Kontribusi Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari Dalam Mendukung Kesejahteraan Masyarakat: Studi Kasus Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur

KONTRIBUSI PENGEMBANGAN KAWASAN RUMAH
PANGAN LESTARI DALAM MENDUKUNG
KESEJAHTERAAN MASYARAKAT:
Studi Kasus Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan,
Kabupaten Pacitan, Jawa Timur

SITI FATIMATUS ZAHRO

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
i

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Kontribusi Pengembangan Kawasan
Rumah Pangan Lestari dalam Mendukung Kesejahteraan Masyarakat: Studi Kasus
Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur adalah
karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam
bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal
atau dikutip dari karya diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir
skripsi ini.

Bogor, Desember 2012

Siti Fatimatus Zahro
H44080061

ii

RINGKASAN
Siti Fatimatus Zahro. Kontribusi Pengembangan Kawasan Rumah Pangan
Lestari Dalam Mendukung Kesejahteraan Masyarakat: Studi Kasus Desa
Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Dibimbing oleh
YUSMAN SYAUKAT.
Pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi menuntut pemenuhan
penyediaan makanan dan perluasan daerah pemukiman. Peningkatan konversi
lahan membuat masyarakat untuk melakukan alternatif dalam pemenuhan
kebutuhan pangan dan gizi di lahan yang sempit yaitu dengan pemanfaatan
pekarangan. Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) merupakan
program dari Kementerian Pertanian. Pengembangan KRPL menjadi salah satu
alternatif dengan menggunakan pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan
untuk pemenuhan kebutuhan pangan, gizi keluarga, dan peningkatan pendapatan
yang pada hasil akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan sehingga mampu
mewujudkan kemandirian desa.
Salah satu desa yang menerapkan KRPL secara swadaya di Kabupaten
Pacitan adalah Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan. Sebagian
besar masyarakat belum melakukan optimalisasi pekarangan dan pengembangan
pertanian. Pengetahuan masyarakat terhadap manfaat pekarangan juga masih
kurang khususnya mutu dan gizi pangan.
Penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi mengenai kontribusi
pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari dalam mendukung kesejahteraan
masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi persepsi
masyarakat mengenai KRPL; (2) mengidentifikasi manfaat fisik dari adanya
KRPL dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga; (3)
mengestimasi biaya dan manfaat dari KRPL; dan (4) mengevaluasi keberlanjutan
KRPL.
Penelitian dilakukan di Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten
Pacitan, Jawa Timur melalui kegiatan pengamatan langsung dengan penentuan
tempat dan sampel dilakukan dengan sengaja, sedangkan penentuan jumlah
sampel secara metode slovin dengan teknik penarikan sampel dengan judgmental
sampling (Prasetyo, 2006) atas dasar pertimbangan dari ketua dan pengurus
KRPL yang berupa buku kelompok strata Desa Banjarsari. Pembagian strata
KRPL didasarkan oleh luas pekarangan dan paket komoditas. Pada analisis data
kualitatif dipilih secara purposive dari pihak pengurus, anggota, dan atau
masyarakat untuk menggali keberlanjutan KRPL. Pada pengembangan KRPL
terdapat pembagian strata menurut luas pekarangan yaitu (1) Strata 1, masyarakat
memiliki luas pekarangan selus 0-100 m2, (2) Strata 2, masyarakat memiliki luas
pekarangan seluas <100-200 m2, (3) Strata 3, masyarakat memiliki luas
pekarangan seluas < 200 m2.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi rumah tangga Desa
Banjarsari menyatakan bahwa sebelum adanya KRPL KEMPLING lahan
pemanfaatan pekarangan sudah termanfaatkan namun belum optimal. Desa
Banjarsari mulai melakukan optimalisasi pekarangan untuk mendapatkan manfaat
sebesar-besarnya dengan menambah sayuran. Manfaat yang dirasakan rumah
tangga KRPL KEMPLING adalah menghemat pengeluaran rumah tangga dan
iii

menambah penghasilan. Kendala yang dirasakan rumah tangga dalam pelaksanaan
KRPL KEMPLING adalah iklim dan hama. Manfaat fisik dari KRPL
KEMPLING mampu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. Penggunaan
hasil KRPL KEMPLING dari setiap strata menunjukkan bahwa KRPL
KEMPLING berorientasi untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, apabila
kebutuhan pangan keluarga di Desa Banjarsari sudah terpenuhi, maka sisa
penggunaannya diberikan untuk sosial dan dijual. Penggunaan perikanan strata 3
berorientasi untuk dijual.
Nilai R/C KRPL KEMPLING di setiap strata menunjukan hasil yang
menguntungkan. Nilai R/C KRPL KEMPLING yang menunjukan hasil
menguntungkan terdapat di strata 3. Rata-rata pendapatan per luasan lahan yang
paling besar pada strata 1 yaitu sebesar Rp 30.659 dan pendapatan per luas lahan
yang paling kecil pada strata 2 sebesar Rp 15.920. Kontribusi KRPL KEMPLING
terhadap pendapatan keluarga diperoleh untuk strata 1, strata 2, dan strata 3 yaitu
masing-masing sebesar 5,70%, 9,90%, dan 20,37%. Pengembangan KRPL
KEMPLING merupakan usaha sampingan bagi keluarga di Desa Banjarsari.
Keberlanjutan KRPL KEMPLING ditinjau dari aspek lingkungan dan aspek sosial
mampu memberikan manfaat untuk individu, rumah tangga, dan desa. Aspek
ekonomi dengan melihat dari KRPL KEMPLING yang mampu menekan
pengeluaran keluarga setiap strata yaitu strata 1 sebesar Rp 49.508, strata 2
sebesar Rp 55.089, dan strata 3 sebesar Rp 130.751. Aspek ekonomi juga melihat
keberadaan KBD di Desa Banjarsari yang mampu memberikan keuntungan bagi
masyarakat.
Kata kunci : kontribusi, pekarangan, pangan, Pacitan, keberlanjutan

iv

KONTRIBUSI PENGEMBANGAN KAWASAN RUMAH
PANGAN LESTARI DALAM MENDUKUNG
KESEJAHTERAAN MASYARAKAT:
Studi Kasus Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan,
Kabupaten Pacitan, Jawa Timur

SITI FATIMATUS ZAHRO
H44080061

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

v

Judul Skripsi : Kontribusi Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari dalam
Mendukung Kesejahteraan Masyarakat: Studi Kasus Desa
Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur
Nama

: Siti Fatimatus Zahro

NIM

: H44080061

Disetujui,
Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Yusman Syaukat, M.Ec
NIP. 19631227 198811 1 001

Diketahui,
Ketua Departemen
Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan

Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT
NIP. 19660717 199203 1 003

Tanggal Lulus :
vi

UCAPAN TERIMA KASIH
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala
berkah, rahmat dan hidayah-Nya. Skripsi ini dapat diselesaikan tidak lepas dari
bantuan berbagai pihak baik moril maupun materil. Penulis menyampaikan
ucapan terima kasih kepada:
1.

Ayahanda H. Musdhori dan Ibunda Hj. Ummi Hanik (Alm) yang penulis
cintai, terima kasih atas doa-doa, nasihat-nasihat, dukungan, dan segala kasih
sayang serta cintanya kepada penulis. Kakak-kakakku Mbak Nur, Mbak
Imah, Mbak Mus, serta kakak-kakak iparku atas doanya. Tidak lupa juga
keponakan-keponakanku tercinta Faiz, Ninin, Nisa, Fina, dan Rizal yang saya
sayangi.

2.

Bapak Dr. Ir. Yusman Syaukat, M.Ec selaku dosen pembimbing skripsi yang
telah membimbing, mengarahkan, dan memberikan pembelajaran kepada
penulis demi terselesaikannya skripsi ini dengan baik.

3.

Bapak Dr. Ir Aceng Hidayat, MT selaku dosen pembimbing akademik yang
selalu memberikan bimbingan dan motivasi selama kuliah di Departemen
Ekonomi sumberdaya dan lingkungan.

4.

Bapak Ir. Ujang Sehabudin dan Bu Asti Istiqomah, SP, M.Si selaku dosen
penguji utama dan penguji perwakilan departemen yang telah memberikan
ilmu dan masukan agar skripsi ini menjadi lebih baik.

5.

Segenap Dosen dan Staf pengajar Departemen Ekonomi Sumberdaya dan
Lingkungan yang telah memberikan ilmu kepada penulis selama proses
perkuliahan.

vii

6.

Ahmad Wisnu Fahim yang telah memberikan cinta, kasih sayang, dukungan,
doa, dan nasihat selama ini.

7.

Keluarga di Blora, Jawa Tengah yaitu Ibu Indah, Mbak Wiwit, dan Mbak
Silfi yang selalu mendoakan dan menyemangati selama ini.

8.

Teman-teman satu bimbingan (Nina Hermawati, Anggi Ayu Octaviani, Abdul
Aziz, Dini Adi C, dan Persica) yang telah memberikan banyak saran,
motivasi, dan semangat terus menerus.

9.

Mbah Uti, Mbah Dahlan, Bu Jaya, Bu Ayu, Pak Sigit, Pak Cahyo, Dek Bayu,
Dek Danu, Dek Retno, Dek Umi, dan Mbah Yati yang telah menjadi keluarga
baru buat penulis di Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan.

10. Seluruh masyarakat Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan
yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan
penelitian dan informasi yang telah diberikan.
11. Sahabat-sahabatku tercinta di ESL 45 Diani Kurniawati, Ayu Fitriana, Hayu
Windi Hapsari, Singgih Widhosari.
12. Sahabat-sahabatku tercinta Dhewi Puji Astuti (THH 45), Abdul Kafi Assidiq
(MNHK 45), Affan (Biokimia 45), Auditia Kusumawanti (IPTP 45), Ongki
Herdiani

(UPN

Surabaya),

Aditya

Buyung

Pratama

(Universitas

Muhammadiyah Malang), Sigit Rahmansyah (Universitas Brawijaya) yang
telah memberikan motivasi dan mendengarkan keluh kesahku.
13. Teman-teman Dita, Indi, Anggi PA, Yogi, Husen serta teman-teman ESL 45
yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Bogor, Desember 2012

viii
Penulis

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi penelitian dengan judul

“Kontribusi Pengembangan Kawasan Rumah

Pangan Lestari dalam Mendukung Kesejahteraan Masyarakat: Studi Kasus Desa
Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur”. Skripsi
penelitian ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan
program Strata Satu (S1) pada Departemen Ekonomi Sumberdaya dan
Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki kekurangan. Akan
tetapi, penulis berharap semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua
pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung termasuk penulis pribadi.
Selain itu, penulis juga mengharapkan adanya penelitian lanjutan yang berusaha
mengakomodir keterbatasan penelitian ini.

ix

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ....................................................................................

xii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................

xiv

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................

xv

I.

PENDAHULUAN ...........................................................................
1.1
1.2
1.3
1.4
1.5

1

Latar Belakang............................................................................
Perumusan Masalah ...................................................................
Tujuan Penelitian .......................................................................
Manfaat Penelitian .....................................................................
Ruang Lingkup Penelitian ........................................................

1
6
9
9
10

TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................

11

2.1
2.2
2.3
2.4

Ketahanan Pangan .....................................................................
Pekarangan............ .....................................................................
Pemanfaatan Pekarangan ...........................................................
Kawasan Rumah Pangan Lestari ................................................
2.4.1 Konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari ..........................
2.4.2 Tujuan Kawasan Rumah Pangan Lestari ...........................
2.4.3 Prinsip Kawasan Rumah Pangan Lestari ..........................
2.4.4 Sasaran Kawasan Rumah Pangan Lestari ..........................
2.4.5 Kebun Bibit Desa .............................................................
2.5 Biaya dan Pendapatan Usahatani ..............................................
2.6 Pengelolaan Secara Berkelanjutan .............................................
2.7 Penelitian Terdahulu ...................................................................

11
12
14
16
17
17
18
18
23
23
26
27

III. KERANGKA PEMIKIRAN ...........................................................

31

IV. METODE PENELITIAN................................................................

34

II.

4.1
4.2
4.3
4.4

V.

Tempat dan Waktu Penelitian ..................................................
Jenis dan Sumber Data ...............................................................
Metode Pengambilan Data..........................................................
Metode dan Prosedur Analisis Data ...........................................
4.4.1 Identifikasi Persepsi Rumah Tangga terhadap KRPL.......
4.4.2 Identifikasi Manfaat Fisik dari adanya KRPL dalam
Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Pangan
Rumah Tangga ...................................................................
4.4.3 Estimasi Biaya dan Manfaat dari Pengembangan KRPL .
4.4.4 Analisis Keberlanjutan KRPL ...........................................
4.4.4.1 Net Present Value (NPV) ......................................
4.4.4.2 Gross Benefit Cost (Gross B/C).............................

34
34
34
36
37

37
38
41
41
42

GAMBARAN UMUM PENELITIAN ..........................................

43

5.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian ............................................

43
x

5.2
5.3
5.4
5.5

Sarana dan Prasarana ..................................................................
Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk ..........................................
Karakteristik Responden.............................................................
Profil KRPL “KEMPLING” ......................................................

43
45
47
50

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................

56

6.1 Persepsi Responden terhadap KRPL KEMPLING ....................
6.1.1 Penilaian Rumah Tangga terhadap Kondisi Pekarangan ...
6.1.2 Penilaian Rumah Tangga terhadap Manfaat
KRPL KEMPLING ................................................................
6.1.3 Penilaian Rumah Tangga terhadap Kendala
KRPL KEMPLING ................................................................
6.2 Manfaat Fisik dari adanya KRPL KEMPLING dalam
Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Pangan Rumah Tangga. ...
6.2.1 Manfaat Fisik dari Adanya KRPL KEMPLING dalam
Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Pangan
Rumah Tangga Strata 1 ....................................................
6.2.2 Manfaat Fisik dari Adanya KRPL KEMPLING dalam
Mendukung
Pemenuhan
Kebutuhan
Pangan
Rumah Tangga Strata 2 ....................................................
6.2.3 Manfaat Fisik dari Adanya KRPL KEMPLING dalam
Mendukung
Pemenuhan
Kebutuhan
Pangan
Rumah Tangga Strata 3 ....................................................
6.3 Biaya dan Manfaat KRPL KEMPLING .....................................
6.3.1 Biaya dan Manfaat KRPL KEMPLING Strata 1...............
6.3.2 Biaya dan Manfaat KRPL KEMPLING Strata 2...............
6.3.3 Biaya dan Manfaat KRPL KEMPLING Strata 3...............
6.3.5 Pendapatan KRPL KEMPLING per Luasan Lahan ..........
6.3.4 Kontribusi KRPL KEMPLING terhadap Pendapatan
Keluarga ............................................................................
6.4 Keberlanjutan KRPL KEMPLING .............................................

56
56
58
60
61

62

64

67
70
72
76
80
84
86
89

VII. SIMPULAN DAN SARAN..............................................................

96

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................

98

LAMPIRAN .............................................................................................

101

RIWAYAT HIDUP .................................................................................

116

xi

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman

1. Jumlah Penduduk di Indonesia Tahun 1971, 1980, 1990,
1995, 2000 dan 2010 .......................................................................

1

2. Rata-Rata Konsumsi Kalori (Kkal) per Kapita Sehari Menurut
Kelompok makanan Tahun 2007-2010 ...........................................

2

3. Basis Komoditas dan Contoh Model Budidaya Rumah Pangan
Lestari (RPL) Menurut Kelompok Lahan Pekarangan Perkotaan ..

20

4. Basis Komoditas dan Contoh Model Budidaya Rumah Pangan
Lestari (RPL) Menurut Kelompok Lahan Pekarangan Pedesaan ...

22

5. Responden Penelitian ......................................................................

35

6. Matriks Metode Analisis Data.........................................................

36

7. Jumlah Penggunaan Sumber Air Bersih di Desa Banjarsari ...........

44

8. Jumlah Mata Pencaharian Menurut Sektor Tahun 2011
di Desa Banjarsari ...........................................................................

45

9. Kesejahteraan Keluarga di Desa Banjarsari ....................................

46

10. Rentang Umur Responden ..............................................................

47

11. Tingkat Pendidikan Formal Responden ..........................................

48

12. Rata-Rata Tanggungan Keluarga ....................................................

49

13. Luas Pekarangan Strata 1 ................................................................

49

14. Luas Pekarangan Strata 2 ................................................................

50

15. Luas Pekarangan Strata 3 ................................................................

50

16. Pemanfaatan Pekarangan Sebelum adanya KRPL KEMPLING ....

57

17. Tanaman di Pekarangan Sebelum adanya KRPL KEMPLING ....

57

18. Kesadaran Rumah Tangga terhadap Manfaat KRPL KEMPLING

58

19. Manfaat yang dirasakan oleh Rumah Tangga dengan adanya
KRPL KEMPLING .........................................................................

59

20. Manfaat Tangible dan Intangible KRPL KEMPLING ..................

59

21. Kendala dalam Pelaksanaan KRPL KEMPLING ...........................

60

22. Umur Tanaman KRPL KEMPLING ...............................................

62

23. Rata-Rata Produksi Sayuran Selama Dua Minggu .........................

63

24. Penggunaan Sayuran Selama Dua Minggu .....................................

63

25. Rata-Rata Produksi Sayuran Selama Dua Minggu .........................

64
xii

26. Rata-Rata Produksi Telur Ayam Buras Selama Satu Bulan ................

65

27. Penggunaan Sayuran Selama Dua Minggu ...................................

65

28. Penggunaan Telur Ayam Buras Selama Satu Bulan .....................

66

29. Rata-Rata Produksi Sayuran Selama Dua Minggu .........................

67

30. Rata-Rata Produksi Telur Ayam Buras Selama Satu Bulan ...........

68

31. Rata-Rata Produksi Ikan Sekali Panen ...........................................

68

32. Penggunaan Sayuran Selama Dua Minggu .....................................

69

33. Penggunaan Telur Ayam Buras Selama Satu Bulan .......................

70

34. Penggunaan Hasil Ikan Sekali Panen ..............................................

70

35. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga
Strata 1 dalam Satu Tahun ..............................................................

75

36. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga
Strata 2 dalam Satu Tahun ..............................................................

79

37. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga
Strata 3 dalam Satu Tahun ..............................................................

83

38. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Luasan Lahan .......

85

39. Distribusi Pekerjaan Luar Usaha KRPL dari Keluarga Strata 1 .....

86

40. Distribusi Pekerjaan Luar Usaha KRPL dari Keluarga Strata 2 .....

87

41. Distribusi Pekerjaan Luar Usaha KRPL dari Keluarga Strata 3 .....

87

42. Rata-Rata Kontribusi KRPL KEMPLING terhadap Pendapatan
Rumah Tangga Setiap Strata per Tahun..........................................

88

43. Penghematan Pengeluaran Rumah Tangga KRPL KEMPLING ....

91

44. Gambaran Pendapatan KBD di Desa Banjarsari dengan adanya
Bantuan ...........................................................................................

93

45. Gambaran Pendapatan KBD di Desa Banjarsari Tanpa
Bantuan ...........................................................................................

94

xiii

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Halaman

1. Konsep Pembangunan Keberlanjutan ditinjau dari
Aspek Ekonomi, Sosial dan Lingkungan ........................................

27

2. Diagram Alur Pemikiran .................................................................

33

xiv

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor

Halaman

1. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga
Strata 1 dalam Satu Tahun ..............................................................

102

2. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga
Strata 2 dalam Satu Tahun ..............................................................

103

3. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga
Strata 3 dalam Satu Tahun ..............................................................

105

4. Biaya Penyusutan per Tahun ...........................................................

107

5. Curahan Waktu dan Curahan Kerja Selama Satu Tahun ................

108

6. Cashflow KBD di Desa Banjarsari dengan adanya Bantuan ...............

111

7. Cahflow KBD di Desa Banjarsari Tanpa adanya Bantuan ............

113

8. Dokumentasi ...................................................................................

115

xv

I. PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang kaya dengan ketersediaan

pangan dan rempah yang beraneka ragam. Berbagai jenis tanaman pangan yaitu
padi-padian, umbi-umbian, sayuran, buah-buahan, dan pangan dari hewani yaitu
unggas, ikan, dan ternak kecil. Berbagai jenis rempah dan obat-obatan dapat tumbuh di Negara Indonesia. Indonesia saat ini tidak terlepas dari persoalan krisis
pangan. Permintaan pangan yang semakin meningkat tidak diimbangi dengan
penyediaan pangan. Ketidakseimbangan antara permintaan dengan penyediaan
pangan mengakibatkan pangan Indonesia dari impor meningkat. Salah satu faktor
dari permasalahan krisis pangan di Indonesia yaitu pertambahan penduduk.
Peningkatan jumlah penduduk yang pesat dari tahun ke tahun membuat
pemenuhan kebutuhan pangan menjadi hal prioritas bagi setiap orang. Jumlah
penduduk Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 237,64 juta jiwa.
Peningkatan jumlah penduduk Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah Penduduk di Indonesia Tahun1971, 1980, 1990, 1995,
2000 dan 2010 (juta jiwa)
No
1
2
3
4
5
6

Tahun
1971
1980
1990
1995
2000
2010

Jumlah Penduduk
119,20
147,49
179,37
194,75
206,26
237,64

Sumber: Badan Pusat Statistik (2012)

Masyarakat

Indonesia

saat

ini

sudah

meningkatkan

konsumsi

umbi-umbian, pangan hewani, buah-buahan, dan sayuran dibandingkan dengan
konsumsi karbohidrat khususnya beras. Meskipun demikian, konsumsi kalori
didominasi oleh konsumsi energi kelompok padi-padian dengan proporsi sebesar
1

50% (Badan Ketahanan Pangan, 2012)

1

. Tingkat konsumsi kalori pada

masyarakat Indonesia sebagaimana disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Rata-Rata Konsumsi Kalori (Kkal) per Kapita Sehari Menurut
Kelompok Makanan Tahun 2007-2011
No

Komoditi

2007

2008

2009

953,16

968,48

2010

2011

939,99

927,05

919,10

1

Padi-padian

2

Umbi-umbian

52,49

52,75

39,97

37,05

43,49

3

Ikan

46,71

47,64

43,52

45,34

47,83

4

Daging

41,89

38,60

35,72

41,14

44,71

5

Telur dan susu

56,96

53,60

51,59

56,20

55,97

6

Sayur-sayuran
Kacangkacangan
Buah-buahan
Minyak dan
lemak
Bahan minuman

46,39

45,46

38,95

38,72

37,40

73,02

60,58

55,94

56,19

54,17

49,08

48,01

39,04

40,91

39,44

246,34

239,30

228,35

233,39

232,03

113,94

109,87

101,73

100,29

97,69

17,96

17,11

15,61

16,00

16,14

70,93

66,92

58,75

59,18

59,70

246,04

289,85

278,46

273,84

304,35

-

-

-

-

-

0

0

0

0

0

2.014,91

2.038,17

1.927,63

1.925,61

1.952,01

7
8
9
10
11
12
13
14
15

Bumbu-bumbuan
Konsumsi
lainnya
Makanan jadi*)
Minuman
beralkohol
Tembakau dan
sirih
Total

Sumber: Badan Pusat Statistik (2012)
*)
: termasuk minuman beralkohol

Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan kontribusi sumber karbohidrat
mengalami penurunan yang mengakibatkan perubahan pola konsumsi pangan
masyarakat membaik. Hal ini diperkuat dengan tingkat konsumsi pangan rata-rata
orang Indonesia yang dapat diukur dari konsumsi energi pada tahun 2011
mencapai 1.952,01 kkal/kap/hari mendekati anjuran WNPG (Widyakarya
Nasional Pangan dan Gizi) IX tahun 2008 sebesar 2.200 kkal/kap/hari. Rata-rata

1

http://bkp.deptan.go.id/node/148 diakses tanggal 17 Maret 2012

2

konsumsi protein sebesar 56,25 gram/kapita/hari (BPS, 2011) mendekati angka
anjuran sebesar 57 gram/kapita/hari.
Ketahanan pangan tingkat nasional mulai membaik, namun secara
langsung belum menjamin tercapainya ketahanan pangan tingkat rumah tangga.
Menurut UU Pangan tahun 1996, ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya
kebutuhan pangan bagi rumah tangga, tidak hanya dalam jumlah yang cukup,
tetapi juga harus aman, bermutu, bergizi, dan beragam dengan harga yang
terjangkau oleh daya beli masyarakat. Sebagian besar rumah tangga belum
mampu mewujudkan ketersediaan dan konsumsi pangan yang cukup, terutama
dalam hal mutu dan tingkat gizinya. Ketersediaan bahan pangan di Indonesia
ternyata tidak sejalan dengan konsumsi pangan yang masih dibawah pemenuhan
gizi yang dapat dilihat dari indikator skor Pola Pangan Harapan (PPH).
Kementerian Pertanian (2011) menyatakan bahwa hal ini diindikasikan
oleh konsumsi beras per kapita per tahun pada tahun 2010 sebesar 100,76 kg yang
mengalami penurunan sebesar 1,40 kg dari 102,22 kg pada tahun 2009, atau
99,33% dari target penurunan konsumsi beras per kapita per tahun sebesar 1,50%.
Konsumsi umbi-umbian tahun 2010 sebesar 14,20 kg/kapita/tahun atau 55,74%
dari target 25,40 kg/kapita/tahun, konsumsi pangan hewani tahun 2010 sebesar
15,60 kg/kapita/tahun atau 78,80% dari target 19,80 kg/kapita/tahun, dan
konsumsi sayuran dan buah-buahan tahun 2010 mencapai 77,20 kg/kap/tahun atau
93,80% dari target 82,30 kg/kapita/tahun. Pencapaian skor PPH pada tahun 2010
sebesar 77,50 atau 89,69% dari target skor PPH sebesar 86,40 (Kementerian
Pertanian, 2011). Skor PPH tahun 2010 masih dibawah skor ideal 100 yang
diharapkan dapat tercapai pada tahun 2015. Salah satu upaya dalam pemantapan
3

ketahanan pangan ditingkat rumah tangga dapat dilakukan melalui diversifikasi
pangan.
Salah satu kontrak kerja antara Menteri Pertanian dengan Presiden selama
tahun 2009–2014 yaitu Empat Sukses Pertanian (Badan Ketahanan Pangan,
2012)2. Empat Sukses Pertanian merupakan salah satu Peningkatan Diversifikasi
Pangan (Penganekaragaman Pangan) dengan tujuan untuk meningkatkan
keanekaragaman pangan sesuai dengan karakteristik daerah. Diversifikasi pangan
merupakan konsep yang banyak bergantung pada semangat mengurangi dampak
resiko usahatani, mengurangi ketergantungan pada satu komoditas (Suradisastra,
dkk, 2006). Kebijakan diversifikasi pangan diawali dari Instruksi Presiden (Inpres)
Nomor 14 tahun 1974 tentang Upaya Perbaikan Menu Makanan Rakyat
(UPMMR) dan sampai yang terakhir melalui Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun
2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan
Berbasis Sumber Daya Lokal. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya
diversifikasi pangan, namun pada kenyataannya tingkat konsumsi masyarakat
masih bertumpu pada pangan utama beras serta tingkat konsumsi yang masih
dibawah anjuran pemenuhan gizi. Langkah yang dilakukan oleh pemerintah yaitu
melalui upaya pemanfaatan lahan pekarangan dengan penggunaan sumberdaya
lokal yang dikelola oleh rumah tangga.
Sistem pekarangan merupakan salah satu sistem pertanian yang telah lama
dikenal oleh masyarakat desa. Peranan pekarangan sampai sekarang masih belum
banyak diperhatikan orang. Apabila lahan pekarangan dikelola secara optimal

2

http://bkp.deptan.go.id/node/148 diakses tanggal 17 Maret 2012

4

maka mampu memberikan kontribusi dalam mencukupi pangan dan gizi keluarga
serta hasil dari pekarangan dapat menambah pendapatan.
Komitmen

pemerintah

untuk

melibatkan

rumah

tangga

dalam

mewujudkan kemandirian pangan, diversifikasi pangan berbasis sumberdaya
lokal, dan konservasi tanaman untuk masa depan dengan budaya menanam di
pekarangan

(Kementerian

Pertanian,

2011).

Program

pemerintah

yang

bersentuhan dengan pemanfaatan lahan pekarangan misalnya: Program Tanaman
Obat Keluarga (TOGA) dan Program Pengembangan Diversifikasi Pangan dan
Gizi (DPG). Kementerian Pertanian (2011) menyatakan bahwa agar mampu
menjaga

keberlanjutan

pemanfaatan

pekarangan,

maka

perlu

dilakukan

pembaruan rancangan pemanfaatan pekarangan dengan memperhatikan berbagai
program yang telah berjalan seperti Percepatan Penganekaragaman Konsumsi
Pangan (P2KP) dan Gerakan Perempuan Optimalisasi Pekarangan (GPOP).
Pemerintah melakukan perpaduan program tersebut agar manfaatnya dapat
dirasakan secara langsung oleh masyarakat, maka tercipta Program Kawasan
Rumah Pangan Lestari (KRPL).
Program KRPL merupakan program dari Kementerian Pertanian yang
dilaksanakan pada tahun 2010. Program KRPL bertujuan mengoptimalkan lahan
untuk meningkatkan produksi tanaman pangan. Kabupaten yang pertama dipilih
oleh Kementerian Pertanian dalam pelaksanaan KRPL adalah Kabupaten Pacitan.
Latar belakang KRPL di Kabupaten Pacitan yaitu hasil tindak lanjut dari
kunjungan Presiden RI ke Rumah Hijau yang merupakan inisiatif Dinas Pertanian
Provinsi Jawa Timur (Saptana, dkk, 2011). Kabupaten Pacitan merupakan

5

kabupaten yang memiliki tingkat ketahanan pangan yang baik 3 . Kabupaten
Pacitan melakukan optimalisasi lahan dalam upaya peningkatan produksi tanaman
pangan dengan penggunaan teknik tanam terpadu bibit unggul untuk mengatasi
topografi daerah yang 80% terdiri dari pegunungan dan bukit. Masyarakat Pacitan
mendapatkan bantuan langsung pada tahun 2011 dari pemerintah untuk
mendorong peningkatan produksi. Seiring dengan bantuan langsung, maka
pemerintah membentuk KRPL dalam rangka memperkuat ketahanan pangan
tingkat desa yang bertujuan memacu kemandirian desa dengan memanfaatkan
lahan desa hingga pekarangan rumah.
Awal pengembangan KRPL dilakukan di Desa Kayen, Kecamatan Pacitan,
Kabupaten Pacitan. Desa Kayen menjadi desa percontohan KRPL yang dipilih
oleh Kementerian Pertanian. Salah satu desa yang menerapkan KRPL secara
swadaya adalah Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan. Desa
Banjarsari mengadopsi program KRPL dari Desa Kayen. Kajian ini ditujukan
untuk mengetahui sejauh mana pengaruh yang diberikan KRPL dalam
mendukung kesejahteraan masyarakat.
1.2

Perumusan Masalah
Luas lahan pekarangan secara nasional sekitar 10,3 juta ha atau 14% dari

keseluruhan luas lahan pertanian dan merupakan sumber potensial penyedia bahan
pangan yang bernilai gizi dan memiliki nilai ekonomi tinggi (Kementerian
Pertanian, 2011). Pengembangan pertanian yang sudah dilaksanakan saat ini
masih terbatas pada penanganan lahan sawah, sedangkan untuk pekarangan
belum banyak mendapatkan perhatian. Pertumbuhan penduduk yang semakin

3

http://bbp2tp.litbang.deptan.go.id diakses tanggal 30 Maret 2012

6

pesat menuntut usaha pemenuhan penyediaan makanan dan perluasan daerah
pemukiman. Tingginya konversi lahan membuat masyarakat melakukan alternatif
dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi di lahan yang sempit yaitu dengan
pemanfaatan pekarangan. Pemanfaatan lahan pekarangan menjadi salah satu
alternatif untuk meningkatkan konsumsi aneka ragam sumber pangan lokal yang
diharapkan dapat menurunkan konsumsi beras, terpenuhinya gizi yang seimbang,
dan dapat meningkatkan pendapatan.
Program KRPL merupakan salah satu alternatif dengan menggunakan
pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan
pangan, gizi keluarga, dan peningkatan pendapatan yang pada hasil akhirnya
dapat meningkatkan kesejahteraan melalui pemberdayaan masyarakat. Program
KRPL dapat memacu masyarakat untuk mewujudkan kemandirian desa dalam
mengoptimalkan berbagai tanaman pangan.
Desa yang menerapkan KRPL secara swadaya adalah Desa Banjarsari,
Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan. Pengembangan KRPL di Desa Banjarsari
telah berjalan satu tahun hanya selang satu sampai dua bulan dari Desa Kayen.
Pengembangan KRPL memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Desa
Banjarsari.
Sebelum Desa Banjarsari menerapkan KRPL, kehidupan masyarakat di
desa tersebut sebagian besar belum melakukan optimalisasi pekarangan dan
pengembangan pertanian. Masyarakat belum melakukan intensifikasi pekarangan
yang bertujuan untuk mendapatkan manfaat sebesar-sebesarnya. Masyarakat
hanya menanam tanaman turun-menurun atau sudah ada saat tinggal di Desa
Banjarsari seperti pohon mangga, pohon pisang, pohon jeruk, dan lain-lain.
7

Tanaman sayuran sangat jarang diusahakan padahal ini sangat penting untuk
digalakkan dalam kebutuhan pangan dan pemenuhan gizi. Pengetahuan
masyarakat terhadap manfaat pekarangan juga masih kurang khususnya mutu dan
gizi pangan. Sebagian masyarakat tidak mengetahui arti dan peranan empat sehat
lima sempurna.
Seiring dengan perkembangan KRPL, kehidupan masyarakat di sekitar
desa mengalami perubahan baik dari aspek sosial, ekonomi, maupun lingkungan.
Pengembangan program KRPL menumbuhkan dan meningkatkan aktivitas
ekonomi masyarakat. Pengembangan KRPL berperan penting dalam peningkatan
nilai tambah dari hasil produksi pekarangan. Pengembangan KRPL juga
mempengaruhi pengeluaran rumah tangga.
Pengembangan KRPL merupakan pembelajaran bagi masyarakat untuk
bersama-sama mengelola sesuatu aset yang mereka miliki meskipun sempit.
Lahan yang sempit memiliki potensi yang sangat penting bagi pemiliknya. Lahan
pekarangan dalam KRPL ditanam bahan pangan seperti umbi-umbian, sayuran,
buah serta bahan pangan hewani yang berasal dari ikan, unggas, dan ternak kecil
serta kotoran ternak digunakan sebagai pupuk kompos. Masyarakat desa dapat
memenuhi kebutuhan dan gizi keluarga dari hasil pekarangan. Berdasarkan
pemaparan tersebut, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai
berikut:
1) Bagaimana persepsi masyarakat mengenai KRPL di Desa Banjarsari?
2) Bagaimana manfaat fisik dari adanya KRPL dalam mendukung pemenuhan
kebutuhan pangan rumah tangga di Desa Banjarsari?

8

3) Bagaimana biaya dan manfaat bagi rumah tangga dalam pengembangan
KRPL di Desa Banjarsari?
4) Bagaimana keberlanjutan KRPL di Desa Banjarsari?
1.3

Tujuan
Berdasarkan perumusan masalah, secara umum penelitian ini bertujuan

untuk mengevaluasi KRPL di Desa Banjarsari dilihat dari dampak yang
ditimbulkannya. Secara lebih rinci maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1) Mengidentifikasi persepsi masyarakat mengenai KRPL di Desa Banjarsari.
2) Mengidentifikasi manfaat fisik dari adanya KRPL dalam mendukung
pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga di Desa Banjarsari.
3) Mengestimasi biaya dan manfaat dari adanya pengembangan KRPL di
masyarakat Desa Banjarsari.
4) Mengevaluasi keberlanjutan KRPL di Desa Banjarsari.
1.4

Manfaat Penelitian
Sehubungan dengan tujuan yang telah ditetapkan, maka hasil penelitian ini

diharapkan dapat:
1) Bagi Pemerintah Kabupaten Pacitan dan Instansi yang terkait memahami
implementasi KRPL untuk kemudian menjadi bahan evaluasi pengembangan
KRPL berikutnya.
2) Bagi masyarakat terutama yang terlibat langsung dalam pelaksanaan
penelitian untuk mengaktualisasikan dan menyampaikan pandangannya
mengenai KRPL.

9

3) Bagi peneliti dan akademisi diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai
rujukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
1.5.

Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini membatasi pembahasannya pada kasus yang terjadi di Desa

Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur yang merupakan
kabupaten pertama yang melaksanakan KRPL. Pengembangan KRPL merupakan
pengembangan pekarangan sehingga hasil dari KRPL tersebut beraneka ragam.
Penelitian ini hanya fokus dalam gerakan polibagisasi untuk sayuran yang
merupakan misi dari KRPL di Desa Banjarsari. Jenis tanaman sayuran dari
pekarangan adalah cabe rawit, tomat, terong, kangkung, bayam, dan sawi. Hasil
peternakan masyarakat adalah ayam buras petelur. Hasil perikanan masyarakat
adalah Ikan Lele dan Ikan Nila.
Periode produksi dan konsumsi yang diteliti merupakan periode terakhir
KRPL yaitu untuk sayuran dua minggu, ayam buras periodenya satu bulan, dan
ikan periodenya sekali panen. Pendapatan keluarga di Desa Banjarsari dari Luar
KRPL mencakup petani, Pegawai Negeri Sipil (PNS), pensiunan, wiraswasta,
buruh, swasta.

10

II.

2.1

TINJAUAN PUSTAKA

Ketahanan Pangan
Menurut FAO (1997) menyatakan bahwa ketahanan pangan merupakan

situasi dimana semua rumah tangga mempunyai akses baik fisik maupun ekonomi
untuk memperoleh pangan bagi seluruh anggota keluarganya, dan dimana rumah
tangga

tidak

beresiko

untuk

mengalami

kehilangan

kedua

akses

tersebut.Pencapaian ketahanan pangan di Indonesia terkait dengan salah satu
tujuan UUD 1945 dalam alinea keempat yaitu mencapai kesejahteraan umum. Hal
tersebut berarti konsep ketahanan pangan mencakup ketersediaan pangan yang
memadai, stabilitas, dan akses terhadap pangan-pangan utama. Ketersediaan
pangan yang memadai mengacu pada pangan yang cukup dan tersedia dalam
jumlah yang dapat memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga. Stabilitas
merujuk pada kemungkinan rumah tangga mampu mencukupi ketersediaan
pangan dan frekuensi makan anggotanya dalam sehari. Akses terhadap pangan
mengacu pada kenyataan bahwa masih banyak masyarakat yang mengalami
kelaparan karena ketidakadaan sumberdaya untuk memproduksi pangan atau
ketidakmampuan untuk membeli pangan sesuai kebutuhan rumah tangga.
Konsep ketahanan pangan mulai mengalami pekembangan dari 1970-an
hingga dipertegas lagi mengenai pengertian ketahanan pangan pada World Food
Summit yang dilaksanakan tahun 1996 menyatakan bahwa ketahanan pangan
tercapai bila semua orang secara terus-menerus, baik secara fisik, sosial, dan
ekonomi mempunyai akses untuk pangan yang memadai/cukup, bergizi dan aman,
yang memenuhi kebutuhan pangan mereka dan pilihan makanan untuk hidup
secara aktif dan sehat (DKP, 2009).
11

Ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah
tangga yang tercermin dari: (1) tersedianya pangan yang cukup, baik dalam
jumlah maupun mutunya; (2) aman; (3) merata; (4) terjangkau (Departemen
Pertanian, 2001). Konsep ketahanan pangan semakin dipertegas dengan kebijakan
pembangunan global yaitu Millenium Development Goals (MDGs). Tujuan utama
pembangunan MDGs yaitu mengurangi proporsi penduduk yang hidup
kemiskinan dan kelaparan sampai setengahnya pada tahun 2015.
Indonesia

menjadi

salah

satu

negara

yang

berkomitmen

untuk

mengintegrasikan MDGs sebagai bagian dari program pembangunan nasional.
Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk mencapai target MDGs. Upaya
yang dilakukan oleh Indonesia antara lain adalah dengan melaksanakan
pembangunan ketahanan pangan sebagai salah satu program utama pembangunan
nasional.
2.2

Pekarangan
Menurut Sastrapradja et.al (1979) pekarangan adalah sebidang tanah di

sekitar rumah yang mudah di usahakan dengan tujuan untuk meningkatkan
pemenuhan gizi mikro melalui perbaikan menu keluarga. Pekarangan sering juga
disebut sebagai lumbung hidup, warung hidup atau apotik hidup. Lahan
pekarangan bisa ditanam dengan beraneka jenis tanaman untuk menghasilkan
yang dibutuhkan sehari-hari seperti tanaman buah-buahan, sayur-sayuran,
bunga-bungaan, tanaman obat-obatan, bumbu-bumbuan, rempah-rempah dan
lain-lain. Karakteristik lahan pekarangan dengan ditandai beberapa indikator
penting (Rukmana, 2008), antara lain sebagai berikut:
1) Meliputi areal yang sempit atau terbatas.
12

2) Berisi aneka tanaman.
3) Letaknya dekat dengan rumah.
4) Hasilnya yang diperoleh digunakan untuk keperluan sehari-hari.
5) Pada umumnya tidak memerlukan modal besar.
Fungsi pekarangan dapat digolongkan menjadi dua bagian yakni fungsi
ekonomis dan non-ekonomis. Pekarangan berfungsi ekonomis yaitu hasil
pembudidayaan pekarangan dapat dimanfaatkan langsung untuk memenuhi
kebutuhan hidup; sedangkan pekarangan berfungsi non-ekonomis yaitu hasil
pembudidayaan pekarangan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan
hidup secara tidak langsung (jasa lingkungan). Secara garis besar, pemanfaatan
lahan pekarangan menurut lokasinya dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu:
1) Di daerah pedalaman, pekarangan pada umumnya dimanfaatkan sebagai
sumber pangan dan gizi, obat-obatan, dan rempah-rempah serta untuk
pelestarian lingkungan (Sastrapradja, dkk, 1979).
2) Di daerah pedesaan yang dekat dengan pusat konsumsi, pekarangan
dimanfaatkan sebagai penghasil buah-buahan, sumber penghasilan, dan
pelestarian lingkungan (Afrinis, 2009).
3) Di daerah perkotaan, pekarangan dimanfaatkan sebagai sumber pangan untuk
perbaikan gizi, memberikan kenyamanan dan keindahan, serta melestarikan
lingkungan (Rukmana 2005).
Apabila pemanfaatan pekarangan diolah dengan baik, maka dapat
digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selain untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari, pekarangan dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat
di pedesaan yang banyak bergantung dari sektor pertanian.
13

2.3

Pemanfaatan Pekarangan
Pemanfaatan

pekarangan

mempunyai

peranan

dalam

memenuhi

kebutuhan pangan dan gizi. Potensi pekarangan mempunyai peluang untuk
dikembangkan sehingga secara optimal dapat menopang kehidupan masyarakat.
Pada pengembangan potensi pekarangan perlu adanya program yang terencana.
Program yang terencana dalam pemanfaatan pekarangan bertujuan untuk
memberikan manfaat bagi pengelolayang melaksanakan kegiatan. Hal ini dapat
dilihat pada hasil penelitian Pari (2004) menyatakan pekarangan sebagai salah
satu praktek wanatani (agroforestri) sederhana, sangat dekat dengan kegiatan
masyarakat sehari-hari dan dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mengadakan
TOGA atau dikenal dengan apotek hidup melalui lembaga PKK di setiap desa.
Program TOGA membudidayakan tumbuhan obat untuk mendukung kesehatan
keluarga.
Pada pelaksanaan program harus ada kerjasama antara masyarakat dengan
pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada penelitian
Rihastuti (1993) menyatakan bahwa dalam rangka usaha peningkatan gizi dan
pendapatan keluarga perlu adanya keseimbangan antara petani/masyarakat dan
petugas yang terkait dalam pembinaan dan pelaksanaan menuju Usaha Perbaikan
Gizi Keluarga (UPGK). Program UPGK merupakan usaha memberikan
pendidikan kepada masyarakat dengan sasaran utama yaitu para ibu dan anak.
Salah satu kegiatan pendidikan gizi yang dilakukan pada program UPGK yaitu
mengembangkan intesifikasi pemanfaatan lahan pekarangan (Marwanti, 1986).
Kementerian Pertanian RI saat menggalakkan Gerakan Percepatan
Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) menjadi dasar munculnya kembali
14

pemanfaatan pekarangan pada tahun 2010. Gerakan tersebut merupakan tindak
lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan P2KP
berbasis sumberdaya lokal (Kementerian Pertanian, 2012). Kementerian Pertanian
(2012)

pada

Pedoman

Umum

Pelaksanaan

P2KP

menyatakan

bahwa

implementasi kebijakan P2KP pada tahun 2012 sebagai bentuk keberlanjutan dari
kegiatan P2KP tahun 2010 diwujudkan melalui kegiatan: (1) Pemberdayaan
kelompok wanita melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan dan bantuan alat
penepung; (2) Pengembangan pangan lokal melalui kegiatan pra-pangkin dan
kerja sama dengan Perguruan Tinggi dalam pengembangan teknologi pangan
lokal; (3) Sosialisasi dan promosi penganekaragaman konsumsi pangan; (4)
Pengembangan Kawasan Diversifikasi Pangan (PKDP) yang merupakan
pengembangan dari kegiatan P2KP pada tingkat kawasan.
Kementerian Pertanian (2011) menyatakan bahwa Direktorat Jenderal
Hortikultura melaksanakan Gerakan Perempuan untuk Optimalisasi Pekarangan
(GPOP) untuk mendukung P2KP. Tujuan gerakan tersebut lebih fokus untuk
memberdayakan perempuan perkotaan melalui optimalisasi pemanfaatan lahan
pekarangan. Komoditas utama yang dioptimalkan dalam GPOP adalah cabai
keriting, cabai rawit, sayuran, tanaman obat dan tanaman hias.
Kegiatan optimalisasi pemanfaatan pekarangan atau lahan sempit
(utamanya daerah perkotaan) di Jawa Timur dilakukan dengan aneka tanaman
hortikultura yakni sayuran, buah-buahan, tanaman hias dan biofarmaka.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur mencanangkan Rumah Hijau pada tahun 2010
sebagai salah satu solusi klimatologi yang berimbas pada menurunnya beberapa
produksi pangan (Anonim, 2011).
15

Rumah Hijau yang pertama kali dilaksanakan di Kabupaten Sidoarjo,
Provinsi Jawa Timur. Rumah Hijau kemudian dikembangkan dan disempurnakan
oleh Badan Litbang Pertanian dengan membangun Model KRPL di Kabupaten
Pacitan. Pengembangan konsep KRPL (Rumah Hijau Plus-Plus) sejalan dengan
Strategi Pengembangan Jawa Timur untuk mewujudkan visi dan menjalankan
misi pembangunan daerah Jawa Timur tahun 2009-2014 dilakukan melalui empat
strategi pokok yaitu (Badan Ketahanan Pangan Jawa Timur, 2012):
1) Pembangunan berkelanjutan berpusat
development)

yang

mengedepankan

pada

rakyat

partisipasi

(people centered
masyarakat

dalam

merencanakan dan mengawasi program pembangunan yang menyangkut hajat
hidup mereka sendiri.
2) Keberpihakan pada masyarakat miskin (pro-poor).
3) Pengarusutamaan gender.
4) Keseimbangan pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi,
terutama melalui pengembangan agroindustri/agribisnis.
2.4

Kawasan Rumah Pangan Lestari
Pengembangan KRPL merupakan pemanfaatan pekarangan dalam

mewujudkan kemandirian pangan pada suatu kawasan. Pelaksanaan KRPL
dilakukan pada satu dusun (kampung) atau Rukun Tetangga (RT) yang telah
menerapkan prinsip RPL dengan menambahkan intensifikasi pemanfaatan pagar
hidup, jalan desa, dan fasilitas umum lainnya (sekolah, rumah ibadah, dan
lainnya), lahan terbuka hijau, serta mengembangkan pengolahan dan pemasaran
hasil (Kementerian Pertanian, 2011).

16

2.4.1

Konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari
Model KRPL merupakan upaya untuk menuju kecukupan dan kemandirian

pangan rumah tangga. Pengembangan KRPL juga memiliki tujuan untuk menekan
biaya pengeluaran rumah tangga dengan cara memenuhi kebutuhannya sehari-hari
dengan memanfaatkan sumberdaya yang mereka miliki, serta agar mampu
menghindar dari dampak anomali iklim ekstrim. Model KRPL akan menjadi
tumpuan untuk mengantisipasi perubahan alih fungsi lahan pertanian dengan
keadaan dalam pemanfaatan pekarangan.
Pengembangan KRPL merupakan gerakan dari dan untuk masyarakat
pedesaan mulai tingkat dusun sampai dengan tingkat Rumah Tangga (RT) yang
bekerjasama dengan ibu-ibu Tim Penggerak PKK mulai tingkat provinsi sampai
dengan Dasa Wisma dan instansi pemerintah hanya berfungsi sebagai motivator,
fasilator, dan stabilator terhadap gerakan ini (Badan Ketahanan Pangan, 2012).
Rumah Pangan Lestari merupakan rumah yang memanfaatkan pekarangan secara
intensif melalui pengelolaan sumberdaya alam lokal secara bijaksana, yang
menjamin

kesinambungan

persediaannya

dengan

tetap

memelihara

dan

meningkatkan kualitas, nilai dan keanekaragamannya.
2.4.2

Tujuan Kawasan Rumah Pangan Lestari
Kementerian Pertanian (2011) menyatakan bahwa tujuan pengembangan

KRPL yang tercantum dalam Pedoman Umum KRPL adalah:
1) Meningkatkan keterampilan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan
lahan pekarangan di perkotaan maupun pedesaan untuk budidaya tanaman
pangan, buah, sayuran dan TOGA, pemeliharaan ternak dan ikan, pengolahan
hasil serta pengolahan limbah rumah tangga menjadi kompos.
17

2) Memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan masyarakat secara lestari
dalam suatu kawasan.
3) Mengembangkan kegiatan ekonomi produktif keluarga dan menciptakan
lingkungan hijau yang bersih dan sehat secara mandiri.
Badan Ketahanan Pangan, Jawa Timur (2012) menyatakan bahwa tujuan
utama pengembangan KRPL adalah:
1) Meningkatkan ketersediaan dan cadangan pangan keluarga.
2) Meningkatkan penganekaragaman pangan.
3) Meningkatkan kualitas gizi keluarga.
4) Meningkatkan pendapatan keluarga.
5) Menumbuh kembangkan ekonomi kreatif di setiap desa.
2.4.3

Prinsip Kawasan Rumah Pangan Lestari
Prinsip utama KRPL adalah pengelolaan pekarangan untuk mewujudkan

ketahanan dan kemandirian pangan, diversifikasi pangan berbasis sumberdaya
lokal, konservasi tanaman pangan, dan menjaga kelestariannya melalui Kebun
Bibit Desa (KBD), menuju peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat
(Kementerian Pertanian, 2011).
2.4.4

Sasaran Kawasan Rumah Pangan Lestari
Sasaran yang dituju pada KRPL adalah berkembangnya kemampuan

keluarga maupun masyarakat secara ekonomi, sosial yang bermartabat dalam
memenuhi kebutuhan pangan dan gizi secara lestari menuju keluarga maupun
masyarakat yang mandiri, dan sejahtera (Kementerian Pertanian, 2011). Badan
Ketahanan Pangan, Jawa Timur (2012) menyatakan bahwa sasaran KRPL adalah:

18

1) Pemberdayaan ibu rumah tangga yang tergabung dalam PKK Desa dan Dasa
Wisma sebagai pelaku dan pengelola pekarangan.
2) Menumbuh kembangkan KBD dan sarana penunjang lainnya.
3) Meningkatkan peran Koperasi Wanita yang ada di setiap desa sebagai sumber
permodalan penyedia agroinput dan pemesan hasil produksi baik segar
maupun olahan.
Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Jawa Timur
(2011) menyatakan bahwa sasaran rumah tangga dalam pengembangan KRPL
dikelompokkan menjadi tiga strata berdasarkan luas lahan pekarangan yang
dikuasai, adalah: (1) Strata 1 yaitu rumah tangga yang memiliki luas pekarangan
<100 m2atau tanpa pekarangan (hanya teras rumah); (2) Strata 2 yaitu rumah
tangga yang memiliki luas pekarangan 100-300 m2 (kategori sedang); (3) Strata 3
yaitu rumah tangga yang memiliki luas pekarangan <300 m2 (kategori luas).
Kementerian Pertanian (2012) menyatakan bahwa sasaran rumah tangga
dalam pengembangan KRPL dikelompokkan menjadi dua menurut kelompok
pekarangan yaitu: (1) Kelompok pekarangan lahan perkotaan; (2) Kelompok
pekarangan lahan pedesaan. B

Dokumen yang terkait

Dokumen baru