Manajemen strategi pengembangan potensi anak yayasan rumah yatim Ar-Rohman Indonesia Pamulang, Tangerang Selatan

MANAJEMEN STRATEGI
PENGEMBANGAN POTENSI ANAK
YAYASAN RUMAH YATIM AR-ROHMAN INDONESIA
PAMULANG, TANGERANG SELATAN

Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh
Aldi Ryan Yudistira
NIM: 109054100004

PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1434 H./2014 M.

ABSTRAK

ALDI RYAN YUDISTIRA
Manajemen Strategi Pengembangan Potensi Anak Yayasan Rumah Yatim
Ar-rohman Indonesia Pamulang, Tangerang Selatan.
Anak adalah anugerah dan setiap anak dilahirkan dalam kondisi “cerdas”.
Selain itu anak adalah generasi penerus dan pewaris cita-cita perjuangan bangsa
yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan pembangunan. Untuk menjadi
sumber daya manusia yang berkualitas, anak mempunyai hak dan kebutuhan
hidup yang harus dipenuhi. Kenyataannya saat ini masih banyak anak yang belum
terpenuhi hak dan kebutuhannya, salah satu faktor penyebabnya adalah
kemiskinan. Untuk itu dibentuklah organisasi pemerintah dan non-pemerintah
untuk mengatasi masalah ini. salah satu organisasi non-pemerintahnya adalah
Yayasan Rumah Yatim Ar-rohman Indonesia. Tujuan dari didirikannya Yayasan
Rumah Yatim Ar-rohman Indonesia adalah untuk mengelola anak yatim dan
dhuafa supaya memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang
lebih gemilang. Untuk mencapai tujuan dibutuhkan proses pengelolaan strategi.
Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana manajemen strategi yang
dilakukan Yayasan Rumah Yatim Ar-rohman Indonesia dalam mengembangkan
potensi diri anak asuhnya dan hasilnya. Metode penelitian yang digunakan adalah
metode penelitian kualitatif. Dalam melakukan analisa data, penulis menggunakan
analisis deskriptif, sehingga dapat dijabarkan dengan jelas bagaimana Yayasan
Rumah Yatim Ar-rohman Indonesia melakukan proses manajemen strategi untuk
mengembangkan potesi anak dan hasil yang diperoleh setelah melakukan
manajemen strategi.
Melalui hasil penelitian diketahui bahwa Yayasan Rumah Yatim Arrohman Indonesia belum melakukan manajemen strategi secara tertulis tetapi
dalam mencapai tujuannya melakukan proses manajemen strategi. Ada 3 tahap
dalam manajemen strategi yaitu perumusan strategi yaitu perencanaan awal yang
dilakukan berdasarkan misi dengan menggunakan analisis SWOT diketahui
kekurangan dan ancaman organisasi adalah banyaknya anak asuh, jumlah tenaga
kerja yang minim dan kurangnya pengawasan. Kemudian merencanakan rencana
jangka panjang sehingga menghasilkan program seperti yatim apartemen, smart
scholarship dan school of life. Selanjutnya tahap implementasi yaitu pelaksanaan
dari program yang sudah dirumuskan dengan melibatkan staf-staf yang ada di
asrama. Mereka bekerja sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing. Terakhir
tahap evaluasi strategi, evaluasi dilakukan dalam kurun waktu satu bulan dan satu
tahun oleh kepala asrama dengan manajer area yang menghasilkan tujuan yang
sudah tercapai dan tujuan yang belum tercapai. Hasil evaluasi berubah setiap
tahunnya sesuai dengan faktor internal dan eksternal. Hasil dari proses manajemen
strategi dalam mengembangkan potensi diri yang dilakukan Yayasan Rumah
Yatim Ar-rohman Indonesia adalah kembalinya hak-hak yang dimiliki anak
seperti hak mendapatkan pendidikan dan hak mendapatkan kehidupan lebih baik.
Bartambahnya ilmu pengetahuan dan meningkatnya keterampilan diri anak asuh.

i

KATA PENGANTAR

Hanya ucapan alhamdulillahi rabbil alamin yang tiada terkira penulis
panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Besar, Maha Pengasih dan Maha
Penentu Segalanya karena dengan kasih sayangNya, ridhoNya, kebesaranNya
telah memberikan kelancaran serta kemudahan bagi penulis untuk menyelesaikan
skripsi dengan judul “Manajemen Strategi Pengembangan Potensi Anak
Yayasan Rumah Yatim Ar-rohman Indonesia Pamulang, Tangerang
Selatan”.
Skripsi ini penulis persembahkan teruntuk kedua orang tua tercinta, papa
Soleh Idris dan mama Eni Rochiana yang senantiasa ada, selalu menemani,
mendoakan, mendukung dan menerima segala yang telah, sedang dan akan
penulis lakukan. Capek, stress, mumet, pusing, males, tidak berarti jika mengingat
semua kasih sayang papa dan mama. Sekarang tiba waktunya bagi penulis untuk
melakukan apapun demi kebahagiaan papa dan mama, meski tidak akan pernah
terbayarkan. Sebagai langkah awal, inilah hasil didikan bijaksana papa dan mama
selama ini kepada penulis dalam bentuk prestasi akademik. Semoga papa dan
mama bangga dan bahagia.
Banyak kesulitan yang penulis hadapi dalam menyelesaikan skripsi ini
menjadi mudah sekali dilalui berkat kemudahan dari orang-orang

baik hati

disekitar penulis. Doa, dorongan, bimbingan serta bantuan yang diberikan
sungguh sangat berarti bagi penulis. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima
kasih yang dalam kepada:

ii

1. Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA dan segenap
civitas akademik UIN Jakarta yang telah menyediakan fasilitas dan wadah
bagi penulis dan kawan-kawan mahasiswa untuk mengembangkan potensi
diri.
2. Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Dr. Arief Subhan,
M.Ag beserta jajaran Pudek-Pudek Fakultas atas keramahan, perhatian,
teguran, nasihat, bimbingan daan ketidak terbatasan pelimpahan ilmunya
kepada penulis selama 4 (empat) tahun kuliah di UIN Jakarta.
3. Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan Program Studi Kesejahteraan Sosial,
Siti Napsiyah, MSW dan Ahmad Zaky, M.Si.
4. Budi Rahman Hakim, MSW, selaku dosen pembimbing akademik dan
dosen pembimbing skripsi penulis atas keseluruhan masukan dan
arahannya yang simple dan lugas.
5. Dosen-dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial tercinta dan favorit
selama kuliah di UIN Jakarta yang telah banyak membantu sehingga
penulis bisa seperti sekarang ini.
6. Kepala Asrama Yayasan Rumah Yatim Ar-Rohman Indonesia Pamulang,
Tangerang Selatan beserta staf-staf yang dengan tangan terbuka telah
mengizinkan penulis melakukan penelitian tentang lembaganya.
7. Kepada segenap keluarga besar penulis, Uti “atas do’a tulus dan
nasihatnya”, Mbak Nia thanks udah support dana dalam terbitnya skripsi
penulis dan do’a yang tulus. Pakde Anas, Om Nunus, Om Dadan, Bude
Siti, Bude Ida, Om Dolly, Tante Ely yang tanpa pamrih selalu tulus
mendoakan serta membantu pengerjaan skripsi ini agar cepat selesai.

iii

8. Bang Gozali Nasution yang selalu memberi masukan dalam perbaikan
skripsi penulis dan terima kasih sudah menjadi pembimbing kedua buat
penulis.
9. Dan terakhir juga yang terpenting , untuk semua sahabat-sahabat KESSOS
angkatan 2009 terbaik, terhebat, terheboh yang menemani, membantu
kapanpun, apapun dan dimana aja dan dalam keadaan yang bagaimana
pun selalu memberikan kenangan indah persahabatan, kebersamaan,
terima kasih!
Akhirnya, masukan saran dan kritik semoga memberikan tambahan ilmu
yang berharga bagi penulis untuk terus belajar dan memperbaiki diri dalam
mengamplikasikan ilmu yang didapat.
Jakarta, 21 April 2014

Penulis

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK ………………………………………………………...

i

KATA PENGANTAR …………………………………………….

ii

DAFTAR ISI ……………………………………………………...

v

DAFTAR TABEL …………………………………………………

viii

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah …..………………………..

1

B. Batasan dan Rumusan Masalah ……..………………

7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ……..………………

8

1. Tujuan Penelitian ………..………………………

8

2. Manfaat Penelitian ………………………………

9

D. Metodologi Peneliian ………..………………………

9

E. Pedoman Penulisan Skripsi ….………………………

16

F. Tinjauan Kepustakaan ……….………………………

16

G. Sistematika Penulisan ………..………………………

17

LANDASAN TEORI
A. Manajemen Strategi ….………………………………

19

1. Perumusan Strategi ……..………………………..

21

2. Implementasi Strategi …….………………………

22

3. Evaluasi Strategi ….………………………………

23

v

B. Organisasi …………………………………………….

23

C. Perkembangan Anak ….………………………………

27

D. Faktor-faktor Perkembangan Anak …..………………

30

1. Faktor Hereditas/Keturunan ……...………………

30

2. Faktor Lingkungan ………………………………

32

E. Potensi Diri …..……………………………………….

36

F. Ruang Lingkup Potensi Diri ………………………….

42

1. Kognitif …..………………………………………

42

2. Emosi ……..………………………………………

45

3. Spiritual ……………………………………………

50

4. Keterampilan ………………………………………

52

BAB III GAMBARAN UMUM YAYASAN RUMAH YATIM AR-ROHMAN
INDONESIA PAMULANG, TANGERANG SELATAN
A. Sejarah Berdirinya Yayasan Rumah Yatim Ar-rohman
Indonesia Pamulang, Tangerang Selatan …………..….

55

B. Visi dan Misi Yayasan Rumah Yatim Ar-rohman
Indonesia Pamulang, Tangerang Selatan …......………

59

C. Struktur Kepengurusan Yayasan Rumah Yatim Arrohman Indonesia Pamulang, Tangerang Selatan …....

60

1. Struktur Kepengurusan Pusat …….………………

60

2. Struktur Kepengurusan Asrama …..………………

62

D. Asrama Yayasan Rumah Yatim Ar-rohman Indonesia
Pamulang, Tangerang Selatan …...……...……………

vi

62

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN
A. Manajemen strategi pengembangan potensi anak
Yayasan

Rumah

Yatim

Ar-rohman

Indonesia

Pamulang, Tangerang Selatan ………………………..

65

1. Perumusan Strategi ………………………………

66

2. Implementasi Strategi …….………………………

75

3. Evaluasi Strategi ….………………………………

81

B. Hasil

yang

pengembangan
Yayasan

dicapai
potensi

Rumah

dari

manajemen

anak

Yatim

yang

strategi

dilaksanakan

Ar-rohman

Indonesia

Pamulang, Tangerang Selatan …...…………………...

BAB V

82

PENUTUP
A. Kesimpulan .…..………………………………………

86

B. Saran ….………………………………………………

89

DAFTAR PUSTAKA ……….………………………………………

91

LAMPIRAN

vii

DAFTAR TABEL

1. Table 1.1 Data Informan

12

2. Table 2.1 Tipologi Organisasi Pelayanan Manusia

27

3. Table 3.1 Struktur Kepengurusan Asrama

62

4. Table 4.1 Jadwal Tugas Harian

77

viii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Anak merupakan anugerah dan setiap anak dilahirkan dalam kondisi
“cerdas”. Kunci sukses dari seorang anak adalah ketika ia dapat menjadi
sesuai dengan potensi dan bakatnya, bukan berdasarkan apa kata orang tua
maupun lingkungannya. Selain itu anak adalah generasi penerus dan pewaris
cita-cita perjuangan bangsa yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan
pembangunan. Untuk menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, anak
mempunyai hak dan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi seperti
mendapatkan makanan yang bergizi, pendidikan, kesehatan, bermain,
kebutuhan emosional, pengembangan spiritual serta memerlukan lingkungan
keluarga dan lingkungan sosial yang mendukung bagi berlangsungnya tumbuh
kembang hidupnya.1 Menurut Undang-undang tentang perlindungan anak
tahun 2002, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas)
tahun, termasuk anak yang masih didalam kandungan.2 Didalam undangundang tentang perlindungan anak tahun 2002 dijelaskan juga bahwa anak
adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa,
memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin
kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan.

1
Direktorat Jendral Bina Kesejahteraan Sosial dan Direktorat Kesejahteraan Anak,
Keluarga dan Lanjut Usia, Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Kesejahteraan Sosial Anak Jalanan,
(Jakarta: Departemen sosial RI, 1999), h. 1.
2
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

1

2

Namun kenyataan saat ini bahwa banyak anak-anak yang belum
mendapatkan haknya. Itu dapat dilihat dari banyak anak-anak yang hidup di
jalan, tumbuh dan berkembang di lingkungan yang kurang baik untuk mereka.
Menurut laporan pusat penelitian kesejahteraan (puslikes) Universitas Katolik
Atma jaya, tahun 2001 jumlah anak-anak jalanan di Indonesia tercatat
sebanyak 50.000 anak. Kebanyakan dari mereka hidup dalam lingkungan
masyarakat urban (Street Childern In Urban Environment) dan tidak memiliki
tempat tinggal (Homeless Street Childern).3 Hingga saat ini jumlah anak
jalanan

semakin

meningkat

setiap

tahunnya.

Untuk

mencapai

kesejahteraannya, hak-hak anak harus terpenuhi akan tetapi beberapa anak ada
yang tidak beruntung untuk mendapatkan kesejahteraannya, hal ini
dikarenakan kemiskinan dan tidak adanya orang tua sebagai tumpuan hidup.
Kesejahteraan anak merupakan bagian dari kesejahteraan sosial, oleh sebab itu
hak-hak anak harus dipenuhi agar kesejahteraan mereka tercapai.
Kemiskinan menjadi salah satu faktor tidak terpenuhinya hak anak dan
menjadi penyebab meningkatnya anak jalanan di Indonesia. Untuk memenuhi
kebutuhan keluarga, orang tua membiarkan anaknya bekerja mencari uang
sehingga menjadikan anak sebagai objek eksploitasi ekonomi. Sehingga
membuat anak-anak yang bekerja di jalanan tidak lagi sempat memikirkan
pendidikan, tetapi hanya memikirkan kebutuhan ekonomi untuk diri dan
keluarganya.
Melalui

pendidikan

baik

formal

maupun

informal

dapat

mengembangkan potensi diri dan akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan
3

Direktorat Jendral Bina Kesejahteraan Sosial dan Direktorat Kesejahteraan Anak,
Keluarga dan Lanjut Usia, Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Kesejahteraan Sosial Anak Jalanan,
(Jakarta: Departemen sosial RI, 1999), h. 3.

3

hidupnya. Pengertian potensi menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah
kemampuan-kemampuan dan kualitas-kualitas yang dimiliki oleh seseorang,
namun belum digunakan secara maksimal. 4 Pengembangan potensi dalam diri
anak sangatlah penting, agar keberhasilan dan keahlian yang mereka miliki
dapat dirasakan oleh dirinya maupun orang lain. Untuk mengembangkan
potensi diri tersebut, anak harus mempunyai rasa percaya diri dan dapat
berinteraksi dengan lingkungannya.
Pendidikan formal seperti di sekolah merupakan langkah tepat untuk
mengembangkan potensi anak. Tahun 2013 ini pemerintah melalui
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tengah berupaya meningkatkan mutu
dan kualitas pendidikan di Indonesia melalui program Pendidikan Menengah
Universal (PMU), atau yang dikenal dengan ‘rintisan wajib belajar 12 tahun’.5
Program PMU merupakan lanjutan dari wajib belajar 9 tahun yang telah
dijalankan.
Kelebihan dari program PMU ini diharapkan dapat meningkatkan
angka partisipasi pendidikan dasar dan memperbaiki komposisi SMA dan
SMK. Sedangkan kekurangannya adalah masih sedikitnya jumlah pengajar
khususnya pengajar SMK. Pada tahun 2012 Indonesia kekurangan 40.000
guru kejuruan, sehingga jika program PMU dijalankan pada tahun 2013
kekurangan guru kejuruan akan bertambah 15.000 guru kejuruan lagi.6 Pada
tahun 2011 pemerintah telah mengeluarkan anggaran pendidikan mencapai Rp

4

Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1982), h.

766.
5
Susi Wulandari, “Wajib Belajar 12 Tahun,” artikel diakses pada tanggal 15-5-2013
pukul 16.05 WIB dari http://haluankepri.com/opini-/41790-wajib-belajar-12-tahun.html
6
Wulandari, “Wajib Belajar 12 Tahun,”

4

266,9 triliun. Tahun 2012 meningkat menjadi Rp 310,8 triliun dan tahun ini
anggaran pendidikan direncanakan mencapai Rp 331,8 triliun atau meningkat
6,7 persen.7
Namun kenyataannya saat ini masih banyak anak-anak yang belum
bisa mendapatkan pendidikan di sekolah karena hambatan biaya sekolah yang
saat ini semakin mahal setiap tahunnya. Bagaimana mereka dapat bersekolah
dan mendapatkan pendidikan yang layak bila mereka harus dihadapkan
dengan kebutuhan ekonomi keluarganya yang seharusnya menjadi tanggung
jawab orang tua.
Ada pun upaya yang dilakukan pemerintah dalam menyelamatkan
anak-anak yang kurang beruntung dalam mendapatkan kesejahteraan yaitu
dengan memberikan pendidikan yang baik dan mengembangkan potensi diri
dengan cara membangun sekolah gratis untuk anak yang kurang mampu.
Pemerintah pusat tahun 2013 ini sedang melakukan program perbaikan
gedung Sekolah Dasar guna mendukung semua aktifitas belajar mengajar.
Hampir disetiap daerah saat ini gedung-gedung Sekolah Dasar mengalami
perbaikan. Pemerintah akan membangun 216 unit sekolah baru dan lebih dari
4.550 ruang kelas baru untuk SMA/SMK/SMLB.8
Selain itu pada tahun 2013 DKI Jakarta mengeluarkan program Kartu
Jakarta Pintar yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Kartu ini
akan diberikan kepada siswa dari keluarga tidak mampu untuk tetap dapat
bersekolah. Berdasarkan data Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS)
per 13 Maret 2013 jumlah siswa di DKI Jakarta yang berasal dari keluarga
7
8

Wulandari, “Wajib Belajar 12 Tahun,”
Wulandari, “Wajib Belajar 12 Tahun,”

5

tidak mampu ada sebanyak 104.551 siswa. Sedangkan siswa tidak mampu
yang tidak terdata PPLS ada sebanyak 105.076 siswa. 9 Disamping itu melihat
kenyataan bahwa banyak anak-anak yang kurang mampu dalam mendapatkan
pendidikan karena keterbatasan ekonomi dan kehilangan orang tua,
pemerintah membangun panti sosial. panti sosial adalah lembaga yang yang
dibentuk, dibangun dan menjadi tanggung jawab pemerintah.
Pelayanan sosial anak seperti panti merupakan pilihan terakhir apabila
keluarga atau masyarakat tidak dapat mengasuh anak dengan baik. Kegiatan
pelayanan anak merupakan kegiatan pelayanan tambahan atau pengganti dari
asuhan dan pengawasan orang tua. Hal ini mempunyai tujuan melindungi dan
memajukan kesejahteraan anak.
Melihat masalah ini Yayasan Rumah Yatim Ar-rohman Indonesia
menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial anak yatim dan dhuafa
dengan mengelola dan mengembangkan potensi diri anak. 10 Anak-anak yang
berada di dalam yayasan adalah anak-anak yang sudah tidak memiliki orang
tua baik ayah, ibu atau keduanya dan anak-anak yang orang tuanya tidak
mampu untuk membimbing, mengasuh dan memberi pendidikan yang baik
untuk anak mereka.
Maka dari itu anak diserahkan kepada pihak yayasan oleh orang tua
atau keluarga agar kehidupan anak-anak terjamin dalam bidang pendidikan
formal maupun informal. Di yayasan, anak-anak tinggal bersama dengan
beberapa beberapa staf di dalam asrama. Anak yang dapat tinggal di yayasan

9
Lenny Tristia Tambun, “Dinas Pendidikan DKI luncurkan Kartu Jakarta Pintar,”
diakses pada 15-5-2013 pada pukul 16.20 dari http://www.beritasatu.com/megapolitan/102693april-disdik-dki-luncurkan-81-ribu-kjp.html
10
Brosur, Tentang Yayasan Rumah Yatim Ar-rohman Indonesia , April 2013.

6

antara umur 4 hingga 18 tahun hingga lulus Sekolah Menengah Atas. Selama
tinggal di asrama anak diberikan kehidupan yang layak dengan di berikan
tempat istirahat yang nyaman dan diberikan makanan dengan asupan gizi 4
sehat 5 sempurna sehari 3 kali.
Selain pendidikan formal anak-anak juga diberikan pendidikan
informal seperti bimbingan belajar intensif, kursus bahasa asing, kursus
automotif dan kursus akunting. Selain itu ada keterampilan yang di berikan
kepada anak-anak sesuai dengan potensi dan minat seperti keterampilan lukis,
paduan suara, kaligrafi, dan seni peran.
Pendidikan agama juga menjadi bagian dari proses pengembangan
potensi anak. Pendidikan agama yang diberikan seperti pendidikan Diniah,
Tahfiz, Tahsin dan Qiro’at. Semua itu diberikan kepada anak-anak yang
tinggal di asrama Yayasan Rumah Yatim Ar-rohman Indonesia yang tersebar
di 13 kota di seluruh Indonesia. Asrama putri dan asrama putra tidak di
satukan kedalam satu tempat tetapi di pisahkan. Jumlah anak asuh yang ada di
setiap asrama maksimal 15 orang.
Yayasan Rumah Yatim Ar-rohman Indonesia cabang Pamulang,
Tangerang Selatan adalah salah satu asrama perempuan cabang wilayah
Banten. Anak-anak yang tinggal di asrama Pamulang ini rata-rata berumur 8
sampai 16 tahun. Program-program yang ada di asrama Pamulang telah
membangun potensi anak asuh terlihat dari banyaknya piala dan piagam yang
tersusun rapih di etalase ruang front office Terdiri dari Juara lomba Tahfiz se
Tangerang Selalatan, juara umum lomba menggambar dan mewarnai, dan
juara lomba lari putri 100 meter.

7

Membangun strategi pengembangan potensi anak disebuah lembaga
harus memiliki efisiensi dan efektivitas. Efisiensi adalah kemampuan untuk
menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar. Sedangkan efektivitas adalah
merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang
tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.11
Dengan begitu, ternyata dalam mengembangkan potensi anak yatim
dan dhuafa yang menghasilkan banyak penghargaan berupa piala atau piagam
baik secara akademis maupun non-akademis, yayasan Rumah Yatim Arrohman Indonesia tidak serta merta mendidik dan mengembangkan potensi
anak. Banyak cara dan upaya yang dilakukan untuk mengelola yayasan seperti
mencari strategi yang tepat sehingga menghasilkan program-program untuk
mengembangkan potensi anak demi mencerdaskan anak-anak yatim dan
dhuafa.
Berdasarkan uraian di atas, akhirnya yang menjadikan penulis tertarik
untuk mengambil judul: “Manajemen Strategi Pengembangan Potensi
Anak

Yayasan

Rumah

Yatim Ar-rohman

Indonesia

Pamulang,

Tangerang Selatan”.

B. Batasan dan Rumusan Masalah
1. Batasan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis akan melakukan
penelitian yang berfokus pada proses manajemen strategi guna

11

T. Hani Handoko. Manajemen ( Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 1999), Cet ke-2, h. 7.

8

meningkankan potensi anak yang berada di yayasan rumah yatim arrohman Indonesia Pamulang,Tengerang Selatan.
2. Rumusan Masalah
Dari batasan masalah tersebut dapat dilihat sejumlah masalah yang
memungkinkan dapat dijelaskan dalam penulisan skripsi ini. Penulis akan
merumuskan dalam permasalahan diantaranya:
1) Bagaimana manajemen strategi pengembangan potensi anak di
Yayasan Rumah Yatim Ar-rohman Indonesia Pamulang, Tangerang
Selatan?
2) Bagaimana hasil yang dicapai dari manajemen strategi pengembangan
potensi anak yang dilaksanakan Yayasan Rumah Yatim Ar-rohman
Indonesia Pamulang, Tangerang Selatan?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Setelah memahami permasalahan yang diteliti, ada beberapa tujuan
dan manfaat yang hendak dicapai.
1. Tujuan Penelitian
1) Mendeskripsikan manajemen strategi pengembangan potensi anak
yang dilaksanakan Yayasan Rumah Yatim Ar-rohman Indonesia
Pamulang, Tangerang Selatan.
2) Mendeskripsikan hasil yang dicapai dari manajemen startegi
pengembangan potensi anak yang dilaksanakan Yayasan Rumah Yatim
Ar-rohman Indonesia Pamulang, Tangerang Selatan.

9

2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Akademis
1)

Untuk

menambah

wawasan

keilmuwan

bagi

mahasiswa

kesejahteraan sosial.
2)

Penelitian ini dapat memberikan masukan bagi pengembangan
penelitian serupa dimasa yang akan datang.

3)

Hasil penelitian ini diharapkan kiranya dapat menjadi dokumen
perguruan tinggi yang berguna untuk menjadi rujukan bagi
lembaga yang konsentrasinya pada studi pengembangan potensi
anak.

b. Manfaat Praktis
1) Bahan Masukan bagi instansi dalam hal ini Yayasan Rumah Yatim
Ar-rohman Indonesia untuk mengembangkan potensi anak.
2) Sebagai bahan masukan untuk orangtua dalam mengembangkan
potensi anak agar dapat meningkatkat kesejahteraan dan kualitas
hidup.

D. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses manajemen
strategi dalam meningkatkan potensi yang ada didalam anak asuh yayasan
rumah yatim ar-rohman Indonesia. Pendekatan yang dilakukan dalam
penelitian ini memakai pendekatann kualitatif. Kualitatif adalah metode
penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi obyek yang alamiah.

10

Pendekatan

kualaitatif

ini

peneliti

gunakan

dengan

beberapa

pertimbangan, yaitu pendekatan kualitatif bersifat luwes, tidak lazim
dalam mendefinisikan suatu konsep, serta memberi kemungkinan bagi
perubahan-perubahan manakala ditemukan fakta yang lebih mendasar,
menarik dan unik bermakna dilapangan.12
2. Jenis Penelitian
Melalui

pendekatan

kualitatif

ini

penulis

berharap

dapat

menggambarkan dan menganalisis bagaimana proses Yayasan Rumah
Yatim Ar-rohman Indonesia dalam melakukan manajemen strategi
pengembangan potensi anak dan hasil yang didapat oleh anak-anak asuh di
Yayasan Rumah Yatim Ar-rohman Indonesia Pamulang, Tangerang
Selatan. Karena itulah, jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif
yaitu untuk melihat proses manajemen strategi pengembangan potensi
anak.
Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang
tujuannya untuk menyajikan gambaran lengkap mengenai setting sosial
atau hubungan antara fenomena yang diuji. Dalam penelitian ini, peneliti
telah memiliki definisi jelas tentang subjek penelitian dan akan
menggunakan

pertanyaan

who

dalam

menggali

informasi

yang

dibutuhkan. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah menghasilkan
gambaran akurat tentang sebuah kelompok, menggambarkan mekanisme
sebuah proses atau hubungan, memberikan gambaran lengkap baik dalam
bentuk verbal, menyajikan informasi dasar akan suatu hubungan,
12

Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif, (Jakarta: PT Grafindo Persada,
2003), Cet. Ke-2, h. 39.

11

menciptakan

seperangkat

kategori dan

mengklasifikasikan subjek

penelitian, menjelaskan seperangkat tahapan atau proses, serta untuk
menyimpan informasi bersifat kontradiktif mengenai subjek penelitian. 13
3. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di Yayasan Rumah Yatim Arrohman Indonesia Pamulang, Tangerang Selatan. Pemilihan lokasi tersebut
didasari oleh adanya keingintahuan penulis terhadap bagaimana Yayasan
Rumah Yatim Ar-rohman Indonesia menjalankan proses manajemen
strategi pengembangan potensi anak dan juga sebagai penambahan dan
wawasan penulis dalam memahami pengembangan potensi anak. Waktu
Penelitian dimulai bulan April 2013 s/d April 2014.
4. Teknik Pemilihan Subyek Penelitian
Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif teknik pemilihan
informan dalam penelitian ini adalah purposive (bertujuan) sampling yang
memberikan keleluasaan kepada peneliti dalam menyeleksi informan yang
sesuai dengan tujuan penelitian. Karena purposive sampling adalah teknik
pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.
Pertimbangan tertentu ini misalnya orang tersebut yang dianggap paling
tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa
sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek/situasi sosial yang
diteliti.14 Yang penting disini bukan jumlah informan melainkan potensi

13

Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2009), Cet. Ke-5 h.

69.
14

Prof. Dr. Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: CV. Alfabeta, Agustus
2009), Cet-ke 5, h. 54.

12

dari setiap kasus untuk memberikan pemahaman teoritis yang lebih baik
mengenai aspek yang dipelajari.
Informan yang akan di pilih ada beberapa jenis informan yang
digunakan dalam penelitian ini. Masing-masing informan memiliki kriteria
tersendiri. Informan terdiri dari:
a. Manajer Area Jakarta, Tangerang dan Lampung
b. Kepala Asrama Pamulang
c. Staf bidang Pendidikan dan Kesehatan
d. Anak asuh asrama yayasan rumah yatim Pamulang
Informan

Jumlah

Manajer Area Jakarta,Tangerang dan Lampung

1 Orang

Kepala Asrama Pamulang

1 Orang

Staf bidang pendidikan dan kesehatan

1 Orang

Anak asuh asrama yayasan rumah yatim pamulang

3 Orang

Tabel 1.1 Data Informan
5. Teknik Pengumpulan Data
a. Wawancara
Wawancara atau interview adalah sebuah proses memperoleh
sebuah keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab
sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau
orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman

13

(guide) wawancara.15 Pada penelitian ini wawancara akan dilakukan
dengan menggunakan pedoman wawancara.
Pedoman

wawancara

digunakan

untuk

mengingatkan

interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas, juga
menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan
tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian
interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan
dijabarkan

secara

kongkrit

dalam

kalimat

Tanya,

sekaligus

menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara
berlangsung.
Kerlinger (dalam Hasan 2000) menyebutkan 3 hal yang
menjadi kekuatan metode wawancara :
a. Mampu mendeteksi kadar pengertian subjek terhadap pertanyaan
yang diajukan. Jika mereka tidak mengerti bisa diantisipasi oleh
interviewer dengan memberikan penjelasan.
b. Fleksibel, pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing
individu.
c. Menjadi stu-satunya hal yang dapat dilakukan disaat tehnik lain
sudah tidak dapat dilakukan.
Menurut Yin (2003) disamping kekuatan, metode wawancara
juga memiliki kelemahan, yaitu :
a. Rentan terhadap penyimpangan yang ditimbulkan oleh kontruksi
pertanyaan yang penyusunanya kurang baik.
15

134.

Burhan Bungin, Metode Penelitian Kulitatif, (Jakarta: Prenada Media Group, 2005), h.

14

b. Rentan terhadap terhadap penyimpangan yang ditimbulkan oleh
respon yang kurang sesuai.
c. Penggalian informasi yang kurang baik menyebabkan hasil
penelitian menjadi kurang akurat.
d. Ada kemungkinan subjek hanya memberikan jawaban yang ingin
didengar oleh interviwer.16
b. Observasi
Observasi adalah pengamatan dari sumber data, dalam hal ini
peneliti datang ketempat yang diamati, tetapi tidak ikut dalam kegiatan
tersebut,

tetapi

melakukan

pengamatan

langsung

bagaimana

manajemen strategi pengembangan potensi anak di Yayasan Rumah
Yatim Ar-rohman Indonesia Pamulang, Tangerang Selatan. Dan yang
ingin didapatkan dari observasinya adalah memahami konteks data
dalam keseluruhan situasi sosial, jadi akan dapat diperoleh hasil yang
menyeluruh,

memperoleh

pengalaman

langsung,

sehingga

memungkinkan peneliti menggunakan pendekatan induktif, jadi tidak
dipengaruhi oleh konsep atau pandangan sebelumnya, dan memperoleh
kesan-kesan pribadi, dan situasi sosial yang diteliti. 17
c. Studi Kepustakaan
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Studi dokumen merupakan perlengkapan dari pengguna metode
observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Dokumen yang

16

Hamid Patilima, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2011), Cet. Ke-3, h.

17

Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2009), Cet. Ke-5, h.

68
64.

15

dimaksud seperti literature, buku-buku, diktat, dan jurnal yang
berhubungan dengan keperluan penelitian mengenai manajemen
strategi Yayasan Rumah Yatim Ar-Rohman Indonesia Maksud
pengumpulan dokumen ialah untuk memperoleh kejadian nyata
tentang situasi sosial dan arti berbagai faktor di sekitar subjek
penelitian. 18
6. Teknik Analisa Data
Sesuai dengan subjek penelitian, maka hal tersebut akan
dikemukakan disini, menurut Bogdan bahwa analisa data adalah proses
mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil
wawancara,

catatan

lapangan,

dan

dokumentasi,

dengan

cara

mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit,
menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan
dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri
sendiri maupun orang lain. 19
7. Teknik Keabsahan Data
Keabsahan data adalah data yang diperoleh, data yang telah teruji
dan valid, dalam hal ini peneliti menulis keabsahan data diujikan lewat
diskusi atau sharing terhadap teman sejawat, referensi teori dan melihat
realitas social serta tentang isu-isu yang sedang berkembang, oleh karena
itu peneliti melakukan perbaikan-perbaikan untuk mendapatkan data-data
yang relevan. Dan teknik untuk keabsahan data dengan triangulasi sumber

18
Heribertus B. Sutopo, Metodologi Penelitian Kualitatif: Metodologi penelitian untuk
Ilmu-ilmu Sosial dan Budaya, (Surakarta: Universitas Sebelas Maret, 1996), h. 36.
19
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: CV.Alfabeta, Agustus 2009),
Cet-ke 5, h. 88.

16

berarti, untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan
teknik yang sama. Sebagai gambaran atas data yang telah dikumpulkan
dari sumber yang berbeda sebagai cara perbandingan data yang didapat
dari observasi dan wawancara. 20 Penulis melakukan wawancara dari
informan yang satu ke informan yang lain, dan melakukan wawancara
terhadap hasil dari observasi.

E. Pedoman Penulisan Skripsi
Untuk tujuan mempermudah, teknik penulisan yang dilakukan dalam
skripsi ini merujuk pada buku pedoman penulisan karya ilmiah (Skripsi, Tesis,
dan Disertasi) yang disusun oleh tim UIN Jakarta Press. Cet. Ke 2, April 2007.

F. Tinjauan Pustaka
Penulis telah melihat banyak skripsi yang membahas tentang
organisasi di perpustakaan UIN Jakarta. Kebanyakan penelitian tentang
organisasi yang berfokus pada manajemen program yang ada di dalam
organisasi sedangkan pembahasan mengenai manajemen keorganisasian itu
sendiri tidak banyak. Seperti skripsi milik Tri Sulis Handayani NIM
106053002019, mahasiswi MD lulusan 2010, yang mengangkat tentang
Manajemen Yayasan Baitul Hikmah El Nusa (YBHE) Dalam Menjalankan
Program Unggulan Beasiswa Terpadu (BEST).
Perbedaan antara penelitian milik Tri Sulis Handayani dengan
penelitian penulis dapat terlihat pada hasil akhir analisis skripsi. Skripsi milik

20

Ibid, h. 83

17

Tri Sulis Handayani seputar manajemen program yang dilaksanakan Yayasan
Baitul Hikmah El Nusa khususnya dalam analisis planning, organizing,
actuating dan controlling. Sedangkan pada skripsi penulis, hasil analisis
penelitian menjabarkan bagaimana seperangkat proses kemanajemenan
Yayasan Rumah Yatim Ar-Rohman Indonesia dalam meningkatkan dan
mengembangkan potensi anak asuh yayasan dengan strategi-strateginya.

G. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan skripsi ini, penulis merangkum dalam beberapa bab,
antara lain:
BAB I

Pendahuluan, meliputi: latar belakang masalah, pembatasan dan
perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi
penelitian, pedoman penulisan skrisi, tinjauan kepustakaan,
sistematika penulisan.

BAB II

Kerangka teori, meliputi: manajemen strategi, organisasi,
perkembangan anak, faktor-faktor perkembangan anak, potensi
diri, ruang lingkup potensi diri.

BAB III

Gambaran

umum Yayasan Rumah Yatim Ar-Rohman

Indonesia, meliputi: sejarah berdirinya yayasan rumah yatim arrohman indonesia, visi misi yayasan rumah yatim ar-rohman
Indonesia, struktur kepengurusan yayasan rumah yatim ar-rohman,
asrama yayasan rumah yatim ar-rohman Indonesia.

18

BAB IV

Analisis hasil penelitian, meliputi: strategi pengembangan potensi
anak di yayasan rumah yatim ar-rohman Indonesia dan hasil yang
dicapai dari strategi pengembangan potensi anak.

BAB V

Penutup, meliputi: kesimpulan dan saran-saran.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Manajamen Strategi
Setiap manusia didalam perjalan hidupnya selalu akan menjadi
anggota dari beberapa macam organisasi. Setiap organisasi memiliki kegiatan
dimana kegiatan yang dilakukan memerlukan pengelolahan atau manajemen
dan strategi didalamnya. Salah satu kegiatan organisasi yang membutuhkan
pengelolaan dan pemilihan strategi adalah dalam pelayanan kemanusiaan.
Organisasi yang melakukan pelayanan kemanusian atau yang dikenal dengan
Human Service Organization (HSO) adalah lembaga yang berusaha
meningkatkan kondisi kehidupan yang sejahtera dimana di dalam ilmu
kesejahteraan sosial usaha tersebut dilakukan oleh profesi yang dikenal
pekerjaan sosial (peksos). Sesuai dengan usaha yang dilakukan organisasi
digolongkan menjadi 3 golongan yaitu, pencegahan (preventif), pengobatan
(kuratif) dan perawatan (rehabilitasi).
Istilah manajemen berasal dari kata management (bahasa Inggris),
turunan dari kata “ to manage” yang artinya mengurus atau tata laksana atau
ketata laksanaan. Sehingga manajemen dapat diartikan bagaimana cara
manajer (orangnya) mengatur, membimbing dan memimpin pegawai atau

19

20

pekerja agar usaha yang sedang digarap dapat mencapai tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya. 21
Manajemen menurut James A.F. Stoner adalah proses perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota
organisasi dan penggunaan sumberdaya-sumberdaya organisasi lainnya agar
mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Sedangkan menurut Mary
Parker Follet mendefinisikan manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan
pekerjaan melalui orang lain. Mendefinisikan manajemen sebagai seni
mengandung arti bahwa hal itu adalah kemampuan atau keterampilan suatu
pribadi, sedangkan dari pengertian sebelumnya yang mendefinisikan
manajemen sebagai proses mengandung arti bahwa hal itu adalah cara
sistematis untuk melakukan pekerjaan.22
Luther Gulick mendefinisikan manajemen sebagai suatu bidang ilmu
pengetahuan (science) yang berusaha secara sistematis untuk memahami
mengapa dan bagaimana manusia bekerja bersama untuk mencapai tujuan dan
membuat sistem kerjasama ini lebih bermanfaat bagi kemanusiaan. Menurut
Gulick mendifiniskan manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan karena
telah dipelajari untuk waktu yang lama dan telah di organisasi menjadi suatu
rangkaian teori.23
Sedangkan strategi adalah cara untuk mencapai sasaran jangka
panjang. Sasaran dapat ditentukan sebagai hasil spesifik yang ingin dicapai
sebuah organisasi dengan melakukan misi dasarnya. Sasaran sangat diperlukan
karena dapat menentukan arah, membantu dalam evaluasi, menciptakan
21

Hani Handoko. Manajemen, (Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 1999), h. 3.
Ibid, h. 8.
23
Ibid, h. 11.
22

21

sinergi, mengungkapkan prioritas, memfokuskan koordinasi dan menyediakan
perencanaan secara efektif. 24
Manajemen strategi memiliki fokus pada memadukan manajemen,
pemasaran,

keuangan/akunting,

produksi/operasi,

penelitian

dan

pengembangan, serta system informasi komputer untuk mencapai keberhasilan
organisasi. Lebih dalam tentang manajemen strategi banyak digunakan oleh
perguruan tinggi dan universitas diseluruh Indonesia untuk mengajarkan
materi tentang kuliah-kuliah yang berhubungan dengan bisnis. Selain itu
tentunya manajemen strategi memiliki pengertian yang luas sehingga dapat
digunakan oleh ilmu-ilmu lainnya. Sehingga definisi manajemen strategi
adalah seni dan pengetahuan untuk merumuskan, mengimplementasikan, dan
mengevaluasi keputusan lintas fungsional yang membuat organisasi mampu
mencapai obyektifnya.25
Dari pengertian manajemen strategi di atas disimpulkan bahwa
manajemen strategi membantu organisasi melakukan aktivitas atau tindakan
dalam mencapai tujuan. Fred R. David Dalam bukunya Manajemen Strategis
Konsep untuk mencapai tujuan dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat
ada 3 tahapan dalam manajemen strategi, yaitu :
1. Perumusan strategi
Termasuk didalamnya adalah peluang dan ancaman
organisasi, menetapkan kekuatan dan kelemahan organisasi,
menetapkan obyektif jangka panjang, menghasilkan strategi
alternative dan memilih strategi tertentu untuk dilaksanakan. Tidak
24
25

Fred R. David. Manajemen Strategis Konsep, (Jakarta: PT Prenhallindo, 2002), h. 12.
Ibid, h. 5.

22

ada organisasi yang mempunyai sumber daya tak terbatas, seorang
ahli strategis harus memutuskan alternative mana yang akan
memberikan keuntungan bagi sebuah organisasi. Apa pun yang
akan terjadi, keputusan strategis mempunyai konsekuensi berbagai
fungsi utama dan pengaruh jangka panjang pada sebuah organisasi.
Di dalam perumusan strategi terdapat analisi SWOT yaitu
kekuatan

(strengths),

kelemahan

(weakness),

peluang

(opportunities) dan ancaman (threaths). Analisis SWOT adalah
sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif,
digunakan untuk mengidentifikasi isu-isu internal dan eksternal.
2. Implementasi strategi
menuntut organisasi untuk menetapkan objektif tahunan,
memperlengkapi dengan kebijakan, memotifasi karyawan, dan
mengalokasikan sumber daya sehingga strategi yang dirumuskan
dapat dilaksanakan. Implementasi strategis sering disebut tindakan
manajemen strategi. Strategi implementasi berarti memobilisasi
karyawan dan manajer untuk mengubah strategi yang telah
dirumuskan menjadi tindakan. Keberhasilan implementasi strategi
tergantung pada kemampuan manajer untuk memotifasi karyawan,
yang lebih merupakan seni ketimbang pengetahuan. Oleh sebab itu
keterampilan

antar

pribadi

menjadi

keberhasilan implementasi strategi.

sangat

penting

demi

23

3. Evaluasi strategi
merupakan tahap akhir dalam manajemen strategi, para
manajer sangat perlu mengetahui kapan strategi tertentu tidak
berfungsi secara baik. Evaluasi strategi adalah suatu usaha tindakan
korektif yang dilakukan untuk memastikan sasaran/tujuan yang
telah ditetapkan telah tercapai. Semua strategi dapat dimodifikasi
dimasa depan karena faktor-faktor eksternal dan internal selalu
berubah.26

B. Organisasi
Pengertian organisasi saat ini telah bergeser dari pengertian organisasi
yang sesungguhnya. Pengertian sederhana organisasi adalah suatu kerja sama
sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama yang diinginkan dan mau
terlibat dengan peraturan yang ada. Pengertian sederhana tersebut telah
bergeser. Pada masa sekarang organisasi lebih dikenal sebagai suatu wadah
atau tempat untuk melakukan kegiatan bersama, agar dapat mencapai tujuan
yang telah ditetapkan bersama. Ciri-ciri utama dalam organisasi berdasarkan
pengertian sederhana tersebut adalah:27
1. Terdiri dari dua orang atau lebih,
2. Ada kerja sama,
3. Ada komunikasi antar satu anggota dengan yang lain, dan
4. Ada tujuan yang ingin dicapai.

26

Fred R.David. Manajemen Strategis Konsep, (Jakarta: PT Prenhallindo, 2002), h. 5.
Ati Cahayani. Dasar-Dasar Organisasi dan Manajemen, (Jakarta: PT Raja Grafindo,
2003), h. 2.
27

24

Schein mangatakan orgaisasi merupakan suatu sistem terbuka, yang
memiliki interaksi konstan dengan lingkungannya, serta terdiri dari banyak
sub-grup, unit-unit jabatan, susunan hierarki serta segmen yang tersebar secara
geografis. Pendapat Schein sedikit mirip dengan pendapat Monir H. Thayeb
yang menyatakan, organisasi dapat dilihat dengan 2 cara yang berbeda. Cara
pertama adalah melihat organisasi sebagai suatu system terbuka dan kedua
adalah melihat organisasi sebagai sekelompok orang yang bekerja sama untuk
mencapai suatu tujuan bersama.28
Terdapat banyak jenis organisasi, salah satunya adalah organisasi
pelayanan sosial atau lebih dikenal human service organizations (HSO)
dimana organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
HSO memiliki ruang lingkup yang lebih luas meliputi organisasi pemerintah
(government organizations), organisasi non pemerintah (non government
organizations),

maupun

pihak

swasta

(private

organizations)

yang

memperhatikan masalah-masalah sosial dan masalah kesejahteraan sosial
dalam arti sempit seperti masalah yang terkait dengan prostitusi, anak jalanan,
tuna netra, tuna rungu dan tuna grahita. 29
Organisasi pelayanan sosial dibedakan dengan birokrasi, salah satunya
karena fakta bahwa “bahan dasar” terdiri dari manusia dan dapat dibedakan
oleh transformasi yang mereka tujukan dalam diri klien. Oleh karena itu,
organisasi pelayanan sosial dapat diklasifikasikan berdasarkan dua dimensi
berikut:

28

Ibid. h. 3.
Isbandi Rukminto. Ilmu Kesejahteraan sosial dan Pekerja Sosial, (Jakarta: FISIP UI
Press, 2005), h. 86-87.
29

25

1. Tipe klien yang dilayani
Hasenfeld membagi tipe klien menjadi dua, yaitu:


Normal Funcsioning (berfungsi secara normal) yaitu
organisasi yang mandat utamanya untuk memelihara
dan meningkatkan kesejahtaraan orang-orang yang
dipandang berfungsi secara baik.



Malfuncsioning (kurang berfungsi secara baik) yaitu
organisasi

yang

mandat

utamanya

adalah

mengontrol, mengurangi dan memperbaiki penyakit
atau penyimpangan orang-orang yang dipandang
kurang berfungsi secara baik.
2. Teknologi transformasi (seperti prosedur-prosedur dan teknikteknik yang mereka gunakan untuk membawa perubahan dalam
diri klien).
Hasenfeld membagi tipe teknologi transformasi organisasi
menjadi tiga, yaitu:


People-processing technologies
Teknologi ini berusaha mentransformasi klien
bukan dengan mengubah sifat-sifat mereka, akan
tetapi dengan memberikan mereka suatu label sosial
dan status publik yang membangkitkan reaksi-reaksi
yang bermanfaat dari unit sosial yang lain. misalnya
penyandang masalah akan mendapatkan perlakuan
tertentu dari organisasi bentuknya dengan membuat

26

diagram masalah bahwa orang tersebut akan
kelihatan memiliki masalah tertentu.


People-sustaining technologies
Teknologi ini berusaha mencegah, memelihara dan
memperlambat

memburuknya

kesejahteraan

personal klien tanpa merubah ciri-ciri orang
tersebut. Misalnya pelayanan dukungan kepada
panti asuhan, pelayanan akomodasi.


People-changing technologies
Teknologi ini bertujuan secara langsung mengubah
sifat-sifat

klien

dalam

rangka

memperbaiki

kesejahteraan mereka. Misalnya melakukan terapi
individual atau terapi kelompok, memberikan
konseling,

perawatan

penyakit,

rehabilitasi

pekerjaan, sosialisasi.


People-controling technologies
Teknologi

ini

malakukan

aktivitas

dalam

mengontrol, membatasi atau dalam beberapa hal
menekan prilaku orang tertentu. Misalnya lembaga
pemasyarakatan, pelayanan koreksional, rumah
sakit. 30

30

8

Yeheskel Hasenfeld. Human Service Organizat ions, (USA: Prent ice Hall, inc, 1974), h. 7-

27

People
processing
BPS
Fungsional

Malfunctio
ning

People
sustaining

Sekolah umum

Jaminan
sosial

Badan
Akreditasi
Klinik
diagnostik

People changing

People
controling
Pelayanan
koreksional

Pramuka
Rumah
peristirahatan
Rumah
perawatan

PKBI
Rumah sakit

Rumah sakit

Pusat
Lembaga
pemasyaraka
Pengadilan Panti asuhan rehabilitasi
anak
korbanNarkotika tan
Table 2.1 Tipologi Organisasi Pelayanan Manusia

C. Perkembangan Anak
Anak-anak pada dasarnya baik. Karena anak-anak pada dasarnya baik,
mereka seharusnya diizinkan tumbuh secara alami. Masa kanak-kanak
merupakan masa yang unik dan sangat hidup, yang meletakkan dasar penting
bagi tahun-tahun dewasa. Era modern dalam mempelajari anak dimulai
dengan munculnya beberapa perkembangan penting di akhir tahun 1800-an.
Sejak saat itu studi perkembangan anak berubah menjadi ilmu yang berkelas,
dengan tori-teori utama dan teknik serta metode studi yang elegan, yang
membantu menyusun pemikiran tentang perkembangan anak.
Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang progresif dan
kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai
mati. Pengertian lainnya adalah perubahan-perubahan yang dialami individu
atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya
(maturation)

yang

berlangsung

secara

sistematis,

progresif,

dan

28

berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis
(rohaniah).31
Perkembangan itu secara umum mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
a. Terjadi perubahan dalam aspek fisik yaitu perubahan dalam tinggi
badan serta organ-organ tubuh lainnya. Aspek psikis yaitu semakin
bertambahnya perbendaharaan kata dan matangnya kemampuan
berfikir, mengingat serta menggunakan imajinasi kreatifnya.
b. Terjadi perubahan dalam proporsi seperti anak yang tumbuh sesuai
dengan fase perkembangannya dan pada usia remaja proporsi
tumbuh anak mendekati proporsi tubuh usia remaja. Perubahan
imajinasi yang fantasi ke realitas, dan perubahan perhatiannya dari
yang tertuju pada dirinya sendiri perlahan-lahan beralih kepada
orang lain (kelompok teman sebaya).
c. Lenyapnya tanda-tanda lama seperti menghilangnya kelenjar
Thymus (kelenjar kanak-kanak) yang terletak pada bagian dada,
gigi susu, dan prilaku implusif (dorongan untuk bertindak sebelum
berfikir).
d. Diperolehnya tanda-tanda baru seperti pergantian gigi, karakteristik
seks pada usia remaja, baik primer (menstruasi pada anak wanita
dan mimpi “basah” pada anak laki-laki), maupun skunder
(perubahan pada anggota tubuh seperti pinggul dan buah dada pada
wanita dan kumis, jakun dan suara pada anak laki-laki.32

31

Syamsu Yusuf LN. Psikologi perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2011), h. 15.
32
Ibid, h. 16.

29

Beberapa psikolog berpendapat bahwa terdapat kesamaan antara
perkembangan dan pertumbuhan. Tetapi ada juga psikolog yang lebih suka
menggunakan istilah perkembangan seperti H. Wekner yang mengatakan
istilah perkembangan (development) menunjukkan pada perubahan dalam
suatu arah yang bersifat tetap. Adapun kesamaan antara pertumbuhan dan
perkembangan adalah dari kedua istilah tersebut menunjukkan adanya proses
tertentu dan terjadinya perubahan-perubahan menuju kedepan (taraf yang
lebih tinggi), serta tidak dapat begitu saja diulang kembali. Sedangkan
perbedaan diantara keduanya yaitu dimana perkembangan merupakan suatu
perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif, melainkan bersifat
kualitatif. Perkembangan tidak ditekankan pada segi material, melainkan pada
segi fungsional. Sedangkan pertumbuhan sebaliknya perubahan bersifat
kuantitatif dan perkembangan menekankan pada material.33
Pada masa perkembangan pasti akan melewati fase-fase perkembangan
yang dapat diartikan sebagai penahapan atau pembabakan rentan perjalanan
kehidupan individu yang diwarnai ciri-ciri khusus atau pola-pola tingkah laku
tertentu. Secara garis besar fase-fase perkembangan dapat digolongkan
menjadi tiga, yaitu proses biologis menghasilkan perubahan pada tubuh
seseorang. Gen yang diwarisi dari orang tua, perkembangan otak,
pertambahan tinggi dan berat badan, keterampilan motorik dan perubahan
hormone pada masa puber mencerminkan peran proses biologis dalam
perkembangan. Proses kognitif menggambarkan perubahan dalam pikiran,
inteligensi dan bahasa seseorang. Tugas-tugas seperti mengawasi ayunan
33

Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh. Psikologi Perkembangan, (Jakarta: PT Rineka
Cipta. 2005), h. 4-7.

30

bergerak di atas kotak bayi, menggabungkan kalimat dengan dua kata,
mengingat puisi, menyelesaikan soal

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

91 2523 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 650 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 557 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 356 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 482 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 816 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 724 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 452 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 657 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 804 23