Partisipasi Anak Dibawah Umur yang Bekerja di Sektor Informal Dalam Membantu Ekonomi Keluarga (Studi Kasus Pada Anak Penjual Kantong Plastik di Pasar Tradisional Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang)

(1)

Lampiran 1

Pedoman Wawancara I. Identitas Informan:

1. Nama :

2. Jenis Kelamin :

3. Anak ke :

4. Usia :

5. Pendidikan :

6. Pekerjaan oran tua :

II. Daftar Pertanyaan:

1. Sejak kapan kamu bekerja sebagai penjual kantong plastik di Pasar Tradisional Pancur Batu?

2. Berapa jam dalam sehari kamu bekerja sebagai penjual kantong plastik? 3. Dalam sehari berapa bungkus plastik kah bisa anda habiskan?

4. Berapa kira-kira pendapatan yang kamu peroleh dalam satu hari sebagai pekerja menjual kantong plastik?

5. Setelah mendapatkan uang hasil penjualan, untuk apakah uang tersebut kamu gunakan?

6. Apa kegiatan yang kamu lakukan setelah selesai melakukan pekerjaan menjual kantong plastik di pasar?


(2)

7. Apakah orang tua atau keluarga mengetahui pekerjaan kamu ini? 8. Jika tahu, apakah tanggapan mereka?

9. Apa alasan utama kamu mau melakukan pekerjaan ini?

10.Siapa orang yang mengajak kamu untuk melakukan pekerjaan ini?

11.Apakah ada akibat positif atau negative yang kamu rasakan setelah bekerja menjual kantong plastik?

12.Pada waktu kamu mendapatkan penhasilan dari menjual kantong plastik, apakah hasilnya ada kamu berikan kepada seseoran atau setoran kepada seseorang atau sekelompok orang?

III. Daftar Pertanyaan untuk orang tua pekerja anak

1. Apakah anda mengetahui anak anda bekerja menjual kantong plastik di pasar? 2. Berapa pendapatan yang anda peroleh dalam sehari?

3. Setelah anak anda ikut terlibat dalam mencari nafkah apakah ada perbandingan terhadap ekonomi keluarga anda sendiri?

4. Apa tanggapan anda tentang anak yang ikut terlibat dalam membantu ekonomi keluarga?

5. Bagaimana implikasi atau akibat setelah anak anda sudah terlibat mencari nafkah dalam keluarga anda?


(3)

LAMPIRAN 2 Dokumentasi Kegiatan

Gambar 1: Pekerja anak sedang menawarkan kantong plastik yang dijualnya kepada pembeli di pasar


(4)

Gambar 3: Aktivititas pekerja anak jika tidak berjualan kantong plastik di Pasar


(5)

Gambar 5: Keseharian Nenek Imme pekerja anak penjual kantong plastik


(6)

(7)

Daftar pustaka

Bagong, Suyanto. 2000. Pekerja anak, masalah, kebjakan, dan upaya penanganannya. Surabaya: Lutfansah Mediatama.

Bungin, M.Burhan. Penelitian Kualitatif, Bandung : Kencana Perdana Media.

Goode, William, 2007. Sosiologi Keluarga. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Husnaini, Zahratul. 2011. Pekerja Anak Di Bawah Umur”.Skripsi Universitas Andalas, Padang.

J. Goode, William. 2007. Sosiologi Keluarga. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Nandi.2006. Pekerja Anak Dan Permasalahannya.Jurusan Pendidikan Geografi.Volume 6 Nomor 2.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman, 2008.Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Singarimbun, Masri dan D.H. Penny, -. Penduduk dan Kemiskinan. Jakarta: PT Bhratara Karya Aksara.

Saifuddin Azwar.2012. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Soekanto, Soerjono.1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo.

Sudiro, Lingga. 2012.” Pemulung Anak-Anak Yang Masih Sekolah”. Skripsi Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang.

Sunarto, Kamanto.2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Taneko, B Soleman.1986. Konsepsi Sistem Sosial dan Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Cv Fajar Agung.


(8)

Wirartha, Made I. 2006.Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Andi Yogyakarta

Wirawan, I.B. 2011.Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Yuli Hastadewi. 2000. Keluarga. Penerbit Yayasan PKPA. Medan.

Sumber Internet:

Kemiskinan dan maraknya pekerja anak.Dalam .http:/ /fahmina. or.id/

penerbitan /warkah-al-basyar/577, Artikel kemiskinan -dan-maraknya-pekerjaanak. html, Di akses tanggal 10-12-2016, jam 14:30.

2015 pukul 10.00)

tanggal 02 Desember 2015 pukul 11.00)

(diakses pada tanggal 03 Desember 2015 pukul 20.00)


(9)

(Wikipedia, http: //id.Wikipedia.org/Wiki/Ekonomi, Diakses tanggal 10 desember 2015 pukul 10.15)

tanggal 10

desember 2015 pukul 13.00).

(Kemiskinan dan maraknya pekerja anak.Dalam .http:/ /fahmina. or.id/penerbitan /warkah-al-basyar/577, Artikel kemiskinan -dan-maraknya-pekerja-anak.html, (diakses tanggal 10 Mei 2016, jam 14:30).


(10)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus.Pendekatan kualitatif diartikan sebagai pendekatan yang menghasilkan data, tulisan dan tingkah laku yang diperoleh dari apa yang diamati. Tujuan penlitian ini mencoba mendeskripsikan mengenai partisipasi anak anak di bawah umur yang bekerja sebagai penjual plastik untuk membantu ekonomi keluarga.

Dengan demikian peneliti akan memperoleh data atau informasi lebih mendalam mengenai partisipasi anak di bawah umur yang bekerja di sektor informal dalam membantu ekonomi keluarga khususnya pada anak yang bekerja sebagai penjual kantongan plastik di Pasar Tradisional Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Medan .

3.2Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kota Medan, tepatnya di Pasar Tradisional Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Medan. Wilayah ini dijadikan sebagai lokasi penelitian karena di pasar tradadisional pancur batu tersebut terdapat anak-anak usia sekolah yang ikut bekerja untuk membantu ekonomi keluarga.


(11)

3.3 Unit Analisis dan Informan 3.3.1 Unit Analisis

Unit Analisis adalah hal-hal yang diperhitungkan menjadi subjek penelitian keseluruhan unsur yang menjadi fokus penelitian (Bungin, 2007). Salah satu ciri dan karakteristik dari penelitian sosial adalah menngunakan apa yang disebut “Unit Of Analisys”. Tujuan analisis data adalah untuk menyederhanakan, sehingga mudah ditafsirkan (Nasution, 2008: 148).Adapun yang menjadi unit analisis dan objek kajian dalam penelitian ini adalah pekerja anak di bawah umur yang menjual kantongan plastik di Pasar Tradisional Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang.

3.3.2 Informan

Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar belakang penelitian (meleong,2006) informan merupakan orang yang benar-benar mengetahui permasalahan yang akan diteliti.Pemilihan informan peneliti menggunakan teknik purposive sampling untuk menentukan subjek penelitian.Teknik purposive sampling digunakan jika dalam pemilihan informan peneliti menggunakan pertimbangan-pertimbangan tertentu.Sehingga peneliti menentukan beberapa kriteria informan (Idrus, 2009).Adapun yang menjadiinforman sebagai sumber informasi untuk memperoleh data dari penelitian ini adalah:

1. Pekerja anak yang sudah berusia 10-16 tahun, karena usia tersebut dianggap akan lebih mengerti dengan pertanyaan yang akan diberkan peneliti

2. Pekerja anak yang sudah bekerja sebagai penjual kantongan plastik minimal 1 tahun 3. Pekerja anak yang masih duduk di bangku sekolah


(12)

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Dalam proses pengumpulan data, peneliti akan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data agar dapat mendapatkan kesesuaian peneliti dengan fokus dan kebutuhan peneliti dalam mengolah data dan informasi yang diperoleh nantinya. Adapun teknik pengumpulan data penelitian ini adalah:

3.4.1 Data Primer

Data primer adalah data yang di peroleh atau dikumpulkan langsung dari lapangan oleh peneliti yang melakukan kegiatan langsung ke lokasi peneliti untuk mencari data-data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. Pengumpulan data primer dapat dilakukan dengan cara:

1. Observasi

Observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan (Bungin 2010).Hal ini berkaitan dengan pengamatan secara langsung kelapangan untuk mendapatkan data yang mendukung hasil dari wawancara.Dengan observasi peneliti dapat melihat langsung bagaimana partisipasi pekerja anak yang menjual kantongan plastik dalam membantu ekonomi keluarga.

2. Wawancara Mendalam

Teknik selanjutnya adalah teknik wawancara mendalam. Wawancara mendalam adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatatap secara langsung antara pewawancara dengan informan.Hal ini sesuai dengan


(13)

pendapat para ahli yang menyatakan bahwa dengan melakukan wawancara kita dapat memasuki dunia pikiran dan perasaan responden (Nasution, 1988:69).

3.4.2Data Sekunder

Teknik pengumpulan data sekunder adalah pengumpulan data yang dilakukan melalui penelitian studi kepustakaan yang diperlukan untuk mendukung data diperoleh dari buku-buku ilmiah, tulisan ilmiah, laporan penelitian yang berkaitan dengan topik penelitian yang dianggap relevan dan keabsahan dengan masalah yang diteliti.

3.5 Interpretasi Data

Interpretasi data merupakan suatu tahap pengolahan data, baik itu data primer dan data sekunder yang telah didapat dari catatan lapangan, gambar,foto dan sebagainya. Maka akan dilakukan pengelolaan, analisis, dan penafsiran data yang diperlukan dari lapangan yang berupa hasil obseervasi wawancara. Selanjutnya peneliti akan menyederhanakan dan mengedit agar lebih mudah dipahami. Data yang telah dikumpulkan kemudian akan disusun lagi sedemikian rupa, kemudian data tersebut akan di interpretasikan secara kualitatif.

Dalam proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang diperoleh dari berbagai sumber antara lain dengan observasi, wawancara dan pengamatan tulisan yang dicatat dilapangan serta dokumen yang telah diperoleh. Setelah data terkumpul, dilakukan analisa data.Interpretasi data merupakan tahap penyederhanaan data, setelah data dan informasi yang dibutuhkan telah terkumpul. Data-data yang telah diperoleh dalam penelitian ini akan diinterpretasikan berdasarkan dukungan teori dalam kajian pustaka, sampai pada akhirnya


(14)

sebagai laporan penelitian serta data tersebut akan diatur, diurutkan, dikelompokkan ke dalam kategori, pola atau uraian tertentu.

3.6 Keterbatasan penelitian

Keterbatasan dalam penelitian ini mencakup kemmpuan dan pengalaman yang dimiliki oleh peneliti dalam melakukan penelitian ilmiah. Terutama dalam melakukan wawancara mendalam terhadap informan, hal ini karena keterbatasan pengalaman dan keterbatasan waktu yang dimiliki informan dalam proses wawancara yang dikarenakan kesibukan informan sehari-hari.

Selain permasalahan teknis penulisan dan penelitian, peneliti menyadari keterbatasan mengenai metode menyebabkan lambatnya proses penelitian yang dilakukan, dan masih adanya keterbatasan bahan pendukung penelitian. Walaupun demikian peneliti akan berusaha melaksanakan kegiatan penlitian ini dengan semaksimal mungkin agar data bersifat valid dan tujuan yang diinginkan tercapai.


(15)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1Gambaran Umum Wilayah Penelitian

4.1.1 Kedaan Geografis Kabupaten Deli Serdang

Kabupaten Deli Serdang adalah sebuah

sebagai salah satu daerah dari 33 memiliki keanekaragaman sumber daya alamnya yang besar sehingga merupakan daerah yang memiliki peluang investasi cukup menjanjikan.Selain memiliki sumber daya alam yang besar, Deli Serdang juga memiliki keanekaragaman budaya, yang disemarakan oleh hampir semua suku-suku yang ada di nusantara. Adapun suku asli penghuni Deli Serdang adalah dari

Kabupaten Deli Serdang terletak diantara 2°57” - 3°16” Lintang Utara serta pada 98°33 - 99°27¨ Bujur Timur merupakan bagian dari wilayah pada posisi silang di kawasan Palung Pasifik Barat dengan luas wilayah 2.497,72 Km² (249,772 Ha) atau merupakan 3,34% dari luas Propinsi Sumatera Utara. Secara administratif terdiri dari 22 Kecamatan dan 394 Desa/Kelurahan (380 desa dan 14 kelurahan), dengan jumlah penduduk 1.738.431 jiwa (Deli Serdang Dalam Angka 2008).http://www.deliserdangkab.go.id


(16)

Gambar 2.1 Peta Vektor wilayah Kabupaten Deli Serdang

KARAKTERISTIK PENJELASAN

Letak 20 57” Lintang Utara

30 16” Lintang Selatan

90 33” – 990 27” Bujur Timur

Luas Wilayah 2.497,72 Km2/ 249.772 Ha

Letak diatas pemukaan Laut


(17)

Sumber: http://www.deliserdangkab.go.id

Kabupaten Deli Serdang secara geografis terletak pada wilayah Pengembangan Pantai Timur Sumatera Utara serta memiliki topografi kontur dan iklim yang bervariasi. Berdasarkan topografi wilayah Deli Serdang dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu:

a. Dataran Pantai, meliputi 4 kecamatan (Kecamatan Hamparan Perak, Labuhan Deli, Percut Sei Tuan dan Pantai Labu ), dengan luas 65.690 ha (26,36% dari luas kab. deli serdang)

b. Dataran Rendah: meliputi 11 kecamatan (Kecamatan Sunggal, Pancur Batu, Namorambe, Deli Tua, Tanjung Morawa, Patumbak, Lubuk Pakam, Beringin, Pagar Merbau, Galang dan Batang Kuis), dengan luas 71.934 ha (28,80 % dari luas kab. Deli Serdang)

c. Dataran Tinggi: meliputi 7 kecamatan (Kecamatan Biru-biru, STM Hilir, STM Hulu, Gunung Meriah, Sibolangit, Kutalimbaru dan Bangun Purba), dengan luas 112.147 ha (44,90% dari luas kab. Deli Serdang)

Batas-Batas Utara : Kabupaten Langkat

dan Selat Malaka

Selatan : Kabupaten Karo dan Kab Simalungun

Barat : Kabupaten Langkat dan Kabupaten Karo

Timur : Kabupaten Serdang Bedagai Daerah

Administratif

Terdiri dari 22 Kecamatan dan 403 Desa/ Kelurahan yang semuanya telah definitive


(18)

4.1.2Sejarah Terbentuknya Kecamatan Pancur Batu Medan

Sejarah terbentuknya Kecamatan Pancur Batusebelum tahun 1945 atau pada zaman Pemerintahan Belanda Kecamatan Pancur Batu disebut dengan Sinuan Bungan dengan Ibu Kota Arhnemia. Pada tahun 1952 Gubernur Kepala Daerah Tk.I Sumatera Utara yakni Abdul Hakim mengadakan perubahan Pamong Sipil Kabupaten Daerah Tk.II Deli Serdang secara Administratif yang dibagi atas 6 (enam) kewedanan yang terdiri dari 30 kecamatan , salah satunya adalah Kecamatan Pancur Batu dengan kewedanaan Deli Hulu.

Pada tahun 1974 sejalan dengan perluasan Kotamadya Medan bahwa Desa Lau Cih , Desa Namo Gajah , Desa Simalingkar-B , Desa Kemenangan Tani dan sebahagian Desa Baru telah menjadi Kodya Medan hingga sekarang.

Pada masa sebelum tahun 1990 Kecamatan Pancur Batu terdiri atas 59 Desa dan atas ketentuan yang membentuk beberapa Desa digabung menjadi satu , sehingga sampai saat ini Kecamatan Pancur Batu menjadi 25 Desa dengan luas areal 11.147,35 Ha.

Secara Geografis batas-batas wilayah Kecamatan Pancur Batu adalah sebagai berikut : 1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Medan Tuntungan dan Medan Sunggal 2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Sibolangit

3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Namo Rambe 4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kutalimbaru

4.1.3 Keadaan Penduduk

Penduduk Kecamatan Pancur Batu pada saat ini berjumlah 77.267 jiwa, yang terhimpun dalam 18.425 Kepala Keluarga (KK). Adapun penduduk yang mendiami Kecamatan Pancur Batu terdiri dari berbagai suku antara lain :


(19)

Tabel 01 : Komposisi Penduduk Pancur Batu Berdasarkan Suku

NO SUKU JUMLAH (KK)

1 Suku Karo 6.588 KK

2 Suku Jawa 5.188 KK

3 Suku Minang 808 KK

4 Suku Cina 127 KK

5 Suku Tapanuli Utara 2331 KK

6 Suku Tapanuli Selatan 1.225

7 Suku Nias 93 KK

8 Suku Tamil 65 KK

Sumber : (http://www.academia.edu/Studi_Pasar_Di_Pasar_Pancur_Batu, diakses pada tanggal 10 Mei 2016 pukul12.00)Dari Tabel 1 diatas dapat disimpulkan bahwa di Kecamatan Pancur Batu mayoritas penduduk nya dihuni oleh masyarakat yang bersuku Karo dengan jumlah 6.588 KK dan yang paling sedikit bersuku Tamil dengan jumlah 65 KK.

4.1.4Pekerjaan

Penduduk di Kecamatan Pancur Batu memiliki jenis pekerjaan yang beragam, adapun klasifikasi jenis pekerjaan penduduk di Kecamatan Pancur Batu dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 02 : Komposisi Penduduk Berdasarkan Pekerjaan

NO JENIS PEKERJAAN PRESENTASE

1 Petani 72 %


(20)

3 Pegawai negeri sipil 8 %

4 Karyawan 5 %

5 Buruh harian lepas 4 %

Sumber :(http://www.academia.edu/Studi_Pasar_Di_Pasar_Pancur_Batu, diakses pada tanggal 10 Mei 2016 pukul12.00)

Dari tabel 02 tersebut dapat disimpulkan bahwa pekerjaan yang paling mendominasi di Kecamatan Pancur Batu tersebut adalah sebagai petani, yang mencapai persentase hingga 72% dari total keseluruhan. kemudian diikuti oleh pedagang , pegawai negeri sipil , karyawan dan buruh/ pegawai swasta. Penduduk di Kecamatan Pancur Batu tersebut tergolong memiliki jenis pekerjaan yang beragam.

4.1.5 Keadaan Wilayah Pasar Tradisonal Pancur Batu

Lokasi konsentrasi penelitian adalah Pasar Tradisional Pancur Batu yang terletak di sebelah utara yang berbatasan langsung dengan Sibolangit, di sebelah selatan dengan Kota Medan, di sebelah Timur dengan Namorambe, dan di sebelah barat dengan Kutalimbaru.Pancurbatu adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Deli Serdang dengan luas wilayah 122.53 km2 yang berjarak sekitar 18 km dari Kota Medan.Mayoritas penduduk di Pancurbatu adalah suku Karo meski suku Batak dan Jawa pun tak sulit ditemukan di daerah ini.Pasar Tradisional Pancur Batu memiliki luas tanah ± 6522 M² Pada Tahun 1940 dan 799,25 M² Pada Tahun 1980. Dan memiliki satu kantor berukuran 4x4 Meter dan juga mempunyai fasilitas kamar mandi sebanyak 2 dengan

masing-masing berukuran 1,5 x 1,5 Meter.(http://www.academia.edu/Studi_Pasar_Di_Pasar_Pancur_Batu, diakses pada tanggal 10 Mei 2016


(21)

Pasar Tradisional Pancur Batu ramai dikunjungi konsumen, terutama di hari pekan pasar yang jatuh pada hari Sabtu, kemacetan total bisa terjadi di ruas jalan Jamin Ginting yang melalui tengah Kota Pancurbatu. Sebab kedua area sisi kanan dan kira jalan digunakan sebagai pasar yang dikenal sebagai Pajak Bawah dan Pajak Atas.Pada hari pekan, di kedua area pasar ini tak hanya dipadati oleh pedagang tetap, tetapi juga pedagang dadakan yang datang dari desa-desa di sekitar kawasan Pancurbatu.Sehingga hasil pertanian yang jarang ditemui pada hari biasa, dapat ditemukan pada hari pekan tersebut.

Selain itu, perdagangan hewan ternak pun lebih marak di hari itu.Sebut saja seperti babi, anjing, ayam, bebek, kambing, sapi, dan lainnya. Pun para pengrajin besi lebur yang menghasilkan pisau, parang, cangkul, dan sebagainya masih ada yang bertahan di kota kecil ini. Karenanya tidak heran jika pada hari pekan, warga Kota Medan pun banyak datang berbelanja ke Pancurbatu.Dilewati oleh jalur Jalan Jamin Ginting sehingga pada saat lonjakan wisatawan yang menuju Berastagi meningkat, kemacetan total bisa terjadi di kawasan ini.

4.2 Profil Anak yang Bekerja sebagai Penjual Kantong Plastik di Pasar 1. Yossi Br Simbolon

Yossi Simbolon adalah pekerja anak yang berusia 14 tahun. Sekarang duduk dibangku kelas 3 SMP. Yossi sudah bekerja menjual kantong plastik di pasar sudah 2 tahun, mulai dari Ia duduk dibangku kelas 1 SMP.Kedua orang tuanyatinggal dikampung Tiga Lingga.Yossi merupakan anak ke 4 dari 6 bersaudara, Ia tinggal bersama kakaknya di Padang Bulan Pasar 6.Keseharian orang tuanya bekerja di ladang, sehingga orang tua mereka jarang pulang ke Medan. Sedangkan Kakaknya bernama Maria Simbolon kesehariannya menjual Ikan teri di Pasar Tradisional Pancur Batu.


(22)

bekerja berjualan ikan teri di Pasar Tradisional Pancur Batu untuk memenuhi kebutuhan hidup adek-adeknya yang tinggal bersamanya di Medan. Karena hanya bekerja berjualan ikan teri di pasar sehingga mereka tidak punya penghasilan tetap perbulannya. Hasil atau keuntungan yang didapatkan hanya berdasarkan lakunya ikan teri di pasar. Kira-kira perbulan untung yang didapatkan hanya Rp 1.000.000,- sampai Rp1.800.000,-.

2. Yolanda Br Simbolon

Yolanda Simbolon merupakan adek dari Yossi simbolon yang sekarang berusia 13 tahun, duduk dibangku kelas 2 SMP. Yolanda sudah bekerja menjual kantong plastik sudah 1 tahun lamanya sejak Ia duduk dibangku kelas 1 SMP. Awalnya Ia diajak oleh kakaknya Yossi Simbolon untuk ikut bekerja menjadi penjual kantongan plastik di pasar untuk membantu ekonomi keluarga mereka.

3. Imme Br Gurusinga

Imme Gurusinga adalah anak yatim piatu yang berusia 11 tahun, Sekarang duduk dibangku kelas 6 SD. Imme sudah bekerja menjual kantong plastik di pasar sudah 3 tahun semenjak ia duduk di bangku kelas 3 SD. Dari kecil Imme sudah tumbuh tanpa orang tua, Ia besar dirawat oleh neneknya yang sudah berusia 65 tahun. Nenek Imme kesehariannya berjualan kentang, cabai, pisang di Pasar Tradisional Pancur Batu.. Sedangkan Kakek Imme sudah tidak sanggup lagi bekerja karena menderita lumpuh akibat stroke.Oleh karena itu Imme juga harus ikut berpartisipasi mencari nafkah untuk membantu neneknya, mengigat kondisi neneknya juga sudah Tua dan penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.


(23)

4. Samuel Ginting

Samuel Ginting adalah pekerja anak yang berusia 11 tahun , yang duduk dibangku kelas 6 SD. Samuel Ginting sudah bekerja menjual kantongan plastik selama 3 tahun semenjak Ia duduk di bangku kelas 3 SD. Sama halnya seperti Imme Gurusinga, Samuel juga harus bekerja keras untuk membantu ekonomi keluarganya. Apalagi kedua orangtua Samuel sudah bercerai semenjak ia berusia 8 tahun dan sekarang Samuel tinggal bersama Ibunya yang sudah berumur 35 tahun dan seorang adik perempuannya yang masih TK. Keseharian Ibunya berjualan kebutuhan dapur seperti cabai, tomat, bawang merah, bawang putih, jahe dan bumbu dapur lainnya. Sedangkan untuk pendapatan perbulannya Ibu Samuel memperoleh kurang lebih Rp 1.000.000- Rp 1.500.000.tergantung hasil laku dipasar. Oleh karena penghasilan yang tidak tentu ini, maka Samuel juga harus ikut bekerja membantu Ibunya agar dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

5. Riski Br Barus

Riski Barus adalah pekerja anak yang berusia 14 tahun, yang sekarang duduk dibangku kelas 3 SMP. Riski tinggal bersama bibinya di medan karena kedua orang tuanya berada dikampung Lingga Muda. Sehingga sejak tamat SD riski sudah merantau ke medan melanjutkan Sekolah Menengah Pertamanya di Medan. Riski merupakan anak ke 3 dari 5 bersaudara. Riski berada di tengah-tengah keluarga yang kurang mampu, sehingga untuk hidup di Medan Ia harus menumpang tinggal di rumah Bibi dan Pamannya yang merupakan adek dari Ayah Riski. Keseharian Bibinya bekerja sebagai penjual sayur mayur dan bumbu dapur lainnya, sedangkan Pamannya bekerja sebagai supir angkutan umum.Semenjak merantau ke Medan saat Ia berusia 12 tahun Riski sudah bekerja menjual kantong plastik di Pasar Pancur Batu hingga sekarang


(24)

usianya 14 tahun.Karena jarang mendapat kiriman dari orang tua dikampung, Riski akhirnya memilih bekerja untuk membiayai keperluan sekolahnya.

6. Chelsi Br Perangin-angin

Chelsi adalah anak yang berusia 11 tahun yang sekarang duduk dibangku kelas 6 SD. Chelsi merupakan anak 1 dari 3 bersaudara. Tinggal bersama kedua orang tuanya.Ibunya bekerja menjadi penjual kerupuk keliling di sekitaran pasar pancur Batu dan juga menjual berbagai makanan ringan untuk anak-anak di pasar Pancur Batu.Ibu Chelsi bisa memperoleh untung sebesar Rp 1.200.000,- sedangkan Ayahnya hanya buruh bangunan yang tidak memiliki penghasilan tetap. Dan ayahnya bekerja jika hanya mendapat panggilan borongan untuk membuat suatu rumah atau bangunan lainnya. Megetahui kondisi seperti ini Chelsi ikut membantu kedua orang tuanya bekerja karena Ia tahu pendapan kedua orang tua nya tidak mungkin cukup membiayai kebutuhan keluarga beserta adek-adeknya yang semua sudah duduk di bangku sekolah. Chelsi sudah bekerja semenjak Ia berusia 9 Tahun, sampai sekarang sudah terhitung 2 tahun lamanya ia bekerja menjadi penjual kantongan plastik di Pasar Tradisional Pancur Batu..

Selayaknya seorang anak, anak-anak memiliki hak untuk tumbuh dan memiliki kehidupan yang baik, segala macam tanggungan kebutuhan anak merupakan tanggung jawab orang tua.Tetapi banyak yang terjadi bahwa anak-anak juga dilibatkan dalam urusan pemenuhan ekonomi keluarga.Banyak penyebab anak sebagai pekerja, salah satu yang paling mendasar adalah karena alasan kebutuhan sosial-ekonomi, selain seorang anak memutuskan untuk menjadi pekerja anak adalah keinginan sendiri.Pekerja anak banyak tersebar disektor formal maupun informal dengan tingkat pendapatan rendah dan perlindungan yang tidak terjamin.Banyak


(25)

pekerja anak yang memilih bekerja di sektor informal karena selain tidak perlu memiliki keahlian tertentu juga mudah dilakukan karena tidak membutuhkan modal yang besar.Saat ditanyakan mengapa mereka memilih menjadi pekerja penjual kantong plastik, pekerja anak yang bernama Samuel Ginting berusia 11 tahun yang sudah 3 tahun berjualan kantong plastik, mengatakan

“Kalau menjual kantong plastik mudah untuk dilakukan Kak, jadi saya suka melakukan pekerjaan ini untuk mendapatkan uang tambahan untuk membantu mamak lagian kerjaanya hanya membawa bungkusan kantong plastik baru keliling pasar sambil menawarkan kepada orang-orang yang berbelanja disini dengan harga Rp1000,- per satu kantongan plastik”

Hal demikian juga dikatakan oleh pekerja anak yang sudah 2 tahun menjual kantongan plastik di pasar tradisional pancur batu yang sekarang berusia 14 tahun, bernama Yossi Simbolon Ia mengatakan bahwa:

“ Menjual kantongan plastik tidak ribet dan susah untuk dilakukan hanya modal jalan kaki berkeliling pasar sambil menawarkan kantong plastik yang kita bawa kepada pembeli yang belanja di pasar, kita sudah mendapatkan uang. Selain itu jika kami tidak punya uang untuk membeli kantong plastik, kami bisa mengambilnya dulu ke Grosir Cina Kak, lalu setelah mendapat untung baru kami membayarnya.

Sama halnya dengan pekerja anak penjual kantong plastik lainnya juga mengatakan sama seperti yang sudah dikatakan oleh Samuel dan Yossi. Mereka suka mencari uang dengan cara berjualan kantong plastik karena mereka beranggapan mudah untuk dilakukan oleh anak seusia mereka tanpa harus mengeluarkan biaya. Saat ditanya apakah mereka mendapat kendala atau kesusahan saat menjual kantong plastik di pasar, sebagian pekerja anak mengatakan bahwa tidak ada kesusahan sama sekali tetapi berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Imme Gurusinga, ia mengatakan:


(26)

“Pertama saat melakukan pekerjaan ini saya malu kak, pertama kali saya menjual kantong plastik waktu kelas 3 SD, saya malu karena harus berkeliling sambil membawa kantongan-kantongan plastik dan mengatakan plastiknya buk, plastiknya kak kepada setiap pembeli yang saya jumpai. Sehingga saya merasa kesusahan untuk melakukan pekerjaan ini kak.Karena malu saya sering hanya berkeliling tidak menawarkan plastik kepada pembeli berharap pembeli yang memanggil saya untuk membeli plastik saya, karena itu kantong plastik saya tidak banyak laku kak. Setelah itu saya pernah berhenti sebulan berjualan plastik kak, tetapi karena butuh uang untuk bayar uang sekolah sama bantu nenek untuk beli obak kakek, ya terpaksa saya harus mencoba berjualan lagi dan lama kelamaan saya terbiasa juga kak dan sudah tidak malu lagi.

Berbeda dengan keluhan Imme, pekerja anak penjual kantong plastik yang bernama Riski Br Barus mengatakan keluhannya yaitu:

“Kalau menjual kantong plastik kaki sering pegel kak karena capek berkeliling pasar secara terus menerus, kalau kita lama berhenti tidak rajin berkeliling bisa-bisa nanti kalah sama penjual plastik lain kak. Jadi kita harus berkeliling memutari pasar secara terus menerus kak, belum lagi kalau hujan dan becek kak semakin susah untuk jalan dan berkeliling pasar kak, kaki juga penuh berlumuran becek dan lumpur”.

Kehidupan anak-anak pekerja penjual kantong plastik di Pasar Tradisional Pancur Batu tidak jauh berbeda dari anak-anak lainnya. Menjadi pembeda adalah bahwa anak-anak

Penjual kantong plastik ini sudah dibebankan tanggung jawab dalam membantu memenuhi nafkah keluarga mereka.

Saat penulis bertanya apakah mereka tidak bosan atau malas sudah melakukan pekerjaan menjual plastik selama bertahun-tahun, kemudian pekerja anak yang bernama Chelsi yang sudah bekerja selama 2 tahun lamanya menjawab:

Enggak kak daripada saya tidak mengerjakan apa-apa dan tidak punya teman juga di rumah, mending saya memilih ikut mamak ke pasar kak berjualan.Mamak jualan makanan aku jualan kantong plastik kak, terus uangnya bisa dipakai buat belik-belik kak.Apalagi mamaksenang kak kalau aku jualan kantong plastik ini karena bisa nambah uang belanja kata mamak kak”.

Hal yang sama dikatakan oleh pekerja anak lain yang bernama Yolanda Br Simbolon yang sudah bejualan selama 1 tahun:


(27)

“enggak kak, pulang sekolah, udah ganti baju aku langsung ke pasar kak ke tempat jualan kakak Maria, daripada bosan nungguin kak Maria pulang berjualan mending aku keliling jualan kantong plastik kak, bisa dapat uang, lagian Kakak juga berjualan ikan teri di pasar ini juga kak, jadi kalau bosan berkeliling biasanya aku datang ke kios kak Maria”.

Hasil wawancara penulis kepada anak-anak yang bekerja menjual kantong plastik termotivasi karena orang tua ataupun wali mereka yang juga bekerja berjualan di Pasar tersebut sehingga ini merupakan faktor utama anak-anak tersebut juga ikut berpartipasi berjualan kantong plastik di pasar,

Berdasarkan data yang diperoleh disebutkan bahwa banyak anak memberikan partisipasi di dalam keluarganya dengan motif bekerja dengan kemauan mereka sendiri.Selain itu mereka sadar betapa keluarga membtutuhkan partisipasi mereka dalam mencari nafkah hidup setiap anggota keluarganya. Anak-anak tersebut tidak keberatan mencari uang dengan berjualan kantong plastik karena orang tua mereka juga bekerja dipasar tersebut selain itu mereka juga mengaku pekerjaan tersebut mudah untuk dilakukan anak seusia mereka tanpa harus memiliki keahlian tertentu bahkan mereka juga bisa berjualan meski tidak punya modal awal, yaitu dengan cara mengambil kantong plastik di Grosir Cina lalu setelah laku mereka bisa membayar kantongan plastik tersebut. Satu bungkus kantong plastik berisi 30 plastik dihargai seharga Rp 30.000,-. Walau ada anak yang bernama Imme Gurusinga memiliki kendala yaitu merasa malu karena harus berkeliling pasar membawa kantongan plastik dan harus menawarkan kepada setiap pembeli di pasar tersebut dan merasa capek karena setiap jam harus berkeliling mengelilingi pasar khusus yang menjual kebutuhan dapur, seperti: sayur-mayur, tomat, bawang merah, ikan, dan bumbu-bumbu dapur lainnya karena dibagian situlah banyak konsumen yang membutuhkan kantongan plastik untuk menyatukan belanjaan-belanjaan mereka. Tetapi mereka tidak punya pilihan lain, karena kesulitan ekonomi keluarga memaksa untuk turun ke jalan mencari nafkah.


(28)

Selain itu 6 dari pekerja anak 4 diantaranya sudah tidak tinggal bersama orang tua lagi dan 1 pekerja anak hanya tinggal bersama Ibu nya saja, sehingga hal ini mengakibatkan peran orang tua tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya dalam keluarga, karenanya disfungsi akan terjadi dalam keluarga sehingga anak harus merasakan betapa sulitnya mencari uang diusia mereka yang masih di bawah umur.

4.3 Bentuk Partisipasi Mereka Dalam Memenuhi Kebutuhan Hidup Keluarga 4.3.1 Partisipasi Uang

Berdasarkan data responden pemanfaatan penghasilan yang mereka dapatkan digunakan untuk kebutuhan keluarga seperti untuk keperluan belanja sehari-hari, uang sekolah, membayar uang listrik, air dan sebagainya. Pekerja anak penjual kantong plastik paling banyak ditemui pada hari Sabtu, karena pada saat itulah pekan Pasar Tradisional Pancur Batu, sehingga banyak penjual yang datang dari Berastagi, Kabanjahe untuk menjual hasil ladangnya di pasar tersebut. Oleh karena itu pada hari sabtu Pasar Tradisional Pancur Batu ramai dikunjungi pembeli.Pendapatan para pekerja anak sangat tidak menentu tergantung keadaan dan jam kerja. Pendapatan tiap anak pun berbeda-beda meskipun mereka bekerja dilokasi yang sama. Seperti halnya pekerja anak penjual kantong plastik di Pasar Tradisional Pancur Batu mendapatkan pendapatan yang berbeda-beda tiap harinya.

Dari keenam pekerja anak tersebut tidak semua memakai modal nya sendiri untuk membeli kantongan plastik yang akan dijual ke pembeli yang berbelanja di pasar. Seperti yang dijelaskan oleh pekerja anak yang bernama Imme Gurusinga, yang mengatakan:

“Saya tidak punya uang kak untuk membeli perbungkus kantongan plastik, sehingga saya mengambil kantongan plastik dari Grosir Cina kak yang ada di pasar ini juga. Pertama saya


(29)

akan mengambil satu bungkus saja, kalau sudah abis saya akan mengambilnya lagi. Setelah selesai berjualan saya akan singgah untuk membayar kantongan plastik yang saya ambil untuk dijual tadi. Satu bungkus berisi 30 lembar plastik. Satu lembar plastik dihargai seharga Rp 1000,- sehingga kalau satu bungkus plastiknya habis terjual semua saya akan dapat Rp 30.000,- kak, lalu Rp 12.000 akan saya bayar ke Grosir Cina tempat saya mengambil plastik tadi kak. Sisanya Rp 18.000 untuk saya kak”.

Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Chelsi, sebagai berikut:

“Saya juga mengambil kantongan plastik di Grosir Cina kak sama seperti kawan-kawan yang lain. Sehari saya bisa menghabiskan paling banyak 2 bungkus kantong plastik kak. Jika semua plastik sudah laku terjual, maka saya akan membayar plastk yang saya ambil tadi di Grosir Cina. Satu bungkus Plastik saya bayar Rp 12.000 sama seperti yang lain kak. Jadi, kalau saya mengambil 2 bungkus saya akan membayar Rp 24.000. sedangkan untung bersih yang saya dapatkan satu bungkus plastik sebesar Rp 18.000 jika saya bisa menghabiskan 2 bungkus plastik, maka saya akan mendapat untung Rp 36.000 kak”.

Tabel 03: Penghasilan Rata-rata Pekerja Anak Penjual Kantong Plastik setiap hari pekan pasar

No Nama Penghasilan

(Rp) 1 Yossi Simbolon 40.000

2 Yolanda Simbolon 25.000

3 Imme Gurusinga 18.000

4 Samuel Ginting 35.000

5 Riski Barus 38.000

6 Chelsi Perangin-angin 36.000


(30)

Dari tabel 08 terlihat bahwa penghasilan pekerja anak setiap hari Pekan itu berbeda dengan pekerja yang lainnya dan pendapatan yang mereka dapatkan perharinya juga berbeda-beda tergatung berapa kantong plastik yang dapat laku terjual.

Pendapatan yang mereka peroleh inilah yang akan digunakan untuk membantu ekonomi keluarga mereka. Uang hasil dari mereka berjualan kantong Plastik akan diberikan kepada orang tua atau wali mereka guna membantu ekonomi keluarga.Kesadaran mereka untuk bekerja sepenuhnya adalah keinginan untuk membantu orang tua mereka.Uang yang mereka dapatkan biasanya diserahkan kepada Ibu mereka untuk belanja keperluan rumah tangga , sekolah, menambah ongkos mereka pergi ke sekolah,walaupun kadang sebagian mereka gunakan untuk uang jajan. Seperti yang diungkapkan oleh Yossi Simbolon gadis yang berusia 14 tahun, yang sudah lincah kesana kemari menawarkan kantong plastik yang ia bawa kepada pembeli yang belanja kebutuhan dapur di pasar tersebut. Saat diwawancarai terlihat bahwa Yossi adalah gadis yang bijak dan pintar, terlihat dari proses wawancara, Ia mengerti semua pertanyaan-pertanyaan yang ditanya oleh penulis. Ia juga mampu berkomunikasi dengan baik. Saat ditanya untuk apa sajadigunakan uang hasil menjual kantong plastik yang diperoleh Yossi, lalu Ia menjawab:

“ Uangnya saya kasih kak untuk bantu-bantu bayar uang sekolah, ongkos-ongkos sekolah, bayar uang listrik sama untuk uang jajan lah kak, paling tidak sudah enggak minta sama mamak lagi kak. Saya mempunyai banyak saudara kak sehingga saya dan adek bekerja untuk membantu orang tua untuk memenuhi kebutuhan kami.saya sudah menjual plastik di pasar ini selama 2 tahun kak, uangnya di pakai untuk tambah-tambah ongkos pergi sekolah, untuk membayar administrasi disekolah, membeli keperluan-keperluan sekolah kak, sehingga mamak sama bapak tidak terlalu berat membiayai sekolahku kak. Jika tidak berjualan plastik, saya ikut mamak sama bapak jualan ikan teri kak di pasar. Sepulang sekolah dari jam 2 sampai jam 6 sore saya berada di pasar ini kak menjual kantongan plastik dan membantu orang tua berjualan ikan teri”.


(31)

“Uangnya saya kasih Ibu kak di pakai untuk sekolah sama seperti kak Yossi.Jika ada sisa akan dipakai ibu untuk berbelanja sehari-hari kak”.

Pekerja anak yang lain juga menjelaskan partisipasi mereka untuk membantu ekonomi keluarga, seperti yang dijelaskan oleh Riski:

“Saya bukan asli dari Medan kak saya datang dari kampung, ke Medan untuk masuk SMP.Di kampung orang tua hanya bekerja di ladang kak sehingga tidak cukup biaya untuk membayar uang sekolah saya, sedangkan adek-adek saya masih ada yang harus dibiayai.Jadi, dimedan saya tinggal bersama bibik kak, karena orang tua jarang mengirim uang dari kampung, jadi saya inisiatif sendiri untuk menjual kantongan plastik di pasar untuk membiayai sekolah saya, serta untuk menambah ongkos-ongkos pergi sekolah.Jika ada sisa saya pakai untuk jajan atau saya tabung untuk membeli sesuatu yang saya inginkan kak. Kalau pasar lagi sepi saya tidak menjual plastik kak , tapi membantu bibik berjualan sayur kak. Kadang bibik juga memberi uang tambahan ke saya kak”.

Pekerja anak yang bernama Imme Gurusinga yang dari kecil sudah dirawat oleh neneknya, merasa bahwa Ia harus ikut membantu neneknya menambah uang untuk keperluan hidup mereka. Apalagi Ia sadar neneknya sudah tua yang bekerja hanya sebagai petugas kebersihan di Pasar tersebut sedangkan kakeknya yang tidak bisa lagi bekerja karena menderita sakit stroke sehingga tidak bisa lagi berjalan. Hal ini membuat imme semakin cepat berpikir dewasa untuk membantu neneknya memenuhi kebutuhan hidup meraka.Ia mengatakan:

Setelah selesai menjual plastik, uangnya saya serahkan semua ke nenek kak untuk bantu-bantu beli obat kakek dan untuk bantu-bantu bayar keperluan sekolah Imme kak”.

Dari jawaban-jawaban diatas terlihat bahwa pekerja anak memiliki bantuan yang cukup besar untuk keluarga. Kemauan anak untuk bekerja menjual kantong plastik sangat membantu pendapatan orang tua yang pas-pasan, sehingga orang tua tidak akan melarang anaknya untuk ikut berpartisipasi bekerja.


(32)

Setelah seseorang berumah tangga tentunya banyak kebutuhan dalam keluarga tersebut yang harus dipenuhi oleh suami dan istri. Apalagi jika suami dan istri sudah mempunyai anak tentunya beban tanggungan keluarga juga akan semakin besar. Yang dimaksud tanggungan keluargadisini adalah beban yang harus ditanggung oleh keluarga atau suami/istri, dimana beban tersebut merupakan tanggung jawab yang timbul oleh karena hadirnya anak yang masih harus tergantungkepada orang tua.

Beban keluarga merupakan tanggung jawab yang selalu dilaksanakan sebagai konsekuensi setelah memasuki masa berkeluarga atau berumah tangga. Tanggungan keluarga tersebut diwujudkan dalam bentuk biaya yang harus dikeluarkan untuk mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari seperti kebutuhan akan makan, pakaian, kesehatan, biaya sekolah anak dan sebagainya. Akan tetapi karena tidak berjalannya fungsi-fungsi keluarga dengan baik khususnya fungsi ekonomi, misalnya dalam memenuhi kebutuhan hidup anak maupun kebutuhan pokok. Orang tua tidak berhasil memenuhi semua kebutuhan yang dipebutuhkan oleh sang anak karena kurangnya ekonomi dan pendapatan yang rendah. Akibatnya sang anak pun harus ikut bekerja meski masih duduk dibangku sekolah.

4.3.2 Partisipasi Tenaga

Selain membantu mencari uang anak-anak pekerja penjual kantong plastik juga membantumemenuhi kebutuhan keluarga dengan menyumbangkan tenaga mereka. Selain dengan cara berjualan kantong plastik pada hari pekan pasar, yaitu hari sabtu biasanya anak-anak tersebut juga ikut membantu orang tua mereka berjualan di Pasar Tradisional Pancur Batu tersebut diluar hari Pekan Pasar. Orang tua pekerja anak penjual kantong plastik kesehariannya bekerja berjualan keperluan dapur di Pasar Tradisional Pancur Batu. Sehingga jika mereka tidak berjualan katntong plastik, maka pekerja anak tersebutakan membantu orang tuanya untuk


(33)

berjualan sayur-mayur, bumbu dapur atau pun jualan yang lainnya di pasar. Seperti yang dikatakan oleh Riski Br Barus:

Biasanya kalau tidak hari sabtu pembeli tidak terlalu ramai kak, jadi kantong plastik tidak terlalu laku dijual.Kalau tidak berjualan kantong plastik biasanya saya membantu bibik berjualan cabai, tomat bawang di pasar ini kak”.

Hal yang senada juga dikatakan oleh Chelsi Br Perangin-angin:

“ Kalau tidak berjualan kantong plastik aku bantu Ibu berjualan jajan-jajanan ini kak, kadang aku juga bantu Ibu berjualan kerupuk kerumah-rumah orang yang dekat-dekat sini kak. Kalau pasar lagi sepi biasanya saya dan Ibu berjualan kerupuk kerumah-rumah atau ke kede-kede kak”.

Dengan keterlibatan anak dalam membantu orang tuanya berjualan di pasar sudah sangat membantu bagi orang tua karena bila ada pembeli mereka tidak repot dan capek lagi karena sudah ada anak mereka yang membantu untuk berjualan di Pasar. Seperti yang dikatakan oleh pekerja anak yang bernama Yossi dan adiknya yang juga merupakan pekerja anak penjual kantong plastik di pasar tersebut, menjelaskan bahwa:

“Saya Kak dari kelas 1 SMP sudah diajarin berjualan di pasar sama kak Maria.Jadi, jam 5 pagi saya dan Kak Maria sudah pergi ke Pasar Belawan dan Pajak Ikan berbelanja ikan teri untuk dijual nanti Kak. Saya selalu diajak setiap pagi jika Kak Maria pergi belanja ikan teri ke pasar kak ”

Dari penuturan pekerja anak tersebut terlihat bahwa mereka juga berpartisipasi menyumbangkan tenaga mereka untuk membantu pekerjaan orang tua mereka.Dengan ikut berpatisipasi langsung dalam bekerja, mereka sudah membantu mencari nafkah dengan tenaga mereka.Orang tua dari pekerja anak penjual kantong plastik bekerja berjualan di Pasar Tradisional Pancur Batu dimana sebagai tempat anak-anak tersebut berjulan kantong plastik.Sehingga bila tidak hari pekan Pasar biasanya anak-anak tersebut membantu orang tuanya


(34)

berjualan dagangannya di Pasar, karena bila tidak hari pekan Pasar biasanya pembeli tidak terlalu ramai, sehingga kantong plastik yang dijual oleh anak-anak tersebut tidak selaku sewaktu hari Pekan Pasar, yaitu hari sabtu.

4.4 Implikasi terhadap keluarga maupun anak atas partisipasi mereka di sektor informal 4.4.1Terhadap Ekonomi Keluarga

Kontribusi anak dalam menambah pendapatan keluarga memang sangat membantu.Dalam hal ini responden langsung menyerahkan sejumlah uang kepada orang tuanya dari hasil pendapatannya bekerja dipasar menjual kantong plastik.

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dilapangan menunjukkan bahwa orang tua atau wali dari pekerja anak merasa ada perubahan yang baik di keluarga mereka dan mereka mampu merubah kondisi perekonomian keluarga mereka.Orang tua/Wali merasa senang dan bangga anak mereka ikut berpartisipasi membantu ekonomi keluarga. Pernyataan tersebut di perkuat atas wawancara dengan Ibu Samuel yang mengatakan bahwa:

“Kalau anakku bekerja, pastilah kami terbantu.Anakku Samuel juga sering memberikan sebagian hasil menjual kantong plastik untuk keperluan keluarga kami. Saya hanya bekerja berjualan bahan dapur di pasar ini nak, penghasilan per harinya juga tidak tetap, sedangkan ayahnya Samuel sudah tidak tinggal lagi dengan kami, makanya penghasillan anakku bisa menambah biaya untuk keluarga kami”

Selain itu ada juga keluarga responden beranggapan bahwa partisipasi anak dalam membantu ekonomi keluarga mampu memberikan perubahan yang berarti bagi keluarganya. Seperti penuturan Nenek Imme mengatakan:

“Partisipasi Imme sangat berguna untuk cari uang bantu-bantu nenek.Penghasilannya dari berjualan kantong plastik diserahkan ke saya katanya untuk beli obat kakek dan untuk nambah-nambah uang sekolah. Kakek Imme memang sakit sudah tidak bisa berjalan, jadi tidak bisa diharapkan untuk bekerja lagi nak, kakek Imme sudah 2 tahun lamanya tidak bisa


(35)

berjalan, jadi sekarang saya dan Imme saling harus gigih mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Lagian Imme dari kecil juga sudah di tingal orang tuanya, jadi sayalah yang merawatnya nak dari kecil dengan usaha keras Puji Tuhan Imme sekarang sudah duduk umur 11 tahun dan sudah bisa bantu nenek cari uang. Setelah Imme bisa bekerja mencari uang dan membantu nenek berjualan dipasar sangat membantu ekonomi kami dibanding sebelum Imme bekerja, kalau sekarang nenek sudah bisa membeli obat-obat untuk kakek kalau dulu jangankan untuk beli obat untuk makan saja sudah pas-pasan sekali”.

Partisipasi anak dalam bekerja meningkatkan ekonomi keluarga dibanding sebelum anak bekerja membantu orang tua. Hal ini ditegskan oleh pernyataan yang dikatakan oleh Bibi Riski:

Semenjak Riski sudah tahu mencari uang sendiri, Ia tidak perlu lagi mengharapkan kiriman orang tuanya di kampung nak, Ia bisa membayar uang sekolahnya dengan hasil keringatnya sendiri, kadang saya memberi uang tambahan juga kepadanya karena sudah bantu bibik berjualan sayur di pasar ini. Tapi si Riski ini sudah sangat membantu orang tuanya nak dia bisa membeli keperluan sekolahnya sendiri, sudah bisa cari uang jajan sendiri tanpa harus menunggu kiriman orang tua dari kampong, karena kehidupan orang tua Riski di kampung pun pas-pasan jadi jarang sekali ngirim uang untuk si Riski. ”

Hal senada juga dikatakan oleh Kak Maria, kakak dari pekerja anak yang bernama Yossi dan Yolanda Simbolon:

“Dengan berjualan kantong plastik ini Yossi sama Yolanda ini sudah membantu sekali dek, penghasilan mereka bisa buat nambah-nambah buat keperluan belanja di dapur sama uang sekolah dan keperluan sekolah lainnya, apalagi orang tua sudah tua dan berada di kampung sehari-harinya bekerja diladang, jadi tidak bisa diharapkan kali untuk bayar uang sekolah adek-adek ini. Lagian kami dari kecil sudah diajari buat mandiri dek supaya bisa cari uang sendiri.Sejak SMP kami sudah sering diajak orang tua dulu ke pasar, jadi sekarang saya sama adek-adek itu pun sudah terbiasa dan mengerti keadaan”.

Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa orang tua/wali dari pekerja anak menjawab partisipasi anak dapat membantu atau merubah kondisi ekonomi keluarga.Hal ini berarti terdapat perubahan dalam hal ekonomi didalam keluarga mereka, kondisi ekonomi keluarganya menjadi baik.Mereka ikut bekerja membantu orang tua/wali mereka berjualan di pasar dan mencari nafkah dengan berjualan kantong plastik demi terpenuhinya kehidupan mereka sekeluarga.Walaupun mereka tidak mampu memberikan perubahan yang besar terhadap


(36)

ekonomi keluarga, tetapi mereka tetap berusaha memberikan yang terbaik, meski mereka masi duduk di bangku sekolah.

4.4.2 Terhadap Pendidikan Anak

Terlibatnya anak yang masih duduk di bangku sekolah dalam mencari nafkah, pasti akan berdampak negatif bagi pendidikan anak tersebut.Karena anak yang masih di bawah umur tidak seharusnya terlibat dalam dunia kerja. Pekerja anak dimanapun mereka berada, di lihat secara umum kondisi dan situasinya di yakini akan mengancam kehidupan dan juga masa depannya, termasuk masa depan masyarakat. Dunia anak seharusnya dunia yang penuh kegembiraan, bermain, sekolah, perhatian dan kasih sayang orang tua. Suasana tersebut sebagai proses pendukung tumbuh dan berkembang seorang anak , yang dapat memberikan landasan untuk kehidupan masa depannya.

Sehingga jika anak yang masih duduk di bangku sekolah terlibat dalam mencari nafkah maka akan berdampak buruk bagi pendidikan anak dan juga bagi masa depannya. Dampak negatif ini terlihat dari penuturan Riski Barus, yaitu:

“Karena sudah capek bekerja dari pulang sekolah jam 2 siang sampai jam 6 sore sampai dirumah jadi malas belajar kak. Sampai rumah mandi abis itu langsung tidur.Kadang PR pun lupa dikerjakan.Jadi enggak semangat belajar lagi kak, tapi kalau buat kerja supaya dapat uang, aku masih semangat kak, karena kalau punya uang enak kak bisa buat keperluan ini itu.

Dampak negatif lainnya atas terlibatnya anak dalam mencari nafkah terhadap pendidikan pekerja anak tersebut terlihat dari pekerja anak yang bernama Imme yang duduk di bangku kelas 6 SD, mengatakan:

“ Setelah tamat SD, kayaknya Imme mau kerja dulu untuk bantu-bantu nambah uang nenek sekalian ngumpulin biaya untuk masuk SMP tahun depan kak, kalau sekarang uang nenek


(37)

belum cukup kak. Kalau Imme masuk SMP pasti banyak yang mau dibayar uang pendaftaran,uang seragam sama uang buku kayaknya uang nenek enggak ada kak, Imme takut kalau harus minta uang sama nenek kak”.

Karena Kondisi sosial ekonomi yang rendah, Imme jadi tidak kepikiran untuk melajutkan sekolahnya, yang dipikiran Imme hanyalah bagaimana bisa memperoleh uang agar bisa membantu nenek dan kakeknya. Padahal pendidikan sangatlah penting untuk masa depan anak. Tetapi karena sudah dilibatkan dari kecil untuk mencari nafkah Ia berpikiran bahwa uang adalah yang paling penting untuk dicari.

Selain itu pekerja anak bernama Yolanda juga mengatakan dampak negatif terhadap pendidikan atas keterlibatan mereka dalam mencari nafkah, Ia mengatakan:

“Nilai saya menurun kak, karena waktu ujian saya jarang belajar karena sudah capek dari pasar jadi saya malas kak untuk buka buku di rumah”

Dari jawaban-jawaban pekerja anak tersebut terlihat jelas dampak negatif bagi pendidikan mereka.Mereka menjadi malas belajar karena aktivitas mereka sibuk berjualan di pasar.Jika tidak berjualan kantong plastik, mereka tetap harus ke pasar untuk membantu orang tua mereka berjualan.Akibatnya mereka tidak bisa membagi waktu untuk belajar dan bekerja, sehingga nilai dan prestasi mereka pun menurun di sekolah.Sehingga anak sudah mengetahui betapa sulitnya mencari uang membuat anak menjadi enggan dan takut untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.Sehingga tamat sekolah SD, SMP ataupun SMA mereka memilih untuk lanjut bekerja mencari uang tidak melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang berikutnya.

Anak-anak yang bekerja menjual kantong plastik berasal dari latarbelakang kehidupan sosial dan ekonomiyang rendah pula, sehingga tidak berminat dan tidak mampu untuk


(38)

melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Selain itu, pendidikan yangrendah ini disebabkan juga oleh ketidakmampuan dari segi finansial untukmembayar biaya pendidikan yang relatif tinggi. Selain itu, hal lain yangdijumpai penulis di lokasi adalah bahwa anak-anak tidak memiliki motifasi yang tinggi untuk sekolah diantaranya karena orang tua yangtidak tegas mengarahkan anak-anaknya untuk sekolah.

4.4.3Terhadap Waktu Luang Anak

Dalam kenyataanya, anak yang bekerja merupakan salah satu gambaran betapa rumitdan kompleksnya permasalahan anak. Anak yang bekerja adalah bentuk penelantaran hak anak untuk tumbuh dan berkembang secara wajar, karena pada saat bersamaan akan terjadi pengabaian hak yang harus diterima mereka, seperti hak untuk memperoleh pendidikan, bermain, akses kesehatan dan lain-lain.

Keterlibatan anak dalam membantu ekonomi keluarga membuat waktu luang anak yang semestinya dipakai untuk bermain bersama kawan-kawan sebaya mereka, menjadi digunakan untuk bekerja seutuhnya agar menghasilkan uang. Sehingga anak-anak tidak memiliki kesempatan lagi untuk bermain, tertawa dan bercanda dengan teman-teman sebaya mereka, karena mereka sudah harus memikirkan cara mencari uang untuk menambah pendapatan keluarga. Seperti yang dikatakan oleh pekerja anak yang bernama Chelsi yang duduk di bangku kelas 6 SD, ia mengatakan:

Kalau udah kerja gak enaknya gak ada waktu buat bermain-main lagi kak sama kawan.Pulang sekolah langsung kepasar kalau pasar lagi rame langsung berjualan kantong plastik.Kalau pasar sepi aku ikut ibu berjualan keliling menjual kerupuk. Kadang suka bosan juga kak, kalau liat kawan lagi main-main pengen ikut, tapi karena ingat orang tua yang susah cari uang, jadi ga tega kak kalau gak dibantu. Tapi kadang aku diam-diam main sama kawan pulang sekolah kak, jadi kadang kalau pulang sekolah aku gak langsung ke pasar kak,


(39)

tapi main-main dulu sama kawan-kawan. Kalau di Tanya mamak kenapa lama pulang aku bilang aja kerja kelompok tadi mak”.

Tidak adanya waktu luang karena sudah sibuk membantu orang tua berjualan di pasar dan juga berjualan kantong plastik juga dirasakan oleh Samuel, Ia mengatakan:

Karna ikut Ibu bekerja waktu main-main sama kawan udah enggak ada lagi kak. Pulang sekolah saya harus ke Pasar bantu Ibu jualan kalau hari sabtunya harus jualan kantong plastik sampai di rumah udah malam Kak. kalau lihat kawan yang rame lagi bermain kadang penegn juga ikut gabung Kak, tapi karena ingat pesan Ibu yang bilang kalau udah pulang sekolah langsung ke pasar, enggak jadi gabung jadinya kak. Waktu bermain sama kawan Cuma hari minggu lah kak karena hari minggu kami cepat pulang kerumah kak, jadi sore bisa ikut main sama kawan-kawan di dekat rumah.”

Semua pekerja anak hampir mempunyai jawaban serupa, mereka mengatakan tidak memiliki waktu luang untuk bermain bersama kawan lagi karena sudah sibuk membantu orang tua di pasar.Waktu bermain bersama teman-teman sebaya sudah banyak tersita oleh aktivitas mereka di Pasar.Sehingga mereka terpaksa mengisi waktu luang mereka dengan bekerja untuk membantu ekonomi keluarga karena pendapatan orang tua mereka rendah dan tidak bisa menutupi maupun memenuhi semua kebutuhan anggota keluarga.Hal inilah yang menyebabkan anak juga harus terlibat untuk mencari nafkah untuk menambah pendapan keluarga yang masih tergolong rendah.

4.4.4 Proses Tumbuh Kembang Anak

Dalam perkembangannya anak tumbuh dengan cepat, maka membutuhkan pengetahuan dan keterampilan agar menjadi manusia yang produktif dan berguna. Anak-anak yang bekerja sambil sekolah perlu mendapat perhatian karena anak-anak yang bekerja akan mempengaruhi tumbuh kembang anak itu sendiri. Anak yang bekerja seringkali dihubungkan dengan proses belajar atau bersosialisasi dalam keluarga, agar kelak dewasa mereka siap dan produktif. Dengan


(40)

kata lain, pekerjaan yang mereka lakukan adalah sebagai sarana berlatih disamping tentunya memberikan kontribusi bagi keluarga.

Dampak negatif bagi tumbuh kembang anak terlihat dari penjelasan pekerja anak yang bernama Riski, Ia mengatakan:

“Kadang malu kak kalau kumpul sama kawan merasa minder, jadi kadang malas kalu gabung kumpul-kumpul sama kawan kak karena aku enggak punya uang jajan seperti mereka, dari pada jajan aku lebih suka uangnya ditabung kak. Untuk gabung sama kawan-kawan saya tidak percaya diri lah kak”

Keterlibatan mereka dalam mencari uang memaksa mereka harus berpikiran dewasa, tidak bisa berpikiran seperti anak-anak sebagaimana mestinya yang masih polos.Pekerja anak harus memutar otak mereka dan lebih bergiat untuk bekerja agar menghasilkan uang.Pendapatan orang tua yang rendah membuat mereka harus merasakan bahwa mencari uang itu tidak mudah.Selain karena pendapatan orang tua yang rendah, ketidakharmonisan keluarga dan tidak berjalannya fungsi keluarga sebagaimana mestinya juga merupakan salah satu faktor mengapa anak harus terlibat dalam mencari nafkah. Seperti yang dikatakan Imme:

“Saya dari kecil sudah tinggal bersama nenek kak, nenek setiap hari berjualan di Pasar, jadi sepulang sekolah saya menyusul nenek ke pasar untuk bantu nenek berjualan, kalau hari sabtu saya berjualan plastik kemudian uangnya saya berikan uangnya kepada nenek, sedangkan kakek sudah tidak bisa bekerja lagi karena sakit, jadi saya harus membantu nenek mencari uang”.

Dari penjelasan pekerja anak penjual kantong plastik yang bekerja di Pasar Tradisional Pancur Batu tersebut terlihat bahwa keterlibatan mereka dalam bekerja membuat dampak negatif bagi tumbuh kembang anak itu sendiri.Karena di usia dini mereka harus berhadapan dengan dunia kerja, karena mereka sering mendengar keluhan orang tua/wali mereka tentang biaya kehidupan yang banyak serta kurangnya ekonomi untuk menutupi semua biaya kehidupan tersebut. Hal ini membuat anak berinisiatif untuk mencari uang sendiri agar bisa membantu


(41)

ekonomi keluarga, sehingga di usia yang dini mereka harus merasakan betapa susahnya mencari uang.

Masa depan mereka bisa suram karena pendidikan mereka tergangu atau bahkan mereka bisa saja tiba-tiba putus sekolah. Sehingga membuat mereka tidak bisa bersaing dengan pihak lain dalam era globalisasi ini. Perlindungan hak pendidikan bagi pekerja anak yang seharusnya hanya dibutuhkan membantu meringankan kebutuhan keluarga, akan tetapi anak dijadikan sebagai penopang ekonomi keluarga tanpa memperhatikan faktor lainnya. Hal ini akan berdampak terhadap fisik dan psikologis bagi anak dan terhambatnya hak merek untuk dapat tumbuh berkembang sesuai dengan usia mereka.


(42)

BAB V

PENUTUP

5.1Kesimpulan

Pada dasarnya anak bekerja tidak lepas dari kondisi sosial ekonomi keluarga yang rendah(miskin) yang serba berkekurangan. Inilah alasan utama mereka ikut terlibat dalam mencari nafkah karena keadaan sosial ekonomi yang demikian, keadaan tersebut melahirkan motivasi atau alasan anak-anak ini bekerja antara lain yaitu untuk memenuhi kebutuhan sekolah yang tidak bisa dipenui seluruhnya oleh keluarga maupun orang tua mereka sebagaimana mestinya hal ini ini terlihat dalam alokasi penggunaan hasil kerja mereka yang digunakan untuk membantu orang tua dalam hal keperluan belanja rumah tangga, biaya sekolah, dan membantu kebutuhan anggota keluarga lainnya. Berdasarkan data yang diperoleh pendapatan yang diperoleh anak sangat membantu kondisi ekonomi keluarga jika dibandingkan anak sebelum bekerja.

Keterlibatan anak dalam bekerja dengan tujuan membantu ekonomi keluarga sebenarnya akan berdampak negtif bagi pekerja anak tersebut. Karena dengan usia yang masih dibawah umur mereka sudah diperkenalkan dengan dunia kerja,bagaimana sulitnya untuk mencari uang sehingga mereka sudah mengerti nilai uang sangat penting bagi kehidupan. Hal ini akan membuat mereka enggan ataupun malas untu melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, mereka akan lebih memilih bekerja agar bisa memperoleh uang karena mereka sudah tau betapa pentingnya nilai uang itu sendiri bagi mereka. Keterlibatan mereka bekerja menjadi penjual kantong plastik di pasar dan juga membantu orang tua mereka berjualan akan membuat pembelajaran mereka terganggu begitu juga dengan konsentrasi belajar mereka, selain itu karena


(43)

waktu luang mereka sepenuhnya digunakan untuk bekerja mencari uang bahkan kesempatan untuk bermain bersama teman sepermainan mereka pun sudah tersita banyak karena keterlibatan mereka dalam bekerja dan terhambatnya perkembangan pertumbuhan dan krteatifitas anak.

Kondisi kemiskinan keluarga dan tidak berjalannya peran orang tua sebagaimana mestinya orang tua memiliki fungsi sosioalisasi, fungsi afeksi, fungsi proteksi dan fungsi ekonomi fungsi proteksi, dalam keluarga membuat orang tua mengizinkan mereka untuk berjualan kantong plastik di Pasar. Dampak-dampak negatif dari keterlibatan anak dalam bekerja pun diabaikan oleh orang tua dan lebih melihat dampak positif terhadap pemenuhan

5.2 Saran

1. Tanggung jawab keluarga. Memberikan pemahaman yang jelas pada keluarga pekerja anak tentang pembagian peran dalam keluarga agar hak-hak anak dapat terpenuhi oleh keluarga. Sehingga tidak ada pelimpahan peran pada anak-anak yang harus juga mengambil peran orang tua dalam memenuhi kebutuhan ekonomi.

2. Tanggung jawab pemerintah. Pemerintah Indonesia sendiri sudahmerumuskan hak-hak dan peran anak dalam keluarga yang tentunyadilindungi negara yang tercantum dalam Undang-undang, yaitu dalamUndang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak tapiamanat undang-undang ini belum terlaksana sepenuhnya karenakebanyakan yang terjadi adalah anak-anak digunakan tenaganya untukbekerja dan mencari nafkah seperti apa yang dilakukan pekerja anak penjual kantong plastik di Pasar Tradisional, bahkan terkesan adanyaeksploitasi terhadap anak-anak. Sehingga seharusnya Pemerintah Kota Medan


(44)

memberikan bantuan ekonomi pada keluarga-keluarga miskin dan memberikan failitas atau usaha-usaha serta kemudahan yang dapat meningkatkan taraf hidup keluargamereka, kemudian memberdayakan kaum miskin dengan meningkatkan akses mereka terhadap sumber daya produktif dan pelayanan pokok. Pemerintah juga harus secara intensmendampingi dan memberikan bimbingan kepada orang tua dan anak,serta beberapa bantuan lain misalnya memberikan jaminan kesehatan danpendidikan yang berkualitas namun terjangkau oleh keluarga miskin, dengan bersekolah mereka punya bekal pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk bekal mereka nantinya di dunia kerja.

3. Penyuluhan sosial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat atas hak-hak anak untuk memperoleh perlindungan, misalnya penyuluhan melalui media elektonik, media cetak, spanduk, poster, stiker, seminar dan juga termasuk melaksanakan lomba karya ilmiah yang bertema hak-hak anak.


(45)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Partisipasi anak dalam kegiatan ekonomi keluarga

Dalam bahasa Latin disebut “Participatio” yang berasal dari kata kerja “Partipare” yang berarti ikut serta, sehngga partisipasi mengandung pengertian aktif yaitu adanya kegiatan atau aktivitas, Partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosional orang-orang dalam situasi kelompok.Dan mendorong mereka untuk memberikan suatu kontribusi demi tujuan kelompok,

dan juga berbagai tanggung jawab dalam pencapaian tujuan.

Menurut (Sastropoetro:1995,11).Partisipasi adalah keikutsertaan, peran serta atau keterlibatan yang berkaitan dengan keadaan lahiriahnya. Pengertian ini menjelaskan peran masyarakat dalam mengambil bagian, atau turut serta menyumbangkan tenaga dan pikiran ke dalam suatu kegiatan, berupa keterlibatan ego atau diri sendiri atau pribadi yang lebih daripada sekedar kegiatan fisik semata.(artikel Dr. Arifin Sitio) Secara umum, partisipasi dapat di artikan sebagai keterlibatan diri seseorang dalam suatu kegiatan, baik secara langsung maupun tidak langsung atau suatu proses identifikasi diri seseorang untuk menjadi peserta dalam kegiatan bersama dalam situasi sosial tertentu.(http://www.pengertianahli.com/201403/pengertianpartisipasi -masyarakat, Diakses pada tanggal 03 Desember 2015 pukul 20.00)

Dari penjelasan dari beberapa ahli mengenai pengertian tentang partisipasi, maka partisipasi dapat dibagi berdasarkan bentuk partisipasi nyata, yaitu:


(46)

1. Partisipasi uang adalah bentuk partisipasi untuk memperlancar usaha-usaha bagi pencapaian kebutuhan masyarakat yang memerlukan bantuan

2. Partisipasi harta benda adalah partisipasi dalam bentuk menyumbang harta benda, biasanya berupa alat-alat kerja atau perkakas

3. Partisipasi tenaga adalah partisipasi yang diberikan dalam bentuk tenaga untuk pelaksanaan usaha-usaha yang dapat menunjang keberhasilan suatu program

4. Partisipasi keterampilan, yaitu memberikan dorongan melalui keterampilan yang dimilikinya kepada anggota masyarakat lain yang membutuhkannya,

Dari bentuk-bentuk partisipasi nyata tersebut anak-anak yang masih dibawah umur yang berpartisipasi dalam mencapai tujuan keluarga yaitu untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup dalam keluarga, maka partisipasi yang dilakukan pekerja anak dinamakan partisipasi uang dan tenaga. Karena anak-anak tersebut mengandalkan tenaganya untuk menghasilkan uang yang akan diberi kepada orang tua untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga, maka anak-anak yang masih dibawah umur akan memilih bekerja di sektor informal. Seperti contohnya, anak-anak di Pasar Tradisional Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang yang bekerja sebagai penjual kantongan plastik untuk menghasilkan uang dan uang hasil pencarian mereka akan diserahkan kepada orang tua untuk membantu ekonomi keluarga seperti untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, untuk menambah biaya sekolah anak, untuk membayar uang listrik, untuk uang jajan anak dan keperluan lainnya.

Dalam keluarga yang kondisi ekonominya masih rendah anak-anak yang sudah maupun remaja mempunyai kesadaran untuk membantu perekonomian keluarga, partisipasi mereka


(47)

secara tidak langsung menjadi sumbangan yang besar bagi kehidupan keluarga.Hal-hal pokok penyebab anak bekerja adalah pengaruh struktur ekonomi dalam rumah tangga.Keadaan ekonomi orang tua mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga sehingga anak-anak ikut mencari nafkah.

Di seluruh dunia banyak anak yang bekerja pada usia yang relatif muda yaitu pada usia enam atau tujuh tahun, mereka membantu dirumah atau membantu aktivitas orangtuanya di luar. Aktivitas yang dilakukan oleh anak tersebut sering didukung oleh orang tua mereka sendiri, karena dianggap akan bermanfaat bagi tumbuh kembang anak. Anak-anak akan belajar bertanggung jawab dan merasa bangga dapat mengerjakan tugas-tugas orang dewasa dalam mempertahankan hidup anggota keluarga.Kenyataannya, pekerjaan yang anak-anak lakukan tersebut sering tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, karena ternyata pekerjaan yang mereka lakukan justru cenderung menghambat tumbuh kembang anak dan tidak memberikan dampak positif bagi pekerja anak itu sendiri.

Kesusahan ekonomi merupakan faktor pendorong utama anak bekerja, namun demikian ada beberapa hal yang menunjukkan faktor pendorong lain anak-anak bekerja, yaitu:

1. Wanita sebagai kepala rumah tangga

Hal ini terjadi karena ibu yang bekerja sebagai pencari nafkah utama untuk keluarga.Hal ini terjadi karena perceraian orang tua, atau karena suami yang tidak bekerja atau tidak memberi uang belanja kepada istri.


(48)

Situasi keluarga yang bermasalah disebabkan oleh adanya pertentangan orang tua, orang tua dengan anaknya atau antara anak dengan anak.

3. Jumlah anggota keluarga yang besar

Pandangan masyarakat mengenai kesiapan anak untuk bekerja.Hal ini terjadi pada pandangan orang tua yang menginginkan dan menentukan kapan seorang anak sudah layak bekerja untuk membantu ekonomi keluarga.(Kemiskinan dan maraknya pekerja anak.Dalam .http:/ /fahmina. or.id/)

Pada masa ini, fungsi-fungsi keluarga tersebut telah banyak bergeser, karena tingkat mobilitas masyarakat yang meningkat dan perubahan nilai-nilai sosial dalam masyarakat. Dalam fungsi sebagai tempat pemenuhan kebutuhan jasmani, Indikasi terpenuhi atau tidaknya kebutuhan jasmani seseorang dapat dilihat pertama kali dari terpenuhi tidaknya kebutuhan jasmani berupa barang, misanya makanan atau baju dan tingkat pendapatan mereka. Tingkat pendapatan digunakan sebagai salah satu ukuran karena pemenuhan kebutuhan jasmani berupa barang biasanya erat terkait dengan daya beli seseorang.Bila pendapatan seseorang tinggi, dengan sendirinya tingkat daya beli barang untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya relatif lebih tinggi daripada orang yang tingkat pendapatannya rendah. Hal inilah yang menyebabkan anak-anak ikut bekerja untuk mencari nafkah untuk keluarga.

2.2 Peran dan Fungsi Keluarga

Horton & Hunt dan David Berry menjelaskan bahwa peran adalah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang mempunyai suatu status “Konsepsi peran mengandaikan seperangkat harapan untuk bertindak dengan cara-cara tertentu dan mengharapkan orang lain untuk bertindak dengan cara-cara tertentu pula.” Ada aturan-aturan tertentu yang harus dipatuhi


(49)

dalam pelaksanaan peran seseorang. Bahwa peran seseorang itu telah ditentukan dan dibatasi sesuai dengan apayang diharapkan masyarakat. Menurut Broom dan Selznick, perspektif preceived roleyaitu peran yang didasarkan pada pertimbangan pribadi. Peran ini mungkin saja tidak sejalan dengan apa yang diharapkan masyarakat, tetapi harus dilakukan karena menurut pertimbangan hal itu adalah baik. (Sudiro, Lingga. 2012.” Pemulung Anak-Anak Yang Masih Sekolah”. Skripsi Universitas

Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang).

Berbagai peran yang terdapat di dalam keluarga, adalah sebagai berikut:

1. Peran Ayah: Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosial serta sebagai anggota masyarakat dari lingkunganya.

2. Peran Ibu: Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, berperan untuk mengurus rumah tangga sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, ibu juga dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.

3. Peran Anak: Anak-anak melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan spritual

Pembahasan tentang peran berkaitan erat dengan Struktural Fungsional.Pada struktural fungsional, terkandung konsep berkenaan dengan fungsi dan disfungsi. Menurut Robert K. Merton, fungsi dapat di definisikan sebagai “konsekuensi-konsekuensi yang dapat diamati yang menimbulkan adaptasi atau penyesuaian dari sistem tertentu“atau pemahaman sederhananya fungsi adalah akibat-akibat yang dapat diamati yang menuju adaptasi atau penyesuaian dalam suatu sistem.


(50)

2.2.1 Fungsi Keluarga

Sama halnya dengan institusi lainnya, keluarga juga memiliki fungsi yang harus dilaksanakan.Beberapa fungsi keluarga, yaitu:

1. Keluarga berfungsi untuk mengatur penyaluran dorongan seks. Tidak ada masyarakat yang memperbolehkan hubungan seks sebebasbebasnya antara siapa saja dalam masyarakat. Keluarga sebagai wadah bagi individu untuk menyalurkan hasrat biologis dalam ikatan pernikahan.

2. Reproduksi berupa pengembangan keturunan. Dalam keluarga anak-anak dilahirkan dan dibesarkan dengan kasih sayang kedua orang tuanya.

3. Keluarga berfungsi untuk mensosialisasikan anggota baru masyarakat hingga dapat memerankan apa yang diharapkan darinya. Keluarga merupakan agen sosialisasi dalam pembentukan diri seorang individu.

4. Keluarga memiliki fungsi afeksi. Keluarga memberikan cinta kasih pada seorang anak. 5. Keluarga memberikan status pada seorang anak. Bukan hanya status yang diperoleh

seperti jenis kelamin, hubungan kekerabatan, tapi juga termasuk status yang diperoleh orang tua yaitu status dalam suatu kelas sosial tertentu.

6. Keluarga memberikan perlindungan kepada anggotanya. Baik perlindungan fisik maupun yang bersifat kejiwaan.

7. Keluarga memiliki fungsi ekonomi. Misalnya produksi, distribusi, dan konsumsi.

2.3Kemiskinan dan Pekerja Anak

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), miskin berarti tidak berharta benda. Miskin juga berarti tidak mampu mengimbangi tingkat kebutuhan standard dan tingkat


(51)

penghasilan ekonominya rendah.Secara singkat kemiskinan dapat didefenisikan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah yaitu adanya kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standard kehidupan yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.(Wikipedia, http: //id.Wikipedia.org/Wiki/Ekonomi, Diakses tanggal 10 desember 2015 pukul 10.15).

Kemiskinan sesungguhnya bukan semata-mata kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok atau standar hidup layak, namun lebih dari itu esensi kemiskinan adalah menyangkut kemungkinan atau probabilitas orang atau keluarga miskin itu untuk melangsungkan dan mengembangkan usaha serta taraf kehidupannya.Kemiskinan didefinisikan sebagai kekurangan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu standar hidup yang layak. Definisi lain tentang kemiskinan adalah ketidaksanggupan untuk mendapatkan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan sosial yang terbatas.

Dalam membicarakan masalah kemiskinan, ada beberapa jenis-jenis kemiskinan yaitu:

1. Kemiskinan absolut. Seseorang dapat dikatakan miskin jika tidak mampu memenuhi kebutuhan minimum hidupnya untuk memelihara fisiknya agar dapat bekerja penuh dan efisien.

2. Kemiskinan relatif muncul jika kondisi seseorang atau sekelompok orang dibandingkan dengan kondisi orang lain dalam suatu daerah,

3. Kemiskinan Struktural. Kemiskinan struktural lebih menuju kepada orang atau sekelompok orang yang tetap miskin atau menjadi miskin karena struktur masyarakatnya yang timpang, yang tidak menguntungkan bagi golongan yang lemah,


(52)

Kemiskinan Situsional atau kemiskinan natural.Kemiskinan situsional terjadi di daerah-daerah yang kurang menguntungkan dan oleh karenanya menjadi miskin, (Kemiskinan dan

maraknya pekerja anak.Dalam .http:/ /fahmina. or.id/penerbitan /warkah-al-basyar/577, Artikel

kemiskinan -dan-maraknya-pekerja-anak.html, Di akses tanggal 10-12-2016, jam 14:30).

Kemiskinan kultural. Kemiskinan penduduk terjadi karena kultur atau budaya masyarakatnya yang sudah turun temurun yang membuat mereka menjadi miskin,

Sedangkan faktor-faktor penyebab kemiskinan antara lain adalah:

1. Sikap dan pola pikir yang rendah dan malas bekerja 2. Kurang keterampilan

3. Adanya gep antara si kaya dan si miskin 4. Pendidikan rendah

5. Faktor alam, lahan tidak ada/sempit

6. Tidak dapat memanfaatkan SDA dan SDM setempat 7. Populasi penduduk yang tinggi

8. Belenggu adat dan kebiasaan (http//:www.bisnisbali.com/2008/07/10/news/bisnis umum/k.html)

Pekerja anak adalah sebuah istilah untuk mempekerjakan anak kecil. Istilah pekerja anak dapat memiliki konotas kecil atau pertimbangan bagi perkembangan kepribadian mereka, keamanannya, kesehatan, dan prospek masa depannya (Ensiklopedia Wikipedia).Secara umum pengertian pekerja anak adalah anak-anak yang melakukan pekerjaan secara rutin untuk orang tuanya atau untuk orang lain yang membutuhkan sejumlah besar waktu, dengan menerima imbalan atau tidak. Pekerja anak bekerja


(53)

demi meningkatkan penghasilan keluarga dan rumah tangga sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Ketentuan Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 25 Tahun 1997 Pasal 1 ayat 20 menyatakan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seorang laki-laki atau wanita yang berumur kurang dari 15 tahun. Disamping itu, instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 3/1999 yang dikeluarkan pada tanggal 26 Januari 1999 tentang Pelaksanaan Penanggulangan Pekerja Anak juga menyatakan bahwa yang disebut pekerja anak adalah anak yang berusia di bawah 15 tahun yang sudah melakukan pekerjaan berat dan berbahaya baik yang tidak bersekolah maupun yang bersekolah.

Sedangkan pada Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan disebutkan bahwa pekerja anak adalah anak-anak yang berusia dibawah 18 tahun. Menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah tentang penanggulangan pekerja anak pasal 1 dinyatakan bahwa pekerja anak adalah anak-anak yang melakukan semua jenis pekerjaan yang membahayakan kesehatan dan menghambat proses belajar serta tumbuh kembang anak.

Dalam laporan UNICEF “The State of The Worlds Children 1997” UNICEF berkeyakinan bahwa pekerja anak adalah eksploitasi jika menyangkut:

1. Pekerjaan penuh waktu(full time)

2. Terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk bekerja

3. Pekerjaan menimbulkan tekanan fisik, sosial atau psikologis yang tidak patut terjadi 4. Bekerja dan hidup dijalanan dalam kondisi buruk

5. Upah yang tidak mencukupi


(54)

7. Pekerjaan yang menghambat akses pendidikan

8. Pekerjaan yang mengurangi harga diri dan martabat anak, seperti perbudakan atau pekerjaan kontrak paksa dan eksploitasi seksual.

Pekerja anak menurut dasar status pekerjaan yang ditekuni paling tidak dibedakan menjadi tiga jenis status, yaitu anak yang bekerja atau berusaha secara mandiri, anak yang bekerja dan berusaha dengan orang lain, dan anak-anak yang menjadi bagian dari pekerja Pembagian itu kemudian dapat diklasifikasikan lagi kedalam bagian yang lebih umum, yaitu pekerja di sektor formal dan pekerja di sektor informal. Pekerja di sektor formal adalah pekerja anak yang bekerja rutin setiap hari di suatu tempat dan gajinya tetap.Sedangkan pekerja anak di sektor informal adalah pekerja anak yang bekerja tidak tetap berusaha secara mandiri dan hasil yang bekerja tidak tetap berusaha secara mandiri dan hasil yang didapat tidak tetap dan waktu bekerja tidak tetap.Biasanya pula tidak ada relasi antara buruh dan majikan.Sebagai contoh adalah pembantu rumah tangga, pedagang asongan, tukang semir dan sebagainya.

Sebab munculnya pekerja anak yang masuk ke pasar kerja di sektor-sektor informal paling utama di sebabkan oleh kondisi ekonomi dan kemiskinan keluarga.Kemiskinan yang menjadi sebab utama mengapa anak masuk kedalam pasar kerja menjadi pekerja anak.

Pekerja anak akan berdampak negatif bagi anak itu sendiri, karena anak tidak lagi mempunyai waktu dan kesempatan yang cukup untuk keluar dari rutinitas kerja. Waktu bermain bersama teman-teman sepermainan mereka juga akan tersita oleh pekerjaan yang mereka lakukan untuk memperoleh uang. Sehingga anak akan memiliki beban hidup karena sudah dilibatkan dalam mencarri uang untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.


(55)

2.4 Sosial Ekonomi

Sosial ekonomi adalah suatu kondisi yang melatar belakangi anak turun bekerja didalam sektor informal untuk membantu ekonomi keluarga.Sosial mengandung arti segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat, sementara it berhubungan dengan asas produksi, distribusi, pemakaian barang serta kekayaan.Sekilas Sosial dan Ekonomi seperti dua hal dan sebenarnya terdapat kaitan yang erat.Salah satu kaitan yang erat tersebut adalah, Jika keperluan ekonomi tidak terpenuhi maka akan terdapat dampak sosial yang terjadi di masyarakat kita. Definisi sosial pada dasarnya diartikan sebagai suatu keadaan yang menghadirkan orang lain dalam kehidupan manusia. Kehadiran manusia secara nyata bisa dirasakan baik melalui audio dan visual.Sedangkan untuk kehadiran manusia tidak nyata bisa berupa imajinasi, kenangan, khayalan dan sebagainya.Definisi sosia ini terkait pada hubungan-hubungan manusia dengan lingkungan masyarakat, manusia dengan manusia lainnya, manusia dengan kelompoknya dan manusia dengan organisasi yang diiutinya.Hal ini juga berkaitan langsung dengan istilah bahwa manusia merupakan makhluk sosial di muka bumi. Karena manusia tidak bisa hidup sendirian dan pasti akan membutuhkan orang lain dalam kehidupannya sehari-hari

Jadi, kesimpulannya adala berhubungan dengan tindakan ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat seperti sandang, pangan dan papan. Kehidupan sosial ekonomi harus dipandang sebagai sistem (sistem sosial) yaitu keseluruhan bagian-bagian atau unsur-unsur yang saling berhubungan dalam satu kesatuan.


(56)

Berdasarkan dari pendapatan, pekerjaan dan pendidikan, maka masyarakat dapat digolongkan kedalam kedudukan sosial ekonomi rendah, sedang dan tinggi yang dijelaskan sebagai berikut:

1. Golongan masyarakat berpenghasilan rendah yaitu masyarakat yang menerima pendapatan lebih rendah dari keperluan untuk memenuhi tingkat hidup yang minimal. Untuk memenuhi tingkat hidup yang minimal, mereka perlu mendapatkan pinjaman dari orang lain.

2. Golongan masyarakat berpenghasilan sedang yaitu pendapatan yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok dan tidak dapat menabung.

3. Golongan masyarakat berpenghasilan tinggi yaitu selain dapat memenuhi kebutuhan pokok, juga sebagian dari pendapatannya itu dapat ditabungkan dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang lainnya. (http://tenagasosial.blogspot.com/2013/08/faktor-yang-mempengaruhi-status-sosial.html. Diakses tanggal 02 Desember 2015 pukul 11.00).

Pada dasarnya kemiskinan merupakan faktor utama munculnya pekerja anak di sektor informal.Suatu rumah tangga dapat dikatakan miskin atau tidaknya tergantung pada pendapatan rumah tangga, sesuai yang sudah digolongkan dalam kedudukan sosial ekonomi. Semakin kecil pendapatan dalam suatu rumah tangga, maka lebih besar kemungkinan adanya kontribusi anak dalam membantu ekonomi keluarga dengan cara bekerja di sektor informal. Sebaliknya semakin besar pendapatan dari rumah tangga, maka kemungkinan adanya pekerja anak semakin kecil. Anak-anak yang berasal dari keluarga miskin, merasa dirinya harus membantu orang tua khususnya dalam bidang ekonomi, oleh karena itu mereka memasuki dunia kerja yang tidak memerlukan keahlian ataupun kemampuan khusus, tetapi lebih mengandalkan tenaga, seperti yang dilakukan oleh anak-anak di Pasar Tradisonal Pancur Batu, mereka memilih bekerja


(57)

sebagai penjual kantongan plastik selain tidak memerlukan keahlian khusus juga tidak memerlukan modal yang besar.

2.5Teori Konflik Sosial

Teori konflik lebih menitikberatkan analisisnya pada asal-usul terjadinya suatu aturan atau tertib sosial.Teori ini tidak bertujuan untuk menganalisis asal usulnya terjadinya pelanggaran peraturan atau latar belakang seseorang berperilaku menyimpang.Perspektif konflik lebih menekankan sifat pluralistik dari masyarakat dan ketidakseimbangan distribusi kekuasaan yang terjadi di antara berbagai kelompoknya.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konflik adalah fenomena sosial biasa dan merupakan kenyataan bagi masyarakat yang terlibat di dalamnya. Konfllik dipandang sebagai suatu proses sosial, proses perubahan dari tatanan sosial yang lama ke tatanan sosial yang baru yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat. Perspektif konflik dianggap sebagai “the new sociology” sebagai kritik terhadap teori struktural fungsional yang berkaitan dengan sistem sosial yang terstruktur dan adanya perbedaan fungsi dan diferensiasi peran (division of labor).Menurut pandangan penganut teori konflik sosial, keluarga sebagai sistem juga tidak terlepas dari konflik antar anggota didalamnya.Lembaga keluarga tidak selamanya akan berada dalam keadaan statis atau dalam kondisi seimbang (equilibrium), namun juga akan mengalami kegoncangan didalamnya. Menurut teori konflik masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangan yang terus menerus diantar unsure-unsurnya (Ritzer, 2008:26). Pertentangan (konflik) bisa terjadi antara anggota-anggota dalam keluarga itu sendiri, atau antara yang satu dengan keluarga yang lain.


(58)

Paradigma sosial konflik yang dikembangkan oleh Karl Marx didasarkan pada dua asumsi, yaitu: (1) Kegiatan ekonomi sebagai faktor penentu utama semua kegiatan masyarakat, dan (2) Melihat masyarakat manusia dari sudut konflik di sepanjang sejarahnya. Marx, dalam Materialisme Historis-nya memasukkan determinisme ekonomi sebagai basis struktur yang dalam proses relasi sosial dalam tubuh masyarakat akan menimbulkan konflik antara kelas atas

dan kelas bawah. Jadi, ada sedikitnya

empat hal yang penting dalam memahami teori konflik sosial, antara lain:

1. Kompetisi (atas kelangkaan sumberdaya seperti makanan, kesenangan, partner seksual, dan sebagainya. Dasar interaksi manusia bukanlah konsensus seperti yang ditawarkan fungsionalisme, namun lebih kepada kompetisi.

2. Terdapat ketidaksamaan struktural dalam hal kekuasaan.

3. Individu dan kelompok yang ingin mendapatkan keuntungan maksimal.

4. Perubahan sosial terjadi sebagai hasil dari konflik antara keinginan (interest) yang saling berkompetisi dan bukan sekadar adaptasi. Perubahan sosial sering terjadi secara cepat dan revolusioner daripada evolusioner.

2.6Teori Fungsionalisme Struktural

Teori Fungsionalisme Struktural mempunyai latar belakang kelahiran dengan mengasumsikan adanya kesamaan antara kehidupan organisme biologis dengan struktur sosial dan berpandangan tentang adanya keteraturan dan keseimbangan dalam masyarakat.Teori fungsionalisme struktural yang dibangun Talcott Parsons dipengaruhi oleh para sosiolog Eropa menyebabkan teorinya bersifat empiris, positivis dan ideal. Pandangannya tentang manusia besifat voluntaristik, artinya kerena tindakan tersebut didasarkan pada dorongan kemauan,


(59)

dengan mengindahkan nilai, ide dan norma yang disepakati.Dengan demikian, berarti dapat diambil garis besar dari pemikiran Parsons, bagaimana dia berfokus pada sebuah sistem atau tatanan yang ada dalam masyarakat serta sebuah sistem tindakan.Sebuah integrasi untuk menuju tatanan masyarakat ekuilibrium yang teratur dan berfungsi.

Pemikir fungsionalis menegaskan bahwa perubahan diawali oleh tekanan-tekanan kemudian terjadi integrasi dan berakhir pada titik keseimbangan yang selalu berlangsung tidak sempurna. Artinya teori ini melihat adanya ketidakseimbangan yang abadi yang akan berlangsung seperti sebuah siklus untuk mewujudkan keseimbangan baru. Variabel yang menjadi perhatian teori ini adalah struktur sosial serta berbagai dinamikanya.Penyebab perubahan dapat berasal dari dalam maupun dari luar sistem sosial. Teori fungsionalisme struktural memfokuskan kajian pada struktur makro (sosiologi makro) yakni pada sistem sosial, melalui teori ini Parsons menunjukkan pergeseran dari teori tindakan ke fungsionalisme struktural. Kekuatan teoritis Parsons terletak pada kemampuannya menggambarkan hubungan antara struktur sosial berskala besar dan pranata sosial. Prinsip-prinsip pemikiran Talcott Parsons, yaitu bahwa individu manusia memiliki tindakan yang diarahkan pada tujuan.Teori Fungsionalisme Struktural beranggapan bahwa masyarakat itu merupakan sistem yang secara fungsional terintegrasi ke

dalam bentuk keseimbangan.

Menurut Talcott Parsons dinyatakan bahwa yang menjadi persyaratan fungsional dalam sistem di masyarakat dapat dianalisis, baik yang menyangkut struktur maupun tindakan sosial, adalah berupa perwujudan nilai dan penyesuaian dengan lingkungan yang menuntut suatu konsekuensi adanya persyaratan fungsional. Parsons memandang suatu sistem haruslah memiliki fungsi -fungsi tertentu yang harus dipenuhi agar ada kelestarian sistem.Suatu fungsi adalah


(1)

DAFTAR TABEL

Tabel 01:Komposisi Penduduk Pancur Batu Berdasarkan Suku... 36 Tabel 02: Komposisi Penduduk Berdasarkan Pekerjaan………... 36 Tabel 03:Penghasilan Rata-rata Pekerja Anak Penjual Kantong


(2)

vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1: Pekerja anak sedang menawarkan kantong plastik yang dijualnya

kepada pembeli di pasar……… 67 Gambar 2: Pembeli di pasar membeli kantong plastik yang dijual oleh anak………. 67 Gambar 3: Aktivitas pekerja anak jika tidak berjualan kantong plastik di Pasar….… 68 Gambar 4: Pekerja anak penjual kantong plastik di Pasar Tradisional Pancur Batu… 68 Gambar 5: Keseharian Nenek Imma pekerja anak penjual kantong Plastik…………. 69 Gambar 6: Keseharian orang tua anak penjual kantong plastik………... 69 Gambar 7: Pekerja anak sedang berkeliling menjual kantong plastik……….. 70


(3)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Pedoman Wawancara ... 65 Lampiran 2: Dokumentasi Kegiatan ... 67


(4)

viii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………..…. i

KATA PENGANTAR ... ii

ABSTRAK ... iv

ABSTRAC ... iv

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

DAFTAR ISI... ... viii

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang……… 1

1.2 Rumusan Masalah……… 7

1.3 Tujuan Penelitian………. 7

1.4 Manfaat Penelitian………... 7

1.4.1 Manfaat Teoritis……… 7

1.4.2 Manfaat praktis……….. 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Partisipasi anak dalam kegiatan ekonomi keluarga………..….. 9

2.2 Peran dan Fungsi Keluarga……….….…… 12

2.2.1 Fungsi Keluarga………. 14

2.3 Kemiskinan dan Pekerja Anak………. 14

2.4 Sosial Ekonomi………..…..………… 21

2.5 Teori Konflik Sosial………... 21

2.6 Teori Fungsionalisme Struktural ……….. 22

2.7 Definisi Konsep……… 25

BAB III METOTE PENLITIAN 3.1 Jenis Penelitian……….. 27


(5)

3.3 Unit Analisis dan Informan……… 28

3.3.1 Unit Analisis……….………..………. 28

3.3.2 Informan………..……….……… 28

3.4 Teknik Pengumpulan Data……….………... 29

3.4.1 Data Primer……….…… 29

3.4.1 Data Sekunder……..……….…… 30

3.5 Interpretasi Data……… 30

3.6 Keterbatasan Penilitian………. 31

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Wilayah Penelitian ……….………... 32

4.1.1 Kedaan Geografis Kabupaten Deli Serdang……….. 32

4.1.2 Sejarah Terbentuknya Kecamatan Pancur Batu Medan……… 35

4.1.3 Keadaan Penduduk ……….………. 35

4.1.4 Pekerjaan………..………. 36

4.1.5 Keadaan wilayah pasar Tradisonal Pancur Batu………. 37

4.3 Profil Anak yang Bekerja sebagai Penjual Kantong Plastik di Pasar………… 38

4.4 Bentuk Partisipasi Pekerja Anak Dalam Memenuhi Kebutuhan Hidup Keluarga……… 45

4.4.1 Partisipasi Uang……… 45

4.4.2 Partisipasi Tenaga……… 49

4.5 Implikasi terhadap keluarga maupun anak atas partisipasi mereka di sektor informal………. 51

4.5.1 Terhadap Ekonomi Keluarga……… 51

4.5.2 Terhadap Pendidikan Anak……..………. 53

4.5.3 Terhadap Waktu Luang Anak……….. 55


(6)

x BAB V PENUTUP

5.1Kesimpulan………... 59

5.2Saran……….. 61

DAFTAR PUSTAKA……….… 62