Risky Adelia Budianty : Hubungan Hukum Antara Penjamin Dengan Pihak Pemberi Kredit Kepada Usaha Kecil Menengah Di Kota Medan Studi PT. Bank Negara Indonesia Persero Tbk Medan, 2008.
USU Repository © 2009
dicatat bahwa bagaimanapun rapi dan baiknya pertimbangan-pertimbangan tersebut dinilai dan dianalisa. Dalam kenyataannya bank di dalam praktek
perkreditan selalu menemui kredit macet, yang berarti kerugian pada bank khususnya dan menghambat kesinambungan pada umumnya karena sebagian dana
untuk pembangunan terbeku dalam kredit macet.
E. Hak dan Kewajiban Pemberi dan Penerima Kredit 1. Hak dan Kewajiban Pemberi kredit
Orang yang meminjamkan tidak boleh meminta kembali apa yang telah dipinjamkannya, sebelum lewatnya waktu yang ditentukan dalam perjanjian, hal
ini diatur dalam Pasal 1759 KUHPerdata. Jika tidak ditetapkan sesuatu waktu, hakim berkuasa, apabila orang yang meminjamkan menuntut pengembalian
pinjamannya, menurut keadaan, memberi kelonggaran kepada si peminjam. Satu-satunya ketentuan yang mengatur kewajiban pemberi pinjaman
adalah pada Pasal 1753 KUHPerdata, akan tetapi ketentuan itu tidak bertalian dengan perjanjian pinjam uang karena hanya mengatur perjanjian-perjanjian
pinjam mengganti barang. Kewajiban bank ini tidak bersifat mutlak. Bank berhak menyimpanginya dalam hal penerima kredit tidak memenuhi syarat-syarat
perjanjian itu.
15
Jika telah diadakan perjanjian, bahwa pihak yang telah meminjam sesuatu barang atau sejumlah uang, akan mengembalikannya bilamana ia mampu untuk
itu, maka hakim mengingat keadaan, akan menentukan waktunya pengembalian hal ini diatur pada Pasal 1761KUHPerdata. Penilaian tentang bilamana si
15
Mariam Darus Badrulzaman,Op. Cit, Hal. 75.
Risky Adelia Budianty : Hubungan Hukum Antara Penjamin Dengan Pihak Pemberi Kredit Kepada Usaha Kecil Menengah Di Kota Medan Studi PT. Bank Negara Indonesia Persero Tbk Medan, 2008.
USU Repository © 2009
peminjam mampu, selainnya sangat subjektif adalah sangat sukar. Dalam menghadapi janji seperti itu, hakim akan menetapkan suatu tanggal pembayaran
sebagaimana dilakukan terhadap suatu perjanjian yang tidak mencamtumkan suatu waktu tertentu.
Akhirnya undang-undang menetapkan ketentuan Pasal 1753 KUHPerdata tentang pinjam pakai berlaku terhadap pinjam meminjam. Dengan sendirinya
ketentuan tersebut hanya berlaku dalam hal yang dipinjamkan itu yaitu barang, bukan uang, seperti beras, gandum, gula, bensin dan lain-lain, barang yang
menghabis karena pemakaian.
16
Pasal 1763 dan Pasal 1764 KUH Perdata mengatur tentang kewajiban- kewajiban si peminjam. Pasal 1763 menyatakan siapa yang menerima pinjaman
sesuatu diwajibkan mengembalikannya dalam jumlah dan keadaan yang sama dan pada waktu yang ditentukan. Kewajiban ini merupakan ulangan dari apa yang
Dilihat dari Bab XIII Buku III KUHPerdata maka ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalam perjanjian-perjanjian kredit bank yang menyimpang dari
KUHPerdata.Dalam Pasal 1759 KUHPerdata, bahwa dalam perjanjian pinjam uang,hak pemberi pinjamannya untuk menarik pinjamannya hanya lahir setelah
jangka waktu pinjaman itu berakhir. Didalam perjanjian kredit hak hakim yaitu mempunyai kebijaksanaan untuk menentukan waktu yang patut bagi
pengembalian pinjaman, itu tidak ada. Dimana kita dapat melihat bahwa posisi pemberi kredit itu lebih kuat jika dibandingkan dengan penerima kredit.
2. Hak dan Kewajiban Penerima Kredit
16
R. Subekti, Jaminan-Jaminan Untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia, PT. Citra Aditya, Bandung, 1989, Hal. 6.
Risky Adelia Budianty : Hubungan Hukum Antara Penjamin Dengan Pihak Pemberi Kredit Kepada Usaha Kecil Menengah Di Kota Medan Studi PT. Bank Negara Indonesia Persero Tbk Medan, 2008.
USU Repository © 2009
sudah diatur dalam Pasal 1754 KUH Perdata, mengenai pengertian pinjam meminjam.
Pasal 1764 KUH Perdata menyatakan jika ia tidak mampu memenuhi kewajiban ini, maka ia diwajibkan membayar harga barang yang dipinjamnya,
dalam hal mana harus diperhatikan waktu dan tempat dimana barangnya, menurut perjanjian, sedianya harus dikembalikan.
Kewajiban melunasi hutang setelah jangka waktu tertentu dengan bunga yang telah ditetapkan adalah merupakan kewajiban pokok penerima kredit dan
ditentukan lagi secara terperinci di dalam model-model perjanjian kredit. Disamping ini masih terdapat berbagai kewajiban dari penerima kredit, yaitu :
a. Kewajiban administrasi b. Kewajiban untuk tunduk kepada segala petunjuk dan peraturan bank.
Setiap penerima kredit wajib membayar sejumlah biaya yang diperlukan guna persiapan perjanjian kredit. Biaya ini terdiri dari biaya persiapan dan bunga. Biaya
persiapan ini antara lain : 1 bea materai
2 provisi 3 biaya pembuatan akta serta sertifikat hypotheek
4 biaya notaris 5 premi asuransi barang jaminan
6 premi asuransi pelunasan kredit Penerima kredit juga wajib membayar hutang, hutang pokok yaitu hutang
yang disetujui pihak-pihak sebagai jumlah pinjaman yang diberikan bank kepada penerima kredit. Hutang ini wajib dibayar pada saat perjanjian kredit berakhir.
Risky Adelia Budianty : Hubungan Hukum Antara Penjamin Dengan Pihak Pemberi Kredit Kepada Usaha Kecil Menengah Di Kota Medan Studi PT. Bank Negara Indonesia Persero Tbk Medan, 2008.
USU Repository © 2009
Penerima kredit wajib untuk membayar bunga, dalam Bab XIII Buku III KUHPerdata tidak ditentukan rumus bunga. Pasal 1246 KUH Perdata menyatakan
bahwa bunga adalah keuntungan yang sedianya harus dinikmati. Di dalam model- model perjanjian kredit tidak ditemukan rumus bunga. Dalam perjanjian kredit,
bunga tidak diperjanjikan. Policy mengenai bunga tidak didasarkan pada konsensus pihak-pihak akan tetapi ditetapkan oleh pemerintah, yaitu Bank
Indonesia. Besarnya suku bunga lebih tinggi dari bunga yang ditetapkan undang- undang.
F. PENGERTIAN USAHA KECIL