Komunikasi Antarpribadi Dalam Membangun Relasi Antara Pengasuh Dengan Anak Yatim Dan Dhuafa (Studi Kasus Asrama Griya Yatim Dan Dhuafa Cabang Bintaro Tangerang Selatan)

KOMUNIKASI ANTARPRIBADI DALAM MEMBANGUN
RELASI ANTARA PENGASUH DENGAN
ANAK YATIM DAN DHUAFA
(STUDI KASUS ASRAMA GRIYA YATIM DAN DHUAFA
CABANG BINTARO TANGERANG SELATAN)

Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar
Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh
OLIVA NABILA YURIZAL
NIM: 1111051000074

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1437 H / 2016 M

ABSTRAK
Oliva Nabila Yurizal , 1111051000074
Komunikasi Antarpribadi dalam Membangun Relasi Antara Pengasuh dengan
Anak Yatim dan Dhuafa (Studi Kasus Asrama Griya Yatim dan Dhuafa Cabang
Bintaro Tangerang Selatan)
Komunikasi antarpribadi merupakan bentuk komunikasi yang memberikan
pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan. Hampir setiap saat kita melakukan
komunikasi antarpribadi. Salah satu tempat terjadinya proses komunikasi antarpribadi
adalah di sebuah asrama yatim. Yayasan Griya Yatim dan Dhuafa merupakan sebuah
organisasi sosial yang menampung anak yatim dan asramanya tersebar di beberapa kota
di Indonesia salah satunya di kawasan Bintaro Tangerang Selatan. Komunikasi
antarpribadi dalam sebuah asrama yatim merupakan unsur penting terutama untuk
membangun sebuah relasi yang baik antara pengasuh dan anak yatim yang tinggal di
asrama tersebut.
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis melakukan penelitian dengan
rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana komunikasi antarpribadi dalam
membangun relasi antara pengasuh dengan anak yatim dan dhuafa di asrama Griya
Yatim dan Dhuafa cabang Bintaro Tangerang Selatan? Apa saja hambatan yang terjadi
pada komunikasi antarpribadi dalam membangun relasi antara pengasuh dengan anak
yatim dan dhuafa di asrama Griya Yatim dan Dhuafa cabang Bintaro Tangerang
Selatan?
Agar penelitian ini lebih terarah maka teori yang menjadi acuan pada penelitian
ini adalah teori Penetrasi Sosial (Social Penetration Theory) yang dikembangkan oleh
Irwin Altman dan Dalmas Taylor. Pada teori ini, orang membangun relasi melalui
empat tahap, yakni orientasi, pertukaran eksploratif, pertukaran afektif, dan pertukaran
stabil.
Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini ialah pendekatan penelitian
kualitatif, dengan paradigma konstruktivis dan menggunakan metode penelitian studi
kasus. Data didapat dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan mencari
sumber data pendukung seperti dokumentasi.
Berdasarkan hasil penelitian tentang komunikasi antarpribadi dalam
membangun relasi antara pengasuh dengan anak yatim dan dhuafa yang diterapkan di
Asrama Griya Yatim dan Dhuafa cabang Bintaro, terbukti dengan adanya komunikasi
yang melalu tahap orientasi, pertukaran eksploratif, pertukaran afektif, dan pertukaran
stabil. Serta terjadi hambatan dalam berkomunikasi yaitu berupa gangguan mekanik
dan semantik, kepentingan, motivasi terpendam, serta prasangka.
Dengan demikian proses komunikasi terutama komunikasi antarpribadi
merupakan suatu proses yang sangat penting dalam menjalin hubungan antara
pengasuh dengan anak yatim dan dhuafa. Proses komunikasi antarpribadi itu dilakukan
melalui empat tahap yang telah diterapkan dalam teori penetrasi sosial, mulai dari
proses pertumbuhan sampai proses pemutusan hubungan. Jika keempat tahap itu dapat
berjalan dengan baik maka hambatan pun dapat diatasi sehingga hubungan antara
pengasuh dengan anak yatim dan dhuafa yang tinggal di asrama tersebut dapat
terealisasikan dengan baik.

i

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat,
karunia, rahmat, serta kemudahan dan kelancaran sehingga penuyusunan skripsi ini
dapat terselesaikan. Salawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada panutan dan
tauladan Baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, para sahabatnya, serta
para pengikutnya yang setia menjalankan ajarannya. Skripsi dengan judul
“Komunikasi Antarpribadi dalam Membangun Relasi Antara Pengasuh dengan Anak
Yatim dan Dhuafa (Studi Kasus Asrama Griya Yatim dan Dhuafa Cabang Bintaro
Tangerang Selatan)” ini disusun guna untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Semoga skripsi ini
bermanfaat dan bisa menjadi bentuk pembelajaran.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari masih banyak kesalahan dan
kekurangan sehingga skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Memang tidak mudah
bagi penulis untuk menyelesaikan hasil karya ini, karena begitu banyak halangan dan
rintangan yang harus penulis hadapi. Namun berkat pertolongan Allah SWT dan
berbagai pihak yang telah memberikan dukungan, pemikiran, serta motivasi
Alhamdulillah skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada beberapa pihak yang terhormat:
1. Dr. Arief Subhan, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta beserta jajarannya.

ii

2. Drs. Masran, MA, selaku Ketua Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam beserta Fita
Fathurokhmah, M.Si, selaku Sekretaris Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.
3. Kalsum Minangsih, MA, selaku Dosen Pembimbing Akademik KPI C 2011 yang
telah membantu untuk mengarahkan penulis dalam mengikuti berbagai kegiatan
akademik.
4. Bintan Humeira, S.Sos, M.Si, selaku dosen pembimbing yang senantiasa dengan
penuh kesabaran meluangkan waktunya untuk membantu, mengarahkan dan
mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah
memberikan banyak ilmu dan pengetahuan kepada penulis selama menjalani studi.
6. Segenap karyawan Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi,
terutama Ibu Yarma, S.Ip dan Bapak Nuryadi Fasah, SE, yang sangat baik, sabar,
dan selalu memberikan semangat kepada penulis, terima kasih ya pak, bu.
7. Segenap pihak Asrama Griya Yatim dan Dhuafa Cabang Bintaro Tangerang
Selatan, khususnya Umi Melda, Abi Maman dan anak-anak asrama yang telah
memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian dan wawancara,
8. Kepada ayahanda tercinta Bapak Ir.Irsal Azis dan ibunda tersayang Ibu Nuryulis
yang telah memberikan kasih sayang, restu, motivasi, doa, dan segalanya kepada
penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya.
Amin. Ayah, Ibu ini untuk kalian.
9. Kepada abang tersayang Okky Yurizal. Terima kasih atas dukungan dan doanya
yang senantiasa diberikan kepada penulis.

iii

10. Teman-teman seperjuangan KPI angkatan 2011, khususnya KPI C yang telah
banyak menghibur dan saling membantu agar kami semua bisa sukses bersama.
Untuk sahabatku Ice Nurjanah yang telah menjadi sahabat terbaikku selama lebih
dari sepuluh tahun. Tetaplah menjadi pribadi yang ceria dan penuh semangat.
11. Teman-teman KKN BERDIKARI 14 2014, khususnya Bintang, Susi, Tyo, dan
Yuli, semoga tetap kompak dan terima kasih atas doa serta dukungannya.
12. Kepada teman yang sangat baik Moddy Rizky Wibowo yang telah banyak
membantu dan memberikan ide untuk penulis, terima kasih atas ilmu dan sarannya.
Penulis hanya dapat mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada
seluruh pihak yang telah membantu, mendokan, serta memberikan dukungannya untuk
peneliti. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan karunianya kepada
kita semua dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk pembaca dan peneliti
selajutnya. Amin Yaa Robbal Alamiiin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Jakarta, 19 September 2016

Oliva Nabila Yurizal

iv

DAFTAR ISI
ABSTRAK …………………………………………………………………………... i
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………… ii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………... v
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah …………………………………………. 1
B. Batasan dan Rumusan Masalah ………………………………….. 6
C. Tujuan Penelitian ………………………………………………… 6
D. Manfaat Penelitian ……………………………………………….. 7
E. Metodologi Penelitian …………………………………................ 7
1. Paradigma penelitian ………………………………………… 8
2. Pendekatan penelitian ………………………………………... 9
3. Metode penelitian …………………………………................. 9
4. Subjek dan objek penelitian ………………………................ 10
5. Lokasi dan waktu penelitian ………………………………... 10
6. Teknik pengumpulan data ………………………………….. 10
7. Teknik analisis data ………………………………………… 12
F. Tinjauan Pustaka ……………………………………………….. 12
G. Sistematika Penulisan ………………………………………….. 14

BAB II

LANDASAN TEORI DAN KERANGKA KONSEP
A. Teori Penetrasi Sosial Irwin Altman dan Dalmas Taylor………. 17
B. Komunikasi …………………………………………………….. 26
1. Definisi Komunikasi ……………………………………….. 26
2. Karakteristik Komunikasi ………………………………….. 27
3. Unsur-unsur Komunikasi …………………………………... 29
v

4. Prinsip-prinsip Komunikasi ………………………………… 31
5. Hambatan Komunikasi ……………………………………... 34
C. Komunikasi Antarpribadi ………………………………………. 36
1. Definisi Komunikasi Antarpribadi …………………………. 36
2. Komponen-komponen Komunikasi Antarpribadi …………. 37
3. Karakteristik Komunikasi Antarpribadi ……………………. 39
4. Tujuan Komunikasi Antarpribadi …………………………... 41
D. Relasi Antarpribadi ……………………………………………... 42
1. Beberapa Konsep Dasar Relasi Antarpribadi ………………. 42
2. Tahapan Relasi Antarpribadi ……………………………….. 44
E. Anak Yatim …………………………………………………….. 53
1. Definisi Anak Yatim ………………………………………... 53
2. Kedudukan Anak Yatim ……………………………………. 54
3. Kewajiban Terhadap Anak Yatim ………………………….. 56
4. Hak-hak Anak Yatim ……………………………………….. 58

BAB III

GAMBARAN

UMUM

YAYASAN

GRIYA

YATIM

DAN

DHUAFA
A. Sejarah Griya Yatim dan Dhuafa ………………………………. 60
1. Visi dan Misi Griya Yatim dan Dhuafa ……………………. 63
2. Kegiatan yang Dilakukan Griya Yatim dan Dhuafa ……….. 64
B. Manajemen Griya Yatim dan Dhuafa ………………………….. 69
C. Struktur Kepengurusan Asrama Griya Yatim dan Dhuafa cabang
Bintaro ………………………………………………………….. 71
D. Daftar Nama Anak-anak Asrama Griya Yatim dan Dhuafa cabang
Bintaro ………………………………………………………….. 72
E. Prestasi Asrama Griya Yatim dan Dhuafa cabang Bintaro Tahun
2016 …………………………………………………………….. 73

vi

BAB IV

HASIL TEMUAN DAN ANALISIS DATA
A. Tahapan Penetrasi Sosial antara Pengasuh dan Anak Yatim dalam
Membangun Relasi di Asrama Griya Yatim dan Dhuafa Cabang
Bintaro ………………………………………………………….. 74
1. Tahap Orientasi …………………………………………...... 74
2. Tahap Pertukaran Eksploratif ………………………………. 77
3. Tahap Pertukaran Afektif …………………………………... 81
4. Tahap Pertukaran Stabil ……………………………………. 83
B. Upaya yang Dilakukan Pengasuh kepada Anak Yatim dalam
Membangun Relasi ……………………………………………... 85
C. Hambatan Komunikasi Antarpribadi antara Pengasuh dengan Anak
Yatim dan Dhuafa dalam Membangun Relasi ……………….… 88
D. Interpretasi ……………………………………………………… 90

BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan ……………………………………………………. 97
B. Saran ………………………………………………………….. 100

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………. 101
LAMPIRAN-LAMPIRAN

vii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk sosial, karena manusia tidak bisa lepas dari
makhluk lainnya. Sebagai makhluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan
dengan manusia lainnya. Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin
mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Rasa ingin tahu ini memaksa manusia perlu
berkomunikasi.1
Komunikasi dapat terjadi di mana saja seperti di rumah, kampus, sekolah,
kantor, dan lain-lain. Komunikasi merupakan suatu hal yang sangat mendasar dalam
kehidupan manusia. Bahkan komunikasi telah menjadi suatu fenomena bagi
terbentuknya suatu masyarakat atau komunitas yang terintegrasi oleh informasi, di
mana masing-masing individu dalam masyarakat itu sendiri saling berbagi informasi
untuk mencapai tujuan bersama.2 Secara sederhana komunikasi dapat terjadi apabila
ada kesamaan antara penyampai pesan dan orang yang menerima pesan.
Kata atau istilah “komunikasi” (Bahasa Inggris “communication”) berasal dari
Bahasa Latin “communicatus” atau communicatio atau communicare yang berarti
“berbagi” atau “menjadi milik bersama”. Dengan

1

h.1.

demikian,

kata

komunikasi

Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007),

2

Syaiful Rohim, Teori Komunikasi Perspektif, Ragam, & Aplikasi, (Jakarta: PT Rineka Cipta,
2009), h. 8.

1

2

menurut kamus bahasa mengacu pada suatu upaya yang bertujuan untuk mencapai
kebersamaan.3
Jadi, secara umum, komunikasi dapat didefinisikan sebagai usaha
panyampaian pesan antarmanusia. Jadi, Ilmu Komunikasi adalah ilmu yang
mempelajari usaha penyampaian pesan antarmanusia. Objek Ilmu Komunikasi adalah
komunikasi, yakni usaha penyampaian pesan antarmanusia. Ilmu Komunikasi tidak
mengkaji proses penyampaian pesan kepada makhluk yang bukan manusia (hewan
dan tumbuhan).4
Seperti telah disebutkan diatas komunikasi pun merupakan proses
penyampaian pesan dari sumber pertama kepada penerima melalui sarana atau media
dengan maksud agar terjadinya perubahan pada diri orang yang menerima pesan
tersebut. Komunikasi terdiri dari beberapa komponen-komponen. Diantaranya ada
komunikator, pesan, saluran, komunikan dan efek atau pengaruh. Selain itu,
komponen yang turut mendukung untuk menentukan berhasil tidaknya suatu
komunikasi adalah tanggapan timbal balik dari komunikan serta gangguan yang
terkait di antara keduanya.
Salah satu bentuk komunikasi yang cukup memberikan pengaruh adalah
komunikasi antarpribadi. Komunikasi antarpribadi adalah proses penyampaian dan
penerimaan pesan antara pengirim pesan (sender) dengan penerima (receiver) baik
secara langsung maupun tidak langsung. Komunikasi dikatakan terjadi secara
langsung apabila pihak-pihak yang terlibat komunikasi dapat saling berbagi informasi

3
4

Riswandi, Ilmu Komunikasi, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), h. 1.
Nurani Soyomukti, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), h. 56.

3

tanpa melalui media. Sedangkan komunikasi tidak langsung dicirikan oleh adanya
penggunaan media tertentu.5 Komunikasi antarpribadi lebih efektif berlangsung jika
berjalan secara dialogis, yaitu antara dua orang saling menyampaikan dan memberi
pesan secara timbal balik. Dengan komunikasi dialogis, berarti terjadi interaksi yang
hidup karena masing-masing dapat berfungsi secara bersama, baik sebagai pendengar
maupun pembicara.6
Salah satu tempat terjadinya komunikasi antarpribadi adalah di sebuah asrama
yatim. Asrama yatim merupakan tempat tinggal dan dididiknya para anak yatim. Di
asrama yatim terdapat pimpinan asrama, para pengasuh, dan beberapa anak yatim.
Anak yatim adalah anak yang ditinggal oleh ayahnya sebelum dia baligh. Di dalam
ajaran Islam, mereka semua mendapat perhatian khusus melebihi anak-anak yang
wajar yang masih memiliki kedua orang tua. Islam memerintahkan kaum muslimin
untuk senantiasa memperhatikan nasib mereka, mengurus dan mengasuh mereka
sampai dewasa. Islam juga memberi nilai yang sangat istimewa bagi orang-orang
yang benar-benar menjalankan perintah ini.7
Secara psikologis, orang dewasa sekalipun apabila ditinggal ayah atau ibu
kandungnya pastilah merasa tergoncang jiwanya, dia akan sedih karena kehilangan
salah seorang yang sangat dekat dalam hidupnya. Orang yang selama ini
menyayanginya, memperhatikannya, menghibur, dan menasehatinya. Itu orang yang
dewasa, coba kita bayangkan kalau itu menimpa anak-anak yang masih kecil, anak
yang belum baligh, belum banyak mengerti tentang hidup dan kehidupan, bahkan
5

Suranto Aw, Komunikasi Interpersonal, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011), h. 5.
Nurani Soyomukti, Pengantar Ilmu Komunikasi, h. 143.
7
https://alikhlaskebonduren.wordpress.com

6

4

belum mengerti baik dan buruk suatu perbuatan, tapi ditinggal pergi oleh ayah atau
ibunya untuk selama-lamanya.
Oleh karena itu sekarang sudah banyak berdiri asrama yatim yang bertujuan
untuk menampung anak yatim agar tidak menjadi anak yang terlantar, sehingga
kehidupan anak-anak yatim bisa terselamatkan, mulai dari kesehatan hingga
pendidikannya dapat terjamin. Sehingga bisa menjadi anak yang berguna bagi nusa,
bangsa, dan agama ketika mereka beranjak dewasa.
Relasi atau hubungan sangat penting dalam sebuah asrama yatim. Karena
asrama yatim merupakan rumah kedua para anak yatim dan dhuafa yang tinggal dan
pengasuh merupakan orang kedua bagi anak yatim dan dhuafa yang tinggal di asrama
tersebut. Terutama relasi antara pengasuh dan anak yatim. Karena selain bertugas
mengasuh, para pengasuh juga berperan sebagai orang tua bagi anak-anak yatim yang
tinggal di asrama tersebut. Para pengasuh harus bisa membentuk relasi yang baik
dengan anak-anak yatim, agar para anak yatim merasa nyaman tinggal di sana. Salah
satu relasi yang cukup besar pengaruhnya dalam sebuah asrama yatim adalah relasi
antarpribadi. Relasi antarpribadi adalah hubungan antara dua orang atau lebih yang
dapat terjadi dalam waktu singkat maupun waktu lama dan terus-menerus hingga
langgeng.
Di Indonesia sudah banyak berdiri asrama yatim yang berbasis Islam, karena
dalam agama Islam kita diperintahkan untuk menyayangi anak yatim dan fakir
miskin. Salah satu asrama yatim yang berbasis Islam dan perkembangannya sudah
cukup besar di Indonesia adalah Griya Yatim Dhuafa (GYD). Pada awal berdirinya,
GYD dengan 6 orang karyawan menampung 9 orang anak yang tinggal di asrama dan

5

membina sekitar 15-an anak yang semua berasal dari kampong Dadap, pemukiman
kumuh persis di tengah-tengah megahnya perumahan Bumi Serpong Damai. Karena
dukungan masyarakat yang terus meluas mendorong dilakukannya pengelolaan
organisasi ini lebih baik dirintislah program beasiswa pendidikan yatim dan dhuafa,
santunan kesehatan, layanan donasi barang layak pakai dan lain-lain.
Pertumbuhan asrama meningkat. Kantor pelayanan dibuka di daerah Bintaro.
Ekspansi mulai melebar ke Jakarta dan Bekasi dengan dibukanya asrama ketiga di
Cibubur – Jakarta Timur dan asrama keempat di Kranggan – Bekasi.
Pada akhir tahun 2010 GYD membina lebih dari 800 binaan yang terdiri dari
anak yatim dan dhuafa, janda dan lansia serta mengasuh 50an anak yang tinggal di
seluruh asrama yatim dan dhuafanya.
Hingga sekarang sudah banyak cabang asrama yatim GYD yang dibangun.
Hingga sampai ke Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, hingga ke pulau Sumatera dan
Kalimantan.
Untuk itu penulis mengangkat dalam bentuk penelitian yang berjudul
KOMUNIKASI

ANTARPRIBADI

DALAM

MEMBANGUN

RELASI

ANTARA PENGASUH DENGAN ANAK YATIM DAN DHUAFA (STUDI
KASUS ASRAMA GRIYA YATIM DAN DHUAFA CABANG BINTARO
TANGERANG SELATAN).

6

B. Batasan dan Rumusan Masalah
1. Batasan Masalah
Dalam penelitian ini, penulis memberikan batasan masalah hanya pada
komunikasi antarpribadi yang dilakukan dua orang pengasuh serta kepada satu anak
yatim dan dua anak dhuafa yang berusia empat belas tahun sampai tujuh belas tahun
dalam membangun relasi di asrama Griya Yatim dan Dhuafa cabang Bintaro
Tangerang Selatan.
Pembatasan ini dilakukan agar penelitian ini menjadi lebih fokus, terarah, dan
mempermudah dalam proses pencarian data, selain itu pembatasan masalah ini
berguna untuk menghindari perluasan pembahasan yang tidak ada hubungannya
dengan masalah yang akan diteliti.
2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan menjadi acuan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana proses komunikasi antarpribadi pengasuh dengan anak yatim dan
dhuafa dalam membangun relasi di asrama Griya Yatim dan Dhuafa cabang
Bintaro Tangerang Selatan?
2. Apa saja hambatan yang terjadi dalam komunikasi antarpribadi pengasuh dengan
anak yatim dan dhuafa dalam membangun relasi di asrama Griya Yatim dan
Dhuafa cabang Bintaro Tangerang Selatan?
C. Tujuan Penelitian
Berkenaan dengan pokok permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini
dirumuskan sebagai berikut:

7

1. Untuk mengetahui bagaimana proses komunikasi antarpribadi pengasuh dengan
anak yatim dan dhuafa dalam membangun relasi di asrama Griya Yatim dan
Dhuafa cabang Bintaro Tangerang Selatan.
2. Untuk mengetahui hambatan apa saja yang terjadi dalam komunikasi antarpribadi
pengasuh dengan anak yatim dan dhuafa dalam membangun relasi di asrama
Griya Yatim dan Dhuafa cabang Bintaro Tangerang Selatan.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian ilmu dalam bidang
komunikasi antarpribadi bagi mahasiswa khususnya jurusan Komunikasi dan
Penyiaran Islam pada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi para
pengasuh serta anak-anak yatim dan dhuafa dalam membangun relasi di asrama
tempat mereka tinggal dan dididik.
E. Metodologi Penelitian
Metodologi adalah ilmu tentang kerangka kerja untuk melaksanakan
penelitian yang bersistem; sekumpulan peraturan, kegiatan dan prosedur yang
digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu; studi atau analisis teoretis mengenai
suatu cara atau metode; atau cabang ilmu logika yang berkaitan dengan prinsip
umum pembentukan pengetahuan atau ilmu yang membicarakan cara, jalan, atau
petunjuk praktis dalam penelitian atau membahas konsep teoritis berbagai metode

8

atau dapat dikatakan sebagai cara untuk membahas tentang dasar-dasar filsafat
ilmu dari metode penelitian.8

1. Paradigma Penelitian
Paradigma merupakan perspektif penelitian yang digunakan peneliti, yang
berisi bagaimana peneliti melihat realita, bagaimana mempelajari fenomena, caracara yang digunakan dalam penelitian, dan cara-cara yang digunakan dalam
menginterpretasikan

temuan.9

Penelitian

ini

menggunakan

paradigma

konstruktivis. Paradigma konstruktivis meneguhkan asumsi bahwa individuindividu selalu berusaha memahami dunia di mana mereka hidup dan bekerja.
Mereka mengembangkan makna-makna subjektif atas pengalaman-pengalaman
mereka – makna-makna yang diarahkan pada objek-objek atau benda-benda
tertentu. Makna-makna ini pun cukup banyak dan beragam sehingga peneliti
dituntut untuk lebih mencari kompleksitas pandangan-pandangan ketimbang
mempersempit makna-makna menjadi sejumlah kategori dan gagasan. Peneliti
berusaha mengandalkan sebanyak mungkin pandangan partisipan tentang situasi
yang tengah diteliti.10
Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis karena penulis akan
melakukan penelitian dengan komunikasi antarpribadi antara Pengasuh dengan
Anak Yatim dan Dhuafa dalam membangun relasi.
8

Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi, Dan Karya Ilmiah,
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2014), h. 23.
9
Imam Gunawan, Metodologi Penelitian Kualitatif Teori & Praktik, (Jakarta: PT Bumi
Aksara, 2013), h. 25.
10
John W. Creswell, Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h. 11.

9

2. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan bersifat
penelitian deskriptif. Pendekatan kualitatif adalah keterkaitan spesifik pada studi
hubungan sosial yang berhubungan dengan fakta dari pluralisasi dunia
kehidupan.11 Data yang dikumpulkan lebih mengambil bentuk kata-kata atau
gambar daripada angka-angka. Jika data yang terkumpul sudah mendalam dan
sudah bisa menjelaskan apa yang diteliti, maka tidak perlu mencari sampling
lainnya. Hasil penelitian tertulis berisi kutipan-kutipan dari data untuk
mengilustrasikan dan menyediakan bukti presentasi.
Maka pada penelitian ini penulis akan melakukan pengamatan yang
berhubungan dengan komunikasi antarpribadi dalam membangun relasi antara
pengasuh dengan anak yatim dan dhuafa melalui teknik pengumpulan data
observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian semua hasil tersebut penulis
menginterpretasikan dengan teori-teori yang relevan.
3. Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah metode penelitian studi kasus, yakni suatu
metode penelitian kualitatif yang berusaha menemukan makna, menyelidiki
proses, dan memperoleh pengertian dan pemahaman yang mendalam dari
individu, kelompok, atau situasi.12
Studi kasus meliputi analisis mendalam dan kontekstual terhadap situasi
yang mirip dalam organisasi lain, di mana sifat dan definisi masalah yang terjadi
11

Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik, h. 81.
Emzir, Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2012), h. 20.
12

10

adalah serupa dengan masalah yang dihadapi saat ini. Studi kasus pada dasarnya
mempelajari secara intensif seorang individu atau kelompok yang dipandang
mengalami kasus tertentu.13
Penulis menempatkan komunikasi antarpribadi dalam membangun relasi
antara pengasuh dengan anak yatim dan dhuafa sebagai kasus atau fenomena
yang bersifat kontemporer maka penulis perlu mengumpulkan data dari berbagai
sumber agar dapat mengetahui apa yang sedang terjadi.
4. Subjek dan Objek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian ialah pengasuh serta
anak yatim dan dhuafa di asrama Griya Yatim dan Dhuafa cabang Bintaro,
sedangkan yang menjadi objek penelitian adalah bagaimana proses komunikasi
antarpribadi dalam membangun relasi antara pengasuh dengan anak yatim dan
dhuafa.
5. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di asrama Griya Yatim dan Dhuafa cabang
Bintaro, Jl. Elang Raya Blok HG8 No. 7, Bintaro Jaya Sektor IX, Telp: 021
74863014. Waktu penelitian terhitung sejak tanggal 20 Desember 2015 hingga
tanggal 02 Maret 2016.
6. Teknik Pengumpulan Data
Teknik merupakan cara yang digunakan peulis untuk mendapatkan data.
Data ialah bahan keterangan tentang suatu objek penelitian yang diperoleh di
lokasi penelitian.
13

Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi, Dan Karya Ilmiah, h. 35.

11

a. Observasi
Observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia dengan
menggunakan pancaindra mata sebagai alat bantu utamanya selain pancaindra
lainnya seperti telinga, penciuman, mulut, dan kulit. Karena itu, observasi adalah
kemampuan seseorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja
pancaindra mata serta dibantu pancaindra lainnya.14 Penulis dalam penelitian
langsung melakukan pengamatan langsung ke Pengasuh serta Anak yatim dan
Dhuafa yang tinggal di asrama tersebut. Pengamatan yang dilakukan yakni
penulis langsung mendatangi dan mengamati proses komunikasi antarpribadi
guna memperoleh data-data yang akurat tentang berbagai hal yang mengenai
objek penelitian.
b. Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam secara umum adalah proses memperoleh keterangan
untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara
pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa
menggunakan pedoman wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat
dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Dalam wawancara mendalam
berlangsung suatu diskusi terarah di antara peneliti dan informan menyangkut
masalah yang diteliti.15
Wawancara mendalam dilakukan dengan Maman Firmansyah selaku kepala
asrama atau bapak asrama, Imelda Iskandar selaku wakil kepala asrama atau ibu

h. 115.

14

M. Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010),

15

Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik, h. 165.

12

asrama, juga kepada satu anak yatim dan dua dhuafa yaitu Khuluqil Hasanah,
Dwi Anis Fitria, dan Ressa Nurafifah.
c. Dokumentasi
Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk
dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia yaitu berbentuk surat, catatan
harian, cendera mata, laporan, artefak, dan foto. Penulis memperoleh data
dokumentasi dari buku-buku, internet dan artikel yang berhubungan dengan
komunikasi antarpribadi dan pembangunan relasi.
7. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan bagian sangat penting dalam penelitian karena
dari analisis ini akan diperoleh temuan, baik temuan substantive maupun formal.
Penulis mengintepretasikan data untuk memperoleh arti dan makna yang lebih
mendalam dan luas terhadap hasil penelitian yang sedang dilakukan. Pembagian
hasil penelitian dilakukan dengan cara meninjau hasil penelitian secara kritis
dengan teori yang relevan dan informasi akurat yang diperoleh di lapangan.
Menurut Miles dan Huberman ada tiga tahapan yang harus dikerjakan
dalam menganalisis data penelitian kualitatif, yaitu reduksi data, paparan data,
dan penarikan kesimpulan.
F. Tinjauan Pustaka
Dalam proses penelitian ini, penulis mengambil beberapa hasil penelitian
terdahulu yang dijadikan bahan perbandingan karena pembahasan skripsi
terdahulu memiliki grand pemikiran yang sama, antara lain:

13

1. Fathiyatur Rizkiyah, yang menulis “ Komunikasi Antarpribadi Pengajar dan
Santri Tunanetra dalam Memotivasi Menghafal Al-Quran di Yayasan
Raudlatul Makfufin Serpong Tangerang Selatan”, Fakultas Ilmu Dakwah dan
Ilmu Komunikasi, 1111051000099, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2015. Ia
menggunakan metode kualitatif. Persamaannya adalah sama-sama membahas
tentang komunikasi antarpribadi, sedangkan perbedaannya terletak pada
subjek dan objek penelitiannya dalam penelian ini yang menjadi subjek
penelitian adalah pengajar dan santri tunanetra sedangkan yang menjadi objek
penelitian adalah dalam memotivasi menghafal Al-Quran. Perbedaan juga
terletak pada lokasi penelitiannya yaitu di Yayasan Raudlatul Makfufin
Serpong Tangerang Selatan.
2. Dwi Asriani Nugraha, yang menulis “Komunikasi Antarpribadi Perawat
Terhadap Pasien Skizofrenia dalam Proses Peningkatan Kesadaran di Rumah
Sakit Jiwa Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor”, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi, 1111051000088, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2015. Ia
menggunakan metode kualitatif. Persamaannya adalah sama-sama membahas
tentang komunikasi antarpribadi, sedangkan perbedaannya terletak pada
subjek dan objek penelitiannya, dalam penelitian ini yang menjadi subjek
penelitian adalah perawat dan pasien skizofrenia sedangkan yang menjdai
objek penelitian adalah dalam proses peningkatan kesadaran. Perbedaan juga
terletak pada lokasi penelitiannya yaitu di Rumah Sakit Jiwa Dr. H. Marzoeki
Mahdi Bogor.

14

3. Hamidah, yang menulis “Pola Komunikasi Antarpribadi Nonverbal
Penyandang Tuna Rungu (Studi Kasus di Yayasan Tuna Rungu Sehjira Deaf
Foundation Joglo-Kembangan Jakarta Barat)”, Fakultas Ilmu Dakwah dan
Ilmu Komunikasi, 1110051000054, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2014. Ia
menggunakan metode kualitatif. Persamaannya adalah sama-sama membahas
tentang komunikasi antarpribadi, sedangkan perbedaannya terletak pada
subjek dan lokasi penelitiannya, dalam penelitian ini yang menjadi subjek
penelitian adalah para penyandang tuna rungu sedangkan lokasi penelitian ini
dilakukan di Yayasan Tuna Rungu Sehjira Deaf Foundation JogloKembangan Jakarta Barat.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian
yang penulis ajukan berbeda dengan ketiga penelitian di atas. Pada penelitian ini
penulis meneliti komunikasi antarpribadi untuk mengetahui bentuk komunikasi
antarpribadi dan hambatan yang terjadi antara pengasuh dengan anak yatim dan
dhuafa dalam membangun relasi di asrama Griya Yatim dan Dhuafa cabang
Bintaro Tangerang Selatan. Selain itu perbedaannya juga terletak pada lokasi
penelitian, pada penelitian ini penulis meneliti di asrama Griya Yatim dan Dhuafa
cabang Bintaro Tangerang Selatan yang berbeda dengan lokasi-lokasi penelitian
pada ketiga skripsi di atas.
G. Sistematika Penulisan
Tekhnik dari penulisan skripsi ini dilakukan dengan menggunakan pedoman
penulisan karya ilmiah (Skripsi, Tesis, Disertasi) yang telah disusun oleh tim UIN

15

Syarif Hidayatullah Jakarta press 2011. Peneliti membagi ke dalam lima bab agar
mempermudah dalam pembahasannya dengan sistematika penulisan sebagai
berikut:
BAB I

PENDAHULUAN

Merupakan penjelasan dari latar belakang masalah penelitian skripsi ini. Selain
itu, isinya juga meliputi batasan dan rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika penulisan.

BAB II

LANDASAN TEORI DAN KERANGKA KONSEP

Berisi penjelasan tentang teori penetrasi sosial, penjelasan tentang komunikasi,
penjelasan

tentang

komunikasi

antarpribadi,

penjelasan

tentang

relasi

antarpribadi, dan penjelasan tentang definisi anak yatim, kedudukan anak yatim,
serta hak dan kewajiban terhadap anak yatim.

BAB III

GAMBARAN

UMUM

YAYASAN

GRIYA

YATIM

DAN

DHUAFA
Membahas mengenai profil umum yayasan Griya Yatim Dan Dhuafa, seperti
sejarah berdirinya yayasan Griya Yatim dan Dhuafa, kegiatan yang dilakukan
oleh yayasan Griya Yatim dan Dhuafa, manajemen yayasan Griya Yatim dan
Dhuafa, struktur kepengurusan di asrama yatim Griya Yatim dan Dhuafa cabang
Bintaro, dan daftar nama anak yatim yang tinggal di asrama Griya Yatim dan
Dhuafa cabang Bintaro.

16

BAB IV

HASIL TEMUAN DAN ANALISIS DATA

Bab ini terdiri dari identifikasi informan, penguraian teori penetrasi sosial sebagai
proses pencapaian komunikasi antarpribadi pengasuh dan anak yatim dalam
membangun relasi, upaya yang dilakukan pengasuh terhadap anak yatim dalam
membangu relasi, serta hambatan-hambatan yang ditemukan pengasuh

saat

berkomunikasi dengan anak-anak yatim di asrama yatim Griya Yatim dan Dhuafa
cabang Bintaro.

BAB V

PENUTUP

Meliputi kesimpulan dan saran atas penelitian yang telah dibahas dalam skripsi
ini.

BAB II
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA KONSEP
A. Teori Penetrasi Sosial Irwin Altman dan Dalmas Taylor
Teori penetrasi sosial (social penetration theory) berupaya mengidentifikasi
proses peningkatan keterbukaan dan keintiman seseorang dalam menjalin hubungan
dengan orang lain. Teori yang disusun oleh Irwin Altman dan Dalmas Taylor ini,
merupakan salah satu karya penting dalam perjalanan panjang penelitian di bidang
perkembangan hubungan (relationship development).
Pada tahap awal penelitian penetrasi sosial perhatian para peneliti sebagian
besar dicurahkan pada perilaku dan motivasi individu berdasarkan tradisi
sosiopsikologi yang sangat kental. Dewasa ini, kita menyadari bahwa perkembangan
hubungan diatur oleh seperangkat kekuatan yang kompleks yang harus dikelola secara
terus-menerus oleh para pihak yang terlibat. Cara pandang yang lebih maju terhadap
teori perkembangan hubungan ini sebagian besar muncul dari tradisi sosiokultural dan
fenomenologi.
Teori penetrasi sosial memiliki beberapa asumsi, antara lain:
a. Hubungan-hubungan mengalami kemajuan dari tidak intim menjadi intim.
Hubungan komunikasi antara dua orang dimulai pada tahapan superfisial dan
bergerak pada sebuah kontinum menuju tahapan yang lebih intim.

17

18

b. Secara umum, perkembangan hubungan sistematis dan dapat diprediksi.
Secara khusus, para teoretikus penetrasi berpendapat bahwa hubunganhubungan berkembang secara sistematis dan dapat diprediksi. Beberapa orang
mungkin memiliki kesulitan untuk menerima klaim ini. Hubungan seperti
proses komunikasi bersifat dinamis dan terus berubah, tetapi bahkan sebuah
hubungan yang dinamis mengikuti standar dan pola perkembangan yang dapat
diterima.
c. Perkembangan hubungan mencakup depenetrasi (penarikan diri) dan disolusi.
Sejauh ini kita telah membahas titik temu dari sebuah hubungan. Akan tetapi,
hubungan dapat menjadi berantakan, atau menarik diri, dan kemunduran ini
dapat menyebabkan terjadinya disolusi hubungan. Berbicara mengenai
penarikan diri dan disolusi, Altman dan Taylor menyatakan kemiripan proses
ini dengan sebuah film yang diputar mundur. Sebagaimana komunikasi
memungkinkan sebuah hubungan untuk bergerak maju menuju tahap
keintiman, komunikasi dapat menggerakan hubungan untuk mundur menuju
tahap ketidakintiman jika suatu komunikasi penuh dengan konflik.
d. Asumsi yang terakhir adalah pembukaan diri adalah inti dari perkembangan
hubungan. Pembukaan diri dapat secara umum didefinisikan sebagai proses
pembukaan informasi mengenai diri sendiri kepada orang lain yang memiliki
tujuan. Biasanya, informasi yang ada di dalam pembukaan diri adalah

19

informasi yang signifikan. Menurut Altman dan Taylor hubungan yang tidak
intim bergerak menuju hubungan yang intim karena adanya keterbukaan diri.1
Menurut teori ini, kita akan mengetahui atau mengenal diri orang lain dengan
cara “masuk ke dalam” (penetrating) bola diri orang bersangkutan. “Bola diri”
seseorang itu sendiri memiliki dua aspek yaitu aspek “keluasan” (breadth) dan aspek
“kedalaman” (depth). Kita dapat mengetahui berbagai jenis informasi mengenai diri
orang lain (keluasan), atau kita mungkin bisa mendapatkan informasi detail dan
mendalam mengenai satu atau dua aspek dari diri orang lain itu (kedalaman). Ketika
hubungan di antara dua individu berkembang, maka masing-masing individu akan
mendapatkan lebih banyak informasi yang akan semakin menambah keluasan dan
kedalaman pengetahuan mereka satu sama lainnya.
Teori pertama dari Altman dan Taylor ini disusun berdasarkan suatu gagasan
yang sangat populer dalam tradisi sosiopsikologi yaitu ide bahwa manusia membuat
keputusan didasarkan atas prinsip “biaya” (cost) dan “imbalan” (reward). Menurut
Altman dan Taylor orang tidak hanya menilai biaya dan imbalan suatu hubungan
pada saat tertentu saja, tetapi mereka juga menggunakan segala informasi yang ada
untuk memperkirakan biaya dan imbalan pada waktu yang akan datang.
Ketika imbalan yang diterima lambat laun semakin besar sedangkan biaya
semakin berkurang, maka hubungan di antara pasangan individu akan semakin dekat
dan intim, dan mereka masing-masing akan lebih banyak memberikan informasi

1

Richard West dan Lynn H. Turner, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi,
(Jakarta: Salemba Humanika, 2008), h. 199.

20

mengenai diri mereka masing-masing. Altman dan Taylor mengajukan empat tahap
perkembangan hubungan antar-individu yaitu:
1) Tahap orientasi, tahap di mana komunikasi yang terjadi bersifat tidak pribadi
(impersonal). Para individu yang terlibat hanya menyampaikan informasi yang
bersifat sangat umum saja. Selama tahap ini, pernyataan-pernyataan yang dibuat
biasanya hanya hal-hal yang klise dan merefleksikan aspek superfersial dari
seorang individu. Orang biasanya bertindak sesuai dengan cara yang dianggap
baik secara sosial dan berhati-hati untuk tidak melanggar harapan sosial. Selain
itu, individu-individu tersenyum manis dan bertindak sopan pada tahap orientasi.
Taylor dan Altman (1987) menyatakan bahwa orang cenderung tidak
mengevaluasi atau mengkritik selama tahap orientasi. Perilaku ini akan
dipersepsikan sebagai ketidakwajaran oleh orang lain dan mungkin akan merusak
interaksi selanjutnya. Jika evaluasi terjadi, teoretikus percaya bahwa kondisi itu
akan diekspresikan dengan sangat halus. Selain itu, kedua individu secara aktif
menghindari setiap konflik sehingga mereka mempunyai kesempatan berikutnya
untuk menilai diri mereka masing-masing. Jika pada tahap ini mereka yang
terlibat merasa cukup mendapatkan imbalan dari interaksi awal, maka mereka
akan melanjutkan ke tahap berikutnya yaitu tahap pertukaran efek eksploratif.
2) Tahap pertukaran efek eksploratif (exploratory affective exchange), tahap di mana
muncul gerakan menuju ke arah keterbukaan yang lebih dalam. Tahap ini
menyajikan suatu perluasan mengenai banyaknya komunikasi dalam wilayah di
luar publik; aspek-aspek kepribadian yang dijaga atau ditutupi sekarang mulai
dibuka atau secara lebih perinci, rasa berhati-hati sudah mulai berkurang.

21

Hubungan pada tahap ini umumnya lebih ramah dan santai, dan jalan menuju ke
wilayah lanjutan yang bersifat akrab dimulai.2 Tahap ini merupakan perluasan
area publik dari diri dan terjadi ketika aspek-aspek dari kepribadian seorang
individu mulai muncul. Apa yang tadinya privat menjadi publik. Para teoritikus
mengamati bahwa tahap ini setara dengan hubungan yang kita miliki dengan
kenalan dan tetangga yang baik. Seperti tahap-tahap lainnya, tahap ini juga
melibatkan perilaku verbal dan nonverbal. Orang mungkin mulai untuk
menggunakan beberapa frase yang hanya dapat dimengerti oleh mereka yang
terlibat di dalam hubungan. Terdapat sedikit spontanitas dalam komunikasi
karena individu-individu merasa lebih nyaman dengan satu sama lain, dan mereka
tidak begitu hati-hati akan kelepasan berbicara mengenai sesuatu yang nantinya
akan mereka sesalkan. Selain itu, lebih banyak perilaku menyentuh dan tampilan
afeksi (seperti ekspresi wajah) dapat menjadi bagian dari komunikasi dengan
orang satunya. Taylor dan Altman mengatakan kepada kita bahwa banyak
hubungan tidak bergerak melebihi tahapan ini.
3) Tahap pertukaran efek (affective exchange), tahap munculnya perasaan kritis dan
evaluative pada level yang lebih dalam. Tahap ketiga ini tidak akan dimasuki
kecuali para pihak pada tahap sebelumnya telah menerima imbalan yang cukup
berarti dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Tahap ini ditandai oleh
persahabatan yang dekat dan pasangan yang intim. Di sini, perjanjian bersifat
interaktif lebih lancar dan kausal. Interaksi pada lapis luar kepribadian menjadi

2

Muhammad Budyatna dan Leila Mona Ganiem, Teori Komunikasi Antarpribadi, (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2012), h. 228.

22

terbuka, dan adanya aktivitas yang meningkat pada lapis menengah kepribadian.
Meskipun adanya rasa kehati-hatian, umumnya terdapat sedikit hambatan untuk
penjajakan secara terbuka mengenai keakraban. Pentingnya pada tahap ini ialah
bahwa rintangan telah disingkirkan dan kedua pihak belajar banyak mengenai
satu sama lain. Tahap ini termasuk interaksi yang lebih “tanpa beban dan santai”
(Taylor dan Altman, 1987) di mana komunikasi sering kali berjalan spontan dan
individu membuat keputusan yang cepat, sering kali dengan sedikit memberikan
perhatian untuk hubungan secara keseluruhan. Tahap pertukaran afektif
menggambarkan komitmen lebih lanjut kepada individu lainnya; para interaktan
merasa nyaman satu dengan lainnya. Tahap ini mencakup nuansa-nuansa
hubungan yang menbuatnya menjadi unik; senyuman mungkin menggantikan
untuk kata “saya mengerti”, atau pandangan yang menusuk diartikan sebagai
“kita bicarakan ini nanti”. Tahap ini merupakan tahap peralihan ke tingkat yang
paling tinggi mengenai pertukaran keakraban yang mungkin.
4) Tahap pertukaran stabil (stable exchange), adanya keintiman dan pada tahap ini,
masing-masing individu dimungkinkan untuk memperkirakan masing-masing
tindakan mereka dan memberikan tanggapan dengan sangat baik.3 Dalam tahap
ini, pasangan berada dalam tingkat keintiman tinggi dan sinkron; maksudnya,
perilaku-perilaku di antara keduanya kadang kala terjadi kembali, dan pasangan
mampu untuk menilai dan menduga perilaku pasangannya dengan cukup akurat.
Kadang kala, pasangan mungkin menggoda satu sama lain mengenai suatu topik

3

Morissan, Teori Komunikasi Individu Hingga Massa, (Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2014), h. 299.

23

atau orang lain. Menggoda di sini dilakukan dengan cara yang bersahabat. Para
teoritikus Penetrasi Sosial percaya bahwa terdapat relatif sedikit kesalahan atau
kesalahan interpretasi dalam memaknai komunikasi pada tahap ini. Alasan untuk
hal ini sangat sederhana: kedua pasangan ini telah mempunyai banyak
kesempatan untuk mengklarifikasi setiap ambiguitas yang pernah ada dan mulai
untuk membentuk sistem komunikasi pribadinya. Sebagai hasilnya, komunikasi,
menurut Altman dan Taylor, bersifat efisien. Mengenai pengembangan dalam
hubungan yang tumbuh dicirikan oleh keterbukaan yang berkesinambungan juga
adanya kesempurnaan kepribadian pada semua lapisan. Baik komunikasi yang
bersifat publik maupun pribadi menjadi efisien – kedua pihak saling mengetahui
satu sama lain dengan baik dan dapat dipercaya dalam menafsirkan dan
memprediksi perasaan dan mungkin juga perilaku pihak lain.
Teori penetrasi sosial awal ini berperan penting dalam memusatkan perjatian
kita pada perkembangan hubungan, namun demikian, teori ini tidak dapat
memberikan penjelasan yang memuaskan terhadap praktik hubungan yang
sebenarnya dalam kehidupan aktual sehari-hari. Gagasan yang menyatakan bahwa
interaksi bergerak meningkat mulai dari tahap umum hingga tahap pribadi dalam
suatu garis lurus (liner fahion) saat ini sudah menjadi terlalu sederhana. Kita tahu dari
pengalaman bahwa hubungan berkembang dalam berbagai cara, sering kali suatu
hubungan bergerak secara timbal balik dari terbuka kepada tertutup dan sebaliknya.
Dalam tulisan mereka selanjtnya, Altman dan rekan mengakui keterbatasan
ini dan melakukan revisi terhadap teori penetrasi sosial awal dengan memberikan
gagasan yang lebih kompleks terhadap perkembangan hubungan. Perkembangan

24

terbaru teori penetrasi sosial menunjukkan sifat yang lebih konsisten dan sesuai
dengan pengalaman aktual sehari-hari yang menunjukkan proses dialektis dan
cyclical (bergerak secara melingkar, membentuk siklus). Teori ini bersifat dialektis
karena melibatkan pengelolaan ketegangan tanpa akhir antara informasi umum dan
pribadi, dan bersifat siklus karena bergerak maju-mundur dalam pola melingkar.
Teori penetrasi sosial tidak lagi sekadar menggambarkan perkembangan
linear, dari informasi umum kepada informasi pribadi, perkembangan hubungan kini
dipandang sebagai suatu siklus antara siklus stabilitas dan siklus perubahan. Pasangan
individu perlu mengelola kedua siklus yang saling bertentangan ini untuk dapat
membuat perkiraan (predictability) dan juga untuk kebutuhan fleksibilitas dalam
hubungan.
Sikap seseorang untuk terbuka atau tertutup merupakan suatu siklus, dan
siklus keterbukaan dan ketertutupan suatu pasangan memiliki pola perubahan regular,
atau perubahan yang dapat diperkirakan. Pada hubungan yang sudah sangat
berkembang, siklus berlangsung dalam periode waktu yang lebih panjang daripada
hubungan tahap awal (kurang berkembang). Alasannya adalah karena hubungan yang
lebih berkembang rata-rata memiliki keterbukaan lebih besar daripada hubungan
yang kurang berkembang (ini sesuai atau konsisten dengan ide dasar teori penetrasi
sosial awal). Sebagai tambahan, ketika hubungan berkembang, para pihak dalam
pasangan menjadi lebih mampu mengelola atau melakukan koordinasi terhadap siklus
keterbukaan. Masalah waktu dan seberapa jauh keterbukaan semakin lebih dapat
diatur. Dengan kata lain, pasangan telah dapat mengatur kapan mereka harus terbuka

25

dan seberapa jauh keterbukaan itu dapat dilakukan. Hal ini merupakan kebutuhan
fleksibilitas dalam hubungan.
Ruang lingkup penetrasi sosial dapat digambarkan sebagai berikut:

Pertumbuhan dan
perkembangan hubungan
interpersonal

Maksud yang
tersembunyi dan jelas
berproses dalam ….

Faktor-faktor
diadik (imbalan
dan biaya)

melalui waktu
sebagai fungsi
dari…

Melemah dan
terputusnya hubungan
antarpribadi …..

Karakteristik
personal individu

Faktor-faktor
situasional

Gambar 2.1. Ruang Lingkup Penetrasi Sosial
Ruang lingkup ini dapat dirumuskan dalam dua hipotesis.
I.

Bahwa

pertukaran

yang

bersifat

antarpribadi

mengalami

kemajuan

(perkembangan) secara bertahap, mulai dari tingkat permukaan yang dangkal
dan kurang akrab ke lapisan diri yang lebih akrab dan dalam dari para pelaku.
Jadi umumnya orang akan menjadikan dirinya diketahui oleh orang lain
melalui cara bertahap. Pertama yang ditampilkan ialah informasi yang kurang
akrab sifatnya dan lambat laun baru aspek-aspek yang lebih bersifat pribadi
ditampilkan.

26

II.

Dalam proses pertukaran, orang menentukan nilai atau besarnya imbalan
(reward) dan biaya (cost), kepuasan dan kekecewaan, yang diperoleh dari
interaksi dengan orang lain. Bahwa peningkatan dari suatu hubungan sangat
bergantung kepada jumlah dan sifat dari imbalan dan biaya.

B. Komunikasi
1. Definisi Komunikasi
Istilah komunikasi atau communication berasal dari bahasa latin, yaitu
communicatius yang berarti berbagi atau menjadi milik bersama. Kata sifatnya
communis yang bermakna umum atau bersama-sama. Dengan demikian
komunikasi menurut Lexicographer (ahli kamus bahasa), menunjuk pada suatu
upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan.4
Komunikasi adalah proses, yang artinya sedang berlangsung dan selalu
bergerak, bergerak semakin maju dan berubah secara terus-menerus. Sulit
mengatakan kapan komunikasi dimulai dan berhenti karena apa yang terjadi jauh
sebelum kita berbicara dengan seseorang bisa memengaruhi interaksi, dan apa
yang muncul di dalam sebuah pertemuan tertentu bisa berkelanjutan di masa
depan. Kita tidak dapat membekukan komunikasi kapan pun.
Komunikasi juga sistemis, yang berarti bahwa itu terjadi dalam suatu sistem
pada bagian yang saling berhubungan yang memengaruhi satu sama lain. Selain

4

Marhaeni Fajar, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktik, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), h. 31.

27

itu, lingkungan fisik dan waktu merupakan elemen-elemen dari sistem itu yang
memengaruhi interaksi.5
Komunikasi terjadi jika setidaknya suatu sumber membangkitkan resp