Rancang bangun sistem dinamis pengambilan keputusan kompleks pengembangan agroindustri gula tebu

RANCANG BANGUN SISTEM DINAMIS
PENGAMBILAN KEPUTUSAN KOMPLEKS
PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI GULA TEBU

MUHAMMAD ARIEF BINTORO DIBYOSEPUTRO

SEKOLAH PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

 
 

 
 
PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Rancang Bangun Sistem
Dinamis Pengambilan Keputusan Kompleks Pengembangan Agroindusustri
Gula Tebu adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan
belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun.
Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Februari 2012

M.A. Bintoro Dibyoseputro
NIM 995025

 
 

ABSTRACT

MUHAMMAD ARIEF BINTORO DIBYOSEPUTRO, System dynamic modeling of
complex decision making for the development of sugar cane agroindstry, under
supervision of IRAWADI JAMARAN, MACHFUD, MARIMIN, BUNASOR
SANIM, and YANDRA ARKEMAN.
The modeling outlined in this research is an initiative to find approaches to the
development of sugar cane agroindustry and its related complex decision making
processes. The model is expected to be used for optimizing added values and to better
evaluating the impact of relevant decisions associated with information available
across the components. The entirely model consists of (i) system dynamic model, for
mapping entirely system, decision making purposes and learning through simulation
process, (ii) interpretive structural modeling to visualize vision, generate ideas, and
compose unstructured ideas into structural and operational steps of actions, (iii)
analytical network process as an approach to make decisions and policies by
accommodating complexity of internal and external criteria, and (iv) Bayesian believe
network as an approach to look at the likelihood of realization under specific
scenarios. The simulation indicates that demand for sugar is relatively stable and
predictable. In the other hand the supply is relatively volatile due to productivity
level, land use competition with other crops, climatic factor, market sentiment caused
by economic factor, trade and socio-politico factors. The development of sugar cane
agroindustry requires multidimensional facets and inter-organizational decision
making along the process of adding values to sugar cane plantation, sugar production,
trading (export-import), and distribution to final consumers. The simulation shows
that the improvement of productivity and manufacturing can be achieved by mainly
improving better cane seed, larger cane field, good planting and estate management
practice, and betterment of machineries. The trade-distribution management requires
timely scheduling and precise calculation for importation of raw sugar, white sugar or
refined sugar. The majority of stakeholders suggest in order to develop the
performance of sugar cane agroindustry, there should be attempts to innovate product
alternatives aside from conventional products, e.g ethanol as alternative energy
source, liquefied sugar.
Key words: sugar cane agroindustry, system dynamic model, interpretive structural
modeling, analytical network process, Bayesian believe network.

 
 

RINGKASAN
MUHAMMAD ARIEF BINTORO DIBYOSEPUTRO, Rancang Bangun Sistem
Dinamis Pengambilan Keputusan Kompleks Pengembangan Agroindustri Gula Tebu.
Dibimbing oleh IRAWADI JAMARAN, MACHFUD, MARIMIN, BUNASOR
SANIM, dan YANDRA ARKEMAN.
Agroindustri gula tebu merupakan industri dengan karakter sistem dinamis yang
kompleks (complex dynamic system), bercirikan adanya hubungan terus menerus
antar pelaku atau anggota sistem. Penggunaan pendekatan sistem dinamis dapat
diterapkan dalam rangka melakukan kajian agroindustri gula tebu seperti pada kajian
proses pegambilan keputusan untuk tujuan pengembangan.
Pasokan produksi gula tebu nasional lebih rendah jumlahnya dari pada
permintaan, sehingga terjadi defisit pasokan gula. Hingga saat ini persoalan defisit
pasokan belum dapat teratasi dengan baik. Kompleksitas permasalahan dimulai
ketika tingkat produktifitas pertanian tebu dan pabrik gula masih rendah. Rendahnya
produktifitas pertanian tebu ditengarai terjadi karena penurunan luas lahan tanam,
pergeseran lahan dari lahan basah ke lahan kering yang disebabkan karena persaingan
penggunaan lahan tanam oleh berbagai jenis tanaman lainya serta meningkatnya alih
fungsi lahan bagi keperluan lain di luar pertanian. Penurunan produktifitas pabrik
gula disebabkan karena semakin tua usia mesin yang kurang diimbangi oleh
peremajaan mesin baru yang lebih produktif.
Permasalahan non teknis pertanian masih sering timbul, seperti terjadi
ketidaktepatan pelaksanaan kebijakan importasi gula yang dilakukan pada saat tingkat
persediaan gula dalam negeri masih tinggi dan mencukupi. Persediaan gula yang
berlebih ini dapat mengakibatkan penurunan harga. Permasalahan inilah yang secara
perlahan telah mengurangi daya mampu petani tebu dan pabrik gula sehingga
produktifitas menurun, pasok bahan baku tebu menurun, efisiensi pabrik menurun dan
peremajaan pabrik terlantar hingga gejolak harga gula sewaktu-waktu dapat terjadi
secara tinggi.
Penelitian ini berupaya membangun model yang berbasis sistem dinamis
sebagai alat pemeta sekaligus sebagai alat simulasi. Di luar keunggulan metoda
sistem dinamis yang dalam penelitian ini menggunakan software Stella, penelitian ini
mengantisipasi adanya keterbatasan dalam pemeringkatan berbagai alternatif ide,
kepentingan, dan keinginan para pelaku pemangku kepentingan dalam sistem. Oleh
karena itu digunakanlah teknik Interpretive Structural Modeling untuk
mengembangkan ide-ide tersebut dan menyusunya menjadi terstruktur secara baik.
Selain itu penelitian ini menggunakan teknik Analytical Network Process sebagai alat
untuk menangkap semua elemen yang mungkin berlaku dalam rangka pemeringkatan
penentuan kebijakan. Sebagai alat bantu penelitian yang lain, dalam penelitian ini
akan menggunakan alat bantu Bayesian Belief Network untuk memetakan jaringan
probabilitas antar elemen. Selanjutnya sebagai elemen “tujuan” yang dipilih untuk
diproses dalam Bayesian Belief Network akan diambil dari hasil utama Interpretive

 
 

Structural Modeling, dan dalam penelitian ini terpilih peningkatan produktifitas
sebagai elemen tujuan dalam model Bayesian Belief Network.
Pemodelan sistem dinamis ini terdiri dari beberapa sub-model yaitu: (1) submodel perkebunan tebu, (2) sub-model pabrik gula, (3) sub-model permintaan
konsumen dan distribusi, dan (3) sub-model kebijakan. Keseluruhan sub-model ini
dirangkum menjadi satu hingga terbentuk model sistem dinamis pengambilan
keputusan kompleks bagi pengembangan agroindustri gula tebu.
Hasil simulasi menunjukan bahwa peningkatan produktifitas secara global
dapat tercapai bila pemangku penentu kebijakan mengambil keputusan kebijakan
Pengembangan Produk Alternatif, lalu diikuti keputusan Dukungan Kebijakan
Moneter, dan terakhir kebijakan Penentuan Tarif Bea Masuk.
Dengan mengikuti pola pemeringkatan kebijakan di atas, maka diharapkan
pada tahun 2014 dapat dicapai swa sembada gula dengan tingkat produksi gula
nasional yang terdiri dari kontribusi pabrik gula Kristal putih dibawah naungan
BUMN dan swasta serta pabrik gula rafinasi sebesar 5,700,000 ton. Dari jumlah ini
diharapkan kontribusi produksi gula tebu dari kelompok pabrik gula di bawah
naungan BUMN sebesar 2,075,984 ton dengan tambahan lahan tanam sehingga
mencapai luasan sebesar 308,789 hektar dan tambahan pembangunan pabrik gula
kristal putih sebanyak 16 unit. Rencana kegiatan ini merupakan peluang usaha yang
besar karena dapat menumbuhkan peluang penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan
ekonomi yang tersebar di berbagai kawasan dan peluang pertumbuhan industri
pendukung lain seperti industri pupuk serta sarana produksi lain seperti herbisida,
pestisida dan industri transportasi.
Selain industri pendukung langsung, diperkirakan akan terjadi peningkatan
industri pendukung tidak langsung lain seperti keuangan, asuransi, dan pasar modal.
Di samping itu diharapkan tercapainya swa sembada gula dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat serta pertumbuhan pusat-pusat penelitian gula dan
berkembangnya kegiatan asosiasi-asosiasi terkait lainya.

 
 

 
 
 
 
 
 
@ Hak Cipta milik IPB, tahun 2012 
  Hak Cipta dilindungi Undang‐undang 
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumber
a. Mengutip hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan
karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu
masalah
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apapun tanpa izin IPB

 

 

 
 

RANCANG BANGUN SISTEM DINAMIS
PENGAMBILAN KEPUTUSAN KOMPLEKS
PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI GULA TEBU

MUHAMMAD ARIEF BINTORO DIBYOSEPUTRO

Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor pada
Program Studi Teknologi Industri Pertanian

SEKOLAH PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

 
 

Ujian Tertutup
Penguji Luar Komisi:

Ujian Terbuka
Penguji Luar Komisi:

1. Prof. Dr. Ir. Ani Suryani, DEA
2. Dr. Ir. Sukardi, MS

1. Prof. Dr. Ir. A. Aziz Darwis, MSc.
2. Prof. Dr. Ir. I Wayan Rusastra, APU

 
 

Judul Disertasi

: Rancang Bangun Sistem Dinamis
Pengambilan Keputusan Kompleks
Pengembangan Agroindustri Gula Tebu

Nama Mahasiswa

: M.A. Bintoro Dibyoseputro

Nomor Pokok

: 995025

Program Studi

: Teknologi Industri Pertanian
Menyetujui:
Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Irawadi Jamaran
Ketua Komisi

Dr. Ir. Machfud, MS.
Anggota

Prof. Dr. Ir. Marimin, M.Sc.
Anggota

Prof. Dr. Ir. Bunasor Sanim, M.Sc.
Anggota

Dr. Ir. Yandra Arkeman, M.Eng.
Anggota

Mengetahui:
Ketua Program Studi
Teknologi Industri Pertanian

Dekan
Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Machfud, MS.

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc. Agr.

Tanggal Ujian Terbuka: 30 Januari 2012

 
 

Tanggal Lulus:

PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT atas segala karuniaNYA
sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang
dilaksanakan kurun waktu 2007 - 2011 ini ialah manajemen strategi dalam rangka
pengembangan suatu agroindustri, dengan judul Rancang Bangun Sistem Dinamis
Pengambilan Keputusan Kompleks Pengembangan Agroindustri Gula Tebu.
Perkenankan penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang dalam disertai
pemohonan kepada Allah SWT kiranya berkenan menjadikan budi baik dan ketulusan yang
telah mereka berikan kepada kami menjadi amal jariyah yang tak terputus selamanya, kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Irawadi Jamaran, ketua komisi pembimbing, beserta keluarga
besar, terutama Ibu Prof. Dr. Ir. Tun Teja Irawadi, MS yang telah menghantarkan
kami hingga dapat menyelesaikan program doktoral ini, dan telah menyediakan
segala fasilitas di kediaman beliau bagi kami semua sebagai anak bimbingan. Penulis
akan selalu mengenang wejangan filosofis tentang program doktoral ini yang telah
banyak diutarakan oleh beliau selama masa pembingingan, agar kami selanjutnya
terbebas dari rasa malas dan takut untuk berfikir.
2. Bapak Dr. Ir. Machfud, MS, selaku anggota komisi pembimbing dan selaku ketua
program studi, yang tanpa henti selalu mendorong agar penyelesaian program ini
dapat terlaksana dan selalu mengingatkan agar dalam penulisan memperhatikan
formulasi matematis sebagai kesempurnaan disertasi.
3. Bapak Prof. Dr. Ir. Marimin, MSc., selaku anggota komisi pembimbing yang secara
berkala beliau selalu memantau kemajuan kami, memberikan kemudahan akses pada
sumber-sumber rujukan serta selalu mendorong agar program ini dapat selesai
dengan baik, hingga upaya beliau menjadikan ruang kerja sebagai tempat kami
belajar, dan berdiskusi.
4. Bapak Dr. Ir. Yandra Arkeman, MEng. selaku anggota komisi pembimbing yang telah
banyak membantu penulis ketika mengalami kesulitan dalam pemrograman
komputer, sedemikian rupa beliau memperhatikan kemajuan kami hingga kami selalu
dipantau melalui presentasi yang harus kami lakukan di depan mahasiswa S3 TIP
yang sedang mengikuti mata kuliah yang dibawakan oleh beliau.
5. Bapak Prof. Dr. Ir. Bunasor Sanim, MSc selaku anggota komisi pembimbing yang
banyak membantu menyempurnakan pengetahuan penulis tentang kebijakan publik
dan ekonomi kelembagaan, serta telah memberi waktu kepada penulis di sela-sela
kesibukan beliau.
6. Ibu Prof. Dr. Ir. Ani Suryani dan Bapak Dr. Ir. Sukardi yang telah berkenan menjadi
Penguji Luar pada saat Ujian Tertutup dan telah memberikan masukan yang sangat
bermanfaat bagi kesempurnaan disertasi kami.
7. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Aziz Darwis,MSc dan Bapak Prof. Dr. Ir. I Wayan Rusastra,
APU yang telah berkenan sebagai Penguji Luar pada saat Ujian Terbuka. Beliau
berdua telah memberikan masukan yang penting pada kesempurnaan disertasi kami
berupa apresiasi terhadap kreatifitas metodologi dan perlunya menambahkan
ekonomi kelembagaan.
8. Penulis mohon perkenan melalui media yang terbatas ini ingin mengucapkan
terimakasih kepada para guru kami yang telah mencarikan dan memberikan ilmu

 
 

yang terbaik bagi kami, selama kami “memungut ilmu” di IPB. Semoga keikhlasan
mereka terus berbuah kebaikan selamanya.
9. Penulis ingin sekali menyampaikan ucapan terimakasih yang tinggi kepada para
sahabat dan kolega penulis yang bekerja di Fakultas Teknik Pertanian, dan para
sahabat yang bertugas di Sekolah Pascasarjana, semoga kita tetap disatukan dalam
semangat kebersamaan untuk mencari dan member yang terbaik bagi kehidupan.
10. Pada kesempatan ini penulis ingin sekali menyapa para teman sejawat selama
menjadi mahasiswa baik yang seangkatan maupun yang tidak seangkatan. Mudahmudahan terbatasnya media ini untuk mengungkapkan rasa terimakasih dan rasa
rindu tidak mengurangi semangat silaturahim kita sampai kapanpun dan dimanapun.
11. Penulis ingin sekali mengucapkan terimakasih kepada para sahabat, nara sumber dan
kolega saat penulis melakukan penelitian. Mereka telah banyak sekali membarikan
pencerahan pengetahuan mengenai agrindustri gula tebu hingga ilmu kehidupan yang
lebih luas. Penulis memohon maaf tidak mampu untuk menuliskan satu persatu,
penulis memohon dicukupkan berkomunikasi melalui media lain untuk meneruskan
persaudaraan ini dapat berkelanjutan, insya Allah.
Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada istri penulis, dokter. Detty
Hasanah Dibyoseputro yang selalu sabar dan membantu menjaga kesehatan penulis. Ucapan
yang sama akan penulis sampaikan kepada kedua anak Yusufa Ramadhani Dibyoseputro dan
Elyasa Ramadhani Dibyoseputro atas dukungan yang tidak pernah putus, sejak si bungsu
belum bersekolah hingga si sulung telah kuliah, mengingat penulis terlalu lama menyita
waktu untuk menyelesaikan penelitian ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga karya ilmiah ini bermanfaat dan dirahmati oleh
Allah SWT menjadi ilmu yang amaliah dan amal yang ilmiah, amien.
Bogor, Februari 2012
M.A. Bintoro Dibyoseputro 

 
 

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Yogyakarta, pada hari Senin, tanggal 22 Februari 1960, sebagai
anak pertama di antara tiga bersaudara, dari keluarga almarhum Bapak H. Djam’an
Dibyoseputro dan Ibu Hj. Sri Sudaryati Dibyoseputro.
Penulis menyelesaiakan pendidikan sarjana S1 di Fakultas Ekonomi Jurusan
Akuntansi Universitas Gadjahmada pada tahun 1986. Dua tahun berselang, 1988, penulis
memperoleh Bea Siswa dari Asian Development Bank untuk meneruskan studi di Asian
Institute of Management, Philippines dan lulus sebagai Master of Business Administration
pada tahun 1990. Pada tahun 1999 penulis melanjutkan sekolah pasca sarjana IPB Program
Doktor Program Studi Sosial & Ekonomi Fakultas Pertanian IPB. Atas perkenan Sekolah
Pascasarjana IPB, penulis pindah jurusan ke Program Studi Teknologi Industri Pertanian
hingga akhir program.
Pengalaman kerja mandiri penulis pada awalnya dimotivasi untuk mempraktekan dan
memelihara hasil studi S1 sebagai akuntan dan pada tahun 1995 atas dukungan teman-teman,
penulis ikut mendirikan dan sebagai salah satu pemegang saham perusahaan konsultan
Management Accounting and Advisory Services yang berkembang hingga saat ini. Pada
pertengahan 1996, penulis mendukung ajakan beberapa teman untuk mendirikan dan sebagai
pemegang saham perusahaan Agrakom Para Relatika sebagai perusahaan yang bergerak di
bidang pemasaran dan komunikasi publik
Penulis merintis usaha mandiri berikutnya dengan upaya menerapkan thesis S2
berupa studi kelayakan bank syariah. Pada tahun 1992 bersama-sama sejawat alumni FE
UGM penulis ikut mendirikan dan sebagai salah satu pemegang saham BPRS Harta Insan
Karimah yang hingga kini telah berkembang menjadi beberapa cabang.
Pengalaman managerial bidang keuangan global telah penulis peroleh ketika
berkesempatan bekerja di Bankers Trust, sebagai Country Manager Correspondence Banking.
Penulis banyak menimba pengalaman business ketika bekerja di Kelompok Usaha Sinar Mas
selama hampir 12 tahun hingga keluar sebagai Senior Manager Business Development.
Pada tahun 2000 penulis menerima tawaran para sejawat untuk ikut bergabung
mengelola Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
yang baru saja berdiri. Di FEIS UIN inilah penulis sempat menjadi Wakil Dekan Bidang
Administrasi dan Keuangan. Penulis mulai mengembangkan jejaring keuangan syariah
hingga suatu saat dapat menjalin hubungan kerja dengan Islamic Development Bank/ Islamic
Cooperation for the Development of Private Sector (ICD). Penulis menekuni profesi
konsultan keuangan umum dan khususnya keuangan syariah hingga saat ini.
Sejalan dengan kegiatan istri penulis yang berprofesi sebagai dokter dan pegiat
kesehatan, penulis menerima ajakan teman-teman sejawat untuk berkarya di bidang layanan
kesehatan. Dalam waktu dekat insya Allah kegiatan bersama ini akan berbuah menjadi salah
satu rumah sakit yang dikelola dengan standar kualitas amat tinggi demi memberikan layanan
yang baik bagi pengguna layanan kesehatan yang selama ini terpaksa harus mencari layanan
dari negara tetangga.
Saat ini penulis dianugrahi dua orang anak: Yusufa Ramadhani Dibyoseputro sebagai
mahasiswa Fakultas Hukum UI, dan Elyasa Ramadhani Dibyoseputro sebagai pelajar SMP
Al Falah kelas 2, dari istri Detty Hasanah Dibyoseputro yang berprofesi sebagai dokter.

 
 

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL

v

DAFTAR GAMBAR

vi

DAFTAR LAMPIRAN

iv

1

2

3

4

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
1.2 Tujuan penelitian
1.3 Ruang lingkup penelitian

1
6
6

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Agroindustri gula tebu
2.2 Sistem dinamis kompleksitas detail
2.3 Sistem dinamis kompleksitas dinamis
2.4 Resistensi perubahan
2.5 Langkah-langkah rancang bangun system dinamis
2.6 Rantai kegiatan agroindustri gula tebu
2.7 Rangkaian permintaan dan penawaran
2.8 Desain kebijakan
2.9 Tinjauan studi sebelumnya

8
9
9
9
10
12
12
13
13

LANDASAN TEORI
3.1 Sistem dinamis
3.2 Struktur dan aspek operasional dalam sistem dinamis
3.2.1 Thinking
3.2.2 Communicating
3.2.3 Learning
3.3 Elemen kebijakan agroindustri
3.3.1 Kebijakan proteksi
3.3.2 Kebijakan fiscal dan moneter
3.4 Interpretive Structural Modeling
3.5 Analytical Network Process
3.6 Bayesian Belief Netework

15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
23

METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Kerangka pemikiran
4.2 Tahapan penelitian
4.2.1 Analisis kebutuhan
4.2.2 Formulasi permasalahan
4.2.3 Identtifikasi system

28
28
31
32
32

 
 

5

6

7

8

4.2.4 Diagram konseptual
4.2.5 Pemodelan dan implementasi komputer
4.2.6 Verivikasi dan validasi model
4.2.7 Analisis sentistivitas
4.2.8 Analisis Stabilitas
4.2.9 Aplikasi model
4.2.10 Simulasi model
4.3 Pengumpulan data
4.4 Pengolahan data

33
34
37
38
38
39
39
40
41

KERAGAAN AGROINDUSTRI GULA TEBU
5.1 Penjelasan pelaku agroindustri gula tebu
5.2 Kinerja agroindustri gula tebu
5.3 Distribusi dan perdagangan agroindustri gula tebu
5.4 Aspek supply-demand dan pasar gula tebu
5.5 Tantangan agroindustri gula tebu ke depan

42
45
46
47
48

PENGEMBANGAN MODEL
6.1 Analisis model system dinamis
6.1.1 Analisis kebutuhan
6.1.2 Formulasi Permasalahan
6.1.3 Identifikasi Sistem
6.2 Rancang bangun model
6.3 Pengujian model
6.4 Penggunaan model

50
51
54
55
57
58
59

SIMULASI MODEL DINAMIS
7.1 Simulasi penggalangan ide-ide pengembangan
7.2 Simulasi jejaring keyakinan Bayesian
7.3 Simulasi analytical network process
7.4 Simulasi model sistem dinamis

60
63
65
67

KESIMPULAN DAN SARAN
9.1 Kesimpulan
9.2 Saran

69
73

DAFTAR PUSTAKA

76

LAMPIRAN

79

 
 

DAFTAR TABEL

Halaman
1. Ekspor gula Indonesia periode 1823 – 1940

2

2. Perusahaan multinasional di didang produksi dan
perdagangan gula dunia (2006)

4

3. Permintaan, produksi, dan impor gula nasional

5

4. Ringkasan referensi studi terkait

14

5. Karakteristik dan lingkup permasalahan manjemen

15

6. Jenis-jenis sistem

16

7. Rincian benefit cost opportunity risk

22

8. Rincian struktur jejaring keyakinan Bayesian

26

9. Kebutuhan sistem dan potensi konflik pelaku agroindus tri

31

gula tebu Indonesia
10. Rencana aksi pabrik gula BUMN

72

11. Target hasil simulasi pabrik gula BUMN tahun 2014

72

 
 

DAFTAR GAMBAR

Halaman
1. Tahapan Constructing dalam pemodelan sistem dinamis

17

2. Tahapan Communicating dalam pemodelan sistem dinamis

17

3. Tahapan Learning dalam Pemodelan Sistem Dinamis

18

4. Struktur ANP, Benefit Cost Opportunity Risk

22

5. Struktur umum jejaring keyakinan Bayesian

25

6. Tahapan penelitian rancang bangun model dinamis

29

7. Tahapan penggunaan alat bantu software

30

8. Kerangka konseptual supply-demand agroindustri gula tebu

33

9. Model supply-demand gula tebu

37

10. Interface model simulasi sistem dinamis

40

11. Kebijakan dana talangan

46

12. Mekanisme kebijakan cadangan penyangga

47

13. Importasi gula tebu 2005 – 2010

48

14. Strategi generik kebijakan impor-ekspor

49

15. Diagram model sistem dinamis agroindustri gula tebu

50

16. Tahapan pendekatan sistem

52

17. Diagram sebab akibat menggunakan software Netica

55

18. Diagram input output sistem dinamis

56

19. Model matematis sistem dinamis

57

20. Tampilan interface model sistem dinamis

59

21. Penentuan pertanyaan, konteks, dan relasi ISM

61

22. Sebelas ide utama para pemangku kepentingan

61

23. Contoh laman voting penentuan prioritas

61

24. Hasil simulasi ISM struktur ide-ide berdasarkan prioritas

61

 
 

25. Model jejaring keyakinan Bayesian peningkatan produktifitas

63

Sebagai tujuan model
26. Hasil laporan utama proses simulasi jejaring keyaninan

64

Bayesian
27. Hasil simulasi model jejaring keyakinan Bayesian

64

28. Interface model ANP penentuan kebijakan

65

29. Hasil ANP level strategis management puncak

65

30. Hasil simulasi peringkat kebijakan pada elemen Benefit

66

31. Hasil simulasi peringkat kebijakan pada elemen Cost

66

32. Hasil simulasi peringkat kebijakan pada elemen Opportunity

67

33. Hasil simulasi peringkat kebijakan pada elemen Risk

67

34. Interface utama model sistem dinamis

68

 
 

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Hasil pengolahan model analytical network process

79

2. Hasil pengolahan jejaring keyakinan Bayesian

94

3. Hasil pengolahan interpretive structural modeling

98

4. Hasil pengolahan sistem dinamis

101

 
 

1

1
1.1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kompleksitas dinamis merupakan salah satu ciri yang terjadi pada ranah

agroindustri saat ini. Fenomena ini merupakan akibat yang disebabkan sekurangkurangnya oleh tiga hal: 1) terjadi inovasi di berbagai bidang teknologi terutama
teknologi informasi dan komunikasi, 2) perubahan dinamis pada supply-demand di
tiga bidang utama yaitu makanan, energi, dan air (food, energy, and water), dan 3)
pemanfaatan produk pertanian serta produk terbarukan lainya untuk keperluan energy
(Yandra, et. al. 2007).
Pada agroindustri gula tebu, perubahan kompleksitas dinamis merupakan
permasalahan yang mencakup semakin banyaknya peubah yang saling terkait, peubah
yang mengandung probabilitas, dan peubah yang berbeda sesuai perubahan waktu.
Beberapa contoh kompleksitas agroindustri gula tebu dapat ditemukan pada
pengelolaan sinkronisasi antar elemen dan pengelolaan unsur resiko.

Berkenaan

dengan resiko yang dihadapi oleh agroindustri gula, salah satu contoh adalah resiko
dinamika perubahan biaya atau harga. Bila penyerapan biaya produksi mengalami
perubahan dinamis sehingga biaya mendekati nilai tambah yang diciptakan, maka
margin atau laba yang diciptakan menjadi semakin tipis sehingga perusahaan
berpotensi rugi dan menanggung konsekuensi ikutan yang dapat lebih buruk (Boehlje,
1999).
Sejalan dengan problematika kompleksitas, pendekatan sistem dinamis diakui
oleh para peneliti dan praktisi sebagai metoda yang mampu memberikan pemahaman
dan membantu penyelesaian masalah dalam semesta sistem yang kompleks dengan
lebih baik (Richmond, 2004). Oleh karena itu penelitian ini akan menggunakan
pendekatan sistem dinamis untuk membangun model. Adapun sebagai obyek kajian
utama, penelitian ini akan membahas agroindustri gula tebu sebagai fokus kajian dan
upaya pengembanganya. Agroindustri gula tebu memiliki karakteristik unsur
dinamika perubahan dan kompleksitas permasalahan yang tinggi di banyak sisi.
Secara konseptual, pendekatan sistem dinamis mampu menggambarkan secara
lebih jelas mengenai hubungan antar elemen dan perilakunya. Dengan demikian
diharapkan bagi para pengambil keputusan akan terbantu pada saat menghadapi
pengambilan keputusan persoalan yang kompleks. Hal ini terutama terjadi dalam

2
evaluasi hasil proses pengambilan keputusan dan kaitanya dengan pengelolaan arus
informasi dari tiap-tiap komponen atau agent yang menjadi bagian integral dalam
rangkaian keseluruhan sistem (Bryceson, et.al. 2008).
Merujuk pada sejarah perkembangan agroindustri gula tebu dari masa ke
masa, penelitian ini diharapkan dapat menangkap kerumitan pengelolaan agroindustri
gula tebu dengan persoalan yang berciri multidimensional. Selama masa pendudukan
pihak asing pada rentang waktu tahun 1823 sampai dengan sebelum kemerdekaan,
Indonesia tercatat sebagai produsen gula terbesar kedua setelah Cuba, seperti pada
Tabel 1.
Pada kurun waktu tersebut, meskipun tingkat produktifitas gula tinggi, namun
fakta agroindustri gula tebu di Indonesia diwarnai oleh munculnya para pihak
pemangku kepentingan (petani dan pemilik lahan) yang amat dirugikan oleh
pemangku kepentingan lain yang lebih berkuasa. Sebaliknya ada sedikit pihak tertentu
yang amat diuntungkan, seperti para pihak pemilik modal.
Tabel 1 Ekspor gula Indonesia periode 1823 - 1940

Tahun

Vol (Ton)

Harga (Guilder/
ton)

1823

3,291

204

671

1830

6,710

233

1,563

1840

61,750

219

13,523

1850

84,548

199

16,825

1860

128,265

249

31,938

1970

146,670

216

31,681

1880

222,242

220

48,893

1890

367,785

140

51,490

1995

575,662

140

80,593

1900

736,606

100

73,661

1913

1,278,486

119

152,140

1920

1,510,971

694

1,048,614

1929

2,402,974

127

305,178

1940

803,494

65

52,227

Nilai (1,000 Guilder)

Sumber: B van Ark, “The Volume and Price of Indonesian Exports,
1823 to 1940: The Long-Term Trend and Its Measurement”, dalam
Bulletin of Indonesian Economic Studies 24 (3), 1988, hal. 87-120.

Di balik kinerja yang amat mengesankan dari tabel di atas ternyata mekanisme
produksi gula dilaksanakan dengan kebijakan yang amat bertentangan dengan kaidah
kemanusiaan. Sejarah mencatat adanya distribusi pendapatan yang amat tidak adil,
seperti praktek Kebijakan Tanam Paksa yang penuh dengan pelanggaran dan

3
penyalahgunaan kekuasaan sehingga menghalangi praktek-praktek pengelolaan
industri yang baik dan adil.
Selama periode Kebijakan Tanam Paksa telah diterapkan secara sistemik pola
kebijakan integratif mikro-makro yang pada tingkat operasional diwujudkan dalam
bentuk: 1) tanam paksa di bidang budidaya, 2) monopoli di bidang industri
pengolahan, 3) monopsoni di bidang industri perdagangan, dan 4) integrasi vertikal
dalam organisasi industri secara menyeluruh (Khudori, 2005). Kebijakan Tanam
Paksa pada intinya merupakan mekanisme pengerdilan hak petani sebagai salah satu
pelaku dalam agroindustri gula tebu, yaitu berupa penghapusan paksa pendapatan
tenaga kerja dan pendapatan sewa lahan.
Pada masa setelah kemerdekaan, keprihatinan dan penderitaan petani tebu
yang merupakan salah satu mata rantai penting dalam agroindustri gula tebu, ternyata
belum sepenuhnya membaik, walaupun keprihatinan tersebut berwujud dalam bentuk
lain yaitu seperti menurunya efisiensi di berbagai lini yang berakhir pada menurunya
pendapatan.
Pada dekade 1990, ditengarai penyebab menurunya efisiensi dalam
agroindustri gula tebu disebabkan karena terjadinya penurunan produktifitas dan
rendemen (Djojosubroto, 1995).

Dalam hasil penelitian yang sama, penurunan

produktifitas disebabkan karena: 1) pergeseran lahan tanam dari areal sawah ke lahan
kering, 2) pergeseran lahan tanam tidak diikuti oleh inovasi dan penerapan teknologi
budidaya tebu pada lahan kering, dan 3) meningkatnya biaya produksi khususnya di
Jawa. Sedangkan penurunan tingkat rendemen disebabkan karena: 1) semakin
panjangnya hari giling sehingga berakibat buruk terhadap kemasakan tebu yang
optimal, 2) berkurangnya pasokan tebu, dan 3) hilang bobot pada rantai proses.
Pada dekade 2000, kondisi agroindustri gula tebu masih belum membaik,
ditandai oleh perselisihan penentuan rendemen yang tak kunjung usai antara para
pihak pabrik gula, petani tebu dan pihak terkait pada level produksi. Para pemain
penting ini tak kunjung selaras dalam memecahkan masalah kesepakatan penentuan
rendemen (Lembaga Penelitian IPB, 2002).
Pada tahun 2003, ditemukan disparitas rendemen sebesar 2,45% yaitu
perbedaan antara rendemen pabrik guala swasta, PT. Gunung Madu Plantation yang
mencapai rata-rata 9,66% dan rendemen rata-rata 58 pabrik gula BUMN sebesar
7,21%. Perbedaan rendemen ini setara dengan gula sebanyak 563,500 ton atau 2,45%

4
dari total tebu yang digiling sebanyak 23 juta ton tebu pada tahun 2003. Dalam satuan
rupiah, potensi kerugian saat itu mencapai kurang lebih Rp 2 triliun (Ismail, 2005).
Praktek monopoli dalam produksi masih berlangsung, meskipun mengalami
perubahan bentuk namun tetap sebagai pemegang kekuatan pasar produksi. Dua
kelompok produsen besar yaitu satu kelompok di bawah naungan perusahaan negara
(kelompok PT.Perkebutan Negara, PTPN) dan satu kelompok di bawah kelompok
perusahaan swasta masih memegang kendali terbesar agroindustri gula tebu saat ini.
Monopsoni dalam perdagangan masih amat kuat pengaruhnya, meski warna
dan ciri mereka sedikit berubah namun ciri khas monopsoni atau kartel tetap ada. Hal
ini terjadi di wilayah domestik maupun internasional. Perdagangan gula dunia
dikontrol oleh tujuh perusahaan pemain yang menguasi 83.4% pangsa pasar dunia,
secara rinci dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Perusahaan multinasional produsen dan pedagang gula dunia tahun 2005
Juta Ton (Raw
Value)

Pangsa Ekspor
Dunia (%)

J. Lion
Sucden
Cargill
T&L
Man
Dryfus
Cubazukar
Total Ekspor 7 Perusahaan
Lain-lain

1.7
2.2
5.1
8.1
4.7
3.2
4.1
29.1
5.8

4.9%
6.3%
14.6%
23.2%
13.5%
9.2%
11.7%
83.4%
16.6%

Total Ekspor Gula Dunia

34.9

100%

Nama Perusahaan

Sumber: I Nodeco, “A Changing World: Production and Market Outlook for Cuba”,
World Sugar and Sweetener Conference, Bankok, Thailand, 26-27 March 1996 & data
olahan sampai dengan tahun 2005 dari Cargill Indonesia

Sisi permintaan gula domestik menunjukan peningkatan searah dengan jumlah
penduduk, yaitu semakin bertambahnya kebutuhan fundamental kelompok konsumen
rumah tangga dan industri. Sekitar 95% hasil panen tebu yang dihasilkan oleh petani
tebu di Indonesia akan diproses sebagai bahan baku industri gula. Atas hasil produksi
domestik ini, sejumlah 66,8% akan dikonsumsi oleh konsumen rumah tangga.
Sisi pasokan gula domestik menunjukan penurunan tajam rata-rata sebesar
36% selama periode 1999 – 2009. Hal ini disebabkan karena beberapa hal: penurunan
areal tebu rata-rataterjadi sebesar 22% selama kurun tersebut, penurunan produktifitas
sebesar 10%, dan selama periode 8 tahun terakhir ada 13 pabrik gula yang terpaksa
harus ditutup (sumber: diolah dari data DGI)

5
Ketimpangan antara supply-demand yang amat signifikan mulai terjadi pada
tahun 2007 hingga saat ini. Pada tahun 2007 terjadi hal demikian karena lonjakan
kebutuhan gula yang semakin meningkat mendekati hampir 2,7 juta ton terdiri dari
kebutuhan 2.1 juta ton gula kristal putih dan 600 ribu ton gula rafinasi, sementara
produksi dalam negeri hanya mencapai 1.5 juta ton pada waktu itu.

Hal ini

mengakibatkan impor gula naik mencapai sebesar 1,2 juta ton, seperti terlihat pada
Tabel 3.
Keadaan timpang supply-demand agroindustri gula tebu mengakibatkan
timbulnya dorongan sementara golongan untuk melakukan tindak penyelundupan.
Sebagai gambaran disparitas harga gula, pada tahun 2009 harga gula impor termasuk
di dalamnya komponen biaya lain mencapai Rp 4.150 per kilo, jauh lebih rendah dari
pada harga gula pasar domestik yang mencapai Rp 9.500 per kilo. Kondisi

ini

berlangsung terus hingga tahun 2010.
Tabel 3 Permintaan, produksi, dan impor gula nasional

1.
2.
3.
4.

Uraian
Permintaan
Produksi
Difisit
Impor
Surplus/ (defisit)

2007
2,729,295
1,496,027
(1,233,268)
972,985
(260,283)

2008
3,000,000
1,750,000
(1,250,000)
2,187,133
937,133

2009
3,100,000
1,498,000
(1,602,000)
1,556,688
(45,312)

2010
3,200,000
1,880,000
(1,320,000)
1,284,791
(35,209)

Sumber: BPS & Dewan Gula Indonesia (diolah)

Perbedaan harga dan selisih difisit pasokan gula domestik inilah yang
mendorong penyelundupan gula. Kondisi ini diperburuk oleh munculnya implikasi
negatif dari ketidak tepatan pelaksanaan kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah
(mis-match policy), lemahnya aparat pengendali perdagangan dan lemahnya prosedur
administrasi pengelolaan impor gula. Implikasi pelaksanaan kebijakan bea masuk
sebesar 25% bagi gula impor perlu dikaji ulang. Hal ini mengingat bahwa menurut
data dari Dewan Gula Indonesia, posisi Indonesia sejak tahun 2004 tercatat sebagai
importir besar dengan bea masuk rendah secara berurutan setelah negara Mesir 30%,
Sri Langka 66%, Philippines 133%, USA 155%, dan Bangladesh 200% (DGI, 2004).
Semua fenomena yang terjadi pada agroindustri gula tebu pada dekade 2000 di atas
mencerminkan

sedang

berlangsungnya

dinamika

proses

menuju

kondisi

keseimbangan nasional, regional, dan internasional (Abidin, 2000).
Bila dilihat dari sisi dinamika supply-demand dan rangkaian proses
transformasi produksi tebu sejak ditanam, diproses di pabrik, diperdagangkan dan

6
dikonsumsi oleh pengguna produk, maka agroindustri gula tebu memiliki ciri
kompleksitas dalam pengelolaan dan pengembangan. Telaah historis agroindustri
gula tebu menunjukan persoalan yang relatif sama dan terjadi pada periode waktu
yang relatif amat panjang, namun demikian pemecahan persoalan tidak kunjung
memberikan hasil yang diharapkan.
Penelitan ini memandang perlu berfikir sistem dinamis (system dynamic
thinking) untuk digunakan sebagai pendekatan yang diharapkan akan membantu
menguraikan permasalahan secara lebih integratif dari elemen-elemen yang saling
terpisah dan mandiri. Bila dalam penelitian sebelumnya ada yang belum memasukan
mekanisme pembelajaran ke dalam sistem, maka penerapan sistem dinamis dalam
penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan pentingnya kaidah mekanisme
feedback dalam rangka pengambilan keputusan kompleks. Dengan demikian
penelitian ini diharapkan dapat mencapai solusi yang optimal dan dapat diterima
secara baik oleh para pemangku kepentingan.
1.2

Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk merancangbangun sebuah model yang

berbasis sistem dinamis untuk membantu pengambilan keputusan kompleks dalam
rangka pengembangan agroindustri gula tebu.
1.3

Ruang lingkup

1.3.1

Ruang lingkup rancang bangun model
Ruang

lingkup

penelitian

meliputi

identifikasi

elemen-elemen

yang

berpengaruh dalam pelaksanaan dan tata kelola agroindustri gula tebu. Secara lebih
rinci lingkup penelitian meliputi elemen yang dapat digunakan untuk optimalisasi
pengambilan keputusan serta simulasi model secara menyeluruh yang terdiri dari
beberapa model sub-sistem, sebagai berikut:
1. Pemodelan sub-sistem dinamis produksi tebu, meliputi pengelolaan
perkebunan dan pola perilaku kegiatan petani sebagai pihak/ agent produsen
bahan baku tebu.
2. Pemodelan sub-sistem dinamis produksi gula, meliputi fungsi produksi yang
terkait dengan produksi gula oleh pabrik gula.
3. Pemodelan sub-sistem konsumsi gula tebu, meliputi fungsi saluran distribusi
produk dari pabrik gula ke konsumen akhir.

7
4. Pemodelan sub-sistem kebijakan pemerintah, meliputi kebijakan fiskal dan
kebijakan moneter yang terkait dengan agroindustri gula tebu.
1.3.2

Ruang lingkup management
Penelitian ini membatasi diri pada lingkup managemen tingkatan strategis.

Bila penelitian ini melakukan analisis pada tingkat praktis, hal ini ditujukan untuk
mendukung

keputusan-keputusan

strategis

secara

makro. Dengan

demikian

diharapkan hasil penelitian ini berada pada ranah managemen strategis.

1.3.3

Lokasi penelitiandan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan cara mengundang para pemangku kepentingan

dalam pertemuan Focused Group Discussion yang dilakukan di Jakarta dan Surabaya.
Peserta FGD terdiri dari para wakil petani tebu, pabrik gula kristal putih, pabrik gula
kristal rafinasi, kementerian terkait (Pertanian, Perindustrian, Perdagangan, BUMN,
Keungan), para Asosiasi, dan pusat-pusat pengembangan dan penelitian, serta pemuka
masyarakat. Penelitian lapangan khusus pabrik gula dilakukan di Pabrik Gula dan
Spritus Madu Kismo, Yogyakarta, Pabrik Gula Gondang Madu, Pabrik Gula Mojo
pada kurun waktu 2008 – 2010.

8
2

2.1

TINJAUAN PUSTAKA

Agroindustri gula tebu
Pelaku utama agroindustri gula tebu Indonesia adalah pabrik gula kristal putih

yang terdiri dari 51 pabrik di bawah kepemilikan BUMN dan 9 pabrik gula swasta
yang sebagian besar beroperasi di pulau Jawa, di provinsi Sulawesi Selatan,
Gorontali, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, dan Lampung. Di samping itu ada
sebanyak 8 (delapan) pabrik gula kristal rafinasi yang memasok kebutuhan gula
rafinasi di Indonesia. Pabrik gula rafinasi tidak memerlukan bahan gula tebu
melainkan memerlukan gula mentah sebagai bahan baku yang diimpor dari luar
negeri. Oleh karena itu pabrik gula kristal rafinasi dalam penelitian ini tidak dilibatkan
dalam kajian secara rinci, mengingat ada terputusnya satu rantai sub-sistem
perkebunan tebu.
Menurut data tahun 2010 luas lahan tanam tebu nasional mencapai total
436,504 Ha. Produksi gula tebu nasional mencapai 2,56 juta ton pada tahun yang
sama, dan dari total produksi ini kontribusi pabrik gula BUMN mencapai 1,38 juta ton
atau sekitar 54% dari total produksi. Produksi ini dihasilkan dari luas lahan pabrik
gula BUMN sekitar 286,579 Ha atau sekitar 66% dari luas lahan total (Revitalisasi
Industri Gula BUMN 2010-2014).
Angka ini menunjukan bahwa ada berbedaan produktifitas yang signifikan
antara pabrik gula BUMN (51 pabrik) dan pabrik gula swasta (9 pabrik). Penggunaan
luas lahan 66% oleh pabrik gula BUMN dari total lahan menghasilkan 54% produk
dari total produksi gula nasional. Sebaliknya penggunaan luas lahan pabrik gula
swasta sebesar 34% dapat menghasilkan 46% dari total produksi gula nasional.
Permasalahan kesenjangan produktifitas yang dialami oleh pabrik gula BUMN
secara umum disebabkan karena: 1) kesulitan pengembangan lahan tanam, karena
persaingan penggunaan lahan oleh komoditas lain dan alih fungsi lahan. Hal ini di
alami oleh mayoritas pabrik gula BUMN yang terletak di pulau Jawa, 2) faktor usia
pabrik gula yang menua dan belum disertai dengan revitalisasi investasi mesin dan
pembaruan teknologi.
Gambaran keadaan di atas merupakan fenomena lapangan yang ada pada saat
ini, dan penelitian ini berupaya untuk mencapai produktifitas yang distandarkan
sebagai sasaran tolok ukur seperti kinerja pada dekade 1980, yaitu pencapaian
rendemen sekitar 10% dan produktifitas gula sebesar 9 ton/ ha.

9

2.2

Sistem dinamis: kompleksitas detail (Detail Complexity System)
Bila membahas sistem kompleks dalam kaitan dengan pengambilan keputusan,

maka pada umumnya yang muncul pertama adalah mengaitkan kompleksitas dengan
unsur banyaknya komponen peubah dalam sistem, atau banyaknya kombinasi bagi
pengambil keputusan yang harus diperhitungkan. Kompleksitas sistem semacam ini
termasuk kategori detail complexity system yaitu sistem kompleks yang ditandai
banyaknya hal-hal rinci dan atau banyaknya probabilitas kombinasi solusi. Teladan
sederhana yang dapat ditemui sehari-hari adalah sistem penentuan jadwal
penerbangan di suatu bandar udara yang sangat sibuk (Sterman, 1989).

2.3

Sistem dinamis: kompleksitas dinamis (Dinamic Complexity System)
Demikian sebaliknya suatu sistem kompleks dapat terjadi pada kondisi yang

kurang detail, tidak terlalu rinci, dan berpeluang kombinasi solusi yang tidak terlalu
tinggi.

Dalam sistem seperti ini ciri kompleksitas terletak pada eksistensi interaksi

yang terus menerus antara para agen/ pihak yang terkait. Sitem kompleks ini disebut
dynamic complexity sistem. Teladan standar dapat dilihat pada kasus perusahaan
minuman The Beer Distribution Game (Sterman, 1989) yang menggambarkan proses
produksi dan distribusi produk barang konsumsi, dengan kompleksitas tiap-tiap lini
sejak proses pengadaan bahan baku, proses produksi di pabrik hingga distribusi ke
konsumen. Teladan ini menggambarkan sebuah sistem yang tidak kompleks bila
dilihat pada sisi banyaknya komponen, namun sangat kompleks bila ditelaah sisi
interaksi yang tanpa henti dari para pihak terkait.
Penelitian ini akan menggunakan kedua buah pendekatan di atas, dengan
penekanan lebih terfokus pada pendekatan dynamic complexity system untuk
menjawab persoalan penyelarasan, sinkronisasi, dan interaksi antar pelaku pada
agroindustri gula tebu. Teladan dapat dilihat pada sensitifitas akibat dan pengaruh
keterlambatan kebijakan (time delay) terhadap produktifitas tebu, perubahan harga,
dan perubahan supply-demand secara keseluruhan.

2.4

Resistensi perubahan
Ketidaktepatan waktu (time delay) pengambilan keputusan suatu kebijakan yang

terkait dengan persaratan berjalanya sebuah sistem merupakan kejadian yang sering
terjadi.Hal ini menjadi salah satu pemicu persoalantentang mengapa suatu perubahan

10
yang diharapkan menghadapi tingkat resistensi tinggi, sehingga akan menyulitkan
suksesnya suatu kebijakan (Richmond, 2005).
Dalam dynamic complexity system, bila terjadi time delay maka akan
menyebabkan gejala disequilibrium, berupa kondisi ketidakseimbangan yang terus
menerus melingkar-lingkar. Sementara di sisi lain ada aktivitas dalam rangkaian
sistem yang tidak bisa diputar ulang (irreversible consequences), seperti contoh
kejadian bila petani tebu sudah memutuskan untuk menanam tebu dan terjadi
kebijakan yang kontra produktif yang tidak tepat waktu (misal: penurunan mendadak
tarif impor gula) maka petani tebu akan berada pada posisi lemah. Mereka tidak dapat
segera memutuskan mengganti tanaman tebu, sehingga mereka hanya menunggu
realisasi akibat negatif di kemudian hari berupa kerugian usaha.
Persoalan seperti di atas yang mengakibatkan resistensi perubahan bagi tiaptiap agen dalam rangkaian sistem. Masalah irreversible consequences merupakan
tantangan besar yang harus dipecahkan dalam pengambilan keputusan kompleks.
Oleh karena itu penelitian ini akan menggunakan pendekatan sistem dinamis sebagai
upaya mengatasi persoalan tersebut.
Resistensi perubahan dapat terjadi pada level pabrik gula khususnya yang
dibawah naungan BUMN.

Meskipun hal ini bukan merupakan fokus penelitian,

namun dalam telaah lapangan ditemukan salah satu penyebab resistensi perubahan
yaitu berupa kondisi lingkungan kerja nyaman (comfort zone) yang tidak memberikan
insentif bagi adanya perubahan yang baik.
2.5

Model sistem dinamis virtual
Suatu model virtual merupakan representasi dunia nyata yang dituangkan ke

dalam model sedemikian rupa sehingga dapat memberikan peluang bagi pengambil
keputusan untuk mempelajari perilaku realitas, umpan balik dan pengaruhnya, serta
menyegarkan kembali keputusan yang pernah diambil melalui proses simulasi.
Kelebihan model virtual antara lain adalah biaya yang rendah. Konsekuensi
hubungan antar keputusan yang diambil dan hasil yang beresiko tinggi dapat ditekan
melalui penggunaan model virtual. Pengaruh irreversible consequence dapat segera
diketahui dan bila berdampak negatif dapat segera dihentikan sehingga ada peluang
untuk merubah keputusan alternatif lain yang lebih baik.
Model virtual dapat menghasilkan umpan balik yang berkualitas. Hal ini dapat
dicapai karena simulasi keputusan dan strategi dapat dikontrol dan dipelajari dengan

11
baik. Di samping itu dengan model virtual dapat sedikit demi sedikit membuka ”black
box phenomena” yang selalu tertutup di dalam dunia nyata. Manfaat lain adalah
berupa proses waktu simulasi yang singkat dapat menggambarkan perjalanan kegiatan
dunia nyata yang amat panjang dimensi waktunya.
Model virtual di atas akan semakin memberikan manfaat yang tinggi ketika
model ini bersifat reflektif sehingga mampu mengulang proses pemikiran, reflective
thought (Schon, 1992). Model virtual tidak terlepas dari keterbatasan, yaitu dapat
terabaikanya prinsip-prinsip metodologi ilmiah.

Namun demikian dengan

diterapkanya sistem dinamis kompleks yang fokus pada dynamic complexity sistem,
maka peneliti berpeluang lebar untuk melakukan komunikasi dua arah dan langsung
dengan dunia nyata yang sedang ditelitinya.

Kondisi inilah yang dimaksudkan

sebagai model virtual reflektif.
Kegiatan pemodelan sistem dinamis virtual belumlah mencukupi kesempurnaan
pengambilan keputusan kompleks. Hal ini kemungkinan besar disebabkan karena
pembuat model menentukan batas-batas yang terlalu sempit pada elemen temporal
dan spatial bila dibandingkan dengan realitas yang ada. Lain dari pada itu ada 4
penyebab yang mengurangi kualitas pemodelan sistem dinamis, seperti: 1)
kecenderungan negatif pemodel yang kurang memperhatikan kelengkapan feedback
yang terlalu lambat jalanya karena time delay, 2) pemahaman yang kurang
komprehensif tentang seluk beluk industri itu sendiri, 3) reaksi pemodel yang
cenderung defensif, dan 4) dampak negatif akibat biaya penelitian yang tinggi.
Sistem dinamis didesain untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan sehingga
menghasilkan gambaran yang lebih riel dari dunia nyata. Forester (1987) mengatakan
bahwa simulasi akan berhasil dengan baik bila pengembangan model dilakukan
dengan asumsi realistis mengenai perilaku para pelakunya (human behaviour), diramu
dengan studi lapangan yang lengkap, dan pemanfaatan data-data primer yang optimal
untuk melengkapi dan menyempurnakan data-data sekunder.
Simulasi merupakan cara yang praktis untuk menguji kehandalan model atau
hasil rancang bangun ini. Tanpa simulasi pengujian terhadap suatu model tidak dapat
dilakukan. Peningkatan kinerja model hanya dapat dilakukan dengan baik bila ada
pembelajaran feedback dari representasi dunia nyata.

Penelitian ini akan

mensimulasikan faktor-faktor utama yang berpengaruh dalam sistem secara
keseluruhan.

12
Hasil kajian tentang sistem yang sudah diverifikasi dan divalidasi ditambah
dengan hipotesa dinamis akan menghasilkan model simulasi. Berdasarkan model
simulasi ini akan dilakukan simulasi “what-if” dari unsur pembentuk sistem utama
seperti unsur dari input, output, dan proses. Atas hasil simulasi diharapkan rekayasa
model lebih lanjut dapat dihasilkan berupa rancang bangun model dinamis yang
sejalan dengan model yang diharapkan.
Dalam penelitian ini simulasi akan dilakukan sesuai dengan kondisi riel
sehingga diperlukan perumusan yang utuh mengenai persamaan-persamaan,
parameter, dan kondisi tertentu dari variabel yang diperlukan. Formalisasi model
simulasi akan dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Stella. Dalam program
simulasi diharapkan dapat memunculkan berbagai alternative strategi dan kebijakan.
2.6

Rantai kegiatan agroindustri gula tebu
Tahapan kegiatan agroindustri gula tebu dimulai dari kegiatan perkebunan

tebu yang menghasilkan produk tebu sebagai bahan baku, dilanjutkan dengan
pengolahan hasil tebu oleh pabrik gula, selanjutnya produk gula dilelang, dijual dan
didistribusikan ke pasar untuk memenuhi permintaan konsumen langsung segmen
rumah tangga dan konsumen tidak langsung segmen industri besar dan industri
menengah/ kecil. Di luar tahapan tersebut ada satu kegiatan lain berupa tata niaga
impor sebagai kegiatan pemenuhan defisit supply produksi dalam negeri.
Menurut Keat dan Young (2002), tiap-tiap tahapan produksi di atas
menciptakan pasar input dan output masing-masing, dengan kata lain setiap tahap
kegiatan mengakibatkan fungsi permintaan input yang dapat diturunkan (derived
demand) dari fungsi permintaan outputnya. Berdasarkan hubungan inilah model
sistem dinamis akan dibangun.

2.7

Rangkaian permintaan dan penawaran
Dalam rangkaian permintaan dan penawaran ini dapat terlihat proses

permintaan input dan penawaran output yang membentuk beberapa sub-sistem, seperti
yang terjadi pada tingkatan perkebunan tebu dan pabrik gula. Perilaku pada tingkatan
ini adalah bahwa produsen yang rasional akan melakukan optimasi keuntungan
melalui minimalisasi biaya (input) dengan kendala teknologi dan pasar yang akan
dilayani.

13
Konsekuensi pemahaman perilaku produsen tebu di atas akan menajamkan
pemahaman perilaku lanjutan bahwa produsen dalam rantai agroindustri gula tebu
yang rasional hanya akan melakukan kegiatan pembiayaan input bila produsen
mengetahui prediksi jumlah output besaran manfaat yang akan diterima di masa
depan.

Pada saat terjadi hubungan antara pasar output dan pasar input inilah dapat

diturunkan fungsi permintaan yang disebut derived demand sehingga pada tahapan
lanjutan permintaan gula secara agregat dapat diprediksi jumlahnya.
Berdasarkan rasionalitas di atas, analisis strategi dan kebijakan dapat
dilakukan melalui telaah biaya input, modal kerja, tenaga kerja dan inpu

Dokumen yang terkait

Rancang bangun sistem dinamis pengambilan keputusan kompleks pengembangan agroindustri gula tebu