Advokasi Petani, Dalam Upaya Pembebasan Lahan Sengketa Oleh Smapur Sebagai Bagian Dari Pekerjaan Sosial Di Persil IV Dusun Tungkusan , Deli Serdang

ADVOKASI PETANI DALAM UPAYA PEMBEBASAN LAHAN SENGKETA OLEH
SMAPUR SEBAGAI BAGIAN DARI PEKERJAAN SOSIAL DI PERSIL IV DUSUN
TUNGKUSAN , DELI SERDANG.

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat
memperoleh Gelar Strata satu (S1)
di Fakultas Ilmu Sosila dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara

Disusun Oleh:
ELBIANDO LUMBAN GAOL
060902039

DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
Nama : ELBIANDO LUMBAN GAOL
Nim : 060902039
ABSTRAK
ADVOKASI PETANI, DALAM UPAYA PEMBEBASAN LAHAN SENGKETA OLEH
SMAPUR SEBAGAI BAGIAN DARI PEKERJAAN SOSIAL DI PERSIL IV DUSUN
TUNGKUSAN , DELI SERDANG
Skripsi ini terdiri dari 6 BAB, 86 halaman, 33 tabel, 3 gambar, 2 lampiran serta 59
kepustakaan dan sumber lain yang berasal dari internet.
Advokasi dalam perjalanannya bermakna meluas , tidak lagi milik advoocat (pengacara)
yang bertendensi ke disiplin ilmu hukum namun juga sudah melingkupi seluruh kerja
pendampingan yang dilakukan setiap orang dan kelompok. Advokasi petani adalah bahan kajian
yang sangat jarang diangkat kepermukaan , tidak saja karena kompleks , perlu pemahaman
mendalam , hingga perhitungan waktu untuk penyelesaiannya. Dalam disiplin ilmu social
terkhusus ilmu kesejahteraan social , advokasi adalah salah satu poin yang menjadi lapangan
praktek dari pekerjaan sosial selain dari kerja – kerja mediator , broker , fasilitator, dan
sebagainya. Advokasi petani menjadi menarik untuk diteliti karena petani adalah kelas social
masyarakat yang produktif namun sering kali menjadi korban dalam kasus – kasus perampasan
lahan. Keminiman sumberdaya baik itu pengetahuan , akses terhadap informasi , hingga materi
untuk membiayai proses persidangan persengketaan lahan menjadi alasan dari banyak kekalahan
perjuangan pembebasan lahan petani. SMAPUR adalah lembaga yang dibentuk untuk
mengadvokasi kasus-kasus pembebasan lahan seperti ini. Terkhusus dalam kasus pembebasan
lahan petani persil IV dusun tungkusan deli serdang yang diadvokasi SMAPUR menjadi menarik
karena keberhasilannya dalam pembebasan lahan petani dari tuntutan perampasan lahan oleh
PTPN II. Dalam beberapa kasus , persoalan sengketa lahan memakan waktu hingga puluhan
tahun , namun oleh pendampingan SMAPUR penyelesaian persengketaan lahan hanya memakan
waktu tidak lebih dari 10 tahun. Sesuatu yang menjadi alasan menarik untuk diteliti.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana advokasi petani dalam upaya
pembebasan lahan sengketa oleh SMAPUR sebagai bagian dari pekerjaan sosial di Persil IV
Dusun Tungkusan Deli Serdang.
Hasil dari penelitian dapat disimpulkan bahwa advokasi petani dalam upaya pembebasan
lahan sengketa oleh SMAPUR sebagai bagian dari pekerjaan sosial di Persil IV Dusun
Tungkusan Deli Serdang adalah sangat positif. SMAPUR mampu menjawab kebutuhan petani
Perssil IV dengan program-program advokasi baik litigasi maupun non litigasinya.Dalam
berbagai kesempatan juga ditemukan bagaimana SMAPUR berhasil menarik hati masyarakat
untuk bersemangat kembali memperjuangkan hak atas tanahnya.
Kata Kunci : Advokasi , petani , pekerjaan sosial.

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITY OF NORTH SUMATRA
FACULTY OF SOCIAL SCIENCE AND POLITICAL SCIENCE
SCIENCE DEPARTMENT OF SOCIAL WELFARE
Name : ELBIANDO Lumban Gaol
Nim : 060902039

ABSTRACT
ADVOCACY FARMERS, LAND DISPUTE IN EFFORTS BY SMAPUR EXEMPTION
AS PART OF SOCIAL WORK IN Persil TUNGKUSAN Hamlet IV, DELI SERDANG
This thesis is composed of 6 CHAPTER, 86 pages, 33 tables, 3 images, 2 attachment as well
as 59 literature and other sources from the internet.
Advocacy in a meaningful way is widespread, no longer belongs to advoocat (lawyers)
who tend to the disciplines of law but also covers all advocacy work carried out every person and
group. Advocacy study materials that the farmers are very seldom raised surface, not only
because of the complex, it needs deep understanding, to calculate the time for its completion. In
the disciplines of social sciences especially its social welfare, advocacy is one of the points into
the field of social work practice apart from work - labor mediator, broker, facilitator, and so on.
Advocacy farmers be interesting to study because the farmer is the social class of a productive
society, but often the victim in the case - the case of land grab. Keminiman good resource is the
knowledge, access to information, to the materials to finance the land dispute proceedings be
many reasons for the defeat of the liberation struggle of farmers' land. SMAPUR is an institution
that was formed to advocate for land acquisition cases like this. Especially in the case of parcels
of land acquisition peasant hamlet IV tungkusan deli serdang advocated SMAPUR become
attractive because of its success in land acquisition farmers from land seizures by the demands of
PTPN II. In some cases, the problem of land disputes take up to tens of years, but by assisting
SMAPUR land dispute resolution only takes no more than 10 years. Something interesting is the
reason for examination. This study aims to determine how the advocacy efforts of farmers in
land acquisition by SMAPUR dispute as part of social work at Persil IV Hamlet Tungkusan Deli
Serdang.
The results of the study can be concluded that the advocacy efforts of farmers in land
acquisition by SMAPUR dispute as part of social work at Persil IV Hamlet Tungkusan Deli
Serdang is very positive. SMAPUR respond to the needs of farmers Perssil IV with advocacy
programs both litigation and non litigasinya.Dalam opportunities SMAPUR also discovered how
to successfully attract people to come to life again fight for the rights to the land.
Keywords: Advocacy, farmers, social work.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas Rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Kuasa Penulis ucapkan
dalam penyelesaian penyusunan skripsi ini dengan baik, yang berjudul: Respon Anak Yang
Berkonflik Dengan Hukum Terhadap Program Pelayanan Sosial Oleh Pusat Kajian Dan
Perlindungan Anak. Skripsi ini disusun untuk diajukan sebagai salah satu syarat dalam
menempuh Ujian Komprehensif untuk mencapai gelar Sarjana Sosial pada Departemen Ilmu
Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara Medan.
Selama penyusunan skripsi ini, Penulis menyadari akan sejumlah kekurangan dan
kelemahan, untuk itu membuka diri untuk saran dan kritik yang dapat membangun guna
perbaikan di masa akan datang.
Pada kesempatan ini, Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
membantu dalam penyelesaian skripsi ini, dan secara khusus Penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin , Msi. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara Medan.
2. Ibu Drs. Khairani Siregar,S.sos. M.SP., selaku Ketua Departemen Ilmu Kesejahteraan
Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Mastauli Siregar, S.Sos, M.SP selaku Sekretaris Departemen Ilmu Kesejahteraan
Sosial yang memberikan semangat awal kepada saya untuk menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak Husni Thamrin, S.Sos. M.SP selaku dosen pembimbing yang membantu saya
dan sekaligus sebagai berdiskusi tentang hal – hal yang saya tidak pahami tentang
penyusunan skripsi.

Universitas Sumatera Utara

5. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen dan Pegawai Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara untuk segala ilmu pengetahuan selama perkuliahan dan
dengan segala jasa-jasanya.
6. Orangtua tercinta, B. Lumban Gaol dan T.E. br Sumbayak yang telah dengan sabar
menanti penamatan kuliah saya ini. Hehehehe….
7. Adekku iwan , ria dan arga. Yang selalu jadi alasan pamungkas untuk ku cepet – cepet
namatin kuliah.
8. Sahabatku di GEMAPRODEM (gerakan mahasiswa pro demokrasi) yang telah
menempah

dan

mengizinkanku

selama

3

tahun

berproses

bersama

kalian

memperjuangkan hak – hak rakyat tertindas. Mengajariku berpikir kritis ala MDH dan
menenggelamkanku dalam lautan ilmu tiada batas. Semoga harapan dan semangat selama
ini dapat terus kita transformasikan hingga kaderisasi selanjutnya. Buat Alm.Aden ,
semoga tenang dialam sana dan trimakasih telah menjadi partner diskusi ku selama ini.
Ada juga rekan se dikpol (Yudha, Elim, Nomika, Ramlan, Powel,waduh sp lg ya….?) ;
trus ada upline dikpol (Hendra ‘psikolog error’ , Mangasi ‘terlalu bnyak tertekan
ginilah’ Juniwan ‘si ganteng’ , Mega ‘dosmeg’ , Mikha-Iqbal-Lae ‘trio prp’ , Jeni
ester ‘hidup feminisme!!!’ , Jeni ‘yang ga pernah diri katanya’ , Lena ‘ayo..hijaukan
bumi!!!’ , Yon yance ‘tetep terasing yo…’ , n smua yg lg susah diinget) ; buat downline
dikpol ( Rizal ‘sayang x kita ga gabungin ilmu lagi’ , Ucil ‘selalu merdeka apalagi
rambutnya’ , Sunario ‘knapa u bs ancur gini lontong?’ , Adela ‘cin-lok yang dipaksa
profesional’ , Resty ‘kek mananya perahu ini ketua?’ , Sulis ‘jangan ampe terjun bebas
lis berjuang’ , Hendrik ‘mana janji u pas q wawancarai pra dikpol dulu-Knp skrg
mhilang?’ , Ferry ‘percayai temanmu dan mrk akn sllu ada buatmu’ , Leni-dan trio kwek

Universitas Sumatera Utara

kwek na yang lupa Q namanya 2 lagi). Smuanya yang sempat berproses bersamaku , mari
tetap pelihara dan abadikan ke-7 nilai sakral qt selama bergemaprodem (Keterbukaan ,
Solidaritas, Kesetiakawanan , Kesetaraan antar generasi , Kesetaraan gender , anti
eksploitasi , dan lintas SARA)
9. Rekan – rekan juangku di LMND SUMUT (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi)
dan PRD (Partai Rakyat Demokratik) yang telah memfasilitasi keraguanku pada gerakan
politik parlementariat. Ada Reinhard ’mancung yang mulai error akibat jarang
konsultasi m psikiater’ , Nanda ‘tetep progresif wak’, Yogie ‘sesama anarko yang tak
tobat-tobat’ , Huget ‘baca buku jgn lupa makan men’ , Agus ‘badko awak’, Rio
‘cukuplah retorika, maenkan langsung’ , Bahri ‘pemimpin tidak harus marah , cukup
merakyat dan berprinsip’ , Roy ‘ knp terlihat begitu eksklusif u pak bos?’ , tak lupa
menyapa kwn2 PRD yang laen (Randy-Reguna-Radi-Rida ‘baru kusadari nama klen R
smua’. Oia ada lagi Reinhard dan elbiando Roberto. Hahaha….) Terima kasih atas
kepercayaan yang diberikan selama 2 periode untuk memimpin LMND SUMUT dalam
menggapai cita cita tripanji pembebasan nasional kita. Pengen sih terus – terusan jadi
mahasiswa biar bisa terus bergerak bersama kalian , tapi apa daya tau lah… budaya
konvensional batak masih melekat di darahku pak bos….
10. Kepada semua teman – teman organisasi dan elemen mahasiswa , buruh , kaum miskin
perkotaan , tani , LSM/NGO ,seniman jalanan (ada Formadas , Famud , Barsdem , Front
Peta , Barani , kelompok cipayung , SRMI , STN , Rumah musik , rumah kita , FNPBI ,
SPI , PI , FPTR , FIS , SOROT MERAH , KS FISIP , CC , KDAS , Komunitas Bawah
Tangga , Aliansi Bawah Tanah-nya kessos , KAMMI , dan banyak lagi yang tak mungkin

Universitas Sumatera Utara

disebutkan) yang selama ini turut berjuang untuk rakyat termarginalkan. Tetap semangat
dan jangan letih berjuang… REVOLUSI TIDAK SAMPAI SKRIPSI!!!
11. Teman-teman di kampus baik di USU maupun diluar , tanpa memandang stambuk salam
dari sang phoenix untuk kawan – kawan sekalian. Hehehe…
12. Bu khairani dan Kak Nancy beserta para awak di perahu konsultan lingkungan PT.
Bawana Mawada Rekatama yang memberikanku peluang untuk mempelajari dunia baru
plus pengalaman tambahan terjun langsung ke basis masyarakat yang kadang jauhnya
‘ngak ketulungan (tapi asik juga kerja pake deadline ketat). Hehehe…
13. Para sohibku dikampus , Diky – Bobby - Mustaqim. Kalo ngak gara – gara klian yang
bertamatan duluan pasti aku lupa tamat juga. Ternyata melihat tak senikmat memahami.
Teringat ama diskusi dengan si kawan , kalo misalnya uang kuliah, uang kost , n uang
makan bisa gratis pasti kita ga dapat desakan cepet tamat kek gini y… wkwkwkwk…
14. Para sohibku di SMA doloe , Ryan , Dadang , Alvin , Indra , Naldo , Petrus , Putra ,
Ni Wayan , Melly , Rini , rindu nge-genk bareng lagi. Maunya kita buat kawinan massal
kl da nikah ntar , abis tu manggang-manggang sbagai bentuk balas dendam karna dari
kemaren ga jadi.
15. Buat kelompok si gumoang (Frangky-wallet-herlan) , lama tak bersuo tak dinyana udah
serem – serem pangkat klian sekarang. Frenk, thanks udah nampung tulisanku selama ini
ya! Wallet ‘lupa aku namamu’ sama rupanya garis tangan kita y, sama2 anak kessos.
Hahaha… Herlan  terkhusus untukmu , kalo udah jadi jenderal jangan tembakin
mahasiswa ato demonstran ya. Sama aja u nembakin aku geng…

Universitas Sumatera Utara

16. Buat orang-orang yang tidak tersebutkan namanya yang sudah mendukung dan
membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, saya ucapin terima kasih dan sukses buat
kita semua.

Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam
skripsi ini. Untuk itu sangat diharapkan saran dan kritik guna menyempurnakannya. Penulis
berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan,

Juli 2011

Penulis

Elbiando Lumban Gaol

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
HALAMAN
ABSTRAK…………………………………………………………………….………..………...i
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………..ii
DAFTAR ISI………………………….…………………………………..…………………….iii
DAFTAR TABEL………………………………………………………..…….……………….iv
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………………………….v
DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………………………………vi

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ……………………………………….………………………...1
1.2. Perumusan Masalah....………………………………..….……………………..9
1.3. Tujuan Penelitian……………………………………..…….….………………..9
1.4. Manfaat Penelitian…….………………….………………….………………...9
1.5. Sistematika Penulisan……………………………………….….……………...11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Advokasi……………………………………………………………………….12
2.1.1. Defenisi…………………………………………………….………………12
2.1.2.Advokasi : Alasan , sasaran dan tujuan…………………….………………15
2.1.3.Kerja-kerja advokasi: Tantangan dan strategi……………….………………17
2.2. Petani...…………………………………………………………………………16
2.2.1. Petani :Entitas Inklusif…………………….………………………………21

Universitas Sumatera Utara

2.2.2.Resistensi Petani……………………………………………………………23
2.2.3.Semangat pembaharuan agraria………………………..……………………25
2.3. Jenis-jenis hak atas tanah……………………………………………………...18
2.3.1. Hak milik………………………………………………………….………28
2.3.2. Hak guna usaha…………………………………………..………………29
2.3.3. Hak guna bangunan………………………………….……………………29
2.3.4.Hak pakai…………………………………………………….……………30
2.3.5. Hak sewa…………………………………………………….……………30
2.3.6. Hak membuka hutan……………………….…….………………………30
2.3.7. Hak memungut hasil hutan………………………………………………31
2.3.8. Hak hak lain………………………………………………………………31
2.4. Masalah kepemilikan kolektif hak atas tanah…………..……………………...31
2.5. Pengakuan adat oleh hukum formal…………………………………………….33
2.6. Pekerjaan Sosial………………………………………………………………..36
2.6.1. Pengertian…………………………………………………….……………36
2.6.2. Karakteristik………………………………………………….……………37
2.6.3. Advokasi petani dalam pekerjaan sosial……………………………………38
2.7. Kerangka pemikiran……………………………………………..……………40
2.8. Defenisi konsep dan defenisi operasional………………………………………43
2.7.1. Defenisi Konsep.............................................................................................43
2.7.2. Defnisi Operasional.......................................................................................44

Universitas Sumatera Utara

BAB III

METODE PENELITIAN
3.1. Tipe Penelitian………………………………………………..………………..46
3.2. Lokasi Penelitian….……………………………………….…………………..46
3.3. Populasi dan Sampel…………………………………………..………………47
3.4. Teknik Pengumpulan Data………………………….………..…………………47
3.5. Teknik Analisis Data………………………………….………..……………….48

BAB IV

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
4.1. Latar Belakang berdirinya SMAPUR……………………………………..……49
4.2. Letak dan Kedudukan Lembaga ..................................................... …………...42
4.3. Struktur Organisasi Lembaga dan Staff Pendukung ........................ …………...43
4.4. Pola dan kronologis advokasi yang pernah dilakukan…………………………51

BAB V

ANALISIS DATA
5.1. Data Identitas Responden ............................................................... …………...58
5.2. Data Pengetahuan Anak terhadap Program Pelayanan Sosial .......... …………...63
5.2.1. Layanan Hukum ....................................................................... …………...63
5.2.2. Konseling ................................................................................. …………...68
5.2.3. Pendampingan bidang litigasi ................................................... …………...74
5.2.4. Pemeriksaan Kondisi Kesehatan ............................................... …………...76
5.2.5. Monitoring ............................................................................... …………...79

Universitas Sumatera Utara

BAB VI

PENUTUP
6.1. Kesimpulan .................................................................................... …………...84
6.2. Saran.............................................................................................. …………...85

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

TABEL

JUDUL

HALAMAN

5.1.

Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ........................................... 58

5.2.

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ........................... 59

5.3.

Karakteristik Responden berdasarkan Suku Etnis .................................. 60

5.4.

Karakterstik Responden Berdasarkan Agama ........................................ 60

5.5.

Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan .................... 61

5.6.

Karakteristik Responden Berdasarkan Status Tempat Tinggal ............... 62

5.7.

Informasi Tentang Program Layanan Hukum bagi Responden .............. 63

5.8.

Tingkat Pengertian Responden terhadap Program Layanan Hukum....... 64

5.9.

Tingkat Kepuasan Responden terhadap Program Layanan Sosial .......... 65

5.10. Tingkat Manfaat Program Layanan Hukum bagi Responden ................. 65
5.11. Tingkat Kebaikan Lembaga dalam Menanggapi Pengaduan .................. 66
5.12. Tingkat Bantuan oleh SMAPUR dalam Menyelesaikan Masalah.......... 66
5.13. Tingkat Kemudahan dalam Prosedur Layanan Hukum SMAPUR ......... 67
5.14. Tingkat Kepuasan Responden Terhadap Penanganan Kasus .................. 67
5.15. Penilaian Responden Berdasarkan Skala Program Layanan Hukum ...... ….68
5.16. Tingkat Keaktifan menjalani Program Konseling selama 1 Bulan ......... 69
5.17. Tingkat Kepuasan Responden terhadap
Pelaksanaan Program Konseling ........................................................... 70
5.18. Tingkat Manfaat Program Konseling bagi Responden ........................... 71
5.19. Tingkat Penjiwaan SMAPUR Terhadap Klien ...................................... 72
5.20. Penilaian Responden Berdasarkan Skala Program Konseling ................ 73

Universitas Sumatera Utara

5.21. Tingkat Kenyamanan Dalam Proses advokasi bagi klien……………….

74

5.22. Tingkat Kepuasan Responden tentang
Program advokasi ................................................................................. 75
5.23. Pengalaman Tidak Menyenangkan Responden
ketika Proses Penjemputan Penyelamatan ............................................. 75
5.24. Penilaian Responden Berdasarkan Skala Program Penjemputan
Penyelamatan Korban ........................................................................... 76
5.25. Jenis Pemeriksaan Kondisi Kesehatan ................................................... 77
5.26. Tingkat Kepuasan Responden terhadap Program
Pemeriksaan Kondisi Kesehatan .......................................................... 77
5.27. Tingkat Kesesuaian Program Pemeriksaan Kondisi Kesehatan
terhadap Kebutuhan Klien..................................................................... 78
5.28. Penilaian Responden Berdasarkan Skala Program Pemeriksaan
Kondisi Kesehatan ................................................................................ 79
5.29. Tingkat Keikutsertaan Responden dalam Program Monitoring ............. 80
5.30. Tingkat Kepuasan Responden tentang Program Monitoring .................. 81
5.31. Tingkat Gangguan Program Monitoring bagi Responden ...................... 81
5.32. Harapan SMAPUR terhadap Proses
Pemantauan Kondisi Klien .................................................................... 82
5.33. Penilaian Responden Berdasarkan Skala Program Monitoring .............. 83

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
2.1. Bagan alur pemikiran .................................................................................... 42
4.1. Struktur organisasi SMAPUR dan staff pendukung....................................... 51

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I

Draft Kuessioner

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
Nama : ELBIANDO LUMBAN GAOL
Nim : 060902039
ABSTRAK
ADVOKASI PETANI, DALAM UPAYA PEMBEBASAN LAHAN SENGKETA OLEH
SMAPUR SEBAGAI BAGIAN DARI PEKERJAAN SOSIAL DI PERSIL IV DUSUN
TUNGKUSAN , DELI SERDANG
Skripsi ini terdiri dari 6 BAB, 86 halaman, 33 tabel, 3 gambar, 2 lampiran serta 59
kepustakaan dan sumber lain yang berasal dari internet.
Advokasi dalam perjalanannya bermakna meluas , tidak lagi milik advoocat (pengacara)
yang bertendensi ke disiplin ilmu hukum namun juga sudah melingkupi seluruh kerja
pendampingan yang dilakukan setiap orang dan kelompok. Advokasi petani adalah bahan kajian
yang sangat jarang diangkat kepermukaan , tidak saja karena kompleks , perlu pemahaman
mendalam , hingga perhitungan waktu untuk penyelesaiannya. Dalam disiplin ilmu social
terkhusus ilmu kesejahteraan social , advokasi adalah salah satu poin yang menjadi lapangan
praktek dari pekerjaan sosial selain dari kerja – kerja mediator , broker , fasilitator, dan
sebagainya. Advokasi petani menjadi menarik untuk diteliti karena petani adalah kelas social
masyarakat yang produktif namun sering kali menjadi korban dalam kasus – kasus perampasan
lahan. Keminiman sumberdaya baik itu pengetahuan , akses terhadap informasi , hingga materi
untuk membiayai proses persidangan persengketaan lahan menjadi alasan dari banyak kekalahan
perjuangan pembebasan lahan petani. SMAPUR adalah lembaga yang dibentuk untuk
mengadvokasi kasus-kasus pembebasan lahan seperti ini. Terkhusus dalam kasus pembebasan
lahan petani persil IV dusun tungkusan deli serdang yang diadvokasi SMAPUR menjadi menarik
karena keberhasilannya dalam pembebasan lahan petani dari tuntutan perampasan lahan oleh
PTPN II. Dalam beberapa kasus , persoalan sengketa lahan memakan waktu hingga puluhan
tahun , namun oleh pendampingan SMAPUR penyelesaian persengketaan lahan hanya memakan
waktu tidak lebih dari 10 tahun. Sesuatu yang menjadi alasan menarik untuk diteliti.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana advokasi petani dalam upaya
pembebasan lahan sengketa oleh SMAPUR sebagai bagian dari pekerjaan sosial di Persil IV
Dusun Tungkusan Deli Serdang.
Hasil dari penelitian dapat disimpulkan bahwa advokasi petani dalam upaya pembebasan
lahan sengketa oleh SMAPUR sebagai bagian dari pekerjaan sosial di Persil IV Dusun
Tungkusan Deli Serdang adalah sangat positif. SMAPUR mampu menjawab kebutuhan petani
Perssil IV dengan program-program advokasi baik litigasi maupun non litigasinya.Dalam
berbagai kesempatan juga ditemukan bagaimana SMAPUR berhasil menarik hati masyarakat
untuk bersemangat kembali memperjuangkan hak atas tanahnya.
Kata Kunci : Advokasi , petani , pekerjaan sosial.

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITY OF NORTH SUMATRA
FACULTY OF SOCIAL SCIENCE AND POLITICAL SCIENCE
SCIENCE DEPARTMENT OF SOCIAL WELFARE
Name : ELBIANDO Lumban Gaol
Nim : 060902039

ABSTRACT
ADVOCACY FARMERS, LAND DISPUTE IN EFFORTS BY SMAPUR EXEMPTION
AS PART OF SOCIAL WORK IN Persil TUNGKUSAN Hamlet IV, DELI SERDANG
This thesis is composed of 6 CHAPTER, 86 pages, 33 tables, 3 images, 2 attachment as well
as 59 literature and other sources from the internet.
Advocacy in a meaningful way is widespread, no longer belongs to advoocat (lawyers)
who tend to the disciplines of law but also covers all advocacy work carried out every person and
group. Advocacy study materials that the farmers are very seldom raised surface, not only
because of the complex, it needs deep understanding, to calculate the time for its completion. In
the disciplines of social sciences especially its social welfare, advocacy is one of the points into
the field of social work practice apart from work - labor mediator, broker, facilitator, and so on.
Advocacy farmers be interesting to study because the farmer is the social class of a productive
society, but often the victim in the case - the case of land grab. Keminiman good resource is the
knowledge, access to information, to the materials to finance the land dispute proceedings be
many reasons for the defeat of the liberation struggle of farmers' land. SMAPUR is an institution
that was formed to advocate for land acquisition cases like this. Especially in the case of parcels
of land acquisition peasant hamlet IV tungkusan deli serdang advocated SMAPUR become
attractive because of its success in land acquisition farmers from land seizures by the demands of
PTPN II. In some cases, the problem of land disputes take up to tens of years, but by assisting
SMAPUR land dispute resolution only takes no more than 10 years. Something interesting is the
reason for examination. This study aims to determine how the advocacy efforts of farmers in
land acquisition by SMAPUR dispute as part of social work at Persil IV Hamlet Tungkusan Deli
Serdang.
The results of the study can be concluded that the advocacy efforts of farmers in land
acquisition by SMAPUR dispute as part of social work at Persil IV Hamlet Tungkusan Deli
Serdang is very positive. SMAPUR respond to the needs of farmers Perssil IV with advocacy
programs both litigation and non litigasinya.Dalam opportunities SMAPUR also discovered how
to successfully attract people to come to life again fight for the rights to the land.
Keywords: Advocacy, farmers, social work.

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latarbelakang Masalah
Persengketaan lahan adalah satu kajian studi yang hingga kini menarik untuk diteliti.

Baik dari perspektif hukum (hukum tanah dan hukum adat) maupun sosial ekonomi. Ketika
persoalan tanah ini menjadi makro , dalam artian maasif dari segi issu dan menyeret banyak
elemen masyarakat didalamnya maka tidak jarang terdistorsi bahkan melebar menjadi gerakan
politik. Perlawanan petani (si empunya lahan) disokong oleh gerakan moral (yang berlandaskan
anti penindasan) dalam kerangka ekonomis (menyelamatkan tanah warisan/ulayat dan dapur
keluarga) kemudian mentransformasikan dirinya menjadi gerakan sosial yang lebih besar.
BPN (Badan Pertanahan Negara) yang semestinya menjadi mediator dan perwalian
pemerintah dalam penyelesaian sengketa terkadang terlihat begitu mandul dalam beberapa kasus.
Tidak bisa dipersalahkan memang , karena posisi BPN sedari awal secara falsafah sudah
prematur dalam aturan perundang-undangan. BPN hanya diberi ruang untuk legitimasi areal
lahan secara hukum formal. Di sisi lain persengketaan lahan terkadang melibatkan tanah
adat/ulayat yang secara hukum pertanahan internasional hukum formal menjadi subordinat pada
hukum adat. Lemahnya penguasaan terhadap intisari hukum adat terkadang menafikan sejumlah
institusi hingga menomorsatukan hukum legal formal. Kesenjangan inilah yang terkadang
mengakibatkan penyelesaian sengketa lahan begitu lama , tidak jarang memakan waktu puluhan
tahun.

Universitas Sumatera Utara

Konflik yang sering terjadi diantara mayarakat tani adalah konflik agraria. Salah satu
penyebab konfik agraria adalah ketidakadilan dalam struktur penguasaan dan pemilikan terhadap
sumber – sumber agraria.
Pola penguasaan tanah didesa tempat petani melakukan usaha pertanian terlihat begitu
rumit untuk dikuasai karena meliputi aspek yang sangat erat dengan nilai ekonomi , politik ,
hukum maupun sosialnya. Pada akhirnya menempatkan posisi tanah menjadi rentan terhadap
manipulasi pandangan yang bersifat ekonomis dan memposisikan tanah sebagai faktor produksi
mutlak.
Penguasaan atas perkebunan , kehutanan , pertambangan saat ini didominasi segelintir
individu dan perusahaan besar nasional dan asing seperti London Sumatera , Exxon , Nem Mont
, Freeport , Caltex , dan lainnya hingga mencapai jutaan hektar. Situasi tersebut telah mendorong
timbulnya ribuan konflik – konflik yang bersandar pada perebutan penguasaan , pengelolaan ,
pemanfaatan , dan kepemilikan atas sumber – sumber agrarian , baik yang sifatnya vertikal ,
horizontal , maupun gabungan antara keduanya. Umumnya konflik yang terjadi selalu
mengakibatkan petani , masyarakat adat ataupun yang termarjinalkan lainnya. 1
Keberadaan tanah bagi petani selain bersifat ekonomis sebagai sumber kehidupan , juga
bermakna magis religio-kosmis dan bahkan hingga tataran ideologis. Ironisnya , sejak zaman
kolonial , bahkan jauh sebelumnya , yakni zaman kerajaan hingga kini sejarah pertanahan yang
identik dengan nasib petani itu tidak banyak menunjukkan tanda – tanda perbaikan. Kehidupan
petani selalu terombang-ambing akibat ketidakpastian Negara tentang pertanahan yang sering
berubah-ubah. 2

1
2

Ahmad Yakub,2007:3
Topatimasang , 1998

Universitas Sumatera Utara

Ketika Inggris menjajah Hindia Belanda (1811-1816) , legalitas agraria diatur dalam
Doman Theory Rafles ,yaitu kebijakan agraria ditujukan untuk penarikan pajak bumi dengna
dalil bahwa tanah adalah milik raja/Negara/pemerintah. Kemudian di era Van den Bosch
diterapkan sistem tanam paksa dan pengerjaan proyek besar seperti pembangunan waduk, jalan
raya dan kereta api. Kebijakan ini diganti dengan Agrarische Wet yang dengan asas domein
veklaring menetapkan tanah terlantar adalah domein Negara. Setelah itu dikeluarkanlah UU
agraria 1870 yang membuka keran investasi swasta Belanda berbisnis di Indonesia. Setelah
Indonesia merdeka , Soekarno mengeluarkan kebijakan untuk penataan agraria. Asumsinya,
penataan kepemilikan dan penguasaan agraria perlu dilakukan sebelum dlakukan industrialisasi.
Lahirnya UU No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok – pokok Agraria atau dikenal
dengna UU PA menjadi sinyal bagi keadilan penguasaan tanah dan sangat representatif untuk
menyelesaikan konflik tanah dimasa itu. Ini karena UU PA dijalankan dengna orientasi
penyediaan tanah untuk penggarap. 3
“Kekeliruan pembangunan yang mendasar adalah tidak ditempatkannya pembaruan
agraria yang berupa penataan kembali penguasaan, penggunaan, pemanfaatan, peruntukan dan
pemeliharaan sumber-sumber agraria sebagai pra-kondisi dari pembangunan… Pembaruan
agrarian dipercayai pula sebagai proses perombakan dan pembangunan kembali
struktur sosial masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan,sehingga tercipta dasar pertanian
yang sehat, terjaminnya kepastian penguasaan atas tanah bagi rakyat sebagai sumberdaya
kehidupan mereka, system kesejahteraan sosial dan jaminan sosial bagi rakyat pedesaan, serta
penggunaan sumberdaya alam sebesar-besarnya untuk kemakmuran

3

Suhendar dan Kasim ,1995:15

Universitas Sumatera Utara

rakyat.” 4 Sukarno , dalam ketertarikannya mengenai isu perjuangan tani bahkan pernah
mengatakan “Melaksanakan land reform berarti melaksanakan satu bagian yang mutlak dari
Revolusi Indonesia.”5
Jika diperhatikan secara cermat , latara belakang konflik pertanahan dipedesaan
umumnya bersumber dari perebutan tanah antara perkebunan (baik Negara maupun swasta)
dengan rakyat petani. Akar persoalan konflik perkebunan disatu sisi didapat dari sejarah lahirnya
hak erfpacht yang kemudian dikonversi menjadi hak guna usaha (HGU) pada tanah perkebunan.
Pengelolaan HGU tersebut dalam prakteknya sering terjadi ketimpangan peruntukan ,
penguasaan , dan pengasingan terhadap masyarakat sekitar atas peran ko-eksistensi sehingga
memicu manifestasi konflik laten.
Kecenderungan tersebut menegaskan bahwa yang dihadapi petani begitu pelik , tidak
saja Negara dengan perundang-undangannya tetapi juga kekuatan pasar global yang pengaruhnya
semakin kuat. Keseluruhan hal tersebut mengakibatkan kemarahan dan rasa frustasi yang
mendalam. Pada saat yang sama , rakyat petani selain tidak dapat memperjuangkan kepentingan
dan kebutuhannya melalui institusi – institusi , juga tidak cukup mempunyai kemampuan
mengekspresikan emosi secara wajar sehingga persoalan – persoalan yang muncul kemudian
diarahkan menjadi kekerasan massa yang kerapkali brutal , destruktif dan radikal terhadap
sasaran –sasaran yang dianggap menjadi simbol kekuasaan (Negara ,atributnya , dan pasar).
Secara mendasar penyelesaian problem-problem pokok ini bermuara pada bagaimana
negara dapat mengabdi pada satu tatanan yang mampu mengadilkan kepemilikan alat produksi
kepada kelas-kelas yang terlibat langsung dalam proses produksi (buruh tani, tani kecil, tani
penggarap) di atas basis kemajuan tenaga produktif, yaitu dengan jalan sentralisasi dan

4

Deklarasi Pembaruan Agraria, Jogjakarta 1998

5

Soekarno, Djalannja Revolusi Kita, 1960

Universitas Sumatera Utara

sosialisasi alat-alat produksi di bawah kontrol dewan rakyat (termasuk kaum tani) atas alat
produksi; agar ia berada dan diabdikan sepenuhnya pada kepentingan kelas-kelas tertindas—
yakni Pemerintahan Persatuan Nasional Anti Imperialisme. 6
Dalam perjalanannya perlawanan petani ini tidak terlepas dari aktivitas – aktivitas
organisasi yang banyak muncul untuk memperjuangkan kaum tani. Karena dalam berperilaku
organiasasilah petani dapat distimulus kesadaran akan ketertindasan mereka.
Skripsi ini coba mengambil salah satu contoh kasus persengketaan petani di deli serdang
dengan melihatnya dari sudut pandang ilmu sosial. Penekanannya lebih pada sisi yang selama ini
jarang terpublikasi yaitu advokasi petani. Rasionalitas mengapa harus advokasi petani yang
diangkat adalah karena petani tidak memiliki prasyarat untuk mengadvokasi dirinya sendiri.
Secara modal petani berada dalam strata sosial terendah setelah kaum miskin perkotaan dan
secara ideologis petani tidak melakukan perlawanan ideologis karena cenderung pragmatis. Oleh
karena itu menjadi menarik untuk diteliti bagaimana sepak terjang pihak yang mendampingi
petani baik secara litigasi maupun non-litigasi. Ini menjadi penting karena sebenarnya pihak
inilah yang memainkan peran sentral dalam perjuangan petani. Pihak atau dalam beberapa kasus
dipayungi oleh organisasi menjadi jalur yang menkanal perjuangan petani agar lebih cerdas dan
tidak destruktif seperti yang dijelaskan diatas. Advokasi advokasi seperti ini kedepannya akan
membanjiri ranah pekerja sosial dengan meramalkan gencarnya perjuangan pembebasan lahan
ditengah himpitan ekonomi yang mau tidak mau penguasaan akan tanah menjadi isu pokok
untuk setidaknya mampu bertahan hidup (skema yang sangat mirip dengan watak petani yang
cenderung defensif).
Adapun latar belakang persengketaan lahan di dusun tungkusan deli serdang adalah
sebagai berikut 7:
6

Arsip Pengurus Pusat Serikat Tani Nasional (PP STN) 2011

Universitas Sumatera Utara

Pada tahun 1940 rakyat telah menguasai tanah dan mendirikan bangunan rumah sebagai
tempat tinggal dan menanam berbagai tanaman seperti Pohon Durian, jengkol, Petai, Pisang,
Jagung, Padi dan berbagai tanaman lainnya sebagai mata pencaharian mereka sebagai petani.
Selanjutnya oleh Negara tanah tersebut dilegalisasi menjadi milik rakyat dengan alas hak sebagai
TANAH SUGUHAN Persil IV, seluas lebih kurang 600 Ha, terletak diwilayah Desa Limau
Mungkur, Dusun Batuktak Desa Lau Barus dan Dusun Tungkusan desa Tadukan Raga,
Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara adalah sah menurut
hukum maupun dalam kebijakan Badan Pertanahan Nasional sendiri. Akan tetapi pada tahun
1972 masa pemerintahan rezim Orde Baru tanpa alasan yang sah secara hukum, sebagian besar
tanah tersebut, yaitu seluas lebih kurang 525 Ha, telah diambil atau dikuasai oleh PTPN IX
secara paksa (sekarang PTPN II) dengan cara mengusir bangunan rumah tempat tinggal rakyat
hingga sampai hancur dan rata dengan tanah, menebang pohon dan tanaman-tanaman yang telah
ditanam rakyat sebagai mata pencaharian hidup di atas tanah tersebut, yang mengakibatkan
rakyat dan anak-anak mereka terlantar sebab kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian.
Bahkan pihak PTPN II dengan seenaknya menanam pohon sawit dan karet dan hasilnya mereka
nikmati tanpa mempedulikan alas hak dan kehidupan rakyat beserta keluarganya. Karena pada
masa itu kondisi politik dalam negeri tidak memungkinkan untuk melakukan perlawanan atas
tindakan semena-mena tersebut, akibatnya rakyat merasakan penderitaan yang cukup panjang.
Setelah menungu cukup lama sampai akhirnya pecah reformasi tahun 1998 peluang
untuk mengambil kembali tanah yang dirampas tersebut terbuka, dengan terlaksananya
Pertemuan Dengar Pendapat Komisi A DPRD Tk. II Kabupaten Deli Serdang yang pada saat itu
dihadiri oleh Kepala Kantor Pertanahan DS., ADM PTPN II (Persero) Kebun Limau Mungkur,
Camat Kec. STM. Hilir, Kades. Tadukan Raga, Kades. Limau Mungkur, dan Kades. Lau Barus
7

Arsip SMAPUR

Universitas Sumatera Utara

Baru tentang permasalahan tanah rakyat pada tanggal 27 Oktober 1998, dimana telah
menyebutkan beberapa poin diantaranya yaitu tanah seluas lebih kurang 922 Ha tersebut tetap
menjadi milik rakyat.
1.

Oleh karena tanah terperkara seluas 922 Ha tersebut berada diluar areal tanah Hak Guna
Usaha (HGU) PTPN II , pada tahun 1999 tepatnya saat Replanting, tanah tersebut telah
diusahai oleh rakyat sebagai alat produksi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akan tetapi
beberapa bulan berselang pada tahun yang sama PTPN II kembali mengambil alih paksa
tanah dengan membabat habis tanaman palawija yang menghijau, bahkan beberapa orang
petani juga menjadi korban hingga harus menjalani operasi bedah rutin sampai sekarang.
Namun karena tidak ada pertanggung jawaban dari pelaku maka operasi bedah belum
dapat dituntaskan sebab korban tidak mampu lagi membayar biaya operasi.

2.

Sejalan dengan itu, maka rakyat melakukan gugatan Perdata kepada pihak PTPN II untuk
mengembalikan tanah serta membayar ganti rugi peminjaman yang ditaksir sebesar 2,5
milyar rupiah lebih per tahun sejak tahun 1972 sampai ganti rugi tersebut dipenuhi.
Selain dari tuntutan diatas, rakyat juga menuntut ganti rugi sebesar 500 milyar rupiah
karena dianggap telah melanggar Hak Azasi Manusia. Dengan tuntutan seperti itu maka
PTPN II melakukan Banding sampai akhirnya mereka mengajuakn PK atas putusan MA.
Pada tahun 2005 rakyat kembali melakukan gugatan melalui pengadilan negeri lubuk
pakam dengan No. 69/PDT.G/2005?PN-LP yang memutuskan bahwa tanah tersebut
adalah milik rakyat akan tetapi kembali lagi diajukan banding oleh PTPN II dengan dalil
bahwa pohon yang tumbuh diatas tanah tersebut adalah milik PT. Secara otomatis tanah
tersebut belum dipastikan milik siapa (terperkara) sehingga kedua pihak tidak boleh
menguasai lahan. Namun tindakan sepihak telah dilakukan PTPN II melalui Perjanjian

Universitas Sumatera Utara

dalam bentuk Kerja Sama Operasional (KSO) dengan Pihak Ketiga dengan isi perjanjian
untuk memanen kelapa sawit diatas tanah terperkara tersebut. Jelas ini adalah tindakan
melawan hukum. Masyarakat yang merasa dirugikan segera memasuki lahan dan
mencoba menguasai tanah yang mereka anggap adalah milik mereka dengan alas hak
yang sah menurut hukum. Akan tetapi di lapangan masyarakat mendapat halangan dari
pihak aparat kepolisian dan TNI yang belum jelas alasannya mereka berada di lokasi
tersebut, sebab jika ditanya mereka selalu mengatakan “kami hanya menjaga buah, ini
perintah atasan”. Bahkan Aparat Kepolisian yang ada melakukan penangkapan beberpa
warga yang mencoba memanen sawit. Dengan senjata lengkap aparat, akhirnya
masyarakat dipaksa mundur dari lahan, dan pihak ketiga tersebut secara bebas melakukan
aktivitas memanen. Merasa tidak puas masyarakat kembali melakukan perlawanan
dengan menghadang truk pengangkut buah sawit dengan cara berbaris tanpa senjata.
Karena supir takut menabrak masyarakat yang sebagian besar adalah kaum ibu, maka
kendali diambil alih oleh salah satu aparat polisi dan serta merta menabrak masyarakat
yang melakukan perlawanan dan akhirnya 3 orang ibu-ibu menjadi korban dan harus
dibawa kerumah sakit. Kejadian ini lantas membuat masyarakat sekitar menjadi trauma
untuk datang ke lahan, bahkan nyaris ingin melupakan haknya atas tanah. dan sampai
saat ini rakyat terus di intimidasi dengan aksi-aksi militerisme oleh kepolisiaan dan
oknum TNI.
Persoalan ini mulai mengemuka saat sejumlah mahasiswa yang kebetulan sedang
melakukan praktek lapangan di lokasi mendapat informasi dari hasil perbincangan ringan dengan
warga setempat. Seiring berjalannya waktu para mahasiswa ini melakukan pendampingan pada
petani dan pendidikan kepada warga (masyarakat dan anak anak di sekolah). Dalam

Universitas Sumatera Utara

perjalanannya mahasiswa yang mulai jengah melihat kondisi ini mengambil sikap yang cukup
maju , melakukan penyatuan perjuangan petani dalam satu payung gerakan. Maka mahasiswa
dan pemuda atas nama Solidaritas Mahasiswa dan Pemuda untuk Rakyat (SMAPUR) membantu
persoalan yang dialami masyarakat persil IV ini, dengan melakukan investigasi kasus selama 1
(satu) bulan , dengan bermodalkan pendidikan dan keberanian melakukan pertemuan dengan
masyarakat untuk membicarakan hal-hal seputar kasus yang dialami masyarakat serta informasi
penting lainnya yang berhubungan dengan perjuangan tanah persil IV tersebut.
Dari beberapa dusun yang telah dilakukan pertemuan maka digagaslah sebuah
pertemuan yang di sebut Rembuk Akbar dari seluruh dusun yang ada di persil IV yang akan
digelar di lapangan SD Negeri Tungkusan pada hari minggu 26 Agustus 2007 pukul 13.00 Wib
s/d selesai. Adapun isi yang akan dibicarakan dalam rembuk akbar adalah suara-suara dari
masyarakat 5 dusun tentang kondisi mereka, gagasan untuk memenangkan secara mutlak
perjuangan tanah, sampai kepada Ikrar perjuangan rakyat atas tanah.
Keseluruhan ketertarikan ini akan coba penulis teliti dan akan dirangkum dalam skripsi
dengan judul : “Advokasi Petani dalam upaya Pembebasan Lahan Sengketa oleh SMAPUR
sebagai bagian dari Pekerjaan Sosial di Persil IV Dusun Tungkusan , Deli Serdang”.

1.2.

Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latarbelakang masalah, maka yang menjadi perumusan masalah

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
“Bagaimana advokasi Petani dalam upaya Pembebasan Lahan Sengketa oleh
SMAPUR sebagai bagian dari Pekerjaan Sosial di Persil IV Dusun Tungkusan , Deli
Serdang”

Universitas Sumatera Utara

1.3.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana advokasi petani ,
dalam upaya pembebasan lahan sengketa oleh SMAPUR sebagai bagian dari Pekerjaan Sosial di
Persil IV Dusun Tungkusan , Deli Serdang.

1.3.2. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian merupakan gambaran harapan-harapan peneliti akan hasil akhir dari
penelitian tersebut, dimana apabila terdapat kesesuaian atau kecocokan antara hasil dan harapan
berarti bahwa penelitian ini sukses. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberi manfaat
sebagai berikut :
1. Sebagai pembelajaran bagi penulis untuk mengetahui lebih dalam ranah advokasi sosial
yang menjadi bagian pekerjaan sosial.
2. Sebagai persembahan penulis pada diri sendiri sebelum menginjak fase pasca mahasiswa ,
yang akan selalu mengingatkan penulis untuk tidak individualistis dan ikrar untuk
membukukannya di kemudian hari.
3. Sebagai materi rujukan bagi rekan – rekan dan pembaca yang tertarik mengangkat isu
advokasi petani.
4. Sebagai persembahan bagi para pejuang pembebasan lahan yang gigih tanpa lelah meski
harus memakan waktu puluhan tahun , semoga karya ini menjadi suntikan semangat untuk
tetap teguh dalam prinsip.

Universitas Sumatera Utara

5. Sebagai sumbangan pemikiran bagi elemen yang terlibat di SMAPPUR (baik individu
maupun kolektif/kelompok) dalam memperkaya referensi advokasi petani kedepannya.
6. Sebagai pelengkap referensi di ruang ruang ilmiah (perpustakaan , diskusi , bacaan ilmiah
dan sebagainya) sehingga kedepannya penulis mengharapkan akan lahir akademisi kritis
yang berpijak pada rasionalitas dan bekerja secara jujur dan realistis.
7. Sebagai stimulus kepada calon penulis dan pencari referensi untuk menekankan karyanya
kelak pada orisinalitas dan keobjektifan memandang akar masalah dan fenomena sosial.
8. Terakhir , kepada para praktisi masyarakat yang sudah terbiasa berpihak pada masyarakat
dan berpikir secara multi-sektoral , semoga karya ilmiah (skripsi) ini punya manfaat
untuk menggugah para pekerja dan pemikir mono-sektoral untuk mengurangi sifat egosektoralnya dan ikut mempertimbangkan kepentingan sektor lain sehingga pembangunan
dan pemberdayaan semua sektor dapat dilaksanakan secara sinkron dan seimbang.
1.4.

Sistematika Penulisan
Penulisan ini disajikan dalam 6 (enam) BAB dengan sistematika sebagai berikut :

BAB I :

PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan latarbelakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan
manfaat penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II :

TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menguraikan tentang uraian dan teori-teori yang berkaitan dengan objek
yang akan diteliti, kerangka pemikiran, definisi konsep dan definisi operasional.

BAB III :

METODE PENELITIAN

Universitas Sumatera Utara

Bab ini menguraikan tipe penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan
data dan teknis analisis data.

BAB IV :

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Bab ini menguraikan tentang lokasi penelitian, sejarah dan latarbelakang
berdirinya lembaga.

BAB V :

ANALISIS DATA
Bab ini menguraikan bagaimana menganalisis data, berisikan penganalisaan datadata yang diperoleh dalam penelitian

BAB VI :

PENUTUP
Bab ini menguraikan kesimpulan dan saran-saran penulis, atas penelitian yang
telah dilaksanakan.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Advokasi

2.1.1.

Sebuah Definisi

Banyak orang masih menganggap bahwa advokasi merupakan kerja-kerja pembelaan
hukum (litigasi) yang dilakukan oleh pengacara dan hanya merupakan pekerjaan yang berkaitan
dengan praktek beracara di pengadilan. Pandangan ini kemudian melahirkan pengertian yang
sempit terhadap apa yang disebut sebagai advokasi. Seolah-olah, advokasi merupakan urusan
sekaligus monopoli dari organisasi yang berkaitan dengan ilmu dan praktek hukum semata.

Pandangan semacam itu bukan selamanya keliru, tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Mungkin pengertian advokasi menjadi sempit karena pengaruh yang cukup kuat dari padanan
kata advokasi itu dalam bahasa Belanda, yakni advocaat yang tak lain memang berarti pengacara
hukum atau pembela. Namun kalau kita mau mengacu pada kata advocate dalam pengertian
bahasa Inggris, maka pengertian advokasi akan menjadi lebih luas. Misalnya saja dalam kamus
bahasa Inggris yang disusun oleh Prof. Wojowasito, Alm., Guru Besar IKIP Malang (kini
Universitas Negeri Malang) yang diterbitkan sejak tahun 1980, kata advocate dalam bahasa
Inggris dapat bermakna macam-macam. Avocate bisa berarti menganjurkan, memajukan (to
promote), menyokong atau memelopori. Dengan kata lain, advokasi juga bisa diartikan
melakukan ‘perubahan’ secara terorganisir dan sistematis.

Universitas Sumatera Utara

Istilah advokasi merujuk kepada dua pengertian, yaitu, pertama, pekerjaan atau profesi
dari seorang advokat, dan kedua, perbuatan atau tindakan pembelaan untuk atau secara aktif
mendukung suatu maksud. Pengertian pertama berkaitan dengan pekerjaan seorang advokat
dalam membela seorang kliennya dalam proses peradilan untuk mendapatkan keadilan.
Pengertian advokasi yang pertama ini lebih bersifat khusus sedangkan pengertian kedua lebih
bersifat umum karena berhubungan dengan pembelaan secara umum, memperjuangkan tujuan
atau maksud tertentu.

Dalam konteks advokasi untuk memengaruhi kebijakan publik, pengertian advokasi
yang kedua mungkin yang lebih tepat karena obyek yang di advokasi adalah sebuah keb

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Advokasi Petani, Dalam Upaya Pembebasan Lahan Sengketa Oleh Smapur Sebagai Bagian Dari Pekerjaan Sosial Di Persil IV Dusun Tungkusan , Deli Serdang