Citra Partai Keadilan Sejahtera di Pemilu 2014 (Analisis Wacana Pemberitaan Partai Keadilan Sejahtera pada Media Online Detikcom)

CITRA PARTAI KEADILAN SEJAHTERA DI PEMILU 2014
(ANALISIS WACANA PEMBERITAAN PARTAI KEADILAN
SEJAHTERA PADA MEDIA ONLINE DETIKCOM)
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)

Oleh :
Siti Nurhayati
NIM : 1110051100008

KONSENTRASI JURNALISTIK
JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1435 H /2014 M

(ANALISIS WACANA PEMBERITAAN PARTAI KEADILAN
SEJAHTERA PADA MEDIA ONLINE DETIKCOM)
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)

Oleh :
Siti Nurhayati
NIM : 1110051100008

Pembimbing,

Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si
NIP. 1976081220050011005

KONSENTRASI JURNALISTIK
JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1435 H /2014 M

PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi yang berjudul CITRA PARTAI KEADILAN SEJAHTERA DI
PEMILU 2014 (ANALISIS WACANA PEMBERITAAN PARTAI
KEADILAN SEJAHTERA PADA MEDIA ONLINE DETIKCOM) telah
diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 24 September 2014. Skripsi ini telah
diterima sebagai salah satu syarat memperoleh Sarjana Komunikasi Islam
(S.Kom.I) pada Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Ketua Sidang,

Sekertaris Sidang,

Dra. Hj Musfirah Nurlaily, M.A
NIP. 197104122200003201

NIP. 197801142009121002
Anggota
Penguji I

Penguji II

Umi Musyarrofah, M.A
M.Si
NIP. 197108161997032002
196503011999031001

Noor Bekti Negoro,
NIP.

Pembimbing

Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si
NIP. 1976081220050011005

ABSTRAK
Siti Nurhayati
Citra Partai Keadilan Sejahtera di Pemilu 2014 (Analisis Wacana
Pemberitaan Partai Keadilan Sejahtera pada Media Online Detikcom)
Jelang pemilu, berbagai media dihiasi dengan pemberitaan mengenai
partai politik. Pemberitaan tersebut mengandung pesan tertentu yang bertujuan
membangun citra positif. Partai Keadilan Sejahtera memanfaatkan momentum
tersebut dengan merubah slogannya. Peristiwa tersebut turut mendapat perhatian
dari berbagai media, salah satunya Detikcom. Detikcom merupakan salah satu
media online yang menyajikan berita terpopuler. Detikcom menyajikan
pemberitaan tersebut dari sudut padang yang berbeda.
Berdasarkan penjabaran diatas, maka peneliti memunculkan pertanyaan,
yaitu bagaimanakah wacana pemberitaan tentang citra Partai Keadilan Sejahtera
di Detikcom? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
berlandaskan paradigma kritis. Paradigma kritis memandang media sebagai alat
untuk menyebarkan ideologi. Hal tersebut biasanya tergambar melalui
penggunaan bahasa yang digunakan. Teknik analisis yang digunakan pada
penelitian ini ialah analisis wacana Norman Fairclough. Analisis ini mengaitkan
tiga dimensi yaitu analisis teks, discourse practice, dan sociocultural practice.
Teori yang digunakan ialah performa komunikatif. Menurut Pacanowsky
dan O‟Donnell Trujillo, performa merupakan metafora yang menggambarkan
proses simbolik dari pemahaman akan perilaku manusia dalam sebuah organisasi.
Performa komunikatif terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu performa ritual,
performa hasrat, performa sosial, performa politis dan performa enkulturasi.
Hasil penelitian dilapangan, pada tahap teks pemberitaan terkait perubahan
slogan PKS menggambarkan bagaimana PKS mempersiapkan pemilu 2014.
Representasi yang dihadirkan ialah Detikcom mengambil sudut pandang
persiapan Partai Keadilan Sejahtera dalam menghadapi pemilu 2014. Perubahan
slogan dan meningkatkan kesolidan kader merupakan hal yang ditampilkan dalam
pemberitaan ini. Detikcom hanya ingin menampilkan sisi lain dari Partai Keadilan
Sejahtera yang tengah dirundung prahara. Hal tersebut dapat terlihat dari
penggunaan gaya bahasa.
Pemberitaan yang berkenaan dengan perubahan slogan Partai Keadilan
Sejahtera dilatar belakangi oleh kasus korupsi import daging sapi yang menyeret
Luthfi Hasan Ishaaq. Perubahan slogan dan rutinitas yang dilakukan oleh PKS
membetuk kader loyalis yang solid. Usaha-usaha tersebut dirasa sebagai bentuk
pembentukan citra positif di mata publik. Pada tahap sociocultural, berita ini
dikategorikan pada level situasional. Detikcom membuat berita tersebut
berdasarkan keadaan situasi menjelang pemilu 2014.
Kata kunci : PKS, Detikcom, Citra, Performa Komunikatif, Analisis Wacana
Norman Fairclough.

i

KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas
berkat rahmat dan kuasa-Nya peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat
dan salam terlimpahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, serta keluarga,
sahabat dan para pengikutnya.
Sebagai manusia biasa, peneliti menyadari bahwa dalam penulisan skripsi
ini masih terdapat kekurangan dan kelemahan. Peneliti yakin skripsi ini tidak akan
berjalan lancar tanpa adanya bantuan dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh
karena itu peneliti mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr. H. Arif Subhan, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan
Ilmu Komunikasi, Dr. Suparto, M.Ed, Ph.D selaku Wakil Dekan I
Bidang Akademik. Drs. Jumroni, M.Si selaku Wakil Dekan II Bidang
Administrasi Umum, Dr. H. Sunandar Ibnu Nur, M.Ag selaku Wakil
Dekan III Bidang Kemahasiswaan.
2. Ketua Konsentrasi Jurnalistik, Kholis Ridho, M.Si beserta Sekertaris
Jurusan Konsentrasi Jurnalistik Dra. Hj. Musfirah Nurlaily, M.A yang
selalu berkenan membantu peneliti.
3. Orang Tua, Bapak Sademi dan Ibu Ngadirah yang selalu menyertakan
nama anak-anaknya di setiap doanya, memberikan wejangan mengenai
hidup yang luar biasa dengan penuh kasih sayang.
4. Kakak ku, Arif Setiawan yang selalu memberi motivasi dan memberi
semangat kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
5. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si selaku dosen pembimbing dan inspirator
bagi peneliti untuk terus belajar. Terima kasih atas waktu, tenaga serta

ii

ilmu yang telah Bapak berikan kepada peneliti. Dengan keramahan dan
kesabaran Bapak, memberikan kemudahan dan dorongan kepada
peneliti dalam proses penyusunan skripsi dari awal hingga akhir.
6.

Deden Mauli Darajat, M.Sc selaku dosen dan kakak senior yang telah
meluangkan waktu untuk memberi kontribusi dalam menyumbangkan
ide selama proses penelitian.

7. Rubiyanah, M.A dan Ade Rina Farida, M.Si, yang selalu berkenan
membantu dan memberi motivasi terhadap peneliti.
8. Kawan-kawan, Ambar Widati, Elsa Rachmawati, Wuri Aryani, Irni
Febriani, Afini Nur Fitria dan Triana Afrianti yang senantiasa
membantu dan menyemangati peneliti hingga akhir. Terlebih kepada
Hariswati Rachmadani Putri, kawan perjuangan, bertukar pikiran
dalam proses penyusunan skripsi.
9. Lita Nuroniah, Sartika Oktaviani dan Inna Normaningsih yang selalu
menyemangati dan mendukung peneliti.
10. Teman-teman Jurnalistik angkatan 2010 yang telah membantu dan
menemani saya, khususnya kelas Jurnalistik A (Najua) yang
memberikan suasana keakraban selama empat tahun ini.
11. Nanang Supriyatna, selaku HR Detikcom yang membantu peneliti
memberikan data-data yang diperlukan dalam proses penelitian.
12. Elvan Dany Sutrisno (Redaktur Pelaksana Detikcom), Erwin Dariyanto
(Editor Detikcom) dan Hardani Triyoga (Wartawan Detikcom) yang
bersedia meluangkan waktunya untuk menjawab beberapa pertanyaan
peneliti.

iii

13. Dedi Supriadi, selaku Sekertaris Bidang Humas DPP PKS, yang
bersedia

meluangkan

waktunya

untuk

menjawab

pertanyaan-

pertanyaan yang diajukan oleh peneliti.
14. Farida Nur „Aini, Desy Dwi Setiawati, Irwan Bengkulah dan
Rokhmatunnisa Febriani yang bersedia memberikan pendapatnya
dalam proses penelitian.
15. Seluruh dosen dan staf akademik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi atas ilmu dan bantuannya selama ini.
16. Segenap staf Perpustakaan Utama UIN Jakarta dan Perpustakaan Ilmu
Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
17. Semua pihak yang membantu dalam proses penyusunan skripsi ini
hingga akhir yang tak disebutkan, semoga Allah senantiasa membalas
kebaikan kalian semua, Amin.
Akhir kata, penelitian ini dirasa masih jauh dari kata sempurna, namun peneliti
berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Jakarta, 24 September 2014

Peneliti

iv

DAFTAR ISI
ABSTRAK………………………………………………………………………...i
KATA PENGANTAR………………………………………………………........ii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………...v
DAFTAR TABEL………………………………………………………………vii
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………...viii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah……………………………………………..…….1
B. Batasan dan Rumusan Masalah …………………………………………...6
1. Batasan Masalah ………………………………………………………6
2. Rumusan Masalah ……………………………………………..…….. 6
C. Tujuan Penelitian.……………………………………………………....... 7
D. Signifikasi Penelitian…………………………………..…………………. 7
E. Tinjauan Pustaka…...…………………………………………...………... 7
F. Metodologi Penelitian……………………………………………………. 8
1. Paradigma Penelitian………………………………………………8
2. Pendekatan Penelitian…………………………………………… 10
3. Jenis Penelitian…………………………………………………...11
4. Subjek dan Objek Penelitian…………………………………..… 12
5. Sumber Data…………………………………………………….. 11
6. Waktu dan Tempat Penelitian………………………………….... 12
7. Teknik Pengumpulan Data………………………………………. 12
8. Teknik Analisis Data……………………………………………..14
G. Sistematika Penulisan……………………………..……………………...16
BAB II LANDASAN TEORI
A. Teori Performa Komunikatif…………………………………………18
B. Konseptualisasi Hiperealitas………………………………………… 21
C. Konseptualisasi Citra………………………………………………... 24
D. Analisis Wacana……………………………………………………...26
1. Analisis Wacana Kritis…………………………………………...26

v

2. Analisis Wacana Norman Fairclough…………………………... .28
E. Media Online……………………………………………………………..31
F. Konseptualisasi Berita……………………………………………………33
1. Definisi Berita……………………………………………………….. 33
2. Jenis-jenis Berita…………………………………………………….. 34
3. Nilai-nilai Sebuah Berita……………………………………………..36
G. Konseptualisasi Pemilu…………………………………………………. .38
BAB III GAMBARAN UMUM
A.
B.
C.
D.

Sejarah Detikcom………………………………………………………... 42
Perkembangan Detikcom………………………………………………... 44
Visi dan Misi Detikcom………………………………………………….49
Struktur Redaksional Detikcom………………………………………….50

BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS
A. Analisis Teks………………………………………………………… 53
B. Analisis Discourse Practice…………………………………………. 82
1. Analisis Produksi Teks………………………………………….. 82
2. Analisis Konsumsi Teks……………………………………….. 98
C. Sociocultural Practice……………………………………………….105
D. Interpretasi Penelitian……………………………………………….109

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan………………………………………………………… 114
B. Saran……………………………………………………………….. 116
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

vi

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Hasil Survei Tingkat Elektabilitas Partai Keadilan Sejahtera Di Pemilu
2014……………………………………………………………………………… 3
Tabel 2 Kerangka Analisis………………………………………………………. 29
Tabel 3 Analisis Teks Berita yang berjudul “Hilangkan Kata 'Bersih', PKS Ganti
Slogan Jadi 'Cinta, Kerja, & Harmoni' ”, edisi Jumat, 19 April 2013 19:03
WIB…………………………………………………………………………........55
Tabel 4 Analisis Teks Berita yang Berjudul, “Berganti Nama, Partai Dakwah
Menuai Berkah”, edisi Selasa, 23 Juli 2013 16:23 WIB…………………………59
Tabel 5 Analisis Teks Berita yang Berjudul, “Geliat Gerakan Takjil Nasional
Hingga Bank Sampah”, edisi Selasa, 23 Juli 2013 15:45 WIB…………………..63
Tabel 6 Analisis Teks Berita yang Berjudul, “Ogah Dinilai Melorot Beri Bantuan
Sosial”, edisi Selasa, 23 Juli 2013 14:21 WIB………………………………….. 67
Tabel 7 Analisis Teks Berita yang Berjudul, “Dana Partai Pantungan, Atau dari
Asing?”, edisi Selasa, 23 Juli 2013 13:30 WIB…………………………………. 71
Tabel 8 Analisis Teks Berita yang Berjudul, “Jalur Pengajian Tetap Jadi Andalan
Rekrutmen Kader”, edisi Selasa, 23 Juli 2013 12:41 WIB…………………........ 75
Tabel 9 Analisis Teks Berita yang Berjudul, “Habis Soeharto Lahirlah Partai
Keadilan”, edisi Selasa, 23 Juli 2013 12:10 WIB……………………………….. 79

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Kerangka Analisis Wacana Tiga Dimensi Norman Fairclough……… 15
Gambar 2 Alur Pemberitaan di Detikcom hingga ke Khalayak………………. 94

viii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Media massa merupakan salah satu kebutuhan yang penting bagi kehidupan
masyarakat. Di abad informasi ini, media massa telah dianggap sebagai tokoh
utama bagi masyarakat untuk memperoleh informasi. Terlebih, sejak angin segar
kebebasan pers di era reformasi hadir. Media tak hanya dianggap sebagai agen
sosialisasi pendidikan saja, melainkan sebagai agen perubahan dalam segala hal.
Sehingga tak jarang media massa merupakan salah satu agen penting bagi
peradaban masyarakat saat ini.
Bila dilihat dari fungsinya, media massa memiliki empat fungsi, pertama,
menghimpun dan menyebarluaskan informasi bagi khalayak. Kedua, memberikan
pendidikan bagi khalayak. Ketiga, sebagai media hiburan bagi khalayak. Keempat,
sebagai alat kontrol sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. 1Namun
dalam perkembangannya, media massa saat ini telah bertransformasi fungsi,
menjadi salah satu agen pembentuk citra. Hal tersebut tak jarang terlihat saat
jelang pemilu. Saat berkampanye, partai politik bersaing untuk menarik massa
melalui media. Sehingga jelang pemilu, sebagian media gencar memberitakan
partai politik peserta pemilu.
Berdasarkan fenomena tersebut, Alo Liliweri mengasumsikan bahwa partai
politik yang sukses adalah jika ia berhasil membangun partisipan politik rakyat,
dan dibangun berdasarkan hubungan atau menggunakan semua “indera” media

1

Zaenuddin, HM. The Journalist, (Jakarta: Simbiosa Rekatama Media, 2011), h. 9-10

1

2

massa.2 Dengan kata lain, sebuah partai politik akan dapat di kenal dan menarik
simpati masyarakat dengan jalan menguasai media massa yang ada.
Maraknya kasus korupsi yang menimpa petinggi partai membuat kepercayaan
masyarakat kian lama semakin menurun terhadap partai politik. Oleh karena itu
sebagai jalan pintasnya, partai politik mempergunakan media sebagai agen
pembentuk citra agar menaikan tingkat elektabilitas di masyarakat. Selain itu
pembentukan citra ini diharapkan dapat menutupi tindakan yang dinilai negatif,
seperti korupsi di massa lampau. Sehingga dapat membentuk opini publik yang
berbeda. Fenomena tersebut dapat terlihat saat jelang pemilu.
Media massa memiliki kemampuan untuk membentuk opini publik.
Kemampuan tersebut lantas dimanfaatkan oleh beberapa kalangan. Pada sebagian
besar kasus yang menimpa partai politik di tanah air saat jelang pemilu, seorang
komunikator politik (pejabat politik) menggunakan media sebagai alat untuk
menggiring opini publik dengan hal-hal positif.
Permainan bahasa yang digunakan oleh media dalam mengungkapkan sebuah
peristiwa merupakan hal terpenting dalam membentuk citra partai. Bahasa tak
hanya sekedar sebagai alat untuk menyajikan sebuah gagasan melainkan
membentuk sebuah gagasan yang diinginkan oleh komunikator. Terlebih bahasa
menguasai persepsi atas segala sesuatu, dengan demikian mempengaruhi apa
yanag dilihat orang maupun bagaimana orang mengonseptualisasikan realitas.3
Kasus korupsi yang menimpa Luthfi Hasan Ishaq, Mantan Presiden Partai
Keadilan Sejahtera ini memberikan efek terhadap tingkat elektabilitas partai di

2

Alo Liliweri, Strategi Komunikasi Masyarakat, (Yogyakarta: Lkis Yogyakarta,2010) , h.

3

Dan Nimmo, Komunikasi Politik, (Bandung :PT Remaja Rosdakarya,2011), h. 87

26

3

pemilu 2014. Hal ini dibuktikan dengan beberapa hasil survei yang menyatakan
elektabilitas Partai Keadilan Sejahtera berikut ini:
Tabel 1
Hasil Survei Tingkat Elektabilitas Partai Keadilan Sejahtera Di
Pemilu 2014 4

No

Lembaga Survei

Presentase

Peringkat

1.

Lembaga Survei Nasional

3,8

10

2.

Lembaga Survei Indonesia

4,2

7

3.

Pol Tracking Institute

2,9

8

Melihat beberapa hasil survei di atas, dapat dikatakan bahwa tingkat elektabilitas
Partai Keadilan Sejahtera di pemilu 2014 mengalami penurunan. Bahkan tingkat
elektabilitas partai ini tak lebih dari 5,0 % , sehingga sulit rasanya mendapat
banyak kursi di parlemen. Oleh karena itu, para petinggi partai yang berideologi
Islam tersebut, mencari jalan untuk membentuk peta kekuatan jelang pemilu 2014.
Salah satu caranya ialah mengubah slogan yang awalnya “bersih, peduli dan
profesional” menjadi “cinta, kerja dan harmoni”.
Perubahan slogan ini dilakukan di Semarang, Jawa Tengah. Perubahan slogan
ini merupakan salah satu cara yang dilakukan Partai Keadilan Sejahtera dalam
menghadapi pemilu 2014 mendatang. Dalam orasinya, Anis Matta, Presiden
Partai Keadilan Sejahtera meyakini dengan slogan tersebut Partai Keadilan

4

16.00 WIB

lsn07.com, lsi.or.id, poltracking.com diakses pada tanggal 1 Maret 2014, pukul

4

Sejahtera akan masuk dalam tiga besar. Hal ini dengan cara menghidupkan tiga
unsur tersebut dalam ranah politik. Partai Keadilan Sejahtera ingin mengubah
paradigma

politik

yang menakutkan

menjadi

menyenangkan

dihadapan

masyarakat.5
Kata "cinta" adalah salah satu kata paling populer di dalam dunia seni dan
kehidupan nyata yang identik dengan keindahan dan pengorbanan. Kata cinta
akan berimplikasi positif pada kata kedua yaitu kerja. Atas nama cinta seseorang
bisa memberikan sebuah totalitas dalam bekerja. Karena cinta pula akan lahir
sebuah harmoni dari keberagaman Indonesia baik suku, ras atau berbagai
perbedaan Ideologi dan pandangan.6
Perubahan slogan ini merupakan salah satu usaha yang dilakukan oleh Partai
Keadilan Sejahtera dalam menawarkan salah satu keadaan bersahabat dalam
berpolitik. Hal ini diharapkan dapat menarik simpatik masyarakat. Selain itu,
perubahan slogan ini pun diharapkan dapat mengubah pandangan masyarakat
mengenai citra partai usai prahara diawal tahun 2013 lalu. Sehingga pada pemilu
2014 mendatang, Partai Keadilan Sejahtera dapat meraup suara sebanyakbanyaknya.
Pemberitaan tersebut tak luput dari sorotan media, mulai dari media cetak,
elektronik maupun online. Kemajuan teknologi yang semakin pesat saat ini,
membuat masyarakat tak hanya sekedar membutuhkan informasi yang akurat dan
menarik saja. Akses kecepatan dan kepraktisan, merupakan hal penting bagi
masyarakat di abad informasi saat ini dalam memperoleh sebuah informasi.
Angling Adhitya Purbaya, “Hilangkan Kata 'Bersih', PKS Ganti Slogan Jadi 'Cinta,
Kerja, & Harmoni‟,” Detikcom, Jumat, 19April 2013
6
http://www.pkspiyungan.org/2013/04/menakar-efektifitas-tagline-baru-pks-by.html
diakses pada tanggal 26/4/2014 jam 16.00
5

5

Dengan demikian dapat dikatakan media online merupakan salah satu media yang
paling sering digunakan oleh masyarakat.
Peneliti tertarik untuk meneliti media online Detikcom sebagai subjek
penelitian karena Detikcom merupakan salah satu media online yang berisikan
berita-berita terpolpuler yang dikemas secara ringan, sehingga segmentasi
pembacanya dari kalangan manapun. Selain itu tinggat pembaca media ini pun
cukup signifikan. Hal ini dibuktikan dari hasil survei alexa.com, salah satu
website yang meneliti jumlah pengunjung website di seluruh dunia.
Berdasarkan tingkat popularitasnya pada tahun 2014, Detikcom menempati
peringkat 9 di Indonesia, sedangkan di dunia mendapat peringkat 328. Untuk
perolehan pengunjung pada tahun ini, portal ini memperoleh 90,7% pengunjung.
Jumlah pegunjung terbesar dari portal Detikcom berasal dari kanal news.detik.com
dengan persentase 45.84%, sport.detik.com dengan persentase 21.13% dan
hot.detik.com dengan persentase 18.24%.7
Selain hal tersebut peneliti tertarik mengambil topik ini karena dalam
pemberitaan mengenai perubahan slogan Partai Keadilan Sejahtera, Detikcom
memilih untuk memberitakan melalui angel yang berbeda dari media lainnya.
Dalam hal ini, Detikcom menagitkan pemberitaan tersebut dengan metamorfosis
yang terjadi pada Partai Keadilan Sejahtera. Metamorfosis di sini ialah mengulas
mengenai rekam jejak Partai Keadilan Sejahtera.
Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini mencoba menggali motif dibalik
pemberitaan citra Partai Keadilan Sejahtera jelang pemilu 2014 dengan
melakukan analisis wacana terhadap pemberitaan yang berkaitan dengan

7

www.alexa.com, diakses pada tanggal 11 Maret 2014, pada pukul 23.00

6

perubahan slogan partai. Berkaitan dengan hal tersebut, peneliti mengambil judul
“Citra Partai Keadilan Sejahtera di Pemilu 2014 : Analisis Wacana terhadap
Pemberitaan Partai Keadilan Sejahtera pada Media Online Detikcom.”
B. Batasan dan Rumusan Masalah
1. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti membatasi
penelitian ini pada pemberitaan di Detikcom edisi 19 April 2013 dan 23 Juli
2013, dengan judul :
a. Hilangkan Kata 'Bersih', PKS Ganti Slogan Jadi 'Cinta, Kerja, & Harmoni'.
b. Berganti Nama, Partai Dakwah Menuai Berkah.
c. Geliat Gerakan Takjil Nasional Hingga Bank Sampah.
d. Ogah Dinilai Melorot Beri Bantuan Sosial.
e. Dana Partai Pantungan, Atau dari Asing?
f. Jalur Pengajian Tetap Jadi Andalan Rekrutmen Kader.
g. Habis Soeharto Lahirlah Partai Keadilan.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah yang telah disebutkan di atas, maka rumusan
masalah pada penelitian ini, adalah :
Bagaimanakah wacana pemberitaan Detikcom tentang Partai Keadilan
Sejahtera di Detikcom?

7

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui bagaimana Detikcom
mewacanakan pemberitaaan citra Partai Keadilan Sejahtera terkait dengan
pelaksanaan pemilu 2014.

D. Signifikasi Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah :
1. Akademis
Penelitian

ini

diharapkan

dapat

memberikan

wawasan,

manfaat,

pengetahuan dan pemahaman dalam bidang komunikasi, khususnya
jurnalistik. Selain itu, penelitian ini juga dapat memberi pendalaman
mengenai bagaimana sebuah peristiwa diwacanakan oleh media.
2. Praktis
Selain menambah dan membuka cakrawala keilmuan, penelitian ini
diharapkan dapat memberi kontribusi secara praktik, khususnya dalam
membongkar sisi lain media berdasarkan wacana sebuah peristiwa.

E. Tinjauan Pustaka
Untuk menentukan judul skripsi ini, peneliti melakukan tinjauan pustaka di
Perpustakaan Utama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Berdasarkan tinjauan tersebut, peneliti menemukan beberapa penelitian yang
memliki kesamaan, seperti penelitian, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, yaitu :
1. “Analisis Wacana Teun Van Djik Berita Tentang Calon Presiden RI 2009
Partai Keadilan Sejahtera di Harian Republika” yang ditulis oleh

8

Mochamad Arifin. Persamaan penelitian ini adalah penggunaan metode
penelitian, yakni analisis wacana kritis. Selain itu terdapat persamaan pada
objek penelitian yakni terkait dengan Partai Keadilan Sejahtera. Perbedaan
penelitian ini adalah penggunaan model metode penelitian dan subjek
penelitian.
2. “Relasi Gerakan Dakwah Lembaga Dakwah Kampus Dengan Partai
Keadilan Sejahtera”, yang ditulis oleh Rulie Syahdan Syahari pada tahun
2006. Persamaan penelitian terletak pada berkaitan dengan Partai Keadilan
Sejahtera. Perbedaan penelitian ini terletak pada permasalahan yang
diangkat, yakni menerangkan persiapan Partai Keadilan Sejahtera Jelang
pemilu 2014.
3. “Tipologi Iklan Politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada Pemilu 2009
di Televisi”, yang ditulis oleh Farah Ramadhan pada tahun 2011.
Persamaan penelitian ini ialah terletak pada penggunaan objek penelitian
yaitu Partai Keadilan Sejahtera. Sementara perbedaan penelitian ini
terletak pada penggunaan subjek penelitian yaitu Detikcom dan penelitian
ini menjelaskan bagaimana Detikcom merepresentasikan citra Partai
Keadilan Sejahtera melalui pemberitaan terkait perubahan slogan partai.

F. Metodologi Penelitian
1. Paradigma Penelitian
Paradigma yang digunakan pada penelitian ini adalah kritis. Paradigma ini
menyatakan bahwa media adalah sebuah alat yang digunakan oleh kelompok
dominan untuk memarjinalkan kelompok yang tidak dominan. Pada

9

paradigma ini yang menjadi pusat perhatian adalah kelompok dominan yang
memegang kuasa media.
Mengutip Fairclough, Wodak, dan Van Djik karakteristik wacana kritis
terbagi menjadi 8 :
a. Tindakan
Pada tahap ini, wacana dipahami sebagai sebuah tindakan, yang
diasosiasikan sebagai bentuk interaksi. Sehingga yang perlu dipahami
ialah

wacana

dipandang

sebagai

sesuatu

yang

bertujuan

mempengaruhi, mendebatkan dan bereaksi. Selain itu, wacana
dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar.
b. Konteks
Pada bagian ini wacana pun memeriksa konteks komunikasi. Konteks
disini ialah memasukkan semua situasi dan hal yang berada di luar teks
dan mempengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa,
situasi di mana teks tersebut diproduksi.
c. Historis
Pada bagian ini aspek historis dinyatakan sebagai suatu bentuk yang
diperlukan untuk mengetahui bagaimana kondisi keadaan (sosial
politik) dimana sebuah wacana dibentuk.
d. Kekuasaan
Konsep kekuasaan merupakan konsep yang berhubungan dengan
kontrol dibalik terbentuknya sebuah wacana. Kontrol disini tidak
hanya berupa fisik melainkan psikis.

8

Eriyanto, Analisis Wacana, (Yogyakarta: LKIS Group, 2011), h. 8-13

10

e. Ideologi
Wacana dalam pendekatan ini dipandang sebagai medium persuasi
oleh sebuah kelompok yang dominan kepada khalayak, sehingga pesan
tersebut dinilai absah dan benar.
Tradisi kritis memandang media sebagai alat yang digunakan untuk
menyebarkan ideologi yang dominan. Dengan kata lain, media merupakan
pemeran utama dalam memperjuangkan sebuah ideologi.9 Sehingga dapat
dikatakan paradigma kritis melihat bahwa media bukanlah saluran yang bebas
dan netral.

2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif. Pendekatan ini memusatkan
perhatian pada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan sebuah
makna dari gejala-gejala sosial di dalam masyarakat. Pendekatan ini diarahkan
pada latar dan individu tersebut secara utuh. Jadi dalam hal ini tidak boleh
mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis,
tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu kebutuhan.10
Bila dilihat dari tujuannya, pendekatan kualitatif ini menuntut peneliti
untuk dapat mencari tahu dan mengembangkan realitas yang terjadi, sehingga
dapat memperoleh sebuah teori. Pada pendekatan kualitatif bertujuan untuk

9

Littlejohn, Stepen dan Karen Foss, Teori Komunikasi (Theories of Human
Communication), (Jakarta: Salemba Humanika,2009), h. 432-433
10
Lexy J.Moelong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Remaja Rosdakarya,
1997), h. 3

11

menemukan pola hubungan yang bersifat interaktif; mengembangkan realitas
yang kompleks; memperoleh pemahaman makna; menemukan teori.11

3. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Metode
deskriptif adalah sebuah metode yang bertujuan untuk melukiskan secara
sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara
faktual dan cermat.12
Menurut Iqbal Hasan dalam bukunya yang berjudul Pokok-pokok Materi
Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, metode deskriptif memiliki beberapa
tujuan, diantaranya 13:
a. Mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang
ada.
b. Mengidetifikasi masalah atau memeriksa kondisi dan praktek-praktek yang
berlaku.
c. Membuat perbandingan atau evaluasi.
Dengan kata lain metode penelitian ini ialah sebuah cara peneliti dalam
melukiskan sebuah fakta secara sistematis. Pada hakikatnya, metode ini
mencari teori bukanlah menguji teori. Sehingga metode ini lebih
menitikberatkan pada proses observasi di lapangan. Dalam hal ini, peneliti
berfungsi sebagai pengamat sebuah gejala yang ada di lapangan. Selain hal itu,
peneliti mencatat dan melukiskan hasil temuan dilapangan secara sistematis.
11

Andi Prastowo, Memahami Metode-Metode Penelitian, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,
2011), h. 52
12
Jalaluddin Rakhmat, Metode Penelitian Komunikasi, (Bandung : PT Remaja
Rosdakarya, 2005), h. 22
13
Iqbal Hasan, Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, (Jakarta : Ghalia Indonesia,
2002), h. 22

12

4. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah media online Detikcom. Sementara objek
penelitian adalah pemberitaan mengenai citra Partai Keadilan Sejahtera terkait
perubahan slogan partai.

5. Sumber Data
Sumber data yang diperoleh dari penelitian ini berdasarkan :
a. Data primer
Data primer pada penelitian ini bersumber dari buku-buku teori
mengenai pokok bahasan penelitian berita perubahan slogan dan
metamorfosis Partai Keadilan Sejahtera pada media online Detikcom.
b. Data sekunder
Data sekunder adalah data pendukung lainnya yang diperoleh tidak
secara langsung. Data sekunder dapat berupa dokumen, arsip maupun
laporan-laporan tertentu yang dapat oleh peneliti dari berbagai sumber.

6. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di sebuah media, yaitu Detikcom yang beralamat di
Gedung Aldevco Octagon Building, Lantai 2, Jalan Warung Buncit Raya No
75, Jakarta Selatan 12740, telpon (021) 794 177 (Hunting) Fax. (021) 794
4472. Kemudian penelitian ini dilakukan dalam kurun waktu tiga bulan.

7. Teknik Pengumpulan Data
Dalam Penelitian ini, teknik pengumpulan data yang di gunakan oleh
peneliti adalah :

13

a. Observasi Teks
Metode observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk
menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan. 14 Pada
bagian ini, peneliti melakukan observasi teks untuk mengamati secara
langsung terhadap teks berita tentang pemberitaan citra Partai Keadilan
Sejahtera (PKS) terkait perubahan slogan partai pada media online
Detikcom.
b. Dokumentasi
Peneliti mencari data mengenai subjek penelitian, yaitu media online
Detikcom yang memberitakan citra Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
terkait perubahan slogan . Selain itu, peneliti mempergunakan cacatan,
transkrip dan buku dalam pengumpulan data.
c. Wawancara
Wawancara adalah suatu cara data yang digunakan untuk memperoleh
informasi langsung dari sumbernya15. Wawancara ini ditujukan kepada
pihak-pihak yang terlibat dalam proses pencarian berita hingga berita
tersebut dipublikasikan. Peneliti melakukan wawancara dengan Elvan
Dany Sutrisno selaku Redaktur Pelaksana Detikcom, Erwin Daryanto
selaku Editor Detikcom, Hardani Triyoga selaku wartawan Detikcom.
Dalam hal ini peneliti mengajukan beberapa pertanyaan kepada
narasumber terkait proses pemberitaan, mulai dari proses pemilihan tema,
peliputan hingga publikasi kepada khalayak. Selain hal itu, peneliti pun

14

Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif, (Jakarta : Kencana, 2010), h. 115
Rachmat Kritantono, Teknik Praktis Riset Komunikassi : Disertai Contoh Praktis Riset
Media, Public Relatition , Advertising, Organisasi, Komunikasi Pemasaran, (Jakarta:Kencana,
2007), h. 96
15

14

menanyakan mengenai representasi dari perubahan slogan Partai Keadilan
Sejahtera. Dalam hal ini, peneliti tidak hanya berpedoman pada
sistematika pertanyaan yang disediakan, sehingga narasumber dapat
menjawab dengan terbuka.

8. Teknik Analisis Data
Setelah mengumpulkan data yang dibutuhkan, maka peneliti akan
melanjutkan pada tahap analisa data guna mengetahuai jawaban dari rumusan
masalah. Dengan menggunakan konsep Norman Fairclough peneliti mencoba
melihat bahasa sebagai praktik kekuasaan. Hal tersebut berkaiatan dengan
pemberitaan citra Partai Keadilan Sejartera (PKS) terkait dengan perubahan
slogan partai yang ditampilkan oleh media online Detikcom.
Analisis wacana model Fairclough merupakan sebuah metode analisis
yang mencakup linguistik deskripsi pada bahasa teks, interpretasi hubungan
antara produksi dan teks, eksplanaasi, hubungan antara teks dengan proses
sosial. Ketiganya saling berkaitan dan membentuk sebuah makna dibaliknya.
Analisis wacana Norman Fairclough merupakan sebuah model analisis
yang berusaha mengkombinasikan antara tekstual dengan konteks masyarakat
yang lebih luas (sosial budaya). Sehingga dalam hal ini yang menjadi titik
perhatiannya ialah melihat bahasa dari praktik kekuasaan.16 Pada konsep ini,
Fairclough membagi analisis wacana menjadi tiga dimensi. Dikatakan analisis
wacana tiga dimensi karena analisis ini terdiri dari teks, discourse practice dan
sosciocultural practice.17

16
17

Eriyanto, Analisis Wacana, h. 285
Eriyanto, Analisis Wacana, h. 286

15

Gambar 1
Kerangka Analisis Wacana Tiga Dimensi Fairclough 18

Pendeskripsian/Mikro
(Analisis Teks)
(APA)

Teks
Proses Penghasilan
Proses Penafsiran

Interpretasi/Meso
(Analisis Produksi)
(BAGAIMANA)
Penafsian/Makro
(Analisis Sosial)
(KENAPA)

Pada tahap teks (mikro), sebuah teks dianalisis secara linguistik. Hal ini terkait
dengan penggunaan diksi hingga koherensi antar kalimat. Tahap ini biasanya
bertujuan untuk melihat bagaimana sebuah gagasan dalam teks yang merujuk
pada muatan sebuah ideologi.
Tahap discourse practice (interpretasi/ meso), sebuah pemberitaan yang
dihubungkan berdasarkan proses produksi dan konsumsi teks.19 Dalam hal
tersebut terbentuknya sebuah wacana tak terlepas dari peran orang-orang yang
berdiri dibelakang sebuah institusi media. Serta kebijakan redaksional.
Tahap sosciocultural practice (makro), sebuah dimensi yang berkaitan dengan
konteks di luar teks. Hal tersebut berkaitan pada faktor sosial, budaya, politik,
ideologi atau ekonomi yang melingkupi media tersebut. Sociocultural practice

18

Fairclough, Norman,Critical Discourse Analysis: The Critical Study of Language,
(United State:Longman Publishing, 1995), h. 98
19
Eriyanto, Analisis Wacana, h. 287

16

menggambarkan

bagaimana

kekuatan

yang

ada

dapat

memaknai

dan

menyebarkan ideologi kepada masyarakat.20
Penulisan dalam penelitian ini, peneliti mengacu pada buku pedoman
penulisan karya ilmiah (skripsi, tesis, dan disertasi) yang diterbitkan oleh CeQDA
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2007.
G. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan terarah maka sistematika
penulisan terdiri dari lima bab dan masing-masing bab terdiri dari sub bab dengan
penyusunan sebagai berikut :
BAB I

PENDAHULUAN
Pada bab ini membahas mengenai latar belakang masalah, batasan
dan rumusan masalah, tujuan penelitian, signifikasi penelitian,
tinjauan

pustaka,

metodologi

penelitian,

serta

sistematika

penulisan.
BAB II

LANDASAN TEORI
Pada bab ini membahas mengenai teori performa komunikatif,
konseptualisasi hiperealitas, konseptualisasi citra, analisis wacana,
media online, konseptualisasi pemberitaan dan konseptualisasi
pemilu.

20

Eriyanto, Analisis Wacana, h. 321

17

BAB III

GAMBARAN UMUM
Pada bab ini berisikan mengenai profile dari media online
Detikcom baik itu sejarah Detikcom, perkembangan Detikcom, visi
dan misi Detikcom, struktur organisasi dan struktur redaksional.

BAB IV

TEMUAN DAN ANALISIS LAPANGAN
Pada bab ini menerangkan analisa peneliti meliputi : analisa teks,
analisa

discourse

practice,

sociocultural

practice

dalam

pemberitaan terkait dengan perubahan slogan dan metamorfosis
Partai Keadilan Sejahtera pada media online Detikcom dan
interpretasi penelitian yang dihubungkan dengan argumentasi serta
teori-teori yang terdapat pada bab dua.
BAB V

PENUTUP
Pada bab ini, peneliti memberikan kesimpulan terhadap apa yang
telah diteliti dan juga memberikan saran-saran terhadap masalah
yang diangkat.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Teori Performa Komunikatif
Setiap orang yang hidup berorganisasi tentunya memiliki sebuah ikatan yang
kuat baik antara setiap anggota maupun dengan organisasi itu sendiri. Penanaman
nilai-nilai dan moral yang ditanamkan oleh sebuah organisasi memberikan
pengaruh yang kuat pada diri seseorang. Sehingga tak jarang dari sebuah
organisasi tersebut menciptakan budaya tersendiri bagi para anggotanya.
Untuk memahami kehidupan organisasi, Michael E. Pacanowsky dan Nick
O‟Donnell-Trujillo mengonseptualisaikan melalui teori budaya organisasi. Dalam
hal ini, Pacanowsky dan Trujillo menyatakan bahwa budaya bukanlah hal-hal
yang mengacu pada latar belakang individu (ras, etnis), melainkan sebuah cara
hidup dalam berorganisasi. Hal ini berkaitan dengan psikologis, emosional, sikap,
seluruh simbol (tindakan, rutinitas, percakapan) individu dalam organisasi.1
Budaya organisasi terbentuk oleh adanya interaksi atau bentuk komunikasi
yang diciptakan oleh setiap individu didalamnya. Sehingga membentuk sebuah
pola yang nyata yang berasal dari beragam individu. Melalui pola atau jaringjaring tersebut, terbentuklah sebuah ikatan antara sesama anggota organisasi. Hal
ini dinyatakan oleh Pacanowsky dan Trujillo yang mengadopsi pemikiran dari
Clifford Geertz, menyatakan bahwa jaring-jaring budaya organisasi tidak muncul
begitu saja melainkan dibangun melalui kegiatan komunikasi. Setiap individu

1

Morissan,Teori Komunikasi Organisasi, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2009), h. 101

18

19

yang heterogen didalamnya memiliki peran yang nyata dalam menyumbangkan
sebuah ide guna membentuk sebuah makna bersama.2
Untuk melihat jaring-jaring yang dibentuk oleh individu dalam sebuah
organisasi, hal yang perlu diperhatikan yaitu performa komunikatif. Menurut
Pacanowsky dan O‟Donnell Trujillo, performa merupakan metafora yang
menggambarkan proses simbolik dari pemahaman akan perilaku manusia dalam
sebuah organisasi. Aspek citra dan agenda kerja merupakan hal yang tak dapat
dipisahkan dari performa.3
Dalam penggunaannya, performa komunikatif terbagi menjadi beberapa poin,
diantaranya 4 :
1. Performa Ritual
Sebuah performa komunikasi yang terjadi secara teratur dan terjadi berulang
di sebuah organisasi. Performa ritual sendiri terbagi atas empat jenis, yaitu :
Pertama, ritual personal yakni mencakup semua hal yang yang dilakukan
seseorang secara rutin. Kedua, ritual tugas yakni perilaku rutin yang dikaitkan
dengan pekerjaan seseorang untuk membantu menyelesaikan tugas. Ketiga,
ritual

sosial

yakni

rutinitas

verbal

dan

nonverbal

yang

biasanya

mempertimbangkan interaksi dengan orang lain. Keempat, ritual organisasi
yakni sebuah jenis kegiatan yang diikuti oleh seluruh kelompok kerja dalam
sebuah organisasi secara teratur.

2

Morissan,Teori Komunikasi Organisasi, h. 102
Gun Gun Heryanto, Dinamika Komunikasi Politik, (Jakarta: PT Lasswell Visitama,
2011), h. 152
4
Richard West dan Lynn Turner, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi,
(Jakarta: Salemba Humanika,2009), h. 325-327
3

20

2. Performa Hasrat
Rangkaian cerita atau kisah-kisah mengenai organisasi yang sering kali
diceritakan secara antusias oleh para anggota organisasi dengan orang lain.
Dalam hal ini, anggota sebuah organisasi menceritakan hal-hal yang menarik
dalam organisasinya kepada orang lain. Hal ini dilakukan untuk menciptakan
kesan baik pada suatu organisasi.
3. Performa Sosial
Perpanjangan sikap santun dan kesopanan untuk mendorong kerja sama di
antara

anggota

organisasi.

Biasanya

performa

ini

dilakukan

untuk

meningkatkan kerja sama antar sesama anggota organisasi. Sebagai contoh,
menerapkan budaya menyapa antar sesama anggota organisasi agar terjalin
kesan keakraban.
4. Performa Politis
Perilaku organisasi yang mendemostrasikan kekuasaan atau kontrol. Biasanya
performa jenis ini memiliki sebuah tujuan untuk memengaruhi orang lain.
Selain itu, performa ini secara khusus melibatkan tidakan yang dirancang
untuk memosisikan seseorang dengan cara-cara tertentu dalam organisasi
karena alasan politis. Biasanya ketika anggota organisasi melakukan performa
politik maka mereka pada daasarnya menunjukan keinginan untuk
mempengaruhi anggota lain. Hal ini biasanya terjadi akibat adanya rasa
ketidakpuasaan pada sebuah keadaan.
5. Performa Enkulturasi
Perilaku organisasi yang membantu anggota dalam menemukan makna
menjadi anggota sebuah organisasi. Pada performa yang satu ini sebuah proses

21

pengajaran budaya organisasi oleh salah satu anggota organisasi kepada
anggota lain menjadi prioritas utama.
Teori yang dipaparkan oleh Pacanowsky dan Trujilo diatas merupakan teori
yang digunakan untuk melihat bagaimana proses komunikasi yang dilakukan
dalam sebuah organisasi agar dapat tetap terjaga kesolidan dan membangun
kerjasama antar sesama anggota organisasi.
B. Konseptualisasi Hiperealitas
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata hiper memiliki arti “di atas,
berlebihan, di luar atau terlampau”.5 Istilah hiper-realitas media (hyper-reality of
media) digunakan oleh Jean Baudrillard untuk menjelaskan perekayasaan (dalam
pengertian distorsi) makna di dalam media. Hiperealitas media menciptakan
sebuah kondisi yang sedemikian rupa, sehingga di dalamnya seluruhnya dianggap
lebih nyata daripada kenyataan; kepalsuan dianggap lebih benar daripada
kebenaran; isu lebih dipercaya ketimbang informasi; rumor dianggap lebih benar
ketimbang kebenaran.6
Perkembangan hiperealitas tak telepas dari peran teknologi. Jika dilihat dari
penguasaan teknologinya, media merupakan salah salah satu aktor penting dalam
pembentukan hiperealitas, khususnya bagi pembentukan citra. Hal ini dapat
terlihat saat jelang pemilu. Para peserta pemilu berusaha membentuk citra
dihadapan

publik

untuk

menarik

simpatik

massa.

Para

elit

politik

mengkontruksikan sebuah peristiwa negatif di massa lalu dan digantikan oleh

5

Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika : Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna,
(Bandung : Jalasutra,2004), h. 49
6
Yasraf Amir Piliang, Post Realitas; Realitas Kebudayaan dalam Era Post-Metafisika,
(Yogyakarta:Jalasutra, 2004), h. 75

22

peristiwa positif dihadapan khalayak. Sehingga persepsi masyarakat dalam proses
stimulus akan pandangan seorang elit politik menjadi kabur.
Baudrillard dalam simulations, menjelaskan bahwa penciptaan model-model
kenyataan yang tanpa asal-usul atau referensi realitas. Dalam konteks media,
simulasi adalah penciptaan realitas media yang tidak lagi mengacu pada realitas
dunia nyata sebagai referensinya, sehingga realitas kedua yang referensinya
adalah dirinya sendiri, yang disebut simulacrum (simulacrum).7 Secara sederhana
dinyatakan, bahwa sebuah simulasi seakan-akan nyata, sedangkan realitas seakanakan hanya sebuah representasi atau simulasi semata.
Dalam pembentukan sebuah citra dihadapan khlayak, biasanya para elit politik
mempergunakan tiga cara, yaitu 8 :
1. Pemilihan Biner
Pemilihan Biner merupakan tahap awal yang digunakan oleh elit politik
menekankan penggunaan bahasa dalam menghantarkan makna untuk
menstrukturkan sebuah realitas.
2. Simulasi Realitas
Simulasi realitas merupakan sebuah tindakan yang bertujuan membentuk
persepsi yang cenderung palsu. Pada simulasi realitas, pembentukan citra
hiperealitas memiliki dua sifat dominan, yaitu :
a.

Reality by proxy
Sebuah keadaan dimana seseorang secara sadar tidak mampu
membedakan antara realitas dan fantasi. Biasanya elit politik

7

Yasraf Amir Piliang, Post Realitas; Realitas Kebudayaan dalam Era Post-Metafisika,

h. 76
8

Gun Gun Heryanto, Komunikasi Politik di Era Industri Citra, (Jakarta: PT Lasswell
Visitama,2010), h. 49-53

23

membentuk citra mengkaburkan realitas dihadapan khlayak,
seperti mengklamufase kasus korupsi sebelumnya, dengan sikap
membela aksi memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya.
b.

Solusi imajiner
Proses

menjadikan

sesuatu

yang

non-empiris,

serta

menyampaikan kesan melalui kecanggihan teknologi, sehingga
menjadi fakta yang dapat dirasakan oleh publik. Seperti, iklan,
publisitas di media.
3. Logosentrisme
Dalam logosentrisme, Jean Baudlliard menemukakan empat tahap dalam
proses pencitraan elit politik, diantaranya9 ; Pertama, representasi di mana
citra merupakan cermin suatu realitas. Kedua, ideologi di mana citra
menyembunyikan dan memberi gambar yang salah akan realitas. Ketiga, citra
menyembunyikan bahwa tidak ada realitas. Keempat, citra tidak ada hubungan
sama sekali dengan realitas apa pun.
Dalam hal ini dapat terlihat bagaimana sebuah media membentuk sebuah citra.
Sebuah informasi yang riil dapat tergantikan oleh sebuah simulasi semata. Hal ini
menimbulkan sebuah efek bagi khalayak yaitu mereka tidak lagi dapat
membedakan antara kebenaran dan kepalsuan, antara isu dan realitas. Oleh karena
itu, hal terpenting dalam melakukan sebuah hiperealitas biasanya media
melakukan permainan bahasa dan teknologi. Sehingga dapat membentuk sebuah
kekuatan kebenaran pada pesan tersebut.

9

Haryatmoko, Etika Komunikasi, (Yogyakarta, Kanisius, 2007), h. 33

24

Pesan yang dihadirkan oleh seorang komunikator (pejabat politik) dengan
menggunakan media, memberikan sebuah efek dalam pembentuk opini publik.
Sebuah pesan tersebut, diberikan secara terus menerus kepada khalayak, sehingga
pesan tersebut secara sadar mengendap pada khalayak. Hal ini dijelaskan oleh
Gebner yang menyatakan bahwa posisi media massa dan realitas sesungguhnya
menghasilkan koherensi yang powerfull dimana pesan media mengkultivasi secara
signifikan. Perisitiwa tersebut disebut konsep resonansi.10
C. Konseptualisasi Citra
Citra berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti gambar. Kemudian
dikembangkan menjadi gambaran sebagai padanan kata image dalam bahasa
Inggris. Pada hakikatnya citra didefinisikan sebagai kontruksi atas representasi
dan persepsi khalayak terhadap individu, kelompok, atau lembaga yang terkait
dengan kiprahnya dalam masyarakat. Citra pun diartikan sebagai cara anggota
organisasi dengan melihat kesan atau persepsi yang ada dibenak orang.11
Sehingga dapat disimpulkan bahwa citra merupakan gambaran seseorang
terhadap seorang individu atau kelompok. Dalam membentuk sebuah citra, tak
terlepas dari sebuah proses yang sering disebut pencitraan. Pencitraan ialah proses
pembentukan citra melalui informasi yang diterima oleh khalayak secara langsung
atau melalui media sosial atau media massa.
Jika berbicara mengenai politik, sebuah citra dapat dikaitkan dengan
pembentukan persepsi khalayak terhadap seorang figur atau kelompok tertentu
dengan menanamkan sebuah nilai dan kepercayaan melalui media massa sehingga

10

Gun Gun Heryanto, Dinamika Komunikasi Politik, h. 169
Anwar Arifin, Komunikasi Politik, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011), h. 178

11

25

dapat membentuk opini publik. Dalam pembentukan sebuah citra politik tak
terlepas dari peran media dan para komunikator (politikus). Media merupakan alat
yang digunakan untuk menyebarluaskan pesan politik yang disampaikan oleh
komunikator. Sementara peran dari komunikator (politikus) ialah berusaha
menciptakan citra melalui komunikasi politik dengan tujuan memperoleh
dukungan publik.
Penggunaan media merupakan alat yang terpenting. Kecanggihan peralatan
yang dimiliki oleh media memberikan kemudahan dalam pencitraan. Mohammad
Sobary menyatakan bahwa IPTEK dapat membuat seseorang tampak lebih unggul
dari yang lain. Dalam hal ini media sebagai alat komunikasi mampu
memanipulasi jiwa dan perilaku manusia sesuai kehendak pemesan. Ilmu
manipulatif ini dapat membuat seorang tokoh yang otoriter menjadi seolah-olah
begitu demokrasi dan peduli terhadap kemanusiaan.12
Dalam kacamata ilmu komunikasi modern, media tidak saja berfungsi sebagai
mediator penyampaian berita, tetapi sebagai sarana pembentukan citra politik.13
Media massa membangun citra publik tentang figur-figur politik. Hal ini terlihat
dari pemilahan isu-isu yang ditampilkan pada khalayak. Media massa
memasukkan perhatian terhadap isu-isu tertentu. Seluruh hal tersebut tak terlepas
dari peran pemilik dan orang yang berpengaruh dalam pembentukan berita pada
sebuah media.

12

Alfan Alfian, Menjadi Pemimpin Politik, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009),
h. 274-275
13
Alfan, Alfian, Menjadi Pemimpin Politik, h. 278

26

D. Analisis Wacana
1. Analisis Wacana Kritis
Analisis wacana merupakan salah satu metode penelitian yang
bersinggungan dengan pemakaian bahasa. Secara strukturnya, sebuah wacana
terbentuk tidak hanya melalui deretan kata ataupun kalimat saja.

Unsur

kesatuan dan kepaduan kalimat merupakan hal terpenting dalam pembutan
sebuah wacana. Sebagian besar wacana yang terbentuk menyimpan sebuah
makna tertentu. Oleh karena itu, ilmu kebahasaan merupakan hal yang
terpenting untuk mengungkapkan makna dibalik sebuah wacana.
Istilah wacana saat ini berasal dari bahasa Latin yaitu kata discursus yang
berarti “lari kian-kemari”. Secara sederhana, wacana ialah cara objek atau ide
diperbincangkan secara terbuka kepada publik sehingga menimbulkan
pemahaman tertentu yang tersebar luas.14 Menurut Samsuri, wacana ialah
rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi, biasanya terdiri
dari seperangkat kalimat yang memiliki kesinambungan dengan kalimat
lainny

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23