Pengaruh Lingkungan Rumah dan Perilaku Masyarakat terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara

PENGARUH LINGKUNGAN RUMAH DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP KEJADIAN CHIKUNGUNYA DI KECAMATAN NISAM KABUPATEN ACEH UTARA
TESIS
Oleh IMRAN 117032013/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara

THE INFLUENCE OF HOME ENVIRONMENT AND BEHAVIOR OF COMMUNITY ON THE INCIDENT OF CHIKUNGUYA IN NISAM SUBDISTRICT, ACEH UTARA DISTRICT
THESIS
BY IMRAN 117032013/IKM
MAGISTER OF PUBLIC HEALTH STUDY PROGRAM FACULTY OF PUBLIC HEALTH
UNIVERSITY OF SUMATERA UTARA MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara

PENGARUH LINGKUNGAN RUMAH DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP KEJADIAN CHIKUNGUNYA DI KECAMATAN NISAM KABUPATEN ACEH UTARA
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Manajemen Kesehatan Lingkungan Industri
pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Oleh
IMRAN 117032013/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

: PENGARUH LINGKUNGAN RUMAH DAN

PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP

KEJADIAN CHIKUNGUNYA DI

KECAMATAN NISAM KABUPATEN

ACEH UTARA

Nama Mahasiswa

: Imran

Nomor Induk Mahasiswa : 117032013

Program Studi

: S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi

: Manajemen Kesehatan Lingkungan Industri

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Dr. dr. Wirsal Hasan, M.P.H) Ketua

(Ir. Evi Naria, M.Kes) Anggota

Dekan

(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)

Tanggal Lulus : 24 April 2013

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji Pada Tanggal : 24 April 2013

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua Anggota

: Dr. dr. Wirsal Hasan, M.P.H : 1. Ir. Evi Naria, M.Kes
2. dr. Surya Dharma, M.P.H 3. drh. Rasmaliah, M.Kes

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN PENGARUH LINGKUNGAN RUMAH DAN PERILAKU MASYARAKAT
TERHADAP KEJADIAN CHIKUNGUNYA DI KECAMATAN NISAM KABUPATEN ACEH UTARA
TESIS Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Juni 2013
Imran 117032013/IKM
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Chikungunya adalah salah satu penyakit menular yang menyebabkan tingginya angka kesakitan serta masalah kesehatan masyarakat di sebagian daerah di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh virus CHIK melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Gejalanya adalah demam mendadak, nyeri pada persendian terutama sendi lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan yang disertai ruam pada kulit. Pada tahun 2012, telah terjadi kejadian Chikungnya sebanyak 34 kasus di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lingkungan rumah dan perilaku masyarakat terhadap kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara. Metode penelitian adalah survei analitik observasional dengan disain case control. Populasi penelitian adalah seluruh rumah tangga yang dijumpai anggota keluarganya menderita Chikungunya dan rumah tangga yang anggota keluarganya tidak menderita Chikungunya dengan sampel sebanyak 68 orang terdiri dari 34 kasus dan 34 kontrol. Pengumpulan data melalui wawancara dan observasi yang berpedoman pada kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi-square dan multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda pada taraf kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan variabel lingkungan rumah yaitu kawat kasa pada ventilasi dan variabel perilaku masyarakat yaitu sikap dan tindakan berpengaruh terhadap kejadian Chikungunya, sedangkan kerapatan dinding, langit-langit rumah, TPA dan kelembaban tidak berpengaruh. Hasil uji regresi logistik berganda diketahui bahwa variabel yang dominan berpengaruh terhadap Chikungunya adalah tindakan dengan nilai koefisien Exp (B) 4,779.
Disarankan kepada Dinas Kesehatan dan Puskesmas sebaiknya tetap mempertahankan upaya health promotion yang telah dilakukan terutama peningkatan informasi tentang Chikungunya. Meningkatkan penyuluhan yang lebih intensif sehingga dapat mengugah minat masyarakat dalam upaya partisipasi aktif dan peran serta masyarakat. Menganjurkan kepada masyarakat untuk menggunakan kawat kasa pada lubang angin dan jendela.
Kata Kunci : Chikungunya, Lingkungan Rumah, Perilaku
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Chikunguya is one of the contageous diseases causing high morbidity rate and problem of community health in some areas in Indonesia. This disease is caused the CHIK virus through the bites of Aedes aegypti and Aedes albopictus with the symptoms of sudden fever, pain in the joints especially in knee joints, ankles, toes and fingers accompanied with a skin rash. In 2012, there were 34 cases of Chikungunya in Nisam Subdistrict, Aceh Utara District.
The purpose of this observational analytical survey study with casecontrol design was to analyze the influence of home environment and behavior of community on the incident of Chikunguya in Nisam Subdistrict, Aceh Utara District. The population of this study was all of the families whose family members were suffering or not suffering from Chikunguya. The samples for this study were 68 persons consisting 34 for case group and 34 for control group. The data for this study were obtained through observation and questionnaire-based interviews. The data obtained were analyzed through univariate analysis, bivariate analysis with Chi-square test, and multivariate analysis with multiple logistic regression tests at level of confidence of 95%.
The result of this study showed that the variable of home environment (wire netting and ventilation) and the variable of behavior of community (attitude and action) had influence on the incident of Chikunguya, while wall density, house ceiling, garbage dump site, and humidity didi have any influence on the incident of Chikunguya. The result of multiple logistic regression tests showed that action with Exp coefficient value (B) of 4.779 was the variable which dominantly influenced the incident of Chikunguya.
The management of Aceh Utara District Health Service and Puskesmas (Community Health Center) should maintain the attempt of health promotion done especially the improvement of information about Chikunguya, should provide a more intensive extension that it can encourage the interest of community in active community participation, and the use of wire nettings on their ventilation and windows.
Keywords: Chikunguya, Home Environment, Behavior
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah, penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah serta Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan tesis ini dengan judul “Pengaruh Lingkungan Rumah dan Perilaku Masyarakat terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara”.
Penyusunan tesis ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagian persyaratan akademik untuk menyelesaikan Pendidikan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Manajemen Kesehatan Lingkungan Industri Universitas Sumatera Utara.
Penulis dalam menyusun tesis ini, menyadari begitu banyak mendapat dukungan, bimbingan, bantuan dan kemudahan dari berbagai pihak sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada: 1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM & H, M.Sc (CTM), Sp.A(K) selaku Rektor
Universitas Sumatera Utara. 2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara. 3. Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu
Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Universitas Sumatera Utara

4. Dr. dr. Wirsal Hasan, M.P.H dan Ir. Evi Naria, M.Kes selaku komisi pembimbing dengan sabar dan tulus serta banyak memberikan perhatian, dukungan, pengertian dan pengarahan sejak awal hingga terselesaikannya tesis ini.
5. dr. Surya Dharma, M.P.H dan drh. Rasmaliah, M.Kes selaku komisi penguji yang telah memberi masukan sehingga dapat meningkatkan kesempurnaan tesis ini.
6. Seluruh Dosen Minat Studi Manejemen Kesehatan Lingkungan Industri, Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, semoga ilmu dan pengetahuan yang diberikan selama penulis belajar menjadi amal ibadah dan mendapat Rahmat dari Allah SWT.
7. M. Nurdin, S.K.M, M.M selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara yang telah memberikan Tugas Belajar kepada penulis sehingga penulis dapat melanjutkan Pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan.
8. Yanti Herawati, S.K.M selaku Kepala Puskesmas Nisam Kabupaten Aceh Utara yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Nisam Kabupaten Aceh Utara.
9. Para teman sejawat dan rekan-rekan mahasiswa di lingkungan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat khususnya Minat Studi Manajemen Kesehatan Lingkungan Industri.
Universitas Sumatera Utara

Ucapan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada keluarga tercinta Ayahanda Tarmizi dan Ibunda Mahmudiah yang telah memberikan dukungan baik moril dan do‟a restu sehingga penulis mendapatkan pendidikan terbaik.
Teristimewa ucapan terima kasih ini penulis curahkan kepada Isteri tercinta Marlina dan anakku tersayang Muhammad Nabiel Ghaysan yang penuh pengertian, kesabaran, pengorbanan dan turut memberikan doa serta rasa cinta yang dalam setia menunggu, karena kehilangan banyak waktu bersama dalam masa-masa menempuh pendidikan ini dan banyak sekali memberikan motivasi serta dukungan moril kepada penulis agar bisa menyelesaikan pendidikan ini tepat waktu.
Akhirnya penulis menyadari atas segala keterbatasan dan kekurangan yang ada, untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini, semoga tesis ini bermanfaat bagi pengambil kebijakan di bidang kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan bagi penelitian selanjutnya.
Medan, Juni 2013 Penulis
Imran 117032013/IKM
Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP
Imran, lahir pada tanggal 09 Mei 1979 di Lhokseumawe, beragama Islam, anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Ayahanda Tarmizi dan Mahmudiah. Mempunyai satu orang putra Muhammad Nabiel Ghaysan, sekarang menetap di Jalan Jrat Raya Desa Blang Peuria Kecamatan Samudera Kabupaten Aceh Utara.
Pendidikan formal penulis, dimulai dari pendidikan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) No. 4 Lhokseumawe selesai tahun 1991, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri (SLTPN) 4 Lhokseumawe selesai tahun 1994, Sekolah Menengah Umum Negeri (SMUN) 1 Lhokseumawe selesai tahun 1997, Akademi Kesehatan Lingkungan Depkes R.I. Banda Aceh selesai pada tahun 2000, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh di Banda Aceh selesai tahun 2006.
Mulai bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil sejak tanggal 01 Desember 2003 di Puskesmas Syamtalira Bayu sampai dengan Bulan Agustus 2009. Pada Bulan September 2009 sampai dengan sekarang bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara.
Tahun 2011, penulis melanjutkan pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan dengan Minat Studi Manajemen Kesehatan Lingkungan Industri.
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman ABSTRAK ..................................................................................................... i ABSTRACK .................................................................................................... ii KATA PENGANTAR.................................................................................... iii RIWAYAT HIDUP ........................................................................................ vi DAFTAR ISI .................................................................................................. vii DAFTAR TABEL ......................................................................................... x DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xiii

BAB 1. PENDAHULUAN ............................................................................ 1.1. Latar Belakang.......................................................................... 1.2. Permasalahan ............................................................................ 1.3. Tujuan Penelitian ..................................................................... 1.4. Hipotesis ................................................................................... 1.5. Manfaat Penelitian ...................................................................

1 1 6 6 6 7

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 2.1. Chikungunya ............................................................................ 2.1.1. Definisi Chikungunya.................................................... 2.1.2. Etiologi dan Patogenesis............................................... 2.1.3. Gejala Klinis ................................................................. 2.1.4. Cara Penularan.............................................................. 2.1.5. Diagnosis Pasti dan Banding ........................................ 2.1.6. Pengobatan.................................................................... 2.2. Nyamuk Penular Chikungunya................................................. 2.2.1. Klasifikasi Nyamuk ..................................................... 2.2.2. Morfologi Nyamuk ...................................................... 2.2.3. Siklus Hidup Nyamuk ................................................. 2.2.4. Bionomik Vektor .......................................................... 2.2.5. Ekologi Vektor.............................................................. 2.3. Lingkungan Rumah .................................................................. 2.3.1. Rumah Sehat dan Persyaratannya ................................. 2.4. Perilaku Kesehatan ................................................................... 2.4.1. Pengetahuan................................................................... 2.4.2. Sikap .............................................................................. 2.4.3. Tindakan ........................................................................ 2.5. Pencegahan dan Pengendalian Vektor Chikungunya ............... 2.5.1. Pengelolaan Lingkungan ............................................. 2.5.2. Perlindungan Diri .........................................................

8 8 8 9 10 11 12 14 15 15 15 16 18 21 27 27 31 31 32 33 34 35 36

Universitas Sumatera Utara

2.5.3. Pengendalian Biologi ................................................... 2.5.4. Pengendalian Kimia ..................................................... 2.5.5. Pendekatan Pemberantasan Terpadu ........................... 2.6. Penanggulangan KLB Chikungunya ....................................... 2.7. Landasan Teori ........................................................................ 2.8. Kerangka Konsep .....................................................................

37 38 40 40 43 44

BAB 3. METODE PENELITIAN................................................................ 3.1. Jenis Penelitian ........................................................................ 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................... 3.2.1. Lokasi Penelitian ........................................................... 3.2.2. Waktu Penelitian ........................................................... 3.3. Populasi dan Sampel ................................................................ 3.3.1. Populasi ......................................................................... 3.3.2. Sampel ............................................................................ 3.4. Metode Pengumpulan Data ...................................................... 3.4.1. Data Primer .................................................................... 3.4.2. Data Sekunder ................................................................ 3.4.3. Uji Validitas dan Reliabilitas.......................................... 3.5. Variabel dan Definisi Operasional ......................................... 3.5.1. Variabel ......................................................................... 3.5.2. Definisi Operasional ..................................................... 3.6. Metode Pengukuran ................................................................. 3.6.1. Pengukuran Lingkungan Rumah .................................... 3.6.2. Pengukuran Perilaku Masyarakat ................................... 3.7. Metode Analisis Data .............................................................. 3.7.1. Analisis Univariat........................................................... 3.7.2. Analisis Bivariat ............................................................ 3.7.3. Analisis Multivariat .......................................................

45 45 46 46 46 46 46 47 49 49 49 50 52 52 52 55 55 57 60 60 60 60

BAB 4. HASIL PENELITIAN ...................................................................... 4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian...................................................... 4.2. Analisis Univariat..................................................................... 4.2.1. Karakteristik Responden............................................... 4.2.2. Lingkungan Rumah Responden.................................... 4.2.3. Distribusi Perilaku Responden ..................................... 4.3. Analisis Bivariat ....................................................................... 4.4. Analisis Multivariat .................................................................. 4.5. Population Attribute Risk (PAR) ..............................................

62 62 63 63 65 67 75 80 85

BAB 5. PEMBAHASAN ............................................................................... 5.1. Pengaruh Lingkungan Rumah terhadap Kejadian Chikungunya.............................................................................

86 86

Universitas Sumatera Utara

5.1.1. Pengaruh Lingkungan Rumah Berdasarkan Kerapatan Dinding terhadap Kejadian Chikungunya .................... 86
5.1.2. Pengaruh Lingkungan Rumah Berdasarkan Kawat Kasa pada Ventilasi terhadap Kejadian Chikungunya.. 87
5.1.3. Pengaruh Lingkungan Rumah Berdasarkan Langitlangit Rumah terhadap Kejadian Chikungunya ............ 89
5.1.4. Pengaruh Lingkungan Rumah Berdasarkan Tempat Penampungan Air terhadap Kejadian Chikungunya..... 91
5.1.6. Pengaruh Lingkungan Rumah Berdasarkan Kelembaban terhadap Kejadian Chikungunya ............. 92
5.2. Pengaruh Perilaku Responden terhadap Kejadian Chikungunya............................................................................. 94 5.2.1. Pengaruh Perilaku Responden Berdasarkan Pengetahuan terhadap Kejadian Chikungunya ............. 94 5.2.2. Pengaruh Perilaku Responden Berdasarkan Sikap terhadap Kejadian Chikungunya................................... 96 5.2.3. Pengaruh Perilaku Responden Berdasarkan Tindakan Pencegahan terhadap Kejadian Chikungunya .............. 99
5.3. Keterbatasan Penelitian ............................................................ 102 BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 103
6.1. Kesimpulan............................................................................... 103 6.2. Saran ......................................................................................... 104 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 105 LAMPIRAN .................................................................................................. 110
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No.

Judul

Halaman

3.1 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Penelitian ................... 51

3.2 Aspek Pengukuran Variabel................................................................. 54

4.1 Distribusi Karakteristik Responden di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2013 ....................................................................... 64

4.2 Distribusi Lingkungan Rumah Responden di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2013 ..................................................... 66

4.3 Distribusi Frekuensi Pendapat Responden Berdasarkan Pengetahuan terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2013 ....................................................................... 68

4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Pengetahuan terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2013........................................................................................... 69

4.5 Distribusi Frekuensi Pendapat Responden Berdasarkan Sikap terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2013 ....................................................................... 71

4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Sikap terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2013........................................................................................... 72

4.7 Distribusi Frekuensi Pendapat Responden Berdasarkan Tindakan terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2013 ....................................................................... 73

4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Tindakan terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2013........................................................................................... 74

4.9 Lingkungan Rumah dan Perilaku Responden dengan Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2013...................................................................................................... 75

Universitas Sumatera Utara

4.10 Hasil Analisis Bivariat yang dijadikan Model Analisis Multivariat .... 81 4.11 Hasil Akhir Uji Regresi Logistik Ganda Pengaruh Kawat Kasa pada
Ventilasi, Sikap dan Tindakan terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2013.................. 83
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Judul

Halaman

1. Surat Pernyataan Kesediaan menjadi Responden ..................................... 110

2. Kuesioner Penelitian ................................................................................. 111

3. Tabel Skor ................................................................................................. 115

4. Jadwal Penelitian ...................................................................................... 116

5. Master Data Penelitian .............................................................................. 117

6. Analisis Univariat ..................................................................................... 119

7. Analisis Bivariat........................................................................................ 133

8. Analisis Multivariat .................................................................................. 141

9. Uji Validitas dan Reliabilitas .................................................................... 145

10. Surat Izin Penelitian dari Program Studi S2 IKM USU Medan ............... 146

11. Surat Telah Selesai Penelitian dari Puskesmas Nisam.............................. 147

12. Peta Kecamatan Nisam ............................................................................. 149

13. Dokumentasi Penelitian ............................................................................ 150

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Chikungunya adalah salah satu penyakit menular yang menyebabkan tingginya angka kesakitan serta masalah kesehatan masyarakat di sebagian daerah di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh virus CHIK melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Gejalanya adalah demam mendadak, nyeri pada persendian terutama sendi lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan yang disertai ruam pada kulit. Pada tahun 2012, telah terjadi kejadian Chikungnya sebanyak 34 kasus di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lingkungan rumah dan perilaku masyarakat terhadap kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara. Metode penelitian adalah survei analitik observasional dengan disain case control. Populasi penelitian adalah seluruh rumah tangga yang dijumpai anggota keluarganya menderita Chikungunya dan rumah tangga yang anggota keluarganya tidak menderita Chikungunya dengan sampel sebanyak 68 orang terdiri dari 34 kasus dan 34 kontrol. Pengumpulan data melalui wawancara dan observasi yang berpedoman pada kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi-square dan multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda pada taraf kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan variabel lingkungan rumah yaitu kawat kasa pada ventilasi dan variabel perilaku masyarakat yaitu sikap dan tindakan berpengaruh terhadap kejadian Chikungunya, sedangkan kerapatan dinding, langit-langit rumah, TPA dan kelembaban tidak berpengaruh. Hasil uji regresi logistik berganda diketahui bahwa variabel yang dominan berpengaruh terhadap Chikungunya adalah tindakan dengan nilai koefisien Exp (B) 4,779.
Disarankan kepada Dinas Kesehatan dan Puskesmas sebaiknya tetap mempertahankan upaya health promotion yang telah dilakukan terutama peningkatan informasi tentang Chikungunya. Meningkatkan penyuluhan yang lebih intensif sehingga dapat mengugah minat masyarakat dalam upaya partisipasi aktif dan peran serta masyarakat. Menganjurkan kepada masyarakat untuk menggunakan kawat kasa pada lubang angin dan jendela.
Kata Kunci : Chikungunya, Lingkungan Rumah, Perilaku
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Chikunguya is one of the contageous diseases causing high morbidity rate and problem of community health in some areas in Indonesia. This disease is caused the CHIK virus through the bites of Aedes aegypti and Aedes albopictus with the symptoms of sudden fever, pain in the joints especially in knee joints, ankles, toes and fingers accompanied with a skin rash. In 2012, there were 34 cases of Chikungunya in Nisam Subdistrict, Aceh Utara District.
The purpose of this observational analytical survey study with casecontrol design was to analyze the influence of home environment and behavior of community on the incident of Chikunguya in Nisam Subdistrict, Aceh Utara District. The population of this study was all of the families whose family members were suffering or not suffering from Chikunguya. The samples for this study were 68 persons consisting 34 for case group and 34 for control group. The data for this study were obtained through observation and questionnaire-based interviews. The data obtained were analyzed through univariate analysis, bivariate analysis with Chi-square test, and multivariate analysis with multiple logistic regression tests at level of confidence of 95%.
The result of this study showed that the variable of home environment (wire netting and ventilation) and the variable of behavior of community (attitude and action) had influence on the incident of Chikunguya, while wall density, house ceiling, garbage dump site, and humidity didi have any influence on the incident of Chikunguya. The result of multiple logistic regression tests showed that action with Exp coefficient value (B) of 4.779 was the variable which dominantly influenced the incident of Chikunguya.
The management of Aceh Utara District Health Service and Puskesmas (Community Health Center) should maintain the attempt of health promotion done especially the improvement of information about Chikunguya, should provide a more intensive extension that it can encourage the interest of community in active community participation, and the use of wire nettings on their ventilation and windows.
Keywords: Chikunguya, Home Environment, Behavior
Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Chikungunya sampai saat ini masih tetap menjadi salah satu penyakit
menular yang berisiko menyebabkan tingginya angka kesakitan serta masalah kesehatan masyarakat di sebagian daerah di Indonesia. Chikungunya adalah suatu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh virus Chikungunya (CHIK) termasuk dalam genus Alphavirus dari famili Togaviridae. Penyebaran virus Chikungunya bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus sebagai vektor potensial dalam penyebaran Chikungunya (Depkes, 2007).
Chikungunya merupakan suatu penyakit dimana keberadaannya sudah ada sejak lama tetapi kemudian merebak kembali (re-emerging disease). Dari sejarahnya, diduga penyakit Chikungunya pertama kali ditemukan di dunia tahun 1952 di Afrika pada suatu tempat yang dinamakan Makonde Plateau. Tempat ini merupakan daerah perbatasan Tanzania and Mozambique, kemudian terjadi di Uganda tahun 1963. Dari tahun 1952 sampai kini virus telah tersebar luas di daerah Afrika, menyebar ke Amerika dan Asia. Virus Chikungunya menjadi endemis di wilayah Asia Tenggara sejak tahun 1954. Pada akhir tahun 1960 virus berkembang di Thailand, Kamboja, Vietnam, Manila dan Burma. Tahun 1965 terjadi KLB di Srilanka (Balitbangkes Depkes, 2005).
Universitas Sumatera Utara

Angka insidensi di Indonesia sangat terbatas. Di Indonesias, KLB Chikungunya dilaporkan dan tercatat pertama kali di Samarinda pada tahun 1973. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1983, suatu rentetan epidemi CHIK terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan attack rate sekitar 70 – 90%. Dalam kurun waktu 5 tahun (2001 – 2005) kasus Chikungunya telah menyebar ke 11 Provinsi, yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Barat, dengan jumlah kasus sebanyak 12.695 penderita, yang tersebar di 38 kabupaten/kota, 90 kecamatan dan 134 desa/kelurahan. Pada tahun 2007 di Jawa Tengah, KLB Chikungunya yang ditemukan di 85 desa/kelurahan merupakan KLB dengan frekuensi tertinggi ketiga dengan angka serangan kasus (AR) 0,86% dan tidak ada yang meninggal (Depkes, 2007).
Selama tahun 2008, di Indonesia terjadi KLB Chikungunya di beberapa provinsi, ditemukan di Jawa Barat (718 kasus), Jawa Tengah (26 kasus) dan Jawa Timur (368 kasus). di Kalimantan (32 kasus), di Lampung (99 kasus) dan di Sumatera Selatan (581 kasus) serta di Sumatera Utara tercatat (444 kasus) (Aditama, 2009).
Penyebaran Chikungunya di Indonesia terjadi pada daerah endemis penyakit demam berdarah dengue karena vektor pembawa virus ditularkan oleh nyamuk yang sama yaitu Aedes aegypti dan Aedes albopictus. KLB sering terjadi pada awal dan akhir musim hujan. Banyaknya tempat perindukan nyamuk sangat
Universitas Sumatera Utara

berbahaya sekali karena bisa mempengaruhi peningkatan kejadian Chikungunya dan juga kedekatan tempat perindukan nyamuk tersebut dengan tempat tinggal manusia merupakan faktor risiko terjadinya Chikungunya (Depkes, 2007).
Di Propinsi Aceh, Chikungunya masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, dimana KLB Chikungunya pernah dilaporkan pada tahun 2001 kemudian hilang dan muncul kembali pada tahun 2009. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Propinsi Aceh, bulan Agustus tahun 2009 penderita Chikungunya mencapai 3.355 kasus di seluruh kabupaten/kota. Angka tertinggi terdapat di Kabupaten Aceh Tamiang dengan jumlah 1.200 kasus, menyusul berikutnya Kabupaten Aceh Timur dengan jumlah 1.100 kasus. Sementara di Kabupaten Pidie Jaya tercatat 128 kasus, di Lhokseumawe 212 kasus dan di Kabupaten Aceh Utara 715 kasus tanpa ada laporan kematian (Dinkes Propinsi Aceh, 2009).
Pada tahun 2010, di Aceh Subulussalam ditemukan kasus Chikungunya sebanyak 20 kasus, dimana prevalens rate 1,68 per 1000 penduduk dan pada tahun 2011, di Kabupaten Aceh Utara ditemukan kasus Chikungunya sebanyak 132 kasus dengan prevalens rate 0,27 per 1000 penduduk dan tidak ada yang meninggal. Sedangkan pada tahun 2012 di Kabupaten Bireuen ditemukan kasus Chikungunya sebanyak 123 kasus dengan prevalens rate 0,30 per 1000 penduduk dan tidak ada yang meninggal.
Universitas Sumatera Utara

Pada bulan November – Desember tahun 2012, berdasarkan laporan Puskesmas Nisam, ditemukan kasus Chikungunya sebanyak 34 kasus tanpa ada laporan kematian, sebagian besar kasus berumur ≥ 18 tahun yaitu 25 kasus (74%). Dengan perbandingan penderita Chikungunya antara laki-laki dan perempuan yaitu 13 kasus (38%) dan 21 kasus (62%). Dengan ditemukannya kasus baru Chikungunya tersebut, dikhawatirkan dapat memperburuk keadaan karena daerah tersebut termasuk daerah endemis Demam Berdarah Dengue (DBD) yang tiap tahunnya terjadi kasus DBD sehingga perlu mendapat perhatian dalam upaya penanggulangan (Puskesmas Nisam, 2012).
Kasus Chikungunya yang ditemukan di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara walaupun tidak menyebabkan kematian akan tetapi angka kesakitan cukup tinggi karena kondisi lingkungan yang mendukung sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat. Masyarakat menjadi cemas karena penyebaran Chikungunya yang cepat, dalam waktu singkat bisa menyerang banyak orang disertai dengan keluhan nyeri sendi yang hebat sehingga mengakibatkan penduduk mengalami kelumpuhan sementara dan produktivitas kerja menurun yang akhirnya berdampak pada faktor ekonomi masyarakat (Depkes, 2008).
Dalam setiap masalah kesehatan termasuk dalam upaya pemberantasan Chikungunya bahwasanya faktor lingkungan dan perilaku senantiasa sangat berperan penting khususnya dalam upaya pencegahan penyakit. Selain kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, upaya pengendalian vektor dalam mencegah kejadian Chikungunya bisa dilakukan dengan menghindari terjadinya kontak
Universitas Sumatera Utara

dengan nyamuk dewasa dan dengan memperhatikan faktor kebiasaan keluarga antara lain; kebiasaan tidur siang, penggunaan kelambu siang hari, pemakaian anti nyamuk siang hari dan kebiasaan menggantung pakaian bekas pakai yang bisa diubah ataupun disesuaikan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kasus Chikungunya terhadap salah satu anggota keluarga.
Penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kasus Chikungunya pada KLB yang dilakukan oleh Rumatora (2011) di Dusun Mentubang Desa Harapan Mulia Kabupaten Kayong Utara. Hasil penelitian diperoleh dua faktor berhubungan dengan kejadian Chikungunya, yaitu kebiasaan menggunakan kelambu dan kebiasaan menggantung pakaian dalam kamar. Variabel yang paling dominan pada kejadian Chikungunya adalah kebiasaan menggunakan kelambu.
Harahap (2012), dalam penelitiannya menyatakan bahwa pengetahuan, sikap dan peran petugas kesehatan berhubungan terhadap pemberantasan sarang nyamuk Chikungunya melalui metode PSN. Variabel yang paling dominan adalah peran petugas kesehatan.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh lingkungan rumah dan perilaku masyarakat terhadap kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara.
Universitas Sumatera Utara

1.2. Permasalahan Angka kejadian Chikungunya yang terjadi di Kecamatan Nisam
merupakan suatu fenomena yang harus diketahui secara pasti tentang berbagai faktor risiko yang memengaruhi kejadian Chikungunya. Ada beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian Chikungunya diantaranya adalah kondisi lingkungan rumah dan perilaku masyarakat dalam pengendalian penyakit tersebut.
1.3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh lingkungan rumah
(kerapatan dinding, kawat kasa pada ventilasi, langit-langit rumah, tempat penampungan air (TPA), kelembaban) dan perilaku masyarakat (pengetahuan, sikap, tindakan) terhadap kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara.
1.4. Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada pengaruh lingkungan rumah
(kerapatan dinding, kawat kasa pada ventilasi, langit-langit rumah, tempat penampungan air, kelembaban) dan perilaku masyarakat (pengetahuan, sikap, tindakan) terhadap kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara.
Universitas Sumatera Utara

1.5. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat ke berbagai
pihak antara lain: 1. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara dan Puskesmas Nisam sebagai
bahan masukan dalam meningkatkan penyuluhan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) dan juga sebagai bahan referensi dalam penyusunan program pengendalian Chikungunya. 2. Bagi masyarakat, sebagai informasi mengenai pentingnya upaya pengendalian Chikungunya terhadap lingkungan di tempat tinggal mereka. 3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan tentang Manajemen Kesehatan Lingkungan Industri yang berkaitan dengan kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara. 4. Bagi penelitian selanjutnya, hasil penelitian diharapkan dapat menambah sumber kepustakaan dan sebagai data dasar dalam melakukan penelitian sejenis pada masa-masa yang akan datang berkaitan dengan Chikungunya.
Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Chikungunya 2.1.1. Definisi Chikungunya
Chikungunya adalah sejenis demam virus yang disebabkan alphavirus yang disebarkan oleh gigitan nyamuk dari spesies Aedes aegypti. Namanya berasal dari sebuah kata dalam bahasa Swahili yang berarti “yang melengkung ke atas” merujuk kepada tubuh yang membungkuk akibat gejala-gejala arthritis (Anies, 2006).
Chikungunya adalah penyakit mirip demam dengue yang disebabkan oleh virus Chikungunya dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes africanus. Chikungunya dalam bahasa Swahili berarti kejang urat. Istilah lain penyakit ini adalah dengue, dyenge, abu rokap dan demam tiga hari. Penyakit ini ditandai dengan demam, mialgia atau artralgia, ruam kulit, leukopenia dan imfadenopati karena vektornya nyamuk maka Chikungunya tergolong arthropod-borne disease yaitu penyakit yang disebabkan oleh artropoda (Widoyono, 2008).
Menurut Soedarto (2009), Chikungunya adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Chikungunya yang menimbulkan gejala mirip demam dengue tetapi jarang menyebabkan pendarahan. Penderita mengeluh nyeri hebat pada tulang-tulangnya (break-bone fever) sehingga penyakit ini di masyarakat
Universitas Sumatera Utara

dikenal sebagai flu tulang. Chikungunya ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti vektor utama dan Aedes albopictus vektor potensial.
Chikungunya adalah penyakit yang mirip dengan Dengue hemorrhagic fever. Penyakit ini diidentifikasi dengan timbulnya panas yang disertai arthritis (radang sendi) yang terjadi pertama pada pergelangan tangan, lutut, pergelangan kaki dan sendi kecil pada ekstremitas yang berlangsung selama beberapa hari sampai bulanan (Sarudji, 2010). 2.1.2. Etiologi dan Patogenesis
Virus Chikungunya adalah virus yang termasuk dalam genus virus alfa dari family Togaviridae. Virus ini berbentuk sferis dengan ukuran diameter sekitar 42 nm. Virus Chikungunya bersama dengan virus O’nyong-nyong dari genus virus alfa dan virus penyebab penyakit „Demam Nil Barat‟ dari genus virus flavi menyebabkan gejala penyakit mirip dengue.
Sebelum menyerang manusia 200 – 300 tahun yang lalu, virus ini telah menyerang primata di hutan dan padang Savana di Afrika. Hewan primata yang sering terjangkit adalah baboon (Papio sp) dan Cercopithecus sp. Siklus di hutan diantara satwa primata dilakukan oleh Aedes sp (Widoyono, 2008).
Menurut Soedarto (2009), virus penyebab Chikungunya termasuk kelompok virus RNA yang mempunyai selubung merupakan anggota grup A arbovirus, yaitu alphavirus dari Togaviridae. Dengan mikroskop elektron virus ini menunjukkan bentuk virion yang sferis dan kasar atau berbentuk polygonal dengan garis tengah 40 – 45 nm dan inti yang berdiameter 25 – 30 nm.
Universitas Sumatera Utara

Penyebaran virus Chikungunya tersebar luas di Afrika, Asia Selatan dan Asia Tenggara. Vektor utama penular Chikungunya adalah nyamuk Aedes aegypti, sedangkan sumber penularan adalah manusia dan primata. 2.1.3. Gejala Klinis
Masa inkubasi 3 – 5 hari. Permulaan penyakit biasanya; tiba-tiba timbul panas tinggi, sakit kepala, nyeri otot, nyeri persendian dan timbul bercak pendarahan (rash). Nyeri sendi pada penderita dewasa umumnya lebih berat daripada anak-anak. Sendi bekas trauma lebih mudah diserang. Sendi yang diserang Chikungunya, bengkak dan nyeri bila ditekan. Tanda-tanda peradangan sendi lain biasanya tidak ditemukan. Rash kulit biasa ditemukan pada permulaan sakit tetapi biasa juga timbul beberapa hari kemudian. Rash seringnya ditemukan pada badan dan anggota Limpa dan Liver biasanya tidak teraba (Yatim, 2007).
Demam Chikungunya atau flu tulang (break-bone fever) mempunyai gejala dan keluhan penderita mirip demam dengue, namun lebih ringan dan jarang menimbulkan pendarahan. Keluhan utama yang dialami penderita adalah artralgia yang merasakan nyeri pada tulang-tulang. Selain itu pembuluh konjungtiva mata penderita tampak nyata dan disertai demam mendadak selama 2 – 3 hari. Pemeriksaan serum penderita pada uji hemaglutinasi inhibisi atau uji netralisasi menunjukkan tingginya titer antibodi terhadap virus Chikungunya (Soedarto, 2009).
Menurut Widoyono (2008), masa inkubasi Chikungunya adalah 1 – 6 hari. Gejala penyakit diawali dengan demam mendadak kemudian diikuti munculnya
Universitas Sumatera Utara

ruam kulit dan limfadenopati, artralgia, mialgia atau arthritis yang merupakan tanda dan gejala khas Chikungunya. Penderita dapat mengeluhkan nyeri atau ngilu bila berjalan kaki karena serangan pada sendi-sendi kaki. Dibandingkan dengan DBD, gejala Chikungunya muncul lebih dini. Perdarahan jarang terjadi, diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan laboratorium yaitu adanya antibodi IgM dan IgG dalam darah. 2.1.4. Cara Penularan
Penularan Chikungunya dapat terjadi bila penderita yang mengandung virus Chikungunya digigit nyamuk penular maka virus dalam darah akan ikut terisap masuk dalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar diberbagai jaringan tubuh nyamuk didalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1 minggu setelah menghisap darah penderita (extrinsic incubation period), nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain. Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya sehingga selain menjadi vektor juga menjadi reservoir dari virus Chikungunya (Depkes, 2001).
Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menggigit (menusuk), sebelum nyamuk menghisap darah akan mengeluarkan air liur melalui saluran alat tusuknya (proboscis) agar darah yang dihisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus Chikungunya dipindahkan dari nyamuk ke orang lain. Seseorang yang telah terinfeksi oleh virus Chikungunya melalui gigitan nyamuk akan mengalami masa inkubasi selama 2 – 12 hari tetapi umumnya 3 – 7 hari, selama masa inkubasi ini virus berada di dalam darah yang disebut dengan fase akut/viremia
Universitas Sumatera Utara

(5 – 7 hari). Penderita yang dalam masa viremia inilah yang dapat menularkan Chikungunya ke orang lain selama terdapat vektor penular penyakit (Depkes, 2001).
Faktor-faktor yang memegang peranan dalam penularan infeksi virus Chikungunya yaitu manusia, vektor perantara dan lingkungan. Virus Chikungunya ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, nyamuk lain mungkin bisa berperan sebagai vektor namun perlu penelitian lebih lanjut. Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus tersebut dapat mengandung virus Chikungunya pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia yaitu 2 hari sebelum demam sampai 5 hari setelah demam timbul kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembangbiak dalam waktu 8 – 10 hari (extrinsic incubation period) sebelum menimbulkan penyakit (Depkes, 2001). 2.1.5. Diagnosis Pasti dan Banding
Diagnosis Chikungunya ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Dari anamnesis ditemukan keluhan demam, nyeri sendi, nyeri otot, sakit kepala, rasa lemah, mual, muntah, fotofobia serta daerah tempat tinggal penderita yang berisiko terkena Chikungunya. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya ruam makulopapuler, limfadenopati servikal dan injeksi konjungtiva. Pada pemeriksaan hitung lekosit, beberapa penderita mengalami lekopenia dengan limfositosis relatif. Jumlah trombosit dapat
Universitas Sumatera Utara

menurun sedang dan laju endap darah akan meningkat. C-reactive protein positif pada kasus-kasus akut (Eppy, 2010).
Berbagai pemeriksaan laboratorium tersedia untuk membantu menegakkan diagnosis seperti isolasi virus dari darah, tes serologi klasik seperti uji hambatan aglutinasi/HI, complement fixation/CF dan serum netralisasi; tes serologi modern dengan teknik IgM capture ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay); teknik super modern dengan pemeriksaan PCR serta teknik yang paling baru dengan RT-PCR (2002). Dengan menggunakan tes serologi klasik diagnosis sangat tergantung pada penemuan peningkatan titer antibodi sesudah sakit. Biasanya pada serum yang diambil saat hari ke-5 demam tidak ditemukan antibodi HI, CF ataupun netralisasi. Antibodi netralisasi dan HI baru ditemukan pada serum yang diambil saat 2 minggu atau lebih sesudah serangan panas timbul. Diagnosis yang akurat dapat diperoleh dari serum yang sudah diambil sesudah sakit dengan metode IgM capture ELISA. Isolasi virus dapat dibuat dengan menyuntikkan serum akut dari kasus tersangka pada mencit atau kultur jaringan. Diagnosis pasti adanya infeksi virus Chikungunya ditegakkan bila didapatkan salah satu hal antara lain: 1) Peningkatan titer antibodi 4 kali lipat pada uji hambatan aglutinasi (HI); 2) Virus Chikungunya (CHIK) pada isolasi virus; 3) IgM capture ELISA.
Viral arthropaty dapat diketahui dan dijumpai pada beberapa infeksi virus seperti dengue, Mayora (Mayora fever, Uruma fever), Ross River, Sindbiss (Ockelbo), Baermah forest dan O`nyong-nyong serta penyakit virus lainnya (penyakit pogosta, demam karelian). Infeksi virus tersebut merupakan diagnosis
Universitas Sumatera Utara

banding dari penyakit Chikungunya. Diagnosis banding Chikungunya yang paling mendekati adalah demam dengue atau demam berdarah dengue (Soegijanto, 2004). 2.1.6. Pengobatan
Chikungunya pada dasarnya bersifat self limiting disease artinya penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Hingga saat ini, belum ada vaksin maupun obat khusus untuk Chikungunya, oleh karenanya pengobatan ditujukan untuk mengatasi gejala yang mengganggu (simtomatis). Obat-obatan yang dapat digunakan adalah obat antipiretik, analgetik (non-aspirin analgetik; non steroid anti inflamasi drug parasetamol, antalgin, natrium diklofenak, piroksikam, ibuprofen, obat anti mual dan muntah adalah dimenhidramin atau metoklopramid). Aspirin dan steroid harus dihindari. Terapi lain disesuaikan dengan gejala yang dirasakan (Soedarto, 2007).
Bagi penderita dianjurkan untuk makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat terutama protein serta minum sebanyak mungkin. Memperbanyak konsumsi buah-buahan segar, sebaiknya minum jus buah segar. Vitamin peningkat daya tahan tubuh dapat bermanfaat untuk menghadapi penyakit ini. Selain vitamin, makanan yang mengandung cukup banyak protein dan karbohidrat juga meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang baik dan istirahat cukup bisa membuat rasa ngilu pada persendian cepat hilang. Disarankan juga minum banyak air putih untuk menghilangkan gejala demam (Anies, 2006).
Universitas Sumatera Utara

2.2. Nyamuk Penular Chikungunya

2.2.1. Klasifikasi Nyamuk

Nyamuk yang menjadi vektor penular Chikungunya adalah nyamuk Aedes

aegypti dan Aedes albopictus. Aedes aegypti yang paling berperan utama (primary

vector) dalam penularan Chikungunya karena nyamuk tersebut hidup di dalam

dan sekitar tempat tinggal manusia sehingga banyak kontak dengan manusia.

Aedes aegypti adalah spesies nyamuk yang hidup di dataran rendah beriklim

tropis sampai sub tropis (Anggraeni, 2010).

Menurut Richard dan Davis (1977) dalam Soegijanto (2006), kedudukan

nyamuk Aedes aegypti dalam klasifikasi hewan adalah sebagai berikut:

Filum

: Arhropoda

Kelas

: Insecta

Bangsa

: Diptera

Suku

: Culicidae

Marga

: Aedes

Jenis : Aedes aegypti L

2.2.2. Morfologi Nyamuk

Nyamuk Aedes aegypti berukuran lebih kecil dibandingkan dengan

rata-rata nyamuk lain. Ukuran badan 3 – 4 mm, berwarna hitam dengan hiasan

bintik-bintik putih di badannya dan pada kakinya warna putih melingkar. Nyamuk

dapat hidup berbulan-bulan. Nyamuk jantan tidak menggigit manusia, ia makan

buah. Hanya nyamuk betina yang menggigit yang diperlukan untuk membuat

Universitas Sumatera Utara

telur. Telur nyamuk Aedes aegypti diletakkan induknya menyebar berbeda dengan telur nyamuk lain yang dikeluarkan berkelompok. Nyamuk bertelur di air bersih. Telur menjadi pupa beberapa minggu. Nyamuk Aedes aegypti bila terbang hampir tidak berbunyi sehingga manusia yang diserang tidak mengetahui kehadirannya, menyerang dari bawah atau dari belakang dan terbang sangat cepat. Telur nyamuk Aedes aegypti dapat bertahan lama dalam kekeringan. Nyamuk Aedes

Dokumen yang terkait

Faktor-faktor Pelaksanaan Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2013

2 105 60

Pengaruh Metode Ceramah dan Media Leaflet terhadap Pengetahuan dan Sikap Masyarakat untuk mencegah TB paru di Desa Meunasah Meucat Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2014

4 115 119

Pengaruh Lingkungan Rumah dan Perilaku Masyarakat terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara

0 33 173

Hubungan Sanitasi Lingkungan Perumahan dan Perilaku Masyarakat Terhadap Kejadian Penyakit Filariasis di Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2005

0 35 181

Hubungan Karakteristik Masyarakat Petani Dengan Upaya Pencegahan Penyakit Filariasis Di Desa Peunayan Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara

0 30 98

Pengaruh Gaya Hidup terhadap Kepuasan Konsumen Blackberry di Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara

0 0 7

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Promosi Kesehatan - Pengaruh Metode Ceramah dan Media Leaflet terhadap Pengetahuan dan Sikap Masyarakat untuk mencegah TB paru di Desa Meunasah Meucat Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2014

0 0 33

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Pengaruh Metode Ceramah dan Media Leaflet terhadap Pengetahuan dan Sikap Masyarakat untuk mencegah TB paru di Desa Meunasah Meucat Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2014

0 0 8

Pengaruh Lingkungan Rumah dan Perilaku Masyarakat terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara

0 0 44

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Chikungunya 2.1.1. Definisi Chikungunya - Pengaruh Lingkungan Rumah dan Perilaku Masyarakat terhadap Kejadian Chikungunya di Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara

0 0 37

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

97 2717 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 704 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 591 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 390 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 528 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

43 893 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

43 810 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 494 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 735 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 882 23