Peranan Pendidik Dalam Pengembangan Fitrah Sebagai Potensi Dasar Manusia Di Sma Dharma Karya Ut Pamulang, Tangerang Selatan

PERANAN PENDIDIK DALAM PENGEMBANGAN FITRAH SEBAGAI
POTENSI DASAR MANUSIA DI SMA DHARMA KARYA UT
PAMULANG, TANGERANG SELATAN

SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah
Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam (S.PdI)

Disusun Oleh
MUHAMMAD ILZAM ASY’ARI
208011000027

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JAKARTA
2013 M / 1434 H

PERANAN PENDIDIK DALAM PENGEMBANGAN FITRAH SEBAGAI
POTENSI DASAR MANUSIA DI SMA DHARMA KARYA UT
PAMULANG, TANGERANG SELATAN

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Untuk Memenuhi Salah
Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam (S.PdI)

Oleh,
Muhammad Ilzam Asy'ari
208011000027

Di bawah bimbingan,

Marhamah Saleh, Lc. MA
NIP, 19720313 200801 2 010

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JAKARTA
2013 M / 1434 H

ABSTRAK

Peranan Pendidik dalam Pengembangan Fitrah sebagai Potensi Dasar
Manusia di SMA Dharma Karya UT Pamulang, Tangerang Selatan.
Kata Kunci : Peran Pendidik (Guru), Fitrah, Potensi Dasar.
Peran pendidik (guru) di sekolah selain mengajar juga harus memahami
dan mengembangkan fitrah sebagai potensi dasar siswa agar mempermudah
tercapainya tujuan pendidikan yakni menjadikan siswa yang dewasa, mandiri,
cerdas dan bertanggung jawab atas keluarga, masyarakat atau bangsa dan
negaranya.
Kurangnya perhatian dalam mengembangkan fitrah siswa ini akan
menimbulkan kesenjangan sosial. Misalnya sekarang masih banyak siswa yang
sering tawuran di sekolah, membuat anarki di jalan raya, balapan motor yang
mengganggu ketertiban lalu lintas di jalan raya, bahkan sampai berbuat kriminal
yang menewaskan nyawa seseorang.
Oleh karena permasalahan ini, peneliti ingin menelaah lebih dalam tentang
perang pendidik dalam mengembangkan fitrah sebagai potensi dasar manusia.
Penelitian ini dilakukan di sekolah SMA Dharma Karya UT Pamulang, Tangerang
Selatan. Objek penelitian ini yaitu siswa kelas XI yang dijadikan populasi dalam
penelitian ini dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Sehingga
semuanya dapat di gambarkan sesuai dengan fenomena kondisi apa yang ada di
lapangan.
Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa peran pendidik dalam
mengembangkan fitrah sebagai potensi dasar manusia di SMA Dharma Karya UT
Pamulang Kota Tangerang Selatan di peroleh rxy sebesar 0,22. Hal ini
menunjukkan korelasi antara variabel X (peran pendidik) dengan variabel Y
(mengembangkan fitrah sebagai potensi dasar) merupakan korelasi positif yang
signifikan berada pada rentang 0,20 – 0,39 berarti terdapat korelasi positif yang
lemah/rendah. Dengan hasil KD (coefficient of determination) 4,84%. Ini
disebabkan peran guru sebagai motivator dan fasilitator dinilai kurang oleh
siswanya. Walaupun rendah/lemah yang terpenting ialah guru memberikan
kontribusi untuk mengembangkan potensi dasar siswa karena tidak hanya peran
pendidik di sekolah, peran dari keluarga dan masyarakat pun juga turut membantu
jika ingin mencapai tujuan yang maksimal dalam mengembangkan fitrah sebagai
potensi dasar siswa.

MUHAMMAD ILZAM ASY'ARI (Pendidikan Agama Islam)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah Swt, yang
telah melimpahkan kekuatan lahir dan bathin kepada diri penulis, sehingga setelah
melalui proses yang cukup panjang, pada akhirnya penulisan skripsi ini dapat
terselesaikan. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi
Muhammad Saw beserta keluarga dan sahabatnya demikian juga para
pengikutnya yang setia mengikuti jejak Rasulullah Saw. Amiin…Yaa Robbal
Alamin.
Selanjutnya penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tak
terhingga kepada semua pihak yang membantu kelancaran penulisan skripsi ini,
baik berupa dorongan moril maupun materil. Karena penulis yakin tanpa bantuan
dan dukungan tersebut, sulit rasanya bagi penulis untuk menyelesaikan penulisan
skripsi ini.
Di samping itu, izinkan penulis untuk menyampaikan ucapan apresiasi dan
terima kasih yang setinggi-tingginya kepada:
1.

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif hidayatullah Jakarta
bapak Prof. Dr. H. Rif'at Syauqi, MA, selaku dosen seminar proposal beserta
seluruh staffnya.

2.

Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam bapak Bahrissalim, M.Ag dan
sekertaris jurusan Pendidikan Agama Islam Drs. Sapiudin Shidiq, M.Ag
beserta seluruh staafnya.

3.

Marhamah Saleh, Lc yang telah sabar dan meluangkan waktunya untuk
membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4.

Bapak dan ibu dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah
memberikan ilmunya kepada penulis, semoga bapak dan ibu dosen selalu
dalam rahmat dan lindungan Allah Swt. Sehingga ilmu yang diajarkan dapat
bermanfaat di kemudian hari.
ii

5.

Ungkapan terima kasih dan penghargaan yang sangat special penulis
haturkan dengan rendah hati dan rasa hormat kepada penulis yang tercinta,
Ayahanda H. Ach. Suja'I dan ibunda Hj. Sofiah serta keluarga penulis adinda
Alfin fiqih dan Thoriq Hidayatul Haq yang dengan segala pengorbanannya
yang tak pernah penulis lupakan atas jasa-jasa mereka. Doa restu, nasihat dan
petunjuk dari mereka berdua kiranya merupakan dorongan moril yang paling
efektif bagi kelanjutan studi penulis hingga saat ini.

6.

Drs. Wahid Hasyim selaku kepala sekolah SMA Dharma Karya UT
Pamulang, Kota Tangerang Selatan beserta guru-guru dan stafnya yang telah
memberikan izin, bantuan, dorongan nasihat dan kerja samanya dalam
penelitian.

7.

Ibu pimpinan perpustakaan utama beserta stafnya, Perpustakaan Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, segala kemudahan yang diberikan kepada
penulis untuk mendapatkan referensi yang mendukunh penyelesaian skripsi
ini.

8.

Teman-temanku mahasiswa UIN khususnya Jurusan Pendidikan Agama
Islam angkatan 2008, teman-teman dekatku Jumar, Fahru, Bangun
Parlindungan, Siti Hanifah, Khodijah, Fitri, Romadhon yang selalu
memberikan semangat kepada penulis.
Akhirnya penulis berharap semoga amal baik dari semua pihak yang telah

membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini mendapatkan balasan pahala
dari rahmat Allah Swt. Semoga apa yang telah ditulis dalam skripsi ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak . Amiin Yaa Rabbal alamiin.

Jakarta, 2 Januari 2013

Muhammad Ilzam Asy'ari

iii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI SKRIPSI
LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING
LEMBAR PERNYATAAN KARYA SENDIRI
ABSTRAK …………………………………………………………………….

i

KATA PENGANTAR ……………………………………………………….

ii

DAFTAR ISI ………………………………………………………………….

iv

DAFTAR TABEL ……………………………………………………………

vi

DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………..

vii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ……………………………………………………

1

B. Identifikasi Masalah ………………………………………………………..

7

C. Pembatasan Masalah ………………………………………………………

8

D. Perumusan Masalah ……………………………………………………….

8

E. Tujuan Penelitian ………………………………………………………...... 8
F. Manfaat Penelitian ………………………………………………………… 9
BAB II KAJIAN TEORI
A. Guru (Pendidik) ………………………………………………………….

10

1. Pengertian Guru …………... ……………………………….…………..

10

2. Peran Guru ……………………………………………………………..

11

B. Fitrah dan Bentuk-Bentuknya …………………………………………..

15

1. Pengertian Fitrah ……………………………………………………….

15

2. Struktur dan Komponen Fitrah ………………………………………… 16
3. Fungsi Fitrah …………………………………………………………… 19
4. Faktor-faktor Penghambat Perkembangan Fitrah ……………………… 20
C. Potensi dan Pembagiannya ………………………………………………. 21

iv

D. Peran Pendidik dalam Mengatasi Penghambat
Perkembangan Fitrah ……………………………………………………… 23
E. Hasil Penelitian yang Relevan ……………………………………………. 30
F. Kerangka Berpikir …………………………………………………………. 31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian …………………………………………….. 33
B. Metode Penelitian ………………………………………………………… 33
C. Variabel Penelitian ……………………………………………………….. 34
D. Populasi dan Sampel ……………………………………………………… 34
E. Teknik Pengumpulan Data ……………………………………………….. 35
F. Isntrumen Penelitian ……………………………………………………… 35
G. Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data ……………………………… 38
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Data Sekolah ……………………………………………………………… 42
B. Pengolahan Data …………………………………………………………. 46
C. Analisa Data ……………………………………………………………… 62
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ……………………………………………………………….. 68
B. Saran-Saran ………………………………………………………………. 69
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

v

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kisi-kisi instrument penelitian ……………………………………… 36
Tabel 3.2 Skor item alternatif jawaban responden …………………….............. 38
Tebel 3.3 Angka indeks korelasi "r" product moment ………………………….40
Tabel 4.1 Rekapitulasi keadaan guru SMA Dharma Karya UT ………………...45
Tabel 4.2 Keadaan siswa Tahun 2012-2013 …………………………………….47
Tabel 4.3 – 4.15 Peran Guru (Pendidik) ………………………………………...48
Tabel 4.16 – 4.27 Pengembangan Fitrah (Potensi dasar) ……………………… 57
Tabel 4.28 Hasil Perhitungan angket …………………………………………. 64

vi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 . Angket Siswa
Lampiran 2 . Hasil Wawancara
Lampiran 3 . Surat Permohonan Izin Penelitian
Lampiran 4 . Surat Bimbingan Skripsi
Lampiran 5 . Tabel Nilai Koefisien Korelasi "r" Product Moment
Lampiran 6 . Surat Keterangan Penelitian (Riset)
Lampiran 7 . Foto Sekolah Dharma Karya UT
Lampiran 8 . Surat Pernyataan Jurusan
Lampiran 9 . Surat Keterangan Bebas Biaya Kuliah
Lampiran 10 . Lembar Uji Referensi
Lampiran 11 . Pengesahan Uji Referensi

vii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah bimbingan secara sadar dari pendidik terhadap
perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya manusia
yang memiliki kepribadian yang utama dan ideal. Yang dimaksud dengan
kepribadian yang utama dan ideal adalah kepribadian yang memiliki
kesadaran moral dan sikap mental secara teguh dan sungguh-sungguh
memegang dan melaksanakan ajaran atau prinsip-prinsip nilai yang menjadi
pandangan hidup secara individu, masyarakat maupun bangsa dan Negara.1
Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan ini
untuk menentukan arah laju perjalanan suatu bangsa, generasi saat ini dan
generasi yang akan datang. Untuk itu dibutuhkan generasi-generasi muda
mempunyai sikap dan mental yang sangat tangguh, kuat dan istiqomah
sehingga tidak goyah dalam menghadapi segala masalah dan rintangan.
Oleh karena itu, perhatian terhadap kinerja sumber daya manusia
adalah hal yang utama yang perlu diperhatikan untuk menyiapkan SDM yang
handal dan berkualitas. Sebagai suatu upaya, pendidikan berusaha untuk
menjadikan manusia yang memiliki kemampuan cipta (kognitif), segi rasa
1

Jalaluddin, Abdullah , Filsafat Pendidikan, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997). h. 13

1

2

(Afektif), maupun dari segi karsa (psikomotorik). Pembinaan dari segi cipta
(kognitif) antara lain bisa dilakukan melalui peningkatan intelektualitas,
pendidikan dan logika dalam wujud penguasaan dan penerapan ilmu dan
teknologi. Pengembangan dari segi rasa dapat dilakukan melalui kegiatan dan
apersepsi kesenian dalam berbagai bentuk. Sedangkan karsa dikembangkan
melalui penanaman dan pengembangan etika, adat kebiasaan dan pendidikan
dalam rangka membangun kemampuan (potensi) manusia.
Pendidikan diartikan sebagai suatu proses, dimana pendidikan
merupakan

usaha

dari

manusia

dewasa

yang

telah

sadar

akan

kemanusiaannya dalam membimbing, melatih, mengajar dan menanamkan
nilai-nilai serta dasar-dasar pandangan hidup kepada generasi muda, agar
nantinya menjadi manusia yang sadar dan bertanggung jawab akan tugastugas hidupnya sebagai manusia, sesuai sifat hakiki dan ciri-ciri
kemanusiaannya. Dengan kata lain, proses pendidikan merupakan rangkaian
usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa
kemampuan dasar dan kehidupan pribadinya sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitarnya agar
menjadi pribadi yang bertanggung jawab.2
Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik,
luhur, pantas, benar dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan
memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan
pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan
pendidikan.3
Mungkin satu hal yang sangat penting perlu diingatkan kepada orang
tua dan para pendidik ialah bahwa yang terbentang di hadapan mereka
tidaklah mulus. Ada beberapa kendala besar yang menghadang mereka.
Kendala-kendala yang mereka hadapi dan harus dapat mereka taklukkan
misalnya seperti berupa ciri khas dan karakteristik remaja yang cenderung
keras kepala dan berani menentang pengarahan ayah dan guru. Atas nama
2

Ibid, h. 15
Umar Tirtarahardja, S. L. La Sulo, Pengantar Pendidikan Edisi Revisi, (Jakarta, PT
Rineka Cipta, 2005), Cetakan Kedua, h. 37.
3

3

kebebasan, mereka berani mendebat, membantah, terutama dalam masalahmasalah agama sampai pada ambang batas meragukan kebenarannya.
Kenyataan ini jelas memerlukan banyak kesabaran, kesantunan dan sikap
lapang dada dari kaum ayah dan para didik.4
Dalam permasalahan ini yang lebih di tekankan adalah para pendidik
yang berfungsi sebagai pusat ilmu dan juga berhak mengatur kepada siswa
yang ada di sekolah. Maksud pendidik dari permasalahan skripsi ini adalah
seorang guru yang mengajar di sekolah. Pendidik harus tau apa yang di
inginkan oleh siswa, sebab jika itu tidak terjadi maka dampaknya akan fatal
yang diperoleh siswa.
Dalam hal ini pendidik adalah guru yang professional, karenanya
secara implicit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian
tanggung jawab pendidikan yang terpikul dipundak para orang tua. Tatkala
orang tua menyerahkan anaknya kepada guru. Hal itupun kemudian
berimplikasi bahwa orang tua tidak bisa menyerahkan anaknya kepada
sembarang guru, karena tidak setiap orang tua dapat menjadi guru.
Yang dimaksud sebagai peran adalah pola tingkah laku tertentu yang
merupakan ciri khas semua petugas dari pekerjaan atau jabatan tertentu. Guru
harus bertanggung jawab atas hasil kegiatan belajar anak melalui interaksi
belajar mengajar. Guru merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil
tidaknya proses belajar, dan karenanya guru harus menguasai prinsip-prinsip
belajar disamping menguasai materi yang akan diajarkan. Dengan kata lain
guru harus mampu menciptakan suatu situasi kondisi belajar yang sebaikbaiknya.
Pendidik seharusnya memahami dan mengenal potensi atau
kemampuan siswa masing-masing, karena setiap siswa dilahirkan dengan
membawa fitrah suci yang berbeda-beda. Oleh karena itu bagi pendidik untuk
tidak melakukan pendidikan dengan cara kekerasan di sekolah, sebab sekolah
adalah tempat siswa untuk menuntut ilmu dan mengembangkan potensi yang
4

M. Jamaluddin Mahfudz, Psikologi Anak Dan Remaja Muslim, Terj. Dari At- Tarbiyyah
Al Islam At-Thiflu Wal Maroohiq oleh Abdul Rosyad Shiddiq Dan Ahmad Vathir Zaman,
(Jakarta: Pustaka Al-kautsar, 2001), cet.1, h.7

4

mereka punya, bukan tempat pelatihan untuk menuntut mereka semua
sanggup dan mampu menguasai apa yang mereka pelajari dari sekolah
tersebut.
Sekolah merupakan tempat pengembangan potensi siswa, karena
siswa adalah manusia maka setiap manusia tidak lepas dari kekurangan dan
kelebihan masing-masing. Guru atau pendidik yang profesional harusnya
memahami itu semua. Tapi kenyataannya di lapangan paradoks dengan teori
dan konsep tadi. masih banyak guru atau pendidik yang belum memahami
potensi atau bakat yang dimiliki oleh siswa, Maka timbullah kekerasan yang
diperoleh oleh siswa dari gurunya. Padahal jelas guru dituntut mempunyai
komitmen yang tinggi dalam membimbing, membina, dan mendidik siswa,
bukan untuk menekan, merusak dan melakukan kekerasan fisik kepada siswa.
Semua itu terjadi karena salah satu sebab yaitu guru masih belum mempunyai
karakter kematangan emosional.
Dalam bukunya Nuraida dan Rihlah Nur Aulia yang berjudul "
Character Building Guru PAI" dijelaskan bahwa seorang guru di haruskan
mempunyai karakter kematangan emosional (EQ). Emosi adalah keadaan
perasaan yang banyak berpengaruh pada perilaku. Biasanya emosi
merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dari dalam diri individu.
Bedasarkan pengertian emosi diatas maka dapat dipahami bahwa
emosi sangat penting untuk kehidupan kita. Emosi bisa berbahaya jika tidak
dikendalikan, tetapi emosi akan cerdas jika ia dijalankan selaras dengan
akal.5
Mengenal potensi atau bakat anak sangat mudah dan praktis yaitu
dengan cara mendiagnosa bukan dengan cara menekan sampai siswa mampu
dan sanggup apa yang guru harapkan. Memahami potensi siswa sangatlah
penting sejak awal mereka dididik dan dibimbing, sebab untuk memperoleh
tercapainya manusia yang dewasa, pintar, cerdas dan jenius haruslah
mengenal dan memulai dari awal kemampuan (potensi) apa yang mereka
5

Nuraida, Rihlah Nur Aulia, Character Building Guru PAI, (Jakarta: Aulia Publishing
House, 2008), Cetakan Kedua, h. 74

5

miliki lalu mereka tekuni hingga tercapailah titik terakhir dan tujuan apa yang
mereka harapkan. Salah satu sebabnya juga karena siswa tidak tahu bakat dan
potensi yang mereka punya, sehingga mereka tidak tepat dalam menentukan
pilihan yang sesuai dengan kemampuan (potensi) dan bakat yang mereka
miliki. "The Right Man The Right Of Job" orang yang tepat adalah orang
yang tepat menempatkan potensinya pada tempatnya dan pada bidangnya.
Sepanjang sejarah peradaban, kajian tentang manusia menduduki
ranking tertinggi dari sekian kajian yang ada. Selain obyeknya unik, kajian
itu dapat menghasilkan berbagai persepsi dan konsepsi yang berbeda.
Fenomena seperti itu dapat dipahami, sebab keberadaan manusia didunia
bukan sekedar ada dan berbeda, tetapi lebih penting lagi, ia dapat mengada.
Ia berperan sebagai obyek dan subyek sejarah, bahkan mampu mengubahnya.
Kehidupannya dinamis dan secara kualitatif berevolusi untuk mencapai
kesempurnaan. Karena itulah maka kajian tentang manusia, tanpa mengenal
perbedaan zaman, selalu relevan dan tidak akan pernah mengalami
kadaluarsa.
Citra manusia disini adalah gambaran tentang diri manusia yang
berhubungan dengan kualitas-kualitas asli manusiawi. Kualitas tersebut
merupakan sunnah Allah yang dibawa sejak ia dilahirkan. Kondisi citra
manusia secara potensial tidak dapat berubah, sebab jika berubah maka
eksistensi manusia menjadi hilang, namun secara aktual, citra itu dapat
berubah sesuai dengan kehendak dan pilihan manusia sendiri.
Pada awalnya manusia di lahirkan dengan fitrah yang suci, yang
meliputi jasmani dan akal (ruh). Semua manusia bisa menjadi orang jujur dan
dusta, takut dan berani, rajin dan malas. Tergantung pada dari segi mana yang
lebih dominan dalam diri manusia tersebut. Jika jujurnya yang lebih dominan
maka orang tersebut dikatakan orang yang jujur begitu juga sebaliknya, jika
takutnya yang lebih dominan maka orang tersebut dikatakan penakut begitu
juga sebaliknya. Semua ini adalah sunnatullah yang telah diberikan oleh
Tuhannya sebagai fitrah manusia, dan tidak lain hanya dengan pendidikanlah

6

fitrah itu dapat dikembangkan, baik di keluarganya, sekolahnya, maupun di
lingkungannya.
Sebagai lembaga pendidikan formal, SMA DK UT Tangerang
memiliki beberapa komponen-komponen yang saling terkait antara satu
dengan yang lainnya, komponen-komponen tersebut tentunya memiliki
peranan tersendiri dalam proses pendidikan di lembaga tersebut. peranan
tersebut akan berjalan dengan baik apabila guru dan siswa saling mengerti
dan menghargai tugas dan kewajiban masing-masing.
Dalam hal ini penulis melihat dan mendapati data dari salah satu
tenaga pendidik yang sudah lama bekerja di lembaga tersebut, menyatakan
bahwa ada hal-hal tertentu yang harusnya tidak terjadi dalam sebuah lembaga
pendidikan. Sehingga banyak siswa-siswi di sekolah tersebut yang tidak
patuh, atau tidak senang dengan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah
tersebut, penulis juga melihat dengan mata sendiri dan menyaksikan guru di
sekolah tersebut menghukum salah satu muridnya dengan menjewer
telinganya yang tidak sanggup mengerjakan tugas. Dan ada juga guru yang
meremehkan kemampuan siswa dan siswi di sekolah tersebut. karena guru
tersebut tidak memahami tentang fitrah manusia sebagai potensi dasar siswa.
Karena setiap manusia terdapat kekurangan dan kelebihan sesuai dengan
bakat yang mereka miliki masing-masing.
Dari latar belakang masalah di atas inilah penulis di sini akan
mengupas permasalahan yang berhubungan dengan fitrah manusia yang sejak
dini sudah mulai dikembangkan melalui pendidikan. Tidak lain pertama fitrah
itu dikembangkan melalui lingkungan keluarga terlebih dahulu dan itu sangat
menentukan potensi, bakat dan minat si anak dalam kepribadiannya sebelum
masuk pada fase permulaan remaja. Secara psikologis anak itu sangat
cenderung kuat potensinya dalam menangkap suatu pelajaran dari ekstern diri
anak tersebut. Yang jadi masalah disini ialah bagaimana semestinya dan
idealnya mengembangkan fitrah manusia tersebut. pendidik atau orang tua di
haruskan mengenal terlebih dahulu potensi dasar apa yang dimiliki oleh si
anak dan lebih menonjol dalam kepribadiannya. Ternyata fenomena yang ada

7

terjadi kontradiktif antara harapan orang tua atau pendidik dengan ideologi
yang diterapkan kepada anaknya. Oleh karena itu Penulis tertarik ingin
mengetahui secara komprehensif dengan mengangkat judul “PERANAN
PENDIDIK

DALAM

PENGEMBANGAN

FITRAH

SEBAGAI

POTENSI DASAR MANUSIA DI SMA DHARMA KARYA UT
PAMULANG, TANGERANG SELATAN”

B. Identifikasi Masalah
Dari uraian di atas yang dikemukakan pada latar belakang masalah,
maka ada beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai
berikut :
1. Pendidik yang masih banyak mengabaikan fitrah manusia dalam diri
seorang siswa SMA Dharma Karya UT.
2. Kurangnya kesadaran dari para pendidik akan perlunya memperhatikan
potensi yang dimiliki oleh seorang siswa SMA Dharma Karya UT.
3. Belum diketahui strategi pendidik yang efektif dan ideal dalam
mengembangkan fitrah atau kecenderungan potensi yang dimiliki oleh
seorang siswa SMA Dharma Karya UT.
4. Masih banyaknya siswa yang kurang berprestasi dan berprilaku negatif.
Seperti : Tawuran, malas, kurang tanggung jawab, bolos dll.

C. Pembatasan Masalah
Agar pembahasan dalam penulisan ini lebih terarah dan spesifik,
maka penulis memberikan pembatasan masalah peranan pendidik sebagai
berikut :
1. Perencanaan strategi yang dibuat dalam mengembangkan fitrah sebagai
potensi dasar siswa di SMA Dharma Karya UT.
2. Pelaksanaan

atau

penerapan

strategi

yang

telah

dibuat

untuk

pengembangan fitrah sebagai potensi dasar siswa di SMA Dharma Karya
UT.

8

3. Penelitian ini di batasi hanya pada siswa kelas XI SMA Dharma Karya
UT.

D. Perumusan Masalah
1. Adakah pengaruh peran pendidik dalam mengembangkan fitrah sebagai
potensi dasar siswa di SMA Dharma Karya UT ?
2. Seberapa besar kontribusi peran pendidik dalam mengembangkan fitrah
sebagai potensi dasar yang dimiliki seorang siswa di SMA Dharma Karya
UT ?
3. Bagaimana langkah yang efektif dan idealnya untuk mengembangkan
fitrah sebagai potensi dasar siswa di SMA Dharma Karya UT ?

E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian masalah yang akan dibahas dalam skripsi
ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui peranan pendidik dalam mengembangkan fitrah
sebagai potensi dasar siswa di SMA Dharma Karya UT.
2. Untuk

mengetahui

besarnya

kontribusi

pendidik

(guru)

dalam

mengembangkan fitrah sebagai potensi dasar siswa di SMA Dharma
Karya UT.
3. Untuk mengetahui langkah strategis yang efektif dan ideal dalam
mengembangkan fitrah sebagai potensi dasar pada siswa SMA Dharma
Karya UT.

F.

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik sebagai
kajian ilmiah maupun sebagai bentuk aplikasi langsung terhadap upaya
peningkatan mutu pendidikan. Beberapa pihak diharapkan dapat merasakan
manfaatnya baik secara langsung maupun tidak langsung, pihak-pihak
tersebut adalah:

9

1. Tenaga pendidik (guru) di sekolah, sebagai bahan masukan dalam
meningkatkan pelaksanaan pengembangan fitrah manusia.
2. Orang tua di rumah, sebagai bahan masukan dalam mendidik anak sejak
usia permulaan anak-anak hingga usia kematangan remaja.
3. Seluruh masyarakat luas, di lingkungan yang penuh tantangan ini sehingga
hasil penelitian ini dapat membantu sebagai bahan masukan dalam
mengembangkan pemuda dan pemudi sebagai harapan bangsa dan Negara.
4. Peneliti selanjutnya agar dapat membantu dalam menulis penelitian
tentang fitrah manusia yang berhubungan dengan pendidikan.

BAB II
KAJIAN TEORI
A. GURU (PENDIDIK)
1. Pengertian Guru (pendidik)
Guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab
dalam mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik. Orang yang
disebut guru adalah orang memiliki kemampuan merancang program
pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik
dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai
tujuan akhir dari proses pendidikan.1
Guru sebagai orang tua anak ke dua di sekolah. Orang tua adalah
yang pertama-tama bertanggung jawab atas terwujudnya kesejahteraan anak
baik secara rohani, jasmani, maupun sosial.2 Pendidik pertama dan utama
adalah orang tua sendiri. Mereka berdua yang bertanggung jawab penuh atas
kemajuan perkembangan anak kandungnya, karena sukses tidaknya anak
sangat tergantung pengasuhan, perhatian dan pendidikannya. Kesuksesan anak
kandung merupakan cerminan atas kesuksesan orang tua juga. Firman Allah
Swt :

1

Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan, (Jakarta:Bumi Aksara, 2008), cet ke-3, h.15
UU RI No. 3 Th. 1997, Undang-Undang Peradilan Anak, (Jakarta: Sinar Grafika,
1997), Cetakan Pertama, h. 54
2

10

11

       
Artinya :" Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka " (QS. Al-Tahrim:6)3
Pendidik dalam Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab
terhadap perkembangan peserta didiknya dengan upaya mengembangkan
seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif (rasa), kognitif (cipta),
maupun psikomotorik (karsa).4 Pendidik juga berarti orang dewasa yang
bertanggung jawab memberi pertolongan pada peserta didiknya dalam
perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan,
mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaannya, mampu mandiri
dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah Swt. Dan
mampu melakukan tugas sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk
individu yang mandiri.5

2. Peran Guru (Pendidik)
Peran guru tidak hanya sebagai pengajar semata namun sekaligus
menjadi fasilitator, kolaborator, pelatih, pengarah dan teman belajar bagi
siswa. Karena guru dapat memberikan pilihan dan tanggung jawab yang besar
kepada siswa untuk mengalami peristiwa belajar. Dengan peran guru
sebagaimana dimaksud, maka peran siswa pun mengalami perubahan, dari
partisipan pasif menjadi partisipan aktif yang banyak menghasilkan dan
berbagi (sharing) pengetahuan/ keterampilan serta berpartisipasi sebanyak
mungkin sebagaimana layaknya seorang ahli. Disisi lain siswa juga dapat

3

Abdul Mujib, Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2008), Edisi
1, Cet-2, h. 88
4
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1992), h. 74-75.
5
Suryosubrata B., Beberapa Aspek Dasar Kependidikan, (Jakarta: Bina Aksara, 1983), h.
26

12

belajar secara individu, sebagaimana halnya juga kolaboratif dengan siswa
lain.6
Setiap guru harus tahu, bahwa dunia menghendaki pertumbuhan
yang melebihi “pengorbanan” pola-pola herediter dari struktur dan fungsi saja
dalam suatu lingkungan geografis. Pertumbuhan yang berat sebelah semacam
ini sama sekali tidak memperhatikan lembaga-lembaga kebudayaan kita dan
juga mengabaikan cita-cita serta nilai yang dapat mengangkat kehidupan
manusia keatas taraf kehidupan dihutan. Pendidikan yang sebenarnya selalu
berusaha menaikkan manusia ketingkat kehidupan yang tertinggi dan terbaik
sebagai makhluk sosial.7
Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik ialah:
1. Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga
merupakan insan yang unik.
2. Individu yang sedang berkembang.
3. Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan
manusiawi.
4. Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.8
Peran seorang pendidik juga berkedudukan tinggi dalam Islam,
karena pendidik adalah bapak rohani (spiritual father) bagi peserta didik, yang
memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan
meluruskan perilakunya yang buruk.9 Untuk mewujudkan pendidik yang
profesional berdasarkan roh Islam, perlu melihat sisi kehidupan atau profil
Rasulullah Saw sebagai pendidik yang ideal, karena hakikat diutusnya
Rasulullah ke atas muka bumi adalah sebagai uswat al-hasanat dan rahmat lilalamin. Semua sunnah Rasulullah menjadi panduan utama setelah al-Qur'an
bagi berbagai aspek kehidupan manusia terutama aspek pendidikan.

6

IIf Khoiru Ahmadi. Sofan Amri. Tatik Elisah, Strategi Pembelajaran Sekolah Terpadu,
(Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya, 2011), Cetakan Pertama, h. 191.
7
H.C. Witherington, Psikologi Pendidikan, Terj. M. Buchori, (Jakarta: Aksara Baru,
1978), h.143.
8
Umar, op. cit., h. 52
9
Mujib, Mudzakkir, loc. cit.

13

Keberadaannya sebagai pendidik merupakan sumber konsep pendidikan yang
kebenarannya direkomendasikan Allah Swt.10
Kebanyakan para pendidik berpendapat bahwa tanggung jawab
yang terpenting itu adalah :
1. Tanggung jawab pendidikan iman.
2. Tanggung jawab pendidikan akhlak.
3. Tanggung jawab pendidikan fisik.
4. Tanggung jawab pendidikan intelektual.
5. Tanggung jawab pendidikan psikis
6. Tanggung jawab pendidikan sosial.
7. Tanggung jawab pendidikan seksual.11

Peran seorang guru dalam proses balajar-mengajar antara lain
adalah :
1. Guru sebagai "pengawas"
Agar belajar dalam masing-masing kelompok kecil berjalan lancar
dan mencapai tujuannya, disamping sebagai sumber informasi maka guru pun
harus bertindak sebagai pengawas dan penilai didalam proses belajar mengajar
lewat formasi diskusi. Dengan kata lain, dalam formasi diskusi ini guru
menentukan tujuannya dan prosedur untuk mencapainya.
2. Guru sebagai "Motivator"
Terutama bagi siswa – siswa yang belum cukup mampu untuk
mencerna pengetahuan dan pendapat orang lain maupun merumuskan serta
mengeluarkan pendapatnya sendiri maka agar formasi diskusi dapat
diselenggarakan dengan baik, guru masih perlu membantu dan mendorong
setiap (anggota) kelompok untuk menciptakan dan mengembangkan
kreativitas setiap siswa seoptimal mungkin.12
10

Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2007), Cetakan ke-1, h. 1.
Abdullah Nashih Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam, Terj. Dari
Tarbiyatul Aulad fil Islam (Edisi Bahasa Arab) Juz I oleh Saifullah Kamalie Dan Hery Noer Ali,
(Semarang: Asy-Syifa', 1981), Cetakan ke-3, h. 149
12
B. Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar Di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009),
edisi revisi, h. 171.
11

14

3. Guru sebagai "Pendidik"
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan
identifikasi bagi peserta didik, dan lingkungannya. Oleh Karena itu, guru
harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung
jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
4. Guru sebagai "Innovator"
Seorang peserta didik yang belajar sekarang, secara psikologis
berada jauh dari pengalaman manusia yang harus dipahami, dicerna dan
diwujudkan dalam pendidikan. Guru harus menjembatani jurang ini bagi
peserta didik, jika tidak, maka hal ini dapat mengambil bagian dalam proses
belajar yang berakibat tidak menggunakan potensi yang dimilikinya. 13
5. Guru sebagai "Mediator dan Fasilitator"
Guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang
cukup tentang media pendidikan karena pendidikan merupakan alat
komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar.
6. Guru sebagai "Evaluator"
Guru hendaknya menjadi seorang evaluator yang baik. Kegiatan ini
bermaksud untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu
tercapai atau belum, dan apakah materi yang diajarkan sudah cukup tepat.14
Guru memainkan peranan yang penting dalam menggalakkan
murid-murid cintakan pelajaran. Dia harus mempunyai sifat-sifat yang boleh
dipercayai untuk memikul tugas menjadi guru. Di samping mempunyai
kebolehan tentang mata pelajaran yang diajar. Oleh karena itu seorang guru
harus mempunyai kecintaan yang sungguh-sungguh terhadap kerjanya. Dia
harus mempunyai hasrat yang benar-benar ikhlas ingin menolong muridmuridnya. Kemajuan murid-murid tidak syak lagi mempunyai hubungan rapat
dengan guru dan sekolah. Suasana disekolah mempunyai kesan yang besar
terhadap kejayaan murid. Sekolah adalah rumah kedua bagi murid-murid dan
13

E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), Cet

ke-7, h. 37
14

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,
2009), Cet. Ke-23, h. 9

15

guru adalah ibu bapak kedua kepada mereka. Memang sudah menjadi
tanggung jawab seorang guru itu untuk menaikkan taraf muridnya agar
menjadi insan yang berguna kepada agama, Negara dan bangsa.15

B. FITRAH DAN BENTUK-BENTUKNYA
1. Pengertian Fitrah
Al-fitrah dalam kamus Al-Munawwir artinya sifat pembawaan
(yang ada sejak lahir), ciptaan, agama, sunnah dan dalam keadaan menurut
fitrahnya.16
Pada dasarnya, fitrah manusia adalah senantiasa tunduk kepada Zat
yang hanif (Allah) melalui agama yang disyari'atkan padanya. Fitrah
merupakan anugerah Allah yang telah diberikan-Nya kepada manusia sejak
dalam alam rahim. Ketika lahir, potensi anak belum diketahui. Pada masa ini
seorang anak hanya membawa insting (gharizah), seperti menangis,
merasakan haus, lapar dan lain sebagainya. Dengan perangkat fisik dan
psikisnya, potensi tersebut bertahap mengalami perkembangan ke arah yang
lebih baik. Proses manusia mengembangkan potensinya secara efektif dan
efisien adalah melalui pendidikan.17
Menurut bahasa fitrah berarti asal kejadian (ibda', khalq), kesucian
dan agama yang benar. Fitrah manusia menurut ajaran Islam adalah bebas dari
noda dan dosa, seperti bayi yang lahir dari perut ibunya. Fitrah dengan arti
"agama yang benar", yaitu agama Allah, sebagaimana dijelaskan QS. Ar-rum
(30) ayat 30:
                 
       

Amina Noor, Mendidik anak Pintar Cerdas Bermula Dari Alam Rahim…, (Kuala
Lumpur, Darul Nu'man, 1995), Cetakan Pertama, h. 133
16
Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap,
(Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), Cet ke-14, h. 1063.
17
Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual Dan Pemikiran Hamka
Tentang Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2008), Cet.1, h. 122
15

16

Artinya: " Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut
fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus;
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ".
fitrah Allah pada ayat diatas maksudnya ciptaan Allah. manusia
diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. kalau ada
manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak
beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.18
Dalam pandangan islam keberagamaan berarti fitrah (sesuatu
yang melekat pada diri manusia dan terbawa sejak kelahirannya).19 Dengan
demikian, secara sederhana, fitrah manusia berarti kejadiannya sejak semula,
atau bawaannya sejak lahir.
Fitrah berarti “terbukanya sesuatu dan melahirkannya” , seperti
orang yang berbuka puasa. Dari makna dasar tersebut maka berkembang
menjadi dua makna pokok; pertama, fitrah berarti al-insyiqaq atau al-syaqq
yang berarti al-inkisar (pecah atau belah)., kedua, fitrah berarti al-khilqah, alijad atau al-ibda’ (penciptaan).

2. Struktur Dan Komponen Fitrah
Berdasarkan uraian diatas tersebut, dapat segera diketahui bahwa
struktur fitrah manusia paling kurang mencakup 5 sebagai berikut :
Pertama, fitrah beragama yang bertumpu pada keimanan sebagai
intinya. Faktor keturunan psikologis (heriditas kejiwaan) orang tua anak
merupakan salah satu aspek dari kemampuan dasar manusia.
Kedua, fitrah dalam bentuk bakat (mahabib) dan kecenderungan
(qabiliyat) yang mengacu kepada keimanan kepada Allah Swt. Dengan
demikian, fitrah mengandung komponen psikologis yang berupa keimanan
tersebut. Hal tersebut terjadi, karena iman bagi seorang mukmin merupakan

18

Ahsin w. Al-hafidz, Kamus Ilmu Al-qur'an, (Jakarta: Amzah Sinar Grafika Offset,
2008), Cet-3, h. 78.
19
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-qur’an Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan
Umat, (Bandung: PT. Mizan Pustaka,2005), cet XVI, h.375.

17

daya penggerak utama (elan vital) dalam dirinya yang memberi semangat
untuk selalu mencari kebenaran hakiki dari Allah Swt.
Ketiga, fitrah berupa naluri dan kewahyuan (revilasi), yang
keduanya bagaikan dua sisi dari satu mata uang logam; keduanya saling
terpadu dalam perkembangan manusia. Mata uang itulah yang dapat
diibaratkan fitrah. Yakni dari satu sisi ia adalah potensi, dan dari sisi lain ia
adalah wahyu.20
Keempat, fitrah berupa kemampuan dasar untuk beragama secara
umum, yakni tidak terbatas pada agama islam saja, melainkan pada agama
lainnya. Dan dengan dasar kemampuan inilah manusia dapat dididik menjadi
orang Yahudi, Nasrani atau Majusi, namun tidak dapat di didik menjadi ateis
(anti tuhan).21
Sebuah sabda Nabi Saw yang populer, yang banyak disitir oleh
para ulama’ antara lain sebagai berikut:

Artinya:“Dari Abu Hurairah ra., berkata: Rasulullah bersabda :
“setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah
yang menjadikan anak tersebut Yahudi, Nasrani dan Majusi”. (H.R. Bukhari
dan muslim)
Hadits di atas mengandung pengertian bahwa setiap anak
dilahirkan dengan membawa potensi. Baik atau buruknya potensi yang
dikeluarkannya kemudian tergantung kepada lingkungannya. Untuk itu proses
pendidikan sangat menentukan pengembangan potensi tersebut. maka kata
fitrah berarti kecendrungan beragama yang terdapat dalam diri manusia.
Kecendrungan beragama tersebut dapat terwujud menjadi Yahudi, Nasrani
atau Majusi, amat bergantung pada lingkungan dan proses pendidikan yang

20

Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisis Psikologi dan Pendidikan,
(Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1986), c. I, h. 5.
21
Abuddin Nata, “Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran”, (Jakarta, Kencana,
2009), c. I, h. 79.

18

diberikan kepadanya, terutama pendidikan yang diberikan oleh kedua orang
tuanya.22
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sebenarnya potensi agama sudah
ada pada setiap manusia sejak ia dilahirkan. Potensi ini berupa dorongan untuk
mengabdi kepada sang pencipta. Dalam terminologi Islam, dorongan ini
dikenal dengan hidayat al-diniyyat. Berupa benih-benih keberagaman yang
dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Dengan adanya potensi bawaan ini
manusia pada hakikatnya adalah makhluk beragama.23
Demikianlah, sejak saat kelahirannya yang pertama, fitrah
keimanan kepada Allah menetap pada diri seorang anak, dan terbentuk atas
agama yang lurus, yang merupakan perkara yang menuntut perhatian dari kita
terhadap naluri ini dan penjagaan atasnya. Setiap bayi yang terlahir diatas
fitrah, hingga kedua orang tuanya menjadikannya yahudi atau nasrani.
Asal manusia terlahir atas fitrah yang bersih, mengimani Allah
dan mengarah kepada agama yang lurus. Apabila kita temui adanya
penyimpangan dari hal itu, maka itu karena pengaruh kedua orang tua. Orang
tua yahudi akan berpengaruh terhadap fitrah bayi yang terlahir, sehingga
kesiapannya menerima islam berubah menjadi menerima yahudi.24
Kelima, fitrah memiliki komponen yang meliputi 1). Bakat dan
kecerdasan, yaitu suatu kemampuan bawaan yang potensial yang mengacu
kepada

perkembangan

kemampuan

akademis

(ilmiah)

dan

keahlian

(professional) dalam berbagai bidang kehidupan. Bakat ini berpangkal pada
kemampuan kognitif (daya cipta), konasi (kehendak) dan emosi (rasa) yang
disebut dalam psikologi filosofis dengan istilah tri chotomi (tiga kekuatan
rohaniah), 2). Insting (naluri) atau gharizah, yaitu kemampuan barbuat atau
bertingkah laku dengan tanpa melalui proses belajar terlebih dahulu.
Kemampuan insting ini merupakan pembawaan sejak lahir. Dalam psikologi
22
23

Ibid, h. 75.
Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009), Edisi Revisi -

12, h. 67
24

Husain Madzahiri, Pintar Mendidik Anak, Terj. Dari Tarbiyah Ath-thifl fi Ar-ru'yah AlIslamiyah oleh Segaf Abdillah dan Miqdad Turkan, (Jakarta: PT. Lentera Basritama, 1999), Cet-2,
h. 166

19

pendidikan, kemampuan ini termasuk kapabilitas yaitu kemampuan berbuat
sesuatu dengan tanpa melalui belajar dahulu. Jenis-jenis tingkah laku yang
digolongkan kedalam insting ini adalah melarikan diri (flight), menolak
(repulse), ingin tahu (curiosity), melawan (pugnacity), merendahkan diri (self
absement), menonjolkan diri (self assertion), berhubungan seksual (
acquisition), mencari sesuatu (question), membangun sesuatu (contruktion)
dan menarik perhatian orang lain (appeal), intuisi (ilham), watak asli
(character), nafsu (drives) dan hereditas (keturunan).
Berbagai kecakapan

yang dibawa sejak lahir ini dapat

ditumbuhkan, dikembangkan dan dibina lebih lanjut dan menjadi mahir dan
terampil melalui pendidikan dan pengajaran, dan disinilah salah satu letak
hubungan yang fungsional dan simbiotis antara fitrah dan kegiatan
pembelajaran.25
Dalam penelitian ini penulis memberikan interpretasi bahwa arti
fitrah yaitu kecenderungan potensi siswa yang bisa dikembangkan melalui
pendidikan agar menjadi nilai yang lebih di masyarakat, bangsa dan Negara.

3. Fungsi Fitrah
Konsep fitrah sebagaimana yang tergambar pada uraian diatas
menunjukkan citra unik manusia, yang mana citra unik itu menjadi landasan
bagi konstruksi psikologi Islam. Citra unik manusia dalam psikologi Islam
dapat disederhanakan dalam dua poin berikut ini:
Pertama, manusia dilahirkan dengan citra yang baik, seperti
membawa potensi suci, ber-Islam, bertauhid, ikhlas dan mampu memikul
amanah Allah Swt. Untuk menjadi khalifah dan hamba-Nya dimuka bumi, dan
memiliki potensi dan daya pilih. Potensi baik tersebut di aktualisasikan dalam
tingkah laku yang nyata, citra baik tersebut pada mulanya disangsikan oleh
malaikat dan iblis, namun setelah Allah Swt meyakinkannya maka malaikat
percaya akan kemampuan manusia, sementara iblis dengan kesombongannya
25

Abudin Nata, op. cit., h. 80.

20

tetap mengingkarinya. Jika terdapat aliran psikologi Islam yang masih
menentukan citra buruk manusia, berarti ia mengikuti persepsi iblis.
Kedua, melalui fitrah nafsani (psikofisik) dalam psikologi islam
maka :
a) Pusat tingkah laku adalah Qalbu, bukan otak atau jasmani manusia. Selain
hal itu didasarkan oleh hadits Nabi, Qalbu merupakan daya nafsani yang
paling dekat dengan natur ruh, yang mana ruh menjadi esensi manusia.
Jika kehidupan manusia dikendalikan oleh peran

Qalbu, maka

kehidupannya akan selamat dan bahagia dunia-akhirat.
b) Manusia dapat memperoleh pengetahuan tanpa diusahakan, seperti
pengetahuan intuitif dalam bentuk wahyu dan ilham.
c) Tingkat keperibadian manusia tidak hanya sampai pada humanitas atau
sosialitas, tetapi sampai pada berketuhanan. Tuhan merupakan asal dan
tujuan dari segala realitas Innalillahi Wainna Ilaihirajiuun (sesungguhnya
kita bagi Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali).26
Dari teori di atas penulis memberikan kesimpulan bahwa fungsi
fitrah ialah sebagai bahan atau alat untuk mengemban amanah dari Allah Swt
yang di wajibkan kepada setiap manusia. Dan menjadikan manusia lebih
mudah dengan adanya fitrah ini. Karena setiap manusia yang terlahir di dunia
ini pasti membawa fitrah yang suci dengan tujuan berlomba-lomba dalam
kebaikan untuk mencapai ridho Allah Swt.

4. Faktor-Faktor Penghambat Perkembangan Fitrah
Yang dimaksud dengan masalah penghambat perkembangan
fitrah disini, adalah masalah yang timbul dalam lapangan pendidikan. Yang
berhubungan dengan keberhasilan dalam pelajaran dan penyesuaian diri
terhadapnya. Persoalan itu bermacam-macam, diantaranya lebih berpengaruh
segi mental seperti cocoknya antara bakat dan pelajaran, serta sebagiannya
dipengaruhi oleh segi emosi seperti penyesuaian diri dengan guru dan teman26

Abdul Mujib, Jusuf Mudzakkir, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, (Jakarta; PT. Raja
Grafindo Persada, 2002), c. 2, h.89-90.

21

teman. Sebagian lainnya timbul akibat kurangnya pengetahuan yang ada pada
individu dan sebagian menghendaki macam pelayanan atau pengobatan yang
sangat dekat dengan proses pendidikan dan pengajaran. Sebagaimana halnya
dengan studi pengobatan, yang sebenarnya termasuk dalam bimbingan
pendidikan, namun ia memerlukan tenaga ahli dalam berbagai bidang studi
dan cara pengobatan terhadap keterbelakangan.27
Dapat pula diklasifikasikan masalah penghambat perkembangan
fitrah di sini adalah sebagai berikut :
1. Masalah kurangnya informasi tentang macam studi yang dapat dimasuki
oleh individu.
2. Masalah bakat, kecondongan dan ciri-ciri lain yang mempengaruhi
keberhasilan pelajar dalam studinya.
3. Masalah masuk sekolah yang cocok.
4. Masalah penyesuaian diri dengan bidang studi.28

C. POTENSI DAN PEMBAGIANNYA
Potensi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kemampuan,
kekuatan, kesanggupan atau daya yang mempunyai kemungkinan untuk dapat
dikembangkan.29 Potensi adalah kekuatan, kesanggupan, kemampuan,
kekuasaan dan daya kefungsian.30
Macam-Macam Potensi yaitu :
a) Ranah Kognitif
Manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan intelektual,
sehingga ia dapat menerima pelajaran dari Tuhan. Informasi tentang
manusia sebagai makhluk intelektual ini telah menarik perhatian para ahli
untuk menelitinya berbagai metode. Hasil kajian mereka terhadap

27

Attia Mahmud, Bimbingan Pendidikan Dan Pekerjaan, (Jakarta: PT. Sumber Bahagia),

h.14
28

Ibid, h. 15
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), h. 697
30
Sutan Rajasa, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Karya Utama, 2002), h. 490

29

22

kemampuan intelektual manusia itu, mereka rumuskan dalam sebuah istilah
yang disebut sebagai aspek kognitif manusia.
b) Ranah Afektif
Aspek afektif manusia pada dasarnya merupakan aspek keterampilan
dalam menghayati dan menyadari tentang berbagai hal yang diketahui
sehingga ia terdorong untuk mengerjakannya.
c) Ranah Psikomotorik
Aspek psikomotorik manusia pada dasarnya merupakan aspek
keterampilan dalam mempraktikkan sebuah konsep yang telah dipahami
dan dihayati.

Berbagai keterampilan pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik
tersebut pada intinya adalah merupakan pelaksanaan dari berbagai potensi
manusia sebagai makhluk yang dapat berfikir, belajar, berbudaya dan
berkreasi sebagaimana yang diharapkan.
Kemampuan manusia pada ketiga aspek tersebut sesungguhnya dapat
dijumpai dalam isyarat yang terdapat didalam Al-qur’an. Dalam hubungan ini
sejalan dengan firman Allah Swt. Sbb:
            
     
Artinya: Dan Allah Swt mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam
keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS.Al-Nahl (16) : 78).
Pada ayat tersebut Allah SWT menyebutkan karunia yang
dilimpahkan kepada para hamba-Nya, dengan mengeluarkan mereka dari
perut ibu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, lalu memberikan rezeki
kepada mereka berupa pendengaran, penglihatan dan hati. Allah menjadikan
kalian mengetahui apa yang tidak kalian ketahui, setelah Dia mengeluarkan
kalian dari dalam perut ibu. Kemudian memberi kalian akal yang dengan itu
kalian dapat memahami dan membedakan antara yang baik dengan