Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan

Ine Rahaju, 2014 Analisis Penyelengaraan Pendidikan Anak Usia Dini Yang Menggunakan Model Beyond Center And Circle Time Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

B. Pembahasan

Berdasarkan temuan dan kajian teori penulis membuat analisa penyelenggaraan PAUD yang menggunakan Model BCCT dengan pembahasan sebagai berikut.

1. Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan

Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan sudah sesuai dengan yang tercantum dalam Permen 58 tahun 2009, Hanya penomoran dan penggunaan indicator kurang efektif dan konsisten. Pembelajaran sesuai DAP baru memfasilitasi keunikan individu anak dari kepribadian, bakat, pengalaman , gaya belajar dan latar belakang anak yang terlihat dari keragaman main di berbagai sentra dan mengarahkan pembelajaran berbasis lingkungan alam setempat dengan penatan dan eksplorasi yang dilakukan anak .Guru memberi kesempatan pada anak yang memiliki bahasa daerah sangat kental pada tahap awal sekolah guru membantu kepahaman bahasa Indonesia anak dengan mengulang kata dalam bahasa daerah anak tersebut. Pengembangan indicator untuk skala penilaian yang digunakan dari model BCCT yang lebih rinci mencerminkan tahapan perkembangan anak sesuai teori perkembangan tidak dilakukan secara rinci. Dengan menggunakan Pengembangan indicator dalam skala penilaian BCCT untuk kegiatan main anak akan lebih berdampak pada bermain bermakna anak sesuai perkembangannya dan kemampuan individu peserta didik lebih terlayani. Hal ini akan sedikit kurang mencerminkan prinsip pendidikan anak usia dini yang sesuai dengan perkembangan anak, karena karakteristik anak satu dengan yang lain memiliki fase yang berbeda. Dimana skala penilaian Model BCCT sesuai dengan DAP yang menunjukkan adanya urutan tertentu yang dapat diramalkan. Skala penilaian BCCT menurut CCCRT sangat sesuai dengan setiap perkembang anak baik bahasa, kognitif, motorik maupun social emosional yang terapat dalam teori perkembangan anak. Misalnya di balok ketika guru menyiapkan tahapan yang menjadi pijakan ketika anak akan membuat bangunan ,tahapan perkembangan anak dalam membangun lebih terarah. Dari tahap hanya mengambil balok tanpa membentuk bangunan hingga membangun garis ke atas , ke samping, bersusun ke samping, ke atas, hingga bangunan terdiri dari banyak bagian. Di Sentra Ine Rahaju, 2014 Analisis Penyelengaraan Pendidikan Anak Usia Dini Yang Menggunakan Model Beyond Center And Circle Time Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu bermain peran tahapan perkembangan social dan emosional anak lebih terpantau dari cara ia bermain apakah masih di bermain soliter atau sudah pada taraf bermain kooperatif. Di sentra persiapan dalam menggambar, meronce, menulis, menggunting memberikan tahapan lebih rinci.Tetapi ini tidak dilaksanakan di PAUD Pelopor, karena dalam juknis pendekatan BCCT dari Direktorat tidak membahas skala penilaian ini. Dan PAUD Pelopor menggunakan Model BCCT menurut Direktorat. Kegiatan pembelajaran sambil bermain sudah hamper sepenuhnya sesuai dengan prinsip perkembangan menurut Bredecamp and Coople 2008, yaitu perkembangan semua aspek saling mempengaruhi dan berkaitan satu sama lain , perkembangan yang terjadi relative dalam suatu urutan tertentu dan dapat diramalkan, pengalaman awal anak memiliki pengaruh yang kumulatif dan tertunda, pembelajaran dengan bermain, serta kondisi terbaik anak untuk berkembang dan belajar adalah dalam komunitas yang menghargai, memenuhi kebutuhan fisiknya, dan aman secara fisik maupun psikologis. HAnya saja jika melihat prinsip bermain model BCCT, densitas main harus berdasarkan prinsip tiga jenis main belum menjadi dasar guru menentukan densitas main, Sehingga ada beberapa sentra yang tiak memenuhi tiga jenis main ini. Dan jika memenuhi itu hanya kebetulan. Tingkat pencapaian perkembangan tahun 2013-2014 yang di buat dalam kegitan main belum memasukkan keragaman pengembangan tema dalam penataan lingkungan, program pembelajaran dan alat bermain edukatif. Karena kegiatan main dilakukan berulang 2-3 kali dalam sebulan. Seharusnya dengan indicator yang sama guru dapat menggunakan tema yang dan kegiatan main yang berbeda untuk putaran ke dua sentra. Hal ini kurang sesuai dengan prinsip perkembangan Aisyah 2008, bahwa perkembangan terjadi dalam rentang yang bervariasi anatar anak , antar bidang Pengembangan, , perkembangan anak berlangsung kearah yang makin kompleks, terorganisasi, dan terinternalisasi sesuai tahapan main model BCCT , perkembangan akan mengalami percepatan apabila anak berkesempatan mempraktikkan berbagai keterampilan yang diperoleh dan mengalami tantangan setingkat lebih tinggi dari hal –hal yang dikuasainya, anak memiliki modalitas beragam untuk mengetahui sesuatu sehingga dapat belajar hal yang berbeda dengan cara berbeda pula dalam hal-hal yang diketahuinya. Tahun 2014-2015 tema dibuat beragam yaitu 17 tema. Ine Rahaju, 2014 Analisis Penyelengaraan Pendidikan Anak Usia Dini Yang Menggunakan Model Beyond Center And Circle Time Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Hal ini terjadi karena kurang lengkapnya pengelola mengartikan prinsip perkembangan anak , bahwa pengalaman awal memiliki pengaruh kumulatif dan tertunda dalam perkembngan anak sehingga suatu pengalaman harus berulang agar berpengaruh kuat dan tahan lama pada anak. Sebenarnya pengulangan stimulasi atau pengalaman main dari satu indicator dilakukan dengan kegiatan main yang berbeda agar konsep pengetahuan dan kosa kata anak semakin banyak. Ini sesauai juga dengan prinsip perkembangan yang akan mengalami percepatan jika anak berkesempatan untuk mempraktikan berbagai keterampilan yang diperoleh dan mengalami tantangan setingkat lebih tinggi dari hal-hal yang telah dikuasai. Sehingga penataan alat main di kegiatan main harus dapat memfasilitasi anak sesuai kompetensi, minat dan kebutuhan anak. Anak akan cenderung malas dan tidak termotivasi ketika dihadapk an pada hal-hal yang berulang sama persis, terutama untuk anak yang memiliki percepatan perkembangan. Tantangan setingkat lebih tinggi dari kemampuan perkembangan anak harus diterapkan sesuai dengan konsep Zone Proximal Development ZPD anak. Selain itu keragaman main diberikan pada satu indicator harus diberikan untuk memfasilitasi anak yang memiliki modalitas beragam seperti gaya belajar, kecerdasan majemuk yang berbeda. Sehingga variasi metode dan media harus diusahakan. Untuk memfasilitasi perbedaan lebih rinci dari tingkat pencapaian perkembangan, sebaiknya indikator sudah harus rinci menjadi tahapan kemampuan anak disetiap kegiatan main disentra menurut perkembangan dalam model BCCT. Karena kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan anak yang dibangun berdasarkan pada apa yang sebelumnya diperoleh. Walau pengaruh kebudayaan dan social anak turut mempengaruhi perkembangan anak namun secara umum urutan perkembangan anak dapat diramalkan. Misalnya dalam sentra balok ada tahapan bermain balok yang harus dikenalkan pada anak, sehingga permainan balok dapat berkembang mulai dari menyusun ke samping, ke atas , membuat bangunan dengan isi ruang yang disimpan di luar hingga ruangan yang sudah dapat menyimpanan isi ruangan dalam bangunan ruangan itu. Kegiatan main di sentra PAUD Alam Pelopor disiapkan untuk mengembangkan aspek- aspek perkembangan secara keseluruhan. Dalam satu hari kegiatan tidak hanya terfokus pada satu aspek saja. Ini terlihat dari penilaian yang tidak hanya satu indicator tetapi banyak. Dimana indicator yang dinilai merupakan bagian dari aspek perkembangan nilai moral agama, bahasa, motorik, kognitif dan social emosional Ine Rahaju, 2014 Analisis Penyelengaraan Pendidikan Anak Usia Dini Yang Menggunakan Model Beyond Center And Circle Time Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

2. Standar pendidik dan tenaga pendidik a. Kualifikasi