Minat klerikal, yaitu minat yang berhubungan dengan pekerjaan

suatu kegiatan pembelajaran dapat diketahui seberapa besar perhatian yang diberikannya dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. c. Memiliki pengetahuan Selain dari perasaan senagn dan perhatian, untuk mengetahui berminat atau tidaknya seorang siswa terhadap kegiatan dapat dilihat dari pengetahuan yang dimilikinya. Siswa yang berminat terhadap suatu kegiatan, maka ia akan mempunyai pengeauan yang luas tenang kegiatan tersebut, tahu tujuan dan manfaat kegiatan tersebut dalam kegiatan sehari- hari. d. Perasaan tertarik Makna minat menurut Croow and Crow interest bisa berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong kita cenderung atau rasa tertarik pada orang, benda atau kegiatan ataupun bisa berupa pengalaman yang efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. 15 Orang yang memiliki minat terhadap suatu kegiatan pada dirinya akan terdapat kecenderungan yag kuata untuk tertarik kepada guru dan materi yang diajarkan e. Keinginan dan cita-cita Keinginan dan cita-cita anak-anak yang masih muda umumnya bersifat material. Akan semakin dewasa seseorang, akan berbuah dan berkisar pada siswa perbaikan dan pembentukan kepribadiannya, ambisi, kesopanan dan aspirasi. Siswa yang belajar dengan giat dan tekun diyakini akan mencapai cia-cita yang ia inginkan di masa yang akan datang. f. Prestise penghargaan Sejak kecil anak menamakan bahwa berbagai pekerjaan mempunyai berbagai tingkat prestise. Misalnya anak yang bersekolah akan jauh lebih bergengsi daripada anak yang tidak sekolah. Anak ang disekolahkan di sekolah yang unggul dan terkenal lebih bergengsi dibanding sekolah yang biasa saja. 16 15 Abdurrahman Abrar, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 2005, cet, IV, h. 112 16 Sardini, h. 7-8, loc.Icit Menumbuhkan minat belajar pada diri siswa merupakan tugas bagi guru dan orang tua. Minat sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, penting bagi seorang guru untuk menguasai strategi yang dapat membangkitkan minat siswa terhadap materi dan topik-topik di kelas. Menurut Jeanne Ellis Ormrod, terdapat beberapa strategi yang sering membangkitkan minat terhadap topik-topik di kelas, diantaranya yaitu; a. Modelkan contohkan kesenangan dan antusiasisme tentang topik- topik di kelas b. Sesekali masukan keunikan, variasi, fantasi atau materi sebagai bahan pelajaran dan prosedur c. Doronglah siswa mengindentifikasi tokoh-tokoh sejarah atau karakter fiksi serta membayangkan apa yang mungkin dipikirkan atau dirasakan oleh orang-orang ini. Memberikan kesempatan bagi siswa untuk merespon materi pelajaran secara aktif, mungkin dengan memanipulasi dan bereksperimen dengan objek-objek fisik, menciptakan produk baru, memperdebatkan isu-isu kontroversial atau mengajarkan sesuatu yang telah mereka pelajari kepada teman-teman sebayanya. Selain indikator yang telah disebutkan diatas, minat juga dapat dipengaruhi dengan gaya belajar anak baik di rumah maupun di sekolah. Connell dalam Muhammad Yaummi membagi gaya belajar kedalam tiga bagian, yakni visual learners, auditory learners dan kinestethic learners. 17 Siswa visual adalah siswa yang belajar sesuatu paling baik melalui penglihatan. Kekuatan siswa visual adalah visual, oleh karena itu mereka membutuhkan alat peraga atau alat bantu belajar yang dapat mereka lihat secara langsung, seperti power point, gambar-gambar, pster dan lain sebagainya. Siswa auditorial adalah siswa yang belajar sesuatu paling baik melalui pendengaran. Siswa auditorial paling baik belajar dengan metode ceramah. Sedangkan siswa kinestetik adala gaya 17 Muhammad Yamin, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran Disesuaikan dengan kurikulum 2013, Jakarta: Kencana, 2013, h. 127 belajar dimana siswa melakukan aktivitas secara fisik. Siswa kinestetik lebih baik jika menggunakan metode pembelajaran role playing. 18

2. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

a. Pengertian PKn

Menurut Trianto, Pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia yang kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan. Pembelajaran secara sederhana diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan adan pengalaman hidup. Dalam makna yang lebih kompleks pembelajaran hakikatnya adalah usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya menarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya dalam rangka untuk mencapai tujuan yang diharapkan. 19 Menurut pandangan Soemantri 1967 Pendidikan Kewarga Negara PKN identik dengan istilah civic yaitu mata peljaran yang bertujuan membentuk atau membina warga Negara yang baik, warga Negara yang tahu, mau, sadar akan hak dan kewajibannya. Tujuan PKN ini untuk mewujudkan pelksanaan demokrasi di Indonesia, sehingga lebih menekankan pada pemenuhan hak dan kewajiban sebagai warga Negara. Hal ini dapat diwujudkan dalam bentuk sikap, perilaku dan perbuatan yang baik. Dalam pandangan Zamroni, pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan demokratis yang bertujuan untuk mempersiapkan warga masyarakat berpikir kritis dan bertindak demokratis, melalui aktivitas memanamkan kesadaran bahwa demokrasi adalah bentuk kehidupan masyarakat yang paling menjamin hak-hak warga masyarakat. 20 Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelalajaran yang digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia. nilai luhur dan moral ini diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku kehidupan siswa sehari- hari baik sebagai individu maupun anggota kelompok dan mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan usaha untuk membekali siswa dengan pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hbungan antar 18 Ibid, h. 128-129 19 Trianto, Mendesain Model Pembelajaran inovatif-Progresif,Jakarta:Kencana. 2009, h. 17 20 Moh Murtado Amin, dkk. Pembelajaran PKN MI EdisiPertama.Surabaya: LAPIS PGMI. 2009, hlm. 1-8 warganegara dengan negara srta pendidikan pendahuluan bela negara agar menjadi wara negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara. Dengan pendidikan Keganegarawaraan mampu membina dan mengembangkan anak didik agar menjadi waraga negara yang baik good citizen. Edmoson 1958 menyatakan bahwa maka Civics Pendidikan Kewarganegaraan selalu didefinisikan sebagai sebuah studi tentang pemerintahan dan kewarganegaraan yang terkait dengan kewajiban, hak, dan hak-hak istimewawarga negara. Pengertian ini menunjukan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan Civics merupakan cabangdari ilmu politik, sebagaimana tertuang dalam Dictionary of Education. Menurut Azyumardi Azra, Pendidikan Kewarganegaraan Civics adalah pendidikan yang cakupannya lebih luas dari Pendidikan kan HAM karena mencakup kajian dan pembahasan tentang banyak hal seperti:pemerintahan, konstitusi, lembaga-lembaga demokrasi, rule of law, hak dan kewajiban warga negara, proses demokrasi, partisipasi aktif dan ketlibatan warga Negara dalam Masyarakat Madani, pengetahuan tentang lembaga- lembaga dan sistem yang terdapat dalam pemerintahan, politik dan sistem hukum, pengetahuan tentang HAM, kewarganegaraan aktif dan sebagainya. 21 Menurut Mansoer, dalam Muhammad Erwin dengan bukunya yang berjudul Pendidikan Kewarganegaraan Republik Indonesia menyatakan bahwa pada hakikatnya kewarganegaraan merupakan hasil dari sintesis antara civic education, demokracy education, serta citzenship yang berlandaskan pada faktor filsafat Pancasila serta mengandung identitas nasional Indonesia serta materi muatan tentang bela negara. 22 Dari pendapat para tokoh diatas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan kewargganegaraan adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari ilmu tata negara, demokrasi, Pancasila, masyarakat madani serta ilmu tentang bela negara dan cintat tanah air. Dengan memperlajri pendidikan kewarganegaraan diharapkan siswa dapat memahami 21 A. Ubaedillah Abdul Rozak. Pendidikan Kewarga {negara} an Pancasila, Demokrasi, HAM dan Masyarakat Madani. Jakarta: ICCE UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prenada Media Grup. 2012, hlm. 15. 22 Muhammad Erwin, Pendidikan Kewarganegaraan Republik Indonesia, Jakarta: PT Refika Aditama, 2010, h. 3 dan mengaplikasikan bagaimana cara menjadi warga negara yang baik, yang mencintai tdan berani membela tanah airnya. Tujuan pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didikmenjadi warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI. Pebelajaran PKn di sekolah dasar dimaksudkan sebagai suatu proses belajar mengajar dalam rangka membantu peseeta didik agar dapat belajar dengan baik dan mebentuk manusia Indonesia seutuhnya dalma pembentukan karakter bangsa yang diharapkan mengarah pada peciptaan suatu masyarakat yang menempatkan demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan pada Pancasila, UUD, dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Esensi pembelajaran PKn bagi anak adalah bahwa secara kodati mapun sosiokultural dan yuridis formal, keberadaaan dan kehidupan manusia selalu membutuhkan nilai, moral dan norma. Dalam kehidupannya manusia memiliki keinginan, kehendakdan kemauan human desire yang erbeda untuk selal membina, mempertahankan, mengembangkan dan meningkatkan aneka potensinya, berikut segalaperangkat pendukungna, sehingga mereka dapat menagrahkan dan mengendalikan dunia kehidupan ini dengan baik dan bermakna. 23

b. Tujuan Pembelajaran PKn

Berdasarkan Permendiknas No. 222006 tentang standar isi kurikulum nasional, tujuan pembelajaran Pkn di MI agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Berpikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan. 2. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggungjawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan berbangsa, bernegara serta anti korupsi. 3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya. 23 Drs. Ahmad Susanto, M. Pd. Op. Cit. Hlm. 227 4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan demikian tujuan pembelajaran PKn MI adalah untuk menjadikan warga negara yang baik, yaitu warga Negara yang tahu, mau dan sadar akan hak dan kewajibannya. Dengan demikian diharapkan kelak dapat menjadi bangsa yang terampil dan cerdas, dan bersikap baik sehingga mampu mengkuti kemajuan teknologi modern. Agar Pendidikan Kewarganegaraan mencapai tujuan maksimal, diperlukan beberapa persyaratan sebagai berikut: pertama, lingkungan kelas haruslah demokratis; kedua, materi tentang pendidikan kewarganegaraan tidak dapat diajarkan secara verbalistis, melainkan harus melalui situasi dan pengalaman yang dikenal oleh peserta didik, dan ketiga, model pembelajaran yang dikembangkan adalah model pembelajaran interaktif. Menurut Muhammad Erwin dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Kewarganegaraan Reublik Indonesia, menyebutkan bahwa adanya Pendidikan Kewarganegaraan bagi bangsa Indonesiaa akan senatiasa diupayakan untuk membentuk manusia Indonesia seutunya, sebagaimana yang diamanahkan Pembukaan UUD 1945,yakni sebagai manusia Indonesia ang relgius,berkemanusiaan dan berkeadaban, yang memilki nasionalisme, yang cerdas, yang berkerakyatan dan ang adal terhadap lingkungan sosialnya. 24

c. Ruang Lingkup PKn

Ruang lingkup pembelajaran PKn MI sebagaimana yang dinyatakan pada kurikulum nasional yang tercantum dalam Permendiknas 222006 tentang standar Isi adalaa sebagai berikut: 25 1. Persatuan dan kesatuan angsa, meliputi hidup rukun dalam perbedaan, cinta lingkungankebanggaan sebagai bangsa Indonesia, sumpah pemuda, keutuhan Negara Persatuan Republik Indonesia, partisipasi dalam pembelaan negara, sikap positif terhadap Negara Kesatuan Repblik Indonesia, keterbukaan dan jaminan keadilan. 2. Norma, hukum, dan peraturan meliputi tertib dalamkehidupan keluarga, tatat tertib di sekolah, norma yang berlaku di masyarakat, peraturan- 24 Erwin, op. cit., h. 6 25 Moh Murtado Amin, dkk. Op.cit, hlm 1-9 – 1-10

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

97 2714 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 704 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 591 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 390 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 527 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

43 891 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

43 809 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 494 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 734 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 881 23