Analisis Yuridis Permohonan Pernyataan Pailit Terhadap Bank Oleh Bank Indonesia Dalam Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

ANALISIS YURIDIS PERMOHONAN PERNYATAAN
PAILIT TERHADAP BANK OLEH BANK INDONESIA
DALAM UNDANG-UNDANG NO. 37 TAHUN 2004
TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN
KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG
TESIS

OLEH

ULFA BUDIARTY
097005086/HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

ANALISIS YURIDIS PERMOHONAN PERNYATAAN PAILIT
TERHADAP BANK OLEH BANK INDONESIA DALAM UNDANGUNDANG NO. 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN
PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh
Gelar Magister Hukum dalam Program Studi
Magister Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara

OLEH

ULFA BUDIARTY
097005086/HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

:

ANALISIS YURIDIS PERMOHONAN
PERNYATAAN PAILIT TERHADAP BANK
OLEH BANK INDONESIA DALAM UNDANGUNDANG NO. 37 TAHUN 2004 TENTANG
KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN
PEMBAYARAN UTANG

Nama Mahasiswa
Nomor Pokok
Program Studi

:
:
:

Ulfa Budiarty
097005086
Ilmu Hukum

Menyetujui :
Komisi Pembimbing

DTO

(Prof. Dr. Bismar Nasution, SH., MH)
Ketua

DTO

DTO

(Prof. Dr. Sunarmi, SH., M.Hum)
Anggota

(Dr. Mahmul Siregar, SH., M.Hum)
Anggota

Ketua Program Studi Ilmu Hukum

Dekan

DTO

DTO

(Prof. Dr. Suhaidi, SH., MH)

(Prof. Dr. Runtung, SH., M.Hum)

Lulus tanggal : 27 Juni 2011

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada
Tanggal : 27 Juni 2011

PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua

: Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH

Anggota

: 1. Prof. Dr. Sunarmi, SH, M.Hum
2. Dr. Mahmul Siregar, SH, M.Hum
3. Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH
4. Dr. Dedi Harianto, SH, M.Hum

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN

ANALISIS YURIDIS PERMOHONAN PERNYATAAN PAILIT
TERHADAP BANK OLEH BANK INDONESIA DALAM UNDANGUNDANG NO. 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN
PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah
diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali secara tertulis dikutip dalam naskah ini
dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, 27 Juni 2011
Penulis

DTO

Ulfa Budiarty
Nim. 097005086/HK

Universitas Sumatera Utara

ANALISIS YURIDIS PERMOHONAN PERNYATAAN PAILIT TERHADAP
BANK DALAM UNDANG-UNDANG NO. 37 TAHUN 2004 TENTANG
KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG
*

Ulfa Budiarty )
**
Bismar Nasution )
Sunarmi **)
Mahmul Siregar **)
ABSTRAK
Sektor perbankan di Indonesia memiliki peran yang sangat strategis dalam
perekonomian. Pasal 24 Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia
menyatakan bahwa Bank Indonesia adalah otoritas perbankan yang kewenangannya
menetapkan peraturan, memberikan dan mencabut izin, mengawasi, dan mengenakan
sanksi terhadap Bank. Pasal 2 ayat (3) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang memberikan kewenangan
tunggal kepada Bank Indonesia untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit
kepada Bank sebagai Kreditor.
Kreditor tidak dapat mengajukan permohonan pailit secara langsung kepada
Pengadilan Niaga terhadap Debitor yang merupakan Bank. Kreditor tersebut harus
mengajukan keinginannya kepada Bank Indonesia dan hanya Bank Indonesia yang
dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap Bank dimaksud ke
Pengadilan Niaga. Bank harus benar-benar dijaga karena berkaitan dengan dana
masyarakat. Apabila Bank dengan mudah dapat dimohonkan pailit oleh setiap
Kreditor, maka resikonya sangat tinggi. Karena pengaturan kepailitan yang sederhana
terhadap Bank akan mengakibatkan kepercayaan masyarakat terhadap Bank menjadi
hilang.
Apabila Bank dapat dimohonkan pailit ke Pengadilan Niaga oleh dua atau
lebih Nasabah, maka kepentingan masyarakat lain yang menyimpan dananya di Bank
akan dirugikan. Di samping itu, hal tersebut dapat menimbulkan dampak yang lebih
buruk pada perekonomian nasional, seperti terjadinya rush yang dapat berlanjut pada
runtuhnya bank yang bersangkutan dan kemungkinan menimbulkan dampak yang
sistemik. Masalah Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dalam pengajuan kepailitan
Bank adalah terbukanya peluang bagi Kreditor Bank (Nasabah Bank) selain Bank
Indonesia itu sendiri dalam pengajuan pailit terhadap Bank. Mekanisme hukum yang
dapat digunakan oleh Kreditor dalam menyelesaikan piutangnya terhadap Bank ada
dua, yaitu : 1. Melalui permohonan pailit yang diajukan Nasabah Bank itu sendiri
pada saat dicabutnya izin usaha Bank oleh Bank Indonesia; dan 2. Melalui
mekanisme pengajuan klaim kepada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1. Perlu untuk segera melakukan revisi
terhadap Pasal 2 ayat (3) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 atau membuat
*
**

) Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
) Dosen Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara 

Universitas Sumatera Utara

peraturan pelaksanaan tentang Kepailitan Bank; 2. Perlu diatur lebih detail lagi
mengenai Kepailitan Bank. Caranya adalah dengan mengeluarkan Peraturan
Pemerintah yang mengatur Kepailitan bank sebagai primary rule atau secondary rule.
Peraturan Pemerintah tentang Kepailitan Bank sebagai secondary rule dan UndangUndang No. 37 Tahun 2004 sebagai primary rule; 3. Proses Kepailitan berdasarkan
Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 lebih menjamin adanya Kepastian Hukum oleh
karena telah ditetapkan jangka waktu hingga adanya putusan pailit. Kepailitan
diajukan pada saat dicabutnya izin usaha Bank oleh Bank Indonesia menurut
Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha,
Pembubaran dan Likuidasi Bank.
Kata Kunci

: -

Kepailitan Bank
Likuidasi Bank
Bank Indonesia sebagai Bank Sentral

Universitas Sumatera Utara

JURIDICAL ANALYSIS OF BANKRUPTCY PETITION IN BANK BY LAW
NO. 37 OF 2004 ON BANKRUPTCY AND DELAY DEBT OBLIGATION
*

Ulfa Budiarty )
**
Bismar Nasution )
Sunarmi **)
Mahmul Siregar **)
ABSTRACT
Indonesia’s banking sector has a very strategic role in the economy. Article 24
of Law No. 23 of 1999 concerning Bank Indonesia said that the banking authority is
the authority to establish rules, give and revoke licenses, supervise, and impose
sanctions against the Bank. Article 2 Paragraph (3) of Law No. 37 of 2004 on
Bankruptcy and Suspension of Payment gives sole jurisdiction to Bank Indonesia to
apply for a declaration of bankruptcy to the Bank as a creditor.
Creditors can not file a bankruptcy petition directly to the Commercial Court
against the debtor which is the Bank. Creditors must submit his desire to Bank
Indonesia and Bank Indonesia could only apply for a declaration of bankruptcy of the
Bank to the Commercial Court. Bank should really be kepts as it pertains to
intermediary institution. Because bankruptcy is a simple arrangement of the Bank
would lead to public confidence in the Bank to be lost.
If the Bank can be petitioned for bankruptcy at the Commercial Court by two
or more customers, then the interests of other people who save their money in the
Bank would be harmed. In addition, it can cause a more severe impact on the national
economy, like the rush that can lead to the collapse of the Bank concerned and the
possibility of a systemic impact. Problems of Bank Indonesia as Central Bank in the
bankruptcy filing of the Bank is opening opportunities for the Creditor Bank (Bank
Customers) Bank Indonesia besides themselves in the bankruptcy filing against the
Bank. Legal mechanisms that can be used by creditors to resolve claims against the
Bank there are two, namely : 1. Through a bankruptcy petition filed the Bank’s own
customers at a business license revoked by the Bank of Bank Indonesia; and 2.
Through the mechanism of filing a claim with the Deposit Insurance Corporation
(DIC).
The results showed that : 1. Need for immediate revisions to Article 2
Paragraph (3) of Law No. 37 of 2004 or to make regulations concerning the
implementation of Bank insolvency; 2. Should be regulated in detail about the
Bankruptcy Bank. The way is to issue a government regulation that governs the
Bankruptcy Banks as a primary or secondary rule. Government Regulation on
Insolvency Bank as a secondary rule and Act No. 37 of 2004 as a primary rule; 3.
Bankruptcy process based on Law No. 37 of 2004 further ensure the existence of the
Legal Certainty for predetermined period of time until the bankruptcy decision.
*
**

) Student of Master of Law at Faculty of Law in University of North Sumatra
) Lecturers of Master of Law at Faculty of Law in University of North Sumatra 

Universitas Sumatera Utara

Bankruptcy filed at the time of revocation of business licenses according to the Bank
by the Bank of Indonesia Government Regulation No. 25 of 1999 concerning
Revocation of Business Licenses, Dissolution and Liquidation of Banks.
Key Words

: -

Bank bankruptcy
Liquidation of Banks
Bank Indonesia as Central Bank

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulilah, Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya kepada penulis serta Nabi Muhammad SAW atas doa serta
syafaatnya, penulis masih diberikan kesehatan dan kesempatan serta kemudahan
dalam mengerjakan tesis ini.
Pada penulisan tesis ini, penulis dengan ketulusan hati, mengucapkan terima
kasih sebesaar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian penulisan tesis ini. Ucapan terima kasih disampaikan kepada :
1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, D.T.M.&H., M.Sc. (C.T.M.), Sp.A.(K.),
sebagai Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, MHum., sebagai Dekan Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH., sebagai Ketua Program Magister (S2) dan
Doktor (S3) Ilmu Hukum Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara dan
sebagai Dosen Penguji I.
4. Bapak Dr. Mahmul Siregar, SH, M.Hum., sebagai Sekretaris Program
Magister (S2) Ilmu Hukum Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara dan
merangkap Dosen Pembimbing III yang telah memberikan arahan mengenai
penulisan tesis yang benar.

Universitas Sumatera Utara

5. Bapak Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH., sebagai Dosen Pembimbing I
yang telah memberikan masukan dan ide-ide dalam hal penulisan tesis ini
sampai dengan selesai.
6. Ibu Prof. Dr. Sunarmi, SH, M.Hum., sebagai Dosen Pembimbing II pada saat
penulis menjalani studi pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
yang telah memberikan motivasi dan dorongan kepada penulis.
7. Bapak Dr. Dedi Harianto, SH, M.Hum., sebagai Dosen Penguji II yang telah
memberikan kritikan berupa tata tulis penulisan penelitian yang benar.
8. Para Karyawan dan Tata Usaha Sekolah Pasca Sarjana Ilmu Hukum
Universitas Sumatera Utara, yaitu : Fika, Fitri, Niar, Udin, Hendra, Herman,
dan Hendrik yang telah membantu selama penulis menjalani studi di Sekolah
Pasca Sarjana Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara.
9. Terima kasih yang sangat besar kepada kedua orang tua saya Ayahanda
H. Budiono dan Ibunda Hj. Tetty Yunidar Siregar, yang selalu mendoakan,
mencurahkan segenap kasih sayangnya dan segala pengorbanannya sehingga
penulis dapat menyelesaikan tesis ini.
10. Terima kasih penulis kepada saudara-saudaraku Dina, Putra, Fitri, Nanda dan
Rani yang sangat memberikan motivasi kepada penulis dan doanya sehingga
dapat menyelesaikan studi di Sekolah Pasca Sarjana Ilmu Hukum Universitas
Sumatera Utara.
11. Terima kasih buat Seseorang yang selalu di hatiku, yang senantiasa memberi
dukungan dan nasehatnya sehingga tercapailah kesempurnaan tesis ini.

Universitas Sumatera Utara

12. Tidak ketinggalan terima kasih kepada sahabat-sahabatku rekan mahasiswa
Ira, Sherly, Nina, Neny, Sara, sudah membantu selama penyelesaian tesis,
yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu-persatu.

Akhir kata kiranya tulisan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi semua pihak
yang berkepentingan, terutama dalam penerapan serta pengembangan ilmu hukum di
Indonesia.

Wassalamualaikum wr. wb.
Medan, 27 Juni 2011
Penulis

DTO

Ulfa Budiarty
Nim. 097005086/HK

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Data Pribadi
Nama
Tempat /Tgl. Lahir
Pangkat /Golongan
Jabatan
Instansi
Agama
Nama Ayah
Nama Ibu
Saudara

Suku/Bangsa
e-mail

:
:
:
:
:
:
:
:
:

Ulfa Budiarty
Pematang Siantar, 26 November 1983
Yuana Wira TU / IIIA
Sekretaris
Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara
Islam
H. Budiono
Hj. Tetty Yunidar Siregar
1. Nurmaulidina B.
2. Budhy Syah Putra
3. Fitri Ramadhani
4. Choirul Rizal Ananda
5. Khairani Novia Sari
: Melayu/ Indonesia
: ulfabudiarti@yahoo.co.id

Latar Belakang Pendidikan
1. Pendidikan Dasar dan Menengah Umum
a. SD
b. SMP
c. SMA

: Swasta Taman Siswa Pematang Siantar
lulus tahun 1995
: Negeri 4 Medan
lulus tahun 1998
: Swasta Sultan Agung
lulus tahun 2001

2. Pendidikan Tinggi
a. S1
b. S2

: Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara
lulus tahun 2007
: Program Studi Magister Hukum, Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara, lulus tahun 2011

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PENGESAHAN

iii

PERNYATAAN

v

ABSTRAK

vi

KATA PENGANTAR

x

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

xiii

DAFTAR ISI

xiv

DAFTAR GAMBAR

xvii

BAB I

: PENDAHULUAN

1

A. Latar Belakang

1

B.

Rumusan Masalah

7

C.

Tujuan Penelitian

8

D. Manfaat Penelitian

8

E.

Keaslian Penelitian

9

F.

Kerangka Teoritis dan Konsepsi

11

1.

Kerangka Teori

11

2.

Kerangka Konsep

21

G. Metode Penelitian

25

1.

Jenis dan Sifat Penelitian

26

2.

Sumber Bahan Hukum

27

3.

Teknik Pengumpulan Data

29

4.

Analisis Data

29

Universitas Sumatera Utara

BAB II

: KEDUDUKAN
BANK
INDONESIA
DALAM
PENGAJUAN PERMOHONAN PAILIT TERHADAP
BANK

32

A. Bank Indonesia Sebagai Bank Sentral
B. Bank Indonesia Memiliki Kewenangan Untuk Menjaga
Stabilitas Sistem Keuangan

32
39

C. Kriteria Tingkat Kesehatan Bank

45

1.

Bank Dalam Pengawasan Normal

46

2.

Bank Dalam Pengawasan Intensif

47

3.

Bank Dalam Pengawasan Khusus

48

4.

a.

Bank Dalam Penyehatan (BDP)

50

b.

Bank Beku Kegiatan Usaha (BBKU)

51

Penanganan Bank Gagal

51

D. Kewenangan Bank Indonesia Dalam Kepailitan Bank
Sebagai Bank Sentral Dalam Menjaga Stabilitas Sistem
Keuangan (SSK)

60

1.

Putusan Mahkamah Agung RI No. 029/K/N/2006
antara Lina Sugiharti Otto melawan PT. Bank Global
Internasional Tbk.

64

2.

Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No.
021/PAILIT/2001/PN.Niaga Jkt.Pst., antara PT. Bank
IFI melawan PT. Bank Danamon Indonesia Tbk.

68

BAB III : MASALAH BANK INDONESIA SEBAGAI BANK
SENTRAL DALAM PENGAJUAN KEPAILITAN BANK

71

A. Terbukanya Peluang Kreditor Lain dalam Pengajuan Pailit
Bank

72

B. Aspek Hukum Permohonan Pernyataan Pailit

80

1.

Syarat Adanya Dua Kreditor Atau Lebih (Concursus
Creditorium)

80

2.

Syarat Harus Adanya Utang

83

3.

Syarat Adanya Satu Utang yang Telah Jatuh Waktu
dan Dapat Ditagih

88

Universitas Sumatera Utara

4.

Syarat Permohonan Pailit

93

C. Masalah Hukum yang Dihadapi Bank Indonesia
BAB IV : MEKANISME HUKUM YANG DAPAT DIGUNAKAN
DALAM
MENYELESAIKAN
OLEH
KREDITOR
PIUTANGNYA TERHADAP BANK
A. Mekanisme Hukum Penyelesaian Piutang Terhadap Bank

B.

103

103

1.

Melalui Permohonan Pailit

103

2.

Melalui Gugat Pengadilan

108

Jaring Pengaman Sistem Keuangan Sebagai Kebijakan
Dalam Kepailitan Bank

110

1.

Pengaturan dan Pengawasan Bank yang Efektif

111

2.

Lender of Last Resort

112

3.

Skim Penjaminan Simpanan (deposit insurance) yang
Memadai

113

4.

Kebijakan Resolusi Krisis yang Efektif

114

C. Peran Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Dalam
Mengembalikan Dana Nasabah pada Bank yang Pailit

114

1.

Pendirian Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)

117

2.

Fungsi dan Peran Lembaga Penjamin Simpanan
(LPS)

119

D. Penanganan Dana Nasabah Bank yang Pailit
BAB V

97

: KESIMPULAN DAN SARAN

121
128

A. Kesimpulan

128

B.

131

Saran

DAFTAR PUSTAKA

133

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Hubungan Stabilitas Sistem Keuangan dan Sistem Moneter

42

Gambar 2. Mekanisme Pengambilan Keputusan untuk Pencegahan dan
Penanganan Krisis

56

Universitas Sumatera Utara

ANALISIS YURIDIS PERMOHONAN PERNYATAAN PAILIT TERHADAP
BANK DALAM UNDANG-UNDANG NO. 37 TAHUN 2004 TENTANG
KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG
*

Ulfa Budiarty )
**
Bismar Nasution )
Sunarmi **)
Mahmul Siregar **)
ABSTRAK
Sektor perbankan di Indonesia memiliki peran yang sangat strategis dalam
perekonomian. Pasal 24 Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia
menyatakan bahwa Bank Indonesia adalah otoritas perbankan yang kewenangannya
menetapkan peraturan, memberikan dan mencabut izin, mengawasi, dan mengenakan
sanksi terhadap Bank. Pasal 2 ayat (3) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang memberikan kewenangan
tunggal kepada Bank Indonesia untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit
kepada Bank sebagai Kreditor.
Kreditor tidak dapat mengajukan permohonan pailit secara langsung kepada
Pengadilan Niaga terhadap Debitor yang merupakan Bank. Kreditor tersebut harus
mengajukan keinginannya kepada Bank Indonesia dan hanya Bank Indonesia yang
dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap Bank dimaksud ke
Pengadilan Niaga. Bank harus benar-benar dijaga karena berkaitan dengan dana
masyarakat. Apabila Bank dengan mudah dapat dimohonkan pailit oleh setiap
Kreditor, maka resikonya sangat tinggi. Karena pengaturan kepailitan yang sederhana
terhadap Bank akan mengakibatkan kepercayaan masyarakat terhadap Bank menjadi
hilang.
Apabila Bank dapat dimohonkan pailit ke Pengadilan Niaga oleh dua atau
lebih Nasabah, maka kepentingan masyarakat lain yang menyimpan dananya di Bank
akan dirugikan. Di samping itu, hal tersebut dapat menimbulkan dampak yang lebih
buruk pada perekonomian nasional, seperti terjadinya rush yang dapat berlanjut pada
runtuhnya bank yang bersangkutan dan kemungkinan menimbulkan dampak yang
sistemik. Masalah Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dalam pengajuan kepailitan
Bank adalah terbukanya peluang bagi Kreditor Bank (Nasabah Bank) selain Bank
Indonesia itu sendiri dalam pengajuan pailit terhadap Bank. Mekanisme hukum yang
dapat digunakan oleh Kreditor dalam menyelesaikan piutangnya terhadap Bank ada
dua, yaitu : 1. Melalui permohonan pailit yang diajukan Nasabah Bank itu sendiri
pada saat dicabutnya izin usaha Bank oleh Bank Indonesia; dan 2. Melalui
mekanisme pengajuan klaim kepada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1. Perlu untuk segera melakukan revisi
terhadap Pasal 2 ayat (3) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 atau membuat
*
**

) Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
) Dosen Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara 

Universitas Sumatera Utara

peraturan pelaksanaan tentang Kepailitan Bank; 2. Perlu diatur lebih detail lagi
mengenai Kepailitan Bank. Caranya adalah dengan mengeluarkan Peraturan
Pemerintah yang mengatur Kepailitan bank sebagai primary rule atau secondary rule.
Peraturan Pemerintah tentang Kepailitan Bank sebagai secondary rule dan UndangUndang No. 37 Tahun 2004 sebagai primary rule; 3. Proses Kepailitan berdasarkan
Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 lebih menjamin adanya Kepastian Hukum oleh
karena telah ditetapkan jangka waktu hingga adanya putusan pailit. Kepailitan
diajukan pada saat dicabutnya izin usaha Bank oleh Bank Indonesia menurut
Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha,
Pembubaran dan Likuidasi Bank.
Kata Kunci

: -

Kepailitan Bank
Likuidasi Bank
Bank Indonesia sebagai Bank Sentral

Universitas Sumatera Utara

JURIDICAL ANALYSIS OF BANKRUPTCY PETITION IN BANK BY LAW
NO. 37 OF 2004 ON BANKRUPTCY AND DELAY DEBT OBLIGATION
*

Ulfa Budiarty )
**
Bismar Nasution )
Sunarmi **)
Mahmul Siregar **)
ABSTRACT
Indonesia’s banking sector has a very strategic role in the economy. Article 24
of Law No. 23 of 1999 concerning Bank Indonesia said that the banking authority is
the authority to establish rules, give and revoke licenses, supervise, and impose
sanctions against the Bank. Article 2 Paragraph (3) of Law No. 37 of 2004 on
Bankruptcy and Suspension of Payment gives sole jurisdiction to Bank Indonesia to
apply for a declaration of bankruptcy to the Bank as a creditor.
Creditors can not file a bankruptcy petition directly to the Commercial Court
against the debtor which is the Bank. Creditors must submit his desire to Bank
Indonesia and Bank Indonesia could only apply for a declaration of bankruptcy of the
Bank to the Commercial Court. Bank should really be kepts as it pertains to
intermediary institution. Because bankruptcy is a simple arrangement of the Bank
would lead to public confidence in the Bank to be lost.
If the Bank can be petitioned for bankruptcy at the Commercial Court by two
or more customers, then the interests of other people who save their money in the
Bank would be harmed. In addition, it can cause a more severe impact on the national
economy, like the rush that can lead to the collapse of the Bank concerned and the
possibility of a systemic impact. Problems of Bank Indonesia as Central Bank in the
bankruptcy filing of the Bank is opening opportunities for the Creditor Bank (Bank
Customers) Bank Indonesia besides themselves in the bankruptcy filing against the
Bank. Legal mechanisms that can be used by creditors to resolve claims against the
Bank there are two, namely : 1. Through a bankruptcy petition filed the Bank’s own
customers at a business license revoked by the Bank of Bank Indonesia; and 2.
Through the mechanism of filing a claim with the Deposit Insurance Corporation
(DIC).
The results showed that : 1. Need for immediate revisions to Article 2
Paragraph (3) of Law No. 37 of 2004 or to make regulations concerning the
implementation of Bank insolvency; 2. Should be regulated in detail about the
Bankruptcy Bank. The way is to issue a government regulation that governs the
Bankruptcy Banks as a primary or secondary rule. Government Regulation on
Insolvency Bank as a secondary rule and Act No. 37 of 2004 as a primary rule; 3.
Bankruptcy process based on Law No. 37 of 2004 further ensure the existence of the
Legal Certainty for predetermined period of time until the bankruptcy decision.
*
**

) Student of Master of Law at Faculty of Law in University of North Sumatra
) Lecturers of Master of Law at Faculty of Law in University of North Sumatra 

Universitas Sumatera Utara

Bankruptcy filed at the time of revocation of business licenses according to the Bank
by the Bank of Indonesia Government Regulation No. 25 of 1999 concerning
Revocation of Business Licenses, Dissolution and Liquidation of Banks.
Key Words

: -

Bank bankruptcy
Liquidation of Banks
Bank Indonesia as Central Bank

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Kegiatan ekonomi pada umumnya dilakukan oleh pelaku-pelaku ekonomi

baik orang perorangan yang menjalankan perusahaan atau badan usaha yang
mempunyai kedudukan sebagai badan hukum atau bukan badan hukum. Kegiatan
ekonomi pada hakekatnya adalah kegiatan menjalankan perusahaan yaitu, suatu
kegiatan yang mengandung pengertian bahwa kegiatan yang dimaksud harus
dilakukan 1 :
1. Secara terus menerus dalam pengertian tidak terputus putus;
2. Secara terang-terangan dalam pengertian yang sah (bukan ilegal); dan
3. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka memperoleh keuntungan baik
untuk diri sendiri atau orang lain.

Kegiatan ekonomi yang terjadi di dalam masyarakat pada hakikatnya
merupakan rangkaian berbagai perbuatan hukum yang luar biasa banyak jenis, ragam,
kualitas dan variasinya yang dilakukan oleh antar pribadi, antar perusahaan, antar
negara dan antar kelompok dalam berbagai volume dengan frekuensi yang tinggi
setiap saat di berbagai tempat. Peranan tersebut baik dalam hal mengumpulkan dana
dari masyarakat maupun menyalurkan dana yang tersedia untuk membiayai kegiatan
perekonomian yang ada. Mengingat dengan semakin tinggi frekuensi kegiatan
1

Sri Redjeki Hartono, Husni Syawali, dan Neni Sri Imaniyati, Kapita Selekta Hukum
Ekonomi, (Bandung : Mandarmaju, 2000), hal. 4.

Universitas Sumatera Utara

ekonomi yang terjadi pada masyarakat tentunya semakin banyak pula kebutuhan akan
dana sebagai salah satu faktor pendorong dalam menggerakkan roda perekonomian.
Seiring pesatnya perkembangan ekonomi dunia telah berdampak pada meningkatnya
transaksi perdagangan antar pelaku usaha, dimana satu pelaku usaha melakukan
usaha atau investasi di beberapa negara berdasarkan hukum negara setempat. 2
Sektor perbankan di Indonesia memiliki peran yang sangat strategis dalam
perekonomian, mengingat peranannya sebagai lembaga intermediasi dan penunjang
sistem pembayaran. Terlebih lagi perbankan masih mendominasi sektor keuangan
Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah menaruh perhatian yang besar terhadap
kebijakan pengaturan dan pengawasan bank, apalagi setelah terjadinya krisis
perbankan. Salah satu pelajaran penting yang dapat ditarik dari krisis perbankan
adalah

bahwa

kegagalan

suatu

bank,

apalagi

yang

berdampak

sistemik,

mengakibatkan tingkat kepercayaan masyarakat kepada sistem perbankan nasional
menjadi sangat menurun, selain itu berakibat pula pada terganggunya kegiatan
perekonomian. 3
Berdasarkan Pasal 24 Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank
Indonesia, 4 Bank Indonesia adalah otoritas perbankan yang kewenangannya meliputi:
menetapkan peraturan (power to regulate), memberikan dan mencabut izin atas

2

Mustafa Siregar, Efektivitas Perundang-Undangan Perbankan dan Lembaga Keuangan
Lainnya dengan Penelitian di Wilayah Kodya, (Medan : Universitas Sumatera Utara, 1990), hal. 1.
3
Kelompok Kerja Edukasi Masyarakat di Bidang Perbankan, ”Cetak Biru Edukasi
Masyarakat di Bidang Perbankan”, http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/0906143C-163D-4A02-BC59C2D6C0E31AE9/903/CetakBiruEdukasiMasyarakatdiBidangKeuangan.pdf., diakses pada 12 Mei
2011.
4
Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3843.

Universitas Sumatera Utara

kelembagaan dan kegiatan usaha tertentu dari bank (power to license), 5
melaksanakan pengawasan bank (power to supervise) dan mengenakan sanksi
terhadap bank (power to impose sanction). Selaku otoritas perbankan, maka
kebijakan pengaturan dan pengawasan bank yang dirumuskan dan diimplementasikan
oleh Bank Indonesia bertujuan untuk mengupayakan terciptanya individual bank yang
sehat yang pada gilirannya mendukung sistem perbankan yang sehat. 6 Dengan
demikian, ada dua dimensi yang harus tercakup dalam penyelenggaraan kebijakan
perbankan, yaitu fokus terhadap individu bank dan fokus terhadap sistem perbankan
nasional. 7
Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang memberi kewenangan tunggal kepada Bank Indonesia
untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit atas bank sebagai debitor.

8

Pengaturan yang demikian ini menunjukkan bahwa pembuat peraturan kepailitan
memberikan perhatian tersendiri bagi bank sebagai debitor dalam pelaksanaan
kepailitan. 9

5

Sebelum berlakunya Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, otoritas
yang mempunyai power to license adalah Menteri Keuangan.
6
Bagian yang juga sangat penting dalam rangka mengupayakan terciptanya bank dan sistem
perbankan yang sehat adalah kualitas dan integritas pemegang saham pengendali, pengurus, dan
pegawai bank, serta iklim usaha yang kondusif. Dalam : Rimsky K. Judisseno, Sistem Moneter dan
Perbankan di Indonesia, Cetakan Kedua, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2005).
7
Sistem perbankan dapat diartikan sebagai kumpulan dari lembaga, kegiatan usaha, serta cara
dan proses pelaksanaan kegiatan usaha yang memungkinkan bank melaksanakan fungsinya dengan
baik. Dalam : Ibid.
8
Pasal 2 ayat (3), Undang-Undang No. 37 Tahun 2004, Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 131, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4443.
9
W.J.S. Poerwadarminta mengatakan bahwa pailit artinya bangkrut; misal perusahaan itu
sudah bangkrut dan bangkrut artinya menderita kerugian besar hingga jatuh (perusahaan, toko, dan
sebagainya). Dalam : W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai
Pustaka, 1999). Kemudian, John M. Echols dan Hassan Shadily mengatakan bahwa bankrupt artinya
bangkrut, pailit dan, bankruptcy artinya kebangkrutan, kepailitan. Lihat juga : John M. Echols dan

Universitas Sumatera Utara

Di dalam Pasal 2 ayat (3) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan

dan

Penundaan

Kewajiban

Pembayaran

Utang

disebutkan,

di

Penjelasannya, yaitu 10 :
“Dalam hal debitor adalah bank, permohonan pernyataan pailit hanya dapat
diajukan oleh Bank Indonesia sedangkan bank yang dimaksud adalah bank
sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. Pengajuan
permohonan pernyataan pailit bagi bank sepenuhnya merupakan kewenangan
Bank Indonesia dan semata-mata didasarkan atas penilaian kondisi keuangan
dan kondisi perbankan secara keseluruhan, oleh karena itu tidak perlu
dipertanggungjawabkan. Kewenangan Bank Indonesia untuk mengajukan
permohonan kepailitan ini tidak menghapuskan kewenangan Bank Indonesia
terkait dengan ketentuan mengenai pencabutan izin usaha bank, pembubaran
badan hukum, dan likuidasi bank sesuai peraturan perundang-undangan”.
Ketentuan bahwa terhadap permohonan Kepailitan bank ternyata tidak secara
serta merta dapat dilakukan oleh kreditor. Sebagai badan usaha yang mempunyai
karakteristik khusus, yaitu selaku intermediary institution yang bekerja dengan dana
masyarakat yang disimpan pada bank atas dasar kepercayaan, 11 maka prosedur
kepailitan terhadap bank oleh Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan
dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dibedakan dari prosedur kepailitan
bagi badan usaha pada umumnya. Kreditor tidak dapat mengajukan permohonan
pailit secara langsung kepada Pengadilan Niaga terhadap debitor yang merupakan
Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta : Gramedia, 1979). Selanjutnya : David K. Linnan
menamakan kepailitan sebagai liquidation in bankcruptcy. Bandingkan : David K. Linnan, Indonesian
Bankcruptcy Policy & Reform: Reconciling Efficiency and Economic Nationalism, (Singapura :
Institute of Southeast Asian Studies Singapore, September 1999), hal. 6., Sementara, J. Armour
menyebut kepailitan sebagai insolvency. Mengatakan bahwa : “insolvency means inability to pay
creditors”. J. Armour, “The Law and Economics of Corporate Insolvency : A Review”, (Cambridge :
ESRC Centre for Business Research University of Cambridge, Maret 2001), hal. 3.
10
Pasal 2 ayat (3) dan Penjelasannya, Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan
dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
11
Pasal 29 ayat (3), Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UndangUndang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4357. Lihat juga : Ross H.
Mcleod, Indonesia Assessment 1994 : Finance as a Key Sector in Indonesia’s Development,
(Singapura & Australia : Heng Mui Keng Terrace & Australian National University, 1994), hal. 132.

Universitas Sumatera Utara

bank. Kreditor tersebut harus mengajukan keinginannya kepada Bank Indonesia dan
hanya Bank Indonesia yang dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit
terhadap bank dimaksud ke pengadilan niaga.
Sebagai contoh kasus dapat dilihat pada permohonan pailit PT. Bank IFI atas
PT. Bank Danamon, Tbk. Permohonan tersebut ditolak oleh Pengadilan Niaga karena
PT. Bank IFI tidak berwenang meminta agar mempailitkan PT. Bank Danamon, Tbk.
Sebagaimana ketentuan Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 tentang
Kepailitan (pada saat itu Undang-Undang yang digunakan masih Undang-Undang
No. 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan), yang menyebutkan bahwa “Apabila
debiturnya adalah Bank, maka yang harus memohonkan pailit adalah hanya Bank
Indonesia (BI). PT. Bank IFI tidak memiliki kapasitas hukum untuk memohonkan
pailit PT. Bank Danamon, Tbk”. 12
Perkara ini berawal dari proses damai antara PT. Bank IFI dan PT. Bank
Danamon, Tbk., dan melibatkan Bank Indonesia yang tidak tercapai. PT. Bank
Danamon, Tbk., dianggap mewarisi kewajiban PT. Bank Nusa Internasional kepada
PT. Bank IFI sebesar US$. 5 juta. PT. Bank IFI melalui kuasa hukumnya mengirim
surat pada bulan Mei 2000 kepada Bank Indonesia yang isi suratnya adalah meminta
Bank Indonesia untuk mempailitkan PT. Bank Danamon, Tbk. Ternyata jawaban
Bank Indonesia yang didasarkan pada Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang
Perbankan tidak memuaskan PT. Bank IFI, bukan berdasarkan Undang-Undang No. 4
Tahun 1998 tentang Kepailitan seperti yang diinginkan PT. Bank IFI. Deputi Direktur

12

Tempo Interaktif, “Permohonan Pailit Bank IFI Atas Bank Danamon Ditolak”, Majalah
Tempo Diterbitkan Rabu 06 Juni 2001.

Universitas Sumatera Utara

Hukum Bank Indonesia di Pengadilan mengungkapkan bahwa “Bank Indonesia tidak
mengenal mekanisme pailit”. Keterangan tersebut dikuatkan lagi dengan keterangan
saksi ahli dari Bank Indonesia bernama Frederick Tumbuan yang mengatakan di
persidangan bahwa “mempailitkan Bank terlalu mahal bagi Bank Indonesia”. 13 Oleh
karena itu, maka Bank Indonesia memilih jalur likuidasi daripada jalur mempailitkan
Bank.
Kasus tersebut di atas diajukan ke Pengadilan Niaga mengenai permohonan
pailit oleh PT. Bank IFI kepada PT. Bank Danamon, Tbk., karena tidak ada tindak
lanjut dari Bank Indonesia yang sudah disurati oleh PT. Bank IFI. Berbeda dengan
kasus yang melanda PT. Bank Global International (Dalam Likuidasi) dan Lina
Sugiharti Otto yang memohonkan kasasi terhadap perkara kepailitan PT. Bank Global
International (Dalam Likuidasi). Kasasi tersebut adalah permohonan pailit Lina
Sugiharti Otto kepada PT. Bank Global International (Dalam Likuidasi). Namun
Mahkamah Agung menyatakan putusan Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat
merupakan kesalahan dalam menerapkan hukum, sebab seharusnya permohonan
pernyataan pailit tersebut dinyatakan tidak dapat diterima. 14
Dalam Penelitian ini akan di analisis mengenai alasan dibuatnya prosedur
khusus kepailitan bank. Analisis akan difokuskan pada usaha bank karena
mempunyai karakteristik khusus, yaitu selaku intermediary institution, 15 sehingga
terpeliharanya kepercayaan masyarakat terhadap bank yang merupakan hal yang
13

Ibid.
Hukum Online, “Hanya Bank Indonesia yang Berhak Memailitkan Bank Dalam Likuidasi”,
diterbitkan 29 Oktober 2007, http://www.hukumonline.com., diakses pada 07 Juni 2011.
15
Ross H. Mcleod, Indonesia Assessment 1994 : Finance as a Key Sector in Indonesia’s
Development, Op.cit.
14

Universitas Sumatera Utara

sangat esensial bagi kelangsungan usaha bank harus benar-benar dijaga. Apabila bank
dengan mudah dapat dimohonkan pailit oleh setiap kreditur, maka risikonya sangat
tinggi, karena pengaturan kepailitan yang sederhana terhadap bank akan
mengakibatkan kepercayaan masyarakat terhadap bank bisa menjadi hilang. Dapat
dibayangkan bahwa ketika mendengar kabar suatu bank diajukan untuk dimohonkan
pailit ke Pengadilan Niaga, maka nasabah penyimpan di bank tersebut akan segera
berbondong-bondong antri untuk mengambil simpanannya (rush). Bahkan dampak
lanjutan dari kondisi psikologis masyarakat ini dapat menimbulkan dampak berantai
kepada nasabah-nasabah bank lainnya, sehingga pada bank-bank lainnya juga dapat
terjadi rush (contagion effect).
Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, penelitian ini menjadi penting
sebagai ide perspektif hukum dalam upaya pemikiran yakni menguraikan kekhususan
kepailitan terhadap Bank yang diatur dalam ketentuan kepailitan dikaitkan dengan
fungsi bank dan peran Bank Indonesia dalam pengaturan dan pengawasan Bank
dalam rangka memajukan perekonomian nasional.

B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi pokok permasalahan

dari penelitian ini, antara lain :
1. Bagaimana kedudukan Bank Indonesia dalam hal pengajuan permohonan
pailit terhadap bank?
2. Bagaimana permasalahan hukum yang dihadapi Bank Indonesia sebagai bank
sentral apabila menerapkan kepailitan pada Bank?

Universitas Sumatera Utara

3. Bagaimana mekanisme hukum yang dapat digunakan oleh Kreditor dalam
menyelesaikan piutangnya terhadap Bank?

C.

Tujuan Penelitian
Tujuan utama yang hendak dicapai peneliti dalam melakukan penelitian ini

adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui dan menganalisis dasar yuridis kedudukan bank berupa
prinsip-prinsip yang menyebabkan hanya Bank Indonesia yang dapat
mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap bank.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis permasalahan hukum yang dihadapi
Bank Indonesia apabila menerapkan kepailitan pada Bank
3. Untuk mengetahui dan menganalisis mekanisme hukum yang dapat digunakan
oleh kreditor dalam menyelesaikan piutangnya terhadap Bank.

D.

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat memberi manfaat, yaitu :
1. Kegunaan Teoritis :
a. Sebagai bahan informasi bagi para akademisi maupun sebagai bahan
pertimbangan bagi penelitian selanjutnya, khususnya hukum kepailitan
dan hukum perbankan.
b. Memperkaya khasanah kepustakaan dalam hal literatur mengenai
kepailitan tentang permohonan pailit terhadap Bank yang hanya
dilakukan oleh Bank Indonesia yang masih sedikit.

Universitas Sumatera Utara

2. Kegunaan Praktis :
a. Sebagai bahan masukan bagi kalangan terkait yaitu Akademisi, Praktisi
Hukum Bisnis, Lembaga Pemerintah, Institusi Peradilan, dan Bank
Indonesia dalam hal bersinergi dan berkolaborasi untuk menerapkan
dan menegakkan ketentuan peraturan perundang-undangan hukum
kepailitan maupun peraturan lainnya yang memiliki relevansi dengan
hukum bisnis di Indonesia.
b. Sebagai bahan masukan bagi masyarakat (sebagai Nasabah Bank) agar
memiliki pemahaman terhadap permohonan kepailitan oleh Bank
Indonesia terhadap Bank dan tidak merasa khawatir apabila terjadi
permohonan pailit kepada bank tempat masyarakat menyimpan
uangnya.

E.

Keaslian Penelitian
Hasil dari pemeriksaan penulisan tesis dan disertasi di Universitas Sumatera

Utara terdapat 32 (tiga puluh dua) judul yang membahas Kepailitan, namun tidak
terdapat judul penelitian yang membahas Kepailitan terhadap Bank. Berdasarkan
pemeriksaan tersebut maka tesis dengan judul “Analisis Yuridis Permohonan
Pernyataan Pailit Terhadap Bank Dalam Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang” belum pernah dilakukan
dalam topik dan permasalahan yang sama. Jadi, penelitian ini dapat disebut asli sesuai
dengan asas-asas keilmuan yaitu, jujur, rasional dan objektif serta terbuka.

Universitas Sumatera Utara

Adapun beberapa penelitian yang memiliki karakteristik serupa tapi tidak
sama, antara lain :
1. Berlian Napitupulu, “Analisis Juridis Likuidasi Bank di Indonesia (Studi
Kasus di Kota Medan)”, Tesis yang dibuat di Medan pada Program Magister
Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara tahun 2004. Pada
tesis ini membahas mengenai akibat hukum yang timbul jika Undang-Undang
No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang jika diterapkan terhadap bank dan terhadap likuidasi bank;
2. Saraswati Jaya, “Perlindungan Hukum Terhadap Bank Sebagai Kreditor
Pemegang Hak Tanggungan Dalam Penangguhan Eksekusi Jaminan Berkaitan
Dengan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang”, Tesis yang dibuat di Medan pada
Program Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara tahun
2010. Dibimbing oleh Muhammad Yamin, Runtung Sitepu, dan T. Keizerina
Devi A. Pada tesis ini membahas mengenai eksekusi hak tanggungan,
kedudukan kreditur, dan pelaksanaan eksekusi hak tanggungan.

Penulisan penelitian ini memiliki rumusan masalah dan tujuan penelitian yang
berbeda. Begitu juga dengan kajiannya berupa pengajuan permohonan pailit oleh
Bank Indonesia terhadap Bank, permasalahan hukum terhadap Bank Indonesia yang
menerapkan ketentuan kepailitan pada Bank, dan mekanisme hukum yang digunakan
oleh kreditor dalam menyelesaikan piutangnya terhadap bank. Pertanggung jawaban
tersebut dapat berupa isi dan kajian yang dipaparkan dalam penelitian ini.

Universitas Sumatera Utara

F.

Kerangka Teoritis dan Konsepsi
1.

Kerangka Teori
Kewangan Bank Indonesia sebagai institusi yang mempunyai kewenangan

dalam mengajukan kepailitan bank merupakan cerminan dari teori utilitarisme. Teori
tersebut untuk pertama kalinya dikembangkan oleh Jeremy Bentham 16 (1748-1832)
yang dalam karya tulisannya yang berjudul “An Introduction to the Principles of
Morals and Legislation” menjelaskan bahwa suatu kebijaksanaan atau tindakan
dinilai baik secara moral kalau hanya mendatangkan manfaat bagi orang sebanyak
mungkin. 17 Dalam hal ini, utilitarisme sangat menekankan pentingnya konsekuensi
perbuatan dalam menilai baik buruknya suatu hal. Kualitas moral suatu perbuatan
baik buruknya tergantung pada konsekuensi atau akibat yang dibawakan olehnya.
Jika suatu perbuatan mengakibatkan manfaat paling besar, artinya memajukan
kemakmuran, kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat, maka perbuatan itu adalah
baik (the greatest good for the greatest number). Artinya, bahwa hal yang benar di
definisikan sebagai hal yang memaksimalisasi apa yang baik atau meminimalisir apa
yang berbahaya bagi kebanyakan orang. 18 Jika perbuatan membawa lebih banyak
kerugian daripada manfaat, perbuatan itu harus dinilai buruk. Konsekuensi perbuatan
tersebut memang menentukan seluruh kualitas moralnya. Perbuatan yang memang
16

Jeremy Bentham (1748-1832), karyanya Introduction to the Principles of Morals and
Legislation, pertama kali diterbitkan tahun 1789 adalah karya klasik yang menjadi rujukan (locus
classicus) tradisi utilitarian. Utilitarisme berasal dari kata Latin utilis yang berarti “manfaat”. Diktum
Bentham yang selalu dikenang, yakni bahwa mereka diharapkan mampu memaksimalkan kebahagiaan
terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Dalam : Ian Saphiro, Asas Moral dalam Politik, (Jakarta :
Yayasan Obor Indonesia bekerjasama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat Jakarta dan Freedom
Institute, 2006), hal. 13.
17
A. Sonny Keraf, Etika Bisnis Tuntutan dan Relevansinya, (Yogyakarta : Kanisius, 1998),
hal. 93-94.
18
Erni R. Ernawan, Business Ethics : Etika Bisnis, (Bandung : Alfabeta, 2007), hal. 93.

Universitas Sumatera Utara

bermaksud baik tetapi tidak menghasilkan apa-apa, menurut utilitarisme tidak pantas
disebut baik. 19
Moral biasanya mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai manusia. Di
samping itu, moralisme hukum paling baik dipahami sebagai pola alami institusional,
yakni pola dari upaya untuk membuat nilai-nilai menjadi efektif untuk memberikan
arahan bagi tingkah laku manusia. Moral dilegalisasi ketika ideal-ideal kebudayaan
diidentikkan dengan suatu gambaran pasti mengenai tatanan sosial. Sehingga
moralisme hukum bergerak ke arah hukum positif, yakni dengan memasukkan suatu
kecenderungan untuk memberi sanksi ke dalam proses hukum.
Prinsip Utilitarian menyatakan bahwa : ”An action is right from an ethical
point of view if and only if the sum total of utilities produced by that act is greater
than the sum total of utilities produced by any other act the agent could have
performed in its place”. 20 Menurut teori ini sesuatu adalah baik jika membawa
manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan
masyarakat sebagai keseluruhan. Jadi utilitarianisme tidak boleh dimengerti dengan
cara egoistis. Dalam rangka pemikiran utilitarisme kriteria untuk menentukan baik
buruknya suatu perbuatan adalah kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar.
Perbuatan yang mengakibatkan paling banyak orang merasa senang dan puas adalah
perbuatan yang terbaik. 21 Hal ini dapat dipahami dari alasan diberikannya kewengan
kepada Bank Indonesia untuk mengajukan kepailitan pada bank untuk melindungi

19

K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis, (Yogyakarta : Kanisius, 2000), hal. 67.
Manuel G. Velasquez, Business Ethics : Concepts and Cares, Edisi Kelima, (New Jersey :
Pearson Education Inc., 2002), hal. 76
21
K. Bertens, Loc.cit, hal. 66.
20

Universitas Sumatera Utara

kepentingan ekonomi secara makro karena bank merupakan lembaga kepercayaan
yang harus dijaga stabilitasnya oleh Bank Indonesia .
Di berbagai negara, tugas menjaga stabilitas keuangan diemban oleh bank
sentral, dengan dasar bahwa stabilitas moneter hanya dapat dicapai dengan sistem
keuangan yang stabil. Dari sini dapat dilihat sudah seharusnya pemeliharaan stabilitas
moneter dan stabilitas keuangan dilaksanakan secara simultan. Di Indonesia, memang
tidak ada kerangka hukum yang secara formal dan definitif menyatakan bahwa Bank
Indonesia memiliki fungsi dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Namun perlu
diingat, bahwa baik fungsi kestabilan moneter maupun fungsi kestabilan keuangan
akan bermuara pada hal yang sama, yaitu stabilitas harga.22 Dengan demikian, Bank
Indonesia dalam menjalankan fungsi menjaga stabilitas moneter yang diatur secara
eksplisit dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UndangUndang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, secara simultan juga turut
menjaga stabilitas keuangan. Atau dapat pula dikatakan bahwa tugas menjaga
stabilitas sistem keuangan menjadi satu dengan tugas menjaga stabilitas sistem
moneter. 23
Sejalan dengan berlakunya Undang-Undang No. 3 Tahun 2004 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Bank
Indonesia juga telah memasukkan aspek stabilitas sistem keuangan dalam misinya,
yaitu memelihara stabilitas nilai rupiah dengan memelihara stabilitas moneter dan

22

Zulkarnain Sitompul, Perlindungan Dana Nasabah Bank: Suatu Gagasan tentang
Pendirian Lembaga Penjaminan Simpanan di Indonesia, (Jakarta : Program Pascasarjana Fakultas
Hukum Universitas Indonesia, 2002), hal. 349.
23
Ibid.

Universitas Sumatera Utara

mendorong stabilitas sistem keuangan untuk pembangunan Indonesia yang
berkelanjutan. 24 Sehingga peranan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas
keuangan bukanlah suatu hal untuk diperdebatkan lagi.
Pelaksanaan tugas dan fungsi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas
keuangan antara lain menjaga stabilitas moneter, menciptakan kinerja lembaga
keuangan yang sehat, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran,
melakukan

macroprudential

surveillance

dan

mengembangkan

riset

untuk

pengembangan instrumen dan indikator macroprudential serta mendeteksi kerentanan
sektor keuangan, dan yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan fungsi lender of
the last resort. 25
Sebagai lender of the last resort, bank sentral memiliki peranan yang sangat
besar dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Lender of the last of resort
merupakan instrumen pengawasan pada saat krisis, dimana bank sentral dapat
memberikan bantuan kepada bank yang mengalami krisis likuiditas apabila ada
potensi terjadi resiko sistemik. 26 Hal ini bertujuan untuk memulihkan kepercayaan
sehingga menciptakan kredibilitas bank, sehingga stabilitas keuangan juga turut
terjaga.

24

Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia, “Kerangka Acuan Tugas
Penelitian dan Publikasi : Peran Bank Sentral dalam Stabilitas Sistem Keuangan dan Jaring Pengaman
Sektor Keuangan”, (Jakarta : Bank Indonesia, Maret 2009).
25
Ibid.
26
Zulkarrnaen Sitompul, Op.cit., hal. 346. Lihat juga : Tobias M.C. Asser, Legal Aspects of
Regulatory Treatment of Banks in Distress, (Washington DC : International Monetary Fund, 2001),
hal. 20.

Universitas Sumatera Utara

Kita dapat juga mengelaborasi pendapat dari H.L.A. Hart sebagai ahli hukum
yang membagi hukum ke dalam dua bentuk. 27 Pertama, primary rule, yaitu aturan
yang membebankan kewajiban dan

penegakannya tergantung pada penerimaan

mayoritas masyarakat. Kedua, secondary rule, yaitu aturan-aturan yang memberikan
kekuasaan.

Namun

primary

rule

memiliki

kelemahan-kelemahan

berupa

ketidakpastian, statis dan tidak efisien, maka dari itu perlu untuk membuat secondary
rule yang berfungsi untuk menutupi kekurangan dari primary rule. Secondary rule
terdiri atas rules of recognition, rules of change dan rules of adjudication. Rules of
Recognition bertujuan untuk menilai apakah suatu norma dapat diterima sebagai
peraturan atau tidak dalam masyarakat. Apabila tidak memenuhi rules of recognition
ini, maka tidak dapat diterima sebagai peraturan. Oleh Hart, salah satu kriteria bagi
rules of recognition adalah kembali menguji keabsahannya berdasarkan norma dasar
yang berlaku. Apabila suatu norma yang telah disahkan ternyata bertentangan dengan
norma dasar, maka melalui rules of change, norma itu dapat dicabut dan dapat diganti
dengan yang baru. 28 Di Indonesia, hal ini dapat diajukan dengan judicial review
melalui Mahkamah Konstitusi.
Dapat disimpulkan bahwa apabila berbagai undang-undang yang mengatur
kewenangan yang sama dari berbagai badan, maka semua undang-undang tersebut
akan dapat diuji keabsahan dan validitasnya sesuai dengan norma dasar yang berlaku.
Dalam hal ini, pengaturan sektor keuangan misalnya, dilihat dari norma dasar, Bank

27

M.R. Zafer, Jurisprudence: An Outline, (Kuala Lumpur : International Law Book Services,
1994), hal. 17-18. Lihat juga : Hari Chand, Modern Jurisprudence, (Kuala Lumpur : International
Law Book Services, 1994), hal. 54.
28
Ibid.

Universitas Sumatera Utara

Indonesia memiliki kekuatan yang sangat kuat dibandingkan dengan badan-badan
pengawas sektor keuangan lain seperti Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAMLK) dan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS). 29
Bank sentral yang independen dan otonom harus tetap dilihat sebagai bagian
dari cabang kekuasaan eksekutif, namun terpisah untuk menjalankan kebijakannya
yang khusus demi efisiensi, dan lepas dari campur tangannya. Konsep ini dikenal
den

Dokumen yang terkait

Tugas dan Wewenang Pengurus PKPU Berdasarkan Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

10 159 93

Akibat Hukum Kepailitan Terhadap Harta Warisan Ditinjau Dari Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

24 183 81

Akibat Hukum Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Terhadap Perjanjian Sewa Menyewa Menurut Undang-Undang No. 37 Tahun 2004

13 163 123

Perlindungan Hukum Terhadap Kurator Dalam Melaksanakan Tugas Mengamankan Harta Pailit Dalam Praktik Berdasarkan Kajian Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

1 3 18

TINJAUAN TENTANG KEHARUSAN DIKABULKANNYA PERMOHONAN PERNYATAAN PAILIT OLEH HAKIM (Studi KasusPertimbanganPasal 8 ayat (4) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang di Pengadilan Negeri Niaga Semarang).

0 0 14

31 UU NO 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG

0 0 62

BAB II AKIBAT PUTUSAN PAILIT MENURUT UNDANG-UNDANG NO.37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG A. Penyebab Terjadinya Kepailitan - Kewenangan Debitur Pailit Untuk Mengajukan Gugatan Perbuatan Melawan Hukum Terhadap Kreditu

0 0 28

BAB II PUTUSAN PAILIT MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG A. Pengertian Pailit - Analisis Yuridis Putusan Pailit Terhadap PT. Telkomsel Tbk.

0 1 31

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Menurut Undang-Undang Kepailitan - Ubharajaya Repository

0 0 17

JURNAL ILMIAH RENVOI DALAM KEPAILITAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG

0 0 16