PENERAPAN MODEL TREFFINGER UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA KELAS V SD NEGERI 03 METRO BARAT TAHUN PELAJARAN 2014/2015

ABSTRAK

PENERAPAN MODEL TREFFINGER UNTUK MENINGKATKAN
AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA
PEMBELAJARAN IPA KELAS V
SD NEGERI 03 METRO BARAT
TAHUN PELAJARAN
2014/2015

Oleh
DIANTY EPRILIAN
Masalah yang terdapat dalam penelitian adalah rendahnya hasil belajar IPA
yang ditunjukkan dengan persentase ketuntasan siswa sebesar 48,57%. Tujuan
penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPA melalui penerapan
model treffinger.
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan tahapan setiap
siklus, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Alat pengumpul
data penelitian menggunakan lembar pengamatan dan lembar soal tes. Teknik
analisis data menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model treffinger dapat
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA. Hal tersebut ditunjukkan dari
persentase ketuntasan aktivitas siswa yang mencapai kategori minimal aktif pada
siklus I sebesar 57,14% dengan nilai rata-rata 60,57 meningkat pada siklus II
menjadi 80% dengan nilai rata-rata 79,14. Persentase ketuntasan kognitif siswa
yang telah mencapai KKM pada siklus I sebesar 60% dengan nilai rata-rata 67,20
meningkat pada siklus II menjadi 80% dengan nilai rata-rata 75,89. Persentase
ketuntasan nilai afektif siswa yang mencapai kategori minimal baik pada siklus I
sebesar 57,14% dengan nilai rata-rata 59,73 kemudian meningkat pada siklus II
menjadi 77,14% dengan nilai rata-rata 78,84. Persentase ketuntasan nilai
psikomotor siswa yang mencapai kategori minimal baik pada siklus I sebesar
57,14% dengan nilai rata-rata 65,32 kemudian meningkat pada siklus II menjadi
77,14% dengan nilai rata-rata 80,54.
Kata kunci: aktivitas, hasil belajar, model treffinger

PENERAPAN MODEL TREFFINGER UNTUK MENINGKATKAN
AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA
PEMBELAJARAN IPA KELAS V
SD NEGERI 03 METRO BARAT
TAHUN PELAJARAN
2014/2015

Oleh

DIANTY EPRILIAN

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
SARJANA PENIDIKAN

Pada
Program Studi S1 PGSD
Jurusan Ilmu Pendidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2015

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Natar, Kabupaten Lampung
Selatan pada tanggal 03 April 1993, sebagai anak pertama
dari dua bersaudara, pasangan Bapak Meni dan Ibu
Supiyah.
Penulis menempuh Pendidikan Sekolah Dasar (SD)
di SD Negeri 1 Kresnowidodo, Kabupaten Pesawaran diselesaikan pada tahun
2005, Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP Negeri 2 Tegineneng,
Kabupaten Pesawaran diselesaikan pada tahun 2008, dan menyelesaikan
Pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA Negeri 1 Natar, Kabupaten
Lampung Selatan pada tahun 2011.
Pada tahun 2011, penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi S1PGSD melalui Seleksi UML, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

PERSEMBAHAN

Bismillahirrohmanirrohim…
Kupersembahkan karya ini sebagai rasa syukur kepada ALLAH Swt beserta Nabi
junjungan kami Muhammad SAW dan ucapan terima kasih serta rasa banggaku
kepada:
Ayahanda dan Ibundaku tercinta, Bapak Meni, ST. dan Ibu Supiyah, S.Pd.
Yang sudah membesarkanku, mendidik, bekerja membanting tulang yang tiada ternilai
harganya, dan selalu memberikan semangat untuk terus berjuang dalam menggapai
cita-cita, dan tidak pernah lelah untuk selalu memberikan do’a, dan nasihat.
Adik tercinta Yudha Yudistira
Yang selalu memberikan motivasi dalam setiap senyuman dan semangat untuk terus
berjuang dalam menggapai cita-cita, terimakasih.
Yang tercinta Isnaini Fitrah Sari, Sovia Rina, dan Dessy Ayu Purwandari
Yang selalu memberikan senyum, dukungan dan motivasi untuk terus berjuang dalam
menyelesaikan skripsi ini, terimakasih.
Teman-teman Angkatan 2011
Yang selalu memberikan motivasi, senyum dan semangat untuk terus berjuang dalam
menyelesaikan studi ini, terimakasih.
Almamater tercinta Universitas Lampung

i

MOTO

“Man Jadda Wa Jadda”
“Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil”
(Al-hadits)
“Dua kunci keberhasilan dalam hidup yaitu belajar pada orang yang telah
sukses dan belajar pada orang yang pernah gagal dalam hidup”
(John Savique Capone)

SANWACANA

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, kasih
sayang serta hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan
skripsi yang berjudul “Penerapan Model Treffinger untuk Meningkatkan Aktivitas
dan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran IPA Kelas V SD Negeri 03 Metro
Barat Tahun Pelajaran 2014/2015”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat
yang harus ditempuh untuk mendapatkan gelar sarjana pendidikan di Universitas
Lampung.
Penyusunan skripsi ini dapat terwujud berkat adanya bantuan dari berbagai
pihak, untuk itu dalam kesempatan ini dengan segala kerendahan hati peneliti
menyampaikan terimakasih kepada yang terhormat:
1.

Bapak Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S., Rektor Universitas Lampung
yang mengesahkan ijasah dan gelar sarjana kami, sehingga peneliti
termotivasi untuk menyelesaikan skripsi ini.

2.

Bapak Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si., Dekan FKIP Universitas Lampung
yang telah memberikan semangat kemajuan serta dorongan untuk
memajukan FKIP.

3.

Ibu Dr. Riswanti Rini, M.Si., Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP
Universitas Lampung yang telah memberikan sumbangsih untuk kemajuan
program studi PGSD.

4.

Bapak Dr. Hi. Darsono, M.Pd., Ketua Program Studi PGSD FKIP
Universitas Lampung yang telah memberikan banyak ilmu dan ide-ide
kreatif untuk memajukan kampus tercinta PGSD.

5.

Bapak Drs. Siswantoro, M.Pd., Koordinasi Kampus B FKIP Unila yang
telah memberikan banyak ilmu selama masa kuliah dan memberikan
bantuan untuk kelancaran penyusunan skripsi ini.

ii

6.

Bapak Dr. Alben Ambarita, M.Pd., Dosen Penguji skripsi yang telah
memberikan saran-saran yang berharga mulai dari seminar proposal hingga
ujian skripsi.

7.

Bapak Drs. A. Sudirman, M.H., Dosen Pembimbing I yang telah
memberikan arahan dan masukan yang berharga kepada peneliti.

8.

Ibu Dra. Siti Racmah Sofiani, Dosen Pembimbing II yang telah memberikan
arahan dan masukan yang berharga kepada peneliti dengan penuh
kesabaran.

9.

Bapak Drs. Muncarno, M.Pd., Dosen Pembimbing Akademik yang telah
memberikan arahan dan motivasi kepada peneliti.

10.

Bapak Drs. Sunarto., Kepala Sekolah SD Negeri 03 Metro Barat serta
dewan guru dan staf yang telah memberikan izin dan dukungan dalam
pelaksanaan penelitian dan penyusunan skripsi ini.

11.

Ibu Mulyati, SPd. SD., wali kelas V yang telah bersedia menjadi teman
sejawat dan membantu dalam pelaksanaan penelitian.

12.

Siswa-siswi kelas V SD Negeri 03 Metro Barat, yang telah membantu
dengan berpartisipasi aktif sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan
baik.

13.

Sahabat-sahabatku yang selalu memotivasi, memberikan semangat, dan
menemani perjuangan untuk menyelesaikan skripsi ini, terimakasih untuk
Isnaini Fitrah Sari, Sovia Rina, Dessy Ayu Purwandari, Rani Rahmawati,
Riyani Cahyanti, Nanda Pratiwi, Dwi Septi, Fitri Handayani, Ahmad
Herwanto dan Nurlita Sari Ningsih yang yang selalu menghadirkan
semangat dan kebersamaan yang tak terlupakan.

14.

Teman-teman angkatan 2011 kelas A dan B, yang selalu menghadirkan
semangat dan kebersamaan yang tak terlupakan.

15.

Semua pihak yang namanya tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu yang
telah membantu kelancaran dalam penyusunan skripsi ini.

iii

Akhir kata, peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan, akan tetapi peneliti berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat
bagi kita semua.

Metro,

Juni 2015

Peneliti,

Dianty Eprilian

iv

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL .....................................................................................
DAFTAR GAMBAR ................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................

vii
viii
ix

BAB I PENDAHULUAN .....................................................................
A. Latar Belakang ...........................................................................
B. Identifikasi Masalah ...................................................................
C. Ruang Lingkup Penelitian ..........................................................
D. Rumusan Masalah .......................................................................
E. Tujuan Penelitian .......................................................................
F. Manfaat Penelitian .....................................................................

1
1
6
7
7
8
8

BAB II KAJIAN PUSTAKA ..................................................................
A. Model Pembelajaran ..................................................................
B. Model Treffinger .........................................................................
1. Pengertian Model Treffinger .................................................
2. Pengertian Kreativitas ...........................................................
3. Kelebihan dan Kelemahan Model Treffinger.........................
4. Langkah-langkah Model Treffinger .......................................
C. Belajar ........................................................................................
1. Belajar ...................................................................................
2. Aktivitas Belajar.....................................................................
3. Hasil Belajar ..........................................................................
D. Pembelajaran IPA ......................................................................
1. Pengertian Pembelajaran IPA ...............................................
2. Tujuan Pembelajaran IPA ......................................................
E. Kerangka Pikir ...........................................................................
F. Hipotesis Tindakan ....................................................................

10
10
11
11
13
15
16
19
19
20
22
28
28
30
31
34

BAB III METODE PENELITIAN ..........................................................
A. Jenis Penelitian ...........................................................................
B. Setting Penelitian .......................................................................
1. Tempat Penelitian ..................................................................
2. Waktu Penelitian ...................................................................
3. Subjek Penelitian....................................................................
C. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ..........................................
1. Teknik Pengumpulan Data ....................................................

35
35
37
37
37
37
37
37

v

2. Alat Pengumpulan Data ........................................................
D. Teknik Analisis Data .................................................................
1. Teknik Analisis Data Kualitatif ............................................
2. Teknik Analisis Data Kuantitatif ..........................................
E. Prosedur Penelitian ....................................................................
1. Siklus I ..................................................................................
2. Siklus II .................................................................................
F. Indikator Keberhasilan ...............................................................

38
45
45
49
51
51
54
57

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................
A. Profil SD Negeri 03 Metro Barat ...............................................
1. SD Negeri 03 Metro Barat .....................................................
2. Tenaga Pendidik SD Negeri 03 Metro Barat .........................
3. Keadaan Siswa SD Negeri 03 Metro Barat ............................
B. Prosedur Penelitian .....................................................................
1. Deskripsi Awal .......................................................................
2. Refleksi Awal .........................................................................
C. Pelaksanaan Kegiatan dan Hasil Penelitian Siklus I ...................
1. Perencanaan............................................................................
2. Pelaksanaan ............................................................................
3. Pengamatan ............................................................................
4. Refleksi ..................................................................................
5. Saran perbaikan ......................................................................
D. Pelaksanaan Kegiatan dan Hasil Penelitian Siklus II .................
1. Perencanaan............................................................................
2. Pelaksanaan ............................................................................
3. Pengamatan ............................................................................
4. Refleksi ..................................................................................
E. Pembahasan ................................................................................
1. Kinerja Guru...........................................................................
2. Aktivitas ................................................................................
3. Hasil Belajar Kognitif ............................................................
4. Hasil Belajar Afektif .............................................................
5. Hasil Belajar Psikomotor ......................................................

58
58
58
59
59
59
59
60
61
61
62
73
83
85
86
86
87
97
104
106
106
107
109
112
114

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................
A. Kesimpulan ................................................................................
B. Saran ..........................................................................................

117
117
118

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................
LAMPIRAN .............................................................................................

120
123

vi

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. Jadwal kegiatan penelitian tindakan kelas ..............................................
37
2. Indikator kinerja guru ..............................................................................
39
2. Rubrik penilaian kinerja guru .................................................................
40
3. Indikator aktivitas ...................................................................................
40
4. Kisi-kisi soal tes formatif........................................................................
41
5. Indikator hasil belajar afektif ..................................................................
42
6. Rubrik penilaian hasil belajar afektif .....................................................
43
6. Indikator hasil belajar psikomotor ..........................................................
44
7. Rubrik penilaian hasil belajar psikomotor ..............................................
44
8. Kategori keberhasilan kinerja guru .........................................................
45
7. Kategori nilai aktivitas siswa .................................................................
46
8. Kategori tingkat keberhasilan aktivitas, hasil belajar afektif, psikomotor,
dan kognitif secara klasikal ....................................................................
47
9. Kategori nilai hasil belajar afektif siswa ................................................
47
10. Kategori nilai hasil belajar psikomotor siswa.........................................
48
11. Kategori nilai hasil belajar kognitif siswa .............................................
50
12. Rekapitulasi nilai kinerja guru siklus I ...................................................
73
13. Rekapitulasi nilai aktivitas siklus I .........................................................
76
14. Rekapitulasi nilai hasil belajar kognitif pada siklus I .............................
78
15. Rekapitulasi nilai hasil belajar afektif siklus I........................................
80
16. Rekapitulasi nilai hasil belajar psikomotor siklus I ................................
82
17. Rekapitulasi nilai kinerja guru siklus II ..................................................
97
18. Rekapitulasi nilai aktivitas siklus II........................................................
99
19. Rekapitulasi nilai hasil belajar kognitif pada siklus II ........................... 100
20. Rekapitulasi nilai hasil belajar afektif siklus II ...................................... 101
21. Rekapitulasi nilai hasil belajar psikomotor siklus II............................... 103
22. Rekapitulasi kinerja guru siklus I dan siklus II ...................................... 106
23. Rekapitulasi aktivitas siklus I dan siklus II ............................................ 108
24. Rekapitulasi hasil belajar kognitif siklus I dan siklus II ......................... 110
25. Rekapitulasi hasil belajar afektif siklus I dan siklus II ........................... 112
26. Rekapitulasi hasil belajar psikomotor siklus I dan siklus II .................... 114

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Kerangka pikir penelitian tindakan kelas ...............................................
2. Alur siklus penelitian tindakan kelas ......................................................
3. Gambar peningkatan nilai kinerja guru ..................................................
4. Gambar peningkatan nilai aktivitas siswa ..............................................
5. Gambar peningkatan nilai hasil belajar kognitif siswa ...........................
6. Gambar peningkatan nilai hasil belajar afektif siswa .............................
7. Gambar peningkatan nilai hasil belajar psikomotor siswa .....................

32
36
106
108
110
112
114

viii

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Menghadapi tantangan masa depan dalam era globalisasi dan canggihnya
teknologi komunikasi dewasa ini, menuntut individu untuk memiliki berbagai
keterampilan dan kemampuan. Keterampilan dan kemampuan yang harus
dimiliki tersebut antara lain kemampuan kreatif dan kemampuan pemecaham
masalah. kedua kemampuan ini sangat penting, karena dalam kehidupan
sehari-hari setiap orang selalu dihadapkan pada berbagai masalah yang harus
dipecahkan dan menuntut kreativitas untuk menemukan solusi dari
permasalahan yang dihadapinya.
Pada bidang pendidikan, kemampuan kreatif dan kemampuan pemecahan
masalah mendapat perhatian yang cukup besar. Hal itu terlihat pada upayaupaya pengambil kebijakan di bidang pendidikan untuk memasukkan kedua
komponen ini dalam berbagai kegiatan pendidikan, baik dimuat dalam
kurikulum, strategi pembelajaran maupun perangkat pembelajaran lainnya.
Upaya tersebut dimaksudkan agar supaya setiap kegiatan pendidikan atau
pembelajaran, kepada siswa dapat dilatihkan keterampilan yang dapat
mengembangkan kemampuan kreatif dan pemecahan masalah. Dengan
demikian dunia pendidikan akan memberikan kontribusi yang besar terhadap

2

pengembangan sumber daya manusia yang kreatif dan memiliki kemampuan
pemecahan masalah yang handal untuk menjalani masa depan yang penuh
tantangan.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas
sumber daya manusia yaitu melalui pendidikan. Sebagaimana yang tercantum
dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 pasal 1 (ayat
1) bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Pernyataan lebih jelas tertulis dalam Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia No. 32 Tahun 2013 perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 19
Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa proses pembelajaran
pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi
aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik.
Salah satu sarana untuk mengembangkan kemampuan kreatif dan
pemecahan masalah bagi siswa pada pendidikan adalah melalui pembelajaran
IPA. Pendidikan di Sekolah Dasar memiliki beberapa mata pelajaran yang
sangat penting bagi kehidupan individu dikemudian hari diantaranya yaitu
mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang berhubungan dengan

3

alam sekitar dan alam semesta yang berguna dalam kehidupan manusia. IPA
juga mengajarkan berfikir kritis, kreatif, serta inovatif. Bruner (dalam
Nasution, 2005: 6) menyatakan bahwa IPA atau yang sering disebut Sains
memiliki fungsi yang fundamental dalam menimbulkan atau mengembangkan
kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Pembelajaran IPA harus
senantiasa dapat melibatkan siswa, sehingga dapat tercapainya tujuan
pembelajaran serta dapat merangsang siswa berpikir kritis, kretif, dan
inovatif.
Lebih lanjut Depdiknas (dalam Nasution, 2005: 25) menyatakan bahwa
agar tujuan dapat tercapai, maka sains perlu diajarkan dengan cara yang tepat
dan dapat melibatkan siswa secara aktif, yaitu melalui proses dan sikap ilmiah
peningkatan mutu pembelajaran sains perlu ditingkatkan untuk mengimbangi
dengan kemajuan dan perkembangan teknologi. Hakikatnya belajar IPA
bukan hanya sekedar menghafal konsep tetapi siswa berusaha untuk
menemukan konsep, sehingga dalam pembelajarannya hendaknya guru tidak
hanya mentransfer pengetahuannya secara informatif saja tetapi mengajak
siswa agar terlibat aktif secara langsung.
Berdasarkan wawancara dengan guru dan hasil observasi selama
pembelajaran IPA yang dilakukan peneliti pada hari senin 22 Januari 2015 di
kelas V SD Negeri 03 Metro Barat, peneliti menemukan bahwa guru belum
optimal dalam penggunaan variasi model pembelajaran yang dapat melatih
siswa untuk memahami konsep-konsep dengan cara menyelesaikan suatu
permasalahan. Guru lebih mengutamakan pemberian pengetahuan secara
informatif saja dan kurang memberikan ruang yang bebas bagi siswa untuk

4

mengembangkan kreativitasnya dalam memecahkan masalah serta kurang
memberi keleluasaan kepada siswa untuk mencari arah-arah penyelesaiannya
sendiri. Beberapa temuan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran yang
dilaksanakan masih berpusat pada guru (teacher centered) sehingga belum
menunjukkan adanya proses konstruktivis yang optimal dan bermakna bagi
siswa.
Jumlah siswa yang terlalu banyak sering membuat kondisi kelas menjadi
kurang kondusif, tak jarang siswa tidak memperhatikan penjelasan guru dan
sering membuat kegaduhan. Kegiatan siswa hanya mendengarkan penjelasan
guru dan mengerjakan tugas, saat tanya jawab ada beberapa siswa yang
terlihat diam saja. Mereka terlihat kurang percaya diri untuk mengemukakan
pendapatnya. Meskipun demikian, masih terdapat siswa yang aktif, namun
hanya siswa itu saja yang aktif untuk merespon setiap pertanyaan guru.
Indikasi tersebut menunjukkan bahwa siswa belum sepenuhnya berpartisipasi
aktif dalam kegiatan pembelajaran karena pembelajaran yang dilaksanakan
belum optimal untuk mengajak siswa agar terlibat didalamnya, sehingga
pembelajaran menjadi kurang komunikatif.
Penelusuran lebih lanjut, melalui telaah dokumen hasil belajar siswa pada
pembelajaran IPA tahun pelajaran 2014/2015 yang menunjukkan bahwa hasil
belajar siswa pada pembelajaran IPA belum optimal. Hanya 17 orang siswa
(48,57%) dari 35 orang siswa yang telah mencapai Kriteria Ketuntasan
Minimum (KKM) yaitu 66. Mulyasa (2013: 131) menyatakan dari segi hasil,
proses pembentukan kompetensi dan karakter siswa dikatakan berhasil
apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri peserta didik

5

seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar 75%. Indikator tersebut
menunjukkan bahwa persentase ketuntasan hasil belajar IPA di kelas V masih
sangat rendah karena persentase yang ditunjukkan masih jauh dari indikator
keberhasilan.
Sebagai alternatif untuk dapat mengatasi masalah tersebut maka perlu
diadakan perbaikan pembelajaran agar hasil belajar siswa dapat meningkat.
Upaya perbaikan pembelajaran dapat diwujudkan melalui pembelajaran yang
mampu mengajak siswa terlibat aktif sepenuhnya sehingga dapat memberikan
pengalaman belajar yang bermakna. Perbaikan dalam proses pembelajaran
dapat dilakukan dengan mengubah model pembelajaran yang digunakan.
Model treffinger merupakan salah satu alternatif perbaikan yang dapat
digunakan untuk memperbaiki pembelajaran sekaligus meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran IPA.
Shoimin

(20114: 218) mengemukakan bahwa model

treffinger

merupakan salah satu dari sedikit model yang menangani masalah kreativitas
secara langsung dan memberikan saran-saran praktis bagaimana mencapai
keterpaduan. Dengan melibatkan keterampilan kognitif dan afektif pada
setiap tingkat dari model ini, treffinger menunjukkan saling berhubungan dan
ketergantungan antara keduanya dalam mendorong belajar kreatif.
Menurut Treffinger (dalam Huda, 2013: 218) model treffinger adalah
model yang berupaya untuk mengajak siswa berpikir kreatif dalam
memecahkan masalah dengan memperhatikan fakta-fakta penting yang ada di
lingkungan sekitar lalu memunculkan berbagai gagasan dan memilih solusi
yang tepat untuk diimplementasikan secara nyata. Disamping itu melalui

6

penerapan dengan model treffinger usaha untuk meningkatkan aktivitas dan
hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA dilakukan secra sistematik dengan
memusatkan perhatian kepada proses belajar memecahkan masalah. Tentu
saja kegiatan sseperti ini akan memberi peluang besar kepada semua siswa
untuk melakukan kegiatan-kegiatan kreatif dalam pembelajaran IPA. Dengan
demikian siswa yang memiliki kemampuan rendah yang umumnya melalui
model treffinger akan lebih berkembang dan meningkat kemampuan kratif
dan kemampuan pemecahan masalah IPA sehingga aktivitas dan hasil
belajarpun meningkat.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu dilakukan perbaikan
pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model
treffinger untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada
pembelajaran IPA kelas V SD Negeri 03 Metro Barat tahun 2014/2015.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diidentifikasi beberapa
masalah yang berkaitan dengan aktivitas dan hasil belajar sebagai berikut:
1. Guru belum optimal dalam penggunaan variasi model pembelajaran yang
dapat melatih siswa untuk memahami konsep-konsep dengan cara
menyelesaikan suatu permasalahan.
2. Guru lebih mengutamakan pemberian pengetahuan secara informatif saja
dan kurang memberikan ruang yang bebas bagi siswa untuk
mengembangkan kreativitasnya dalam memecahkan masalah
3. Guru kurang memberi keleluasaan kepada siswa untuk mencari arah-arah
penyelesaiannya sendiri dalam pembelajaran.

7

4. Jumlah siswa yang terlalu banyak sering mengakibatkan kondisi kelas
menjadi kurang kondusif.
5. Kegiatan siswa hanya mendengarkan penjelasan guru dan mengerjakan
tugas.
6. Siswa belum menampakkan keterlibatannya secara aktif baik dalam
kegiatan tanya jawab maupun dalam kegiatan pembelajaran.

C. Ruang Lingkup Penelitian
Untuk menghindari meluasnya permasalahan yang akan dikaji, maka
masalah dalam penelitian ini dibatasi, dalam:
1.

Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model
treffinger.

2.

Model treffinger yang dimaksud adalah untuk membuat suasana
pembelajaran lebih aktif dengan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar
siswa pada pembelajaran IPA kelas V SD Negeri 03 Metro Barat.

3.

Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas V SD Negeri 03 Metro Barat.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut:
1. Bagaimanakah penerapan model treffinger dapat meningkatkan aktivitas
belajar siswa pada pembelajaran IPA kelas V SD Negeri 03 Metro Barat
tahun pelajaran 2014/2015?

8

2. Bagaimanakah penerapan model treffinger dapat meningkatkan hasil
belajar siswa pada pembelajaran IPA kelas V SD Negeri 03 Metro Barat
tahun pelajaran 2014/2015?

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa melalui penerapan model
treffinger pada pembelajaran IPA kelas V SD Negeri 03 Metro Barat
tahun pelajaran 2014/2015.
2. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan model
treffinger pada pembelajaran IPA kelas V SD Negeri 03 Metro Barat
tahun pelajaran 2014/2015.

F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Siswa
Melalui penerapan model treffinger dapat meningkatkan kreativitas siswa
dalam memecahkankan masalah serta meningkatkan pemahaman dan
prestasi siswa mengenai konsep IPA.
2. Guru
Melalui penerapan model treffinger dapat dijadikan sebagai refleksi untuk
memperbaiki pembelajaran serta meningkatkan profesionalisme guru.
Selain itu, model treffinger dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif
dalam melakukan inovasi pembelajaran, sehingga dapat menciptakan
suasana belajar yang bervariatif agar siswa tidak merasa bosan.

9

3. Sekolah
Mengharumkan nama baik sekolah, dan hasil penelitian ini dapat
dijadikan

sebagai

masukan

serta

inovasi

pembelajaran

untuk

meningkatkan hasil belajar yang lebih baik dalam upaya peningkatan
mutu pembelajaran di SD Negeri 03 Metro Barat.
4. Peneliti
Menambah pengetahuan dan wawasan dalam penelitian tindakan kelas
serta meningkatkan penguasaan mengajar dengan menerapkan model
treffinger sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan.

10

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Model Pembelajaran
Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh
memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan
pembelajarannya. Hanafiah & Suhana (2010: 41) model pembelajaran
merupakan salah satu pendekatan dalam rangka mensiasati perubahan tingkah
laku peserta didik secara adaptif maupun generatif. model pembelajaran erat
kaitannya dengan gaya belajar peserta didik (learning style) dan gaya
mengajar guru (teaching style).
Menurut Ekawarna (2013: 34) model pembelajaran merujuk kepada
wujud/aplikasi dari suatu teori sehingga menjadi bentuk praktis untuk
dilaksanakan. Model merupakan bingkai dari penerapan suatu pendekatan,
strategi, metode dan teknik pembelajaran.
Soekamto (dalam Trianto, 2009: 74) menyatakan bahwa model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai
tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang
pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar
mengajar. Selanjutnya menurut Trianto (2009: 75) setiap model pembelajaran

11

diawali dengan upaya menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa agar
terlibat dalam proses pembelajaran, selanjutnya diakhiri dengan menutup
pelajaran yang meliputi kegiatan merangkum pokok-pokok pelajaran yang
dilakukan siswa dengan bimbingan guru.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
model pembelajaran adalah suatu model pembelajaran yang mempunyai pola
urut/sintaks yang sistematis dengan upaya menarik perhatian siswa dan
memotivasi siswa agar telibat dalam proses pembelajaran. Model
pembelajaran yang dipilih oleh guru digunakan sebagai pedoman dalam
mengajar dan bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa
dalam belajar.

B. Model pembelajaran Treffinger
1. Pengertian model Treffinger
Model treffinger merupakan salah satu dari sedikit model yang
menangani masalah kreativitas secara langsung dan memberikan saransaran praktis bagaimana mencapai keterpaduan. Menurut Shoimin (2014:
219) model treffinger untuk mendorong belajar kreatif menggambarkan
susunan tiga tahap yang mulai dengan unsur-unsur dasar dan menanjak ke
fungsi-fungsi berpikir yang lebih majemuk, siswa terlibat dalam kegiatan
membangun keterampilan pada dua tahap pertama untuk kemudian
menangani masalah kehidupan nyata pada tahap ketiga.
Menurut Sunata (dalam Shoimin, 2014: 219) model treffinger adalah
suatu strategi pembelajaran yang dikembangkan dari model belajar kreatif
yang bersifat develop mental dan mengutamakan segi proses. Strategi

12

pembelajaran yang dikembangkan Treffinger yang berdasarkan kepada
model belajar kreatifnya.
Lebih lanjut Huda (2013: 318) model treffinger sebenarnya tidak
berberda jauh dengan model pembelajaran yang digagas oleh Osborn.
Model treffinger ini juga dikenal dengan Creative Problem Solving, kedua
sama-sama berupaya untuk mengajak siswa berpikir kreatif dalam
menghadapi masalah, namun sintak yang diterapkan antara Osborn dan
Treffinger sedikit berbeda satu sama lain.
Menurut Treffinger (dalam Huda, 2013: 218) model treffinger adalah
model yang berupaya untuk mengajak siswa berpikir kreatif dalam
memecahkan masalah dengan memperhatikan fakta-fakta penting yang ada
di lingkungan sekitar lalu memunculkan berbagai gagasan dan memilih
solusi yang tepat untuk diimplementasikan secara nyata.
Menurut Ngalimun, (2014: 179) pembelajaran kreatif dengan
basis kematangan dan pengetahuan siap dengan sintaks:
keterbukaan-urutan ide-penguatan, penggunaan ide kreatif-konflik
internal-skill, proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah
secara mandiri melalui pemanasan-minat-kuriositi-tanya, kelompokkerjasama, kebebasan-terbuka,reward.
Strategi pemecahan masalah kreatif dalam penyelesaian problematik
maksudnya segala cara yang dikerahkan oleh seseorang dalam berpikir
kreatif, dengan tujuan menyelesaikan suatu permasalahan secara kreatif.
Dalam implementasinya, Treffinger, dilakukan melalui solusi kreatif.
Menurut Noller (dalam Suryosubroto, 2009: 199) solusi kreatif sebagai
upaya pemecahan masalah yang dilakukan melalui sikap dan pola pikir
kreatif, memiliki banyak alternatif pemecahan masalah, terbuka dalam
perbaikan, menumbuhkan kepercayaan diri, keberanian menyampaikan

13

pendapat, berpikir divergen, dan fleksibel dalam upaya pemecahan
masalah.
Menurut Sarson (dalam Huda, 2013: 320) karakteristik yang
paling dominan dari model pembelajaran treffinger ini adalah
upayanya dalam mengintegrasikan dimensi kognitif dan afektif siswa
untuk mencari arah-arah penyelesaian yang akan ditempuhnya untuk
memecahkan permasalahan, artinya siswa diberikan keleluasaan untuk
berkreativitas menyelesaikan permasalahannya sendiri dengan caracara yang ia kehendaki, tugas guru adalah membimbing siswa agar
arah-arah yang ditempuh oleh siswa ini tidak keluar dari
permasalahan.
Menurut Shoimin (2014: 218) karakteristik model treffinger adalah
melibatkan keterampilan kognitif dan afektif pada setiap tingkat dari
model ini, treffinger menunjukkan saling hubungan dan ketergantungan
antara keduanya dalam mendorong belajar kreatif.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa model pembelajaran treffinger adalah model pembelajaran yang
mengajak siswa berpikir kreatif dalam memecahkan masalah dengan
memperhatikan fakta-fakta penting yang ada di lingkungan sekitar lalu
memunculkan berbagai gagasan dan memilih solusi yang tepat untuk
diimplementasikan secara nyata. Model ini lebih menekankan pada aspek
kognitif dan afektif siswa dalam pembelajaran.

2. Pengertian Kreativitas
Model treffinger merupakan model yang menangani masalah
kreativitas secara langsung dan memberikan saran-saran praktis
bagaimana mencapai keterpaduan. Menurut Suryosubroto (2009: 191)
Kreativitas merupakan kemampuan sesorang untuk melahirkan sesuatu
yang baru, berupa gagasan maupun karya nyata, dalam bentuk ciri-ciri

14

aptitude maupun non aptitude, dalam karya baru maupun kombinasi
dengan hal-hal yang sudah ada yang relative berbeda dengan apa yang
telah ada.
Lebih lanjut Mednick (dalam Suryosubroto, 2009: 192)
mendifinisikan kreativitas, Creativity is the forming of associaties
elements into new combination which either meet specified
requirinwent or some ways useful. The more mutually remote the
elements of the new combination, the more creative the process
solution ( kreativitas merupakan bagian dari unsur-unsur asosiatif
dalam kombinasi baru yang memenuhi syarat-syarat tertentu atau
dengan beberapa cara yang berguna. Makin jauh timbal balik unsurunsur kombinasi baru, makin kreatif proses pemecahan masalah itu).
Kemampuan kreatif memiliki beberapa macam perilaku sesuai
dengan pendapat Guilford (dalam Suryosubroto, 2009: 192-193)
kemampuan kreatif dapat dicerminkan melalui lima macam perilaku,
yaitu
a. Fluency, kelancaran atau kemampuan untuk menghasilkan
banyak gagasan,
b. Fleksibility, kemampuan menggunakan bermacam-macam
pendekatan dalam mengatasi persoalan,
c. Originality, kemampuan mencetuskan gagasan-gagasan asli,
d. Elaboration, kemampuan menyatakan gagasan secara terperinci,
e. Sensitivity, kepekaan menangkap dan menghasilkan gagasan
sebagai tanggapan terhadap suatu situasi.
Menurut Munandar (Shoimin, 2014: 220), mengemukakan bahwa
kreativitas adalah:
Hasil interaksi antara individu dan lingkungannya, kemampuan
untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi, atau
unsur-unur yang sudah ada atau dikenal sebelumnya, yaitu semua
pengalaman dan pengetahuan yang telah diperoleh seseorang selama
hidupnya baik itu di lingkungan sekolah, keluarga, maupun dari
lingkungan masyarakat.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan

15

sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam
bentuk karya baru maupun kombinasi dari hal-hal yang sudah ada, yang
semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.

3. Kelebihan dan Kelemahan Model Treffinger
Menurut Huda (2013: 320) manfaat yang bisa diperoleh dari
menerapkan model ini antara lain:
a. Memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami konsepkonsep dengan cara menyelesaikan suatu permasalahan.
b. Membuat siswa aktif dalam pembelajaran.
c. Mengembangkan kemampuan berpikir siswa karena disajikan
masalah pada awal pembelajaran dan memberi keleluasaan
kepada siswa untuk mencari arah-arah penyelesaiannya sendiri.
d. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mendifinisikan
masalah, mengumpulkan data, menganalisis data, membangun
hipotesis, dam percobaan untuk memecahkan suatu
permasalahan.
e. Membuat siswa dapat menerapkan pengetahuan yang sudah
dimilikinya ke dalam situasi baru.
Menurut Huda (2013: 320) kelemahan

dari menerapkan model

treffinger antara lain:
a. Perbedaan level pemahaman dan kecerdasan siswa dalam
menghadapi masalah.
b. Ketidaksiapan siswa untuk menghadapi masalah baru yang
dijumpai di lapangan.
c. Model ini mungkin tidak terapkan untuk siswa taman kanakkanak atau kelas-kelas awal sekolah dasar.
d. Membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mempersiapkan
siswa melakukan tahp-tahap di atas.
Shoimin (2014: 222) kelemahan model treffinger yaitu butuh waktu
yang lama. Namun menurut Shoimin (2014: 221-222) model treffinger
memiliki kelebihan yaitu sebagai berikut:
a. Mengasumsikan bahwa kreativitas adalah proses dan hasil
belajar.

16

b. Dilaksanakan kepada semua siswa dalam berbagai latar
belakang dan tingkat kemampuan.
c. Mengintegrasikan dimensi kognitif dan afektif dalam
pengembangannya.
d. Melibatkan secara bertahap kemampuan berpikir konvergen dan
divergen dalam proses pemecahan masalah.
e. Memiliki tahapan pengembangan yang sistematik, dengan
beragam metode dan teknik untuk setiap tahap yang dapat
diterapkan secara fleksibel.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka peneliti menyimpulkan
bahwa kelebihan dari model treffinger yaitu lebih menekankan aspek
kognitif dan afektif siswa. Melalui model treffinger siswa diberi
kesempatan untuk memahami konsep-konsep dengan cara menyelesaikan
suatu

permasalahan,

dikembangkannya

siswa

menjadi

kemampuan

aktif

berpikir

dalam

siswa

dan

pembelajaran,
kemampuan

menyelesaikan permasalahan, serta siswa dapat menerapkan pengetahuan
yang sudah dimilikinya ke dalam situasi baru. Kekurangan dari model
treffinger yaitu memerlukan waktu yang lama, sehingga untuk
meminimalisir kekurangan tersebut maka guru perlu memperhatikan
perbedaan level pemahaman dan kecerdasan siswa dalam menghadapi
masalah dan kesiapan siswa untuk menghadapi masalah dalam
pembelajaran.

4. Langkah- langkah Model Treffinger
Treffinger (dalam Huda, 2013: 318) menyebutkan bahwa model
pembelajaran ini terdiri atas 3 komponen penting yaitu understanding
challege, generating ideas, dan preparing for action. Penjelasan
sintaknya mengenai model ini sebagai berikut:

17

a.

b.

c.

Komponen I - Understanding Challege (Memahami
Tantangan) yaitu 1) menentukan tujuan: guru menginformasikan kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajarannya,
2) menggali data: guru mendemonstrasi/ menyajikan fenomena
alam yang dapat mengundang keingintahuan siswa dan 3)
merumuskan masalah: guru memberi kesempatan kepada siswa
untuk mengindentifikasi permasalahan.
Komponen II - Generating Ideas (Membangkitkan Gagasan)
yaitu memunculkan gagasan: guru memberi waktu dan
kesempatan pada siswa untuk mengungkapkan gagasannya dan
juga membimbing siswa untuk menyepakati alternatif
pemecahan masalah yang akan diuji.
Komponen III - Preparing For Action (Mempersiapkan
Tindakan) yaitu 1) mengembangkan solusi: guru mendorong
siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai,
melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalah, 2) membangun penerimaan: guru
mengecek solusi yang telah diperoleh siswa dan memberikan
permasalahan yang baru namun lebih kompleks agar siswa
dapat menerapkan solusi yang telah ia peroleh.

Menurut Munandar (dalam Shoimin, 2014: 219-220) model
treffinger terdiri dari langkah-langkah berikut:
a. Tahap I: basic tools
Basic tool atau teknik kreativitas meliputi keterampilan
berpikir divergen dan teknik kreatif. Adapun kegiatan
pembelajaran pada tahap I yaitu (1) guru memberikan suatu
masalah terbuka dengan jawaban lebih dari satu
penyelesaian, (2) guru membimbing siswa melakukan diskusi
untuk menyampaikan gagasan atau idenya sekaligus
memberikan penilaian pada masing-masing kelompok.
b. Tahap II: practice with process
Practice with process yaitu memberi kesempatan
kepada siswa untuk menerapkan keterampilan yang telah
dipelajari pada tahap I dalam situasi praktis. Kegiatan
pembelajaran pada tahap II yaitu (1) guru membimbing dan
mengarahkan siswa untuk berdiskusi dengan memberikan
contoh analog, (2) guru meminta siswa membuat contoh
dalam kehidupan sehari-hari.
c. Tahap III: working with real problems
Working with real problem, yaitu menerapkan
keterampilan yang dipelajari pada dua tahap pertama
terhadap tantangan pada dunia nyata.

18

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka peneliti menyimpulkan
bahwa yang dimaksud dengan model pembelajaran treffinger adalah
model pembelajaran yang berupaya untuk mengajak siswa berpikir
kreatif dalam menghadapi masalah. Model treffinger merupakan model
yang menangani masalah kreativitas secara langsung dan memberikan
saran-saran praktis bagaimana mencapai keterpaduan. Model ini lebih
menekankan pada aspek kognitif dan afektif siswa dalam pembelajaran.
Peneliti harus lebih optimal dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran
menggunakan model treffinger sehingga meminimalisir terjadinya
kekurangan-kekurangan
Penelitian

ini

yang

terjadi

mengimplementasikan

pada

proses

model

pembelajaran.

treffinger

dalam

pembelajaran IPA dengan langkah-langkahnya yaitu
a. Menentukan tujuan: guru menginformasikan kompetensi yang harus
dicapai dalam pembelajarannya.
b. Menggali data: guru mendemonstrasi/ menyajikan fenomena alam
yang dapat mengundang keingintahuan siswa.
c. Merumuskan masalah: guru memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengindentifikasi permasalahan.
d. Memunculkan gagasan: guru memberi waktu dan kesempatan pada
siswa untuk mengungkapkan gagasannya dan juga membimbing siswa
untuk menyepakati alternatif pemecahan masalah yang akan diuji.
e. Mengembangkan solusi: guru mendorong siswa untuk mengumpulkan
informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan
penjelasan dan pemecahan masalah.

19

f. Membangun penerimaan: guru mengecek solusi yang telah diperoleh
siswa dan memberikan permasalahan yang baru namun lebih
kompleks agar siswa dapat menerapkan solusi yang telah ia peroleh.

C. Belajar
1. Belajar
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai

hasil

pengalamannya

sendiri

dalam

interaksi

dengan

lingkungannya. Hamalik (dalam Hamdani, 2010: 20) proses belajar dan
perubahan merupakan bukti hasil yang penyusunan, kebiasaan, persepsi,
kesenangan

atau

minat,

penyesuaian

sosial,

bermacam-macam

keterampilan lain dan cita-cita.
Thursan Hakim (dalam Hamdani, 2010: 21) mengemukakan
bahwa belajar adalah suatu proses perubahan dalam kepribadian
manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk
peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan
kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman,
keterampilan, daya pikir dan lain-lain. Hal ini berarti peningkatan
kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang diperlihatkan dalam
bentuk bertambahnya kualitas dan kuantitas kemampuan seseorang
dalam berbagai bidang.
Selanjutnya menurut Ekawarna, (2013: 75) belajar merupakan
rangkaian aktivitas yang kompleks, tetapi dilakukan dengan sadar oleh
seseorang yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku.
Sedangakan

Skinner

(dalam

Dimyati

&

Mudjiono,

2013:9),

berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Jika seseorang
belajar, maka responsnya menjadi lebih baik, sebaliknya, bila seseorang
tidak belajar maka responsnya menurun.

20

Menurut teori Gestalt (dalam Susanto, 2013: 12), belajar merupakan
suatu proses perkembangan artinya bahwa secara kodrati jiwa raga anak
mengalami perkembangan. Perkembangan sendiri memerlukan sesuatu
baik berasal dari diri siswa sendiri maupun pengaruh lingkungannya.
Lebih lanjut menurut Susanto (2013: 4) belajar adalah suatu aktivitas
yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk
memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau pengetahuan baru sehingga
memungkinkan sesorang terjadinya perubahan perilaku yang relatif tetap
baik dalam berpikir, merassa, maupun dalam bertindak.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa belajar adalah suatu proses usaha seseorang yang menghasilkan
perubahan

tingkah

laku

seseorang

melalui

interaksi

dengan

lingkungannya. Seseorang yang belajar akan memperoleh suatu konsep,
pemahaman atau pengetahuan baru.

2. Aktivitas Belajar
Aktivitas belajar adalah semua kegiatan yang dilakukan oleh siswa
dalam kegiatan pembelajaran sehingga meningkatkan hasil belajar siswa.
Menurut Sardiman, (2008: 10) aktivitas belajar adalah aktivitas yang
bersifat fisik maupun mental. Dalam kegiatan belajar, kedua aktivitas itu
harus saling berkaitan.
Kunandar (2013: 277) menjelaskan bahwa, aktivitas siswa adalah
keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian, dan aktivitas
dalam kegiatan pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses
belajar mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut.

21

Peningkatan aktivitas siswa, yaitu meningkatnya jumlah siswa yang
terlibat aktif belajar, meningkatnya jumlah siswa yang saling berinteraksi
membahas materi pembelajaran. Indikator aktivitas siswa dapat dilihat
dari mayoritas siswa beraktivitas dalam pembelajaran, aktivitas
pembelajaran didominasi oleh kagiatan siswa, dan mayoritas siswa
mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru.
Menurut Suhana, (2014: 22) Aktivitas dalam belajar dapat
memberikan nilai tambah bagi peserta didik yaitu a) peserta didik
memiliki kesadaran untuk belajar sebagai wujud adanya motivasi
internal untuk belajar sejati, b) peserta didik mencari pengalaman
dan dampak langsung mengalami sendiri, c) peserta didik akan
belajar dengan menurut minat dan kemampuannya, d) menumbuh
kembangkan sikap disiplin dan suasana belajar yang demokratis di
kalangan peserta didik, e) pembelajaran dilaksanakan secara
kongkrit sehingga dapat menumbuh kembangkan pemahaman dan
berpikir kritis serta menghindarkan terjadinya verbalisme, f)
menumbuhkembangkan sikap kooperatif di kalangan peserta didik,
sehingga sekolah menjadi hidup, sejalan, serasi dengan kehidupan
masyarakat di sekitarnya.
Aktivitas memiliki beberapa jenis dalam pembelajaran, sesuai
dengan pendapat Dierich (dalam Hamalik, 2008: 172-173) tentang
jenis-jenis aktivitas dalam pembelajaran yaitu: a) kegiatan visual:
membaca, melihat gambar-gambar mengamati eksperimen, dan lainlain, b) kegiatan lisan: mengemukakan suatu fakta atau prinsip,
menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi
saran, mengemukakan pendapat, diskusi, dan lain-lain, c) kegiatan
mendengarkan: mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan
percakapan atau diskusi kelompok, dan lain-lain, d) kegiatan
menulis: menulis cerita, menulis laporan, mengerjakan tes, dan lainlain, e) kegiatan menggambar: menggammbar, membuat grafik,
chart, diagram peta, dan pola, f) kegiatan metrik: melakukan
percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat
model dan lain-lain, g) kegiatan mental: merenungkan, mengingat,
memecahkan masalah, menganalisis, dan lain-lain, dan h) kegiatan
emosional: minat, membedakan, berani, tenang, dan lain-lain.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa aktivitas belajar dalam penelitian ini adalah adalah keterlibatan
siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian, dan aktivitas dalam

22

kegiatan pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses belajar
mengajar dan dalam rangka mencapai tujuan belajar. Adapun indikator
yang dikembangkan pada penelitian ini antara lain an

Dokumen yang terkait

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD NEGERI 01 SUKA AGUNG BARAT KECAMATAN BULOK

1 5 41

PENERAPAN MODEL QUANTUM TEACHING DAN SEQIP UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD NEGERI 8 METRO SELATAN

2 16 47

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PADA PEMBELAJARAN TEMATIK SISWA KELAS IV A SDN 1 METRO BARAT TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 9 75

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS VA SD NEGERI 4 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2014/2015

0 8 101

PENERAPAN MAPPING DALAM MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IVA SD NEGERI 11 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2014/2015

0 10 77

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE PICTURE AND PICTURE UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV B SD NEGERI 10 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2014/2015

0 4 63

PENERAPAN MODEL TREFFINGER UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA KELAS V SD NEGERI 03 METRO BARAT TAHUN PELAJARAN 2014/2015

5 44 78

PENERAPAN MEDIA REALIA PADA PEMBELAJARAN TEMATIK UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IA SD NEGERI 7 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2014/2015

7 71 76

PENERAPAN MODEL PROBLEM POSING UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VA SD NEGERI 10 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2014/2015

0 5 71

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA KELAS V SD

0 0 8

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

99 3015 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 767 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 662 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 432 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 587 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

50 984 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 901 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 548 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 802 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 971 23