Upaya meningkatkan hasil belajar kimia siswa dengan menggunakan model pembelejaran Problem Based Learning (PBL)

ABSTRAK
Achmad Saifudin (104016200427), Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Kimia
Siswa Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning
(PBL) (Penelitian Tindakan Kelas di MAN 12 Jakarta), Skripsi Jurusan
Pendidikan IPA/Kimia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, April 2010.
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar kimia siswa. Salah
satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar kimia siswa adalah dengan
menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
Penelitian ini dilakukan di MAN 12 Jakarta pada bulan November – Desember
2009 di kelas XI dengan subyek penelitian berjumlah 37 siswa. Metode penelitian
yang digunakan pada penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang
terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 pertemuan. Adapun pokok
bahasan yang dibahas adalah Kesetimbangan Kimia. Pengumpulan data dilakukan
melalui observasi, wawancara, dan tes hasil belajar.
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah Tes hasil belajar pada siklus I
nilai terendah siswa adalah 30, nilai tertinggi siswa adalah 90, dengan nilai ratarata siswa sebesar 61,19. Jumlah siswa yang telah mencapai nilai kriteria
ketuntasan minimal (KKM) sebanyak 19 siswa (51,35%). Pada siklus II nilai
terendah siswa adalah 55, nilai tertinggi 100, dengan nilai rata-rata kelas sebesar
76,89. Jumlah siswa yang telah mencapai nilai kriteria minimal (KKM) sebanyak
32 siswa (86,49%).
Kata kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah, Hasil Belajar.

ii

ABSTRACT
Achmad Saifudin (104016200427), Effort Increases To Usufruct Student
Chemical Studying By Use Of Learning Model Problem Based Learning
(PBL) (Classroom Action research at MAN 12 Jakarta), Skripsi Department
Education Of Science/Chemical, Faculty Science of Tarbiyah and
Teachership Of UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, April 2010.
To the effect this research is subject to be increase chemical studying result
student. One of effort to increase chemical studying result student is by use of
learning model Problem Based Learning (PBL).
This research is done at MAN 12 Jakarta on month of November – December
2009 at class XI by total research subject 37 students. Research method that used
on this research is Classroom Action Research (CAR) one that consisting of two
cycles. Each cycle consisting of 4 appointments. As for discussion fundamental
the studied is equilibrium of Chemical. Data collecting is done through
observation, interview, and essays studying result.
Acquired result in this research is Essay to usufruct studying on appreciative i.
cycle bottommost student is 30, students supreme point be 90, with student
average value as big as 61,19. Total student has already reach minimal
thoroughness criterion point (KKM) as much 19 students (51,35%). On cycle II.
point was contemned by student is 55, supreme point 100, with average value
brazes as big as 76,89. Total student has already reach minimal criterion point
(KKM) as much 32 students (86,49%).
Key word: Problem Based Learning (PBL), achievement.

iii

KATA PENGANTAR
Dengan mengucap syukur Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan taufik dan hidayah, ridho serta
inayah-Nya kepada seluruh hamba-Nya sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
Sholawat serta salam senantiasa terlimpah kepada junjungan Nabi Muhammad
SAW yang telah memberi tuntunan dan pedoman serta suri tauladan yang
senantiasa dapat kita contoh.
Skripsi ini disusun untuk melengkapi salah satu persyaratan dalam
memperoleh gelar sarjana pendidikan pada program studi IPA/Kimia. Skripsi ini
disusun berdasarkan hasil penelitian di MAN 12 Jakarta. Penulis menyadari masih
banyak kekurangan dan hambatan dalam penulisan skripsi ini. Hal ini dikarenakan
keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis, namun berkat motivasi dan
bantuan dari berbagai pihak maka hambatan tersebut dapat terselesaikan dengan
baik.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan dorongan baik moril
maupun materil, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Ucapan terima
kasih penulis sampaikan kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc., Ketua Jurusan Pendidikan IPA beserta staf dan
jajarannya.
3. Bapak Dedi Irwandi, M.Si., Ketua Program Studi Pendidikan Kimia dan
selaku Penasehat Akademik yang telah memberikan bimbingan kepada
penulis selama perkuliahan.
4. Ibu Dra. Etty Sofyatiningrum, M.Ed selaku Dosen Pembimbing I yang tulus
ikhlas penuh kesabaran dan perhatian membimbing serta mengarahkan penulis
untuk menyelesaikan skripsi ini.
5. Bapak Munasprianto Ramli, S.Si, M.A selaku Dosen Pembimbing II atas
motivasi dan saran yang berguna bagi penyusunan skripsi ini.

iv

6. Seluruh Dosen Pengajar pada Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
7. Bapak Drs. Akmad Djalalul Hadi selaku Kepala Sekolah MAN 12 Jakarta
beserta dewan guru dan staf yang telah memberikan izin dan bantuannya
ketika penulis mengadakan penelitian.
8. Bapak Abu Hasan, S.Pd selaku Guru Pamong di MAN 12 Jakarta yang telah
memberikan motivasi dan bantuan yang sangat besar kepada penulis.
9. Adik-adik MAN 12 Jakarta yang telah membantu peneliti dalam
melaksanakan penelitian.
10. Ibuku, adikku, dan keponakanku Akmal dan Akbar tercinta atas kesabaran dan
doanya serta kasih sayang yang telah diberikan kepada penulis. Almarhum
bapak semoga ini bisa menjadi kebanggaan bapak.
11. Teman-teman Pendidikan IPA/Kimia khususnya angkatan 2004, yaitu Abdul
Rahman S.Pd, Ikhwannudin, Priyo Agung S. Pd, Sadar dan lainnya yang telah
menemani penulis dalam menjalani hari-hari selama perkuliahan.
12. Teman-teman T9 (Tetap Sembilan), yaitu Yanuar, Maulana, Kardi, Bogi,
Rudi, Arif, Tri, dan Wiwit. Semoga tali persaudaraan kita terus terjalin.
13. Rita Hayati yang telah memberikan motivasi, semangat, dan memberikan
masukan yang bermanfaat sehingga skripsi ini selesai.
Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang
telah memberikan bantuan penyusunan skripsi ini. Dan atas semua bantuan
mereka, penulis tidak dapat memberikan apa-apa. Namun, penulis yakin ketulusan
hati mereka semua mudah-mudahan mendapat balasan yang setimpal dari Allah
SWT.
Penulis menyadari sepenuhnya, dalam penulisan skripsi ini masih banyak
kekurangan. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat
khususnya dalam perkembangan bidang pendidikan kimia.

Jakarta, Mei 2010
Penulis

v

DAFTAR ISI
ABSTRAK .......................................................................................................... ii
ABSTRACT....................................................................................................... iii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iv
DAFTAR ISI ...................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL .............................................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Identifikasi Masalah.......................................................................... 3
C. Pembatasan Masalah ......................................................................... 3
D. Perumusan Masalah .......................................................................... 4
E. Tujuan Penelitian .............................................................................. 4
F. Manfaat Penelitian ............................................................................ 4

BAB II KAJIAN TEORITIK DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL
INTERVENSI TINDAKAN
A. Belajar dan Hasil Belajar ................................................................ 5
1. Pengertian Belajar ....................................................................... 5
2. Prinsip-prinsip Belajar ................................................................ 6
3. Hasil Belajar................................................................................ 7
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar ....... 9
B. Pembelajaran Berdasarkan Masalah ............................................... 10
1. Pengertian PBL ........................................................................... 10
2. Manfaat Pembelajaran PBL ........................................................ 13
3. Ciri-ciri Pembelajaran PBL......................................................... 14
4. Tahap-tahap Pembelajaran PBL.................................................. 14
5. Karakteristik Pembelajaran PBL................................................. 15
6. Hasil Belajar dari Pembelajaran PBL ......................................... 16

vi

7. Lingkungan Pembelajaran PBL .................................................. 17
8. Kelebihan Pembelajaran PBL ..................................................... 19
9. Kekurangan Pembelajaran PBL .................................................. 20
C. Kesetimbangan Kimia..................................................................... 20
D. Bahasan Hasil-hasil Penelitian yang Relevan................................. 24
E. Pengajuan Konseptual Perencanaan Tindakan ............................... 26
F. Hipotesis Tindakan ......................................................................... 27

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian ......................................................... 28
B. Metode Penelitian dan Desain Intervensi Tindakan ....................... 28
C. Subyek dan Pihak yang Terkait dalam Penelitian........................... 31
D. Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian ..................................... 31
E. Tahapan Intervensi Tindakan.......................................................... 31
F. Hasil Intervensi Tindakan yang Diharapkan................................... 34
G. Data dan Sumber Data .................................................................... 34
H. Instrumen Pengumpul Data............................................................. 34
I. Teknik Pengumpulan Data.............................................................. 36
J. Teknik Pemeriksaan Keterpercayaan (Trusworthiness) Studi ........ 36
K. Analisis Data dan Interpretasi Hasil Analisis ................................. 39
L. Indikator Keberhasilan.................................................................... 41
M. Tindak Lanjut/Pengembangan Perencanaan Tindakan ................... 41

BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA, INTERPRETASI HASIL
ANALISIS, DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data Hasil Pengamatan................................................... 43
B. Pemeriksaan Keabsahan Data ......................................................... 59
C. Analisis Data ................................................................................... 60
D. Interpretasi Hasil Analisis............................................................... 61
E. Pembahasan Temuan Penelitian...................................................... 62

vii

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan .................................................................................... 66
B. Saran................................................................................................ 66
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

viii

DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 : Teknik Pengumpulan Data............................................................. 36
Tabel 3.2 : Kriteria Reliabilitas Instrumen....................................................... 38
Tabel 3.3 : Kriteria Indeks Kesukaran Soal ..................................................... 38
Tabel 3.4 : Pedoman Klasifikasi Daya Pembeda Soal ..................................... 39
Tabel 4.1 : Nilai Ulangan Harian Kimia Kelas XI IPA ................................... 43
Tabel 4.2 : Statistika Deskriptif Nilai Ulangan Harian Kimia ......................... 44
Tabel 4.3 : Tindakan Siklus I ......... ................................................................. 46
Tabel 4.4 : Hasil Lembar Observasi dan Catatan Lapangan Siklus I............... 47
Tabel 4.5 : Distribusi Nilai Hasil Belajar Kimia Siswa Siklus I ...................... 50
Tabel 4.6 : Statistik Deskriptif Nilai Hasil Belajar Kimia Siswa Siklus I ....... 50
Tabel 4.7 : Hasil Refleksi Siklus I . ................................................................. 51
Tabel 4.8 : Tindakan Siklus II........ ................................................................. 54
Tabel 4.9 : Hasil Lembar Observasi dan Catatan Lapangan Siklus II ............. 55
Tabel 4.10 : Distribusi Nilai Hasil Belajar Kimia Siswa Siklus II..................... 57
Tabel 4.11 : Statistik Deskriptif Nilai Hasil Belajar Kimia Siklus II................. 57
Tabel 4.12 : Hasil Tes Belajar Siklus I dan II .................................................... 61

ix

DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 : Diagram Desain Penelitian ........................................................... 30

x

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Silabus......................................................................................... 70
Lampiran 2 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ............................... 72
Lampiran 3 : Lembar Kerja Siswa (LKS) ........................................................ 86
Lampiran 4 : Soal Quiz..................................................................................... 108
Lampiran 5 : Kisi-kisi Tes Hasil Belajar .......................................................... 112
Lampiran 6 : Kisi-kisi Jawaban dan Penskoran Tes Hasil Belajar................... 118
Lampiran 7 : Soal Tes Hasil Belajar................................................................. 134
Lampiran 8 : Validitas dan Reliabilitas Instrumen Siklus I ............................. 139
Lampiran 9 : Hasil Tes Siklus 1 ....................................................................... 141
Lampiran 10 : Pedoman Wawancara.................................................................. 145
Lampiran 11 : Kutipan Hasil Wawancara .......................................................... 151
Lampiran 12 : Nama-nama Kelompok ............................................................... 162
Lampiran 13 : Perhitungan Tabel Distribusi Frekuensi...................................... 163
Lampiran 14 : Catatan Harian Peneliti ............................................................... 167
Lampiran 15 : Tabel Daftar Harga Kritik dari r product moment ...................... 173

xi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu pondasi yang menentukan
ketangguhan dan kemajuan suatu bangsa. Jalur pendidikan pun dapat
diperoleh melalui jalur pendidikan formal maupun jalur pendidikan non
formal. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dituntut untuk
melaksanakan proses pembelajaran yang baik dan seoptimal mungkin
sehingga dapat mencetak generasi muda bangsa yang cerdas, terampil dan
bermoral

tinggi.

Proses

pembelajaran

membantu

siswa

untuk

mengembangkan potensi intelektual yang dimilikinya, sehingga tujuan utama
pembelajaran adalah usaha yang dilakukan agar intelek setiap pelajar dapat
berkembang. 1
Pelaksanaan pembelajaran saat ini harus mengalami perubahan, di
mana siswa tidak boleh dianggap objek pembelajaran semata, tetapi harus
diberikan peran aktif serta dijadikan mitra dalam proses pembelajaran
sehingga siswa bertindak sebagai agen pembelajar yang aktif sedangkan guru
bertindak sebagai fasilitator dan mediator yang kreatif.
Ilmu kimia sebagai salah satu bidang kajian Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA) sudah mulai diperkenalkan sejak dini. Mata pelajaran kimia menjadi
sangat penting kedudukannya dalam masyarakat karena kimia selalu berada
di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari. Kimia adalah salah satu mata
pelajaran yang mempelajari mengenai materi dan perubahan yang terjadi di
dalamnya. Namun selama ini masih banyak siswa yang mengalami kesulitan
dalam memahami dan mengikuti pelajaran kimia. Hal ini tidak terlepas dari
materi yang dipelajari dalam kimia lebih bersifat abstrak.
Adanya kesulitan atau kekurangsenangan siswa terhadap pelajaran
kimia dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal yang berasal dari
1

Drost, J.S.S, Proses Pembelajaran Sebagai Proses Pendidikan, (Jakarta: PT Gramedia
Widiasarana Indonesia, 1999), h. 3

1

dalam diri siswa dan faktor eksternal yang berasal dari luar diri siswa. faktor
internal ini dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu faktor jasmani, faktor
psikologi,

dan

faktor

kelelahan.

Sedangkan

faktor

eksternal

yang

mempengaruhi siswa dalam kegiatan belajar adalah faktor keluarga, faktor
sekolah, dan faktor masyarakat. 2
Selama ini pembelajaran kimia di sekolah cenderung hanya berjalan
satu arah, di mana guru yang lebih banyak aktif memberikan informasi
kepada siswa sehingga hasil belajar yang dicapai siswa rendah.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan di
MAN 12 Jakarta ternyata hasil belajar kimia siswa kelas XI IPA MAN 12
Jakarta masih rendah yaitu nilai rata-rata untuk materi laju reaksi pada
ulangan harian I adalah 56,76 dengan nilai terendah 35 dan nilai tertinggi 80.
Dan nilai rata-rata untuk materi laju reaksi pada ulangan harian II adalah
59,19 dengan nilai terendah 40 dan nilai tertinggi 95. Rendahnya hasil belajar
kimia di kelas XI IPA di MAN 12 Jakarta tersebut menunjukkan rendahnya
pemahaman siswa terhadap konsep kimia. Hal ini disebabkan karena
pembelajaran didominasi dengan metode ceramah yang berpusat pada guru.
Guru lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran sebagai pemberi pengetahuan
bagi siswa. Akibatnya siswa memiliki banyak pengetahuan tetapi tidak dilatih
untuk menemukan pengetahuan dan konsep, sehingga siswa cenderung lebih
cepat bosan dalam mengikuti pelajaran yang berdampak pada rendahnya hasil
belajar.
Hasil wawancara dengan siswa tentang permasalahan dalam mata
pelajaran kimia, antara lain: kesulitan dalam memahami dan menghafal
konsep kimia yang abstrak, kesulitan dalam hitungan kimia karena kurangnya
latihan soal dan kesulitan mengkaitan konsep dengan kehidupan sehari-hari
yang mereka alami atau di lingkungan sekitar.
Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan melakukan terobosan
dalam pembelajaran kimia sehingga tidak menyajikan materi yang bersifat
2

Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 2003), h. 54.

2

abstrak, tetapi juga harus melibatkan siswa secara aktif di dalam
pembelajaran. Salah satunya adalah dengan menerapkan model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL). Pembelajaran ini diharapkan dapat menarik
minat dan keaktifan siswa untuk belajar kimia sehingga diharapkan hasil
belajarnya akan meningkat, karena siswa diajak untuk mencari informasi,
untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, melakukan
penyelidikan atau percobaan untuk menemukan konsep tentang materi
pelajaran. Dengan kegiatan ini diharapkan pemahaman siswa akan meningkat
yang berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk mengadakan
penelitian dengan judul ”Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Siswa
dengan Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning
(PBL)”.

B. Identifikasi Masalah
Penelitian ini dilakukan pada jenjang tingkat Madrasah Aliyah Negeri
(MAN) dengan fokus penelitian mengenai penggunaan Model Pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan Hasil Belajar Kimia
Siswa, dengan identifikasi masalah:
1.

Semangat belajar siswa kurang.

2.

Pemahaman konsep dan daya serap siswa masih rendah.

3.

Masih banyak siswa yang beranggapan bahwa pelajaran kimia sulit.

4.

Potensi siswa belum dimanfaatkan secara optimal.

5.

Cara mengajar masih dilakukan secara konvensional.

6.

Kurangnya sarana dan prasarana yang tersedia.

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas,
permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini dibatasi hanya pada :
1.

Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL).

3

2.

Hasil belajar yang dimaksud adalah peningkatan hasil belajar kimia pada
ranah kognitif.

3.

Materi pelajaran kimia pada penelitian ini adalah kesetimbangan kimia.

D. Perumusan Masalah
Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
”Bagaimana meningkatkan hasil belajar kimia siswa dengan model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL)?”

E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah:
1.

Untuk meningkatkan hasil belajar kimia siswa dengan menggunakan
model pembelajaran Problem based Learning (PBL).

2.

Untuk mengetahui respon siswa terhadap model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL).

3.

Untuk mengetahui apakah model pembelajaran Problem based Learning
(PBL) ini cocok untuk diterapkan pada materi kesetimbangan kimia.

F. Manfaat Penelitian
1.

Bagi guru. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan guru untuk
menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam
belajar kimia serta dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar
kimia siswa.

2.

Bagi siswa, yaitu meningkatkan hasil belajar kimia.

3.

Bagi para peneliti lain sebagai masukan atau bahan pertimbangan dalam
pengembangan penelitian yang sejenis di dunia pendidikan.

4

BAB II
KAJIAN TEORITIK DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL
INTERVENSI TINDAKAN

A. Belajar dan Hasil Belajar
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan tindakan dan prilaku individu yang kompleks,
kompleksitas belajar tersebut dapat dilihat dari dua subyek, yaitu dari
siswa dan guru. Menurut pendapat Chaplin menyatakan bahwa : Belajar
adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai
akibat latihan dan pengalaman. 1 Belajar dalam pengertian ini di dapat dari
adanya proses latihan dan pengalaman yang telah dilakukan, sehingga
terjadi perubahan tingkah laku yang relatif menetap pada diri siswa.
Pengertian belajar tersebut tidak selalu perubahan tingkah laku siswa
menunjukkan perubahan dalam arti belajar.
Menurut Tohirin perubahan berarti belajar apabila : (1) perubahan
yang terjadi secara sadar, (2) bersifat kontinu dan fungsioanal, (3)
perubahan bersifat positif dan aktif, (4) perubahan tidak bersifat
sementara, (5) bertujuan dan terarah, (6) perubahan mencakup
seluruh aspek tingkah laku. 2

Belajar merupakan kegiatan berproses, sudah tentu di dalamnya
terjadi perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor. Pembelajaran
yang menimbulkan interaksi belajar-mengajar antara guru dengan siswa
mendorong perilaku belajar siswa. Perilaku belajar merupakan proses
belajar yang dialami siswa. Bagi siswa, dalam kegiatan belajar ada tiga
tahap, yaitu tahap sebelum belajar, tahap selama belajar dan tahap sesudah
belajar. Keberhasilan dalam belajar yang dicapai merupakan akibat adanya

1

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. 65.
Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada, 2005), h. 53.
2

5

interaksi dari berbagai faktor. Menurut pendapat A. Tabrani Rusyan,
Atang Kusdinar dan Zainal Arifin faktor yang mempengaruhi keberhasilan
dalam belajar yaitu : Dari dalam diri (faktor internal) maupun luar diri
(faktor eksternal) individu. 3

Tergolong faktor internal adalah faktor

jasmani, faktor psikologi (kecerdasan, minat, sikap, motivasi, dll) dan
faktor kematangan (fisik maupun psikis). Tergolong faktor eksternal
adalah

faktor

lingkungan

social

(keluarga,

sekolah,

masyarakat,

kelompok), faktor budaya (adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi,
kesenian), lingkungan fisik (fasilitas rumah, fasilitas belajar, iklim) dan
faktor lingkungan spritual atau keagamaan.
Menurut teori condisionig dari Watson disebutkan bahwa faktor
yang terpenting dalam belajar adalah adanya latihan-latihan yang kontinu. 4
Latihan yang dilakukan secara terus-menerus dan teratur dapat membentuk
keterampilan berpikir dalam pemecahan masalah dan kebiasaan secara
otomatis dalam penguasaan bahan pelajaran.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan yang dimaksud
dengan belajar adalah sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku
individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi
dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.

2. Prinsip-prinsip Belajar
Menurut Slameto prinsip-prinsip belajar meliputi: 5
a. Berdasarkan prasyarat yang diperlukan untuk belajar
1) dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi aktif,
meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan
instruksional.

3

Tabrani Rusyan, Atang Kusdinar, dan Zainal Arifin, Pendekatan Dalam Proses Belajar
Mengajar (Bandung : Remaja Karya, 1992), h. 81.
4
Ngalim Purwanto, Pengantar Psikologi (Bandung : Remaja Karya, 1987), h. 93.
5
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. (Jakarta:
Rineka Cipta, 2003), h. 27

6

2) belajar dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang
kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional.
b. Sesuai hakikat belajar
1) belajar

itu

proses

kontinyu,

maka

harus

tahap

demi

tahap menurut perkembangannya.
2) belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan
discovery.
3) belajar

adalah

pengertian

yang

proses

kontinguitas

satu dengan

(hubungan

pengertian

yang

antara
lain)

sehingga mendapatkan pengertian yang diharapkan. Stimulus
yang diberikan menimbulkan respon yang diharapkan
c. Sesuai materi yang harus dipelajari.
1) belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki
struktur,

penyajian yang sederhana, sehingga siswa mudah

menangkap pengertiannya
2) belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu
sesuai dengan tujuan instruksioanl yang harus dicapainya
d. Syarat keberhasilan belajar.
1) belajar memerlukan sarana yang cukup, sehingga siswa dapat
belajar dengan tenang
2) repetisi dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali agar
pengertian/ketrampilan/sikap itu mendalam pada siswa.

3. Hasil Belajar
Pembelajaran yang menimbulkan interaksi belajar-mengajar antara
guru-siswa mendorong perilaku belajar siswa. Proses belajar-mengajar
sangat diperlukan hubungan aktif antara guru dan siswa. Hubungan aktif
itu bukan merupakan hubungan aktif tanpa tujuan melainkan hubungan
aktif yang diikat oleh tujuan pengajaran. Tujuan ini pada dasarnya
merupakan rumusan tingkah laku dan kemampuan-kemampuan yang harus

7

dicapai dan dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Isi
tujuan pengajaran pada hakekatnya adalah hasil belajar yang diharapkan.
Hasil belajar sering kali dikaitkan dengan perubahan tingkah laku.
Perkataan tingkah laku dapat diartikan secara harfiah, dapat juga diartikan
dengan makna konotasinya. Tingkah laku diartikan secara harfiah berarti
bahwa setelah proses belajar mengajar selesai, siswa mempunyai tingkah
laku yang lebih baik atau yang berbeda daripada tingkah laku sebelumnya.
Sedangkan, tingkah laku yang dapat diamati dan segera nampak perubahan
tingkah laku sebagai hasil proses belajar mengajar. Perubahan tingkah laku
tersebut dalam arti konotasinya. 6
Hasil belajar menurut Sudiyarto menyebutkan bahwa hasil belajar
adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti
program belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang
ditetapkan. 7 Keterampilan atau penguasaan yang diperoleh siswa tersebut
dapat dikatakan hasil belajar.
Benyamin Bloom dalam buku karya Sudjana secara garis besar
membaginya menjadi tiga kategori yaitu : (a) ranah kognitif
berkenaan dengan hasil belajar intelektual, (b) ranah afektif
berkenaan dengan sikap, (c) ranah psikomotoris berkenaan dengan
hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. 8

Diantara ketiga ranah tersebut ranah kognitiflah yang paling
banyak dinilai oleh para guru di sekolah. Karena berkaitan dengan
kemampuan para siswa dalam menguasai isi atau materi bahan pengajaran.
Proses belajar-mengajar di sekolah guru harus mengetahui hasil belajar
yang telah dicapai atau dimiliki siswa setelah menerima pengalaman
belajar. Dengan mengetahui hasil belajar yang telah dicapai siswa, dapat

6

H.Y. Waluyo, Baderi, H. Warkitri, Eddy Legowo, Sutarno, Penilaian Pencapaian Hasil
Belajar (Jakarta : Karunika Univesitas Terbuka, 1987), h. 22.
7
H.Y. Waluyo, Baderi, H. Warkitri, Eddy Legowo, Sutarno, Penilaian Penca… , h. 24.
8
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung : Remaja Rosda
Karya, 1990), h. 22.

8

diambil tindakan perbaikan pengajaran dan perbaikan terhadap siswa yang
mengalami kesulitan. Misalnya dengan melakukan perubahan strategi
pengajaran dan memberikan bantuan belajar dan bimbingan kepada siswa.
Untuk mengetahui hasil belajar siswa biasanya guru memberikan
tes hasil belajar kepada siswa. Hasil tes inilah guru melakukan tindakantindakan yang dianggap perlu, guna pencapaian hasil belajar siswa secara
optimal.
Berdasakan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan yang
dimaksud dengan hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa
setelah melakukan kegiatan belajar.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya
tetapi secara umum dapat digolongkan menjadi dua macam yaitu
faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada
dalam diri individu yang sedang belajar sedangkan faktor ekstern
adalah faktor yang ada di luar individu.
a. Faktor intern meliputi faktor jasmaniah dan faktor psikologis
(intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan).
b. Faktor ekstern meliputi faktor keluarga (cara orang tua mendidik,
relasi antar anggota keluarga, keadaan ekonomi keluarga, suasana
rumah, pengertian orang tua), faktor sekolah (metode mengajar,
kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa,
disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar belajar
diatas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, tugas rumah) dan
faktor masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media,
teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat).

9

B. Pembelajaran Berdasarkan Masalah atau Problem Based Learning
(PBL)
1. Pengertian Problem Based Learning (PBL).
Problem

Based

Learning

(PBL)

merupakan

pelaksanaan

pembelajaran berangkat dari sebuah kasus tertentu dan kemudian dianalisis
lebih lanjut guna untuk ditemukan pemecahan masalahnya, dan merupakan
salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi
belajar aktif kepada siswa. 9

PBL adalah metode belajar yang

menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan
mengintegrasikan pengetahuan baru. 10
Menurut Howard Barrows dan Ann Kelson, PBL adalah suatu
kurikulum dan proses. Kurikulumnya berisi masalah-masalah telah
diseleksi dan dibuat sedemikian rupa yang menuntut pendidikan
memperoleh pengetahuan yang kritis, kemampuan bekerjasama dalam
kelompok. Prosesnya menggunakan pendekatan sistematik untuk dapat
memecahkan masalah atau tantangan yang dihadapi dalam kehidupan dan
pekerjaan. 11
(Ward, 2002; Stepien, dkk, 1993) yang dikutip I Wayan bahwa
PBL adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk
memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga
siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah
tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah,
dan lebih lanjut Boud dan Felleti (1997), menyatakan bahwa PBL adalah
suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat konfrotasi kepada

9

I Wayan Dasna dan Sutrisno, Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based
Learning), dari http://lubisgrafura.wordpress.com, Diakses kamis, 15 Januari 2009
10
Wianti Aisyah, dkk, Pembelajaran Melalui Metode PBL (Problem Based Learning)
dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan, Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran dari
http://Wiantimultiply.com/journal/item/7/LKTM, Diakses kamis, 15 Januari 2009
11
James
Rhem,
Problem-based
Learning,
dari
http:///www.ntlf.com/html/pi/9812/pbl_.htm , diakses kamis, 15 Januari 2009

10

pembelajar (siswa/mahasiswa) dengan masalah-masalah praktis, berbentuk
illstructured atau open ended melalui stimulus dalam belajar. 12
PBL adalah suatu pendekatan pengajaran yang mana masalah rumit
bertindak sebagai konteks dan stimulasi untuk belajar di dalam kelas PBL,
siswa bergabung dengan kelompok untuk memecahkan satu atau lebih
masalah yang berhubungan dengan dunia nyata. 13
Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan pembelajaran
dengan pendekatan konstruktivis, sebab disini guru berperan sebagai
penyaji masalah, penanya, mengadakan dialog, pemberi fasilitas
penelitian, menyiapkan dukungan dan dorongan yang dapat meningkatkan
inkuiri dan intelektual peserta didik. 14
Model pembelajaran berbasis masalah yaitu suatu pendekatan
pembelajaran yang menggunakan masalah faktual sebagai suatu konteks
bagi siswa untuk belajar berpikir kritis dan terampil dalam pemecahan
masalah, sehingga mereka memperoleh pengetahuan dan konsep-konsep
yang esensial dari materi pembelajaran. 15
Problem

based

learning

menurut

Pujiriyatno

merupakan

pelaksanaan pembelajaran yang berangkat dari sebuah kasus tertentu dan
kemudian dianalisis lebih lanjut guna ditemukan pemecahan masalahnya.
Rasional Problem based learning adalah menghadapkan peserta didik
kepada sebuah persoalan yang menantang, dan dari persoalan tersebut
secara

aktif

dituntut

untuk

mencoba

alternative

penyelesaian

masalahnya. 16

12

I Wayan Dasna dan Sutrisno, Pembelajaran Berbasis..., Diakses 15 Januari 2009
Claire H. Major dan Basty Palmer, Assesing the Effectiveness of Problem-Based
Learning in Hingher Education, dari http:/www.rapidntellech.com/AEQweb/mop4spr01.htm,
diakses Senin, 19 Januari 2009
14
Nurhayati Abbas, Penerapan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem
Based Instruction) dalam Pembelajaran Matematika di SMU, dalam Jurnal Pendidikan dan
Kebudayaan, Jakarta, November 2004 Tahun ke-10, No. 051, h. 834
15
Standar
Penilaian
dan
Buku
Pelajaran
Sosial
SD
SMP,
dari
www.dikdasdki.go.id/download/standarbuku/ips.doc. diakses Senin, 19 Januari 2009
16
Pujiriyanto, Pembelajaran Animasi Komputer Menggunakan Metode Experiental
Learning, Problem Based Solving dan Goal Scenario Based Learning, dalam majalah Ilmiah
Pembelajaran, No 1 Vol 1, Mei 2005, h. 30
13

11

Menurut Ibrahim dan Nur (2002) pembelajaran berdasarkan
masalah merupakan salah satu bentuk pengajaran yang memberikan
penekanan untuk membantu siswa menjadi pembelajar yang mandiri dan
otonom. Melalui bimbingan yang diberikan secara berulang akan
mendorong mereka mengajukan pertanyaan, mencari penyelesaian
terhadap masalah konkrit oleh mereka sendiri serta menyelesaikan tugastugas tersebut secara mandiri. 17
PBL merupakan suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan
masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar
berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk
memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. 18
Model pembelajaran berbasis masalah akan memberikan wahana
bagi tumbuh dan berkembangnya keterampilan pemecahan masalah
berdasarkan pola-pola penalaran yang rasional, analitis, sintesis, dan
reflektif. Disamping itu juga memberi peluang kepada siswa untuk
mengembangkan keterampilan berpikir hipotetik, berpikir komoinatoral,
berpikir divergen, serta latihan metakognisi. 19
Menurut Arends dalam Nurhayati pembelajaran seperti ini hanya
dapat terjadi jika guru dapat menciptakan lingkungan kelas yang terbuka
dan membimbing pertukaran gagasan. Untuk itu perlu didukung oleh
sumber belajar yang memadai bagi peserta didik, alat-alat untuk menguji
jawaban atau dugaan, perlengkapan kurikulum, tersedianya waktu yang
cukup, serta kemampuan guru dalam mengangkat dan merumuskan

17

Latifah, Upaya Meningkatkan Proses dan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas 6 SD Negeri
Loktabat 1 melalui Pembelajaran Berdasarkan Masalah, Word Press, dari
http://latifah04.wordpress.com, diakses rabu, 21 Januari 2009.
18
Nurhayati Abbas, Penerapan Model Pembelajaran…, h. 833
19
I Wayan Sadia, Pengembangan Kemampuan Berpikir Formal Siswa SMA Melalui
Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Cycle Learning dalam
Pembelajaran Fisika, dalam Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, Jakarta, No. 1
Th.XXXX Januari 2007, h. 4

12

masalah agar tujuan tercapai 20 , dan secara umum selama pembelajaran
PBL guru bertindak sebagai fasilitator atau pelatih metakognitif. 21
Dalam model PBL, fokus pembelajaran ada pada masalah yang
dipilih sehingga siswa tidak saja mempelajari konsep-konsep yang
berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk memecahan
masalah tersebut. Oleh sebab itu, siswa tidak saja harus memahami konsep
yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat perhatian tetapi juga
memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan dengan keterampilan
menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan
pola berpikir kritis.
Maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berdasarkan masalah
adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa untuk memecahkan suatu
masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat
mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut.

2. Manfaat pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Pembelajaran

berdasarkan

masalah

tidak

dirancang

untuk

membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa.
Pembelajaran berdasarkan masalah dikembangkan untuk membantu siswa
mengembangkan

kemampuan

berpikir,

pemecahan

masalah,

dan

keterampilan intelektual, belajar berbagai peran orang dewasa melalui
pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi, dan menjadi
pembelajar yang otonom dan mandiri. Menurut Sudjana manfaat khusus
yang diperoleh dari metode Dewey adalah metode pemecahan masalah.
Tugas guru adalah membantu para siswa merumuskan tugas-tugas, dan

20

Nurhayati Abbas, Penerapan Model Pembelajaran…, h. 835
Jefrfrey A. Nowak dan Jonathan A. Plucker, Stundent Assesment in Problem Based
Learning,
Indiana
University
School
Education,
dari
http://www.indiana.edu./legobost/q515/pbl.html
21

13

bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran. Objek pelajaran tidak dipelajari
dari buku, tetapi dari masalah yang ada di sekitarnya. 22

3. Ciri-ciri pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Nurhayati mengemukakan bahwa PBL memiliki ciri-ciri sabagai
berikut: 23
a. Mengajukan pertanyaan atau masalah.
b. Berfokus pada keterkaitan antardisiplin.
c. Penyelidikkan autentik.
d. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya.
e. Kerja sama.

4. Tahap-tahap pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Menurut Nurhayati, pelaksanaan model pembelajaran berdasarkan
masalah meliputi lima tahapan, yaitu: 24
a. Orientasi siswa terhadap masalah autentik. Pada tahap ini guru
menjelaskan

tujuan

pembelajaran,

menjelaskan

logistik

yang

diperlukan, memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan
masalah, dan mengajukan masalah.
b. Mengorganisasikan peserta didik. Pada tahap ini guru membagi peserta
didik ke dalam kelompok, membantu peserta didik mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah.
c. Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok. Pada tahap ini
guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang
sesuai, melaksanakan eksperimen dan penyelidikan untuk mendapatkan
penjelasan dan pemecahan masalah.

22

Anwar
Holil,
Model
Pembelajaran
Berdasarkan
Masalah,
http://anwarholil.blogspot.com/2009/01/model -pembelajaran-berdasarkan-masalah.html
23
Ida Bagus Putu Aryana, dkk, Penerapan Model PBL…, h. 236
24
Nurhayati Abbas, Penerapan Model Pembelajaran…, h. 833

14

dari

d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Pada tahap ini guru
membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya
yang sesuai.
e. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Pada tahap
ini guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi
terhadap penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan.
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam merancang
program pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sehingga proses
pembelajaran benar-benar menjadi berpusat pada siswa (student center)
adalah sebagai berikut: 25
a. Fokuskan permasalahan, sekitar pembelajaran konsep-konsep sains
yang esensial dan strategis.
b. Berikan kesempatan kepada siswa untuk mengevaluasi gagasannya
melalui eksperimen atau studi lapangan. Siswa akan menggali data-data
yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
c. Berikan kesempatan kepada siswa untuk mengelola data yang mereka
miliki yang merupakan proses latihan metakognisi.
d. Berikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan solusisolusi yang mereka kemukakan. Penyajiannya dapat dilakukan dalam
bentuk seminar atau publikasi atau dalam bentuk penyajian poster.

5. Karakteristik pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
PBL memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: 26
a. Belajar dimulai dengan suatu masalah.
b. Memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia
nyata siswa.
c. Mengorganisasikan pelajaran diseputar masalah, bukan diseputar
disiplin ilmu.

25
26

I Wayan Sadia, Pengembangan Kemampuan Berpikir…, h. 6-7
I Wayan Sadia, Pengembangan Kemampuan Berpikir…, h. 3

15

d. Memberikan tanggung jawab yang besar kepada pembelajar dalam
membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka
sendiri.
e. Menggunakan kelompok kecil.
f. Menuntut siswa untuk mendemostrasikan apa yang telah mereka
pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja.
Sedangkan menurut Barrows (1996) karakteristik pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) meliputi: 27
a. Metode pengajaran yang lebih berbasis siswa dibanding dengan
pengajaran tradisional satu arah.
b. Pembelajaran dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil.
c. Guru berfungsi sebagai pengarah atau fasilitator.
d. Persoalan yang diberikan menjadi fokus dan stimulus pembelajaran.
e. Permasalahan yang diberikan menjadi sarana membangun kemampuan
pemecahan masalah.
f. Informasi baru diperoleh melalui belajar mandiri.

6. Hasil belajar (outcome) dari pembelajaran Problem Based Learning
(PBL)
Lebih lanjut Arends (2004) menyatakan bahwa ada tiga hasil
belajar (outcome) yang diperoleh pembelajar yang diajar dengan PBL
yaitu: 28
a. Inkuiri dan Keterampilan melakukan pemecahan masalah.
b. Belajar model peraturan orang dewasa (adult role benaviors).
c. Keterampilan belajar mandiri.

27

Erkan Polatdemir, Pembelajaran dengan Permasalahan (Problem Based Learning) dan
Fisika
Kuantum,
dalam
Jurnal
Republik
Pusat
Sain
dan
Matematika,
Kharismabangsa.or.id/ppt/erkan.ppt
28
I Wayan Dasna dan Sutrisno, Pembelajaran Berbasis Masalah…, h. 2

16

7. Lingkungan pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Pembelajaran PBL dapat diterapkan bila didukung lingkungan
balajar

yang

konstruktivistik.

Lingkungan

belajar

konstruktivistik

mencakup beberapa faktor yaitu: 29
a. Kasus-kasus berhubungan, membantu siswa untuk memahami pokokpokok permasalahan secara implisit. Kasus-kasus berhubungan dapat
membantu siswa belajar mengidentifikasi akar masalah atau sumber
masalah utama yang berdampak pada munculnya masalah lain.
Kegiatan belajar seperti itu dapat membantu pembelajar meningkatkan
kemampuan berpikir kritis yang sangat berguna dalam kehidupan
sehari-hari.
b. Fleksibel kognisi, yaitu mempresentasi materi pokok dalam upaya
memahamikompleksitas yang berkaitan dengan domain pengetahuan.
Fleksibilitas

kognisi

kesempatan

bagi

dapat

siswa

ditingkatkan

untuk

dengan

memberikan

memberikan

ide-idenya,

yang

menggambarkan pemahamannya terhadap permasalahan. Fleksibilitas
kognisi dapat menumbuhkan kreativitas berpikir divergen di dalam
mempresentasikan masalah. Dari masalah yang siswa terapkan, mereka
dapat mengembangkan langkah-langkah pemecahan masalah, mereka
dapat mengemukakan ide pemecahan yang logis. Ide-ide tersebut dapat
didiskusikan dahulu dalam kelompok kecil sebelum dilaksanakan.
c. Sumber-sumber informasi, bermanfaat bagi siswa dalam menyelidiki
permasalahan. Informasi dikonstruksi dalam model mental dan
perumusan hipotesis yang menjadi titik tolak dalam memanipulasi
ruang permasalahan. Dalam konteks belajar sains (kimia), pengetahuan
sains yang dimiliki siswa terhadap masalah yang dipecahkan dapat
digunakan sebagai acuan awal dan dalam penelusuran bahan pustaka
sesuai dengan masalah yang mereka pecahakan.

29

I Wayan Dasna dan Sutrisno, Pembelajaran Berbasis Masalah…, h. 4

17

d. Cognitive tools, merupakan bantuan bagi siswa pelajar untuk
meningkatakan kemampuan menyelesaikan tugas-tugasnya. Cognitive
tools membantu pembelajar untuk mempresentasikan apa yang
diketahuinya atau apa yang dipelajarinya, atau melakukan aktivitas
berpikir melalui pemberian tugas-tugas.
e. Pemodelan yang dinamis, adalah pengetahuan yang memberikan caracara berpikir dan menganalisis, mengorganisasi, dan memberikan cara
untuk mengungkapkan pemahaman mereka terhadap suatu penomena.
Pemodelan membantu siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan,
”apa yang saya ketahui” dan ”apa artinya”.
f. Percakapan dan kolaborasi, dilakukan dengan diskusi dalam proses
pemecahan masalah. Diskusi secara tidak resmi dapat menumbuhkan
suasana kolaborasi. Diskusi yang intensif dimana terjadi proses
menjelaskan dan memperhatikan penjelasan peserta diskusi dapat
membantu siswa mengembangkan komunikasi ilmiah, argumentasi
yang logis, dan sikap ilmiah.
g. Dukungan sosial dan kontekstual, berhubungan dengan bagaimana
masalah yang menjadi fokus pembelajaran dapat membuat siswa
termotivasi untuk memecahkannya. Dukungan sosial dalam kelompok,
adanya kondisi yang paling termotivasi antar pembelajar dapat
menumbuhkan kondisi ini. Suasana kompetitif antar kelompok juga
dapat mendukung kinerja kelompok. Dukungan sosial dan kontekstual
hendaknya dapat diakomodasi oleh para guru untuk mensukseskan
pelaksanaan pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa pembelajaran
PBL sebaiknya digunakan dalam pembelajaran karena: 30
a. Dengan pembelajaran PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Siswa
yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan
menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui

30

I Wayan Dasna dan Sutrisno, Pembelajaran Berbasis Masalah…, h. 5

18

pengetahuan yang diperlukan. Artinya belajar tersebut ada pada konteks
aplikasi konsep. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas
ketika siswa berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan.
b. Dalam situasi pembelajaran PBL, siswa mengintegrasikan pengetahuan
dan keterampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam
konteks yang relevan. Artinya, apa yang mereka lakukan sesuai dengan
keadaan nyata bukan lagi teoritis sehingga masalah-masalah dalam
aplikasi suatu konsep atau teori mereka akan tenukan sekaligus selama
pembelajaran berlangsung.
c. Pembelajaran PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis,
menumbuhkan inisiatif siswa dalam bekrja, motivasi internal untuk
belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam
bekerja kelompok.

8. Kelebihan pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Kelebihan

penggunaan

pembelajaran

berdasarkan

masalah

adalah: 31
a. Siswa lebih memahami konsep yang diajarkan sebab mereka sendiri
menemukan konsep tersebut.
b. Melibatkan

secara

aktif

memecahkan

masalah

dan

menuntut

keterampilan berpikir siswa yang lebih tinggi.
c. Pengetahuan tertanam berdasarkan skema yang dimiliki siswa sehingga
pembelajaran lebih bermakna.
d. Siswa dapat merasakan manfaat pembelajaran sebab masalah-masalah
yang diselesaikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata, hal ini
dapat meningkatkan motivasi dan keterkaitan pembelajar terhadap
bahan yang dipelajari.

31

Mustaji dan Ketut Arthana, Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah untuk
Mengembangkan Kemampuan Mahasiswa dalam Memecahkan Masalah, dalam Laporan
Penelitian (Surabaya: Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Universitas Negri
Surabaya, 2005), h. 21

19

e. Menjadikan siswa lebih mandiri dan lebih dewasa, mampu memberi
aspirasi dan menerima pendapat orang lain, menenamkan sikap sosial
yang positif diantara pembelajar.
f. Pengkondisian siswa dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi
terhadap pembelajar dan temannya sehingga pencapaian ketuntasan
belajar pembelajar dapat diharapkan.

9. Kekurangan pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Kekurangan penggunaan model pembelajaran berdasarkan
masalah adalah: 32
a. Untuk siswa yang malas tujuan dari motede tersebut tidak dapat
tercapai.
b. Membutuhkan banyak waktu dan dana.
c. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini.
C. Kesetimbangan Kimia 33
1. Pengertian Kesetimbangan Kimia
Reaksi kimia dapat berlangsung dalam dua jenis. Ada yang
berlangsung satu arah (irreversibel) dan dua arah (reversibel). Reaksi
irreversible merupakan reaksi yang tidak dapat balik, sedangkan reaksi
reversibel terjadi jika produk suatu sistem kimia bereaksi membentuk zatzat asli. Dalam reaksi kimia yang reversibel terdapat suatu kondisi
kesetimbangan kimia karena terdapat sepasang reaksi yang berlawanan
yakni reaksi maju dan reaksi yang berlangsung mundur. Pada saat
setimbang terdapat campuran zat reaktan dan zat produk dalam
perbandingan.
2. Reaksi Setimbang

32

Kiranawati, Pembelajaran Berdasarkan Masalah, dari http://gurupkn.wordpress.com,
diakses Sabtu, 24 januari 2009
33
Michael Purba, Kimia 2000Untuk Kelas 2 Jilid 2A, (Jakarta: Erlangga, 2000), h. 79

20

Berikut ini contoh reaksi reversibel dari awal reaksi sampai dengan
tercapainya kondisi reaksi seimbang. Reaksi antara gas N2 dan gas H2 yang
arah reaksinya ke kanan membentuk gas NH3
N2(g) + 3H2(g) → 2NH3(g)
Ketika bereaksi, konsentrasi N2 dan gas H2 semakin lama semakin
berkurang. Sebaliknya konsentrasi N

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

94 2582 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 669 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 566 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 366 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 497 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

42 838 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 745 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 470 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 686 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

29 827 23