Analisis Brand Image Handphone Nokia (Studi Kasus Pada Mahasiswa S1 IPB)

1

I.

1.1.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Perkembangan telekomunikasi diawali dengan adanya penemuan telepon

konvensional oleh Alexander Graham Bell tahun 1876.

Dengan adanya

penemuan ini maka telepon komersialpun mulai dikembangkan. Perkembangan
yang

pesat

membuat

para

ilmuwan

mengembangkan

telepon

sistem

telekomunikasi tanpa kabel. Usaha ilmuwan berhasil dengan mengembangkan
telepon selular atau lebih dikenal dengan Handphone (HP). Pada saat ini
telekomunikasi didunia semakin berkembang. Pada awalnya, HP hanya memiliki
fitur-fitur yang terbatas namun sejalan dengan perkembangan zaman, HP
memiliki berbagai macam fitur yang canggih agar lebih menarik minat konsumen.
Tabel 1. Data pengguna handphone di seluruh dunia
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama Negara
China
India
Amerika
Rusia
Brazil
Indonesia
Jepang
Jerman
Italia
Pakistan

Jumlah pengguna telepon selular (juta)
585
291
259
172
134
116
103
103
90
86

Sumber : Wireless Intelligent (2010)
Perkembangan HP di dunia semakin pesat. Tak terkecuali di Indonesia.
Jumlah pengguna HP pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 116 juta pelanggan.
Bisa dikatakan bahwa sekitar separuh dari seluruh populasi masyarakat Indonesia
merupakan pengguna HP (Dalam pendataan penduduk oleh Kementerian Dalam
Negeri, jumlah penduduk Indonesia terhitung 31 Desember 2010 mencapai
259.940.857 orang). Dari Tabel 1, terlihat bahwa Indonesia menempati peringkat
ketiga pasar HP terbesar di Asia setelah Cina dan India. Ada beberapa faktor
yang mempengaruhi perkembangan pengguna HP di Indonesia.

Faktor yang

mempengaruhi tersebut di antaranya adalah layanan jaringan diperkirakan akan

2

tumbuh semakin cepat dan baik dikarenakan investasi yang agresif dalam bidang
infrastruktur telekomunikasi. Faktor lain meningkatnya permintaan yaitu,
persaingan perusahaan HP yang semakin ketat membuat perusahaan bersaing
dalam segi harga sehingga produknya terjual dengan harga yang cukup
kompetitif. Harga yang relatif murah dan mutu yang baik akan berdampak pada
banyaknya penduduk dengan pendapatan rendah atau menengah menjadi
pengguna HP.

Gambar 1. Pertumbuhan pengguna telepon selular di Indonesia
(Teknojurnal, 2011)
Dalam studi yang dilakukan oleh lembaga riset informa Telecom dan
Media pada situs Bisnis Indonesia Online (Teknojurnal 2011), pertumbuhan
pengguna HP di Indonesia tahun 2010 mengalami peningkatan yang signifikan
sebesar 3 kali lipat bila dibandingkan tahun 2005. Sedangkan pengguna
perangkat telepon berkabel mengalami penurunan lebih dari 50% sejak tahun
2005.

Meningkatnya penawaran terhadap

HP di Indonesia seiring dengan

meningkatnya permintaan terhadap produk HP tersebut. Selain perusahaan HP
gencar dalam menawarkan produknya, perusahaan menawarkan berbagai macam
fitur menarik yang dapat meningkatkan minat beli konsumen. Konsekuensinya
perusahaan dapat meningkatkan penjualan produknya. Dengan adanya peluang
pasar yang terbuka lebar dan pangsa pasar yang lebar, mengakibatkan banyak
perusahaan HP baru yang ikut meramaikan pasar HP di Indonesia. Pada akhirnya,
persaingan juga meningkat seperti terlihat dalam Tabel 2.

3

Tabel 2. Market share handphone pada tahun 2009 dan 2010
No Perusahaan

1
2
3
4

Penjualan
thn 2009

Market
share
2009 (%)
36,4
19,5
10,1
2,8

Penjualan
thn 2010

Nokia
440.881,6
461.318,2
Samsung
235.772,0
281.065,8
LG
121.972,1
114.154,6
Research
34.346,6
47.451,6
in Motion
5
Apple
24.889,7
2,1
46.598,3
6
Sony
54.956,6
4,5
41.819,2
Ericson
7
Motorola
58.475,2
4,8
38.553,7
8
ZTE
16.026,1
1,3
28.768,7
9
HTC
10.811,9
0,9
24.688,4
10
Huawei
13.490,6
1,1
23.814,7
11
Lainnya
199.617,2
16,5
488.569,3
Total
1.211.239,6
100
1.596.802,4
Sumber : Gartner dalam Teknojurnal (Februari 2011)

Market
share
2010 (%)
28,9
17,6
7,1
3,0

Perubahan
(%)

2,9
2,6

0.8
-1.9

2,4
1,8
1,5
1,5
30,6
100

-2.4
0.5
0.6
0.4
14.1

-7.5
-1.9
-3
0.2

Nokia merupakan salah satu penyedia produk HP yang mapan di
Indonesia. Nokia memiliki market share terbesar pertama bila dibandingkan
merek-merek HP lainnya. Meskipun market share Nokia pada tahun 2010
mengalami penurunan sebesar 7.5 persen dibanding tahun 2009, namun Nokia
tetap menjadi pemimpin pasar HP diseluruh dunia.
Tabel 3. Top Brand Index kategori Mobile Phone
No Merek
Top Brand Index (%)
1 Nokia
72.0
2 Sony Ericson
9.6
3 Blackberry
4.3
4 Samsung
3.3
5 Huawei
2.4
6 Motorola
1.5
Sumber : Majalah Marketing edisi Februari 2010
Seperti diinformasikan oleh Majalah Marketing pada Februari 2010, Nokia
menempati urutan pertama Top Brand Index kategori Mobile Phone dengan
persentase sebesar 72% mengalahkan pesaingnya. Untuk memenuhi keinginan
pasar, Nokia menyediakan berbagai macam HP sesuai perkembangan teknologi.
Nokia terus mengikuti keinginan pasar agar dapat mempertahankan eksistensinya
sebagai HP nomor satu di dunia. Perusahaan ini menghasilkan HP dengan fitur-

4

fitur yang dapat menarik minat pelanggan dengan cara menciptakan HP Qwerty
yang sedang banyak diburu konsumen. Selain itu, Nokia juga menciptakan
Smartphone yang sedang banyak diminati masyarakat.
Brand image atau biasa disebut citra merek dapat digunakan perusahaan
untuk mempengaruhi persepsi konsumen terhadap produk yang di hasilkan.
Nokia merupakan perusahaan HP yang telah mapan di Indonesia. Nokia
melakukan citra merek terhadap produknya agar mereknya selalu diingat dengan
baik oleh konsumen ditengah persaingan yang semakin ketat.

Ketatnya

persaingan pasar HP membuat Nokia Corporation harus mampu membedakan
dan memposisikan produknya agar konsumen mampu melihat diferensiasi yang
ditawarkan produknya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan
memperluas pasar yaitu dengan cara lebih menfokuskan kepada kaum muda yang
dianggap memiliki prospek yang baik dan memiliki peluang yang masih terbuka
lebar. Fokus menggarap segmen tertentu dapat memberikan citra merek yang
cukup kuat bagi konsumen sasaran maupun konsumen lain.
1.2.

Perumusan Masalah
Golongan kaum muda menempati urutan teratas sebagai konsumen HP di

Indonesia. Jumlah pengguna HP yang berumur 15-19 tahun meningkat hampir 3
kali lipat pada tahun 2010 sejak tahun 2005.

Karakter anak muda yang senang

mencoba hal baru termasuk HP dapat menjadi peluang besar bagi perusahaan HP
di Indonesia. Hal ini menjadikan golongan muda sebagai target utama bagi
perusahaan HP untuk memperluas pangsa pasar. Beragam pesaing baru mulai
bermunculan untuk merebut pangsa pasar dari kalangan muda seperti Sony
Ericson, Samsung, Blackberry, LG, Apple, Nexian, IMO, K-Touch dll.

5

Permintaan Hp (juta)

Umur

Gambar 2. Konsumen Handphone di Indonesia Berdasarkan Umur
(Teknojurnal, 2011)
Di antara banyaknya merek HP, Nokia harus tetap menjaga dan
meningkatkan citra yang kuat bagi produknya. Karakteristik golongan muda yang
senang mencoba hal baru dan kritis harus ditanggapi secara baik oleh Nokia. Hal
ini perlu dilakukan agar persepsi kaum muda akan citra merek Nokia tetap baik
dan mendorong kaum ini agar loyal terhadap produk Nokia.
Mengacu pada permasalahan yang telah disampaikan, maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana brand image yang dimiliki oleh Nokia?
2. Bagaimana brand image

Nokia pada persaingan pasar handphone

lain?
3. Bagaimana strategi yang dilakukan Nokia Corporation agar dapat
bertahan dipasar sasaran?
1.3.

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah :
1. Menganalisis brand image yang dimiliki oleh Nokia.
2. Menganalisis brand image Nokia pada persaingan pasar handphone
lain.

6

3. Menganalisis strategi yang dilakukan Nokia Corporation agar dapat
bertahan dipasar sasaran.
1.4.

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak.

Adapun manfaat itu adalah:
a. Bagi perusahaan : hasil penelitian dapat digunakan sebagai data
maupun informasi untuk strategi pemasaran yang akan datang.
b. Bagi peneliti : penelitian ini dapat digunakan untuk menambah ilmu
pengetahuan serta sebagai wadah pengaplikasian ilmu yang telah
didapatnya mengenai

citra merek

dan pengaruhnya terhadap

pembelian.
c. Bagi akademik : penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan
penelitian-penelitian

selanjutnya

mengenai

citra

merek

serta

pengaruhnya terhadap pembelian.
1.5.

Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini membahas mengenai citra merek yang dimiliki Nokia serta

membahas citra merek yang dimiliki Nokia pada persaingan pasar HP dengan
pesaing lain.

Batasan pesaing Nokia adalah merek HP lainnya yaitu Sony

Ericsson, Samsung, LG dan Blackberry.

7

II.

2.1.

TINJAUAN PUSTAKA

Pemasaran
Kotler dan Amstrong (2008), mendefinisikan pemasaran adalah proses

sosial dan manajerial di mana pribadi atau organisasi memperoleh apa yang
mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan dan pertukaran dengan nilai
lain. Dalam konteks bisnis yang sempit, pemasaran mencakup penciptaan
hubungan pertukaran muatan nilai dengan pelanggan yang menguntungkan.
Secara sempit, pemasaran (marketing) adalah proses dimana perusahaan
menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan
pelanggan, dengan tujuan menangkap nilai dari pelanggan sebagai imbalannya.
Menurut American Marketing Association dalam Kotler dan Keller
(2007), pemasaran adalah satu fungsi organisasi dan seperangkat proses untuk
menciptakan, mengkomunikasikan, dan menyerahkan nilai kepada pelanggan dan
mengelola hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan
para pemilik sahamnya.
2.1.1

Strategi Pemasaran
Menurut Kotler dan Amstrong (2008), strategi pemasaran adalah logika

pemasaran dimana unit bisnis berharap untuk mencapai tujuan pemasarannya.
Perusahaan memutuskan pelanggan mana yang akan dilayani (segmentasi dan
penetapan target) dan bagaimana cara perusahaan melayaninya (diferensiasi dan
positioning). Perusahaan tahu bahwa mereka tidak dapat melayani semua
konsumen dalam pasar dengan baik. Oleh karena itu perlu proses perencanaan
pemilihan dan pelayanan konsumen tertentu. Proses ini melibatkan segmentasi
pasar, penentapan target pasar, diferensiasi dan positioning.
Segmentasi pasar adalah membagi pasar menjadi kelompok kecil dengan
kebutuhan, karakteristik atau perilaku berbeda yang mungkin memerlukan produk
atau bauran pemasaran tersendiri. Segmentasi dapat dilakukan dengan beberapa
cara. Kotler dan Amstrong (2008), menetapkan empat variabel utama untuk
mensegmentasi konsumen yang ada, yaitu berdasarkan geografis, demografis,
psikografis dan perilaku. Sekarang ini para pengusaha jarang membatasi analisis

8

segmentasi mereka menjadi hanya satu atau beberapa variabel segmentasi. Tetapi
pengusaha

ini

menggunakan

multisegmentasi

dalam

usahanya

untuk

mengidentifikasikan kelompok sasaran yang lebih kecil dan lebih terdefinisi.
Penetapan target pasar adalah proses mengevaluasi daya tarik masingmasing segmen pasar dan memilih satu atau lebih segmen untuk dimasuki. Dalam
penetapan pasar sasaran, perusahaan harus memperhatikan sumber daya
perusahaan, tingkat variabilitas produk, tahap siklus hidup produk, variabilitas
pasar, dan strategi pemasaran perusahaan pesaing.
Diferensiasi adalah membedakan penawaran pasar perusahaan yang
sesungguhnya untuk menciptakan nilai pelanggan yang unggul.

Positioning

adalah pengaturan produk untuk menduduki tempat yang jelas, berbeda, dan
diinginkan produk pesaing dalam pikiran konsumen sasaran.
2.1.2

Bauran Pemasaran
Menurut Kotler dan Amstrong (2008), bauran pemasaran adalah kumpulan

alat pemasaran taktis terkendali yang dipadukan perusahaan untuk menghasilkan
respons yang diinginkan di pasar sasaran. Elemen-elemen alat pemasaran dapat
dikelompokkan menjadi 4P, yaitu: product, place, promotion, dan price.
1. Product adalah kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan
perusahaan kepada pasar sasaran. Barang dan jasa dikombinasikan
sedemikian rupa agar pelanggan sasaran tertarik untuk membeli karena
produk yang ditawarkan dapat memenuhi kebutuhan mereka.
2. Place meliputi kegiatan perusahaan yang membuat produk tersedia
bagi pelanggan sasaran. Hal ini terkait dengan distribusi barang atau
penempatan ritel-ritel pada daerah tertentu untuk menggapai pelanggan
sasaran.
3. Promotion adalah aktivitas yang menginformasikan manfaat produk
dan membujuk pelanggan untuk membeli.

Hal ini terkait dengan

integrated marketing communication yang tidak hanya membujuk
pelanggan namun juga membentuk opini publik dan citra suatu produk
ataupun perusahaan.
4. Price adalah jumlah uang yang harus dibayarkan pelanggan untuk
memperoleh produk. Harga merupakan kekuatan otoritas perusahaan

9

untuk menaikkan atau menurunkan agar pelanggan datang untuk
membeli barang atau jasa yang ditawarkan.
2.2.

Produk
Menurut Kotler dan Amstrong (2008), definisi produk (product) adalah

segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar agar menarik perhatian,
penggunaan, atau konsumsi yang dapat memuaskan suatu keinginan atau
kebutuhan. Produk mencakup lebih dari sekedar barang-barang yang berwujud
(tangible). Dalam arti luas, produk meliputi objek-objek fisik, jasa, acara, orang,
tempat, organisasi, ide, atau bauran entitas-entitas. Produk adalah elemen kunci
dalam keseluruhan penawaran pasar. Perencanaan bauran pemasaran dimulai
dengan merumuskan penawaran yang memberikan nilai bagi pelanggan sasaran.
Penawaran menjadi dasar perusahaan dalam membangun hubungan yang
menguntungkan dengan pelanggan.
Menurut Garvin dalam Umar (2005), untuk menentukan dimensi kualitas
produk berupa barang maka dapat melalui delapan dimensi yaitu :
1.

Performance, adalah hal-hal yang berkaitan dengan aspek fungsional
suatu

barang

dan

merupakan

karakteristik

utama

yang

dipertimbangkan pelanggan dalam membeli barang tersebut.
2.

Features, yaitu aspek performasi yang berguna untuk menambah
fungsi

dasar,

berkaitan

dengan

pilihan-pilihan

produk

dan

pengembangannya.
3.

Reliability, adalah hal-hal yang berkaitan dengan probabilitas suatu
barang berhasil menjalankan fungsinya setiap kali digunakan dalam
periode waktu dan kondisi tertentu.

4.

Conformance, adalah hal-hal

yang berkaitan dengan tingkat

kesesuaian terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya
berdasarkan keinginan pelanggan. Konfirmasi merefleksikan derajat
ketepatan antara karakteristik desain produk dengan karakteristik
kualitas standar yang telah ditetapkan.
5.

Durability, adalah hal yang mereflesikan umur ekonomis berupa
ukuran daya tahan atau masa pakai barang.

10

6.

Serviceability, adalah karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan,
kompetensi, kemudahan, dan akurasi dalam memberikan layanan
untuk perbaikan barang.

7.

Aesthetics, adalah karakteristik yang bersifat subyektif mengenai
nilai-nilai estetika dari preferensi individual.

8.

Fit and finish, adalah sifat subyektif yang berkaitan dengan perasaan
pelanggan mengenai keberadaan produk tersebut sebagai produk yang
berkualitas.

2.3.

Merek
Menurut American Marketing Association dalam Rangkuti (2004) merek

adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau desain, atau kombinasi semuanya, yang
dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa seseorang atau sekelompok
penjual dan untuk membedakan dari barang dan jasa pesaing. Dengan demikian,
merek menjadi tanda pengenal penjual atau pembuat.

Penjual diberikan hak

eksklusif untuk menggunakan merek selamanya menurut Undang-undang merek
dagang No.15 tahun 2001. Jangka waktu perlindungan untuk merek adalah
sepuluh tahun dan berlaku surut sejak tanggal penerimaan permohonan merek
bersangkutan dan dapat diperpanjang, selama merek tetap digunakan dalam
perdagangan.
Menurut Rangkuti (2004), merek memiliki enam tingkat pengertian yaitu:
1. Atribut. Setiap merek memiliki atribut. Atribut ini perlu dikelola dan
diciptakan agar pelanggan dapat mengetahui dengan pasti atribut-atribut
apa saja yang terkandung dalam suatu merek.
2. Manfaat. Selain atribut, merek juga memiliki serangkaian manfaat.
Produsen harus dapat menerjemahkan atribut menjadi manfaat fungsional
maupun manfaat emosional.

Selain itu, atribut-atribut lain juga harus

dapat diterjemahkan menjadi manfaat yang dapat langsung dirasakan oleh
konsumen.
3. Nilai.

Merek juga menyatakan sesuatu tentang nilai bagi produsen.

Merek yang memiliki nilai tinggi akan dihargai oleh konsumen sebagai

11

merek yang berkelas sehingga dapat mencerminkan siapa pengguna merek
tersebut.
4. Budaya. Merek juga mewakili budaya tertentu. Misalnya suatu produk
diasosiasikan dengan budaya-budaya tertentu.
5. Kepribadian. Merek juga memiliki kepribadian, yaitu kepribadian bagi
penggunanya. Jadi diharapkan dengan menggunakan merek, kepribadian
pengguna akan tercermin kebersamaan dengan merek yang dia gunakan.
6. Pemakai. Merek juga menunjukkan jenis konsumen pemakai merek
tersebut. Itulah sebabnya para pemasar selalu menggunakan anologi
orang-orang terkenal untuk penggunaan mereknya.
2.3.1

Brand Awareness, Brand Association, dan Brand Image
Brand awareness adalah kesanggupan seorang calon pembeli untuk

mengenali, mengingat kembali suatu merek sebagai bagian dari suatu kategori
produk tertentu (Durianto, 2004).

Tingkat kesadaran merek secara berurutan

dapat dilihat dalam suatu piramida seperti pada Gambar 3.

Gambar 3. Piramida Brand Awareness (Aaker dalam Rangkuti, 2004)
Menurut Aaker dalam Rangkuti (2004), ada 4 tingkatan brand awareness yaitu:
1. Unaware of brand (tidak menyadari merek)
Merupakan tingkat yang paling rendah dalam piramida kesadaran merek. Dalam
tingkat ini konsumen tidak menyadari akan adanya suatu merek.
2. Brand recognition (pengenalan merek)
Tingkat minimal dari kesadaran merek. Hal ini penting pada saat seorang pembeli
memilih suatu merek pada saat melakukan pembelian.

12

3. Brand recall (pengingatan kembali terhadap merek)
Pengingatan kembali terhadap merek didasarkan pada permintaan seseorang untuk
menyebutkan merek tertentu dalam suatu kelas produk.

Hal ini diistilahkan

dengan pengingatan kembali tanpa bantuan, karena berbeda dari tugas
pengenalan, responden tidak perlu dibantu untuk memunculkan merek tersebut.
4. Top of mind (puncak pikiran)
Apabila seseorang ditanya secara langsung tanpa diberi bantuan pengingatan dan
orang tersebut dapat menyebutkan satu nama merek, maka merek yang paling
banyak disebutkan pertama kali merupakan puncak pikiran. Dengan kata lain,
merek tersebut merupakan merek utama dari berbagai merek yang ada di dalam
benak konsumen.
Menurut Aaker dalam Rangkuti (2004), brand association adalah segala
hal yang berkaitan dengan ingatan mengenai merek. Asosiasi itu tidak hanya
eksis, namun juga memiliki suatu tingkat kekuatan. Keterkaitan pada suatu merek
akan lebih kuat apabila dilandasi pada banyak pengalaman atau penampakan
untuk mengkomunikasikannya. Berbagai asosiasi yang diingat konsumen dapat
dirangkai sehingga membentuk citra tentang merek atau brand image di dalam
benak konsumen. Secara sederhana, pengertian brand image adalah sekumpulan
asosiasi merek yang terbentuk di benak konsumen. Konsumen yang terbiasa
menggunakan merek tertentu cenderung memiliki konsistensi terhadap brand
image atau hal ini disebut dengan kepribadian merek.
Menurut Durianto dkk (2001), brand association adalah segala kesan yang
muncul di benak yang terkait dengan ingatannya mengenai suatu merek. Asosiasi
yang terkait dengan suatu merek umumnya dihubungkan dengan berbagai hal,
yaitu:
1. Atribut produk, mengasosiasikan atribut dengan karakteristik suatu
produk merupakan strategi positioning yang paling sering digunakan.
2. Atribut tak berwujud, semua faktor tak berwujud merupakan atribut
umum.
3. Manfaat bagi pelanggan, manfaat bagi pelanggan dapat dibagi menjadi
dua, yaitu manfaat rasional dan manfaat psikologis.

13

4. Harga relatif, evaluasi terhadap suatu merek di sebagian kelas produk
akan diawali dengan penentuan posisi merek tersebut dalam satu atau
dua tingkat harga.
5. Penggunaan, dengan mengasosiasikan merek tersebut dengan suatu
penggunaan atau aplikasi tertentu.
6. Pengguna atau pelanggan, mengasosiasikan sebuah merek dengan
sebuah tipe pengguna atau pelanggan dari produk tersebut.
7. Orang terkenal atau khalayak, mengaitkan orang terkenal dengan
sebuah merek dapat mentransfer asosiasi kuat yang dimiliki oleh orang
terkenal terhadap merek tersebut.
8. Gaya hidup atau kepribadian, asosiasi merek dengan gaya hidup
dengan aneka kepribadian dan karakteristik gaya hidup pelanggan
yang hampir sama.
9. Kelas produk, mengasosiasikan sebuah merek menurut kelas
produknya.
10. Pesaing, mengatahui pesaing dan berusaha untuk menyamai atau
bahkan mengungguli pesaing.
11. Negara atau wilayah geografis, suatu Negara dapat menjadi simbol
yang kuat asalkan memiliki hubungan yang erat dengan produk, bahan
dan kemampuan.
2.4

Telepon Selular
Menurut Bisnis Indonesia Online (Teknojurnal 2011), telepon genggam

sering disebut handphone (disingkat HP) atau disebut pula sebagai telepon selular
(disingkat ponsel) adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai
kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap, namun
dapat dibawa ke mana-mana (portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan
dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel; wireless).

Saat ini

Indonesia mempunyai dua jaringan telepon nirkabel yaitu sistem GSM (Global
System for Mobile Telecommunications) dan sistem CDMA (Code Division
Multiple Access).
Selain berfungsi untuk melakukan dan menerima panggilan telepon, HP
umumnya juga mepunyai fungsi pengiriman dan penerimaan pesan singkat (short

14

message service, SMS). Ada pula penyedia jasa telepon genggam di beberapa
negara yang menyediakan layanan generasi ketiga (3G) dengan menambahkan
jasa videophone, sebagai alat pembayaran, maupun untuk televisi online pada HP
mereka. Saat ini, HP menjadi gadget yang multifungsi. Mengikuti perkembangan
teknologi digital, HP juga dilengkapi dengan berbagai pilihan fitur, seperti bisa
menangkap siaran radio dan televisi, perangkat lunak pemutar audio (MP3) dan
video, kamera digital, game, dan layanan internet seperti WAP (Wireless
Application Protocol), GPRS (General Packet Radio Service), 3G (thirdgeneration technology). Selain fitur-fitur tersebut, ponsel sekarang sudah
ditanamkan fitur komputer. Jadi di HP tersebut, orang bisa mengubah fungsi HP
tersebut menjadi mini komputer. Di dunia bisnis, fitur ini sangat membantu bagi
para pebisnis untuk melakukan semua pekerjaan di satu tempat dan membuat
pekerjaan tersebut terselesaikan dalam waktu yang singkat (Wikipedia, 2010).
Evolusi mobile system dari tahun 1981 hingga tahun 1996 dapat dilihat dalam
Tabel 4.
Tabel 4. Perkembangan sistem telepon bergerak
Year
1981
1983
1985
1986
1991
1991
1992
1994
1995
1996

Mobile System
Nordic Mobile Telephone (NMT) 450
American Mobile Phone System (AMPS)
Total Access Communication System (TACS)
Nordic Mobile Telephony (NMT) 900
American Digital Cellular (ADC)
Global System for Mobile Communication (GSM)
Digital Cellular System (DCS) 1800
Personal Digital Cellular (PDC)
PCS 1900 – Canada
PCS – United States

Sumber : Wikipedia, 2010
2.5

Penelitian Terdahulu
Mahendra (2010) mengadakan penelitian tentang pengaruh citra merek

terhadap keputusan pembelian simcard IM3 dengan studi kasus mahasiswa S1
Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis citra merek
dibenak konsumen, menganalisis citra merek pada persaingan pasar GSM
prabayar, dan menganalisis pengaruh citra merek terhadap keputusan pembelian
simcard IM3. Berdasarkan hasil uji Cochran terlihat bahwa IM3 diasosiasikan

15

memiliki fitur yang beragam, tarif sms yang murah, variasi pilihan voucher isi
ulang yang murah dan mudah mendapatkan starter pack dan voucher.
Berdasarkan hasil MDS, atribut yang menjadi citra IM3 adalah tarif sms yang
murah, tarif GPRS yang murah, variasi pilihan voucher isi ulang yang murah dan
bonus banyak dan beragam. Berdasarkan hasil regresi logistik terlihat bahwa IM3
memiliki jangkauan wilayah yang luas, fitur yang beragam, tarif GPRS yang
murah dan harga perdana yang murah. Sebaiknya IM3 mempertahankan kinerja
atribut-atribut yang menjadi citra merek. IM3 perlu fokus terhadap atribut yang
memiliki pengaruh nyata terhadap keputusan pembelian simcard IM3.
Eriquina (2008) mengadakan penelitian tentang pengaruh brand image
TelkomFlexi terhadap perilaku pembelian simcard Flexi dengan studi kasus di PT
Telkom Kancatel Kendal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis citra merek
di benak konsumen, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
pembelian konsumen dan merumuskan strategi pemasaran yang sesuai untuk
meningkatkan pembelian konsumen terhadap simcard Flexi. Hasil analisis citra
merek diperoleh hasil bahwa Telkom Flexi prabayar memiliki ketersediaan dan
kemudahan memperoleh kartu perdana dan voucher isi ulang, kualitas suara yang
jernih, fitur dan layanan yang lengkap, tarif yang murah, jaringan yang luas, serta
harga voucher yang murah. Hasil analisis logistik untuk mengetahui pengaruh
citra merek terhadap perilaku pembelian menunjukkan bahwa variabel yang
berpengaruh nyata terhadap perilaku pembelian simcard Flexi terdiri dari jenis
profesi, pendapatan, asosiasi terhadap bonus dan hadiah, asosiasi terhadap luas
jaringan, asosiasi terhadap fitur dan layanan, asosiasi terhadap harga kartu
perdana dan asosiasi terhadap tarif. Rekomendasi strategi pemasaran untuk PT
Telkom Kancatel Kendal antara lain: perusahaan perlu memperhatikan program
promosi TelkomFlexi selanjutnya.
Rahman (2007) melakukan penelitian mengenai citra merek dalam
pengambilan keputusan pembelian Fruit Tea di Sukabumi.

Penelitian ini

bertujuan untuk menganalisis citra merek Fruit Tea dibanding merek pesaing,
menganalisis variabel-variabel yang menjadi dasar konsumen dalam melakukan
pembelian Fruit Tea dan menganalisis hubungan citra merek dengan keputusan
konsumen dalam keputusan pembelian Fruit Tea. Hasil yang didapat dari

16

perhitungan citra merek bahwa Fresh Tea merupakan pesaing utama Fruit Tea.
Urutan citra merek yang dimiliki Fruit Tea dari yang terkuat adalah campuran teh
yang bervariasi, dan yang terlemah adalah atribut warna teh yang pekat. Hasil
yang didapatkan dari perhitungan proses keputusan pembelian Fruit Tea oleh
konsumen dengan metode disjunctive rule, bahwa merek Fruit Tea memiliki
keunggulan

pada

atribut

rasa

teh

yang

nikmat,

kemudahan

dalam

mendapatkannya, variasi campuran teh dan bentuk atau desain yang menarik.
Berdasarkan bahasan mengenai citra merek dan keputusan pembelian merek Fruit
Tea dapat diketahui bahwa keempat atribut yang dimiliki Fruit Tea ternyata
menempati pula empat asosiasi tertinggi pada analisis citra merek Fruit Tea.
Kesimpulan yang diperoleh bahwa citra merek yang dimiliki Fruit Tea
mempengaruhi keputusan pembelian produk tersebut.

17

III.

3.1.

METODELOGI PENELITIAN

Kerangka Pemikiran
Perusahaan memiliki strategi tertentu untuk memenangkan persaingan

dalam pasar HP yang mereka hadapi. Persaingan yang ketat membuat perusahaan
HP harus membentuk bauran pemasaran yang baik dan unggul agar dapat
memenuhi kebutuhan pelanggan sasarannya dan tetap dapat bersaing dengan para
pesaingnya. Persaingan yang dialami saat ini, membuat Nokia harus menjaga dan
meningkatkan citra merek mereka untuk tetap unggul dalam persaingan. Citra
merek manjadi hal yang penting karena konsumen cenderung mengambil
keputusan pembelian berdasarkan persepsi mereka terhadap suatu produk. Citra
merek suatu produk dinilai cukup efektif untuk mempengaruhi suatu pembelian.
Gambar 4 adalah kerangka pemikiran penelitian ini.
Persaingan dan tekanan yang dialami Nokia
Strategi yang dilakukan Nokia

Brand image Nokia

Nokia pada pasar selular

Analisis deskriptif, Uji Cochran

Brand image Handphone Nokia
Gambar 4. Kerangka pemikiran penelitian

Analisis MDS

18

3.2.

Metode Penelitian

3.2.1

Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kampus Dramaga Institut Pertanian Bogor

(IPB) karena studi kasus dalam penelitian ini dikhususkan bagi mahasiswa S1
IPB. Hal ini dikarenakan seluruh mahasiswa S1 IPB melakukan kegiatan belajar
mengajar di kampus Dramaga. Dalam penelitian ini, batasan mahasiswa S1 yang
dimaksudkan adalah mahasiswa semester 3 sampai semester 8 yang sudah
memasuki Fakultas. Hal ini dilakukan agar ruang lingkup lebih terfokus pada
mahasiswa yang sudah memasuki Fakultas. Pada TPB tidak termasuk dalam
sampel karena mahasiswa masih bercampur dari berbagai Fakultas yang ada.
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Maret 2012.
3.2.2

Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan pada penelitian ini merupakan data kualitatif

yang merupakan jawaban responden terhadap kuisioner yang diberikan.
Sedangkan sumber data yang digunakan pada penelitian ini ada dua yaitu :
1. Data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara
langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara).

Data

primer diperoleh dari sumber pertama melalui prosedur dan teknik
pengambilan data dapat berupa wawancara (interview), observasi,
maupun penggunaan instrumen pengukuran yang khusus dirancang
sesuai tujuan. Data primer pada penelitian ini diperoleh dari
penyebaran kuisioner kepada responden.


Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini berisi sejumlah
pertanyaan yang menyatakan objek yang ingin diungkap. Dari
data kualitatif tersebut, data kemudian diubah menjadi data
kuantitatif

2. Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung
melalui media perantara atau diperoleh dan dicatat oleh pihak lain.
Data sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan, internet, dan
berbagai literatur yang terdapat di perpustakaan maupun tempat lain.

19

3.2.3

Metode Pemilihan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik quota sampling. Qouta

sampling adalah teknik sampling nonprofitabilitas yang berupa judgement
sampling dua tahap. Tahap pertama terdiri dari mengembangkan kategori kendali
atau kuota elemen populasi. Tahap kedua elemen sampel dipilih berdasarkan
kemudahan atau judgement (Malhotra, 2005). Populasi dari sampel adalah jumlah
mahasiswa strata satu. Populasi mahasiswa S1 IPB per Desember 2011 terlihat
pada Tabel 5.
Pertama penentuan jumlah sampel dilakukan berdasarkan rumus Slovin
(Umar, 2003), yaitu:
…………………………………………………………. (1)
Keterangan:
n = jumlah contoh

N = jumlah populasi

e = nilai kritis yang digunakan 10 persen
Berdasarkan rumus Slovin didapat jumlah responden sebanyak 100
responden.

Tabel 5 . Populasi mahasiswa S1 Institut Pertanian Bogor
Fakultas
Pertanian
Kedokteran Hewan
Perikanan dan Ilmu kelautan
Peternakan
Kehutanan
Teknologi Pertanian
Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam
Ekonomi dan Manajemen
Ekologi Manusia
Jumlah

Laki- laki Perempuan
449
716
218
295
437
546
236
386
465
583
608
580
771
1092
411
972
195
667
3790
5837

Sumber: Direktorat AJMP-IPB 30 September 2011

Jumlah
1165
513
983
622
1048
1188
1863
1383
862
9627

20

Selanjutnya dilakukan pembagian jumlah responden dari setiap fakultas yang ada
agar respondennya terwakili.
FAPERTA

:

FKH

:

FPIK

:

FAPET

:

FAHUTAN

:

FATETA

:

FMIPA

:

FEM

:

FEMA

:
Berdasarkan hasil perhitungan quota sampling, maka didapat jumlah

mahasiswa yang akan dijadikan responden untuk tiap fakultas. Perhitungan di atas
di rangkum dalam Tabel 6.
Tabel 6. Hasil quota sampling tiap fakultas
Fakultas
Pertanian
Kedokteran Hewan
Perikanan dan Ilmu kelautan
Peternakan
Kehutanan
Teknologi Pertanian
Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam
Ekonomi dan Manajemen
Ekologi Manusia
Jumlah

Jumlah Responden (orang)
12
5
10
7
11
12
19
15
9
100

21

3.2.4

Pengolahan dan Analisis Data
Data yang telah didapat melalui penyebaran kuisioner dan wawancara

selanjutnya diolah dengan software agar kesalahan dalam penelitian dapat
diminimalisir. Namun sebelum data diolah, alat pengumpul data (kuisioner) diuji
dulu validitas dan reliabilitasnya.
1. Uji kesahan (Validitas)
Validitas ukuran yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu
mengukur apa yang ingin diukur. Selain itu validitas juga dapat diartikan dengan
ukuran yang menunjukkan tingkat keabsahan suatu instrumen penelitian.
Instrumen dianggap sah (valid) apabila mampu mengukur apa yang diinginkan
dan mampu memperoleh data yang tepat dari variabel yang diteliti. Uji validasi
digunakan untuk menentukan suatu besaran yang menyatakan bagaimana kuat
hubungan suatu variabel dengan variabel lain. Untuk mengukur korelasi antar
pertanyaan dengan skor total digunakan korelasi product moment (Umar, 2003)
√[ ∑







][ ∑





]

..........………………………………... (2)

Keterangan :
n = jumlah responden

x = skor masing-masing pertanyaan

y = skor total

r = indeks validitas

Bila diperoleh r hitung lebih besar dari r tabel pada tingkat signifikansi (
0,05 maka pertanyaan pada kuisioner mempunyai validitas konstruk atau terdapat
konsistensi internal dalam pernyataan tersebut dan layak digunakan.
Uji validitas dilakukan pada jenis data yang memiliki skala Likert. Atribut
dianggap valid ketika nilai

>

. Penelitian ini menggunakan tingkat

sebesar 5 persen. Berdasarkan perhitungan menggunakan korelasi Pearson
product moment diketahui bahwa semua atribut valid karena semua hasil
perhitungan lebih besar dari 0.361. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7.

22

Tabel 7. Hasil uji validitas atribut
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Atribut
Produk berkualitas
Bentuk fashionable
Banyak varian (bermacam-macam tipe)
Fasilitas multimedia
Produk inovatif
Penggunaan mudah
Garansi lama
Harga Kompetitif
Harga jual kembali stabil
Kemudahan dalam membeli
Teknologi canggih
Kemudahan mendapatkan suku cadang
Costumer service yang responsive
Terdapat outlet resmi diberbagai kota

0.500
0.442
0.529
0.630
0.629
0.608
0.688
0.438
0.709
0.673
0.451
0.657
0.767
0.700

Keterangan
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

2. Uji Keandalan (Reliabilitas)
Reliabilitas adalah suatu nilai yang menunjukkan konsistensi suatu alat
pengukur di dalam mengukur gejala yang sama. Setiap alat pengukur seharusnya
memiliki kemampuan untuk memberikan hasil pengukuran yang konsisten (Umar,
2003). Uji reliabilitas alat untuk penelitian kali ini menggunakan metode
Cronbach.
Metode Cronbach digunakan untuk mencari reliabilitas instrument yang
skornya merupakan rentangan antara beberapa nilai, misalnya 0-10 atau 0-100
atau bentuk skala 1-3, 1-5, atau 1-7. Rumus ini dapat ditulis sebagai berikut
(Umar, 2003):


(

Keterangan:

)

…………………………………………………… (3)

= Reliabilitas instrument
= varian total

k = banyak butir pertanyaan


= jumlah varian butir

Jumlah varian butir dicari dulu dengan cara mencari nilai varian tiap butir
kemudian jumlahkan, (Umar, 2003) seperti yang dipaparkan berikut ini :




................................................................................................ (4)

23

Keterangan:
n = jumlah responden
X = nilai skor yang dipilih (total nilai dari nomor-nomor butir pertanyaan)
Berdasarkan teknik Crobanch, diketahui bahwa pertanyaan dalam
kuisioner reliabel. Hal ini terlihat pada nilai Crobanch’ Alpha sebesar 0.751.
Kuisioner dianggap reliabel ketika nilai Crobanch’ Alpha diatas 0.600.
Pengolahan dan analisis data menggunakan software Microsoft Exel 2010,
Minitab 14, dan SPSS 16.0 for Windows. Alat analisis yang digunakan pada
penelitian kali ini adalah analisis deskriptif, uji Cochran, analisis Multi
Dimensional Scaling dan regresi logistik.
1.

Analisis Deskriptif
Analisis deskripstif merupakan suatu metode dalam meneliti status

kelompok manusia, objek, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa
pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat
deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai
fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir,
1988).
2.

Uji Cochran
Uji Cochran digunakan pada data dengan skala pengukuran nominal atau

untuk informasi dalam bentuk terpisah dua (dikotomi). Maksud uji ini adalah
untuk mengetahui perbedaan berbagai perlakuan terhadap subjek yang sama
dalam angka skala nominal. Selain itu pengujian ini digunakan untuk mengetahui
keberadaan hubungan antara beberapa variabel.
Langkah-langkah dalam uji Cochran (Umar, 2003) adalah sebagai berikut:
1. Hitung statistik Q dengan rumus


Keterangan:



…………………………………………. (5)

C = banyaknya variabel (asosiasi)
= jumlah kolom jawaban “ya”
2. Tolak

bila Q > X² ( ,v

= jumlah baris jawaban “ya”
N = total besar

24

3.

Multi Dimensional Scaling
Menurut Simamora (2005) MDS merupakan salah satu prosedur yang

digunakan untuk memetakan persepsi dan preferensi para responden secara visual
dalam peta geometri. Peta geometri yang biasa disebut spatial map atau
perceptual map, merupakan penjabaran berbagai dimensi yang berhubungan. Peta
ini berbentuk dua dimensi, satu pada sumbu horizontal (sumbu X), satu lagi pada
sumbu vertikal (sumbu Y). MDS merupakan teknik multivariate dalam golongan
interdependence technique. Dalam pemasaran, umumnya MDS digunakan dalam
memetakan persepsi. Informasi yang diberikan MDS juga dapat dipakai dalam
berbagai pemasaran lainnya seperti: pengukuran citra, segmentasi pasar,
pengembangan produk baru, menilai efektivitas iklan, analisis harga, keputusan
saluran, konstruksi skala sikap.
Hasil dari MDS berupa perceptual map, berupa peta geometris yang
menyatakan hubungan atau perbandingan antar merek berdasarkan atribut atau
dimensi yang diukur. Baik atau buruknya perceptual map yang dihasilkan dapat
dilihat dari nilai RSQ dan stres yang didapat. RSQ adalah indeks korelasi
pangakat dua yang menyatakan varians data yang dapat dijelaskan oleh model.
Sedangkan stres adalah skor yang menyatakan ketidaktepatan pengukuran
(Simamora, 2005).

25

IV.

4.1.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Perusahaan
Nokia Corporation pertama kali beroperasi pada awal tahun 1980 sebagai

pemimpin dalam komunikasi mobile di Asia Pasifik. Sejak berdiri Nokia
Corporation telah berhasil memimpin di pasaran, dan bisnis telah berkembang di
semua negara untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan perkembangan industri
telekomunikasi di negara tersebut. Kantor regional Nokia (Nokia Treasury Asia)
beroperasi di Alexandra Technopark Singapura, yang terdiri dari dari 700 staf
pekerja profesional yang menjadi pelopor dalam inovasi teknologi, produk dan
solusi bisnis untuk 20 pasar yang berbeda dan semua kantor Nokia di wilayah
Asia-Pasifik.
Pusat perbendaharaan regional Nokia (Nokia Treasury Asia) beroperasi di
luar Singapura sebagai in-house bank untuk cabang-cabang Nokia di wilayah Asia
Pasifik, sedangkan Nokia Research Centre (unit penelitian perusahaan) berkantor
di Jepang dan Cina. Nokia juga membuat produk selain tiga fasilitas utama di
Masan, Korea, dan Beijing dan Dongguan di Cina.
Mulai bulan Januari 2004, Nokia mengaktifkan struktur organisasi
globalnya untuk memperkuat fokus pada pemusatan, pasar mobilitas baru dan
perkembangan. Untuk mencari daerah bisnis baru dalam era Mobilitas, selain
terus mengembangkan kepemimpinannya dalam komunikasi suara mobile, Nokia
mempunyai empat grup bisnis untuk menemukan dinamika unik dari setiap bisnis.
1. Ponsel
Nokia menawarkan bermacam-macam ponsel yang sangat kompetitif untuk
segmen pasar yang luas. Nokia mengembangkan ponsel untuk semua
standar penting dan segmen pasar di lebih dari 130 negara. Pengembangan
ini berbasis pada teknologi WCDMA, GSM, CDMA dan TDMA. Ponsel
berfokus pada fitur yang kaya, ponsel yang ditargetkan untuk pasar global.
2. Multimedia
Nokia menghadirkan multimedia mobile untuk pelanggan dalam bentuk
perangkat mobile lanjutan dan aplikasi.

Produk-produknya mempunyai

26

fitur dan fungsionalitas seperti imaging, game, musik, media dan
bermacam-macam konten menarik, seperti perangkat tambahan mobile dan
solusi yang inovatif.
3. Jaringan
Nokia menawarkan infrastruktur jaringan, teknologi dan layanan terkait,
berdasarkan pada standar nirkabel utama untuk operator mobile dan service
provider. Berfokus pada teknologi GSM, grup berorientasi kepemimpinan
dalam jaringan radio GSM, EDGE dan WCDMA. Jaringan Nokia telah
diinstall pada sebagian besar pasar global yang telah mengadopsi standar
ini. Jaringan juga merupakan provider pemimpin dari akses broadband dan
jaringan TETRA untuk pengguna profesional dalam keselamatan publik
dan sektor keamanan.
4. Solusi Perusahaan
Nokia menyediakan bermacam-macam terminal dan solusi konektivitas
mobile tanpa batas pada arsitektur mobilitas end-to-end, khusus untuk
membantu bisnis dan institusi worldwide meningkatkan performansi
mereka

melalui

mobilitas

yang

ditingkatkan.

Solusi

end-to-end

menawarkan bermacam-macam perangkat mobile yang dioptimalkan untuk
bisnis pada front end, sampai portfolio gateway yang dioptimalkan untuk
bisnis mobile pada back end meliputi: email nirkabel dan internet, mobilitas
aplikasi, perlindungan pesan, jaringan privat virtual, firewall, dan
perlindungan dari gangguan.
4.2.

Karakteristik Responden
Responden pada penelitian ini adalah mahasiswa strata satu Institut

Pertanian Bogor (IPB) yang memiliki HP dan pernah memiliki HP Nokia.
Penentuan responden dalam penelitian ini didasarkan pada quota sampling
berdasarkan fakultas-fakultas yang terdapat di IPB.

Hal ini bertujuan agar

responden menyebar secara acak dan dapat mewakili tiap Fakultas.
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin diketahui bahwa
responden didominasi responden perempuan sebanyak 55% dari 100 responden
atau sebanyak 55 orang, sedangkan responden laki-laki sebanyak 45 orang atau

27

45% dari jumlah responden. Hal ini senada dengan populasi mahasiswa strata
satu IPB yang lebih di dominasi oleh mahasiswa perempuan sehingga mayoritas
responden berjenis kelamin perempuan. Gambar 5 memperlihatkan karakteristik
responden tersebut.

Jenis Kelamin
Perempuan
55%
Laki-laki
45%

Gambar 5. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
Berdasarkan pengeluaran total per bulan, sebagian besar responden
menghabiskan pengeluaran pada rentang Rp 500.000-Rp 1.000.000 sebanyak
76%.

Selanjutnya mahasiswa menghabiskan pengeluaran total per bulan

sebanyak Rp 1.000.000-Rp 1.500.000 sebanyak 12% dari total responden yang
ada. Hasil pengeluaran per bulan dapat digunakan perusahaan sebagai gambaran
karakteristik responden berdasarkan pengeluaran sehingga dapat dijadikan
referensi bagi Nokia Corporation pada khususnya. Hasil selengkapnya dapat
dilihat pada Gambar 6.

Pengeluaran total per bulan
Rp 500.000-Rp 1.000.000 (76%)
Rp 1.000.000-Rp 1.500.000 (12%)
Rp 1.500.000 (4%)

Gambar 6. Karakteristik responden berdasarkan pengeluaran
total per bulan
Karakteristik selanjutnya berdasarkan pengeluaran dana dalam pembelian
HP yang dimilikinya. Pada urutan pertama yaitu 36% responden mengeluarkan
biaya sebesar Rp 750.000-Rp 1.500.000 untuk membeli HP. Pada urutan
selanjutnya sebanyak 32% mengeluarkan biaya sebesar Rp 1.500.000-Rp
2.250.000 untuk membeli HP. Hasil penelitian ini dapat digunakan Nokia

28

Corporation sebagai acuan agar memproduksi serta menjual produknya bagi
kaum muda dengan rentang harga berkisar Rp 750.000-Rp 1.500.000. Hasil
selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 7.

Pengeluaran untuk membeli HP
Rp 750.000-Rp 1.500.000 (36%)
Rp 1.500.000-Rp 2.250.000 (32%)
>Rp 2.250.000 (17%)

Dokumen yang terkait

Analisis Brand Image Handphone Nokia (Studi Kasus Pada Mahasiswa S1 IPB)