi tinggi (hyper inflation) yaitu inflasi yang lajunya meningkat sampai 5 atau 6 kali lipat.

4. Sebab-sebab Terjadinya Inflation

Menurut teori kuantitas sebab utama timbulnya inflasi adalah kelebihan permintaan yang disebabkan oleh penambahan jumlah uang beredar.


(63)

1. Inflasi tarikan permintaan (Demand-pull Inflation)

Inflasi ini bermula dari adanya kenaikan permintaan total (agregat demand), sedangkan produksi telah berada pada keadaaan kesempatan kerja penuh atau hampir mendekati kesempatan penuh.

2. Inflasi desakan biaya (cosh push inflation)

Inflasi ini bersumber dari masalah kenaikan harga-harga dalam perekonomian yang diakibatkan kenaikan biaya produksi. Pertambahan biaya produksi mendorong perusahaan-perusahaan menaikkan harga, walaupun mereka harus mengambil resiko yang akan menghadapi pengurangan dalam permintaan barang-barang yang diproduksinya. Inflasi ini juga terjadi pada saat perekonomian berkembang dengan pesat ketika pengangguran sangat rendah.

3. Inflasi di impor (imported inflation)

Inflasi ini muncul akibat meningkatnya harga barang-barang impor. Apalagi barang tersebut mempunyai peranan penting dalam kegiatan pengeluaran perusahaan-perusahaan. Contohnya minyak bumi.

5. Dampak Inflasi

Inflasi atau kenaikan harga-harga yang tinggi dan terus menerus telah menimbulkan beberapa dampak buruk terhadap masyarakat dan perekonomian secara keseluruhan. Menurut Nopirin (1990), kenaikan harga


(64)

atau inflasi memiliki dampak terhadap masyarakat dan perekonomian, yaitu sebagai berikut:

1. Dampak terhadap pendapatan (equity effect)

Efek terhadap pendapatan adalah terjadinya pendapatan yang tidak merata. Ada yang dirugikan dan ada yang diuntungkan.

2. Dampak terhadap efisiensi (efficiency effect)

Inflasi dapat pula mengubah pola alokasi faktor-faktor produksi. Dengan adanya inflasi permintaan akan barang tertentu mengalami kenaikan yang lebih besar dari barang lain, yang kemudian produksi barang tersebut mengalami kenaikan. Kenaikan produksi barang ini pada gilirannya akan mengubah pola alokasi faktor produksi yang sudah ada.

3. Dampak terhadap output (output effect)

Disaat laju inflasi sangat tinggi maka akan mengurangi outpun nasional. Karena dalam keadaan inflasi yang tinggi, nilai mata uang riil turun dengan drastis, masyarakat cenderung tidak suka memegang uang kas, transaksi mengarah kearah barter, yang biasanya diikuti dengan penurunan produksi barang.

F. Investasi

1. Pengertian Investasi

Investasi, yang lazim disebut juga dengan istilah “ penanaman modal” atau “ pembentukan modal”. Menurut Kuhardjo dalam buku Glosarium,


(65)

memberikan pengertian bahwa investasi merupakan penanaman modal dalam suatu usaha yang diharapkan dapat mendatangkan tambahan.

Menurut Sadono Sukirno (2000) dan Nurul Huda et al (2008), istilah investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran atau perbelanjaan penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan produksi barang-barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian.

Menurut Orugman dan Obsteild (2005), investasi adalah bagian output yang digunakan oleh perusahaan swata untuk menghasilkan output di masa yang akan datang. Menurut Nopirin (1990), investasi dapat diartikan sebagai perubahan capital stock, maka teori tentang investasi haruslah dimulai dengan konsep jumlah (stock) kapital yang diinginkan (desire capital stock). Menurut Iswardono (1999), stock kapital merupakan unsur yang sangat aktif menetukan besarnya tingkat output.’

2. Fungsi Investasi

Fungsi investasi menurut A. Karim (2008) dapat dijelaskan dalam bentuk formasi:

. ..(2.11)

dimana :

I : Tingkat investasi

I = I (i, r, Q, T)


(66)

i : Tingkat suku bunga r : Tingkat pengembalian Q: GNP

T: Perubahan teknologi. 3. Tujuan Investasi

Tujuan melakukan investasi pada dasarnya adalah untuk menghasilkan sejumlah uang. Tapi pernyataan tersebut terlalu sederhana, sehingga perlu mencari jawaban yang lebih tepat tentang tujuan investasi, seperti yang dijelaskan diatas, bahwa tujuan investasi yang lebih luas adalah untuk meningkatkan kesejahteraan investor. Kesejateraan dalam hal ini adalah kesejateraan finansial, yang dapat diukur dari pendapatan yang diterima pada masa yang akan datang.

4. Bentuk Investasi

1. Bentuk investasi berdasarkan aktiva keuangan

Menurut Jogiyanto (1998:6 pada Safitri), berdasarkan aktiva keuangan investasi dapat digolongkan menjadi 2 golongan yaitu:

a. Investasi langsung, yaitu dengan membeli langsung aktiva keuangan dari suatu perusahaan baik melalui perantara atau dengan cara lainnya b. Investasi tidak langsung, yaitu dengan membeli saham dari investasi


(67)

2. Bentuk investasi berdasarkan sumbernya

a. Penanaman modal dalam negeri, yaitu investasi yang dananya bersumber dari dalam negeri atau domestik.

b. Penanaman modal asing, yaitu investasi yang modalnya bersumber dari dana luar negeri atau internasional.

5. Faktor yang Mempengaruhi Investasi

Menurut Sadono Sukirno (2000), banyaknya keuntungan yang akan diperoleh besar sekali peranannya dalam menentukan tingkat inflasi yang akan dilakukan oleh para penguasa. Disamping oleh harapan masa datang untuk memperoleh untung, terdapat beberapa faktor lain yang menetukan tingkat investasi yang akan dilakukan dalam perekonomian. Faktor-faktor utama yang menentukan tingkat invetasi adalah:

i. Tingkat keuntungan investasi yang diramalkan akan diperoleh ii. Tingkat suku bunga

iii. Ramalan mengenai keadaan ekonomi di masa depan iv. Kemajuan teknologi

v. Tingkat pendapatan nasional dan perubahan-perubahannya G. Keterkaitan Antar Variabel

1. Keterkaitan nilai tukar terhadap jumlah uang beredar (M2)

Pentingnya saluran nilai tukar sebagai salah satu transmisi kebijakan moneter terletak pada pengaruh aset finansial dalam valuta asing yang


(68)

berasal dari hubungan kegiatan ekonomi suatu negara dengan negara lain. Selain itu, perubahan kurs dalam negeri akan mengakibatkan ada perubahan aliran dana yang masuk dan keluar dari suatu negara akibat aktivitas perdagangan antar negara (ekspor dan impor) dan aliran modal investasi yang masuk kedalam dan keluar negeri. Aliran dana masuk dan keluar negeri akan mempengaruhi jumlah modal atau uang didalam negeri akibat perubahan kurs (Aulia Pohan,2008:22). Disaat neraca pembayaran surflus akibat bertambahnya cadangan valuta asing yang bersumber dari meningkat ekpsor dan modal asing yang mengalir dalam negeri akan memuat peningkatan penawaran uang (Sadono Sukirno, 2000:208)

Berdasarkan sisi yang berbeda, fluktuasi nilai tukar jelas mempengaruhi harga-harga barang domestik dan barang impor, pendapatan dari perusahaan dalam negeri, dan kekayaan semua investor dalam negeri. sebagai akibatnya, bank sentral memiliki sejumlah tanggung jawab untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah. Salah satu cara utama dalam menjalankan tugas ini adalah melakukan intervensi dalam pasar valuta asing, yaitu dengan dengan menjual atau membeli valuta asing bagi rekeningnya sendiri. Jika bank sentral menganggap bahwa nilai mata uang rupiah dinilai terlalu tinggi dan dolar dinilai begitu rendah, bank sentral akan membeli sejumlah dolar tersebut dengan rupiah yang dimilikinya. Pembelian tersebut meningkatkan jumlah uang beredar dengan demikian meningkatkan basis


(69)

moneter, sebaliknya, jika bank sentral menganggap nilai mata uang rupiah terlalu rendah dan nilai dolar terlalu tinggi maka bank sentral bisa menjual dolar yang mereka miliki sehingga dapat mengurangi jumlah uang beredar dan akan mengurangi basis ekonomi. (Frank, Franco dan Michael,1999:95). 2. Keterkaitan kredit terhadap jumlah uang beredar (M2)

Kredit merupakan penyediaan uang atas kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lainnya dengan mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya dalam jangka waktu tertentu dengan pemberian laba. Kredit memiliki hubungan erat dalam proses penciptaan uang yang dilakukan oleh bank-bank umum melalui pemberian pinjaman kepada masyarakat yang ada dalam suatu perekonomian.

Bank umum akan menciptakan tabungan giral (rekening koran) utama apabila ia mendapatkan uang langganannya dalam bentuk uang tunai atau cek yang ditarik dari bank lain. Setelah itu, ia akan menambah nilai tabungan giral. Uang yang diterima oleh bank umum tersebut akan mereka salurkan atau pinjamkan kembali kepada masyarakat (nasabah) setelah cadangan minimum yang harus disimpan ke bank sentral telah dipenenuhi. Karena cadangan yang diwajibkan tersebut jauh dibawah jumlah uang yang diterima oleh bank-bank umum, sehingga kelebihan cadangan tersebut akan disalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit (pinjaman) atau investasi.


(1)

2009Q1

35.18941 9.361917 34.80731

8.61

7.92

30.28564

2009Q2

35.22063 9.239851 34.82478

7.05

3.65

30.15148

2009Q3

35.24114 9.198976 34.85322

6.55

2.83

31.21273

2009Q4

35.30023 9.156412 34.89796

6.59

2.78

29.74771

2010Q1

35.28645 9.134719 34.92469

6.56

3.43

31.37107

2010Q2

35.34129 9.111266 35.01196

6.60

5.05

31.55892

2010Q3

35.36074 9.101901 35.05611

6.64

5.80

31.66172

2010Q4

35.44348 9.102458 35.11741

6.37

6.96

31.71025

Sumber : Data diolah


(2)

135 Lampiran 3 : Hasil Uji regresi dengan menggunakan OLS (Ordinary Least Square)

Dependent Variable: LNJUB

Method: Least Squares

Date: 12/11/11 Time: 07:14

Sample: 2003Q1 2010Q4

Included observations: 32

Variable

Coefficient Std. Error

t-Statistic

Prob.

LNER

-0.223226

0.068218 -3.272221

0.0030

LNCR

0.714208

0.011907

59.98123

0.0000

SBI

0.023649

0.004996

4.733735

0.0001

INF

-0.014105

0.002494 -5.656488

0.0000

LNINV

0.000309

0.005511

0.056095

0.9557

C

12.28302

0.560163

21.92758

0.0000

R-squared

0.995761 Mean dependent var

34.87706

Adjusted R-squared

0.994946 S.D. dependent var

0.323435

S.E. of regression

0.022994 Akaike info criterion -4.539769

Sum squared resid

0.013747 Schwarz criterion

-4.264944

Log likelihood

78.63631 Hannan-Quinn criter. -4.448672

F-statistic

1221.447 Durbin-Watson stat

1.526903

Prob(F-statistic)

0.000000


(3)

Lampiran 4: Hasil Uji Normalitas JB test

Sumber : data diolah dengan eviws 6.0


(4)

137 Lampiran 5 : Hasil Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedasticity Test: White

F-statistic 0.675992 Prob. F(20,11) 0.7849 Obs*R-squared 17.64428 Prob. Chi-Square(20) 0.6108 Scaled explained SS 11.47801 Prob. Chi-Square(20) 0.9329

Test Equation:

Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 12/11/11 Time: 07:15 Sample: 2003Q1 2010Q4 Included observations: 32

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. C -3.838494 3.011812 -1.274480 0.2288 LNER 0.531379 1.051083 0.505554 0.6231 LNER^2 0.012614 0.088204 0.143005 0.8889 LNER*LNCR -0.015792 0.022389 -0.705333 0.4953 LNER*SBI -0.000550 0.007918 -0.069515 0.9458 LNER*INF -0.000273 0.004200 -0.065067 0.9493 LNER*LNINV -0.006729 0.006580 -1.022585 0.3285 LNCR 0.033246 0.261637 0.127068 0.9012 LNCR^2 0.001465 0.002112 0.693921 0.5021 LNCR*SBI -0.000826 0.001072 -0.770579 0.4572 LNCR*INF 0.000410 0.000479 0.856383 0.4101 LNCR*LNINV 0.000429 0.000612 0.700254 0.4983 SBI 0.034290 0.058506 0.586099 0.5696 SBI^2 -0.000224 0.000243 -0.924662 0.3750 SBI*INF 9.78E-05 0.000164 0.597900 0.5620 SBI*LNINV 6.81E-05 0.000499 0.136493 0.8939 INF -0.012865 0.042732 -0.301068 0.7690 INF^2 -5.16E-06 7.15E-05 -0.072230 0.9437 INF*LNINV 1.94E-05 0.000190 0.102236 0.9204 LNINV 0.047924 0.060823 0.787918 0.4474 LNINV^2 -3.14E-05 0.000265 -0.118773 0.9076 R-squared 0.551384 Mean dependent var 0.000430 Adjusted R-squared -0.264282 S.D. dependent var 0.000613 S.E. of regression 0.000689 Akaike info criterion -11.47806 Sum squared resid 5.22E-06 Schwarz criterion -10.51617 Log likelihood 204.6489 Hannan-Quinn criter. -11.15922 F-statistic 0.675992 Durbin-Watson stat 2.269339 Prob(F-statistic) 0.784914


(5)

Lampiran 6 : Hasil Uji Multikolinieritas dengam menggunakan Correlation matrix

LNJUB

LNER

LNCR

SBI

INF

LNINV

LNJUB

1.000000 0.411923

0.993623

-0.361161 -0.196786 0.397955

LNER

0.411923 1.000000

0.452838

0.097689 0.152707 0.036882

LNCR

0.993623 0.452838

1.000000

-0.348649 -0.143789 0.426287

SBI

-0.361161 0.097689

-0.348649

1.000000 0.847435 -0.287428

INF

-0.196786 0.152707

-0.143789

0.847435 1.000000 0.025239

LNINV

0.397955 0.036882

0.426287

-0.287428 0.025239 1.000000


(6)

139

Lampiran 7 : Uji Autokorelasi dengam menggunakan Uji Breusch- Godfrey

Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:

F-statistic 0.450317 Prob. F(2,24) 0.6427

Obs*R-squared 1.157412 Prob. Chi-Square(2) 0.5606

Test Equation:

Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 12/15/11 Time: 11:48 Sample: 2003Q1 2010Q4 Included observations: 32

Presample missing value lagged residuals set to zero.

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

LNER 0.006166 0.072576 0.084956 0.9330

LNCR 0.000304 0.012240 0.024831 0.9804

SBI -0.000448 0.005129 -0.087373 0.9311

INF 0.000304 0.002622 0.115864 0.9087

LNINV -4.40E-05 0.005634 -0.007801 0.9938

C -0.063725 0.616786 -0.103317 0.9186

RESID(-1) 0.217524 0.240338 0.905073 0.3744

RESID(-2) -0.088205 0.261304 -0.337556 0.7386

R-squared 0.036169 Mean dependent var -1.61E-14

Adjusted R-squared -0.244948 S.D. dependent var 0.021059

S.E. of regression 0.023497 Akaike info criterion -4.451609

Sum squared resid 0.013250 Schwarz criterion -4.085175

Log likelihood 79.22574 Hannan-Quinn criter. -4.330146

F-statistic 0.128662 Durbin-Watson stat 1.804734

Prob(F-statistic) 0.995247


Dokumen yang terkait

Analisis pengaruh inflasi, nilai tukar (KURS), suku bunga SBI dan jumlah berdar (M2) terhadap dan pihak ketiga DPK) serta implikasinya terhadap volume transaksi pasar uang antara bank (PUAB)

2 17 152

Pengaruh variabel makro ekonomi terhadap harga saham syariah di Indonesia dan Malaysia periode Mei 2011 – Desember 2015

0 14 127

ANALISIS JUMLAH UANG BEREDAR DAN TINGKAT SUKU ANALISIS JUMLAH UANG BEREDAR DAN TINGKAT SUKU BUNGA SBI TERHADAP INFLASI DI INDONESIA TAHUN 1984-2009.

0 2 14

ANALISIS INTERDEPENDENSI JUMLAH UANG BEREDAR, SUKU BUNGA SBI,NILAI TUKAR DAN TINGKAT INFLASI DI INDONESIA.

2 12 17

ANALISIS PENGARUH NILAI TUKAR RUPIAH, INFLASI, SUKU BUNGA, DAN JUMLAH UANG BEREDAR TERHADAP Analisis Pengaruh Nilai Tukar Rupiah, Inflasi, Suku Bunga, dan Jumlah Uang Beredar Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Surakarta Tahun 1995-2014.

0 3 11

PENGARUH INFLASI, JUMLAH UANG BEREDAR (JUB), TINGKAT SUKU BUNGA SBI (BI RATE), DAN NILAI TUKAR (KURS) TERHADAP INDEKS Pengaruh Inflasi, Jumlah Uang Beredar (JUB), Tingkat Suku Bunga SBI (BIRATE), dan Nilai Tukar (KURS) terhadap Indeks Harga Saham di Jaka

0 2 19

PENGARUH INFLASI, JUMLAH UANG BEREDAR (JUB), TINGKAT SUKU BUNGA SBI (BI RATE), DAN NILAI TUKAR (KURS) TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM Pengaruh Inflasi, Jumlah Uang Beredar (JUB), Tingkat Suku Bunga SBI (BIRATE), dan Nilai Tukar (KURS) terhadap Indeks Harga S

0 3 16

ANALISIS PENGARUH NILAI TUKAR ( KURS) DOLAR AMERIKA/ RUPIAH (US$/ Rp), INFLASI, TINGKAT SUKU BUNGA Analisis Pengaruh Nilai Tukar ( Kurs) Dolar Amerika/ Rupiah (US$/ Rp), Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI, Dan Jumlah Uang Beredar (M2) Terhadap Indeks Harga

0 2 15

PENGARUH KONSUMSI, INVESTASI, JUMLAH UANG BEREDAR DAN INFLASI TERHADAP PENENTUAN KEBIJAKAN SUKU BUNGA SBI

0 0 17

PENGARUH JUMLAH UANG BEREDAR TERHADAP INFLASI, SUKU BUNGA DAN NILAI TUKAR UANG SERTA DAMPAKNYA PADA INVESTASI DI INDONESIA

0 1 8