1. 1. Model Organisasi Yang Digunakan

44 BAB III STRATEGI YANG DIGUNAKAN GERAKAN MAHASISWA TAHUN 1966 DAN GERAKAN MAHASISWA TAHUN 1998

3.1. Strategi Yang Digunakan Gerakan Mahasiswa Tahun 1966

Sebenarnya dalam bab II telah dijelaskan tentang gambaran dari gerakan mahasiswa tahun 1966 dan gerakan mahasiswa tahun 1998, akan tetapi menyangkut pola strategi yang digunakan dalam gerakan tersebut belum dijelaskan secara gamblang. Untuk itulah pada bab ini penulis ingin menjelaskan pola strategi yang digunakan gerakan mahasiswa tahun 1966 dan gerakan mahasiswa tahun 1998 serta membandingkannya agar lebih mudah untuk memahaminya. Untuk membandingkan pola strategi yang digunakan pada kedua gerakan mahasiswa tersebut dalam menggulingkan penguasa, yaitu Soekarno dan Soeharto, penulis akan menggunakan metode deskriptif yaitu penggambaran dari kedua pola strategi gerakan mahasiswa tersebut dengan menggunakan unit-unit analisis yang dijelaskan dalam gerakan sosial baru dan teori mobilisasi sumberdaya serta kemudian ditarik kesimpulan dari perbandingan tersebut.

3. 1. 1. Model Organisasi Yang Digunakan

Pasca meletusnya peristiwa G30 S, masyarakat Indonesia mengalami gejolak-gejolak sosial tak terkecuali di dunia kemahasiswaan. Sebenarnya gejolak-gejolak di dalam dunia kemahasiswaan telah terjadi jauh sebelum Universitas Sumatera Utara 45 meletusnya G30S, hal ini dapat kita lihat pada Majelis Mahasiswa Indonesia MMI. Pasca G30S gesekan-gesekan tersebut semakin tajam. Pasca meletusnya G30S, HMI, PMKRI, PMII, Mapancas dan SOMAL mendesak diadakannya kongres Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia PPMI 1 untuk mengecam peristiwa G30S, akan tetapi pimpinan PPMI menolak usulan tersebut. Setelah penolakan pimpinan PPMI tersebut terjadilah perselisihan diantara mahasiswa yang mendesak kongres tersebut yaitu sebagian mahasiswa yang menginginkan pembubaran PPMI dan dibentuknya wadah baru, organisasi mahasiswa yang mendukung alternatif ini adalah HMI dan SOMAL, sedangkan sebagian mahasiswa yang lain menganggap bahwa PPMI harus tetap dipertahankan, organisasi yang mendukung opsi ini ialah GMNI dan GMKI 2 . Akhirnya pada tanggal 25 Oktober 1966 mahasiswa yang menginginkan dibentuknya wadah baru mengadakan pertemuan di rumah Menteri PTIP Brigjen Syarif Thayeb di jalan Imam Bonjol Jakarta. Pada malam itu dibentuk organisasi yang bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia KAMI. Menurut Aldy Anwar, seorang aktifis mahasiswa ITB menjelaskan bahwa : “ KAMI lahir karena kebutuhan bersama untuk menghadapiu musuh bersama dan mencapai tujuan bersama. KAMI merupakan organisasi darurat atau krisis organisasi” 3 Oleh karena KAMI tidak memiliki aturan baku yang jelas seperti anggaran dasar dan anggaran rumah tangga maka dapat dikatakan bahwa KAMI telah melanggar syarat-syarat dan formalitas prosedur organisasi sebagaimana organisasi mapan pada umumnya dikarenakan keadaan yang mendesak. 1 Organisasi nasional yang menghimpun organisasi-organisasi ekstra universitas 2 Hasyrul Moechtar, Meraka Dari Bandung, Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967, Bandung : Penerbit Alumni, 1998 hal. 92-93 3 Ibid. hal. 94 Universitas Sumatera Utara 46 Pembentukan KAMI yang mengabaikan prosedur legal formal organisasi sesungguhnya sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Pichardo dan Rajendra Singh bahwa organisasi gerakan sosial baru mengembangkan format yang tidak birokratis. Kemudian untuk melihat model organisasi mahasiswa pada waktu itu yaitu KAMI, kita juga harus melihat model kepemimpinan di dalam KAMI. Masih merujuk pada Pichardo dan Singh bahwa merotasi kepemimpinan merupakan ciri dari gerakan sosial baru, begitu juga dengan KAMI. Menteri PTIP Syarif Thayeb sebagai pengorganisir mahasiswa dalam membentuk KAMI mengusulkan agar KAMI di pimpin oleh mahasiswa dari organisasi yang berafiliasi dengan partai politik yang ada. Marsilam Simanjuntak, Syarif Thayeb memiliki jalan pikiran atau patron yang menilai satu organisasi berdasarkan rengking urutan partai politik yang menjadi induk organisasi tersebut. Karena PNI adalah partai terbesar maka GMNI pun ditempatkan pada urutan teratas. PMII yang anggotanya sangat sedikit mendapatkan posisi karena anak partai NU. SOMAL merupakan federasi nasional dengan anggota mahasiswa lokal dianggap Thayeb pantas mendapatkan posisi. PMKRI dan Mapancas adalah organisasi sayap partai katolik dan partai IPKI pun mendapatkan posisi 4 . Syarif Thayeb menunjuk GMNI, PMII, PMKRI, SOMAL dan Mapancas untuk duduk dalam presidium KAMI pusat. Sedangkan HMI yang memiliki anggota terbesar diantara organisasi mahasiswa yang lain diabaikan karena tidak memiliki induk politik setelah pembubaran Masyumi oleh Soekarno. 4 Rum Aly, Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966, Mitos Dan Dilema : Mahasiswa Dalam Proses Perubahan Politik 1959-1970, Jakarta : Kata Hasta Pustaka, 2006 hal. 228 Universitas Sumatera Utara 47 Dalam pertemuan tersebut akhirnya GMNI menolak masuk kedalam KAMI setelah berkonsultasi dengan PNI-ASU. Dengan sikap GMNI tersebut akhirnya presidium KAMI dibentuk dengan komposisi ketua periodik Zamroni BA PMII, didampingi oleh Elyas SOMAL, Cosmas Batubara PMKRI sedangkan sekretaris Nazar Nasution HMI dan Djoni Sunarja Hardjasumantri IMADA 5 . Makna dari kata ketua periodik presidium KAMI sesungguhnya merupakan sistem kepemimpinan yang bergantian diantara anggota presidium KAMI dengan menggunakan jangka waktu tertentu. Sistem kepemimpinan periodik ini juga bertujuan adar semua kelompok dapat terwakili dan menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar dari setiap komponen dalam memperjuangkan tuntutan KAMI yaitu Tritura serta agar terhindar dari penyakit birokratis yang lamban dsalam bergerak. Di samping berdirinya KAMI pusat, KAMI pada tingkat kota bahkan pada tingkat kampus pun didirikan. Pada tingkatan kota kita dapat melihat KAMI konsulat Bandung yang berdiri pada tanggal 1 November 1965 di gedung Margasiswa, jalan Merdeka 9 yang sehari-hari adalah kantor PMKRI cabang Bandung. Mengikuti pola KAMI pusat, KAMI Bandung pun dipimpin oleh presidium dengan ketua periodik Madjedi Syah PMII didampingi RAF Mully PMKRI, Rohali Sani SOMAL dan Daim A Rachim Mapancas sedangkan sekretaris adalah Ta’lam Tachja HMI dan A. Mansur Tuakia IMM 6 Ditingkatan kampus pun berdiri KAMI seperti pada kampus ITB. KAMI ITB didirikan pada tanggal 3 November 1965 oleh Adi Sasono HMI, Wimar 5 Hasyrul Moechtar, Op. Cit. hal. 95-97 6 Ibid. hal. 97 Universitas Sumatera Utara 48 Witoelar PMB, Ashwin Effendi Mapancas dan Lay Moek Yien PMKRI yang sekaligus menjadi presidium dengan Adi Sasono sebagai ketua periodik pertama 7 . Pada tanggal 25 Februari 1966 pukul 20.00 malam melalui siaran RRI, presiden mengumumkan keputusan No 041KOGAM1966 yang menyatakan pembubaran KAMI. Pernyataan ini dibacakan oleh Panglima angkatan udara Marsekal Sri Mulyono Herlambang yang berbunyi : “…..Menyatakan terlarang organisasi KAMI di seluruh Indonesia, melarang demonstrasi maupun berkumpul lebih dari lima orang, khususnya mahasiswa. Mereka yang melanggar atau pun membantu memungkinkan adanya pelanggaran akan diambil tindakan setimpal…..” 8 Pada malam itu juga KAMI Bandung menolak keputusan presiden tersebut dan tetap menganggap KAMI tetap ada dengan mengeluarkan pernyataan yang disebut dengan nama “Ikrar keadilan dan kebenaran, Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia Bandung”. Dengan keluarnya pernyataan KAMI Bandung tersebut maka keputusan Presiden tentang pembubaran KAMI tidak berlaku dan terbantahkan karena KAMI menolak pernyataan Presiden tersebut. Pandangan yang berbeda dengan pernyataan KAMI Bandung ditunjukan mahasiswa Jakarta. Pimpinan-pimpinan mahasiswa memandang perlu dibentuk wadah baru akibat pembubaran KAMI oleh Presiden. Wadah baru tersebut adalah hasil dari tim pemikir KAMI Jaya yang terdiri dari Firdaus Wadji, Marsilam Simanjuntak, dan Hakim Sorimundo. Wadah baru tersebut dideklarasikan pada tanggal 4 Maret 1966 di halaman Fakultas Kedokteran UI. Apel tersebut dihadiri oleh massa mahasiswa dan pelajar se Jakarta dan dijaga aparat keamanan dari Kostrad dan pasukan elit Kodam Siliwangi, Kujang dengan mengerahkan panser 7 Ibid. 8 Ibid. hal. 167 Universitas Sumatera Utara 49 Saladin, Sarasin dan Farret. Apel tersebut dipimpin oleh mahasiswa IKIP Jakarta, Arief Rachman sekarang tokoh pendidikan dan yang membacakan berdirinya waqda tersebut adalah Aida Nasution. Wadah tersebut bernama Resimen Arief Rachman Hakim dengan komandan nya Fahmi Idris dan wakilnya Louis Wangge 9 . Karakter wadah baru ini sengguh berbeda dengan KAMI. Laskar Arief Rachman Hakim ini bersifat semi militer yang memiliki disiplin tinggi. Resimen ini bisa diibaratkan bentengnya mahasiswa terhadap gangguan dari mahasiswa lain. Karena bersifat semi militer maka laskar ini pun mampu bergerak dengan cepat, efektif dan efisien., akan tetapi karena laskar ini hanya terbatas di wilayah Jakarta sehingga perannya sangat kecil jika dibandingkan dengan KAMI yang merupakan organisasi nasional dan mengakar sampai kekampus-kampus sehingga masyarakat pun lebih mengenal KAMI dari pada laskar ini.

3. 1. 2. Sekutu Gerakan Mahasiswa Tahun 1966

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23