Implementasi konsep pendidikan john dewey pada mata pelajaran agama islam (pendekatan kontekstual)

IMPLEMENTASI KONSEP PENDIDIKAN JOHN DEWEY
PADA MATA PELAJARAN AGAMA ISLAM (PENDEKATAN
KONTEKSTUAL)
SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk
Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh
Ririn Eka Kartika
1110011000134

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015

ABSTRAK

Ririn Eka Kartika (1110011000134). Implementasi Konsep Pendidikan John
Dewey pada Mata Pelajaran Agama Islam (Pendekatan Kontekstual). Skripsi,
Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep pendidikan John Dewey pada
mata pelajaran pendidikan agama Islam (Pendekatan Kotekstual). Penelitian ini
dilakukan pada bulan Agustus 2014 sampai bulan Desember 2014 yang digunakan
untuk pengumpulan data mengenai sumber-sumber tertulis yang diperoleh dari teks
book yang ada di perpustakaan, artikel, jurnal serta website yang ada hubungannya
dengan konsep pendidikan John Dewey pada mata pelajaran agama Islam
(Pendekatan Kontekstual). Jenis metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode penelitian kualitatif dengan pendekatan library research. Sedangkan dalam
memperoleh data, fakta dan informasi yang akan melengkapkan dan menjelaskan
permasalahan dalam penulisan skripsi, penulis menggunakan metode deskriptif yang
didukung oleh data yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan.
Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini bahwa ada keterkaitan antara
kontekstual konsep pendidikan John Dewey dengan mata pelajaran agama Islam.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kontekstual konsep pendidikan John Dewey
dapat dipadankan dengan mata pelajaran agama Islam.

Kata Kunci: Kontekstual Konsep Pendidikan John Dewey. Pendidikan Agama Islam

ABSTRACT

Ririn Kartika Eka (1110011000134). Implementation Concept of Education John
Dewey on Religious Subjects (Contextual Approach). Thesis, Department of Islamic
Education, Faculty of Science and Teaching UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

This study aims to determine the concept of education John Dewey on the
subjects of Islamic religious education (Kotekstual approach). This research was
conducted in August 2014 through December 2014 are used for collecting data on
written sources obtained from the text book in the library, articles, journals and
websites that have something to do with the concept of education John Dewey on the
subjects of Islam (Contextual Approach). This type of method used in this study is a
qualitative research method to approach research library. While in obtaining the data,
facts and information that would complete and explain the problems in the writing,
the author uses descriptive method that is supported by data obtained through library
research.
The results found in this study that there is a correlation between contextual
concept of education John Dewey with Islamic religious subjects. These results
indicate that the contextual concept of education John Dewey can be paired with
Islamic religious subjects.

Keywords: Contextual Concept of Education John Dewey. Islamic Education

KATA PENGANTAR
Bismillahirohmanirrohim

Assalamu’alaikum wr, wb.
Alhamdulillahi Robbil’ alamin, segala puji hanya bagi Allah SWT pemilik
semesta di seluruh alam raya. Atas berkat dan rahmat serta ridho-Nya. Alhamdulillah
penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi tepat pada waktunya. Sholawat dan
salam senantiasa tercurahkan untuk Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para
sahabat dan pengikut-pengikutnya hingga akhir zaman. Selama proses penyusunan
skripsi ini penulis mendapatkan banyak dukungan dan bantuan dari berbagai pihak
guna membantu lancarnya penelitian ini, baik secara langsung atau tidak oleh karena
itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA Selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah.
2. Dr. Abdul Majid Khon, MA selaku Ketua jurusan Pendidikan Agama Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
3. Marhamah Saleh, MA selaku Sekertaris jurusan Pendidikan Agama Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
4. Dr. Akhmad Sodiq, MA sebagai dosem pembimbing skripsi yang begitu teliti
sabar dalam membimbing saya, memberikan pengarahan dan masukan dalam
penulisan skripsi ini serta meluangkan banyak waktunya dalam proses
penyusunan skripsi ini.
5. Dr. Zaimudin, MA selaku dosen penasihat akademik dan segenap dosen jurusan
Pendidikan Agama Islam yang selalu memberikan motivasi untuk penulis.
6. Ayahku Entis Rosiawandi dan Ibunda Apiati Sopiah tercinta yang telah merawat
serta mendidik penulis dengan penuh kasih sayang, mendo’akan dan mecukupi

i

moril dan materil sejak kecil hingga saat ini dan juga terimakasih kepada adikku
satu-satunya Rizki Sulaeman yag banyak memberi dukungan selama ini.
7. Teman-teman MOLOSE C, KSR, The Community serta rekan seperjuangan
jurusan Pendidikan Agama Islam 2010 yang selalu mensupport penulis.
8. Semua pihak terkait yang tidak disebutkan satu persatu oleh penulis.

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................................ iii
DAFTAR TABEL ................................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ......................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ............................................................................... 4
C. Pembatasan Masalah ............................................................................... 5
D. Perumusan Masalah ................................................................................ 5
E. Tujuan Penelitian …………………………………………….. .............. 5
F. Manfaat Penelitian .................................................................................. 5
BAB II KAJIAN TEORITIK
A. Pembelajaran Kontekstual ...................................................................... 7
1. Pengertian Pendekatan Kontekstual ................................................. 7
2. Peran Guru dalam Pendekatan Kontekstual ..................................... 8
3. Karakteristik Pendekatan Kontekstual ............................................. 9
4. Prinsip Pendekatan Kontekstual ...................................................... 10
5. Perbedaan

Pendekatan

Kontekstual

dengan

Pembelajaran

Tradisional ........................................................................................ 11
6. Sejarah Kontekstual dan Keterkaitan dengan John Dewey .............. 12
B. Konsep Pendidikan John Dewey ............................................................ 18
1. Biografi John Dewey ........................................................................ 18
2. Karya-karya John Dewey .................................................................. 19
3. Pandangan Hidup (Falsafah) John Dewey ........................................ 20
4. Konsep Pendidikan John Dewey ....................................................... 23
5. Sekolah Kerja John Dewey ............................................................... 25
C. Pendidikan Agama Islam ....................................................................... 33
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam ................................................. 33
2. Tujuan Pendidikan Agama Islam ...................................................... 35
3. Ruang Lingkup Agama Islam ............................................................ 36
iii

D. Hasil Penelitian yang Relevan ................................................................ 36
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Objek dan Waktu Penelitian ..................................................................... 39
B. Metode Penelitian ..................................................................................... 39
C. Fokus Penelitian ....................................................................................... 40
D. Prosedur Penelitian ................................................................................... 40
E. Sumber Data ............................................................................................. 41
F. Analisis Data ............................................................................................. 42
G. Teknik Penulisan ...................................................................................... 42
BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Kontekstual Pendidikan John Dewey pada Mata Pelajaran Agama Islam ... 43
B. Konsep Pendidikan John Dewey pada Mata Pelajaran Agama Islam
(Pendekatan Kontekstual) ............................................................................. 52
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ................................................................................................... 58
B. Saran .............................................................................................................. 58
DAFTAR PUSTAKA

iv

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Teori pendidikan menurut aliran progressivisme ..................................... 18
Tabel 2.2 Perbedaan Pendekatan Kontestual dengan Pembelajaran Tradisional ...... 35

v

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia,
karena melalui pendidikan manusia dapat memahami apa arti dan hakikat
hidup, serta untuk apa dan bagaimana menjalankan tugas hidup dan
kehidupan secara benar. Pendidikan juga berperan penuh dalam pembentukan
kepribadian yang unggul dengan menitikberatkan pada proses pematangan
kualitas logika, hati, akhlak dan keimanan.1 Tujuan pendidikan yang akan
dicapai adalah tujuan yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, seperti
yang tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun
2003 pada Bab II pasal 3, dijelaskan bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka

mencerdaskan

kehidupan

bangsa,

bertujuan

untuk

berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.2
Berdasarkan tujuan tersebut pemerintah Indonesia memiliki tanggung
jawab mewujudkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang
berkualitas. Pendidikan nasional bukan hanya sebatas peningkatan kualitas
kehidupan, namun pendidikan juga meningkatkan harkat dan martabat
seseorang di mata Allah. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam surah alMujaadalah ayat 11:

1
2

Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), Cet. I, h. 10
Lukmanul Hakim, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung: CV. Wacana Prima, 2009), h. 92

1

2

           
  
“...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah
Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al-Mujaadalah: 11)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa tujuan dari kepemilikan ilmu
pengetahuan bukan semata-mata mencerdaskan akal pikiran, akan tetapi
untuk meningkatkan keimanan dan keyakinan kepada Allah. Oleh karenanya
maka perlu dirumuskan pandangan hidup Islam dapat mengarahkan tujuan
dan sasaran pendidikan Islam.
Sebagai landasan pandangan seorang muslim disebutkan dalam ayat alQur’an:

     
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”. (Q.S.
Al-Imran: 19)
Seorang muslim wajib mentaati ajaran Islam dan menjaga agar rahmat
Allah tetap bersama dirinya. Ia harus mampu memahami, menghayati dan
mengamalkan ajaran-Nya yang didorong oeh iman sesuai dengan akidah
Islamiah. Untuk itulah manusia harus dididik melalui proses pendidikan
Islam.
Pengertian pendidikan Islam adalah suatu sistem kependidikan yang
mencangkup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah.
Oleh karena Islam mempedomani seluruh aspek kehidupan manusia baik

3

duniawi maupun ukhrawi.3 Mengingat luasnya jangkauan yang harus digarap
oleh pendidikan Islam, maka pendidikan Islam tidak menganut sistem
tertutup melainkan terbuka terhadap tuntutan kesejahteraan umat manusia,
baik tuntutan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi maupun tuntutan
pemenuhan kebutuhan hidup rohaniah. Kebutuhan itu semakin meluas sejalan
dengan meluasnya tuntutan hidup manusia itu sendiri.
Namun perjalanan panjang pendidikan Islam di Indonesia hingga kini
masih diliputi kendala yang cukup mendasar. Sebagai contoh, persoalan yang
menyangkut kesejahteraan guru, ketersediaan guru baik dari segi kuantitas
maupun kualitas, ketersediaan fasilitas belajar, manajemen kelembagaan,
muatan kurikulum dan tumpukan persoalan lain yang masih terkait. Oleh
karena itu, tidak mengherankan jika kualitas hasil belajar siswa masih rendah.
Proses belajar-mengajar dan hasil belajar siswa sebagian besar ditentukan
oleh peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu
menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu
mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat optimal.
Akan tetapi kenyataannya menunjukan bahwa selama ini kebanyakan guru
menggunakan pembelajaran yang kurang tepat.
Hal tersebut membuat kita mengambil kesimpulan bahwa pembelajaran
agama Islam hanyalah bersumber dari materi yang dihafal oleh siswa. Guru
agama Islam ketika proses belajar mengajar cenderung hanya memakai
metode ceramah dan menganggap siswa sebagai objek, hal tersebut membuat
siswa hanya mendapatkan informasi secara pasif serta tidak berperan aktif di
dalam kelas.
Pembelajaran hanya berpusat pada peran guru menurunkan strategi
pembelajaran

langsung

(direct

insruction).

Sedangkan

pendekatan

pembelajaran berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran
discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif.4 Berdasarkan
kenyataan di atas, maka diperlukan sebuah strategi pembelajaran baru pada
3

Mahmud Yunus, Pendidikan dan Pengajaran, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1997), h. 9
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Pt. Rineka Cipta, 2009), Cet. IV,
h. 247
4

4

mata pelajaran agama Islam yang lebih memperdayakan siswa. Sebuah
strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa untuk menghapal fakta-fakta,
tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa untuk mengkonstruksi
pengetahuan dalam benak mereka sendiri di antaranya dengan pembelajaran
kontekstual (Contextual Teaching and Learning).5
dalam masyarakat yang sesuai dengan bakatnya. Pengajaran ini dikenal
dengan kerja proyek John Dewey.6
Pendidikan agama Islam tidak dipandang sebagai salah satu mata
pelajaran yang hanya menekankan pada kemampuan kognitif saja, melainkan
mencangkup afektif dan psikomotorik. Adapun yang pada awalnya materi
pendidikan agama Islam yang cenderung berpusat pada peran guru (teacher
sentered), kini dapat mendorong siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan
dalam benak mereka sendiri. Selain itu, setelah siswa dapat mengkonstrusikan
pengetahuan

sendiri,

dimplementasikan

ke

mata

pelajaran

permasalahan

agama

Islam

pun

perlu

lingkungan

hidup

dan

dapat

mengembangkan minatnya sendiri, hal tersebut merupakan konsep John
Dewey.
Memperhatikan latar belakang masalah di atas, maka perlu dan penting
dilakukan penelitian tentang, “Implementasi Konsep Pendidikan John
Dewey Pada Mata Pelajaran Agama Islam Dengan Pendekatan
Kontekstual (Contextual Teaching And Learning)”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka
dapat diidentifikasi beberapa masalah:
1. Pembelajaran agama Islam masih didominasi oleh guru (teacher
centered)
2. Prestasi belajar pada mata pelajaran agama Islam siswa masih rendah

5
6

Soejono, Aliran Baru dalam Pendidikan, (Bandung: CV. Ilmu, 1997), h. 129
John Smith, Semangat Filsafat Amerika, (Jakarta: Yayasan Sumber Agung, 1995), h. 137

5

3. Siswa kurang mampu menerapkan mata pelajaran agama Islam dalam
kehidupan sehari-hari
4. Konsep pendidikan John Dewey umumnya digunakan pada mata
pelajaran eksakta (matematika, biolgi, kimia, fisika)

Pembatasan Masalah Penelitian
Mengingat luasnya permasalahan yang telah diungkapkan dan agar
penelitian ini terarah dan operasional, maka masalah pokok yang akan diteliti
dibatasi pada:
1. Pembahasan konsep Pendidikan John Dewey
2. Pembahasan mengenai mata pelajaran agama Islam
3. pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning).

C. Rumusan Masalah Penelitian
Dari pembatasan masalah di atas, maka permasalahan yang dibahas
dalam penelitian dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimana implementasi
konsep pendidikan John Dewey pada mata pelajaran agama Islam dengan
pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning)?”

D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan, penelitian ini adalah
sebagai berikut: Mengetahui implementasi konsep pendidikan John Dewey
pada mata pelajaran pendidikan agama Islam dengan pendekatan kontekstual
(Contextual Teaching and Learning).

E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Bagi guru, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi sumbangan
pengetahuan dalam memilih strategi dan pendekatan pembelajaran yang
efektif dalam proses belajar-mengajar khususnya di bidang studi agama
islam.

6

2. Bagi Siswa, hasil penelitian ini dapat memudahkan siswa dalam
memahami pelajaran agama islam.
3. Bagi Penulis, Hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan bekal ilmu
pengetahuan, bahwasanya konsep pendidikan John Dewey dapat
diterapkan pada mata pelajaran agama islam dengan pendekatan
kontekstual

(Contextual

Teaching

and

Learning).

Dan

dapat

menerapkannya kelak dengan baik dalam proses kegiatan belajarmengajar.

BAB II
KAJIAN TEORITIK

A. Pembelajaran Kontekstual
1. Pengertian Pendekatan Kontekstual
Menurut Wina Sanjaya Pertama, kontekstual menekankan kepada
proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar
diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar
dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima
pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi
pelajaran.
Kedua, CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan
antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa
dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara materi yang dipelajari
dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat
menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan
hubungan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengaitkan
materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa
materi itu akan bermakna secara fungsional, akan tetapi materi yang
dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan
mudah dilupakan.
Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam
kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat
memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi
pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Materi pelajaran dalam konteks CTL bukan untuk ditumpuk pada otak dan
kemudian dilupakan, akan tetapi sebagai bekal mereka dalam mengarungi
kehidupan nyata.1

1

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:
Kencaana, 2008), h. 255

7

8

Pengertian tersebut disimpulkan oleh E. B. Johnson bahwa
kontekstual berarti “teralami” oleh siswa. pendekatan kontekstual
(Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi
dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan
mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu,
hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses
pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja
dan mengalami bukan mentransfer pengetahuan dari guru kepada siswa.2
Pada saat pendekatan kontekstual, guru harus mampu menerjemahkan
keanekaragaman dalam proses belajar-mengajar, baik pemilihan materi,
penggunaan metode maupun setting pembelajaran. Hal semacam ini akan
lebih mengaktifkan siswa dan guru. Potensi dasar dari masing-masing akan
terdorong

dan

berkembang

ke

arah

kemampuan

baru.

Melalui

pembelajaran ini, siswa menjadi tanggung jawab terhadap dunia mereka
dan sekitarnya. Mereka akan menggunakannya di kehidupan nyata
sehingga memiliki motivasi tinggi dalam belajar.3
Dengan demikian pendekatan kontekstual mengutamakan pada
pengetahuan dan pengalaman atau dunia nyata (Real World Learning),
berpikir tingkat tinggi, berpusat pada siswa, siswa aktif, kritis, kreatif,
memecahkan masalah, siswa belajar menyenangkan, mengasikan, tidak
membosankan (Joyfull and Quantum Learning), dan menggunakan
berbagai sumber belajar. 4

2. Peran Guru dalam Pendekatan Kontekstual
Tugas guru dalam pendekatan kontekstual adalah membantu siswa
dalam mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih berurusan dengan
2

Elaine B. Johnson, op. cit., h. 20
Abdurrahman, Meaningful Learning Re-Invensi Kebermaknaan Pembelajaran, (Yogyakarta),
h. 92
4
Lukmanul Hakim, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung: CV Wacana Prima, 2009), h. 57
3

9

strategi daripada memberi informasi. Guru hanya mengelola kelas sebagai
sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu yang baru bagi
siswa. Proses belajar mengajar lebih diwarnai student centered daripada
teacher centered. Maka guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai
berikut.
a. Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari siswa
b. Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses
pengkajian secara seksama.
c. Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang
selanjutnya memilih dan mengaitkan dengan konsep atau teori yang
akan dibahas dalam pendekatan kontekstual
d. Merancang pengajaran dengan mengaitkan konsep atau teori yang
dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa
dan lingkungan hidup mereka.
e. Melaksanakan penilaian terhadap pemahaman siswa, dimana hasilnya
nanti dijadikan bahan refleksi terhadap rencana pembelajaran dan
pelaksanaannya.5

3. Karakteristik Pendekatan Kontekstual
Dalam pembelajaran terdapat lima karakteristik penting dalam
menggunakan Kontekstual.
a. Dalam CTL, pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan
yang sudah ada (activiting knowledge), artinya apa yang akan dipelajari
tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian
pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh
dan memiliki keterkaitan satu sama lain.
b. Pendekatan kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan
menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru
itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai

5

Ibid, h. 36

10

dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan
detailnya.
c. Pemahaman

pengetahuan

(understanding

knowledge),

artinya

pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami
dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain
tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan
tersebut beru pengetahuan itu dikembangkan
d. Mempraktekan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying
knowledge), artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya
harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak
perubahan perilaku siswa.
e. Melakukan

refleksi

(reflecting

knowledge)

terhadap

strategi

pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik
untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.6

4. Prinsip Pendekatan Kontekstual
Prinsip-prinsip (Contextual Teaching Learning) adalah sebagai
berikut.
a. Berpusat pada siswa, artinya bahwa dalam kegiatan belajar-mengajar
(KBM) harus berpusat pada siswa, dimana siswa yang dibiarkan untuk
aktif menggali pengetahuan baru sedangkan guru hanyalah sebagai
fasilitator yaitu bertugas mengarahkan para peserta didik.
b. Pengetahuan adalah pengalaman yang bermakna dalam kehidupan.
Yaitu bahwa pengetahuan baru yang didapatkan peserta didik
merupakan pengalaman yang dapat bermanfaat dalam kehidupan
peserta didik sehari-hari.
c. Siswa praktek, bukan menghafal. Dalam hal ini, proses pembelajaran
dilakukan dengan kegiatan peserta didik mempraktekan langsung
terhadap pengetahuan baru yang didapatnya, bukan dengan cara
menghafalkan pengetahuan yang sudah didapat.
6

Wina Sanjaya, loc. cit.

11

d. Hasil belajar berupa hasil karya siswa dan perubahan perilaku, artinya
bahwa dalam proses pembelajaran, diharapkan para peserta didik dapat
menghasilkan sebuah karya, baik itu berupa gambar maupun artikel
dan sebagainya. Selain itu, diharapkan setelah proses pembelajaran
berlangsung, peserta didik mengalami perubahan perilaku yang lebih
baik (positif).
e. Penilaian yang sebenarnya. Jadi pada intinya adalah yang dinilai dari
proses pembelajaran yaitu apakah peserta didik itu belajar, bukan apa
yang sudah diketahui peserta didik sehingga peserta didik dinilai
kemampuannya dengan berbagai cara tidak melalui dari hasil ulangan
tulis.
f. Model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak dan
konteks lingkungan. Bahwasanya pendekatan kontekstual mampu
menyesuaikan kondisi setempat dengan karakteristik peserta didik
sehingga tercipta keselarasan di antara keduanya yang kemudian akan
melahirkan lulusan yang mampu menghadapi dan memecahkan
masalah kehidupan.7

5. Perbedaan

Pendekatan

Kontekstual

dengan

Pembelajaran

Tradisional.8
No
1

2

3

4
7
8

Pembelajaran Kontekstual
Menyadarkan pada pemahaman

Pembelajaran Tradisional
Menyadarkan pada hafalan

makna
Pemilihan informasi berdasarkan

Pemilihan informasi ditentukan

kebutuhan siswa

oleh guru

Siswa sebagai subjek belajar,

Siswa sebagai objek belajar,

artinya siswa terlibat secara aktif

siswa secara pasif menerima

dalam proses pembelajaran

informasi

Pembelajaran dikaitkan dengan Pembelajaran sangat abstrak dan

Elin Rosalin, op. cit., 30-31
Wina Sanjaya, op. cit., h. 261-262

12

kehidupan

nyata/masalah

yang teoritis

disimulasikan
Selalu
5

6

mengaitkan

Memberikan

tumpukan

dengan pengetahuan yang telah

informasi kepada siswa sampai

dimiliki siswa

saaatnya diperlukan

Cenderung

mengintegrasikan

beberapa bidang
Siswa

Cenderung terfokus pada bidang
(disiplin) tertentu.

menggunakan

belajarnya

7

informasi

untuk

waktu

mengaitkan,

Waktu belajar siswa sebagian
besar

digunakan

berdiskusi, berpikir kritis atau

mengerjakan

buku

mengerjakan

mendengarkan

ceramah

pemahaman

proyek
masalah

dam
(melalui

kerja kelompok)

mengisi
membosankan

latihan
(melalui

untuk
tugas,
dan
yang
kerja

individu)
8

9

10

Perilaku dibangun atas kesadaran

Perilaku dibangun atas dasar

diri

kebiasaan

Keterampilan dikembangkan atas

Keterampilan

dasar pemahamannya

atas dasar latihan

Hadiah dari perilaku baik adalah

Hadiah dari perilaku baik adalah

kepuasan diri

pujian atau nilai angka rapor

dikembangkan

6. Sejarah Kontekstual dan Keterkaitan dengan John Dewey
Pendekatan kontekstual lahir dari paham konstruktivisme, yaitu
paham yang berpendapat bahwa pembelajaran yang bermakna itu bermula
dengan pengetahuan dan pengalaman yang ada pada peserta didik.
Konstruktivisme berakar pada filsafat pragmatisme yang digagas oleh
John Dewey pada tahun 1916. Dewey mengatakan bahwa pendidik yang
cakap harus melaksanakan proses pembelajaran sebagai proses penyusun
atau membina pengalaman secara berkesinambungan, serta menekankan
pada keikutsertaan peserta didik pada setiap aktivitas pembelajaran.
Konstruktivisme merupakan landasan filosofi CTL merupakan filosofi

13

belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal,
tetapi peserta didik harus mengonstruksikan pengetahuan dalam benak
mereka sendiri, dimana pengetahuan tidak dapat dipisahkan menjadi
sebuah fakta yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat
diterapkan.
Melalui landasan konstruktivisme, pendekatan kontekstual merupakan
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dengan mendorong siswa
untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupannya sehari-hari menjadi alternatif strategi
belajar yang baru.
Kemampuan otak untuk menemukan makna dengan membuat
hubungan-hubungan menjelaskan mengapa siswa yang didorong untuk
menghubungkan tugas-tugas sekolah dengan kenyataan saat ini. Dengan
konteks kehidupan keseharian maka mereka akan mampu memasangkan
makna pada materi akademik mereka sehingga mereka dapat mengingat
apa yang mereka pelajari.9
Maka Dewey menyarankan

agar kurikulum

dan metodologi

pembelajaran dikaitkan langsung dengan minat dan pengalaman siswa.
Kemudian model pembelajaran CTL dikembangkan oleh ahli-ahli
pendidikan dan bukanlah hal yang baru. John dewey mengatakan bahwa
model pembelajaran ini dikembangkannya pada tahun 1916 yang dikenal
dengan sebutan Learning by Doing, kemudian tahun 1970-an konsep
pembelajaran ini dikenal dengan Experiental Learning, pada tahun 1990
model pembelajaran ini dikenal dengan School to Work. Kemudian pada
era tahun 2000-an, sebutan model kontekstual ini lebih efektif
digunakan.10

9

Elin Rosalin, Gagasan Merancang Pembelajaran Kontekstual, (Bandung: PT. Karsa Mandiri
Persada, 2008), h. 24
10
Education Mantap, Sejarah Pembelajaran Kontekstual, 2014, (http://www.educationmantap.blogspot.com), diakses tanggal 17 Agustus 2014

14

Terdapat salah satu karyanya John Dewey yaitu Democracy and
Education (1916) yang berkaitan dengan pendekatan kontekstual.
Pertama, Pendidikan adalah suatu transmisi yang dilakukan melalui
komunikasi. Komunikasi adalah proses dari penyatuan empiris dan proses
modifikasi watak hingga menjadi suatu keadaan pribadi. Hal ini
menggambarkan bahwa setiap rancangan sosial memiliki bagian penting
dari sebuah kelompok, dari yang tua hingga yang termuda. Untuk itu,
pentingnya komunikasi bagi anak ketika belajar karena hal itu berguna
untukya kelak dalam masyarakat. Hendaknya siswa dilatih dengan
menggunakan waktu belajarnya untuk mengaitkan, berdiskusi, berpikir
kritis atau mengerjakan proyek dalam memahami masalah (melalui kerja
kelompok). Kegiatan tersebut termasuk ciri dari pendekatan kontekstual.
Kedua, Pendidikan sebagai fungsi sosial. Manusia harus dapat
memecahkan permasalahannya sendiri, jika tidak bisa atau tidak mau
berusaha maka manusia akan kehilangan identitas dirinya sebagai makhluk
hidup. Maka anak-anak perlu pembelajaran yang dikaitkan dengan
kehidupan

nyata/masalah.

Pembelajaran

yang

dikaitkan

dengan

permasalahan kehidupan yang berkembang di masyarakat, hal itu termasuk
ciri dari pendekatan kontekstual. Karena hal itu berguna ketika anakanak beranjak dewasa sehingga dapat memecahkan masalah dalam
kehidupannya.
Ketiga, sekolah-sekolah merupakan kesempatan yang besar bagi
penafsiran sebuah aktivitas di dalam pengajaran, dan mereka mungkin
memperoleh sebuah perasaan sosial atas kekuatan mereka sendiri dari
materi-materi serta peralatan-peralatan yang digunakan di sekolah.
Maksudnya sekolah adalah sarana bagi anak mengetahui makna kegiatan
dalam pembelajaran dan pengajaran. Melalui materi-materi serta peralatanperalatan

yang

digunakan

mengaplikasikannya

di

di

sekolah

kehidupannya.

memungkinkan

Dengan

konsep

mereka

itu,

hasil

pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran
berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami,

15

bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Hal itu termasuk ciri
dari pendekatan kontekstual11
Keempat, Pengetahuan adalah pengalaman yang bermakna dalam
kehidupan.

Belajar

melalui

pengalaman-pengalaman

yang

biasa

dilakukannya. Pengalaman yang telah didapat bermanfaat dalam
kehidupan peserta didik sehari-hari. Melalui kebiasaan tersebut akan
memberikan pelajaran untuk lebih memanfaatkan lingkungan sesuai
dengan keinginan manusia. Kebiasaan tersebut dapat menghasilkan
pemikiran/riset dan membuat tujuan-tujuan yang baru. Potensi dasar dari
masing-masing individu akan terdorong dan berkembang ke arah
kemampuan baru. Hal tersebut selaras dengan prinsip pendekatan
kontekstual.
Kelima, Pendidikan adalah mempersiapkan atau mendapat kesiapan
untuk menjawab tugas atau tanggung jawab mendatang. Hendaknya dalam
proses pembelajaran memberi pengetahuan, keterampilan dan kemampuan
untuk bekal anak ketika dewasa. Hal ini sangatlah berguna agar anak kelak
mengetahui tanggung jawab dan hak-hak kehidupan dewasa. Melalui
pembelajaran ini, siswa menjadi tanggung jawab terhadap dunia mereka
dan sekitarnya. Karena pada dasarnya pendidikan mempersiapkan anak
dalam menghadapi tugas atau tanggung jawab di masa yang akan datang.
Hal tersebut selaras dengan hakikat pengertian pendekatan kontekstual.12
Pada era selanjutnya pendekatan kontekstual (Contextual Teaching
and Learning) dikembangkan oleh The Washington State Consortium for
Contextual Teaching and Learning, yang melibatkan 11 perguruan tinggi,
20 sekolah dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam dunia pendidikan
di Amerika Serikat.
Pada saat departemen pendidikan Amerika mendanai proyek yang
dinamai Recruiting New Teacher yang bertujuan membangun tenaga kerja
11

John Dewey, Democracy and Education, EBook #852, 2010,
(http://www.gutenberg.org/files/852/852-h/852-h.htm), diakses tanggal 28 Januari 2014
12
Ibid, h. 36

h.

1,

16

guru

untuk

sekolah-sekolah

perkotaan

(U.S

Departement

of

Education/DEO, n.d), kebanyakan sekolah Amerika terus mengikuti
praktik-praktik tradisional, dan akibatnya mengecewakan bagi kemajuan
para siswa. Kekurangan-kekurangan ini telah digambarkan dalam berbagai
laporan pemerintah selama lebih dari 15 tahun.

Berikut ini adalah

beberapa cuplikan laporan mengenai keterbatasan yang ditimbulkan oleh
pendidik tradisional di Amerika.13
a. Sekolah-sekolah Amerika tidak hanya mengecewakan bagi remajaremaja berusia antara 16 dan 18 tahun yang meninggalkan sekolah,
tetapi mereka juga merugikan orang-orang yang sudah 2 dan 4 tahun
kuliah di akademi dan perguruan tinggi. Sudah bukan rahasia lagi
bahwa sebagian besar mahasiswa tahun pertama di kampus tanpa
persiapan melakukan perkuliahan. Biasanya para mahasiswa ini dibatasi
oleh kosakata yang miskin sehingga mereka tidak mampu memahami
teks yang lebih rumit ataupun menemukan hal-hal yang agak
tersembunyi. Mereka sering melewatkan detail-detail penting dan
jarang memahami logika dari suatu pendapat tertulis. Karena mereka
sulit memahami bacaan, banyak mahasiswa tahun pertama yang
mengalami kesulitan menghadapi tugas membaca yang biasanya
diberikan di perkuliahan. Tak heran kebanyakan perguruan tinggi dan
universitas Amerika menawarkan kelas-kelas perbaikan bahasa Inggris.
Tak heran banyak mahasiswa yang drop out.
b. Para mahasiswa yang mengikuti program D-2 politeknik kerap kali
tampil lebih baik daripada mahasiswa tahun pertama perguruan tinggi
tradisional. Lagi pula, para mahasiswa politeknik belajar berbagai
keterampilan praktis yang membuat mereka lebih siap kerja. Karena
terlatih sebagai operator televisi, montir mobil, koki dan pekerja
konstruksi, mereka dapat memperoleh pekerjaan. Namun, mereka
menyelesaikan pendidikan kejuruan tanpa pengetahuan akademis yang
13

Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar
Mengajar Mengasyikan Dan Bermakna, (Terj. Ibnu Setiawan), (Bandung: Mizan Learning Center,
2007), h. 38-42

17

diharapkan oleh para pemberi kerja. Menjadi semakin jelas dapat
dibuktikan dari iklan-iklan lowongan pekerjaan dan deskripsi
pekerjaannya bahwa di dalam era tekhnologi yang cepat berubah ini,
para

pemberi

pekerjaan

menginginkan

para

pekerja

mampu

menghitung, membaca, mendengarkan dengan seksama, berbicara
dengan jelas, menulis dengan baik dan benar, bertanggung jawab,
membuat keputusan, memecahkan masalah, belajar sendiri dan bekerja
kelompok. Singkatnya, mereka mengharapkan para pekerja memiliki
keterampilan dan kompetensi dasar. Di samping situasi lain juga tidak
membantu. Biasanya para pengajar terlalu sibuk mengajar kelas-kelas
sepanjang hari hingga mereka tidak mempunyai waktu untuk mengenal,
atau berbicara kepada setiap siswa. Tambahan lagi karena di dalam
sistem tradisional kelas-kelas biasanya hanya berlangsung selama 45
sampai 50 menit, mereka tidak memberikan waktu untuk siswa
bertanya, berdiskusi, berpikir kritis, mencari tahu atau bahkan terlibat
dalam proyek kerja nyata dan pemecahan masalah. Waktu siswa hanya
dihabiskan untuk mengisi buku tugas, mendengarkan pengajar, dan
mengerjakan latihan-latihan yang membosankan. Akibatnya siswa
mengikut ujian bukan karena pemahaman siswa melainkan mengukur
kemampuan siswa menghafal fakta.
Menyadari bahwa sekolah kerap kali gagal maka desakan yang kuat
untuk reformasi yang mengusung pembelajaran baru terhadap pendidikan
yang kemudian dikenal sebagai CTL, CTL memiliki kemampuan untuk
memperbaiki beberapa kekurangan yang paling serius dalam pendidikan
tradisional. Desakan ini disuarakan pada tahun 1983 dalam sebuah
makalah, A Nation A Risk: The Imperative for Educational Reform
(Negara dalam Bahaya: Perlunya Dilakukan Reformasi Pendidikan).
Kemudian diselenggarakannya pertemuan tingkat tinggi mengenai
pendidikan pada tahun 1989 di Charlottesville, Virginia yang dihadiri oleh
para gubernur negara bagian dan presiden Amerika Serikat. Mereka yang
menghadiri pertemuan tersebut menginginkan sasaran-sasaran nasional

18

harus telah dicapai pada tahun 2000. Sasaran-sasaran yang harus dicapai
pada tahun 2000 itu antara lain seperti berikut:
a. Semua anak Amerika akan memulai sekolah dalam keadaan siap belajar
b. Tingkat kelulusan sekolah menengah ke atas akan meningkat hingga
setidaknya 90%
c. Siswa-siswa Amerika akan lulus dari kelas empat, delapan dan dua
belas setelah menunjukkan prestasi menonjol dalam pelajaran-pelajaran
yang

menantang

termasuk

bahasa

Inggris,

matematika,

ilmu

pengetahuan, sejarah dan geografi dan setiap sekolah di Amerika
dengan baik untuk mempersiapkan diri menjadi warga negara yang
bertanggung jawab

untuk

melanjutkan ke

jenjang pendidikan

selanjutnya dan agar bisa menjadi pekerja produktif dalam ekonomi
modern.
d. Semua orang dewasa Amerika akan bisa baca tulis dan akan memiliki
pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk bersaing dalam
ekonomi global dan menjalankan hak serta tanggung jawab
kewarganegaraan.
e. Semua sekolah di Amerika akan bebas narkoba dan bebas kekerasan
serta akan memberikan lingkungan penuh disiplin dan kondusif untuk
belajar.14

B. Konsep Pendidikan John Dewey
1. Biografi John Dewey
John Dewey dilahirkan di Burlington, Vermont pada tanggal 20
Oktober 1859 sebagai anak seorang pemilik toko. Seusai Dewey mendapat
diploma ujian kandidat di Universitas Vermont (1879) ia menjadi guru
selama 2 tahun. Tiga tahun kemudian ia menjadi mahasiswa lagi dan
mendapatk
an gelar doktor filsafat (Ph.D) di Universitas John Hopkins (1884).
Kemudian ia diangkat menjadi dosen, lalu asisten profesor dan kemudian
14

Elin Rosalin, op. cit., h. 20-22

19

profesor di Michigan. Kemudian dia pergi ke Universitas Chicago dan
mengajar di sana sebagai profesor filsafat (1894).15
Sebagai profesor filsafat di Chicago, ia juga memimpin bagian
pedagogik

dan

mendirikan

suatu

sekolah

untuk

menguji

dan

mempraktekan teorinya. Sekolah yang didirikan Dewey bukanlah suatu
sekolah model, melainkan sekolah percobaan yang digabungkan pada
universitasnya di Chicago.
Sekitar tahun 1904 sampai 1931 dia meninggalkan universitas
tersebut, lalu pergi ke Universitas Colombia di New York. Ketika
mengajar di Universitas Colombia, ia mempunyai banyak waktu luang
untuk melakukan penelitian dan melakukan perjalanan ke Eropa dan Asia.
Dia mengunjungi Cina dan Jepang, pertemuan tersebut sangatlah penting
terlebih

ketika

ia

di

Japan

memberikan

penyuluhan

mengenai

Reconstruction in philosophy (merekonstruksi filsafat). Pada tahun 1924
Dewey mengunjungi Turki, dimana ia membuat organisasi Turkish
Educational System. Dua tahun kemudian saat musim panas dia bergabung
dengan Universitas Mexico. Pada tahun 1928 dia mengunjungi Rusia dan
melakukan perbaikan sistem pendidikan disana. Dewey tinggal di New
York lebih dari 40 tahun sampai dia pensiun dari mengajar dalam tahun
1930. Dan akhirnya Dewey meninggal di kota ini pada tanggal 1 Juni
1952.16

2. Karya-karya John Dewey
Selama bergabung di Universitas Colombia ia aktif di bidang filsafat
dan melanjutkan. Di sini terciptalah buku-bukunya yang termasyhur.
Dalam bidang filsafat, buku John Dewey yang paling penting adalah
Experience and Nature, The Quest for Certainty, Logic, Essays in
Experimental Logic dan masih banyak yang lainnya. Dalam dunia

15
16

Hamdani Ali, Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: Kota Kembang, 2001), h. 149
Ibid., h. 150

20

pendidikan, School and Society, Democracy and Education keduanya
merupakan buku John Dewey yang dikatakan spesial.
Dewey mengenalkan filsafat sosialnya dengan karyanya yang terbaik
Character and Events, dan Freedom and Culture. Dia juga membahas
tentang filsafat politik melalui karyanya The Public and its Problems.
Dewey juga berkontribusi dalam bidang seni dan diungkapkannya dengan
karyanya Art as Experience. Dalam bidang agama ada karyanya yang
berjudul A common faith is most vital, namun jarang ditemui karya John
Dewey yang membahas agama.17

3. Pandangan Hidup (Falsafah) John Dewey
Sebelum memahami pendirian Dewey mengenai pendidikan dan
pengajaran, sebaiknya dibentangkan terlebih dahulu tentang dasar pokok
dari pandangan hidupnya. Karena menurut pendapat Dewey bahwa filsafat
serta pendidikan itu tidak dapat dipisahkan dan filsafat merupakan dasar
dari teori pendidikan. Pandangan hidup John Dewey meliputi beberapa
teori sebagai berikut:
a. Dasar pokok dari filsafatnya ialah teori evolusi dari Darwin, Dalam
tahun lahir Dewey (1859) diterbitkan buku Ch. R. Darwin (1809-1882)
On The Origin of Species by Means of Natural Selection tentang asal
mula jenis disebabkan seleksi alam. Dalam pokoknya teori evolusi itu
mengajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu proses, dimulai
dari tingkatan terendah dan selalu berkembang maju serta meningkat.18
Pandangan Darwin tentang manusia sebagai makhluk yang berubah
dan berkembang di tengah-tengah suatu lingkungan yang melindungi
dan sekaligus mengancam kehidupannya adalah sesuatu yang
menentukan

bagi

perkembangan
merupakan
17

dan

Dewey.

Makhluk

perjuangan,

unsur-unsur

campuran

hidup

kekhawatiran
dalam

dan

lingkungan,

dan

ketenangan

pemikirannya.

Inilah

Fredrick Mayer, A History of Modern Philosophy, (California: University of Redlands,
2000), h. 537
18
Soejono, op. cit., h. 127

21

konsepnya yang paling sentral yaitu memahami pengalaman dan
hubungannya

dengan

alam

tak

lain

dari

memahami

makna.

Menjelaskan teori John Dewey tentang pengalaman berarti mulai
memasuki konsepnya tentang manusia. Dewey menekankan bahwa
manusia pada dasarnya adalah organisme yang berkembang dalam
waktu, dan ciptaan yang kehidupannya dapat dilukiskan paling jelas
dalam hubungan masyarakat.19 Maka tiap orang sebagai unsur
masyarakat dan suatu mata rantai satu masa ke masa yang lain wajib
ikut bekerja untuk kemajuan masyarakatnya. Begitulah kemajuan
masyarakat itu hanya dapat dicapai dengan kerja dan kerjasama dalam
filsafat Dewey.
b. John Dewey pula penganut teori pragmatisme atau dapat disebut
dengan progressivisme. Teori ini secara garis besarnya mengatakan
bahwa ukuran untuk segala perbuatan memiliki manfaat dalam setiap
prakteknya dan hasil yang dapat memajukan hidup.20 Pandanganpandangan penganut pragmatisme dianggap sebagai “The Liberal Road
to Culture”. Liberal dimaksudkan sebagai fleksibel, berani, toleran dan
bersikap terbuka. Penganut pragmatisme tidak hanya memegang sikap
tersebut melainkan juga bersifat penjelajah, peneliti secara continue
demi

pengembangan

pengalaman.

Progressivisme

menganggap

pendidikan sebagai cultural transition. Progressivisme percaya bahwa
pendidikan dapat menolong manusia dalam menghadapi priode transisi
antara zaman tradisional yang segera berakhir, untuk siap memasuki
zaman modern yang segera kita masuki.
Dewey berkata, filsafat klasik menggambarkan bahwa dalam alam
terdapat tata tertib feodalisme keluarga, kekeluargaan. Kata hukum
“alam” menunjukan asal sosial dari kategori-kategori filsafat tersebut.
Tiap masyarakat membentuk diri dengan gambarannya sendiri. Oleh
karena itu, ilmu pendidikan John Dewey lebih condong untuk
19
20

John Smith, loc. cit.
Soejono, op. cit., h. 127

22

membentuk

manusia

yang

dapat

mengabdi

“pertumbuhan adalah satu-satunya tujuan dari moral.

pada

masyarakat.

21

Ciri utama dari progressivisme yakni mempercayai manusia
sebagai subjek yang memiliki kemampuan untuk menghadapi dunia dan
lingkungan hidupnya yang multikompleks dengan kemampuan dan
kekuatan sendiri. Dan dengan kemampuan itu manusia dapat
memecahkan semua problemanya secara inteligen, dengan inteligensi
aktif. Dan dalam makna ini, maka arti liberalisme di atas berarti
menghormati martabat manusia, menghormati harga diri manusia
sebagai subjek di dalam hidupnya. Dalam arti demokrasi, pandanganpandangan progressivisme merupakan cara berpikir liberal yang
memberi kemungkinan dan pra syarat bagi perkembangan tiap pribadi
manusia sebagaimana potensi yang ada padanya.22
c. Dalam hal kejiwaan ia menganut teori behaviorisme (teori hal tingkah
laku). Beberapa pengertian pokok mengenai behaviorisme diantaranya:
1) Kehidupan jiwa digerakkan dari luar, tidak dari dalam.
2) Tiap perbuatan atau tingkah laku manusia adalah reaksi atas
perangsang (stimulus) dari luar. Stimulus-respons merupakan
perangsang langsung yang menimbulkan reaksi.
3) Perbuatan manusia selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan
hidupnya. Lingkungan hidup ini terus menerus merupakan
perangsang, dan perangsang dapat dilihat melaui kebiasaan.
Begitulah perbuatan manusia merupakan deretan kebiasaan. Manusia
adalah makhluk refleks atau makhluk kebiasaan.
Alam sekitar atau lingkungan hidup kita selalu mengandung bahaya
dan menimbulkan berbagai kesulitan yang menghambat kemajuan, jika
kita tidak dapat mengatasinya bahaya itu akan selalu ada dan bergantiganti sifatnya sesuai dengan masyarakat yang selalu berubah pula.
Zaman dahulu banjir dan binatang buas, lalu sekarang lalu lintas,
21

Rosjidi, Mencari Agama pada Abad XX Wasiat Filsafat, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1986),
h. 121
22
Muhammad Noor Syam, op. cit., h. 227

23

perang total, udara dan air kotor, kepadatan penduduk dan sebagainya
yang dapat membahayakan kehidupan manusia. Kita wajib bertindak
guna mengatasi kesulitan dari luar dengan kerja badan atau rohani,
terutama pikir. Kita harus berfikir dan bekerja, karena berpikir tidak
lain adalah reaksi atau perangsang dari luar, yaitu kesulitan. Dengan ini
jelaslah bahwa dasar ilmu kejiwaan dari John Dewey itu behaviorisme.
Ternyata bahwa berbuat atau bekerja itu termasuk proses dalam
evolusi. Dan barang siapa tidak dapat mengatasi kesulitan atau berbuat
yang tidak bermanfaat guna menyesuaikan diri dengan alamnya, jadi
kalah dalam perjuangan untuk hidup (The Struggle for Live) dan akan
tenggelam atau lenyap dari masyarakat. Ia terseleksi oleh alam dan
disingkirkan. Tinggallah yang kuat, artinya yang dapat bertahan
menyesuaikan diri dengan alamnya atau lingkungan hidup maupun
ekologinya (The Survival of The Fittest).23

4. Konsep Pendidikan John Dewey
Menurut Dewey tidak diutamakan pendidikan kecerdasan, tetapi
pendidikan sosial dan kesusilaan. Kecerdasan penting tetapi bukanlah hal
yang utama, tetapi pendidikan kemasyarakatan dan kesusilaan. Pendidikan
kemasyarakatan dan pendidikan kesusilaan menurut Dewey amat erat
kaitannya. Dan untuk mencapai pendidikan kemasyarakatan dan
pendidikan kesusilaan, John Dewey menginginkan pendidikan untuk anak
berdasarkan atas 2 segi yaitu psikologi dan sosiologi.
a. Dasar Psikologi. Cara memberi pengajaran wajib disesuaikan dengan
tingkatan perkembangan, cara berfikir dan cara bekerja anak.
Penentuan bahan pengajaran wajib disesuaikan dengan perhatian dan
keperluan anak, sebagai akibat dari instingnya. Maka segala sesuatu

23

Soejono, op. cit,. h. 128

24

wajib disesuaikan dengan insting anak.24 Dewey mengenal 4 macam
insting, yaitu:
1) Insting sosial. Insting sosial yang dimaksud oleh Dewey ialah
keinginan anak mengadakan hubungan dengan orang di sekitarnya.
Insting sosial sebagai proses pertumbuhan dan proses dimana anak
didik dapat mengambil kejadian-kejadian dari pengalaman
lingkungan sekitarnya. Kita amati ketika anak bermain bersama
dengan temannya jika tidak ada teman, anak akan sulit bermain.
Alat permainan saja belum cukup untuk anak, ia masih
memerlukan

temannya

untuk

bermain

bersama.

Ada

alat

penghubung sosial yang dipergunakan dalam pergaulan, yaitu
bahasa. Bahasa tidak hanya menjadi alat penghubung dalam
pergaulan anak, tetapi juga untuk generasi yang lampau 25
Anak adalah organisme yang mengalami satu proses
pengalaman,
lingkungannya

sebab

ia

dengan

merupakan

bagian

peristiwa-peristiwa,

integral

antar

dari

hubungan,

perasaan pikiran dan benda-benda. Anak dalam lingkungannya
selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Sehingga anak
membutuhkan proses pendidikan untuk latihan dan penyempurnaan
inteligensi. Sekolah merupakan lembaga pe

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

94 2594 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 673 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 570 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 369 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 502 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

42 845 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 749 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 474 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 695 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

29 827 23