Kemitraan antara Usaha Kecil Menengah (UKM) Kerajinan Kayu dan Kulit Kayu dengan Perum Perhutani KPH Bogor

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan unit usaha yang
potensial untuk menopang perekonomian nasional. Usaha Kecil Menengah telah
memberikan sumbangan yang nyata dalam pertumbuhan dan pembangunan
ekonomi dalam bentuk penciptaan lapangan kerja. UKM dapat memanfaatkan dan
membantu mengolah berbagai sumberdaya alam maupun hutan yang potensial di
suatu daerah yang belum diolah secara komersial. Hal ini berkontribusi besar
terhadap pendapatan daerah maupun pendapatan negara Indonesia.
Seperti halnya UKM kerajinan yang memiliki sifat usaha padat karya yang
memiliki prospek usaha yang baik sehingga memiliki peranan yang penting dalam
penyediaan kesempatan usaha, lapangan kerja, peningkatan pendapatan
masyarakat,

maupun

peningkatan

ekspor

yang

akhirnya

akan

mampu

meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Usaha kerajinan yang memanfaatkan
kayu sebagai bahan baku memiliki potensi pasar yang besar untuk produk
kerajinan baik untuk pasar lokal maupun ekspor. Selain itu, pada proses
produksinya mudah diolah dan dapat dikerjakan dengan teknologi sederhana.
Dengan pengembangan usaha kerajinan dapat mengembangkan jiwa kreatif
masyarakat untuk memanfaatkan sumberdaya yang tidak produktif, kemudian
mengolahnya menjadi produktif dan bernilai jual tinggi, dimana banyak sisa-sisa
(limbah) dari kegiatan ekonomi masyarakat yang belum dimanfaatkan, contohnya
limbah kayu.
Bahan baku kayu bagi industri atau usaha kerajinan dapat dikatakan
hampir tidak mempunyai batasan jenis dan ukuran, bahkan limbah kayu juga
dapat dimanfaatkan, sehingga secara nasional pengembangan usaha ini akan
memberikan dampak positif pula terhadap kenaikan efisiensi sumberdaya alam
lokal, yakni efisiensi pemanfaatan hasil hutan berupa kayu. Sehingga UKM
kerajinan kayu perlu mendapat perhatian dalam pengembangannya baik dari
pemerintah maupun masyarakat agar dapat berkembang lebih kompetitif bersama
pelaku ekonomi lainnya, karena dalam realitanya UKM kerajinan masih banyak

yang belum berdaya, baik keterbatasan modal, rendahnya teknologi dan
keterlampilan maupun terbatasnya akses pasar yang menyebabkan sulitnya sektor
usaha kecil menengah untuk berkembang.
Salah satu instrumen untuk mendorong pengembangan usaha kecil
kerajinan kayu melalui kemitraan. Kemitraan adalah hubungan antara pihak-pihak
yang bermitra yang didasarkan pada ikatan yang saling menguntungkan dalam
hubungan kerja yang sinergis. Upaya kerjasama dengan perusahaan yang berskala
lebih besar tentunya dapat memberikan nilai tambah bagi pengrajin.
Konsep kemitraan diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk
mengembangkan usaha kecil dan mengatasi ketimpangan ekonomi antara usaha
skala besar (perusahaan) dengan usaha skala kecil (pengrajin). Adanya kebutuhan
yang saling mengisi memungkinkan terciptanya harmonisasi dalam kemitraan
yang pada akhirnya akan menguntungkan kedua belah pihak. Oleh karena itu akan
dikaji hubungan kemitraan yang dilakukan oleh UKM kerajinan kayu, yakni
kemitraan antara UKM kerajinan kayu dengan Perum Perhutani KPH Bogor.
Perhutani sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada dasarnya
mempunyai kewajiban untuk melaksanakan program kemitraan sejalan dengan
tujuan dan peraturan pemerintah dalam program kemitraan, yang juga disesuaikan
dengan misi dan visi perusahaan. Program Kemitraan di Perum Perhutani pada
dasarnya memprioritaskan usaha kecil yang kegiatan usahanya berkaitan dengan
bidang kehutanan. Program kemitraan merupakan program untuk meningkatkan
kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan
dana dari bagian laba BUMN yang diberikan dalam bentuk pemberian pinjaman
modal kerja secara bergulir kepada pengrajin atau kelompok tani.
Dalam rangka mendorong kegiatan dan pertumbuhan ekonomi kerakyatan
serta terciptanya pemerataan pembangunan melalui perluasan lapangan kerja,
kesempatan berusaha dan pemberdayaan masyarakat, perlu ditingkatkan
partisipasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memberdayakan dan
mengembangkan kondisi ekonomi tersebut melalui program kemitraan BUMN
dengan usaha kecil.
Komitmen yang kuat serta kesiapan diantara pihak-pihak yang bermitra
dibutuhkan dalam hubungan kemitraan, sehingga suatu usaha dapat mengalami

peningkatan. Hubungan kerjasama dengan kemitraan dapat berjalan efektif
sepanjang masing-masing pihak mempunyai komitmen kemitraan. Kemajuan
suatu usaha kecil atau menengah dapat terlihat jika pengusaha kecil tersebut juga
aktif dalam memanfaatkan kesempatan pembinaan dan pengembangan atas
kegiatan kemitraan dengan semaksimal mungkin untuk dapat memperkuat
dirinya, sehingga dapat tumbuh menjadi pengusaha kuat dan mandiri bedasarkan
prinsip yang saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan.
Kemitraan ini akan dirasa manfaatnya, apabila sesuai dengan prinsipnya.
Adanya manfaat dalam kemitraan ini dapat menjadi motivasi dan dorongan bagi
para anggotanya atau pihak yang bermitra untuk terus meningkatkan
partisipasinya dalam kemitraan. Sebaliknya jika kemitraan itu tidak memberikan
manfaat atau keuntungan, maka besar kemungkinan para anggotanya tidak
bersedia melanjutkan kemitraan. Hal ini menarik untuk dikaji, bagaimana
hubungan kemitraan yang telah dijalin selama ini, dan apakah telah memberikan
manfaat atau keuntungan bagi kedua belah pihak yang bermitra khususnya pada
usaha kerajinan mitraan.
1.2 Perumusan Masalah
Kemitraan menyangkut hubungan antara pemberi pekerjaan dengan
penerima kerja. Dengan hubungan yang demikian, maka pemberi kerja dapat
berlaku sebagai pemberi kepercayaan atau principal, sedangkan penerima kerja
yang membuat keputusan atas nama dan akan mempengaruhi principal dapat
dikategorikan sebagai ‘anak buah’ atau agent.
Hubungan Kemitraan tidak lain adalah hubungan principal-agent. Dalam
hal ini Perum Perhutani bertindak sebagai principal, sedangkan UKM kerajinan
sebagai agent. Hubungan principal-agent yang efisien menjadi sesuatu yang
kompleks untuk dipecahkan, karena munculnya ketidaksepadanan informasi
(asymmetric information). Asymmetric information muncul karena pada umumnya
pihak agent menguasai informasi yang lebih dari principal tentang keragaan
(work effort) yang ada pada dirinya. Sehingga pada kondisi demikian
menyebabkan principal menghadapi dua resiko, yaitu ; untuk kondisi sebelum
kontrak dibuat (ex ante), terdapat resiko salah memilih agent yang sesuai dengan
keinginannya (adverse selection of risk). Kedua, pada kondisi setelah kontrak

disepakati (ex post) dapat terjadi resiko agent ingkar janji (moral hazard),
sehingga hak-hak dan kewajiban agent dalam menjalankan kemitraan menjadi
rancu karena tidak terpenuhi. Asymmetric information dapat memunculkan resiko
biaya transaksi yang tinggi. Hubungan principal-agent akan efisien apabila
tingkat harapan keuntungan (reward) kedua belah pihak seimbang dengan
korbanan masing-masing, serta biaya transaksi (transaction costs) dapat
diminimalkan sehubungan dengan pembuatan kontrak-kontrak atau kesepakatankesepakatan (contractual arrangement) (Rodgers 1994, diacu dalam Nugroho
2002).
Sehingga dari permasalahan tersebut didapat pertanyaan-pertanyaan
penelitian yang dirumuskan, sebagai berikut :
1. Bagaimana kriteria pemilihan calon mitra yang dilakukan?
2. Apa sajakah hak dan kewajiban masing-masing pihak yang bermitra?
3. Bagaimana implementasi hak dan kewajiban tersebut dipenuhi oleh masingmasing pihak?
4. Berapa besar biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan kontrak?
5. Apakah kemitraan yang dilakukan menguntungkan kedua belah pihak?

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui kriteria pemilihan calon mitra UKM kerajinan kayu yang
dilakukan oleh pihak Perum Perhutani
2. Memahami hak dan kewajiban UKM kerajinan kayu mitra dan pihak Perum
Perhutani KPH Bogor serta implementasinya dalam menjalankan kemitraan
3. Mengetahui besarnya biaya transaksi yang dikeluarkan oleh masing-masing
pihak
4. Mengetahui pendapatan bagi usaha pengrajin kayu mitra

1.4 Manfaat Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Sebagai bahan referensi maupun informasi bagi masyarakat maupun peneliti
dalam melakukan penelitian lebih lanjut untuk pengembangan UKM-UKM
kerajinan, juga bagi pihak terkait dalam rangka pengembangan kemitraan.
2. Sebagai bahan informasi dan masukan bagi Perum Perhutani KPH Bogor
untuk terus meningkatkan hubungan kerjasama yang baik dengan UKM
pengrajin kayu dalam kegiatan kemitraan.
3. Sebagai bahan informasi dan pertimbangan bagi pemerintah dan instansi
terkait mengenai pelaksanaan kemitraan UKM kerajinan dalam upaya
pengembangannya.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Bertitik tolak pada permasalahan dan tujuan penelitian, ruang lingkup dan
keterbatasan penelitian ini, yaitu : analisis kemitraan dibatasi hanya pada
hubungan kemitraan dalam Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL)
yang terjalin antara UKM-UKM di bidang kerajinan kayu yang bermitra dengan
Perum Perhutani KPH Bogor dengan bahasan yang terdiri atas pembentukan
kemitraan, pelaksanaan serta manfaat/keuntungan bagi pihak-pihak yang bermitra.
Usaha bidang kerajinan kayu yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kerajinan
yang menghasilkan produk-produk souvenir, barang seni atau pajangan
(handycraft) dengan bahan baku berupa kayu dan kulit kayu.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Usaha Kecil Menengah
Usaha Kecil dan Menengah disingkat UKM adalah sebuah istilah yang
mengacu ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak
Rp.200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, dan usaha yang
berdiri sendiri. Kriteria usaha kecil menurut Undang-Undang Nomor 9 Tahun
1995 adalah sebagai berikut: (1) Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.
200.000.000,- (Dua Ratus Juta Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan
tempat usaha, (2) Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp.
1.000.000.000,- (Satu Milyar Rupiah), (3) Milik Warga Negara Indonesia (4)
Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang
tidak dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung
dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar, dan (5) Berbentuk usaha orang
perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang
berbadan hukum, termasuk koperasi.

2.2 Konsep Kemitraan
2.2.1 Definisi Kemitraan
Mengacu kepada Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 Pasal 1 mengenai
kemitraan, Kemitraan merupakan kerjasama antara usaha kecil dengan usaha
menengah atau usaha yang lebih besar disertai pembinaan dan pengembangan
yang berkelanjutan oleh usaha menengah atau usaha besar dengan memperhatikan
prinsip saling memerlukan, memperkuat dan menguntungkan.
Kemitraan adalah hubungan biasa antara usaha besar dengan usaha kecil
diserati

bantuan

pembinaan

berupa

peningkatan

sumberdaya

manusia,

peningkatan pemasaran, peningkatan teknik produksi, peningkatan modal kerja
dan peningkatan kredit perbankan (Supeno 1996, diacu dalam Simanjuntak 2005).

2.2.2 Latar Belakang Kemitraan
Menurut Tambunan (1996), diacu dalam Putro (2008), penyebab
timbulnya kemitraan di Indonesia ada dua macam, sebagai berikut :
1. Kemitraan yang didorong oleh pemerintah. Dalam hal ini kemitraan timbul
menjadi isu penting karena telah disadari bahwa pembangunan ekonomi
selama ini selain meningkatkan pendapatan nasional perkapita juga telah
memperbesar kesenjangan ekonomi dan sosial ditengah masyarakat, antara
usaha besar dengan usaha kecil.
2. Kemitraan yang muncul dan berkembang secara alamiah. Kemitraan antara
unit usaha terjadi secara alamiah disebabkan keinginan untuk meningkatkan
efisiensi dan tingkat fleksibilitas untuk meningkatkan keuntungan.
Adapun latar belakang timbulnya kemitraan antara pengusaha besar
dengan pengusaha kecil, sebagai berikut :
1. Latar belakang pengusaha besar bermitra dengan pengusaha kecil antar lain ;
a. Adanya imbauan pemerintah tentang kemitraan pengusaha besar dengan
pengusaha kecil atau petani yang direalisasikan melalui Undang-Undang
Perindustrian Nomor 5 Tahun 1981 dan SK Menteri Keuangan No. 316.
b. Adanya Imbauan bisnis (ekonomi) dimana pengusaha besar yang bermitra
lebih diuntungkan daripada mengerjakan sendiri.
c. Tanggung jawab sosial, kepedulian dari pengusaha besar untuk
memajukan dan mengembangkan masyarakat sekitar.
2. Latar belakang pengusaha kecil bermitra dengan pengusaha besar, yaitu ;
a. Adanya jaminan pasar yang pasti
b. Mengharapkan adanya bantuan dalam hal pembinaan, permodalan dan
pemasaran.
c. Kewajiban untuk bermitra dengan pengusaha besar
d. Kerjasama dengan pengusaha besar akan lebih menguntungkan, baik dari
segi harga, jumlah dan kepastian, maupun dari segi promosi (Soetardjo
1994, diacu dalam Fadloli 2005).

2.2.3

Maksud dan Tujuan Kemitraan
Kesadaran saling menguntungkan tidak berarti harus memiliki kemampuan

dan kekuatan yang sama, tetapi yang terpenting adalah posisi tawar-menawar
yang setara bedasarkan peran masing-masing. Adapun tujuan yang ingin dicapai
dalam kemitraan sebagai berikut :
1. Meningkatkan pendapatan usaha kecil dan masyarakat
2. Meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pelaku kemitraan.
3. Meningkatkan pemerataan dan pemberdayaan masyarakat dan usaha kecil.
4. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan
5. Memperluas lapangan pekerjaan (Hafsah, 2000)
Menurut Supeno (1996), diacu dalam Simanjuntak (2005) tujuan
kemitraan bedasarkan pendekatan kultural adalah agar mitra usaha dapat
menerima dan mengadaptasi nilai-nilai baru dalam berusaha, antara lain :
perluasan wawasan, kreatifitas, berani mengambil resiko, etos kerja, kemampuan
manajerial, bekerja atas dasar perencanaan, dan berwawasan kedepan.
Dalam rangka kemitraan, tugas penting yang diemban pengusaha besar
adalah untuk melakukan pembinaan dan pengembangan pengusaha kecil dalam
bidang produksi dan pengolahan, pemasaran, sumberdaya manusia dan teknologi.
Sedangkan tugas utama pengusaha kecil antara lain adalah memanfaatkan
kesempatan pembinaan dan pengembangan tersebut semaksimal mungkin untuk
memperkuat dirinya sehingga dapat tumbuh menjadi pengusaha kuat dan mandiri
(Rahmana 2008).

2.2.4 Pendekatan Dalam Hubungan Kemitraan
Dalam mempelajari teori kemitraan, dapat menggunakan 2 pendekatan,
yaitu : (1) Pendekatan hubungan yang memberi kepercayaan (principal) dan yang
menerima kepercayaan (agent) atau secara umum disebut Principal-agent
relationship dan (2) Pendekatan teori kemitraan positif (positif theory of agency).
Jansen (1983), diacu dalam Nugroho (2003) menjelaskan sebagai berikut :
1. Pendekatan Principal-agent relationship, umumnya berkonsentrasi pada
pemodelan pengaruh tiga faktor dalam kontrak yang berinteraksi didalam
hubungan hirarkis antara principal-agent; (1) Struktur preferensi dari pihak-

pihak yang terlibat dalam kontrak, (2) Masalah-masalah ketidakpastian (3)
Struktur organisasi yang ada. Perhatian utama pembahasan ditujukan kepada
(1) Pembagian resiko (risk sharing) diantara pelaku, (2) Bentuk kontrak yang
optimal antara principal dan agent, dan (3) Keseimbangan kesejahteraan
antar pelaku sebagai pengaruh ada atau tidaknya biaya transaksi.
2. Pendekatan positive theory of agency. Umumnya berkonsentrasi pada
pemodelan pengaruh adanya (1) Tambahan aspek pada kontrak, (2)
Teknologi dalam ikatan dan pengawasan kontrak, dan (3) Bentuk organisasi
yang ada. Perhatian utama pembahasannya meliputi: (1) Intensitas
permodalan, (2) Tingkat spesialisasi aset dan (3) Pasar tenaga kerja internal
dan eksternal yang berpengaruh pada kontrak.

2.2.5

Hubungan Principal-Agent
Menurut Nugroho (2002), kemitraan menyangkut hubungan antara

pemberi pekerjaan dengan penerima kerja. Dengan hubungan yang demikian,
maka pemberi kerja dapat berlaku sebagai pemberi kepercayaan atau principal,
sedangkan penerima kerja yang membuat keputusan atas nama dan akan
mempengaruhi principal dapat dikategorikan sebagai ‘anak buah’ atau agent.
Hubungan Kemitraan tidak lain adalah hubungan principal-agent. Hubungan
principal-agent yang efisien menjadi sesuatu yang kompleks untuk dipecahkan,
karena munculnya asymmetric information dan sangat ditentukan oleh derajat
penolakan terhadap resiko (risk aversion) diantara pelaku. Asymetric information
muncul karena muncul karena pada umumnya pihak agent menguasai informasi
yang lebih dari principal tentang keragaan (work effort) yang ada pada dirinya.
Pada kondisi demikian maka principal menghadapi dua resiko, yaitu resiko salah
memilih agent yang sesuai dengan keinginannya (adverse selection of risk) pada
kondisi sebelum kontrak dibuat (ex ante), dan resiko agent ingkar janji (moral
hazard) pada kondisi setelah kontrak disepakati (ex post).
Hubungan

principal-agent

akan

efisien

apabila

tingkat

harapan

keuntungan (reward) kedua belah pihak seimbang dengan korbanan masingmasing, dan biaya transaksi (transaction costs) sehubungan dengan pembuatan

kontrak-kontrak atau kesepakatan-kesepakatan (contractual arrangement) dapat
diminimalkan (Rodgers 1994, diacu dalam Nugroho 2002).

2.2.6 Azas Kemitraan
Azas kemitraan adalah sebagai berikut :
1. Saling memerlukan, dalam arti perusahaan mitra memerlukan pasokan bahan
baku dan kelompok mitra memerlukan penampung hasil dan bimbingan.
2. Saling memperkuat, dalam arti baik kelompok mitra maupun perusahaan
mitra sama-sama memperhatikan tanggung jawab moral dan etika bisnis
sehingga akan memperkuat kedudukan masing-masing dalam meningkatkan
daya saing usahanya.
3. Saling menguntungkan, yaitu baik kelompok mitra maupun perusahaan mitra
memperoleh peningkatan pendapatan dan kesinambungan usaha.

2.3 Analisis Pendapatan
2.3.1 Pendapatan Produksi
Analisis pendapatan produksi memiliki kegunaan bagi pengrajin atau
pemilik faktor produksi. Bagi pengrajin, analisis pendapatan dapat memberikan
bantuan untuk mengukur apakah kegiatan usahanya berhasil atau tidak. Dalam
melakukan analisis pendapatan diperlukan dua data pokok yaitu keadaan
penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu yang ditetapkan. Penerimaan
produksi adalah total nilai produk yang dihasilkan, yaitu hasil perkalian dari
jumlah fisik produk dengan harga jual. Sedangkan pengeluaran atau biaya
produksi adalah semua pengorbanan sumberdaya ekonomi dalam satuan uang
yang diperlukan untuk menghasilkan sesuatu produk dalam satu periode produksi.

2.3.2 Pengertian Biaya
Biaya adalah pengorbanan sumberdaya ekonomi yang dinyatakan dalam
satuan moneter (uang), yang telah terjadi atau akan terjadi untuk tujuan tertentu.
Biaya menurut perilaku terhadap perubahan volume kegiatan dapat dibedakan
kedalam 2 jenis, yaitu : (1) Biaya tetap, biaya yang jumlah totalnya tetap dalam
satuan unit waktu tertentu, tetapi akan berubah per satuan unitnya jika volume

produksi per satuan waktu tersebut berubah. Biaya ini akan terus dikeluarkan
walaupun tidak berproduksi. Misal depresiasi, bunga modal, pajak langsung, gaji
dan lain sebagainya. (2) Biaya variabel, biaya yang per satuan unit produksinya
tetap, tetapi akan berubah jumlah totalnya jika volume produksinya berubah.
Biaya ini tidak diperlukan apabila tidak berproduksi. Misal upah borongan, bahan
baku, pemeliharaan dan perbaikan alat dan lain sebagainya (Mulyadi 1990, diacu
dalam Nugroho 2002).
Depresiasi atau penyusutan alat produksi yang dikategorikan sebagai biaya
tetap terjadi karena lamanya pengaruh penggunaan (umur alat), sehingga pada
suatu saat alat tersebut tidak dapat digunakan lagi atau tidak bernilai ekonomis.
Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode Garis Lurus dengan
memperhitungkan nilai sisa ;

2.3.3 Biaya Transaksi
Biaya transaksi adalah biaya yang muncul ketika individu-individu
mengadakan pertukaran hak-haknya dan saling ingin menegakan hak ekslusif
yang dimilikinya (Rodgers 1994, diacu dalam Nugroho 2003).
Ostrom et al. (1993), diacu dalam Nugroho (2003) menjelaskan bahwa
biaya transaksi, sebagai berikut :
1. Biaya koordinasi (coordination costs), biaya-biaya yang dikeluarkan untuk
waktu, modal dan personil

yang diinvestasikan dalam negosiasi,

pengawasan dan penegakan kesepakatan diantara pelaku
2. Biaya informasi (information costs), biaya-biaya yang diperlukan untuk
mencari dan mengorganisasi data, termasuk biaya atas kesalahan informasi
sebagai akibat kesenjangan pengetahuan tentang variabel waktu dan tempat
serta ilmu pengetahuan
3. Biaya strategi (strategic costs), biaya-biaya yang dikeluarkan sebagai akibat
informasi, kekuasaan dan sumberdaya lainnya yang tidak sepadan diantara

pelaku, umumnya berupa pengeluaran untuk membiayai aktivitas free
riding, rent seeking dan corruption.
Menurut Kuperan et al. (1998), diacu dalam Yogayanti (2005)
mendefinisikan bahwa biaya transaksi meliputi biaya memperoleh informasi,
biaya untuk membangun posisi tawar dan biaya menegakan keputusan yang telah
dibuat. Biaya-biaya yang berhubungan dengan biaya kontrak dapat disebut
sebagai biaya transaksi dan biaya negosiasi. Biaya transaksi kontrak dikategorikan
ke dalam 3 hal, yaitu : (1) Biaya informasi (2) Biaya pengambilan keputusan dan
(3) Biaya operasional (biaya monitoring, biaya pemeliharaan, dan biaya-biaya
distribusi sumberdaya). Sedangkan biaya negosiasi pada umunya hanya dibatasi
oleh waktu yang digunakan principal dalam mencari agent.
Adapun investasi dapat diartikan sebagai korbanan sumberdaya ekonomi
untuk melaksanakan suatu kegiatan (usaha) yang daripadanya diharapkan dapat
mendatangkan manfaat (benefits) atau keuntungan (profits). Suatu investasi
dikatakan mendatangkan manfaat atau menguntungkan apabila dari kegiatan yang
dibiayai tersebut dapat mengembalikan seluruh korbanan sumberdaya ekonomi
yang ditanamkan ditambah dengan keuntungan yang merupakan sisa hasil usaha
(Nugroho 2010). Suatu usaha atau kegiatan investasi apapun bentuknya harus
dapat menghasilkan keuntungan, paling tidak seluruh biaya yang dikeluarkan
harus dapat diimbangi oleh manfaat yang diperoleh.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kantor Perum Perhutani KPH Bogor yang
bertempat di komplek perkantoran Pemda Cibinong Kabupaten Bogor. Sedangkan
penelitian pada UKM kerajinan selaku mitra Perum Perhutani KPH Bogor
dilakukan di wilayah Cibinong dan Parung Panjang Bogor. Penentuan tempat
penelitian UKM dan perusahaan dilakukan secara sensus dengan pertimbangan
bahwa Perum Perhutani KPH Bogor merupakan salah satu BUMN yang telah
menjalankan program kemitraan dengan UKM kerajinan sebagai mitranya.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September – Oktober 2011.
3.2 Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer sebagai data
utama dan data sekunder sebagai data penunjang. Data primer, informasi
mengenai hubungan kemitraan usaha kerajinan kayu serta data penerimaan dan
pengeluaran usaha kerajinan yang diperoleh melalui wawancara dan diskusi
dengan responden yang terkait dalam kemitraan dengan menggunakan panduan
wawancara. Data sekunder, data gambaran umum Perum Perhutani dan profil
UKM kerajinan yang bermitra dan juga yang berkaitan dengan tujuan penelitian
yang diperoleh melalui studi pustaka dan literatur dari berbagai lembaga atau
instansi terkait seperti Perum Perhutani KPH Bogor, Dinas Koperasi UKM
perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bogor, Perpustakaan, dan lembaga
terkait lainnya.
3.3 Metode Pengambilan Responden
Responden di tingkat perusahaan diwakili oleh staf Perum Perhutani KPH
Bogor yang berkaitan langsung dengan bagian program kemitraan, yaitu : Kepala
Urusan PKBL, Fasilitator PKBL dan oleh beberapa Staf Bagian PKBL.
Sedangkan di tingkat pengrajin yang menjadi responden adalah pemilik usaha
kerajinan kayu yang telah melakukan kemitraan dengan Perum Perhutani KPH

Bogor. Penentuan responden dilakukan secara sensus. Responden pada UKM
kerajinan kayu terbatas hanya pada 2 pemilik usaha kerajinan, karena terkait
Perhutani KPH Bogor yang melaksanakan kemitraan pada UKM untuk dibidang
kerajinan kayu sebanyak 2 UKM sebagai mitranya, yaitu : UKM Cheklie Art dan
UKM kerajinan kulit kayu Barokah.

3.4 Metode Analisis
3.4.1 Analisis Hubungan Kemitraan Perhutani dengan UKM Kerajinan
Kayu Mitra
Untuk mengkaji hubungan kemitraan usaha pengrajin dengan Perum
Perhutani, digunakan analisis deskriptif kualitatif didukung dengan data-data
kuantitatif, dapat dilihat pada Tabel 1 yang menunjukkan metodologi penelitian.

Tabel 1 Metodologi Pengumpulan Data
No
Variabel
Indikator

1

2

3

Pemilihan
calon mitra

Hak dan
Kewajiban
pihak-pihak
yang bermitra

a. Kriteria-kriteria yang
diberikan Perhutani
untuk calon mitra
b. Cara penetapan calon
mitra
c. Prosedur calon mitra
untuk berkontrak
d. Alasan dan tujuan
dilakukan kemitraan
(pihak Perhutani dan
UKM)
a. Hak dan kewajiban
Perhutani

Metode
Pengumpulan
Data
Pengumpulan
dokumen

Metode
Analisis
Data
Analisis
Deskriptif

Teknik
wawancara
Pengumpulan
dokumen
Teknik
wawancara

Pengumpulan
dokumen

b. Hak dan kewajiban
UKM
Impelementasi 1) Implementasi hak dan
hak dan
kewajiban menurut
kewajiban
Perhutani

Pengumpulan
dokumen

a. Prosedur menjalankan
hak dan kewajiban

Pengumpulan
dokumen

Analisis
Deskriptif

Analisis
Deskriptif

No

Variabel

Indikator

b. Pelanggaran kontrak
c. Kendala yang
Dihadapi
2) Implementasi
hubungan kemitraan
menurut UKM
a. Bantuan yang
diberikan Perhutani
b. Manfaat yang
diperoleh
c. Kendala dalam
bermitra dengan
Perhutani
d. Kinerja Kemitraan

4

Biaya
transaksi

e. Sumber informasi
adanya program
kemitraan Perhutani
bagi UKM
1). Pihak Perhutani
a. Biaya rekrutment
b. Biaya pembuatan
kontrak
c. Biaya menegakan
kontrak
2). Pihak UKM
a. Biaya untuk bermitra

5

Keuntungan

b. Biaya mengurus
kontrak
c. Biaya pelaporan atas
kerjasama
a. Jumlah produksi
(unit)
b. Harga Jual (Rp/unit)
c. Total biaya usaha(Rp)
d. Pendapatan (Rp)

Metode
Pengumpulan
Data
Teknik
wawancara

Metode
Analisis
Data

Teknik
wawancara
Teknik
wawancara
Teknik
wawancara
Teknik
wawancara
Teknik
wawancara

Analisis
Biaya
Teknik
wawancara
Teknik
wawancara
Teknik
wawancara
Teknik
wawancara
Teknik
wawancara
Teknik
wawancara
Teknik
wawancara
Teknik
wawancara
Teknik
wawancara
Teknik
wawancara

Analisis
Pendapatan

3.4.2

Analisis Manfaat Kemitraan bagi Usaha Kerajinan
Analisis

usaha

kerajinan

dilakukan

untuk

mengetahui

manfaat

dilaksanakannya kemitraan usaha kerajinan dengan perusahaan terhadap
pendapatan usaha tersebut. Variabel yang dievaluasi adalah manfaat ekonomi,
yakni pendapatan. Pendapatan usaha kerajinan dianalisis dengan menggunakan
analisis pendapatan. Pendapatan usaha kerajinan diperoleh dari penerimaan
produksi dikurangi dengan pengeluaran produksi. Penerimaan merupakan total
nilai produk yang dihasilkan dikalikan dengan harga jual. Pengeluaran merupakan
biaya-biaya yang dikeluarkan pemilik usaha untuk produksi yang dihasilkan,
Secara matematis pendapatan produksi dapat dirumuskan sebagai berikut
(Soekartawi 1986, diacu dalam Rachmawati 2008) :

 = TR – TC
 = P.Q – TC
Keterangan :


TR
TC
Q
P

= Pendapatan produksi (Rp)
= Total penerimaan produksi kerajinan kayu yang diterima (Rp)
= Total Biaya (Rp)
= Jumlah produksi (unit)
= Harga jual (Rp/unit)
Total Biaya merupakan penjumlahan dari biaya tetap dan biaya variabel

yang diperlukan untuk berproduksi (biaya produksi). Biaya tetap dan biaya
variabel paling sering digunakan karena cukup fleksibel untuk keperluan
pengendalian biaya dan menghitung biaya, terutama biaya produksi (Nugroho
2002). Biaya produksi dalam penelitian ini terdiri dari biaya variabel dan biaya
tetap. Contoh Biaya variabel mencakup biaya bahan baku kayu, listrik dan upah
langsung. Sedangkan contoh biaya tetap mencakup biaya depresiasi mesin dan
peralatan, gaji dan pajak. Dalam penelitian ini, komponen biaya produksi tersebut
disesuaikan dengan kondisi usaha kerajinan kayu.

BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
4.1 Profil Perum Perhutani
4.1.1 Visi Misi Perum Perhutani
Perum Perhutani adalah salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
yang diberi tugas dan wewenang untuk penyelenggaraan perencanaan,
pengurusan, pengusahaan dan perlindungan hutan di wilayah kerjanya di Pulau
Jawa. Visi perusahaan yaitu menjadi Pengelola Hutan Lestari untuk sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. Adapun misi perusahaan, sebagai berikut :
1. Mengelola sumberdaya hutan dengan prinsip Pengelolaan Hutan Lestari
bedasarkan karakteristik wilayah dan daya dukung Daerah Aliran Sungai
(DAS) serta meningkatkan manfaat hasil hutan kayu dan bukan kayu,
ekowisata, jasa lingkungan, agroforestri, serta potensi usaha berbasis
kehutanan lainnya guna menghasilkan keuntungan untuk menjamin
pertumbuhan perusahaan secara berkelanjutan.
2. Membangun dan mengembangkan perusahaan, organisasi serta sumberdaya
manusia

perusahaan

yang

modern,

profesional,

dan

handal,

serta

memberdayakan masyarakat desa hutan melalui pengembangan lembaga
perekonomian koperasi masyarakat desa hutan atau koperasi petani hutan.
3. Mendukung dan turut berperan serta dalam pengembangan wilayah secara
regional dan nasional, serta memberikan kontribusi secara aktif dalam
penyelesaian masalah lingkungan regional, nasional dan internasional. (SK
Nomor:17/Kpts/Dir/2009 tanggal 9 Januari 2009).

4.1.2 Maksud dan Tujuan Perum Perhutani
Maksud adanya Perum Perhutani adalah, sebagai berikut :
1. Menyelenggarakan usaha di bidang kehutanan yang menghasilkan barang dan
jasa bermutu tinggi dan memadai guna memenuhi hajat hidup orang banyak
dan memupuk keuntungan.
2. Menyelenggarakan pengelolaan hutan sebagai ekosistem sesuai dengan
karakteristik wilayah untuk mendapatkan manfaat yang optimal dari aspek

ekologi, sosial, budaya dan ekonomi, bagi perusahaan dan masyarakat.
Sejalan dengan tujuan pembangunan nasional dengan berpedoman kepada
rencana pengelolaan hutan yang disusun bedasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan dibidang kehutanan.
Adapun tujuan Perum Perhutani adalah turut serta membangun ekonomi
nasional. Khususnya dalam rangka pelaksanaan program pembangunan nasional
dibidang kehutanan (Dokumen Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Perum
Perhutani, 2010).

4.2 Profil Perum Perhutani KPH Bogor
Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bogor merupakan salah satu
pengelola hutan di Pulau Jawa yang berada dalam lingkup Perusahaan Umum
Kehutanan Negara (Perum Perhutani) Unit III Jawa Barat, dengan kantor pusat
berkedudukan di Jakarta. Sedangkan kantor KPH Bogor berada di kompleks
perkantoran Pemda Cibinong Bogor.
Perum Perhutani KPH Bogor sebagai suatu unit manajemen memiliki
tugas untuk melakukan pengusahaan hutan di wilayah kerjanya. Tugas
pengusahaan hutan tersebut dilakukan dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan
yang diarahkan untuk memperoleh manfaat sumber daya hutan dengan
memperhatikan aspek kelestariannya, yaitu : kelola produksi, kelola sosial, dan
kelola lingkungan. Adapun wilayah kerja Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan
(BKPH) pada KPH Bogor meliputi lima wilayah BKPH yang terbagi kedalam 17
Resort Pemangkuan Hutan (RPH). BKPH tersebut, yaitu : BKPH Bogor, BKPH
Jasinga-Leuwiliang, BKPH Jonggol, BKPH Parung Panjang dan BKPH Ujung
Karawang. Kegiatan pengusahaan hutan di KPH Bogor, meliputi : kegiatan
penataan hutan, silvikultur, perlindungan dan pengamanan hutan, teresan,
pembuatan dan pemeliharaan sarana jalan, pemanenan hasil hutan, kemitraan dan
pemberdayaan masyarakat, serta penelitian dan pengembangan. Kantor Perum
Perhutani KPH Bogor dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Kantor Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bogor.
4.2.1 Maksud dan Tujuan KPH Bogor
Maksud dan tujuan perusahaan adalah melaksanakan dan menunjang
kebijaksanaan dan program pemerintah dibidang ekonomi dan pembangunan
nasional pada umumnya, dan dibidang kehutanan pada khususnya, sehingga
memberikan manfaat yang optimal dengan fungsi hutannya, meliputi : fungsi
konservasi,

fungsi

perlindungan

dan

fungsi

produksi

untuk

mencapai

keseimbangan dan kelestarian antatra manfaat ekologis, produksi, dan ekonomis
maupun lingkungan sosial budaya.
Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, maka perusahaan
melaksanakan kegiatan usaha, sebagai berikut :
1. Mengelola hutan sebagai ekosistem sesuai dengan karakteristik wilayah untuk
mendapatkan manfaat yang optimal bagi perusahaan dan masyarakat sejalan
dengan tujuan pengembangan wilayah
2. Melestarikan dan meningkatkan mutu sumberdaya hutan dan mutu
lingkungan hidup
3. Menyelenggarakan usaha dibidang kehutanan yang menghasilkan barang dan
jasa yang bermutu tinggi dan memadai guna memenuhi hajat hidup orang
banyak dan meningkatkan keuntungan
4. Usaha-usaha lainnya yang dapat menunjang tercapainya maksud dan tujuan
perusahaaan (Laporan Triwulan Perum Perhutani KPH Bogor, 2010).

4.2.2

Struktur Organisasi KPH Bogor
Sebagai suatu perusahaan, Perum Perhutani KPH Bogor memiliki struktur

organisasi yang dikepalai oleh administratur serta wakil administratur yang
membawahi bagian-bagian atau seksi-seksi dan subseksi. Program kemitraan
terdapat bagian Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) pada seksi
Pengelolaan SDHL dengan subseksi Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat
(PHBM). Dapat dilihat struktur organisasi Perum Perhutani KPH Bogor pada
Lampiran 1.

4.2.3

Program Kemitraan Perum Perhutani KPH Bogor
Program kemitraan yang dijalankan oleh Perum Perhutani KPH Bogor

berada dalam lingkup Pengelolaan Sumber Daya Hutan dan Lahan bagian
kegiatan Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM).
Berdasarkan Ketentuan Umum Keputusan Ketua Dewan Pengawas Perum
Perhutani Nomor 136/KPTS/DIR/2001 yang dimaksud dengan Pengelolaan Hutan
Bersama Masyarakat (PHBM) adalah suatu sistem pengelolaan sumberdaya hutan
yang dilakukan bersama oleh Perum Perhutani dan masyarakat desa hutan atau
Perum Perhutani dan masyarakat desa hutan dengan pihak yang berkepentingan
(stakeholders) dengan jiwa berbagi, sehingga kepentingan bersama untuk
mencapai keberlanjutan fungsi dan manfaat sumberdaya hutan dapat diwujudkan
secara optimal dan proporsional. PHBM merupakan kebijakan perusahaan yang
menjiwai strategi, struktur, dan budaya perusahaan dalam pengelolaan
sumberdaya hutan. Jiwa yang terkandung dalam PHBM, yaitu : kesediaan
perusahaan, masyarakat desa hutan, dan pihak yang berkepentingan untuk berbagi
dalam pengelolaan sumberdaya hutan sesuai kaidah-kaidah keseimbangan,
keberlanjutan,

kesesuaian,

dan

keselarasan.

PHBM

dimaksudkan

untuk

memberikan arah pengelolaan sumberdaya hutan dengan memadukan aspek-aspek
ekonomi, ekologi, dan sosial secara proporsional guna mencapai visi dan misi
perusahaan.
Guna mendorong proses optimalisasi dan pengembangan PHBM, maka
Perum Perhutani menjalin kemitraan dengan masyarakat desa hutan untuk
meningkatkan perekonomian masyarakat serta bertujuan agar masyarakat

berperan lebih aktif dalam membangun hutan. Untuk menjembatani komunikasi
tersebut dengan masyarakat luas melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM) guna mempercepat pemahaman implementasi PHBM KPH Bogor.
Kerjasama yang dilakukan oleh KPH Bogor dengan LSM membantu pula dalam
kegiatan pendampingan masyarakat desa hutan, diantaranya dengan LSM Bina
Mitra yang ditempatkan di BKPH Leuwiliang dan BKPH Bogor. Sedangkan pada
BKPH Ujung Karawang terdapat LSM Bismi dan LSM Kafera. Selain itu
dibentuk suatu wadah yang dapat mewakili aspirasi yaitu suatu kelompok
masyarakat Tani Hutan (KTH) dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH)
sebagai mitra kerja dan mitra usaha yang sangat penting dalam kelembagaan
PHBM.
Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK) merupakan salah satu
program dari kegiatan PHBM untuk membantu peningkatan kesejahteraan
masyarakat desa hutan berupa pinjaman untuk usaha kecil dan koperasi yang
diperuntukan masyarakat desa hutan dengan bunga relatif kecil guna
meningkatkan perekonomian. Program PUKK ini disalurkan dengan cara
memberikan bantuan modal bagi masyarakat desa hutan. PUKK di KPH Bogor
telah dilaksanakan dari tahun 1991 sampai dengan saat ini dengan membina suatu
bentuk usaha, yaitu : koperasi, badan usaha, usaha perorangan dan lembaga
ekonomi masyarakat. Pada tahun 2006, bedasarkan SK Kementrian BUMN
Nomor 236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 tentang Program Kemitraan BUMN
dengan usaha kecil dan Program Bina Lingkungan, program PUKK berganti
menjadi Program Kemitraan dan Bina Lingkungan yang disingkat PKBL. PKBL
adalah program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi
tangguh dan mandiri serta pemberdayaan kondisi sosial ekonomi masyarakat
melalui pemanfaatan dana dari bagian laba Perum Perhutani. Adapun maksud dan
tujuan dari Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan Perum Perhutani
adalah untuk memberdayakan dan meningkatkan usaha kecil masyarakat,
Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan usaha kecil milik pihak yang
berkepentingan (stakeholder) perhutanan agar lebih tangguh dan mandiri.

4.3 Profil UKM Kerajinan Kayu Cheklie Art
Usaha Kecil Menengah (UKM) Cheklie Art merupakan UKM yang
menjadi mitra binaan Perum Perhutani KPH Bogor yang berjalan sampai dengan
saat ini. Cheklie Art yang dulu bernama CV. Marga Yasa Arta ialah sebuah Usaha
Kecil Menengah yang bergerak dalam bidang kerajinan dengan menggunakan
kayu sebagai bahan bakunya. Bidang kerajinan yang dimaksud yaitu kerajinan
yang menghasilkan produk-produk souvenir, barang seni (pajangan) atau
handycraft. UKM ini didirikan sejak tahun 1991 yang saat ini berlokasi di
komplek perumahan Villa Bogor Indah Cibinong Bogor. Usaha ini dimulai dan
didirikan oleh Bapak Budi Prasetyo selaku pemilik. Berawal dengan modal
sebesar satu juta rupiah, pemilik UKM ini mendirikan usahanya dimulai dengan
membuat lampu hias berbahan baku kayu. Pemilik usaha ini merasa bahwa usaha
kerajinan kayu memiliki daya tarik sendiri dan dinilai cukup menguntungkan,
khususnya melihat kebutuhan pasar dan selera pasar akan kerajinan kayu yang
cukup besar. Sehingga dengan ketekunan dan kreativitas yang dijalani untuk
usahanya, dengan mengumpulkan berbagai informasi akan selera pasar serta rajin
mengikutsertakan usahanya dalam pameran-pameran kerajinan, usahanya semakin
berkembang. Saat ini UKM Cheklie Art memperkerjakan 13 orang pegawai,
dengan 4 orang tenaga ahli dan 9 tenaga pembantu. Empat pegawai diantaranya
ialah orang-orang yang memiliki cacat fisik. Sejalan dengan tujuan mendirikan
usaha ini yang bersifat sosial, yaitu membuka lapangan kerja serta ikut
memperbaiki ekonomi masyarakat kecil, maka pemilik UKM ini bekerjasama
pula dengan Dinas Sosial (Dinsos) dengan memperkerjakan orang-orang cacat
tersebut.
Dilihat dari sisi fungsi produk kerajinan kayu, produk UKM ini dibedakan
menjadi barang seni (pajangan) dan barang seni fungsional untuk perabotan
rumah tangga. Adapun macam bentuk produk kerajinan kayu yang dihasilkan,
antara lain : tempat pulpen, tatakan gelas, baki, asbak, cermin gantung, frame
kayu, lampu kayu, tempat tisu, tempat perhiasan, tempat surat, dan lain
sebagainya (Lampiran 11). Berikut ini Gambar 2 yang menunjukkan produk yang
dihasilkan di tempat UKM Cheklie Art.

Gambar 2 Produk kerajinan kayu UKM Cheklie Art.

Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan berbagai macam jenis
produk kerajinan kayu usaha ini adalah kayu jati dan mahoni. Sumber bahan baku
tersebut didapatkan dengan bekerjasama dengan Perum Perhutani KPH Kendal,
Jawa Tengah yang bahan bakunya berasal dari daerah Pekalongan dan Batang.
Adapun bahan pembantu dan alat pendukung lainnya, yaitu : semir, pewarna, bor
duduk, paku tembak, kompresor, chainsaw, mesin amplas, planner, planner siku,
gergaji, rotter dan spragan. Pembuatan kerajinan kayu merupakan hasil kerajinan
yang mempunyai kandungan seni dan fungsional karena gabungan dari proses
mekanik (pemotongan dan pemolaan kayu) dan pengerjaan seni (pembentukan
produk jadi secara manual maupun dengan mesin). Dalam proses pembuatannya
dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu : pemotongan kayu gelondongan,
pemotongan kayu sesuai dengan ukuran model produk dengan alat planner,
pembentukan model-model produk dengan alat rotter, perakitan dengan paku
tembak, pengukiran (pembentukan produk jadi), pengamplasan, pewarnaan, dan
finishing.
Produk yang dihasilkan bedasarkan target bulanan dan disesuaikan juga
bedasarkan pesanan. UKM ini memproduksi sebanyak 700 unit produk per bulan.
Apabila ada pesanan, maka penetapan harga disesuaikan dengan tingkat kesulitan
yang akan dikerjakan serta bahan baku kayu yang dipesan oleh para konsumen.
Harga produk berkisar antara Rp. 50.000 sampai dengan Rp. 1.000.000. Produk

tersebut dipasarkan ke berbagai kota besar, antara lain : Bogor, Jakarta,
Yogyakarta, Surabaya, Makassar, dan Pulau Bali.
Saat ini UKM Cheklie Art semakin berkembang karena selain telah dapat
mengekspor produknya ke beberapa negara, UKM ini pun telah banyak menjalin
kemitraan dengan perusahaan-perusahaan selain Perum Perhutani, seperti
Ovalindo, Mirota, Batik Keris, dan Sarinah.

4.4 Profil UKM Kerajinan Kulit Kayu Barokah
Usaha Kecil Menengah kerajinan kulit kayu Barokah merupakan UKM
yang menjadi Mitra Binaan Perum Perhutani KPH Bogor yang menggunakan kulit
kayu akasia sebagai bahan baku untuk produknya. Usaha ini didirikan sejak tahun
1999 sampai dengan saat ini yang berlokasi di Kecamatan Tenjo, Desa Babakan
Parung Panjang Bogor. UKM Barokah ini masuk ke dalam wilayah BKPH Parung
Panjang KPH Bogor.
Usaha ini dimulai dan didirikan oleh Bapak Supriyadi selaku pemilik.
Pada awalnya usaha ini berdiri, pemilik UKM ini bekerja pada suatu usaha
kerajinan bambu yang memproduksi barang-barang kerajinan berupa pot-pot
bunga. Karena usaha tersebut dirasa memiliki prospek yang cukup baik, maka
pemilk UKM mencoba untuk memproduksi sendiri barang-barang kerajinan tetapi
dengan berbahan baku kulit kayu. Dengan modal awal sebesar satu juta rupiah,
pengrajin ini memulai menjalankan usahanya tersebut dan tidak lagi menjadi
pegawai, tetapi pemilik usaha kerajinan. UKM ini semakin berkembang setelah
menjadi Mitra Binaan dari Perum Perhutani KPH Bogor.
Tujuan didirikannya UKM ini, selain untuk memenuhi kebutuhan hidup,
juga dapat membantu perekonomian masyarakat desa sekitar untuk mengurangi
pengangguran dengan membuka lahan kerja. Saat ini terdapat 15 pegawai yang
dipekerjakan. Produk yang dihasilkan berupa pot-pot untuk bunga kering,
keranjang-keranjang dan tempat tisu (Lampiran 11). Contoh produk yang
dihasilkan UKM kerajinan kulit kayu Barokah dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3 Produk kerajinan kulit kayu UKM Barokah.

Usaha ini setiap bulan dapat memproduksi sampai 3000 unit produk.
Produk yang dihasilkan ini bedasarkan target maupun pesanan. Penetapan harga
produk berkisar mulai dari Rp. 2000 sampai dengan Rp. 15000. Apabila terdapat
pesanan dari toko, penetapan harga tergantung dari negosiasi. Produk kerajinan
kulit kayu ini dipasarkan ke berbagai kota, yaitu : Jakarta, Surabaya, Semarang,
Jambi dan Padang.
Bahan baku kayu yang digunakan adalah kulit kayu akasia. Sumber bahan
baku didapatkan dari kayu-kayu produksi Perum Perhutani KPH Bogor pada
wilayah BKPH Parung Panjang. Dengan mengolah limbah kayu berupa kulit kayu
dari kegiatan ekonomi masyarakat yang belum dimanfaatkan, pengrajin UKM
Barokah ini dapat menjadikan sumberdaya yang tidak produktif menjadi produktif
dan dapat bernilai jual lebih tinggi. Adapun bahan dan alat pendukung untuk
memproduksi barang kerajinan tersebut, antara lain : palu, golok, pisau, gergaji,
paku tembak, mesin blower, dan mesin gergaji. Dalam pembuatannya termasuk
pengerjaan seni tradisional, yaitu : pembentukan produk jadi secara manual yang
juga merupakan hasil kerajinan yang mempunyai kandungan seni dan fungsional.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Hubungan Kemitraan Antara Perum Perhutani KPH Bogor dengan
UKM Kerajinan Kayu
5.1.1 Program Kemitraan Usaha Kecil Menengah
Perum Perhutani sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
yang mengemban tugas sosial untuk turut serta dalam meningkatkan kondisi
ekonomi, sosial masyarakat dan lingkungan selain tugas utama untuk memperoleh
laba perusahaan. Bedasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 3 tahun 1983,
pemerintah mengamanatkan BUMN untuk turut serta membantu pengembangan
usaha kecil. Pengembangan dan pemberdayaan usaha kecil yang dilakukan oleh
pemerintah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan usaha
kecil menjadi usaha yang mandiri, perluasan kesempatan kerja dan berusaha, serta
pemerataan pendapatan. Pengembangan usaha kecil tersebut diantaranya
dilakukan melalui bentuk kemitraan, baik dalam bentuk antar perorangan maupun
badan usaha koperasi. Sebagai tindak lanjut dari PP Nomor 3 tahun 1983 tersebut
dan seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi masyarakat, terbit
Keputusan Menteri BUMN tanggal 17 Juni 2003 tentang Program Kemitraan
BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan (PKBL).
Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) adalah salah satu
wujud tanggung jawab sosial Perum Perhutani yang merupakan program
kemitraan dengan tujuan untuk memberdayakan dan meningkatkan kondisi
ekonomi, sosial masyarakat dan lingkungan sekitarnya dengan sasaran utama
berupa peningkatan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri
melalui pemanfaatan dana dari penyisihan laba BUMN maksimal 2%. Bentuk
implementasi program PKBL berupa bantuan pinjaman modal usaha atau modal
kerja dan bantuan hibah (program bina lingkungan) kepada Mitra Binaan yang
utamanya yang diberikan kepada desa atau masyarakat desa yang telah melakukan
kerjasama PHBM dengan Perum Perhutani, masyarakat desa sekitar hutan, usaha
perorangan (pengrajin dan petani), koperasi, dan lain-lain masyarakat yang sudah
mempunyai usaha dan berada di dalam kawasan hutan atau masuk wilayah BKPH

dan masyarakat yang berada di luar kawasan hutan seperti masyarakat perkotaan
yang sudah memiliki usaha.
Program Kemitraan yang dilaksanakan oleh Perum Perhutani KPH Bogor,
yaitu : pemberian pinjaman modal usaha kepada Mitra Binaan baik perorangan,
koperasi karyawan, koperasi non karyawan, Kelompok Tani Hutan (KTH) dan
Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) yang diprioritaskan kepada mitra
yang mempunyai jenis usaha yang berkaitan dengan kehutanan dan telah
melakukan kegiatan usaha minimal 1 (satu) tahun serta mempunyai prospek usaha
untuk dikembangkan. Jangka waktu pinjaman 3 tahun dengan bunga maksimal 12
% per tahun dengan sistim perhitungan bunga efektif.
Hubungan kemitraan antara Perum Perhutani KPH Bogor dengan Usaha
Kecil Menengah (UKM) di bidang kerajinan kayu telah dilaksanakan sejak
program PUKK berlangsung. Mitra Binaan KPH Bogor tersebut sangat terbatas
untuk usaha kecil kerajinan yang menggunakan bahan baku kayu. UKM di bidang
kerajinan kayu yang telah menjadi mitra binaan KPH Bogor sampai dengan saat
ini sebanyak 2 usaha, yaitu : UKM Cheklie Art dan UKM kulit kayu Barokah.
UKM Cheklie Art yang menggunakan kayu sebagai bahan bakunya ini merupakan
usaha yang telah berbadan hukum (CV), sedangkan UKM Barokah merupakan
usaha perorangan. UKM Barokah menggunakan bahan baku kulit kayu akasia
yang diproduksi Perum Perhutani KPH Bogor pada wilayah tempat memproduksi
kerajinan di BKPH Parung Panjang.
Alasan dan tujuan dilakukannya kemitraan oleh KPH Bogor bedasarkan
Keputusan Direksi Perum Perhutani Nomor 384/Kpts/Dir/2006 tentang Pedoman
Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan adalah untuk memberdayakan
dan meningkatkan usaha kecil masyarakat dan usaha kecil milik pihak yang
berkepentingan (stakeholder) agar lebih tangguh dan mandiri. Sedangkan bagi
pengusaha kecil kerajinan, yang mendasari untuk melakukan kemitraan adalah
agar usahanya dapat terus berkembang dengan bantuan dana pinjaman serta ingin
diikutsertakan pada pameran-pameran yang ada melalui Perum Perhutani
sehingga diharapkan akan meningkatkan pendapatan atas usaha yang telah
dijalani. Latar Belakang pengusaha besar (Perum Perhutani) untuk bermitra
dengan pengusaha kecil karena adanya imbauan pemerintah tentang kemitraan

pengusaha besar dengan pengusaha kecil atau pengrajin yang direalisasikan
melalui Undang-Undang Perindustrian Nomor 5 tahun 1981 dan SK Menteri
Keuangan Nomor 316 Tahun 1994. Selain adanya imbauan bisnis (ekonomi),
adanya tanggung jawab sosial berupa kepedulian dari pengusaha besar untuk
memajukan dan mengembangkan masyarakat sekitar. Adapun latar belakang
pengusaha kecil bermitra dengan pengusaha besar, yaitu : selain berkewajiban
untuk bermitra dengan pengusaha besar, adanya jaminan pasar yang pasti karena
adanya bantuan dalam hal pembinaan, permodalan dan pemasaran, sehingga
kerjasama dengan pengusaha besar akan lebih menguntungkan.
5.1.2 Pemilihan Calon Mitra Binaan KPH Bogor
5.1.2.1 Kriteria Calon Mitra Binaan
Mitra Binaan adalah usaha kecil yang mendapat pinjaman dan pembinaan
dari program kemitraan Perum Perhutani KPH Bogor. Untuk menjadi Mitra
Binaan dalam Program Kemitraan, terdapat persyaratan oleh Perum Perhutani
KPH Bogor yang harus dipenuhi calon mitra. Mengacu pada Undang-Undang
Nomor 9 tahun 1995, Perum Perhutani menetapkan kriteria usaha kecil yang dapat
ikut serta dalam program kemitraan adalah sebagai berikut :
1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta
rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1000.000.000,- (satu
milyar rupiah)
3. Milik Warga Negara Indonesia
4. Berbentuk usaha orang, perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan
hukum atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi.
5. Kegiatan usaha dari mitra binaan program kemitraan diprioritaskan pada
bidang yang bersangkut paut dengan Perhutanan.
6. Usaha berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang
perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau berafiliasi baik langsung maupun
tidak langsung dengan usaha menengah atau usaha besar.
7. Telah melakukan kegiatan usaha minimal 1 (satu) tahun serta mempunyai
potensi dan prospek usaha untuk dikembangkan.

Dari kriteria - kriteria tersebut, selanjutnya terdapat penetapan calon mitra
dengan sesuai prosedur yang berlaku dalam kontrak yang akan dilakukan. Hal ini
menguntungkan perusahaan karena memiliki informasi lebih dulu dan jaminan
mengenai latar belakang serta identitas para pemilik usaha kerajinan mitranya.
Sehingga pihak KPH Bogor yang bertindak sebagai principal dapat mengurangi
resiko salah memilih mitra bin

Dokumen yang terkait

Kemitraan antara Usaha Kecil Menengah (UKM) Kerajinan Kayu dan Kulit Kayu dengan Perum Perhutani KPH Bogor