Analisis Risiko Produksi Tanaman Hias Adenium di Perusahaan Anisa Adenium, Bekasi Timur Provinsi Jawa Barat.

(1)

1

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris yang menghasilkan berbagai macam komoditi pertanian terutama dalam sektor agribisnis. Perkembangan dunia agribisnis yang dijadikan andalan dalam pergerakan perekonomian Indonesia akan semakin baik dan menarik sejalan dengan berkembangnya animo masyarakat terhadap kegiatan agribisnis secara luas. Salah satu produk subsektor agribisnis yang cukup menjanjikan adalah hortikultura. Hortikultura memegang peranan penting dalam sumber pendapatan petani, perdagangan maupun penyerapan tenaga kerja. Dengan adanya potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang besar, sektor pertanian sangat tepat dijadikan sebagai sektor andalan dalam membangun perekonomian nasional.

Besarnya kontribusi subsektor hortikutura terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dapat dilihat pada Tabel 1. Dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009, nilai kontribusi subsektor hortikultura terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional terus mengalami peningkatan pada tahun 2008 nilainya sebesar 84.203 milyar, lebih tinggi 9 persen dari tahun 2007 dan pada tahun 2009 nilai kontribusi subsektor hortikultura menjadi 88.334 milyar atau meningkat 5 persen dari tahun 2008. Jika dilihat dari laju pertumbuhan share pada Produk Domestik Bruto (PDB) hortikultura, subsektor tanaman hias bernilai postif yang berarti terjadi peningkatan pada komoditi tersebut sebesar 0,87 %/tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa subsektor hortikultura merupakan subsektor yang mempunyai prospek baik dimasa mendatang sehingga dapat diandalkan untuk memajukan perekonomian Indonesia.

Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa komoditas hortikultura yang mengalami peningkatan cukup tajam adalah komoditas tanaman hias atau florikultura. Florikultura merupakan salah satu subsektor yang memiliki potensi sebagai pusat pertumbuhan baru sektor pertanian. Selain itu florikultura di Indonesia menjadi salah satu industri yang sedang dikembangkan dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani, memperluas lapangan pekerjaan, pariwisata serta menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman.


(2)

2

Tabel 1. Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku pada Tahun 2007- 2009

Komoditas

PDB 2007 PDB 2008 PDB 2009 Laju

Pertumbuhan Share (%/tahun)

Nilai

(Milyar Rp) %

Nilai

(Milyar Rp) %

Nilai

(Milyar Rp) %

Sayuran 25.587 33,31 28.205 33,50 30.506 34,53 1,82

Buah-buahan 42.362 55,16 47.060 55,89 48.437 54,84 -0,28

Tanaman hias 4.741 6,17 5.085 6,04 5.494 6,22 0,87

Biofarmaka 4.105 5,36 3.853 4,57 3.897 4,41 -9,12

Total 76.795 100 84.203 100 88.334 100 -6,71

Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura (2010)1 (diolah)

Peluang pasar komoditas hortikultura cukup besar baik peluang pasar domestik maupun ekspor. Untuk pasar domestik Indonesia masih belum mampu memenuhi kebutuhan domestik dan bersaing dengan komoditas impor. Negara tujuan ekspor komoditas Indonesia antara lain Amerika Serikat, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, China, Jepang, Spanyol dan Taiwan. Adanya upaya untuk meningkatkan daya saing produk hortikultura merupakan solusi agar komoditas hortikultura Indonesia dapat bersaing dan lebih unggul dibandingkan komoditas impor serta bisa bersaing di pasar internasional. Langkah-langkah yang dapat ditempuh antara lain dengan menerapkan Good Agricultural Practices

(GPA) yaitu penanganan yang baik mulai pada on farm, panen, pasca panen dan pemasaran, penataan rantai pasok, meningkatkan kemitraan usaha dan peningkatan investasi di bidang hortikultura. Selain itu produk hortikultura dalam negeri harus diarahkan untuk menjadi produk yang mampu mensubstitusi impor. Hal tersebut dapat dicapai dengan upaya promosi peningkatan kesadaran mengkonsumsi produk hortikultura dalam negeri.

Tabel 2. Perkembangan Ekspor Hortikultura Tahun 2007-2009

Komoditas 2007 2008 2009

Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Sayuran 209.347.875 137.106.305 175.936.396 171.469.227 197.801.924 184.247.314 Buah-buahan 157.620.956 93.652.526 323.888.910 234.867.444 211.492.222 161.923.203 Tanaman Hias 15.875.683 12.573.931 4.573.264 10.366.228 5.195.438 9.820.983 Biofarmaka 7.684.734 6.364.773 14.670.214 9.448.130 13.088.448 11.784.703 Total 390.529.248 249.697.535 519.068.784 426.151.029 427.578.032 367.776.203

Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura (2011) (diolah)

1


(3)

3 Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa secara umum terjadi peningkatan volume dan nilai ekspor dari tahun 2007 sampai 2008, namun pada tahun 2009 volume dan nilai ekspor mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2008. Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa volume dan nilai ekspor komoditas tanaman hias mengalami fluktuasi. Volume ekspor mengalami penurunan sebesar 71 persen pada tahun 2008, sedangkan pada tahun 2009 mengalami peningkatan 14 persen dibandingkan tahun 2008. Sedangkan nilai ekspor pada tahun 2008 mengalami penurunan sebesar 18 pesen dan tahun 2009 mengalami penurunan 5 persen. Penurunan volume dan nilai ekspor hortikultura ini disebabkan adanya tren tanaman hias yang tidak stabil, sehingga mempengaruhi jumlah produksi dan kualitas tanaman hias yang dihasilkan.

Menurut Saragih (2001), Agribisnis florikultura adalah keseluruhan kegiatan bisnis yang terkait dengan bunga-bungaan dan terdapat tiga alasan yang mendukung perkembangan florikultura di Indonesia yaitu : (1) Potensi keragaman jenis tanaman hias yang mempunyai nilai ekonomi tinggi (2) Potensi keragaman jenis tanaman hias baik domestik maupun ekspor, dan (3) Potensi ketersediaan lahan bagi pengembangan tanaman hias di Indonesia yang masih cukup luas.

Tanaman hias merupakan salah satu komoditas agribisnis yang cukup digemari di Indonesia. Selain mudah ditanam di areal sekitar, beberapa tanaman hias memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Tanaman hias dapat dibagi sesuai daya tariknya dan penempatan atau pemanfaatannya. Berdasarkan daya tariknya, tanaman hias dikelompokkan menjadi tanaman hias bunga dan tanaman hias daun. Sedangkan dari segi penempatan atau pemanfaatannya, dikelompokkan menjadi tanaman hias pot, tanaman hias taman, dan tanaman hias bunga potong. Saat ini perkembangan komoditas tanaman hias sangat pesat, dari mulai pinggir jalan sampai perusahaan besar. Hal ini sebagai dampak dari kesadaran masyarakat akan keindahan lingkungan, baik diluar maupun di dalam ruangan. Disamping itu, penjualan tanaman hias sangat menjanjikan keuntungan yang cukup besar (Tamam dan Soedjatmiko. 2006).

Keberadaan tanaman hias mulai menjadi daya tarik masyarakat untuk mengembangkan industri florikultura dalam negeri. Adanya fluktuasi volume ekspor menunjukkan adanya peluang usaha yang menjanjikan untuk


(4)

4 mengembangkan usaha tanaman hias. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3 yang menunjukan perkembangan luas panen, produksi dan produktivitas komoditas hortikultura di Indonesia.

Tabel 3. Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Komoditas Hortikultura di Indonesia Tahun 2007-2009

Komoditas Luas Panen

(ribu Ha)

Produksi (juta ton)

Produktivitas (juta ton/ ribu Ha)

2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009

Sayuran 1.001,61 1.026,99 1.078,16 9,46 10,04 10,63 0,009 0,009 0,009

Buah-buahan 756,77 781,33 834,34 17,12 18,65 18,65 0,023 0,024 0,022

Tanaman Hias 0,92 1,09 1,39 179,37 263,53 263,53 194,967 241,771 189,589

Biofarmaka 24,41 22,66 20,38 0,44 0,40 0,40 0,018 0,018 0,019

Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2010) (diolah)

Tabel 3 menjelaskan bahwa terjadi peningkatan luas panen, produksi dan produktivitas komoditas hortikultura di Indonesia tahun 2007-2009. Komoditas hortikultura yang mengalami perkembangan adalah tanaman hias. Pada tahun 2008 tanaman hias mengalami perkembangan produksi sebesar 84,16 juta ton dibandingkan tahun 2007. Jika dilihat dari segi luas panen tanaman hias mengalami peningkatan dari tahun 2007-2009 sebesar 0,47 ribu ha. Adanya peningkatan produksi dan luas panen menunjukkan bahwa tanaman hias memegang peranan penting dalam subsektor hortikultura pada khususnya dan sektor pertanian pada umumnya.

Usaha budidaya tanaman hias dilakukan oleh pelaku usaha berskala kecil, menengah dan besar dengan segmentasi pasar yang berbeda. Pelaku usaha kecil dan menengah umumnya berorientasi memenuhi segmen pasar domestik sedangkan pelaku usaha berskala besar membidik segmen pasar yang lebih besar yaitu pasar internasional. Adanya perbedaan segmen dan orientasi pasar diantara ketiga pelaku usaha tersebut tidak terlepas dari kemampuan menghasilkan produk dengan kualitas sesuai dengan persyaratan dan standar dari pasar yang dimasuki. Pasar internasional menerapkan standar mutu yang lebih tinggi dengan imbalan insentif harga yang lebih tinggi dibandingkan pasar domestik. Oleh karena itu, pelaku usaha berskala besar biasanya mengadopsi teknologi modern sesuai dengan kemampuan modalnya agar bisa memenuhi standar mutu yang ditetapkan. Sementara pelaku usaha kecil yang umumnya memiliki keterbatasan modal hanya


(5)

5 menerapkan teknologi sederhana dalam usaha produksinya. Tabel 4 memperlihatkan produksi tanaman hias di Indonesia selama tahun 2006-2010.

Tabel 4. Produksi Tanaman Hias di Indonesia Periode 2006-2010 Komoditas

Produksi (Tangkai) Laju

Produksi (%/tahun)

2006 2007 2008 2009 2010

Mawar 40.394.027 59.492.699 39.131.603 60.191.362 82.643.413 10,558

Krisan 63.716.256 66.979.260 99.158.942 107.847.072 120485784 13,968

Anggrek 10.903.444 9.484.393 15.430.040 16.205.949 16.897.801 8,113

Kuping Gajah 2.017.535 2.198.990 2.764.552 3.833.100 8.673.602 28,100

Anyelir 1.781.046 1.901.509 2.995.153 5.320.824 7.807.153 29,603

Gerbera 4.874.098 4.931.441 4.103.560 5.185.586 9.863.849 12,323

Gladiol 11.195.483 11.271.385 8.524.252 9.775.500 8.156.961 -9,648

Pisang-pisangan 1.390.117 1.427.048 5.187.631 4.124.174 3.208.367 5,188

Sedap Malam 30.373.679 21.687.493 25.180.043 51.047.807 59.340.715 9,618

Dracaena 1) 905.039 2.041.962 1.845.490 2.262.505 4.894.563 34,630

Melati 2) 24.795.996 15.775.751 20.357.698 28.307.326 21.977.417 -8,848

Palem 3) 986.340 1.171.768 1.094.096 1.260.408 1.182.244 3,828

Adenium 3) - - 3.129.259 3.471.605 3.396.235 7,642

Keterangan: 1) Satuan dalam batang

2)

Satuan dalam kg

3)

Satuan dalam pohon

Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2011)2

Dari Tabel 4 dapat dilihat produksi berbagai tanaman hias memperlihatkan tren yang berbeda dari tahun 2006 sampai tahun 2010. Perkembangan produksi berbagai tanaman di daerah Indonesia tidak konsisten dari waktu ke waktu, kadang cenderung mengalami peningkatan dan kadangkala mengalami penurunan atau kontraksi produksi. Naik turunnya produksi tanaman hias tersebut menunjukkan usaha tanaman hias mempunyai risiko dalam pengusahaannya. Salah satu penyebab adanya variasi produksi berbagai tanaman hias disebabkan perbedaan teknologi yang diadopsi dan digunakan dalam proses produksi serta faktor eksternal seperti kondisi lingkungan.

Dari uraian di atas diketahui bahwa dalam usaha tanaman hias terdapat risiko produksi. Sumber risiko teknis adalah kondisi cuaca yang tidak pasti, serangan hama penyakit, dan efisiensi penggunaan input. Risiko tersebut sangat mempengaruhi pendapatan perusahaan, sehingga perlu dilakukan strategi untuk mengelola risiko yang tersebut. Oleh karena itu, penelitian mengenai risiko

2

http://www.hortikultura.go.id Data Statistik Produksi Tanaman Hias di Indonesia Periode 2006-2010 [10 Agustus 2011]


(6)

6 tanaman hias sangat perlu dilakukan agar dapat menekan risiko produksi yang ada dalam usaha tanaman hias tersebut.

Tanaman hias adenium merupakan tanaman hias yang cukup diminati di Indonesia, karena adenium memiliki bunga yang indah dengan aneka macam warna dan juga memiliki bonggol yang menarik. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 5 yang menunjukkan perkembangan luas panen, produksi dan produktivitas Adenium di Indonesia Tahun 2008-2010.

Tabel 5. Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Adenium di Indonesia Tahun 2008-2010

Tahun Luas Panen

(M2)

Produksi (Pohon)

Produktivitas (Pohon/ M2)

2008 877.269 3.129.259 3,62

2009 1.074.696 3.471.605 7,93

2010*) 476.536 3.396.235 5,53

Keterangan: *) Angka sementara (Januari-Juni 2010) Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2011) (diolah)

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan luas panen dan produksi adenium yang cukup signifikasikan dari tahun 2008-2010. Pada tahun 2009 terjadi peningkatan sebesar 197.427 M2 dari tahun 2008, hal yang sama juga terlihat pada produksi adenium pada tahun 2009 mengalami peningkatan sebesar 342.346 pohon dari tahun 2008. Hal ini mengindikasikan bahwa adenium mempunyai peluang yang besar untuk dikembangkan.

Salah satu sentra tanaman hias di Indonesia adalah Provinsi Jawa Barat. Hal ini mengindikasikan bahwa pengembangan agribisnis tanaman hias di Jawa Barat memiliki potensi yang besar. Daerah sentra tanaman hias di Jawa Barat dapat dilihat pada Tabel 6.

Karawang dan Bekasi merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang menjadi sentra tanaman hias. Berdasarkan Tabel 6, dapat diketahui bahwa daerah Karawang dan Bekasi merupakan salah satu sentra tanaman hias khususnya untuk jenis cemara, palem, melati, zingiberaceae, adenium, anggrek, aglonema dan dracaena. Hal ini didukung oleh tersedianya lahan, sumberdaya serta kondisi iklim kota Karawang dan Bekasi yang sesuai untuk memproduksi tanaman hias.


(7)

7

Tabel 6.Sentra Tanaman Hias di Provinsi Jawa Barat

No Kota Jenis Tanaman

1 Kab. Bandung Mawar, Anggrek, Kaktus, Krisan, Gladiol, Anthurium, Palem, Bougenville, Heliconia, Gerbera

2 Cianjur Mawar, Sedap Malam, Kaktus, Anggrek, Krisan,

Gladiol, Gerbera, Draceaena, Zingiberaceae, Aspharagus 3 Sukabumi Mawar, Melati, Sedap Malam, Kaktus, Krisan, Gladiol,

Gerbera, Draceaena, Holiconia, Cycas, Pakis

4 Bogor Mawar, Melati, Anggrek, Krisan, Holiconia,

Zingiberaceae, Adenium, Ficus, Aglaonema, Euphorbia, Pakis

5 Karawang dan Bekasi Cemara, Palem, Melati, Zingiberaceae, Adenium, Anggrek, Aglaonema, Draceaena

6 Garut Anggrek, Palem, Melati, kaktus, Krisan, Gladiol,

Antthurium, Draceaena, Cordeline

7 Kota Bandung Palem, cemara, Bougenville, Ficus, Anthurium

8 Depok Anggrek, Bougenville, Cemara, Palem, Draceaena,

Cordeline, Aglaonema, Adenium, Anthurium

Sumber : Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat 3 (2010)

Tanaman hias yang cukup digemari masyarakat saat ini adalah tanaman hias adenium. Adenium merupakan tanaman hias yang selalu menjadi incaran para hobiis karena keindahan bunga dan keunikan bonggolnya, hal ini dapat dilihat pada Tabel 7. Dalam kurun beberapa tahun terakhir, tanaman hias adenium cukup diminati dikalangan masyarakat, walaupun banyak tanaman-tanaman hias baru yang muncul di pasaran. Berdasarkan Tabel 7, dapat dilihat bahwa pulau Jawa merupakan daerah yang sangat potensial untuk tanaman hias adenium, hal ini terlihat dari luas panen dan produksi tanaman hias adenium yang meningkat setiap tahunnya. Untuk itu penelitian tentang tanaman hias adenium cocok dilakukan di pulau Jawa karena kondisi cuaca dan iklim serta lingkungan yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman hias, salah satunya daerah Jawa Barat yang memiliki kondisi tanah yang subur dan cuaca yang cocok untuk berbagai tanaman hias khususnya tanaman hias adenium.

Perusahaan Anisa Adenium terletak di Bekasi Timur, Jawa Barat. Perusahaan Anisa Adenium merupakan salah satu perusahaan yang fokus memproduksi tanaman hias adenium, dan pada saat terjadi penurunan tren adenium pada tahun 2008, perusahaan ini tetap bertahan sampai saat ini. Dimana

3


(8)

8 perusahaan Anisa Adenium selalu memperhatikan perkembangan dari tanaman hias adenium.

Tabel 7. Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Hias Adenium di Berbagai Provinsi Tahun 2008-2010

Keterangan: *) Angka sementara (Januari-Juni 2010) Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2011) (diolah)

Perusahaan Anisa Adenium juga merupakan perusahaan yang cukup maju, dimana perusahaan ini bermitra dengan produsen tanaman hias adenium yang ada di Thailand dalam hal pengadaan benih, batang atas dan juga informasi-informasi terbaru tentang tanaman hias adenium. Perusahaan Anisa Adenium melakukan penjualan sebagaian besar secara online, sehingga mempermudah konsumen untuk memperoleh tanaman hias adenium yang di tawarkan, dan juga penjualan dapat menjangkau seluruh wilayah yang ada di Indonesia. Untuk itu, penelitian tentang risiko produksi tanaman hias adenium cocok dilakukan di perusahaan Anisa Adenium.

1.2. Perumusan Masalah

Permintaan tanaman hias adenium varietas Arabicum, Obesum dan

Taisoco tahun 2008-2010 mengalami peningkatan, sehingga produsen adenium tetap mempertahankan untuk memproduksi tanaman hias adenium. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 8, dimana perusahaan Anisa Adenium tetap memproduksi tanaman hias adenium untuk memenuhi permintaan pasar. Jika dilihat dari laju permintaan tanaman hias adenium varietas Arabicum, Obesum dan Taisoco, permintaan ketiga varietas adenium bernilai positif yang berarti terjadi peningkatan permintaan setiap tahunnya. Hal ini mengindikasikan bahwa tanaman hias adenium merupakan komoditi yang mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan.

Pulau

Luas Panen (M2)

Produksi (Pohon)

Produktivitas (Pohon/M2)

2008 2009 2010*) 2008 2009 2010*) 2008 2009 2010*) Sumatera 476.968 399.681 48.093 849.746 921.006 383.925 2,02 2,18 5,29 Jawa 370.559 645.455 402.911 1.957.301 2.096.349 2.657.360 4,20 2,54 5,30 Bali dan Nusa Tenggara 15.938 16.354 9.872 158.077 138.299 40.010 3,70 6,72 3,59 Kalimantan 8.427 4.873 6.363 89.847 127.654 240.929 6,95 10,52 16,27 Sulawesi 5.267 8.073 92.870 74.033 185.477 1.715.142 3,12 11,36 17,50 Maluku dan Papua 110 260 2.093 255 2.820 8.162 1,70 10,85 2,78


(9)

9

Tabel 8. Permintaan Tanaman Hias Adenium pada Perusahaan Anisa Adenium Tahun 2008-2010

Varietas Adenium Permintaan (Pot) Laju Permintaan

(%/tahun)

2008 2009 2010

Arabicum 1567 1680 1782 12,45

Obesum 4680 5440 5540 15,78

Taisoco 756 867 819 6,94

Sumber : Perusahaan Anisa Adenium (2011)

Perusahaan Anisa Adenium merupakan salah satu usaha yang fokus dalam budidaya adenium yang berlokasi di Bekasi Timur. Pada awalnya Perusahaan Anisa Adenium mendirikan usaha tanaman hias dengan mengusahakan satu jenis tanaman hias adenium yaitu Adenium varietas Arabicum. Sejak tahun 2006 perusahaan Anisa Adenium mulai melakukan pengembangan usaha dengan melakukan diversifikasi untuk merespon permintaan pasar. Diversifikasi yang dilakukan oleh perusahaan Anisa Adenium adalah mengusahakan tanaman hias adenium varietas Obesum dan Taisoco. Diversifikasi ini dilakukan untuk memenuhi permintaan pasar dan juga untuk menekan risiko yang dialami saat memproduksi tanaman hias adenium.

Produksi/budidaya tanaman hias tidak selalu berhasil dan menguntungkan. Hal ini dikarenakan setiap kegiatan usaha pasti mempunyai risiko bisnis yang berbeda dalam kegiatan produksinya. Risiko produksi tanaman hias umumnya dapat disebabkan oleh perubahan iklim, cuaca, kelembaban, serangan hama dan penyakit serta sumberdaya manusia yang kurang terampil pada saat proses perbanyakan tanaman. Risiko produksi ini dapat dilihat dari persentase keberhasilan produksi tanaman hias yang dihasilkan. Tanaman hias adenium varietas Arabicum dan Taisoco dikatakan berhasil dalam produksinya yaitu jika tanaman sudah berumur tiga bulan. Kriteria dari tanaman adenium yang berhasil untuk varietas Arabicum dan Taisoco adalah :

1. Bonggol berdiameter minimal 5 cm permukaan bonggol bebas jamur, warna bonggol tidak kusam, biasanya warna bonggol yang baik adalah kuning bersih atau hijau.

2. Batang mempunyai ukuran diameter minimum 2 cm, diameter yang besar menandakan pertumbuhan adenium baik dan subur, panjang batang minimum 10 cm, dan tidak berjamur.


(10)

10 3. Jumlah daun minimal 15 helai, berwarna hijau segar, tidak kusam, tidak ada

bercak goresan, bekas telur hama atau bekas sarang serangga lainnya.

Sedangkan untuk tanaman hias adenium varietas Obesum dikatakan berhasil jika tanaman yang disambung dibuka dari sungkupnya setelah 7-8 hari, tanaman sudah mengeluarkan tunas daun baru dari batang yang telah disambung, warna tunas hijau segar. Bonggol dan batang tidak kusam, dan tidak banyak bekas luka sayatan dan tanaman dalam keadaan sehat.

Namun hasil produksi adenium varietas Arabicum, Obesum, dan Taisoco

tersebut tidak sesuai dengan kriteria yang diharapkan oleh perusahaan, sehingga mempengaruhi pendapatan perusahaan. Berdasarkan Lampiran 1, persentase keberhasilan tanaman hias adenium di perusahaan Anisa Adenium mengalami fluktuasi keberhasilan produksi yaitu berkisar antara 55-85 persen. Persentase keberhasilan produksi diperoleh dari hasil perhitungan pertumbuhan tanaman yang sesuai dengan kriteria yang ditentukan perusahaan. Perhitungan keberhasilan tanaman tersebut diperoleh dari jumlah produksi tanaman yang telah berhasil dan memenuhi kriteria yang telah ditentukan, dibagi dengan jumlah tanaman yang diproduksi pada setiap periode, hasil dari pembagian tersebut diakumulasi dalam bentuk persentase. Dengan adanya fluktuasi keberhasilan produksi tersebut mengindikasikan bahwa terdapat risiko produksi dalam memproduksi tanaman hias adenium varietas Arabicum, Obesum, dan Taisoco. Persentase keberhasilan produksi adenium di Perusahaan Anisa Adenium dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Persentase Keberhasilan Produksi Adenium di Perusahaan Anisa Adenium Tahun 2009-2010


(11)

11 Kegiatan produksi tanaman hias di perusahaan Anisa Adenium berlangsung setiap tiga bulan sekali. Oleh karena itu, dalam setahun perusahaan Anisa Adenium memproduksi empat kali tanaman hias adenium. Fluktuasi produksi merupakan salah satu indikasi adanya risiko produksi dalam tanaman hias adenium. Berdasarkan gambar di atas, dapat dilihat bahwa persentase keberhasilan produksi adenium di perusahaan Anisa Adenium berfluktuasi. Fluktuasi ini dikarenakan adanya tingkat keberhasilan yang berbeda-beda dalam proses produksinya.

Risiko produksi dapat mengakibatkan kerugian bagi perusahaan. Kerugian akibat risiko produksi yang dialami adalah jumlah produksi rendah dan kualitas hasil panen yang menurun. Oleh karena itu, diperlukan usaha untuk dapat meminimalkan risiko yang dapat mengganggu proses produksi, salah satunya dengan melakukan diversifikasi. Secara teoritis diversifikasi merupakan strategi untuk menekan risiko dengan cara mengusahakan beberapa aktivitas usaha atau asset (Harwood et al. 1999). Saat ini Perusahan Anisa Adenium melakukan usaha diversifikasi, yaitu dengan mengusahakan berbagai jenis varietas adenium seperti

Taisoco, Arabicum dan Obesum. Hal ini menjadi bahan kajian dan penelitian mengenai manajemen risiko perusahaan dalam mengendalikan sumber-sumber yang menyebabkan risiko untuk dapat meminimalkan risiko yang akan terjadi.

Berdasarkan perumusan diatas, dapat disimpulkan permasalahan yang akan di bahas dalam penelitian, yaitu :

1. Apa saja yang menjadi sumber-sumber risiko yang dihadapi Perusahaan Anisa Adenium dalam memproduksi adenium?

2. Apakah diversifikasi yang dilakukan perusahaan Anisa Adenium dapat meminimumkan risiko produksi?

1.3. Tujuan

Berdasarkan perumusan masalah, maka tujuan umum yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Mengidentifikasi sumber-sumber risiko yang dihadapi perusahaan Anisa Adenium dalam memproduksi adenium.


(12)

12 2. Menganalisis usaha diversifikasi yang dilakukan perusahaan Anisa Adenium

dalam upaya menurunkan risiko.

3. Menganalisis strategi yang dilakukan untuk mengatasi risiko produksi di perusahaan Anisa Adenium.

1.4. Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak berikut ini :

1. Bagi perusahaan, penelitian ini diharapkan berguna sebagai sumber informasi dan bahan pertimbangan bagi Perusahaan Anisa Adenium dalam pengelolaan dan penanganan risiko usaha tanaman hias adenium.

2. Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya atau kegiatan lain yang bersangkutan.

3. Bagi penulis, penelitian ini merupakan media untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.

1.5. Ruang Lingkup

1. Produk yang dikaji dan diteliti pada penelitian ini adalah tanaman hias adenium varietas Arabicum, Obesum dan Taisoco yang diusahakan oleh Perusahaan Anisa Adenium.

2. Data yang digunakan merupakan data produksi selama kurun waktu tahun 2009 sampai 2010.

3.

Lingkup kajian masalah yang diteliti adalah mengenai analisis sumber-sumber risiko dikaitkan dengan diversifikasi yang diterapkan oleh perusahaan Anisa Adenium dan strategi penanganan risiko yang dilakukan untuk menekan risiko pada usaha tanaman hias adenium varietas Arabicum, Obesum dan Taisoco.


(13)

13

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sumber-sumber Risiko

Risiko dapat dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan, atau tidak terduga. Risiko dapat terjadi pada pelayanan, kinerja, dan reputasi dari institusi yang bersangkutan. Risiko yang terjadi dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain kejadian alam, operasional, manusia, politik, teknologi, pegawai, keuangan, hukum, dan manajemen dari organisasi. Risiko dari sebuah aktifitas yang sedang berlangsung sebagian bergantung pada siapa yang mengerjakan atau siapa yang mengelola aktifitas tersebut.4

Sumber-sumber penyebab risiko pada usaha produksi pertanian sebagian besar disebabkan faktor-faktor teknis seperti perubahan suhu, hama dan penyakit, penggunaan input serta kesalahan teknis (human error) dari tenaga kerja. Sumber-sumber risiko tersebut merupakan Sumber-sumber risiko teknis (produksi). Dilihat dari segi non-teknis sumber-sumber risiko pada usaha pertanian digolongkan pada risiko pasar yang mencakup fluktuasi harga input dan output.

Ditinjau dari usaha dibidang pertanian sebagian besar sumber risiko adalah kondisi iklim dan serangan hama dan penyakit. Hasil penelitian Safitri (2009) tentang analisis risiko produksi daun potong di PT. Pesona Daun Mas Asri, ciawi kabupaten Bogor, Jawa Barat menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi produksi daun potong adalah iklim atau cuaca, tingkat kesuburan lahan serta serangan hama. Faktor-faktor ini menimbulkan ketidakpastian terhadap keuntungan yang akan didapat akibat adanya fluktuasi produksi dalam usaha produksi daun potong.

Demikian juga hasil penelitian Wisdya (2009) yang menemukan bahwa sumber-sumber risiko produksi anggrek Phalaenopsis pada PT Ekakarya Graha Flora di Cikampek, Jawa Barat adalah kondisi cuaca, serangan hama dan penyakit, mutasi gen, tanaman yang tumbuh tidak seragam (stagnan), kerusakan mekanis (handling). Adanya risiko hasil produksi menimbulkan ketidakpastian terhadap keuntungan yang diperoleh perusahaan. Hasil penelitian Sianturi (2011)

4


(14)

14 tentang Analisis risiko pengusahaan bunga pada PT Saung Mirwan Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat menemukan bahwa sumber-sumber risiko pengusahaan bunga adalah cuaca atau iklim, hama dan penyakit, bibit, peralatan dan bangunan, tenaga kerja, dan harga produk.

Berbeda halnya dengan analisis risiko produksi sayuran organik pada Permata Hati Organic Farm di Bogor, Jawa Barat. Risiko usaha yang dihadapi dalam penelitian yang dilakukan Tarigan (2009) menyimpulkan bahwa sumber-sumber risiko pada usaha sayuran organik yaitu cuaca dan iklim, serangan hama dan penyakit yang mengakibatkan penurunan pendapatan perusahaan. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Markhamah (2010) tentang manajemen risiko bunga potong sebagai bahan baku produk karangan bunga pada Florist X di Pasar Bunga Wastukencana Bandung, menemukan bahwa sumber-sumber risiko pada usaha bunga potong Florist X adalah fluktuasi penggunaan bahan baku setiap periode pengiriman barang dan juga sistem quality control yang kurang baik, sehingga mengakibatkan pemakaian bahan baku yang tidak menentu dan kualitas bahan baku yang kurang baik yang menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

Ditinjau dari segi non-teknis sumber-sumber risiko pasar pada usaha pertanian mencakup fluktuasi harga input dan output. Pada penelitian yang dilakukan Arfah (2009) tentang analisis risiko penjualan anggrek Phalaenopsis pada PT Ekakarya Graha Flora di Cikampek, Jawa Barat menyimpulkan bahwa sumber risiko penjualan anggrek adalah klaim penjualan baik pemasaran lokal maupun ekspor yang disebabkan oleh pengembalian tanaman dan pemusnahan tanaman, kontaminasi dan kerusakan mekanis serta tanaman yang tidak sesuai kriteria standar pemesanan yang sulit untuk diduga sebelumnya, sehingga dapat mempengaruhi realisasi penjualan dan ketidakpastian terhadap keuntungan atau pendapatan yang akan diperoleh oleh perusahaan.

Sementara itu Firmansyah (2009) dalam penelitiannya tentang risiko portofolio pemasaran sayur organik pada perusahaan Permata Hati Organic Farm

mengungkapkan ketidakpastian pesanan merupakan sumber utama risiko pasar yang dihadapi perusahaan. Hal yang sama juga ditemukan Sari (2009) yang meneliti tentang risiko harga cabai merah keriting dan cabai merah besar di Indonesia. Hasil analisis risiko harga pada kedua komoditas tersebut menunjukkan


(15)

15 bahwa fluktuasi harga tidak terlepas dari pengaruh permintaan dan penawaran pasar. Harga cabai merah biasanya naik pada akhir tahun dimana banyak perayaan hari-hari besar keagamaan seperti lebaran, natal dan tahun baru. Harga rendah terjadi pada bulan-bulan Mei-Agustus dimana pada saat tersebut terjadi

oversupply diakibatkan adanya panen serentak lahan pertanian cabai Indonesia. Dari penelitian-penelitian terdahulu diperoleh variabel-variabel yang menjadi sumber-sumber risiko yaitu faktor cuaca, hama dan penyakit, kerusakan teknis/mekanis, dan efektivitas penggunaan input. Variabel-variabel tersebut juga diduga menjadi sumber risiko produksi pada penggunaan tanaman hias adenium yang diteliti dalam penelitian ini.

2.2. Metode Analisis Risiko

Risiko dapat diukur dengan menggunakan metode analisis seperti

Variance, Standard Deviation dan Coefficient Variation yang satu sama lain saling berhubungan. Ketiga indikator ini menjadi indikator besar atau tidaknya risiko yang dihadapi oleh suatu usaha. Dimana, semakin kecil nilai dari ketiga indikator tersebut maka semakin rendah risiko yang dihadapi, bergitu juga sebaliknya semakin besar nilai dari ketiga indikator tersebut maka semakin tinggi risiko yang dihadapi oleh suatu usaha.

Dalam penelitian Safitri (2009) tentang risiko produksi daun potong di PT. Pesona Daun Mas Asri, Ciawi Kabupaten Bogor, Jawa Barat digunakan ketiga metode analisis risiko Variance, Standard Deviation dan Coefficient Variation

dengan menggunakan expected return. Metode penilaian yang sama juga dilakukan oleh Arfah (2009) dalam penelitiannya tentang analisis risiko penjualan anggrek Phalaenopsis pada PT Ekakarya Graha Flora di Cikampek, Jawa Barat, namun dalam penelitian tersebut digunakan analisis pendapatan untuk menganalisis pendapatan perusahaan. Pada penelitian Tarigan (2009) tentang analisis risiko produksi sayuran organik pada Permata Hati Organic Farm di Bogor, Jawa Barat menggunakan analisis Variance, Standard Deviation dan

Coefficient Variation pada kegiatan spesialisasi dan portofolio. Analisis tersebut juga digunakan dalam penelitian Sianturi (2011) tentang analisis risiko pengusahaan bunga pada PT Saung Mirwan Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa


(16)

16 Barat dan juga pada penelitian Wisdya (2009) tentang analisis risiko produksi anggrek Phalaenopsis pada PT Ekakarya Graha Flora di Cikampek, Jawa Barat.

Berbeda halnya dengan penelitian Markhamah (2010) tentang manajemen risiko bunga potong sebagai bahan baku produk karangan bunga pada Florist X di Pasar Bunga Wastukencana Bandung. Metode analisisnya adalah pengukuran yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Pengukuran yang bersifat kuantitas dilakukan dengan menggunakan Metode analisis nilai standar (analisis z-score) dan analisis Value at Risk (VaR). Sedangkan pengukuran yang bersifat kualitatif dilakukan dengan menggunakan Metode Aprolsimasi, yaitu dengan menggunakan

Expert Opinion. Metode analisis risiko yang digunakan oleh Firmansyah (2009) dalam penelitiannya tentang risiko portofolio pemasaran sayuran organik menggunakan single-index portofolio dengan bantuan software SPSS. Metode penelitian yang berbeda dari metode penelitian yang diuraikan sebelumnya diperkenalkan oleh Sari (2009) yang meneliti risiko harga cabai merah keriting dan cabai merah besar. Metode analisis risiko yang digunakan adalah model ARCH GARCH dan perhitungan VaR (Value at Risk).

2.3. Strategi Penanganan Risiko

Strategi pengelolaan risiko merupakan kegiatan atau usaha yang dilakukan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh risiko. Strategi pengelolaan risiko yang baik akan mampu menekan dampak risiko yang ditimbulkan sehingga perusahaan dapat memperoleh penerimaan yang sesuai dengan yang ditargetkan. Sebaliknya dengan penanganan risiko yang kurang tepat akan menimbulkan kerugian pada perusahaan. Strategi pengelolaan risiko yang diterapkan di perusahaan diharapkan merupakan strategi yang tepat dan efektif dalam menekan risiko.

Wisdya (2009) mengemukakan bahwa penanganan untuk mengatasi risiko produksi PT EGF adalah dengan pengembangan diversifikasi pada lahan yang ada. Dengan adanya diversifikasi, maka kegagalan pada salah satu kegiatan usahatani masih dapat ditutupi dari kegiatan usahatani lainnya. Selain itu penanganan risiko juga dapat dilakukan kerjasama penyediaan bibit dengan konsumen, hal ini dapat mengurangi risiko produksi akibat ketidaktersediaan


(17)

17 bibit, usaha pembungaan berupa rangkaian bunga dalam pot juga dapat dilakukan, sehingga tanaman dengan kategori rusak mekanis masih dapat dimanfaatkan.

Sianturi (2011) juga mengemukakan strategi yang dapat dilakukan PT Saung Mirwan untuk menekan risiko adalah melakukan diversifikasi memilih kombinasi komoditas yang memiliki risiko paling rendah, dan lebih memfokuskan perhatian pada bunga yang memiliki risiko paling tinggi terutama dalam hal pengendalian hama dan penyakit. Tarigan (2009) juga mengemukakan strategi yang dilakukan Permata Hati Organic Farm dalam menekan risiko produksi yaitu dengan pengembangan diversifikasi pada lahan yang ada, melakukan kemitraan produksi dengan petani sekitar yang memproduksi sayuran organik serta kemitraan dalam penggunaan input dan perlu adanya peningkatan manajemen pada perusahaan dengan melakukan fungsi-fungsi manajemen yang terarah dengan baik.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Safitri (2009) dalam mengendalikan risiko produksi daun potong di PT Pesona Daun Mas Asri, dimana dilakukan diversifikasi dan pola kemitraan. Sedangkan dalam penelitian tentang manajemen risiko bunga potong oleh Markhamah (2010), strategi pengendalian risiko yang dilakukan adalah strategi preventif dan strategi mitigasi. Strategi preventif yang dilakukan berupa memperbaiki sistem pasokan bahan baku, melakukan peramalan terhadap penjualan periode berikutnya, melakukan penanganan yang baik dan tepat dalam menjaga kesegaran dan kualitas bahan baku, mengembangkan sumber daya manusia serta memasang dan memperbaiki fasilitas fisik. Sedangkan strategi mitigasi yang dilakukan berupa kerjasama dengan florist-florist yang lain, dan memperbaiki manajemen dalam memproduksi dan memasarkan produk.

Strategi yang berbeda dikemukakan oleh Firmansyah (2009) yang meneliti risiko portofolio pemasaran sayuran organik. Strategi pengelolaan risiko portofolio pemasaran sayuran organik adalah menjaga kestabilan pesanan produk agar berada pada kondisi penjualan normal atau bahkan tinggi yaitu dengan cara memperbanyak agen atau distributor. Selain itu perusahaan bisa menjalin kerjasama dengan supermarket-supermarket yang ada atau toko-toko khusus yang menjual sayuran organik agar penjualan produk konstan dan kontinyu. Pada


(18)

18 penelitian Arfah (2009) tentang risiko penjualan anggrek Phalaenopsis, alternatif manajemen risiko dalam mengatasi risiko penjualan adalah dengan melakukan peningkatan teknologi pengaturan cahaya green house, penerapan teknologi biopestisida sebagai pengendali hama dan penyakit, bimbingan manajemen mutu dan pasca panen. Selain itu penanganan risiko juga dapat dilakukan melalui penerapan sistem SOP (standar operasional) terhadap kebijakan mutu produk

dalam mengusahakan anggrek Phalaenopsis agar dapat memenuhi standar

operasional yang diterapkan oleh pihak-pihak tertentu serta perlu adanya peningkatan manajemen pada perusahaan dengan melakukan fungsi-fungsi manajemen yang terarah dengan baik.

Sementara itu Sari (2009) mengemukakan strategi pengendalian risiko harga cabai merah harus terdapat integrasi yang baik antara tiga pihak yaitu petani, penjual dan pemerintah. Strategi pengendalian risiko harga cabai merah yang dapat dilakukan oleh petani antara lain penentuan masa tanam cabai yang tepat, diversifikasi tanaman, rotasi tanaman, pembuatan produk olahan cabai dan sistem kontrak. Penjual dapat melakukan strategi pengendalian risiko harga cabai merah dengan cara menjual cabai pada industri makanan, dan pengeringan cabai untuk mencegah jatuhnya harga akibat oversupply. Peran pemerintah dalam pengendalian risiko cabai merah dapat dilakukan dengan cara pembentukan atau pengaktifan koperasi dan kelompok tani, pengaturan pola produksi dan penyuluhan yang efektif.

Terdapat persamaan dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu. Metode analisis yang digunakan oleh Markhamah (2010), Firmansyah (2009) dan Sari (2009) berbeda dengan metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini. Sedangkan metode analisis yang digunakan pada penelitian Safitri (2009), Sianturi (2011), Arfah (2009), Tarigan (2009) dan Wisdya (2009) dengan menggunakan Variance, Standard Deviation, dan Coefficient Variance juga digunakan dalam penelitian ini. Namun letak perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah pada pengaruh diversifikasi (portofolio) yang dilakukan untuk mengendalikan risiko yang ada pada tanaman hias, dan juga perbedaaan komoditas serta tempat pelaksanaan penelitian.


(19)

19

III

.

KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis

Langkah awal dalam menganalisis suatu risiko adalah dengan melakukan identifikasi pada risiko dan sumber risiko yang dihadapi oleh suatu perusahaan, sehingga perusahaan dapat menyusun strategi yang tepat untuk mengatasi risiko tersebut.

3.1.1. Defenisi dan Konsep Dasar risiko

Risiko menunjukkan peluang terhadap suatu kejadian yang dapat diukur oleh pembuat keputusan. Pada umumnya peluang terhadap suatu kejadian dapat ditentukan oleh pembuat keputusan berdasarkan pengalaman mengelola kegiatan usaha.

Menurut Kountur (2004) risiko berhubungan dengan ketidakpastian. Ketidakpastian terjadi akibat kurangnya atau tidak tersedianya informasi yang menyangkut apa yang akan terjadi. Ketidakpastian yang dihadapi perusahaan bisa berdampak merugikan atau mungkin saja menguntungkan. Apabila ketidakpastian yang dihadapi memberi dampak yang merugikan maka hal tersebut dikenal dengan istilah kesempatan (opportunity). Jika kepastian berdampak merugikan dikenal dengan istilah risiko (risk). Risiko berhubungan dengan suatu kejadian, dimana kejadian tersebut memiliki kemungkinan untuk terjadi atau tidak terjadi, dan jika terjadi ada akibat berupa kerugian yang ditimbulkan.

Risiko adalah kemungkinan kejadian yang menimbulkan kerugian (Harwood et al, 1999). Setiap bisnis yang dijalankan pasti memiliki risiko dan ketidakpastian. Hal ini bertentangan dengan perilaku individu yang menginginkan kepastian dalam berusaha. Indikasi adanya risiko dalam kegiatan bisnis dapat dilihat dengan adanya variasi dan fluktuasi, seperti fluktuasi produksi, harga atau pendapatan. Untuk meminimalkan risiko yang mungkin dihadapi, dibutuhkan penilaian atau analisis risiko yang akan mempengaruhi pengambilan keputusan.

Menurut Darmawi (2005), risiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian yang tidak diinginkan atau tidak terduga. Penggunaan kata “kemungkinan” tersebut sudah menunjukkan adanya ketidakpastian. Ketidakpastian itu merupakan kondisi yang menyebabkan


(20)

20 tumbuhnya risiko, sedangkan kondisi yang tidak pasti tersebut timbul karena berbagai hal, antara lain :

1. Jarak waktu dimulai perencanaan atas kegiatan sampai kegiatan itu berakhir. Makin panjang jarak waktu makin besar ketidakpastiannya.

2. Keterbatasan tersedianya informasi yang diperlukan.

3. Keterbatasan pengetahuan atau ketrampilan mengambil keputusan, dan lain sebagainya.

3.1.2. Klasifikasi Risiko

Menurut Harwood et al (1999) terdapat beberapa sumber risiko yang dapat dihadapi oleh petani, yaitu:

1. Risiko produksi

Sumber risiko yang berasal dari risiko produksi diantaranya adalah gagal panen, rendahnya produktivitas, kerusakan barang yang ditimbulkan oleh serangan hama dan penyakit, perbedaan iklim, kesalahan sumberdaya manusia, dan lain-lain.

2. Risiko Pasar atau Harga

Risiko yang ditimbulkan oleh pasar diantaranya adalah barang tidak dapat dijual yang diakibatkan ketidakpastian mutu, permintaan rendah, ketidakpastian harga output, inflasi, daya beli masyarakat, persaingan, dan lain-lain. Sementara itu, risiko yang ditimbulkan oleh harga adalah harga naik karena inflasi.

3. Risiko Kelembagaan

Risiko yang ditimbulkan dari kelembagaan antara lain adanya aturan tertentu yang membuat anggota suatu organisasi menjadi kesulitan untuk memasarkan ataupun meningkatkan hasil produksinya.

4. Risiko Kebijakan

Risiko yang ditimbulkan oleh kebijakan antara lain adanya suatu kebijakan tertentu yang dapat menghambat kemajuan suatu usaha, misalnya kebijakan tarif ekspor.


(21)

21 Risiko yang ditimbulkan oleh risiko finansial antara lain adalah adanya piutang tak tertagih, likuiditas yang rendah sehingga perputaran usaha terhambat, perputaran barang rendah, laba yang menurun karena krisis ekonomi dan lain-lain. Menentukan sumber risiko adalah sangat penting karena mempengaruhi cara penanganannya. Risiko juga dapat diklasifikasikan berdasarkan sudut pandang sumber penyebab kerugian yang terjadi (Darmawi, 2004) :

1. Risiko Sosial

Sumber utama risiko adalah masyarakat, artinya tindakan orang-orang yang menciptakan kejadian yang menyebabkan penyimpangan yang merugikan dari harapan. Risiko sosial ini berupa kecelakaan yang menimbulkan kerusakan harta dan jiwa.

2. Risiko fisik

Sumber risiko fisik sebagian adalah fenomena alam, sedangkan lainnya disebabkan kesalahan manusia. Sumber risiko fisik dapat disebabkan oleh adanya kebakaran, cuaca buruk, dan bencana alam lainnya.

3. Risiko Ekonomi

Banyak risiko yang dihadapi perusahaan yang bersifat ekonomi, seperti inflasi, fluktuasi lokal, ketidakstabilan perusahaan dan lainnya.

Risiko juga dapat diklasifikasikan dari sudut pandang penyebab timbulnya risiko, akibat yang ditimbulkan, aktivitas yang dilakukan dan sudut pandang kejadian yang terjadi (Kountur, 2008):

1. Risiko Dari Sudut Pandang Penyebab

Risiko jika diklasifikasikan dalam sudut pandang penyebab kejadian dapat dibedakan ke dalam risiko keuangan dan risiko operasional. Risiko keuangan terjadi karena disebabkan oleh faktor-faktor keuangan seperti perubahan harga, tingkat bunga, dan mata uang asing. Sedangkan risiko operasional merupakan risiko yang disebabkan oleh faktor-faktor non keuangan seperti manusia, teknologi, dan alam.

2. Risiko Dari Sudut Pandang Akibat

Terdapat dua kategori risiko jika dilihat dari sudut pandang akibat yang ditimbulkan yaitu: (1) risiko murni, yaitu risiko yang akibat yang ditimbulkan hanya berupa sesuatu yang merugikan dan tidak memungkinkan adanya


(22)

22 keuntungan, dan (2) risiko spekulatif, yaitu risiko yang memungkinkan untuk menimbulkan suatu kerugian atau menimbulkan keuntungan.

3. Risiko Dari Sudut Pandang Aktivitas

Aktivitas dapat menimbulkan berbagai macam risiko, misalnya aktivitas pemberian kredit oleh bank yang risikonya dikenal dengan risiko kredit. Contoh lain dari sudut pandang penyebab terjadinya risiko adalah ketika seseorang melakukan perjalanan dan dalam perjalanannya dihadapkan pada risiko. Risiko semacam ini disebut juga dengan risiko perjalanan. Banyaknya risiko dari sudut pandang penyebab adalah sebanyak jumlah aktivitas yang ada.

4. Risiko Dari Sudut Pandang Kejadian

Risiko yang dinyatakan berdasarkan kejadian merupakan pernyataan risiko yang paling baik, misalnya terjadi kebakaran, maka risiko yang terjadi adalah risiko kebakaran. Contoh lain adalah kejadian anjloknya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Risiko yang dinyatakan dari kejadian ini adalah risiko anjloknya nilai tukar rupiah.

3.1.3. Risiko Portofolio dalam Diversifikasi

Pengukuran risiko menjadi sangat penting dalam tahapan analisis risiko karena tahapan ini dapat menentukan relatifitas penting atau tidaknya risiko tersebut untuk ditangani dan untuk memperoleh informasi yang akan menolong dalam menetapkan kombinasi strategi manajemen risiko. Untuk menentukan banyaknya kejadian yang dianggap berisiko dapat menggunakan konsep perhitungan peluang. Hasil dari perhitungan peluang ini akan menunjukkan seberapa sering perusahaan menghadapi periode atau hasil yang sesuai dengan harapan, melebihi harapan dan tidak sesuai dengan harapan.

Pengukuran risiko juga mencakup proses penilaian risiko. Menurut Elton dan Grubber (1995) terdapat beberapa penilaian risiko yaitu: perhitungan varian (variance), standar baku (standard deviation) dan koefisien variasi (coefficient variation). Ketiga alat ukur penilaian risiko ini saling berkaitan satu sama lain dengan nilai varian sebagai dasar perhitungan untuk pengukuran lainnya. Standar baku merupakan akar kuadrat dari perhitungan nilai varian sedangkan koefisien variasi merupakan rasio antara nilai standar baku dengan nilai expected return.


(23)

23

Expected return merupakan nilai atau hasil yang diharapkan oleh pengusaha atau pelaku usaha. Expected return dapat berbentuk jumlah produksi, jumlah penjualan dan penerimaan atau pendapatan.

Alat penilaian risiko dengan model varian dan standar baku sering sekali dianggap kurang tepat apabila dibandingkan dengan penerimaan (return). Varian dan standar baku hanya menunjukkan nilai risiko secara absolut. Khususnya apabila dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan dalam manajemen perusahaan, model perhitungan dengan varian dan standar baku tidak layak. Untuk mengatasi hal itu model perhitungan dengan menggunakan koefisien variasi merupakan model yang peling sesuai. Koefisien variasi sudah memperhitungkan antara nilai risiko yang dihadapi sebuah perusahaan dan perbandingannya dengan setiap satu satuan penerimaan (return) yang diperoleh oleh perusahaan. Sehingga pada akhirnya pernyataan yang mengatakan „ high risk high return‟ dapat diuji dan dilihat kebenarannya dalam kasus yang dihadapi perusahaan.

Pelaku bisnis mempunyai banyak alternatif dalam melakukan investasi. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan pelaku bisnis dalam menginvestasikan dananya dengan melakukan kombinasi dari beberapa kegiatan usaha atau aset. Kombinasi dari beberapa kegiatan usaha atau aset dinamakan dengan diversifikasi.

Portofolio merupakan kombinasi atau gabungan dari beberapa investasi. Teori portofolio merupakan teori yang menjelaskan penyaluran modal ke dalam berbagai macam investasi dengan tujuan menekan risiko dan menjamin pendapatan seaman dan seuntung mungkin. Teori portofolio membahas portofolio yang optimum yaitu portofolio yang memberikan hasil pengembalian tertinggi pada suatu tingkatan risiko tertentu atau tingkat risiko paling rendah dengan suatu hasil tertentu.

Teori portofolio menyatakan bahwa risiko dan pengembalian keduanya harus dipertimbangkan dengan asumsi tersedia kerangka formal untuk mengukur keduanya dalam pembentukkan portofolio. Dalam bentuk dasarnya, teori portofolio dimulai dengan asumsi bahwa tingkat pengembalian atas efek dimasa depan dapat diestimasi dan kemudian menentukan risiko dengan variasi distribusi


(24)

24 pengembalian. Dengan asumsi tertentu, teori portofolio menghasilkan hubungan linear antara risiko dan pengembalian5.

Diversifikasi dilakukan untuk mengurangi risiko portofolio, yaitu dengan cara mengkombinasi atau dengan menambah investasi (asset/aktiva/sekuritas). Hal ini berdasarkan pertimbangan apabila salah satu asset menghasilkan return

yang rendah maka asset yang lain diharapkan menghasilkan yang tinggi sehingga kerugian bisa tertutupi. Keputusan manajemen untuk mengusahakan satu usaha tunggal (spesialisasi) atau diversifikasi bisa murni termotivasi karena tingkat keuntungan yang diharapkan (expected profit) tanpa mempertimbangkan kaitannya dengan upaya menurunkan risiko.

Teori portofolio membantu manajemen dalam pengambilan keputusan mengenai kombinasi investasi yang paling aman dikaitkan dengan tingkat risiko yang dihadapi. Dasar teori ini adalah pada kenyataannya investor tidak menginvestasikan seluruh dana hanya untuk satu jenis investasi tetapi melakukan diversifikasi dengan tujuan menekan risiko. Fluktuasi tingkat keuntungan akan berkurang karena saling menghilangkan jika memiliki beberapa jenis investasi.

3.1.4. Strategi Penanganan Risiko

Strategi pengelolaan risiko merupakan langkah lanjutan dari proses identifikasi dan pengukuran risiko. Strategi pengelolaan risiko berbentuk langkah-langkah yang ditujukan untuk mengurangi tingkat kerugian dari suatu kondisi yang dianggap berisiko. Penanganan risiko dapat dimasukkan ke dalam fungsi-fungsi manajemen. Sehingga fungsi-fungsi-fungsi-fungsi manajemen yang dikenal dengan

planning, organizing, actuating dan controlling (POAC) bertambah satu, yaitu fungsi penanganan risiko (Kountur, 2008).

Menurut Kountur (2008) terdapat dua strategi penanganan risiko yaitu: 1. Preventif

Preventif dilakukan untuk menghindari terjadinya risiko. Strategi ini cocok dilakukan apabila probabilitas risiko besar. Strategi preventif dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

a. Membuat atau memperbaiki sistem dan prosedur

5


(25)

25 b. Mengembangkan sumberdaya manusia

c. Memasang atau memperbaiki fasilitas fisik 2. Mitigasi

Mitigasi adalah strategi penanganan risiko yang dimaksud untuk memperkecil dampak yang ditimbulkan dari risiko. Strategi mitigasi dilakukan untuk menangani risiko yang memiliki dampak yang sangat besar. Adapun beberapa cara yang termasuk ke dalam strategi mitigasi adalah:

a. Diversifikasi

Diversifikasi adalah cara menempatkan asset atau harta di beberapa tempat sehingga jika salah satu tempat terkena musibah tidak akan menghabiskan semua

asset yang dimiliki. Diversifikasi merupakan salah satu cara pengalihan risiko yang paling efektif dalam mengurangi dampak risiko

b. Penggabungan

Penggabungan atau yang lebih dikenal dengan istilah merger menekankan pola penanganan risiko pada kegiatan penggabungan dengan pihak perusahaan lain. Contoh strategi ini adalah perusahaan yang melakukan merger atau dengan melakukan akuisisi.

c. Pengalihan Risiko

Pengalihan risiko (transfer of risk) merupakan cara penanganan risiko dengan mengalihkan dampak dari risiko ke pihak lain. Cara ini bermaksud jika terjadi kerugian pada perusahaan maka yang menanggung kerugian tersebut adalah pihak lain. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengalihkan dampak risiko ke pihak lain, diantaranya melalui asuransi, leasing, outsourching,

dan hedging.

Pengalihan risiko dapat dilakukan dengan cara mengasuransikan asset

perusahaan yang dampak risikonya besar, sehingga jika terjadi kerugian maka pihak asuransi yang akan menanggung kerugian yang dialami perusahaan sesuai dengan kontrak perjanjian yang telah disepakati oleh pihak perusahaan dan pihak asuransi. Leasing adalah cara dimana asset digunakan tetapi kepemilikannya adalah pihak lain. Jika terjadi sesuatu pada asset tersebut maka pemiliknya yang akan menanggung kerugian atas asset tersebut.


(26)

26

Outsourcing merupakan cara dimana pekerjaan diberikan kepada pihak lain untuk mengerjakannya sehingga jika terjadi kerugian maka perusahaan tidak menanggung kerugian melainkan pihak yang melakukan pekerjaan tersebutlah yang menanggung kerugiannya. Hedging merupakan cara pengalihan risiko dengan mengurangi dampak risiko melalui transaksi penjualan atau pembelian. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melakukan hedging adalah melalui

forward contract, future contract, option, dan swap.

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional

Perusahaan Anisa Adenium menghadapi risiko dalam menjalankan bisnisnya. Risiko yang dihadapi disebabkan pengaruh cuaca dan iklim, serangan hama penyakit, bibit, alat dan bangunan, tenaga kerja dan fluktuasi harga jual produk. Adanya risiko yang terjadi akan mengakibatkan penurunan produktivitas yang akan berdampak pada pendapatan yang diperoleh perusahaan Anisa Adenium. Oleh sebab itu perlu dilakukan analisis risiko yang tepat untuk diterapkan pada perusahaan Anisa Adenium.

Penelitian ini akan mengkaji analisis risiko yang dilakukan oleh perusahaan Anisa Adenium, dalam penelitian ini akan dilakukan proses pengkajian faktor penyebab terjadinya risiko dalam usaha tanaman hias yang dilakukan oleh perusahaan Anisa Adenium. Analisis risiko yang digunakan terhadap risiko yang dihadapi perusahaan Anisa Adenium adalah melalui pendekatan Variance, Standard Deviation dan Coefficient Variation untuk menganalisis risiko satu komoditas. Analisis risiko menggunakan portofolio dilakukan untuk menganalisis risiko untuk lebih dari satu komoditas, sehingga akan diperoleh hasil yang menjadi alternatif strategi penanganan risiko yang dapat digunakan dalam mengatasi risiko yang terjadi pada perusahaan Anisa Adenium. Untuk lebih jelas pada alur pemikiran operasional dapat dilihat pada Gambar 2.


(27)

27 Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional

Tujuan usaha perusahaan Anisa Adenium: 1. Memaksimumkan keuntungan

2. Meminimumkan Risiko

Risiko produksi yang dihadapi Perusahaan Anisa Adenium

Fluktuasi /variasi produksi

Identifikasi Sumber Risiko Produksi:

- Kondisi cuaca dan iklim - Hama dan penyakit - Tenaga kerja - Peralatan

- Teknik perbanyakan

-Analisis risiko dengan pendekatan kuantitatif : - Variance

- Standard Deviation

- Coefficient Variation

- Portofolio


(28)

28

IV.

METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di perusahaan Anisa Adenium, yang berada di Bekasi Timur, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilaksanakan secara sengaja (purposive), dikarenakan daerah Bekasi Timur merupakan salah satu daerah sentra tanaman hias adenium di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus – November 2011.

Pemilihan lokasi penelitian di perusahaan Anisa Adenium berdasarkan pengalaman dan kinerja perusahaan dalam melakukan budidaya tanaman hias adenium. Kinerja Perusahaan Anisa Adenium telah terbukti dengan perkembangan perusahaan yang terus menerus berkembang. Dimana perusahaan Anisa Adenium merupakan usaha budidaya tanaman hias adenium yang memiliki prestasi dan cukup dikenal di provinsi Jawa Barat. Perusahaan Anisa Adenium juga penyuplai tanaman hias ke beberapa daerah di sekitar Jawa, Sumatera dan juga Kalimantan. Beberapa perusahaan serupa di sekitar lokasi penelitian melakukan usaha budidaya tanaman hias, akan tetapi perusahaan selain perusahaan Anisa Adenium melakukan usaha budidaya beberapa tanaman hias secara bersamaan, dan hasil produksinya hanya dapat memenuhi kebutuhan pasar di daerah sekitar.

4.2. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui hasil pengamatan dan wawancara dengan pihak perusahaan meliputi keadaan umum perusahaan seperti strategi penanganan risiko yang diterapkan di perusahaan, dan kegiatan usaha tanaman hias yang dijalankan oleh perusahaan Anisa Adenium. Data sekunder diperoleh dari data historis perusahaan Anisa Adenium berupa data produksi 2009-2010, data yang diperoleh dari literatur-literatur dan instansi terkait yang mendukung penelitian ini seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, Perpustakaan LSI Institut Pertanian Bogor, internet dan literatur yang relevan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah produksi tanaman hias adenium.


(29)

29

4.3. Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan diskusi dengan pemilik usaha. Teknik observasi dilakukan untuk melakukan pengamatan tentang aktivitas produksi dan pemasaran tanaman hias yang dilakukan oleh perusahaan Anisa Adenium serta berbagai kendala risiko yang dihadapi. Teknik wawancara dan diskusi dilakukan untuk mengidentifikasi sumber-sumber risiko yang biasa muncul terkait dengan kegiatan produksi dan pemasaran. Sumber data sekunder diperoleh dari pihak perusahaan berupa informasi yang berupa data produksi, penggunaan input dan tenaga kerja serta data-data terkait yang mendukung penelitian.

4.4. Metode Pengolahan Data dan Analisis Data

Semua data yang dikumpulkan akan diolah dan dianalisis dengan

Microsoft Excel 2007 dan kalkulator untuk mengetahui besarnya risiko yang dihadapi dan strategi penanganan risiko yang diterapkan di perusahaan Anisa Adenium. Adapun metode analisis yang digunakan meliputi analisis risiko baik kualitatif maupun kuantitatif. Analisis risiko dilakukan dengan melihat penyimpangan yang terjadi antara nilai yang diharapkan dengan nilai yang terjadi. Untuk menilai tingkat risiko tersebut beberapa ukuran yang digunakan antara lain nilai Variance, Standard Deviation, dan Coefficient Variation. Nilai Variance

menunjukkan adanya penyimpangan, Standard Deviation diperoleh dari nilai kuadrat Variance, dan Coefficient Variation diperoleh dari rasio Standard Deviation dengan Expected Return.

4.4.1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran maupun suatu peristiwa pada masa sekarang. Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis strategi penanganan risiko perusahaan, baik risiko operasional maupun risiko pasar yang diterapkan


(30)

30 oleh Perusahaan Anisa Adenium. Analisis deskripif juga dilakukan untuk mengetahui sumber-sumber yang menjadi penyebab terjadinya risiko yang muncul pada aspek teknis maupun aspek ekonomis perusahaan. Analisis dilakukan berdasarkan penilaian pengambil keputusan di perusahaan secara subjektif yang dilakukan untuk melihat apakah manejeman risiko yang diterapkan efektif untuk meminimalkan risiko. Metode analisis deskriptif untuk menganalisis strategi penanganan risiko yang diterapkan perusahaan dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan diskusi dengan pemilik usaha tanaman hias.

4.4.2. Analisis Risiko Komoditas Tunggal

Analisis kuantitatif diawali dengan menentukan besarnya peluang. Peluang merupakan kemungkinan terjadinya suatu peristiwa. Peluang hanya suatu kemungkinan, jadi nilai dari suatu peluang bukan merupakan harga mutlak dalam suatu kondisi. Nilai peluang ditentukan berdasarkan pengalaman dan faktor dari variabel-variabel yang mempengaruhi suatu kejadian yang akan dihitung nilai peluangnya. Peluang dari suatu kejadian pada kegiatan usaha dapat diukur berdasarkan pengalaman yang telah dialami pelaku bisnis dalam menjalankan kegiatan usaha. Nilai peluang ditentukan dengan mengobservasi kejadian yang sudah terjadi. Kejadian-kejadian tersebut kemudian diekspresikan sebagai persentase dari total exposure dalam rangka mendapatkan estimasi empiris dari probabilitas.

Menurut Kountur (2008), dari sudut pandang empiris maka probabilitas dapat dipandang sebagai frekuensi terjadinya event dalam jangka panjang yang dinyatakan dalam persentase. Probabilitas adalah nilai/angka yang terletak antara 0 dan 1 yang diberikan kepada masing-masing event. Apabila nilai suatu peluang adalah 1, maka hal tersebut merupakan sebuah kepastian. Berarti, peristiwa yang diperkirakan pasti terjadi.

Untuk menentukan berapa besar peluang yang akan terjadi maka perlu ditetapkan kisaran persentase keberhasilan tanaman hias adenium yang ada. Menurut manajemen perusahaan Anisa Adenium, keberhasilan tanaman hias adenium yang diusahakan sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan lingkungan, serangan hama dan penyakit dan pemeliharaan adenium. Peluang dari


(31)

masing-31 masing kegiatan budidaya akan diperoleh pada tiga kondisi yaitu tertinggi, normal dan terendah. Kisaran persentase keberhasilan yang ditetapkan perusahaan Anisa Adenium untuk tanaman hias adenium varietas Arabicum, Obesum dan Taisoco

yang diusahakan dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Persentase Keberhasilan pada Tanaman Hias Adenium Varietas Arabicum, Obesum, dan Taisoco Tahun 2009-2010

No. Kondisi Keberhasilan (%)

1 Tertinggi ≥ 80

2 Normal 61-79

3 Terendah ≤ 60

Sumber : Perusahaan Anisa Adenium (2011)

Dalam menganalisis risiko produksi dilakukan analisis mengenai faktor-faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan oleh pelaku usaha. Faktor-faktor-faktor eksternal yang dimaksud antara lain faktor iklim dan cuaca, peristiwa alam seperti bencana alam yang mempengaruhi produksi dan serangan hama penyakit. Analisis terhadap faktor eksternal ini dilakukan dengan melihat dari seberapa besar kemungkinan terjadinya (probabilitas kejadian) dari faktor-faktor eksternal yang dianalisis dan seberapa besar kerugian yang disebabkannya. Semakin besar probabilitas kejadian eksternal yang merugikan maka semakin besar pula tingkat risiko yang mungkin dihadapi oleh pelaku usaha. Pengukuran probabilitas pada setiap kejadian diperoleh dari frekuensi setiap kejadian yang dibagi dengan jumlah periode waktu proses produksi.

Penentuan persentase keberhasilan untuk kondisi tertinggi, normal dan terendah diperoleh berdasarkan hasil produksi yang dicapai oleh perusahaan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Tingkat keberhasilan 80 persen merupakan kondisi tertinggi yang dicapai oleh perusahaan. Hal ini juga didukung oleh prinsip yang diterapkan dalam budidaya tanaman. Dimana apabila daya tumbuh dari tanaman mencapai 80 persen dari jumlah yang ditanam, berarti perusahaan mencapai tingkat keberhasilan maksimum, dan perusahaan akan memperoleh keuntungan di atas target yang diharapkan. Sedangkan untuk kondisi normal merupakan kondisi perusahaan dalam range yang stabil yaitu diantara kondisi tertinggi dan kondisi terendah, dimana perusahaan memperoleh keberhasilan tanaman sesuai dengan target yang diharapkan, dan juga perusahaan


(32)

32 memperoleh keuntungan sesuai dengan target yang diharapkan. Untuk kondisi terendah yaitu dibawah 60 persen merupakan kondisi yang tidak sesuai dengan target yang telah ditentukan. Pada kondisi ini perusahan tidak dapat menutupi biaya produksi dari hasil penjualan output, sehingga perusahaan akan mengalami kerugian.

Pengukuran peluang (P) pada setiap kondisi diperoleh dari frekuensi kejadian setiap kondisi yang dibagi dengan periode waktu selama kegiatan berlangsung dan secara sistematis dapat dituliskan:

P =

Keterangan:

f = frekuensi kejadian (kondisi tertinggi, normal dan rendah) T = periode waktu proses produksi

Pengukuran peluang (P) pada setiap kondisi diperoleh dari frekuensi kejadian setiap kondisi yang dibagi dengan periode waktu selama kegiatan berlangsung. Total peluang dari beberapa kejadian berjumlah satu dan secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

Penyelesaian pengambilan keputusan yang mengandung risiko dapat dilakukan dengan menggunakan Expected return. Expected return adalah jumlah dari nilai-nilai yang diharapkan terjadi peluang masing-masing dari suatu kegiatan tidak pasti. Secara matematis dapat dituliskan sebagi berikut:

Keterangan:

E(Ri) = Expected return

Pi = Peluang pada kondisi tertinggi, normal dan rendah pada adenium

varietas Arabicum, Obesum dan Taisoco Ri = Return (Produktivitas dan Pendapatan)

Untuk mengukur sejauh mana risiko yang dihadapi dalam menjalankan usaha terhadap hasil atau pendapatan yang diperoleh perusahaan digunakan pendekatan sebagai berikut:


(33)

33

a. Variance

Pengukuran variance dari return merupakan penjumlahan selisih kuadrat dari return dengan expected return dikalikan dengan peluang dari setiap kejadian. Nilai variance dapat dituliskan dengan rumus sebagai berikut (Elton dan Gruber, 1995).

Keterangan:

= Variance dari return

Pij = Peluang pada kondisi tertinggi, normal dan rendah pada masing-masing

varietas adenium

Rij = Return atau penerimaan masing-masing varietas adenium

Ři = Expected return dari masing-masing varietas adenium

Dari nilai variance dapat ditunjukkan bahwa semakin kecil nilai variance

maka semakin kecil penyimpangannya sehingga semakin kecil risiko yang dihadapi dalam melakukan kegiatan usaha tersebut.

b. Standard Deviation

Standard Deviation dapat diukur dari akar kuadrat dari nilai variance. Risiko dalam penelitian ini berarti besarnya fluktuasi pendapatan, sehingga semakin kecil nilai Standard Deviation maka semakin rendah risiko yang dihadapi dalam kegiatan usaha. Rumus Standard Deviation adalah sebagai berikut:

Keterangan :

= Variance masing-masing varietas adenium

= Standard deviation masing-masing varietas adenium

c. Coefficient Variation

Coefficient variation diukur dari rasio standard deviation dengan return

yang diharapkan atau ekspektasi return (expected return). Semakin kecil nilai

coefficient variation maka akan semakin rendah risiko yang dihadapi. Rumus


(34)

34 Keterangan:

CV = Coefficient variation masing-masing varietas adenium = Standard deviation masing-masing varietas adenium Ři = Expected return masing-masing varietas adenium 4.4.3. Analisis Risiko Diversifikasi

Kegiatan usaha diversifikasi juga tidak terlepas dari risiko usaha seperti halnya kegiatan spesialisasi. Risiko yang terdapat dalam kegiatan diversifikasi dinamakan risiko portofolio. Untuk mengukur risiko portofolio dapat dilakukan dengan menghitung variance gabungan dari beberapa varietas adenium. Diversifikasi yang dilakukan pada perusahaan adalah dengan membudidayakan varietas berbeda jenis yang sistem budidayanya cenderung sama. Komoditi yang dianalisis dalam kegiatan diversifikasi adalah kombinasi antara adenium varietas

Taisoco, Arabicum, dan Obesum. Kombinasi yang dilakukan berdasarkan kriteria pola produksi tanaman hias adenium yang ditetapkan oleh perusahaan.

Jika adenium digunakan untuk dua varietas maka variance gabungan dapat dituliskan sebagai berikut (Elton dan Gruber, 1995):

= α

2 σi 2

+(1-

α)2 σj2

+2α (1-

α) σij Keterangan:

= Variance portofolio untuk varietas i dan j σi = Standard Deviation varietas i

σj = Standard Deviation varietas j σij = Covariance varietas i dan j α = Fraction portofolio pada varietas i (1-α) = Fraction portofolio pada varietas j

Covariance antara kedua investasi i dan j dihitung dengan menggunakan persamaan berikut (Elton dan Gruber 1995):

Keterangan:

σij = Covariance varietas i dan j

= Nilai koefisien korelasi antara varietas i dan j

Menurut Diether (2009) jika terdapat 3 aset yaitu A, B dan C. Bobot untuk ketiga asset adalah wa, wb dan wc dimana jumlah ketiga bobot adalah satu (wa +


(35)

35 wb + wc = 1). Maka besarnya expected return gabungan kombinasi tiga komoditas dapat dituliskan sebagai berikut (Diether 2009):

E(rp) = wa E(ra) + wbE(rb) + wcE(rc ) Keterangan:

E(rp) = Expected return gabungan ketiga investasi (A, B dan C) wa = bobot atau fraction portofolio pada investasi asset A

wb = bobot atau fraction portofolio pada investasi asset B

wc = bobot atau fraction portofolio pada investasi asset C

E(ra) = expected return dari investasi asset A E(rb) = expected return dari investasi asset B E(rc) = expected return dari investasi asset C

Dalam penelitian ini koefisien korelasi diasumsikan memiliki nilai (+1) atau memiliki korelasi positif diantara kedua varietas yang digabungkan. Penilaian berupa peningkatan varietas dalam produksi tanaman hias adenium berupa peningkatan luas lahan dan upaya pengendalian hama dan penyakit. Hal ini akan berpengaruh terhadap pendapatan yang akan diterima dengan harapan risiko yang ditimbulkan akan menjadi lebih kecil.

Besarnya variance gabungan ketiga varietas dapat dituliskan sebagai berikut (Diether 2009):

σ2

(rp) = wa2 σ2(ra)+ wb2 σ2(rb)+wc2 σ2(rc)+2wawb covar (ra, rb)+ 2wawc covar (ra,

rc) + 2wbwc covar (rb, rc)

Keterangan: σ2

(rp) = Variance portofolio untuk adenium varietas Arabicum,

Obesum dan Taisoco

σ2(r

a) = Variance varietas Arabicum

σ2

(rb) = Variance varietas Obesum

σ2

(rc) = Variance varietas Taisoco

wa = bobot atau fraction portofolio pada varietas Arabicum

wb = bobot atau fraction portofolio pada varietas Obesum

wc = bobot atau fraction portofolio pada varietas Taisoco

covar (ra, rb) = covariance antara Arabicum dan Obesum, diperoleh dengan

rumus: dimana diasumsikan nilainya +1. covar (ra, rc) = covar (rb, rc) = covariance antara investasi

Arabicum dan Taisoco, diperoleh dengan rumus: dimana diasumsikan nilainya +1.

covar (rb, rc) = covariance antara investasi Obesum dan Taisoco, diperoleh

dengan rumus: dimana diasumsikan nilainya +1.


(36)

36

σa = Standard Deviation assetArabicum

σb = Standard Deviation assetObesum

σc = Standard Deviation assetTaisoco

Perhitungan besarnya fraksi portofolio pada penelitian ini adalah berdasarkan alokasi investasi perusahaan yaitu penggunaan lahan pada ketiga varietas adenium yang diusahakan. Total luas lahan yang digunakan adalah 330 M2. Pembagian lahan untuk ketiga varietas adenium yaitu 80 M2 untuk varietas

Arabicum, 200 M2 untuk varietas Obesum dan 50 M2 untuk varietas Taisoco.

Adapun nilai fraksi untuk ketiga gabungan varietas adenium dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Nilai Fraksi Untuk Setiap Gabungan Varietas Adenium

No Varietas Adenium Fraksi (%)

Arabicum Obesum Taisoco

1 Arab+Obes 28,6 71,4 -

2 Arab+Tais 61,5 - 38,5

3 Obes+Tais - 80,0 20,0

4 Arab+Obes+Tais 24,0 61,0 15,0

Tabel 10 merupakan nilai fraksi dari ketiga varietas adenium yaitu

Arabicum, Obesum dan Taisoco. Nilai fraksi diatas diperoleh dari luas lahan masing-masing varietas dibagi dengan total luas lahan varietas adenium yang akan digabungkan, hasil dari pembagian tersebut dikalikan dengan 100 persen. Sehingga diperoleh pembagian fraksi untuk setiap gabungan varietas adenium. Misalnya untuk gabungan dua varietas yaitu Arabicum dan Obesum, luas lahan untuk masing-masing varietas yaitu 80 M2 dan 200 M2, sehingga total dari gabungan kedua varietas yaitu 280 M2. Untuk varietas Arabicum luas lahan 80 M2 dibagi dengan total luas lahan 280 M2, sehingga diperoleh hasil 0, 286. Hasil tersebut kemudian dikalikan dengan 100 persen sehingga diperoleh nilai fraksi yaitu 28,6 persen. Hal yang sama juga dilakukan untuk menghitung nilai fraksi varietas Obesum, dimana luas lahan 200 M2 dibagi dengan total luas lahan kedua varietas yaitu 280 M2, sehingga diperoleh hasil 71,4. Hasil tersebut kemudian dikalikan dengan 100 persen sehingga diperoleh nilai fraksi untuk varietas


(37)

37 varietas Arabicum dan Taisoco, Obesum dan Taisoco dan juga gabungan ketiga varietas Arabicum, Obesum dan Taisoco.

4.5. Defenisi Operasional

1. Peluang (P) merupakan frekuensi kejadian setiap kondisi dibagi dengan periode waktu selama kegiatan produksi tanaman hias

2. Expected return adalah jumlah dari pendapatan yang diharapkan pada komoditas tanaman hias

3. Variance merupakan ragam atau variasi dari peluang ketiga kondisi pendapatan tanaman hias.

4. Return yang digunakan berdasarkan penerimaan yang diterima perusahaan dari tanaman hias (rupiah).

5. Standard deviation merupakan penyimpangan dari return yang diharapkan dari memproduksi tanaman hias.

6. Coefficient variation diukur dari rasio Standard deviation dengan return

yang di harapkan.

7. Diversifikasi merupakan suatu kebijakan untuk menyalurkan modal kearah berbagai macam investasi dengan tujuan menekan resiko dan menjamin tingkat pendapatan seaman mungkin.


(38)

38

V.

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Pada bab ini akan diuraikan mengenai keadaan umum tempat penelitian yaitu Perusahaan Anisa Adenium. Data mengenai keadaan umum Perusahaan Anisa Adenium diperoleh dari hasil wawancara dan data sekunder Perusahaan Anisa Adenium. Data tersebut dipergunakan untuk memberikan sejarah, perkembangan dan gambaran umum mengenai tempat penelitian.

5.1. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan

Perusahaan Anisa Adenium adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang tanaman hias adenium yang meliputi bidang usaha produksi, distribusi, dan pemasaran. Perusahaan ini berdiri pada tahun 2004 dan terletak di Bekasi Timur, Jawa Barat. Awal berdirinya Perusahaan Anisa Adenium diawali dari kegemaran pemilik terhadap tanaman hias. Widyantoro mengawali kegiatan usahanya dengan menanam tanaman hias adenium varietas Arabicum di lahan pekarangan rumah. Pada akhir tahun 2006 pemilik Perusahaan Anisa Adenium mengembangkan usahanya karena adanya permintaan pasar dengan melakukan diversifikasi adenium varietas Obesum dan Taisoco, dan mulai merekrut karyawan sebanyak 3 orang.

Perusahaan Anisa Adenium berlokasi di Jl. Damar I Blok A1/7 Bekasi Timur, Jawa Barat. Perusahaan Anisa Adenium merupakan perusahaan perseorangan yang didirikan oleh Bapak Widyantoro. Beliau yang merupakan penggemar tanaman hias dan mulai merintis usaha tersebut dengan modal awal sebesar Rp.50.000.000,00 yang beliau peroleh dari hasil tabungan sendiri.

Pada awal mulanya perusahaan ini berlokasi di areal sekitar rumah bapak Widyantoro. Komoditi yang dibudidayakan adalah adenium varietas Arabicum.

Dengan adanya permintaan pasar akan tanaman hias adenium, maka perusahaan anisa adenium melakukan diversifikasi dengan memproduksi adenium varietas

Obesum dan Taisoco. Perusahaan Anisa Adenium juga memperluas areal usahanya yang letaknya tidak jauh dari tempat usaha sebelumnya, agar dapat lebih efisien.

Pada awal tahun usaha tersebut berjalan, Perusahaan Anisa Adenium berusaha keras agar produk adenium yang dihasilkan dapat diminati dan dikenal


(1)

86

Lampiran 3. Analisis Pendapatan Usaha Tanaman Hias Adenium pada Perusahaan Anisa Adenium pada Tahun 2010

Uraian Satuan Jumlah Harga (Rp) Total

Pendapatan

4. Arabicum Pot 1.782 50.000 89.100.000

5. Obesum Pot 5.540 40.000 221.600.000

6. Taisoco Pot 819 80.000 65.520.000

Total Pendapatan 376.220.000

Biaya

3. Biaya Variabel Benih

Arabicum Biji 2.400 1.000 2.400.000

Taisoco Biji 1.200 2.500 3.000.000

Bibit

Batang bawah Batang 8.000 3.000 24.000.000 Batang atas (entres) Batang 20 1.000.000 20.000.000 Media

Sekam bakar Kg 11.600 500 5.800.000

Pupuk kandang Kg 11.600 500 5.800.000

Pasir Kg 11.600 500 5.800.000

Pupuk

Multitonik Botol 4 50.000 200.000

Growmore Bungkus 10 40.000 400.000

Gandasil Bungkus 10 40.000 400.000

NPK Karung 1/2 350.000 175.000

Pestisida

Dithane Bungkus 4 85.000 340.000

Decis Bungkus 4 90.000 360.000

Liquidos Bungkus 4 95.000 380.000

Tenaga kerja HOK 48 50.000 2.400.000

Pot PCS 11.600 2.500 29.000.000

Plastik bening Kg 8 10.000 80.000

Kardus PCS 500 500 250.000

Pisau PCS 5 10.000 50.000

Alkohol Botol 5 5.000 25.000

Selotip PCS 5 5.000 25.000

Total Biaya Variabel 100.885.000

4. Biaya Tetap Gaji karyawan

Administrasi Bulan 12 2.500.000 30.000.000

Pemasaran Bulan 12 2.000.000 24.000.000

Bagian produksi Bulan 12 1.500.000 18.000.000

Cleaning service Bulan 12 1.000.000 12.000.000

Biaya Telepon Bulan 12 200.000 2.400.000

Biaya Listrik Bulan 12 110.000 1.320.000

Biaya Air Bulan 12 250.000 3.000.000

Biaya Internet Bulan 12 200.000 2.400.000

Pajak kendaraan Tahun 1 250.000 250.000

ATK 700.000

Biaya penyusutan 14.034.000

Total Biaya Tetap 108.104.000

Biaya Total 208.989.000

Keuntungan 167.231.000


(2)

87

Lampiran 4. Tanaman hias Adenium yang Diusahakan Perusahaan Anisa Adenium

Gambar 1. Adenium Varietas Arabicum Gambar 2. Adenium Varietas Obesum


(3)

88

Lampiran 5. Proses Produksi Tanaman Hias Adenium Secara Generatif

Gambar 4. Biji Adenium

Gambar 5. Bibit Adenium berumur 1 Minggu


(4)

89

Lampiran 6. Proses Produksi Tanaman Hias Adenium Secara Vegetatif

Gambar 7. Batang Bawah Gambar 8. Batang Atas

Gambar 10. Bibit yang Sudah Mulai

Bertunas Gambar 9. Proses Sambung


(5)

RINGKASAN

YUNITA ARIANI ZEBUA. Analisis Risiko Produksi Tanaman Hias Adenium di Perusahaan Anisa Adenium, Bekasi Timur Provinsi Jawa Barat. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor ( Di bawah bimbingan DWI RACHMINA).

Salah satu komoditas hortikultura yang cukup baik perkembangannya adalah tanaman hias. Terjadi peningkatan Produk Domestik Bruto komoditas hortikultura dari tahun 2007 sampai 2009, khususnya untuk komoditas tanaman hias. Adanya peningkatan ini menunjukkan bahwa tanaman hias memegang peranan penting dalam subsektor hortikultura pada khususnya dan sektor pertanian pada umumnya. Perkembangan produksi berbagai tanaman hias di Indonesia mengalami fluktuasi produksi. Selain itu, terdapat variasi produktivitas tanaman hias yang diproduksi di Indonesia. Adanya variasi produksi dan produktivitas menunjukkan terjadinya fluktuasi dalam usaha produksi tanaman hias yang mengindikasikan adanya risiko pada usaha tanaman hias.

Perusahaan Anisa Adenium merupakan salah satu perusahaan florikultura yang sedang berkembang. Perusahaan ini melakukan diversifikasi dalam melakukan kegiatan usahanya yaitu mengusahakan tanaman hias adenium varietas

Arabicum, Obesum dan Taisoco. Setiap varietas memiliki karakteristik yang khas

sehingga tiap varietas adenium memiliki keunggulan dan sumber risiko yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi sumber-sumber risiko yang dihadapi perusahaan Anisa Adenium dalam memproduksi tanaman hias adenium (2) menganalisis usaha diversifikasi yang dilakukan perusahaan Anisa Adenium dalam upaya menurunkan risiko dan (3) menganalisis strategi yang dilakukan untuk mengatasi risiko produksi di perusahaan Anisa Adenium.

Penelitian ini dilakukan di perusahaan Anisa Adenium yang berlokasi di Jl. Damar I Blok A1/7 Bekasi Timur, Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-November 2011. Penelitian ini menggunakan metode analisis risiko yaitu Variance, Standard Deviation, dan Coefficient Variation serta melihat pengaruh diversifikasi untuk menekan risiko.

Sumber-sumber risiko produksi tanaman hias adenium pada perusahaan Anisa Adenium antara lain kondisi cuaca atau iklim, hama dan penyakit, bibit, peralatan dan bangunan, dan tenaga kerja. Berdasarkan analisis risiko pada komoditas tunggal yang diusahakan perusahaan Anisa Adenium diperoleh risiko yang paling tinggi terdapat pada adenium varietas Arabicum dengan nilai

Coefficient Variation 0,367 sedangkan yang paling rendah terdapat pada adenium

varietas Taisoco dengan nilai Coefficient Variation 0,108. Berdasarkan hasil perbandingan risiko pada ketiga varietas adenium yang dilakukan Perusahaan Anisa Adenium disimpulkan bahwa diversifikasi dapat mengurangi risiko yang ada. Dengan adanya diversifikasi maka kegagalan pada salah satu usaha diharapkan bisa dikompensasi dari usaha yang lainnya. Oleh karena itu


(6)

diversifikasi merupakan alternatif yang tepat untuk meminimalkan risiko sekaligus melindungi dari fluktuasi produksi.

Strategi untuk penanganan risiko yang sebaiknya dilakukan oleh perusahaan Anisa Adenium adalah dengan melakukan diversifikasi, dimana nilai

coefficient variation untuk diversifikasi lebih kecil bila dibandingkan komoditi

tunggal. Hal ini mengindikasikan bahwa dengan melakukan diversifikasi maka akan dapat menekan risiko produksi yang terjadi di perusahaan. Diversifikasi yang sebaiknya dilakukan adalah dengan mengusahakan tiga varietas adenium, karena nilai coefficient variation dari kombinasi ketiga varietas lebih kecil dibandingkan dengan komoditi tunggal dan juga kombinasi dua varietas.

Selain diversifikasi, strategi yang diterapkan oleh perusahaan Anisa Adenium berdasarkan sumber-sumber risiko yang ada adalah dengan memperhatikan kondisi cuaca dan iklim yang terjadi sehingga perusahaan dapat mengambil tindakan untuk mengantisipasi kegagalan misalnya penggunaan paranet pada saat musim hujan sehingga kadar air dalam bonggol adenium tetap stabil. Cuaca dan iklim juga mempengaruhi serangan hama dan penyakit yang terjadi pada tanaman hias adenium, untuk itu hal ini harus benar-benar diperhatikan dalam memproduksi tanaman hias adenium. Perusahaan Anisa Adenium juga harus memperhatikan tenaga kerja yang ada, dimana tenaga kerja yang kurang terampil akan mempengaruhi keberhasilan produksi. Salah satu faktor ketidakberhasilan produksi adalah pada teknik perbanyakan, hal ini disebabkan kurang terampilnya tenaga kerja dalam melakukan perbanyakan. Pada saat perbanyakan tanaman harus diperhatikan kecepatan dan ketepatan, serta peralatan yang digunakan harus steril sehingga diperoleh persentase keberhasilan yang maksimal. Untuk itu perusahaan sebaiknya mengalokasikan dana untuk program pelatihan bagi karyawan agar lebih terampil dalam memproduksi adenium.