Sejarah Kerajaan Benua Tamiang

36

BAB II DESKRIPSI LOKASI ACEH TAMIANG

2.1 Latar Belakang Sejarah Kabupaten Aceh Tamiang

2.1.1 Sejarah Kerajaan Benua Tamiang

Tamiang pada awalnya merupakan suatu negeri kerajaan yang telah ada sekitar tahun 1020-an. Bukti adanya Negeri Tamiang adalah bersumber dari data-data sejarah, seperti dalam Prasasti Sriwijaya, buku Wee Pei Shih yang mencatat Negeri Kan Pei Chiang Tamiang, dan buku Nagarakretagama yang menyebut Tumihang. 1 Padatahun 960, di wilayah Aceh Timur telah berkuasa seorang raja diNegeri Tamiang bernama Tan Ganda.Negeri ini berpusat di Bandar Serangjaya, bandar ini pernah diserang oleh Raja Indra Cola I yang menyebabkan Raja Tan Ganda meninggal.Anak Raja Tan Ganda yaitu Tan Penuh berhasil melarikan diri dari serangan itu. Ketika kondisi Negeri Tamiang telah aman, ia memindahkan pusat pemerintahan ke daerah pedalaman, yaitu Bandar Bukit Karang, di dekat Sungai Simpang Kanan. Sejak saat pemindahan itu, maka mulai berdirilah Kerajaan Bukit Karang dengan raja-rajanya sebagai berikut: 2 1. Tan Penuh 1023-1044 2. Tan Kelat 1044-1088 3. Tan Indah 1088-1122 4. Tan Banda 1122-1150 5. Tan Penok 1150-1190 Tamiang sendiri adalah sebuah nama yang berdasarkan legenda dan data 1 http:acehdalamsejarah.blogspot.com200910sejarah-kerajaan-tamiang.html diakses pada 25 November 2014 2 Panitia Pekan Kebudayaan Aceh Timur. 1978. Deskripsi Daerah Kabupaten Aceh Timur- SelayangPandang. Langsa.Hal. 163 37 sejarah berasal dari kata Te-Miyang yang berarti tidak kena gatal atau kebal gatal dari miang bambu. Hal tersebut berhubungan dengan cerita sejarah tentang Raja Tamiang yang bernama Pucook Sulooh, ketika masih bayi ditemukan dalam rumpun bambu Betong istilah Tamiang bulooh dan Raja Tan Penoklah yang kemudian mengambil bayi tersebut. Setelah dewasa dinobatkan menjadi Raja Tamiang dengan gelar Pucook Sulooh Raja Te-Miyang, yang artinya seorang raja yang ditemukan di rumpun rebong bambu, tetapi tidak kena gatal atau kebal gatal. 3 Sepeninggalan Tan Penok, karena tidak mempunyai anak kandung, maka anak angkatnya bernama Pucook Sulooh diangkat sebagai raja yang menggantikan dirinya. Sejak saat itu, Kerajaan Bukit Karang dikuasai oleh Dinasti Sulooh, dengan raja-rajanya sebagai berikut: 4 1. Raja Pucook Sulooh 1190-1256 2. Raja Po Pala 1256-1278 3. Raja Po Dewangsa 1278-1300 4. Raja Po Dinok 1300-1330 Pada akhir pemerintahan Raja Po Dinok 1330, sebuah rombongan para da‘i yang dikirim oleh Sultan Ahmad Bahian Syah bin Muhammad Malikul Thahir 1326- 1349 dari Samudera Pasai tiba di Tamiang.Kedatangan para da‘i itu tidak mendapat respon positif oleh Raja Po Dinok.Ia menyerang rombongan tersebut yang menyebabkan dirinya tewas di medan perang. Setelah masuknya rombongan da‘i ke Tamiang dan melakukan dakwah keagamaan, banyak rakyat Tamiang yang kemudian memeluk Islam.Berdasarkan kesepakatan antara Sultan Ahmad Bahian Syah dengan para bangsawan dan rakyat Tamiang yang telah memeluk Islam, maka ditunjuklah 3 Panitia Pekan Kebudayaan Aceh Timur.Op.Cit.Hal. 164 4 http:www.acehtamiangkab.go. idlang43sejarah-kabupaten-aceh-tamiang.aspx diakses pada 25 November 2014 38 Sultan Muda Setia sebagai Sultan I di Kesultanan Benua Tamiang 1330-1352 untuk memimpin negeri itu. Dengan demikian dialah yang merupakan raja pertama yang menjadi peletak dasar Kerajaan Islam Benua Tamiang ibu kota benua lokasinya sekitar kota Kualasimpang sekarang. Sebagai negara Islam yang baru didirikan Raja Muda Sedia segera bertindak untuk mengkonsolidasikan kekuasaan dan menyusun sebuah pemerintahan yang kuat di Kerajaan Benua Tamiang. Adapun bentuk pemerintahan yang disusunnya adalah bentuk pemerintahan yang disebutkan ber “Balai” dengan susunannya sebagai berikut 1. Raja dibantu oleh seorang Mangkubumi yang mempunyai tugas sehari-hari mengawasi jalannya pemerintahan dan ia bertanggung jawab kepada raja pada saat Raja Muda Sedia, mangkubuminya adalah Muda Sedinu 2. Untuk mengawasi jalannya pelaksanaan hukum oleh pemerintah atau oleh lembaga-lembaga penegak hukum yang dibentuk, diangkat pula seorang Qadhi Besar. Sementara di tingkat pemerintah daerah terdapat pula : a Datuk-datuk Besar yang memimpin daerah-daerah kedatuan. b Datuk-datuk Delapan Suku yang memimpin daerah-daerah suku perkauman. c Raja-raja Imam yang memimpin para Imam di daerah-daerah dan sekaligus juga bertindak sebagai penegak hukum di daerahnya. Selain itu dalam rangka terjaminnya keamanan dan pertahanan negara dibentuk juga lasykar-lasykar rakyat yang berada di bawah seorang panglima yang membawahi juga tujuh panglima daerah, yaitu : 1. Panglima Birin 2. Panglima Gempal Alam 3. Panglima Nayan 4. Panglima Kuntum Menda 39 5. Panglima Ranggas 6. Panglima Megah Burai 7. Panglima Nakuta Banding khusus bagi lasykar di laut Selanjutnya tingkat kepemimpinan yang paling bawah dari susunan organisasi kelasykaran ini ialah Pang yang berada pada setiap kampung di daerah-daerah dalam wilayah Kerajaan Islam Benua Tamiang..Di akhir pemerintahan Sultan Muda Setia 1352, Kesultanan Benua Tamiang diserang oleh Kerajaan Majapahit. Mangkubumi Muda Sedinu ternyata mampu mengatasi serangan tersebut, meski kondisi Kesultanan Benua Tamiang sempat porak-poranda. Atas kemampuannya tersebut, Mangkubumi Muda Sedinu dipercaya menggantikan kedudukan Sultan Muda Sedia pada tahun 1352, namun bukan dalam kedudukannya sebagai sultan, hanya sebagai pemangku sultan saja. Pada masa pemerintahan Muda Sedinu ini, pusat pemerintahan kesultanan dipindahkan ke Pagar Alam kini letaknya sekitar daerah Simpang Jenih karena alasan keamanan dan pertahanan.Pemerintahan Muda Sedinu berakhir pada tahun 1369. Tahta kekuasaan kesultanan kemudian beralih ke Sultan Po Malat sebagai Sultan II 1369-1412.Pada masanya, serangan Majapahit masih berlanjut hingga menyebabkan kegiatan penyebaran Islam di kesultanan ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Penggantinya, Sultan Po Tunggal atau Sultan III 1412-1454 juga tidak dapat berbuat banyak, kegiatan yang dapat dilakukan oleh Sultan Po Tunggal hanya mengkoordinir kekuatan baru dan menyusun pemerintahan kembali. Keadaan baru dapat kembali stabil pada masa pemerintahan Sultan Po Kandis atau Sultan IV 1454-1490.Pada masanya, pusat pemerintahan kesultanan dipindahkan dari Pagar Alam ke Kota Menanggini kini bernama Karang Baru.Kegiatan penyiaran Islam kembali dapat dilakukan pada masa ini.Sultan Po Kandis memprioritaskan kegiatan pendidikan Islam dan pembinaan seni budaya yang 40 bernafaskan Islam sebagai program utama pemerintahannya. Sultan Po Kandis digantikan oleh anaknya sendiri, Sultan Po Garang sebagai Sultan V 1490-1528. Oleh karena tidak mempunyai anak, ia kemudian digantikan oleh menantunya Po Kandis, ipar Po garang, yang bernama Pendekar Sri Mengkuta 1528-1558. Peristiwa penting yang terjadi pada masa Sultan VI ini adalah penggabungan Tamiang menjadi bagian dari Kesultanan Aceh Darussalam pada masa Sultan Ali Mughayat Syah 1514-1530.Ketika itu Sultan Ali Mughayat Syah gencar mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di Aceh dalam satu federasi yang kokoh, yang tujuannya adalah sebagai strategi penting untuk menghadapi serangan Portugis.Masa pemerintahan Sultan VI ini dapat dikatakan sebagai masa berakhirnya Kesultanan Benua Tamiang. Adapun urutan sultan-sultan yang berkuasa di Kesultanan Benua Tamiang adalah sebagai berikut: 1. Sultan Muda Setia 1330-1352 2. Mangkubumi Muda Sedinu 1352-1369 3. Sultan Po Malat 1369-1412 4. Sultan Po Kandis 1454-1490 5. Sultan Po Garang 1490-1528 6. Pendekar Sri Mengkuta 1528-1558 Kerajaan Tamiang juga telah mendapat Cap Sikureung dan Hak Tumpang Gantung dari Sultan Aceh Darussalam, atas wilayah Negeri Karang dan negeri Kejuruan Muda. Sementara negeri Sultan Muda Seruway, negeri Sungai Iyu, negeri Kaloy dan negeri Telaga Meuku merupakan wilayah-wilayah yang belum mendapatcap Sikureung dan dijadikan sebagai wilayah protektor bagi wilayah yang telah mendapat cap Sikureung. Pada tahun 1908 terjadi perubahan Staatblad No.112 tahun 1878, yakni 41 Wilayah Tamiang dimasukkan ke dalam Geuverment Aceh en Onderhoorigheden yang artinya wilayah tersebut berada dibawah status hukum Onderafdelling. DalamAfdeling Oostkust Van Atjeh Aceh Timur terdapat beberapa wilayah Landschaps dimana berdasarkan Korte Verklaring diakui sebagai Zelfbestuurder dengan status hukum Onderafdelling Tamiang termasuk wilayah-wilayah : • Landschap Karang • Landschap Seruway Sultan Muda • Landschap Kejuruan Muda • Landschap Bendahara • Landschap Sungai Iyu, dan • Gouvermentagebied Vierkantepaal Kualasimpang. Tamiang pada masa lalu juga pernah terpecah hingga menjadi dua kerajaan yakni Kerajaan Karang dan Kerajaan Benua Tunu.Tapi kedua kerajaan itu tetap tunduk pada negeri Karang.Dalam buku Tamiang Dalam Lintas Sejarah yang dikarang Ir Muntasir Wan Diman secara ringkas disebutkan bahwa Kerajaan Tamiang dijadikan dua kerajaan otonom. Pada masa pemerintahan Raja Proomsyah yang kimpoi dengan Puteri Mayang Mengurai anak Raja Pendekar Sri Mengkuta tahun 1558 menjadi Raja Islam kedelapan dengan pusat pemerintahan di Desa Menanggini. Sementara itu Raja Po Geumpa Alamsyah yang kimpoi dengan Puteri Seri Merun juga anak Raja Pendekar Sri Mengkuta memerintah di Negeri Benua sebagai Raja Muda Negeri Simpang Kiri Raja Benua Tunu.Diuraikan Muntasir bahwa Kerajaan Karang muncul setelah Tan Mudin Syari Raja Islam Tamiang ke 10 wafat, lalu diganti kemanakannya yang bergelar “Tan Kuala” Raja Kejuruan Karang I yaitu putera dari Raja Kejuruan Tamiang Raja Nanjo Banta Raja Tamiang. Raja Kejuruan Karang Tan Kuala 42 memerintah 1662 -1699 merupakan pengganti turunan Suloh Setelah Raja Tan Kuala meninggal dunia digantikan Raja Mercu yang bergelar Raja Kejuruan Mercu yang merupakan Raja Kejuruan Karang II.Pusat pemerintahan Raja Kejuruan Karang II di Pente Tinjo.Raja Kejuruan Karang II berdaulat 1699 - 1753 berlangsung aman dan tenteram.Penggantinya Raja Kejuruan Banta Muda Tan egia berdaulat 1753 - 1800 merupakan Kerajaan Karang III. Selanjutnya Raja Karang III diganti Raja Sua yang bergelar Raja Kejuruan Sua Raja Karang IV memerintah 1800 - 1845 .Raja Sua diganti Raja Achmad Banta dengan gelar Raja Ben Raja Tuanku di Karang sebagai Raja Kejuruan Karang V yang memerintah 1845 - 1896.Pada masa raja ini-lah terjadi peperangan Aceh dengan Belanda 1873 - 1908 dan melalui peperangan itu, Raja Kejuruan Karang V meninggal dunia dalam tawanan Belanda. Penggantinya adalah anak dia sendiri bernama Raja Muhammad bergelar Raja Silang sebagai Raja Kejuruan Karang ke VI.Raja Silang memerintah setelah lepas dari tawanan Belanda sejak tahun 1901 - 1925.Setelah Raja Silang meninggal dunia dimakamkan di belakang Masjid Desa Tanjung Karang.Makamnya saat ini dari pantauan Serambi terawat bersih dan sudah dipugar pihak Dinas Kebudayaan Provinsi NAD setahun lalu. Pengganti Raja Silang adalah Tengku Muhammad Arifin sebagai Raja Kejuruan Karang ke VII yang merupakan Raja Kejuruan Karang terakhir memerintah tahun 1925-1946.Pada masa pemerintahan Tengku Muhammad Arifin dia membangun Istana Karang yang saat ini dikuasai pihak Pertamina Rantau karena sebelumnya keluarga Raja Kejuruan Karang telah menjualnya kepada seorang pengusaha yang bernama Azis.Tapi sekitar tahun 1999 terjadi bencana alammenyemburnya gas panas akibat dari pengeboran gas yang dilakukan pihak Pertamina. 43 Pemilik istana Azis disebut-sebut meminta ganti rugi kepada Pertamina, karena sudah diganti rugi oleh pihak Pertamina sehingga istana tersebut dikuasai Pertamina.Belakangan kabarnya istana itu telah dihibahkan Pertamina kepada Pemkab Aceh Tamiang. Karenanya sekarang istana tersebut dijadikan Kantor Perpustakaan dan Arsip Pemkab Aceh Tamiang sebagian dan sebagian lagi dijadikan Kantor Penghubung Kodim 0104 Aceh Timur.Sementara halaman istana tersebut saat ini selalu dibuat acara seremonial keramaian masyarakat.Kini turunan Tengku Muhamad Arifin salah seorangnya yang masih hidup adalah H Helmi Mahera Almoejahid anggota DPDMPR-RI yang berkantor di Gedung MPR-RI Jakarta.Ibundanya Hj. Tengku Mariani adalah putri Tengku Muhammad Arifin Raja Kejuruan Karang VII.Tengku Hj. Mariani dipersunting sebagai isteri salah seorang pelaku sejarah Aceh pada zaman DITII yang bernama Tgk. H. Amir Husin Almoejahid. Lintas sejarah mengenai Raja Karang berakhir sampai dengan Tengku Muhammad Arifin yang menyisakan sebuah istana yang kini tak jelas siapa pemiliknya.Sebab meskipun kabarnya sudah dihibahkan Pertamina, tapi berita acara serah terimanya tidak ada di daftar kepemilikan aset Pemkab Aceh Tamiang. Kemudian lintasan Kerajaan Benua Tunu diceritakan dalam buku yang sama di karang Ir. Muntasir Wan Diman bahwa pada saat Raja Benua dikuasai Raja Muda Po Gempa Alamsyah sebagai Raja Benua Tunu yang pertama, diberi gelar Raja Muda Negeri Sungai Kiri Benua Tunu I yang memerintah 1558 - 1588. Setelah wafat Raja Muda Po Gempa Alamsyah berturut-turut akhirnya hingga Raja Benua Tunu III yang dikenal Raja Muda Po Perum sebagai Raja Benua Tunu terakhir yang berdaulat 1629- 1669. Setelah Raja Benua Tunu III wafat, kekuasaan kembali dipegang Raja Tan Kuala yang berarti Kerajaan Tamiang sudah tidak terpecah kembali. Belakangan setelah Benua Tunu dikuasai Raja Tan Kuala sekitar tahun 1669 44 datanglah Raja Po Nita bersama rombongan yang menggugat tentang silsilah bahwa beliau adalah keturunan Raja Muda Sedia Raja Islam Tamiang yang pertama dengan bukti menunjukkan surat dan sislsilah yang lengkap. Akibatnya terjadi perang saudara antara rakyat Tanjung Karang dengan yang mengakui Raja Tan Kuala sebagai Raja Tamiang dan rakyat di Benua Tunu mendukung Raja Penit sebagai Raja Tamiang, sehingga perang saudara pecah dan banyak memakan korban jiwa. Kelanjutan dari kekuasaan antara Raja Tan Kuala dengan Raja Penita berakhir dengan campur tangannya Sultan Aceh yang pada saat itu dipimpin seorang ratu yang bernama Ratu Kemalat Syah.Hasil dari intervensi ratu tersebut diputuskan negeri Tamiang dipecah menjadi dua daerah lagi.Raja Tan Kuala sebagai raja yang berkuasa di daerah Sungai Simpang Kanan dan Raja Penita berkuasa di wilayah Sungai Simpang Kiri. Banyak peristiwa lanjutan dari kedua kerajaan tersebut hingga masa penjajahan Belanda sampai merdeka. Belakangan Negeri Tamiang menjadi bagian dari Wilayah Aceh Timur yang berstatus Pembantu Bupati Wilayah III yang pusat pemerintahannya adalah kota Kuala Simpang. Pada tanggal 2 Juli 2002, kabupaten ini resmi menjadi kabupaten otonom yang terpisah dari Kabupaten Aceh Timur, terbentuknya kabupaten ini didasarkan pada Undang-Undang No. 4 Tahun 2002, tertanggal 10 April 2002.

2.1.2 Pemekaran Kabupaten Aceh Tamiang