Etnobotani Pangan Masyarakat Suku Dayak Kenyah di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang Kalimantan Timur

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia dikenal memiliki kekayaan etnis dan budaya yang sangat tinggi.
Setiap etnis memiliki kearifan yang spesifik dalam memanfaatkan sumberdaya
hayati yang tersedia di lingkungannya. Setiap kawasan memiliki keanekaragaman
spesies tumbuhan untuk berbagai keperluan, seperti pangan, obat, dan lain-lain.
Adanya pemanfaatan keanekaragaman spesies tumbuhan lokal oleh berbagai etnis
terutama untuk pangan, secara langsung akan berpengaruh terhadap ketahanan
dan bahkan kedaulatan pangan di Indonesia.
Menurut Khomsan (2003) diacu dalam Redaksi Kompas (2010), ketahanan
pangan merupakan suatu sistem yang terdiri dari subsistem ketersediaan,
distribusi, dan konsumsi. Subsistem ketersediaan pangan berfungsi menjamin
pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, subsistem
distribusi berfungsi mewujudkan sistem distribusi yang efektif dan efisien,
sedangkan subsistem konsumsi berfungsi mengarahkan agar pola pemanfaatan
pangan secara nasional memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi,
kemananan dan kehalalannya. Namun seiring dengan perubahan pola konsumsi
yang menjadikan beras sebagai pasokan makanan pokok, keanekaragaman pangan
di Indonesia makin lama makin menurun sehingga ketahanan pangan pun
melemah.
Masalah ketahanan pangan dan malnutrisi dapat diatasi melalui peningkatan
pengetahuan dan konsumsi keanekaragaman tumbuhan berguna khususnya
tumbuhan pangan di alam (Johns 2003). Pengembangan pangan asli Indonesia
dari keanekaragaman hayati yang melimpah dan berbasis informasi etnobiologi
merupakan solusi menghadapi ancaman kedaulatan pangan di Indonesia (Zuhud
2011). Pengetahuan mengenai bahan pangan yang berasal dari tumbuhan dapat
diperoleh melalui kearifan lokal suatu masyarakat tradisional di dalam ataupun di
sekitar taman nasional.
Taman nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai
ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi dan memiliki fungsi perlindungan,

2

penelitian, pendidikan menunjang budidaya, pariwisata, rekreasi, dan sistem
penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan, serta
pemanfaatan secara lestari sumberdaya hayati dan ekosistemnya (UU No. 5 tahun
1990). Salah satu taman nasional yang memiliki keanekaragaman spesies
tumbuhan berguna tinggi adalah Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM)
dengan kearifan lokal masyarakat Suku Dayak yang tinggal di sekitarnya.
Taman Nasional Kayan Mentarang merupakan kawasan konservasi terbesar
di Pulau Kalimantan dan merupakan salah satu yang terbesar di wilayah Asia
Pasifik (Dephut 2002a, 2002b). Suku Dayak yang tinggal di sekitar TNKM terdiri
dari beberapa sub suku Dayak, di antaranya adalah Kayan, Kenyah, Lundayeh,
Merap, Punan, Saben, Tagel, dan lain-lain (Uluk et al. 2001). Salah satu sub Suku
Dayak yang memanfaatkan sumberdaya hutan untuk kebutuhan pangan seharihari adalah Dayak Kenyah. Pemanfaatan ini dikenal secara turun temurun melalui
pengetahuan lokal. Pengetahuan mengenai tumbuhan pangan oleh masyarakat
Dayak Kenyah dapat diperoleh melalui etnobotani.
Etnobotani adalah kajian mengenai interaksi antara masyarakat lokal dengan
lingkungan alamnya, terutama mengenai penggunaan tumbuhan dalam kehidupan
sehari-hari (Martin 1998). Penggunaan tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari
yang dimaksud dapat berupa tumbuhan sebagai bahan pangan, obat, aromatik,
pakan ternak, dan pemanfaatan lainnya.
Suku Dayak di TNKM memiliki kearifan lokal dalam memanfaatkan
sumberdaya hutan khususnya mengenai pemanfaatan tumbuhan pangan. Oleh
sebab itu dokumentasi pemanfaatan tumbuhan pangan oleh Suku Dayak Kenyah
di sekitar TNKM melalui etnobotani perlu dilakukan agar pemanfaatannya
berkelanjutan.

1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh:
1. Data dan informasi keanekaragaman tumbuhan pangan yang dimanfaatkan
masyarakat Suku Dayak Kenyah
2. Data dan informasi mengenai kearifan tradisional Suku Dayak Kenyah dalam
pemanfaatan tumbuhan pangan

3

1.3 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi data dasar dalam pengembangan
pemanfaatan tumbuhan pangan, terutama yang berbasis kepada kearifan lokal
masyarakat Suku Dayak Kenyah yang tinggal di sekitar TNKM untuk mendukung
ketahanan dan keanekaragaman pangan nasional.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Etnobotani
Etnobotani berasal dari kata ethnos dan botany yang berasal dari bahasa
Yunani berarti bangsa dan tumbuh-tumbuhan. Istilah etnobotani pada awalnya
diusulkan oleh Harsberger pada tahun 1893 dan didefinisikan sebagai ilmu yang
mempelajari pemanfaatan tumbuhan secara tradisional oleh suatu suku bangsa
yang masih primitif atau terbelakang (Afrianti 2007). Menurut Waluyo (2002)
diacu dalam Afrianti (2007), etnobotani diartikan sebagai ilmu yang mempelajari
tumbuh-tumbuhan yang digunakan oleh perkumpulan suku primitif dan berguna
untuk mengembangkan perkumpulan tersebut. Sedangkan menurut Martin (1998),
etnobotani adalah interaksi antara masyarakat lokal dengan lingkungan alamnya,
terutama mengenai penggunaan tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Dharmono (2007) mendefinisikan etnobotani merupakan ilmu botani
mengenai pemanfaatan tumbuhan dalam keperluan sehari-hari dan adat suku
bangasa. Studi etnobotani tidak hanya mengenai data botani taksonomis saja,
tetapi juga menyangkut pengetahuan botani yang bersifat kedaerahan, berupa
tinjauan interpretasi dan asosiasi yang mempelajari hubungan timbal balik antara
manusia dengan tanaman, serta menyangkut pemanfaatan tanaman tersebut lebih
diutamakan untuk kepentingan budaya dan kelestarian sumber daya alam.
Menurut Purwanto (2000), etnobotani berpotensi mengungkapkan sistem
pengetahuan tradisional dari suatu kelompok masyarakat atau etnik tentang
konservasi in-situ berupa habitat, keanekaragaman sumberdaya hayati dan
budaya. Penelitian mengenai etnobotani mampu mengungkapkan pemanfaatan
berbagai jenis sumberdaya tumbuhan secara tradisional oleh masyarakat setempat.
Etnobotani merupakan instrumen yang mampu mengungkapakan pengetahuan
tradisional menjadi ilmu yang bermanfaat dan berharga dengan mengaitkan
dengan persoalan aktual yang dihadapi manusia modern.
Etnobotani merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mendalami tentang
persepsi dan konsepsi masyarakat tentang sumberdaya nabati di lingkungannya.
Kajian etnobotani diarahkan dalam upaya mempelajari kelompok masyarakat

5

dalam mengatur sistem anggota menghadapi tetumbuhan dalam lingkungan yang
dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi, spiritual, dan nilai budaya lainnya.
Disiplin ilmu lain yang terkait kajian etnobotani adalah ilmu anthropologi,
sejarah, pertanian, ekologi, kehutanan, dan geografi tumbuhan (Sudarsono &
Waluyo 1992 diacu dalam Afrianti 2007).

Gambar 1 Diagram bentuk hubungan antara ruang lingkup kajian etnobotani
dengan disiplin ilmu dan kepentingan.
2.2 Kearifan Masyarakat Dayak
Menurut definisi yang diberikan oleh UN Economic and Social Council,
masyarakat adat atau tradisional adalah suku-suku dan bangsa yang mempunyai
kelanjutan historis dengan masyarakat sebelum masuknya penjajah di wilayahnya.
ILO mengkategorikan masyarakat adat sebagai suku-suku asli yang mempunyai
kondisi sosial budaya sebuah negara, statusnya diatur oleh adat kebiasaan atau
tradisi oleh hukum dan aturan mereka sendiri. Setiap masyarakat tradisional
memiliki kearifan masing-masing. Kearifan tradisional merupakan semua bentuk
pengetahuan, keyakinan, pemahaman, atau wawasan, serta adat kebiasaan atau
etika yang menuntun perilaku manusia di dalam komunitas ekologis (Keraf 2005).

6

Konsep sistem pengetahuan lokal berakar dari sistem pengetahuan dan
pengelolaan lokal atau tradisional. Masyarakat tradisional adalah sekelompok
orang yang dengan beberapa tipe kondisi ekonomi masyarakat, biasanya memiliki
keturunan masyarakat pemburu, nomadik, dan peladang berpindah (Mitchell et al.
2007).
Biber-Klemm dan Berglas (2006) menyebutkan bahwa pengetahuan lokal
atau tradisional merupakan hubungan antara keanekaragaman hayati, kebangsaan,
dan kebudayaan dalam kehidupan suatu masyarakat adat. Masyarakat adat
merupakan kelompok manusia yang berinteraksi dekat dengan lingkungan, relung
ekologi, pengetahuan tradisional mengenai cara mengelola sumberdaya alam
dengan arif/bijaksana.
Suku Dayak sangat bergantung pada ekosistem hutan. Hutan merupakan
sumber makanan bagi masyarakat Dayak. Jika hutan terganggu maka tempat
mencari makan suku Dayak juga terganggu, akibatnya hasil buruan dan hasil
tumbuhan yang dimanfaatkan suku Dayak berkurang. Suku Dayak biasanya
menanam tumbuhan yang bermanfaat sekitar rumah mereka. Dari hutan, mereka
mengambil bibit tumbuh-tumbuhan yang baik berdasarkan pengalaman mereka.
Tumbuh-tumbuhan tersebut biasanya dimanfaatkan pula sebagai bahan pangan
mereka (Uluk et al. 2001).
Menurut Florus et al. (1994) diacu dalam Afrianti (2007), Mata pencaharian
suku Dayak selalu ada hubungannya dengan hutan. Hutan digunakan sebagai
tempat berburu, berladang, dan berkebun. Kecenderungan seperti itu merupakan
suatu refleksi dari hubungan yang akrab dan telah berlangsung berabad-abad
dengan hutan dan segala isinya. Hutan merupakan basis utama dari kehidupan,
sosial, ekonomi, budaya, dan politik kelompok etnik Dayak.

2.3 Pemanfaatan Tumbuhan
Pemanfaatan tumbuhan dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat adat.
Pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat adat yang berasal dari hutan diantaranya
tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan sandang, pangan, papan, alat
rumah tangga, anyaman, kerajinan, perlengkapan upacara adat, obat-obatan,

7

aromatik, kosmetik, kegiatan sosial, dan pemanfaatan lainnya (Purwanto &
Walujo 1992 diacu dalam Hidayat 2009).

2.3.1 Tumbuhan pangan
Tumbuhan pangan adalah kebutuhan vital bagi kehidupan manusia.
Tumbuhan pangan adalah segala sesuatu yang tumbuh, hidup, berbatang, berakar,
berdaun, dan dapat dimakan atau dikonsumsi oleh manusia. Jenis penghasil
pangan yaitu tumbuhan yang mengandung karbohidrat, sayuran, buah-buahan, dan
kacang-kacangan (Purwadarminta 1988). Tumbuhan penghasil pangan dapat
dikelompokkan menjadi (Moeljopawiro dan Manwan 1992 diacu dalam Hidayat
2009):
1.

Komoditas utama, seperti padi (Oryza sativa), kedelai (Glycine max), kacang
tanah (Arachis hypogaea), jagung (Zea mays), dan sebagainya.

2.

Komoditas

potensial,

seperti

sorgum

(Andropogon

sorgum),

sagu

(Metroxylon sp.), dan sebagainya.
3.

Komoditas introduksi, seperti ganyong (Canna edulis), jawawut (Panicum
viridae), dan sebagainya.
Tumbuhan pangan di alam memiliki kandungan gizi yang dibutuhkan tubuh

seperti karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan sebagainya. Kandungan
tersebut dapat ditemukan di jenis tumbuhan seperti kacang-kacangan, buahbuahan, sayuran, dan sereal (sumber karbohidrat) (Kartikawati 2004).
2.3.1.1 Kacang-kacangan
Kacang-kacangan merupakan biji-bijian yang dapat dimakan dari polongpolongan. Polong-polongan adalah anggota suku Leguminosae yang memiliki
polong/legum. Kacang-kacangan utama yang dapat dimakan termasuk ke dalam
anak suku Papiionoidae (anak suku terbesar dari Leguminosae) yang masih
memiliki 450 marga dan 10000 spesies. Kacang-kacangan bermanfaat sebagai
bahan pangan yang kaya protein (Maesen & Somaatmadja 1993 diacu dalam
Kartikawati 2004).

8

2.3.1.2 Buah-buahan
Buah-buahn merupakan komoditas yang besar dan beraneka ragam
(Kartikawati 2004). Menurut Verheij dan Coronel (1991) diacu dalam Kartikawati
(2004), terdapat jenis buah-buahan yang tumbuh tahunan. Buah-buahan tahunan
dapat dimakan baik dalam keadaan segar, maupun yang telah dikeringkan atau
yang telah diolah. Buah-buahan umumnya dikonsumsi dalam keadaan mentah
(tidak dimasak, matang dari pohonnya). Buah-buahan mengandung vitamin dan
mineral yang baik bagi tubuh, menyeimbangkan menu makanan, kaya protein,
energi, dan ada yang mengandung lemak. Jenis-jenis buah-buahan antara lain:
salak (Zalacca salacca), pisang (Musa paradisiaca), rambutan (Nephelium
lappaceum), durian (Durio zibethinus), mangga (Mangifera indica), dan lainnya.

2.3.1.3 Sayuran
Sayuran merupakan komoditas tumbuhan yang mengandung air. Sayuran
biasanya dikonsumsi sebagai bahan makanan yang mengandung zat tepung dan
kadang-kadang digunakan sedikit pada makanan untuk menambah rasa juga
kelezatan makanan (Siemonsma & Piluek 1994 diacu dalam Kartikawati 2004).
Beberapa spesies tumbuhan yang digunakan untuk sayuran diantaranya: selada
(Lactuca sativa), katuk (Sauropus androgynus), berbagai jenis kobis, kol
(Brassica oleraceae), kangkung (Ipomea aqutica), dan jenis lainnya. Adapun jenis
sayuran yang digunakan sebagai bumbu, yaitu bawang merah (Allium cepa),
bawang putih (Allium sativum), daun bawang (Allium ampeloprasum), seledri
(Apium graveolens). Sedangkan spesies tumbuhan yang fungsi sekundernya
sebagai sayuran adalah daun pepaya (Carica papaya), daun ubi jalar (Ipomea
batatas), jagung muda/baby corn (Zea mays), dan daun singkong (Manihot
utillisima). Jenis-jenis sayuran di atas merupakan spesies tumbuhan yang biasanya
ditanam di kebun dan merupakan spesies tumbuhan hortikultura (Kartikawati
2004).

2.3.1.4 Palem-paleman dan umbi-umbian
Jenis palem-paleman dan umbi-umbian biasanya dimanfaatkan sebagai
sumber karbohidrat. Flach dan Rumawas (1996) diacu dalam Kartikawati (2004),

9

menyebutkan bahwa jenis tumbuhan pangan sebagai sumber karbohidrat
merupakan spesies tumbuhan yang mengandung zat tepung atau zat gula yang
digunakan sebagai cadangan makanan. Karbohidrat merupakan sumber energi
utama dalam suatau makanan untuk manusia. Beberapa spesies tumbuhan yang
merupakan sumber karbohidrat diantaranya adalah sagu (Metroxylon sp.), aren
(Arenga pinnata), dan lain-lain yang merupakan jenis palem berkarbohidrat,
kemudian ubi jalar (Ipomea batatas), singkong (Manihot utillisima), dan
sebagainya yang merupakan umbi berkarbohidrat.

2.4 Taman Nasional Kayan Mentarang
Taman nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai
ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi dan memiliki fungsi perlindungan,
penelitian, pendidikan menunjang budidaya, pariwisata, rekreasi, dan sistem
penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan, serta
pemanfaatan secara lestari sumberdaya hayati dan ekosistemnya (UU No. 5 tahun
1990).

2.4.1 Pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang
Menurut SK Menhut No.631/Kpts-II/1996 ditetapkan bahwa adanya
perubahan fungsi dan penunjukkan Cagar Alam Kayan Mentarang yang terletak di
Kabupaten Daerah Tingkat II Bulungan, Provinsi daerah tingkat I Kalimantan
Timur seluas ± 1.360.500 ha menjadi taman nasional dengan nama Taman
Nasional Kayan Mentarang mengingat di beberapa daerah di dalam Cagar Alam
Kayan Mentarang merupakan tempat kehidupan masyarakat tradisional etnis
Dayak dan masyarakat tersebut sangat bergantung pada hutan untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya (Rahmania et al. 2011).
Pada tahun 2002 Pemerintah menetapkan bahwa pengelolaan Taman
Nasional Kayan Mentarang harus dilaksanakan dengan sistem pengelolaan
kolaboratif melalui SK Menhut 1214/Kpts-II/2002. Hal tersebut dikarenakan
kegiatan konservasi harus dilakukan secara bersama-sama dengan berbagai pihak
serta melihat bahwa masyarakat adat Dayak di dalam dan sekitar kawasan Taman
Nasional Kayan Mentarang memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap hutan

10

dan mengelola kawasan hutan adat sesuai dengan kearifan tradisional. Kegiatan
pengelolaan kolaboratif di Taman Nasional Kayan Mentarang berbasiskan
masyarakat yang melibatkan banyak pihak dengan prinsip berbagi tanggung
jawab, manfaat dan peranan dan didasari oleh Rencana Pengelolaan Taman
Nasional Kayan Mentarang (RPTNKM) (Rahmania et al. 2011).
Pengelolaan kolaboratif di TNKM didasarkan pada (i) TN tidak dapat
dilindungi dan dikelola tanpa dukungan aktif masyarakat adat, (ii) Memastikan
bahwa manfaat kawasan taman nasional dapat dimanfaatkan secara lestari yang
merupakan sumber identitas budaya dan penghidupan masyarakat, (iii)
Mengembangkan alternatif ekonomi berbasis konservasi untuk masyarakat dan
pemerintah setempat (WWF 2010a).

Gambar 2 Mekanisme pengelolaan kolaboratif Taman Nasional Kayan
Mentarang.
Dalam melaksanakan pengelolaan yang kolaboratif, TNKM memiliki
beberapa mitra kerja diantaranya Pemerintah Daerah Kabupaten Malinau dan
Nunukan, WWF Project Kayan Mentarang,

FoMMA (Forum Musyawarah

Masyarakat Adat), perguruan tinggi, dan BPTU (Badan Pengelola Tana’ Ulen).
Forum Musyawarah Masyarakat Adat

(FoMMA) merupakan organisasi

masyarakat adat yang didirikan oleh lembaga-lembaga adat yang berada di

11

TNKM. Lembaga-lembaga adat tersebut antara lain berada di wilayah adat Hulu
Bahau, Pujungan, Mentarang, Lumbis, Tubu, Krayan Hulu, Krayan Hilir, Krayan
Tengah, Krayan Darat, dan Apo Kayan (sekarang wilayah adat Kayan Hulu dan
wilayah adat Kayan Hilir). Badan Pengelola Tana’ Ulen (BPTU) adalah pelaksana
operasional yang merupakan partner TNKM dalam mengelola kawasan
konservasi. Lembaga ini didirikan masyarakat adat setempat dalam mengelola
sumberdaya hutan secara berkelanjutan (Rahmania et al. 2011).

Tabel 1 Hasil kesepakatan zonasi TNKM
Kategori Zona
Zona Inti (Publik)

Kriteria dan Indikator
Zona yang mewakili tipe ekosistem
khas, homerange bagi key-stones
species, jauh dari jangkauan
masyarakat dan perlindungan
kawasan“water catchment” hulu
beberapa sungai besar dan pengaturan
tata air.

Arahan Pengelolaan
a) Perlindungan dan pengamanan,
Penelitian dan pengembangan,
ilmu pengetahuan, pendidikan.
b) Dikelola langsung oleh Balai
TNKM

Zona Rimba (Adat) Zona rimba merupakan zona
perlindungan atau penyangga dan
pengamanan fungsi zona
inti.

a) Pengembangan konservasi
lintas batas; pemanfaatan
gaharu oleh masyarakat lokal
b) Dikelola oleh BTNKM dan
Masyarakat adat

Zona Tradisional
(Adat)

a) Penelitian, pengembangan, dan
pendidikan; Ekowisata;
pemanfaatan dan usaha SDA
oleh masyarakat lokal; bahan
bangunan dan transportasi oleh
masyarakat lokal; budidaya dan
pembinaan habitat; berburu
b) Dikelola oleh BTNKM dan
Masyarakat adat

Zona yang ditetapkan untuk
kepentingan pengelolaan dan
pemanfaatan oleh masyarakat adat
yang karena kesejarahan telah
mengelola kawasan tersebut serta
masih mempunyai ketergantungan
dengan sumberdaya alam.

Zona khusus (Multi Zona dimana telah terjadi pemanfaatan a) Ekowisata; pemukiman dan
stakeholders)
sumberdaya atau telah didiami sejak
bekas pemukiman; pertanian &
sebelum ditetapkan sebagai taman
budidaya berbasismasyarakat;
nasional, serta merupakan pusat
infrastruktur komunikasi,
pertumbuhan ekonomi masyarakat
pendidikan, dan transportasi.
maupun pemukiman penduduk
b) Dikelola oleh BTNKM, Pemda
dan Masyarakat adat
Sumber: WWF (2010c)

Salah satu permasalahan yang dihadapi TNKM adalah mengenai kejelasan
tata batas taman nasional. Pada tahun 2009 proses tata batas TNKM telah
disepakati dan disetujui oleh pihak TNKM dan delapan wilayah adat sehingga
diperoleh perkembangan proses tata batas TNKM dari tahun 1999 hingga 2008

12

(WWF 2010b). Berdasarkan WWF (2010c), sebagai tindakan lanjutan RPTN
Kayan Mentarang, FoMMA bersama WWF Indonesia menyusun pedoman dan
perencanaan tata ruang wilayah adat. Pada bulan September 2009, usulan zonasi
berbasis pemahaman dan kearifan masyarakat adat telah diajukan kepada
BTNKM berdasarkan rekomendasi masyarakat adat dan Peraturan Menteri
Kehutanan Nomor P.56/Menhut-II/2006 tentang Pedoman Zonasi Taman
Nasional. Berdasarkan keputusan tersebut, dihasilkan kriteria dan indikatr zonasi
TNKM antara lain: (1) Areal “publik” yaitu zona inti; (2) Areal “adat” yaitu zona
rimba, zona pemanfaatan dan zona tradisional; dan (3) Areal “multi-stakeholders”
yakni zona khusus (Tabel 1).
2.4.2 Peran masyarakat
Masyarakat yang tinggal di sekitar TNKM memiliki peran yang penting
dalam pengelolaan taman nasional yaitu masyarakat diikutsertakan dalam
pengelolaan kolaboratif TNKM bersama lembaga/stakeholder lainnya dalam
memanfaatkan sumberdaya hutan secara berkelanjutan, pemberian nama taman
nasional, penentuan sistem zonasi, sebagai pemandu lapang dan penyedia
transportasi lokal ekowisata TNKM, dan peran serta lainnya dalam menjaga dan
merawat keberadaan hutan TN Kayan Mentarang (Dephut 2002a, 2002b).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu,
SPTN Wilayah II Taman Nasional Kayan Mentarang, Kabupaten Malinau,
Kalimantan Timur (Gambar 4). Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 Maret
2011 hingga 22 April 2011.

3.2 Alat , Bahan, dan Objek Penelitian
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
a) Peta lokasi penelitian yang menunjukkan tempat komunitas masyarakat Dayak
Kenyah tinggal untuk mempermudah pengambilan data
b) Kertas karton dan sampul plastik digunakan sebagai perlengkapan herbarium
c) Lembar kuisioner untuk membantu dalam kegiatan wawancara dengan
responden
d) Alat pemotong untuk memotong spesimen yang akan dijadikan herbarium
e) Label untuk memberi nama spesimen
f) Alat tulis membantu dalam penulisan kuisioner dan label
g) Recorder digunakan untuk merekam suara responden dalam proses wawancara
h) Kertas koran untuk membungkus spesimen
i) Kompas sebagai penunjuk arah
j) Spesimen tumbuhan
k) Oven untuk mengeringkan herbarium
l) Alkohol 70% dan sprayer untuk menyemprotkan alkohol ke spesimen
Sedangkan objek penelitian ini adalah masyarakat lokal Suku Dayak Kenyah,
kelompok anak suku Leppo’ Maut di Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu.
3.3 Jenis Data yang Dikumpulkan
Jenis data yang diambil dalam penelitian ini antara lain berupa data
lapangan dan penelusuran dokumen. Data lapangan adalah data yang diperoleh
langsung dari responden. Data yang termasuk ke dalam jenis data lapangan adalah

14

data mengenai segala bentuk pemanfaatan masyarakat Dayak Kenyah terhadap
tumbuhan di sekitar hutan TN Kayan Mentarang sebagai bahan pangan mereka.
Data tersebut berupa spesies tumbuhan, bagian yang digunakan, asal tumbuhan
pangan tersebut, dan kegiatan budidayanya. Jenis data dan metode pengumpulan
data secara rinci disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Jenis data dan metode pengumpulan data penelitian
No.
1

Jenis data
Keadaan umum
lokasi penelitian

Aspek yang dikaji

a. Letak, luas, sejarah
b. Aksesibilitas
c. Tipe ekosistem
d. Potensi flora dan

Sumber
Dokumen
BTNKM

Metode
Studi literatur

fauna
e. Kondisi masyarakat
Dayak
2

Karakteristik
responden

a. Jenis kelamin
b. Pendidikan
c. Kelompok umur
d. Pekerjaan
e. Pola hidup

Masyarakat Suku
Dayak Kenyah
Desa Long
Alango

Wawancara

3

Etnobotani
tumbuhan pangan

a. Spesies tumbuhan

Masyarakat Suku
Dayak Kenyah

Survei lapang,
wawancara

pangan
b. Habitus
c. Bagian yang
digunakan
d. Cara pengolahan
e. Pola konsumsi
f. Budidaya
g. Cara pemanenan

3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu studi
literatur, survei dan inventarisasi lapang, wawancara dengan kuisioner, pembuatan
dan identifikasi contoh herbarium, serta pengolahan dan analisis data.
3.4.1 Studi literatur
Studi literatur dilakukan dengan mempelajari laporan, dokumen yang sudah
ada mengenai TNKM, masyarakat adat, dan pemanfaatan tumbuhan pangan oleh
masyarakat sekitar taman nasional. Studi literatur juga dapat dilakukan dengan
mempelajari referensi seperti buku, jurnal, artikel, dan sebagainya mengenai hal

15

yang berhubungan dengan data yang akan diambil di lapangan. Studi literatur
dapat membantu dalam memudahkan proses pengambilan data di lapangan.

3.4.2 Survei dan inventarisasi lapang
Kegiatan survei dan inventarisasi lapang ini bertujuan untuk menghasilkan
data awal penelitian. Survei dilakukan dengan melihat kondisi tempat tumbuh
spesies tumbuhan pangan, kondisi umum lokasi di lapangan, kondisi TNKM,
masyarakat, dan sekitarnya. Inventarisasi lapang dilakukan dengan mendata
spesies tumbuhan pangan yang ada di sekitar maupun dalam kawasan hutan
TNKM. Kegiatan survei dan inventarisasi lapang ini dilakukan sebelum kegiatan
wawancara untuk mengetahui gambaran mengenai spesies tumbuhan yang
dimanfaatkan masyarakat Dayak Kenyah sekitar TNKM. Hasil dari kegiatan
survei dan inventarisasi lapang ini akan dicocokkan dengan hasil dari kegiatan
wawancara dengan kuisioner. Dengan demikian dapat ditemukan perbedaan
antara survei dan inventarisasi lapang dengan wawancara warga, perbedaan
tersebut dapat ditanyakan kepada responden.

3.4.3 Wawancara dengan kuisioner
Kegiatan wawancara dengan menggunakan kuisioner dilakukan secara semi
terstruktur. Responden ditentukan dengan menggunakan metode purposive
sampling dengan kriteria jenis pekerjaan utama responden. Jumlah responden
sebanyak 35 orang. Wawancara ini berkaitan dengan biodata responden, spesies
tumbuhan pangan yang dimanfaatkan, bagian yang dimanfaatkan, proses
pengolahan tumbuhan pangan menjadi bahan pangan, lokasi tumbuhan pangan.
Daftar pertanyaan tersaji pada Lampiran 8.
Kuisioner adalah metode pengumpulan data melalui formulir yang berisi
pertanyaan yang diajukan secara tertulis pada responden untuk mendapatkan
jawaban dan informasi yang diperlukan peneliti (Mardalis 2004).

16

Gambar 3 Kegiatan wawancara dengan Ketua Adat Desa Long Alango.

3.4.4 Pembuatan dan identifikasi contoh herbarium
Adapun tahapan pembuatan dan identifikasi contoh herbarium

adalah

sebagai berikut :
1. Spesimen tumbuhan (bagian tumbuhan yang akan dijadikan herbarium seperti
daun, biji, buah) dipotong sekitar 40 cm
2. Spesimen tumbuhan diberi label gantung berukuran 3x5 cm. Label gantung
berisi nomor koleksi, inisial nama kolektor, tanggal pengambilan spesimen,
nama lokal spesimen, dan lokasi pengambilan spesimen.
3. Setelah diberi label, spesimen tumbuhan disemprotkan alkohol 70% dengan
menggunakan sprayer. Pastikan seluruh bagian spesimen tertutup alkohol agar
tidak membusuk.
4. Setelah itu, spesimen dimasukan dalam lipatan kertas koran dengan rapi.
Seluruh bagian spesimen harus tertutup agar memudahkan dalam tahap
pengovenan saat di laboratorium nantinya.
5. Spesimen-spesimen yang telah tertutup kertas koran kemudian dipres.
6. Setiap pagi atau siang hari, spesimen tersebut dijemur agar tidak tumbuh
jamur.
7. Setelah sampai di laboratorium, spesimen dipres kembali, kemudian dioven
dengan suhu 550C selama 5 hari.

17

8. Setelah kering, herbarium diidentifikasi nama ilmiahnya oleh salah satu staff
LIPI Herbarium Bogoriense, Bapak Ismail.
9. Setelah diketahui nama ilmiahnya, herbarium diberi label berisikan nomor
koleksi, inisial nama kolektor, tanggal pengambilan spesimen, nama lokal
spesimen, nama ilmiah, famili, habitus, kegunaan, dan lokasi pengambilan
spesimen.
10. Setelah diberi label, herbarium ditempelkan pada karton, kemudian ditutup
dengan plastik bening.

3.4.5 Pengolahan data dan analisis data
Pengolahan data dilakukan dengan cara menghitung persentase habitus,
persentase bagian tertentu yang digunakan dari tumbuhan pangan yang
dimanfaatkan masyarakat, persentase tipe habitat tertentu, dan persentase
budidaya tumbuhan. Persentase yang diperoleh tersebut disajikan dalam bentuk
tabulatif atau diagram agar mempermudah dalam membaca hasil penelitian yang
diperoleh di lapangan. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan deskriptif.
Berikut rumus penghitungan persentase habitus tertentu, persentase bagian
tertntu yang digunakan dari tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat,
persentase tipe habitat tertentu, dan persentase budidaya tumbuhan :

Persentase habitus tertentu=

∑ spesies habitus tertentu
×100%
∑ seluruh spesies

Persentase bagian tertentu yang dimanfaatkan=
∑ bagian tertentu yang dimanfaatkan
×100%
∑ seluruh bagian yang dimanfaatkan

Persentase tipe habitat tertentu=

spesies dari habitat tertentu
×100%
seluruh spesies

Persentase budidaya tumbuhan=

spesies tumbuhan budidaya
×100%
seluruh spesies

18

Lokasi Penelitian

Gambar 4 Denah lokasi penelitian (sumber: WWF 2002).

BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Sejarah Singkat, Luas, dan Letak
Kayan Mentarang awalnya ditunjuk sebagai cagar alam seluas 1,6 juta
hektar berdasarkan SK No. 84 Kpts/Um/II/25 November 1980, mengingat
tingginya keanekaragaman hayati di lokasi tersebut. Pada tahun 1989, PHPA,
LIPI serta WWF Indonesia Programme menandatangani MoU untuk memulai
proyek kerjasama penelitian dan pengembangan untuk Kayan Mentarang yang
bertujuan untuk mengembangkan sistem pengelolaan yang mengintegrasikan
konservasi dengan pembangunan ekonomi yang berkesinambungan bagi
masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar cagar alam. Dengan statusnya
sebagai cagar alam maka terdapat hambatan secara hukum bagi mayarakat adat
untuk melanjutkan cara hidup tradisional mereka yang telah berlangsung selama
berabad-abad (Dephut 2002a).
Pada tahun 1992, WWF mengusulkan perubahan status Kayan Mentarang
menjadi taman nasional mengingat status taman nasional memungkinkan
pemanfaatan sumberdaya alam secara tradisional di zona yang telah ditentukan.
Departemen Kehutanan membentuk tim untuk mengevaluasi rekomendasi WWF
tersebut. Pada tanggal 7 Oktober 1996, Menteri Kehutanan menyetujui dan
menunjuk Kayan Mentarang sebagai taman nasional melalui SK Menteri
Kehutanan No. 631/Kpts-II/1996. Surat keputusan tersebut merupakan SK
pertama di Indonesia yang menyatakan bahwa masyarakat asli diperbolehkan
mencari nafkah secara tradisional di dalam areal tertentu dari taman nasional
(Dephut 2002a).
Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) memiliki luas wilayah sekitar
1,35 juta hektar dan terletak di wilayah Kecamatan Kayan Hilir, Pujungan, Kayan,
Mentarang dan Lumbis di Kabupaten Malinau. Taman nasional ini berbentuk
panjang dan menyempit, dan mengikuti batas internasional dengan negara bagian
Sabah dan Serawak, Malaysia. Posisinya terletak diantara 2O LU dan 4O LU dari
khatulistiwa (Dephut 2002a, 2002b).

20

4.2 Aksesibilitas
Taman Nasional Kayan Mentarang terletak jauh dari pusat-pusat
pemukiman penduduk dan jalan. Saat ini akses yang ada hanya terbatas melalui
perjalanan sungai dengan perahu tempel dan perjalanan udara dengan pesawat
kecil atau helikopter. Beberapa desa yang terdapat di dalam wilayah taman
nasional dilayani dengan penerbangan reguler dari Dirgantara Air Service (DAS)
dan Mission Aviation Fellowship (MAF). Rute utama jalur sungai menuju taman
nasional dan daerah-daerah sekitarnya adalah (Dephut 2002b) :
a. Dari Tanjung Selor dan Long Bia melalui Sungai Kayan dan Sungai Bahau ke
Long Pujungan dan desa-desa bagian hulu (perjalanan selama 1,5 jam). Untuk
desa-desa yang letaknya lebih jauh di bagian hulu dapat dicapai dengan cara
menyewa perahu-perahu yang lebih kecil selama 1 hari.
b. Dari Malinau di bagian hulu Sungai Tubu menuju ke daerah perbatasan dekat
dengan Rian Tubu dapat ditempuh dalam waktu 1 hari perjalanan menyewa
perahu tempel.
c. Dari Long Ampung dan Long Nawang menuju ke Data Dian dicapai melalui
Sungai Kayan. Pada jalur ini terdapat Jeram Ambun dan jeram-jeram lain di
Sungi Kayan yang dapat menghambat perjalanan perahu. Perjalanan ke arah
hilir sampai di jeram-jeram tersebut dapat dilakukan dengan mencarter perahu
yang ada di Data Dian. Dari lokasi tersebut dapat diteruskan melalui jalan
setapak sepanjang 30 km mengitari daerah sekitar jeram. Dari tempat tersebut
juga tersedia perahu sewa menuju Long Peso dan ke Long Bia juga Tanjung
Selor.

4.3 Ekosistem
Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) sedikitnya memiliki 18 jenis
habitat terestrial atau tipe vegetasi. Tipe-tipe tersebut antara lain hutan dataran
rendah, sub Montana dan Montana bercampur dengan padang rumput dan lahan
pertanian masyarakat setempat dan vegetasi pada substrat yang khusus seperti
hutan kerangas dan hutan kapur. Banyak areal di TNKM memiliki curah hujan
dua kali lipat dari daerah-daerah lain sehingga perbedaan curah hujan di kawasan
tersebut membuat keadaan vegetasi menjadi lebih kompleks (Dephut 2002b).

21

Selain dari substrat terrestrial dan keterkaitannya dengan flora/fauna,
TNKM juga memiliki berbagai komunitas perairan, mulai dari sungai besar
dengan aliran deras sampai anak sungai kecil atau genangan air dari hujan dan
rembesan. Sungai-sungai yang berada pada ketinggian dengan kondisinya yang
beranekaragam menyebabkan tingginya keragamanan amfibi dan ikan (Dephut
2002b).

4.4 Potensi Flora dan Fauna
Taman Nasional Kayan Mentarang memiliki keanekaragaman jenis
tumbuhan dan satwa bernilai tinggi baik jenis langka maupun dilindungi,
keanekaragaman tipe ekosistem dari hutan hujan dataran rendah sampai hutan
berlumut di pegunungan tinggi.
Beberapa tumbuhan yang ada antara lain pulai (Alstonia scholaris), jelutung
(Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), Agathis (Agathis borneensis),
kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), rengas (Gluta wallichii), gaharu (Aquilaria
malacensis), aren (Arenga pinnata), berbagai jenis anggrek, palem, dan kantong
semar. Selain itu, ada beberapa jenis tumbuhan yang belum semuanya dapat
diidentifikasi karena merupakan jenis tumbuhan baru di Indonesia (Dephut 2006).
Terdapat sekitar 100 jenis mamalia (15 jenis diantaranya endemik), 8 jenis
primata dan lebih dari 310 jenis burung dengan 28 jenis diantaranya endemik
Kalimantan serta telah didaftarkan oleh ICBP (International Committee for Bird
Protection) sebagai jenis terancam punah. Beberapa jenis mamalia langka seperti
macan dahan (Neofelis nebulosa), beruang madu (Helarctos malayanus
euryspilus), lutung dahi putih (Presbytis frontata frontata), dan banteng (Bos
javanicus lowi) (Dephut 2006).

4.5 Kondisi Masyarakat
Seluruh kawasan TN Kayan Mentarang dihuni sejak sekitar tiga abad yang
lalu oleh kelompok masyarakat suku Dayak. Kira-kira 16.000 jiwa penduduk suku
Dayak yang terdiri dari 12 kelompok bahasa yang berbeda, saat ini menghuni 50
desa di dalam dan di sekitar taman nasional. Kepadatan penduduk rata-rata 0,74
orang/km yang meliputi taman nasional dan daerah penyangga. Dalam

22

kesehariannya, masyarakat adat suku Dayak hidup dengan peraturan adat.
Terdapat 10 wilayah adat yang masing-masing dipimpin oleh lembaga adat di
bawah kepemimpinan kepala adat (Dephut 2002b).
Masyarakat Dayak sebagian besar memiliki mata pencaharian kombinasi
antara pertanian skala kecil, berburu, dan memancing, serta mengumpulkan bahan
makanan, bahan bangunan, kayu bakar, dan obat-obatan dari hutan. Penduduk
biasa mendapatkan uang tunai melalui kegiatan mengumpulkan dan kemudian
menjual hasil-hasil hutan non kayu (Dephut 2002a, 2002b).
Suku Dayak di sekitar TN Kayan Mentarang terdiri dari berbagai subsuku
Dayak antara lain: Kayan, Kenyah, Lundayeh, Merap, Punan, Saben, Tagel, dan
lain-lain. Mereka adalah pengelola hutan yang bijak. Sistem pengelolaan yang
diterapkan secara turun temurun mewariskan hutan yang dapat dinikmati oleh
anak-cucu mereka (Uluk et al. 2001).
Suku Dayak di TN Kayan Mentarang sangat menggantungkan hidupnya
pada hutan. Hidup dan hutan bagi mereka seperti ikan dan air yang menjadi satu
kesatuan dan tak terpisahkan. Salah satu bentuk ketergantungan tersebut adalah
pemanfaatan bahan pangan yang berasal dari hutan dan sekitarnya. Tumbuhan
sebagai sumber karbohidrat yang berasal dari berbagai jenis palem dan umbiumbian seperti nanga (Eugeissona utilis), talang (Arenga undulatifolia), lundai
(Xanthosoma sp., Colocasia gigantea), dan lain-lain (Uluk et al. 2001).
Selain karbohidrat, Suku Dayak sekitar TNKM memanfaatkan tumbuhan
hutan sebagai asupan vitamin dari sayur dan buah-buahan. Beberapa spesies
tumbuhan yang digunakan sebagai sayur antara lain: paku bala (Stenoclaena
palustris), paku bai (Diplazium esculentum), paku pa’it (Athyrium sozongonense),
dan jenis lainnya. Sedangkan jenis buah yang dikonsumsi orang Dayak antara
lain: dian da’un (Durio oxleyanus), dian kalang (Durio zibethinus), mangga
(Mangifera indica), nakan (Artocarpus integer), dan lain sebagainya (Uluk et al.
2001).

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Responden
5.1.1 Komposisi jenis kelamin
Dari keseluruhan jumlah responden yang diwawancarai (35 orang), dapat
diketahui bahwa komposisi jenis kelamin sebanyak 25 orang laki-laki (71%) dan
10 orang perempuan (29%) (Gambar 5). Berdasarkan pengamatan yang dilakukan,
perbedaan jenis kelamin tidak berpengaruh besar terhadap pembagian kerja
responden. Dari 35 responden yang telah diwawancarai, baik laki-laki maupun
perempuan sama-sama berperan dalam mengerjakan kegiatan mereka sehari-hari.
Sebagai contoh bertani, baik laki-laki maupun perempuan memiliki peran yang
sama dalam kegiatan seperti mencangkul, merumput, menanam, mencari kayu api,
dan kegiatan bertani lainnya, bahkan untuk kegiatan berburu pun sebenarnya
perempuan boleh melakukannya, akan tetapi di Desa Long Alango tidak terdapat
perempuan yang ikut berburu. Pemburu yang berjenis kelamin perempuan ini ada
di Desa Long Kemuat (sebelah Desa Long Alango). Untuk kegiatan berkebun pun
mereka memiliki peran yang sama mulai dari persiapan lahan hingga pemanenan.
Seperti Simatauw et al. (2001) menyebutkan bahwa masyarakat Dayak di
Kalimantan merupakan masyarakat yang egaliter. Di beberapa suku, laki-laki dan
perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam pengelolaan
sumberdaya alam.

29%
Laki-laki
Perempuan
71%

Gambar 5 Komposisi penduduk Desa Long Alango.

24

Dalam urusan desa seperti acara pertemuan/rapat desa, pemimpin seperti
kepala desa, ketua adat, ketua BPTU (Badan Pengelola Tana’ Ulen), dan
pemimpin lainnya tetap menjadi kewajiban laki-laki. Badan Pengelola Tana’ Ulen
merupakan suatu badan yang mengelola semua hal yang berhubungan dengan
Tana’ Ulen. Tana’ Ulen merupakan suatu wilayah yang dikeramatkan. Tana’
Ulen ini berada di zona tradisional TNKM karena wilayah ini telah dimanfaatkan
oleh penduduk sekitar sebelum dibentuknya taman nasional.
Perempuan-perempuan Desa Long Alango mengurus anak dan urusan
rumah tangga, mereka juga memiliki perkumpulan ibu-ibu PKK untuk menjalin
kekeluargaan. Ibu-ibu PKK ini selain mengadakan pertemuan rutin, mereka juga
sering membuat kerajinan khas dayak seperti saung, belanyat, tikar, dan anyaman
lainnya yang nantinya akan dijual ke pendatang/turis atau mereka gunakan sendiri.
Sedangkan untuk acara kerja bakti membangun desa, antara laki-laki dan
perempuan bekerja sama tanpa membedakan gender. Contohnya saja kerja bakti
dalam perbaikan bandara pesawat lokal (Susi Air dan MAF) semua orang bekerja
sama baik laki-laki maupun perempuan, mulai dari anak-anak hingga orang tua
yang masih kuat.

(a)

(b)

Gambar 6 Kerja bakti pelebaran bandara: (a) perempuan; (b) laki-laki.

5.1.2 Komposisi kelas umur
Pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan terutama untuk kebutuhan
pangan telah dikenal sejak zaman dahulu. Secara turun temurun pengetahuan ini
diwariskan kepada keturunannya. Dari hasil wawancara diperoleh kelas umur

25

yang berkisar antara 23 tahun hingga 70 tahun (Gambar 7). Berdasarkan grafik
tersebut, usia tertua adalah usia 70 tahun. Responden ini masih bekerja di sawah
dan masih melakukan kegiatan lainnya sendiri, tanpa meyusahkan orang lain,
bahkan responden ini sering berkunjung ke rumah tetangganya yang memiliki
jarak agak jauh dari rumahnya dengan berjalan kaki. Kelompok usia terbanyak
adalah antara 30 tahun hingga 40 tahun yaitu sebanyak 16 orang. Hal ini
menunjukkan bahwa usia tersebut merupakan usia produktif dimana orang-orang
bersemangat dalam bekerja di sawah, ladang, dan kebun, bahkan untuk pergi ke
hutan dengan tujuan berburu dan kegiatan lainnya.

18

16

16
jumlah (orang)

14
12
10
7

8
6
4

5
4

4

2
0
62 th

Kelompok umur (tahun)

Gambar 7 Jumlah responden berdasarkan kelompok umur.

Masyarakat Dayak Kenyah Desa Long Alango telah memanfaatkan hutan
selam berabad-abad. Akan tetapi intensitas mereka pergi ke hutan bukan untuk
setiap saat, melainkan hanya pada saat membutuhkan saja seperti saat ingin
berburu, berladang, kerja gaharu, mengambil bahan bangunan dan kerajinan, serta
hanya untuk refreshing. Mereka pergi ke hutan biasanya dua hingga empat kali
dalam seminggu karena kegiatan harian mereka dihabiskan di sawah dan kebun
mereka.

26

5.1.3 Tingkat pendidikan formal
Komposisi tingkat pendidikan responden adalah tidak sekolah sebanyak 1
orang (3%), lulusan taman kanak-kanak (TK) sebanyak 1 orang (3%), lulusan
sekolah dasar (SD) sebanyak 19 orang (54%), lulusan SMP sederajat sebanyak 5
orang (14%), lulusan SMA sederajat sebanyak 3 orang (9%), lulusan Diploma
sebanyak 2 orang (6%), dan lulusan Sarjana sebanyak 4 orang (11%). Berdasarkan
data tersebut, dapat diketahui bahwa mayoritas masyarakat memiliki tingkat
pendidikan lulusan SD (54%). Persentase tertinggi kedua adalah lulusan SMP
sederajat yaitu 14% (Gambar 8). Hal ini karena sekolahan yang terdapat pada desa
tersebut hanyalah SD dan SMP, itu pun jumlahnya masing-masing adalah satu
sekolah. Biasanya orang yang ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi
belajar di luar daerah, misalnya di Tanjung Selor atau Malinau. Akan tetapi,
mereka juga dapat melanjutkan sekolahnya lebih jauh lagi misalnya di luar Pulau
Kalimantan. Mereka yang sekolah di luar daerah bahkan hingga Sarjana, ada yang
kembali lagi ke kampung halamannya untuk menjadi guru ataupun pegawai
kecamatan. Dengan kata lain mereka pulang untuk membangun desa mereka.
Kebanyakan dari mereka yang sarjana berjenis kelamin laki-laki karena biasanya
perempuan setelah lulus SMP langsung menikah dengan alasan tidak ingin
sekolah jauh meninggalkan desanya.

Tingkat pendidikan

Sarjana

11%

Diploma

6%

SLTA Sederajat

9%

SLTP Sederajat

14%

SD

54%

TK

3%

Tidak sekolah

3%
0%

10%

20%

30%

40%

50%

Persentase

Gambar 8 Komposisi tingkat pendidikan responden.

60%

27

5.1.4 Jenis pekerjaan
Dari 35 responden, keseluruhannya memiliki pekerjaan utama sebagai
petani karena bagi mereka bertani merupakan kebutuhan hidup. Mereka
memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri dengan menyediakan bahan pangan
yang berasal dari sawah/ladang kadang juga mengambil langsung dari hutan
tanpa mengandalkan proses jual-beli dari orang lain ataupun bantuan langsung
dari pemerintah. Pemerintah Kabupaten Malinau juga membantu melalui program
“Gerbangdema” (Gerakan Pembangunan Desa Mandiri). Program ini diharapkan
mampu menjadikan desa-desa di Kabupaten Malinau menjadi desa yang lebih
mandiri. Oleh sebab itu, “Gerbangdema” memiliki produk unggulan yang
dihasilkan dari desa-desa tersebut yang nantinya dapat dijual ke luar ataupun
dalam daerah sehingga mampu menjadi sumber pendapatan bagi warga desa.
Salah satu produk unggulan adalah padi lokal. Bibit padi lokal yang awalnya
berasal dari Pemerintah Kabupaten Malinau, ada juga yang berasal dari turuntemurun suku Dayak. Salah satu bibit padi yang berasal dari program
“Gerbangdema” adalah padi adan. Tidak hanya padi, “Gerbangdema” memiliki
produk unggulan lainnya seperti nanas (Ananas comosus), bekkai (Pycnarrhena
cauliflora), bawang kenyah (Allium tuberosum), kopi (Coffea robusta), kakao
(Theobroma cacao), dan produk unggulan lainnya.
Di samping menjadi petani, mereka juga memiliki mata pencaharian lain
seperti PNS (guru SD, guru SMP, pegawai kecamatan), pedagang, pemilik
penginapan, dan sebagai agen penjualan tiket pesawat lokal (MAF dan Susi Air).
Agar sawah atau ladang mereka tetap terurus di saat mereka bekerja di luar selain
sebagai petani, maka mereka melakukan pembagian kerja dengan anggota
keluarga lainnya. Sebagai contoh, apabila suami bekerja sebagai PNS, pada pagi
hingga sore suami kerja di sekolah/kantor, sedangkan sawah atau ladang diurus
istri atau anak (jika kedua orang tua bekerja di luar). Setelah suami/orang tua
pulang, mereka bergantian dalam mengurus sawah/ladang. Biasanya mereka
setelah bekerja langsung menuju sawah/ladang mereka sebelum pulang ke rumah.
Begitu pula untuk pekerjaan/mata pencaharian yang lain. Adapun yang menjadi
ibu rumah tangga dan pemandu (guide) lokal serta bekerja mencari gaharu,
menjual hasil pertanian dan perkebunan sendiri ke tetangga atau desa lain,

28

menjual hasil buruan ke tetangga atau desa lain, menjual hasil kerajinan,
menyewakan perahu untuk menambah pendapatan keluarganya. Pekerjaan ini
dilakukan karena pendapatan yang diperoleh digunakan untuk kebutuhan lain di
luar kebutuhan pangan seperti keperluan sandang, kebutuhan rumah tangga, dan
kebutuhan lain yang memerlukan uang. Untuk kebutuhan papan, mereka dapat
memanfaatkan hasil hutan kayu untuk membangun rumah mereka.
Budaya bertani telah ada sejak zaman dahulu. Orang tua terdahulu
mengajarkan kepada anak cucunya untuk dapat bertahan hidup dengan
kemandirian. Bibit yang diperoleh untuk tanaman pertanian berasal dari turun
temurun, ada juga yang berasal dari luar daerah. Karena dirasa hasil pertanian
masih kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan, mereka mengambil bibit
tumbuhan hutan untuk dibudidayakan di kebun. Selain itu, untuk memenuhi
kebutuhan vitamin, mineral, air, dan kandungan nutrisi lainnya, penduduk desa
menanam spesies sayuran yang bibitnya berasal dari luar daerah. Sayur yang
biasanya dijadikan pelengkap bahan makanan mereka juga ada yang berasal dari
hutan.

5.2 Keanekaragaman Tumbuhan Pangan
5.2.1 Keanekaragaman spesies
Berdasarkan hasil wawancara dan eksplorasi tumbuhan, diperoleh 139
spesies tumbuhan berguna sebagai pangan dengan rincian 32 spesies tumbuhan
pangan hutan/liar, 46 spesies tumbuhan pangan berasal dari hutan yang telah
dibudidaya, dan 61 spesies tumbuhan pangan budidaya yang bukan berasal dari
hutan (Gambar 9).
Berdasarkan 32 spesies tumbuhan pangan yang berasal dari hutan dapat
dikelompokkan dalam 13 famili (Gambar10). Berdasarkan hasil tersebut, famili
yang memiliki jumlah spesies terbanyak adalah Famili Arecaceae (11 spesies).
Beberapa spesies pada Famili Arecaceae seperti eman (Caryota mitis), nanga
(Eugeissona utilis), uwai tebungen (Calamus ornatus), uwai tana’ (Calamus sp.)
merupakan bahan pangan yang berguna sebagai bahan pangan pokok pengganti
nasi (sumber energi) dan ada yang dimanfaatkan sebagai sayuran dengan bagian
dimanfaatkan yaitu umbut. Umbut merupakan bagian rotan atau palem-paleman

29

yang masih muda, letaknya di dalam antara pangkal daun dan ujung batang.
Umbut ini merupakan sayuran yang sangat disenangi masyarakat Dayak.

Tumbuhan
pangan
hutan

Tumbuhan pangan
budidaya dari hutan

46

32

Tumbuhan
pangan
budidaya

61

Gambar 9 Jumlah spesies tumbuhan pangan hutan, tumbuhan pangan budidaya
dari hutan, dan tumbuhan pangan budidaya.
Selain itu terdapat satu spesies buah khas Borneo dari Famili Arecaceae
yaitu birai (Salacca affinis var. borneensis). Birai atau dikenal dengan salak hutan
ini banyak terdapat di Stasiun Penelitian Hutan Tropis (SPHT) Lalut Birai yang
sekaligus merupakan Tana’ Ulen atau hutan adat bagi Suku Dayak Kenyah

Famili

TNKM.

Amanitaceae
Araceae
Arecaceae
Athyriaceae
Auriculariaceae
Nephrolepidacea
Piperaceae
Pleurotaceae
Poaceae
Polypodiaceae
Russulaceae
Zingiberaceae
(tidak teridentifikasi)

1
3
11
1
1
1
1
1
3
2
2
2
3
0

5

10

15

Jumlah (spesies)

Gambar 10 Jumlah spesies tumbuhan pangan hutan/liar berdasarkan famili.

30

Tumbuhan pangan hutan/liar yang sering dimanfaatkan Suku Dayak Kenyah
selain sebagai bahan pangan pokok juga ada yang sering dimanfaatkan sebagai
sayuran seperti spesies jamur (kulat) dengan contoh : kulat long (Amanita sp.),
kulat tlengadok (Auricularia auricula-judae), kulat jap (Pleurotus sp.) dan pakupakuan seperti paku pait (Athyrium sozongonense), paku julut (Nephrolepis
bisserata) (Tabel 3). Selain jamur dan paku-pakuan, terdapat pula tumbuhan
berhabitus herba yang dimanfaatkan sebagai sayur yaitu balang (Heckeria
umbellata).
Berikut contoh nama-nama spesies tumbuhan pangan hutan yang
dimanfaatkan Suku Dayak Kenyah berdasarkan familinya yang dapat dilihat pada
Tabel 3.

Tabel 3 Contoh spesies tumbuhan pangan hutan berdasarkan famili
No.
1
2

Famili
Amanitaceae
Araceae

3

Arecaceae

4
5
6
7
8
9

Athyriaceae
Auriculariaceae
Nephrolepidacea
Piperaceae
Pleurotaceae
Poaceae

10
11

Polypodiaceae
Russulaceae

12
13

Zingiberaceae
(tidak
teridentifikasi)

Spesies
Kulat long (Amanita sp.)
Keladi upa' nyak (Colocasia esculenta), lundai 1 (Colocasia
gigantea), lundai 2 (Xanthosoma sp.)
Talang (Arenga undulatifolia), uwai tebungen (Calamus ornatus),
eman (Caryota mitis), birai (Salacca affinis)
Paku pait (Athyrium sozongonense)
Kulat tlengadok (Auricularia auricula-judae)
Paku julut (Nephrolepis bisserata)
Daun balang (Heckeria umbellata)
Kulat jap (Pleurotus sp.)
Bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu apus (Gigantolochloa
apus), sengka (Setaria palmifolia)
Paku bai (Diplazium esculentum), paku bala (Stenoclaena palustris)
Kulat bulu (Lactarius deliciosus), kulat long balabau (Russula
cyanoxantha)
Nyanding (Etlingera elatior), iti' (Etlingera sp.)
Kulat kedet, kulat puti', kulat temenggang

Berdasarkan 139 spesies tumbuhan pangan yang dimanfaatkan Suku Dayak
Kenyah, terdapat 46 spesies tumbuhan pangan yang telah dibudidaya berasal dari
hutan dengan 16 famili (Gambar 11). Suku Dayak Kenyah melestarikan tumbuhan
pangan dengan menanamnya di kebun. Hal ini bertujuan agar mempermudah
dalam perolehan tumbuhan pangan tanpa harus mengambilnya langsung dari
hutan. Suku Dayak Kenyah membudidayakan tumbuhan pangan hutan di kebun

31

dengan cara trial and error. Mereka belajar dari kesalahan dan terus mencobanya
hingga berhasil. Hal ini telah diajarkan turun temurun hingga saat ini.
Pada Gambar 11 dapat diketahui bahwa Famili Sapindaceae yang memiliki
jumlah spesies terbanyak yaitu 12 spesies. Spesies yang ditemukan pada Famili
Sapindaceae adalah buah-buahan yang berasal dari hutan (maritam, mata kucing,
rambutan hutan, dan sebagainya). Hal ini membuktikan bahwa TNKM memiliki
keanekaragaman buah, sehingga Suku Dayak Kenyah yang tinggal di sekitarnya
senang membudidayakan/memanfaatkan bibitnya agar dapat dikonsumsi dengan
lebih mudah. Hal ini menunjukkan bahwa Suku Dayak Kenyah TNKM

Famili

menerapkan asas konservasi (perlindungan, pengawetan, pemanfaatan).

Anacardiaceae
Bombacaceae
Burseraceae
Clusiaceae
Cucurbitaceae
Euphorbiaceae
Fabaceae
Flacourtiaceae
Lauraceae
Melastomataceae
Meliaceae
Menispermaceae
Moraceae
Polygalaceae
Sapindaceae
Urticaceae
(tidak teridentifikasi)

2
5
1
3
1
7
1
1
1
1
1
2
2
3
12
1
2
0

2

4

6

8

10

12

14

Jumlah (spesies)

Gambar 11 Jumlah spesies tumbuhan

Dokumen yang terkait

Etnobotani Pangan Masyarakat Suku Dayak Kenyah di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang Kalimantan Timur