Identifikasi Batas Lapang Tana „Ulen Lalut Birai dan Inventarisasi Aturan Pengelolaannya di Taman Nasional Kayan Mentarang

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Taman Nasional Kayan Mentarang merupakan kawasan konservasi

dengan luasan 1,3 juta Ha (Wulffraat et al. 2005). Pengelolaan kawasan tersebut
dilakukan

secara

kolaboratif

dengan

melibatkan

berbagai

pihak

yang

berkepentingan terhadap kawasan, seperti masyarakat sekitar dan pemerintah.
Pengelolaan secara kolaboratif tersebut telah disahkan melalui SK Menhut
1214/kpts-II/2002 sehingga Taman Nasional Kayan Mentarang satu-satunya
kawasan konservasi di Indonesia dengan pengelolaan kolaboratif (Menhut 2002).
Kawasan tersebut di kelilingi dan berada di sebelas wilayah adat. Sebelas
wilayah adat tersebut adalah Hulu Bahau, Pujungan, Mentarang, Lumbis, Tubu,
Krayan Hilir, Krayan Tengah, Krayan Darat, Krayan Hulu, Kayan Hilir dan
Kayan Hulu (WWF 2010c). Masyarakat dalam wilayah adat tersebut memiliki
interaksi yang kuat dengan kawasan. Sebagian besar kebutuhan hidup masyarakat
diperoleh dari hutan. Interaksi tersebut melahirkan konsep Tana „Ulen untuk
mengelola sumberdaya hutan yang ada di dalamnya. Pengelolaan hutan tersebut
terbukti mampu menjaga keutuhan areal hutan, sehingga anak cucu mereka hingga
saat ini masih dapat merasakannya (Uluk et al. 2001).
Tana „Ulen Lalut Birai merupakan Tana „Ulen adat suku Kenyah Leppo
Ma‟ut yang tinggal di Desa Long Alango. Masyarakat mengatakan areal tersebut
berada di Sungai Enggeng yang mengalir ke sungai besar di sekitarnya seperti
Sungai Kayan. Identifikasi batas lapang dan proses pemetaan areal tersebut
menjadi diperlukan dan diharapkan dapat membantu berbagai pihak yang ingin
mewujudkan konservasi daerah tangkapan air di Kalimantan Timur. Mengetahui
berbagai aturan yang diterapkan dalam mengelola kawasan, baik oleh masyarakat
maupun Balai TNKM dapat memberikan informasi pengelolaan kawasan hutan
yang masih terjaga hingga saat ini.
Proses pemetaan partisipatif telah dilakukan terhadap areal Tana „Ulen
Lalut Birai. Pemetaan tersebut hingga saat ini belum dilanjutkan dengan
identifikasi batas lapang, sehingga belum diketahui secara pasti kondisi batas

2

lapang areal Tana „Ulen tersebut. Kegiatan ini diperlukan untuk mengetahui areal
Tana „Ulen sebenarnya dan untuk membedakan dengan areal di sekitarnya.
Mengetahui batas lapang areal Tana „Ulen yang sebenarnya akan dapat digunakan
untuk membandingkan dengan kawasan TNKM yang mengelilinginya.
Latar belakang lainnya adalah hasil lokakarya mengenai pengelolaan Tana
„Ulen Lalut Birai. SPHT Lalut Birai atau Tana „Ulen Lalut Birai yang berada
dalam kawasan TNKM, saat ini dikelola secara kolaboratif oleh masyarakat
(BPTU) dan Balai TNKM. Masyarakat Desa Long Alango sebagai pengelola di
lapangan saat ini perlu mengetahui areal Tana „Ulen sebenarnya, dengan demikian
masyarakat akan mengetahui areal yang dikelolanya secara baik. Sehingga
kegiatan identifikasi batas lapang diharapkan dapat membantu masyarakat dalam
mengelola kawasan.
Kegiatan inventarisasi berbagai peraturan pengelolaan yang diterapkan
dalam Tana „Ulen dimaksudkan untuk membandingkan dan mengumpulkan
aturan pengelolaan masyarakat adat maupun pemerintah selama ini. Dengan
demikian dapat diketahui berbagai perubahan kebijakan pengelolaan kawasan dan
dapat membandingkan peraturan pengelolaan yang diterapkan kedua belah pihak.
Sistem Informasi Geografi (SIG) digunakan sebagai alat yang membantu
melakukan visualisasi dalam menganalisa data-data geografis (Prahasta 2004).
Dalam hal ini, SIG digunakan untuk memetakan areal Tana „Ulen dari berbagai
data-data geografis yang dikumpulkan dalam pengambilan data. Penampakan
secara visual areal Tana „Ulen dalam bentuk peta dapat digunakan untuk
menganalisa berbagai informasi yang diperoleh saat pengumpulan data dan dapat
digunakan untuk pengelolaan kawasan oleh masyarakat adat maupun pemerintah.
1.2

Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah:

1.

Mengidentifikasi batas lapang areal Tana „Ulen Lalut Birai di TNKM wilayah
SPTN II;

2.

Memetakan batas lapang Tana „Ulen Lalut Birai dan;

3.

Inventarisasi aturan pengelolaan yang diterapkan dalam Tana „Ulen Lalut
Birai oleh masyarakat adat dan pemerintah.

3

1.3

Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengelola kawasan dalam

menjalin pengelolaan kolaboratif bersama masyarakat. Sehingga kawasan
konservasi ini menjadi contoh yang kuat dalam melakukan pengelolaan hutan
bersama masyarakat. Masyarakat Desa Long Alango selaku pengelola Tana „Ulen
Lalut Birai dapat menggunakannya sebagai salah satu panduan dalam mengelola
areal tersebut. Para pihak yang terlibat dalam konservasi daerah tangkapan air di
Kalimantan dapat menggunakannya sebagai informasi dalam mengelola daerah
tangkapan air.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Pemetaan
Pemetaan dapat diartikan sebagai proses terpadu yang meliputi kegiatan

pengumpulan, pengolahan dan visualisasi dari data keruangan (Wibowo 2009).
Sedangkan peta dapat berupa gambaran permukaan bumi yang menggambarkan
lokasi suatu tempat dan memiliki topik tersendiri (Flavelle, tidak ada tahun terbit).
Proses pemetaan partisipatif tidak berbeda dengan proses pemetaan, yang
membedakan hanyalah teknik yang digunakan dan sumberdaya yang melakukan.
Pemetaan partisipatif memiliki kriteria tersendiri, yakni melibatkan
seluruh anggota masyarakat, masyarakat menentukan sendiri topik pemetaan dan
tujuannya, masyarakat menentukan sendiri proses yang berlangsung, proses
pemetaan dan produk-produk yang dihasilkan bertujuan untuk kepentingan
masyarakat, sebagian besar informasi yang terdapat di peta berasal dari
pengetahuan lokal dan masyarakat menentukan penggunaan peta yang dihasilkan.
Peta dapat digunakan untuk berbagai tujuan seperti mencatat dan
mengesahkan pengetahuan lokal atau pengetahuan tradisional, pengorganisasian
rakyat dan meningkatkan kesadaran mengenai masalah-masalah tanah dan
lingkungan, perencanaan, pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam
masyarakat adat, meningkatkan kapasitas masyarakat dalam berkomunikasi dan
menjalin kerjasama dengan pihak luar dan menegaskan serta menegosiasikan
kepemilikan kawasan adat.
2.2

Masyarakat adat
Masyarakat adat dalam Perda Kabupaten Nunukan No. 03/2004 tentang

Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat adalah mereka yang memiliki empat kriteria
sebagai berikut :
a. Adanya sekelompok masyarakat yang memiliki integritas, teratur dan bertindak
sebagai satu kesatuan yang terikat dan tunduk pada tatanan hukum adatnya;
b. Adanya struktur lembaga sendiri yang memiliki kewenangan untuk
mengadakan aturan-aturan yang diakui dan ditaati oleh warganya;

5

c. Adanya kekayaan masyarakat hukum tersendiri yang terpisah dari kekayaan
masing-masing warganya; dan
d. Adanya wilayah tertentu yang merupakan wilayah kekuasaan masyarakat
hukum adat yang bersangkutan.
Perda Hak Ulayat di atas juga mendefinisikan masyarakat adat sebagai
kesatuan-kesatuan kemasyarakatan yang bersifat tetap, mempunyai kelengkapan
untuk sanggup berdiri sendiri, mempunyai kesatuan hukum, kesatuan penguasa,
kesatuan lingkungan berdasarkan hak bersama atas tanah dan air bagi semua
anggotanya (Simarmata 2006).
Purba (2002) mendefinisikan masyarakat adat adalah mereka yang
memiliki ciri sebagai berikut:
a. Individu yang lahir, dibesarkan dan menetap di suatu tempat, biasanya di
pedesaan;
b. Seluruh anggotanya menempati kawasan yang sama dalam kurun waktu yang
cukup lama;
c. Hubungan diantara individu-individunya didasarkan pada keturunan dan
kesamaan wilayah pemukiman;
d. Warganya masih homogen atau terdapat kebudayaan dominan;
e. Dominan warganya masih terikat kuat pada hukum adat, nilai kearifan dan
tradisi pelestarian lingkungan;
f. Lisan atau tertulis terdapat aturan adat yang dipahami, diterima, diwariskan dan
dipatuhi oleh sebagian besar warganya;
g. Adanya perangkat hukum adat yang masih berperan kuat menegakan hukum
adat;
h. Memiliki hubungan historis, kultural, ekonomi, sosial, budaya dengan tanah
dimana ia bermukim;
i. Memiliki nilai-nilai yang masih dianut secara turun temurun oleh sebagian
besar warganya; dan
j. Warganya masih mematuhi kearifan atau tradisi pelestarian lingkungan.
Desa Long Alango masuk kedalam Wilayah Persekutuan Hukum Adat
Hulu Bahau, berbatasan di sebelah utara dengan Desa Long Kemuat dan di selatan
dengan Desa Long Tebulo. Pembentukan suatu kampung (Leppo) serta batas-

6

batas arealnya merupakan hasil dari sejarah suku Leppo Ma‟ut dan perpindahan
penduduknya dari satu desa ke desa lainnya. Namun, pada akhir tahun 1991
Camat Long Pujungan memerintahkan semua desa, termasuk Desa Long Alango
saat itu, agar menetapkan batas wilayahnya masing-masing secara definitif dan
hasilnya harus diserahkan ke kantor kecamatan (Lamis 1999).
Desa Long Alango di Kecamatan Bahau Hulu berpenduduk suku Kenyah
Leppo‟ Ma‟ut yang telah bermukim sejak tahun 1957-1958. Mereka diperkirakan
berasal dari daerah daratan Cina, dimana suku Kenyah tergeser oleh suku Madap
atau Marap dan terpaksa mengungsi berlayar menyeberangi lautan. Salah satu
perahu suku Kenyah mendarat di Kuala Telang Usan (Sungai Baram) di pantai
utara borneo. Kondisi yang tidak aman dengan suku-suku tetangga di daerah
tersebut, menyebabkan Suku Kenyah mulai masuk ke pedalaman Kalimantan
sampai ke daerah Sungai Belaga. Perpindahan tersebut belum berhenti di Sungai
Belaga, mereka berpindah ke pegunungan antara hulu Sungai Belaga, Sungai
Baram, Sungai Iwan dan Sungai Bahau. Perpindahan ke hulu Sungai Bahau
disambut baik oleh Leppo‟ Ke yang terlebih dahulu berada di daerah tersebut
(Lahang 1999).
Pada tahun 1940-an, beberapa penduduk Desa Long Kemuat membuka
ladang di daerah Sungai Lango karena areal lahan di sekitar Long Kemuat
semakin terbatas untuk perladangan. Kepala adat besar saat itu (Apuy Njau)
mengajak masyarakat untuk mencoba menggarap sawah pada tanah bekas ladang
di sekitar Sungai Lango yang banyak memiliki anak sungai dan mengalir
sepanjang tahun. Pembukaan ladang di areal Sungai Lango memberikan hasil
yang baik. Jarak yang cukup jauh antara Sungai Lango dengan desa,
menyebabkan Kepala Adat Besar dan Kepala Desa Long Kemuat pada tahun 1948
mengajak masyarakat berpindah ke Long Alango dan pada tahun 1952
terbentuklah Desa Long Alango. Perpindahan penduduk Desa Long Kemuat tetap
berjalan hingga tahun 1960-an. Pada akhirnya di Desa Long Kemuat terdapat
tujuh KK yang tidak berpindah ke Desa Long Alango dan Desa Long Kemuat
dapat berkembang kembali setelah menerima perpindahan penduduk dari Long
Aking.

7

2.3

Tana ‘Ulen
Tanah merupakan modal dasar masyarakat dalam memenuhi kebutuhan

hidup seperti untuk membuka ladang, berburu, mencari ikan, mencari rotan,
mencari kayu bangunan dan mencari hasil hutan. Kawasan ulen persekutuan adat
Desa Long Alango telah ada sejak berdirinya desa, bahkan sejak mulainya
masyarakat membuka hutan untuk pertanian, dan merupakan hubungan langsung
yang kuat antara masyarakat desa dan tanahnya. Dengan demikian, sumber daya
alam di kawasan ulen hanya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat
desa. Konsep ulen yang dikenal di wilayah persekutuan adat hulu bahau identik
dengan hak ulayat yang dikenal di berbagai persekutuan adat di Indonesia.
Hak ulayat dalam Perda Kabupaten Nunukan No. 03/2004 tentang Hak
Ulayat Masyarakat Hukum Adat didefinisikan sebagai hak atas tanah, hutan dan
perairan yang meliputi kesatuan lingkungan hidup, yang dikelola oleh kesatuan
penguasa menurut hukum adatnya berdasarkan hak bersama bagi semua anggota
masyarakat hukum adat. Kriteria akan keberadaan hak ulayat dalam Perda itu
disebutkan jika terdapat sekelompok orang yang masih terikat dengan tatanan
hukum adatnya sebagai warga bersama masyarakat adat; terdapat tanah ulayat
tertentu yang menjadi lingkungan hidup para warga masyarakat adat dan terdapat
tatanan hukum adat mengenai pengurusan, penguasaan dan penggunaan tanah
ulayat yang diakui dan ditaati oleh warga masyarakat adat.
Tana „ulen masyarakat adat atau “Tanah Adat” adalah tanah yang
dilindungi, dijaga kelestariannya dan hasil hutannya, dikelola secara berkelanjutan
oleh masyarakat setempat sesuai dengan hukum adat yang berlaku. Tana „ulen di
dalam wilayah masyarakat suku Kenyah pada umumnya dan suku Leppo Ma‟ut
khususnya sudah dibuat secara turun temurun, sampai kini dipertahankan dengan
nama Tana „ulen masyarakat adat. Tana „ulen berupa kawasan tanah yang
keberadaannya diperuntukkan bagi kaum paren (bangsawan) sebagai penguasa di
desa tersebut, dan dijadikan tempat simpanan atau cadangan sumberdaya alam
yang dapat diambil sewaktu-waktu sesuai kepentingan kaum paren (Konradus
1999).
Tana „ulen masyarakat adat Long Alango terletak di aliran Sungai
Enggeng di mulen oleh Apuy Njau selaku kepala adat besar Hulu Bahau.

8

Fungsinya adalah untuk cadangan ikan, hasil buruan dan hasil hutan lainnya bagi
kepentingan kegiatan pesta dan kebutuhan bahan bangunan untuk warga desa.
Untuk pengambilan hasil hutan dari Tana „ulen ditentukan waktu khusus dan
alasan khusus yang disebut buka ulen (Sirait 1999).
Pada awal tahun 1960-an, Tana „ulen akhirnya berubah status menjadi
milik desa (disebut Tana „ulen leppo‟) dan kemudian diperkuat dengan surat
keputusan oleh pemerintah daerah tingkat I Kalimantan timur pada tahun 1967.
Sehingga Tana „ulen leppo‟ dijaga dan dikelola dengan seksama untuk
kepentingan bersama sebagai sumber pemenuhan kebutuhan masyarakat seperti
bahan bangunan, bahan pangan, dan HHNK bernilai ekonomi.
Pada tahun 1963-1964 ketika terjadi konfrontasi antara Indonesia dan
Malaysia praktek pengelolaan Tana „ulen mengalami perubahan drastis. Para
prajurit TNI pada waktu itu bertugas di wilayah perbatasan (pos-pos penjagaan)
menjadi terbiasa masuk berburu di Tana „ulen desa-desa daerah Bahau Hulu untuk
mencari lauk-pauk, dengan mengajak sejumlah warga setempat.
Dalam pengelolaan Tana „ulen leppo‟ oleh desa, terdapat sejumlah aturan
yang dipatuhi bersama oleh semua warganya secara ketat. Hasil hutan diambil
pada waktu-waktu tertentu yang disebut buka ulen dan tidak mengikuti kalender
tetap seperti kalender perladangan, serta khusus untuk kepentingan desa. Hal-hal
yang tidak diperbolehkan seperti ngusa (mengambil atau mengusahakan hasil
hutan) diluar waktu buka ulen atau melewati batas waktu buka ulen, masuknya
warga desa lain tanpa ijin kepala desa dan memotong rotan atau menebang pohon
kayu manis yang masih muda. Pelanggaran terhadap aturan-aturan pengelolaan
Tana „ulen leppo‟ dikenakan sanksi yang disesuaikan dengan jenis pelanggaran.
Jika pelanggar adalah warga di luar desa, dikenakan sanksi lebih berat. Demikian
juga kaum paren, pimpinan atau aparat desa karena mereka berasal dari keluarga
yang mendukung adanya Tana „ulen leppo‟, yaitu golongan yang menjadi teladan
bagi warga desa lainnya.
2.4

Sistem Informasi Geografi (SIG)
Pada dasarnya terdapat dua jenis data yang digunakan untuk memodelkan

kenampakan-kenampakan dunia nyata saat ini. Data spasial atau sering disebut
dengan aspek-aspek keruangan seperti data koordinat, posisi dan ruang

9

merupakan data awal yang digunakan untuk memodelkan penampakan rupa bumi.
Sedangkan data kedua adalah data atribut atau sering disebut sebagai data yang
menjelaskan secara deskriptif mengenai fenomena yang dimodelkan.
Data yang digunakan untuk menampilkan kenampakan dunia nyata
tersebut dapat disimpan dan diproses (dilakukan secara terpisah) sedemikian rupa
sehingga dapat ditampilkan dalam bentuk-bentuk yang lebih sederhana dan sesuai
kebutuhan. Keunggulan tersebut menjadi nilai lebih tersendiri bagi SIG
dibandingkan peta yang menampilkan dan menyimpan data secara bersamaan.
Sistem Informasi Geografi menurut Prahasta (2002) adalah suatu teknologi
baru yang berbasiskan komputer dan menjadi alat bantu (tools) yang sangat
esensial dalam menyimpan, memanipulasi, menganalisis dan menampilkan
kembali kondisi-kondisi alam dengan bantuan data atribut dan spasial. Dengan
demikian terdapat empat kemampuan SIG yang berbasiskan komputer dalam
menangani informasi bereferensi geografi yakni input data, manajemen data,
analisis dan manipulasi data serta luaran atau tampilan yang diinginkan (Aronoff
1989 diacu dalam Prahasta 2005).
Weng (2010) mengatakan SIG dapat digunakan untuk menangani berbagai
data yang bersifat geografis, termasuk di dalamnya data atribut dan spasial yang
mampu menjelaskan berbagai kenampakan rupa bumi dan konsep mendasar dari
SIG adalah lokasi dalam sebaran keruangan dan keterkaitannya.
Sistem Informasi Geografi ini memiliki sistem yang komplek dan terdiri
atas beberapa komponen seperti perangkat keras, perangkat lunak, data &
informasi geografi serta sumberdaya manusia. Perangkat keras tersebut seperti
komputer, mouse, keyboard, monitor, hard disk, digitizer, printer, plotter dan
scanner. Perangkat lunak yang dapat digunakan seperti IDRISI, MapInfo,
ERDAS, Arc View dan Arc Gis. Data dan informasi geografi yang diperlukan
secara langsung dapat diperoleh dengan mendijitasi data spasialnya dari peta dan
memasukkan data atributnya dari laporan-laporan, sedangkan data dan informasi
geografi yang dibutuhkan secara tidak langsung dapat diperoleh dengan cara
mengimportnya dari perangkat lunak SIG yang lain. Sumberdaya manusia atau
orang-orang yang memiliki keahlian dalam manajemen dan mengerjakan SIG
merupakan salah satu unsur terpenting.

10

Sistem Informasi Geografis memadukan data keruangan dan data
atributnya dalam menampilkan dunia nyata. Sistem Informasi Geografis
menyimpan semua informasi deskriptif data keruangan sebagai atribut-atribut di
dalam basis data yang berbentuk tabel dan dapat dihubungkan. Setelah
dihubungkan antara data keruangan dan tabel yang bersangkutan, dapat dilakukan
pencarian terhadap data atribut melalui lokasi-lokasi dalam data keruangan.
Keterkaitan antara data keruangan dan atributnya ditampilkan dalam
satuan-satuan yang disebut layer. Gedung, hutan, jalan dan batas-batas desa
merupakan contoh layer yang jika dikumpulkan akan membentuk basis data SIG.
Rancangan basis data akan menentukan efektifitas dan efisiensi proses-proses
pemasukan, pengelolaan dan luaran SIG.
2.5

Global Positioning System (GPS)
Gunarso et al. (2003) mengartikan GPS sebagai sebuah alat dengan sistem

radio navigasi dan menggunakan satelit dalam menentukan suatu lokasi.
Puntodewo et al. (2003) mengatakan frekuensi sinyal radio yang dipancarkan
sebuah satelit sangat rendah dan secara kontinu. Sinyal radio tersebut akan
diterima secara pasif oleh GPS. Selain satelit dan GPS, dalam menentukan lokasi
terdapat pula stasiun pengontrol yang tersebar di beberapa tempat. Stasiun ini
berfungsi menilai kelayakan satelit, menentukan orbit dan memonitor satelit GPS.
Satelit GPS tersebut berjumlah 24 buah dengan ketinggian 11.500 mil dan
mengorbit selama 12 jam (dua orbit dalam sehari) serta memiliki kecepatan 2000
mil per jam. Satelit tersebut dioperasikan oleh Departemen Pertahanan Amerika
Serikat. Sinyal yang dipancarkan satelit agar dapat diterima dengan baik oleh GPS
memerlukan kondisi dibagian atas GPS tanpa halangan apapun, baik awan, tajuk
pepohonan maupun gedung-gedung. Sinyal satelit minimal yang diperlukan untuk
menghitung posisi dalam tiga dimensi sebanyak 4 buah.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1

Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di wilayah Taman Nasional Kayan Mentarang,

tepatnya di Kecamatan Bahau Hulu Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan
Timur (Gambar 1). Interpretasi citra dan analisis citra dilakukan di Bagian
Analisis Spasial Lingkungan Laboratorium Hutan Kota dan Jasa Lingkungan
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober hingga bulan
Desember 2011.

Gambar 1 Lokasi penelitian identifikasi batas lapang Tana „Ulen Lalut Birai.
3.2

Alat dan Bahan
Alat yang diperlukan dalam penelitian ini adalah seperangkat komputer

yang dilengkapi dengan SIG yang terdiri atas perangkat keras (hardware) dan
perangkat lunak (software), Microsoft Office 2007 untuk membuat dan menyusun
laporan, ArcGIS 9.3 dan ERDAS 9.1 untuk mengolah data SIG, analisis, dan
membuat tampilan berupa peta. Alat yang digunakan di lapangan diantaranya

12

GPS (Global Positioning System), kamera, panduan wawancara dan alat tulis.
Bahan yang digunakan tersaji dalam Tabel 1 di bawah ini:
Tabel 1 Bahan yang diperlukan berdasarkan jenis dan sumber datanya
No
1
2
3
4
5
6
7
8

3.3

Jenis bahan
Peta Kawasan TNKM
Peta Topografi Kaltim
Peta Kab. Malinau & Nunukan
Peta Aliran Sungai Kaltim
Peta Penutupan Lahan Kaltim
Peta Zonasi Kawasan TNKM
Citra Landsat 7 ETM+ (Enhanced
Thematic Mapper Plus)
Citra SRTM (Shuttle Radar Topography
Mission)

Sumber bahan
WWF dan TNKM
WWF dan TNKM
WWF dan TNKM
WWF dan TNKM
WWF dan TNKM
WWF dan TNKM
USGS

Keterangan
Peta tahun 1996
Peta tahun 1999
Peta tahun 1999
Peta tahun 1999
Peta tahun 1999
Peta tahun 2010
Peta tahun 2009

USGS

Peta tahun 2009

Metode Pengumpulan Data

3.3.1 Pengumpulan data sekunder
Data sekunder diperlukan dalam penelitian ini sebagai data yang
mendukung dalam penelitian. Berikut disajikan data sekunder yang diperlukan
dan cara serta sumber memperoleh data sekunder (Tabel 2).
Tabel 2 Data sekunder yang diperlukan dalam penelitian
No
1
2
3

Jenis data
Demografi penduduk
Informasi Nilai Kehati
Koordinat lokasi penting menurut
masyarakat

Metode
Studi Literatur
Studi Literatur
Ground Check
dan Diskusi

Sumber data
Kantor Kecamatan
WWF dan TNKM
Areal Tana „Ulen

Penentuan koordinat lokasi penting menurut masyarakat dilakukan dengan
menyusuri batas lapang dan sebelumnya berdiskusi bersama pengelola untuk
menentukan areal mana yang merupakan daerah penting tersebut. Areal penting
dalam areal didasarkan pada persepsi masyarakat sebagai pemilik dan pengelola
kawasan. Areal penting tersebut dapat berupa areal bersejarah, areal sebagai
pemenuhan kebutuhan pangan dan areal berburu.
3.3.2 Pengumpulan data primer
Data primer merupakan data yang akan diolah menjadi peta Tana „ulen
dan berbagai data lainnya. Tabel di bawah ini akan menunjukan data primer yang
diperlukan, cara serta sumber memperoleh data tersebut (Tabel 3).

13

Tabel 3 Data primer yang diperlukan dalam penelitian
No
1
2

Jenis data
Letak dan batas lapang Tana
„Ulen
Aturan pengelolaan kawasan

Metode
Ground check dan Diskusi
Wawancara dan Studi literatur

Sumber data
Kawasan TNKM
BPTU dan BTNKM

Kegiatan identifikasi batas lapang areal Tana „ulen dilakukan dengan
menyusuri areal tersebut dan mengambil gambaran kondisi batas lapang. Selain
itu diambil pula koordinat batas lapang areal Tana „ulen tersebut dengan
melibatkan masyarakat setempat sebagai pengelola kawasan. Namun sebelum
pengambilan koordinat disepakati terlebih dahulu bersama pengelola ciri fisik
yang diingat pengelola sebagai batas lapang. Pengambilan koordinat batas lapang
dilakukan dengan tidak kontinu, karena kondisi lapang tidak selamanya mudah
ditelusuri. Kondisi batas lapang didokumentasikan dengan kamera digital.
Kegiatan lain yang dilakukan berupa pengumpulan berbagai aturan
pengelolaan yang diterapkan di kawasan oleh pihak BTNKM dan BPTU.
Pengumpulan berbagai aturan pengelolaan dilakukan dengan mewawancarai
pengelola areal Tana „ulen seperti pihak BPTU dan studi literatur di Balai TNKM.
Wawancara dilakukan menggunakan panduan wawancara dan panduan studi
literatur yang selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran dan masih dapat
dikembangkan sesuai keperluan.
3.3.3 Pengolahan data
Pengolahan data yang dilakukan meliputi pengolahan data spasial dan
pengolahan data attribut. Pengolahan data ini menggunakan sistem informasi
geografis dalam penggabungan data spasial dan attribut, sehingga terbentuk
tampilan (overlay) data spasial.
3.3.3.1 Proses pengolahan peta
Data spasial yang diperoleh dirubah terlebih dahulu kedalam format
shapefile (shp) dengan proyeksi yang digunakan UTM. Sedangkan peta yang
berupa AutoCAD (dxf) dirubah dalam bentuk shp (Gambar 2).

14

AutoCAD (dxf)

Shapefile (shp)

Screen Digitazing

Peta digital shp

Transform UTM

Atributting

Gambar 2 Proses konversi peta format dxf ke format shp.
Pengolahan data citra Landsat dilakukan dengan menggunakan Software
ArcGIS 9.3. Tahapan yang dilakukan dalam pengolahan citra landsat disajikan
dalam Gambar 3.
Citra Landsat

Koreksi geometrik

Perbaikan Gambar

Perbaikan Gambar

Koordinat kawasan
Plotting

Buffering

Cut

Kawasan TNKM

Calculate
statistic

Klasifikasi
Confusion matrix

Ground check

Training area

Klasifikasi

tidak
terbimbing

Tidak

terbimbing
Ya
Analisis akurasi

Diterima?

Land cover

Gambar 3 Proses pengolahan citra landsat.
Langkah-langkah pengolahan citra landsat tersebut diuraikan seperti di
bawah ini:
a. Koreksi Radiometrik akan menghilangkan gangguan atmosfer akibat pantulan
dan hamburan dari partikel udara dan kualitas sensor yang kurang baik.
b. Pemilihan gabungan band saluran dengan kombinasi 5-4-3.

15

c. Pemotongan citra dilakukan dengan memotong wilayah yang menjadi obyek
studi.
Pengambilan titik di lapangan dilakukan setelah areal Tana „ulen dan
batasnya diketahui. Koordinat areal Tana „ulen yang diperoleh akan digabungkan
dengan berbagai peta yang ada (Gambar 4).
3.4

Analisis Data
Data yang diperoleh berupa kondisi batas lapang dan peta areal Tana „Ulen

berikut aturan pengelolaan Tana „Ulen yang dilakukan oleh pihak BPTU dan
BTNKM. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menghubungkan data
yang diperoleh untuk pengelolaan kawasan.

Peta Topografi

Citra Landsat

Peta Penutupan Lahan

Peta Kabupaten

Peta Aliran Sungai

Peta Kawasan TNKM

Malinau & Nunukan
DEM Kontur
Digitasi, editing, transformasi
koordinat,map join, attributing
Peta Topografi

Peta Penutupan
Lahan

Peta Kabupaten
Malinau & Nunukan

Peta Aliran Sungai

Peta Kawasan TNKM

Overlay & Cropping
Keterangan :

= Input

Peta TNKM Wil. SPTN II

Koordinat Batas Tana „ulen

= Proses
Input & Cropping

= Output

Peta Areal Tana „ulen

Gambar 4 Proses pembuatan peta areal tana „ulen.

16

BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1

Administrasi Geografis
Taman Nasional Kayan Mentarang memiliki luas wilayah sebesar

1.350.000 Ha dengan posisi geografis 2º hingga 4º Lintang Utara. Secara
administratif lokasi ini berada di Propinsi Kalimantan Timur dan di dua kabupaten
yakni, Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan. Kawasan ini berbatasan
dengan Malaysia di bagian timur laut hingga kearah barat dan bagian selatan
berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Tengah (TNKM 2002) (Gambar 5).

Gambar 5 Letak Taman Nasional Kayan Mentarang secara administratif.
4.2

Kondisi Fisik Dasar Kawasan

4.2.1 Topografi
Taman Nasional Kayan Mentarang terletak di punggung pegunungan
dengan ketinggian yang bervariasi mulai dari 300 mdpl hingga 2000 mdpl. Sekitar
50% dari taman nasional memiliki elevasi lebih dari 1000 mdpl. Kemiringan
lereng di taman nasional umumnya sebesar 40%. Sehingga taman nasional ini
memiliki punggung bukit yang tinggi dan lembah-lembah dalam serta terpotong-

18

potong oleh garis lipatan yang berkelok-kelok dan dipengaruhi oleh pusat-pusat
vulkanik. Sekitar 75% kawasan terdiri atas batu kapur atau bahan endapan lainnya
yang tercampur dengan batuan metamorfik.
Pegunungan yang berasal dari gunung berapi sering kali terdiri dari
beberapa punggung utama sedangkan pegunungan yang berasal dari bahan
endapan terlihat sebagai punggung bukit yang memanjang dan dipisahkan oleh
lembah sungai. Secara geomorfologis terdapat dua bagian taman nasional yang
tertutupi oleh batuan vulkanik dan yang tidak tertutupi oleh batuan vulkanik.
Batuan vulkanik tersebut menutupi formasi endapan yang ada sebelumnya di
wilayah selatan taman nasional.
4.2.2 Hidrologi
Taman Nasional Kayan Mentarang dengan kondisi pegunungan,
perbukitan dan lembah-lembahnya yang dalam merupakan daerah penting
tangkapan air bagi tiga sungai besar di Kalimantan Timur. Sungai Kayan
merupakan salah satu sungai besar yang sumber airnya berdekatan dengan
perbatasan taman nasional bagian selatan dan anak sungainya mengalir melalui
kawasan. Sungai Sesayap memiliki dua anak sungai, yakni Sungai Mentarang dan
Sungai Tubu yang keduanya memperoleh sumber air dari pegunungan di bagian
tengah serta utara kawasan dan airnya mengalir kedalam Sungai Sesayap. Sungai
Sembakung merupakan salah satu sungai terbesar yang anak sungainya
memperoleh sumber air dari bagian utara kawasan.
Aliran permukaan sungai tersebut mengalami puncaknya pada bulan
November, Desember dan bulan Mei, sedangkan pada periode bulan Juni hingga
September terjadi aliran permukaan terendah. Tinggi rendahnya aliran permukaan
tersebut dipengaruhi oleh volume air yang masuk ke dalam sungai. Fluktuasi
tersebut dipengaruhi oleh tingkat kekeringan dan curah hujan yang terjadi di
bagian hulu kawasan. Ketika aliran permukaan tinggi sungai tersebut tidak dapat
dilewati oleh transportasi sungai karena memiliki jeram-jeram yang besar,
sehingga menganggu jalur transportasi. Sering pula terjadi banjir bandang pada
sungai-sungai tersebut. Sedangkan air tanah dalam kawasan hampir tidak ada,
sehingga masyarakat mengambil air sungai untuk memenuhi kebutuhan hidup
mereka.

19

4.2.3 Tanah
Kawasan taman nasional yang berupa pegunungan dan berbukit-bukit ini,
memiliki tipe batuan yang menentukan jenis tanah di dalamnya. Batuan endapan
merupakan bahan induk umum dimana 75% kawasan terdiri atas tanah yang
terbentuk dari batu endapan dan memiliki sifat miskin hara. Kondisi temperatur
yang tinggi dan curah hujan yang sering terjadi di kawasan ini menjadikan jenis
tanah di kawasan ini adalah jenis Ultisol kemerahan dan kekuningan, berlempung
dan tidak subur. Batuan vulkanik membentuk tanah dengan tekstur halus dan
struktur yang baik tapi memiliki kemampuan yang lemah dalam mengikat unsur
hara. Jenis tanah ini dikelompokan sebagai tropudults yang mencakup 25%
kawasan di bagian selatan tepat di sebelah barat Sungai Bahau.
4.2.4 Iklim
Taman Nasional Kayan Mentarang dengan elevasi yang lebih rendah
berada pada kondisi iklim tipe A (berdasarkan sistem Koppen) yakni iklim tropis
hujan tanpa musim kemarau dan suhu tinggi sepanjang tahun. Sedangkan untuk
elevasi yang tinggi memiliki iklim tipe C atau iklim temperatur hangat dengan
hujan tanpa musim kemarau. Secara umum kawasan memiliki iklim tipe A atau
Agroklimatik paling basah dan berawan untuk tanaman pertanian.
Curah hujan ditentukan oleh angin musim kering pada bulan Mei hingga
Oktober dan angin musim hujan pada bulan November hingga April. Kondisi
paling basah terjadi pada bulan November sampai bulan Februari sedangkan
musim paling kering pada bulan Juli atau Agustus hingga Oktober. Curah hujan
tersebar dengan penyebaran yang sangat kompleks. Daerah paling kering terdapat
di daerah pedalaman dan lembah-lembah di sepanjang hulu Sungai Kayan dengan
jumlah curah hujan kurang dari 2500 mm/tahun. Sedangkan daerah lainnya curah
hujan rata-ratanya 3000 hingga 4000 mm/tahun. Berdasarkan arahnya, barat
hingga kearah timur curah hujannya akan semakin berkurang. Daerah dataran
rendah dengan curah hujan tinggi terdapat di bagian barat daya kawasan, yakni di
Desa Data Dian. Dalam kawasan taman nasional tidak ada daerah yang mendapat
curah hujan kurang dari 100 mm/tahun, dan bulan basah dengan curah hujan 200
mm/tahun berjumlah 7 hingga 12 bulan. Daerah Long Pujungan memiliki rentang

20

curah hujan antara 150 hingga 300 mm/tahun dengan kondisi kekeringan terjadi
pada saat El Nino di tahun 1982/1983 dan 1997/1998.
Kondisi angin di kawasan ini umumnya relatif kecil, dengan pergerakan
dari arah tenggara pada bulan Mei hingga Oktober serta dari arah barat laut pada
bulan November hingga April. Taman Nasional Kayan Mentarang tidak
terpengaruh oleh topan tropis karena lokasinya berdekatan dengan garis
khatulistiwa. Pada daerah berbukit-bukit umumnya tertutup oleh awan hampir
sepanjang tahun. Setiap bertambahnya ketinggian kondisi iklim akan menjadi
lebih dingin dan lembab. Keadaan suhu yang rendah dan kondisi penutupan awan
mampu menekan pertumbuhan tanaman terutama di bagian elevasi yang lebih
tinggi.
4.3

Kondisi Biologi Kawasan

4.3.1 Ekosistem
Taman Nasional Kayan Mentarang memiliki tiga perempat kawasan lebih
berupa batu pasir endapan, sedangkan sisanya terbentuk atas aktivitas vulkanik
sehingga terbentuklah berbagai bentuk lahan, dari dataran rendah dan tinggi
sampai komplek perbukitan dan punggung gunung yang tinggi. Daerah dataran
rendah hingga tinggi terbentuk dari endapan batu pasir dan membentuk asosiasi
dengan hutan kerangas. Daerah dengan dataran rendah vulkanik yang subur
membentuk hutan dipterocarpaceae primer dan sebagian berupa daerah pertanian.
Batu pasir yang berada di perbukitan dan pegunungan membentuk hutan
dipterocarpaceae pegunungan dan hutan Montana.
Terdapat sedikitnya 18 jenis habitat terrestrial atau tipe vegetasi. Hutan
dataran rendah, sub montana dan montana bercampur dengan padang rumput dan
lahan pertanian masyarakat serta vegetasi pada substrat yang khusus seperti hutan
kerangas dan hutan kapur. Substrat batu pasir di dataran tinggi merupakan
komponen edaphis utama yang sangat menentukan dalam pembentukan hutan
kerangas. Selain dari substrat terrestrial, hubungannya terhadap flora fauna
dipengaruhi

oleh

komunitas

perairan

yang

mempengaruhi tingginya keragaman amphibi dan ikan.

beranekaragam

sehingga

21

4.3.2 Flora
Taman Nasional Kayan Mentarang merupakan salah satu lokasi dengan
keanekaragaman flora yang tinggi. Zona dataran rendah di TNKM didominasi
oleh flora dengan famili Dipterocarpaceae, Euphorbiaceae, Lauraceae dan
Moraceae. Zona bukit (dataran tinggi) didominasi oleh famili Sapotaceae,
Burseraceae, Myrtaceae, Fagaceae, Ulmaceae, Euphorbiaceae, Dipterocarpaceae,
Lauraceae, Theaceae dan Moraceae. Pegunungan rendah didominasi oleh
Theaceae, Myrtaceae, Euphorbiaceae, Myrtaceae, Fagaceae, Lauraceae dan
Guttiferaceae. Zona pegunungan tinggi didominasi oleh famili Myrtaceae,
Ericaceae dan Fagaceae.
4.3.3 Fauna
Satwa endemik kalimantan tercatat di kawasan taman nasional ini.
Bekantan (Nasalis larvatus), Gibbon Borneo (Hylobates muelleri) dan Lutung
(Presbytis Spp) merupakan primata yang menghuni kawasan ini. Puri (1997)
diacu dalam TNKM (2002) mengatakan Bekantan tercatat sebanyak 2 ekor di
hulu Sungai Bahau dan diperkirakan Bekantan betina muda yang secara kebetulan
melintasi kawasan tersebut. Jenis mamalia yang diyakini masih terdapat dalam
kawasan seperti Kucing Merah (Felis badia) dan Kijang Kuning Borneo
(Muntiacus atherodes). Sudana (1999) diacu dalam TNKM (2002) mendapatkan
info dari masyarakat Tau Lumbis, Kucing Merah masih terdapat dalam kawasan.
Satwa langka dan terancam seperti Lutung dahi putih (Presbytis frontata)
dimanfaatkan oleh masyarakat untuk diambil “Batu guliga”. Badak bercula dua
(Dicerorhinus sumatrensis) berdasarkan studi Meijaard (1995) diacu dalam
TNKM (2002), Badak ditemukan di sekitar perbatasan luar taman nasional.
Banteng (Bos javanicus), Musang air (Cynogale bennettii) dan Gajah Asia
(Elephas maximus) terdapat dalam kawasan. Gajah asia keberadaannya diketahui
di daerah Lumbis kearah timur taman nasional. Banteng diburu untuk diambil
dagingnya dan dibunuh jika memasuki perladangan warga.
Jenis-jenis satwa seperti Orang Utan (Pongo pygmaeus), Beruk (Macaca
nemestrina), Landak Biasa (Hystrix brachyura), Berang-berang Bulu Licin (Lutra
perspicillata), Macan Dahan (Neofelis nebulosa) dan Kucing Tandang (Felis
planiceps). Orang Utan sangat jarang ditemui di kawasan Sungai Tubu (O‟Brien

22

1997 diacu dalam TNKM 2002). Sulit ditemukan Orang utan di kawasan ini
karena habitat kurang sesuai dan perburuan di daerah tersebut. Puri (1997) diacu
dalam TNKM (2002) mengatakan Macan dahan saat ini sangat jarang terlihat oleh
pemburu. Masyarakat dikatakan sangat beruntung jika memperoleh enam ekor
macan dahan hasil buruan sepanjang hidupnya. Landak hanya sesekali diburu
untuk memperoleh daging dan bulunya sebagai cinderamata. Selain itu batu
guliga yang terdapat pada landak dimanfaatkan sebagai komoditi jual beli sebagai
obat. IUCN menetapkan status Beruk sebagai satwa Vulnerable, karena
jumlahnya terus menurun. Namun masyarakat Krayan percaya satwa tersebut
masih cukup melimpah dan dianggap sebagai hama.
Beruang madu (Helarctos malayanus) dan Luwak (Pardofelis marmorata)
merupakan satwa yang dimanfaatkan oleh masyarakat. Luwak diburu oleh
masyarakat untuk diambil daging, kulit dan giginya. Sedangkan Beruang madu
umumnya dimanfaatkkan sebagai obat oleh masyarakat dengan memanfaatkan
kantong empedunya. Gigi, kulit dan cakarnya dijual sebagai perhiasan.
Jenis-jenis burung banyak terdapat di kawasan ini, baik jenis endemik
maupun jenis yang dilindungi. Merak Borneo (Polypectron schleiermacheri),
Bangau Tongtong (Ciconia stormi), Ibis Karau (Pseudibis davisoni), Sempidan
Kalimantan (Lophura bulweri), Sempidan Merah (Lophura erythrophthalma),
Sempidan Biru (Lophura ignita), Julang Jambul-Hitam (Aceros corrugatus),
Cucak Rawa (Pycnonotus zeylanicus) dan Pelanduk Kalimantan (Malacocincla
perspicillata) merupakan beberapa jenis burung yang terdapat dalam kawasan.
Jenis-jenis amphibi dan reptil tidak kalah banyak dengan kelas lainnya.
Terdapat 26 jenis reptile dan 27 jenis amphibi yang dilaporkan terdapat dalam
kawasan. Ikan merupakan satwa air yang banyak ditemukan di kawasan ini,
terdapat sekitar 76 jenis yang baru diketahui dalam kawasan.
4.4

Kondisi Sosial, Ekonomi dan Kebudayaan Masyarakat
Masyarakat dayak yang berada di dalam dan sekitar kawasan terdiri atas

12 kelompok suku bahasa dengan penduduknya 16.000 jiwa. Kelompok tersebut
seperti Dayak Kenyah, Punan, Lundayeh, Tagel, Kayan dan Saben. Masyarakat
tersebut telah mendiami kawasan kurang lebih selama dua atau tiga abad yang
lalu. Perpindahan masyarakat dari dan ke dalam kawasan masih terjadi hingga

23

saat ini. Umumnya perpindahan keluar kawasan bertujuan untuk meningkatkan
pendapatan ekonomi mereka, namun peningkatan perdagangan hasil hutan dari
kawasan telah menyebabkan kembalinya masyarakat kedalam kawasan.
Klinik kesehatan umumnya terdapat di masing-masing ibukota kecamatan
sebanyak satu buah dengan minimal dua orang perawat, satu orang mantri dan
satu orang dokter. Umumnya dokter yang didatangkan berasal dari daerah lain
Indonesia yang baru selesai pendidikan dan dalam masa tugas pelatihan pelayanan
di daerah-daerah terpencil Indonesia. Untuk setiap desa terdapat satu buah sekolah
dasar dan sekolah lanjutan tingkat pertama hanya ada di ibukota kecamatan.
Mata pencaharian masyarakat adat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
sehari-hari sangat beragam. Umumnya masyarakat dapat memenuhi kebutuhan
pokok sehari-hari dari hasil menanam dan berburu yang diperoleh dari hutan dan
sungai. Kegiatan utama dalam mencari uang untuk membeli berbagai keperluan
mereka adalah dengan memungut dan menjual hasil hutan serta dari bekerja
sementara di Malaysia. Walaupun demikian masyarakat sebagian besar bermata
pencaharian sebagai petani dan berbagai mata pencaharian lainnya seperti
beternak, hasil hutan non kayu, perburuan, kerajinan tangan dan bekerja sebagai
buruh.
Masyarakat di sekitar kawasan merupakan masyarakat adat dimana
kehidupan sehari-hari diatur dengan hukum adat, termasuk pemanfaatan
sumberdaya alam. Keberadaan lembaga hukum adat dalam menerapkan aturan
sehari-hari telah membuat masyarakat percaya terhadap lembaga tersebut dalam
melakukan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya dibandingkan organisasi
lain. Terdapat sedikitnya 10 wilayah adat di kawasan TNKM yaitu Apo Kayan,
Pujungan, Hulu Bahau, Tubu, Mentarang, Krayan Hulu, Krayan Tengah, Krayan
Hilir, Krayan Darat dan Lumbis Hulu. Wilayah adat tersebut dipimpin oleh kepala
adat besar dan telah mendapat pengakuan dari pemerintah kabupaten dengan
adanya surat tugas.
4.5

Pengelolaan Kawasan
Taman Nasional Kayan Mentarang bermula sebagai Cagar Alam yang

diusulkan oleh tim gabungan PPA/FAO pada tahun 1977. Tahun 1980
Departemen Pertanian sebagai pengelola kawasan hutan menetapkan kawasan

24

tersebut menjadi Cagar Alam dengan SK No.847 Kpts/Um/II/25 November 1980
dengan luas 1,6 juta hektar. Pada tahun berikutnya, yakni tahun 1992 WWF
mengusulkan perubahan status kawasan menjadi Taman Nasional, agar
pemanfaatan tradisional dapat dilakukan dalam kawasan. Departemen Kehutanan
kemudian menilai usulan tersebut dan pada tanggal 7 Oktober 1996 Menteri
Kehutanan menetapkan area tersebut menjadi Taman Nasional Kayan Mentarang
dengan SK Menteri Kehutanan No.631/Kpts-II/1996 yang memiliki luasan 1,35
juta hektar.
Perencanaan kawasan saat ini telah difokuskan kepada penataan batas
taman nasional dan zona pemanfaatan. Penataan batas dan zonasi kawasan tidak
hanya melibatkan pengelola kawasan, melainkan mengajak pula masyarakat adat
melalui perencanaan partisipatif untuk menyempurnakan tata batas dan zonasi
yang telah terbentuk. Pengelolaan kawasan hingga saat ini belum maksimal
karena terbatasnya anggaran dan staf kawasan. Kawasan taman nasional
umumnya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengumpulkan hasil hutan dan
berburu. Penelitian di dalam maupun di luar kawasan telah banyak dilakukan,
baik oleh pihak independen maupun hasil kerjasama berbagai pihak. Stasiun
Penelitian Hutan Tropis Lalut Birai merupakan pusat penelitian yang ada dalam
kawasan.
Kegiatan pengamanan dan perlindungan kawasan dilakukan secara
bersama dengan melakukan patroli udara, pembangunan pos penjagaan dan proses
penghentian pengumpulan hasil hutan secara illegal oleh para pendatang.
Koordinasi yang dilakukan bersama LSM dan pihak pemerintah beserta
masyarakat tetap dilaksanakan dalam mencapai tujuan pengelolaan kawasan.
Pembangunan sarana prasarana seperti Stasiun Penelitian Hutan Tropis Lalut
Birai, landasan pesawat, jalan setapak dan pelabuhan. Pendanaan secara spesifik
belum ditujukan untuk pengelolaan TNKM, sehingga sampai saat ini pendanaan
berasal dari LSM yang telah bekerjasama dengan kawasan.
4.6

Tana ‘Ulen Lalut Birai
Tana „Ulen Lalut Birai merupakan Tana „Ulen bagi masyarakat Desa Long

Alango. Pengelolaannya saat ini dilakukan oleh pihak Badan Pengurus Tana
„Ulen dan pengelolanya adalah masyarakat setempat. Pada awalnya kepemilikan

25

areal tersebut merupakan hak bagi kaum paren (bangsawan), namun saat ini
kepemilikan tersebut telah beralih menjadi hak masyarakat desa (Konradus 1999).
Tana „Ulen tersebut berada dalam Taman Nasional Kayan Mentarang
SPTN Wilayah II. Dalam areal tersebut terdapat stasiun penelitian Lalut Birai
yang didirikan oleh pihak WWF, namun saat ini telah dilimpahkan kepada pihak
balai dan pengelolaannya dilakukan oleh pihak BPTU (Badan Pengurus Tana
„Ulen) dengan pengawasan dari balai.
Masyarakat memanfaatkan areal tersebut untuk memenuhi berbagai
kebutuhan mereka seperti pembangunan balai pertemuan umum dan acara
kemasyarakatan lainnya. Selain itu areal tersebut dimanfaatkan untuk pemenuhan
kebutuhan pribadi dengan meminta izin kepada kepala adat. Pemanfaatan yang
dilakukan tanpa sepengetahuan kepala adat dapat dikenakan sanksi berdasarkan
hukum adat yang telah disepakati.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1

Kondisi Fisik Tana ‘Ulen Lalut Birai

5.1.1 Hidrologi
Tana „Ulen Lalut Birai merupakan tanah adat masyarakat Desa Long
Alango yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang.
Arealnya terdiri atas lembah-lembah dalam dan pegunungan sehingga areal ini
merupakan daerah tangkapan air. Oktariadi (2007) menggambarkan suatu daerah
tangkapan air dengan areal yang umumnya dilindungi seperti suaka alam maupun
hutan lindung serta berada pada daerah-daerah puncak dengan kelerengan terjal
(30-50%) hingga sangat terjal (>70%). Sehingga Tana „Ulen Lalut Birai dapat
dikatakan sebagai areal tangkapan air yang mengalirkan airnya melalui Sungai
Enggeng.
Sungai Enggeng memiliki percabangan di daerah hulu seperti Sungai Tee,
Sungai Enggeng Tau, Sungai Enggeng Kabi‟eng dan Sungai Enggeng Belua.
Sungai Enggeng merupakan anak sungai dari Sungai Bahau yang mengalirkan
airnya ke Sungai Kayan, salah satu sungai terbesar di Kalimantan Timur. Sungai
Enggeng terletak di ketinggian 330 meter dari permukaan laut yang tercatat di
muara sungai (Gambar 6).

Gambar 6 Pertemuan muara Sungai Enggeng dengan Sungai Bahau.

27

Kondisi sungai sebagian besar terdiri atas bebatuan sehingga sungai ini
sulit untuk dijadikan sarana transportasi. Arus deras dan tenang dapat dijumpai
tidak jauh dari muara Sungai Enggeng. Perbedaan ketinggian aliran permukaan air
mudah ditemukan di sungai ini. Kondisi tersebut menjadikan sungai ini sulit untuk
dijelajahi dengan transportasi sungai pada umumnya.
Air di sungai ini tidak dimanfaatkan oleh warga untuk kepentingan
mengairi lahan, kebutuhan sehari-hari maupun pembangkit listrik tenaga mikro
hidro. Letaknya cukup jauh dari desa sehingga sulit untuk dilakukan pemanfaatan
oleh masyarakat. Namun, salah satu anak sungai (lalut) dari Sungai Enggeng
dimanfaatkan oleh warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama aktifnya
kegiatan penelitian di Stasiun Penelitian Hutan Tropis (SPHT) Lalut Birai.
5.1.2 Topografi
Kawasan ini sebagian besar berupa pegunungan dengan ketinggian lokasi
yang berbeda di setiap tempatnya. Kondisi tertinggi yang berada di sebelah kanan
batas kawasan adalah 1340 mdpl dan di sebelah kiri 1293 mdpl, tetapi banyak
elevasi-elevasi yang lebih tinggi dicapai oleh pegunungan di titik pertemuan batas
kiri dan kanan kawasan (Gambar 13). Kondisi permukaan yang naik turun
seringkali dijumpai dalam areal ini.
Kemiringan lereng yang besar dengan elevasi punggung gunung yang
tinggi membentuk kawasan berupa lembah curam dan dalam. Kondisi ini dapat
dijumpai selama perjalanan menyusuri batas kawasan, baik di kiri maupun batas
kanan kawasan.
5.1.3 Tanah
Permukaan tanah dalam kawasan Tana „Ulen tertutup oleh berbagai
serasah tebal hingga sangat tebal akibat guguran daun sebagai proses alami
regenerasi pada tumbuhan. Beberapa lokasi yang memiliki penutupan serasah
daun yang sangat tebal adalah di puncak-puncak pegunungan.
Tanah yang berwarna kecokelatan hingga kemerahan dapat terlihat di jalan
awal menyusuri kawasan ataupun di sekitar SPHT Lalut Birai, sedangkan tanah
yang berada di ketinggian 1072 mdpl berwarna sedikit kekuningan dan beberapa
diantaranya terdapat bebatuan kecil hingga sedang.

28

5.2

Kondisi Biologi Tana ‘Ulen Lalut Birai

5.2.1 Flora
Jenis-jenis tumbuhan yang ada di batas kawasan umumnya berupa
pepohonan tinggi dan besar, sedangkan untuk lokasi seperti di puncak-puncak
pegunungan dapat dijumpai pepohonan pendek dengan diameter yang kecil. Jenisjenis pohon tersebut seperti Meranti (Shorea sp.), Ulin (Eusideroxylon zwagerii),
Agathis

(Agathis

borneensis),

Pulai

(Alstonia

scholaris),

Eucalyptus

(Tristianopsis whiteana), Eucalyptus (Tristianopsis obovata) dan Puspa (Schima
wallichii).
Terdapat jenis-jenis rotan baik rotan dengan diameter besar maupun kecil
di sepanjang batas kawasan. Jenis rotan yang dapat dijumpai seperti Wai sega
(Calamus caesus) dan Wai Semole (Daemonorops periancantha). Jenis-jenis
palem-paleman lainnya juga terdapat di areal ini seperti Palem kipas (Licuala
splendidula) dan Nibung (Oncosperma horridum). Berbagai jenis anggrek
terdapat di sepanjang jalur, namun sebagian besar merupakan jenis anggrek
terestrial dan anggrek tanah.
5.2.2 Fauna
Satwa yang ada dalam kawasan seperti Bajing kerdil (Excillisiurus exillis),
Rusa sambar (Cervus unicolor), Kera ekor panjang (Macaca fascicularis) dan
Owa kelawat (Hylobates muelleri). Jenis burung yang ada dalam kawasan adalah
burung Enggang gading (Buceros vigil), Enggang badak (Buceros rhinoceros),
Kuau raja (Argusianus argus) dan Elang ular bido (Spilornis cheela).
Jenis satwa lainnya adalah Beruang madu (Helarctos malayanus), Kijang
(Muntiacus spp.) dan Babi hutan (Sus barbatus). Satwa tersebut diketahui
keberadaannya melalui jejak yang ditinggalkannya seperti kubangan, lubang
galian dan jejak kaki.
5.3

Tana ‘Ulen Lalut Birai

5.3.1 Letak Tana ‘Ulen Lalut Birai
Tana „Ulen Lalut Birai merupakan Tanah adat masyarakat Desa Long
Alango dan terletak dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang.
Lokasinya berada di Sungai Enggeng dengan jarak kurang lebih 5 km dari desa.

29

Jarak ini ditempuh dalam waktu 15 menit dengan perahu tempel (ketinting).
Muara Sungai Enggeng merupakan batas terluar di bagian timur kawasan dan
berada di tepi aliran Sungai Bahau, sehingga cukup mudah dijangkau setelah
melewati perjalanan air di sungai-sungai utama yang dijadikan jalur transportasi
(Gambar 7).

Gambar 7 Muara Sungai Enggeng.
Tana „Ulen tersebut terdiri atas sisi utara (kanan), selatan (kiri), barat dan
timur dari Sungai Enggeng, sehingga sungai ini merupakan titik tengah dari Tana
„Ulen masyarakat. Peneliti biologi kawasan terdahulu memperkirakan luasan Tana
„Ulen ini kurang lebih 11.000 ha, tanpa menyusuri batas kawasan.
5.3.2 Batas Tana ‘Ulen Lalut Birai
Masyarakat membatasi areal Tana „Ulennya menggunakan sistem mata air
terluar yang mengalir ke Sungai Enggeng, baik mata air yang secara nyata
mengalir ke Sungai Enggeng maupun mata air yang mengalir berputar menjauh
dari Sungai Enggeng, jika tetap mata air itu berakhir di Sungai Enggeng, maka
masyarakat menganggapnya sebagai batas dari Tana „Ulennya (Gambar 8).
Mata air yang mengalir kedalam dua DAS berbeda, menurut Ongkosongo
(2010) dipisahkan oleh topografi di bagian daratnya. Noor (2009) mendefiniskan

30

topografi sebagai penampakan ketinggian muka bumi atau lahan. Letak punggung
gunung terdapat di bagian teratas dari mata air tersebut, sehingga dalam Tana
„Ulen ini pembatasnya adalah punggung gunung dan bukit. Punggung gunung
tersebut memisahkan dua mata air yang mengalir ke Sungai Enggeng dan air yang
mengalir ke luar Sungai Enggeng.

Gambar 8 Titik-titik koordinat survey lapang dan batas lapang Tana „Ulen Lalut
Birai hasil diskusi.
Batas alam titik terluar di bagian timur kawasan Tana „Ulen Lalut Birai
berupa muara Sungai Enggeng yang bertemu dengan Sungai Bahau, anak sungai
dari Sungai Kayan. Muara ini memiliki lebar tidak lebih dari 20 meter. Berjalan di
sisi kanan (utara) kawasan atau bagian atas dari muara dapat dijumpai kelerengan
lahan yang mencapai 25%, berupa jalan m

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Identifikasi Batas Lapang Tana „Ulen Lalut Birai dan Inventarisasi Aturan Pengelolaannya di Taman Nasional Kayan Mentarang