Penelitian Tahun 2014

(1)

PENDIDIKAN PESANTREN SEBAGAI

ALTERNATIF PENDIDIKAN NASIONAL DI

ERA GLOBALISASI

Oleh:

Dr. Hj. St. Rodliyah, M.Pd

NIP. 19680911 199903 2 001

PENELITIAN INI DIBIAYAI DARI DIPA STAIN JEMBER TAHUN ANGGARAN 2014

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

JEMBER


(2)

(3)

(4)

ii

Pendidikan Nasional Di Era Globalisasi b. Bidang Ilmu : Pendidikan Islam

c. Kategori Penelitian : Library Research 2. Ketua Peneliti

a. Nama Lengkap : Dr. Hj. St. Rodliyah, M.Pd b. Jenis Kelamain : Perempuan

c. Pangkat/Gol/NIP : Pembina Tk I /IV.b/ 19680911 199903 2 001 d. Jabatan Sekarang : Lektor Kepala

e. Jurusan : Tarbiyah

f. Program Studi : PAI

g. PTAI : STAIN Jember

3. 4.

Jumlah Tim Peneliti Lokasi Penelitian

: 1 (satu) Orang :

-5. Kerjasama dengan Instansi lain

:

-5. Lama Penelitian : 8 (delapan) bulan

6. Biaya Yang Diperlukan : Rp. 8.400.000,- ( delapan juta empat ratus ribu rupiah).

a. Sumber dana dari : DIPA STAIN JEMBER

Jember , 7 Nopember 2014 Mengetahui,

Kepala P3M Peneliti

Moch. Chotib, M.M

NIP. 19710727 200212 1 003

Dr. Hj. St. Rodliyah, M.Pd NIP. 19680911 199903 2 001 Menyetujui

Ketua STAIN Jember

Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE, M.M NIP. 19660322 199303 1 002


(5)

iii

Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT., yang telah melimpahkan rahmat, tauhid dan hidayah-Nya, sehingga penulisan hasil laporan penelitian yang berjudul “Pendidikan Pesantren Sebagai Alternatif Pendidikan Nasional Di Era Globalisasi”dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam secara selektif bertujuan untuk menjadikan para santrinya sebagai manusia yang mandiri yang diharapkan dapat menjadi pemimpin umat dalam menuju keridhaan Allah SWT. Oleh karena itu pesantren bertugas untuk mencetak manusia yang benar-benar ahli dalam bidang agama dan ilmu pengetahuan serta berakhlak mulia. Pendidikan pesantren melekat pada masyarakat sangat mungkin menumbuhkan kesadaran akan pentingnya mencari ilmu baik ilmu agama maupun ilmu social (umum). Kesadaran ini akan menciptakan masyarakat melek huruf dalam arti tentang dunia realitas serta kritis terhadapnya jika mereka memiliki ilmu. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi STAIN agar mempertimbangkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang tentunya memiliki ikatan moral dengan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang lain baik yang di bawahnya maupun yang sederajat untuk menjalin kerjasama atau saling memberikan masukan demi kebaikan dan kemajuan lembaga pendidikan Islam.

Terselesainya laporan penelitian ini tidak terlepas adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ketua STAIN Jember Bapak Dr. H. Babun Suharto, SE., MM., beserta seluruh jajarannya yang telah memberikan kepercayaan kepada kami atas pelaksanaan penelitian ini.

2. Kepala P3M STAIN Jember Bapak Moch. Chotib, MM., yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk melakukan penelitian.

3. Kepala Perpustakaan STAIN Jember Bapak Drs. H. Abdul Muis Tobroni, MM. yang memberi kesempatan kepada kami untuk meminjam dan membaca buku-buku demi terselesainya penelitian ini.


(6)

iv

diterima oleh Allah SWT., serta hasil penelitian ini bisa membawa barokah dan manfaat khususnya bagi peneliti dan bagi masyarakat. Amien.

Jember, 7 Nopember 2014 Peneliti


(7)

(8)

(9)

(10)

v

Pondok pesantren paling tidak memiliki tiga peran utama yaitu sebagai lembaga pendidikan Islam, lembaga dakwah dan lembaga pengembangan masyarakat. Pesantren sebagai lembaga yang berbasis keagamaan harus bergeser kepada paradigm baru yang lebih modern. Pesantren di harapkan tidak terjebak dalam pola pendidikan yang hanya mengutamakan akhirat, tapi juga harus mampu merespon persoalan masyarakat agar pesantren diminati masyarakat dan mampu menjadi alternative pendidikan. Modal dasarnya adalah pesantren harus menerapkan kurikulum berbasis kebutuhan masyarakat. Pergeseran semacam ini bukan berarti pesantren meninggakan identitas sebagai institusi keagamaan, namun lebih dari itu mesti dilihat dari sudut positif, yaitu sebagai lembaga yang responsive terhadap fenomena social.

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap lebih mendalam tentang pendidikan pesantren sebagai alternative pendidikan nasional di era globalisasi. Fokus penelitian ini meliputi 3 hal : (1) bagaimana pendidikan pesantren sebagai alternative pendidikan nasional di era globalisasi, (2) bagaimana eksistensi pendidikan pesantren sebagai alternative pendidikan nasional di era globalisasi, dan (3) bagaimana problematika pendidikan pesantren sebagai alternative pendidikan nasional di era globalisasi.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis lebrary research. Sumber data secara sistematis terbagi menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Analisis data menggunakan content analysis atau analisis isi artinya pengolahan data dan analisis datanya itu yang didiskusikan dan diinterpretasikan adalah isinya. Sedangkan pengecekan keabsahan data menggunakan kredibilitas data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber artinya mencari kebenaran data atau informasi yang dikumpulkan dari sumber yang berbeda-beda.

Adapun hasil dari penelitian pendidikan pesantren sebagai alternative pendidikan nasional di era globalisasi ini adalah (1) Pendidikan pesantren sebagai alternative pendidikan nasional di era globaliasai telah terbukti bahwa pesantren sebagai lembaga social, telah menyelenggarakan pendidikan formal baik berupa sekolah umum maupun sekolah agama (madrasah), juga menyelenggarakan pendidikan non formal berupa madrasah diniyah yang mengajarkan bidang-bidang ilmu agama saja. Pesantren juga telah mengembangkan fungsinya sebagai lembaga solidaritas social dengan menampung anak-anak dari segala lapisan masyarakat muslim dan memberikan pelayanan yang sama kepada mereka, tanpa


(11)

vi

menata moralitas bangsa yaitu mampu menghantarkan manusia menjadi orang yang bertaqwa dan beriman kepada Allah SWT dengan prinsip amar ma’ruf dan nahi munkar, (3) Problematika pendidikan pesantren sebagai alternative pendidikan nasional di era globaliasai antara lain: (1) bidang pendidikan, pesantren dapat dikatakan kalah bersaing dalam menawarkan suatu model pendidikan kompetitif yang mampu melahirkan out put (santri) yang memiliki kompetensi dalam penguasaan ilmu sekaligus skill sehingga dapat menjadi bekal untuk terjun ke dalam kehidupan social yang terus mengalami percepatan perubahan akibat modernisasi yang ditopang kecanggihan sains dan teknologi, (2) bidang moral, (a) faham liberlisme dalam bentuk kebebasan berkespresi, melalui teknologi informasi telah diekspose besar-besaran dengan berbagai media elektroniknya, telah banyak menabrak batas-batas yang sudah digariskan oleh norma agama maupun norma ketimuran, dan. (b) faham sekularisme juga menjadi tantangan bagi agama. Urusan dunia dipisahkan dari agama. (3) bidang keilmuan, corak pemikiran yang berkembang pada zaman modern (globalisasi) adalah positivism, yaitu faham dalam bidang keilmuan yang menggunakan tolok ukur kebenaran yang rasional, empiris, eksperimental dan terukur. Seringkali kita harus menerima kebenaran dengan keimanan karena rasio manusia tidak mampu memahami secara utuh kebenaran itu. (4) bidang manajemen, bagi pesantren yang sudah masuk kategori pesantren modern dalam arti pesantren yang sudah memiliki lembaga pendidikan formal mestinya manajemen pengelolaan lembaganya sudah menggunakan manajemen yang modern. Namun hingga kini manajemen modern belum dilakukan dengan baik dan sistematis di semua pesantren.

Berangkat dari hasil penelitian tersebut, maka disarankan bagi pesantren agar terus berupaya menjadi lembaga pendidikan Islam yang peka terhadap realitas masyarakat karena dengan realita kita mampu melihat dunia yang lebih luas. Upaya rekonstruksi system pendidikan pesantren merupakan sebuah tuntutan realitas dalam membangun pesantren yang lebih maju dan minati masyarakat seiring dengan perjalanan waktu.


(12)

vii

HALAMAN JUDUL .………... i

LEMBAR PENGESAHAN ...………... ii

KATA PENGANTAR ... iii

ABSTRAK... v

DAFTAR ISI ...………... vii

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah…... 1

B. Fokus Penelitian………... 3

C. Tujuan Penelitian ...………... 4

D. Manfaat Penelitian …... 4

E. Definisi Istilah ... 5

F. Metode Penelitian ... 6

G. Sistematika pembahasan ... 10

BAB II : KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu ... 11

B. Kajian Teori ... 12

1. Konsep Pesantren……….. 12

2. Konsep Pendidikan Nasional ……… 26

3. Konsep Globalisasi ……… 27

4. Pendidikan Pesantren Sebagai Alternatif Pendidi Kan Nasional di Era Globalisasi ... 31

5. Eksistensi Pendidkan Pesantren Sebagai Alternatif Pendidikan Nasional di Era Globalisasi ... 34 6. Problematika Pendidikan Pesantren Sebagai


(13)

viii

2. Eksistensi Pendidikan Pesantren Sebagai Alternatnatif

Pendidikan Nasional Di Era Globalisasi... 48 3. Problematika Pendidikan Pesantren Sebagai Alternatif

Pendidikan Nasional Di Era Globalisasi... 50 B. Pembahasan ... 62

1. Pendidikan Pesantren Sebagai Alternatif Pendidikan

Nasional Di Era Globalisasi... 62 2. Eksistensi Pendidikan Pesantren Sebagai Alternatnatif

Pendidikan Nasional Di Era Globalisasi... 64 3. Problematika Pendidikan Pesantren Sebagai Alternatif

Pendidikan Nasional Di Era Globalisasi... 66

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 70 B. Saran-Saran ... 72

DAFTAR PUSTAKA ………... 73


(14)

(15)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pesantren merupakan bagian dari infrastruktur masyarakat yang secara makro telah menyadarkan komunitas masyarakat untuk mempunyai idealisme, kemampuan intelektual, dan perilaku mulia guna menata dan membangun karakteristik bangsa yang paripurna. Ini dapat dilihat dari peran strategi pesantren yang dikembangkan dalam kultur internal pendidikan pesantren. Misalnya, lewat diskursus intelektual dengan standarisasi kitab kuning atau khasanah intelektual Islam klasik, pesantren telah mampu melembagakan dinamika pemikirannya.

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam Indonesia yang keberadaannya sudah dikenal sejak abad 19 dan telah mengakar kuat di kalangan masyarakat muslim Indonesia. Pondok pesantren termasuk pendidikan khas Indonesia yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat serta telah teruji kemandiriannya sejak berdirinya sampai sekarang (Badri dan Munawiroh, 2007: 3).

Pesantren paling tidak memiliki tiga peran utama yaitu sebagai lembaga pendidikan Islam, lembaga dakwah dan sebagai lembaga pengembangan masyarakat. Kyai sebagai pengasuh pondok pesantren berperan sangat penting dalam meningkatkan mutu santri-santri yang ada di pondok pesantren dengan berbekal manajemen akan tercapai visi, misi, dan tujuan pesantren sesuai yang diharapkan oleh pengasuh.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam secara selektif bertujuan menjadikan para santrinya sebagai manusia yang mandiri yang diharapkan dapat menjadi pemimpin umat dalam menuju keridhaan Allah SWT. Oleh karena itu pesantren bertugas untuk mencetak manusia yang benar-benar ahli dalam bidang agama dan ilmu pengetahuan serta berakhlak mulia.

Untuk mencapai tujuan tersebut lembaga pesantren menerapkan manajemen berbasis pesantren dalam arti pengelolaan lembaga pondok pesantren


(16)

memberdayakan dan melibatkan semua elemen yang ada di pesantren untuk ikut bertanggung jawab dalam keberhasilan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan. Aktornya tidak hanya Kyai dan para ustadz, melainkan semua orang dewasa yang ada di lembaga pesantren, terutama Kyai dan Ibu Nyai yang harus di dengarkan dawuhnya dan nasehatnya serta ditaati perintahnya.

Pendidikan nasional merupakan bagian dari upaya mewujudkan tujuan pembangunan nasional. Melalui UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, maka pendidikan nasional telah mempunyai dasar legalitasnya. Namun demikian pendidikan nasional sebagai suatu sistem bukanlah merupakan suatu hal yang baku dan kaku, suatu sistem merupakan proses yang terus menerus mencari dan menyempurnakan bentuknya. Sebagai suatu proses, sistem pendidikan nasional haruslah peka terhadap dinamika kehidupan serta dinamika dari perubahan dunia yang dikenal dengan globalisasi.

Globalisasi adalah suatu perubahan social dalam bentuk semakin bertambahnya keterkaitan antara masyarakat dengan factor-faktor yang terjadi akibat transkulturasi dan perkembangan teknologi modern. Memahami globalisasi adalah suatu kebutuhan, mengingat majemuknya fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang ini (Komaruddin Hidayat: 2010).

Era globalisasi ditandai dengan persaingan yang sangat ketat dalam semua aspek kehidupan, memberi warna/pengaruh terhadap tuntutan akan kualitas sumber daya manusia, termasuk pendidikan sebagai unsur yang mempunyai posisi sentral dan strategis dalam pembentukan sumber daya manusia (SDM) berkualitas. Hal tersebut diiringi dengan tumbuh dan berkembangnya tuntutan demokratisasi pendidikan, akuntabilitas, tuntutan kualitas serta jaminan mutu dari dunia kerja. Kondisi tersebut di atas mensyaratkan lembaga pendidikan untuk memiliki kualitas yang unggul sebagai jaminan mutu hasil proses pendidikan yang dilakukan. Seiring dengan berbagai tuntutan kualitas tersebut, pemerintah telah melahirkan berbagai peraturan perundangan yang pada dasarnya memberikan jaminan kualitas pendidikan ( Suyanto: 2001).

Perubahan sistem pemerintahan dari sentralistik menjadi desentralistik memberikan peluang besar bagi pesantren khususnya Kyai sebagai pimpinan dan


(17)

panutan masyarakat menjadi modal besar dalam membangun kebersamaan dan menyebarkan informasi-informasi yang maju di era globalisasi yang memerlukan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini. Proses pendidikan hendaknya dilakukan tidak sekedar mempersiapkan peserta didik untuk mampu hidup di masa kini, tetapi mereka juga harus dipersiapkan untuk hidup dimasa depan. Nabi Muhammad dalam haditsnya pernah bersabda sebagai berikut, yang artinya : “Ajarilah anak-anakmu karena mereka adalah manusia yang dipersiapkan untuk hidup di masa depan”(Hamdan dan Fuad Ikhsan: 1998).

Berbagai perubahan karakteristik yang tidak dapat diprediksi mengharuskan mampu mempersiapkan bangsa ini menadi masyarakat yang berdaya dalam menghadapi kehidupan di era globalisasi yang semakin lama semakin menggantungkan diri kepada kemajuan teknologi (Saukani: 2002). Kondisi ini pada akhirnya berakibat pada laju perkembangan pesantren dalam pelaksanaaan pendidikan yang bernuansa islami, yang semakin lama tertinggal jauh dari perkembangan masyarakat global. Untuk itu pesantren perlu penanganan secara serius untuk mengatasi segala problematika sosial yang dihadapinya sehingga pesantren di orientasikan pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam meningkatkan daya saing yang lebih kompetitif. Jika pendidikan pesantren sudah maju dan berkembang serta memiliki kualitas yang tinggi, tentuya pendidikan pesantren akan menjadi alternatif pendidikan nasional di era globalisasi bagi masyarakat untuk memberikan jaminan bagi anak-anaknya tidak hanya jaminan menjadi manusia yang berilmu pengetahuan umum saja, juga memiliki ilmu pengetahuan agama, serta akhlak yang mulia.

Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu untuk mengkaji secara mendalam melalui penelitian yang berjudul “Pendidikan pesantren sebagai alternatif pendidikan nasional di era globalisasi.

B. FOKUS PENELITIAN

Berdasarkan pada latar belakang masalah tersebut di atas, maka dapat dirumuskan sejumlah persoalan sebagai fokus penelitian yaitu:


(18)

1. Bagaimana pendidikan pesantren sebagai alternatif pendidikan nasional di era globalisasi ?

2. Bagaimana eksistensi pendidikan pesantren sebagai alternatif pendidikan nasional di era globalisasi ?

3. Bagaimana problematikan pendidikan pesantren sebagai alternatif pendidikan nasional di era globalisasi ?

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yang menunjukkan adanya hal yang diperoleh setelah penelitian selesai (Arikunto, 2002: 53). Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk :

1. Mendiskrepsikan pendidikan pesantren sebagai alternatif pendidikan nasional di era globalisasi.

2. Mendiskrepsikan eksistensi pendidikan pesantren sebagai alternatif pendidikan nasional di era globalisasi.

3. Mendiskrepsikan problematikan pendidikan pesantren sebagai alternatif pendidikan nasional di era globalisasi.

D. MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain : 1. Bagi pengembangan keilmuan untuk menambah khazanah wawasan

keilmuan tentang pendidikan sekolah secara formal, pendidikan pesantren dan pendidikan nasional di era globalisasi.

2. Bagi Peneliti untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam penelitian serta wawasan dalam mengaplikasikan disiplin ilmu yang dimiliki yang berhubungan dengan pendidikan pesantren sebagai alternatif pendidikan nasional di era globalisasi.

3. Bagi STAIN Jember, dapat menjadi salah satu bentuk kontribusi dalam pengembangan pendidikan pesantren. Bagi peneliti lain bisa dijadikan bahan referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut di bidang kepesantrenan.


(19)

4. Bagi Masyarakat, dapat dijadikan bahan masukan dan pertimbangan untuk bisa memilihkan lembaga pendidikan yang terbaik bagi putra-putrinya. Sehingga nantinya mereka menjadi manusia yang berilmu, berakhlak mulia dan berkepribadian baik serta bisa berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

E. Definisi Istilah

1. Pendidikan Pesantren

Pesantren secara terminologi dimaknai sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam, yang pada umumnya pendidikan dan pengajaran tersebut diimplementasikan dengan cara non klasikal. Di mana seorang kyai mengajar santri berdasarkan kitab-kitab yang berbahasa arab dari ulama’-ulama’ besar sejak abad pertengahan, sedangkan para santri tinggal dalam asrama pesantren. Kehadiran pesantren di tengah-tengah masyarakat tidak hanya sebagai lembaga pendidikan saja, tetapi juga sebagai lembaga penyiaran agama dan sosial keagamaan. Dengan sifat yang lentur sejak awal kehadirannya, pesantren ternyata mampu mengadaptasikan diri serta memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat. (Malik MTT: 2008).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dikemukakan bahwa pendidikan pesantren merupakan sebuah pendidikan Islam yang pada umumnya sistem pendidikan dan pengajarannya dilaksanakan dengan menggunakan metode non klasikal dan tempatnya diselenggarakan di pondok pesantren.

2. Pendidikan Nasional

Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman (UU RI. N0 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas).


(20)

3. Era Globalisasi

Pengertian globalisasi adalah masuknya atau meluasnya pengaruh dari suatu wilayah/negara ke wilayah/negara lain dan atau proses masuknya suatu negara dalam pergaulan dunia (Komaruddin Hidayat dan Azumardi Azra: 2010). Sedangkan era globalisasi merupakan suatu masa dimana masuknya atau meluasnya pengaruh budaya, pendidikan, ekonomi, social, dan lain-lain dari suatu wilayah/Negara ke wilayah/Negara lain dengan cepat tanpa batas dalam pergaulan dunia.

Jadi yang dimaksud dengan pendidikan pesantren sebagai alternative pendidikan nasional di era globalisasi adalah pendidikan pesantren saat ini sudah menyelenggarakan pendidikan formal dan non formal yang mampu melahirkan out put (santri) yang memiliki kompetensi dalam penguasaan ilmu sekaligus skill sehingga dapat menjadi bekal terjun ke dalam kehidupan social yang terus mengalami percepatan perubahan akibat modernisasi yang di topang kecanggihan sains dan teknologi. Sehingga pendidikan pesantren saat ini sudah mulai diminati masyarakat dan menjadi alternative pendidikan nasional di masa dimana masuknya atau meluasnya pengaruh budaya, pendidikan, social, ekonomi dan lain-lain dari suatu wilayah/negara ke wilayah/Negara lain dengan cepat tanpa batas dalam pergaulan dunia.

F. Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan salah satu komponen penting dalam suatu penelitian, karena dengan menggunakan metode yang baik dan sistematis, maka penelitian bisa dilakukan dengan mudah dan terarah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Kualitatif artinya aspek-aspek yang akan diteliti adalah seputar apa dan bagaimana definisi, konsep, pemikiran dan argumentasi yang terdapat dalam literatur yang relevan dengan pembahasan. Untuk itu data yang muncul tidak berupa angka-angka, tetapi berupa


(21)

uraian kata-kata (Moeleong: 2000). Sebagaimana lazimnya penelitian kualitatif, penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan, tetapi lebih berorientasi pada pengembangan dan pengetahuan baru yang diperoleh melalui pengamatan, dan studi dokumentasi yang berupa buku-buku, Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, dan Peraturan Menteri yang berkaitan langsung dengan fokus penelitian. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk menggambarkan teori dan konsep yang dikumpulkan dari sumber primer dan skunder (Nasution: 1988).

2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) yaitu penelitian yang menggunakan data, informasi berbagai macam materi yang diperoleh dari kepustakaan. Penekanan penelitian ini berdasarkan atas kajian teori, khazanah ilmu pengetahuan, konsep, dan asumsi keilmuan yang relevan dengan fokus penelitian.

Menurut Sudarwan Danim (2002: 105) menyatakan bahwa “Salah satu fase yang tidak mungkin dilewati oleh peneliti dan penulis karya ilmiah lain dalam rangka melalukan kegiatan atau penulisan karya ilmiah adalah penelusuran pustaka. Di lihat dari perspektif penelitian kualitatif, penelusuran pustaka dimaksudkan untuk mempertajan metodologi, memperkuat kajian teoritis dan memperoleh informasi mengenai penelitian sejenis yang telah dilakukan oleh peneliti.

4. Jenis Data

Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data kualitatif. Artinya aspek-aspek yang akan diteliti adalah seputar apa dan bagaimana definisi, konsep, pemikiran dan argumentasi yang terdapat dalam literatur yang relevan dengan pembahasan. Menurut Lofland yang dikutip oleh Moleong (2000 : 112-116) menyebutkan bahwa data kualitatif adalah “lebih banyak bersifat kata-kata baik lisan maupun tulisan, juga tindakan selebihnya berupa dokumen, arsip dan foto”.


(22)

5. Sumber Data.

Sumber data dalam penelitian lebrary research secara sistematis terbagi menjadi dua bagian yaitu:

a. Sumber data primer

Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh mellui pengamatan dan anlisa terhadap literatur pokok yang dipilih untuk dikaji kembali kesesuaian teks dan realitas berdasarkan berbagai macam tinjauan ilmiah. Dalam penelitian ini sumber primer yang diambil dari buku-buku, jurnal dan artikel pendidikan. b. Sumber data skunder

Sumber data skunder adalah sumber data yang diperoleh dari sumber-sumber bacaan yang mendukung terhadap sumber-sumber data primer dan dianggap relevan. Adapun sumber data skunder diambil dari buku-buku penujang yang ada kaitannya dengan focus penelitian, media massa, al-Qur’an dan kamus ilmiah atau insiklopedi.

5. Analisis Data

Tehnik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah content analysis (analisis isi) artinya pengelolaan data dan analisis datanya itu yang didiskusikan dan dinterpretasikan adalah isinya. Analisis isi bisa juga diartikan dengan analisis data deskriptif (Miles and Huberman: 1992) . Dalam proses menganalisis data dalam penelitian kualitatif lebrary research ini dimulai dari menelaah seluruh data yang ada sesuai dengan pembahasan fokus penelitian dari berbagai sumber kemudian mengadakan reduksi data dengan jalan membuat formulasi (kesimpulan sementara), selanjutnya didiskusikan dan interpretasikan akhirnya ditarik kesimpulan akhir .

6. Pengecekan Keabsahan Data

Dalam penelitian ini pengecekan atau pemeriksaan keabsahan data menggunakan trianggulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang


(23)

paling banyak digunakan dalam jenis penelitian kepustakaan adalah pemeriksaan melalui sumber lainnya. Triangulasi juga bisa berarti teknik pemeriksaan keabsahan data melalui pengumpulan data yang bersifat menggabungkan data dan sumber data yang telah ada (Noeng Muhadjir: 2002) .

Dalam penelitian ini pemeriksaan datanya menggunakan triangulasi sumber. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mencari kebenaran data atau informasi yang dikumpulkan dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama misalnya membandingkan dan mengecek balik derajad kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui buku satu kemudian dikroscek dengan buku lain, atau dengan UU, Peraturan pemerintah, Permen dan lain-lain.

7. Tahap-Tahap Penelitian

Moleong (2000) mengemukakan bahwa penelitian itu melalui beberapa tahapan yaitu : (1) tahap sebelum penelitian, (2) tahap pelaksanaan, (3) tahap analisis data, dan (4) tahap penulisan laporan. Sedangkan Lengkong (1999) mengemukakan ada tiga tahap yaitu : (1) tahap pra penelitian, (2) tahap penelitian, dan (3) tahap pasca penelitian. Dalam penelitian ini peneliti akan mengikuti tahapan yang dikemukakan oleh Moleong, yaitu :

1. Tahap sebelum ke lapangan, meliputi kegiatan mencari permasalahan penelitian melalui bahan-bahan tertulis (kajian pustaka), menentukan fokus penelitian, konsultasi kepada dosen yang lebih senior, menyususn proposal penelitian, diajukan ke P3M, setelah ada pengumuman baru seminar proposal penelitian, bila diterima kemudian penandatanganan kotrak dan mengurus surat izin penelitian.

2. Tahap pelaksanaan penelitian, meliputi kegiatan pengumpulan data dan pencatatan data atau informasi yang terkait dengan fokus penelitian dengan menggunakan teknik studi referensi.

3. Tahap analisis data, meliputi analisis data, penafsiran data, pengecekan keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber serta memberi makna.


(24)

4. Tahap penulisan laporan, meliputi kegiatan penyususnan hasil penelitian, konsultasi hasil penelitian, perbaikan hasil konsultasi, dan penjilidan kemudian pengumpulan laporan hasil penelitian.

E. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan merupakan gambaran singkat tentang penelitian yang dikemukakan secara beraturan dari bab per bab dengan sistematis, dengan tujuan agar pembaca dapat dengan mudah mengetahui gambaran isi penelitian secara global. Adapun penelitian ini terdiri dari empat bab, secara garis besarnya adalah sebagai berikut :

Bab satu pendahuluan, yang menguraikan tentang latar belakang masalah, fakus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab dua kajian pustaka, yang berisi tentang (1) penelitian terdahulu dan (2) kajian terori meliputi : (a) konsep pendidikan pesantren, (2) konsep pendidikan nasional, (c) konsep globalisasi, (d) pendidikan pesantren sebagai alternative prndidikan nasional di era globalisai, (e) eksistensi pendidikan pesantren sebagai alternative prndidikan nasional di era globalisai, dan (f) problematika pendidikan pesantren sebagai alternative prndidikan nasional di era globalisai,

Bab tiga, laporan hasil penelitian yang menguraikan tentang penyajian data yang terkait dengan fokus penelitian dan pembahasan temuan/hasil penelitian.

Bab empat, berisi kesimpulan dan saran, pada bagian akhir disajikan kesimpulan dari hasil penelitian dan kemudian diberikan saran-saran untuk pengembangan pendidikan pesantren dan kontribusi bagi masyarakat agar masyarakat mampu memilihkan pendidikan yang terbaik untuk putra putinya.


(25)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu tentang pendidikan pesantren telah diteliti oleh beberapa orang diantaranya:

Pertama, yang ditulis oleh St. Rodliyah dengan judul ”Manajemen Pondok Pesantren Berbasis Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember Tahun 2013”. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dengan manajemen pondok pesantren berbasis pendidikan karakter mampu membentuk santri-santri yang beriman dan bertaqwa kepada Alloh SWT., berilmu, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku sopan, bertutur kata santun, dan bertindak terpuji sesuai dengan tujuan pendidikan Islam (Rodliyah: 2013).

Kedua, yang ditulis oleh Dhevin M. Q Agus P. W dengan judul Tesis ”Manajemen Pondok Pesantren dalam Mengintegrasikan Kurikulum Pesantren dengan Pendidikan Formal (Studi Kasus di Pondok Pesantren Al-Falah Putri Ampel Wuluhan Jember)”. Dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa manajemen pondok pesantren Al-Falah Putri dalam mengintegrasikan kurikulum pesantren dengan pendidikan formal dalam perencanaannya selalu terbuka terhadap semua elemen untuk memberikan masukan dalam perencanaan program dan pengambilan keputusan. Untuk Pelaksanaannya pesantren Al-Falah putri dengan cara menerapkan kurikulum di masing-masing instansi baik itu aktivitas keseharian pesantren, aktivitas pembelajaran di MTs dan MA, maupun di madrasah Diniyah. Sedangkan pengawasannya dilakukan oleh pimpinan pondok pesantren dalam 2 bentuk. Pertama pengawasan langsung, kedua pengawasan kegiatan rapat bulanan, rapat semesteran ( 6 bulanan) sekali. Pengawasan ini dilakukan untuk mengetahui kinerja dari masing-masing lembaga yang ada di bawah naungan pondok pesantren Al-Falah putri dalam rangka dijadikan


(26)

barometer dalam pengambilan kebijakan lanjut demi kemajuan dan perkembangan dimasa yang akan datang.

Ketiga, yang ditulis oleh M. Anshori tahun 2005 dengan judul ”Upaya Pemerintah dalam Formalisasi Pendidikan Pesantren”. Dalam penelitiannya ia menekannkan dalam upaya formalisasi pendidikan pesantren juga masih fokus pada pengembangan dan peningkatan mutu bagi pendidikan pesantren belum menyentuh pada aspek yuridis dimana peran dan posisi pendidikan pesantren dalm pendidikan nasional. Dengan bergulirnya reformasi ada seberkas titik terang yang memberikan peluang pada pendidikan pesantren untuk bisa sejajar dan integral dengan pendidikan yang selama ini menjadi sub dari pendidikan nasional.

Adapun kekhasan dari penelitian yang akan dilakukan ini, dibandingkan dengan beberapa penelitian di atas adalah penelitian ini lebih menfokuskan pada pendidikan pesantren sebagai alternatif pendidikan nasional di era globalisasi. Hal tersebut berawal dari sejarah perkembangan pesantren dalam mengalami berbagai perubahan dari jaman ke jaman, yang mampu bertahan memegang nilai-nilai budaya khas Indonesia dan juga mampu menghadapi pengaruh budaya Barat. Berangkat dari pengalaman tersebut maka pendidikan pesantren juga mampu menjadi pendidikan alternatif pendidikan nasional di era globalisasi.

B. Kajian Teori

1. Konsep Pendidikan Pesantren a. Pengertian Pendidikan Pesanren

Pendidikan pesantren berarti suatu pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada umumnya sistem pendidikan dan pengajarannya diberikan dengan metode non klasikal. Kehadiran pesantren di tengah-tengah masyarakat tidak hanya sebagai lembaga pendidikan saja, tetapi juga sebagai lembaga penyiaran agama dan sosial keagamaan. Dengan sifat yang lentur sejak awal kehadirannya, pesantren ternyata mampu mengadaptasikan diri serta memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat.

Pendidikan pesantren merupakan sebuah sisten pendidikan Islam yang unik dan khas Indonesia. Ia memiliki karakteristik tersendiri dalam


(27)

pengembangan ilmu pengetahuan. Sebagai suatu lembaga pendidikan Islam, pondok pesantren dari sudut historis kultural dapat dikatakan sebagai trainning center yang otomatis menjadi cultural cneter Islam yang disahkan atau dilembagakan oleh masyarakat, setidak-tidaknya oleh masyarakat Islam sendiri tidak dapat diabaikan (Djamaluddin dan Abdullah: 1999).

Pondok pesantren, sebagaimana disebutkan dalam UU RI. Nomor 20 Tahun 2003 merupakan bagian dari pendidikan agama. Karena itu wewenang pokok dalam pengembangan dan pembinaan pondok pesantren berada pada Departemen Agama. Sementara itu pemerintah daerah bertugas mendukung atas terselenggaranya pendidikan keagamaan dalam rangka pemantapan sistem pendidikan nasional (Wahid dan Nur Hidayat: 2001).

Untuk itu bisa disimpulkan bahwa pendidikan pesantren adalah merupakan pendidikan Islam yang pada umumnya sistem pendidikan dan pengajarannya diberikan dengan metode non klasikal dan tempatnya diselenggarakan di pondok pesantren. Pondok pesantren merupakan institusi pendidikan yang melekat dalam perjalanan kehidupan bangsa Indonesia sejak seratus tahun yang lalu sehingga Ki hajar Dewantara pernah mencita-citakan model pesantren ini sebagai sistem pendidikan nasional. Menurutnya ini merupakan hasil kreasi budaya bangsa yang tak ternilai harganya yang patut dipertahankan dan dikembangkan.

b. Tujuan dan Orientasi Pendidikan Pesantren 1) Tujuan Pesantren

Secara umum tujuan pendidikan di pondok pesantren adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim dalam arti kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT., berakhlak mulia, menjadi pelayan masyarakat sebagaimana kepribadian nabi Muhammad SAW., mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat, mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia. Idealnya pengembangan


(28)

kepribadian yang ingin dituju oleh pondok pesantren adalah kepribadian muslim (Mansur, 2004: 35-36).

Pendidikan pesantren sebagai sebuah media pembelajaran bagi kondisi bangsa Indonesia yang semakin kehilangan moralitasnya sebagai bangsa berbudaya dan berakhlak dalam banyak sorortan media massa mengungkapan krisisi moral yang ditimbulkan oleh para pelajar diakibatkan gagalnya proses pendidikan yang diemban oleh lembaga-lembaga pendidikan umum. Minimnya pengetahuan tentang agama menjadi salah satu faktor dari memicunya aksi-aksi kekerasan, brutalitas, kenakalan remaja, penjbretan yang dilakukan pelajar dan sebagainya.

Pesantren merupakan penggodokan kader-kader ulama yang mampu menjadi media transformasi dalam mengatasi problematika sosial, membentuk insan yang bertaqwa dan beriman kepada Allah SWT. Peran ulama menjadi sangat strategis dalam ikut serta mengusung cita-cita pendidikan nasional yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia yaitu terciptanya manusia seutuhnya. Dalam konteks Al-Hayatu Al-Islamiyah (kehidupan Islam), para ulama berusaha keras berijtihad untuk memecahkan segenap problem kehidupan masyarakat yang terus berkembang (Yusanto: 1998).

Menurut Mastuhu, ada 8 prinsip yang berlaku pada pendidikan di pesantren. Kedelapan prinsip itu menggambarkan kira-kira 8 ciri utama tujuan pendidikan pesantren, antara lain:

(1) Memiliki kebijakan menurut ajaran Islam (2) Memiliki kebebasan yang terpimpin (3) Berkemampuan mengatur diri sendiri (4) Memiliki rasa kebersamaan yang tinggi (5) Menghormati orang tua dan guru (6) Cinta kepada ilmu

(7) Mandiri


(29)

Pondok pesantren memiliki kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia mendatang. Sejarah menunjukkan banyaknya tokoh nasional bahkan internasional yang lahir dari lingkungan pesantren. Hal ini membuktikan bahwa pesantren mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas, memiliki pengetahuan luas, berpikir maju, wawasan kebangsaan, yang dibingkai oleh iman dn taqwa kepada Allah SWT.

Tujuan pendidikan pesantren diharapkan mempunyai dua paradigma yang menjadi tolok ukur keberhasilan dari pondok pesantren itu sendiri. Pertama, tujuan pesantren menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT., berakhlak mulia, mandiri, dan menegakkan Islam. Kedua, ikut serta mencerdaskan bangsa, memiliki keterampilan dan berkembang di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

2) Orientasi Pendidikan Pesantren Masa Depan

Selama dua dasawarsa kebelakang pendidikan pesantren hanya menghasilkan jumlah santri yang menjadi ulama. Sementara itu juga kebutuhan akan profesionalitas dalam bidang ilmu pengetahuan akan profesionalitas dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi masih belum ada. Kebutuhan dunia pasar menjadi faktor penting dalam meningkatkan kemajuan pendidikan pesantren sehingga orientasi pondok pesantren tidak tidak hanya memproduksi ulama, tapi juga menciptakan tenaga-tenaga yang terampil, profesional dan mempunyai keterampilan khusus dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Disitulah akhirnya pendidikan pesantren dapat dilihat sebagai salah satu jenis pendidikan yang lebih berorientasi pada ketinggian moralitas agama dari pada moralitas yang lain. Tujuan dan orientasi seperti itu timbul dan disebabkan karena landasan utama pendidikan pesantren adalah Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Sebenarnya pesan wahyu


(30)

tidak hanya menyerukan pada pencarian kehidupan ukhrawi, tapi manusia juga diperintahkan mencari kehidupan duniawi. Dari beberapa ayat Al-Qur’an dijelaskan tentang ilmu-ilmu teknologi dan ilmu pengetahuan.Dari para pemikir dan ilmuan barat banyak sekali terinspirasi melalui ayat-ayat Al-Qur’an dalam menciptakan penemuan baru teori dan konsep.

Sekalipun begitu seperti yang dikutip Zuly Qodir (2003) dalam bukunya beliau mengatakan “Pendidikan di pesantren juga mengembangkan kualitas intelektual, etos kerja disamping kualitas moral yang tinggi dan pengabdian atau dalam istilah Al-Qur’an Karenanya pendidikan di pesantren selain untuk mencapai ridho Allah juga untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Gerakan reformasi di Indonesia secara umum menuntut diterapkannya prinsip demokrasi, desentralisasi, keadilan, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam hubungannya dengan pendidikan, prinsip-prinsip tersebut akan memberikan dampak yang mendasar pada kandungan, proses dan manajemen sistem pendidikan. Selain itu, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat dan memunculkan tuntunan baru dalam aspek kehidupan baru termasuk dalam sistem pendidikan.

Seirama dengan tuntutan perubahan yang terus menggelinding dewasa ini maka salah satu tuntutan yang kemudian memperoleh momentumnya yang tepat ialah ditetapkannya UU No. 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah sebagai salah satu wujud pemberian peran yang lebih besar kepada daerah untuk mengurus nasib daerahnya sendiri (Hamid: 2003).

UU No. 22 Tahun 1999 ini mempengaruhi pada perubahan sistem pemerintahan sentralistik menuju pada sistem desentralistik yang memberikan wewenang penuh pada sistem pemerintah daerah dalam mengambil setiap keb luasijakan. Tingkat prestasi pendidikan di tiap daerah yang menjadaji sorotan masyarakat luas sangat berbeda sekali,


(31)

sehingga berpengaruh pada penyelenggaraan dan pengelolaan lembaga pendidikan baik dari segi kualitas, kuantitas, sarana dan prasarana maupun dana pendidikan yang nantinya akan mengalami persaingan bebas antar daerah. Akhirnya dana pendidikan yang menjadi tanggungjawab pemerintah dilimpahkan pada pemerintah daerah bahkan masyarakat.

Bagi seorang muslim, seperti yang dikutip Fachry Ali dari Nurcholis (1992) mengatakan “Modernisasi merupakan suatu keharusan mutlak, sebab modernisasi dalam pengertian yang sedemikian itu berarti bekerja dan berpikir menurut aturan-aturan hukum alam. Menjadi modern berarti mengembangkan kemampuan berpikir secara ilmiah, bersikap dinamis dan progresif dalam mendekati kebenaran-kebenaran universal”. Pernyataan demikian tampaknya bukan tanpa dasar beberapa ayat di dalam Al-Qur’an memberi panduan kehidupan.

Modernisasi pendidikan Islam khususnya pesantren merupakan salah satu keharusan dalam merespon ketertinggalan umat Islam yang diakibatkan oleh teknologisasi di segala bidang. Teknologisasi ini mulai merambah dan merusak keseimbangan ekosistem agama, sosial dan budaya. Maka diperlukan antisipasi terhadap pengaruh-pengarruh negatif teknologisasi yang mengakibatkan rusaknya moral bangsa Indonesia. Pengusungan Islam sebagai rahmatan lil alamain sebagai filter terhadap setiap perubahan-perubahan.

Timbulnya kritik terhadap tradisi ilmu pengetahuan Islam di pesantren tidak hanya disebabkan oleh perubahan wawasan umat ditingkat atas, tapi juga munculnya realitas baru dalam masyarakat yang merupakan akibat meluasnya kegiatan pesantren. Pendidikan pesantren mengalami peningkatan. Pada mulanya pesantren tidak mengenal sistem klasikal dan hanya mengajarkan kitab-kitab klasik “kitab kuning” kini sudah mengenal madrasah (Tebba: 2002).

Perubahan jaman menuntut adanya pembaharuan sistem pendidikan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah


(32)

pola pikir manusia untuk mengikuti kemajuan tersebut. Maka pesantren dituntut untuk bisa menyediakan lembaga pendidikan yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Namun visi dan misi pesantren tetap untuk mencetak intelektual muslim yang berbudi pekerti luhur harus dikedepankan. Sehingga pesantren yang telah lama menjadi pendidikan tetap eksis karena tidak ditinggalkan masyarakat pengguna jasa pendidikan (Rahman, 2002: 199).

c. Sejarah dan Perkembangan Pesantren di Indonesia

Sebelum tahun 1960-an pusat-pusat pendidikan pesantren di Indonesia lebih dikenal dengan nama pondok. Istilah pondok barangkali berasal dari pengertian asrama-asrama para santri atau tempat tinggal yang dibuat dari bambu, atau barangkali berasal dari kata arab, funduq, yang artinya hotel atau asrama. Perkataan pesantren berasal dari kata santri, yang dengan awalan pe di depan dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri.

Pondok pesantren adalah tempat untuk para santri dalam menimba ilmu ataupun dalam kata lain bias disebut asrama, ini pernah ada sebelum Islam masuk di pulau jawa sudah banyak padepokan-padepokan tempat para kawula menimba ilmu dari para begawan yang jauh dari pusat keramaian.

Sedangkan mulai kapan munculnya pesantren dan siapa perintisnya belum diketahui secara pasti, bahkan dalam banyak literatur-literatur ensiklopedi juga tidak menemukan kapan munculnya dunia tentang pesantren pertama kali di Indonesia, hanya mayoritas masyarakat berasumsi bahwa munculnya pesantren sejak Islam mulai berakar dikepulauan nusantara di bawah perjuangan para pedagang Islam dan para sufi yang dating ke Indonesia melalui kerajaan Mojopahit. Data kualitatif dan kuantitatif yang telah ada masih belum cukup menandai untuk membuat interpretasi yang valid dalam memperoleh data penelitian sejarah tentang munculnya atau berdirinya pesantren.

Pada masa walisongo dalam perjuangannya membumisasikan Islam telah banyak menggunakan tempat-tempat pendidikan dan pengajaran yang


(33)

dijadikan sebagai syi’ar Islam, sebagian masyarakat meyakinkan bahwa penyebaran Islam di tanah jawa menggunakan pesantren karena dianggap sarana sosialisasi yang potensial untuk penyebaran ilmu dan agama. Namun tidak dapat menyimpulkan bahwa munculnya pesantren pertama kali dan berkembang pada masa wali songo sebab istilah pondok telah ada pada masa jauh sebelum walisongo.

Walaupun setelah Indonesia merdeka berkembang jenis-jenis pendidikan Islam formal dalam bentuk madrasah dan pada tingkat tinggi IAIN, namun secara luas, kekuatan pendidikan Islam Indonesia masih berada pada system pesantren. Posisi dominan yang ddipegang oleh pesantren ini menghasilkan sejumlah besar ulama yang tinggi mutunya, dijiwai oleh semangat dan ketekunan dalam membimbing, menyebarluaskan dan memantapkan keimanan umat Islam melalui kegiatan pengajian umum yang digemari oleh masyarakat luas.

Pusat-pusat pesantren yang memiliki lebih dari 3000 santri pada umumnya memiliki pendidikan Islam tingkat tinggi. Pusat-pusat pesantren seperti ini mendidik guru-guru madrasah, guru-guru lembaga pengajian, dan para khotib jum’at. Keberhasilan para pemimpin pesantren dalam melahirkan sejumlah besar “ulama” yang berkualitas tinggi adalah karena metode pendidikan yang dikembangkan oleh para kyai berupa bimbingan pribadi yang menerapkan penguasaan kualitatif.

Uraian singkat sejarah lembaga-lembaga pendidikan Islam di atas memperjelas bahwa pesantren ternyata memiliki vitalitas untuk tetap berkembang meskipun pemerintah Belanda memperluas jumlah sekolah tipe Eropa untuk penduduk golongan pribumi. Pengaruh yang luar biasa partai-partai Islam dalam kehidupan politik di Indonesaia antara lain tahun 1910-an sampai deng1910-an tahun 1950-1910-an sebagi1910-an besar disebabk1910-an oleh kuatnya perkembangan lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Pengaruh dominan pesantren mulai menurun setelah penyerahan kedaulatan pada Desember 1949. Penurunan dominasi pesantren pesantren itu sendiri itu disebabkan setelah merdeka pemerintah Indonesia


(34)

mengembangkan sekolah umum seluas-luasnya dan jabatan-jabatan dalam administrasi modern terbuka luas bagi bangsa Indonesia yang terdidik dalam sekolah-sekolah umum.

Namun demikian, hal ini tidak mengakibatkan jumlah anak-anak muda yang belajar di pesantren menurun, meskipun jumlah anak yang mengikuti pendidikan sekolah umum terus meningkat. Pesantren-pesntren masih dapat bertahan dengan berbagai cara antara lain menyelenggarakan sekolah-sekolah umum dalam lingkungan pesantren.

Namun demikian, tidak semua pesantren mengalami perubahan yang sama. Pada periode antara tahun 1970 dan 1998 telah berkembang variasi tipe pendidikan pesantren yang masing-masing mengikuti kecenderungan yang berbeda-beda. Lembaga-lembaga pesantren pada periode tiga dasa warsa itu dapat dikelompokkan dalam dua tipe besar yaitu: 1. Tipe lama (klasik), yang inti pendidikannya mengajarkan kitab-kitab

klasik. Walaupun system madrasah diterapkan tujuannya untk memudahkan system sorogan yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama. Tipe ini tidak mengenal pengajaran pengetahuan umum. Masih cukup besar jumlah pesantren yang mengikuti pola ini, yaitu Pesantren Lirboyo dan Ploso Kediri. Pesantren Malakul Huda di Pati, dan Pesantren Tremas di Pacitan.

2. Tipe baru, yaitu mendirikan sekolah-sekolah umum dan madrasah-madrasah yang mayoritas mata pelajaran yang dikembangkannya bukan kitab-kitab Islam klasik. Pesantren-pesantren besar, seperti Tebuireng dan Rejoso di Jombang telah membuka SMP, SMA dan Universitas; meskipun dipertahankan, porsi pengajaran kitab-kitab Islam klasik tidak mewadai, mungkin disebabkan jumlah pengajar kitab-kitab Islam klsik tidak mencukupi dibandingkan dengan kebutuhan. Apalagi pertumbuhan jumlah lembaga pesantren mencapai 3 kali lipat antara tahun 1998 dan 2010.


(35)

d. Sistem Pendidikan Pesantren

Sistem adalah suatu keseluruhan yang terdiri dari komponen-komponnen yang masing-masing bekerja sendiri dalam fungsinya. Berkaitan dengan fungsi dari komponen lainnya yang secara terpadu bergerak menuju kearah suatu tujuan yang telah ditetapkan. Sistem pendidikan adalah suatu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan yang lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan (Arifin: 2003: 72).

Sistem pendidikan pesantren merupakan seperangkat alat yang secara teratur saling berkaitan antara elemen pesantren (asrama, masjid, santri, kitab dan Kyai) dalam melaksanakan pendidikan yang saling bekerjasama membangun common working yang baik demi kemajuan lembaga. Sistem pesantren disini sangat penting menjadi satu kesatuan yang utuh dalam tercapainya tujuan pendidikan yang dicita-citakan dalam membentuk kepribadian luhur dan berintelektual.

Komponen-komponen pendidikan menjadi sangat penting dalam setiap pengelolaan sebuah institusi yang membentuk satu kesatuan yang utuh dalam mencapai tujuan. Dalam pesantren masa kini otoritas Kyai bukan lagi menjadi factor utama bagi kemajuan sebuah lembaga pesantren dan tidak lagi memegang otoritas sebagai pengambil kebijakan dalam menentukan arah tujuan pesantren, tetapi menjadi sebuah tanggungjawab bersama komponen-komponen pendidikan.

Mulai dekade 1970-an telah terjadi perubahan yang cukup besar pada keberadaan pesantren sebagai sebuah sistem pendidikan. Pesantren sebagai sebuah bentuk sistem tradisional mulai berubah. Pesantren sebelumnya dikenal sebagai bentuk sistem perseolahan (ala Belanda yang dimodifikasi dalam bentuk islamisme) yaitu sistem madrasah (ibtidaiya, tsanawiyah, Aliyah, dan semacamnya bahkan pesantren modern mulai mendirikan perguruan tinggi. Seperti yang disinyalir oleh Mansur (2004) yang mengatakan bahwa “Memang adanya sistem persekolahan dilingkungan pesantren tidak dengan serta merta menggusur sistem kelas


(36)

bandongan yang selama ini dikenal”, kitab-kitab klasik masih tetap diajarkan oleh pimpinan pesantren. Pengajian kelas bandongan ini biasanya dismapaikan setelah shalat rawatib tetapi karena jumlah komunitas santri dipesantren semakin besar maka penyampaian pengajian kitab bersifat massal dengan tidak meninggalkan model sorogan, dimana santri mengajukan bab-bab tertentu dalam kitab untuk dibaca didepan kyai.

Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua, sejarah perkembangan pondok pesantren memiliki model-model pengajaran yang bersifat non klasikal yaitu sistem pendidikan dengan metode pengajaran wetonan dan sorogan. Di Jawa Barat, metode tersebut diistilahkan dengan “bendungan” sedangkan di Sumatra digunakan istilah“halaqah”(Hasbullah: 2001).

Selain wetonan dan sorogan sistem pendidikan pesantren juga menggunakan metode pengajaran (1) metode musyawarah (bahtsulmasa’il), (2) metode pengajian pasaran, (3) metode hafalan (muhafadhah), dan (4) metode demontrasi (praktek ibadah).

1) Metode Wetonan(halaqah)

Metode utama system pengajaran di lingkungan pesantren ialah system bandongan atau seringkali juga disebut system wetonan. Dalam system ini sekelompok murid (antara 5 sampai 500 murid/santri) mendengarkan seorang guru yang membaca , menerjemahkan, menerangkan, bahkan seringkali mengulas buku-buku Islam dalam bahasa Arab. Metode bandongan atau wetonan bias juga diartikan system pengajaran yang di dalamnya terdapat seorang Kyai yang membaca suatu kitab dalam waktu tertentu, sedangkan santrinya membawa kitab yang sama lalu santri mendengarkan dan menyimak bacaan kyai.

Metode ini dapat dikatakan sebagai proses belajar mengaji secara kolektif dan metode pengajatan kelompok seperti memberikan sebuah konstruksi pemikiran dalam mengembangkan keilmuan yang lebih komprehensip. Dalam metode ini memberikan kebebasan pada para santri untu bertanya, kritikan ataupun tanggapan tentang isi dari materi yang


(37)

diberikan seorang kyai sehingga kesalahan-kesalahn dalam mengaji sesuatu dapat diminimalisir dengan beberapa pandangan kyai ataupun santri.

Dalam system bandongan, seorang murid tidak harus menunjukkan bahwa ia mengerti pelajaran yang sedang dihadapi. Para kyai biasanya membaca dan menterjemahkan kalimat-kalimat secara cepat dan tidak menterjemahkan kata-kata yang mudah. Dengan cara ini, kyai dapat menyelesaikan kitab-kitab pendek dalam beberapa minggu saja. Sistem bandongan, karena dimaksudkan untuk murid-murid tingkat menengah dan tingkat tinggi hanya efektif bagi murid-murid yang telah mengikuti system sorogan secara intensif.

2) Metode Sorogan

Sistem sorogan dalam pengajaran merupakan bagian yang paling sulit dari keseluruhan system pendidikan pesantren, sebab system sorogan menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan dan disiplin pribadi guru pembimbing dan murid. Metode ini dapat dikatakan sebagai proses belajar mengajar individual dan metode ini menekankan pada keaktifan belajar seorang santri dalam pencarian ilmu pengetahuan yang ingin diketahui dengan cara menyajikan kitab-kitab kepada kyai untuk dikaji.

Seperti yang dijelaskan oleh Abdurrahman Masud dalam Nawawi (2004) “Seorang guru yang demokratis”. Anekdot yang dikemukakan tentang diskusi dengan muridnya menunjukkan bahwa dia memberi kesempatan kepada muridnya untuk mengungkapkan pendapat yang berbeda. Tidak seperti pendidikan otoritatif yang teacher center, Nawawi percaya pada potensi aktif dan keikhlasan individual.

Sistem sorogan terbukti sangat efektif sebagai taraf pertama bagi seorang murid yang bercita-cita menjadi seorang alim. Sistem ini memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang seorang dalam menguasai bahasa Arab. 3) Metode Musyawarah(Bahtsul Masa’il)

Metode musyawarah merupakan metode pembelajaran yang mirip dengan metode diskusi atau seminar. Beberapa santri dengan jumlah tertentu


(38)

membentuk halaqah yang dipimpin langsung oelh kyai atau ustadz atau mungkin oleh santri senior yang membahas atau mengkaji suatu persoalan yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam pelaksanaannya para santri dengan bebas mengajukan pertanyaan atau pendapatnya. Dengan demikian metode ini lebih menitik beratkan pada kemampuan seseorang di dalam menganalisis dan memecahkan suatu persoalan dengan argumen logika yang mengacu pada kitab-kita tertentu. Musyawarah dilakukan juga untuk membahas materi-materi tertentu dari sebuah kitab yang dianggap rumit untuk memahaminya (Rahman: 1992).

Dalam metode musyawarah, system pengajarannya sangat berbeda dari system sorogan dan bandongan atau wetonan. Para santri harus mempelajari sendiri kitab-kitan yang ditunjuk dan dirujuk. Kyai memimpin kelas musyawarah seperti dalam suatu seminar dan lebih banyak dalam bentuk Tanya-jawab, biasanya hamper seluruh nya diselenggarakan dalam bahasa Arab, dan merupakan latihan bagi para siswa untuk menguji keterampilannya dalam menyadap sumber-sumber argumentasi dalam kitab-kitab Islam klasik.

Seringkali, pimpinan pesantren beberapa hari sebelum kelas musyawarah dimulai menyiapkan sejumlah pertanyaan (masail diniyah) bagi peserta kelompok musyawarah biasanya yang akan bersidang. Hari-hari siding dijadwal mingguan. Hari-Hari-hari sebelum acara diskusi terlebih dahulu dan menunjuk salah seorang juru bicara untuk menyampaikan kesimpulan masalah yang disiapkan oleh kyainya. Diskusi dalam kelas musyawarah bernuansa bebas. Mereka yang mengajukan pendapat diminta untuk menyebutkan sumber sebagai dasar argumentasi (Zamakhsyari, 2011: 53-58).

Mereka yang dinilai oleh kyai cukup matang untuk menggali sumber-sumber referensi, memiliki keluasan bahan-bahan bacaan dan mampu menemukan atau menyelesaikan problem-problem menurut system jurisprudensi madzhab imam Syafi’I diwajibkan menjadi pengajar kitab-kitab tingkat tinggi. Para kyai muda ini biasanya menulis


(39)

komentar-komentar atau pendapat-pendapat dalam bahasa Arab di ruang-ruang terluang dipinggir.

4) Metode Pengajian Pasaran

Metode pengajian pasaran adalah kegiatan belajar para santri melalui pengkajian materi (kitab) tertentu pada seorang kyai yang dilakukan oleh sekelompok santri dalam kegiatan yang terus menerus selama tenggang waktu tertentu. Umumnya dilakukan pada bulan ramadhan selama setengah bulan, dua puluh hari atau terkadang satu bulan penuh tergantung pada besarnya kitab yang di kaji. Pengajian pasaran ini dahulu banyak dilakukan di pesantren tua di Jawa, dan dilakukan oleh Kya-Kyai senior dibidangnya. Titik beratnya pada pembecaan bukan pada pemahaman sebagaimana metode bandongan. Kebanyakan pesertanya justru para ustadz atau para kyai yang datang dari tempat-tempat lain yang sengaja datang untuk mengikuti pengajian tersebut. Dengan kata lain pengajian ini lebih banyak untuk mengambil berkah atau ijazah dari kyai-kyai yang dianggap senior (Rahman: 2002).

5) Metode Hafalan (Muhafadhah)

Metode hafalan adalah kegiatan belaajar santri dengan menghafal suatu teks tertentu di bawah bimbingan dan pengawasan kyai. Para santri diberi tugas untuk menghafal bacaan-bacaan dalam jangka tertentu. Materi pembelajaran dengan metode hafalan umumnya berkenaan dengan tauhid, Al-qur’an, sharaf dan nahwu. Dalam pembelajaran metode ini seorang santri di beri tugas oleh kyai untuk menghafal suatu bagian tertentu atau keseluruhan dari suatu kitab (Rahman: 2002).

6) Metode Demontrasi (Praktek Ibadah)

Metode demontrasi adalah cara pembelajaran yang dilakukan dengan memperagakan suatu keterampilan dalam hal pelaksanaan ibadah tertentu yang dilakukan secara perorangan maupun kelompok. Dengan mengikuti petunjuk dari para kyai atau ustadz. Kebanyakan metode demontrasi ini dilakukan bagi materi fiqh dan akhlak. Biasanya santri langsung disuruh


(40)

kyai untuk mempraktekkan bersuci misalnya cara sholat, cara mensucikan tembelek ayam yang ada di masjid atau di musholla.

Metode utama system pengajaran di lingkungan pesantren iaalah system bandongan atau sekelompok atau yang seringkali di sebut dengan pengajian weton.

2. Konsep Pendidikan Nasional a. Pengertian Pendidikan Nasional

Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, yaitu menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (KH. Dewantoro)

Intisari atau eidos dari pendidikan ialah pemanusiaan manusia-muda. Pengangkatan manusia muda ke taraf insani, itulah yang menjelma dalam semua perbuatan mendidik, yang jumlah dan macamnya tak terhitung (Driyarkara)

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU No 20 tahun 2003). Pendidikan juga bisa juga berarti sebagai berikut:


(41)

1) Pendidikan dapat dipandang dalam arti luas dan dalam arti teknis

2) Dalam artinya luas pendidikan menunjuk pada suatu tindakan atau pengalaman yang mempunyai pengaruh yang berhubungan dengan pertumbuhan atau perkembangan jiwa (mind), watak (character), atau kemampuan fisik (physical ability) individu.

3) Pendidikan dalam artian ini berlangsung terus (seumur hidup). Kita sesungguhnya belajar dari pengalaman seluruh kehidupan kita

4) Dalam arti teknis, pendidikan adalah proses dimana masyarakat, melalui lembaga-lembangan pendidikan (sekolah), dengan sengaja mentransformasikan warisan budayanya, yaitu pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan-keterampilan dari generasi ke generasi.

b. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Nasional

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab.

3. Konsep Globalisasi

a. Pengertian Era Globalisasi

Globalisasi berasal dari kata global. Global berasal dari kata globe yang berarti dunia. Global adalah sesuatu yang berkaitan dengan dunia, internasional, atau seluruh jagat raya. Seluruh bangsa dan negara di dunia menyatukan diri ke dalam masyarakat internasional. Globalisasi berarti cara pandang, cara berpikir, atau proses masuk ke ruang lingkup yang mendunia. Globalisasi merupakan era terbentuknya tata kehidupan baru yang lebih baik (Depdikbud: 2001).

Globalisasi, sesuai dengan asal katanya yaitu global (sedunia, sejagat) adalah suatu proses terjadinya perluasan skala kehidupan manusia


(42)

dari bentuknya, yang lokal menuju nasional untuk kemudian mengglobal, meluas ke seluruh dunia atau mendunia.

Globalisasi merupakan fenomena berwajah majemuk. Istilah globalisasi sering diidentikkan dengan (1) internasionalisasi, yaitu hubungan antar negara, meluasnya arus perdagangan dan penanaman modal, (2) liberasi, pencabutan pembatasan-pembatasan pemerintah untk membuka ekonomi tanpa pagar (borderlessword) dalam hambatan perdagangan, pembatasan keluar masuk mata uang, kendali devisa, dan izin masuk suatu Negara (visa), (3) universalisasi, yaitu ragam selera atau gaya hidup seperti pakaian, makanan, kendaraan, di seluruh pelosok penjuru dunia, (4) westernalisasi atau Amerikanisasi, yaitu ragam hidup model budaya Barat atau Amerika, (5) de-Teritorialisasi, yaitu perubahan-perubahan geografi sehingga ruang social dalam perbatasan, tempat, dan jarak menjadi berubah.

Mengapa proses itu terjadi? Tidak lain adalah adanya perkembangan teknologi transportasi dan komunikasi. Dengan teknologi transportasi memungkinkan manusia berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat lainnya dengan cepat. Penemuan pesawat terbang misalnya, telah menyebabkan mobilitas manusia yang lebih intens.

Demikian pula, perkembangan teknologi komunikasi telah menyebabkan terjadinya aktifitas dan mobilitas manusia yang mendunia padatingkat non fisik yakni berupapergerakan ide, informasi maupun isu-isu. Perbatasan fisik geografik menjadi tidak lagi berarti karena gampang sekali ditembus.

Jadi, globalisasi ini menunjukkan perubahan besar dalam masyarakat dunia. Apa yang ditunjukkan bukan sesuatu yang remeh. Bukan sekedar soal kita menambahkan perlengkapan modern seperti video, fashion, televisi, parabola, komputer dan sebagainya dalam cara hidup. Kita hidup di dalam dunia yang sedang mengalami transformasi yang luar biasa, yangpengaruhnya hampir melanda setiap aspek dari kehidupan. Entah baik atau buruk, kita didorong masuk ke dalam tatanan global yang tidak sepenuhnya dipahami oleh siapapun, namun dampaknya bisa kita rasakan.


(43)

Dengan kian merebak dan canggihnya teknologi media, memungkinkan sebuah masyarakat menyaksikan bentuk-bentuk kehidupan dan sistem kepercayaan lain yang berbeda. Kita juga menyaksikan masyarakat lain dalam macam-macam gaya hidup, orientasi keagamaan yang berbeda, ragam etnik-suku bangsa, perbedaan bahasa dan sebagainya. Bahkan buk an itu saja, globalisasi merupakan efek jarak jauh. Apa yang terjadi pada satu belahan bumi, bisa terjadi efek pada belahan bumi yang lain. Misalnya, teror bom Bali dengan serta merta mempengaruhi dunia kehidupan masyarakat di belahan bumi lainnya. Pada intinya, kehidupan masyarakat global saat ini dihadapkan pada pluralitas kebudayaan yang saling mempengaruhi, yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Saling pengaruh di antara ragam budaya, jika tidak dikelola dengan baik, akan menimbulkan konflik yang hebat, berkepanjangan dan susah dihentikan. Seperti disinyalir oleh Huntington (1993), garis-garis batas dalam dunia mutakhir (dunia era pasca perang dingin) tidak berasal dari politik, atau ideologi, melainkan kebudayaan.

Lebih lanjut Huntington dalam Nur Kholis Majid (1977) mengatakan bahwa ikatan sekelompok masyarakat modern semakin ditentukan oleh warisan agama, bahasa, sejarah, dan tradisi yang mereka miliki bersama atau yang disebut sebagai peradaban.

Tatkala perjumpaan peradaban satu dengan yang lainnya, melalui globalisasi, tidak berkembang secara adil, dan tidak ada saluran komunikasi, maka benih-benih permusuhan kita menggumpal dan siap meledak. Buat kebanyakan orang yang tinggal di luar Eropah dan Amerika Utara, globalisasi terkesan tidak menyenangkan, seperti Westernisasi atau mungkin Amerikanisasi. Ketika muncul peradaban yang dominan dan dirasakan menindas oleh peradaban yang lain, kemungkinan terjadi benturan peradaban(Clash of Civilazation)sangat mungkin.


(44)

b. Strategi Mengarungi Globalisasi.

1. Bagi Indonesia, atau negara berkembang lainnya, perlu memperkuatakar kebangsaan, kemampuan bangsa sendiri, juga memerlukan kerjasama dengan negara lainnya. ASEAN, sebagai forum kerjasama regional, yang tentunya akan memperkuat posisi tawar negara-negara anggotanya, seandainya kerjasama itu dapat benar-benar diwujudkan. Contoh, negara-negara Eropah Barat, sebagaimana kita ketahui, membentuk The European Union, negara Eropah Bersatu. Tahapannya sekarang, sudah memiliki mata uang tunggal. Eropa (euro) dan bahkan hampir seluruh negara Eropah sudah akan menjadi anggotanya. Di samping itu, untuk memperkuat akar kebangsaan, kita harus mampu menggali potensi dalam negeri di segala bidang. Tanpa memperkuat akar kita sebagai bangsa dan bekerjasama regional yang kokoh, agaknya semakin sulit bagi Indonesia untuk mampu bersaing di era globalisasi.

2. Perlunya demokratisasi sebagai proses pengambilan keputusan politik. Dengan demokratisasi, kita dapat menjamin terselenggaranya kehidupan yang plural, perbedaan pendapat yang sehat, dan membangun konsensus bersama yang harus kita taati. Hanya dengan demokratisasi, kehidupan berbangsa dan bernegara kita dapat cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang cepat itu. Contoh, jangan seperti Amerika, menuntut negara lain membuka pasarnya, Amerika justru kadang-kadang membatasi pasarnya. Amerika menuntut transparansi, tetapi justru Amerika sering tidak transparan dalam menentukan kebijakan di lembaga-lembaga internasional.Juga terhadap masalah demokrasi, Amerika sering bersikap tidak demokratis, sering memaksakan sikapnya untuk bisa diterima negara penerima bantuan.

3. Perlu adanya etika global, yaitu sebuah konsensus dasar tentang nilai-nilai pengikat dan sikap dasar yang dikukuhkan oleh semua sistem kepercayaan (agama) meskipun terdapat perbedaan dogmatis. Konsensus memerlukan standar etika fundamental (nilai-nilai Universal), yang meskipun terdapat banyak perbedaan wujudnya dalam agama. Sebuah


(45)

konsensus global dimungkinkan terwujud di atasmoralitas dasar (nilai-nilai Universal), seperti kebenaran, keadilan, kemanusiaan, dan semacamnya.

Dimensi Budaya : globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atauworld culture).

c. Dampak Globalisasi dalam Pendidikan

Era globalisasi mampu membuat sebuah tatanan negara lebih baik, namun dalam satu sisi globalisasi membawa dampak sebagai berikut:

a) Pergeseran substansi pendidikan ke pengajaran. Makna pendidikan yang syarat dengan nilai-nilai moral bergeser pada pengajaran sebagaitransfer pengetahuan

b) Pragmatisme dalam dunia pendidikan. Pendidikan sebagai proses hominisasi dan humanisasi, telah terdepak oleh nilai-nilai pragmatis demi mencapai tujuan materiil

c) Kokohnya paham behaviorisme dalam dunia pendidikan. Paham ini mengacu pada pertimbangan atribut atribut luar seperti perubahan perilaku yang dapat diamati, misal ukuran NILAI

d) Melemahnya peran-peran penting pelaku pendidikan (guru, ortu, tokoh) dan tripusat pendidikan (sekolah, keluarga dan masyarakat)

4. Pendidikan Pesantren Sebagai Alternatif Pendidikan Nasional di Era Globalisasi.

Pendidikan pesantren dapat dikatakan sebagai modal social dan bahkan soko guru bagi perkembangan pendidikan nasional di Indonesia. Karena pendidikan pesantren yang berkembang sampai saat ini dengan berbagai modelnya senantiasa selaras dengan jiwa, semangat, dan kepribadian bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Maka dari itu, suadah sewajarnya apabila pekembangan dan pengembangan pendidkan pesantren akan memperkuat karakter social system pendidikan nasional yang turut membantu melahirkan sumber daya manusia Indonesia yang


(46)

memiliki kehandalan penguasaan pengetahuan dan kecakapan teknologi yang senantiasa dijiwai nilai-nilai luhur keagamaan. Pada akhirnya, sumberdaya manusia yang dilahirkan dari pendidikan pesantren ini secara ideal dan praktis dapat berperan dalam setiap proses perubahan social menuju terwujudnya tatanan kehidupan masyarakat bangsa yang paripurna (Sulton & Khusnuridlo: 2006).

Untuk masa yang akan datang, kondisi pesantren tentu harus menampilkan wajah baru, menyesuaikan dengan kondisi era globalisasi, meski tidak meninggalkan cirri khasnya sebagai basis dalam pendidikan agama Islam. Dengan demikian wajah pesantren di masa yang akan datang haruslah merupakan perpaduan yang harmonis antara system pendidikan pesantren saat ini di satu pihak dengan tuntutan era globalisasi yang memiliki cirri dinamis serta tanggap terhadap perubahan. Lulusan pesantren di masa yang akan datang haruslah orang yang“super” dalam pengertian. Ia adalah ahli-ahli di bidang pengetahuan agama yang dibekali dengan pengetahuan umum dan keterampilan yang luas. Dengan demikian lulusan pesantren akan mampu bersaing dengan lulusan pendidikan lainnya. Demikian pula penjenjangan pendidikan di pondok pesantren yang saat ini kurang jelas, di masa yang akan datang harus menyesuaikan dengan system pendidikan nasional, sehingga memiliki standar yang jelas dan memudahkan para lulusan untuk memperkaya bidang ilmu pada jenjang pendidikan di luar pondok pesantren ketika ia telah lulus nanti.

Dalam kurun waktu tertentu, pesantren telah membuktikan diri melalui pendidikan dan dakwahnya dalam menata moralitas bangsa yaitu manusia yang bertaqwa dan beriman kepada Allah SWT dengan prinsip menyerukan amar ma’ruf (menyerukan kebaikan) dan nahi munkar (melawan kemungkaran). Di sinilah peluang pesantren dalam mendukung dan menyukseskan program-program pendidikan nasional yaitu:

a. Pesantren sebagai media pemupukan mentalitas spiritual masyarakat dalam menyadari pentingnya agama sebagai fondasi atau benteng dari sifat-sifat kemungkaran.


(47)

b. Lembaga pesantren menggodok kader-kader mandiri sehingga terciptanya bangsa yang mandiri dan tidak tergantung pada bangsa lain. c. Demokratisasi merupakan nilai-nilai dasar yang dimiliki pesantren

membuahkan hasil pada tumbuh kembangnya bangsa yang mengagungkan Negara demokrasi (Nasaruddin Umar: 2002).

Pesantren adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan bangsa ini. Bahkan kiprahnya sudah dimulai sejak bangsa ini masih bernama nusantara. Kemudian bersama negeri ini, pesantren ikut merasakan perjuangan panjang meraih kemerdekaan. Kisruh pemerintahan Orde Lama, diktatorisme Orde Baru, dan hingga kini di tengah euphoria kebebasan, pasca reformasi.

Para santri pun kemudian bermetamorfosis di tengah kebebasan itu. Tak lagi terkungkung dalam bilik pesantren yang sempit. Tidak lagi dimonopoli oleh penjara suci kekuasaan kyai. Atau hanya jadi subkultur yang berada di tengah pedesaan terpencil.

Pesantren kini telah berkembang dan maju, tak saja dari bentuk lahirnya berupa bangunan, wilayah ataupun tempat. Dari yang dulu berada di desa terpencil, atau di atas gunung yang jauh dari kaum urban. Kini bangunan-bangunan pesantren mulai menyapa warga kota dan dekat dengan mereka.

Zamakhsyari Dhofier (2011) mengemukakan bahwa “Tujuan pendidikan pesantren tidak semata-mata untuk memperkaya pikiran murid dengan penjelasan-penjelasan, tetapi untuk meningkatkan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkahlaku jujur dan bermoral, serta menyiapkan para murid diajar mengenai etika agama di atas etika-etika yang lain. Tujuan pesantren bukan untuk mengejar kepentingan kekuasaan, uang dan keagungan duniawi, tetapi menanamkan kepada mereka bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Tuhan”.

Di antara cita-cita pendidikan pesantren adalah latihan untuk dapat berdiri sendiri dan membina diri agar tidak menggantungkan sesuatu kepada orang lain kecuali kepada Tuhan. Para kyai selalu menaruh perhatian dan


(48)

mengembangkan watak pendidikan individual, murid dididik sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan dirinya.

Anak-anak yang cerdas dan memiliki kelebihan kemampuan dari yang lain diberi perhatian istimewa dan selalu didorong untuk terus mengembangkan diri dan menerima kuliah pribadi secukupnya. Murid-murid juga diperhatikan tingkahlaku moralnya secara teliti. Mereka diperlakukan sebagai makhluk yang terhormat, sebagai titipan Tuhan yang harus disanjung. Kepandaian berpidato dan berdebat juga dikembangkan. Kepada murid ditanamkan perasaan kewajiban dan tanggungjawab untuk melestarikan dan menyebarkan pengetahuan mereka tentang Islam kepada orang lain, mencurahkan waktu dan tenaga untuk belajar terus menerus sepanjang hidupnya.

5. Eksistensi Pendidikan Pesantren Sebagai Alternatif Pendidikan Nasional di Era Globalisasi.

Keberadaan pondok pesantren di Indonesia yang secara keseluruhan diperkirakan memiliki santri kurang lebih 9 juta santri adalah merupakan potensi bangsa yang cukup besar. Potensi tersebut dapat memberikan kontribusi positif yang cukup besar bila dikelola dengan baik, tetapi sebaliknya apabila kurang dikelola dengan baik, maka hal itu akan dapat memberikan dampak negatif yang cukup besar pula dalam pembangunan bangsa ini. Namun sayangnya, kenyataan jumlah santri yang besar itu hingga saat ini belum tertangani dengan baik sebagai akibat belum sinergisnya program-program pemerintah dengan pesantren. Terbukti pada tahun 2003 dari 9 juta santri tersebut yang lulusannya dapat disetarakan dengan pendidikan nasional tingkat pendidikan dasar baru 900 ribu santri saja. Hal ini mengindikasikan perlu adanya pembaharuan-pembaharuan sistem manajemen di lingkungan pondok pesantren agar dapat mengakomodasikan program-program pemerintah dalam bidang pendidikan tanpa menghilangkan ciri khas dari pendidikan pesantren itu sendiri (Sulton & ridlo: 2006).


(49)

Dilihat dari fungsinya keberadaan pesantren sejak awal perkembangannya tidak lebih hanyalah sebuah lembaga pendidikan dan penyiaran agama Islam. Seirama dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan zaman, maka terjadilah pergeseran nilai, struktur dan pandangan dalam setiap aspek kehidupan manusia. Diantara aspek tersebut adalah yang berkaitan langsung dengan dunia pendidikan. Dalam hubungannya dengan pondok pesantren, maka pesantren mengahadapi satu kondisi yang dilematis, yaitu dalam satu sisi apakah pesantren harus hanyut mengikuti perkembangan modern dengan konsekuensi kehilangan “jati diri” atau sisi lain tetap mempertahankan tradisinya yang sejak lama telah mengakar dalam kehidupan pesantren yang berdampak terhadap ke eksklusifan pesantren.

Pergeseran nilai tersebut setidaknya bisa digambarkan dengan realitas di lapangan saat ini yang mengatakan bahwa terdapat kategorisasi jenis-jenis pesantren, yakni ada yang mengkategorisasikan menjadi dua yaitu: pesantren salaf dan pesantren khalaf (Zamahsyari Dhofir: 1982). Sedangkan Maskuri Abdillah (2001) membagi pesantren menjadi empat kelompok yaitu: pertama, pesantren yang mendirikan pendidikan formal dengan menerapkan kurikulum nasional dan atau Ebta/Ebtanas baik yang hanya memiliki sekolah keagamaan (MI, MTs, MA dan PTAI) maupun yang memiliki sekolah umum (SD, SMP, SMA dan PTU) seperti pesantren Tebu Ireng Jombang, pesantren Futuhiyah Demak dan pesantren Syafi’iyah Jakarta, kedua, pesantren yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan dalam bentuk madrasah dan mengajarkan ilmu-ilmu umum meski tidak menerapkan kurikulum nasional, seperti pesantren Darus Salam Gontor Ponorogo dan pesantren Daaru Rahman Jakarta, ketiga, pesantren yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama dalam bentuk madrasah diniyah seperti pesantren Lirboyo Kediri dan Tegal Rejo Magelang, dan keempat, pesantren yang yang hanya sekedar menjadi tempat pengajian saja.

Melihat kondisi pesantren yang saat ini ada, maka bisa kita lihat bahwa sekarang pesantren telah banyak membuka diri (inklusif) terhadap


(50)

perkembangan luar dengan pemberlakuan konsep qoidah fiqhiyah “al-muhafazah ala-qodim al-salih wa al-akhdu bi al-jadid al-aslah”.Termasuk di dalamnya pondok pesantren Miftahul Ulum. Paling tidak jenis pesantren yang masih masuk dalam kategori tradisional telah banyak yang melakukan pembaharuan kea rah pesantren yang modern baik dari segi program pesantren maupun dari segi manajemen. Disinilah letak kemajuan pendidikan Islam tradisional (pesantren).

Hal yang menarik untuk diperhatikan ialah bahwa system madrasah yang berkembang di Negara-negara Islam yang lain sejak permulaan abad ke 12, tidak pernah muncul di Indonesia sampai dengan permulaan abad ke-20. Tetapi menurut karya-karya sastra Jawa Klasik seperti Serat Cabolek, Serat Centini dan lain-lain, paling tidak sejak permulaan abad ke 16 telah banyak pesantren masyhur yang menjadi pusat-pusat pendidikan Islam.

Pesantren-pesantren ini mengajarkan berbagai kitab Islam klasik dalam bidang jurisprudensi, teologi dan tasawuf. Kiranya cukup alasan untuk menyimpulkan bahwa, tidak seperti keadaan di Negara-negara Arab, tradisi pesantren di Indonesia sejak bentuknya yang paling tua telah merupakan suatu kombinasi antara madrasah dan pusat kegiatan tarekat. Dan, pola kombinasi madrasah dan tarekat inilah yang akhirnya tumbuh di Indonesia, yang tidak mempertentangkan antara aspek syariah dan aspek tarekat. Tanpa berani menyimpulkan analisis seperti itu, sejarawan dan antropolog tidak mungkin dapat menjelaskan betapa hebatnya budayawan-budayawan seperti Hamzah Fansuri, Syamsudin as-Sumaterani, dan Nuruddin Arraniri dapat melahirkan karya-karya besar dalam bahasa Melayu Jawi yang dapat mengubah kebudayaan semula bernuansa Hindu Budhist menjadi peradaban Melayu nusantara.

Yahya A. Muahaiman selaku Mendiknas tahun 1999 mengatakan bahwa “Dewasa ini pendidikan nasional masih dihadapkan pada beberapa permasalahan yang menonjol yaitu: (1) masih rendahnya pemerataan pendidikan, (2) masih rendahnya mutu dan relevansi pendidikan, dan (3) masih lemahnya manajemen pendidikan” (Fasli Jalal & Supriyadi: 2001).


(51)

Melihat kondisi pesantren yang ada saat ini, maka bisa kita lihat bahwa sekarang pesantren telah banyak membuka diri (inklusif) terhadap perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Miftahul Ulum mengatakan sekarang sudah banyak pesantren yang tadinya kategori tradisional telah melakukan pembaharuan kearah pesantren modern dalam arti pesantren sudah memiliki lembaga pendidikan formal dari tingkat MI, MTs, MA, dan PTAI. Pesantren modern setidaknya memiliki visi, misi dan strategi (tradisi) yang dirumuskan secara jelas, sudah memiliki aturan dasar yang disepakati bersama, pembagian kerja yang terstruktur, berorientasi pada tercapainya tujuan pendidikan yang telah disepakati bersama.

Dengan demikian setidaknya pesantren sudah menggunakan manajemen modern yang artinya pesantren telah memiliki visi, misi dan strategi yang dirumuskan secara jelas, sudah memiliki aturan dasar yang sudah disepakati bersama, pembagian kerja yang struktur, berorientasi pada stakeholders’ dan transparansi dalam pengelolaannya. Untuk itu pada UU RI nomer 20 tahun 2003 pendidikan pesantren telah dimasukkan ke dalam sistem pendidikan nasional, baik itu pesantren tradisional maupun pesantren modern diharapkan bersama-sama pemerintah bisa membangun masyarakat dalam rangka pemerataan pendidikan melalui pendidikan pesantren sebagai alternatif pendidikan nasional di era globalisasi.

6. Problematikan Pendidikan Pesantren sebagai Alternatif Pendidikan Nasional di Era Globalisasi.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat pada era globalisasi saat ini terasa sekali pengaruhnya dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan, sosial, budaya, termasuk dalam pendidikan pesantren. Kemajuan yang pesat itu mengakibatkan cepat pula berubah dan berkembangnya berbagai tuntutan masyarakat. Masyarakat yang tidak menghendaki keterbelakangan akibat perkembangan tersebut, perlu menanggapi serta menjawab tuntutan kemajuan tersebut secara serius. Dalam kaitannya dengan hal itu, Taylor


(1)

(2)

90

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Muzayyin. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi, 1993, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta; PT. Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi, 2002,Manajemen PenelitianJakarta: PT. Rineka Cipta. Badri dan Munawiroh. 2007. Pergeseran Literatur Pesantren Salafiyah. Jakarta:

Puslitbang Lektur Keagamaan.

Bogdan.R.C., & Biklen, 1982. Qualitative Research For Educational An Introduction To Theory And Method,Toronto: Allyn Bacon Inc.

Bogdan.R.C., & Biklen, 1982. Qualitative Research For Educational An Introduction To Theory And Method,Toronto: Allyn Bacon Inc.

Danim, Sudarwan. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: Pustaaka Setia. Depag RI. 2000. Alqur’an dan Terjemahnya, Bandung : CV. Penerbit

Diponegoro..

Depag RI. 2001.Pola Pengembangan Pondok Pesantren: Jakarta.

Depdikbud, 2001,Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.

Depag RI. 2005. Alqur’an dan Terjemahnya, Jakarta : CV. Penerbit Jumanatul ‘Ali Art.

Dhofier, Zamakhsyari. 2011.Tradisi Pesantren Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia. Jakarta: LP3ES.dalam Dawam Rahardjo (ed) Pesantren dan Pembaharuan. Jakarta: LP3ES.

Djamaluddin dan Aly Abdullah. 1999. Kapita Selekta Pedidikan Islam Untuk IAIN, STAIN, dan PTAIS Fakultas Tarbiyah Komponen MKK. Bandung: Pustaka Setia.

Hamid, Abu. 2003. Sistem Pendidikan Madrasah dan Pesantren di Sulawesi Selatan, dalam Taufil Abdullah (Ed). Agama dan Perubahan Sosial. Jakarta: Rajawali Press.

Hasan, M, Tholhah, 2003, Islam Dan Masalah Sumber Daya Manusia, Jakarta: Lantabora Press.


(3)

Hasbullah. 2001. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Hidayat, Komaruddin, dan Azra, azyumardi. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education). Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani.Edisi Ketiga. Jakarta: Kencana ICCE.

(http://id.shyoong.com/social-sciences/education/2192459-Problematika-pondok pesantren/#ixzz2GDOKd2Op.

Lincoln Yona S. And Guba, Egon.G. 1985.Naturalistic Inquiry, Beverly Hills.CA : Sage Publication Inc.

Madjid, Nurcholis. 1977. Pondok Pesantren “Darul Ulum” di Rejoso, Peterongan, Jombang, Jawa Timur. Dalam Buletin Proyek Penelitian Agama dan Perubahan Sosial. Jakarta: LEKNAS, LIPI.

Mansur, H. 2004. Moralitas Pesantren: Meneguk Kearifan dari Telaga Kehidupan. Yogyakarta: Safiria Insania Perss.

Miles, Manthew.B and Huberman, A.M, Qualitative Data Analysis, A.Cource Book Of New Method Berverly Hills : sage publication Inc. 1992.

Moleong. L.J..2000, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muhaimin, 1999, Problematikan Agama Dalam Kehidupan Manusia, Jakarta : Kalam Mulia.

Nasution dikutip oleh Thaha, Chatib, 1996, Metodologi Penelitian Kualitatif, Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo.

Paul Roubiczek, Existensialisme, for and against (Cambridge, 1966) : dikutip dalam Rasjidi, 1972,Agama dan etik, Jakarta ; Sinar Hudaya.

Qomar Moedjamil. 2002. Pesantren dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi. Jakarta: Erlangga.

Rahardjo, Dawam. (Editor). 1985. Pergulatan Dunia Pesantren: Membangun Dari Bawah. Cet. I. Jakarta: P3M.

Rahman, Musthofa, dkk. 2002. Dinamika Pesantren dan Madrasah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rodliyah, St. 2013. Manajemen Pesantren Berbasis Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Putri “An-Nuriyah” Kaliwining Rambipuji Jember.


(4)

92

Sulton dan Khusnuridlo. 2006. Manajemen Pondok Pesantren dalam Perspektif Global. Yogyakarta: Laksbang Pressindo.

Supriyadi. 2001.Kiai, Priyayi di Masa Transisi, Surakarta: Pustaka Cakra.

Tebba, Sudirman. 1993. Islam Orde Baru: Perubahan Politik dan Keagamaan. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Tim Dosen PAI UGM. 2005. Pendidikan Agama Islam. Buku Teks untuk PTU Berdasarkan Kurikulum 2002. Yogyakarta: BP. UGM

Umar, Nasaruddin. 2002.Rethingking Pesantren. Jakarta: PT. Gramedia.

Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003,Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: PT. Kloang Klede Timur Bekerjasama dengan Koperasi Primer praja Mukti I Depdagri.

Wahid, Abdul Hamid , dan Hidayat, Nur. 2001. Perspektif Baru Pesantren dan Pengembangan Masyarakat.Surabaya: Yayasan Tri Guna Bakti.

Yusanto, Ismail. 1998. Islam Ideologi: Refleksi Cendekiawan Muda. Bangil: Al Izzah.


(5)

(6)