Analisis Risiko Produksi Tomat Cherry pada PD Pacet Segar Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat

I PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Pertanian merupakan salah satu sektor kehidupan yang bidang

pekerjaannya

berhubungan

dengan

pemanfaatan

alam

sekitar

dengan

menghasilkan produk pertanian yang diperlukan oleh seluruh kalangan
masyarakat dalam memenuhi kebutuhan jasmaninya. Salah satu sektor pertanian
yang menjadi pusat perhatian adalah sub sektor hortikultura. Hal ini disebabkan
komoditi hortikultura satu-satunya yang volume impornya meningkat dari tahun
2008 ke tahun 2009.
Tabel 1.

No
1

2

3

Perkembangan Ekspor Impor Komoditas Pertanian Indonesia Tahun
2008 – 2009
Sub Sektor
Ekspor

Tanaman
Pangan

Impor

Hortikultura

Perkebunan

2008
(US$000)
348.883

2009
Perkembangan
(US$000)
(%)
321.261
-8,60

3.526.957

2.737.862

-28,82

Ekspor

433.921

379.739

-14,27

Impor

926.045

1.077.463

14,05

Ekspor

27.369.363

21.581.669

-26,82

Impor

4.535.918

3.949.191

-14,86

Sumber : Departemen Pertanian, 2011 (diolah)
Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa laju pertumbuhan nilai impor dari tahun
2008 sampai tahun 2009 untuk setiap sub sektor pertanian cenderung menurun,
hal ini juga diikuti oleh penurunan nilai ekspor. Berbeda dengan sub sektor
hortikultura mengalami peningkatan nilai impor sebesar 14,05 persen.
Peningkatan impor di sub sektor hortikultura ini perlu dilakukan analisis, untuk
mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan peningkatan impor tersebut.
Peningkatan impor tersebut selain disebabkan karena permintaan konsumen
domestik

yang

lebih

menyukai

produk

luar

negeri,

juga

disebabkan

ketidakmampuan dalam memproduksi produk-produk hortikultura, seperti
produksi menurun dan terjadinya gagal panen.
Sub sektor hortikultura terbagi atas sayuran, buah-buahan, tanaman hias
dan tanaman biofarmaka. Beberapa produk hortikultura seperti sayuran, buah-

buahan, dan tanaman biofarmaka sangat berguna bagi kebutuhan tubuh seperti
sumber vitamin, mineral, penyegar, pemenuhan kebutuhan akan serat dan
kesehatan. Oleh karena itu produk-produk hortikultura perlu ditingkatkan maupun
dikembangkan selain untuk memenuhi permintaan konsumen yang semakin
meningkat juga karena berpotensi dalam meningkatkan penghasilan.
Sayuran adalah salah satu produk hortikultura. Sayuran memiliki
karakteristik yang berbeda dengan komoditi lainnya. Komoditi ini memiliki risiko
yang cukup besar yang menyebabkan ketergantungan antara pasar dengan
konsumen dan produsen. Sayuran merupakan salah satu bahan makanan penting
serta relatif murah dan cukup tersedia di Indonesia, yang memiliki kondisi
agroklimat sesuai untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik. Kandungan
vitamin dan mineral yang lengkap serta bervariasi juga banyak mengandung serat
menyebabkan sayuran dapat dijadikan sebagai bahan makanan bergizi yang dapat
menunjang kesehatan (Rahardi et al. 2001).
Propinsi Jawa Barat merupakan salah satu daerah penghasil komoditi
sayuran di Indonesia. Dengan dukungan kondisi alamnya, Jawa Barat menjadi
salah satu sentra produksi sayuran di Indonesia. Daerah Jawa Barat memproduksi
beberapa jenis sayuran diantaranya adalah tomat, wortel, kentang, kol, bawang
merah, dan bawang putih. Berdasarakn data yang diperoleh dari Departemen
Pertanian, dari keenam komoditi diatas, hanya komoditi tomat yang produksinya
relatif meningkat setiap tahun, yaitu 1,31 persen per tahun. Peningkatan produksi
ini disebabkan oleh dua faktor, yaitu peningkatan luas lahan yang dipanen dan
peningkatan produktivitas tanaman. Berdasarkan data statistik Departemen
Pertanian, peningkatan produksi tomat di daerah Jawa Barat disebabkan oleh
produktivitas tomat dari tahun 2000 – 2010, yaitu dari 21,5 ton/ha pada tahun
2000 menjadi 30,5 ton/ha pada tahun 2010. Data produksi keenam jenis sayuran
tersebut dari tahun 2000 – 2010 dapat dilihat pada Tabel 2.

2

Tabel 2. Produksi Sayuran di Jawa Barat Tahun 2000 – 2010 (satuan ton)
Kol
(Kubis)

Bawang
Merah

Bawang
Putih

462.800

501.381

122.389

1.374

153.854

385.618

490.449

103.326

177

313.926

144.703

363.327

431.208

96.619

1.311

2003

261.493

182.683

375.167

438.091

120.219

1.415

2004

240.605

203.591

418.230

454.815

121.194

1.331

2005

286.285

215.177

359.891

434.576

118.795

579

2006

241.091

192.964

349.158

351.092

112.964

751

2007

267.220

130.659

337.368

369.517

116.142

549

2008

269.404

136.378

292.253

280.362

116.929

460

2009

309.653

128.253

320.542

298.332

123.587

10

2010

304.774

113.576

275.101

286.647

116.396

73

2011

354.832

115.296

220.155

270.780

101.273

892

1,31

- 2,07

- 4,59

- 4,89

- 0,04

101,78

Tahun

Tomat

Wortel

2000

291.036

157.830

2001

264.894

2002

% rata-rata
pertumbuhan

Kentang

Sumber : Deptan, 2012 (diolah)
Data pada Tabel 2 merupakan data produksi tomat secara keseluruhan.
Berdasarkan bentuknya, tomat dibedakan menjadi lima, yaitu :
1.

Tomat biasa (Lycopersicum esculentum Mill, var. Commune Bailey).
Berbentuk bulat pipih tidak teratur, sedikit beralur terutama di dekat
tangkai. Tomat jenis ini banyak ditemui di pasar-pasar lokal.

2.

Tomat apel/pir (Lycopersicum esculentum Mill, var. Pyriforme Alef).
Berbentuk bulat seperti buah apel atau pir.

3.

Tomat kentang atau tomat daun lebar (Lycopersicum esculentum Mill, var.
Grandifolium Bailey). Berbentuk bulat besar, padat dan kompak. Ukuran
buahnya lebih besar dibandingkan tomat apel.

4.

Tomat tegak (Lycopersicum esculentum Mill, var. Validum Bailey).
Buahnya berbentuk agak lonjong dan teksturnya keras. Sementara itu,
daunnya rimbun, berbentuk keriting, berwarna kelam. Pertumbuhan
tanaman agak tegak dengan percabangan mengarah ke atas

3

5.

Tomat cherry (lycopersicum esculentum Mill, var. Cerasiforme Alef).
Buahnya berukuran kecil berbentuk bulat atau bulat memanjang.
Warnanya merah atau kuning. Tomat mungil ini berasal dari Ekuador atau
Peru.
Diantara kelima jenis tomat di atas, tomat cherry memiliki keunggulan

ekonomis dibandingkan tomat jenis lain. Keunggulan terletak pada harga jual
yang tinggi dan relatif stabil. Perusahaan/petani yang membudidayakan tomat
cherry sedikit, karena benihnya tidak dijual umum dipasaran, sehingga harga jual
tomat cherry relatif stabil, karena tidak pernah terjadi panen raya atau panen
secara besar-besaran seperti tomat sayur. Harga jual tomat cherry dalam periode 2
tahun terakhir berkisar antara Rp 7.500,00 – Rp 8.500,00 per kg (PD Pacet Segar
2012).
Teknologi budidaya yang digunakan dalam membudidayakan tomat cherry
yaitu secara konvensial dan greenhouse. Tomat cherry merupakan salah satu jenis
tomat yang lebih banyak dibudidayakan dengan sistim hidroponik di greenhouse
karena hama dan penyakit tanaman dapat dikendalikan sehingga dapat
meminimalisir

tanaman

terserang

hama

dan

penyakit.

Namun

untuk

membudidayakan secara hidroponik itu harus memiliki keahlian khusus dan
membutuhkan investasi yang sangat besar, sehingga beberapa perusahaan/petani
yang memiliki modal yang tidak terlalu besar lebih memilih membudidayakan
tomat cherry dengan sistim konvensional.
PD Pacet Segar yang berlokasi di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur
Propinsi Jawa Barat merupakan salah satu perusahaan yang membudidayakan
tomat cherry. Selain PD Pacet Segar, PT Saung Mirwan juga membudidayakan
tomat cherry di kawasan Cipanas. Namun kedua perusahaan ini membudidayakan
tomat cherry dengan sistim yang berbeda. PT Saung Mirwan membudidayakan
tomat cherry dengan sistim hidroponik menggunakan greenhouse, sedangkan PD
Pacet Segar membudidayakannya dengan sistim konvensional. Membudidayakan
tomat cherry dengan sistim konvensional tidak berbeda dengan membudidayakan
tomat jenis lain.
Budidaya tomat cherry secara konvensional ini sangat bergantung dengan
alam sehingga menyebabkan fluktuasi produktivitas tomat cherry. Adanya

4

fluktuasi tersebut, maka diidentifikasi perusahaan menghadapi risiko produksi
dalam membudidayakan tomat cherry.
1.2.

Perumusan Masalah
PD Pacet Segar yang berlokasi di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur

Provinsi Jawa Barat merupakan satu-satunya perusahaan yang membudidayakan
tomat cherry dengan sistim konvensional. Dalam satu siklus produksi, tomat
cherry yang dibudidayakan adalah 2000 tanaman. Dalam melakukan budidaya,
perusahaan menghadapi risiko produksi. Berdasarkan informasi dari pihak
manajemen perusahaan, risiko produksi berpengaruh signifikan terhadap
penerimaan perusahaan, namun penanganan terhadap risiko belum dilaksanakan
dengan baik, hal ini terbukti dari produksi yang masih berfluktuasi. Data produksi
dan produktifitas tomat cherry 10 periode terakhir dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 3. Produksi dan Produktivitas Tomat Cherry pada PD Pacet Segar dari Mei
2010 – Februari 2012
Periode

Waktu

1
Mei - Agustus 2010
2
Juli - Oktober 2010
3
September - Desember 2010
4
November 2010 - Februari 2011
5
Januari - April 2011
6
Maret - Juni 2011
7
Mei - Agustus 2011
8
Juli - Oktober 2011
9
September - Desember 2011
10
November 2011 - Februari 2012
Sumber : PD Pacet Segar, Februari 2012

Produksi
2000 tanaman
(kg)
3184
4538
2095
1268
540
2168
3520
5304
2360
626

Produktivitas
(kg/tanaman)
1,59
2,27
1,05
0,63
0,27
1,08
1,76
1,66
1,18
0,31

Berdasarkan data pada Tabel 4, produksi dan produktivitas tomat cherry
pada PD Pacet Segar mengalami fluktuasi dalam 10 periode terakhir (Mei 2010 –
Februari 2012). Namun pada kenyataannya produktivitas tomat cherry pada PD
Pacet Segar mengalami penurunan pada musim tanam tertentu. Budidaya tomat
cherry dilakukan dengan sistim pola tanam dengan tujuan panen dapat kontinu
setiap tiga hari sekali. Pengaturan pola tanam ini dilakukan setiap selang dua
bulan sekali karena proses budidaya tomat cherry sebelum dimulai proses tanam

5

adalah dua bulan. Selanjutnya proses pemanenan juga dilakukan selama dua bulan
dengan jangka waktu pemanenan tiga hari sekali atau dua kali dalam satu minggu.
Pemanenan pada kondisi normal dilakukan sebanyak 15 kali penen. Produktivitas
normal untuk tomat cherry yang dibudidayakan secara konvensional adalah
1,5 – 2,5 kg/tanaman (kasie produksi PD Pacet Segar). Fluktuasi ini menunjukkan
adanya risiko produksi yang dihadapi oleh perusahaan. Risiko produksi yang
dihadapi memiliki dampak bagi perusahaan. Dampak tersebut bisa berdampak
positif maupun negatif. Untuk itu maka perlu dilakukan analisis terhadap peluang
dan dampak dari sumber risiko tersebut terhadap pendapatan perusahaan.
Besarnya peluang dan dampak sumber risiko terhadap pendapatan
menuntut perusahaan untuk lebih bijaksana dalam mengambil keputusan untuk
mengatasi risiko agar perusahaan dapat berproduksi optimal dan memperoleh
keuntungan.
Dengan mempertimbangkan kondisi yang telah diuraikan di atas, maka
permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian adalah sebagai berikut :
1.

Apa saja sumber-sumber risiko produksi tomat cherry pada PD Pacet
Segar?

2.

Berapa besar probabilitas dan dampak dari sumber-sumber risiko produksi
tomat cherry terhadap penerimaan PD Pacet Segar?

3.

Bagaimana alternatif strategi yang diterapkan dalam mengatasi risiko
produksi tomat cherry yang dihadapi oleh PD Pacet Segar?

1.3.

Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka

penelitian ini bertujuan untuk :
1.

Mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi tomat cherry pada PD
Pacet Segar.

2.

Menganalisis probabilitas dan dampak sumber-sumber risiko produksi
tomat cherry terhadap penerimaan PD Pacet Segar.

3.

Menganalisis alternatif strategi yang diterapkan untuk mengatasi risiko
produksi yang dihadapi oleh usaha budidaya tomat cherry pada PD Pacet
Segar.

6

1.4.

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat, diantaranya :

1.

Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi perusahaan dalam
mengambil keputusan bisnis, sehingga perusahaan dapat mengambil
keputusan yang tepat.

2.

Sebagai bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya, sehingga penelitian
selanjutnya dapat menganalisis lebih baik lagi khususnya penulisan ilmiah
tentang risiko produksi tomat cherry.

3.

Menambah wawasan dan pengalaman peneliti.

7

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Gambaran Umum Tomat Cherry
Tomat (Lycopersicon esculentum) termasuk dalam famili Solanaceae.

Tomat varietas cerasiforme (Dun) Alef sering disebut tomat cherry yang didapati
tumbuh liar di Ekuador dan Peru, dan telah menyebar luas di seluruh dunia, dan di
beberapa negara tropis menjadi berkembang secara alami (Harjadi 1989). Tomat
cherry memiliki beberapa varietas diantaranya adalah Royal Red Cherry yang
berdiameter 3.1 - 3.5 cm dan Short Red Cherry yang berdiameter 2 - 2.5 cm,
Oregon Cherry yang diameternya 2.5 - 3.5 cm dengan bobot 10 - 20 g, serta
Golden Pearl yang bobotnya 8 - 10 g dan Season Red yang bobotnya 25 g
diproduksi oleh Known You Seed di Taiwan (Cahyono 2008)
Tomat merupakan tanaman perdu semusim, berbatang lemah dan basah.
Daunnya berbentuk segitiga. Bunganya berwarna kuning. Buahnya buah buni,
hijau waktu muda dan kuning atau merah waktu tua. Berbiji banyak, berbentuk
bulat pipih, putih atau krem, kulit biji berbulu. Perbanyakan dengan biji kadangkadang dengan setek batang cabang yang telah tua. Tomat secara umum dapat
ditanam di dataran rendah, medium, dan tinggi, tergantung varietasnya. Namun,
kebanyakan varietas tomat hasilnya lebih memuaskan apabila ditanam di dataran
tinggi yang sejuk dan kering sebab tomat tidak tahan panas terik dan hujan. Suhu
optimal untuk pertumbuhannya adalah 23° C pada siang hari dan 17° C pada
malam hari. Tanah yang cocok untuk tanaman ini adalah tanah itu banyak
mengandung humus, gembur, sarang, dan berdrainase baik. Sedangkan keasaman
tanah yang ideal untuknya adalah netral, yaitu sekitar 6-7.
Proses budidaya tomat cherry tidak berbeda dengan budidaya tomat jenis
lain, yaitu dimulai dari persiapan media tanam, pemeliharaan pembibitan/
penyemaian, pemindahan bibit / transplanting, persiapan media tanam, teknik
penanaman dan penentuan pola tanam, pemeliharaan tanaman, hama dan penyakit
tanaman dan panen.
2.2

Penelitian Terdahulu
Risiko merupakan kemungkinan kejadian yang akan menimbulkan

dampak kerugian. Dalam menjalankan suatu bisnis, setiap keputusan selalu

mengandung risiko. Oleh sebab itu kejelian menanggapi dan meminimalisir risiko
merupakan sesuatu yang harus dilakukan setiap perusahaan. Terutama agribisnis
yang merupakan usaha dengan makhluk hidup sebagai objek usaha yang sangat
membutuhkan penanganan risiko yang efektif. Sumber-sumber risiko pada usaha
produksi pertanian sebagian besar berasal dari faktor-faktor teknis seperti
perubahan suhu, hama dan penyakit, penggunaan input serta kesalahan teknis dari
tenaga kerja.
Terdapat beberapa penelitian yang menganalisis risiko pada komoditi
hortikultura seperti Purwanti (2011), Situmeang (2011), Cher (2011), Parengkuan
(2011), Ginting (2009), Tarigan (2009), dan Wisdya (2009) yang masing masing
menemukan sumber risiko pada produksi sayuran hidroponik, cabai merah
keriting, sayuran organik, jamur putih, jamur tiram, dan Anggrek Phaleonopsis.
Risiko produksi pada umumnya meliputi teknik budidaya, human error, serangan
hama dan penyakit tanaman, gangguan teknologi irigasi (hidroponik) dan
cuaca/iklim yang tidak pasti.
Hasil penilaian risiko dengan menggunakan ukuran coeffisient variation
(Purwanti 2011) adalah 0,28 yang artinya untuk setiap satu kilogram hasil yang
diperoleh akan mengalami risiko sebesar 0,28 kg. Perhitungan expected return
sebesar 4,67 yang artinya perolehan hasil sebanyak 4,67 kg/m2.
Situmeang (2011) memperoleh perhitungan coefficient variation besaran
risiko yang dihadapi oleh petani Pondok Menteng dalam usahatani cabai merah
keriting yaitu 0,5, artinya untuk setiap satu kilogram cabai merah keriting yang
dihasilkan akan mengalami risiko sebesar 0,5 kg pada saat terjadi risiko produksi.
Oleh karena itu dalam manajemen risiko, setelah mengidentifikasi sumber risiko
dan melakukan pengukuran risiko maka dilakukan penanganan terhadap risiko.
Strategi pengelolaan risiko tanaman cabai merah keriting yang dilakukan meliputi
dua hal yaitu strategi preventif dan strategi mitigasi. Strategi preventif yaitu
dengan melakukan perawatan secara rutin dan terencana mulai dari penyemaian
sampai panen. Strategi mitigasi yakni diversifikasi tidak begitu menguntungkan
karena dari hasil perhitungan portofolio besaran risiko yang dihasilkan sama yaitu
sebesar 0,5.

9

Berdasarkan hasil perbandingan risiko yang telah dilakukan (Cher 2011)
dapat dikatakan bahwa dari seluruh kegiatan usahatani, tingkat risiko paling tinggi
berdasarkan produktivitas adalah komoditi brokoli pada kegiatan spesialisasi
dengan perolehan nilai coefficient variation sebesar 0,564. Selain itu, juga dapat
dilihat bahwa tingkat risiko paling rendah dari keseluruhan kegiatan usaha adalah
komoditi wortel pada kegiatan spesialisasi dengan perolehan nilai coefficient
variation sebesar 0,241. Tanaman wortel merupakan tanaman yang paling tahan
terhadap ancaman kondisi cuaca yang buruk maupun ancaman serangan hama dan
penyakit. Selain itu, wortel paling mudah dibudidayakan dibandingkan dengan
komoditi sayuran organik lainnya seperti bayam hijau, caisin, dan brokoli.
Tingkat risiko yang paling kecil berdasarkan produktivitas pada komoditi wortel,
pada kenyataannya tidak membuat perusahaan hanya mengusahakan sayuran
wortel saja. Hal tersebut karena permintaan konsumen terhadap sayuran organik
sangat beragam. Oleh sebab itu, perusahaan melakukan kegiatan portofolio dalam
usahataninya. Tingkat risiko produksi yang paling kecil pada kegiatan portofolio
berdasarkan produktivitas adalah pada kombinasi komoditi wortel dan caisin
dengan perolehan coefficient variation sebesar 0,273. Dari hasil analisis portofolio
tersebut menunjukkan bahwa diversifikasi dapat meminimalkan risiko produksi.
Hasil analisis probabilitas dan dampak risiko jamur putih (Parengkuan
2011) menunjukkan bahwa probabilitas dan dampak risiko terbesar ada pada
sumber risiko kesalahan penanganan pada saat proses sterilisasi log dengan nilai
sebesar 45,2 persen, sedangkan perubahan suhu udara merupakan merupakan
sumber risiko yang memberikan dampak terbesar dengan nilai Rp 17.053.516,00
Berdasarkan status risiko diperoleh hasil bahwa kesalahan pada saat proses
sterilisasi yang paling berisiko dan kemudian secara berurutan diikuti oleh akibat
gangguan hama, perubahan suhu udara, dan penyakit.
Penilaian risiko pada jamur tiram (Ginting 2009) diperoleh nilai coefficient
variation sebesar 0,32. Artinya, untuk setiap satu satuan hasil produksi yang
diperoleh Cempaka Baru, maka risiko (kerugian) yang dihadapi adalah sebesar
0,32 satuan. Nilai expected return sebesar 0,25. Artinya, usaha Cempaka Baru
dapat mengharapkan perolehan hasil sebanyak 0,25 kg per baglog untuk setiap
kondisi dalam proses budidaya yang telah diakomodasi oleh perusahaan. Hal

10

tersebut menunjukkan bahwa kegiatan budidaya jamur tiram putih memberi
harapan perolehan hasil produksi sebesar 0,25 kg untuk setiap baglog jamur tiram
putih.
Analisis spesialisasi risiko produksi

(Tarigan 2009) berdasarkan

produktivitas pada brokoli, bayam hijau, tomat dan cabai keriting diperoleh risiko
yang paling tinggi dari keempat komoditas adalah bayam hijau yaitu 0.225 yang
artinya setiap satu satuan yang dihasilkan maka risiko yang dihadapi akan sebesar
0,225. Sedangkan yang paling rendah adalah cabai keriting yakni 0.048 yang
artinya setiap satu satuan yang dihasilkan maka risiko yang dihadapi akan sebesar
0,048. Hal ini dikarena bayam hijau sangat rentan terhadap penyakit terutama
pada musim penghujan. Berdasarkan pendapatan bersih diperoleh risiko yang
paling tinggi dari keempat komoditas adalah cabai keriting yaitu 0.80 yang artinya
setiap satu rupiah yang dihasilkan maka risiko yang dihadapi akan sebesar 0.80.
Sedangkan yang paling rendah adalah brokoli yakni 0.16 yang artinya setiap satu
rupiah yang dihasilkan maka risiko yang dihadapi akan sebesar 0.16. Hal ini
dikarena penerimaan yang diterima lebih kecil sedangkan biaya yang dikeluarkan
tinggi. Analisis risiko produksi yang dilakukan pada kegiatan portofolio
menunjukkan bahwa kegiatan diversifikasi dapat meminimalkan risiko.
Analisis spesialisasi risiko produksi berdasarkan produktivitas (Wisdya
2009) pada tanaman anggrek menggunakan bibit teknik seedling dan mericlone
diperoleh risiko yang paling tinggi adalah tanaman anggrek teknik seedling yaitu
sebesar 0,078 yang artinya setiap satu satuan yang dihasilkan maka risiko yang
dihadapi akan sebesar 0,078.
Pembahasan beberapa penelitian di atas, diperoleh variabel yang menjadi
sumber risiko produksi pada komoditas agribisnis khususnya pada produk-produk
hortikultura meliputi faktor cuaca, hama dan penyakit tanaman, teknologi
budidaya, dan human error. variabel sumber risiko tersebut diduga menjadi
sumber risiko pada budidaya tomat cherry pada PD Pacet Segar.
Pengukuran terhadap risiko dilakukan untuk mengukur pengaruh sumbersumber risiko terhadap suatu kegiatan bisnis melalui penggunaan suatu alat
analisis tertentu. Salah satu alat analisis yang digunakan dalam pengukuran risiko
adalah koefisien variasi (coefficient variation), ragam (variance) dan simpangan

11

baku (standard deviation). Ketiga ukuran tersebut berkaitan satu sama lain, jika
nilai ketiga indikator tersebut semakin kecil maka risiko yang dihadapi kecil.
Ketiga alat analisis ini digunakan oleh Purwanti (2011), Cher (2011),
Situmeang (2011), Tarigan (2009), Wisdya (2009) dan Ginting (2009) dalam
penelitiannya. Berbeda dengan Pinto (2011), Dewiaji (2011), dan Parengkuan
(2011) menggunakan perhitungan rata-rata kejadian berisiko, standart deviation,
z-score, probabilitas, dan VaR. Setelah dilakukan perhitungan VaR, selanjutnya
dilakukan pemetaan terhadap sumber-sumber risiko yang akhirnya muncul
strategi penanganan terhadap risiko yang dihadapi. Silaban (2011), Widsya
(2009), dan Tarigan (2009) menggunakan perhitungan tambahan terhadap nilai
coefficient variation, variance dan standard deviation untuk spesialisasi dan
diversifikasi.
Beberapa penelitian terdahulu yang telah dijabarkan di atas merupakan
referensi bagi peneliti dalam melakukan penelitian. Secara umum sumber risiko
produksi yang dihadapi oleh perusahaan/petani untuk komoditas hortikultura
adalah pengaruh perubahan cuaca, serangan hama, penyakit tanaman, kesalahan
teknologi budidaya, dan sumber daya manusia. Dalam pengukuran risiko, alat
analisis yang banyak digunakan adalah coefficient variation, variance dan
standard deviation. Namun dalam pengukuran probabilitas dan dampak dari
sumber risiko digunakan alat analisis Z-score dan VaR. Berdasarkan referensi
penelitian terdahulu, peneliti akan menggunakan alat analisis z-score dan VaR.
Setelah diperoleh nilai z-score dan VaR, maka selanjutnya akan dilakukan
pemetaan sumber-sumber risiko pada peta risiko dan dilanjutkan dengan
perumusan alternatif strategi untuk menangani risiko sehingga tujuan penelitian
dapat terjawab.

12

III KERANGKA PEMIKIRAN
3.1

Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1

Konsep Risiko
Risiko menunjukkan situasi, dimana terdapat lebih dari satu kemungkinan

dari suatu keputusan dan peluang dari kemungkinan-kemungkinan tersebut
diketahui atau dapat diestimasi. Risiko mengharuskan manajer sebagai pengambil
keputusan untuk mengetahui segala kemungkinan hasil dari suatu keputusan dan
juga peluang dari kemungkinan-kemungkinan tersebut. Risiko berhubungan
dengan ketidakpastian, hal ini sesuai dengan pendapat Kountur (2008), yaitu
ketidakpastian itu sendiri terjadi akibat kurangnya atau tidak tersedianya informasi
menyangkut apa yang akan terjadi. Selanjutnya dijelaskan ketidakpastian yang
dihadapi perusahaan dapat berdampak merugikan atau menguntungkan.
Robinson dan Barry (1987), risiko menunjukkan peluang terhadap suatu
kejadian yang dapat diketahui oleh pelaku bisnis sebagai pembuat keputusan
dalam bisnis. Secara umum peluang suatu kejadian dalam kegiatan bisnis dapat
ditentukan oleh pembuat keputusan berdasarkan data historis atau pengalaman
selama mengelola kegiatan usahanya. Risiko pada umumnya berdampak negatif
terhadap pelaku bisnis. Sedangkan menurut Harwood, et al. (1999), risiko
menunjukkan kemungkinan kejadian yang menimbulkan kerugian bagi pelaku
bisnis yang mengalaminya.
Basyib (2007) mendefinisikan risiko itu sendiri sebagai peluang terjadinya
hasil yang tidak diinginkan, sehingga risiko hanya terkait dengan situasi yang
memungkinkan munculnya hasil yang negatif serta berkaitan dengan kemampuan
memperkirakan terjadinya hasil negatif tersebut. Kejadian risiko merupakan
kejadian yang memunculkan kerugian atau peluang terjadinya hasil yang tidak
diinginkan. Sementara itu kerugian oleh risiko memiliki arti kerugian yang
diakibatkan kejadian risiko, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kerugian itu sendiri dapat berupa kerugian finansial maupun kerugian nonfinansial.

3.1.2. Jenis dan Sumber Risiko
Menurut Harwood et al (1999), terdapat beberapa sumber risiko yang
dapat dihadapi oleh petani, yaitu :
1.

Risiko produksi
Sumber risiko yang berasal dari kegiatan produksi diantaranya adalah
gagal panen, rendahnya produktivitas, kerusakan barang yang ditimbulkan
oleh serangan hama dan penyakit, perbedaan iklim dan cuaca, kesalahan
sumberdaya manusia, dan masih banyak lagi.

2.

Risiko Pasar atau Harga
Risiko yang ditimbulkan oleh pasar diantaranya adalah barang tidak dapat
dijual yang diakibatkan ketidakpastian mutu, permintaan rendah,
ketidakpastian harga output, inflasi, daya beli masyarakat, persaingan, dan
lain-lain. Sementara itu risiko yang ditimbulkan oleh harga antara lain
harga dapat naik akibat dari inflasi.

3.

Risiko Kebijakan
Risiko yang ditimbulkan oleh kebijakan-kebijakan antara lain adanya
kebijakan-kebijakan tertentu yang keluar dari dalam hal ini sebagai
pemegang kekuasaan pemerintah yang dapat menghambat kemajuan suatu
usaha. Dalam artian kebijakan tersebut membatasi gerak dari usaha
tersebut. Contohnya adalah kebijakan tarif ekspor.

4.

Risiko Finansial
Risiko yang ditimbulkan oleh risiko finansial antara lain adalah adanya
piutang tak tertagih, likuiditas yang rendah sehingga perputaran usaha
terhambat, perputaran barang rendah, laba yang menurun akibat dari krisis
ekonomi dan sebagainya.
Kountur (2006) mengelompokkan jenis risiko berdasarkan sundut

pandang. Risiko berdasarkan sudut pandangnya dapat dikelompokkan menjadi
dua, yaitu risiko berdasarkan akibat yang ditimbulkan dan berdasarkan penyebab
timbulnya risiko tersebut.

14

Risiko yang dilihat dari akibat yang ditimbulkan dapat dikelompokkan
menjadi dua kelompok besar, yaitu :
1.

Risiko spekulatif adalah jenis risiko yang berakibat merugikan atau
sebaliknya memberikan keuntungan.

2.

Risiko murni adalah jenis risiko yang akibatnya tidak memungkinkan
untuk memperoleh keuntungan dan yang ada hanyalah kerugian.
Pengelompokan risiko berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi dua

kelompok besar, yaitu :
1.

Risiko Keuangan merupakan jenis risiko yang disebabkan oleh faktorfaktor keuangan seperti perubahan harga, perubahan mata uang, dan
perubahan tingkat suku bunga.

2.

Risiko Operasional merupakan jenis risiko yang disebabkan oleh faktorfaktor operasional seperti faktor manusia, teknologi, dan alam.

3.1.3

Analisis Risiko
Analisis risiko berhubungan dengan teori pengambilan keputusan

(decision theory). Individu diasumsikan untuk bertindak rasional dalam
mengambil keputusan bisnis. Alat analisis yang umumnya digunakan dalam
menganalisis mengenai pengambilan keputusan yang berhubungan dengan risiko
yaitu expected utility model. Analisis mengenai pengambilan keputusan yang
berhubungan dengan risiko dapat menggunakan expected utility model. Model ini
digunakan karena adanya kelemahan yang terdapat pada expected return model,
yaitu bahwa yang ingin dicapai oleh seseorang bukan nilai (return) melainkan
kepuasan (utility).
Hubungan fungsi kepuasan dengan pendapatan dan expected return dengan
varian return menggambarkan bagaimana perilaku seorang pelaku bisnis dalam
mengambil keputusan terhadap risiko yang dihadapi. Hubungan tersebut dapat
dilihat pada Gambar 1.

15

Utility(U)

Expected Return

U(y)3

U(y)2

U1

U(y)1

U2

U3
Y

VaRian Return

Gambar 1. Hubungan Antara varian Return dengan Expected Return dan
Utilitas dengan Marginal Utility.
Sumber : Debertin 1986
Berdasarkan pada Gambar 1, perilaku seseorang pelaku bisnis dalam
menghadapi risiko dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu sebagai
berikut:
1.

Pembuat keputusan yang takut terhadap risiko (risk averter) menunjukkan
jika U1 diasumsikan kurva isouliti pembuat keputusan maka adanya varian
return yangmerupakan ukuran tingkat risiko akan diimbangi dengan
kenaikan retur yang diharapkan. Pada kurva U(y)1 menunjukkan kepuasan
marginal utiliti yang semakin menurun dari pendapatan. Meskipun
tambahan pendapatan selalu meningkatkan kepuasan, namun demikian
kenaikan kepuasan yang dihasilkan karena kenaikan pendapatan yang
mendekati titik original akan lebih besar dari kenaikan kepuasan karena
kenaikan pendapatan berikutnya.

2.

Pembuat kuputusan yang netral terhadap risiko (risk neutral) menunjukkan
jika U2 diasumsikan kurva isoulatiliti pembuat keputusan maka adanya
kenaikan varian return yang merupakan ukuran tingkat risiko tidak akan
diimbangi dengan menaikkan returnyang diharapkan. Pada kurva U(y)2
menunjukkan kepuasan marginal utiliti yang tetap terhadap penigkatan
pendapatan.

3.

Pembuat keputusan yang berani terhadap risiko (risk taker) menunjukkan
jika U3 diasumsikan kurva isoutiliti pembuat keputusan maka adanya
kenaikan varian return yang merupakan ukuran tingkat risiko akan

16

diimbangi oleh pembuat keputusan dengan kesediannya menerima return
yang diharapkan lebih rendah. Sedangkan pada kurva U(y)3 menunjukkan
kepuasan marginal utiliti yang semakin meningkat dari pendapatan.
Fluktuasi harga dan hasil produksi akan menyebabkan fluktuasi
pendapatan. Ukuran yang dapat digunakan untuk melihat besarnya risiko yang
dihadapi suatu usaha adalah dengan mengetahui terlebih dahulu besar ragamnya
(variance) atau simpangan baku (standard deviation) dari pendapatan bersih per
periode atau return. Dimana jika risiko tinggi maka return juga akan meningkat
ataupun sebaliknya. Hubungan risiko dan return dapat dilihat pada Gambar 2
Return

Expected Return

Risiko
Gambar 2. Hubungan Risiko dengan Return
Sumber : Hanafi 2006
Beberapa ukuran risiko yang dapat digunakan adalah nilai variance,
standard deviation, dan coefficient variation. Nilai variance diperoleh dari hasil
pendugaan fungsi produksi. Standard deviation diperoleh dari akar kuadrat nilai
variance sedangkan coefficient variation diperoleh dari rasio antara standard
deviation dengan expected return (Hanafi 2006).
3.1.4

Manajemen Risiko
Manajemen risiko adalah suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis

serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan tujuan untuk
efektifitas dan efisiensi yang lebih tinggi. Karena itu perlu terlebih dahulu
memahami tentang konsep-konsep yang dapat memberi makna, cakupan yang
luas dalam rangka memahami proses manajemen tersebut. Hal ini sesuai dengan
defenisi yang ditetapkan oleh (Darmawi 2005).

17

Cara-cara yang digunakan manajemen untuk menangani berbagai
permasalahan yang disebabkan oleh adanya risiko merupakan defenisi manajemen
risiko menurut (Kountur 2008). Keberhasilan perusahaan ditentukan oleh
kemampuan manajemen menggunakan berbagai sumberdaya yang ada untuk
mencapai tujuan perusahaan. Dengan adanya penanganan risiko yang baik, segala
kemungkinan kerugian yang dapat menimpa perusahaan dapat diminimalkan
sehingga biaya menjadi lebih kecil dan pada akhirnya perusahaan mendapatkan
keuntungan yang lebih besar. Selanjutnya Kountur mengatakan dalam menangani
risiko yang ada dalam perusahaan diperlukan suatu proses yang dikenal dengan
istilah proses pengelolaan risiko. Proses manajemen atau pengelolaan risiko dapat
dilakukan dengan mengidentifikasi risiko-risiko apa saja yang dihadapi
perusahaan, kemudian mengukur risiko-risiko yang telah teridentifikasi untuk
mengetahui seberapa besar kemungkunan terjadinya risiko dan seberapa besar
konsekuensi dari risiko tersebut. Tahap berikutnya yaitu dengan menangani
risiko-risiko tersebut yang selanjutnya dilakukan evaluasi untuk mengetahui
sejauh mana manajemen risiko telah diterapkan. Proses pengelolaan risiko
perusahaan dapat dilihat pada Gambar 3.
Identifikasi Risiko
Pengukuran Risiko
Penanganan Risiko
Evaluasi
Gambar 3. Proses Pengelolaan Risiko Perusahaan
Sumber : Kountur 2008
Ada empat cara menangani risiko menurut (Kountur 2008), yaitu dengan
cara menerima atau menghadapi risiko, menghindari risiko, mengendalikan risiko
dan mengalihkan risiko. Mengendalikan risiko yaitu mengelola risiko dengan
meminimalkan risiko melalui pencegahan, sedangkan mengalihkan risiko dapat
dilakukan dengan mengalihkan kepada pihak lain seperti asuransi, hedging,
leasing, outsourcing dan kontrak.

18

Melalui asuransi, asset perusahaan yang memiliki dampak risiko yang
besar dapat terhindar dari kerugian apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan
oleh perusahaan sehingga kerugian tersebut ditanggung oleh pihak asuransi sesuai
dengan kontrak perjanjian yang telah disepakati oleh kedua pihak. Sedangkan
leasing merupakan cara dimana asset digunakan oleh perusahaan namun
kepemilikannya merupakan milik pihak lain sehingga bila terjadi sesuatu pada
asset tersebut maka pemiliknya yang akan menanggung kerugian atas asset
tersebut. Outsourcing merupakan suatu cara dimana pekerjaan diberikan kepada
pihak lain untuk mengerjakannya sehingga bila terjadi kerugian maka pihak
tersebut yang menanggung kerugiannya. Pengertian hedging menurut kamus yaitu
menutup transaksi jual beli komoditas, sekuritas atau valuta yang sejenis untuk
menghindari kemungkinan kerugian karena perubahan harga sedangkan hedging
menurut pasar komoditas adalah proteksi dari risiko kerugian akibat fluktuasi
harga
Alternatif penanganan risiko pada produk pertanian dilakukan dengan
berbagai cara yaitu dengan diversifikasi usaha, integrasi vertikal, kontrak
produksi, kontrak pemasaran, perlindungan nilai dan asuransi.
3.2

Teknik Pemetaan
Pemetaan risiko terkait dengan dua dimensi yaitu probabilitas terjadinya

risiko dan dampaknya bila risiko tersebut terjadi. Probabilitas yang merupakan
dimensi pertama menyatakan tingkat kemungkinan suatu risiko terjadi. Semakin
tinggi tingkat kemungkinan risiko terjadi, semakin perlu mendapat perhatian.
Sebaliknya, semakin rendah kemungkikan risiko terjadi, semakin rendah pula
kepentingan manajemen untuk

memberi perhatian kepada risiko

yang

bersangkutan. Umumnya probabilitas dibagi menjadi tiga kategori yaitu tinggi,
sedang, dan rendah.
Dimensi kedua yaitu dampak, merupakan tingkat kegawatan atau biaya
yang terjadi jika risiko yang bersangkutan benar-benar menjadi kenyataan.
Semakin tinggi dampak suatu risiko, maka semakin perlu mendapat perhatian
khusus. Sebaliknya, semakin rendah dampak yang terjadi dari suatu risiko maka
semakin rendah pula kepentingan manajemen untuk mengalokasikan sumber daya
untuk menangani risiko yang bersangkutan. Umumnya dimensi dampak dibagi

19

menjadi tiga tingkat yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Pembagian matriks pada
pemetaan risiko dapat dilihat pada Gambar 4 .
Probabilitas (%)
Tinggi
Kuadran 1

Kuadran 2

Kuadran 3

Kuadran 4

Sedang

Rendah
Rendah

Sedang

Tinggi

Dampak (Rp)

Gambar 4. Peta Risiko
Sumber : Kountur 2008
Berdasarkan pada Gambar 4, ada empat kuadran utama pada peta risiko.
Kuadran I merupakan area dengan tingkat probabilitas kejadian yang tinggi,
namun dengan dampak yang rendah. Risiko yang secara rutin terjadi ini tidak
terlalu mengganggu pencapaian tujuan dan target perusahaan. Kadangkadang
terasa mengganggu bila risiko yang bersangkutan muncul sebagai kenyataan.
Biasanya, perusahaan mampu dengan cepat mengatasi dampak yang muncul.
Kuadran II merupakan area dengan tingkat probabilitas sedang sampai
tinggi dan tingkat dampak sedang sampai tinggi. Pada kuadran II merupakan
kategori risiko yang masuk ke dalam prioritas utama. Bila risiko-risiko pada
kuadran II terjadi akan menyebabkan terancamnya pencapaian tujuan perusahaan.
Kuadran III merupakan risiko dengan tingkat probabilitas kejadian yang
rendah dan mengandung dampak yang rendah pula. Risiko-risiko yang muncul
pada kuadran III cenderung diabaikan sehingga perusahaan tidak perlu
mengalokasikan sumberdayanya untuk menangani risiko tersebut. Walaupun
demikian, manajemen tetap perlu untuk memonitor risiko yang masuk dalam
kuadran III karena suatu risiko bersifat dinamis. Risiko yang saat ini masuk dalam

20

kuadran III dapat pindah ke kuadran lain bila ada perubahan ekternal maupun
internal yang signifikan.
Kuadran IV merupakan area dengan tingkat probabilitas kejadian antara
rendah sampai sedang, namun dengan dampak yang tinggi. Artinya, risiko-risiko
dalam kuadran IV cukup jarang terjadi tetapi apabila sampai terjadi maka akan
mengakibatkan tidak tercapainya tujuan dan target perusahaan.
3.3

Kerangka Pemikiran Operasional
Tomat cherry merupakan salah satu komoditas pertanian yang potensial

untuk dikembangkan, khususnya bagi PD Pacet Segar karena memilki nilai
eknomis dan tinggi. Namun dalam pelaksanaan proses produksinya menghadapi
risiko, salah satunya adalah risiko produksi. Untuk mengetahui tingkat risiko
prduksi yang dihadapi oleh perusahaan, maka dilakukan analisis risiko dengan
mengkaji faktor penyebab atau sumber risiko produksi. Untuk meminimalkan
risiko produksi yang ada, maka dilakukan analisis risiko produksi dengan
menggunakan analisis deskriptif yaitu berupa wawancara dan diskusi dengan
pihak perusahaan. Selanjutnya dilakukan analisis strategi yang dilakukan untuk
mengatasi risiko produksi yang baik dan efektif bagi perusahan PD Pacet Segar.
Alur kerangka pemikiran operasional dapat dilihat pada Gambar 5.
Fluktuasi produktivitas tomat cherry pada PD Pacet Segar
Risiko produksi tomat cherry

Analisis Risiko
1. Z-score
2. VaR

1.
2.
3.
4.
5.

Analisis Deskriptif (sumber risiko)
pengaruh cuaca
hama
penyakit
pemupukan
kualitas bibit

Pemetaan Risiko
Alternatif strategi pengelolaan risiko produksi tomat cherry pada Pacet Segar
Gambar 5. Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Risiko Produksi Tomat
Cherry
21

IV METODE PENELITIAN
4.1

Lokasi dan waktu
Penelitian ini dilakukan di PD Pacet Segar milik Alm Bapak H. Mastur

Fuad yang beralamat di Jalan Raya Ciherang no 48 Kecamatan Cipanas,
Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara
sengaja (purposive) dengan pertimbangan PD Pacet Segar ini merupakan satusatunya produsen tomat cherry di Kecamatan Cipanas. Pengumpulan data ini
dilakukan pada PD Pacet Segar mulai dari bulan Maret sampai dengan April 2012.
4.2.

Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data

sekunder, kedua data ini bersifat kuantitatif dan kualitatif. Data pimer diperoleh
dari hasil pengamatan langsung dan wawancara dengan pihak perusahaan. Untuk
memperoleh informasi tentang perusahaan dan alternatif strategi yang diambil
untuk menangani risiko adalah pemimpin perusahaan, sedangkan untuk
memperoleh informasi tentang budidaya tomat cherry, wawancara dilakukan
dengan bagian produksi. Data primer berisikan tentang teknik pengelolaan risiko
atau manajemen risiko yang dilakukan oleh perusahaan. Data sekunder diperoleh
dari buku, artikel, skripsi, jurnal, serta data-data instansi terkait yang mendukung
penelitian seperti Badan Pusat Statistik, Dirjen Hortikultura, Departemen
Pertanian, internet, dan literatur yang relevan dengan penelitian.
4.3

Metode Pengumpulan Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitan ini adalah data primer yang

diperoleh dengan cara observasi, wawancara, diskusi, dan kuisioner dengan phak
perusahaan. Observasi dilakukan langsung oleh peneliti dengan pencatatan secara
langsung tentang aktifitas produksi dan risiko yang dihadapi dalam produksi
tomat cherry. Wawancara akan dilakukan dengan pihak perusahaan yaitu bagian
produksi tentang risiko yang biasa muncul/dihadapi oleh perusahaan dalam proses
budidaya tomat cherry. Proses pengambilan data dan penentuan responden
dilakukan dengan metode judgement/purposive sampling dengan pertimbangan
responden memiliki kapabilitas dalam memberikan data-data yang akurat.

Responden merupakan pihak yang berhubungan dan mengetahui dengan jelas
tentang produksi tomat cherry dan risiko yang dihadapi perusahaan.
4.4

Metode Analisis Data
Data primer dan data sekunder yang diperoleh akan dijadikan sebagai

acuan pada penelitian ini. Kedua data ini akan diolah dan dianalisis melalui
beberapa metode analisis yang digunakan. Metode analisis yang digunakan untuk
menjawab tujuan penelitian disajikan dalam Tabel 5.
Tabel 4.

Jenis, Sumber Data dan Metode Analisis yang Digunakan Dalam
Penelitian

No

Tujuan Penelitian

1

2

3

Jenis Data

Mengidentifikasi sumberKualitatif
sumber risiko budidaya tomat
cherry
Menganalisis seberapa besar
Kuantitatif
probabilitas dan dampak risiko
produksi pada budidaya tomat
cherry

Menganalisis alternatif
manajemen risiko yang
diterapkan untuk mengatasi
risiko yang dihadapi

Kualitatif

Sumber Data
Wawancara,
kuesioner,
diskusi
Laporan
keuangan dan
produksi
tomat cherry
PD Pacet
Segar
Wawancara,
kuesioner,
diskusi

Metode
Analisis
Analisis
Deskriptif
Analisis
Risiko

Analisis
Deskriptif

Berdasarkan informasi pada Tabel 5, metode analisis yang digunakan adalah
analisis deskriptif dan analisis risiko. Analisis risiko digunakan untuk menjawab
tujuan penelitian yang kedua, yaitu menganalisis seberapa besar probability dan
dampak risiko produksi pada usaha budidaya tomat cherry, data untuk analisis ini
menggunakan data kuantitatif. Sumber data kuantitatif adalah laporan keuangan
perusahaan dan produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar.. Laporan ini dapat
memberikan informasi mengenai data yang dicari, karena penilaian risiko
digunakan dengan mengukur nilai penyimpangan terhadap return dari suatu asset.
Analisis deskriptif digunakan untuk menjawab tujuan penelitian yang pertama dan
ketiga, yaitu menganalisis sumber-sumber risiko yang ada pada budidaya tomat
cherry dan alternatif manajemen risiko yang diterapkan untuk mengatasi risiko

23

yang dihadapi. Adapun data yang digunakan untuk analisis ini adalah data
kualitatif. Sumber data kualitatif diperoleh melalui kuesioner dan wawancara
dengan pihak perusahaan
4.4.1

Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis sumber-sumber risiko

dan alternatif manajemen risiko yang diterapkan oleh perusahaan untuk
meminimalkan risiko dan ketidakpastian yang dihadapi. Manajemen risiko yang
diterapkan berdasarkan pada penilaian perusahaan sebagai pengambil keputusan
secara subjektif. Identifikasi ini dilakukan untuk melihat apakah manajemen risiko
yang diterapkan efektif untuk meminimalkan risiko. Hal tersebut didasarkan pada
tingkat risiko yang dihadapi oleh perusahaan.
4.4.2

Analisis Kemungkinan Terjadinya Risiko
Risiko dapat diukur jika diketahui kemungkinan terjadinya risiko dan

besarnya dampak risiko terhadap perusahaan. Ukuran pertama dari risiko adalah
besarnya kemungkinan terjadinya yang mengacu pada seberapa besar probabilitas
risiko akan terjadi. Metode yang digunakan untuk mengetahui kemungkinan
terjadinya risiko adalah metode nilai standar atau z-score. Metode ini dapat
digunakan apabila ada data historis dan berbentuk kontinus (desimal). Pada
penelitian ini, yang akan dihitung adalah kemungkinan terjadinya risiko pada
kegiatan produksi adalah data produksi tomat cherry pada 10 periode terakhir.
Menurut (Kountur 2006), langkah yang perlu dilakukan untuk melakukan
perhitungan kemungkinan terjadinya risiko menggunakan metode ini dan
aplikasinya pada budidaya tomat cherry ini adalah:
1.

Menghitung rata-rata kejadian berisiko (penurunan produksi tomat
cherry)
Rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata penururnan produksi

tomat adalah:
x=
Dimana:
xi
n

n
i=1 xi

n

= Nilai rata-rata dari kejadian berisiko
= Nilai per periode kejadian berisiko
= Jumlah data

24

2.

Menghitung nilai standar deviasi dari kejadian berisiko
�=

Dimana:

3.


�=1

�� − �
�−1

s = Standar deviasi dari kejadian berisiko
xi = nilai per periode dari kejadian berisiko
= Nilai rata-rata dari kejadian berisiko
n = Jumlah data

Menghitung z-score

Dimana:

�=

�−�


z = Nilai z-score dari kejadian berisiko
x = Batas risiko yang dianggap masih dalam taraf normal
= Nilai rata-rata dari kejadian berisiko
s = Standar deviasi dari kejadian berisiko

Jika hasil z-score yang diperoleh bernilai negatif, maka nilai tersebut berada
di sebelah kiri nilai rata-rata pada kurva distribusi normal dan sebaliknya jika nilai
z=score positif, maka nilai tersebut berada di sebelah kanan kurva distribusi z
(normal).
4. Mencari probabilitas terjadinya risiko produksi
Setelah nilai z-score dari budidaya tomat cherry diketahui, maka
selanjutnya dapat dicari probabilitas terjadinya risiko produksi yang diperoleh dari
Tabel distribusi z (normal) sehingga dapat diketahui berapa persen kemungkinan
terjadinya keadaan dimana produksi tomat cherry yang mendatangkan kerugian.
4.4.3

Analisis Dampak Risiko
Metode yang paling efektif digunakan dalam mengukur dampak risiko

adalah VaR (Value at Risk). VaR adalah kerugian terbesar yang mungkin terjadi
dalam rentang waktu tertentu yang diprediksikan dengan tingkat kepercayaan
tertentu. Penggunaan VaR dalam mengukur dampak risiko hanya dapat dilakukan
apabila terdapat data historis sebelumnya. Analisis ini dilakukan untuk mengukur
dampak dari risiko pada kegiatan budidaya tomat cherry. kejadian yang dianggap
merugikan berupa penurunan produksi sebagai akibat dari terjadinya sumbersumber risiko. Dalam menghitung VaR terlebih dahulu dihitung jumlah penurunan

25

produksi tomat cherry setiap periode. Jumlah penurunan tersebut (dari batas
normal) kemudian dikalikan dengan harga yang terjadi pada periode yang sama
dan dikali berat rata-rata yang terjadi pada periode yang sama. Setelah didapat
angka kerugian dari masing-masing periode kemudian dijumlahkan dan dihitung
rata-ratanya, setelah itu dicarai berapa besar nilai standar deviasi atau
penyimpangan. Proses terakhir menetapkan batas toleransi kevalidan dan mencari
nilai VaR. Nilai VaR dapat dihitung dengan rumus berikut : (Kountur 2006).
��� = � + �





Dimana: VaR = Dampak kerugian yang ditimbulkan oleh kejadian berisiko
= Nilai rata-rata kerugian akibat kejadian berisiko
z
= Nilai z yang diambil dari tabel distribusi normal dengan alfa 5%
s
= Standar deviasi kerugian akibat kejadian berisiko
n
= Banyaknya kejadian berisiko
4.4.4

Pemetaan Risiko
Menurut Kountur 2006, sebelum dapat menangani risiko, hal yang terlebih

dahulu perlu dilakukan adalah membuat peta risiko. Peta risiko adalah gambaran
mengenai posisi risiko pada suatu peta dari dua sumbu, yaitu sumbu vertikal yang
menggambarkan probabilitas dan sumbu horizontal yang menggambarkan
dampak, ataupun sebaliknya. Contoh layout peta risiko dapat dilihat pada
Gambar 6.
Probabilitas (%)
Besar

Kuadran 1

Kuadran 2

Kuadran 3

Kuadran 4

Kecil

Kecil

Besar

Dampak (Rp)

Gambar 6. Peta Risiko
Sumber : (Kountur 2006)

26

Probabilitas atau kemungkinan terjadinya risiko dibagi menjadi dua
bagian, yaitu besar dan kecil. Dampak risiko juga dibagi menjadi dua bagian,
yaitu besar dan kecil. Batas antara probabilitas atau kemungkinan besar dan kecil
ditentukan oleh manajemen, tetapi pada umumnya risiko yang probabilitasnya 20
persen atau lebih dianggap sebagai kemungkinan besar, sedangkan kurang dari 20
persen dianggap sebagai kemungkinan kecil (Kountur 2006).
4.4.5

Penanganan Risiko
Berdasarkan hasil pemetaan risiko, maka selanjutnya dapat ditetapkan

strategi penanganan risiko yang sesuai. Terdapat dua strategi yang dapat
dilakukan untuk menangani risiko, yaitu:
1.

Penghindaran Risiko (Preventif)
Strategi preventif dilakukan untuk risiko yang tergolong dalam

probabilitas risiko yang besar. Strategi preventif akan menangani risiko yang
berada pada kuadran 1 dan 2. Penanganan risiko dengan menggunakan strategi
preventif, maka risiko yang ada pada kuadran 1 akan bergeser menuju kuadran 3
dan risiko yang berada pada kuadran 2 akan bergeser menuju kuadran 4 (Kountur
2006). Penanganan risiko menggunakan strategi preventif dapat dilihat pada
Gambar 7.
Probabilitas (%)
Besar

Kuadran 1

Kuadran 2

Kuadran 3

Kuadran 4

Kecil

Kecil

Besar

Dampak (Rp)

Gambar 7. Preventif Risiko
Sumber : (Kountur 2006)

27

2.

Mitigasi Risiko
Strategi mitigasi digunakan untuk meminimalkan dampak risiko yang

terjadi. Risiko yang berada pada kuadran dengan dampak yang besar diusahakan
dengan menggunakan strategi mitigasi dapat bergeser ke kuadran yang memiliki
dampak risiko yang kecil. Strategi mitigasi akan menangani risiko sedemikian
rupa sehingga risiko yang berada pada kuadran 2 bergeser ke kuadran 1 dan risiko
yang berada pada kuadran 4 bergeser ke kuadran 3. Strategi mitigasi dapat
dilakukan dengan metode diversifikasi, penggabungan, dan pengalihan risiko
(Kountur 2006). Mitigasi risiko dapat dilihat pada Gambar 8.
Probabilitas (%)
Besar
Kuadran 1

Kuadran 2

Kuadran 3

Kuadran 4

Kecil
Kecil

Besar

Dampak (Rp)

Gambar 8. Mitigasi Risiko
Sumber : (Kountur 2006)

28

V KERAGAAN PERUSAHAAN
5.1

Sejarah dan Perkembangan Perusahaan
Perusahaan Dagang (PD) Pacet Segar, merupakan perusahaan yang

bergerak dalam bidang budidaya dan pemasaran komoditas holtikultura,
khususnya sayuran segar. PD Pacet Segar didirikan oleh Alm. Bapak H. Mastur
Fuad pada tahun 1970. Pada awalnya PD Pacet Segar merupakan suatu usaha
dengan skala kecil yang dilakukan pada sebidang lahan seluas 400 m2 dan
merupakan suatu usaha produksi pertanian yang dikelola secara kekeluargaan.
Seiring dengan perjalanan waktu, pada waktu 1975 PD Pacet Segar bergabung
dengan petani-petani daerah sekitar dan membentuk sutu kelompok tani bersama
yang beranggotakan 20 orang, kelompok bersama tersebut di bentuk atas anjuran
dan binaan Dinas Pertanian Pangan Dati II Cianjur. Tujuan dengan bergabungnya
PD Pacet Segar dengan petani-petani tersebut adalah untuk menjalin k

Dokumen yang terkait

Analisis Risiko Produksi Tomat Cherry pada PD Pacet Segar Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat