Kesempatan Kerja di Sektor Pertanian dan Non Pertanian

ini tampak berbalikan dengan perubahan sistem upah yang umum terjadi di desa- desa pertanian, dimana sistem upah harian digantikan oleh upah borongan. Berubahnya sistem upah dalam pertanian disebabkan oleh ketersediaan lahan yang semakin sempit, biaya saprotan dan upah buruh tani yang mahal, serta tenaga kerja pertanian buruh tani yang jumlahnya berkurang. Sebagaimana diungkapkan oleh salah seorang informan penelitian: “Sekarang sudah jarang lagi ada upah borongan. Sekarang mah banyakan petani milih upah harian. Tahun-tahun yang lalu Bapak juga pernah pakai borongan, nyewa traktor ini itu, tapi yah sekarang mah lahannya juga dikit, udah gitu susah nyari orang buat buruh tani ”. Bapak UDN, 52 tahun, Petani Hal lain yang berkaitan dengan berubahnya struktur pemilikan lahan dan pola hubungan kerja pertanian adalah perubahan pada sifat hubungan kerja. Di tingkat petani, terjadi pergeseran pola hubungan kerja dari berbagai bentuk sosial kebersamaan ke hubungan yang lebih individual dan komersial. Sejalan dengan berkembangnya sistem ekonomi uang di pedesaan, sifat hubungan kerja yang semula didasarkan pada nilai kekeluargaan telah hilang dan berubah menjadi hubungan atas dasar ekonomi.

5.2. Industri di Pedesaan dan Perubahan Jenis Mata Pencaharian Masyarakat Petani

5.2.1. Kesempatan Kerja di Sektor Pertanian dan Non Pertanian

Bagi masyarakat desa yang tidak terikat langsung dengan kegiatan pertanian, alihfungsi lahan pertanian bukanlah persoalan yang perlu dikhawatirkan, terutama bagi tenaga kerja muda desa. Bagi tenaga kerja muda desa, bekerja di sektor industri jauh lebih menguntungkan daripada bekerja di sektor pertanian. Penghasilan yang tidak menentu, hasil pertanian yang bergantung pada cuaca, dan pekerjaan yang berat menjadi alasan tenaga kerja muda desa untuk lebih memilih sektor industri daripada pertanian. Dalam keluarga petani misalnya, terdapat kecenderungan pola mata pencaharian yang hampir sama, dimana anak atau anggota keluarga bekerja di sektor industri baik industri yang berada di dalam desa maupun industri di luar Desa Pasawahan. Sebagaimana diungkapkan oleh salah seorang informan penelitian: “Kebanyakan petani disini, anak atau anggota keluarganya ikut kerja di pabrik. Alhamdulillah buat nambah-nambah belanja sehari-hari. Da sekarang mah, anak-anak udah pada gak mau kerja di sawah. Pada pengen kerja di pabrik ”. Bapak YYD, 73 tahun, Petani. Kesempatan kerja yang ada sangat penting dan berkaitan dengan ketersediaan tenaga kerja yang melimpah di pedesaan, begitu halnya bagi masyarakat di Desa Pasawahan. Tenaga kerja yang dimaksud dibedakan menjadi tenaga kerja untuk usaha pertanian dan tenaga kerja untuk usaha non pertanian. Pembedaan tenaga kerja usaha pertanian dan non pertanian dilakukan untuk melihat bagaimana peluang yang diberikan oleh masing-masing sektor usaha tersebut pada masyarakat desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat ini terdapat kecenderungan berkurangnya ketersediaan tenaga kerja untuk usaha pertanian, dan terdapat kecenderungan bertambahnya ketersediaan tenaga kerja untuk usaha non pertanian. Berikut disajikan data mengenai ketersediaan tenaga kerja dalam kaitannya dengan kesempatan kerja di pedesaan berdasarkan sektor usahanya. Tabel 12 Jumlah Responden yang Menilai Ketersediaan Tenaga Kerja Menurut Kesempatan Kerja pada Sektor Pertanian dan Non Pertanian, 2011 Kesempatan Kerja pada Sektor Ketersediaan Tenaga Kerja Menurun Tetap Meningkat Pertanian 26 86,7 4 13,3 0 0 Non pertanian 0 0 0 0 30 100 Sumber: Data diolah, 2011 Tabel 12 menunjukkan penilaian responden mengenai kecenderungan kondisi ketenagakerjaan pedesaan dikaitkan dengan peluang kesempatan kerja di sektor pertanian dan non pertanian. Menurunnya kesempatan kerja di sektor pertanian terjadi karena banyaknya lahan yang telah dikonversi untuk kegiatan non pertanian, sementara lahan pertanian yang masih tersedia tidak cukup menampung kelebihan jumlah tenaga kerja pertanian. Sebaran lahan pertanian sempit yang terdapat di desa mendorong masyarakat untuk menekuni pekerjaan di luar pertanian, akibatnya ketersediaan tenaga kerja untuk usaha pertanian menurun. Menurunnya kesempatan kerja di sektor pertanian yang diikuti oleh menurunnya ketersediaan tenaga kerja pertanian, berbalikan dengan kesempatan kerja dan ketersediaan tenaga kerja di sektor non pertanian yang dinilai meningkat. Responden menilai ada kecenderungan perubahan tenaga kerja dari pertanian ke non pertanian, terutama dikaitkan dengan adanya industri di kawasan pedesaan. Namun, pada kenyataannya tidak mudah bagi tenaga kerja desa untuk terlibat dalam sektor industri yang berada di Desa Pasawahan. Hal ini dikarenakan industri yang berkembang adalah industri padat modal yang menjadikan tingkat pendidikan sebagai salah satu syarat perekrutannya, sementara tingkat pendidikan tenaga kerja desa umumnya masih tergolong rendah. Kesempatan kerja di sektor non pertanian seperti industri juga menjadi peluang bagi pendatang untuk terlibat didalamnya. Peningkatan jumlah tenaga kerja di desa yang disebabkan oleh masuknya para pekerja pendatang akan mempengaruhi keadaan ketenagakerjaan desa. Pengembangan industri yang menyebabkan terkonversinya sejumlah lahan pertanian, mengurangi kemampuan sektor pertanian dalam menyerap tenaga kerja. Tenaga kerja yang tidak terserap oleh sektor pertanian dan non pertanian di desa, menyebabkan terjadinya surplus tenaga kerja di pedesaan.

5.2.2. Pengembangan Industri dan Perubahan Jenis Mata Pencaharian Masyarakat Desa