Pemanfaatan Selulosa Mikrokristal Sebagai Bahan Pengisi Tablet Ekstrak Etanol Sabut Buah Pinang (Areca Catechu L.)

(1)

PEMANFAATAN SELULOSA MIKROKRISTAL SEBAGAI

BAHAN PENGISI TABLET EKSTRAK ETANOL

SABUT BUAH PINANG (Areca catechu L.)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi Pada Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara gelar Sarja

na Fas Fs Sumatera Utar

OLEH:

NOLA AWAL LUKITA

NIM 121524082

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN


(2)

PEMANFAATAN SELULOSA MIKROKRISTAL SEBAGAI

BAHAN PENGISI TABLET EKSTRAK ETANOL

SABUT BUAH PINANG (Areca catechu L.)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi Pada Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara gelar Sarja

si pada Fakultas Fs Sumatera Utar

OLEH:

NOLA AWAL LUKITA

NIM 121524082

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN


(3)

PENGESAHAN SKRIPSI

PEMANFAATAN SELULOSA MIKROKRISTAL SEBAGAI

BAHAN PENGISI TABLET EKSTRAK ETANOL

SABUT BUAH PINANG (Areca catechu L.)

OLEH:

NOLA AWAL LUKITA NIM 121524082

Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

Pada Tanggal: 20 Maret 2015 Pembimbing I,

Dr. Kasmirul Ramlan Sinaga, M.S., Apt. NIP 195504241983031003

Pembimbing II,

Dr. Marline Nainggolan, M.S., Apt. NIP 195709091985112001

Panitia Penguji,

Prof. Dr. Karsono, Apt. NIP 195409091982011001

Dr. Kasmirul Ramlan Sinaga, M.S.,Apt. NIP 195504241983031003

Drs. Agusmal Dalimunthe, M.S., Apt NIP 195406081983031005

Dr. Panal Sitorus, M.Si., Apt. NIP 195310301980031002 Medan, April 2015

Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara Wakil Dekan 1,

Prof. Dr. Julia Reveny, M.Si., Apt.


(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul “Pemanfaatan Selulosa Mikrokristal Sebagai Bahan Pengisi Tablet Ekstrak Etanol Sabut Buah Pinang (Areca catechu L.)”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Kasmirul Ramlan Sinaga, M.S., Apt. dan Ibu Dr. Marline Nainggolan, M.S., Apt., selaku pembimbing yang telah membimbing dan memberikan petunjuk serta saran-saran selama penelitian hingga selesainya skripsi ini. Kepada Bapak Dekan Fakultas Farmasi Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt. dan Ibu Wakil Dekan 1 Prof. Dr. Julia Reveny, M.Si., Apt. yang telah memberikan fasilitas, sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan. Kepada Bapak Prof. Dr. Muchlisyam, M.Si., Apt. selaku Ketua Program Ekstensi Sarjana Farmasi USU Medan. Kepada Bapak Prof. Dr. Karsono, Apt., Bapak Drs. Agusmal Dalimunthe, M.S., Apt. dan Bapak Dr. Panal Sitorus, M.Si., Apt. selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik, saran dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Kepada Ibu Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, M.Si., Apt. selaku pembimbing akademik yang telah membimbing selama masa perkuliahan hingga selesai. Kepada Bapak dan Ibu staff pengajar Fakultas Farmasi USU atas ilmu dan pendidikan yang telah diberikan. Kepada Ibu Dra. Aswita Hafni, M.Si., Apt.


(5)

Ibu Dra. Fat Aminah, M.Sc., Apt. selaku kepala Laboratorium Teknologi Sediaan Farmasi II Fakultas Farmasi USU yang telah memberikan izin dan fasilitas selama melakukan penelitian.

Penulis mengucapkan rasa terima kasih serta penghargaan yang tulus dan tak terhingga kepada kedua orang tua tersayang Bapak Drs. Budhi Parmono dan Ibu Runaila, S.Pd. serta kedua adikku Nola Dwiayu Adinda dan Nola Tria Handayani atas doa, motivasi, nasihat dan dukungan baik moril maupun materil. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman Farmasi Ekstensi 2012 dan rekan-rekan penelitian serta semua pihak yang telah membantu penyelesian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang Farmasi.

Medan, Maret 2015 Penulis,

Nola Awal Lukita NIM 121524082


(6)

PEMANFAATAN SELULOSA MIKROKRISTAL

SEBAGAI BAHAN PENGISI TABLET EKSTRAK ETANOL SABUT BUAH PINANG (Areca catechu L.)

ABSTRAK

Sabut buah pinang (Areca catechu L.) termasuk limbah yang mengandung selulosa, dapat diisolasi dan dibuat menjadi bentuk kristal. Selulosa mikrokristal merupakan bahan tambahan yang paling sering digunakan dalam pembuatan tablet dengan metode cetak langsung. Zat berkhasiat yang digunakan pada pembuatan tablet adalah ekstrak etanol sabut buah pinang (Areca catechu L.) yang mempunyai efek sebagai antidiare. Tujuan penelitian ini adalah membuat selulosa mikrokristal sabut buah pinang dan mengaplikasikannya sebagai bahan pengisi dalam pembuatan tablet ekstrak etanol sabut buah pinang.

Pembuatan ekstrak etanol sabut buah pinang dilakukan dengan cara maserasi menggunakan etanol 80%, maserat yang diperoleh dipekatkan dengan rotary evaporator. Selulosa mikrokristal sabut buah pinang diperoleh dengan cara memanaskan sabut buah pinang dengan NaOH 4%, diputihkan dengan NaOCl 2,5% dan dipanaskan dengan NaOH 17,5%. Alfa selulosa yang terbentuk dihidrolisis dengan HCl 2,5 N untuk mendapatkan selulosa mikrokristal. Selulosa mikrokristal sabut buah pinang yang diperoleh dikarakterisasi dan dibandingkan dengan Avicel PH 102, selanjutnya dibuat sediaan tablet.

Hasil selulosa mikrokristal sabut buah pinang mempunyai rendemen sebesar 22,92%. Hasil karakterisasi selulosa mikrokristal sabut buah pinang dan Avicel PH 102 untuk uji organoleptik berupa serbuk berwarna putih, tidak berbau dan tidak berasa; pH 6,1 dan 6,3; susut pengeringan 5,38 dan 4,75%; kadar abu total 0,45 dan 0,01%; kelarutan zat dalam air 0,019 dan 0,08%; bobot jenis nyata 0,338 dan 0,41 g/cm3; bobot jenis mampat 0,384 dan 0,48 g/cm3; bobot jenis benar 1,43 dan 1,46 g/cm3; indeks Hausner 1,13 dan 1,15; indeks kompresibilitas 13,6 dan 15,86%; porositas; 76,4 dan 71,51%. Analisis FT-IR selulosa mikrokristal sabut buah pinang dan Avicel PH 102 yaitu menunjukkan spektrum yang sama dan Scanning Electron Microscopy (SEM) menunjukkan bentuk tidak beraturan dengan tekstur permukaan yang tidak rata. Hasil evaluasi tablet ekstrak etanol sabut buah pinang dengan bahan pengisi selulosa mikrokristal sabut buah pinang dan Avicel PH 102 untuk uji kekerasan diperoleh 4,27 dan 4,62 kg; uji friabilitas sebesar 0,77 dan 0,68%; uji waktu hancurnya 3 menit 12 detik dan 2 menit 34 detik. Berdasarkan hasil yang didapat dapat disimpulkan bahwa selulosa mikrokristal dapat dibuat dari sabut buah pinang dan diaplikasikan sebagai bahan pengisi tablet ekstrak etanol sabut buah pinang.

Kata kunci : selulosa mikrokristal, sabut buah pinang, ekstrak etanol sabut buah pinang, tablet


(7)

THE UTILIZATION OF MICROCRISTALLINE CELLULOSE AS FILLER OF ARECA NUT HUSK (Areca catechu L)

ETHANOLIC EXTRACT TABLETS

ABSTRACT

Areca nut husk (Areca catechu L.) is a waste containing cellulose that can be isolated and crytallized. Microcrystalline cellulose is the most common used excipient in the preparation of tablets by direct compression. Areca nut husk is used as an active substance in tablets as it has an antidiarrhea effect. The purpose of this research was to prepare microcrystalline from areca nut husk (Areca catechu L.) and apply it as a filler in the preparation of areca nut husk ethanolic extract tablets.

Preparation of extract was done by maceration with ethanol 80%, macerate obtained was concentrated by rotary evaporator and dried by freeze dryer. Microcrystalline cellulose areca nut husk was obtained by heating the areca nut husk powder with 4% NaOH, bleached with 2.5% NaOCl, then heated with 17.5% NaOH. Alfa cellulose obtained was hydrolyzed with 2.5 N HCl. Microcrystalline cellulose areca nut husk obtained were characterized, compared to Avicel PH 102 and prepared to tablets.

The result of microcrystalline cellulose areca nut husk obtained was 22.92%. The results of characterization of microcrystalline cellulose areca nut husk and Avicel PH 102 included organoleptic: both were white, odourless and tasteless; pH 6.1and 6.5; loss on drying 5.38 and 4.75%; level of total ash was 0.45 and 0.01%; solubility in water was 0.019 and 0.08%; bulk density 0.338and 0.41 g/cm3; tap density 0.384 and 0.48 g/cm3, true density 1.43and 1.46 g/cm3; hausner index 1.13 and 1.15; compressibility index 13.6 and 15.86%; porosity 76.4 and 71.51%. FT-IR analysis of microcrystalline cellulose areca nut husk and Avicel PH 102 showed similar spectrum; SEM analysis both showed irregular shapes and uneven surface texture. The result of evaluation of areca nut husk ethanolic extract tablets on hardness were 4.27 and 4.62 kg; friability 0.77 and 0.68%; disintegration time 3 minutes 12 second and 2 minutes 34 second. Microcrystalline cellulose can obtained from areca nut husk and applied as filler of areca nut husk ethanolic extract tablets.

Keyword : microcrystalline cellulose, areca nut husk, areca nut husk ethanolic extract, tablet


(8)

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 2

1.3 Hipotesis ... 3

1.4 Tujuan Penelitian ... 3

1.5 Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Tumbuhan Pinang ... 5

2.1.1 Morfologi tumbuhan ... 5

2.1.2 Sinonim dan nama daerah tumbuhan ... 5

2.1.3 Klasifikasi tumbuhan ... 5


(9)

2.1.5 Manfaat tumbuhan ... 6

2.2 Ekstraksi ... 7

2.3 Selulosa Mikrokristal ... 8

2.3.1 Rumus empiris dan berat molekul ... 8

2.3.2 Struktur kimia ... 8

2.3.3 Uraian umum selulosa mikrokristal ... 9

2.4 Sediaan Tablet ... 9

2.4.1 Uraian umum ... 9

2.4.2 Bahan tambahan formula tablet ... 11

2.4.3 Metode pembuatan tablet ... 13

2.4.4 Uji preformulasi ... 15

2.4.5 Evaluasi tablet ... 15

BAB III METODE PENELITIAN ... 18

3.1 Alat-alat ... 18

3.2 Bahan-bahan ... 18

3.3 Pengumpulan dan Pengolahan Sampel ... 19

3.3.1 Pengambilan sampel ... 19

3.3.2 Identifikasi sampel ... 19

3.3.3 Pengolahan sampel ... 19

3.4 Pembuatan Ekstrak ... 19

3.5 Pembuatan Pereaksi ... 20

3.5.1 Pereaksi Bouchardat ... 20

3.5.2 Pereaksi Mayer ... 20


(10)

3.5.4 Pereaksi Molish ... 20

3.5.5 Larutan asam klorida 2 N ... 21

3.5.6 Larutan asam sulfat 2 N ... 21

3.5.7 Larutan timbal (II) asetat ... 21

3.5.8 Larutan besi (III) klorida ... 21

3.5.9 Larutan natrium hidroksida 4% ... 21

3.5.10 Larutan natrium hidroksida 17,5% ... 21

3.5.11 Larutan HCl 2,5 N ... 21

3.5.12 Pereaksi natrium hipoklorit 2,5% ... 21

3.5.13 Air bebas karbondioksida ... 22

3.6 Karakterisasi Ekstrak ... 22

3.6.1 Penetapan kadar air ... 22

3.6.2 Penetapan kadar abu total ... 23

3.6.3 Penetapan kadar abu yang tidak larut asam ... 23

3.6.4 Penetapan kadar sari yang larut dalam etanol ... 23

3.6.5 Penetapan kadar sari yang larut dalam air ... 23

3.7 Skrining Fitokimia ... 24

3.7.1 Pemeriksaan alkaloid ... 24

3.7.2 Pemeriksaan glikosida ... 24

3.7.3 Pemeriksaan saponin ... 25

3.7.4 Pemeriksaan flavonoid ... 25

3.7.5 Pemeriksaan tanin ... 25

3.7.6 Pemeriksaan steroid/triterpenoid ... 26


(11)

3.9 Karakterisasi Selulosa Mikrokristal ... 27

3.9.1 Uji organoleptik ... 27

3.9.2 Penetapan pH ... 27

3.9.3 Kelarutan zat dalam air ... 27

3.9.4 Penetapan kadar abu total ... 27

3.9.5 Susut pengeringan ... 28

3.9.6 Bobot jenis nyata ... 28

3.9.7 Bobot jenis benar ... 28

3.9.8 Bobot jenis mampat ... 29

3.9.9 Indeks kompresibilitas ... 29

3.9.10 Indeks Hausner ... 30

3.9.11 Porositas ... 30

3.9.12 Analisis FT-IR ... 30

3.9.13 Scanning Electron Microscopy ... 31

3.10 Pembuatan Tablet EESBP ... 31

3.11 Uji Preformulasi ... 32

3.11.1 Sudut diam ... 32

3.11.2 Penetapan waktu alir ... 32

3.11.3 Penetapan indeks kompresibilitas ... 32

3.12 Evaluasi Tablet ... 33

3.12.1 Pemeriksaan keseragaman bobot tablet ... 33

3.12.2 Pemeriksaan friabilitas tablet ... 33

3.12.3 Uji kekerasan tablet ... 34


(12)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 35

4.1 Hasil Karakterisasi Ekstrak Etanol Sabut Buah Pinang (EESBP) ... 35

4.2 Hasil Skrining Fitokimia EESBP ... 36

4.3 Hasil Pembuatan Selulosa Mikrokristal Sabut Buah Pinang (SMSBP) ... 37

4.4 Hasil Karakterisasi SMSBP ... 38

4.5 Hasil Analisis Gugus Fungsi SMSBP ... 40

4.6 Hasil Analisis Morfologi SMSBP ... 42

4.7 Hasil Uji Preformulasi ... 43

4.8 Hasil Evaluasi Tablet EESBP ... 44

4.8.1 Hasil uji keseragaman bobot tablet EESBP ... 44

4.8.2 Hasil uji kekerasan tablet EESBP ... 45

4.8.3 Hasil uji friabilitas tablet EESBP ... 45

4.8.4 Hasil uji waktu hancur tablet EESBP ... 46

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 47

5.1 Kesimpulan ... 47

5.2 Saran ... 48

DAFTAR PUSTAKA ... 49


(13)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1 Persyaratan keseragaman bobot ... 16

3.1 Persyaratan indeks kompresibilitas ... 30

3.2 Persyaratan indeks Hausner ... 30

3.3 Formula tablet EESBP ... 31

3.4 Persyaratan keseragaman bobot tablet ... 33

4.1 Hasil karakterisasi EESBP ... 35

4.2 Hasil skrining fitokimia dari EESBP ... 36

4.3 Data karakteristik SMSBP dan Avicel PH 102 ... 38

4.4 Data uji preformulasi massa granul ... 43

4.5 Data hasil uji keseragaman bobot tablet EESBP ... 44

4.6 Data hasil uji kekerasan tablet EESBP ... 45

4.7 Data hasil uji friabilitas tablet EESBP ... 45

4.8 Data hasil uji waktu hancur tablet EESBP ... 46


(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman 2.1 Struktur selulosa mikrokristal ... 8 4.1 Hasil spektrum IR SMSBP ... 40 4.2 Hasil spektrum IR Avicel PH 102 ... 41 4.3 Hasil SEM SMSBP dan Avicel PH 102 dengan perbesaran


(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1 Hasil identifikasi sampel ... 53

2 Gambar tumbuhan pinang, biji pinang, sabut buah pinang dan simplisia sabut buah pinang ... 54

3 Gambar serbuk, ekstrak etanol, α-selulosa dan selulosa mikrokristal sabut buah pinang (Areca catechu L.) ... 55

4 Flowsheet prosedur kerja ... 56

5 Perhitungan hasil pemeriksaan karakteristik ekstrak etanol sabut buah pinang ... 59

6 Perhitungan rendemen α-selulosa dan SMSBP ... 62

7 Perhitungan hasil karakterisasi selulosa mikrokristal sabut pinang (SMSBP) ... 63

8 Perhitungan konversi dosis ... 68

9 Pembuatan tablet ekstrak etanol sabut buah pinang (EESBP) ... 69

10 Gambar tablet EESBP ... 70

11 Perhitungan hasil preformulasi tablet EESBP ... 71

12 Perhitungan hasil evaluasi tablet EESBP ... 73

13 Gambar alat-alat uji karakteristik SMSBP ... 75

14 Gambar alat cetak tablet, uji preformulasi dan evaluasi tablet EESBP ... 76


(16)

PEMANFAATAN SELULOSA MIKROKRISTAL

SEBAGAI BAHAN PENGISI TABLET EKSTRAK ETANOL SABUT BUAH PINANG (Areca catechu L.)

ABSTRAK

Sabut buah pinang (Areca catechu L.) termasuk limbah yang mengandung selulosa, dapat diisolasi dan dibuat menjadi bentuk kristal. Selulosa mikrokristal merupakan bahan tambahan yang paling sering digunakan dalam pembuatan tablet dengan metode cetak langsung. Zat berkhasiat yang digunakan pada pembuatan tablet adalah ekstrak etanol sabut buah pinang (Areca catechu L.) yang mempunyai efek sebagai antidiare. Tujuan penelitian ini adalah membuat selulosa mikrokristal sabut buah pinang dan mengaplikasikannya sebagai bahan pengisi dalam pembuatan tablet ekstrak etanol sabut buah pinang.

Pembuatan ekstrak etanol sabut buah pinang dilakukan dengan cara maserasi menggunakan etanol 80%, maserat yang diperoleh dipekatkan dengan rotary evaporator. Selulosa mikrokristal sabut buah pinang diperoleh dengan cara memanaskan sabut buah pinang dengan NaOH 4%, diputihkan dengan NaOCl 2,5% dan dipanaskan dengan NaOH 17,5%. Alfa selulosa yang terbentuk dihidrolisis dengan HCl 2,5 N untuk mendapatkan selulosa mikrokristal. Selulosa mikrokristal sabut buah pinang yang diperoleh dikarakterisasi dan dibandingkan dengan Avicel PH 102, selanjutnya dibuat sediaan tablet.

Hasil selulosa mikrokristal sabut buah pinang mempunyai rendemen sebesar 22,92%. Hasil karakterisasi selulosa mikrokristal sabut buah pinang dan Avicel PH 102 untuk uji organoleptik berupa serbuk berwarna putih, tidak berbau dan tidak berasa; pH 6,1 dan 6,3; susut pengeringan 5,38 dan 4,75%; kadar abu total 0,45 dan 0,01%; kelarutan zat dalam air 0,019 dan 0,08%; bobot jenis nyata 0,338 dan 0,41 g/cm3; bobot jenis mampat 0,384 dan 0,48 g/cm3; bobot jenis benar 1,43 dan 1,46 g/cm3; indeks Hausner 1,13 dan 1,15; indeks kompresibilitas 13,6 dan 15,86%; porositas; 76,4 dan 71,51%. Analisis FT-IR selulosa mikrokristal sabut buah pinang dan Avicel PH 102 yaitu menunjukkan spektrum yang sama dan Scanning Electron Microscopy (SEM) menunjukkan bentuk tidak beraturan dengan tekstur permukaan yang tidak rata. Hasil evaluasi tablet ekstrak etanol sabut buah pinang dengan bahan pengisi selulosa mikrokristal sabut buah pinang dan Avicel PH 102 untuk uji kekerasan diperoleh 4,27 dan 4,62 kg; uji friabilitas sebesar 0,77 dan 0,68%; uji waktu hancurnya 3 menit 12 detik dan 2 menit 34 detik. Berdasarkan hasil yang didapat dapat disimpulkan bahwa selulosa mikrokristal dapat dibuat dari sabut buah pinang dan diaplikasikan sebagai bahan pengisi tablet ekstrak etanol sabut buah pinang.

Kata kunci : selulosa mikrokristal, sabut buah pinang, ekstrak etanol sabut buah pinang, tablet


(17)

THE UTILIZATION OF MICROCRISTALLINE CELLULOSE AS FILLER OF ARECA NUT HUSK (Areca catechu L)

ETHANOLIC EXTRACT TABLETS

ABSTRACT

Areca nut husk (Areca catechu L.) is a waste containing cellulose that can be isolated and crytallized. Microcrystalline cellulose is the most common used excipient in the preparation of tablets by direct compression. Areca nut husk is used as an active substance in tablets as it has an antidiarrhea effect. The purpose of this research was to prepare microcrystalline from areca nut husk (Areca catechu L.) and apply it as a filler in the preparation of areca nut husk ethanolic extract tablets.

Preparation of extract was done by maceration with ethanol 80%, macerate obtained was concentrated by rotary evaporator and dried by freeze dryer. Microcrystalline cellulose areca nut husk was obtained by heating the areca nut husk powder with 4% NaOH, bleached with 2.5% NaOCl, then heated with 17.5% NaOH. Alfa cellulose obtained was hydrolyzed with 2.5 N HCl. Microcrystalline cellulose areca nut husk obtained were characterized, compared to Avicel PH 102 and prepared to tablets.

The result of microcrystalline cellulose areca nut husk obtained was 22.92%. The results of characterization of microcrystalline cellulose areca nut husk and Avicel PH 102 included organoleptic: both were white, odourless and tasteless; pH 6.1and 6.5; loss on drying 5.38 and 4.75%; level of total ash was 0.45 and 0.01%; solubility in water was 0.019 and 0.08%; bulk density 0.338and 0.41 g/cm3; tap density 0.384 and 0.48 g/cm3, true density 1.43and 1.46 g/cm3; hausner index 1.13 and 1.15; compressibility index 13.6 and 15.86%; porosity 76.4 and 71.51%. FT-IR analysis of microcrystalline cellulose areca nut husk and Avicel PH 102 showed similar spectrum; SEM analysis both showed irregular shapes and uneven surface texture. The result of evaluation of areca nut husk ethanolic extract tablets on hardness were 4.27 and 4.62 kg; friability 0.77 and 0.68%; disintegration time 3 minutes 12 second and 2 minutes 34 second. Microcrystalline cellulose can obtained from areca nut husk and applied as filler of areca nut husk ethanolic extract tablets.

Keyword : microcrystalline cellulose, areca nut husk, areca nut husk ethanolic extract, tablet


(18)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Selulosa ditemukan pada tahun 1838 oleh Anselme Payne, yang didapat dari hasil isolasi tanaman dan ditentukan rumus kimianya. Selulosa merupakan polisakarida yang berbentuk kristal, tidak berasa, tidak berbau dan terdiri 2000-4000 unit glukosa yang dihubungkan oleh ikatan β-1,4 glikosidik (Oyeniyi dan Itiola, 2011).

Awal tahun 1960-an selulosa mikrokristal diperkenalkan sebagai bahan eksipien (pengikat, pengisi dan penghancur) dalam pembuatan tablet secara cetak langsung yang akan menghasilkan tablet dengan kekerasan yang baik, tidak mudah rapuh dan mempunyai waktu hancur yang singkat serta dapat memperbaiki sifat aliran granul (Bhimte dan Tayade, 2007; Voigt, 1994). Selulosa mikrokristal dapat dibuat dengan cara hidrolisis terkontrol dari alfa selulosa dengan larutan asam encer (Rowe, dkk., 2009).

Salah satu selulosa mikrokristal yang ada di perdagangan dikenal dengan nama Avicel PH 101 (serbuk) yang kemudian dikembangkan menjadi Avicel PH 102 (granula). Namun avicel merupakan pengisi yang relatif mahal dan masih diimport dari luar negeri, sehingga perlu dicari sumber selulosa alami sebagai alternatif pengganti avicel yang stabil, aman dan inert (Siregar dan Wirakarsa, 2010; Ejikeme, 2007). Sabut buah pinang yang selama ini menjadi limbah dapat dijadikan sebagai alternatif sumber selulosa mikrokristal. Menurut Panjaitan (2008), kandungan selulosa yang terdapat dalam sabut buah pinang sebesar 70%


(19)

sehingga dapat dibuat menjadi selulosa mikrokristal yang akan digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan tablet.

Pinang mudah tumbuh di daerah tropis dan biasa ditanam di pekarangan, taman, atau dibudidayakan. Pinang memiliki banyak kegunaan mulai dari biji, sabut, daun, hingga pelepahnya. Sabut pinang dapat digunakan sebagai bahan pembuat papan dan kain. Sabut buah pinang secara tradisional digunakan untuk mengobati gangguan pencernaan (dyspepsia), sembelit, edema dan beri-beri (Dalimartha, 2009). Sabut buah pinang mengandung flavonoid, alkaloid (Cyriac, dkk.,2012), pektin air, pektin oksalat, hemiselulosa, selulosa dan pektin (Rajan, dkk., 2005). Dengan adanya kandungan pektin dan flavonoid, maka sabut buah pinang dapat dimanfaatkan sebagai antidiare. Flavonoid berkerja dengan cara menghambat motilitas usus dan menghambat pelepasan asetilkolin di saluran cerna sedangkan pektin bekerja sebagai adsorben di dalam usus (Di Carlo, dkk., 1993).

Berdasarkan masalah di atas dan karena belum adanya penelitian mengenai pembuatan selulosa mikrokristal dari sabut buah pinang, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pembuatan tablet ekstrak etanol sabut buah pinang sebagai obat antidiare yang menggunakan selulosa mikrokristal yang diisolasi dari sabut buah pinang dengan metode cetak langsung.

1.2Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah:


(20)

2. apakah hasil karakterisasi dari selulosa mikrokristal sabut buah pinang mempunyai karakteristik yang sama dengan Avicel PH 102?

3. apakah sediaan tablet antidiare ekstrak etanol sabut buah pinang menggunakan eksipien selulosa mikrokristal memenuhi persyaratan preformulasi dan evaluasi tablet?

1.3Hipotesis

Adapun hipotesis pada penelitian ini adalah:

1. selulosa mikrokristal dapat diisolasi dari sabut buah pinang.

2. hasil karakterisasi dari selulosa mikrokristal sabut buah pinang mempunyai kemiripan karakteristik dengan Avicel PH 102.

3. sediaan tablet antidiare ekstrak etanol sabut buah pinang yang dibuat menggunakan selulosa mikrokristal memenuhi persyaratan prefomulasi dan evaluasi tablet.

1.4Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. mengisolasi selulosa mikrokristal dari sabut buah pinang.

2. mengetahui karakteristik selulosa mikrokristal dari sabut buah pinang dan membandingkannya dengan Avicel PH 102.

3. membuat sediaan tablet antidiare ekstrak etanol sabut buah pinang yang menggunakan eksipien selulosa mikrokristal memenuhi persyaratan preformulasi dan evaluasi tablet.


(21)

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah untuk memperoleh selulosa mikrokristal sabut buah pinang yang baik, stabil dan aman serta dapat diaplikasikan sebagai bahan tambahan dalam tablet antidiare ekstrak etanol sabut buah pinang dengan metode cetak langsung.


(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tumbuhan Pinang 2.1.1 Morfologi tumbuhan

Tumbuhan pinang umumnya ditanam di pekarangan, di taman-taman atau dibudidayakan, dapat ditemukan tumbuh liar di tepi sungai dan tempat-tempat lain, dapat tumbuh pada ketinggian 1-1.400 meter di atas permukaan laut. Pohon berbatang langsing, tumbuh tegak, tinggi 10-30 meter, diameter 15-20 cm, tidak bercabang dengan bekas daun yang lepas. Daun majemuk menyirip, tumbuh berkumpul di ujung batang membentuk roset batang. Pelepah daun berbentuk tabung, panjang 80 cm dan tangkai daun pendek. Panjang helai daun 1-1,8 m, anak daun mempunyai panjang 85 cm, lebar 5 cm dengan ujung sobek dan bergigi (Dalimartha, 2009).

Biji buah berwarna kecoklatan sampai coklat kemerahan, agak berlekuk-lekuk dengan warna yang lebih muda. Bidang irisan biji mempunyai perisperm berwarna coklat tua dengan lipatan tidak beraturan menembus endosperm yang berwarna agak keputihan (Depkes RI, 1989).

2.1.2 Sinonim dan nama daerah tumbuhan

Tumbuhan pinang memiliki nama daerah seperti pineng, pineung (Aceh), pinang (Gayo), batang mayang (Karo), pining (Toba), batang pinang (Minangkabau), dan jambe (Sunda, Jawa) (Depkes RI, 1989).

2.1.3 Klasifikasi tumbuhan


(23)

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophytha Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Bangsa : Arecales

Suku : Arecaceae/Palmae

Marga : Areca

Jenis : Areca catechu L. 2.1.4 Kandungan kimiatumbuhan

Kandungan kimia yang terdapat pada pinang antara lain pelepah pinang mengandung selulosa (Kalita, dkk., 2006); biji buah pinang mengandung alkaloid, tanin, flavan, senyawa fenolik, asam galat, getah dan lignin (13-26%), pektin dan protopektin (Naveenkumar dan Thippeswamy, 2013; Rajan, dkk, 2005).

2.1.5 Manfaat tumbuhan

Tumbuhan pinang (Areca catechu L.) telah lama dikenal dan hampir semua bagian tumbuhan dapat dimanfaatkan. Biji pinang berkhasiat sebagai antielmintik, penenang, mengobati luka, memperbaiki pencernaan, meluruhkan dahak dan malaria. Sabut buah pinang dapat digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan (dispepsia), sulit buang air besar (sembelit), edema dan beri-beri karena urin sedikit (Dalimartha, 2009). Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menguji manfaat sabut buah pinang, diantaranya sebagai antioksidan (Zhang, dkk., 2009), antimikroba (Cyriac, dkk., 2012) dan antidiare.


(24)

2.2 Ekstraksi

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Simplisia yang diekstraksi mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak larut seperti serat, karbohidrat, protein, dan lain-lain. Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan ke dalam golongan minyak atsiri, alkaloida dan flavonoida dan lain-lain. Beberapa metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut antara lain (Ditjen POM, 2000):

1. Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengadukan pada temperatur ruangan. Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama dan seterusnya.

2. Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan.

3. Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

4. Sokletasi

Sokletasi adalah ekstrak dengan menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya dilakukan dengan menggunakan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik.


(25)

5. Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik dengan pengadukan kontinu pada temperatur yang tinggi dari temperatur ruangan yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-500 C.

6. Infundasi

Infundasi adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air (bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur terukur 96-980 C) selama waktu tertentu (15-20 menit).

7. Dekoktasi

Dekoktasi adalah infus pada waktu yang lebih lama (≥30 menit) dan temperatur sampai titik didih air.

2.3 Selulosa Mikrokristal

2.3.1 Rumus empiris dan berat molekul (C6H10O5)n ≈ 36000

Dimana n ≈ 220 2.3.2 Struktur kimia


(26)

2.3.3 Uraian umum selulosa mikrokristal

Selulosa mikrokristal adalah selulosa yang dimurnikan dan telah mengalami depolimerisasi parsial, berwarna putih, tidak berbau, tidak berasa dan berupa serbuk kristal yang terdiri atas partikel-partikel yang berpori (Gohel dan Jogani, 2005). Selulosa mikrokristal dapat diproduksi dari beberapa bahan alam diantaranya tongkol jagung (Ohwoavworhua dan Adelakun, 2005), kulit jeruk (Ejikeme, 2008) dan buah labu (Achor, dkk., 2014) telah terbukti stabil, aman dan inert. Selulosa mikrokristal sering digunakan pada industri makanan, kosmetik dan farmasi sebagai bahan pengemulsi, pendispersi, pengental, pengembang dan salah satu bahan pengisi terbaik untuk tablet kempa langsung (Achor, dkk., 2014). Selulosa mikrokristal untuk kempa langsung tersedia dalam beberapa produk, diantaranya Avicel PH 101. Avicel PH 101 merupakan produk asli, sedangkan Avicel PH 102 lebih teraglomerasi dan memiliki ukuran partikel yang lebih besar sehingga alirannya sedikit lebih baik dan tidak ada penurunan ketermampatan yang signifikan (Siregar dan Wirakarsa, 2010).

2.4 Sediaan Tablet 2.4.1 Uraian umum

Tablet adalah sediaan padat, kompak, dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan (Ditjen POM, 1979). Kriteria yang harus dipenuhi untuk mendapatkan tablet dengan kualitas yang baik antara lain:


(27)

tetap baik selama pabrikasi/pengemasan dan distribusi ke konsumen. b. Dapat melepaskan bahan obatnya sampai pada ketersediaan hayatinya. c. Memenuhi persyaratan keseragaman bobot tablet dan kandungan obatnya. d. Mempunyai penampilan yang menarik, dari segi bentuk, warna dan rasanya.

Sediaan tablet memiliki banyak keuntungan dibandingkan bentuk sediaan lain diantaranya (Banker dan Anderson, 1994):

a. Merupakan bentuk sediaan yang utuh dan mempunyai ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling rendah dari pada bentuk yang lain.

b. Merupakan bentuk sediaan oral yang paling ringan dan kompak.

c. Merupakan bentuk sediaan yang mudah dan murah dalam pembuatan,

pengemasan dan pengiriman.

d. Merupakan sediaan oral yang paling mudah pemakaiannya.

Beberapa kerugian tablet antara lain (Banker dan Anderson, 1994):

a. Beberapa obat tidak dapat dikempa menjadi padat dan kompak tergantung pada keadaan amorfnya, flokulasinya atau rendahnya berat jenis.

b. Obat yang sukar dibasahkan, lambat melarut, dosisnya cukup atau tinggi, absorpsi optimumnya tinggi melalui saluran cerna atau setiap kombinasi dari sifat di atas akan sukar atau tidak mungkin diformulasikan dan dipabrikasi dalam bentuk tablet yang masih menghasilkan biovaibilitas obat cukup.

c. Obat yang rasanya pahit, obat dengan bau yang tidak dapat dihilangkan atau obat yang peka terhadap oksigen atau kelembapan udara perlu pengkapsulan atau penyelubungan dulu sebelum dikempa (bila mungkin) atau memerlukan penyalutan.


(28)

2.4.2Bahan tambahan formula tablet

Bahan tambahan adalah komponen lain dari suatu sediaan obat selain bahan aktif. Bahan tambahan memiliki banyak fungsi antara lain untuk membantu proses produksi, membantu disolusi, meningkatkan kestabilan, bioavailabilitas, keamanan dan keefektifan obat (Gangurde, dkk., 2013).

Komposisi tablet umumnya terdiri atas bahan aktif dan eksipien atau bahan tambahan (ada sejumlah kecil tablet yang dapat dibuat tanpa eksipien). Eksipien ditambahkan dengan berbagai fungsi dan tujuan spesifik sebagai pengisi, pengikat, penghancur (disintegrant), pelincir (lubricant), anti lengket (anti adhesive), pelicin (glidant), pembasah (wetting/surface active agent), zat warna (colours), peningkat rasa (flavors) dan lain-lain. Pemilihan eksipien untuk formulasi tablet tergantung pada bahan aktif, tipe tablet, karakteristik yang dibutuhkan dan proses pembuatan yang akan diaplikasikan (Agoes, 2008).

a. Bahan pengisi

Bahan pengisi adalah suatu zat inert secara farmakologis yang ditambahkan ke dalam suatu formulasi sediaan tablet bertujuan untuk penyesuaian bobot, ukuran tablet sesuai yang dipersyaratkan, untuk membantu kemudahan dalam pembuatan tablet, meningkatkan mutu dan kekuatan mekanis tablet (Mattsson, 2000; Siregar dan Wirakarsa, 2010). Bahan pengisi dapat juga ditambahkan untuk memperbaiki daya kohesi, sehingga dapat dikempa langsung atau untuk memacu aliran. Bahan pengisi yang bisa digunakan antara lain sukrosa, laktosa, dekstrosa, manitol, sorbitol, selulosa mikrokristal dan bahan lain yang cocok (Chan dan Chew, 2007). Pemilihan bahan pengisi haruslah berdasarkan pertimbangan persyaratan fungsional untuk menghasilkan tablet kempa/cetak


(29)

langsung. Persyaratan dasar fungsional adalah dapat dikempa (compaction), sifat aliran baik (flowability), lubrikasi dan disintegrasi (Gohel dan Jogani, 2005).

b. Bahan pengikat

Bahan pengikat atau adhesif ditambahkan ke dalam formulasi tablet bertujuan untuk menambah kohesivitas serbuk, sehingga memberi ikatan yang penting untuk membentuk granul dan apabila dikempa akan membentuk suatu massa kohesif atau kompak yang disebut tablet (Siregar dan Wirakarsa, 2010). c. Bahan pelicin

Berdasarkan fungsinya, bahan pelicin dibagi menjadi 3 macam yaitu Chan dan Chew, 2007):

1) Lubrikan berfungsi untuk mengurangi gesekan yang timbul pada antar permukaan tablet dan dinding lubang kempa selama pengempaan dan pengeluaran tablet dari lubang kempa.

2) Glidan berfungsi untuk meningkatkan sifat alir granul dari hopper ke ruang cetakan (die) untuk menghasilkan keseragaman bobot tablet.

3) Antiadheren berfungsi sebagai pencegah melekatnya tablet pada die dan permukaan punch.

Bahan pelicin yang sering digunakan adalah talk, amilum, asam stearat, garam-garam stearat, logam stearat dan lain-lain (Chan dan Chew, 2007).

d. Bahan penghancur

Bahan penghancur berfungsi untuk menghancurkan tablet di dalam tubuh setelah obat digunakan. Tablet diharapkan dapat segera melepaskan bahan obatnya, terlarut dan dapat diabsorpsi oleh tubuh untuk mendapatkan efek yang diinginkan (Indriani, 2004).


(30)

2.4.3 Metode pembuatan tablet

Tablet dibuat dengan 3 cara yaitu granulasi basah, granulasi kering dan kempa langsung.

a. Granulasi basah

Granulasi basah adalah proses menambahkan cairan pada suatu serbuk atau campuran serbuk dalam suatu wadah yang dilengkapi dengan pengadukan yang akan menghasilkan granul. Pembasahan serbuk ini dapat bertindak sebagai suatu pembawa bahan tertentu, sehingga meningkatkan karakteristik dan sifat-sifat granulasi yang baik (Siregar dan Wirakarsa, 2010).

Keuntungan metode granulasi basah yaitu: 1) sifat alir yang lebih baik,

2) meningkatkan kompresibilitas,

3) distribusi zat warna dan zat aktif lebih baik, 4) dapat mencegah pemisahan campuran serbuk.

Kerugian metode granulasi basah yaitu:

1) proses pembuatan yang rumit dan adanya proses validasi, 2) biaya yang cukup tinggi,

3) stabilitas menjadi perhatian untuk zat aktif yang peka lembap (Siregar dan Wirakarsa, 2010).

b. Granulasi kering

Granulasi kering dilakukan apabila zat aktif tidak mungkin digranulasi basah, karena tidak stabil atau peka terhadap pemanasan, kelembapan atau keduanya dan juga tidak mungkin dikempa langsung menjadi tablet, karena zat aktif tidak dapat mengalir bebas atau dosis efektif zat aktif terlalu besar untuk


(31)

dikempa langsung (Banker dan Anderson, 1994). Keuntungan metode granulasi kering yaitu:

1) peralatan lebih sedikit karena tidak menggunakan larutan pengikat, mesin pengaduk berat dan pengeringan yang memakan waktu,

2) baik untuk zat aktif yang sensitif terhadap panas dan lembab, 3) mempercepat waktu hancur karena tidak terikat oleh pengikat.

Kekurangan metode granulasi kering yaitu:

1) memerlukan mesin cetak khusus untuk membuat slug, 2) tidak dapat mendistribusi zat warna seragam,

3) proses banyak menghasilkan debu sehingga memungkinkan terjadinya kontaminasi silang (Andayana, 2009).

c. Kempa langsung

Kempa langsung digunakan untuk menyatakan proses ketika tablet dikempa langsung dari campuran serbuk zat aktif dan eksipien yang sesuai (Gangurde, dkk., 2013). Pemilihan eksipien sangat penting dalam memformulasi tablet kempa langsung. Eksipien kempa langsung harus memiliki sifat kompresibilitas dan fluiditas yang baik (Siregar dan Wirakarsa, 2010; Gohel dan Jogani, 2005).

Keuntungan proses kempa langsung yaitu lebih ekonomis, prosesnya singkat, tenaga dan mesin yang digunakan sedikit, dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan lembab serta waktu hancur dan disolusi lebih baik (Gohel dan Jogani, 2005). Kerugian metode kempa langsung yaitu kesulitan dalam pemilihan eksipien dan biaya eksipien yang lebih mahal (Siregar dan Wirakarsa, 2010).


(32)

2.4.4 Uji preformulasi

Uji preformulasi ini menggambarkan sifat massa sewaktu pencetakan tablet, meliputi waktu alir, sudut diam dan indeks tap. Pengujian waktu alir dilakukan dengan mengalirkan massa granul melalui corong. Waktu yang diperlukan tidak lebih dari 10 detik, jika melebihi waktu yang telah ditentukan, maka akan dijumpai kesulitan dalam hal keseragaman bobot tablet. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan bahan pelicin (Carstensen, 1977).

Pengukuran sudut diam digunakan metode corong tegak, granul dibiarkan mengalir bebas dari corong ke atas dasar. Serbuk akan membentuk kerucut, kemudian sudut kemiringannya diukur. Semakin datar kerucut yang dihasilkan semakin kecil sudut diam, maka semakin baik aliran granul tersebut (Voigt, 1994). Granul yang mempunyai sifat yang baik mempunyai sudut diam lebih kecil dari 350 (Carstensen, 1977).

Indeks tap adalah uji yang mengamati penurunan volume sejumlah sebuk atau granul akibat adanya gaya hentakan. Indeks tap dilakukan dengan alat volumenometer yang terdiri dari gelas ukur yang dapat bergerak secara teratur ke atas dan ke bawah. Serbuk atau granul yang baik mempunyai indeks tap kurang dari 20% (Carstensen, 1977).

2.4.5 Evaluasi tablet a. Keseragaman bobot

Keseragaman bobot tablet ditentukan berdasarkan banyaknya penyimpangan bobot tiap bobot tablet terhadap bobot rata-rata dari sejumlah tablet yang masih diperbolehkan menurut syarat yang telah ditentukan. Menurut Farmakope Indonesia edisi III (1979), tidak lebih dari 2 tablet yang menyimpang


(33)

dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan dalam kolom A dan tidak boleh satu pun tablet menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan dalam kolom B.

Persyaratan keseragaman bobot tablet dapat dilihat pada Tabel 2.1 di bawah ini.

Tabel 2.1 Persyaratan keseragaman bobot

Bobot rata-rata Penyimpangan

A B

25 mg atau kurang 26 mg s/d 150 mg 151 mg s/d 300 mg

Lebih dari 300 mg

15% 10% 7,5%

5%

30% 20% 15% 10% b. Kekerasan tablet

Ketahanan tablet terhadap goncangan saat pengangkutan, pengemasan dan peredaran bergantung pada kekerasan tablet. Kekerasan yang lebih tinggi menghasilkan tablet yang bagus, tidak rapuh tetapi ini mengakibatkan berkurangnya porositas dari tablet sehingga sukar dimasuki cairan yang mengakibatkan lamanya waktu hancur. Kekerasan untuk tablet secara umum yaitu 4-8 kg, tablet hisap 10-20 kg, tablet kunyah 3 kg (Parrot, 1971)

c. Friabilitas

Friabilitas tablet merupakan indikasi kekuatan mekanis dari suatu sediaan tablet. Pengujian dilakukan pada kecepatan 25 rpm, dengan menjatuhkan tablet sejauh 6 inci pada setiap putaran, yang dijalankan sebanyak 100 putaran (Gangurde, dkk., 2013). Kehilangan berat yang dibenarkan yaitu lebih kecil dari 0,5 sampai 1 % (Banker dan Anderson, 1994).


(34)

d. Waktu hancur

Waktu hancur yaitu waktu yang dibutuhkan tablet pecah menjadi partikel kecil atau granul sebelum larut dan diabsorpsi. Waktu hancur menyatakan waktu yang diperlukan tablet untuk hancur di bawah kondisi yang ditetapkan dan lewatnya seluruh partikel melalui saringan mesh-10 (Banker dan Anderson, 1994).

Waktu hancurnya tablet dapat dipengaruhi oleh sifat fisik dan kimia bahan pada saat granulasi, kekerasan tablet dan porositas tablet (Parrot, 1971). Tablet memenuhi syarat jika waktu hancurnya tidak lebih dari 15 menit (Ditjen POM, 1979).


(35)

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang meliputi pengambilan sampel, identifikasi sampel, pengolahan sampel, isolasi selulosa mikrokristal, karakterisasi selulosa mikrokristal, pembuatan ekstrak etanol, pembuatan sediaan tablet ekstrak etanol , uji preformulasi dan evaluasi tablet.

3.1 Alat-alat

Alat-alat yang digunakan adalah mesin pencetak tablet single punch (Erweka), Disintegration Tester (Copley), Friabilator (Copley), Strong Cobb Hardness Tester (Copley), alat uji sudut diam dan waktu alir (Copley), hot plate, neraca listrik (Sartorius), oven, desikator, Fourier-Transform Infrared Spectrophotometer (Shimadzu), Scanning Electron Microscopy (TM3000 Hitachi), pH indikator (Merck), pH meter (Hanna), tanur (Noberthem), pompa vakum, lemari pengering, termometer, ayakan bertingkat dan alat-alat gelas.

3.2 Bahan-bahan

Bahan tumbuhan yang digunakan adalah sabut buah pinang sedangkan bahan kimia yang digunakan kecuali dinyatakan lain berkualitas pro analisis: pereaksi Mayer, Dragendorff, Bouchardat, Molish, besi (III) klorida, serbuk Mg, amil alkohol, natrium hidroksida, akuades, natrium hipoklorit, asam klorida pekat, asam sulfat, kloroform, etanol, toluen, magnesium stearat, talkum, aerosil, Avicel PH 102 dan benzen.


(36)

3.3 Pengumpulan dan Pengolahan Sampel 3.3.1 Pengambilan sampel

Pengambilan sampel dilakukan secara purposif, artinya tanpa membandingkan sampel dengan sampel dari daerah lain. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sabut buah pinang yang diambil dari daerah Simalingkar B, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. 3.3.2 Identifikasi sampel

Identifikasi sampel dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi Bogor.

3.3.3 Pengolahan sampel

Sampel yang digunakan adalah sabut buah pinang yang telah matang dan berwarna kuning kemerah-merahan. Kulit beserta sabutnya dilepas dari biji pinang, kemudian sabut buah pinang dicuci, dikering anginkan dan dimasukkan ke dalam lemari pengering pada suhu ± 40o C. Sabut buah pinang yang telah kering ditimbang, lalu digunting kecil-kecil dan diblender hingga diperoleh serbuk simplisia.

3.4 Pembuatan Ekstrak

Sebanyak 1000 g serbuk simplisia sabut buah pinang dimasukkan ke dalam wadah kaca berwarna gelap, ditambahkan dengan 8500 ml etanol 80%. Ditutup dan dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sesekali diaduk, kemudian disaring. Ampas dipindahkan ke dalam wadah, ditambahkan dengan 1500 ml etanol 80% dan ditutup, dibiarkan di tempat sejuk, terlindung dari cahaya selama 2 hari, selanjutnya disaring. Maserat etanol yang diperoleh


(37)

diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator pada temperatur ± 40oC sampai diperoleh ekstrak kental (Ditjen POM, 1979).

3.5 Pembuatan Pereaksi

Pembuatan larutan pereaksi Bouchardat, Mayer, Dragendorff, Molish, asam klorida 2 N, asam sulfat 2 N, timbal (II) asetat 0,4 M dan besi (III) klorida (Depkes RI, 1995).

3.5.1 Pereaksi Bouchardat

Sebanyak 4 gram kalium iodida ditimbang, dilarutkan dalam air suling dan sebanyak 2 gram iodium ditimbang, dilarutkan dalam larutan kalium iodida dan dicukupkan hingga 100 ml.

3.5.2 Pereaksi Mayer

Sebanyak 1,359 gram raksa (II) klorida ditimbang, dilarutkan dalam air suling hingga 60 ml. Pada wadah lain kalium iodida ditimbang sebanyak 5 gram, dilarutkan dalam 10 ml air suling, kemudian dicampurkan dan ditambahkan air suling hingga 100 ml.

3.5.3 Pereaksi Dragendorff

Sebanyak 8 gram bismuth (III) nitrat ditimbang, dilarutkan dalam 20 ml asam nitrat pekat, pada wadah lain dilarutkan 27,2 gram kalium iodida dalam 50 ml air suling, kemudian kedua larutan dicampurkan dan didiamkan memisah. Larutan yang jernih diambil dan diencerkan dengan air suling hingga 100 ml. 3.5.4 Pereaksi Molish

Sebanyak 3 gram α-naftol diimbang, dilarutkan dalam asam nitrat 0,5 N hingga diperoleh larutan 100 ml.


(38)

3.5.5 Larutan asam klorida 2 N

Sebanyak 7,293 ml asam klorida pekat ditambahkan air suling hingga 100 ml.

3.5.6 Larutan asam sulfat 2 N

Sebanyak 9,808 ml asam sulfat pekat diencerkan dengan air suling secukupnya hingga volume 100 ml.

3.5.7 Larutan timbal (II) asetat 0,4 M

Sebanyak 15,17 gram timbal (II) asetat ditimbang, dilarutkan dalam air suling bebas karbondioksida sehingga diperoleh larutan 100 ml.

3.5.8 Larutan besi (III) klorida 1% b/v

Sebanyak 1 g besi (III) klorida ditimbang, dilarutkan dalam air suling hingga 100 ml.

3.5.9 Larutan natrium hidroksida 4%

Sebanyak 4 gram natrium hidroksida dilarutkan dalam air bebas

karbondioksida secukupnya hingga 100 ml. 3.5.10 Larutan natrium hidroksida 17,5%

Sebanyak 17,5 gram natrium hidroksida dilarutkan dalam air bebas karbondioksida secukupnya hingga volume 100 ml.

3.5.11 Larutan HCl 2,5 N

Sebanyak 208,4 ml asam klorida pekat diencerkan dengan air suling secukupnya hingga volume 1000 ml.

3.5.12 Pereaksi natrium hipoklorit 2,5%

Sebanyak 20,8 ml larutan pekat natrium hipoklorit (12%) diencerkan dengan akuades hingga volume 100 ml.


(39)

3.5.13 Air bebas karbondioksida

Air suling yang telah dididihkan selama 5 menit atau lebih didiamkan sampai dingin dan tidak boleh menyerap karbondioksida dari udara.

3.6 Karakterisasi Ekstrak

Karakterisasi ekstrak meliputi penetapan kadar air, penetapan kadar abu total, pemeriksaan kadar abu yang tidak larut dalam asam, penetapan kadar sari yang larut dalam etanol dan penetapan kadar sari yang larut dalam air (Depkes RI, 1995).

3.6.1 Penetapan kadar air

Penetapan kadar air dilakukan dengan metode azeotropi (destilasi toluen). Alat terdiri dari labu alas bulat 500 ml, alat penampung, pendingin, tabung penyambung dan tabung penerima 10 ml.

Sebanyak 200 ml toluen dan 2 ml air suling dimasukkan ke dalam labu alas bulat, kemudian didestilasi selama 2 jam. Toluen didinginkan selama 30 menit dan dibaca volume air pada tabung penerima dengan ketelitian 0,05 ml (volume I). Ekstrak yang telah ditimbang seksama dimasukkan ke dalam labu alas bulat, lalu dipanaskan hati-hati selama 15 menit. Setelah toluen mulai mendidih, didestilasi dengan kecepatan 2 tetes tiap detik, hingga sebagian besar air terdestilasi. Kecepatan destilasi ditingkatkan hingga 4 tetes tiap detik setelah 2 jam didestilasi (semua air terdestilasi), kemudian bagian dalam pendingin dibilas dengan toluen yang telah dijenuhkan. Destilasi dilanjutkan selama 5 menit, kemudian tabung penerima dibiarkan mendingin sampai suhu kamar. Volume air dibaca setelah air dan toluen memisah sempurna. Selisih kedua volume air yang


(40)

dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa. Kadar air dihitung dalam persen terhadap berat sampel yang telah dikeringkan. 3.6.2 Penetapan kadar abu total

Sebanyak 2 g ekstrak ditimbang seksama, dimasukkan dalam krus platina atau krus silikat yang telah dipijar dan ditara. Pemijaran dilakukan perlahan-lahan pada suhu 600°C selama 3 jam sampai arang habis, kemudian didinginkan dan ditimbang sampai diperoleh bobot tetap. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.

3.6.3Penetapan kadar abu yang tidak larut asam

Abu yang telah diperoleh dalam penetapan abu dididihkan dengan 25 ml asam klorida encer selama 5 menit, bagian yang tidak larut dalam asam dikumpulkan, disaring dengan kertas saring bebas abu, dicuci dengan air panas, dipijarkan sampai bobot tetap, kemudian didinginkan dan ditimbang. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap bobot yang dikeringkan di udara 3.6.4Penetapan kadar sari yang larut dalam etanol

Sebanyak 5 g ekstrak dilarutkan dengan etanol secukupnya, lalu disaring. Fitrat sebanyak 20 ml diuapkan sampai kering dalam cawan penguap yang berdasar rata yang telah ditara. Sisa filtrat dipanaskan pada suhu 105°C hingga diperoleh bobot tetap. Kadar sari yang larut dalam etanol dihitung dalam persen terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.

3.6.5Penetapan kadar sari yang larut dalam air

Sebanyak 5 g ekstrak ditambahkan 100 ml air kloroform (2,5 ml kloroform dalam air suling 1000 ml), kemudian disaring. Filtrat sebanyak 20 ml diuapkan sampai kering dalam cawan penguap yang berdasar rata yang telah


(41)

ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105° hingga diperoleh bobot tetap. Kadar sari yang larut dalam air dihitung dalam persen terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.

3.7 Skrining Fitokimia

Skrining fitokimia ekstrak etanol sabut buah pinang (Areca catechu L.) berdasarkan Depkes RI (1995) alkaloid, glikosida, saponin; (Ditjen POM, 1979) tanin; Farnsworth, (1966) flavonoid dan steroid/triterpenoid.

3.7.1 Pemeriksaan alkaloid

Sebanyak 0,5 g ekstrak ditimbang, kemudian ditambahkan 1 ml asam klorida 2 N dan 9 ml air suling, dipanaskan di atas penangas air selama 2 menit, didinginkan dan disaring. Filtrat dipakai untuk percobaan berikut:

a. diambil 3 tetes filtrat, lalu ditambahkan 2 tetes pereaksi Bouchardat b. diambil 3 tetes filtrat, lalu ditambahkan 2 tetes pereaksi Dragendorff c. diambil 3 tetes filtrat, lalu ditambahkan 2 tetes pereaksi Mayer

Alkaloid dinyatakan positif jika terjadi endapan atau kekeruhan paling sedikit pada 2 tabung reaksi dari percobaan di atas.

3.7.2 Pemeriksaan glikosida

Sebanyak 3 g ekstrak ditimbang, lalu ditambahkan dengan 10 ml asam klorida 2 N, kemudian direfluks selama 30 menit, didinginkan dan disaring. Filtrat sebanyak 20 ml ditambahkan 25 ml air suling dan 25 ml timbal (II) asetat 0,4 M, dikocok selama 5 menit dan disaring. Filtrat disari dengan 20 ml campuran 3 bagian kloroform dan 2 bagian isopropanol dan dilakukan berulang sebanyak 3 kali. Kumpulan sari diuapkan pada temperatur tidak lebih dari 50oC, sisanya


(42)

dilarutkan dalam 2 ml metanol. Sebanyak 0,1 ml larutan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, diuapkan di penangas air, sisanya dilarutkan dalam 2 ml air suling dan 5 tetes pereaksi Molish. Secara perlahan-lahan ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung. Glikosida dinyatakan positif jika terbentuk cincin berwarna ungu.

3.7.3 Pemeriksaan saponin

Sebanyak 0,5 g ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 10 ml air panas, didinginkan dan kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Tanin dinyatakan positif jika terbentuk buih yang mantap selama tidak kurang dari 10 menit, setinggi 1 – 10 cm dan setelah penambahan 1 tetes asam klorida 2 N buih tidak hilang.

3.7.4 Pemeriksaan flavonoid

Sebanyak 5 g ekstrak dilarutkan dengan etanol secukupnya, kemudian ditambahkan 100 ml air panas, dididihkan selama 5 menit dan disaring dalam keadaan panas. Filtrat sebanyak 5 ml lalu ditambahkan 0,1 g serbuk Mg dan 1 ml asam klorida pekat dan 2 ml amil alkohol, dikocok dan dibiarkan memisah. Flavonoid dinyatakan positif jika terjadi warna merah, kuning, jingga pada lapisan amil alkohol.

3.7.5 Pemeriksaan tanin

Sebanyak 0,5 g ekstrak ditambahkan dengan 10 ml air suling, lalu disaring. Filtratnya diencerkan dengan air suling sampai tidak berwarna. Larutan diambil sebanyak 2 ml, lalu ditambahkan 1- 2 tetes pereaksi besi (III) klorida 1%. Apabila terjadi warna biru atau hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin.


(43)

3.7.6 Pemeriksaan steroid/triterpenoid

Sebanyak 1 g ekstrak ditambahkan 20 ml n-heksana, lalu disaring. Filtrat diuapkan dalam cawan penguap, sisanya ditambahkan 2 tetes asam asetat anhidrid dan 1 tetes asam sulfat pekat. Timbulnya warna biru atau hijau menunjukkan adanya steroid jika timbul warna merah, pink atau ungu menunjukkan adanya triterpenoid.

3.8 Isolasi Selulosa Mikrokristal

Sebanyak 100 gram sabut buah pinang dimasukkan ke dalam beaker glass, ditambahkan 1,5 l NaOH 4% dan dipanaskan selama 2 jam pada suhu 100ºC, lalu disaring. Residu dicuci hingga pH netral, kemudian diputihkan dengan cara direndam dengan natrium hipoklorit 2,5% sebanyak 1 l selama 24 jam pada suhu kamar, lalu disaring. Residu dicuci dengan air suling sampai pH netral, kemudian dilanjutkan dengan penambahan NaOH 17,5% sebanyak 650 ml, dipanaskan pada suhu 80ºC selama 1 jam, kemudian disaring dan residu dicuci hingga pH netral. Residu diputihkan kembali dengan natrium hipoklorit 2,5% sebanyak 500 ml dan dipanaskan pada suhu 100ºC selama 5 menit, disaring dan residu dicuci sampai pH netral. Residu yang telah netral dikeringkan pada suhu 60ºC. Hasil yang didapat disebut α-selulosa (Herawan, dkk., 2013).

Serbuk α-selulosa dihidrolisis menggunakan asam klorida 2,5 N dengan cara dididihkan selama 10-15 menit, kemudian disaring. Residu yang diperoleh dinetralkan dengan akuades, lalu dikeringkan dan dihaluskan secara mekanik. Selulosa mikrokristal yang dihasilkan diayak dengan ayakan mesh 60 dan 100 (Yanuar, dkk., 2003).


(44)

3.9 Karakterisasi Selulosa Mikrokristal

Karakterisasi selulosa mikrokristal meliputi uji organoleptik, penetapan pH, kadar abu total, susut pengeringan, kelarutan zat dalam air, bobot jenis nyata, bobot jenis benar, bobot jenis mampat, indeks Hausner, indeks kompresibilitas, porositas, analisis FT-IR dan Scanning Electron Microscopy.

3.9.1 Uji organoleptik

Uji organoleptik meliputi pemeriksaan bau, warna dan rasa dari selulosa mikrokristal sabut buah pinang yang dibandingkan dengan Avicel PH 102.

3.9.2 Penetapan pH

Penetapan pH dapat dilakukan dengan menggunakan pH meter. Caranya: alat pH meter dikalibrasi menggunakan larutan dapar pH 7 dan pH 4. Satu gram zat yang akan diperiksa diencerkan dengan air suling hingga 10 ml. Elektroda pH meter dicelupkan ke dalam larutan yang diperiksa, jarum pH meter dibiarkan bergerak sampai menunjukkan posisi tetap, pH yang ditunjukkan jarum pH meter dicatat (Suardi, dkk., 2008).

3.9.3 Kelarutan zat dalam air

Sebanyak 5 gram sampel dicampur dengan ± 80 ml air selama 10 menit, disaring dengan vakum melalui kertas saring Whatman 42. Filtrat dipindahkan ke beaker yang telah ditara, lalu diuapkan hingga kering pada suhu 105o C selama 1 jam, didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Perbedaan antara berat residu dan berat beaker kosong tidak lebih dari 12,5 mg (0,25%) (USP, 2007).

3.9.4 Penetapan kadar abu total

Sebanyak 2 gram sampel yang telah digerus dan ditimbang seksama dimasukkan dalam krus porselin yang telah dipijar dan ditara, kemudian


(45)

diratakan. Pemijaran dilakukan perlahan-lahan sampai arang habis pada suhu 600o C selama 3 jam, kemudian didinginkan dan ditimbang sampai diperoleh bobot tetap. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara. 3.9.5 S usut pengeringan

Botol timbang dangkal bersumbat kaca dikeringkan di oven selama 30 menit pada suhu 100o-105o C, lalu didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Pekerjaan ini dilakukan sampai diperoleh berat yang konstan. Sebanyak 1 gram selulosa mikrokristal ditimbang dalam botol timbang kemudian digoyangkan perlahan hingga rata, kemudian dikeringkan di dalam oven pada suhu 1050 C selama 1 jam. Pada waktu pemanasan di oven, tutup botol timbang dibuka dan saat pengambilan botol timbang segera ditutup dan dibiarkan dalam desikator sampai mencapai suhu kamar, lalu ditimbang. Pekerjaan ini dilakukan sampai diperoleh berat yang konstan (Ditjen POM, 1995).

3.9.6 Bobot jenis nyata

Sebanyak 100 g zat uji (W) dikeringkan hingga bobotnya konstan, kemudian dimasukkan ke dalam gelas ukur 200 ml, permukaan zat uji diratakan dan dicatat volume serbuk (V). Bobot jenis dihitung dengan persamaan (Ben, dkk., 2007):

Bobot jenis nyata = W

V 3.9.7 Bobot jenis benar

Penentuan bobot jenis benar dilakukan menggunakan piknometer dan pelarut yang tidak melarutkan sampel yaitu benzen. Piknometer kosong yang telah diketahui volumenya (a) ditimbang beratnya (b) kemudian diisi benzen dan


(46)

ditimbang beratnya (c) (Voigt, 1994).

Bobot jenis benzen dihitung dengan persamaan:

ρ benzen = c-b

a

Serbuk sebanyak 2 g yang telah dikeringkan hingga berat konstan dimasukkan ke dalam piknometer, ditimbang (d), lalu ditambahkan benzen ke dalam piknometer sampai jenuh dan ditimbang kembali beratnya (e) (Ben, dkk.,2007)

Bobot jenis benar = d-b

(d-b)+(c-e) x ρ benzen

3.9.8 Bobot jenis mampat

Sebanyak 100 g zat uji (W) dikeringkan hingga bobotnya konstan, lalu dimasukkan ke dalam gelas ukur 200 ml, permukaan zat uji diratakan, kemudian gelas ukur dihentakkan sebanyak 1250 kali, catat volumenya (Vt). Dilakukan hentakan lagi sebanyak 1250 kali dan dicatat volumenya (Vtl). Jika selisih Vt dan Vtl tidak lebih dari 2 ml maka dipakai Vt (Ben, dkk., 2007).

Bobot jenis mampat= W Vt 3.9.9 Indeks kompresibilitas

Indeks kompresibilitas zat uji dihitung menggunakan persamaan:

Indeks kompresibilitas= berat jenis mampat-berat jenis nyata

berat jenis nyata x 100%

Adapun persyaratan indeks kompresibilitas dapat dilihat pada Tabel 3.1 di bawah ini.


(47)

Tabel 3.1 Persyaratan indeks kompresibilitas

Indeks Kompresibilitas (%) Sifat Aliran

<10 sangat Baik

11 – 15 baik

16 – 20 cukup Baik

21 – 25 sedang

26 – 31 buruk

32 – 37 sangat buruk

> 38 sangat sangat buruk

3.9.10 Indeks Hausner

Indeks Hausner dihitung menggunakan data bobot jenis mampat dan bobot jenis nyata seperti yang diperoleh di atas.

Indeks Hausner= bobot jenis mampat bobot jenis nyata

Adapun persyaratan indeks Hausner dapat dilihat pada Tabel 3.2. Tabel 3.2 Persyaratan indeks Hausner

Indeks Hausner Sifat Aliran

< 1,25 baik

1,25-1,5 sedang

>1,5 jelek

3.9.11 Porositas

Porositas zat uji dihitung menggunakan persamaan: (Carstensen, 1977).

Persen Porositas=1- berat jenis nyata

berat jenis benar x 100% 3.9.12 Analisis FT-IR

Analisis gugus fungsi dilakukan dengan menggunakan instrumen spektrofotometer FT-IR (Shimadzu) di Laboratorium Penelitian Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.


(48)

3.9.13 Scanning Electron Microscopy

Analisis morfologi selulosa dilakukan menggunakan Scanning Electron Microscopy (TM3000 Hitachi) di Laboratorium Terpadu MIPA Universitas Sumatera Utara.

3.10 Pembuatan Tablet Ekstrak Etanol Sabut Buah Pinang (EESBP)

Pembuatan tablet ekstrak etanol sabut buah pinang dilakukan secara cetak langsung dengan bobot tablet 650 mg dan diameter 13 mm. Dibuat dua formula dengan bahan tambahan yaitu selulosa mikrokristal dari sabut buah pinang dan sebagai pembanding digunakan Avicel PH 102. Formula tablet yang dibuat dapat dilihat pada Tabel 3.3.

R/ EESBP 0, 200

Aerosil 1%

Mg. Stearat 1%

Talkum 1%

Avicel PH 102/ SMSBP q.s

Tabel 3.3 Formula tablet EESBP

Komposisi F1 F2

EESBP (mg) 200 200

Aerosil (mg) 6,5 6,5

Mg. stearat (mg) 6,5 6,5

Talkum (mg) 6,5 6,5

SMSBP (mg) 430,5 -

Avicel PH 102 (mg) - 430,5

keterangan :

F1 = formula tablet EESBP dengan bahan pengisi SMSBP F2 = formula tablet EESBP dengan bahan pengisi Avicel PH 102


(49)

3.11 Uji Preformulasi

Uji preformulasi tablet EESBP meliputi pengujian sudut diam, penetapan waktu alir dan indeks kompresibilitas.

3.11.1 Sudut diam

Tiap formula dituang pelan-pelan lewat corong, sementara bagian bawah corong ditutup, kemudian penutup dibuka dan granul dibiarkan mengalir keluar. Diukur tinggi dan jari-jari kerucut yang terbentuk, kemudian ditentukan sudut diamnya. Granul yang mempunyai daya alir bebas akan mempunyai sudut diam antara 20o – 40o (Lachman, dkk., 1994).

tangen θ = 2h D

keterangan: h = tinggi kerucut, D = diameter 3.11.2 Penetapan waktu alir

Granul yang akan dicetak dimasukkan kedalam corong alir, lalu dialirkan hingga seluruh granul mengalir. Waktu alir ditentukan hingga seluruh formula mengalir keluar.Syarat waktu alir yang baik adalah kurang dari 10 detik.

3.11.3 Penetapan indeks kompresibilitas

Granul dimasukkan ke dalam gelas ukur 50 ml dan diukur volume awalnya (V1), lalu dihentakkan sehingga volume akhirnya (V2) konstan. Indeks tap dihitung dengan rumus: (Carstensen, 1977).

I = V1-V2

V1 x 100%

dimana : VI = volume sebelum hentakan, V2 = volume setelah hentakan Syarat: I ≤ 20%


(50)

3.12 Evaluasi Tablet

3.12.1 Pemeriksaan keseragaman bobot tablet

Dimasukkan 20 tablet dan dibersihkan dari debu kemudian ditimbang. Dihitung bobot rata-rata tiap tablet, kemudian ditimbang satu persatu dan diambil 3 berat tablet yang berdeviasi tinggi (Ditjen POM, 1979).

Deviasi= bobot tablet - bobot rata-rata

bobot rata-rata x 100%

Persyaratan keseragaman bobot tablet dapat dilihat pada Tabel 3.4 di bawah ini:

Tabel 3.4 Persyaratan keseragaman bobot tablet

Bobot rata-rata Penyimpangan

A B

25 mg atau kurang 26 mg s/d 150 mg 151 mg s/d 300 mg

Lebih dari 300 mg

15% 10% 7,5%

5%

30% 20% 15% 10%

Persyaratan tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata dari harga yang diterapkan pada kolom A dan tidak boleh 1 tablet yang menyimpang dari bobot rata-rata dari harga yang ditetapkan pada kolom B (Ditjen POM, 1979).

3.12.2 Pemeriksaan friabilitas tablet

Sebanyak 20 tablet ditimbang, misalkan beratnya ”a” gram, dimasukkan ke dalam alat friabilator, lalu tekan tombolnya sehingga alat berputar selama 4 menit (100 kali putaran). Tablet dikeluarkan, dibersihkan dari debu dan ditimbang beratnya, misalnya ”b” gram. Friabilitas tablet dapat dihitung dengan rumus :

F= a


(51)

3.12.3 Uji kekerasan tablet

Alat yang digunakan adalah Strong Cobb Hardness Tester (Copley). Sebuah tablet diletakkan ditengah besi penahan, kemudian alat dijalankan sehingga besi penahan menekan tablet. Kekerasan tablet dapat dilihat pada skala yang muncul di monitor. Pemeriksaan kekerasan tablet dilakukan sebanyak lima tablet dan dihitung rata-ratanya (Parrot, 1971).

3.12.4 Uji waktu hancur tablet

Alat yang digunakan adalah Disintegration Tester (Copley). Pengujian

dilakukan terhadap enam tablet. Satu buah tablet dimasukkan ke dalam masing-masing tabung dari keranjang. Dimasukkan satu cakram pada tiap tabung

dan jalankan alat. Digunakan air bersuhu 37o C ± 2o C sebagai media, kemudian alat dijalankan. Waktu hancur tablet dicatat yaitu sejak tablet dinaikturunkan sampai tablet hancur. Tablet dinyatakan hancur jika tidak ada bagian tablet yang tertinggal dikasa. Syarat waktu hancur tablet yaitu tidak boleh lebih dari 15 menit (Ditjen POM, 1995).


(52)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil identifikasi tumbuhan dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) adalah tumbuhan pinang (Areca catechu L.) dari suku Arecaceae. Hasil dapat dilihat pada Lampiran 1 halaman 53.

Penyarian terhadap sabut buah pinang dilakukan secara maserasi dengan pelarut etanol 80%, dimana diharapkan senyawa kimia yang terkandung di dalamnya dapat tersari. Hasil pengumpulan sampel sebanyak 10 kg menghasilkan 1,2 kg simplisia dan dari 1 kg simplisia diperoleh ekstrak etanol sebanyak 85 gram. Rendemen yang didapat sebesar 8,5%.

4.1 Hasil Karakterisasi Ekstrak Etanol Sabut Buah Pinang (EESBP) Hasil pemeriksaan karakterisasi EESBP dapat dilihat pada Tabel 4.1. Tabel 4.1 Hasil karakterisasi EESBP

No Karakterisasi ekstrak Hasil

(%)

1 Kadar air 9,30

2 Kadar sari yang larut dalam air 41,79

3 Kadar sari yang larut dalam etanol 42,14

4 Kadar abu total 5,39

5 Kadar abu yang tidak larut dalam asam 2,06

Penetapan kadar air dilakukan untuk memberi batasan atau rentang besarnya kandungan air di dalam ekstrak, karena apabila tingginya kandungan air dapat menyebabkan ketidakstabilan sediaan obat (cemaran bakteri) dan bahan


(53)

aktifnya (penguraian secara kimia). Penetapan kadar sari larut dalam air dan etanol untuk mengetahui banyaknya senyawa polar yang larut dalam air dan etanol. Penetapan kadar abu total dan kadar abu tidak larut asam bertujuan untuk bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa anorganik dalam simplisia, misalnya logam K, Ca, Na, Pb, Hg dan silika (Ditjen POM, 2000).

4.2 Hasil Skrining Fitokimia EESBP

Hasil skrining fitokimia terhadap EESBP diperoleh golongan senyawa kimia seperti yang terlihat pada Tabel 4.2 di bawah ini.

Tabel 4.2 Hasil skrining fitokimia dari EESBP

No Golongan Senyawa Hasil

1. Alkaloid -

2. Flavonoid +

3. Steroid/Triterpenoid -

4. Tanin -

5. Glikosida +

6. Saponin -

keterangan: (+) : mengandung senyawa, (-): tidak mengandung senyawa

Penentuan golongan senyawa kimia terhadap EESBP dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang golongan senyawa metabolit sekunder yang terdapat di dalamnya. EESBP yang ditambah dengan pereaksi Dragendorff tidak memberikan endapan warna jingga kecoklatan, dengan pereaksi Bouchardat tidak memberikan endapan warna kuning kecoklatan dan dengan pereaksi Mayer tidak terbentuk endapan putih dan kekeruhan, ini menunjukkan bahwa tidak adanya senyawa alkaloid (Depkes RI, 1995). Flavonoid ditentukan dengan penambahan serbuk Mg dan HCL 2 N, memberikan warna kuning pada lapisan amil alkohol yang menunjukkan adanya senyawa flavonoid pada EESBP (Farnsworth, 1966).


(54)

Penambahan Liebermann-Burchard tidak memberikan warna merah atau ungu dan biru yang menunjukkan tidak adanya senyawa steroid/triterpenoid (Harborne, 1987), sedangkan skrining pada senyawa tanin dengan penambahan FeCl3 tidak memberikan warna biru kehitaman. Pemeriksaan tanin dinyatakan positif jika terjadi warna biru atau hijau kehitaman (Farnsworth,1966). Skrining senyawa glikosida ditunjukkan dengan penambahan pereaksi Molish dan asam sulfat pekat dimana terbentuk cincin ungu. Pereaksi Molish merupakan pereaksi umum yang digunakan untuk identifikasi karbohidrat, dalam hal ini adalah gula. Skrining senyawa saponin tidak menghasilkan busa yang stabil, ini menunjukkan bahwa EESBP tidak mengandung saponin (Depkes RI,1995).

Ekstrak etanol sabut buah pinang mengandung senyawa flavonoid yang dapat dimanfaatkan sebagai antidiare. Flavonoid sebagai antidiare bekerja dengan cara menghambat motilitas usus yang menyebabkan berkurangnya sekresi cairan dan elektrolit (Di Carlo, dkk., 1993). Aktivitas flavonoid yang lain juga dapat menghambat pelepasan asetikolin di saluran cerna, sehingga akan menyebabkan berkurangnya aktivasi reseptor asetikolin nikotinik yang memperantarai terjadinya kontraksi otot polos dan teraktivasinya reseptor aseptor muskarinik (khususnya Ach-M3) yang mengatur motilitas gastrointestinal dan kontraksi otot polos (Ikawati, 2008).

4.3 Hasil Pembuatan Selulosa Mikrokristal Sabut Buah Pinang (SMSBP)

Hasil α-selulosa yang diperoleh sebesar 146,85 gram atau 32,63% dari 450 gram sabut buah pinang dan selulosa mikrokristal yang diperoleh adalah 103,14 gram atau 22,92% .


(55)

4.4 Hasil Karakterisasi SMSBP

Karakterisasi SMSBP dan Avicel PH 102 meliputi uji organoleptik, pH, susut pengeringan, bobot jenis nyata, bobot jenis benar, bobot jenis mampat, indeks Hausner, indeks kompresibilitas, porositas, kadar abu total dan kelarutan zat dalam air. Hasil karakterisasi SMSBP dan Avicel PH 102 dapat dilihat pada Tabel 4.3 di bawah ini.

Tabel 4.3 Hasil karakterisasi SMSBP dan Avicel PH 102

No Parameter SMSBP* Avicel PH

102 Persyaratan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Organoleptik pH

Susut pengeringan (%) Bobot jenis nyata (g/cm3) Bobot jenis benar (g/cm3) Bobot jenis mampat (g/cm3) Indeks Hausner

Indeks kompresibilitas (%) Porositas (%)

Kadar abu total (%)

Kelarutan zat dalam air (%)

Serbuk kasar, putih, tidak berbau 6,1 5,38 0,338 1,43 0,384 1,13 13,6 76,4 0,45 0,019 Serbuk kasar, putih, tidak berbau 6,5 4,75 0,41 1,46 0,48 1,15 15,86 71,51 0,01 0,08 Serbuk kasar, putih, tidak berbau 5,0-7,5 ≤ 7% 0,337 1,420-1,460 0,478 < 1,25 - - ≤ 0,1 ≤ 0,25

keterangan: * = hasil perhitungan rata-rata karakterisasi1

Hasil organoleptik SMSBP dan Avicel PH 102 berupa serbuk kasar, berwarna putih dan tidak berbau. Menurut USP (2007), pH selulosa mikrokristal adalah antara 5,0 - 7,5. Hasil penetapan pH SMSBP dan Avicel PH102 memenuhi syarat yang terdapat dalam USP. Penetapan susut pengeringan dilakukan untuk mengetahui persentase senyawa yang hilang selama proses pemanasan. Kadar susut pengeringan SMSBP dan Avicel PH 102 telah memenuhi syarat yaitu kurang dari 7% (USP, 2007). Penetapan bobot jenis dilakukan untuk memberikan penilaian sifat alirnya karena bobot jenis mempengaruhi sifat alirnya. Hasil bobot


(56)

jenis benar SMSBP dan Avicel PH 102 masih memenuhi syarat yang terdapat dalam Handbook of Pharmaceutical Exipients sebesar 1,420-1,460 g/cm3. Bobot jenis nyata SMSBP dan Avicel PH 102 tidak memenuhi persyaratan yang terdapat dalam Handbook of Pharmaceutical Exipients yaitu sebesar 0,337 g/cm3.

Menurut Rowe dan kawan-kawan (2009), bobot jenis mampat selulosa mikrokristal adalah 0, 478 g/cm3. Bobot jenis mampat SMSBP dan Avicel PH 102 belum memenuhi persyaratan. Walaupun bobot jenis mampat dan bobot jenis nyata SMSBP dan Avicel PH 102 tidak sesuai dengan persyaratan, tetapi masih mendekati nilai yang telah ditentukan.

Sifat aliran serbuk berperan penting dalam penentuan kesesuaian serbuk sebagai bahan tambahan untuk cetak langsung. Indeks Hausner dan indeks kompresibilitas merupakan pengukuran secara tidak langsung sifat aliran serbuk (Achor, dkk., 2014). Hasil indeks Hausner SMSBP diperoleh sebesar 1,13 dan Avicel PH 102 sebesar 1,15. Ini menunjukkan keduanya memiliki sifat aliran yang baik karena kurang dari 1,25 dimana semakin tinggi nilai indeks hausner yang dihasilkan maka semakin buruk sifat aliran serbuk (Ohwoavworhua dan Adelakun, 2005).

Nilai indeks kompresibilitas SMSBP dan Avicel PH 102 menunjukkan sifat alir yang baik dimana nilai kurang dari 16% menunjukkan sifat alir yang baik sedangkan nilai antara 16 - 20% menunjukkan sifat alir yang cukup baik. Sifat aliran serbuk dapat diperbaiki dengan penambahan glidan dalam proses pembuatan tablet (Achor, dkk., 2014).

Hasil porositas SMSBP adalah 76,4% sedangkan Avicel PH 102 yaitu 71,5%. Pengujian ini menggambarkan kemudahan pada pelarut untuk berpenetrasi


(57)

ke dalam pori-pori tablet (Siregar dan Wirakarsa, 2010). Hasil kadar abu total SMSBP adalah sebesar 0,45% dan Avicel PH 102 sebesar 0,01% Uji ini dilakukan untuk mengetahui kadar abu atau mineral yang terkandung di dalam sampel. Kadar abu SMSBP yang diperoleh lebih besar dibandingkan dengan Avicel PH 102. Hal ini dapat disebabkan proses pencucian SMSBP yang kurang sempurna (Achor, dkk., 2014).

Hasil uji kelarutan zat dalam air untuk SMSBP dan Avicel PH 102 diperoleh sebesar 0,019% dan 0,08%. Hal ini menunjukkan bahwa SMSBP lebih sedikit terlarut dalam air dibandingkan dengan Avicel PH 102. Persyaratan kelarutan zat dalam air tidak lebih dari 12,5 mg (0,25%) (USP, 2007).

4.5 Hasil Analisis Gugus Fungsi SMSBP

Analisis sifat fisikokimia dilakukan menggunakan instrumen spektrofotometer FT-IR. Hasil spektrum IR SMSBP dan Avicel PH 102 dapat dilihat pada Gambar 4.1 dan 4.2 di bawah ini.


(58)

Gambar 4.2 Hasil spektrum IR Avicel PH 102

Hasil spektrum IR SMSBP yang terlihat pada Gambar 4.1 dijumpai adanya serapan pada daerah bilangan gelombang 3344,57 cm-1 yang menunjukkan gugus OH, bilangan gelombang 2889,37 cm-1 menunjukkan gugus C-H alifatis dan bilangan gelombang 1045,42 cm-1 menunjukkan gugus C-O. Hasil spektrum IR Avicel PH 102 yang terlihat pada Gambar 4.2 dijumpai adanya serapan pada daerah bilangan gelombang sekitar 3406,29 cm-1 yang menunjukkan gugus OH, bilangan gelombang 2893,22 cm-1 menunjukkan gugus C-H alifatis dan bilangan gelombang 1103,28 cm-1 menunjukkan gugus C-O. Semua bilangan gelombang yang diperoleh menggambarkan gugus fungsi yang terdapat pada molekul selulosa dan hasil spektrum SMSBP dan Avicel PH 102 mempunyai pola spektrum yang sama.

4.6 Hasil Analisis Morfologi SMSBP

Hasil analisis morfologi SMSBP dan Avicel PH 102 dapat dilihat pada Gambar 4.3 di bawah ini.


(59)

SMSBP Avicel PH 102

Gambar 4.3 Hasil SEM SMSBP dan Avicel PH 102 dengan perbesaran 600 kali Analisis dengan SEM untuk mengetahui bentuk permukaan dan ukuran partikel dari selulosa mikrokristal. Pada Gambar 4.3 di atas, diperoleh hasil SEM SMSBP dan Avicel PH 102 dengan perbesaran 600 kali dari ukuran sebenarnya dapat diperkirakan ukuran partikel SMSBP berkisar antara 50-100 µm sedangkan Avicel PH 102 berkisar 100 µm dengan bentuk amorf, permukaan tekstur yang tidak rata serta membentuk sudut runcing dan tumpul. Menurut Rowe dan kawan-kawan (2009), selulosa mikrokristal merupakan serbuk yang mempunyai fasa amorf dan fase kristal sebagai komponen penyusunnya dengan kemurnian dan derajat kristalinitas yang tinggi. Hasil pembuatan dan karakterisasi secara keseluruhan dari SMSBP menunjukkan ada kesamaan karakter dengan Avicel PH 102 sehingga memungkinkan untuk dapat digunakan sebagai bahan tambahan pada pembuatan tablet.


(60)

4.7 Hasil Uji Preformulasi

Hasil uji preformulasi granul dapat dilihat pada Tabel 4.4 di bawah ini. Tabel 4.4 Data uji preformulasi massa granul

Formula Waktu alir

(detik)

Sudut diam (o)

Indeks tap (%) SMSBP

Avicel PH 102

2.04 1.05

28,17 25,69

14 10

Massa granul tablet dievaluasi dengan mengukur waktu alir, sudut diam dan indeks tap. Ketiga evaluasi ini tersebut berfungsi untuk mengetahui kemampuan mengalir massa granul yang dapat mempengaruhi keseragaman bobot tablet. Evaluasi terhadap kecepatan alir granul dilakukan untuk mengetahui sifat alir dari granul yang akan dibuat sehingga dapat menghasilkan keseragaman bobot yang baik. Granul yang mempunyai kecepatan alir yang baik akan menghasilkan tablet dengan berat yang konstan sehingga kadar zat aktif sama untuk setiap tabletnya (Siregar dan Wirakarsa, 2010). Waktu alir yang dihasilka kedua formula tidak jauh berbeda dan telah memenuhi syarat yaitu kurang dari 10 detik (Banker dan Anderson, 1994).

Sudut diam merupakan sudut yang dibentuk antara tinggi yang terbentuk oleh serbuk atau granul dengan jari-jari yang terbentuk pada landasan serbuk. Bila sudut diam lebih kecil atau sama dengan 30 biasanya menunjukkan bahwa granul mempunyai sifat alir yang baik atau disebut juga “free flowing” dan bila sudutnya lebih besar atau sama dengan 40 biasanya sifat alirnya kurang baik (Banker dan Anderson, 1994). Semakin datar sudut yang dihasilkan, artinya sudut kemiringannya semakin kecil dan semakin baik aliran serbuk tersebut (Voigt,1994). Hasil pengujian sudut diam kedua formula telah memenuhi syarat


(61)

yang telah ditentukan sehingga tidak akan terjadi kesulitan dalam pencetakan tablet.

Hasil pengujian indeks tap kedua formula yang ditunjukkan Tabel 4.4 telah memenuhi persyaratan yang ditentukan. Menurut Carstensen, (1977), indeks tap yang kurang dari 20% akan mempunyai sifat alir yang baik dimana semakin kecil nilai yang dihasilkan maka semakin baik sifat fisik massa granul.

4.8 Hasil Evaluasi Tablet

4.8.1 Hasil uji keseragaman bobot tablet EESBP

Hasil uji keseragaman bobot kedua formula tablet dapat dilihat pada Tabel 4.5 di bawah ini.

Tabel 4.5 Data uji keseragaman bobot EESBP

Keterangan SMSBP Avicel PH 102

Bobot rata-rata (mg) 648,5 653

A1 (%) 2,85 3,52

A2 (%) 1,77 2,60

B (%) 2,85 3,52

Evaluasi keseragaman bobot ini dimaksudkan untuk mengetahui bobot tablet yang dicetak seragam atau tidak, serta keseragaman bobot ini secara tidak langsung merupakan salah satu faktor penentu keseragaman kandungan zat aktif formula tablet yang akan berpengaruh pula terhadap keamanan terapi dari sediaan tablet tersebut (Banker dan Anderson, 1994). Menurut Farmakope Indonesia edisi III (1979), tablet dengan bobot lebih dari 300 mg jika ditimbang satu per satu tidak boleh lebih dari dua tablet yang bobotnya menyimpang lebih dari 5% dari bobot rata-rata tablet dan tidak boleh ada satu tablet yang bobotnya menyimpang lebih dari 10% dari bobot rata-rata. Berdasarkan Tabel 4.5 di atas, dapat diketahui


(62)

bahwa hasil uji keseragaman bobot tablet SMSBP memenuhi syarat yang terdapat dalam Farmakope Indonesia edisi III.

4.8.2 Hasil uji kekerasan tablet EESBP

Hasil uji kekerasan kedua formula tablet dapat dilihat pada Tabel 4.6 Tabel 4.6 Data uji kekerasan tablet EESBP

No Formula Kekerasan (kg)

1 SMSBP 4,27

2 Avicel PH 102 4,62

Berdasarkan Tabel 4.6 kekerasan kedua formula telah memenuhi syarat, dimana menurut Parrot (1971), syarat kekerasan tablet antara 4-8 kg. Uji kekerasan tablet dilakukan untuk menjamin tablet tetap dalam keadaan baik ketika diterima. Proses pengemasan dan pendistribusian tablet bisa mengalami goncangan dan pengikisan atau mendapat tekanan yang cukup keras, sehingga dengan kekerasan yang cukup dapat menjamin keadaan fisik tablet tetap dalam keadaan baik. Kekerasan tablet juga dipengaruhi oleh besarnya tekanan pada saat pengempaan, sifat bahan yang dikempa, jenis konsentrasi bahan pengikat yang digunakan serta kondisi granul. Kekerasan tablet akan berpengaruh terhadap kerapuhan dimana semakin keras tablet, maka semakin rendah kerapuhannya (Sulaiman, 2007).

4.8.3 Hasil uji friabilitas tablet EESBP

Hasil uji friabilitas kedua formula tablet dapat dilihat pada Tabel 4.7 di bawah ini.

Tabel 4.7 Data hasil uji friabilitas tablet EESBP

No Formula Friabilitas (%)

1 SMSBP 0,77


(63)

Hasil uji friabilitas kedua formula tablet telah memenuhi syarat yang telah ditentukan yaitu tidak lebih dari 0,8% (Voigt, 1994). Kerapuhan obat merupakan ketahanan tablet dalam melawan tekanan mekanik terutama goncangan dan pengikisan yang dinyatakan dalam persentase bobot yang hilang selama uji friabilitas. Faktor yang dapat mempengaruhi kerapuhan tablet adalah kelembapan, ukuran partikel dan faktor lainnya. Kelembapan menyebabkan gangguan ikatan antar partikel dan meningkatkan porositas yang dapat menganggu kekuatan tablet sehingga mengakibatkan perubahan friabilitas (Banker dan Anderson, 1994). 4.8.4 Hasil uji waktu hancur tablet EESBP

Hasil uji waktu hancur kedua formula tablet dapat dilihat pada Tabel 4.8 di bawah ini.

Tabel 4.8 Data hasil uji waktu hancur tablet EESBP

No Formula Waktu Hancur (detik)

1 SMSBP 192

2 Avicel PH 102 154

Berdasarkan Tabel 4.8 diketahui bahwa waktu hancur kedua formula memenuhi syarat sesuai Farmakope Indonesia edisi IV yaitu waktu hancurnya tidak lebih dari 15 menit. Uji ini bertujuan untuk mengetahui waktu yang diperlukan tablet untuk hancur di dalam cairan saluran pencernaan. Saat tablet kontak dengan air maka tablet akan berpenetrasi melalui pori-pori yang ada yang menyebabkan ikatan antar partikel lemah dan pecah menjadi granul (Voigt, 1994).


(64)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Hasil penelitian menunjukkan selulosa mikrokristal dapat dibuat dari sabut buah pinang dengan cara isolasi α-selulosa sabut buah pinang dan kemudian dihidrolisis dengan HCl 2,5 N dengan rendemen 22,92%.

2. Selulosa mikrokristal dari sabut buah pinang mempunyai kemiripan hasil karakterisasi bila dibandingkan dengan Avicel 102. Hasil karakterisasi SMSBP dan Avicel PH 102 masing-masing meliputi organoleptik yaitu keduanya berwarna putih, tidak berbau dan tidak berasa; pH 6,1 dan 6,5; susut pengeringan 5,38 dan 4,75%; kadar abu total 0,45 dan 0,01%; zat larut dalam air 0,019 dan 0,08%. Selanjutnya bobot jenis nyata 0,338 dan 0,41

g/cm3; bobot jenis mampat 0,384 dan 0,48 g/cm3; bobot jenis benar 1,43 dan 1,46 g/cm3; indeks Hausner 1,13 dan 1,15; indeks kompresibilitas 13,6 dan 15,86%; porositas 76,4 dan 71,51%. Analisis FT-IR SMSBP dan Avicel PH 102 yaitu keduanya menunjukkan spektrum yang sama dan analisis Scanning Electron Microscopy (SEM) menunjukkan bentuk amorf, tekstur permukaan yang tidak rata serta membentuk sudut-sudut yang runcing dan tumpul.

3. Penelitian menunjukkan bahwa sediaan tablet EESBP sebagai obat antidiare yang dibuat dengan menggunakan SMSBP mempunyai kemiripan hasil jika dibandingkan dengan Avicel PH 102 sebagai bahan pengisi dan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.


(65)

5.2 Saran

Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk:

1. menguji sediaan tablet ini pada hewan percobaan untuk mengetahui aktivitas farmakologi dari sediaan tablet.

2. membuat formulasi tablet dengan bahan aktif kimia menggunakan selulosa sabut buah pinang sebagai bahan tambahan dan diuji laju pelepasan obatnya.


(1)

I = Vo−Vt

Vo x 100%

keterangan : Vo = volume mula-mula, Vt= volume sesudah di tap Lampiran 11. (Lanjutan)

No Vo (ml) Vt (ml)

1. 25 21

2. 25 22

3. 25 21,5

I1 = 25-2125 x 100% = 16%

I2 = 25-22

25 x 100% = 12% I3 =

25-21,5

25 x 100% = 14% Irata-rata

=

16%+12%+14%


(2)

Lampiran 12. Hasil perhitungan evaluasi tablet EESBP 1. Perhitungan keseragaman bobot tablet EESBP Berat 20 tablet = 12,97 gram

Berat rata-rata =Berat seluruhnya

20 tablet =

12,97

20

= 0,6485 gram = 648,5 mg No. Bobot (mg) Deviasi No Bobot (mg) Deviasi

1. 640 8,5 11. 660 11,5

2. 640 8,5 12. 660 11,5

3. 630 18,5 13. 660 11,5

4. 640 8,5 14. 640 8,5

5. 650 1,5 15. 650 1,5

6. 650 1,5 16. 640 8,5

7. 650 1,5 17. 640 8,5

8. 630 18,5 18. 650 1,5

9. 660 11,5 19. 640 8,5

10. 660 11,5 20. 660 11,5

A1 =

648,5-630

648,5 x 100% = 2,85%

A2 =

660-648,5

648,5 x 100% = 1,77%

B= 648,5-630

648,5

x 100% = 2,85 %

Persyaratan: untuk bobot rata-rata lebih dari 300 mg, penyimpangan untuk kolom A adalah tidak lebih dari 5% dan kolom B tidak lebih dari 10%.

2. Perhitungan friabilitas tablet EESBP


(3)

dimana: a = bobot 20 tablet sebelum diputar dengan friabilator (gram) b = bobot tablet setelah diputar dengan friabilator (gram)

Lampiran 12. (Lanjutan)

Syarat friabilitas tablet: kehilangan bobot tablet tidak boleh lebih dari 0,8% (F ≤0,8%).

Berat 20 tablet sebelum diputar = 12,97 gram Berat 20 tablet setelah diputar = 12,87 gram


(4)

Lampiran 13. Gambar alat-alat uji karakteristik SMSBP


(5)

Gambar alat Scanning Electron Microscopy (SEM)

Lampiran 14. Gambar alat cetak, uji preformulasi dan evaluasi tablet EESBP

Gambar alat pencetak tablet Gambar alat uji waktu alir dan sudut diam


(6)

Lampiran 14. (Lanjutan)