Konflik Tanah Warisan Pada Keluarga Batak Toba (Studi kasus Kecamatan Ajibata Kabupaten Toba Samosir)

(1)

LAMPIRAN

Gambar 1 : Jalan menuju tempat tugu yang dipermasalahkan oleh para pihak yang bersangkutan.


(2)

Gambar 3: selain dari tugu yang dibangun, tanah warisan juga dimanfaatkan oleh pemegang lahan sebagai lahan pertanian yang ditumbuhi tanaman seperti kopi,

kelapa, cabai, dan pisang

.

Gambar 4: Tugu yang dipermasalahkan oleh keluarga yang menuntut kepada pemegang lahan agar tejadi pemmbagian hak secara merata


(3)

Gambar 5: Tugu yang dipermasalahkan saat ini dengan tidak berdiskusi antar beberapa keluarga.

Gambar 6: Tanah ini juga sebagai tanah warisan yang dipakai oleh pemegang lahan sebagai sumber mata pencahariannya


(4)

Gambar 7: Tanah warisan yang dibangun sebagai tugu dapat dikatakan cukup luas dan dapat dibagi secara merata antar generasi

Gambar 8: Salah satu contoh tanaman yang ditumbuhi oleh pemegang tanah warisan yaitu kopi yang cukup banyak


(5)

Gambar 9:Salah satu contoh tanaman yang ditumbuhi oleh pemegang tanah warisan yaitu coklat yang lumayan untuk dijual

Gambar 10: Salah satu contoh tanaman yang ditumbuhi oleh pemegang tanah warisan yaitu pisang yang hasilnya dapat dijual dan dimakan bersama.


(6)

DAFTAR PUSTAKA Buku

Adrian Sutedi, Peralihan Hak Atas Tanah dan Pendaftarannya.Cet.4.Jakarta: Sinar Grafika,2010.Hlm.60-61.

Bambang Prasetyo, dkk.2005. Metode Penelitian Kualitatif : Teori dan aplikasi. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Bugaran, Arti dan Fungsi tanah bagi masyarakat Batak Toba, Karo,Simalungun (Edisi Pembaruan), 2013. Yayasan obor Indonesia.

Bunyamin Maftuh & Fisher,2005.Penyelesaian Konflik.Jakarta:Erlangga.

Bungin, Burhan.2007.Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Bungin, Burhan.2009.Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma Dan Diskursus Teknologi Bugaran.

Fisher, Simon, dkk. Mengelola konflik: keterampilan dan strategi untuk bertindak, cetakan pertama, ahli bahasa S.N. Kartikasari, dkk, Jakarta: The British Counsil, Indonesia 2001.

George Ritzer,2010. Teori Sosiologi Modren.Penerbit: Kreasi Wacana. Hilman Edikusuma, Hukum Waris Adat, PT. Aditya Citra Bakti,Bandung.

M.Idris Ramulyo, Perbandingan Pelaksanaan Hukum Kewarisan Dengan Kewarisan KUHPerdata, Jakarta: Sinar Grafika, 1995, hal. 102-103.

Maftuh, Bunyamin, Pendidikan Resolusi Konflik: Membangun generasi muda yang mampu menyelesaikan konflik secara damai Bandung: Program pendidikan


(7)

Pembagian Harta Warisan Menurut Islam (Fikih Sunnah 14, Sayyid Sabiq, Penerbit:

PT.Al-Ma'arif, Bandung & Al-Fara'id, A.Hassan, Penerbit: Pustaka Progressif.

Purba,O.H.S dal Elvis F.Purba.1997. Migrasi Pontan Batak Toba (Marserak). Medan:Monora.

Prof.Dr. Bugaran Antonius Simanjuntak.Edisi Kedua: Yayasan Obor Indonesia. Sitepu Sempa, Sitepu Bujur, Sitepu A.G., Pilar Budaya Karo, Medan, 1996.

Suparman, Eman. 2007. Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam, Adat, dan BW. Bandung: Refika Aditama.

RudianSiaban, Pembagian Warisan Dalam Adat Batak Toba,2013.

Soekanto Soejono, Sosiologi Suatu Pengantar, 2002: Penerbit,Jakarta: Raja Persada.

Sugangga. IGN. Hukum Adat Khusus (Hukum Adat waris pada Masyarakat Hukum

Adat yang bersifat Patrilineal di Indonesia). Fakultas Hukum Diponegoro

Semarang.

Wenehen, Agustinus, 2005. Pets kha (Konflik tanah pada orang walsa di papua), Yogyakarta: Kunci ilmu.

William. J. Goode. Sosiologi Keluarga. 1983, Jakarta: Bina Aksara. Cetakan pertama.

Jurnal/Skripsi

Baiq, Lisa.2013.Penguasahan Hak Atas Tanah yang Belum di Bagi Waris Ditinjau Dari Perspektif Hukum Agraria Nasional.

Julia, Franciska.2014.Kajian Yudiris Peralihan Hak Atas Tanah Warisan Yang Sedang Dibebani Hak Tanggungan.


(8)

Jurnal USU Institusional Repository, diakses pada tanggal 20 april 2016.

Rosmalemna, Tarigan.2010.Konflik Sosial di Desa Kuta Rakyat, Kecamatan Naman Teran Konflik.

Taqwalah.2010. Pengaruh Sistem Penentuan Nilai Harta Warisan Dalam Pembagian Warisan Atas Tanah dan Bangunan Di Kecamatan Tebet Jakarta Selatan.

Website Jurnal

http://Presentation For link, dalam Penyelesaian konflik sosial. Di akses tgl 15 Juni 2016


(9)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati, dimana jumlah informan yang mengalami kasus perebutan tanah warisan ini sebanyak 10 informan. Metode penelitian kualitatif lebih berdasarkan pada filsafat fenomenologis yang mengutamakan penghayatan, berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut prespektif penelitian sendiri (Husai Usman, 2009). Penelitian kualitatif dapat di artikan sebagai penelitian yang menghasilkan data deskriptif mengenai data-data lisan maupun tertulis dan tingkah laku yang dapat di amati dari orang-orang yang diteliti. Dimana, penelitian kualitatif dimanfaatkan sebagai pemandu penelitian agar sesuai fakta di lapamgan. Dalam penelitian ini jauh lebih subyektif dengan mengumpulkan informasi menggunakan wawancara secara fokus dan mendalam dalam jumlah relatif kecil. Pendekatan deskriptif bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbabagai kondisi sosial, berbagai situasi atau berbagai fenomena ralitas sosial yang ada di masyarakat yang menjadi objek penelitian (Bungin, 2007).

Arikunto (2000:2008) menyatakan bahwa “penelitian deskriptif merupakan penelitian non hipotesis dalam langkah penelitian ini tidak perlu merumuskan hipotesis”. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif, artinya hasil penelitian dirumuskan setelah semua data dianalisis. Pendekatan deskriptif digunakan dalam


(10)

penelitian ini karena semata-mata hanya memberi gambaran yang tepat dari pokok perhatian yaitu mendeskripsikan studi tentang kinerja pengadilan negeri dalam menyelesaikan kasus sengketa tanah warisan. Menurut Sutopo (2002:50-54), data yang diperlukan dalam penelitian kualitatif dapat diperoleh melalui narasumber (informan), peristiwa atau aktivitas, tempat atau lokasi, benda, beragam gambar dan rekaman, serta dokumen dan arsip. Adapun jenis sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah narasumber atau informan.

Mekanisme dalam penelitian ini adalah menganalisis perubahan perilaku dalam masyarakat maupun keluarga yang mempertahankan hak milik sebagai tanah warisan. Dalam hal itu uraian ini dijadikan titik tolak untuk memahami lebih lanjut tentang perubahan perilaku yang berdampak pada sistem kekerabatan. Jadi adapun analisisnya adalah mencari hubungan tentang realita fenomena yang terjadi dalam konflik perebutan tanah warisan pada masyarakat Batak Toba.

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian akan dilaksanakan di Ajibata kabupaten toba samosir. Adapun alasan Peneliti melakukan di lokasi ini adalah :

1. Ajibata adalah salah satu kawasan destinasi pariwisata danau toba yang memiliki luas tanah yang cukup besar di daerah kawasan Kabupaten Toba Samosir.

2. Penduduk Ajibata mayoritas suku batak toba sehingga masyarakat lebih terbiasa menggunakan bahasa Batak Toba dan sebagian besar bekerja sebagai petani.


(11)

3. Peneliti dapat memanfaatkan waktu, tenaga, pikiran dan biaya yang tidak terlalubanyak karena peneliti juga berasal dari daerah yang sama dengan lokasi penelitian.

3.3 Unit Analisis Dan Informan

Dalam melakukan penelitian ini harus mempunyai unit analisis (satuan tertentuyang dapat dihitung sebagai subjek penelitian) dan informan yang menjadi sumber informan dalam penelitian ini adalah:

3.3.1 Unit Analisis

Penelitian kualitatif menggunakan apa yang di maksud dengan unit analisis adalah hal-hal yang diperhitungkan menjadi subjek penelitian atau unsur yang menjadi fokus penelitian (Bungin,2007). Adapun yang menjadi titik analisis dalam penelitian ini adalah masyarakat yang mengalami konflik tanah.

3.3.2 Informan

Informan adalah orang-orang yang menjadi sumber informasi yang aktual dalam menjelaskan tentang masala penelitian. Informan adalah orang yang diperkirakan menguasai dan memahami data,ataupun fakta dari suatu objek penelitian (Bungin, 2007). Pemilihan informan tidak selalu wakil dari seluruh objek penelitian, tetapi yang penting informan memiliki pengetahuan yang cukup serta mampu menjelaskan bagaimana keadaan yang sebenarnya tentang konflik Tanah warisan. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah masyarakat dan pemerintah Ajibata Kabupaten Toba Samosir.


(12)

Informan penelitian diperoleh melalui informasi awal tentang objek penelitian maupun informan penelitian, sehingga hanya membutuhkan melakukan wawancara atau observasi. Kriteria-kriteria informan yang diambil adalah :

1. Masyarakat yang telah lama bertempat tinggal di Parsaoran Ajibata. Informan ini akan memberi informasi bagaimana situasi dan kondisi hak milik tanah di masa lampau berjumlah 2 orang.

2. Pemegang lahan

Informan ini akan memberi informasi bagaimana situasi dan kondisi hak milik tanah, sehingga membangun tombak dengan wewenang sendiri (1 orang).

3. Keluarga pemegang lahan

Informan ini akan memberi informasi bagaimana situasi dan kondisi hak milik tanah yang diartikan sesuai dengan fungsi tanah berjumlah 1 orang. 4. Keluarga penuntut lahan

Informan ini akan memberi informasi bagaimana situasi dan kondisi hak milik tanah agar membagi tanah yang sesuai berjumlah 5 orang.

5. Pemerintah Kelurahan Ajibata

Informan ini akan memberikan informasi tentang situasi terjadinya konflik tanah warisan.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut :


(13)

3.4.1 Teknik Pengumpulan Data Primer

Teknik Pengumpulan Data Primer adalah peneliti melakukan kegiatan penelitian langsung ke lokasi penelitian untuk mencari data-data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. Adapun teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan cara :

3.4.1.1 Observasi atau Pengamatan

Observasi atau pengamatan adalah metode pengumpulan data yangdigunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan (Bungin,2007). Pengamatan digunakan untuk mengamati gejala-gejala yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat/komuniti yang diteliti. Dalam hal ini peneliti dapat melihat dan mengamati secara langsung kehidupan sosial masyarakat Ajibata Kabupaten Toba samosir.

3.4.1.2 Wawancara Mendalam

Wawancara mendalam adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang di wawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, dimana pewawancara dengan informan terlibat dengan kehidupan sosial. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengumpulan data dengan cara wawancara mendalam (Bungin,2007). Wawancara mendalam adalah wawancara yang terbuka dan luwes dengan memperhatikan aturan-aturan dengan kode etik dengan melakukan wawancara.


(14)

3.4 Teknik Pengumpulan Data Sekunder

Teknik Pengumpulan Data Sekunder adalah pengumpulan data yang dilakukan melalui penelitian studi kepustakaan yang diperlukan untuk mendukung data yang diperoleh bersifat teoritis, konsepsi, pandangan, tema melalui buku-buku, tulisan ilmiah, artikel, jurnal dan yang berkaitan dengan topik penelitian yang dianggap relevan dan keabsahan dengan masalah yang ingin diteliti.

3.5 Interpretasi Data

Setelah data dikumpulkan dengan lengkap dari lapangan, tahap berikutnya yang harus dilakukan adalah tahap analisa dengan interpretasi data. Interpretasi data atau penafsiran data merupakan penafsiran suatu kegiatan menggabungkan antara hasil analisis dengan permasalahan penelitian untuk menemukan makna yang ada dalam permasalahan (Moleong,2006). Analisis data adalah proses pengorganisasikan dalam pengurutan data ke dalam pola, kategori, dan satu uraian dasar sehingga ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja yang disarankan oleh data.


(15)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Letak dan keadaan wilayah

Kecamatan Ajibata terletak pada Lintang Utara 2◦ 32’ -2◦ 40’ dan Bujur Timur 98◦ 56’ -99 04’, yang letak diatas permukaan laut 908 Meter, dengan luas wilayar Kecamatan Ajibata 72,8 km2. Kecamatan Ajibata memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kabupaten Simalungun, Danau Toba Sebelah Selatan : Kecamatan Lumban Julu

Sebelah Barat : Danau Toba

Sebelah Timur : Kabupaten Simalungun.


(16)

Kecamatan Ajibata terdiri dari 9 Desa/Kelurahan yaitu 1 Kelurahan dan 8 Desa yaitu:

1. Kelurahan Parsaoran Ajibata 2. Desa Pardamean Ajibata 3. Desa Pardomuan Ajibata 4. Desa Horsik

5. Desa Sigapiton 6. Desa Sirungkungon 7. Desa Motung

8. Desa Pardamean Sibisa 9. Desa Parsaoran Sibisa

Kecamatan Ajibata mempunyai luas wilayah seluas 72,8 km2, dengan perincian Pardamean Sibisa adalah merupakan desa dan wilayah terluas yaitu 16,0 km2 atau 21,98% dari total luas kecamatan Ajibata. Berdasarkan klasifikasi Desa/Kelurahan menurut jenisnya, sebagian besar di Kecamatan Ajibata 80% merupakan Desa Swakarya, yaitu desa yang sudah agak longgar adat istiadatnya karena pengaruh luar, mengenal teknologi pertanian, dan taraf pendidikan relative lebih tinggi dibandingkan desa lainnya.

(Sumber: Badan Pusat Statistik,Kecamatan Ajibata 2012)

4.1.2 Komposisi Penduduk

Komposisi penduduk adalah pengelompokan pendududuk atas variabel-variabel tertentu. Komposisi penduduk menggambarkan susunan penduduk yang dibuat berdasarkan pengelompokan penduduk menurut


(17)

karakteristik-karakteristik yang sama (Said Rusli dalam Bagoes, Mantra, 2000:23).

Bagan Dan Struktur Kelurahan Ajibata

Sumber: Badan Pusat Statistik Kelurahan Ajibata, 2015

Tabel 6: Jumlah penduduk Kelurahan Parsaoran Ajibata

No Jenis kelamin Jumlah Persentase

1 Laki-laki 615 Jiwa 42,07%

2 Perempuan 847 Jiwa 57,93%

1.462 Jiwa 100%

Sumber: Data Bps kelurahan parsaoran Ajibata, 2016

Jadi, dapat disimpulkan jumlah penduduku parsaoran ajibata dengan jenis kelamin laki-laki lebih rendah dengan jumlah 615 Jiwa dalam presentase 42,07% dibandingkan perempuan berjumlah 847 Jiwa dalam persentase 57,93%.

LURAH KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL SEKRETARIS KEPALA SEKSI PELAYANAN UMUM KEPALA SEKSI KESEJAHTERAAN MASYARAKAT KEPALA SEKSI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN PEMBANGUNAN KEPALA SEKSI PEMERINTAHAN, KETENTRAMAN, DAN KETERTIBAN UMUM


(18)

a. Pendidikan

Pendidikan ialah serangkaian kegiatan komunikasi yang bertujuan, antara manusia dewasa dengan si anak didik secara tatap muka atau dengan menggunakan media dalam rangka memberikan bantuan terhadap perkembangan anak seutuhnya (Zahara Idris, Dasar-Dasar Kependidikan, Bandung: Angkasa. hal.11). Pendidikan merupakan suatu faktor pendukung sumber daya pada masyarakat Ajibata. Dalam perkembangan teknologi dan hal modrenisasi pada masyarakat Ajibata telah mengubah pemikiran untuk lebih mengedepankan pendidikan. Pada zaman dahulu, orang tua masih bersifat primitif dengan membuat suatu konsep bagi anak perempuan hanya sebagai pekerja rumah dan sebaliknya laki-laki sebagai pengubah kondisi keluarga dengan memberikan kesempatan yang lebih dibandingkan perempuan untuk meningkatkan pendidikan. sehingga, perubahan dalam pendidikan sudah menjadi dasar konsumsi bagi orang tua yang tidak pandang bulu terhadap anak-anaknya.

Tabel 7: Daftar Pendidikan Formal (Sekolah) Di Kabupaten Ajibata

No Tingkat Jumlah

1 TK/PAUD 2 Unit

2 SD 9 Unit

3 SMP 2 Unit

4 SMA 1 Unit

Sumber : Badan Pusat Statistik Kecamatan Ajibata,2015

b. Perumahan


(19)

lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana (UU Nomor 4 thun 1992). Selain itu, Rumah merupakan salah satu kebutuhan yang penting dan harus dimiliki penduduk dalam meningkatkan taraf hidup serta pembentukan karakter, watak, dan kepribadian. Dengan adanya rumah sebagai tempat tinggal, menurut kepemilikan pada tahun 2010.

c. Mata Pencaharian 1. Pertanian

Pertanian adalah suatu bentuk produksi khas, yang didasarkan pada proses pertumbuhan tanaman dan hewan (Mosher). Petani mengelola dan merangsang pertumbuhan tanaman dan hewan dalam suatu usaha tani, dimana kegiatan produksi merupakan bisnis, sehingga pengeluaran dan pendapatan sangat penting artinya. Dalam hal ini dapat dikatakan sebagian besar masyarakat Ajibata menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Hal ini merupakan dilihat dari luas pertanian, khususnya lahan persawahan. Pertanian menjadi suatu aktivitas yang diandalkan masyarakat Ajibata.

Tabel 8: Luas Wilayah Berdasarkan Penggunaan Tanah

No Jenis Jumlah

1 Tanah Sawah 149 Ha 2 Tanah Kering 1.441 Ha 3 Bangunan/Pekarangan 135 Ha

4 Lainnya 5,555 Ha

7.280 Ha Sumber: Badan Pusat Statistik, Kecamatan Ajibata 2010


(20)

2. Perkebunan

Perkebunan adalah segala kegiatan yang mengusahakan tanaman tertentu pada tanah atau media tumbuh lainnya dalam ekosistem yang sesuai, mengolah dan memasarkan barang dan jasa hasil tanaman tersebut, dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemodalan serta manajemen untuk mewujudkan kesejateraan bagi pelaku usaha perkebunan dan masyarakat (UU No 18 Tahun 2004). Dalam hal ini, Tanaman perkebunan juga merupakan salah satu usaha yang dilakukan masyarakat Ajibata untuk memenuhi kebutuhan hidup. Perkebunan di Ajibata masih relatif kecil dikelola oleh perusahaan perkebunan melainkan dikelola oleh pihak pribadi. Salah satu hasil dari perkebunan lahan Ajibata adalah kopi. Kopi merupakan suatu andalan tanaman perkebunan rakyat yang memiliki prosfek tinggi. Dilihat dari luas tanaman kopi tahun 2013 sebesar 3.487,85 Ha (Sumber: BPS Toba Samosir).

3. Perikanan

Pada umumnya perikanan di Ajibata masih dikelola sebagai usaha rumah tangga, baik sebagai kegiatan budidaya maupun kegiatan penangkapan ikan. Budidaya perikanan dilakukan di kolam, sawah, dan jaring apung (keramba). Produksi ikan Kabupaten Toba Samosir menurut BPS Toba Samosir pada tahun 2013 sebesar 11.174,6 ton yang terdiri dari 1.052,9 ton hasil penangkapan dan 10.121,7 ton hasil budidaya.


(21)

4.2 Deskripsi Subjek Penelitian

Penelitian ini dimulai bulan april 2016. Sebelumnya peneliti telah mengadakan pra penelitian pada bulan Desember 2015 dan sudah menemukan beberapa Informan. Pada saat pra penelitian, peneliti berusaha melakukan interaksi sehingga terjalin hubungan baik terhadap Informan agar memberikan ketersediaan waktu untuk informasi yang akan di teliti. Dalam teknik pencarian informan memperoleh beberapa individu yang potensial dan bersedia diwawancarai dengan cara menemukan seseorang atau lebih terbuka memberikan informasi melalui wawancara guna memenuhi kebutuhan yang menjadi fokus penelitian.

Adapun kriteria yang menjadi tolak ukur untuk menjadi seorang informan oleh peneliti adalah sebagai berikut:

a.Laki-laki atau perempuan yang sesuai dengan kriteria usia atau late adolecence (remaja akhir) yaitu berada pada usia 35 sampai 65 tahun.

b.Orang yang bersangkutan ikut serta dalam menangani konflik tanah warisan.

c.Orang yang bersangkutan dalam keadaan sehat jasmani dan rohani.

d. Orang yang bersangkutan bersifat netral dalam memberikan pernyataannya mengenai topik penelitian.

e. Mempunyai pandangan tertentu tentang peristiwa yang terjadi.

f. Memiliki pandangan yang harus dijelaskan sesuai rangka kesepakatan yang dilangsungkan pada peraturan yang sesuai dengan kejadian sebenarnya.


(22)

Tabel 9: Daftar Nama-Nama Informan

No Nama Informan Jenis Kelamin Usia Pekerjaan

1 Lonim Perempuan 65 th Petani

2 Refli Perempuan 47 th Petani

3 Butong Laki – laki 65 th Wiraswata 4 Sudirman Laki – laki 57 th Petani

5 Candra Laki –laki 58 th Wiraswasta

6 Jayas Laki –laki 64 th Wiraswata

7 Nurdin Laki – laki 63 th Wiraswasta

8 Simson Laki –laki 60 th Wiraswasta

9 Ruminda Perempuan 62 th Petani

10 Keken Laki- laki 37 th Wiraswasta

Peneliti mulai melakukan wawancara dari lingkungan keluarga peneliti sendiri, karena riset ini berawal dari konflik keluarga yang masih memiliki hubungan darah. Peneliti memilih informan pertama atas nama Lonim berusia 65 tahun dengan pekerjaan sebagai petani, karena informan tersebut pemegang lahan keluarga yang di duga sebagai memiliki wewenang besar sehingga mendirikan tugu di tanah warisan tempat lahan pangan padi milik keluarga sedarah sehingga hal ini menimbulkan pertikaian antar keluarga yang masih memiliki hubungan darah dilakukan dengan cara penuntutan hak kembali tanah warisan.


(23)

“Saya sebagai pemilik lahan sangat heran untuk penuntut tanah ini, karena kenapa

dari awal tidak ada gugatan seperti ini. Tiba suami saya meninggal terjadi hal yang

tidak mengenakkan terhadap tanah agar untuk di bagi. Ini merupakan hal yang

sangat kecewakan kepada keluarga saya sendiri dan ketika saya memberikan solusi

untuk berbagi kembali pihak lain tidak mau lagi. Maka dari peristiwa ini terjadi

renggangnya persaudaraan antara saya dengan keluarga pengguat sehingga dapat

dikatakan diam-diam saja dengan melakukan aktivitasnya sendiri.”

Informan kedua adalah Refli ia berusia 47 tahun dari pasangan bapak Robert mempunyai 4 orang anak. Kesibukannya selain ibu rumah tangga juga bekerja sebagai petani dilahannya sendiri dengan menanami seperti padi, bawang. kopi, dan lain sebagainya. Ia merupakan anak dari pemegang lahan sehingga dia setuju akan kehendak dari ibunya sendiri.

“Saya tidak mengira akan terjadi seperti ini, tapi saya sebagai seorang anak dari

pemegang lahan harus berjiwa besar menanggapi masalah ini karena kebetulan ini

masih masalah hubungan darah yang tidak jauh,apapun ceritanya kami tetap

sekeluarga yang masih memiliki kepentingan yang sama dalam kehidupan ini”.

Informan ketiga adalah Butong berusia 65 tahun bekerja sebagai wiraswasta yang tinggal dirumah anaknya karena sudah semakin tua. Dalam hal ini, ia merupakan salah satu penuntut hak tanah warisan yang dibangun sebuah tugu, maka karena hal ini ia sangat menuntut untuk mengambil kepentingan atas hak yang menurut nya itu dari keluarga bersama.

“Saya kecewa atas kebijakan yang dilakukan pemegang lahan, karena tidak ada


(24)

tidak terjadi pertikaian atas pembangunan tugu dari tanah warisan. Mengapa

membangun tugu suami atau keluarganya dengan cara tiba-tiba tanpa

sepengetahuan keluarga lain. Tanah yang dibangun itu merupakan tanah milik

bersama secara generasi bukan hanya miliknya”

Informan keempat adalah Sudirman berusia 57 tahun bekerja sebagai petani. Ia merupakan salah satu keluarga yang menuntut hak milik, akan tetapi walaupun demikian ia tidak terlalu keras untuk mengambil hak tanah karena ia termasuk netral atas permasalahan yang terjadi. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa ia termasuk dekat kepada pemegang tanah warisan.

“Saya sebagai keluarga dan termasuk tetangga dari pemegang lahan, saya harus

bersifat netral karena saya lebih baik menjaga hubungan keluarga dengan semua

konflik yang terjadi. Sehingga, tidak ada rasa sakit hati antar keluarga jadi apapun

keputusan yang membuat perdamaian saya setuju saja sehingga tidak muncul rasa

sakit hati antar keluarga dan saya tidak mau seperti itu. Intinya saya netral atas

segala keputusan yang ada dan tidak memihak dengan siapapun”

Informan kelima adalah Candra berusia 58 tahun bekerja sebagai wiraswasta. Ia merupakan keluarga yang menuntut lahan atas hak milik yang dibangun sebuah tugu. Ia tidak sangat setuju akan pembangunan tersebut karena mmenurutnya tanah itu merupakan tanah milik bersama yang harus dijaga dan bukan mendirikan sesuatu tanpa memikirkan kepunyaan keluarga lainnya.

“Saya tidak mengetahui atas kebijakan pembangunan ini tapi saya harap pemegang

lahan harus seimbang dengan memikirkan hak kami juga karena kami masih


(25)

tanah dari generasi yang harus dibagi bersama maka harus ada konsultasi maupun

diskusi yang baik untuk menggunakan tanah yang ada, maka itulah yang dikatakan

keluarga”

Informan keenam adalah Jayas berusia 64 tahun bekerja sebagai wiraswasta. Ia merupakan seoarang keluarga yang menuntut hak milik agar dapat dibagi kepemilikan sesuai dengan ukuran yang sah sehingga tidak ada pertikaian didalam keluarga itu. Ia termasuk seorang yang tegas dalam permasalahan ini karena ia sampai melaporkan kepada pihak yang berwewenang atas konflik yang terjadi di daerah Ajibata. Menurutnya hal ini tidak pantas terjadi karena pemegang lahan bukan sebagai pemilik lahan tetapi hanya sebagai pemakai dalam penggunaan tanah warisan.

“Sejujurnya, saya tidak terima untuk apa yang dilakukan pemegang lahan untuk

pembangunan tugu itu, kenapa dengan tiba-tiba tak ada kabar untuk diskusi

pembangunan lahan terhadap pihak seperti kami yang masih memiliki hubungan

darah dengannya. Ini merupakan permasalahan yang sulit diselesaikan jika tidak

ada diskusi yang baik”

Informan ketujuh adalah Nurdin berusi 63 tahun sebagai seorang wiraswaasta. Ia merupakan salah satu keluarga penuntut tanah warisan, tetapi bedanya dia bersifat tidak terlalu keras akan segala sesuatu yang dimiliki oleh para pihak – pihak lain. Dapat dikatakan bahwa ia bersifat netral untuk menjaga nama baik keluarga agar tidak terjadi keributan yang semakin meluas.

“ Apalah yang harus saya katakan karena semua sudah terjadi dan tidak bisa


(26)

hubungan keluarga agar lebih bertahan seperti dulu lagi. Biarlah mereka yang

berselisih kalau saya hanya bisa mengikuti bagaimana jalan keluar agar

penyelesaian kasus ini cepat selesai”

Informan kedelapan bernama Simson berusia 60 tahun sebagai wiraswasta. Ia merupakan salah satu penentu tanah warisan yang termasuk keras akan kepemilikan yang dilakukan sewnang – wenang oleh pemegang lahan. Dalam hal ini ia sangat tidak setuju akan kebijakan yang dilakukan para pemegang lahan yang dianggap sebagai kontribusi atas pembangunannya yang dilakukan. Maka dalam hal ini ia berharap agar ada pembagian yang sah terhadap hubungan sedarah yang lainnya.

“Sebenarnya, saya agak tidak percaya akan pertikaian ini karena masih hubungan

keluarga tapi bagaimanapun harus ada keseimbangan atas kepemilikan, dan jangan

memikirkan kebijakan sendiri karena tanah itu tanah keluargayang harus

dimanfaatkan bersama sesuai pengelolaannya”

Informan kesembilan bernama Ruminda berusia 62 tahun bekerja sebagai petani. Ia merupakan salah satu tetangga dari pemegang lahan yang termasuk bertempat tinggal lama didaerah tersebut. Dalam kasus ini ia juga bersifat netral terhadap pertikaian yang ada sehingga ia tidak terlalu ikut mencampuri apa yang terjadi didaerahnya tersebut.

“Kalau ditanya pendapat saya sebagai tetangga pemegang lahan yang sudah lama

tinggal disini saya harus bersifat netral akan hal ini. Jadi yang saya harapkan harus


(27)

Informan kesepuluh bernama Keken berusia 37 tahun bekerja sabai seorang wiraswasta. Ia merupakan salah satu tetangga dari pemilik lahan tersebut yang termasul lama tinggal didaerah yang sama, dalam konflik ini dia juga tidak terlalu mencampuri segala pertikaian yang ada, tetapi ia memberikan solusi agar tidak terciptanya keributan dan renggangnya persaudaraan antar keluarga, sehingga dapat berhubungan baik seperti yang dulu lagi.

“Ketika pembangunan ini dilakukan, saya sebenarnya sudah mengetahui bahwa itu

tanah keluarga tapi saya selaku tetangga tidak dapat berkata-kata untuk segala

kebijakan yang ada tapi saya rasa harus ada rasa mengalah antar keluarga atau

terjadi pembagian hak milik secara merata”

Dalam hal ini juga pemerintah Kelurahan Ajibata memberikan keterangan atas konflik tanah warisan ini bahwa, ini merupakan konflik yang rumit terselesaikan karena ini hubungan keluarga yang harus dipertahankan. Tapi karena tidak ada

pihak yang mengalah maka proses penyelesaiannya sulit terlesaikan dan lebih baik

fakum begitu saja.

Silsilah keluarga yang berkonflik di Ajibata

Opung Timbul

Op.Saiden (Boru ) Op.Timo (Boru ) Op.Johan (Anak) Op.Tuppak (Anak) Op.Mika (Boru ) Pihak yang menuntut (anak yang bekerja sama) Pemegang lahan


(28)

Permasalahan :

Op. Johan dan Op.Mika mengatakan hak milik masing-masing tanpa ada kerja sama anak (Op.Saiden, Op.Timo, Op.Tuppak) dalam hal ini masalah semakin meluas dan belum bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Pembangunan tombak (kuburan suami atau keluarganya terjadi karena tanpa permisi kepada anak laki-laki Op.Timbul dan akibat ini ada penuntutan dari anak siampudan atau anak terakhir yaitu Op.Johan keberatan terhadap hak milik tanah warisan.

Matriks Konflik Tanah Warisan di Ajibata

Penindasan keadilan konflik laten (kekuasaan tidak seimbang antara pemegang lahan dengan pihak penuntut)

Op. Johan dan Op.Mika Op.Saiden, Op.Timo,

Kesadaran Mobilitas

pemberdayaan

Konflik

Perubahan sikap antar keluarga yang semakin renggang

Hubungan yang disetujui kekuasaan yang seimbang

Isu dominan:

Tidak ada diskusi yang baik antar pihak pemegang lahan dengan pihak penuntut dalam pembangunan tugu keluarga pemegang lahan (Lonim).

Pemangku kepentingan:

Tanah warisan dianggap sebagai milik bersama yang harus dibagi secara merata, sehingga tidak ada kecemburuan atas hak tanah yang digunakan.

Presepsi :

Tanah warisan yang dipakai harus dapat digunakan sesuai hak milik setelah dibagi antar pihak yang menuntut kepada pemegang lahan.

Cara berkonflik:

Demonstrasi kecil seperti penuntutan kembali atas hak tanah yang digunakan secara lebih privat.


(29)

4.3 Faktor Penyebab Terjadinya Konflik Perebutan Tanah Warisan

Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaannya berupa ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat punyang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya. Terjadinya permasalahan konflik pertanahan tanah pada masyarakat Batak Toba faktor diantaranya:

a. Penguasaan lahan produktif yang bukan hak milik

Dalam hakekatnya, penguasaanlahan produktif ini terjadi ketika tanah dahulunya tidak memiliki nilai namun setelah perkembangan zaman tanah tersebut diolah serta menghasilkan tanah semakin bernilai. Akibat berharganya tanah terjadi konflik kepentingan dan pemanfaatan situasi oleh pihak-pihak yang ingin mengolah tanah yang bukan miliknya. Hal ini diukur berdasarkan tanaman tanpa sertifikat dan kepemilikannya hanya diketahui oleh beberapa saksi yang menandatangani surat kuasa yang dikeluarkan kepala desa.

b. Status tanah yang tidak pasti

Badan hukum menjadi kekuatan dalam kehidupan masyarakat Batak Toba yang mengalami konflik tanah warisan. Kepemilikan tanah masih tidak jelas karena bersifat atas kepercayaan bersama dengan warga setempat.

c. Masalah penjualan tanah yang tidak jelas ukurannya

Dalam masyarakat Batak Toba, pembagian tanah warisan yang di jual didasarkan pada orang tua menempati dengan menanami tanaman di lahan tersebut.


(30)

Kondisi inilah yang membuat semakin rumit atas pembagian tanah warisan ketika orang tua telah meninggal.

d. Masyarakat Batak Toba yang merantau

Permasalahan tanah akan terjadi pada keluarga ketika desakan ekonomi dan kurangnya keterampilan dalam mengolah lahan pertanian menjadikan anak-anak dari orang tua mewarisikan tanah orangtuanya pergi merantau. Keputusan merantau akan dimanfaatkan keluarga yang lainnya mengambil situasi untuk mendapatkan keuntungan. Adapun faktor lain yang mempengaruhi terjadinya konflik perebutan harta warisan antara lain:

1. Faktor intern

Tidak terlaksananya UUPA dan peraturan pelaksanaannya secara konsekuen dan bertanggung jawab melalui adanya keuntungan pribadi sehingga tidak berfungsinya para wewenang yang memberikan peluang kepada masyarakat dalam bertindak dan melaksanakan tugas-tugas sesuai tanggung jawab untuk memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh perundangan yang berlaku

2. Faktor ekstern

Dimana masyarakat masih kurang paham dalam menjalankan dan mengetahui undang-undang dan peraturan yang sesuai dengan pertanahan khususnya tentang prosedur pembuatan sertifikat tanah. Karena hal ini terjadi persediaan tanah warisan yang tidak seimbang dengan jumlah peminat yang memerlukan tanah sehingga berakibat meningkatnya kebutuhan akan tanah secara terus-menerus.


(31)

4.4Proses Penyelesaian Konflik Perebutan Tanah Warisan

Penyelesaian tanah warisan mengacu pada aturan hukum waris yang ada di negara Indonesia, yang diserahkan kepada pihak-pihak yang berkonflik. Dalam penyelesaiannya harus diadakan musyawarah di antara para ahli waris. Namun, jika terjadi pembagian warisan yang tidak dapat diselesaikan dengan musyawarah, para pihak berkonflik harus dapat mengajukan gugatan ke pengadilan sesuai dengan pilihan hukum yang sesuai. Adapun konflik pertanahan meliputi beberapa macam antara lain :

1) Masalah status tanah

Dalam pengelolaan tanah menimbulkan gejolak sosial didalam keluarga maupun masyarakat sehingga terjadi perebutan tanah yang tidak sesuai dengan ketentuan kepemilikan lahan yang sah, seperti : bukti pemilik lahan berupa sertifikat atas tanah yang ditunjukkan oleh para pihak yang satu sebagai pemegang. Penguasaan tanah akan bermasalah ketika ada pengaduan melalui kepastian hukum yang mengimplementasikan pasal yang sesuai dengan menerbitkan dokumen sesuai dengan pelaksanaan pengawasan yang didistribusikan oleh kepentingan masyarakat maupun keluarga yang ikut serta dalam konflik tanah warisan. Kebijakan dalam pemanfaatan lahan harus dapat membuktikan daya guna yang sesuai dengan kesejahteraan rakyat melalui pertumbuhan ekonomi rakyat atau nasional, namun dalam prosesnya harus dijadikan sebagai kepastian dalam pengukuran hak-hak tanah yang memberikan pelayanan sebagai kegiatan pertanahan.


(32)

2) Masalah kepemilikan

Kepemilikan tanah harus dapat menjunjung tinggi aturan secara seimbang dengan jumlah penduduk yang ada didesa tersebut sehingga terdapat proses yang mengalami perubahan pola pikiran yang dari waktu ke waktu terus berkembang. Perubahan kepemilikan di desa Ajibata sangat berpengaruh dari sebuah kelompok sosial yang dibuat melalui kedekatan dan kebersamaan antar masyarakat yang memiliki keinginan sebagai pemilik lahan karena ingin mengembangkan perekonomian dari keluarga mereka sendiri. Atas dasar menguasai hak milik diberikan wewenag untuk menggunakan tanah sebagai kepentingan yang diatur melalui peraturan perundangan agraria.

Scara umum dalam kepemilikan tanah warisan dikelompokkan berdasarkan kondisi perolehannya, yaitu

1. Sertifikat masih terdaftar atas nama pewaris dan akandibalik nama keseluruh ahli waris

2. Sertifikat masih terdaftar atas nama pasangan pewaris (suami/istri pewaris)

3. Sertifikat sudah terdaftar atas seluruh ahli waris dari pewaris (sudah dibalik nama), namun akan dilepaskan kesalah seorang ahli waris saja.

3) Masalah bukti-bukti perolehan yang menjadi dasar pemberian hak

Perselisihan pertanahan berdampak luas secara sosio-politis yang dapat didefenisikan berupa administratif, transaksi atas penguasaan tanah warisan. Apabila pemegang lahan tidak memiliki bukti seperti sertifikat maka


(33)

pemegang lahan tidak layak disebut pemilik tanah yang sebenarnya. Maka dalam hal ini masyarakat harus memilki bukti yang sah sebagai pemegang lahan agar tidak terjadi konflik yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam kehidupan sosial.

Sebagaimana diketahui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 di dalam Pasal 2, mengenai Hak menguasai negara tersebut berupa:

a. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa.

b. Menentukan dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan, dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa.

c. menentukan dan mengatur hubungan hukum antara orang dengan perbuatan-perbuatan hukum mengenai bumi, air dan ruang angkasa.

Adapun proses dalam penyelesaian konflik tanah warisan dilakukan secara:

a. Secara Kekeluargaan

Konflik perebutan tanah warisan sering terjadi antar keluarga yang sedang bersengketa. Sengketa ini biasanya terjadi karena adanya pergeseran batas tanah yang telah diberikan orang tuanya. Penyelesaian yang dilakukan dengan mempertemukan antar pihak sehingga orang tua dapat mengambil keputusan secara adil.

b. Secara adat

Tanah adat biasanya melalui forum mengumpulkan keluarga besar yang terlibat dengan di saksikan oleh warga yang bersengketa dan semua masyarakat yang berada pada wilayah kejadian. Setelah melakukan forum akan mendapatkan


(34)

keputusan dari tokoh adat yang menjadi saksi di kemudian hari tanah dipermasalahkan.

c. Secara hukum

Proses ini dilakukan sebagai penyelesaian tanah milik pribadi yang pihak keberatan harus menunjukkan beberapa bukti kepemilikan atas hak tanah,seperti: sertifikat, surat pembelian dan surat izin mendirikan bangunan.

Dalam penyelesaian konflik tanah warisan harus adanya usaha dalam menempuh perdamaian dengan cara non litigasi atau alternatif. Penyelesaian ini dilakukan dari beberapa tahap yaitu:

1. Tahap Musyawarah

Pada tahap ini di dalamnya terdapat tiga proses yang harus dilakukan oleh pihak terlibat antara lain :

a. Persiapan ditentukan siapa yang menjadi penengah atau mediatornya untuk mendukung musyawarah.

b. Diperoleh keterangan dari pemohon/penggugat dan pihak termohon/tergugat berkaitan dengan permasalahan dari saksi-saksi.

c. Penyimpulan pembicaraan, pembuatan surat pernyataan perdamaian, penandatanganan kesepakatan oleh para pihak yang bermasalah.

2. Tahap Pelaksanaan Musyawarah

Dalam tahap ini, para pihak-pihak melaksanakan kesepakatan agar dilakukan secara kondusif, sehingga pelaksanaannya relatif murah.


(35)

3. Tahap Penutupan Musyawarah

Apabila proses kesepakatan telah dicapai, maka musyawarah akan di tutup oleh pihak-pihak yang bermasalah agar berkompeten.

4.5 Pihak-Pihak Yang Terlibat Dalam Penyelesaian Konflik Tanah Warisan 4.5.1 Pihak keluarga Op. Johan dan Op.Mika

Dalam konflik ini dapat dijelaskan bahwa hubungan dari Op. Johan dengan Op.Mika termasuk hubungan yang dekat karena mereka merupakan pihak boru yang dituntut untuk hak tanah warisan. Tetapi pada dasarnya pemegang atau pemakai lahan ialah keluarga Op. Mika (Lonim). Pihak ini sangat bekerja sama untuk mempertahankan tanah yang diberikan orang tuanya walaupun tidak ada bukti yang mendominasi. Maka konflik ini dapat ditegaskan karena kentalnya budaya patriakhi terkhususnya pada masyarakat Batak Toba. Hal ini memunculkan renggangnya persaudaraan antar keluarga secara generasi yang membuat kesalahpahaman antar beberapa pihak yang berkonflik.

4.5.2 Pihak keluarga Op.Saiden, Op.Timo, Op.Tuppak

Keluarga ini merupakan keluarga dari bagian anak laki-laki yang tidak terima atas keputusan para pihak boru yang mengambil alih sebagai pemilik. Akibat hal ini terjadi penuntutan atas kepemilikan tanah warisan yang harus dibagi secara merata. Pihak ini sangat menuntut atas segala kinerja pemegang lahan yang hanya sebagai pemakai lahan saja. Maka pihak ini juga sangat bekerja sama untuk mengambil alih atas dasar sistem kekeluargaan yang mampu menunjukkan pertalian sedarah agar tidak terjadi pengambilan keputusan mendirikan tugu keturunannya sendiri tanpa ada diskusi yang baik


(36)

antar pihak-pihak keluarga yang bergenerasi. Menurut pihak ini mereka cukup diam atas beberapa tahun sebagai pemakai lahan yang tidak diberikan hasil atau sewa tanah yang merata.

Selain itu, adapun pihak yang ikut serta dalam menangani konflik tanah warisan di Ajibata, Seperti:

a. Pemerintah Kelurahan Ajibata Adapun peranan Pemerintah yakni:

1. Sebagai penegah untuk pihak-pihak yang berkonflik dengan cara adil. 2. Pemberi solusi baik secara mengajukan pembuatan sertifikat tanah maupun dalam mendamaikan pihak keluarga yang berkonflik.

b. Tokoh adat yang sudah lama tinggal di Ajibata dan telah berpengalaman dalam menangani konflik tanah warisan

Adapun peranan tokoh adat Batak Toba yakni:

1. Bersifat adil dengan menerima informasi yang bersengketa dari kepala desa yang berkaitan dengan laporan di lapangan.

2. Mempertimbangkan permasalahan dengan keputusan tanpa memihak salah satu pihak.

c. Peranan mediator

Mediator dianggap sebagai pihak ketiga, karena: kehendaknya sendiri, ditunjuk oleh tokoh adat, dan diminta kedua belah pihak. Adapun menjadi peranan mediator yakni:


(37)

2. Sebagai penasehat kepada pihak bersengketa 3. Peranan kepala desa

Pada hakikatnya, kasus pertanahan didasari karena adanya kepentingan antar individu maupun kelompok yang memiliki respon/reaksi terhadap penyelesaian konflik yang berkepentingan antar masyarakat maupun keluarga yang bersangkutan. Dalam proses ini bermula pada pengaduan pemegang lahan atas ketidaknyamanan pada tuntutan hak tanah, baik terhadap status tanah, prioritas, maupun kepemilikannya dengan harapan dapat memperoleh penyelesaian secara administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.

4.6Bentuk-Bentuk Penyelesaian Konflik Harta Warisan

Tanah warisan diperebutkan karena ada kepentingan dibidnag pertanahan antar individu dengan individu lainnya. Dalam hal ini konflik pertanahan diberikan respon maupun reaksi terhadap penyelesaian melalui pihak-pihak yang memiliki wewenang. Adapun solusi penyelesaian konflik tanah warisan melalui :

1) Solusi melalui BPN

Konflik tanah warisan timbul karena adanya pengaduan terhadap suatu keputusan tata usaha negara dibidang pertanahan yang terjadi kerugian atas hak-hak dibidang tanah tersebut. Dengan adanya pengaduan tanah masalah kepemilikan harus diperjelas melalui kelengkapan data yang diajukan segi prosedur, kewenangan dan penerapan hukumnya, agar kepentingan masyarakat atas bidang tanah yang diadukan disimpulkan sebagai proses yang dipertemukan melalui mediator perdamaian dalam masyarakat maupun keluarga.


(38)

Hak tanah dalam warisan muncul karena adanya pengaduan atas ketidakadilan hak tanah yang berisi kebenaran dan tuntutan terhadap suatu keputusan Tata Usaha Negara di bidang Pertanahan ditetapkan oleh pejabat di lingkungan Badan Pertahanan Nasional, dimana keputusan tersebut merugikan hak-hak mereka.

2) Solusi melalui badan peradilan

Musyawarah dalam penyelesaian konflik sangat dibutuhkan oleh pihak-pihak yang bersengketa, apabila proses tersebut tidak sepihak maka harus adanya pengaduan kepada kepala badan pertahanan nasional yang diputuskan melalui tata usaha negara sebagai konsekuensi dari penolakan keputusan antar masyarakat yang dijadikan sebagai kekuatan. Kewenangan dalam badan peradilan ini dapat memutuskan pembatalan atas suatu surat keputusan pemberian hak atas tanah atau sertifikat hak atas tanah.

Bentuk konflik tanah warisan merupakan serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh para pihak yang bermasalah dalam strategi penyelesaian konflik. Para pihak dapat mengembangkan beberapa strategi atau alternatif dalam menyelesaikan sengketa seperti:

a. Lumping it atau membiarkan saja kasus itu berlalu dan menganggap tidak perlu diperpanjang.

b. Avoidance atau mengelak yaitu para pihak yang merasa dirugikan memilih untuk tidak berhubungan lagi dengan pihak yang merugikan.

c. Coercion atau paksaan yaitu satu pihak memaksakan pemecahan pada pihak lain, misalnya debt collector.


(39)

d. Negotiation atau negosiasi yaitu dua pihak berhadapan merupakan cara pengambil keputusan.

e. Mediation atau mediasi adalah campur tangan dari pihak ketiga untuk menyelesaikan sengketa tanpa memperdulikan bahwa kedua belah pihak yang bersengketa meminta bantuan atau tidak.

f. Arbitration atau arbiterasi yaitu jika kedua belah pihak ketiga yakni arbitrator/arbiter untuk menyelesaikan sengketa dan sejak semula sepakat akan menerima keputusan apapun dari arbitratos.

g. Adjudication atau pengajuan sengketa ke pengadilan yaitu adanya campur tangan dari pihak ketiga (pengadilan) untuk menyelesaikan sengketa dan hasilnya ditaati oleh para pihak yang bersengketa.

Sumber: Soni Harsono, konflik pertanahan dan upaya-upaya penyelesaiannya,

studium generale disampaikan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional

pada FH-UGM, Yogyakarta, 17 Desember 1996, hal. 14-15

4.7 Kendala Atau Faktor-Faktor Penghambat Dalam Proses Penyelesaian Konflik Tanah Warisan

Pada permasalahan konflik tanah warisan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda dengan lainnya. Dalam penyelesaiannya harus terdapat musyawarah yang disebabkan oleh beberapa pihak yang bersangkutan atas konflik tersebut.

Faktor internal yang menghambat proses penyelesaian konflik tanah warisan disebabkan oleh:

1. Temperamen

Pihak yang berkonflik menjadi salah satu faktor yang menghambat proses musyawarah yang berkaitan dengan temperamen yang ada dalam diri beberapa


(40)

pihak. Hal ini merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam proses musyawarah karena memunculkan sifat emosional daripada mendengarkan pendapat orang lain. Dengan sikap seperti ini masalah tidak akan selesai.

2. Tingkat Pendidikan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap terhadap berjalannya suatu proses dalam penyelesaian konflik. Dalam hal ini terjadi kesulitan yang harus dimusyawarakan dengan mengalamii hal-hal yang menjadi fokus untuk menyelesaikan konflik tanah warisan dalam keluarga maupun masyarakat.

3. Kedisplinan

Dalam proses penyelesaian konflik tanah warisan kedisplinan menjadi salah satu faktor penghambat. Sering terjadi memihak pada pendapat diri sendiri tanpa mendengarkan pendapat orang lain. Sehingga tidak terjalin kesepakatan antar beberapa pihak.

4. Ketidakjelasan Batas Tanah Warisan

Tanah sebagai obyek kajian yang harus lebih diteliti sebelumnya mulai dari batas tanah maupun luas tanah. Akibat hal tidak diketahuinya batas tanah terjadi proses yang menghambat proses penyelesaian konflik tanah warisan.

4.8 Interpretasi Penelitian

4.8.1 Asal-Usul Konflik Perebutan Tanah Warisan Masyarakat Batak Toba

Harta warisan yang ditinggalkan orang tua untuk anaknya adalah sebuah tanah warisan dari orang tua yang di permasalahkan oleh anak-cucu mereka. Dalam


(41)

konflik ini terjadi karena tanah pemegang tersebut di pegang oleh kaum wanita (Boru) yang telah lama bertempat tinggal di Parsaoran Ajibata yang dianggap sebagai pemegang ataupun pemakai lahan warisan. Tanah warisan diperkirakan luasnya diperkirakan 8 rante (3.200 �2 ) yang berada didaerah Ajibata yang masih

digunakan sebagai lahan pertanian, dengan posisi letaknya tidak jauh dari jalan raya.Tanah warisan ini dapat dikatakan tanah subur karena setiap melakukan penanaman pasti mencapai panen yang cukup memuaskan. Sebenarnya, konflik ini bermula tidak ada pengaduhaan antar pihak-pihak yang masih memiliki hubungan darah. Kasus ini semakin parah ketika pemegang lahan mendirikan tugu keluarga dari suaminya di tempat tanah warisan yang belum di bagi dan dianggap milik bersama. Akibat wewenang yang dilakukan pemegang lahan dengan membangun tugu keluarganya terjadi pengaduan kepada pemerintah setempat (Lurah) dengan mengeluarkan keputusan sesuai berlaku. Dalam hal ini terjadi proses forum diskusi antar beberapa pihak yang bermasalah sehingga terjadi keributan ketidaksesuaian pendapat yang diberikan.

Proses ini menjadi suatu masalah yang rumit diselesaikan karena tidak ada kerja sama yang baik untuk mendengarkan beberapa pendapat yang diberikan oleh badan pemerintahan maupun tokoh adat yang ada didaerah tersebut. Permasalahan ini merupakan konflik keluarga yang harus di musyawarahkan dengan kepala dingin melalui arahan dalam menyelesaikan secara keluarga, dimana terdapat ikatan yang kuat terhadap suatu permasalahan yang berujung dengan pertikaian yang tidak bisa dihindarkan. Konflik keluarga ini senantiasa harus ikut berperan serta dalam menyelesaikannya sehingga tidak meluas kepada hal yang tidak bisa dihargai baik melalui kemampuan individu maupun keluarga yang dapat memunculkan


(42)

kecemburuan pada keluarga sendiri. Dalam mengenali konflik tanah warisan ini bisa terjadi ketika ada ruang sebagai privasi tentang kepemilikan yang dapat mempengaruhi kesulitan ekonomi melalui kedekatan sebagai keluarga. Dapat disimpulkan bahwa konflik ini masih belum selesai akibat dari tidak ada kerjasama yang baik antar beberapa pihak sehingga konflik ini hanya fakum saja.

4.8.2 Eskalasi konflik

Suatu konflik yang meningkat sebagai akibat aksi maupun tindakan yang direncanakan atau tidak direncanakan oleh pihak-pihak yang mengalami konflik tanah warisan. Dalam menghadapi eskalasi konflik yang ada di kawasan parsaoran Ajibata, dapat mengganggu situasi dan kondisi yang mampu mengancam ketertiban masyarakat sekitarnya. Dilihat dari permasalahan yang ada konflik tanah dibagi menjadi beberapa macam seperti:

a) Masalah menyangkut prioritas untuk ditetapkan sebagai pemegang hak yang sah atas tanah yang berstatus maupun yang tidak berstatus untuk hak tanahnya.

b) Ketidakmauan atas hak atau bukti yang digunakan sebagai pemberian hak. c) Kekeliruan antar pemberian hak yang disebabkan sebagai penerapan

peraturan yang kurang atau tidak benar.

d) Masalah tanah harus mengandung pada hubungan pada aspek-aspek sosial yang praktis (bersifat strategis).

Jadi dapat disimpulkan bahwa permasalahan tanah meliputi pokok persoalan yang berkaitan dengan :


(43)

2. Keabsahan suatu hak atas tanah 3. Prosedur pemberian hak atas tanah

4. Pendaftaran hak atas tanah termasuk peralihan dan penerbitan tanda bukti haknya.

4.8.3 Resolusi Konflik Tanah Warisan

Penanganan konflik adalah persoalan kebiasaan dan pilihan. Setiap pilihan resolusi konflik yang seharusnya selalu mempertimbangkan kesesuaian budaya budaya dan lingkungan dimana resolusi itu dipergunakan, sehingga dapat menghindari hambatan-hambatan kultural dan struktur sosial (Salahudin, 2002:35). Dengan demikian dalam mengatasi konflik dibidang tanah warisan harus melalui segala pendekatan mulai dari komunikasi yang dapat mendorong untuk mendirikan pemikiran yang menyelesaikan konflik agar tidak ketergantungan kepada keluarga dengan mempertimbangkan segala keputusan yang muncul keberadaannya di tengah-tengah keluarga.

Eskalasi dan De-Eskalasi

Sumber: Resolusi berbagai model dan strategi, M.Mukhsin Jamin.di akses 8Agustus2016,Pukul 22.15 WIB.

Deference Contradiction

Polarization Violence

War (Perang) Agustus

2015 Ceasefire

Agreement

Normalization


(44)

Eskalasi Dan Tangga Konflik

2016 Agustus sampai saat ini terjadi perang atas penuntutan tanah warisan

2015 Juli, Terjadi Pertikaian antar pihak berkonflik

2013, Ada Penuntutan 2012,Fakum

Konflik dapat dipahami sebagai proses mulai yang lebih rendah yaitu pada tahun 2012 yang masih fakum hingga ke bulan agustus 2015 terjadi perang yang lebih tinggi antar pihak penuntut dengan pemegang lahan. Disini dapat dilihat bahwa jika tidak ditangani dengan baik, sebuah konflik dapat melahirkan konflik baru dengan intensitas renggangnya kekeluargaan.

4.8.3 Renggangnya Hubungan Persaudaraan

Konflik pertanahan muncul karena adanya klaim atau pengaduan dari masyarakat maupun keluarga kepada pihak pemegang lahan yang berisi kebenaran dan tuntutan terhadap suatu keputusan. Dengan adanya pengaduan untuk hak milik atas tanah warisan yang harus di bagi secara merata melalui prosedur, kewenangan danpenerapan hukum terhapat kepentingan masyarakat (perorangan) yang berhak

Waktu

Proses pembentukan konflik

Peluang – peluang intervensi dan pengetahuan konflik


(45)

atas perlindungan yang memperhatikan pihak-pihak yang bersengketa. Dalam kehidupan iniharus adanya interaksi antar sesama baik dalam keluarga maupun masyarakat sehingga tidak memberikan kekecewaan yang bisa berakibat memutuskan renggangnya persaudaraan yang menimbulkan kebencian. Interaksi sangat mempengaruhi hubungan persaudaraan yang pada awalnya saling memperhatikan satu dengan yang lain, bahkan tidak ada keharmonisan hubungan yang ditimbulkan antar beberapa keluarga. Dalam hal ini konflik tanah warisan sangat berdampak pada keluarga yang memunculkan sifat ingin memiliki benda peninggalan yang ada di Parsaoran Ajibata. Daerah Ajibata dikenal sebagai tempat yang memiliki hubungan antar individu yang baik adanya, tetapi kedatangan konflik perebutan tanh warisan mempengaruhi pola tindakan maupun prilaku yang memunculkan sifat diri yang ingin menang sendiri tanpa memikirkan hak orang lain yang dianggap memiliki bagian yang sama.

4.8.4 Kekuatan Pembuktian Dalam Penyelesaian Konflik Tanah Warisan

Secara umum, kekuatan pembuktian dalam hal kebenaran dari suatu konflik yang terjadi mempunyai tiga macam kekuatan pembuktian, yaitu :

1. Kekuatan pembuktian formil merupakan suatu alat yang membuktikan antara para pihak bahwa mereka sudah menerang kanapa yang ditulis dalam akta tersebut.

2.Kekuatan pembuktian materiil merupakan suatu alat yang membuktikan antara para pihak, bahwa benar-benar peristiwa tersebut dalam akta itu telah terjadi.

3.Kekuatan mengikat merupakan suatu alat yang membuktikan antara para pihak dan pihak ketiga, bahwa pada tanggal tersebut dalam akta yang bersangkutan telah


(46)

menghadap kepada pegawai umum dan menerangkan apa yang ditulis dalam kata tersebut.

Oleh karena menyangkut pihak ketiga makadisebutkanbahwa kata otentik mempunyai kekuatan pembuktian keluar sepertisertifikat.Sertifikat merupakan sebuah buku tanah dan surat hukumnya menjadi suatu bukti yang bentuknya ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Adapun kekuatan pembuktian sertifikat, terdiri dari :

1. Sistem positif, terlihat dari suatusertifikat tanah yang diberikan sebagai tanda bukti hak atas tanah yang mutlak serta merupakan satu-satunya tanda bukti hak atas tanah

2. Sistem negatif, sistem ini diartikan sebagai apa yang tercantum didalam sertifikat tanah yang dianggap benar sampai dapat dibuktikan suatu keadaan yang sebaliknya atau tidak benar didepan sidang pengadilan.

4.8.5 Resolusi Konflik Tanah Warisan Di Kecamatan Ajibata Kabupaten Toba Samosir

Tanah warisan sering dijadikan sebagai kewenangan yang dimiliki masyarakat untuk mengambil manfaat dari sumberdaya alam, termasuk tanah, dalam wilayah tersebut untuk melangsungkan kehidupannya.Didaerah Ajibata terdapat masalah yang sangat kompleks mengenai perebutan tanahwarisan yang dijadikan sebagai tugu dari keluarga pemegang lahan.Dalam hal ini terjadi pengaduan dari kelompok yang mengaku ahli waris atas kepemilikan tanah yang selama ini digunakan sebagailahan panganan (lahan yang ditumbuhi sumber pangan seperti padi).Hal inimengakibatkan sebagian tanah terpakai dan dapat dikatakan melanggar


(47)

hak untuk memanfaatkan tanah keluarga atau tanah warisan.Sebenarnya masalah ini masalah keluarga dari turun-temurun yang masih belum terselesaikan.

4.8.6 Dampak Negatif Perebutan Tanah Warisan Di Ajibata

Daerah Ajibata termasuk daerah yang masih memiliki lahan kosong sehingga terjadi kemunculan untuk menggunakan lahan tersebut dengan cara untuk menuntut hak tanah. Hal-hal negatif muncul seperti adanya perubahan didalam benak keluarga yang berkonflik sehingga mengetahui fungsi tanah yang dapat dimanfaatkan melalui perubahan perekonomian yang didasari sebagai keuntungan terutama disektor pertanian, maka karena hal ini adanya ketidak seimbangan antar beberapa pihak yang ikut serta dalam memperebutkan tanah warisan.

4.8.7 Solusi Penyelesaian

Dalam penyelesaian tanah warisan di Ajibata perlua danya sebuah perubahan revolusi yang berlangsung secara cepat dan tidak ada kehendak atau perencanaan sebelumnya.Secara sosiologi perubahan revolusi merupakan perubahan sosial mengenai unsur kehidupanataulembagakemasyarakatan yang berlangsung relatif cepat.Perubahan ini terjadi direncanakan atau tidak direncanakan dengan melihat situasi dan kondisi yang ada dilingkungan masyarakat.Secara sosiologi, suatu revolusi dapat terjadi harus memenuhi syarat tertentu antara lain: mengadakan suatu perubahan untuk mencapai perbaikan dengan sekelompok yang dianggap mampu sebagai pemimpin masyarakat yang berkeinginan untuk mencapai tujuan yang bersifat konkrit dan dapat dilihat oleh masyarakat.Dalam hal ini keadaan sangat mempengaruhi pada gerakan yang dilakukan oleh setiap individu maupun kelompok terhadap perkembangan didalam kemasyarakatan.


(48)

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Tanah merupakan salah satu sumber kesejahteraan bagi manusia yang mengandung berbagai macam kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan manusia. Hubungan tanah dengan manusia membuat perubahan dalam tata susunan pemilikan dan penguasan tanah yang memberikan pengaruh pada pola hubungan antar manusia sendiri. Fungsi sosial dengan konsep pertanahan dapat diartikan bahwa tanah sebagai lahan hidup manusia yang pada dasarnya selalu hidup bersosial yang berfungsi untuk memfalitasi kegiatan sosial manusia sebagai suatu upaya dalam pengembangan implementasi pertanahan agar berjalan semestinya.

Dalam masyarakat Batak Toba sangat penting keberadaannya, apalagi tanah warisan orang tua, merupakan amanah yang harus dijaga dan dipertahankan dan diteruskan kepada anak cucunya. Tanah sangatlah erat kaitannya dengan budaya masyarakat Batak Toba. Dalam budaya Batak Toba, tanah sangatlah erat kaitannya dengan leluhur, makam, dan kekerabatan yang kuat. masyarakat Batak Toba termasuk masyarakat yang sangat menghargai tanah, bahkan di antaranya ada yang rela membela tanahnya dengan segenap nyawanya bahkan di antaranya dengan tradisi yang bermakna seseorang akan membela tanahnya meskipun harus taruhan nyawa.

Warisan paling dasar dan fundamental bagi Batak Toba adalah mewarisi garis silsilah, bukan harta kebendaan sebagaimana sering dipersengketakan antara


(49)

anak laki-laki dengan anak perempuan atas harta peninggalan orang tua. Batak adalah bangso yang menganut sistem keturunan atau kekerabatan garis bapa (patrilineal) sehingga meletakkan hak waris penuh pada anak laki-laki. Salah satu hak waris paling dasar bagi suku Batak, khususnya Suku Batak Toba adalah garis silsilah (Tarombo) yang diwariskan turun-temurun pada anak laki-laki. Sementara anak perempuan (boru) tak pernah dijadikan penerus garis silsilah (tarombo) sebab anak perempuan (boru) akan mewarisi garis silsilah (tarombo) suaminya pasca perkawinan. Berbagai kasus tuntutan hak waris Batak Toba yang diselesaikan melalui pengadilan negara belakangan ini perlu dipikirkan mendalam melalui pengertian, pemahaman komprehensif hak waris sejati dalam sistem garis keturunan patrilineal yakni garis Silsilah atau Tarombo Batak Toba dari generasi ke generasi. Sebab garis keturunan bapak bagi Batak, khususnya Batak Toba telah menjadi tatanan baku dalam sistem kekerabatan (Partuturan) secara universal. Sementara perebutan harta warisan hanyalah bersifat kasuistik diantara bersaudara satu bapak (marhaha maranggi, mariboto na marsaama) dalam pembagian harta warisan peninggalan orang tua.

Harta warisan merupakan suatu bentuk harta peninggalan yang di bagikan kepada keturunannya yang memiliki makna sebagai berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain secara mutlak. Dalam setiap individu berhak mendapatkan harta peninggalan (mewarisi) orang meninggal, baik karena hubungan baik dengan keluarga ataupun masyarakat. Harta warisan yang di tinggalkan bisa berupa uang atau materi ataupun benda berupa tanah.Konflik Tanah Warisan termasuk suatu fenomena yang ada di masyarakat yang menarik di bahas dengan konsep sistem kekerabatan yang direspon dan ditanggapi berbeda-beda oleh setiap


(50)

orang yang melihatnya.Konflik merupakan suatu hal yang wajar dalam dinamika kehidupan manusia. Konflik sering terjadi dan dialami oleh manusia. Dikalangan orang batak sudah sejak lama terjadi konflik (Panggabean dalam Simanjuntak 2009). Konflik disebabkan oleh timbulnya sakit hati sesama penduduk, perbedaan pandangan dalam proses pelaksanaan adat dalam perebutan harta warisan.

Konflik tanah dalam masyarakat dapat mempengaruhi pola pikir terhadap keinginan untuk mendapatkan hak milik secara adil dan merata. Masalah tanah bisa dianggap sebagai suatu permasalahan yang cukup rumit untuk di selesaikan karena menyangkut pada kehidupan sistem sosial yang berkaitan dengan penguasaan dan pemilikan tanah secara terarah. Persoalan terjadi ketika individu sewenang-wenang menguasai atau mendirikan suatu bangunan di dalam tanah tersebut tanpa memiliki bukti yang kuat berupa dokumen kepemilikan. Hal yang dilakukan dalam menyelesaikan konflik tanah dibuat dalam suatu pertemuan untuk terjalinnya komunikasi sehingga tercipta sikap damai dan rukun.

Konflik dalam keluarga merupakan salah satu yang menjadi penyebab dari ketidakharmonisan keluarga. Keharmonisan keluarga dapat tercipta jika fungsi-fungsi dalam keluarga dapat dijalankan dengan baik serta adanya keseimbangan dalam sistem keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi konflik keluarga petani dan keharmonisan keluarga, mengidentifikasi tipologi konflik dan keharmonisan keluarga, dan menganalisis hubungan antara karakteristik keluarga dan potensi konflik dengan keharmonisan keluarga. Populasi pada penelitian ini adalah keluarga yang ada di Ajibata Kecamatan Toba Samosir.


(51)

Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaannya berupa ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat punyang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya. Terjadinya permasalahan konflik pertanahan tanah pada masyarakat Batak Toba faktor diantaranya:

a. Penguasaan lahan produktif yang bukan hak milik

Dalam hakekatnya, penguasaan lahan produktif ini terjadi ketika tanah dahulunya tidak memiliki nilai namun setelah perkembangan zaman tanah tersebut diolah serta menghasilkan tanah semakin bernilai. Akibat berharganya tanah terjadi konflik kepentingan dan pemanfaatan situasi oleh pihak-pihak yang ingin mengolah tanah yang bukan miliknya. Hal ini diukur berdasarkan tanaman tanpa sertifikat dan kepemilikannya hanya diketahui oleh beberapa saksi yang menandatangani surat kuasa yang dikeluarkan kepala desa.

b. Status tanah yang tidak pasti

Badan hukum menjadi kekuatan dalam kehidupan masyarakat Batak Toba yang mengalami konflik tanah warisan. Kepemilikan tanah masih tidak jelas karena bersifat atas kepercayaan bersama dengan warga setempat.

c. Masalah penjualan tanah yang tidak jelas ukurannya

Dalam masyarakat Batak Toba, pembagian tanah warisan yang di jual didasarkan pada orang tua menempati dengan menanami tanaman di lahan tersebut. Kondisi inilah yang membuat semakin rumit atas pembagian tanah warisan ketika orang tua telah meninggal.


(52)

d. Masyarakat Batak Toba yang merantau

Permasalahan tanah akan terjadi pada keluarga ketika desakan ekonomi dan kurangnya keterampilan dalam mengolah lahan pertanian menjadikan anak-anak dari orang tua mewarisikan tanah orangtuanya pergi merantau. Keputusan merantau akan dimanfaatkan keluarga yang lainnya mengambil situasi untuk mendapatkan keuntungan.

Adapun konflik pertanahan meliputi beberapa macam antara lain : 1) Masalah status tanah

Dalam pengelolaan tanah menimbulkan gejolak sosial didalam keluarga maupun masyarakat sehingga terjadi perebutan tanah yang tidak sesuai dengan ketentuan kepemilikan lahan yang sah, seperti : bukti pemilik lahan berupa sertifikat atas tanah yang ditunjukkan oleh para pihak yang satu sebagai pemegang. Penguasaan tanah akan bermasalah ketika ada pengaduan melalui kepastian hukum yang mengimplementasikan pasal yang sesuai dengan menerbitkan dokumen sesuai dengan pelaksanaan pengawasan yang didistribusikan oleh kepentingan masyarakat maupun keluarga yang ikut serta dalam konflik tanah warisan. Kebijakan dalam pemanfaatan lahan harus dapat membuktikan daya guna yang sesuai dengan kesejahteraan rakyat melalui pertumbuhan ekonomi rakyat atau nasional, namun dalam prosesnya harus dijadikan sebagai kepastian dalam pengukuran hak-hak tanah yang memberikan pelayanan sebagai kegiatan pertanahan.


(53)

Kepemilikan tanah harus dapat menjunjung tinggi aturan secara seimbang dengan jumlah penduduk yang ada didesa tersebut sehingga terdapat proses yang mengalami perubahan pola pikiran yang dari waktu ke waktu terus berkembang. Perubahan kepemilikan di desa Ajibata sangat berpengaruh dari sebuah kelompok sosial yang dibuat melalui kedekatan dan kebersamaan antar masyarakat yang memiliki keinginan sebagai pemilik lahan karena ingin mengembangkan perekonomian dari keluarga mereka sendiri. Atas dasar menguasai hak milik diberikan wewenag untuk menggunakan tanah sebagai kepentingan yang diatur melalui peraturan perundangan agraria.

3) Masalah bukti-bukti perolehan yang menjadi dasar pemberian hak

Perselisihan pertanahan berdampak luas secara sosio-politis yang dapat didefenisikan berupa administratif, transaksi atas penguasaan tanah warisan. Apabila pemegang lahan tidak memiliki bukti seperti sertifikat maka pemegang lahan tidak layak disebut pemilik tanah yang sebenarnya. Maka dalam hal ini masyarakat harus memilki bukti yang sah sebagai pemegang lahan agar tidak terjadi konflik yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam kehidupan sosial.

Kondisi inilah yang membuat peneliti tertarik ingin mengkaji lebih dalam lagi, terkait pada sistem yang mempengaruhi keharmonisan yang di pahami berbeda-beda oleh masyarakat dalam sudut pandang Sosiologis.


(54)

1. Kepemilikan tanah harus memiliki bentuk sebagai bukti hak yang kuat dalam kepemilikan tanah beruma surat tanah. Sehingga, konflik perebutan tanah warisan kemungkinan akan terjadi pertikaian antar saudara maupun warga.

2. Agar ikut serta pemerintah dalam menangani kasus kepemilikan dan melakukan sosialisasi terhadap masyarakat guna dalam meningkatkan persaudaraan terhadap keluarga yang berkonflik.

3. Adanya ketegasan hukum yang kuat kepada masyarakat yang ingin memperkarakan dan menggeser batas tanah yang bukan miliknya secara tertulis.

4. Pembagian warisan harus adanya kesetaraan dari laki-laki maupun perempuan sehingga tidak adaa perbedaan yang membandingkan antar beberapa pihak tertentu.

5. Pihak yang berwewenang harus tetap adil dalam menangangi konflik tanah waris. Sehingga, tidak jadi bumerang antar keluarga maupun masyarakat.

6. Pihak mediator harus tetap adil dalam menangani masalah tanah warisan.

7.Adanya inisiatif antar aparat desa dalam penyelesaian masalah perebutan tanah warisan agar beberapa pihak tidak dirugikan.


(55)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Teori Konflik

Di dalam masyarakat sering terjadi konflik yang tidak bisa di hindarkan karena banyak sekali individu-individu atau lembaga-lembaga masyarakat antara yang satu dengan lainnya memiliki kepentingan yang berbeda, sehingga perbedaan kepentingan ini akan menyebabkan benturan politik yang mengarah kepada persaingan. Hal ini senada dengan Simmel dalam Soekanto (2002:69), bahwa konflik tidak terhindarkan dalam masyarakat. Masyarakat dipandangnya sebagai struktur sosial yang mencakup proses-proses asosiatif dan disosiatif yang hanya dapat dibedakan secara analitis.” Pada awal mula munculnya teori konflik dialektis, pandangan-pandangan teori struktural fungsional mendapat keraguan dari para sosiolog hingga pada akhirnya menciptakan alternatif lain dari teori fungsional atas dasar asumsi-asumsi (Soekanto, 2002: 68).

Dalam asumsi tersebut mengatakan bahwa, walaupun hubungan-hubungan sosial memperlihatkan adanya ciri-ciri suatu sistem, akan tetapi dalam hubungan-hubungan itu terdapat benih-benih konflik kepentingan. Fakta itu menunjukkan bahwa suatu sistem memungkinkan menimbulkan konflik. Dengan demikian, maka konflik merupakan suatu gejala yang ada dalam setiap sistem sosial. Konflik demikian cenderung terwujud dari kepentingan-kepentingan. Konflik sangat mungkin terjadi terhadap distribusi sumber-sumber daya yang terbatas dan kekuasaan. Konflik merupakan suatu sumber terjadinya perubahan pada sistem-sistem sosial.


(56)

Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa di dalam masyarakat pasti terdapat konflik-konflik kepentingan. Orang-orang atau kelompok yang berada di dalam posisi yang dominan dan menguntungkan (superordinat) akan selalu mempertahankan status selama mungkin, sedangkan bagi individu-individu atau kelompok yang berada di dalam posisi subordinat (kurang beruntung) akan mengusahakan perubahan yang positif bagi posisinya. Dalam usaha keduanya untuk mempertahankan status dan untuk mengusahakan perubahan (bagi subordinat) sering kali terbentur oleh kepentingan yang berlawanan, sehingga tak jarang jika keduanya akan terlibat konflik.

Konflik tanah terkait dengan status tanah, tanah menjadi kendali dalam kekuasaan ketika di pegang oleh kalangan adat (tuan adat) yang kemudian dikenal sebagai feodalisme. Feodalisme dalam perangkat yang sama diteruskan dalam kendali kolonialisme yang kadang kala keduanya bekerja sama dan juga berkonflik. Dalam persoalan konsep tentang tanah kepemilikan atau penguasaan tanah dengan prosedural yang penggunaan otoritas yang bersifat dikotomis atas otoritas negara yang berhadapan dengan subordinat masyarakat. Dalam hal ini konflik tidak dapat dihindarkan oleh masyarakat(simmel dan soekanto 2002:69).

2.2 Sejarah Singkat Masyarakat Batak Toba Di Ajibata

Batak Toba di Ajibatadiketahui sebagai suatu perkembangan desa dari masa ke masa yang dilihat dari hubungan erat dalam penduduk desa tersebut.Hal itu sangat terlihat dari penggunaan bahasa yang dipakai setiap harinya, adat istiadat yang berlaku dan silsilah dari keturunan antar generasi.Dalam uraian ini didesa ajibata sebelumnya memiliki prinsip adat istiadat yang asal mulanyadikenal sebagai asal yang tidak lepas dari Dalihan Na Tolu.


(57)

Berdasarkan hal ini, Dalihan Na Tolu dapat diartikan sebagai suatu aturan yang mengatur sistem kekerabatan marga-marga yang ada pada suku batak dan merupakan acuan hidup masyarakat batak yang merupakan sebagai berikut: Hula-Hula (Tulang), Dongan Sahutuha (Semarga), Boru (Anak Perempuan). Dapat disimpulkan sebagai asal mula masyarakat Batak Toba yang ada di kawasan Ajibata berdasarkan bagan (susunan) dari leluhur masyarakat Batak dibawah ini:

Berdasarkan bagan diatas dapat dikatakan asal mula masyarakat Ajibata berasal dari keturunan Raja Batak yang bernama Narasaon.Raja Narasaon adalah seorang raja yang terkenal sakti dan bijaksana yang mampu mensejahterakan masyarakat setempat. Dalam hal ini kerajaan batak yang brasal dari Raja Narasaon dapat dijelaskan dari bagan dibawah ini:

Si Raja Batak

Raja Isumbaon

SAGALA MALAU

Sorimangaraja

NAJAMBATON

NARASAON

NAISUANON

TUAN SORBADIBANUA

Guru Tateabulan


(58)

Raja

Sumber: Jurnal USU Institusional Repository, diakses pada tanggal 20 april 2016.

2.3 Sistem Sosial Pada Masyarakat Batak Toba

Di luar konteks keseluruhan, fokusnya adalah pada hubungan dari proses-proses pada teori sistem oleh buckley adalah hubungan dari bagian-bagian tidak dapat diperlakukan tingkat yang bervariasi dari sistem sosial. Jadi variasi dari proses internal juga mempengaruhi sistem sosial sistem sosial yang semakin kompleks yang mengintervasi di antara kekuatan eksternal dan tindakan sistem tersebut (George Ritzer,2010).

Sistem sosial yaitu peran-peran sosial itu saling berhubungan secara timbal balik dan saling tergangtung membentuk suatu kesatuan kehidupan bermasyarakat. Dalam hal ini talcott parsons membedakan 3 (tiga) unsur pokok dari tindakan warga masyarakat, yakni sistem kepribadian, sistem sosial dan sistem budaya. Sistem tersebut dianggap sebagai dasar dari struktur normatif sistem sosial dan bentuk-bentuk kebutuhan serta proses pengambilan keputusan dalam sistem kepribadian. Menurut talcott Parson, ada 2 (dua) hal terpenting bagi integrasi sistem sosial, yaitu:

Datu Pejel (Narason)

Raja Mangatur

Raja Mangarerak

Sitorus Sirait

Butar-butar

Raja Toga Manurung

Huta Gurgur

Sibitonga


(59)

a. Sistem sosial mampu mendorong warga masyarakat agar berprilaku atau bertindak sesuai dengan harapan dan perannya.

b. Sistem sosial harus menjahui tuntutan yang “aneh-aneh” dari para anggotanya, agar tidak menimbulkan penyimpangan atau konflik.

Kekerabatan menyangkut hubungan hukum antar orang dalam pergaulan hidup. Ada dua bentuk kekerabatan bagi suku Batak, yakni berdasarkan garis keturunan dan berdasarkan sosiologis, sementara kekerabatan teritorial tidak ada. Bentuk kekerabatan berdasarkan garis keturunan terlihat dari silsila dari kekerabatan berdasarkan sosiologis terjadi melalui perjanjian (padan antar marga tertentu) maupun karena perkawinan. Dalam tradisi Batak, yang menjadi kesatuan Adat adalah ikatan sedarah dalam marga, kemudian Marga. Artinya misalnya Harahap, kesatuan adatnya adalah Marga Harahap vs Marga lainnya.

Adat Batak/Tradisi Batak sifatnya dinamis yang seringkali disesuaikan dengan waktu dan tempat berpengaruh terhadap perbedaan corak tradisi antar daerah. Adanya falsafah dalam perumpamaan dalam bahasa Batak Toba yang berbunyi: Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul merupakan suatu filosofi agar kita senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah teman terdekat. Namun dalam pelaksanaan adat, yang pertama dicari adalah yang satu marga, walaupun pada dasarnya tetangga tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan Adat.

Apabila dilihat dari orang yang menerima warisannya, ada tiga macam sistemkewarisan di Indonesia yaitu sistem kolektif, kewarisan mayorat, kewarisan


(60)

individual. Diantara ketiga sistem kewarisan tersebut pada kenyataannya adayang bersifat campuran.

1. Sistem Kolektif

Apabila para waris mendapatkan harta peningalan yang diterima merekasecara kolektif bersama) dari pewaris yang tidak terbagi-bagi secaraperseorangan, maka kewarisan demikian itu disebut kewarisan kolektif. 2. Sistem Mayorat

Apabila harta pusaka yang tidak terbagi-bagi danhanya dikuasai anak tertua, yang berarti hak pakai, hak mengolah dan memungut hasilnya dikuasaisepenuhnya oleh anak tertua dengan hak dan kewajiban mengurus danmemlihara adik-adiknya yang pria dan wanita sampai mereka dapat berdiri sendiri, maka sistem ini disebut dengan sistem mayorat. Dalam hal sistemmayorat ini, dibagi menjadi mayorat laki-laki dan mayorat perempuan sertamayorat wanita bungsu.

3. Sistem Individual

Apabila harta warisan dibagi-bagi dan dapat dimiliki secara perorangan dengan hak milik, yang berarti setiap waris berhak memakai, mengolah danmenikmati hasilnya atau juga mentransaksikannya, terutama setelah pewariswafat, maka kewarisan demikian disebut “kewarisan individual”. Sistemkewarisan individual memiliki ciri-ciri yaitu harta peninggalan atau harta warisan dapat dibagi-bagikan di antara para ahli waris seperti yang terjadi dalam masyarakat bilateral.

Hubungan sosial dengan sesama marga diatur melalui hubungan perkawinan, terutama antara marga pemberi pengantin wanita (boru) dengan marga penerima


(61)

pengantin wanita (hula-hula). Untuk mempertahankan kelestarian kelompok kerabat yang patrilineal, marga-marga tersebut tidak boleh tukar menukar mempelai. Karena itu hubungan perkawinan satu jurusan mamaksa setiap marga menjalin hubungan perkawinan dengan sekurang-kurangnya dua marga lain, yaitu dengan marga pemberi dan marga penerima mempelai wanita. Marga-marga atau klen patrilineal secara keseluruhan mewujudkan sub-suku daripada sukubangsa Batak. Pertumbuhan penduduk dan persebaran mereka di wilayah pemukiman yang semakin luas serta pengaruh-pengaruh dari luar menyebabkan perkembangan pola-pola adaptasi bervariasi dan terwujud dalam keanekaragaman kebudayaan Batak dan subsuku masing-masing.

Berlandaskan pada hubungan perkawinan yang tidak timbal-balik itulah masyarakat Batak mengatur hubungan sosial antarmarga dengan segala hak dan kewajibannya dalam segala kegiatan sosial mereka. Organisasi itu dikenal sebagai dalihan na tolu atau tiga tungku perapian. Marga pemberi mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dalam upacara maupun kegiatan adat terhadap marga penerima mempelai wanita. Dengan demikian ada keseimbangan hubungan antara perorangan dengan kelompok yang menganut garis keturunan kebapakan. Walaupun seorang wanita yang menikah akan kehilangan segala hak dan kewajibannya dari hak marga asal dan berpindah mengikuti kelompok kerabat suami, namun marga asal tetap mendapat kehormatan sebagai pemberi mempelai wanita yang amat penting artinya sebagai penerus generasi.


(62)

2.4 Harta Warisan Bagi Masyarakat Batak Toba

Masyarakat Batak menganut sistim kekeluargaan yang patrilineal yaitu garis keturunan ditarik dari ayah. Hal ini terlihat dari marga yang dipakai oleh orang Batak yang turun dari marga ayahnya. Melihat dari hal ini jugalah secara otomatis bahwa kedudukan kaum ayah atau laki-laki dalam masyarakat adat dapat dikatakan lebih tinggi dari kaum wanita (sulistyowati,2003). Namun bukan berarti kedudukan wanita lebih rendah. Apalagi pengaruh perkembangan zaman yang menyetarakan kedudukan wanita dan pria terutama dalam hal pendidikan.

Dalam masyarakat Batak non-parmalim (yang sudah bercampur dengan budaya dari luar), hal itu juga dimungkinkan terjadi. Meskipun besaran harta warisan yang diberikan kepada anak perempuan sangat bergantung pada situasi, daerah, pelaku, doktrin agama dianut dalam keluarga serta kepentingan keluarga. Apalagi ada sebagian orang yang lebih memilih untuk menggunakan hukum perdata dalam hal pembagian warisannya.

Hak anak tiri ataupun anak angkat dapat disamakan dengan hak anak kandung. Karena sebelum seorang anak diadopsi atau diangkat, harus melewati proses adat tertentu. Yang bertujuan bahwa orang tersebut sudah sah secara adat menjadi marga dari orang yang mengangkatnya. Tetapi memang ada beberapa jenis harta yang tidak dapat diwariskan kepada anak tiri dan anak angkat yaitu Pusaka turun – temurun keluarga. Karena yang berhak memperoleh pusaka turun-temurun keluarga adalah keturunan asli dari orang yang mewariskan.

Dalam ruhut-ruhut adat Batak (Peraturan adat batak) jelas di sana diberikan pembagian warisan bagi perempuan yaitu, dalam hal pembagian harta warisan bahwa anak perempuan hanya memperoleh: Tanah (Hauma pauseang), Nasi Siang (Indahan


(63)

Arian), warisan dari Kakek (Dondon Tua), tanah sekadar (Hauma Punsu Tali). Dalam adat Batak yang masih terkesan Kuno, peraturan adat – istiadatnya lebih terkesan ketat dan lebih tegas, itu ditunjukkan dalam pewarisan, anak perempuan tidak mendapatkan apapun. Dan yang paling banyak dalam mendapat warisan adalah anak Bungsu atau disebut Siapudan yaitu berupa Tanah Pusaka, Rumah Induk atau Rumah peninggalan Orang tua dan harta yang lain nya dibagi rata oleh semua anak laki–laki nya.

Anak siapudan juga tidak boleh untuk pergi meninggalkan kampung halamannya, karena anak Siapudan tersebut sudah dianggap sebagai penerus ayahnya, misalnya jika ayahnya Raja Huta atau Kepala Kampung, maka itu Turun kepada Anak Bungsunya (Siapudan). Jika kasusnya orang yang tidak memiliki anak laki-laki maka hartanya jatuh ke tangan saudara ayahnya. Sementara anak perempuannya tidak mendapatkan apapun dari harta orang tuanya. Dalam hukum adatnya mengatur bahwa saudara ayah yang memperoleh warisan tersebut harus menafkahi segala kebutuhan anak perempuan dari si pewaris sampai mereka berkeluarga.

2.5Makna Tanah Keluarga (Turun-Menurun) Bagi Masyarakat Batak Toba Tanah keluarga (turun-menurun) merupakan tanah kepunyaan bersama yang diyakini sebagai peninggalan yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan pengelolaannya. Tanah keluarga juga dapat di artikan sebagai warisan dari leluhur yang harus dilanjutkan oleh generasi berikutnya dan di jaga dengan baik. Di dalam adat terdapat unsur hukum, aturan dan tata cara yang mengatur tentang hubungan manusia dan manusia. Menurut masyarakat Batak Toba, adat merupakan pemberian Mulajadi Na Bolon yang harus dituruti oleh makhluk penciptanya. Adat inilah yang


(64)

menjadi hukum bagi setiap orang yang memberikan pengetahuan tentang cara kehidupan untuk membedakan yang baik dan yang buruk.

Pembagian warisan orang tua yang mendapatkan warisan adalah anak laki– laki sedangkan anak perempuan mendapatkan bagian dari orang tua suaminya atau dengan kata lain pihak perempuan mendapatkan warisan dengan cara hibah. Pembagian harta warisan untuk anak laki–laki juga tidak sembarangan, karena pembagian warisan tersebut ada kekhususan yaitu anak laki – laki yang paling kecil atau dalam bahasa batak nya disebut Siapudan.Dalam perubahan zaman, peraturan adat tersebut tidak lagi banyak dilakukan oleh masyarakat batak yang sudah merantau dan berpendidikan. Selain pengaruh dari hukum perdata nasional yang dianggap lebih adil bagi semua anak, juga dengan adanya persamaan gender dan persamaan hak antara laki – laki dan perempuan maka pembagian warisan dalam masyarakat adat Batak Toba saat ini sudah mengikuti kemauan dari orang yang ingin memberikan warisan. Jadi hanya tinggal orang-orang yang masih tinggal di kampung atau daerah lah yang masih menggunakan waris adat seperti di atas. Beberapa hal positif yang dapat disimpulkan dari hukum waris adat dalam suku Batak Toba yaitu laki-laki bertanggung jawab melindungi keluarganya, hubungan kekerabatan dalam suku batak tidak akan pernah putus karena adanya marga dan warisan yang menggambarkan keturunan keluarga tersebut. Dimanapun orang batak berada adat istiadat (partuturan) tidak akan pernah hilang. Bagi orang tua dalam suku batak anak sangatlah penting untuk diperjuangkan terutama dalam hal pendidikan. Karena ilmu pengetahuan adalah harta warisan yang tidak bisa di hilangkan atau ditiadakan. Dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan maka seseorang akan mendapat harta yang melimpah dan mendapat kedudukan yang lebih baik di kehidupan nanti. Secara


(1)

v 10.Seluruh keluarga besar penulis khususnya keluarga besar Marga Manurung dan Boru Siregar terimakasih untuk bantuan serta dorongan semangat juga kepada keluarga besar yang ada di desa Ajibata dan Siregar Aek na Las.

11.Tidak lupa juga kepada teman-teman seperjuangan untuk bimbingan skripsi (Kak Melisa, Evelina, Julianti, Martina, Dewi, indah, Binsar, Fernando, Walber, Tribuana, Sri Rangkuti, Joy, Endy).

12.Teman-teman yang saya rindukan di Departemen Sosiologi stambuk 2012 yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu, terimakasih untuk kebersamaan kita, perjuangan kita dan atas bantuan, saran serta motivasi serta doanya.

13.Buat sahabatku Nurafni, Martha, Masraini, Anggiat, Eka, Risky dan Binaria terimakasih untuk kebersamaan kita, dorongan semangat serta motivasi dari kalian. 14.Buat adik-adikstambuk 2013(Winda,Andika,Bonar,Doharma,Hilda,Syamsul,

Hilda),2014 (Juliarta,Cekwan), 2015 (Ahmad akhir, Chanra) dan teman-teman yang lainnya tidak bisa saya sebutkan satu persatu treimakasih buat bantuan dan dukungannya.

Medan, Agustus 2016 Penulis


(2)

DAFTAR ISI

Halaman Judul...I Halaman Persetujuan...II Abstrak...III

Abstrac...IV Kata Pengantar...V Daftar Isi...VIII

Daftar Tabel...XII

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah...1

1.2Perumusan Masalah...19

1.3Tujuan Penelitian...19

1.4Manfaat Penelitian... 20

1.4.1 Manfaat Teoritis... 20

1.4.2 Manfaat Praktis... 20

1.5Defenisi Konsep...21

1.5.1 Konflik Pertanahan...21

1.5.2 Tanah Warisan...22

1.5.3 Keluaga...22

1.5.4 Sistem Kekerabatan...22

1.5.5 Suku Batak Toba...23

1.5.6 Resolusi Konflik...23


(3)

ix BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Konflik... 25

2.2 Sejarah Singkat Masyarakat Batak Toba Di Ajibata...26

2.3 Sistem Sosial Pada Masyarakat Batak Toba...28

2.3 Harta Warisan Bagi Masyarakat Batak Toba...32

2.4 Makna Tanah Keluaga (Turun Menurun) Bagi Masyarakat Batak Toba...33

2.5 Hukum Adat Masyarakat Batak Toba Terhadap Harta Warisan...39

2.6 Fungsi Sosial Tanah Wrisan Bagi Masyarakat Batak Toba...41

2.7 Sistem Kekerabatan Dalam Pembagian Harta Warisan...43

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian... .44

3.2 Lokasi Penelitian...45

3.3 Unit Analisis Dan Informan...46

3.3.1 Unit Analisis... 46

3.3.2 Infoman...46

3.4. Teknik Pengumpulan Data...47

3.4.1 Teknik Pengumpulan Data Primer...47

3.4.1.1 Observasi Atau Pengamatan...48

3.4.1.2 Wawancara Mendalam...48

3.4.2 Teknik Pengumpulan Data Sekunder...49

3.5 Interpetasi Data...49

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian...50


(4)

4.1.2 Komposisi Penduduk...51

4.2 Deskripsi Subjek Penelitian...55

4.3 Faktor Penyebab Terjadinya Konflik Perebutan Tanah Warisan...64

4.4 Proses Penyelesaian Konflik Tanah Warisan...66

4.5 Pihak Yang Terlibat Dalam Penyelesaian Konflik Tanah Warisan...72

4.5.1 Pihak keluarga Op. Johan dan Op.Mika...70

4.5.2 Pihak keluarga Op.Saiden, Op.Timo, Op.Tuppak...70

4.6 Bentuk-Bentuk Penyelesaian Tanah Warisan...72

4.7 Kendala Atau Faktor-Faktor Penghambat Dalam Proses Penyelesaian Konflik Tanah Warisan...74

4.8 Interpretasi Penelitian...75

4.8.1 Asal-Usul Konflik Perebutan Tanah Warisan Masyarakat Batak Toba...75

4.8.2 Eskalasi Konflik...77

4.8.3 Renggangnya Hubungan Persaudaraan...79

4.8.4 Kekuatan Pembuktian Dalam Penyelesaian Konflik Tanah Warisan...80

4.8.5 Resolusi Konflik Tanah Warisan Di Kecamatan Ajibata Kabupaten Toba Samosir...81

4.8.6 Dampak Negatif Perebutan Tanah Warisan Di Ajibata...82

4.8.7 Solusi Penyelesaian...82

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan...83


(5)

xi 5.2 Saran...90 DAFTAR PUSTAKA...92 LAMPIRAN


(6)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Pembagian Harta Warisan Dalam Keluarga Batak Toba ……..…....…. 6

Tabel 2: Bentuk Harta Peninggalan Seseorang Yang Telah Meninggal Dunia...10

Tabel 3: Kategori terjadinya konflik perebutan Tanah Warisan…………..……. 13

Tabel 4: Pembagian harta warisan menurut suku Batak Karo (Patrilineal), Jawa (Matrilineal) dan suku Dayak landak & Dayak tayan (Bilateral)...14

Tabel 5: Pembagian Tanah Warisan yang Di anggap Seimbang Antara Lain …. 18 Tabel 6:Jumlah penduduk Kelurahan Parsaoran Ajibata...52

Tabel 7: Daftar Pendidikan Formal (Sekolah) Di Kabupaten Ajibata...53

Tabel 8: Luas Wilayah Berdasarkan Penggunaan Tanah...56