Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi Di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta Menggunakan Model Objective Matrix (OMAX

ABSTRAK

PRAMUDYA PRATAMA PUTRA, C44070006. Peningkatan Produktivitas Pada
Aktivitas Reparasi Di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta
Menggunakan Model Objective Matrix (OMAX). Dibimbing oleh VITA
RUMANTI KURNIAWATI dan BUDHI HASCARYO ISKANDAR.
Orientasi pembangunan nasional telah mengalami perubahan dari pembangunan
daratan menjadi eksplorasi kelautan. Pasar bebas yang berlaku di wilayah ASEAN
menyebabkan kegiatan perdagangan semakin meningkat khususnya Muara Angke.
Kapal sebagai sarana pendukung kegiatan tersebut juga akan mengalami kenaikan.
Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencanangkan program penambahan
armada kapal perikanan pada tahun 2011 sebanyak 1000 unit kapal. Ketiga hal
tersebut menyebabkan galangan kapal harus meningkatkan produktivitasnya. Dok
Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT
BTPI) merupakan galangan kapal yang berperan sebagai industri penunjang
perikanan tangkap di Muara Angke dan hanya melayani kegiatan reparasi kapal.
Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui kriteria produktivitas dan indikator
kinerja galangan, mengukur tingkat produktivitas, mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi peningkatan produktivitas, serta mengidentifikasi langkah awal
peningkatan produktivitas Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dengan
pengukuran produktivitas menggunakan model OMAX. Hasil pengukuran
menunjukkan bahwa produktivitas Dok Pembinaan UPT BTPI secara keseluruhan
cukup baik. Banyak indikator yang pencapaian nilainya stabil pada skor 3. Hasil
analisis menunjukkan bahwa ada 5 indikator yang juga termasuk faktor
produktivitas Dok Pembinaan UPT BTPI yaitu tenaga kerja, pemakaian mesin,
jam kerja aktual, jam kerja efektif, dan ketidakhadiran karyawan. Langkah awal
dalam usaha peningkatan produktivitas adalah dengan memperhatikan prioritas
utama faktor produksi dalam melakukan perbaikan. Langkah awal untuk
peningkatan produktivitas didasarkan pada faktor yang paling berpengaruh yaitu
jumlah ketidakhadiran karyawan dengan bobot sebesar 30% dengan cara diadakan
pelatihan reparasi kapal untuk seluruh karyawan.
Kata kunci: OMAX, pengukuran produktivitas, peningkatan produktivitas

1

1 PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Orientasi pembangunan nasional telah mengalami perubahan dari konsep

pembangunan daratan mengarah ke eksplorasi kelautan. Sebagai negara bahari
dan kepulauan terbesar di dunia, Dahuri (2005) menyatakan bahwa sedikitnya
terdapat

10

sektor

yang dapat

dikembangkan untuk

memajukan dan

memakmurkan Indonesia, salah satunya adalah industri dan jasa maritim termasuk
industri perkapalan (galangan kapal). Industri galangan kapal merupakan suatu
industri yang menjadi salah satu faktor utama penunjang industri transportasi laut
di Indonesia. Industri galangan kapal berperan dalam penyediaan kapal baik
sebagai sarana transportasi untuk muatan barang ataupun orang. Selain itu,
industri galangan juga berperan dalam pemeliharaan dan perbaikan kapal. Potensi
galangan kapal di Indonesia saat ini tercatat ada sekitar 240 galangan kapal yang
sebagian besar adalah galangan kapal dalam skala kecil. Windyandari (2008)
menyatakan bahwa diantara 240 galangan tersebut terdapat 4 buah galangan kapal
yang tergolong dalam skala besar yaitu: PT Dok & Perkapal Kodja Bahari, PT
PAL Indonesia, PT Dok dan Perkapalan Surabaya, dan PT Industri Kapal
Indonesia. Galangan-galangan dalam skala besar tersebut merupakan galangan
kapal milik pemerintah Indonesia.
Dengan diberlakukannya pasar bebas untuk wilayah ASEAN, maka volume
perdagangan di Indonesia akan mengalami kenaikan. Penggunaan jasa kapal
sebagai salah satu penunjang kegiatan tersebut akan ikut mengalami kenaikan,
baik secara kuantitas, ukuran dan jenis kapal yang beroperasi, sehingga kapalkapal yang singgah dan berlabuh di Indonesia khususnya Jakarta akan mengalami
peningkatan. Peningkatan volume kegiatan industri transportasi laut perlu
didukung dengan peningkatan pelayanan galangan khususnya di Jakarta, baik
untuk memenuhi kebutuhan akan bangunan baru maupun reparasi kapal.
Peningkatan ini juga menuntut setiap dok dan galangan kapal untuk selalu
meningkatkan produktivitasnya.
Selain sebagai industri penunjang transportasi laut, galangan kapal juga
berperan sebagai industri penunjang perikanan tangkap. Galangan kapal dalam hal

2

ini berperan sebagai industri penyediaan, pemeliharaan dan perbaikan kapal
perikanan sehingga kegiatan operasi penangkapan ikan dapat berjalan dengan
lancar. Dalam perikanan tangkap, kapal perikanan merupakan salah satu unit
penangkapan ikan yang penting keberadaannya. Kapal perikanan berfungsi
sebagai sarana transportasi nelayan menuju fishing ground, ataupun sebaliknya
sebagai sarana transportasi untuk mengangkut ikan hasil tangkapan menuju
fishing base. Selain sebagai sarana transportasi, di atas kapal perikanan, operasi
penangkapan ikan juga dilakukan.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan membangun kapal
perikanan sebanyak 1.000 buah hingga tahun 2014. Kapal tersebut berukuran di
atas 30 Gross Tonnage (GT). Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Menteri
Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad saat membuka Rapat Kerja Teknis
Ditjen Perikanan Tangkap Tahun 2011, di Hotel Clarion, Makassar pada hari
Senin tanggal 28 Februari 2011 (Ade, 2011). Berdasarkan hal tersebut, potensi
pasar untuk reparasi kapal perikanan akan semakin besar, sehingga menuntut
kesiapan galangan untuk menyerap potensi ada tersebut.
Dok Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan
(UPT BTPI) merupakan salah satu galangan kapal yang berperan sebagai industri
penunjang perikanan tangkap di Muara Angke, Jakarta. Dalam rangka
menjalankan peranannya sebagai industri penunjang perikanan tangkap di
Indonesia, serta ikut serta dalam program peningkatan armada kapal perikanan
yang diungkapkan oleh Fadel Muhammad, Dok Pembinaan UPT BTPI harus
meningkatkan produktivitasnya baik untuk pemenuhan kebutuhan bangunan kapal
baru ataupun reparasi. Produktivitas adalah salah satu faktor yang penting dalam
mempengaruhi proses kemajuan dan kemunduran suatu galangan. Oleh sebab itu,
perlu dilakukan pengukuran produktivitas di galangan yang bertujuan untuk
mengetahui produktivitas yang telah dicapai dan merupakan dasar dari
perencanaan bagi peningkatan produktivitas di masa mendatang.
Berdasarkan hal-hal yang telah diutarakan di atas, maka perlu dilakukan
penelitian tentang peningkatan produktivitas pada aktivitas reparasi di Dok
Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta. Model pengukuran yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Objective Matrix (OMAX). Alasan penggunaan model

3

OMAX adalah karena model ini mudah digunakan, dalam pengoperasiannya
melibatkan seluruh jajaran karyawan dari pekerja tingkat bawah sampai manajer
tingkat atas, dan model ini menggabungkan seluruh faktor yang berpengaruh
terhadap peningkatan produktivitas.

1.2

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:

1)

Mengidentifikasi kriteria produktivitas dan indikator kinerja pada aktivitas
reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI;

2)

Mengukur tingkat produktivitas pada aktivitas reparasi di Dok Pembinaan
UPT BTPI berdasarkan model OMAX;

3)

Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan produktivitas
pada aktivitas reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI berdasarkan model
OMAX; dan

4)

Mengidentifikasi langkah awal yang harus dilakukan dalam peningkatan
produktivitas dengan menggunakan model OMAX sehingga dapat
memperbaiki kinerja galangan Dok Pembinaan UPT BTPI.

1.3

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pihak perusahaan, untuk

membantu mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas dan
langkah apa yang diambil untuk meningkatkan produktivitas melalui pengukuran
kinerja.

2
2.1

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Produktivitas
Secara umum produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara

hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan atau sebagian sumberdaya (input)
yang digunakan. Produktivitas dapat dirumuskan sebagai berikut (Soeharto,A &
Summant, 1984 yang dikutip oleh Iryanto, 2008):

Menurut jurnal Shipbuilding Productivity and competitiveness (Michigan
University, 1998) yang dikutip oleh Iryanto (2008) secara umum produktivitas
adalah sejumlah output yang dihasilkan dari sejumlah input yang diberikan. Input
ini bisa bermacam-macam, misalnya manusia (man), bahan (material), modal
(money), metode (method), dan peralatan (machine). Produktivitas merupakan isu
strategis yang luas dan merupakan sesuatu yang harus diperhatikan baik oleh
pemerintah, managemen, maupun para pekerja.

2.2

Manfaat Pengukuran Produktivitas

2.2.1 Manfaat pengukuran produktivitas pada organisasi level Internasional,
Nasional, dan Industri
Pengukuran produktivitas pada level internasional dan nasional mempunyai
manfaat yang sangat banyak dan hampir sama. Manfaatnya antara lain adalah
membantu mengevaluasi penampilan, perencanaan, kebijakan, pendapatan, upah
dan harga melalui faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi pendapatan.
Manfaat lainnya adalah membandingkan sektor-sektor ekonomi yang berbeda
untuk

menentukan

prioritas

kebijakan

bantuan,

membantu

mengetahui

pertumbuhan berbagai sektor ekonomi, dan mengetahui pengaruh perdagangan
internasional terhadap perkembangan ekonomi suatu Negara (Summanth, 1984
yang dikutip oleh Sunarto, 1999).
Menurut Sinungan (1997) yang dikutip oleh Sunarto (1999), pengukuran
produktivitas pada level internasional juga menunjukkan indeks produktivitas
masing-masing
membandingkan

negara

yang

dapat

digunakan

produktivitas

antar

negara

untuk

dan

mengetahui

tingkat

dan

pertumbuhan

5

pembangunan

ekonomi

dalam

temporal

waktu

tertentu.

Perbandingan-

perbandingan semacam ini merupakan landasan pertimbangan untuk sektor-sektor
pembangunan ekonomi yang selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan
kebijakan yang akan diambil pada waktu ke depan dan mendatang.
Pengukuran produktivitas pada tingkat nasional mempunyai banyak manfaat
antara lain adalah untuk menentukan perubahan pelayanan masyarakat dari waktu
ke waktu, efisiensi, dan efektivitas yang relatif dari pemerintah daerah. Di
samping itu pengukuran produktivitas level nasional digunakan oleh pemerintah
pusat untuk menyelidiki lingkup persoalan dan mengevaluasi pengaruh dari
program nasional yang telah dirancang, serta untuk melengkapi informasi
pengerahan kembali sumber-sumber masyarakat. Pengukuran produktivitas pada
level Industri digunakan untuk mengetahui indeks produktivitas pada masingmasing sektor industri. Indeks tersebut selanjutnya dapat dibandingkan untuk
mengetahui perkembangan dan kinerja masing-masing industri. Pengetahuan
tentang perkembangan dan kinerja tersebut dapat digunakan untuk membuat
kebijakan-kebijakan yang kondusif pada sektor industri yang dirasa masih kurang,
dan membuat prioritas yang seimbang sehingga industri dapat berkembang dan
berjalan dengan baik dari industri hulu ke hilir.

2.2.2 Manfaat pengukuran produktivitas pada organisasi level perusahaan
(company)
Pengukuran produktivitas pada level perusahaan digunakan sebagai sarana
manajemen untuk menganalisa dan mendorong efisiensi produksi. Artinya,
pengukuran produktivitas akan meninggikan kesadaran dan minat pekerja atau
pegawai pada tingkat dan rangkaian produktivitas. Bahkan, pengukuran
produktivitas yang relatif kasar ataupun data yang kurang memenuhi syarat pun,
ternyata memberikan dasar bagi penganalisaan proses yang konstruktif dan
produktif (Sinungan, 1997 yang dikutip oleh Sunarto, 1999). Manfaat lain yang
diperoleh dari pengukuran produktivitas mungkin terlihat pada penempatan
perusahaan yang tetap dalam menentukan target atau sasaran tujuan yang nyata
dan pertukaran informasi antara tenaga kerja dan manajemen secara periodik
terhadap masalah-masalah yang sering berkaitan (Summanth, 1984 yang dikutip
oleh Sunarto 1999).

6

2.3

Produktivitas Galangan

2.3.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas galangan
Sesuatu yang sangat penting untuk diketahui dalam mempelajari
produktivitas galangan adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya.
Diharapkan dengan mengetahui faktor-faktor ini, akan dapat mengetahui cara-cara
yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produktivitas. Faktor-faktor penting
yang dapat mempengaruhi produktivitas galangan adalah karena adanya
kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh galangan, kelemahan-kelemahan
tersebut dikategorikan menjadi 4 (empat) kelompok (Al-Kattan, 1992 yang
dikutip oleh Sunarto, 1999), yaitu:
1)

Kelemahan desain.
Kelemahan desain ini terlihat dari kesalahan desain kapal yang dibuat

galangan atau desainer. Kesalahan tersebut mengakibatkan bangunan kapal baru
tidak sesuai dengan yang diinginkan. Kesalahan desain ini diantaranya adalah:
kesalahan sebagian atau keseluruhan dari gambar atau perhitungan mulai dari
rencana garis, rencana umum, penampang melintang, gambar propeller, sampai
gambar-gambar produksi dan perhitungan-perhitungan mulai dari perhitungan
konstruksi, grafik bonjean, grafik stabilitas, hidrostatik, peluncuran, dan kekuatan.
2)

Kelemahan produksi.
Kelemahan produksi dapat disebabkan karena kelemahan penggunaan level

teknologi, misalnya adalah penggunaan teknologi yang tidak tepat. Hal ini akan
menghambat proses produksi, sehingga waktu penyelesaian produksi akan
bertambah lama. Bertambah lamanya waktu penyelesaian produksi akan
mengakibatkan biaya produksi bertambah, yang pada akhirnya akan mengurangi
produktivitas. Kelemahan produksi juga dapat terjadi karena kesalahan produksi
yang terjadi pada area bengkel-bengkel produksi mulai dari fabrikasi sampai
dengan grand assembly.
Kelemahan-kelemahan produksi yang lainnya dapat terjadi pada kelemahan
automatisasi dan perawatan peralatan-peralatan produksi. Kelemahan perawatan
peralatan-peralatan produksi dapat terjadi karena kesalahan penjadwalan
perawatan. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan bertambah fatal, sehingga
dapat menghambat proses produksi atau bahkan aktivitas produksi dapat berhenti

7

total. Proses produksi yang terhambat akan mengakibatkan waktu proses produksi
akan bertambah lama, yang pada akhirnya akan dapat mengurangi produktivitas.
3)

Kelemahan sistem manajemen.
Kelemahan sistem manajemen diantaranya dapat berupa kelemahan

training, kualitas, perencanaan, estimasi, kontrol dan sistem pengawasan. Sistem
manajemen adalah salah satu faktor produksi yang tidak secara nyata langsung
tampak pada proses produksi tetapi pengaruhnya sangat besar. Jika terjadi
kelemahan sistem manajemen, maka seluruh proses produksi akan terhambat
mulai dari desain hingga pekerjaan di bengkel-bengkel. Hal tersebut pada
akhirnya akan menghambat proses produksi dan kemudian membuat biaya
produksi membengkak, sehingga dapat mengurangi produktivitas.
4)

Kelemahan tenaga kerja.
Kelemahan tenaga kerja dapat disebabkan karena kelemahan motivasi,

sehingga semangat untuk bekerja keras berkurang dan juga bisa memungkinkan
terjadinya kesalahan-kesalahan saat proses produksi. Hal tersebut pada akhirnya
akan dapat mengurangi produktivitas. Kelemahan tenaga kerja yang lain dapat
disebabkan diantaranya karena kelemahan kemampuan, kelemahan kesehatan,
kemalasan, absen, sakit. Pada akhirnya kelemahan-kelemahan tenaga kerja ini
akan mengurangi produktivitas tenaga kerja (labor productivity) dan produktivitas
perusahaan (company) secara keseluruhan.

2.3.2 Pengukuran produktivitas galangan
Pengukuran produktivitas galangan yang biasa dilakukan adalah pengukuran
produktivitas peralatan produksi dan pengukuran produktivitas tenaga kerja (labor
productivity). Parameter-parameter pengukuran produktivitas produksi adalah
ukuran utilitas, efisiensi, beban kerja (load faktor), dan rasio penggunaan berth
(berth occupation ratio) (Anugrah, 1996). Parameter-parameter pengukuran
produktivitas tenaga kerja adalah Jo/ton baja, JO/pipa, JO/m/kabel dan parameter
yang lain yang sejenis (Al-Kattan, 1992 yang dikutip oleh Sunarto, 1999).
Ukuran-ukuran produktivitas tersebut terbatas pada peralatan produksi dan tenaga
kerja saja, sehingga tidak dapat menunjukkan produktivitas galangan yang
menggambarkan kemampuan galangan (perusahaan) secara total dan keseluruhan.

8

2.3.3 Konsep efisiensi dan efektivitas
Soeharto, A dan Soejitno (1996) yang dikutip oleh Mahendra (2007),
menyatakan bahwa efektivitas berhubungan dengan output, dimana di dalam
proses produksi dapat dipenuhi kebutuhan yang telah ditetapkan (ketepatan,
kuantitas, kualitas, waktu). Jika prosentase target di atas semakin besar, maka
efektivitas yang dicapai semakin tinggi. Walaupun tingkat efisiensi yang
dihasilkan tinggi, bukan berarti terjadi peningkatan efektivitas. Diperlukan strategi
yang paling menguntungkan untuk mencapai tingkat efektivitas dan efisiensi yang
tinggi, sehingga produktivitas yang maksimal akan dicapai.
Kualitas merupakan suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh telah
terpenuhi berbagai persyaratan, spesifikasi atau harapan. Konsep ini hanya dapat
berorientasi pada masukan, keluaran atau keduanya. Kualitas juga berhubungan
dengan proses produksi, dimana proses produksi tersebut akan berpengaruh pada
kualitas yang dicapai. Hubungan antara efisiensi, efektivitas, kualitas dan
produktivitas dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Skema hubungan antara efisiensi, efektivitas dan produktivitas
(Soeharto, A dan Soejitno, 1996 yang dikutip oleh Mahendra, 2007)
Berdasarkan skema di atas dapat dilihat bahwa produktivitas mencakup efisiensi,
efektivitas, dan kualitas. Jadi dapat dikatakan bahwa produktivitas adalah :

9

Efisiensi suatu peralatan menunjukkan kedayagunaan peralatan tersebut.
Dengan kata lain efisiensi mengacu pada tingkat intensitas kerja dari peralatan
tersebut. Suatu peralatan dikatakan memiliki efisiensi tinggi jika dalam suatu
waktu tertentu rate produk aktual mendekati rate produk terpasang. Rate
production adalah perbandingan antara produk dengan satuan waktu terkecil,
dalam hal ini adalah jam, atau dapat ditunjukkan dengan rumus sebagai berikut
(Groover, 1990 yang dikutip oleh Sunarto, 1999):

Berdasarkan hal tersebut, bila dirumuskan efisiensi adalah perbandingan antara
rate produk aktual terhadap rate produk terpasang (Dilworth, 1989 yang dikutip
oleh Sunarto, 1999), dapat dituliskan sebagai berikut :

2.3.4 Konsep utilitas
Utilitas bisa diartikan sebagai tingkat penggunaan suatu fasilitas produksi.
Dengan kata lain utilitas adalah ukuran yang menunjukkan seberapa baik
sumberdaya produksi (Groover, 1990 yang dikutip oleh Sunarto, 1999). Suatu
peralatan dikatakan mempunyai utilitas tinggi, apabila peralatan tersebut dapat
menghasilkan produk aktual mendekati produk terpasangnya atau dengan kata lain
utilitas mendekati 100%.
Sebaliknya utilitas dikatakan rendah apabila fasilitas tidak dioperasikan
mendekati kapasitasnya. Hal ini biasanya akan mengakibatkan "financial
penalty", karena perusahaan tersebut harus membiayai sarana produksi yang tidak
dimanfaatkan secara penuh. Utilitas secara empiris bisa dirumuskan sebagai
perbandingan antara output dari fasilitas produksi relatif terhadap kapasitas
terpasangnya.

Pada kasus-kasus tertentu, meningkatnya angka utilitas peralatan belum
tentu diikuti dengan naiknya efisiensi peralatan. Hal ini bisa dimengerti, karena

10

jika penambahan jam produktif misalnya dengan mengeliminasi waktu yang siasia, jika tidak diikuti dengan intensitas produk yang relatif tinggi maka akan
terjadi penurunan efisiensi. Tetapi biasanya yang terjadi adalah jika waktu
produktif ditingkatkan biasanya diikuti dengan kenaikan produk, sehingga akan
cukup meningkatkan rate of production, sehingga efisiensi akan naik juga.
Menurut Anderson (1980) yang dikutip oleh Mahendra (2007) yang dimaksud
dengan utilitas adalah hubungan antara waktu aktual yang digunakan untuk
produksi dengan waktu mesin total yang tersedia.

2.3.5 Usaha-usaha untuk meningkatkan produktivitas galangan
Ada banyak cara untuk meningkatkan produktivitas baik pada organisasi
level internasional, nasional, industri dan perusahaan, namun dari berbagai macam
cara tersebut pada dasarnya adalah sama. Metode untuk meningkatkan
produktivitas perusahaan dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) kemungkinan
(Crismianto, 1997):
1) Metode pemanfaatan sumberdaya yang lebih sedikit untuk mendapatkan
jumlah produk yang sama;
2) Metode pemanfaatan sumberdaya yang lebih sedikit untuk mendapatkan
jumlah produk yang lebih besar;
3) Metode pemanfaatan sumberdaya yang sama untuk mendapatkan jumlah
produk yang lebih besar; dan
4) Metode pemanfaatan sumberdaya yang lebih banyak untuk mendapatkan
jumlah produk yang jauh lebih besar.
Di samping keempat metode tersebut, lazim juga digunakan empat
metode lain yang dapat meningkatkan produktivitas perusahaan dengan efektif.
Keempat metode tersebut adalah:
1) Metode peningkatan produktivitas dengan menghemat tenaga kerja;
2) Metode peningkatan produktivitas dengan menerapkan metode kerja yang
paling tepat;
3) Metode peningkatan produktivitas dengan memanfaatkan sumberdaya
manusia dengan lebih efektif, yaitu dengan menyempurnakan manjemen
personalia; dan

11

4) Metode peningkatan produktivitas dengan melenyapkan praktek-praktek yang
tidak produktif.
Metode-metode di atas tidak selamanya menguntungkan, karena upaya
memperkenalkan mesin, teknologi, dan metode baru seringkali berarti
pengangguran bagi tenaga kerja. Oleh karena itu, kadang-kadang metode ini
bertentangan dengan tanggung jawab perusahaan.
Parameter-parameter yang mempengaruhi besar dan kecilnya pengukuran
produktivitas galangan sangat komplek, yaitu mulai dari input produksi, proses
produksi, dan output produksi. Hasil dari pengukuran produktivitas galangan
kapal dapat menunjukkan performa perusahaan dan menggambarkan efisiensi dan
efektivitas pemakaian sumberdaya, serta efisiensi dan efektivitas proses produksi
dalam menghasilkan output. Oleh karena itu, proses produksi yang efektif dan
efisien dapat dikatakan sebagai salah satu usaha yang dapat meningkatkan
produktivitas.

2.4

Metode Pengukuran Produktivitas Model Objective Matrix (OMAX)
Mayhoneys (2008) menyebutkan bahwa OMAX adalah suatu sistem

pengukuran

produktivitas

parsial

yang

dikembangkan

untuk

memantau

produktivitas dari tiap bagian perusahaan dengan kriteria produktivitas yang
sesuai dengan keberadaan bagian tersebut. Tiap-tiap model pengukuran
mempunyai manfaat sendiri-sendiri, akan tetapi secara umum dapat dikatakan
bahwa manfaat pengukuran produktivitas bagi perusahaan dan organisasi adalah :
1)

Dalam melakukan pengukuran produktivitas dapat diperoleh informasi
keberhasilan yang dicapai oleh perusahaan secara menyeluruh;

2)

Perusahaan dapat menilai efisiensi penggunaan sumberdaya dalam
menghasilkan barang atau jasa;

3)

Pengukuran produktivitas dapat berguna untuk perencanaan produksi dan
sumberdaya, baik untuk jangka panjang atau pendek; dan

4)

Berdasarkan hasil pengukuran produktivitas dapat ditentukan berdasarkan
tingkat produktivitas yang direncanakan dengan tingkat yang diukur.
Pengukuran produktivitas sangat penting bagi perusahaan untuk mengetahui

keberhasilan yang telah dicapai oleh perusahaan tersebut. Selain itu dari hasil

12

pengukuran dapat diketahui sampai sejauh mana usaha peningkatan efisiensi dan
efektivitas perusahaan telah mencapai sasaran. Mengingat pentingnya pengukuran
produktivitas pada suatu perusahaan, maka Dok Pembinaan UPT BTPI sudah
selayaknya melakukan pengukuran produktivitas pada setiap bidang unjuk kerja
untuk dijadikan titik tolak peningkatan produktivitas.

2.4.1 Alasan pemilihan metode OMAX
Mahendra (2007) menyebutkan bahwa, pengukuran produktivitas dapat
menjadi suatu hal yang menyulitkan karena adanya beberapa hal yang harus
dilibatkan, diantaranya: rasio-rasio, indeks-indeks, prosentase, dan angka-angka
perkiraan. Banyak lagi masalah yang bersangkut paut dengan produktivitas
perusahaan ataupun organisasi, baik yang berpengaruh secara langsung maupun
secara tidak lagsung. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bahwa
pengukuran dan peningkatan produktivitas sulit untuk dilakukan karena banyak
kriteria yang harus dipertimbangkan dan dilibatkan didalamnya.
Model pengukuran produktivitas OMAX mengatasi masalah-masalah
kerumitan dan kesulitan pengukuran produktivitas dengan mengkombinasikan
seluruh kriteria produktivitas yang penting ke dalam suatu bentuk yang terpadu
dan saling terkait satu sama lain serta mudah untuk dikomunikasikan. Selain itu,
model ini mengandung kebaikan lainnya yaitu dengan mengikutsertakan seluruh
jajaran pegawai yang terkait dalam operasi-operasi perusahaan, mulai pekerja
tingkat bawah sampai kepada manajer tingkat menengah dan atas dalam proses
pembentukan dan pelaksanaannya.
Pengukuran produktivitas yang dilakukan dengan menggunakan model
pengukuran produktivitas OMAX ini pada dasarnya merupakan pengukuran
produktivitas total yang merupakan perpaduan dari beberapa ukuran keberhasilan
atau kriteria produktivitas yang sudah dibobot sesuai dengan derajat kepentingan
masing-masing kriteria itu di dalam perusahaan. Dengan demikian, model ini
dapat digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang sangat berpengaruh
maupun yang kurang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas. Hasil
perpaduan beberapa ukuran keberhasilan atau produktivitas ini kemudian dinilai
ke dalam satu indikator atau indeks yang berguna, antara lain:

13

1)

Memperlihatkan sasaran atau target peningkatan produktivitas.

2)

Mengetahui posisi dalam pencapaian target.

3)

Alat peningkatan dalam pengambilan keputusan bagi peningkatan
produktivitas.

Hal lain yang dapat dilihat dengan menggunakan model OMAX ini, antara lain:
1)

Model ini memungkinkan dijalankannya aktivitas-aktivitas pengukuran
produktivitas,

penilaian

(evaluasi)

produktivitas,

peningkatan

dan

perencanaan produktivitas sekaligus;
2)

Berbagai faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas
dapat diidentifikasikan dengan baik dan dapat dikuantifikasikan;

3)

Adanya sasaran produktivitas yang jelas dan mudah dimengerti yang akan
memberikan motivasi bagi pekerja untuk mencapainya;

4)

Adanya pengertian bobot yang mencerminkan pengaruh masing-masing
faktor terhadap peningkatan produktivitas perusahaan yang penentuannya
memerlukan persetujuan manajemen; dan

5)

Model ini menggabungkan seluruh faktor yang berpengaruh terhadap
peningkatan produktivitas (baik dalam satuan fisik maupun uang) dan nilai
ke dalam suatu indikator atau indeks.

2.4.2 Bentuk dan susunan model OMAX
Mahendra (2007) juga menyebutkan bahwa, objective matrix atau matriks
sasaran merupakan suatu metode unjuk kerja yang menggunakan indikatorindikator produksi dan suatu prosedur pembobotan untuk memperoleh suatu
indikator pencapaian total. Susunan model ini berupa matrik yang butir-butirnya
disusun menurut kolom dan baris sehingga dibaca dari atas ke bawah dan dari kiri
ke kanan. Susunan matrik ini akan memudahkan dalam pengoperasiannya.
Didalamnya memuat bermacam-macam kombinasi angka-angka yang tidak terlalu
terperinci akan tetapi cukup untuk menyatakan keadaan secara praktis dan garis
besarnya saja. Susunan model ini terdiri atas beberapa bagian yaitu:
1)

Kriteria produktivitas
Kegiatan dan faktor-faktor yang mendukung produktivitas,dan satu unit
kerja yang sedang diukur produktivitasnya dinyatakan dengan kriteria.

14

Kriteria-kriteria ini menyatakan ukuran efektivitas dari output, efisiensi dari
input dan faktor-faktor lain yang secara tidak langsung berhubungan dengan
tingkat produktivitas yang diukur.
2)

Butir-butir matrik
Kerangka badan matrik disusun oleh besaran-besaran pencapaian tiap-tiap
kriteria. Didalamnya terdiri dari sebelas baris dan baris yang paling bawah
merupakan pencapaian terendah atau terburuk yang dinyatakan dengan skor
nol, sampai dengan baris paling atas yang merupakan sasaran atau target
produktivitas yang realistis yang dinyatakan dengan skor sepuluh. Tingkat
pencapaian mula-mula yaitu tingkat pencapaian yang diperoleh pada saat
matrik ini mulai dioperasikan ditempatkan pada skor tiga (3). Setelah butirbutir skor nol, tiga dan sepuluh diisikan semuanya, sisa butir-butir lainnya
untuk tiap-tiap kriteria dengan lengkap dicantumkan secara bertingkat.
Butir-butir pada skor 1,2,4 sampai 9 merupakan tingkat pencapaian antara
sehingga tingkat pencapaian akhir atau skor 10 dapat dicapai.

3)

Bobot
Tiap-tiap kriteria yang telah ditetapkan mempunyai pengaruh yang berbedabeda terhadap tingkat unit yang diukur. Oleh karena itu, perlu dicantumkan
bobot yang menyatakan derajat kepentingan (dalam prosentase) yang
menunjukkan pengaruh relatif kriteria tersebut terhadap produktivitas unit
kerja yang diukur. Besarnya bobot ditentukan oleh suatu kelompok
manajemen yang berada di atas yang mengepalai unit kerja yang diukur.
Jumlah bobot seluruh kriteria adalah 100%.

4)

Sasaran
Merupakan tingkat kemajuan yang dapat dicapai oleh tiap-tiap kriteria
produktivitas dalam periode waktu tertentu dengan melihat keadaan yang
realistis yang dapat terjadi di masa yang akan datang. Besarnya nilai sasaran
ini kemudian diletakkan pada skor tertinggi yaitu skor 10.

5)

Tingkat pencapaian
Keberhasilan yang dicapai oleh masing-masing kriteria atau rasio dalam
periode waktu yang diukur ini kemudian diisikan pada baris pencapaian

15

yang tersedia untuk semua kriteria. Data untuk perhitungan kriteria atau
rasio ini diperoleh dari tiap-tiap bagian yang diukur.
6)

Skor
Pada baris skor (bagian bawah badan matrik) besar pencapaian pada poin no
5 (bagian atas badan matrik) dirubah ke dalam skor yang sesuai, ini
dilakukan dengan mencocokkan besaran realisasi pencapaian rasio (point no
5) dengan butir matrik yang ada dan ekivalen dengan skor tertentu.

7)

Nilai
Nilai daripada pencapaian yang berhasil diperoleh untuk setiap kriteria pada
periode tertentu didapat dengan mengalikan skor pada kriteria tertentu
dengan bobot kriteria tersebut.

8)

Indikator pencapaian
Pada periode tertentu, jumlah seluruh nilai dari tiap-tiap kriteria
dicantumkan pada kotak indikator pencapaian. Besarnya indikator diisi
sesuai dengan indikator mula-mula. Semua indikator berada pada skor 3
pada saat matrik mulai dioperasikan.

9)

Indeks
Peningkatan produktivitas ditentukan dari besarnya kenaikan indikator
pencapaian yang terjadi antara yang baru dengan yang lama. Kesembilan
susunan ini membentuk kerangka model.

2.4.3 Penyusunan matrik
Penyusunan dan pelaksanaan matrik ini merupakan suatu proses yang jelas
dan langsung yang membutuhkan sedikit keahlian.
1)

Menentukan kriteria produktivitas
Langkah pertama ini adalah mengidentifikasikan kriteria produktivitas yang
sesuai bagi unit kerja dimana pengukuran ini akan dilaksanakan. Kriteria ini
harus menyatakan kondisi atau kegiatan yang mendukung produktivitas unit
kerja yang diukur dan dapat dikontrol oleh unit kerja tersebut. Kriteria ini
menyatakan ukuran efisiensi dari masukan, efektivitas dari keluaran dan
ukuran-ukuran lainnya yang secara tidak langsung mendukung proses
kegiatan unjuk kerja yang akan diukur.

16

Supaya efektif, kriteria ini harus sudah dimengerti, mudah diukur,
administrasinya dilakukan secara baik dan dapat diterima. Disinilah
pentingnya untuk mengikutsertakan semua pihak di galangan dalam
penyusunan dan pelaksanaan matrik ini. Selanjutnya kriteria ini sebaiknya
berdiri sendiri tidak saling bergantung satu sama lain dan merupakan faktorfaktor yang terukur.
2)

Menjelaskan data
Setelah seluruh kriteria dapat diidentifikasikan dengan baik, langkah
berikutnya adalah mendefinisikan kriteria tersebut secara terperinci. Tiaptiap kriteria memerlukan penjelasan lebih lanjut, misalnya tingkat
ketidakhadiran, harus dijelaskan rasio-rasio yang membentuk kriteria ini.
Demikian juga sumberdaya untuk setiap pengukuran tertentu harus pula
diidentifikasikan dengan jelas, laporan yang akurat, orang-orang yang
bertanggung jawab dan terlibat, atau sumberdaya lain, untuk setiap bilangan
dalam perhitungan matrik harus dispesifikasikan dengan baik. Dalam setiap
keadaan merupakan langkah terbaik untuk meninggalkan segala keraguan
yang ada dalam mengoperasikan bilangan dan perhitungan matrik.

3)

Penilaian pencapaian mula-mula
Setelah menentukan kriteria yang akan diukur, kemudian dilanjutkan
dengan penjelasan dan pengumpulan data dari tiap-tiap kriteria, maka
langkah berikutnya mengolah data tersebut sehingga layak untuk digunakan
sebagai data pencapaian mula-mula dengan cara perhitungan rata-rata dari
periode data yang diperoleh misalnya selama pengerjaan bangunan baru.
Pencapaian mula-mula diletakkan pada skor 3 dari skala 0 sampai 10 untuk
memberikan lebih banyak tempat bagi perbaikan daripada untuk terjadinya
penurunan. Pencapaian ini juga biasanya tidak diletakkan pada tingkat yang
lebih rendah lagi agar memberikan kemungkinan terjadinya pertukaran dan
memberikan kelonggaran apabila sekali-kali terjadi kemunduran.

4)

Menetapkan sasaran (skor 10)
Apabila skala skor 3 merupakan pencapaian mula-mula, maka skor 10
merupakan pencapaian yang akan dituju nantinya. Skala skor 10 ini

17

berkenaan dengan sasaran-sasaran yang ingin dicapai dalam waktu
mendatang, dan karenanya harus berkesan optimis.
Sasaran yang diambil harus merupakan gambaran yang realistis, tetapi harus
diperhitungkan pula faktor-faktor yang masuk akal, bahwa beberapa waktu
mendatang telah terjadi perubahan atau kemungkinan telah ada peralatan
baru, proses-proses yang lebih baik memungkinkan dapat mencapai sasaran
yang dirasakan saat ini belum mungkin untuk dicapai.
5)

Menetapkan sasaran jangka pendek
Pengisian skor yang tersisa lainnya dari matrik dapat dilakukan langsung
setelah butir skor 0 (yang merupakan rasio terburuk yang mungkin terjadi,
merupakan level terbawah yang dapat pula ditentukan kemudian), skor 3
dan skor 10 telah ditetapkan. Butir-butir yang tersisa yaitu skor 1, 2, 4
sampai dengan 9 merupakan suatu sasaran antara sebelum tingkat
pencapaian akhir dipenuhi. Biasanya skala linier digunakan untuk
pengisisan antara pencapaian saat ini dengan sasaran yang ingin dicapai
pada setiap kriteria produktivitas.
Oleh sebab itu, jarak bilangan dari setiap tingkat skor 3 ke skor 0 juga
dilakukan seperti pengskoran di atas. Jadi sekali lagi disini ditegaskan
bahwa tidak ada syarat yang baku mengenai hal ini dan tergantung pada
kesepakatan saja, karena pokok perhatian mengenai struktur skala ini
tidaklah begitu penting dibandingkan dengan seberapa baik pengskoran ini
dimengerti oleh orang-orang yang unjuk kerjanya diukur. Dengan demikian
ada sebelas tingkat pencapaian untuk setiap kriteria. Satu kriteria menempati
satu kolom dari atas ke bawah dari badan matrik. Penempatan dari hasil
yang diharapkan pada setiap tingkat merupakan bagian yang penting dari
pengskalaan, karena hasil-hasil tersebut membentuk suatu rintangan khusus
yang harus diatasi untuk maju dari satu sasaran jangka pendek ke sasaran
jangka pendek berikutnya.

6)

Menentukan derajat kepentingan
Semua kriteria tidaklah mempunyai pengaruh yang sama pada produktivitas
unit kerja keseluruhan, sehingga untuk melihat berapa besar derajat
kepentingannya tiap kriteria diberi bobot. Pembobotan memberikan suatu

18

kesempatan untuk memberikan perhatian secara langsung pada kegiatankegiatan yang berpotensi besar bagi peningkatan produktivitas. Pembobotan
biasanya dilakukan oleh manajer puncak atau oleh dewan produksi yang
dimiliki galangan. Total pembobotan untuk semua kriteria harus sama
dengan 100%. Bila pembobotan telah selesai, maka matrik ini secara teknis
dapat digunakan untuk mengukur tingkat produktivitas dan dapat diketahui
bagaimana cara meningkatkan produktivitas (Mahendra, 2007).

2.4.4 Pengoperasian matrik
Setelah seluruh badan matrik dan perlengkapannya terisi, maka matrik dapat
dioperasikan. Pengoperasian matrik dilakukan dengan cara :
1)

Pencapaian sekarang
Pada tahap ini, hal yang dilakukan adalah mengumpulkan data dari tiap-tiap
kriteria atau rasio selama periode pengukuran dilakukan dan menetapkan
pencapaian sebenarnya untuk setiap kriteria atau rasio tersebut. Data yang
didapat kemudian dimasukkan ke dalam kolom pencapaian pada bagian atas
badan matrik.

2)

Pemberian tanda pada bilangan pencapaian (No. 1) pada badan matrik
Pada badan matrik, bilangan yang sesuai dengan bilangan “pencapaian”
yang didapat diberi tanda atau dilingkari. Apabila tidak ada bilangan yang
tepat sama dengan bilangan “pencapaian”, maka yang dilingkari adalah
bilangan yang berada dibawahnya. Perlu diingat bahwa setiap kotak di
dalam badan matrik merupakan suatu rintangan yang harus diatasi untuk
mencapai skor tertentu. Apabila sasaran jangka pendek tersebut belum
tercapai, maka kotak yang dibawahnyalah yang dilingkari. Setiap
pencapaian yang lebih kecil dari tingkat pencapaian terburuk yang masih
diperbolehkan (level terbawah) akan tetap menerima skor 0 untuk periode
tersebut.

3)

Penentuan skor
Bilangan yang telah dilingkari, dapat ditentukan tingkat skor yang dicapai
yang diletakkan pada kolom “skor” pada bagian bawah badan matrik.

19

4)

Penentuan nilai
Setiap skor yang didapat untuk setiap kriteria atau rasio, dikalikan dengan
besarnya bobot masing-masing. Hasil perkalian ini diletakkan dalam kolom
nilai yang berada pada bagian bawah badan metrik.

5)

Indikator pencapaian saat ini
Nilai-nilai yang didapat untuk setiap kriteria dijumlahkan sehingga
diperoleh indikator pencapaian saat ini.

6)

Indeks
Sebuah indikator produktivitas hanya bermanfaat jika dibandingkan dengan
nilai dan periode lain. Satu unit kerja tidak bisa dibandingkan dengan nilai
unit kerja lainnya berdasarkan nilai skor, sebab kriteria masing-masing unit
berbeda dan kondisi operasinya bervariasi. Nilai bobot total dapat
diperlakukan sebagai indeks performansi dan digunakan untuk menilai
perkembangan dari waktu ke waktu (Mahendra, 2007). Pada OMAX, pola
pertumbuhan performansi ini ditunjukkan oleh dua indeks. Pertama Indeks
Perubahan terhadap Performansi Standar/Base Level (300). Kedua, Indeks
Perubahan terhadap Performansi periode sebelumnya (Mayhoneys, 2008).
-

Dimana :
OPo

= Nilai Performansi Standar / Base Level (300)

OPi

= Overall Performance ke-i

OPi-1

= Overall Performance ke-i-1

20 
 

3

METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Juli - September 2011 di Dok Pembinaan
Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI), Muara
Angke, Jakarta. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah galangan Dok
Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke.

3.2 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi
kasus dengan contoh kasus produktivitas pada galangan Dok Pembinaan UPT
BTPI, Muara Angke, Jakarta yang belum dilakukan pengukuran secara matematis.
Menurut Yin (2008) metode studi kasus merupakan metode yang mengacu pada
penelitian yang mempunyai unsur how dan why pada pertanyaan utama
penelitiannya dan meneliti masalah-masalah kontemporer (masa kini) serta
sedikitnya peluang peneliti dalam mengontrol peristiwa (kasus) yang ditelitinya.
Pengukuran produktivitas galangan sendiri dilakukan dengan menggunakan
metode Objective Matrix (OMAX).

 3.3 Pengumpulan Data

Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder,
yaitu data yang sudah tersedia di galangan Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara
Angke, Jakarta. Data yang digunakan adalah:
1) Data hasil produksi bagian reparasi kapal di Dok Pembinaan UPT BTPI,
Muara Angke, Jakarta 5 tahun terakhir;
2) Data jumlah tenaga kerja;
3) Data pemakaian mesin;
4) Data jam kerja aktual produksi;
5) Data jam kerja efektif; dan
6) Data jumlah ketidakhadiran.

21 
 

3.4 Pengolahan dan Analisis Data
Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan metode Objective Matrix
(OMAX) dengan langkah-langkah:
1) Penetapan kriteria
Pada tahap ini, ditentukan kriteria-kriteria yang akan ditetapkan untuk
digunakan dalam menghitung produktivitas dengan menggunakan metode
OMAX. Kriteria-kriteria yang akan diukur meliputi kriteria efisiensi, kriteria
efektivitas, dan kriteria inferensial. Kriteria yang ditetapkan mengacu pada kriteria
yang digunakan oleh Mahendra (2007) yang telah meneliti tentang “Peningkatan
Produktivitas Galangan Kapal Menggunakan Model OMAX (Studi kasus: di PT.
BEN SANTOSA Surabaya)”. Kriteria tersebut dapat dilihat pada Tabel 1:
Tabel 1 Kriteria-kriteria dalam pengukuran produktivitas menggunakan model
OMAX oleh Mahendra (2007)
Man Hour (Kg/JO)
Efisiensi

Material (%)
Pemakaian Mesin (%)
Pemakaian Tenaga Kerja (%)

Efektivitas
Inferensial

Jam Kerja Aktual (%)
Jam Kerja Efektif (%)
Jumlah Ketidakhadiran (%)

Kriteria efisiensi menunjukkan bagaimana penggunaan sumberdaya
perusahaan (galangan), seperti tenaga kerja, energi, material serta modal yang
sehemat mungkin. Kriteria efektivitas menunjukkan bagaimana galangan
mencapai hasil bila dilihat dari sudut akurasi dan kualitasnya. Kriteria inferensial
menunjukkan suatu kriteria yang tidak secara langsung mempengaruhi
produktivitas tetapi bila diikutsertakan dalam matriks dapat membantu
memperhitungkan variabel yang mempengaruhi faktor-faktor yang mayor.
Mahendra (2007) awalnya menetapkan sebanyak tiga belas indikator
kinerja. Namun, setelah dilakukan wawancara dan pengisian kuesioner oleh tim
manajemen diperoleh hasil bahwa indikator kinerja yang dapat digunakan hanya
tujuh indikator seperti yang disebutkan pada Tabel 1 di atas.

22 
 

2) Perhitungan rasio-rasio
Perhitungan rasio dilakukan terhadap kriteria-kriteria yang sudah ditentukan
yaitu:
(1) Man hour (Kg/JO)
Adalah performansi tenaga kerja per unit produk (Kg/JO)
(2) Material (%)
Rasio-rasio yang membentuk kriteria material :

(3) Kriteria tenaga kerja (%)

%

Rasio-rasio yang membentuk kriteria tenaga kerja :
%

(4) Kriteria pemakaian mesin (%)
Rasio yang membentuk kriteria pemakaian mesin :

%

(5) Kriteria jam kerja aktual produksi (%)
Rasio yang membentuk kriteria jam kerja aktual produksi :
%

(6) Kriteria jam kerja efektif (%)
Rasio yang membentuk kriteria jam kerja efektif :

(7) Kriteria ketidakhadiran (%)

%

Rasio yang membentuk kriteria ketidakhadiran :

3) Pengukuran kinerja standar

%

Kinerja standar diperoleh dari rata-rata rasio masing-masing kriteria pada
periode yang ditetapkan. Dalam hal ini, periode yang ditetapkan adalah lima tahun
terakhir dari tahun 2006 sampai 2010.

23 
 

4) Penetapan sasaran akhir
Penetapan sasaran akhir ditentukan oleh pihak galangan Dok Pembinaan
UPT BTPI, Muara Angke setelah memperoleh nilai kinerja standar. Pada
penetapan sasaran ini, terdiri dari tiga skala skor yaitu skala skor 3 merupakan
pencapaian mula-mula, skala skor 10 berupa sasaran yang ingin dicapai dalam
waktu mendatang dan karenanya harus bersifat optimis, dan skala skor 0
merupakan level terbawah, rasio terburuk yang mungkin terjadi. Penetapan
sasaran akhir ditentukan dengan menggunakan kuesioner (Lampiran 1).
5) Penetapan bobot rasio
Penetapan bobot rasio diperoleh dari hasil kuesioner (Lampiran 2). Jumlah
seluruh bobot dari masing-masing kriteria produktivitas berjumlah 100 %.
Pembobotan ini dimulai dengan membagi 100 % untuk prosentase efisiensi,
efektivitas, dan inferensial. Misalnya:
Efisiensi

:A

%

Efektifitas

:B

%

Inferensial

:C

%

Total

: 100 %

Berdasarkan prosentase di atas, kemudian dibagi pembobotannya sesuai dengan
jumlah dan kepentingan kriteria yang termasuk didalamnya, misalnya:
(1) Kriteria yang termasuk dalam efisiensi
-

Man hour

: a1

%

-

Material

: a2

%

-

Pemakaian Mesin

: a3

%

-

Pemakaian Tenaga Kerja

: a4

%

Total

: 100 %

(2) Kriteria yang termasuk dalam efektivitas
-

Jam Kerja Aktual

: b1

%

-

Jam Kerja Efektif

: b2

%

Total

: 100 %

24 
 

(3) Kriteria yang termasuk dalam inferensial
-

Jumlah Ketidakhadiran

:c

%

Total

: 100 %

6) Pembetukan matriks sasaran
Setelah ditentukan skala skor 0, skor 3, dan skor 10 dari hasil kuesioner,
selanjutnya ditentukan skala sisa yaitu skala skor 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 untuk
membentuk suatu matriks sasaran dengan cara interpolasi. Kenaikan nilai pada
skor 1 dan 2 dilakukan dengan cara interpolasi, yaitu:
skor 3 – skor 0
3–0
Kenaikan nilai pada skor 4 sampai dengan 9 dilakukan dengan cara interpolasi,
yaitu:
skor 10 – skor 3
10 – 3
7) Penentuan skor aktual
Skor aktual ditentukan berdasarkan hasil pengukuran rasio masing-masing
kriteria pada periode tertentu yang diubah kedalam skor pada matriks sasaran
yang sesuai.
8) Penentuan nilai aktual
Nilai aktual ditentukan berdasarkan hasil perkalian antara skor aktual
dengan bobot kriteria tersebut.
9) Penentuan performance indicator
Performance indicator diperoleh dari penjumlahan nilai aktual dari semua
kriteria pengukuran yang dilakukan.
10) Perhitungan index produktivitas (IP)
Untuk menghitung Index Produktivitas (IP) dengan menggunakan rumus:
%

Peningkatan produktivitas bisa diketahui dari besarnya kenaikan performance
indikator yang terjadi.

25 
 

11) Bentuk tabel matriks
Kriteria
Rasio‐Rasio
Nilai Aktual

Efisiensi
Rasio 1
Rasio 2

Rasio 3

Inferensial
Rasio 5

Efektivitas
Rasio 4

Target

Skor

Keterangan

10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0

Sangat Baik

Baik

Sedang
Buruk
Sangat Buruk

Skor Aktual
Bobot
Nilai Produktivitas
Keterangan
Saat ini

Periode Dasar

Index

Saat ini

Periode Sebelum

Index

Indikator Performansi

Indikator Performansi

Gambar 2 Contoh bentuk tabel matriks

Berdasarkan bentuk matriks di atas, rasio 1 adalah rasio pemakaian tenaga
kerja; rasio 2 adalah rasio pemakaian mesin; rasio 3 adalah rasio jam kerja aktual;
rasio 4 adalah rasio jam kerja efektif; dan rasio 5 adalah rasio ketidakhadiran
karyawan. Hasil akhir dari matriks berupa nilai indeks dengan interpretasi bahwa
semakin besar nilai indeks pada suatu periode tertentu maka produktivitas suatu
perusahaan pada periode tersebut semakin tinggi juga.

26

4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4.1 Produktivitas Galangan
Dok Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan
(UPT BTPI) memiliki fungsi sebagai tempat membangun, merawat, dan
memperbaiki kapal. Saat ini aktivitas yang dilakukan Dok Pembinaan UPT BTPI
hanyalah mereparasi kapal. Kegiatan pembuatan kapal sudah lama tidak
dilakukan. Hal ini disebabkan karena sepinya order pembuatan kapal di Dok
Pembinaan UPT BTPI. Sepinya order membangun kapal di Dok Pembinaan UPT
BTPI diduga karena tingginya biaya produksi, dimana kayu sebagai bahan baku
pembuatan kapal didatangkan dari luar Jakarta. Kondisi ini mengakibatkan harga
kayu menjadi semakin mahal. Oleh karena itu, banyak pembeli yang beralih untuk
membuat kapal di daerah yang memiliki sumber kayu sehingga harga kapal
menjadi lebih murah.
Kapal yang biasanya direparasi oleh Dok Pembinaan UPT BTPI adalah
kapal yang terbuat dari kayu. Umumnya kapal yang direparasi merupakan kapal
perikanan. Selain mereparasi kapal kayu, galangan juga mampu melayani reparasi
kapal fiber atau kapal kayu yang dilaminasi menggunakan fiber.
Galangan yang terdapat di lingkungan UPT BTPI ada empat galangan.
Keempat galangan tersebut yaitu: Dok Pembinaan UPT BTPI, Fan Marine
Shipyard (FMS), Karya Teknik Utama (KTU), dan Koperasi Pegawai Negeri
Dinas Perikanan (KPNDP). Dok Pembinaan UPT BTPI adalah galangan yang
resmi milik UPT BTPI, sedangkan tiga galangan lainnya adalah galangan yang
dikelola oleh pihak yang menyewa lahan di UPT BTPI. Seluruh galangan tersebut
juga hanya melayani kegiatan reparasi kapal.
Dok Pembinaan UPT BTPI merupakan salah satu galangan yang memiliki
tingkat produksi yang cukup tinggi di lingkungan UPT BTPI. Produksi di Dok
Pembinaan UPT BTPI menyerap 20,74 % per tahun dari total produksi yang ada
di UPT BTPI. Tingkat produksi tiga galangan lainnya adalah FMS sebesar 15,75
%, KTU sebesar 8,39 %, dan KPNDP sebesar 55,12 % per tahun dari total
produksi yang ada di UPT BTPI. Data kapal yang melakukan reparasi dari tahun
2006 sampai 2010 di Dok Pembinaan UPT BTPI disajikan pada Lampiran 3

27

sampai dengan Lampiran 7. Jumlah kapal yang melakukan reparasi di Dok
Pembinaan UPT BTPI dari tahun 2006 sampai 2010 disajikan pada Gambar 3 di
bawah ini.
160
140
Jumlah Kapal

120
100
80
60
40
20
0
2006

2007

2008

2009

2010

Tahun

Gambar 3 Jumlah kapal yang melakukan reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI

Produktivitas Dok Pembinaan UPT BTPI dan produktivitas seluruh
galangan yang ada di lingkungan UPT BTPI disajikan pada Gambar 4 di halaman
28. Setiap bulannya Dok Pembinaan UPT BTPI rata-rata dapat melayani 12 kapal
dengan jumlah tertinggi pada bulan Mei 2006, Desember 2006, November 2008,
Desember 2008, dan April 2009 sebanyak 15 kapal. Jumlah kapal terendah yang
direparasi terdapat pada bulan Mei 2010, dan September 2010 sebanyak 6 kapal.
Bulan Oktober, November, dan Desember pada tahun 2007 dan 2010 tidak ada
kegiatan reparasi kapal. Hal tersebut dikarenakan pada bulan dan tahun tersebut
sedang dilakukan pembangunan slipway (tahun 2007) dan peninggian dok
galangan (tahun 2010). Jenis kapal yang diperbaiki adalah kapal perikanan dan
kapal non perikanan. Kapal-kapal tersebut berasal dari PPI Muara Angke, PPS
Muara Baru, dan daerah lainnya yang sedang bongkar muat atau singgah di PPI
Muara Angke. Secara rata-rata, dalam satu tahun Dok Pembinaan UPT BTPI
mendapat keluhan dari dua pemilik kapal yang kapalnya masih mengalami
kebocoran setelah direparasi.

28

70
60

Jumlah Kapal

50

Seluruh Galangan 2006
Seluruh Galangan 2007

40

Seluruh Galangan 2008
Seluruh Galangan 2009

30

Seluruh Galangan 2010
Dok Pembinaan 2006

20

Dok Pembinaan 2007
Dok Pembinaan 2008

10

Dok Pembinaan 2009
Dok Pembinaan 2010

0

Gambar 4 Perbandingan fluktuasi produksi reparasi kapal Dok Pembinaan UPT BTPI dan produksi reparasi kapal seluruh galangan yang
ada di lingkungan UPT BTPI dari tahun 2006 sampai 2010

29

Jenis reparasi yang dilakukan dibagi menjadi dua yaitu annual survey dan
special survey.
(1) Annual Survey
Annual survey dilaksanakan setiap tahun, dimana pekerjaan yang
dilakukan adalah pekerjaan-pekerjaan standar yang berhubungan dengan
dok perawatan rutin setiap tahunnya. Adapun pekerjaan-pekerjaan pada
annual survey pada Dok Pembinaan UPT BTPI d

Dokumen yang terkait

Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi Di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta Menggunakan Model Objective Matrix (OMAX