Pengaruh minat belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran bahasa dan sastra indonesia pada siswa kelas IX MTS Izzatul Islam Tajurhalang, Bogor Tahun ajaran 2014/2015

PENGARUH MINAT BELAJAR TERHADAP
HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA PADA SISWA KELAS IX
MTS IZZATUL ISLAM TAJURHALANG, BOGOR
TAHUN AJARAN 2014/2015
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh:
Vivi Lutfiyani
NIM: 1110013000062

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama

: Vivi Lutfiyani

NIM

: 1110013000062

Tempat/Tgl Lahir

: Jakarta, 21 September 1992

Jurusan

: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Judul Skripsi

Dosen Pembimbing

: Pengaruh Minat Belajar terhadap Hasil Belajar Mata
Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada Siswa
Kelas IX MTs Izzatul Islam Tajur Halang, Bogor,
Tahun Ajaran 2014/2015
: Dra. Nuryati Djihadah, M.Pd, M.A

dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri
dan saya bertanggung jawab secara akademis apa yang saya tulis.

Jakarta, Maret 2015

Vivi Lutfiyani
NIM. 1110013000062

ii

ABSTRAK

Vivi Lutfiyani (NIM : 1110013000062), “Pengaruh Minat Belajar terhadap Hasil
Belajar Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada Siswa Kelas IX MTs
Izzatul Islam Tajurhalang, Bogor, Tahun Ajaran 2014/2015”, Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015.
Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana pengaruh minat belajar
terhadap hasil belajar mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada siswa kelas IX
MTs Izzatul Islam Tajurhalang, Bogor, tahun ajaran 2014/2015. Penelitian dilakukan
dengan menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Penelitian ini dilakukan dengan
cara mendeskripsikan minat siswa yang didapatkan melalui angket, kemudian
dibandingkan dengan hasil belajar yang diperoleh siswa. Penelitian dilakukan dengan
populasi sasaran adalah siswa sebanyak 23 orang. Pengumpulan data tentang minat
siswa dilakukan dengan menggunakan angket dengan 25 item pertanyaan kepada
siswa kelas IX MTs Izzatul Islam, yang kemudian diolah dengan rumus distribusi
. Hasil belajar siswa didapatkan dengan
frekuensi, dengan rumus
melihat hasil UTS (Ujian Tengah Semester). Keterangan tambahan mengenai minat
dan hasil belajar siswa didapatkan dengan melakukan wawancara kepada guru mata
pelajaran bahasa dan sastra Indonesia kelas IX MTs Izzatul Islam dengan mengajukan
pertanyaan sebanyak lima pertanyaan, dan wali kelas IX MTs Izzatul Islam sebanyak
lima pertanyaan.
Dari hasil penelitian, didapatkan jawaban bahwa terdapat pengaruh antara minat
belajar bahasa dan sastra Indonesia siswa kelas IX MTs Izzatul Islam terhadap hasil
belajar. Minat siswa terlihat dari jawaban angket sebanyak 69% siswa menyatakan
bahwa pelajaran bahasa dan sastra Indonesia perlu untuk dipelajari, 74% mengatakan
bahwa bahasa dan sastra Indonesia penting untuk dikuasai, dan sebanyak 69% ingin
menguasai empat keterampilan dalam matapelajaran bahasa dan sastra Indonesia.
Berdasarkan hasil UTS terlihat bahasa dan sastra Indonesia mermiliki hasil yang lebih
unggul dibandingkan mata pelajaran bahasa yang lain yakni 1845 dengan rata-rata
kelas 80,21.
Kata Kunci: Pengaruh, Minat Belajar, Hasil Belajar

iii

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan kasih
sayang-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Minat
Belajar terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
pada Siswa Kelas IX MTs Izzatul Islam Tajur Halang, Bogor, Tahun Ajaran
2014/2015”. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW
beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah membawa petunjuk hidup bagi
manusia.
Tanpa mengurangi rasa terimakasih kepada orang-orang yang tidak penulis
sebutkan namanya, penulis perlu menyampaikan terimaksih secara khusus kepada;
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M.A, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiah dan
Keguruan, Universitas Islam Negeri Syari Hidayatullah Jakarta.
2. Dra. Hindun, M.Pd, Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
dan sebagai penasehat akademik yang telah memberikan motivasi, sekaligus
bimbingan selama penulis menjadi mahasiswa di Universitas Islam Negeri
Jakarta.
3. Dra. Nuryati Djihadah, M.Pd, MA, Dosen Pembimbing skripsi, yang
senantiasa

bersedia

membagikan

ilmunya

kepada

penulis

untuk

menyelesaikan skripsi ini.
4. Seluruh dosen dan karyawan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK),
terutama untuk Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yang telah
memberikan motivasi dan kontribusi besar selama penulis menjadi
mahasiswa.
5. Pimpinan dan seluruh staf Perpustakaan Utama dan Perpustakaan FITK, yang
turut memberikan pelayanan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. H. Sholeh Sarmidi. S.Pd I, Kepala Sekolah MTs Izzatul Islam, yang
senantiasa mendukung penulis dalam menyelesaikan penelitian.

iv

v

7. Bapak Slamet dan Ibu Siti Badriyah, kedua orang tuaku. Mereka yang selalu
mendukungku dan menjadikan aku sebagai seorang yang pantang menyerah
meraih harapan dan cita-citaku.
8. Retno Septiyani, S.Pd.I dan Tri Wahyu Fauzan. Kakak dan adikku tersayang
yang senantiasa menemaniku dalam suka dan dukaku, serta memberiku
semangat dan memotivasiku meraih kesuksesanku.
9. Ibu dan Bapak Suyito, Bude dan Pakdeku tercinta, yang seantiasa tulus
memberiku dukungan secara moril maupun materil, dan senantiasa
mendoakan penulis menjadi pribadi yang lebih baik.
10. Abdul Halik, Rizqi Aulia, S.Pd, Nurhilaliyah, S.Pd, dan Wilda Fizriyani,
S.Pd, dan semua sahabat penulis yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu. Mereka yang telah memberi penulis motivasi, bersedia untuk berbagi
suka dan duka, dan menerima semua kekurangan penulis sehingga penulis
lebih semangat menjalani kehidupan.
11. Semua pihak yang berperan dalam membantu kesuksesan penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini baik moral maupun material.
Akhirnya, penulis berharap tulisan ini akan bermanfaat dan tidak hanya
sekadar penghuni rak buku belaka.

Jakarta, Maret 2015
Penulis

Vivi Lutfiyani

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI……………………..

i

LEMBAR PERNYATAAN…………………………………………………..

ii

ABSTRAK……………………………………………………………………..

iii

KATA PENGANTAR………………………………………………………...

iv

DAFTAR ISI…………………………………………………………………...

vi

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………...

1

A.

Latar Belakang ........................................................................................

1

B.

Identifikasi Masalah……………….……………………………………

4

C.

Pembatasan dan Rumusan Masalah……………..……………………....

4

D.

Tujuan dan Manfaat Penelitian…………………………………………

5

BAB II KAJIAN TEORETIS…………………………………………………

6

A. Kajian Teori…………………………………………………………………

6

1. Hakikat Minat………………………………………………………………

6

a. Definisi Minat…………………………………………………………..

6

b. Lama Minat……………………………………………………………..

8

2. Hakikat Belajar……………………………………………………………..

10

a. Definisi Belajar…………………………………………………………..

10

b. Ciri-ciri Belajar…………………………………………………………..

12

c. Tujuan Belajar…………………………………………………………....

14

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar………………………………

15

e. Hasil Belajar……………………………………………………………… 17
3. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia…………………………………

19

a. Hakikat pembelajaran…………………………………………………….

19

vi

vii

b. Hakikat Bahasa dan Sastra Indonesia……………………………………. 25
c. Kompetensi Berbahasa dan Bersastra dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia…………………………………………………………………. 28
4. Minat dan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia……………………… 32
5. Penelitian Relevan…………………………………………………………… 41
BAB III METODOLOGI PENELITIAN……………………………………..

44

A. Tempat dan Waktu Penelitian……………………………………………….. 44
B. Metode Penelitian…………………………………………………………… 44
C. Populasi dan Sampel........................................................................................ 45
D. Teknik Pengumpulan Data…………………………………………………..

46

E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data………………………………………. 50
BAB IV HASIL PENELITIAN………………………………………………… 51
A. Profil Sekolah………………………………………………………………… 51
B. Analisis Hasil Penelitian…………………………………………………….. 54
1. Analisis Hasil Wawancara…………………………………………………... 54
2. Analisis Hasil Angket……………………………………………………….. 58
3. Daftar Nilai Kelas IX MTs Izzatul Islam……………………………………. 75
4. Pembahasan Hasil Temuan………………………………………………….. 76
BAB V PENUTUP……………………………………………………………… 84
A. Kesimpulan…………………………………………………………………… 84
B. Saran…………………………………………………………………………. 84
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………….... 86
LAMPIRAN-LAMPIRAN

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia merupakan salah satu mata
pelajaran wajib dalam pembelajaran di sekolah. Sebagai mata pelajaran wajib,
mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia perlu disajikan dengan sistem
pengajaran

yang

memperhatikan

aspek-aspek

tertentu

untuk

mampu

membangkitkan minat siswa dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan
Mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia oleh sebagian kalangan
terutama pelajar dianggap mudah karena kedekatannya dalam kehidupan seharihari.Namun, dalam mengerjakan tugas-tugas dari guru mata pelajaran bahasa dan
sastra Indonesia masih saja guru menemukan kesalahan-kesalahan yang dibuat
peserta didik, misalnya dalam hal penulisan.Seperti yang sering ditemukan, siswa
masih melakukan kesalahan dalam penulisan struktur kalimat, penerapan tanda
baca, dan lain sebagainya.
Kesalahan yang terjadi tidak semata-mata karena kurikulum yang kurang
tepat ataupun guru yang kurang berhasil mengajar di kelas. Hal lain seperti minat
siswa juga mempengaruhi prestasi siswa pada mata pelajaran bahasa dan sastra
Indonesia. Dengan kata lain, jika siswa memiliki minat yang tinggi terhadap mata
pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, maka ia akan bersungguh-sungguh dalam
memahami mata pelajaran tersebut. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka
siswa akan menganggap mempelajari mata pelajaran tersebut hanyalah salah satu
rutinitas kegiatan yang ada di sekolah.
Melalui proses pembelajaran yang dinamis diharapkan akan tercipta suatu
bentuk komunikasi lisan antar peserta didik yang terpola melalui keterampilan

1

2

menyimak, berbicara, membaca, dan menulis sehingga pembelajaran terhindar
dari kejenuhan1.
Pengajar yang berperan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia
dapat dikatakan memiliki keuntungan karena pembelajaran bahasa dan sastra
Indonesia membentuk keterampilan dasar berbahasa siswa. Keterampilan yang
harus dikuasai siswa dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dapat
menjadi keterampilan yang penting tidak hanya dalam pencapaian tujuan
pembelajaran dalam hasil belajar melainkan juga berperan misalnya dalam aspek
moral dan sosial, karena membentuk siswa yang dapat menghargai orang lain
dengan menyimak, dan aspek kesantunan dalam berbicara yang diajarkan pada
keterampilan berbicara.
Selain dari aspek sosial maupun moral, keterampilan yang harus dikuasai
dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia juga bermanfaat pada
pembelajaran lain. Misalnya, ketika pengajar berhasil menumbuhkan minat siswa
dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, maka siswa yang mampu
menguasai empat keterampilan dasar berbahasa dapat menerapkannya pada
pembelajaran lain. Seperti kemampuan bicara siswa dalam proses diskusi
pembelajaran biologi, dan membuat tugas penelitian sosiologi yang disusun dalam
karangan ilmiah.
Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam menumbuhkan minat
siswa amatlah beragam terutama terhadap mata pelajaran bahasa dan sastra
Indonesia ini.Kemungkinan-kemungkinan ini terjadi karena berbagai faktor, baik
dari diri siswa sendiri, maupun lingkungan sekitarnya, mulai dari keluarga, teman
sebaya, sekolah, dan lain sebagainya.Tapi pada akhirnya siswa sendiri yang
berhak memutuskan pilihannya, sangat berminat, cukup berminat, tidak berminat,
atau sangat tidak berminat.

1

Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2011), h.227.

3

Tiap anak memiliki bakat, kecerdasan, minat, sifat-sifat dan sebagainya
yang berbeda satu dengan yang lainnya sampai sejauh mana pendidikan dapat
memperhatikan perbedaan-perbedaan tersebut.2
Pilihan final yang diputuskan oleh siswa mengenai minatnya terhadap
mata pelajaran bahasa Indonesia memerlukan perhatian khususnya dari guru dan
pihak sekolah yang bertanggung jawab. Misalnya, pada siswa yang tidak berminat
pada mata pelajaran bahasa Indonesia, guru membutuhkan usaha lebih agar
nilainya tidak buruk dan menumbuhkan minat belajarnya, karena biar
bagaimanapun bahasa Indonesia merupakan materi yang diujikan dalam Ujian
Nasional.
Pada siswa yang memiliki minat lebih terhadap bahasa Indonesia,
misalnya guru tidak membiarkannya begitu saja, melainkan meningkatkan
minatnya agar tetap terjaga, dan guru berusaha meningkatkan kemampuannya
lebih dari yang telah dikuasainya. Meskipun usaha guru dalam memunculkan
keinginan belajarnyatidak sesulit siswa yang tidak berminat, namun tidak juga
membiarkannya karena minat sangat bergantung pada faktor yang mendukungnya.
MTs Izzatul Islam, sebagai lembaga pendidikan yang berbasis Islam dan
menerapkan pembelajaran bahasa Arab dan Inggris tentunya dapat mempengaruhi
minat siswa terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia. Hal ini dapat disebabkan
karena di luar kelas siswa sering diwajibkan menggunakan bahasa Arab dan
Inggris, sehingga kemungkinan besar yang terjadi adalah minat dan motivasi
siswa ingin menguasai bahasa asing ini lebih besar dibandingkan bahasa
Indonesia yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Untuk mengetahui seberapa besar minat siswa MTs Izzatul Islam terhadap
mata

pelajaran

bahasa

dan

sastra

Indonesia

dan

hal-hal

yang turut

mempengaruhinya, penulis melalukan sebuah penelitian berjudul “Pengaruh
Minat Belajar terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
2

Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2010), h.101.

4

pada Siswa Kelas IX MTs Izzatul Islam Tajurhalang, Bogor, Tahun Ajaran
2014/2015”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah
di atas, dapat diidentifikasikan masalah berikut:
1. Adanya kesulitan siswa dalam menerima pelajaran yang diberikan guru
2. Ketidaktertarikan siswa pada mata pelajaran bahasa dansastra Indonesia
3. Kurangnya kesadaran siswa terhadap pentingnya mata pelajaran bahasa
dan sastra Indonesia
4. Lingkungan yang kurang mendukung minat siswa terhadap mata pelajaran
bahasa dan sastra Indonesia
5. Kurangnya tanggapan khusus pihak sekolah dalam menumbuhkan minat
siswa terhadap mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia

C. Pembatasan dan Rumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Dari beberapa masalah yang diidentifikasikan di atas, maka untuk
memudahkan penelitian ini penulis membatasi masalah pada pengaruh minat
belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada
siswa kelas IX MTs Izzatul Islam Tajurhalang, Bogor, tahun ajaran 2014/2015.
2. Rumusan Masalah
Untuk memudahkan dalam pembahasan skripsi ini, penulis merumuskan
masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana pengaruh minat belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran
bahasa dan sastra Indonesia pada siswa kelas IX MTs Izzatul Islam
Tajurhalang, Bogor, tahun ajaran 2014/2015?

5

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian:
Sepanjang pengetahuan penulis selama ini belum pernah ada studi atau kajian
mengenai minat siswa di sekolah yang sama dengan penulis kaji kali ini. Oleh
karena itu, beranjak dari latar belakang, identifikasi masalah, pembatasan masalah
, dan rumusan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, maka tujuan penelitian
ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mendeskripsikanpengaruh minat belajar terhadap hasil belajar mata
pelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada siswa kelas IX MTs Izzatul
Islam Tajurhalang, Bogor, tahun ajaran 2014/2015.

2.Manfaat Penelitian
Mahasiswa:
a. Sebagai rujukan dan acuan penelitian serupa oleh mahasiswa Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia yang dijadikan sebagai tinjauan pustaka
b. Mempermudah mahasiswa dalam mencari referensi yang berkaitan dengan
penelitian serupa
Guru di Sekolah:
a. Sebagai bahan pertimbangan guru mata pelajaran bahasa dan sastra
Indonesia untuk meningkatkan kualitas pengajaran dikelas
b. Sebagai panduan guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia dalam
menumbuhkan motivasi terhadap minat siswa
c. Meningkatkan kesadaran guru terhadap perannya dalam meningkatkan
minat siswa terhadap mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia

6

BAB II
KAJIAN TEORETIS
A. Kajian Teori
1. Hakikat Minat
a. Definisi minat
Minat menurut Slameto yang dikutip oleh Syaiful Bahri Djamarah, minat
adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktifitas,
tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu
hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat
hubungan tersebut, semakin besar minat.3
Penjelasan mengenai minat yang dikemukakan oleh Slameto merujuk pada
keterikatan seseorang pada objek tertentu. Rasa keterikatan ini akan berdampak
pada keberterimaan seseorang pada objek tertentu. Dengan kata lain, jika
seseorang terikat pada objek tertentu maka ia menerima objek tersebut, dan ketika
seseorang menerima maka dapat dikatakan ia minat pada objek tersebut.
Lestar D. Crow dan Alice Crow berpendapat bahwa, minat berhubungan
dengan daya gerak yang mendorong kita untuk menghadapi atau berurusan
dengan orang, benda atau kegiatan ataupun bisa sebagai pengalaman efektif yang
dirangsang oleh kegiatan itu sendiri.4
Minat menurut Crow dan Crow berhubungan dengan adanya daya gerak
yang mendorong seseorang untuk menghadapi suatu objek tertentu baik berupa
orang, benda, maupun kegiatan yang rangsangannya muncul dari objek itu
sendiri.Dengan demikian objek yang menentukan seseorang minat atau tidak, jika
objek tertentu mampu memunculkan rangsangan yang mendorong orang untuk
memilih, maka objek itulah yang diminati.

3

Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), h.157.
Lestar D. Crow dan Alice Crow, Educational Psychology. (Amerika Serikat: Brooklyn
College), h.302-303.
4

6

7

Pendapat lainnya dikemukakan oleh Muhibbin Syah, ia mengatakan
bahwa minat (interest) berarti kecenderungandan kegairahan yang tinggi atau
keinginan yang besar terhadap sesuatu.Muhibbin juga mengutip pendapat Rebber
yang mengatakan bahwa minat tidak termasuk istilah popular dalam psikologi
karena ketergantungannya yang banyak pada faktor-faktor internal lainnya, seperti
pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.5
Minat, seperti yang dikemukakan Muhibbin Syah, berarti kecenderungan
seseorang terhadap suatu objek, kecenderungan dapat juga berarti rasa keinginan
yang tinggi terhadap suatu objek.Namun, Muhibbin juga menambahkan bahwa
minat atau kecendererungan terhadap suatu objek juga sangat tergantung pada
faktor internal tiap individu seperti perhatian, keingintahuan, dan lainnya.
Iskandar dan Dadang menyebutkan terdapat tiga batasan minat, yakni (1)
suatu sikap yang dapat mengikat perhatian seseorang ke arah objek tertentu secara
selektif, (2) suatu perasaan bahwa aktifitas dan kegemaran terhadap objek tertentu
sangat berharga bagi individu, dan (3) bagian dari motivasi atau kesiapan yang
membawa tingkah laku ke suatu arah atau tujuan tertentu.6
Iskandar dan Dadang menyebutkan bahwa minat merupakan sesuatu yang
mengikat seseorang pada suatu objek. Objek adalah sesuatu yang dianggap
berharga dan digemari, serta minat merupakan bagian dari motivasi atau kesiapan
seseorang untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut psikologi minat adalah suatu kecenderungan untuk selalu
memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus-menerus.Minat berkaitan
dengan perasaan senang, karena itu dapat dikatakan minat itu terjadi karena sikap
senang terhadap sesuatu. Orang yang berminat kepada sesuatu berarti ia sikapnya
senang kepada sesuatu itu.7

5

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h.151.
Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2011), h.113.
7
Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2007), h. 84.
6

8

Sebagaimana

dalam

pandangan

psikologi,

minat

merupakan

kecenderungan memperhatikan maupun mengingat suatu objek secara terusmenerus.Kecenderungan itu membawa seseorang untuk menyenangi suatu objek
sehingga menjadikan seseorang memperhatikan serta mengingat objek tersebut
terus menerus.
Jadi, sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Slameto, bahwa, minat
adalah rasa terikat. Rasa terikat ini kemudian berhubungan dengan penerimaan
serta kecenderungan seseorang terhadap sesuatu baik dengan seseorang, benda
atau kegiatan tertentu, yang dapat dipengaruhi oleh kedekatan maupun
rangsangan-rangsangan

tertentu

yang

mempengaruhi

tumbuhnya

minat

tersebut.Rangsangan-rangsangan tersebut dapat berupa pemusatan perhatian,
keingintahuan, rasa senang, motivasi, dan kebutuhan seseorang terhadap sesuatu.
b. Lama Minat
Crow & Crow yang dikutip dalam Psikologi Belajar berpendapat bahwa
lamanya minat bervariasi.Untuk seorang anak yang masih sangat muda, lamanya
minat dalam kegiatan tertentu sangat pendek. Minat yang terjadi pada seorang
anak yang sangat muda senantiasa berpindah-pindah; namun demikian ia
menghendaki keaktifan8.
Minat yang ada di setiap individu berbeda-beda, hal ini juga terkait
kemampuan dan kemauan individu menyelesaikan tugas tertentu. Dan minat
sangat bergantung pada usia dan faktor internal masing-masing individu.
Misalnya minat pada anak yang sangat muda mudah berpindah, namun menuntut
keaktifan untuk menunjang minatnya.
Crow dan Crow menambahkan bahwa, pada anak yang sangat muda, ia
kerap kali mendasarkan kegiatan-kegiatannya atas pilihan sendiri dan dapat lebih
suka mengusahakan sesuatu tertentu dari pada yang lainnya. Karena minat yang
terdapat dalam kegiatan untuk kepentingan diri sendiri lebih daripada untuk

8

Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, h.158-159.

9

mencapai sesuatu hasil tertentu, sehingga ia mudah dikacaukan dan mudah tertarik
pada kegiatan yang lain.9
Minat yang terjadi pada anak yang sangat muda hanya merujuk pada apa
yang menjadi kepentingan bagi dirinya. Minat yang muncul tidak didasarkan pada
usaha tertentu untuk mencapai hasil tertentu.Dengan demikian minat pada anak
yang sangat muda mudah berpindah, dan berubah sesuai dengan perubahan
kepentingan yang menjadi prioritas dirinya.
Berbeda dengan minat pada anak yang sangat muda, Crow dan Crow juga
menambahkan penjelasan mengenai minat yang terjadi pada orang yang lebih tua.
Mereka lebih lama dapat mempertahankan minatnya terhadap sesuatu dari pada
berpindah-pindah kepada hal-hal lain10.
Menyimpulkan pada apa yang dikatakan Crow dan Crow, lamanya minat
salah satunya dipengaruhi oleh kematangan usia. Pada anak dengan usia yang
sangat muda minatnya mudah berpindah, minatnya hanya tergantung pada apa
yang disukainya bukan apa yang ingin dicapainya. Sedangkan, pada usia dewasa
lebih dapat mempertahankan minatnya terhadap sesuatu.
Salah satu tanda kematangan ialah mempunyai kemampuan untuk tetap
bertahan sampai kegiatan dapat diselesaikan kecuali kalau faktor waktu atau
kesulitan mengganggunya. Lamanya minat akan bertambah selama bertahuntahun hingga tercapailah kematangannya. Perubahan minat pada sebagian remaja
yang lebih tua atau orang dewasa menunjukkan sikap yang belum matang atau
kekanak-kanakan ke arah kegiatan yang benar-benar terarah dan bertujuan.11
Lamanya minat menunjukkan kematangan seseorang.Semakin lama minat
yang ditekuninya, maka dapat dijadikan indikator kematangan seseorang.
Kematangan tidak hanya dilihat dari segi usia, tapi sejauhmana seseorang
menekuni minatnya untuk mencapai tujuan yang ingin dicapainya.

9

Ibid,.
Ibid,.
11
Lestar D. Crow dan Alice Crow, Educational Psychology, h.306.
10

10

2. Hakikat Belajar
Tumbuhnya minat dalam diri siswa tidak terlepas dari bagaimana siswa
mengerti apa sesungguhnya hakikat belajar itu. Jadi, minat siswa dapat
berkembang melalui proses belajar yang berlangsung. Baik yang kaitannya
dengan pembelajaran di sekolah maupun belajar sendiri demi mengembangkan
minatnya.

a. Definisi Belajar
Belajar

adalah

proses

orang

memperoleh

berbagai

kecakapan,

keterampilan,dan sikap. Belajar mulai dari masa kecil ketika bayi memperoleh
sejumlah kecil keterampilan yang sederhana. Masa kanak-kanak dan

remaja

diperoleh sejumlah sikap, nilai, dan keterampilan sosial, dan diperoleh kecakapan
dalam berbagai mata ajaran sekolah. Dalam usia dewasa, telah mahir mengerjakan
tugas-tugas pekerjaan tertentu dan keterampilan fungsional yang lain.12
Belajar dikatakan sebagai proses untuk memperoleh berbagai kecakapan,
keterampilan, dan sikap. Keterampilan yang diperoleh saat masih bayi merupakan
keterampilan-keterampilan sederhana. Sedangkan pada masa remaja dan kanakkanak mengalami proses yang lebih kompleks seperti yang berkaitan dengan
sikap, nilai, kecakapan dan tanggungjawab yang mereka temui dalam
pembelajaran di sekolah.
Menurut

Gagne

yang

dikutip

dalam

Teori-teori

Belajar

dan

Pembelajaran, belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana suatu
organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.13
1) Perubahan Perilaku
Belajar menyangkut perubahan dalam suatu organisme.Hal ini berarti
bahwa

belajar
12

membutuhkan

waktu.

Untuk

mengukur

belajar,

kita

Margaret E. Bell Gredler, Belajar dan Membelajarkan, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 1994), h.1.
13
Ratna Wilis Dahar, Teori-teori Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Erlangga, 2011),
h.2.

11

membandingkan cara organisme itu berperilaku pada waktu 1 dengan cara
organisme itu berperilaku pada waktu 2 dalam suasana yang serupa. Bila perilaku
dalam suasana serupa itu berbeda untuk waktu itu, kita dapat berkesimpulan
bahwa telah terjadi belajar.14
2) Perilaku Terbuka
Perilaku berbicara, menulis, dan bergerak, dan lain-lainnya memberi
kesempatan pada kita untuk mempelajari perilaku-perilaku berpikir, merasa,
mengingat, memecahkan masalah, berbuat kreatif, dan lain-lainnya. Para ahli
psikologi yang lain menganggap perilaku terbuka sebagai suatu tanda untuk
meyimpulkan apa yang terjadi dalam pikiran seseorang.15
3) Belajar dan Pengalaman
Komponen terakhir dalam definisi belajar ialah “sebagai suatu hasil
pengalaman”.Istilah pengalaman membatasi macam-macam perubahan perilaku
yang dapat mewakili belajar.16
4) Belajar dan Kematangan
Berjalan dan berbicara berkembang dalam manusia pada umumnya lebih
banyak disebabkan oleh kematangan ini daripada oleh belajar.Suatu tingkat
kematangan

tertentu

merupakan

prasyarat

belajar

berbicara,

walaupun

pengalaman dengan orang dewasa yang berbicara dibutuhkan untuk membantu
kesiapan yang dibawa oleh kematangan.17
Dalam kaitannya dengan perkembangan manusia, belajar merupakan
faktor penentu proses perkembangan. Manusia memperoleh hasil perkembangan
berupa pengetahuan, sikap, keterampilan, nilai, reaksi, keyakinan, dan lainlain.Tingkah laku yang dimiliki manusia adalah diperoleh melalui belajar.Belajar
juga memerlukan tingkat kematangan tertentu untuk mencapai hasil maksimal.
14

Ibid.
Ibid, h.3.
16
Ibid.
17
Ibid.
15

12

Driscoll yang dikutip dalam Teori Motivasi & Pengukurannya menyatakan
ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam belajar, yaitu (1) belajar adalah suatu
perubahan yang menetap dalam kinerja seseorang, dan (2) hasil belajar yang
muncul dalam diri siswa merupakan akibat atau hasil interaksi siswa dengan
lingkungan18.
Pernyataan ini dapat diartikan, apabila siswa belajar maka hasil belajar
dapat dilihat dari kemampuannya melakukan suatu kegiatan baru yang bersifat
menetap daripada yang dilakukan sebelumnya sebagai akibat atau hasil dari
interaksi siswa dengan lingkungan. Dan seseorang yang telah mengalami proses
belajar dapat ditandai dengan adanya perubahan perilaku sebagai suatu kriteria
keberhasilan belajar pada diri seseorang yang belajar.19
Jadi, belajar merupakan proses seseorang dalam mengalami perubahan
baik perilaku, maupun kematangan yang diperolehnya melalui pengalaman dari
interaksinya dengan orang lain maupun lingkungannya. Perubahan yang didapat
dari proses belajar dapat dilihat dari perkembangannnya mengenai pengetahuan,
sikap, keterampilan, nilai, reaksi, keyakinan dan lainnya.
b. Ciri-ciri Belajar
Ada ciri-ciri seseorang melakukan kegiatan belajar diantaranya
1) Perubahan tingkah laku yang aktual dan potensial.
Aktual berarti perubahan tingkah laku yang terjadi sebagai hasil belajar itu
nyata dapat dilihat seperti hasil belajar keterampilan motorik (psikomotorik)
misalnya anak bisa menulis, membaca, dan sebagainya, juga hasil belajar kognitif
seperti pengetahuan fakta/ingatan, pemahaman dan aplikasi20.

18

Hamzah B. Uno, Teori Motivasi & Pengukurannya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008),

h.15-16.
19
20

Ibid,.
M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, h. 56-57.

13

Perubahan aktual seperti yang dijelaskan sebelumya dapat dilihat
langsung, misalnya oleh pengajar, pengajaran dapat mengamati secara langsung
kemampuan siswanya.Misalnya bagaimana bentuk tulisan yang dibuat siswa, dan
bagaimana siswa membaca puisi sebagai bahan evaluasi.
Sedangkan perubahan yang potensial berarti perubahan tingkah laku
sebagai hasil belajar tidak dapat dilihat perubahannya secara nyata, perubahan
hanya dapat dilihat oleh yang belajar saja, seperti hasil belajar; afektif
(penghargaan, keyakinan, dan sebagainya) juga hasil belajar kognitif tinggi
pengetahuan/ kemampuan analisis, sintesis dan evaluasi21.
Berbeda dengan perubahan aktual, perubahan potensial hanya dapat
dirasakan oleh seseorang sendiri, akan tetapi bila ada pelajar mengalami sesuatu
seperti tidak percaya diri, dapat dilihat dari perwujudan sikapnya misalnya tidak
mau maju ke depan kelas, dan sebagainya.
2) Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar disertai dengan peningkatan
kemampuan
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bagi individu merupakan kemampuan
baru dalam kognitif, afektif, maupun psikomotorik, yaitu sebagai kemampuan
yang betul-betul baru diperoleh atau sebagai batu hasil perbaikan/peningkatan dari
kemampuan sebelumya. Dan kemampuan itu hasilnya tidak tetap atau relatif 22.
Kemampuan yang didapat dari belajar baik berupa kemampuan kognitif,
afektif, dan psikomotorik sifatnya relatif. Artinya, setiap individu berbeda dalam
menerima proses belajar tertentu, dan akan terus berkembang ketika proses belajar
terus dilakukan.
3) Adanya usaha atau aktifitas yang sengaja dilakukan

21
22

Ibid, h. 57.
Ibid, h. 57.

14

Usaha atau aktifitas yang sengaja dilakukan oleh orang yang belajar
dengan pengalaman (memperhatikan, mengamati, memikirkan, merasakan,
menghayati dan sebagainya), atau dengan latihan (melatih atau menirukan).23
Beberapa hal yang penting diingat adalah bahwa seseorang dikatakan telah
melakukan proses belajar adalah ketika ia telah mengalami perubahan baik secara
aktual maupun potensial, dan hasil dari proses belajar memiliki sifat tidak tetap,
artinya dapat berkembang secara berkesinambungan sesuai dengan pengalaman
dan latihan yang dilakukan.
c. Tujuan Belajar
Belajar sebagai proses perkembangan seseorang memiliki beberapa tujuan.
Dengan tujuan ini ada sebuah perubahan yang diharapkan ada setelah proses
belajar terjadi. Adapun tujuan dari proses belajar antara lain;
Menurut Winarno Surachman, tujuan belajar di sekolah itu ditujukan
untuk mencapai;
1) Pengumpulan pengetahuan
2) Penanaman konsep dan kecekatan/ keterampilan
3) Pembentukan sikap dan perbuatan24
Tujuan belajar yang disebutkan sebelumnya merupakan tujuan dalam
dunia pendidikan.Menurut Taksonomi Bloom tujuan belajar siswa diarahkan untuk
mencapai ketiga ranah, yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.25
Tujuan ketiga ranah itu adalah untuk memperoleh pengetahuan
fakta/ingatan, pemahaman, aplikasi, dan kemampuan berpikir analisis, sintesis,
dan evaluasi.Tujuan belajar afektif untuk memperoleh sikap, apresiasi,
karekterisasi.

23

Sedangkan

Ibid, h. 57.
Ibid, h. 58.
25
Ibid, h. 58-59.
24

tujuan

psikomotor

adalah

untuk

memperoleh

15

keterampilan fisik

yang berkaitan dengan keterampilan gerak, maupun

keterampilan ekspresi verbal dan nonverbal.26
Secara global, tujuan belajar dalam dunia pendidikan harus memenuhi
ketiga aspek yakni kognitif, perubahan yang berkaitan dengan ingatan, dan
pemahaman.Afektif, perubahan yang berkaitan dengan sikap.Serta perubahan
psikomotor yakni berkaitan dengan perubahan pada keterampilan fisik pelajar.

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Faktor yang mempengaruhi belajar siswa secara garis besar terbagi
menjadi dua yakni faktor eksternal dan internal.Faktor yang berasal dari luar diri
siswa (eksternal) terdiri dari faktor lingkungan dan faktor instrumental; sedangkan
faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal) adalah berupa faktor fisiologis
dan psikologis pada diri siswa.27
Berikut pemaparan mengenai pembagian di atas;
1) Faktor yang berasal dari luar diri siswa (eksternal) meliputi;
a) Faktor-faktor Lingkungan
Faktor lingkungan siswa ini dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu faktor
lingkungan alami/ non sosial dan faktor lingkungan sosial. Yang termasuk faktor
lingkungan alami/ nonsosial ini seperti: keadaan suhu, kelembaban udara, waktu
(pagi, siang, malam), tempat atau letak gedung sekolah, dan sebagainya. Faktor
lingkungan sosial dapat berwujud manusia dan presentasinya termasuk budayanya
dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar28.
Keefektifan belajar yang dipengaruhi dari lingkungan baik karena faktor
alami maupun sosial, dengan demikian sebagi pengajar dapat peka menyiasati
kondisi yang ada dilingkungan belajar siswa.Perlu penanganan-penanganan
khusus agar belajar dapat berjalan dengan kondusif.
26

Ibid, h. 59
Ibid, h. 59
28
Ibid,.
27

16

b) Faktor-faktor Instrumental
Faktor instrumental ini terdiri dari gedung/sarana fisik kelas, sarana/alat
pengajaran, media pengajaran, guru dan kurikulum/materi pelajaran serta strategi
belajar mengajar yang digunakan akan mempengaruhi hasil belajar siswa29.
Dalam faktor instrumental dalam proses belajar mengajar penangana yang
diberikan oleh pengahar ternyata memiliki peran penting untuk menentukan hasil
belajar siswanya. Penanganan yang tidak sesuai tentunya akan berdampak pada
hasil belajar yang tidak diharapkan begitupun sebaliknya.

2) Faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal) antara lain;
Faktor kondisi siswa ini sebagaimana telah diuraikan sebelumnya terdapat
dua macam yakni kondisi fisiologis siswa dan kondisi psikologis siswa.Faktor
kondisi fisiologis siswa terdiri dari kondisi kesehatan dan kebugaran fisik dan
kondisi panca inderanya terutama pengelihatan dan pendengaran. Adapun faktor
psikologis yang akan mempengaruhi keberhasilan belajar siswa adalah faktor;
minat, bakat, intelegensi, motivasi dan kemampuan-kemampuan kognitif seperti;
kemempuan persepsi, ingatan, berfikir, dan kemampuan dasar pengetahuan (bahan
apersepsi) yang dimiliki siswa.30
Dalam proses belajar mengajar tidak hanya harus memperhatikan faktor
ekternal yang mendukung saja. Akan tetapi faktor internal siswa juga harus
diperhatikan, karena tiap siswa memiliki perbedaan baik dari segi fisik maupun
psikologisnya, dan tiap siswa tentunya berbeda dalam penanganan belajarnya di
kelas.

29
30

Ibid, h. 59-60.
Ibid, h. 60.

17

e. Hasil Belajar
Hasil dalam kamus bahasa Indonesia memiliki arti sesuatu yang diadakan,
dibuat, dijadikan, dan sebagainya oleh usaha, pikiran.31
Hasil jika dikaitkan dengan belajar merupakan kegiatan yang diadakan
dalam proses belajar. Kegiatan tersebut merupakan buah hasil usaha dan pikiran
seseorang dalam proses belajar.
Mengoptimalkan proses dan hasil belajar hendaknya kita berpijak pada
hasil identifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan faktor-faktor pendukung
keberhasilan.32
Usaha untuk memperoleh hasil yang optimal dalam proses dan hasil
belajar, seseorang harus bewrpijak pada faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Baik faktor yang menjadi penyebab kegagalan, maupun faktor yang menjadi
pendukung keberhasilan.
Hasil belajar yang optimal dapat dilihat dari ketuntasan belajarnya,
terampil dalam mengerjakan tugas, dan memiliki apresiasi yang baik terhadap
pembelajaran. Hasil Belajar yang optimal merupakan perolehan dan proses
belajar yang optimal.33
Penilaian hasil belajar yang optimal seseorang dapat terlihat dari
ketuntasannya dalam belajar, keterampilan dalam mengerjakan tugas, dan
apresiasinya terhadap pembelajaran. Hasil belajar yang optimal dapat diperoleh
dari proses belajar yang optimal pula.
Untuk mengetahui hasil belajar seseorang, dilakukan beberapa tes,
diantaranya tes kecepatan, tes kemampuan, tes hasil belajar, tes kemajuan belajar,
tes diagnostik, tes formatif, dan tes sumatif.
31

Tri Rama K, Kamus Praktis Bahasa Indonesia (Surabaya: Karya Agung Surabaya,
1998),h. 118.
32
Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik, Prosedur (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya Offset, 2013), h. 303, Cet.5.
33
Ibid,.

18

1) Tes Kecepatan (Speed Test). Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi
peserta test (testi) dalam hal kecepatan berpikir atau keterampilan, baik
yang bersifat sponyanitas (logik) maupun hafalan dan pemahaman
dalam mata pelajaran yang dipelajarinya34.
2) Tes Kemampuan (Power Test). Test ini bertujuan untuk mengevaluasi
peserta test dalam mengungkapkan kemampuannya yang dievaluasi
bisa berupa kognitif maupun psikomotorik35.
3) Test Hasil Belajar (Achievement Test). Test ini dimaksudkan untuk
mengevaluasi hal yang telah diperoleh dalam suatu kegiatan36.
4) Test Kemajuan Belajar (Gains/ Achievement Test). Test ini disebut
juga dengan test perolehan adalah test untuk mengetahui kondisi awal
testi

sebelum

pembelajaran.

pembelajaran

dan

kodisi

akhir

testi

setelah

37

5) Test Diagnostik (Diagnostic Test). Test ini dilakasanakan untuk
mendiagnosis atau mengidentifikasi kesukaran-kesukaran dalam
belajar, mendeteksi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
kesukaran belajar, dan menetapkan cara mengatasi kesukaran atau
kesulitan belajar tersebut38.
6) Test Formatif. Test formatif adalah penggunaan test hasil belajar untuk
mengetahui sejauh mana kemajuan belajar yang telah dicapai oleh
siswa dalam suatu programpembelajaran tertentu39.
7) Test Sumatif. Istilah sumatif berasal dari kata “sum” yang berarti
jumlah. Dengan demikian test sumatif berarti test yang ditujukan untuk
mengetahui penguasaan siswa dalam sekumpulan materi pelajaran
(pokok bahasan) yang telah dipelajari40.

34

Zurinal Z, Wahdi Sayuti. Ilmu Pendidikan: Pengantar dan Dasar-dasar Pelaksanaan
Pendidikan, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta Press, 2006), h. 143, cet. 1.
35
Ibid,.
36
Ibid,.
37
Ibid,. h.143-144.
38
Ibid,. h.144.
39
Ibid,.
40
Ibid,.

19

Berbagai jenis test dapat dilakukan untuk mengetahui hasil belajar
seseorang mulai dari test kecepatan, test kemampuan, test hasil belajar, test
kemajuan belajara, test diagnostik, test formatif, dan test sumatif. Test-test yang
dilakukan digunakan untuk mengetahui sejauhmana keberhasilan proses belajar
yang dilakukan seseorang.
3. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
a. Hakikat Pembelajaran
Pembelajaran memiliki arti yang lebih luas dibandingkan pengajaran.Kata
pembelajaran dipakai sebagai kata padanan dari kata instruction dalam bahasa
inggris.Kata

instruction

mempunyai

pengertian

yang

lebih

luas

dari

pengajaran.Pengajaran ada dalam konteks guru-murid di kelas (ruang) formal,
sedangkan pembelajaran mencakup pula kegiatan belajar mengajar yang tidak
dihadiri guru secara fisik41.
Berdasarkan apa yang dipaparkan sebelumnya mengatakan bahwa
pembelajaran memiliki komponen yang lebih kompleks dibandingkan pengajaran.
Dapat dikatakan bahwa pengajaran merupakan salah satu komponen dalam
pembelajaran. Dalam pembelajaran tidak hanya memperhatikan proses belajar
mengajar antara guru dan murid melainkan juga memperhatikan proses belajar
yang terjadi diluar itu. Hal yang berhubungan dengan kondisi lingkungan belajar,
kemauan dan kemampuan anak dan lain sebagainya juga ikut ambil bagian dalam
proses pembelajaran.
A.Chaedar

Alwasilah

yang

dikutip

dalam

Media

Pembelajaran

memberikan dua definisi pembelajaran. (1) “A relatively permanent change in
response potentiality which occurs as a result of reinforced practice” dan (2) “a
change in human disposition or capability, which can be retained, and which is
not simply ascribable to the process of growth”42.

41
42

Yudhi Munadi, Media Pembelajaran (Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta, 2012), h.3.
Ibid,. h. 4

20

Dari dua definisi yang dapat diperhatikan.Pertama, proses pembelajran
menghasilkan perubahan perilaku peserta didik yang relatif permanen.Kedua,
anak didik memiliki potensi, gandrung, dan kemampuan yang merupakan benih
untuk ditumbuhkembangkan tanpa henti. Ketiga, perubahan atau pencapaian
kualitas ideal itu tidak tumbuh linear sejalan proses kehidupan, artinya belajar
didesain secara khusus, dan diniati agar tercapainya kualitas atau kondisi ideal43.
Pembelajaran menghasilkan perilaku yang permanent, hal ini berkaitan
dengan peran guru sebagai agen perubahan.Ditambah anak didik memiliki potensi
yang masih terus dapat ditumbuhkembangkan. Guru harus membuat sebuah
desain pembelajaran yang dapat membawa peserta didiknya menuju pencapaian
ideal.
Menurut Kemp, Morrison, dan Ross yang dikutip dalam Perinsip Desain
Pembelajaran, terdapat empat komponen inti desai pembelajaran, yakni: peserta
didik, tujuan pembelajaran, metode, dan penilaian44.
1) Peserta didik
Sebelumnya perlu diketahui bahwa yang sebenarnya dilakukan oleh para
desainer adalah menciptakan situasi belajar yang kondusif sehingga tujuan
pembelajaran dapat tercapai dan peserta didik merasa nyaman dalam proses
belajarnya45.
Kenyamanan

peserta

didik

dalam

proses

pembelajaran

akan

mempengaruhi kondusif tidaknya proses pembelajaran. Dalam hal ini, untuk
pencapaian tujuan pembelajran tertentu para desainer pembelajaran membuat
sebuah perencanaan pembelajaran yang mampu memunculkan kenyamanan
proses pembelajaran khususnya untuk peserta didik.

43

Ibid,. h. 4-5.
Dewi Salma Prawiradilaga, Perinsip Desain Pembelajaran (Jakarta: Kencana Prenada
Media Grup, 2007), h. 17.
45
Ibid,.
44

21

Peserta didik sebelum dan selama belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor
baik fisik maupun mental.Kelelahan fisik, mengantuk, bosan, atau jenuh yang
menghinggapi peserta didik dapat mengurangi konsentrasi.Kelelahan mental
karena terlalu banyak belajar juga dapat mengurangi daya tangkap untuk
memahami materi ajar selanjutnya46.
Dalam pembelajaran pengajar juga tidak boleh melupakan faktor fisik
maupun mental siswa. Kelelahan fisik misalnya dapat membuat siswa terganggu
konsentrasinya, begitu pula hal lain seperti mengantuk, bosan, dan rasa jenuh
yang disebabkan kelelahan mental siswa karena terlalu banyak belajar juga dapat
menjadi faktor sulitnya siswa menangkap pelajaran.
Hal lain yang juga mempengaruhi mutu belajar diantaranya yaitu tampilan
materi ajar. Tampilan buku atau modul yang menarik dapat menimbulkan minat
belajar.Pengolahan serta penyajian isi yang menarik dapat menimbulkan rasa
ingin tahu yang besar. Begitu pula peran guru, pemaparan materi yang menarik
serta gaya bicara guru juga bisa mendukung atau menghambat proses belajar47.
Guru dalam menyampaikan materi ajar, harus mempersiapkan secara
matang baik dari segi isi maupun penyajiannya. Karena materi yang baik saja
tidak cukup, siswa akan lebih semangat belajar jika dalam penyampaiannya dibuat
semenarik mungkin. Hal terkait penyampaian materi yang menarik akan mampu
mengajak siswa tertarik mengikuti pembelajaran dan juga mampu menghilangkan
kejenuhan siswa.
Dalam pembelajaran tidak dapat terlepas dari bagaimana karakteristik
peserta didiknya. Perbedaan karakteristik peserta didik juga akan menentukan
bagaimana desain pembelajaran yang akan dibuat guru. Setidaknya ada tiga yang
berkaitan dengan karakteristik siswa, yaitu:


Karakteristik atau keadaan yang berkenaan dengan kemampuan awal atau
prerequisite skills, yakni kemampuan yang diperlukan untuk mencapai
46
47

Ibid,.
Ibid,. h.18.

22

tujuan pembelajaran. Kemampuan ini merupakan hasil dari berbagai
pengalaman masing-masing siswa48.
Tiap siswa dalam proses pembelalajaran, memiliki kemampuan yang
berbeda-beda. Kemampuan ini terkait dengan pengalaman siswa, baik
yang terjadi dalam proses pembelajaran di dalam kelas, maupun di luar
kelas.


Karakteristik yang berhubungan dengan latar belakang, lingkungan hidup,
dan status sosial (sociocultural)49.
Siswa pasti memiliki latarbelakang yang berbeda-beda, misalnya
lingkungan hidupnya seperti keluarga, teman sebaya, dan lingkungan di
sekitar sekolah. Selain lingkungan status sosial juga mempengaruhi
pembelajaran siswa, misalnya anak yang memiliki kemampuan membeli
buku mungkin akan berbeda dengan anak yang memiliki ketidakmampuan
secara financial untuk membeli buku, terlepas lagi pengaruh lingkungan
sosial yang mendukung siswa untuk mau belajar.



Karakteristik menurut Winkel yang dikutip dalam Media Pembelajaran
yang berkenaan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian, meliputi (1)
fungsi kognitif, mencakup taraf intelegensia dan daya kreativitas, bakat
khusus, organisasi kognitif, taraf kemampuan berbahasa, daya fantasi,
gaya belajar, teknik-teknik belajar;50
Terkait dengan fungsi kognitif, dalam pembelajran guru harus peka
terhadap masing-masing siswa. Masing-masing siswa pasti memiliki
bakat, kreativitias, kemampuan dan gaya belajar yang berbeda-beda, hal
ini

nantinya

akan

berpengaruh

terhadap

kemampuan

siswa

mengorganisasikan pelajaran-pelajaran yang diterimanya. Misalnya siswa
yang memiliki bakat di suatu mata pelajaran tertentu pastinya akan lebih
mudah menangkap dan mengaplikasikan apa yang diberikan gurunya.


Perbedaan terkait fungsi lainnya yakni, (2) fungsi konatif-dinamik
mencakup karakter-hasrat-berkehendak, motivasi belajar, perhatian48

Yudhi Munadi, Media Pembelajaran, h. 187.
Ibid,.
50
Ibid,.h.188.
49

23

konsentrasi; (3) fungsi afektif, mencakup temperamen, perasaan, sikap,
dan minat; (4) fungsi sensori-motorik; (5) dan hal yang menyangkut
kepribadian siswa seperti individualitas biologis, kondisi mental, vitalis
psikis, dan perkembangan kepribadian51.
Dalam

pembelajaran,

fungsi

konatif-dinamik

merujuk

pada

keberkehendakan, motivasi, konsentrasi dan perhatian siswa mengikuti
pembelajaran. Banyak sekali yang mempengaruhi hal tersebut, misalnya
kondisi kelas yang panas anak mengganggu konsentrasi belajar siswa, atau
guru yang galak membuat siswa tidak termotivasi dan tidak berkehendak
mengikuti pembelajaran, dalam hal ini guru harus peka, dan tidak
sepenuhnya penyalahkan hasil belajar yang buruk kepada siswa.
Fungsi afektif dalam pembelajaran merujuk pada sikap, minat,
temperamen, dan perasaan siswa dalam pembelajaran. Siswa yang minat
dan siswa yang tidak minat akan berbeda tingkat keberterimaannya
terhadap suatu pembelajaran. Begitupula perasaan siswa yang sedang baik
akan berbeda dengan perasaan siswa yang sedang suntuk dalam menerima
pelajaran. Banyak faktor yang mempengaruhi, misalnya lingkungan
keluarga, teman sebaya, lingkungan sekolah, atau kondisi internal siswa
sendiri.
Perbedaan dalam fungsi sensori-motorik dalam pembelajaran juga sangat
mempengaruhi kondusif tidaknya proses pembelajaran, anak yang
mengalami keterlambatan perkembangan fungsi sensori-motoriknya tidak
bisa disamakan dengan anak lain yang perkembangannya normal. Hal
tersebut juga dipengaruhi dengan fungsi lainnya seperti yang berkaitan
dengan perbedaan individualitas biologis, kondisi mental, vitalis psikis,
dan perkembangan kepribadian.

51

Ibid,.

24

2) Tujuan Pembelajaran
Rumusan mengenai tujuan pembelajaran dikembangkan berdasarkan
kompetensi atau kinerja yang harus dimiliki peserta didik saat ia selesai belajar.
Tujuan pembelajaran dirinci menjadi subkompetensi yang mudah dicapai52.
Dalam menentukan tujuan pembelajaran harus memperhatikan pencapaian
siswa pada pembelajaran sebelumnya. Menetapkan tujuan pembelajaran dilakukan
dengan mempertimbangkan hasil yang sebelumnya didapatkan siswa lalu
menetapkan pencapaian baru yang harus dicapai siswa, tujuannya

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23