Pergeseran kurikulum madrasah dalam undang-undang sistem pendidikan nasional

PERGESERAN KURIKULUM MADRASAH
DALAM UNDANG-UNDANG
SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
DISERTASI
Diajukan dalam Rangka
Memenuhi Persyaratan untuk Mencapai
Gelar Doktor dalam Bidang Pendidikan Islam

Oleh: Muhajir
NIM. 06.3.00.1.03.01.0019

PROMOTOR:
1. PROF. DR. SUWITO, MA
2. PROF. DR. M. HUSNI RAHIM

SEKOLAH PASCASARJANA
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1431 H/ 2010 M

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING DAN PENGUJI

Disertasi berjudul: “Pergeseran Kurikulum Madrasah dalam UndangUndang Sistem Pendidikan Nasional”, yang ditulis oleh Sdr. Muhajir, NIM.
06.3.00.1.03.01.0019 telah diperbaiki sesuai saran dan masukan-masukan Tim
Penguji Ujian Pendahuluan tanggal 08 Nopember 2010.
Demikian untuk dimaklumi.

Tim Penguji:
Dr. Yusuf Rahman
(Ketua Sidang/Penguji)

(………………...............)
Tgl. ……………………..

Prof. Dr. Suwito, MA.
(Pembimbing/Penguji)

(………………………...)
Tgl. ……………………..

Prof. Dr. M. Husni Rahim
(Pembimbing/Penguji)

(………………………...)
Tgl. ……………………..

Prof. Dr. Ana Suhaenah Suparno
(Penguji)

(………………………...)
Tgl. ……………………..

Prof. Dr. A. Malik Fadjar, M. Sc.
(Penguji)

(………………………...)
Tgl. ……………………..

Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA.
(Penguji)

(………………………...)
Tgl. ……………………..

iii

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama

: Muhajir

Tempat/Tgl Lahir

: Kebumen, 28 Desember 1970

NIM

: 06.3.00.00.1.03.0019

Program

: Doktor

Program Studi

: Pengkajian Islam

Konsentrasi

: Pendidikan Islam

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa disertasi yang berjudul: Pergeseran
Kurikulum Madrasah dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional adalah
benar asli karya saya sendiri, kecuali kuipan-kutipan yang disebutkan sumbernya.
Apabila terdapat kesalahan dan kekeliruan di dalamnya, sepenuhnya menjadi
tanggung jawab saya. Dan jika karya ini terbukti plagiat, saya bersedia menerima
sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku, termasuk pencabutan gelar akademik.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.

Jakarta, Oktober 2010
Yang membuat pernyataan

Muhajir
NIM. 06.3.00.1.03.01.0019

ii

ABSTRAK
Kesimpulan besar disertasi ini menunjukkan bahwa pergeseran kurikulum
lebih dominan dipengaruhi faktor politik. Walaupun tidak menafikan faktor-faktor
lain yang ikut berperan dalam mempengaruhi pergeseran kurikulum seperti faktor
agama (ideologi), sosial, ekonomi dan budaya. Namun ending diputuskannya
pergeseran kurikulum lebih dominan dipengaruhi oleh suatu kebijakan pemerintah
yang merupakan penjabaran dari undang-undang dan tidak jauh ditetapkannya
undang-undang karena syarat muatan politis.
Temuan
ini didasarkan oleh dua pendapat yang berbeda dalam
membicarakan faktor yang mempengaruhi pergeseran kurikulum, yaitu pertama,
bahwa pergeseran kurikulum dipengaruhi oleh faktor ideologi (agama), sosial, politik,
ekonomi, budaya dan teknologi bahkan faktor intern pendidikan itu sendiri. Pendapat
ini dikemukakan Larry Cuban dalam Hand Book of Research on Curriculum, yang di
edit oleh Philip W. Jakson. Sebagaimana Cuban, Audrey Osler dalam Schooling
Society and Curriculum, yang diedit oleh Alex More, juga memperkuat pendapat ini.
Dalam edisi Indonesia, Anwar Jasin ketika menulis disertasinya, Pembaharuan
Kurikulum SD di Indonesia Suatu Analisis Perkembangan Tentang Perubahan
Konseptual Kurikulum SD Sejak Proklamasi Kemerdekaan, dengan Menggunakan
Bahan-bahan yang Relevan, juga identik dengan Cuban dan Audrey.
Kedua, menyatakan bahwa perencanaan, perubahan dan pergeseran
kurikulum dipengaruhi faktor politik, bahkan struktur politik masuk dalam situasi
pendidikan. Pendapat ini dinyatakan oleh John I. Goodlad, dalam The Curriculum
Studies Reader, yang diedit oleh David J. Flinders dan Stephen J. Thornton.
Pernyataan Goodlad dipertegas oleh A.V. Kelly dalam The Curriculum Theory and
Practice.
Temuan dalam disertasi ini adalah bahwa pergeseran kurikulum lebih
dipengaruhi faktor politik. Dengan demikian disertasi ini hendak memperkuat
pendapat Goodlad dan Kelly, dengan satu revisi bahwa faktor politik bukan satusatunya faktor yang dapat mempengaruhi pergeseran kurikulum, karena masih ada
faktor lain, yaitu ideologi (agama), sosial, ekonomi dan budaya. Disertasi ini hendak
mempertegas bahwa faktor politik lebih dominan mempengaruhi pergeseran
kurikulum.
Temuan di dalam disertasi ini didasarkan pada sumber-sumber primer, yaitu
dokumen kurikulum Madrasah Aliyah dari tahun 1950-2006, yang di dalamnya
terdiri dari kurikulum Madrasah Aliyah sebelum muncul secara nasional, kurikulum
Madrasah Aliyah tahun 1973, 1975/1976, 1984, 1994, 2004 dan 2006. Sumbersumber ini merupakan sumber primer yang relevan dengan Madrasah Aliyah.
Disamping kurikulum Madrasah Aliyah juga, tiga Undang-Undang Pendidikan yaitu
Undang-Undang Pendidikan No. 4 tahun 1950 Jo UU No. 12 Tahun 1954, UUSPN
No. 2 Tahun 1989 dan UUSPN No. 20 Tahun 2003. Adapun sumber-sumber
pendukung yang mengarahkan disertasi ini adalah tulisan John I. Goodlad dalam The
Curriculum Studies Reader, yang diedit oleh David J. Flinders dan Stephen J.
iv

Thornton (2004) dan bukunya A.V. Kelly dalam The Curriculum Theory and
Practice (2004). Dua orang ini yang teorinya akan diperkuat oleh disertasi ini.
Untuk membaca sumber-sumber yang ada, semua kurikulum Madrasah
Aliyah dari tahun 1950-2006 yang didokumentasikan diletakkan secara kronologis
sesuai periodesasi. Karakteristik Madrasah Aliyah, dan kebijakan pendidikan
pemerintah yang mempengaruhi pergeseran kurikulum Madrasah Aliyah, include
faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran kurikulum Madrasah Aliyah. Termasuk
faktor yang dominan mempengaruhi kurikulum Madrasah Aliyah. Kesemuanya itu
diletakkan dalam konteks historis (sejarah), dengan menggunakan pendekatan
sejarah, kemudian dianalisis menggunakan metode komparasi (perbandingan) dan
content analysis.

v

Abstract
The great conclusion of this dissertation is that the curriculum shift is
dominantly influenced by political factor even though other factors such as religion,
ideology, social, economy, and culture also play an important role on it. However, the
decision of the curriculum shift is dominantly influenced by the government policy as
the spelling out of the constitution. To decide of the law and regulation is often due to
the political interest.
This finding is based on two different views on the factors that influence the
curriculum shift. Firstly, the curriculum shift is influenced by ideological (religious),
social, political, economical, cultural, and technological factors; indeed, the internal
factor of the education itself influences the curriculum shift as well. This view is
stated by Larry Cuban in his work’s Hand Book of Research on Curriculum which is
edited by Philip W. Jakson. Audrey Osler in his work’s Schooling Society and
Curriculum edited by Alex More also supports this opinion. Similar to Cuban and
Osler’s opinions, Anwar Jasin in his dissertation’s Pembaharuan Kurikulum SD di
Indonesia Suatu Analisis Perkembangan tentang Perubahan Konseptual Kurikulum
SD sejak Proklamasi Kemerdekaan, dengan Menggunakan Bahan-Bahan yang
Relevan, also has the same opinion.
Secondly, it is stated that the planning, the change, and the shift of curriculum
are influenced by political factor; indeed, the structure of politics enter into the
educational situation. This opinion is stated by John l. Goodlad in his work’s The
Curriculum Studies Reader edited by David J. Flinders and Stephen J. Thornton.
Goodlad’s statement is asserted by A.V. Kelly in his work’s The Curriculum Theory
and Practice.
The finding of this dissertation is that the curriculum shift is more influenced
by political factor. Therefore, this dissertation will strengthen both Goodlad and
Kelly’s views with one revision that political factor is not the only one that influences
the curriculum shift. There are other factors that influence the curriculum shift:
ideological (religious), social, economical, and cultural factors. This dissertation
shows that political factor becomes more dominant in influencing the curriculum
shift.
The finding of this dissertation is based on the primary sources, i.e. the
documents of curriculum of Madrasah Aliyah (Islamic Senior High School) from
1950-2006. These documents consist of the curriculum of Madrasah Aliyah before it
nationally appears, the 1973, 1975/1976, 1984, 1994, 2004 and 2006 curriculums.
These are the primary sources which are relevant to Madrasah Aliyah. Besides the
curriculum of Madrasah Aliyah as stated above, the three laws of education, i.e. the
laws of education of 1950 No. 4 Jo UU of 1954 No. 12, the laws of National
Educational System (UUSPN) of 1989 No.2 and UUSPN of 2003 No.20, become
other primary sources for this dissertation. Moreover, the works of John l. Goodlad’s
The Curriculum Studies Reader edited by David J. Flinders and Stephen J. Thornton
(2004) and A.V. Kelly’s The Curriculum Theory and Practice (2004) become the
vi

secondary sources of this dissertation. The theories of both of the two writers will be
strengthened by this dissertation.
To read the available sources, all of the curriculum of Madrasah Aliyah from
1950-2006 documented is put chronologically based on its periods. The
characteristics of Madrasah Aliyah and the government policy on education become
the factors influencing the curriculum shift of Madrasah Aliyah. Both of them
dominantly influence the curriculum of Madrasah Aliyah. All of them is explained in
the historical context by using historical approach and be analyzed by using
comparative method and content analysis.

vii

Kata Pengantar
Mengawali karya ilmiah ini saya ingin memanjatkan puji syukur kehadlirat
Allah SWT, karena atas rid}a dan ‘ina>
y ah-Nya jualah disertasi yang berjudul:
“Pergeseran Kurikulum Madrasah dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional” ini dapat diselesaikan. Disertasi ini sengaja dibuat untuk diajukan sebagai
salah satu syarat memperoleh gelar Doktor dalam Ilmu Agama Islam (Pendidikan
Islam) di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Dalam kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada semua pihak yang ikut berperan dalam proses penyelesaian studi di
Sekolah Pascasarjana ini. Mereka itu antara lain sebagai berikut:
1. Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, atas asuhan dan
kepemimpinannya, baik selama saya menjalani masa-masa perkuliahan
maupun andilnya dalam keberhasilan studi saya.
2. Dirjen Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia,
yang telah mengizinkan saya untuk menempuh pendidikan S3 pada Sekolah
Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Prof. Dr. H. M. A. Tihami, MA., MM., Rektor IAIN “SMH” Banten, yang
telah memberi restu dan mengizinkan saya untuk menempuh studi S3, dimana
IAIN “SMH” Banten merupakan institusi tempat mengabdikan keilmuan
saya di dalamnya. Institusi ini jualah yang memberikan sebagian support dana
dan motivasi kepada saya sehingga dapat menyelesaikan studi S3 ini.
4. Prof. Dr. Suwito, MA dan Prof. Dr. Husni Rahim, MA, dalam kedudukannya
dan peran pentingnya sebagai promotor saya, yang telah dengan kesabaran
dan ketelitiannya menunjukkan serta mengarahkan penulisan disertasi saya
ini, sehingga berhasil dan selesai ditulis.

x

5. Semua guru besar, para dosen dan semua staf Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta yang telah menyampaikan ilmu dengan tulus ikhlas
kepada saya. Juga semua staf di bagian akademik yang telah memberikan
pelayanan administrasinya dengan baik.
6. Perpustakaan Kementerian Agama, perpustakaan Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, perpustakaan UNJ, dan Pusat Kurikulum (Puskur)
Kementerian Pendidikan Nasional, yang telah andil besar dalam menyediakan
rujukan-rujukan khususnya tentang kurikulum,

sehingga saya dapat

menyelesaiakan tulisan disertasi ini.
7. Para ulama, cendekiawan dan ilmuwan yang tulisannya dijadikan rujukan oleh
saya dalam penulisan disertasi ini.
Untuk para sahabat yang ada di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam saat-saat kuliah yang penuh
kenangan, dan semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu namanya
dalam lembar pengantar ini, saya hanya dapat berdo’a semoga amal shaleh mereka di
terima sebagai amal akherat yang kekal abadi. Amin.
Disertasi ini secara khusus saya dedikasikan kepada Abi, Umi, isteri (Tri
Yuni Hartati), dan anak-anak saya yang shaleh (Faiz Arfan Bahar dan Faza Farzanggi
Muhajir), yang dengan segala ketulusan serta kelonggaran kalbunya memberi
motivasi, do’a dan rasa cinta kasih sejati kepada saya. Inilah salah satu sumber energi
saya yang tak pernah habis dan kering serta selalu menunjukkan untuk melakukan
yang terbaik. Semoga Allah senantiasa memberikan hida>
y ah dan ma‘u>
nah-Nya,
perjuangan sungguh-sungguh mereka, meskipun harus hidup tertatih-tatih di tengah
kesulitan dan penderitaan yang besar di dunia ini. Amin.
Ciputat, Oktober 2010
Penulis

Muhajir

xi

DAFTAR ISI

SAMPUL DEPAN .......................................................................................

i

KATA PENGANTAR .................................................................................

ii

PEDOMAN TRANSLITERASI .................................................................

iv

DAFTAR ISI ...............................................................................................

v

BAB I

PENDAHULUAN .........................................................................

1

A. Latar Belakang Masalah ...........................................................

1

B. Permasalahan............................................................................

10

1.

Identifikasi Masalah..........................................................

10

2.

Pembatasan Masalah .........................................................

11

3.

Perumusan Masalah ...........................................................

13

C. Tujuan dan Signifikansi Penelitian ...........................................

13

D. Kajian Pustaka ..........................................................................

15

E. Metodologi Penelitian ...............................................................

25

F. Sistimatika Pembahasan............................................................

28

BAB II PERGESERAN KURIKULUM DALAM PERDEBATAN...…

31

A. Pergeseran Kurikulum Adalah Sebuah Keniscayaan.................

31

B. Pergeseran, Inovasi, Pengembangan dan Perubahan Kurikulum

36

C. Dua Pendapat yang Berbeda .....................................................

47

1. Pergeseran Kurikulum Dipengaruhi oleh Faktor Ideologi,
Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Agama ....................

48

2. Pergeseran Kurikulum Dipengaruhi oleh Faktor Politik,
Bahkan Situasi Politik Masuk dalam Situasi Pendidikan .....

v

53

BAB III KARAKTERISTIK KURIKULUM MADRASAH ALIYAH .

62

A. Masa Undang-Undang Pendidikan No. 4 Tahun 1950
Jo UU No. 12 Tahun 1954 ........................................................

70

1. Kurikulum MA Sebelum Tahun 1972: Dominasi
Muatan Agama ...................................................................

70

2. Kurikulum MA Tahun 1973: Dominasi Muatan Umum ......

87

3. Kurikulum MA 1975: Dominasi Muatan Umum Secara
Politis Memperkuat Pengakuan Pemerintah Terhadap
Eksistensi Lembaga Madrasah ............................................

92

4. Kurikulum MA 1984: Pemantapan Dominasi Muatan
Umum SKB Tiga Menteri dalam Menggiring Madrasah
Menjadi Bagian dari Sistem Pendidikan Nasional ...............

98

B. Masa Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 2
Tahun 1989............................................................................... 103
1. Kurikulum MA 1994: Sekolah Umum Berciri Khas Islam .. 103
C. Masa Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20
Tahun 2003............................................................................... 113
1. Kurikulum MA 2004: Mempertahankan Ciri Khas
ke-Islaman Sebagai Karakteristik Asli Madrasah ................ 113
2. Kurikulum MA 2006: Modifikasi Ciri Khas ke-Islaman
dengan Penciptaan Suasana Keagamaan di Madrasah.......... 126

BAB IV PENGARUH KEBIJAKAN PENDIDIKAN PEMERINTAH
TERHADAP PERGESERAN KURIKULUM
MADRASAH ALIYAH................................................................. 137
A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pergeseran Kurikulum ....... 137
1.

Faktor Agama (Ideologi).................................................... 137

2.

Faktor Sosial...................................................................... 144

vi

3.

Faktor Ekonomi ................................................................. 151

4.

Faktor Budaya ................................................................... 154

B. Dominasi Faktor Politik ............................................................ 158
C. Tarik Menarik Kepentingan Partai Politik dalam Pendidikan .... 164
D. Kebijakan Politis Pemerintah dalam Kurikulum Madrasah........ 174
E. Tafsir Pergeseran ...................................................................... 203
1.

Bergeser Sebagaian Komponen Kurikulum ........................ 203

2.

Bergeser Seluruh Komponen Kurikulum............................ 204

F. Indikator Pergeseran ................................................................. 204
1. Tujuan Kurikulum Madrasah Aliyah ................................... 204
2. Isi Kurikulum Madrasah Aliyah .......................................... 218
3. Pendekatan Kurikulum Madrasah Aliyah ............................ 242
4. Evaluasi Kurikulum Madrasah Aliyah................................. 252

BAB V KURIKULUM MADRASAH ALIYAH MASA DEPAN............ 262
A. Tuntutan Pembaharuan Pendidikan Madrasah Aliyah:
Upaya Mempertahankan Sisi Politis ......................................... 262
B. Tuntutan Integritas: Menepis Dikotomi Ilmu Menyusun
Keilmuan yang Ideal dalam Rangka Mewujudkan Kekuatan
politis ....................................................................................... 270
C. Tuntutan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ....... 278
D. Tantangan Modernitas .............................................................. 284

BAB VI PENUTUP.................................................................................... 289
A. Kesimpulan............................................................................ 289
B. Saran ..................................................................................... 291

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 293

vii

LAMPIRAN-LAMPIRAN .......................................................................... 320
DAFTAR RIWAYAT HIDUP .................................................................... 351

viii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Disertasi berjudul: Pergeseran Kurikulum Madrasah dalam UndangUndang Sistem Pendidikan Nasional yang ditulis oleh Sdr. Muhajir, NIM.
06.3.00.1.03.01.0019

telah

diperbaiki

sesuai

saran

dan

masukan-masukan

pembimbing.
Demikian untuk dimaklumi.

Jakarta, Oktober 2010
Pembimbing

Prof. Dr. Suwito, MA

iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Disertasi berjudul: Pergeseran Kurikulum Madrasah dalam UndangUndang Sistem Pendidikan Nasional yang ditulis oleh Sdr. Muhajir, NIM.
06.3.00.1.03.01.0019

telah

diperbaiki

sesuai

saran

dan

masukan-masukan

pembimbing.
Demikian untuk dimaklumi.

Jakarta, Oktober 2010
Pembimbing

Prof. Dr. Husni Rahim, MA

iv

346

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. Identitas
Nama lengkap

: Muhajir

Tempat/tanggal lahir

: Kebumen, 28 Desember 1970

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Alamat Asal

: Gandusari, R.T. 02 R.W. 04 Kuwarasan,
Kebumen Jawa Tengah.

Alamat Sekarang

: Perumahan Taman Banjar Agung Indah
Blok D-6 No. 02 Serang, Banten.

Alamat e-mail

: hajir_faiz@yahoo.com

Alamat Kantor

: Fakultas Tarbiyah IAIN “SMH” Banten
Jl. Jend. Sudirman No. 30 Serang 42118.

Telp.

: Hp. 08121907168
Rumah 0254-284154

B. Keluarga
Orang Tua :
1. Bapak

: Achmad Suyuthi

2. Ibu

: Siti Aminah (almarhumah)

Mertua :
1. Bapak

: Basrudin

2. Ibu

: Ratimah

Isteri

: Tri Yuni Hartati, A.Md.

Anak

: 1. Faiz Arfan Bahar (11 Pebruari 2003)
2. Faza Farzanggi Muhajir (29 September 2008)

347

C. Riwayat Pendidikan
I. Pendidikan Formal
1. SD Negeri Gandusari, Kebumen, lulus tahun 1984.
2. MTs Negeri Purwosari, Rowokele, Kebumen, lulus tahun 1987.
3. PGA Negeri Kebumen, lulus tahun 1990.
4. S1 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fak. Tarbiyah Jur. PAI, lulus tahun 1995.
5. S2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Konsentrasi Pendidikan Islam, lulus
tahun 2003.
6. S3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Konsentrasi Pendidikan Islam, lulus
tahun 2010.
II. Pendidikan Non Formal
1. Madrasah Diniyah Pondok Gebangsari, Kebumen, 3 tahun, dari
tahun 1978 –1981.
2. Madrasah Diniyah Kuwarasan Kebumen, 5 tahun, dari tahun 1982-1987.
3. Pondok Pesantren “Al-Huda” Jetis Kutosari, Kebumen, 3 tahun, dari
tahun 1987-1990.
4. Pondok Pesantren Mahasiswa (Wahid Hasyim) Gaten Condong Catur,
Yogyakarta, 2 tahun, dari tahun 1991-1993.

D. Kegiatan Ilmiah dan Penelitian
1. Diskusi bulanan di KAPGAN Kebumen, 5 tahun, dari tahun 1990 –1995.
2. Diskusi bulanan Pendidikan Islam di KD-PAI-6 IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, 3 tahun, dari tahun 1991-1993.
3. Peserta seminar “Tantangan Pendidikan Islam pada Era Global” di Hotel
Ambarukmo Yogyakarta, tahun 1993.
4. Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, selama 10 hari, tahun 1994, di Wisma Sejahtera
Kaliurang Yogyakarta.
5. Peserta seminar “Prospek Pendidikan Islam di Era Global” di IKIP Yogyakarta,
utusan dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun 1993.

348

6. Diskusi mingguan Program Studi Pendidikan Islam di KDPI-Pasca UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, 2 tahun, dari tahun 2000 – 2002.
7. Peserta seminar “The Reconstruction of Syari’a in The Islamic State”, di UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, tahun 2003.
8. Peserta bedah buku “Pemikiran Syari’ah Hasan al-Bana”, di Islamic Centre
Bekasi, tahun 2003.
9. Penelitian untuk para peneliti tingkat lanjut, Dosen IAIN “SMH” Banten, di
Anyer, tahun 2007.
10. Pembicara seminar pendidikan “Metamorfosis Mutu Pendidikan Banten:
Kurikulum, Mutu Guru dan Budaya Lokal banten”, tahun 2009.
11. Pembicara Seminar pendidikan “Menguak Rahasia Pendidikan ala Rasulullah”,
2010.

E. Tulisan Ilmiah
I. Tulisan Yang di Publikasikan
1. “Perjumpaan Sufisme dan Agama-agama Lain”, dipulikasikan oleh Majalah
Bulanan Departemen Agama Jawa Barat “Media Pembinaan”, No. 08/XXVIII
November 2001.
2. “Pendidikan Sebagai Media Transformasi Budaya (Renungan Bagi Para
Pendidik dan Penyelenggara Pendidikan Dalam Menyambut Tahun Pelajaran
Baru 2002/2003)”, “Media Pembinaan”.
3. “Madrasah di Makkah dan Madinah”, Jurnal Ilmiah Bidang Keagamaan dan
Kemasyarakatan, “Al-Qalam”, Vol. 20/No. 98, 99/Juli-Desember 2003, Serang:
Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, IAIN “SMH” Banten,
2003.
4. Madrasah-madrasah di Makkah dan Madinah dalam Sejarah Pendidikan Islam,
pada Periode Klasik dan Pertengahan, Prof. Dr. H. Abudin Nata, MA. (Ed.),
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.

349

5. Ibnu Khaldun (1332-1402 M): Prinsip dan Metode Pengajaran, dalam Sejarah
Pemikiran Para Tokoh Pendidikan, Prof. Dr. Suwito, MA. dan Fauzan, MA.
(Ed.), Bandung: Angkasa, 2003.
6. Kurikulum Madrasah Orde Reformasi – 2007: Analisis Pengembangan dan
Pembaharuan ke Arah Modern, Jurnal Ke-Islaman, Kemasyarakatan dan
Kebudayaan, “Tazkia”, Vol. IX No. 02, 2008.
II. Dalam Bentuk Skripsi, Tesis dan Disertasi
1. “Pendidikan Anak Menurut Al-Qur’an (Studi Tentang Materi dan Metode)”,
Skripsi S1, 1995.
2. “Pendidikan Jasmani Dalam Perspektif Islam”, Tesis S2, 2003.
3. “Pergeseran Kurikulum Madrasah dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional”, Angkatan 2006.

F. Riwayat Pekerjaan
1.

Direktur TPA “Al-Huda”, Klitren Lor Yogyakarta, tahun 1992 – 1993.

2.

Guru Privat Keluarga dari Yayasan Tunas Melati Yogyakarta, tahun 1992 –
1995.

3.

Guru al-Qur’an pada Program Pemberantasan Baca Tulis al-Qur’an se SD
Klitren Lor Yogyakarta, tahun 1993 – 1994.

4.

Distributor PT. Amindoway Jaya, tahun 1993.

5.

Marketing Supervisor PT. Cahaya Matahari Timur Yogyakarta, tahun 1994.

6.

Kepala Cabang PT. Cahaya Matahari Timur di Kebumen, tahun 1994 (6 bulan).

7.

Anggota ASBI (Asosiasi Sarang Burung Walet Indonesia), tahun 1994 –1995.

8.

Cyper Operator di Subur Tiasa Playwood Sdn. Bhd., Sibu East Malaysia, tahun
1996.

9.

Boyler Operator di Azaz Mahir Sdn. Bhd., Bintulu East Malaysia, tahun 1997.

10. TU MI Asy-Syuhada Jakarta, tahun 1998 (3 bulan).
11. Guru MI Asy-Syuhada Jakarta, tahun 1998-1999.
12. Dosen STAI Al-Ghuraba’ Jakarta, tahun 1998-1999.

350

13. Guru (PNS) MTs Negeri Rengasdengklok, Karawang, tahun 1999 –2003.
14. Dosen STAI Darul Qalam Tangerang dan Bekasi, tahun 1999 – 2007.
15. Dosen PGSD dan PGTK Darul Qalam Cut Mutia Bekasi, Islamic Centre
Bekasi dan Tanjung Barat Jakarta, tahun 1999 – 2007.
16. Dosen STIMIK Kharisma Karawang, tahun 2000 – 2003.
17. Dosen Tetap (PNS) pada Fakultas Tarbiyah dan Adab IAIN “SMH” Banten
Serang, tahun 2003 – sekarang.
18. Ketua Badan Pelaksana Harian PGTK/RA-PGSD/MI STAIKHA “Nur
El-Qolam” untuk kampus Serang, Cilegon dan Jayanti, tahun 2005 – 2008.
19. Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) TIARA Jakarta mulai Januari
2008-2009.
20. Badan Pembina Yayasan “Nur El-Qolam” Banten, tahun 2005-2009.
21. Ketua Yayasan “Nur El-Qolam” Banten, 2009-sekarang.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pada tahun 1950-an, kurikulum1 yang diselenggarakan madrasah, menurut
laporan Steenbrink

sepertiganya terdiri dari pelajaran agama, sedang sisanya

merupakan pelajaran umum. 2 Berarti, pelajaran umum dua pertiganya. Hal ini
didukung pernyataan pemerintah

dalam Undang-Undang 1950 pasal 10 yang

menyebutkan bahwa belajar di sekolah agama yang telah mendapat pengakuan
Departemen Agama, sudah memenuhi kewajiban belajar.3 Bukti madrasah semakin
tidak mendominasi mata pelajaran Agama, ketika KH. Wahid Hasyim menjabat
Menteri Agama tahun 1949–1952, supaya memasukkan tujuh pelajaran di lingkungan
madrasah, yaitu mata pelajaran Membaca-Menulis (latin), Berhitung, Bahasa
Indonesia, Sejarah, Ilmu Bumi dan Olahraga.4
Ketika Departemen Agama dipimpin oleh KH. Moh. Ilyas (1953-1959)
mengadakan pembaharuan sistem pendidikan madrasah dengan memperkenalkan
Madrasah Wajib Belajar (MWB) 8 tahun. Tujuan dari MWB ini diarahkan pada
pembangunan jiwa bangsa, yaitu untuk kemajuan di bidang ekonomi, industri dan
transmigrasi dengan kurikulum yang menyelaraskan tiga perkembangan yaitu
perkembangan otak, perkembangan hati dan keprigelan tangan/ketrampilan (three H:

1

Caswell dan Campbell mengatakan bahwa Kurikulum adalah seluruh pengalaman siswa di
bawah bimbingan para guru. Saylor dan Alexander memberikan penguat, bahwa kurikulum didasarkan
pada semua kesempatan belajar yang disediakan oleh sekolah. Lihat, Philip W. Jakcson (ed.), Hand
Book of Research on Curriculum (New York: Macmillan Publishing Company, 1999), 4.
2

Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah, Pendidikan Islam dalam Kurun Modern
(Jakarta: LP3ES, 1996), 96.
3

Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah, Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, 88.

4

Abdul Rachman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa, Visi, Misi dan Aksi
(Jakarta: Rajawali Pers, 2005), 26.

1

heart, head, hand).5 Senada dengan tujuan MWB, seperti dijelaskan oleh Plato,
bahwa suatu bangsa harus mempunyai konsep/teori pendidikan yang mendalam. Hal
itu ditujukan dengan metode pengajaran, membangun teori ilmu pengetahuan,
kerangka kurikulum pendidikan, pendidikan dalam peran sosial dan analisis manusia
secara alamiah.6
Baru setelah keluar Keputusan Menteri Agama No. 52 Tahun 1971,
dirumuskanlah Kurikulum di Cibogo yang diberlakukan secara nasional. Dengan
beberapa perbaikan dan penyempurnaan, kurikulum itu kemudian dikenal dengan
kurikulum 1973.7 Dari struktur materi yang ditawarkan kurikulum itu, menurut
cacatan Maksum, sudah cukup mencerminkan perkembangan yang serius dalam
rangka mengarahkan madrasah sebagai bagian dari Sistem Pendidikan Nasional.
Komponen-komponen kurikulum itu meliputi tidak saja mata-mata pelajaran agama,
tetapi juga mata-mata pelajaran umum dan mata-mata pelajaran kejuruan. 8 Mata
pelajaran agama dan umum saja menurut penulis tidak cukup karena implementasi
keduanya sangat penting –teori dan praktek– kesimpulan ini diyakini oleh Bobbit,
bahwa content (materi) yang diberikan kurikulum harus dapat diketahui (secara teori)
dan diaplikasikan (secara praktek), teori dan praktek hendaklah menjadi scope dan
sequence kurikulum (Madrasah Aliyah).9
Perlu diketahui bahwa perubahan kurikulum madrasah (Madrasah
Aliyah/MA) terkait dengan gerakan pembaharuan pendidikan Islam. Seperti
madrasah-madrasah Diniyah yang ada di Padang Panjang. Madrasah-madrasah

5

Abdul Rachman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa, Visi, Misi dan Aksi, 26.

6

Robert S. Brumbaugh, dan Nathaniel M. Lawrence, Philosopher on Education, Six Essays
on the foundations of Western Thought (Boston: Houghton Mifflin Company, 1963), 20.
7

Abdul Rachman, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa, Visi, Misi dan Aksi, 34.

8

Maksum, Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya (Jakarta: Logos, 1999), Cet II, 142.

9

Dengan kurikulum ini, tegas Bobbit, hendaknya siswa akan dapat menikmati hasil dari
proses pendidikan, sehingga Bobbit percaya bahwa para siswa akan dapat meraih kesuksesan pada
masa depannya. Lihat, Franklin Bobbit dalam David J. Flinders dan Stephen J. Thornton (Ed.), The
Curriculum Studies Reader (New York dan London: Routledgefalmer, 2004), Cet II, 3.

2

Diniyah seperti ini, sistemnya mencontoh sekolah pemerintah (HIS), seperti memakai
meja dan kursi, serta mengajarkan mata pelajaran umum disamping pelajaran agama.
Model madrasah seperti ini, awal mula didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad dengan
Adabiyah School10 (1909), kemudian juga Madrasah Diniyah yang didirikan oleh
Zainuddin Labai tahun 1915 yang merupakan perkembangan dari surau Jembatan
Besi. Madrasah ini juga menggunakan sistem ko-edukasi yang dicontoh dari
kebiasaan yang berlaku di sekolah-sekolah pemerintah.11 Disamping itu juga
madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Yogyakarta yang didirikan kira-kira tahun
1918, dimana kurikulumnya diklasifikasikan menjadi agama dan umum, Prosentase
ilmu umum dan agama seimbang (50% agama dan 50% umum).12 Tahun-tahun
berikutnya setelah madrasah Mu’allimin, isi kurikulumnya sudah mulai didominasi
oleh umum. Realitas demikian yang mendasari kurikulum madrasah (MA) bergeser.
Sekilas diamati, bahwa beberapa laporan para penulis di atas mendukung
pernyataan bahwa pergeseran kurikulum madrasah (MA) sejak sebelum merdeka,
setelah merdeka, Orde Lama sampai Orde Baru (1966) bahkan sampai tersusunnya
kurikulum madrasah secara nasional (1971), telah mengalami pergeseran baik
komponen tujuan, isi, metode, maupun evaluasi yang penulis asumsikan, bahwa
pergeseran tersebut lebih dominan bersifat politis untuk tujuan dan isi kurikulum dan
bergeser ke arah modern untuk metode dan evaluasi. Argumen Raimond William,
dapat menjadi dasar analisis ini, bahwa definisi baru pendidikan secara umum adalah
output-nya dapat memecahkan masalah dan dapat mempraktekannya. Pendidikan
bentuk ini, tegas William, adalah bentuk kurikulum modern. 13 Hal ini dapat diperkuat
dengan apa yang direkam oleh John. D. Mc. Neil, para sosiolog melaporkan, bahwa
10

Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia (Jakarta: LP3ES, 1996), 51.

11

Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia, 62.

12

Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Hidakarya Agung,

1996), 227.
13

Terlebih ketika ditambah, matematika, geografi, bahasa modern, dan sain fisika yang
sangat penting, lihat, John White dalam Alex More, Schooling, Society and Curriculum (London and
New York: Rountledge, 2006), Cet I, 43.

3

inovasi kurikulum –tentunya mengandung makna pergeseran– di sebuah sekolah
adalah merupakan suatu keharusan untuk menemukan sesuatu yang lebih baik.14
Terkait dengan munculnya kurikulum secara nasional tahun 1971, menurut
Maksum bahwa madrasah (MA) pada awalnya didirikan oleh masyarakat secara
mandiri, tetapi dengan penegerian dan pembakuan kurikulum itu madrasah-madrasah
cenderung berjalan secara seragam. Civil Effect bagi lulusannya pun menjadi teratur.
Madrasah dengan demikian tidak diragukan lagi sebagai lembaga pendidikan yang
pengelolaan, struktur dan kurikulumnya mendekati sama dengan sekolah di
lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.15 Kurikulum yang baik,
menurut Franklin Bobbit akan dapat mendiagnosa kesulitan belajar siswa dan dapat
membawa pendidikan ke arah yang lebih prospek.16 Usaha merevisi terus menerus
kurikulum madrasah (MA) dari sisi metode dan evaluasi, adalah dalam rangka
merealisasikan kurikulum seperti diungkapkan Bobbit.
Tahun 1975 dikeluarkan Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri mengenai
“Peningkatan Mutu Pendidikan pada Madrasah.” Dalam Surat Keputusan Bersama
itu, masing-masing Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
dan Kementerian Dalam Negeri memikul tanggungjawab dalam pembinaan dan
pengembangan pendidikan madrasah. 17

14

John. D. Mc. Neil, Curriculum A Comprehensive Introduction (Boston Toronto: Luttle
Brown and Company, t.t.), 117. Sebagai bahan perbandingan reformasi kurikulum yang ada di
Amerika Serikat, pergerakan reformasi kurikulum dimulai sejak suksesnya peluncuran satelit Rusia
yang pertama, 1957, kejadian spektakuler ini mempercepat revisi kurikulum, terutama dalam hal
matematika dan fisika, walaupun sempat mengalami stagnan ketika terjadinya perang dunia II, lihat
John I. Goodlad dalam David J. Flinders dan Stephen J. Thornton (Ed.), The Curriculum Studies
Reader, 60.
15

Maksum, Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya, 144.

16

Franklin Bobbit dalam David J. Flinders dan Stephen J. Thornton (Ed.), The Curriculum
Studies Reader (New York dan london: Routledgefalmer, 2004), cet II, 3.
17

Maksum, Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya, 149, lihat pula, M. Arifin, Kapita
Selekta Pendidikan (Islam dan Umum) (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 230. Pada saat ini Menteri
Agamanya adalah H.A. Mukti Ali, lihat, Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama
Islam, di Sekolah Madrasah dan Perguruan Tinggi (Jakarta: Rajawali Pers, 2005), 197.

4

Dalam SKB disebutkan bahwa mata pelajaran Agama di madrasah (MA)
adalah kurang lebih 30%, berarti yang 70% adalah mata pelajaran umum. 18 Artinya
implementasi dalam pengajaran tidak mengurangi kuantitas jam pelajaran mata-mata
pelajaran umum.
Pada tahap awal setelah SKB, Departemen Agama menyusun kurikulum
197619 –keputusan Menteri Agama No. 75, tanggal 29 Desember 1976– yang
diberlakukan secara intensif mulai tahun 1978. Kemudian kurikulum 1976 ini
disempurnakan lagi melalui kurikulum 1984 sebagaimana dinyatakan dalam SK
Menteri Agama No. 45 Tahun 1987.20 Penyempurnaan ini sejalan dengan perubahan
kurikulum sekolah di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Penjelasan di atas membuktikan bahwa kenyataan sejarah keberadaan serta
peran madrasah adalah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini terlihat dari
Undang-Undang Pendidikan tahun 1950, sejarah pembaharuan madrasah sejak
sebelum Indonesia merdeka, pasca kemerdekaan, dan bergesernya kurikulum
madrasah pasca tahun 1950-2006. Dari sisi metode dan evaluasi kurikulum madrasah
(MA) terus melakukan pembaharuan, walaupun secara politis tujuan dan isi
kurikulum madrasah (MA) harus mengikuti undang-undang pendidikan yang berlaku.
Namun peran madrasah (MA) dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa tidak bisa
dialpakan.
Selanjutnya,

penulis

mencermati

bahwa

ada

faktor-faktor

yang

menyebabkan kurikulum madrasah bergeser, bila merujuk uraian di atas, diantara
faktor yang menyebabkan kurikulum madrasah bergeser adalah faktor perubahan
sosial, ekonomi, politik dan budaya. Analisis penulis ini diperkuat oleh Larry Cuban,
bahwa faktor-faktor yang menyebabkan perubahan daerah dan sekolah adalah
18

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, di Sekolah, Madrasah dan
Perguruan Tinggi, 197.
19

Abdul Rachman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa, Visi, Misi dan Aksi, 34.

20

Hemat penulis saat ini Menteri Agamanya adalah Munawir Sjadzali, lihat Muhaimin,
Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi,
197.

5

demografi, culture (kebudayaan), politik, sosial dan ekonomi. 21

Hal ini identik

dengan apa yang dikatakan Jonathan Tudge dalam Vygotsy and Education,
sebagaimana dikutip Tilaar, mengatakan "bahwa dari perkembangan pribadi
seseorang menuntut perkenalan premier dari lingkungannya. Dunia kehidupan di
dalam perkembangan pribadi manusia (individuasi) akan semakin lama semakin
meluas dari lingkungan keluarga, masyarakat sekitar, masyarakat etnisnya,
masyarakat negara, dan seterusnya masyarakat global.”22 Catatan Audrey Osler,
mendukung pernyataan Tudge, dalam seminar Internasional dan Interdisipliner di
Harvard University tahun 2002, bahwa kehidupan dan pengalaman senantiasa
berkembang sampai hari ini yang senantiasa berhubungan dengan realitas ekonomi,
proses sosial, inovasi teknologi dan media, dan arus budaya yang melewati batasbatas negara dengan kejadian yang lebih besar.23 Program pendidikan haruslah
disusun berdasarkan perkembangan dunia tersebut. Dengan demikian kurikulumpun
harus bergeser. Pendidikan adalah penting sekali di dalam pembentukan kapital
sosial. Dalam fungsinya yang demikian perlu mengetahui organisasi sosial, adat
istiadat setempat dimana peserta didiknya hidup dan berkembang.24
Tidak dapat diabaikan, perkembangan ekonomi juga merupakan faktor
penting yang menyebabkan kurikulum bergeser. Larry Cuban, memberikan contoh,
ketika pasokan dolar dikurangi ke sekolah-sekolah di Amerika, maka program-

21

Larry Cuban menjelaskan faktor-faktor ini, untuk sekolah di Amerika, dimana sistem
sekolah dan kurikulumnya adalah desentralisasi. Lihat Larry Cuban, dalam Philip W. Jakcson (ed.),
Hand Book of Research on Curriculum (New York: Macmillan Publishing Company, 1999), 217.
22

H.A.R. Tilaar, Perubahan Sosial dan Pendidikan (Jakarta: Grasindo, 2002), 88.

23

Kondisi lokal dan global tidak bisa ditawar lagi harus berhubungan dengan kehidupan kita
sehari-hari, kurikulum sekolah membutuhkan hubungan-hubungan ini secara eksplisit. Lihat, Audrey
Osler dalam, Alex More (ed.) Schooling, Society and Curriculum, 101-102.
24

Tilaar, Perubahan Sosial dan Pendidikan, 91, bandingkan dengan catatan Alan Peskhin
dalam Philip W. Jakcson (ed.), Hand Book of Research on Curriculum, 248. Pendidikan tak dapat tiada
harus memberikan jawaban atas tekanan-tekanan yang datang dari desakan dan tekanan dari kekuatankekuatan sosio-politik –ekonomi yang dominan pada saat tertentu, lihat, S. Nasution, Kurikulum dan
Pengajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), Cet II, 23.

6

program pengajaran di sekolah banyak berhenti. 25 Para penyumbang sekolah-sekolah
di

Amerika

diantaranya,

para

dermawan

(donatur),

organisasi-organisasi

philanthropic dan juga support dari para komunitas bisnis. 26 Selanjutnya faktor
politik, sebagai bukti bahwa faktor politik menentukan pergeseran kurikulum, seperti
dikatakan John I. Goodlad, bahwa perencanaan kurikulum adalah proses politik,
bahkan proses politik itu adalah sebuah proses ideologi yang menentukan ending
(akhir) dan arti pendidikan.27 Bahkan jika melihat kebijakan-kebijakan pemerintah
faktor politik ini nampaknya yang lebih dominan mempengaruhi pergeseran
kurikulum madrasah. Faktor budaya, tidak bisa absent, merupakan faktor penyebab
pergeseran kurikulum, hal ini senada dengan laporan Alex More, kurikulum sekolah
sering dipresentasikan dan dipahami untuk menyeleksi ilmu pengetahuan
(knowledge) dan kebudayaan dari suatu negara, tipikal penyeleksian yang demikian
hendaklah dilakukan terus menerus untuk menggambarkan secara khusus skill-skill
kebudayaan dan pemilihan kebudayaan-kebudayaan tersebut dari kelompokkelompok sosial tertentu. Referensi seperti ini hendaknya menjadi jalan kurikulum
sekolah untuk merespon kerja sekolah dari murid-muridnya. 28
Disamping itu, bahwa implikasi UUSPN No. 2 Tahun 1989 terhadap
Pendidikan Madrasah dapat dilihat pada kurikulum dari semua jenjang madrasah,
mulai dari Ibtidaiyah, Tsanawiyah, sampai dengan Aliyah. Secara umum
penjenjangan itupun paralel dengan penjenjangan Pendidikan Sekolah, mulai dari
Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, sampai dengan Sekolah
Menengah Umum. Di bawah ketentuan yang terintegrasi itu Madrasah Ibtidaiyah

25

Cuban dalam Philip W. Jakcson (ed.), Hand Book of Research on Curriculum, 217.

26

Walter Feinberg dan Jonas F. Soltis, School and Society (New York and London: Teachers
College Press, 2004), 121.
27

Statement lain mengatakan bahwa struktur politik masuk dalam situasi pendidikan. Unik
dan sensitif hubungan antara lokal, negara dan pemerintah daerah dalam memberikan support dan
mensikapi masalah-masalah sekolah, demikian contoh di Amerika, lihat Goodlad dalam David J.
Flinders dan Stephen J. Thornton (Ed.), The Curriculum Studies Reader, 62.
28

Alex, Schooling, Society and Curriculum, 87.

7

pada dasarnya adalah “Sekolah Dasar Berciri Khas Islam”, Madrasah Tsanawiyah
adalah “Sekolah Lanjutan Pertama Berciri Khas Islam”, kedua-duanya MI dan MTs
termasuk dalam kategori Pendidikan Dasar. Sedang Madrasah Aliyah (MA)
dikategorikan sebagai “Sekolah Menengah Umum Berciri Khas Islam”. 29 Bisa dilihat
Keputusan Menteri Agama RI Nomor 372 tahun 1993 tentang kurikulum Pendidikan
Dasar Berciri Khas Islam. 30 Menurut Kurikulum ini MI dan MTs melaksanakan
Kurikulum Nasional SD dan SLTP.31
Terkait kurikulum Madrasah Aliyah (MA), telah dikeluarkan keputusan
Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 373 tahun 1993 tentang kurikulum
Madrasah Aliyah. Dalam ketentuan ini, isi kurikulum terdiri dari dua program
pengajaran umum dan pengajaran khusus sebagaimana berlaku dalam sekolah
umum. 32
Tarmizi Taher ketika menjadi Menteri Agama, nampaknya mencoba
menawarkan kebijakan dengan jargon “Madrasah sebagai sekolah umum yang Berciri
Khas Agama Islam –kurikulum 1994– yang muatan kurikulumnya sama dengan non
madrasah. Kebijakan ini ditindak lanjuti oleh A. Malik Fadjar –kurikulum 2004–
bahkan Malik menetapkan eksistensi Madrasah untuk memenuhi tiga tuntutan
minimal dalam peningkatan kualitas madrasah, yaitu (1) bagaimana menjadikan
Madrasah sebagai wahana untuk membina ruh dan praktek hidup ke-Islaman; (2)
bagaimana memperkokoh keadaan madrasah sehingga sederajat dengan Sistem
Sekolah; (3) bagaimana madrasah mampu merespon tuntutan masa depan guna

29

Maksum, Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya, 155, lihat pula, Abdul Rachman
Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa, Visi, Misi dan Aksi, 35.
30

Sesuai keterangan Muhaimin, saat ini menteri Agamanya adalah Tarmizi Taher, Muhaimin,
Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi,
197.
31

Maksum, Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya, 155 – 156.

32

Maksum, Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya, 58.

8

mengantisipasi perkembangan iptek dan era globalisasi. 33 Nampak jelas pergeseran
kurikulum madrasah (MA) untuk metode/pendekatan mengarah ke modern, indikator
mengarah kepada modern salah satunya ditandai dengan beralihnya aktifitas yang
berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa. Seperti dikatakan oleh Beane,
"bahwa bila kreasi kurikulum di prioritaskan kepada siswa akan lebih baik dari pada
kepada para pendidik –dari level-level yang berbeda sampai tegaknya suatu
kurikulum". 34 Tentunya pendekatan modern dengan tetap tidak meninggalkan ruh keIslamannya.
Apabila dibandingkan jenis nama pelajaran agama antara mata pelajaran
dalam struktur kurikulum madrasah (MA) tahun 1994 dengan struktur tahun 2004,
tidak mengalami perubahan karena jenis mata pelajaran itu masih didasarkan atas
Keputusan Menteri Agama No. 110 Tahun 1982 tentang pembidangan ilmu keIslaman. Pada kurikulum tahun 2004 dihindarkan pertemuan tatap muka yang hanya
satu jam pelajaran, agar pembobotan dalam prinsip belajar tuntas dapat diselesaikan.
Adapun keseluruhan jumlah jam pelajaran perminggu dipertahankan seperti yang
tercantum pada struktur kurikulum tahun 1994.35
Dalam kurikulum Madrasah 2004 (KBK) menggunakan sistem semester dan
ditetapkan tingkat kelas yang berkelanjutan, MI enam tahun kelas I–VI, MTs tiga
tahun kelas VII–IX, MA tiga tahun kelas X–XII. Pemilihan program pada MA
ditetapkan sesudah kelas X.36 Kurikulum Berbasis Kompetensi selanjutnya
diterjemahkan ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006.
Ilustrasi di atas nampak jelas, bahwa setiap periode kurikulum mempunyai
karakteristik sendiri-sendiri. Kurikulum madrasah sejak tahun 1950–2006 adalah

33

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, di Sekolah, Madrasah dan
Perguruan Tinggi, 197-199.
34

Beane dalam Vincent A. Anfara, Jr., Sandra L. Stacki (ed.), Middle School Curriculum
Instruction and Assessment (US: National Middle School Association Westerville, 2002), 9.
35

Abdul Rachman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa, Visi, Misi dan Aksi, 202.

36

Abdul Rachman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa, Visi, Misi dan Aksi, 204.

9

mengalami pergeseran, baik dari komponen tujuan, isi, strategi pembelajaran maupun
evaluasi pembelajarannya, asumsi peneliti pergeseran tersebut, adalah lebih dominan
dipengaruhi faktor politik dan bergeser tradisional ke modern. Selanjutnya adanya,
faktor-faktor yang menyebabkan kurikulum madrasah bergeser. Di antara faktorfaktor yang ada, salah satunya –menurut penulis– ada faktor yang lebih dominan
mempengaruhinya.

B. Permasalahan
1. Identifikasi Masalah
Pertumbuhan dan perkembangan madrasah di Indonesia merupakan dampak
positif dari lembaga pendidikan Islam seperti surau dan pesantren. Karena
tertinggalnya surau dan pesantren saat itu disebabkan pengelolaannya yang masih
bersifat tradisional. Maka hadirlah madrasah di Indonesia sebagai suatu model
pendidikan Islam yang lebih modern dari pada surau dan pesantren.
Namun demikian, kurikulum madrasah senantiasa tertinggal dalam
perkembangannya, bila dibanding dengan kurikulum persekolahan. Padahal secara
historis madrasah telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Hal ini patut
dipertanyakan, sebenarnya ada apa dengan madrasah?. Apakah input madrasah yang
berupa siswa kurang diseleksi secara profesional, demikian pula Sumber Daya
Manusianya (para guru). Apakah kurikulumnya kurang ideal –tidak mengintegrasikan
iptek dan imtaq– atau manajemennya kurang profesional ataukah faktor dana yang
minim untuk mengoperasionalisasikan madrasah. Beberapa pertanyaan ini memang
belum terjawab oleh madrasah, dalam arti secara praktis belum memadai. Padahal
bila dilihat secara teori bahwa siswa, guru, kurikulum, dana dan manajemen adalah
termasuk unsur-unsur yang menentukan maju mundurnya –keunggulan – suatu
madrasah. Bila unsur-unsur tersebut tidak dipenuhi –utamanya adalah kurikulum
dalam pembahasan ini– maka madrasah senantiasa marjinal.
Banyak faktor yang menyebabkan pergeseran kurikulum madrasah,
diantaranya faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Madrasah sebelum merdeka,
10

masa kemerdekaan, masa orde lama dan orde baru bila dilihat secara sosial budaya,
banyak didirikan di daerah, dimana di daerah juga banyak muncul pesantren. Masih
fanatisnya masyarakat daerah terhadap tafaqquh fi>al-di>
n karena pengaruh pesantren,
membuat madrasah eksis di daerah walaupun pengelolaannya dengan manajemen
yang kurang profesional. Dilihat dari sisi ekonomi, madrasah yang banyak berada di
daerah, adalah ekonominya minim, karena madrasah kebanyakan swasta, dimana para
pendirinya mayoritas golongan ekonomi menengah ke bawah. Terlebih secara politis,
karena sulitnya madrasah menyesuaikan dengan kurikulum sekolah, maka sangat
dikesampingkan oleh pemerintah.
Disebabkan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran kurikulum
madrasah, maka tiap kurikulum mempunyai karakteristik masing-masing. Dimana
karakteristik itu berbeda antara satu periode dengan periode lainnya. Perbedaan
karakteristik tersebut dapat diamati secara cermat, mengapa terjadi demikian.
Kurikulum madrasah bergeser ke arah modern dalam rangka mensejajarkan
madrasah dengan sistem persekolahan dan keunggulan lainnya dengan tidak
menghilangkan warna ke-Islamannya sebagai ciri khas madrasah. Namun terjadi pro
dan kontra di antara para pendidik Muslim, karena terjadi minimalisasi content
pelajaran agama dan memaksimalkan content pelajaran umum. Pihak yang pro
mengatakan, ini adalah proses modernisasi madrasah, sementara pihak yang kontra
mengatakan, ini adalah proses sekularisasi madrasah.
2. Pembatasan Masalah
Bila merujuk banyak literatur sebenarnya banyak perdebatan mengenai
madrasah dan kurikulumnya. Charles Michael Stanton sendiri menulis dalam Higher
Learning In Islam yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi
Pendidikan Tinggi dalam Islam, madrasah sama dengan College (Akademi). Mahmud
Yunus juga menyebut madrasah dalam bukunya “Sejarah Pendidikan di Indonesia”
meliputi, Madrasah Ibtidaiyah (SRI), Madrasah Tsanawiyah (SMPI), Madrasah
Tsanawiyah Atas (SMAI) dan Tingkat Tinggi (Universitas Islam). Di sisi lain Abdul

11

Rachman Shaleh menyebut madrasah dalam bukunya “Madrasah dan Pendidikan
Anak Bangsa, Visi, Misi dan Aksi” meliputi Raudlatul Athfal (RA), Madrasah
Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Dalam
hal ini penulis akan membatasi kajiannya hanya pada Madrasah Aliyah (MA) saja
tanpa mema

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

110 3487 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 891 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 803 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 525 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 676 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

57 1173 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1066 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 669 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 946 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 1162 23