Kekerasan pada Anak di Dalam Keluarga Domestic child abuse

Muhammad Ansori Lubis : Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Tindak Kekerasan yang Dilakukan..., 2007 USU e-Repository © 2008 pelakunya tetapi perlu juga kita melihat dari sisi yang lebih luas yaitu bagaimana nasib korban yang membutuhkan pemulihan dalam kehidupannya. Berbagai jenis treatmentperawatan yang dibutuhkan korban tindak lanjut yang perlu diambil apakah itu rehabilitasi, terapi khusus dan lain-lain. Harapan idealnya jika energi yang dimiliki si korban akibat pengalaman yang pernah dialaminya disalurkan kepada hal-halkegiatan yang bisa membantu mengurangi kejahatan yang serupa atau membantu merehabilitasi korban dengan jenis kejahatan yang serupa dengan yang pernah dialaminya. Yang menjadi kesimpulan dari sub bab ini adalah fenomena terjadinya suatu kejahatan yang dikaji melalui kriminologi tidak boleh hanya terfokus sebagian besar sebagai salah satu faktor yang mempunyai peranan sangat penting dalam terjadinya suatu kejahatan. Pencegahan suatu kejahatan tertentu perlu diselesaikan tidak hanya melalui pendekatan terhadap pelaku kejahatan tetapi juga melalui pendekatan terhadap korban dari suatu kejahatan dan karakteristik yang dimilikinya. Korban mempunyai peranan yang penting dalam terjadinya sebuah kejahatan. Tanpa korban kejahatan tidak mungkin ada.

3. Kekerasan pada Anak di Dalam Keluarga Domestic child abuse

“Keluarga” dan “kekerasan” sekilas seperti sebuah paradoks, atau bahkan menjadi suatu yang mengagetkan bagi beberapa orang yang tidak biasa mempelajari perilaku manusia. Kekerasan yang bersifat merusak, berbahaya, dan menakutkan, sementara dilain sisi keluarga diartikan sebagai lingkungan kehidupan manusia dimana terdapat cinta, keamanan, kehangatan, peluang untuk mengalami pertumbuhan, dan Muhammad Ansori Lubis : Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Tindak Kekerasan yang Dilakukan..., 2007 USU e-Repository © 2008 tempat beristirahat ketika segala sesuatu di dunia luar terasa menekan. Ada beberapa keluarga memang mampu menciptakan lingkungan kehidupan yang mendekati ideal tetapi ada beberapa juga yang tidak. Kekerasan selalu menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak awal segala sesuatu dimulai. Banyak dari sejarah umat manusia diciptakan dengan kekerasan. Peperangan, penaklukan, pemberontakan selalu menyertai pendirian sebuah negara atau pemerintahan. Beberapa unsur kekerasan juga muncul didalam kebudayaan, keagamaan dan hal tersebut disadari atau tidak meresap kedalam unit terkecil dari suatu masyarakat, dan terwujud dalam berbagai upaya pemenuhan, perjuangan hidup dari suatu suku, klen, atau keluarga. Kekerasan sudah menjadi kewajiban dari kehidupan keluarga-keluarga dan individu-individu sejak awal dunia dijadikan. Bisa kita lihat bersama dari berbagai cerita yang tumbuh di dalam masyarakat mengenai dua bersaudara Kain dan Habel, Remus dan Romulus yang saling membunuh satu dengan yang lainnya atau Agrippina ibu dari kaisar Nero yang meracuni suaminya sendiri atau Raja Henry VIII dari Inggris yang memancung istrinya sendiri. Anak membunuh orang tua, orang tua membunuh anak, saudara membunuh saudara adalah bagian yang tidak bisa dipungkiri dari kehidupan manusia yang harus kita sadari. Ada banyak cabang ilmu pengetahuan yang mencoba untuk mencari penjelasan penyebab terjadinya fenomena ini dan mencoba paling tidak menguranginya. Jika kita ada didalam usaha tersebut maka kita akan dibawa kepada berbagai macam faktor Muhammad Ansori Lubis : Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Tindak Kekerasan yang Dilakukan..., 2007 USU e-Repository © 2008 yang saling berinteraksi dalam menghasilkan kekerasan. Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan menjadi 4 kategori yaitu Biologis, Psikologis, Sosiologis, Kebudayaan. Faktor biologis menjelaskan bahwa seseorang melakukan tindakan kekerasan salah satunya disebabkan karena adanya struktur anatomi manusia dan unsur biokimia didalamnya yang berhubungan dengan psikologi manusia yang menyebabkan adanya kemampuan manusia untuk merespon stress atau bahaya dan menyebabkan orang tersebut melakukan kekerasan. Kekerasan juga dihubungkan dengan orang-orang yang mengalami masalah tumor otak, saraf yang tidak normal, dan keseimbangan hormon. Ketiga faktor lainnya yaitu psikologis, sosiologis dan kebudayaan adalah bukan faktor yang berdiri sendiri-sendiri sebaliknya ketiga faktor tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Faktor psikologis-sosiologis dalam salah satu analisanya, mengatakan kehidupan sosial ekonomi yang lemah mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menyebabkan stress dan seorang manusia kehilangan haknya. Faktor ini merupakan penyebab terbesar terjadinya kriminalitas, kekerasan salah satunya di dalam keluarga dan bentuk-bentuk anti sosial lainnya. Hidup didalam suasana lingkungan yang penuh dengan kekerasan, mempunyai kecenderungan yang sangat tinggi untuk menyebabkan seseorang yang sudah mengalami banyak pengalaman kekerasan didalam lingkungan tersebut memiliki karakter untuk melakukan kekerasan dalam merespon suatu peristiwa dan masalah yang dihadapinya. Faktor kebudayaan mengatakan hampir setiap kebudayaan di dunia memiliki unsur kekerasan dalam aktifitas budaya, tata cara, upacara-upacara adat, agama dan Muhammad Ansori Lubis : Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Tindak Kekerasan yang Dilakukan..., 2007 USU e-Repository © 2008 lain-lain. Sebuah keluarga yang merupakan salah satu bagian dari kebudayaan tersebut tentu saja akan mewarisi unsur kekerasan tersebut. Pada masyarakat-masyarakat tertentu di Indonesia, kekerasan menjadi bagian budaya dan dianggap menjadi hal biasa. Contohnya di salah satu suku di Papua, pada acara penjodohan kaum wanita dan kaum pria dipisah menjadi dua bagian, kemudian bermain perang-perangan, sambil saling memukul dengan batang kayu. Blair Justice dan Rita Justice dalam bukunya abusing family mengungkapkan ada setidaknya 7 model yang dapat memiliki hubungan kausal dengan terjadinya kekerasan pada anak dalam lingkungan keluarga Child Abuse yaitu: 1 Psychodynamic model, yaitu teori yang mengungkapkan bahwa terjadinya kekerasan pada anak disebabkan karena kurangnya “mothering imprintjejak ibu”. Dikatakan seorang yang tidak pernah merasakan dirawat atau diasuh oleh seorang ibu secara baik maka dia tidak bisa menjadi ibu dan merawat anaknya sendiri, 2 Personality or Character traid model, teori ini pada prinsipnya hampir sama pada teori Psychodinamic namun perbedaannya adalah dalam model ini tidak terlalu diperhatikan apa yang pernah dialami oleh orang tua sebagai pelaku kekerasan tetapi menganggap bahwa ini akibat orang tua si anak sendiri yang belum cukup dewasa, terlalu agresif, frustasi, berkarakter buruk dan sebagainya. 3 Social Learning Model, teori ini menegaskan bahwa kegagalan dari pelaku kekerasan untuk bertindak dengan baik didalam keluarga maupun masyarakat, adalah karena kurangnya kemampuan sosial, ditunjukkan dengan perasaan tidak puas karena Muhammad Ansori Lubis : Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Tindak Kekerasan yang Dilakukan..., 2007 USU e-Repository © 2008 menjadi orang tua, merasa sangat terganggu dengan kehadiran seorang anak, menuntut anak untuk selalu bersikap seperti orang dewasa dan lain-lain. 4 Family Structure Model, tori ini tidak fokus secara langsung terhadap kekerasan terhadap anak tetapi kepada dinamika antar anggota keluarga yang memiliki hubungan causal dengan kekerasan kepada anak. Seperti lahirnya seorang anak yang tidak diinginkan dalam sebuah keluarga, si anak mempunyai resiko yang tinggi untuk mengalami kekerasan dalam keluarga tersebut. 5 Enviromental Stress Model, teori ini melihat anak sebagai sebuah masalah multidimensional dan menempatkan ”kehidupan yang menekan” sebagai penyebab utamanya. Dikatakan bahwa jika ada perubahan dari faktor-faktor yang membentuk lingkungan manusia seperti kesejahteraan, pendidikan yang rendah, tidak adanya pekerjaan maka tidak akan ada kekerasan pada anak. 6 Social Phisycological Model, dalam teori ini “frustasi” dan “stress” menjadi faktor utama yang penting dalam menyebabkan terjadinya kekerasan pada anak. Dan stress ini bisa datang dari banyak sebab, bisa dari adanya konflik rumah tangga, diisolasi secara sosial, terlalu banyak anak dan lain-lain. 7 Mental Illness Model, hanya ada satu alasan yang disampaikan teori ini bahwa kekerasan anak terjadi karena adanya kelainan saraf, penyakit kejiwaan adalah faktor yang selalu menyertai pelaku kekerasan kepada anak. Dari banyak faktor yang bisa diperkirakan sebagai causal terjadinya kekerasan, tidak ada satupun teori yang bisa menunjukkan secara pasti sebagai penyebab utama terjadinya kekerasan kepada anak. Ini menunjukkan bahwa kekerasan kepada anak Muhammad Ansori Lubis : Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Tindak Kekerasan yang Dilakukan..., 2007 USU e-Repository © 2008 dalam keluarga khususnya adalah suatu masalah yang kompleks. Keluarga seperti yang disampaikan diawal, adalah tempat seorang mendapatkan kasih sayang, tempat berteduh dikala lingkungan luar begitu menekan, tempat bertumbuh dan lain-lain, kekerasan di dalam keluarga akan berdampak sangat besar bagi kehidupan seseorang terutama anak-anak. Kekerasan pada anak dalam lingkungan publik jelas berbeda karakteristiknya dengan kekerasan pada anak dalam lingkungan domestik. Kekerasan pada anak dalam lingkungan domestik memilik karakteristik utama yang menghambat pemberian pertolongan bagi korbannya, yaitu: a. Sifatnya yang cenderung tertutup, sehingga sulit untuk dideteksi oleh masyarakat dan aparat yang berwenang. b. Ketergantungan dari si anak pada pelakunya baik secara ekonomi maupun secara pisikologis jika kasus diproses secara hukum terdapat resiko yang besar bagi si korban untuk menjadi korban yang kedua kalinya. c. Korban dalam keadaan yang tidak bebas menentukan pikirankeputusan si anak bingung disatu sisi tersiksa dengan perlakuan orang tuanya ingin menghentikan dengan melaporkanmenceritakan pada orang lain, di lain sisi dia takut bagaimana dengan nasibnya baik itu akibat ketergantungan yang dimilikinya terhadap orang tuanya tadi, ataupun apa yang akan menimpa dia jika orang tuanya itu dilaporkan. d. Ada stigma dari masyarakat yang melekat pada si anak misalnya: anak yang durhaka melaporkan orang tuanya, anak itu keluarganya tidak benar, anak itu sudah tidak perawan karena orang tuanya, dan hal-hal buruk lainnya. Muhammad Ansori Lubis : Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Tindak Kekerasan yang Dilakukan..., 2007 USU e-Repository © 2008 Karena karakteristik yang dimiliki kekerasan kepada anak dalam lingkungan keluarga inilah maka perlu dilakukan perlindungan secara khusus yang berbeda jika kekerasan tersebut terjadi diluar lingkungan keluarga publik. Ancaman hukum yang diberikan pada pelakunyapun akan berbeda karena kekerasan didalam keluarga dilakukan oleh orang yang menjagamerawat anak tersebut sehingga ada tanggung jawab dan kepercayaan yang dibebankan baginya untuk memastikan anak tersebut terjaga dan terawat dengan baik. Dengan demikian juga dengan teknik penegakan hukum yang harus diambil oleh aparat yang berwenang, juga akan berbeda dengan teknik penegakan hukum yang dilakukan menghadapi tindakan kekerasan pada orang dewasa.

C. Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dari Tindak Kekerasan


Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1813 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 472 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 426 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 255 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 377 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 555 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 490 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 315 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 484 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 568 23